Orang-Orang Yang Meneriakkan Damai

May 18, 2013 in Ellen G. White

“Datanglah,” kata mereka, “aku akan mengambil anggur, baiklah kita minum arak banyak-banyak; besok akan sama seperti hari ini, dan lebih hebat lagi!” Yesaya 56:12.

Hamba yang jahat itu berkata dalam hatinya, “Tuanku menunda kedatangannya.” Ia tidak mengatakan bahwa Kristus tidak akan datang. Ia tidak mengejek gagasan tentang kedatanganNya yang kedua. Tetapi di dalam hatinya dan melalui perbuatan-perbuatan serta perkataan-perkataannya ia menyatakan bahwa kedatangan Tuhan itu ditunda. Ia membuang dari pikiran orang-orang lain keyakinan bahwa Tuhan segera datang. Pengaruhnya menuntun orang-orang pada penundaan yang sombong dan ceroboh. Mereka diteguhkan dalam keduniawian dan ketidaksadaran mereka. Hasrat-hasrat duniawi, pikiran-pikiran kotor, mengambil alih pemikiran. Hamba yang jahat itu makan dan minum dengan para pemabuk, bersatu dengan dunia ini dalam mencari kesenangan. Ia memukul rekan-rekannya, menuduh dan menghukum mereka yang beriman kepada Guru mereka…… 144.1
Kedatangan Kristus akan mengejutkan guru-guru palsu. Mereka mengatakan, “Damai dan sejahtera.” Seperti para imam dan guru sebelum kejatuhan Yerusalem dahulu, mereka mengharapkan gereja untuk menikmati kemakmuran dan kemuliaan duniawi. Mereka menafsirkan tanda-tanda zaman seperti sedang menandai hal ini. Tetapi apa yang dikatakan Firman dari Ilham? “Kehancuran yang tiba-tiba datang menimpa mereka…… 144.2
Orang-orang sedang dijauhkan dari kedatangan Tuhan. Mereka menertawakan amaran-amaran. Sindiran yang angkuh dinyatakan, “Segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.” “Besok akan sama seperti hari ini, dan lebih hebat lagi.” 2 Petrus 3:4; Yesaya 56:12. Kita akan semakin masuk ke dalam cinta kesenangan. Tetapi Kristus mengatakan, “Lihatlah, Aku datang seperti pencuri.” Wahyu 16:15. Pada waktunya tatkala dunia ini sedang mempertanyakan dalam cemooh, “Di manakah janji kedatangannya itu?” tanda-tanda sedang menggenapi kepenuhannya. Sementara mereka berteriak, “Damai dan sejahtera,” kehancuran mendadak ada datang. Ketika pengejek, penolak kebenaran itu, telah menjadi angkuh; ketika rutinitas pekerjaan dalam berbagai bidang penghasilan uang dijalankan tanpa menghargai prinsip; ketika pelajar dengan bersemangat mencari pengetahuan apa saja selain Alkitabnya, maka Kristus datang seperti pencuri. 144.3

May 16 – The Criers of Peace
Come ye, say they, I will fetch wine, and we will fill ourselves with strong drink; and tomorrow shall be as this day, and much more abundant. Isa. 56:12.
The evil servant says in his heart, “My lord delayeth his coming.” He does not say that Christ will not come. He does not scoff at the idea of His second coming. But in his heart and by his actions and words he declares that the Lord’s coming is delayed. He banishes from the minds of others the conviction that the Lord is coming quickly. His influence leads men to presumptuous, careless delay. They are confirmed in their worldliness and stupor. Earthly passions, corrupt thoughts, take possession of the mind. The evil servant eats and drinks with the drunken, unites with the world in pleasure seeking. He smites his fellow servants, accusing and condemning those who are faithful to their Master. . . . 144.1
The advent of Christ will surprise the false teachers. They are saying, “Peace and safety.” Like the priests and teachers before the fall of Jerusalem, they look for the church to enjoy earthly prosperity and glory. The signs of the times they interpret as foreshadowing this. But what saith the Word of Inspiration? “Sudden destruction cometh upon them.” . . . 144.2
Men are putting afar off the coming of the Lord. They laugh at warnings. The proud boast is made, “All things continue as they were from the beginning.” “Tomorrow shall be as this day and much more abundant.” 2 Peter 3:4; Isa. 56:12. We will go deeper into pleasure loving. But Christ says, “Behold, I come as a thief.” Rev. 16:15. At the very time when the world is asking in scorn, “Where is the promise of his coming?” the signs are fulfilling. While they cry, “Peace and safety,” sudden destruction is coming. When the scorner, the rejecter of truth, has become presumptuous; when the routine of work in the various money-making lines is carried on without regard to principle; when the student is eagerly seeking knowledge of everything but his Bible, Christ comes as a thief. 144.3

Tontonan-Tontonan, Bunyi-Bunyian serta Kejahatan

May 18, 2013 in Ellen G. White

Tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila; perbuatan murtad aku benci, itu takkan melekat padaku. Hati yang bengkok akan menjauh dari padaku, kejahatan aku tidak mau tahu. Mazmur 101:3, 4.

Ada alasan atas keprihatinan yang mendalam bagimu untuk anak-anakmu, yang memiliki berbagai pencobaan untuk dijalani pada setiap pertumbuhannya. Adalah mustahil bagi mereka untuk mengelakkan kontak dengan perkumpulan-perkumpulan yang jahat……. Mereka akan menyaksikan tontonan-tontonan, mendengar bunyi-bunyian, dan terkena pengaruh yang merendahkan moral dan yang, jika tidak benar-benar dijaga, akan secara tidak kelihatan namun pasti mengotori hati dan merusak tabiat ……. 145.1
Sebagian orang-tua adalah acuh tak acuh, tidak peduli, sehingga mereka menyangka bahwa tidak ada bedanya apakah anak-anak mereka bersekolah di sekolah gereja atau sekolah umum. “Kita berada di dalam dunia ini,” kata mereka, “dan kita tidak bisa meninggalkannya.” Akan tetapi, wahai para orang-tua, kita bisa mendapatkan jalan yang baik untuk keluar dari dunia ini, jika kita memilih untuk melakukannya. Kita bisa menghindari melihat berbagai hal yang jahat yang meningkat semakin cepat dalam hari-hari terakhir ini…….. 145.2
Pada pikiran aktif anak-anak dan pemuda peristiwa-peristiwa yang dilukiskan di dalam pengungkapan-pengungkapan khayalan masa depan adalah kenyataan. Tatkala revolusi-revolusi diramalkan dan segala macam proses digambarkan yang meruntuhkan hambatan-hambatan dari hukum dan pengendalian diri, banyak orang menangkap semangat dari pelukisan-pelukisan ini. Mereka pun dituntun pada penciptaan kejahatan-kejahatan yang bahkan lebih buruk, jika mungkin, daripada lukisan-lukisan para penulis sensasional. Melalui pengaruh-pengaruh yang demikian masyarakat sedang mengalami kemerosotan moral. Benih-benih pelanggaran hukum sedang disebarkan secara luas. Tak seorangpun perlu heran bahwa penuaian kejahatan merupakan hasilnya……. 145.3
Katakan dengan tegas: “Aku tidak akan menghabiskan saat-saat berharga untuk membaca hal-hal yang tidak menguntungkan bagiku, dan yang hanya membuat aku tidak layak menjadi pelayan bagi orang-orang lain. Aku akan mengabdikan waktu dan pikiranku untuk memperoleh sebuah kelayakan bagi pekerjaan pelayanan Allah. Aku akan menutup mataku pada perkara-perkara yang sembrono dan berdosa. Telingaku adalah milik Tuhan, dan aku tidak akan mendengarkan pemikiran yang cerdik dari pihak musuh. Suaraku tidak akan dengan cara yang bagaimanapun menjadi alat pada suatu keinginan yang tidak berada di bawah pengaruh Roh Allah. Tubuhku adalah bait Roh Kudus, dan setiap kekuatanku akan dikuduskan pada tuntutan-tuntutan yang berharga.” 145.4

May 17 – Sights and Sounds and Criminality
I will set no wicked thing before mine eyes: I hate the work of them that turn aside; it shall not cleave to me. A froward heart shall depart from me: I will not know a wicked person. Ps. 101:3, 4.
There is reason for deep solicitude on your part for your children, who have temptations to encounter at every advance step. It is impossible for them to avoid contact with evil associates. . . . They will see sights, hear sounds, and be subjected to influences which are demoralizing and which, unless they are thoroughly guarded, will imperceptibly but surely corrupt the heart and deform the character. . . . 145.1
Some fathers and mothers are so indifferent, so careless, that they think it makes no difference whether their children attend a church school or a public school. “We are in the world,” they say, “and we cannot get out of it.” But, parents, we can get a good way out of the world, if we choose to do so. We can avoid seeing many of the evils that are multiplying so fast in these last days…. 145.2
To the active minds of children and youth the scenes pictured in imaginary revelations of the future are realities. As revolutions are predicted and all manner of proceedings described that break down the barriers of law and self-restraint, many catch the spirit of these representations. They are led to the commission of crimes even worse, if possible, than these sensational writers depict. Through such influences as these society is becoming demoralized. The seeds of lawlessness are sown broadcast. None need marvel that a harvest of crime is the result. . . 145.3
Say firmly: “I will not spend precious moments in reading that which will be of no profit to me, and which only unfits me to be of service to others. I will devote my time and my thoughts to acquiring a fitness for God’s service. I will close my eyes to frivolous and sinful things. My ears are the Lord’s, and I will not listen to the subtle reasoning of the enemy. My voice shall not in any way be subject to a will that is not under the influence of the Spirit of God. My body is the temple of the Holy Spirit, and every power of my being shall be consecrated to worthy pursuits.” 145.4

HUKUM ALLAH YANG TIDAK DAPAT DIUBAH

May 14, 2013 in Ellen G. White

“Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di Surga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu.” (Wah. 11:19). Tabut perjanjian Allah ada di dalam bilik yang maha kudus, ruangan kedua kaabah atau Bait Suci itu. Dalam pelayanan kemah suci duniawi, yang menjadi “gambaran dan bayangan perkara-perkara yang ada di Surga,” ruangan kedua ini dibuka hanya pada waktu hari besar pendamaian, untuk memulihkan tempat kudus itu ke dalam keadaannya yang wajar. Itulah sebabnya pengumuman bahwa Bait Suci Allah di buka di Surga, dan tabut perjanjian-Nya kelihatan, menunjukkan kepada pembukaan bilik yang maha kudus di kaabah surgawi pada tahun 1844, pada waktu Kristus masuk ke dalamnya dan melakukan pekerjaan terakhir pendamaian. Mereka, yang oleh iman mengikuti Imam Besar pada waktu memulai pelayanan-Nya di bilik yang maha kudus, melihat tabut perjanjian-Nya. Sebagaimana mereka telah mempelajari pelajaran mengenai tempat kudus atau kaabah, mereka telah mengerti perobahan pelayanan Juru Selamat, dan mereka melihat bahwa Ia sekarang sedang bertugas melayani di hadapan tabut Allah, mempersembahkan darah-Nya demi orang-orang berdosa.
Tabut yang di dalam kemah suci di dunia ini berisi dua loh batu, yang bertuliskan petunjuk-petunjuk hukum Allah. Tabut itu hanyalah tempat kedua loh batu hukum itu, dan kehadiran petunjuk-petunjuk ilahi ini memberikan kepadanya nilai dan kesucian. Pada waktu Bait Suci Allah di Surga dibuka, kelihatanlah tabut perjanjian-Nya. Di dalam bilik yang maha kudus di kaabah di Surga, tersimpanlah dengan sucinya hukum ilahi itu, — hukum yang diucapkan Allah Sendiri di tengah-tengah guruh di Sinai, dan dituliskan dengan jari-Nya sendiri di atas loh batu itu.
Hukum Allah yang ada di dalam tempat kudus di Surga adalah aslinya yang agung, yang menjadi sumber petunjuk-petunjuk dari yang dituliskan di atas loh batu, dan dicatat oleh Musa di dalam Pentateuch (lima buku Musa); salinan hukum itu adalah salinan yang tidak boleh salah, yang sempurna. Mereka yang mengerti pokok penting ini, dituntun untuk melihat kesucian dan sifat tidak berubah hukum ilahi itu. Mereka melihat, seperti belum pernah sebelumnya, kuasa dari kata-kata Juru Selamat, “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Mat. 5:18). Hukum Allah, sebagai pernyataan kehendak-Nya, catatan tabiat-Nya, harus bertahan sampai selama-lamanya, “sebagai saksi yang setia di Surga.” Tak satu perintahpun sudah dibatalkan; tak satu iota atau titikpun sudah dirubah. Pemazmur berkata, “Untuk selama-lamanya, ya Tuhan, firman-Mu tetap teguh di Surga.” “Segala titah-Nya teguh.” “Kokoh untuk seterusnya dan selamanya.” (Maz. 119:89; 111:7,8).
Di tengah-tengah sepuluh hukum Allah itu terdapat hukum ke empat, sebagaimana yang disiarkan pertama kali, “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat; enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu lakli-laki atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang ditempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya.” (Kel. 20:8-11).
Roh Allah mengesankan hati para pelajar firman-Nya. Mereka didorong untuk yakin bahwa mereka dengan sikap masa bodoh telah melanggar petunjuk-petunjuk hukum itu oleh tidak memperdulikan hari perhentian Khalik. Mereka mulai mencari-cari alasan untuk memelihara hari pertama dalam minggu sebagai ganti hari yang sudah dikuduskan Allah. Mereka tidak menemukan bukti-bukti Alkitab yang mengatakan bahwa hukum keempat sudah dihapuskan, atau hari Sabat telah diganti. Berkat yang pertama kali menguduskan hari teujuh itu tidak pernah dihilangkan atau dihapuskan. Dengan jujur mereka berusaha mengetahui dan melakukan kehendak Allah. Sekarang sementara mereka melihat diri mereka sendiri sebagai pelanggar-pelanggar hukum Allah, dukacita memenuhi hati mereka, dan mereka menyatakan kesetiaan mereka kepada Allah oleh memelihara hari Sabat-Nya kudus.
Banyak dan sungguh-sungguhlah usaha yang dilakukan untuk meruntuhkan iman mereka. Tak seorangpun yang tidak bisa melihat bahwa tempat kudus di dunia ini adalah gambaran atau pola tempat kudus surgawi, dan hukum yang disimpan di dalam tabut yang di tempat kudus duniawi adalah salinan tepat dari hukum yang ada di dalam tabut di tempat kudus surgawi, dan bahwa penerimaan kebenaran mengenai tempat kudus surgawi mencakup pengakuan tuntutan hukum Allah, dan kewajiban terhadap hari Sabat hukum keempat itu. Inilah rahasia perlawanan yang sengit dan menentukan terhadap penjelasan yang harmonis Alkitab yang menyatakan pelayanan Kristus di tempat kudus surgawi. Manusia berusaha menutup pintu yang telah dibuka Allah, dan membuka pintu yang Dia sudah tutup. Tetapi apabila “Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka,” katanya. “Lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun.” (Wah. 3:7,8). Kristus telah membuka pintu, atau pelayanan di bilik yang maha kudus, terang telah bersinar dari pintu tempat kudus yang terbuka di Surga, dan hukum keempat ditunjukkan termasuk di dalam hukum yang disimpan disana. Apa yang sudah ditetapkan Allah, teka seorangpun dapat merombaknya.
Mereka yang telah menerima terang mengenai pengantaraan Kristus dan keabadian hukum Allah, mendapati bahwa inilah kebenaran yang dinyatakan dalam Wahyu 14. Pekabaran-pekabaran fatsal ini terdiri dari amaran rangkap tiga (Lihat Lampiran), yang menyediakan penduduk dunia bagi kedatangan Tuhan yang kedua kali. Pengumuman “telah tiba saat penghakiman-Nya,” menunjuk kepada akhir dari pekerjaan pelayanan Kristus bagi keselamatan manusia. Itu mengumumkan kebenaran yang harus disiarkan sampai pengantaraan Juru Selamat berakhir, dan Ia akan kembali ke dunia ini menjemput umat-Nya kepada-Nya. Pekerjaan penghakiman yang dimulai pada tahun 1844 harus berjalan terus sampai kasus semua orang diputuskan, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati; pekerjaan ini akan berlangsung sampai tertutupnya masa pencobaan bagi manusia. Agar manusia dapat berdiri di hadapan penghakiman, pekabaran itu menyuruh mereka untuk “takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia,” “dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.” Akibat penerimaan pekabaran ini diberikan dalam kata-kata, “Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus.” Agar bersedia kepada penghakiman, adalah perlu agar manusia menuruti hukum Allah. Hukum itu adalah ukuran tabiat dalam penghakiman. Rasul Paulus menyatakan, “Dan semua yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat, . . . pada hari, bilamana Allah sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia oleh Kristus Yesus.” Dan Ia berkata, “yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan.” (Rum 2:12-16). Iman sangat penting dalam menuruti hukum Allah; karena “tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.” Dan “segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa.” (Iberani 11:6; Rum 14:23).
Oleh malaikat pertama, manusia dihimbau untuk, “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia,” dan menyembah Dia sebagai Khalik semesta alam. Untuk melakukan ini manusia itu harus menuruti hukum-Nya. Orang bijak itu berkata, “Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.” (Pengkh. 12:13). Tanpa penurutan kepada perintah-perintah-Nya, tidak ada perbaktian yang berkenan kepada Allah. “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perinyah-Nya.” “Siapa memalingkan telinganya untuk tidak mendengarkan hukum, juga doanya adalah kekejian.” (1Yoh. 5:3; Amsal 28:9).
Tugas menyembah Allah didasarkan atas fakta bahwa Ia adalah Khalik, Pencipta, dan bahwa semua makhluk yang lain diciptakan oleh-Nya. Dan dimana saja di dalam Alkitab tuntutan untuk menghormati dan menyembah–Nya di atas allah-allah bangsa-bangsa kafir dinyatakan, di sana dikutip bukti kuasa penciptaan-Nya. “Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi Tuhanlah yang menjadikan langit.” (Maz. 96:5). “Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus. Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu?” “Sebab beginilah firman Tuhan yang menciptakan langit, — Dialah Allah — yang membentuk bumi dan menjadikannya . . . . Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain.” (Yes. 40:25,26; 45:18). Kata pemazmur, “Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menciptakan kita dan punya Dialah kita.” “Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita.” (Maz. 100:3; 95:6). Dan makhluk-makhluk suci yang menyembah Allah di Surga menyatakan sebagai alasan penghormatan diberikan kedapa-Nya, “Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” (Wah. 4:11).
Dalam Wahyu 14 manusia disuruh untuk menyembah Khalik; dan nubuatan itu menunjukkan suatu golongan yang, sebagai akibat dari pekabaran rangkap tiga, memelihara perintah-perintah Allah. Salah satu perintah itu menunjuk langsung kepada Allah sebagai Pencipta atau Khalik. Perintah keempat menyatakan, “Tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu . . . . Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya.” (Kel. 20:10,11). Mengenai hari Sabat lebih jauh Tuhan berkata, bahwa itu adalah “menjadi peringatan di antara Aku dan kamu, supaya orang mengetahui bahwa Akulah Tuhan, Allahmu.” (Yehez. 20:20). Dan alasan yang diberikan, adalah, “sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat.” (Kel. 31:17).
“Pentingnya hari Sabat sebagai peringatan penciptaan adalah bahwa itu terus mengingatkan alasan yang benar mengapa Allah patut disembah.” — sebab Dia adalah Khalik, Pencipta, dan kita adalah makhluk-makhluk-Nya. “Oleh sebab itu, hari Sabat menjadi dasar dari penyembahan ilahi; karena pemeliharaan hari Sabat mengajarkan kebenaran agung ini — ciptaan dan penciptanya — dalam cara yang paling berkesan, dan tidak ada lembaga atau institusi lain yang melakukan ini. Dasar yang benar penyembahan ilahi bukan hanya hari ketujuh saja, tetapi dalam semua penyembahan yang ditemukan dalam perbedaan yang jelas antara Khalik, Pencipta dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Fakta besar ini tidak pernah usang, ketinggalan zaman, dan tidak boleh dilupakan.” — Andrews, J. N., “History of the Sabbath,” ch. 27. Adalah untuk menjaga agar kebenaran itu tetap berada dalam pikiran manusia sehingga Allah menetapkan hari Sabat itu di Taman Eden; dan selama fakta bahwa Ia adalah Pencipta kita yang menjadi alasan mengapa kita menyembah Dia, selama itu pula hari Sabat itu akan terus menjadi tanda dan peringatan-Nya. Sekiranya hari Sabat itu dipelihara secara universal, pikiran dan cintra-kasih manusia akan dituntun kepada Khalik, Pencipta sebagai tujuan penghormatan dan penyembahan, dan tidak akan pernah ada penyembah berhala, ateis, atau orang kafir. Pemeliharaan hari Sabat adalah tanda kesetiaan kepada Allah yang benar, “Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.” Seterusnya bahwa pekabaran yang memerintahkan manusia menyembah Allah dan menuruti perintah-erintah-Nya, terutama memanggil mereka untuk memelihara perintah atau hukum keempat.
Berbeda dengan mereka yang memelihara perintah-perintah Allah dan yang mempunyai iman kepada Yesus, malaikat yang ketiga itu menunjuk kepada kelompok lain, yang terhadap kesalahan-kesalahannya suatu amaran keras dan menakutkan diucapkan, “Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya, maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murkanya.” (Wah. 14:9,10). Penafsiran yang benar mengenai lambang-lambang yang digunakan perlu untuk mengerti pekabaran ini. Apakah yang digambarkan oleh binatang itu?, patung?, tanda?
Nubuatan di mana lambang-lambang ini ditemukan mulai dari Wahyu 12, dengan naga yang berusaha membinasakan Kristus pada waktu lahir-Nya. Naga itu disebut Setan. (Wah. 12:9); dialah yang menggerakkan Herodes untuk membunuh Juru Selamat. Tetapi alat atau agen Setan yang terutama untuk memerangi Kristus dan umat-Nya selama abad-abad permulaan era Kekristenan adalah kekaisaran Roma, pada waktu mana kekafiran adalah agama yang merajalela. Jadi sementara naga, terutama melambangkan Setan, dalam pengertian lebih lanjut, itu juga melambangkan Roma kekafiran.
Dalam Wahyu 13:1-10 digambarkan binatang yang lain, “serupa dengan macan tutul.” Naga itu memberikan “kekuatannya, takhtanya dan kekuasaannya yang besar” kepada macan tutul itu. Lambang ini, sebagaimana kebanyakan Protestan mempercayai, melambangkan kepausan, yang meneruskan kekuatan dan takhta dan kekuasaan yang pernah dipegang oleh kekaisaran Roma kuno. Mengenai binatang yang menyerupai macan tutul itu dinyatakan, “dan kepada binatang diberikan mulut yang penuh kesombongan dan hujat . . . . Lalu ia membuka mulutnya untuk menghujat Allah, menghujat nama-Nya dan kemah kediaman-Nya dan semua mereka yang diam di Surga. Dan ia diperkenankan berperang melawan orang-orang kudus dan untuk mengalahkan mereka; dan kepadanya diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa.” Nubuatan ini, yang hampir identik dengan keterangan tanduk kecil dalam Daniel 7, tanpa diragukan menunjuk kepada kepausan.
“Kepadanya diberikan juga kuasa untuk melakukannya empat puluh dua bulan lamanya.” Dan kata nabi itu, “Maka tampaklah kepadaku satu dari kepala-kepalanya itu seperti kena luka yang membahayakan hidupnya.” Dan lagi, “Barangsiapa ditentukan untuk ditawan; barang siapa ditentukan untuk dibunuh dengan pedang, ia harus dibunuh dengan pdang.” Yang empat puluh dua bulan itu sama dengan “satu masa dan dua masa dan setengah masa,” tiga setengah tahun, atau seribu dua ratus enam puluh hari dalam Daniel 7 — masa dimana kuasa kepausan menindas umat Allah. Masa ini, sebagaimana disebutkan pada fatsal-fatsal yang terdahulu, dimulai dengan supremasi kepausan pada tahun 538 SM, dan berakhir pada tahun 1798 TM. Pada waktu itu paus ditawan oleh tentera Perancis, dimana kekuasaan paus seperti kena luka yang membahayakan, dan ramalan telah digenapi, “Barangsiapa ditentukan untuk ditawan akan ditawan.”
Sejauh ini lambang lain diperkenalkan. Nabi berkata, “Dan aku melihat seekor binatang lain keluar dari dalam bumi dan bertanduk dua sama seperti anak domab.” (Wah. 13:11). Baik penampilan maupun cara munculnya binatang ini menunjukkan bahwa bangsa yang dilambangkannya tidak seperti yang dilambangkan oleh lambang-lambang sebelumnya. Kerajaan-kerajaan besar yang telah memerintah dunia ini telah ditunjukkan kepada nabi Daniel sebagai binatang buas, yang muncul pada waktu “keempat angin dari langit menggoncangkan laut besar.” (Dan. 7:2). Dalam Wahyu 17, seorang malaikat menerangkan bahwa air melambangkan “bangsa-bangsa, dan rakyat banyak, dan kaum dan bahasa.” (Wah. 17:15). Angin adalah lambang perselisihan, pertentangan. Keempat angin dari langit mengguncangkan laut besar melambangkan pemandangan mengerikan peperangan penaklukan dan revolusi dengan mana kerajaan-kerajaan memperoleh kekuasaan.
Akan tetapi binatang bertanduk seperti domba tampak “keluar dari dalam bumi.” Gantinya menggulingkan kekuasaan-kekuasaan lain untuk mendirikan kekuasaannya sendiri, maka bangsa yang dilambangkan di sini harus muncul di suatu wilayah yang sebelumnya belum diduduki, dan bertumbuh pelan-pelan dan dengan damai. Dia itu tidak muncul di antara bangsa-bangsa yang padat dan yang berjuang di Dunia Lama, — tempat laut yang bergelora, bangsa-bangsa dan rakyat banyak, dan kaum dan bahasa.” Itu harus dicari di Benua Sebelah Barat.
Bangsa dari Dunia Baru manakah yang bangkit pada tahun 1798 menjadi berkuasa, yang menjanjikan kekuatan dan kebesaran dan yang menarik perhatian dunia? Penerapan lambang ini tidak menimbulkan pertanyaan. Satu bangsa, dan hanya satu-satunya yang memenuhi spesifikasi nubuatan ini; tanpa diragukan lambang itu menunjuk kepada Amerika Serikat. Berulang-ulang pemikiran penulis kudus, kata-katanya hampir sama, telah digunakan secara tidak sadar oleh ahli pidato dan ahli sejarah dalam menerangkan kebangkitan dan pertumbuhan bangsa ini. Binatang itu tampak “keluar dari dalam bumi;” dan menurut penerjemah, perkataan “keluar” di sini berarti “bertumbuh atau muncul seperti tanaman.” Dan sebagaimana kita lihat, bangsa itu harus muncul di suatu wilayah yang sebelumnya belum diduduki. Seorang penulis yang menonjol menerangkan kebangkitan Amerika Serikat berbicara mengenai “misteri kemunculannya dari kekosongan,” mengatakan, “Bagaikan bibit yang diam kita bertumbuh menjadi negara atau kerajaan.” — Townend, G.A., The New World Compared with the Old, hal. 462 (ed. 1869). Sebuah surat kabar Eropa pada tahun 1850 berbicara mengenai Amerika Serikat sebagai suatu kerajaan ajaib, yang “muncul” dan “di tengah-tengah keheningan dunia setiap hari bertambah kekuasaan dan kebanggaannya.” — The Dublin Nation. Edward Everett, dalam sebuah orasi tentang Musafir (Pilgrim) pendiri bangsa itu , berkata “Apakah mereka mencari sebuah tempat yang terpencil dan tenang, menyenangkan karena tidak dikenal, dan aman karena terpencil jauh, di mana gereja kecil Leyden dapat menikmati kebebasan hati nurani? Lihatlah daerah-daerah luas di atas mana di daerah pendudukan yang aman damai . . . mereka telah membawa panji-panji Salib!” — Speech delivered at Plymouth, Mass., Dec. 22, 1824, p. 11.
“Dan bertanduk dua sama seperti anak domba.” Tanduk-tanduk seperti tanduk anak domba itu menyatakan kemudaan, tidak bersalah, kelemah-lembutan, dengan tepat melambangkan tabiat Amerika Serikat ketika ditunjukkan kepada nabi itu sebagai yang “keluar” di tahun 1798. Di antara orang-orang Kristen buangan yang pertama melarikan diri ke Amerika dan mencari suaka dari penindasan kerajaan dan imam-imam yang tidak bertenggang rasa, banyak yang ikut memutuskan untuk mendirikan sebuah pemerintahan atas dasar kebebasan sipil dan agama. Pandangan-pandangan mereka mendapat tempat dalam The Declaration of Independence (Deklarasi Kemerdekaan) yang mengetengahkan kebenaran agung bahwa “semua manusia diciptakan sama,” dan dianugerahi dengan hak yang tidak bisa dicabut bagi “kehidupan, kebebasan, dan usaha mengejar kebahagiaan.” Dan Konstitusi menjamin semua warganegara berhak menentukan pemerintahan sendiri melalui perwakilan yang dipilih secara bebas untuk membuat dan menjalankan undang-undang. Kebebasan menganut agama atau kepercayaan juga dijamin, sehingga setiap orang diizinkan menyembah Allah sesuai dengan dorongan hati nuraninya. Republikanisme dan Protestantisme menjadi prinsip fundamental bangsa itu. Prinsip-prinsip ini adalah rahasia kekuatan dan kemakmurannya. Orang-orang yang tertindas dan tertekan dari seluruh dunia Kristen telah berpaling ke negeri ini dengan penuh perhatian dan harapan. Berjuta-juta orang berusaha mencapai pantainya, dan Amerika Serikat telah bangun menjadi salah satu negara terkuat di dunia.
Tetapi binatang yang bertanduk seperti anak domba itu “berbicara seperti seekor naga. Dan seluruh kuasa binatang yang pertama itu dijalankannya di depan matanya. Ia menyebabkan seluruh bumi dan semua penghuninya menyembah binatang yang pertama, yang luka parahnya sudah sembuh, dan . . . ia menyuruh mereka yang diam di bumi supaya mendirikan patung untuk menghormati binatang yang luka oleh pedang, namun tetap hidup itu.” (Wah. 13:11-14).
Tanduk-tanduk binatang yang seperti anak domba dan suara naga dari lambang itu menunjukkan kontradiksi hebat antara pengakuan dan praktek bangsa yang dilambangkan. “Berbicara” suatu bangsa adalah tindakan kekuasaan legislatif dan yudikatifnya. Oleh tindakan seperti itu ia akan berdusta kepada prinsip-prinsip kebebasan dan kedamaian yang telah ditetapkannya sebagai landasan kebijakannya. Ramalan bahwa ia akan berbicara “seperti naga” dan menggunakan “seluruh kuasa binatang yang pertama itu,” dengan jelas meramalkan pengembangan roh tidak toleran (timbang rasa) dan penganiayaan yang ditunjukkan oleh bangsa-bangsa yang dilambangkan oleh naga dan binatang yang seperti macan tutul itu. Dan pernyataan bahwa binatang dengan dua tanduk yang “menyebabkan seluruh bumi dan semua penghuninya menyembah binatang pertama,” menunjukkan bahwa kekuasaan bangsa ini akan digunakan untuk memaksakan penurutan yang akan menjadi tindakan penghormatan kepada kepausan.
Tindakan seperti itu akan secara langsung bertentangan kepada prinsip-prinsip pemerintahan negeri ini, kepada keaslian lembaga-lembaga yang bebas, kepada pengakuan langsung dan sungguh-sungguh The Declaration of Independence (Deklarasi Kemerdekaan), dan kepada Constitution (Konstitusi). Para pendiri bangsa ini dengan bijak berusaha mengawasi penggunaan kekuasaan sekular atas pihak gereja, dengan akibat yang tidak dapat dihindarkan — tiadanya toleransi (tenggang rasa) dan penganiayaan. Konstitusi menetapkan bahwa “Kongres tidak boleh membuat peraturan atau undang-undang untuk menghormati pendirian suatu agama atau melarang pelaksanaannya,” dan bahwa “tidak boleh dituntut ujian agama sebagai persyaratan bagi suatu jabatan perusahaan umum di Amerika Serikat.” Hanya pelanggaran terang-terangan kepada perlindungan kebebasan nasional saja, pemeliharaan atau pelaksanaan sesuatu agama dapat dipaksa oleh kekuasaan sipil. Tetapi ketidak-tetapan tindakan seperti itu tidak lebih besar dari yang digambarkan dalam lambang itu. Binatang bertanduk yang menyerupai anak domba itulah — dalam pengakuan murni, lemah lembut, dan tidak berbahaya, — yang berbicara seperti naga.
“Dan ia menyuruh mereka yang diam di bumi, supaya mereka mendirikan patung untuk menghormati binatang yang luka oleh pedang, namun tetap hidup itu.” Di sini digambarkan dengan jelas suatu bentuk pemerintahan dimana kekuasaan legislatif ada di tangan rakyat, suatu bukti yang sangat nyata bahwa Amerika Serikat adalah suatu negara yang disebutkan di dalam nubuatan.
Akan tetapi apakah “patung binatang itu?” dan bagaimana caranya mendirikan patung itu? Patung itu dibuat oleh binatang bertanduk dua, dan itu adalah patung binatang yang pertama, binatang yang luka namun tetap hidup. Juga dikenal dengan patung dari binatang itu. Kemudian untuk mengetahui bentuk patung itu, dan bagaimana ia dibentuk, kita harus mempelajari ciri-ciri binatang itu sendiri — kepausan.
Bilamana gereja yang mula-mula itu menjadi korup karena berpaling dari kesederhanaan Injil dan menerima upacara-upacara kekafiran dan adat istiadat mereka, maka gereja kehilangan Roh dan kuasa Allah; dan agar supaya dapat mengendalikan hati nurani rakyat, ia mendukung kekuasaan sekular. Akibatnya ialah kepausan, sebuah gereja yang mengendalikan kekuasaan negara, dan menggunakannya untuk mencapai tujuan-tujuannya terutama dalam menghukum kaum “bida’ah,” “para penyeleweng.” Agar supaya Amerika Serikat dapat membuat patung binatang itu, kekuatan dan kekuasaan agama harus sedemikian rupa mengendalikan pemerintahan sipil, sehingga kekuasaan pemerintahan sipil itu juga dapat digunakan oleh gereja untuk mencapai tujuan-tujuannya.
Bilamana gereja sudah memperoleh kekuasaan sekular, ia menggunakan kekuasaan itu untuk menghukum para pembangkang dari doktrin-doktrinnya. Gereja-gereja Protestan yang telah mengikuti jejak Roma dengan membentuk persekutuan dengan kekuatan dan kekuasaan duniawi telah menunjukkan keinginan yang sama untuk membatasi kebebasan hati nurani. Suatu contoh untuk ini diberikan penganiayaan yang berlarut-larut terhadap para pembangkang oleh Gereja Inggeris. Selama abad keenambelas dan ketujuh belas, ribuan pendeta-pendeta yang tidak mau berkompromi telah dipaksa meninggalkan gereja mereka, dan banyak lagi baik pendeta maupun anggota-anggota diancam dengan hukuman, penjara, penuiksaan dan mati syahid.
Kemurtadanlah yang menuntun gereja mula-mula itu untuk mencari dukungan pemerintahan sipil, dan inilah yang meluruskan jalan kepada kepausan — binatang itu. Rasul Paulus berkata, “Sebab sebelum Hari itu, akan datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka.” (2 Tes. 2:3). Jadi kemurtadan di dalam gereja akan menyediakan jalan bagi pendirian patung binatang itu.
Alkitab menyatakan bahwa sebelum kedatangan Tuhan akan terjadi kemerosotan agama yang serupa dengan pada abad-abad pertama. “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterimakasih, tidak memperdulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.” (2 Tim. 3:1-5). “Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan.” (1 Tim. 4:1). Setan akan bekerja “disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dan akan disertai rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa.” Dan semua yang “tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka,” akan dibiarkan menerima “kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta.” (2 Tes. 2:9-11). Apabila keadaan fasik ini dicapai, maka akibat yang sama akan menyusul seperti yang terjadi pada abad-abad permulaan.
Keanekaragaman kepercayaan dalam gereja-gereja Protestan dianggap oleh banyak orang sebagai bukti kuat bahwa tidak dapat dilakukan usaha untuk mencapai penyeragaman yang dipaksakan. Tetapi di gereja-gereja Protestan selama bertahun-tahun telah ada perasaan yang kuat untuk bersatu atas dasar pokok-pokok ajaran yang umum. Untuk mencapai persatuan seperti itu perbincangan mengenai pokok-pokok yang belum disepakati oleh semua — betapapun pentingnya ditinjau dari sudut pandang Alkitab — harus dihindarkan.
Charles Beecher, dalam sebuah khotbahnya pada tahun 1846, menyatakan bahwa pelayanan “denominasi Protestan evangelikal” “bukan saja dibentuk di bawah suatu tekanan kuat semata-mata kekuatiran manusia, tetapi mereka hidup dan bergerak dan benafas dalam keadaan yang secara radikal bejat, dan menghimbau setiap saat kepada setiap unsur-unsur bermoral rendah dalam keadaan mereka untuk mendiamkan kebenaran, dan sujud kepada kekuasaan kemurtadan. Bukankah cara ini yang terjadi dengan Roma? Bukankah kita menghidupkan hidupnya itu kembali? Dan apakah yang kita lihat di depan? Konsili umum yang lain! Konvensi dunia! Persekutuan Evangelikal, doktrin universal!” — Sermon on “The Bible a Sufficient Creed,” delivered at Fort Wayne, Ind., Feb. 22, 1846. Bilamana semua ini dicapai, kemudian, dalam usaha mencapai keseragaman sempurna dan lengkap, hanya tinggal selangkah lagi kepada penggunaan paksaan.
Bilamana gereja-gereka utama di Amerika Serikat bersatu dalam pokok-pokok ajaran seperti itu, sebagaimana yang biasanya mereka lakukan, akan mempengaruhi negara untuk memaksakan ajaran mereka dan mempertahankan institusi mereka, kemudian Protestan Amerika akan membentuk patung hirarki Romawi, dan pengenaan hukuman sipil kepada pembangkang-pembangkang akan terjadi dengan pasti.
Binatang yang bertanduk dua itu “menyebabkan (memerintahkan) semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain daripada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu, atau bilangan namanya.” (Wah. 13:16,17). Amaran malaikat yang ketiga itu ialah, “Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya, maka ia akan minum air anggur murka Allah.” “Binatang” yang disebutkan dalam pekabaran ini, yang penyembahannya dipaksakan oleh binatang yang bertanduk dua, adalah binatang yang pertama atau binatang yang menyerupai macan tutul dalam Wahyu 13 — kepausan.
“Patung binatang” itu menggambarkan Protestantisme murtad yang akan berkembang bilamana gereja-gereja Protestan mencari dukungan kekuasaan sipil untuk memaksakan dogma-dogmanya. “Tanda binatang” itu masih akan diterangkan.
Setelah amaran terhadap penyembahan binatang dan patungnya nubuatan menyatakan, “Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus.” Sementara mereka yang menuruti perintah-perintah Allah ditempatkan pada posisi yang bertentangan dengan mereka yang menyembah binatang itu dan patungnya dan yang menerima tandanya, maka pemeliharaan hukum Allah pada satu pihak dan pelanggarannya di pihak yang lain, akan membuat perbedaan antara penyembah Allah dan penyembah binatang itu.
Ciri-ciri khas binatang itu, dan dengan demikian juga patungnya, adalah pelanggaran kepada perintah-perintah Allah. Daniel berkata mengenai tanduk kecil kepausan itu, “Ia berusaha untuk mengubah waktu dan hukum.” Dan. 7:25). Dan Rasul Paulus menggolongkan kekuasaan yang seperti itu kepada “manusia durhaka,” yang meninggikan dirinya melebihi Allah. Nubuatan yang satu melengkapi nubuatan yang lain. Hanya dengan mengubah hukum Allah kepausan dapat meninggikan dirinya melebihi Allah; barangsiapa dengan sadar memelihara hukum yang sudah diubah itu akan memberikan penghargaan tertinggi kepada kekuasaan yang mengadakan perubahan itu. Tindakan penurutan kepada hukum-hukum kepausan seperti itu adalah tanda kesetiaan dan kepatuhan kepada paus yang menggantikan kedudukan Allah.
Kepausan telah berusaha untuk mengubah hukum Allah. Hukum yang kedua, larangan penyembahan berhala, telah dihapuskan dari hukum itu, dan hukum keempat telah diubah untuk menyetujui secara resmi pemeliharaan hari pertama gantinya hari ketujuh sebagai hari Sabat. Tetapi para pengikut paus menyatakan sebagai alasan menghilangkan hukum kedua, bahwa itu tidak perlu karena sudah dimasukkan dalam hukum yang pertama, dan bahwa dengan demikian memberikan hukum itu seperti yang sebenarnya Allah maksudkan untuk dipahami. Ini tidak bisa tidak adalah perubahan yang diramalkan oleh nabi. Perubahan yang disengaja dan yang diperhitungkan telah dilakukan, “Ia berusaha mengubah waktu dan hukum.” Perubahan pada hukum keempat tepat sekali menggenapi nubuatan itu, oleh karena ini sajalah otoritas dari gereja. Di sini kuasa kepausan dengan terang-terangan menempatkan dirinya di atas Allah.
Sementara penyembah-penyembah Allah terutama akan dibedakan oleh perhatian mereka kepada hukum keempat, — oleh karena ini adalah tanda kuasa penciptaan-Nya, dan kesaksian kepada tuntutan-Nya atas penghargaan dan penghormatan manusia — maka penyembah-penyembah binatang itu akan dibedakan oleh usaha-usaha mereka untuk menghancurkan peringatan Khalik, Pencipta, untuk meninggikan lembaga Roma. Adalah untuk kepentingan hari Minggu sehingga kepausan pertama kali menyatakan tuntutannya yang sombong (Lihat Lampiran); dan usaha yang pertama untuk mendapatkan kekuasaan negara memaksakan pemeliharaan hari Minggu sebagai “hari Tuhan.” Tetapi Alkitab menunjuk kepada hari ketujuh, dan bukan hari pertama, sebagai hari Tuhan. Kristus berkata, “Jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” Hukum yang keempat menyatakan, “Tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu.” Dan melalui nabi Yesaya Tuhan menunjukkan sebagai “hari kudus-Ku.”
Tuntutan yang sering dikemukakan, bahwa Kristus mengubah hari Sabat itu, tidak sesuai dengan firman-Nya sendiri. Pada khotbah-Nya di atas bukit Ia berkata, “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam kerajaan Surga.” (Mat. 5:17-19).
Adalah suatu kenyataan yang secara umum diterima oleh orang Protestan bahwa Alkitab tidak memberi wewenang mengenai perubahan hari Sabat. Hal itu dengan jelas dikatakan oleh penerbitan-penerbitan yang diterbitkan oleh American Tract Society dan American Sunday School Union. Salah satu penerbitan itu mengakui “Perjanjian Baru sama sekali bungkam sejauh mengenai sesuatu perintah yang jelas mengenai hari Sabat (Minggu, hari pertama dalam minggu) atau peraturan-peraturan yang jelas untuk pemeliharaannya.” — Elliot, George, “The Abiding Sabbath,” p. 184.
Yang lain berkata, “Sampai kepada kematian Kristus tidak ada perubahan dilakukan atas hari itu, sejauh catatan menunjukkan, mereka (rasul-rasul) tidak . . . mengeluarkan perintah yang jelas untuk meninggalkan Sabat hari ketujuh, dan pemeliharaan hari pertama dalam minggu.” — Waffle, A. E., “The Lord’s Day,” pp. 186-188.
Katolik Roma mengakui bahwa perubahan hari Sabat dilakukan oleh gereja mereka, dan menyatakan bahwa orang-orang Protestan, oleh memeliharakan hari Minggu, mengakui kekuasaan gereja Katolik Roma. Dalam buku “The Catholic Cathechism of Christian Religion,” dalam jawaban kepada pertanyaan mengenai hari yang harus dipelihara menurut hukum keempat, terdapat pernyataan ini, “Selama hukum yang lama berlaku, hari Sabtu adalah hari yang dikuduskan, tetapi gereja diperintahkan oleh Yesus Kristus dan dituntun oleh Roh Allah, telah menggantikan hari Sabtu kepada hari Minggu. Jadi sekarang kita kuduskan hari pertama, bukan hari ketujuh. Dan sekarang, Minggu artinya hari Tuhan.”
Sebagai tanda kekuasaan Gereja Katolik, seorang penulis pengikut paus mengutip, “Tindakan mengubah hari Sabat kepada hari Minggu yang disetujui dan diizinkan oleh orang Protestan; . . . sebab dengan memelihara hari Minggu, mereka mengakui kuasa gereja untuk menetapkan hari-hari raya, dan memerintahkan mereka di bawah dosa.” — Tuberville, H., “An Abridgment of Christian Doctrine,” p. 58. Lalu apakah perubahan hari Sabat, kalau bukan tanda, atau cap kekuasaan Gereja Roma — “tanda binatang” ?
Gereja Roma belum meninggalkan usahanya unutk memperoleh supremasi. Dan bilamana dunia ini dan gereja-gereja Protestan menerima hari Sabat buatannya itu, sementara mereka menolak hari Sabat Alkitab, sebenarnya mereka menerima usaha itu. Mereka boleh menuntut wewenang tradisi dan para Bapa leluhur atas perubahan itu, tetapi dengan berbuat demikian mereka meremehkan atau mengabaikan prinsip utama yang memisahkan mereka dari Roma, — bahwa “Alkitab, dan hanya Alkitab saja, agama orang-orang Protestan.” Para pengikut paus dapat melihat bahwa mereka sedang menipu dunia ini dan orang-orang Proytestan yang dengan rela menutup mata kepada fakta-fakta dalam hal ini. Pada waktu gerakan memaksakan hari Minggu memperoleh kemajuan, ia bersukacita, merasa pasti bahwa hal itu akan membawa seluruh dunia Protestan di bawah panji-panji Roma.
Para pengikut Roma menyatakan bahwa, “pemeliharaan hari Minggu oleh orang-orang Protestan adalah suatu penghormatan yang mereka berikan kepada kekuasaan Gereja Katolik.” — Mgr. Segur “Plain Talk About Protestantism of Today ” p. 213. Pemaksaan pemeliharaan hari Minggu pada pihak gereja Protestan adalah pemaksaan penyembahan kepausan — binatang itu. Mereka yang mengerti tuntutan hukum yang keempat itu, yang memilih memelihara yang salah gantinya hari Sabat yang benar, dengan demikian memberi penghormatan kepada kuasa yang memerintahkannya. Tetapi tindakan memaksakan kewajiban agama oleh kuasa sekular, dengan demikian gereja-gereja membuat patung binatang itu. Sejak diberlakukannya pemeliharaan hari Minggu di Amerika Serikat akan menjadi pemberlakuan penyembahan kepada binatang itu dan patungnya.
Tetapi orang-orang Kristen pada generasi-generasi terdahulu memelihara hari Minggu menyangka dengan berbuat demikian mereka sedang memelihara hari Sabat Alkitab. Dengan demikian sekarang orang-orang Kristen yang benar di tiap-tiap gereja, tidak terkecuali persekutuan Roma Katolik, yang dengan jujur percaya bahwa hari Minggu adalah hari Sabat yang ditetapkan oleh ilahi. Allah menerima kesungguh-sungguhan tujuan mereka dan integritas mereka di hadirat-Nya. Tetapi bilamana pemeliharaan hari Minggu dikuatkuasakan oleh undang-undang, dan dunia akan diterangi mengenai kewajiban terhadap hari Sabat yang benar, maka siapa saja yang melanggar perintah Allah, dan menuruti pedoman yang tidak lebih tinggi dari Roma, akan menghormati kepausan di atas Allah. Ia memberikan penghormatan kepada Roma, dan kepada kuasa yang memaksakan lembaga yang ditetapkan oleh Roma. Ia menyembah binatang itu dan patungnya. Sementara manusia menolak lembaga yang dinyatakan Allah sebagai tanda kekuasaan-Nya dan menghormati gantinya yang telah dipilih oleh Roma sebagai tanda supremasinya, maka dengan demikian mereka menerima tanda kesetiaan kepada Roma — “tanda binatang itu.” Hanya apabila masalah ini dengan jelas dinyatakan kepada manusia, dan mereka dihadapkan kepada pilihan antara perintah-perintah Allah atau perintah-perintah manusia, barulah mereka menerima “tanda binatang itu,” yaitu mereka yang terus menerus melanggar perintah-perintah Allah.
Ancaman yang paling menakutkan dan mengerikan yang ditujukan kepada manusia fana ini ialah yang terdapat dalam pekabaran malaikat yang ketiga. Hal itu adalah dosa yang paling mengerikan, yang mendatangkan murka Allah yang tidak bercampur dengan belas kasihan. Manusia tidak akan ditinggalkan dalam kegelapan mengenai perkara-perkara penting. Amaran mengenai dosa ini akan diberikan kepada dunia ini sebelum datangnya penghakiman Allah, agar semua mengetahui mengapa harus dikenai hukuman dan memberikan kesempatan untuk melepaskan diri. Nubuatan menyatakan bahwa malaikat yang pertama akan mengumumkan kepada “semua bangsa, dan suku, dan bahasa, dan kaum.” Amaran malaikat yang ketigan, yang merupakan bagian dari pekabaran rangkap tiga, juga tidak kurang meluasnya. Hal itu dinyatakan dalam nubuatan sebagai diumumkan “dengan suara nyaring,” oleh seorang malaikat yang terbang di tengah-tengah langit, dan hal itu akan menarik perhatian dunia.
Mengenai pertentangan, seluruh dunia Kristen akan dibagi dalam dua golongan, — mereka yang memelihara perintah-perintah Allah dan iman kepada Yesus, dan mereka yang menyembah binatang itu dan patungnya dan menerima tandanya. Walaupun gereja dan negara akan mempersatukan kuasa mereka untuk memaksa “semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba,” untuk menerima “tanda binatang itu” (Wah. 13:16), namun umat Allah tidak akan menerimanya. Nabi di Patmos melihat “orang-orang yang telah mengalahkan binatang itu dan patungnya dan bilangan namanya,” berdiri di atas laut kaca. “Pada mereka ada kecapi Allah” dan menyanyikan nynyian Musa dan naynyian Anak Domba. (Wah. 15:2,3)

Nafsu akan Ketelanjangan

May 14, 2013 in Ellen G. White

15 Mei – Nafsu akan Ketelanjangan
Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Matius 5:28.

Banyak anak muda yang semangat akan buku-buku. Mereka membaca apa saja yang bisa mereka peroleh. Kisah-kisah cinta yang menarik dan gambar-gambar yang tidak senonoh mempunyai suatu pengaruh yang mengotori. Novel-novel dibaca dengan semangat oleh banyak orang, dan sebagai akibatnya, khayalan mereka menjadi najis. Di dalam mobil-mobil, foto-foto wanita yang berada dalam keadaan telanjang secara terus-menerus diedarkan untuk dijual. Gambar-gambar yang menjijikkan ini….. dipajang pada dinding-dinding rumah mereka yang berurusan dengan seni ukiran. Ini adalah zaman di mana kekotoran sedang merebak di mana-mana. Nafsu mata dan hasrat-hasrat yang kotor dibangkitkan dengan melihat dan dengan membaca. Hati dicemari melalui khayalan. Pikiran menikmati kesenangan dalam merenungkan pemandangan-pemandangan yang membangkitkan hasrat-hasrat yang lebih rendah dan lebih mendasar. Gambar-gambar yang keji ini, yang dilihat melalui khayalan yang cemar, mengotori moral dan mempersiapkan orang-orang yang sesat dan tergila-gila untuk melepaskan kendali pada gairah-gairah yang penuh nafsu. Kemudian dosa-dosa dan kejahatan datang mengikuti untuk menyeret mereka yang telah dibentuk dalam citra Allah itu jatuh ke dalam tingkatan yang sama dengan binatang-binatang, dengan menenggelamkan mereka pada akhirnya dalam kedurhakaan. Hindarilah membaca dan melihat perkara-perkara yang akan menganjurkan pikiran-pikiran najis. Tinggikanlah kekuatan-kekuatan moral dan intelektual. Jangan membiarkan kekuatan-kekuatan yang mulia ini menjadi dilemahkan dan disesatkan oleh banyaknya bacaan dari buku-buku cerita….. 143.1
Adalah mustahil bagi pemuda untuk memiliki pikiran yang sehat dan prinsip-prinsip agama yang benar jika mereka tidak menikmati pembacaan yang teliti akan firman Allah. Kitab ini mengandung sejarah yang sangat menarik, menjelaskan jalan keselamatan melalui Kristus, dan merupakan tuntunan mereka menuju hidup yang lebih tinggi dan lebih baik. Mereka semuanya akan mengatakan kitab itu sebagai kitab yang paling menarik yang pernah mereka baca, jika khayalan mereka belum disesatkan oleh cerita-cerita menarik dari suatu karakter yang fiktif. Engkau yang sedang menantikan Tuhanmu datang kedua kalinya untuk mengubah tubuhmu yang fana dan untuk mengenakan mereka jubah seperti pada tubuhNya yang sangat mulia, haruslah bangkit dengan suatu pekerjaan yang lebih tinggi. Engkau harus bekerja dari suatu titik pijakan yang lebih tinggi daripada yang telah engkau perbuat sampai saat ini, atau engkau tidak akan pernah menjadi salah satu dari antara bilangan orang yang akan menerima sentuhan akhir keabadian. 143.2

May 15 – The Lust for Nakedness
Whosoever looketh on a woman to lust after her hath committed adultery with her already in his heart. Matt. 5:28.
Many of the young are eager for books. They read everything they can obtain. Exciting love stories and impure pictures have a corrupting influence. Novels are eagerly perused by many, and, as the result, their imagination becomes defiled. In the cars, photographs of females in a state of nudity are frequently circulated for sale. These disgusting pictures are . . . hung upon the walls of those who deal in engravings. This is an age when corruption is teeming everywhere. The lust of the eye and corrupt passions are aroused by beholding and by reading. The heart is corrupted through the imagination. The mind takes pleasure in contemplating scenes which awaken the lower and baser passions. These vile images, seen through defiled imagination, corrupt the morals and prepare the deluded, infatuated beings to give loose rein to lustful passions. Then follow sins and crimes which drag beings formed in the image of God down to a level with the beasts, sinking them at last in perdition. Avoid reading and seeing things which will suggest impure thoughts. Cultivate the moral and intellectual powers. Let not these noble powers become enfeebled and perverted by much reading of even storybooks. . . . 143.1
It is impossible for the youth to possess a healthy tone of mind and correct religious principles unless they enjoy the perusal of the word of God. This book contains the most interesting history, points out the way of salvation through Christ, and is their guide to a higher and better life. They would all pronounce it the most interesting book they ever perused, if their imagination had not become perverted by exciting stories of a fictitious character. You who are looking for your Lord to come the second time to change your mortal bodies, and to fashion them like unto His most glorious body, must come up upon a higher plane of action. You must work from a higher standpoint than you have hitherto done, or you will not be of that number who will receive the finishing touch of immortality. 143.2

Prasangka Bertambah

May 14, 2013 in Ellen G. White

Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu. Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. 1 Yohanes 3:13, 14.

Ia yang secara dekat terhubung dengan Kristus diangkat dari prasangka warna kulit atau kasta. Imannya memegang kenyataan-kenyataan yang abadi. Sang Penulis ilahi dari kebenaran itu harus ditinggikan. Hati kita harus dipenuhi dengan iman yang bekerja dengan kasih dan memurnikan jiwa. Pekerjaan orang Samaria yang baik hati itu adalah contoh yang kita harus ikuti. 142.1
Akan menjadi mustahil untuk menyesuaikan segala perkara sehubungan dengan persoalan warna kulit dalam kesesuaian dengan perintah Tuhan hingga mereka yang meyakini kebenaran adalah begitu erat bersatu dengan Kristus agar mereka menjadi satu dengan Dia. Baik para anggota yang berkulit putih maupun yang berkulit berwarna dari gereja kita perlu bertobat. Ada sebagian dari kedua kelompok itu yang keterlaluan, dan ketika persoalan warna kulit dimunculkan, mereka memperlihatkan sifat-sifat yang tidak suci dan tidak bertobat dari tabiat mereka. Unsur-unsur perbantahan dengan mudah dibangkitkan di dalam diri mereka yang, karena belum pernah belajar mengenakan kuk Kristus, adalah dogmatis dan keras kepala. Dalam orang-orang semacam ini, ada keributan diri sendiri dengan tekad yang tidak suci demi kekuasaan. 142.2
Seiring dengan berjalannya waktu, dan prasangka ras bertambah, maka ia itu akan menjadi hampir mustahil, di banyak tempat, bagi orang-orang berkulit putih untuk bekerja demi orang-orang yang kulitnya berwarna. Kadang-kadang orang-orang berkulit putih yang tidak simpatik dengan pekerjaan kita akan bersatu dengan orang-orang berkulit warna untuk menentangnya, menyatakan bahwa ajaran kita merupakan sebuah usaha untuk memecahkan gereja dan membawa kesulitan atas tuntutan Sabat. Para pendeta berkulit putih dan berkulit berwarna akan membuat pernyataan-pernyataan yang salah, membangkitkan dalam pikiran para anggota jemaat suatu perasaan antagonisme sehingga mereka akan siap-sedia untuk menghancurkan dan membunuh. 142.3
Kekuatan-kekuatan neraka kini sedang bekerja dengan segala kecerdikan mereka untuk menghalangi penyebaran pekabaran terakhir belaskasihan di antara orang-orang berkulit berwarna. Setan sedang bekerja untuk mempersulit para pelayan dan guru injil mengabaikan prasangka yang ada di antara umat berkulit putih dan berkulit berwarna. 142.4
Marilah kita mengikuti jalan kebijaksanaan. Janganlah melakukan sesuatu yang tidak perlu demi membangkitkan pertentangan—sebab tidak ada yang akan menghalangi penyebaran pekabaran injil. 142.5

May 14 – Prejudice on the Increase
Marvel not, my brethren, if the world hate you. We know that we have passed from death unto life, because we love the brethren. He that loveth not his brother abideth in death. 1 John 3:13, 14.
He who is closely connected with Christ is lifted above the prejudice of colour or caste. His faith takes hold of eternal realities. The divine Author of truth is to be uplifted. Our hearts are to be filled with the faith that works by love and purifies the soul. The work of the good Samaritan is the example that we are to follow. 142.1
It will be impossible to adjust all matters regarding the colour question in accordance with the Lord’s order until those who believe the truth are so closely united with Christ that they are one with Him. Both the white and the coloured members of our churches need to be converted. There are some of both classes who are unreasonable, and when the colour question is agitated, they manifest unsanctified, unconverted traits of character. Quarrelsome elements are easily aroused in those who, because they have never learned to wear the yoke of Christ, are opinionated and obstinate. In such, self clamours with an unsanctified determination for the supremacy. 142.2
As time advances, and race prejudices increase, it will become almost impossible, in many places, for white workers to labour for the coloured people. Sometimes the white people who are not in sympathy with our work will unite with coloured people to oppose it, claiming that our teaching is an effort to break up churches and bring in trouble over the Sabbath question. White ministers and coloured ministers will make false statements, arousing in the minds of the people such a feeling of antagonism that they will be ready to destroy and to kill. 142.3
The powers of hell are working with all their ingenuity to prevent the proclamation of the last message of mercy among the coloured people. Satan is working to make it most difficult for the gospel minister and teacher to ignore the prejudice that exists between the white and the coloured people. 142.4
Let us follow the course of wisdom. Let us do nothing that will unnecessarily arouse opposition–nothing that will hinder the proclamation of the gospel message. 142.5

DI BILIK YANG MAHA KUDUS

May 12, 2013 in Ellen G. White

Pelajaran mengenai tempat kudus adalah kunci yang membuka rahasia kekecewaan pada tahun 1844. Pelajaran itu membukakan kepada pendengar suatu sistem kebenaran yang lengkap, yang behubungan dan secara harmonis menunjukkan bahwa tangan Allah telah menuntun Pergerakan Advent yang besar itu, dan menyatakan tugas-tugas sekarang sebagaimana dijelaskan kedudukan dan pekerjaan umat-Nya. Sebagaimana murid-murid Yesus, setelah malam yang mengerikan penuh penderitaan dan kekecewaan itu, “bersukacita bilama mereka melihat Tuhan,” demikianlah mereka sekarang bersukacita, mereka yang memandang dengan iman kepada kedatangan-Nya yang kedua kali. Mereka telah menantikan kedatangan-Nya dalam kemuliaan untuk memberikan upah kepada hamba-hama-Nya. Sebagaimana pengharapan mereka dikecewakan, pandangan mereka kepada Yesus hilang, dan bersama Mariam di makam mereka berseru, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu dimana Ia diletakkan.” (Yoh. 20:2). Sekarang di bilik yang maha kudus sekali lagi mereka melihat-Nya, imam besar mereka yang kekasih, segera akan muncul sebagai raja dan pelepas mereka. Terang dari tempat kudus menyinari masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Mereka mengetahui bahwa Allah telah memimpin mereka oleh pemeliharaan-Nya yang tidak pernah salah. Seperti murid-murid yang pertama, walaupun mereka gagal mengerti pekabaran yang mereka bawa, namun pekabaran itu adalah tepat. Mereka telah menggenapi maksud Allah dalam menyiarkan pekabaran itu dan usaha mereka tidak sia-sia dalam Tuhan. “Pengharapan timbul kembali,” mereka bergembira “dengan sukacita yang tak terkatakan dan penuh kemuliaan.”
Baik nubuatan Daniel 8:14, “Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar,” maupun pekabaran malaikat yang pertama, “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya,” kedunya menunjuk kepada pelayanan Kristus di bilik yang mahakudus, kepada penghakiman pemeriksaan, dan bukan kepada kedatangan Kristus untuk menebus umat-Nya dan kebinasaan orang jahat. Kesalahan bukan pada perhitunagn masa-masa nubuatan, tetapi pada peristiwa yang terjadi pada akhir masa 2300 hari itu. Walaupun oleh karena kesalahan ini orang-orang percaya telah menderita kekecwaan, namun semua yang diramalkan oleh nubuatan, dan semua yang dijamin di dalamnya dengan dukungan Alkitab telah terlaksana. Pada saat itu, pada waktu mereka menangisi kegagalan pengharapan mereka, peristiwa telah terjadi yang telah diramalkan oleh pekabaran itu, dan yang harus digenapi sebelum Tuhan datang untuk memberi upah kepada hamba-hamba-Nya.
Kristus telah datang, bukan ke dunia ini seperti yang diharapkan, tetapi, sebagaimana dibayangkan dalam lambang, kebilik yang mahakudus di kaabah Tuhan di Surga. Ia digambarkan oleh nabi Daniel sebagai yang datang pada waktu ini kepada Yang Lanjut Usia, “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia” — bukan ke dunia ini tetapi — “kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia di bawa ke hadapan-Nya.” (Dan. 7:13).
Kedatangan ini diramalkan juga oleh nabi Maleaki, “Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman Tuhan semesta alam.” (Mal. 3:1). Kedatangan Tuhan ke bait-Nya adalah tiba-tiba, tidak disangka-sangka umat-Nya. Mereka tidak mencari Dia di sana . Mereka mengharapkan Dia datang ke dunia ini, “dalam api yang bernyala-nyala dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah, dan yang tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita.” (2 Tes. 1:8).
Tetapi orang-orang belum bersedia untuk bertemu dengan Tuhan mereka. Masih ada pekerjaan persediaan yang harus mereka laksanakan. Terang akan diberikan untuk menuntun pikiran mereka ke bait Allah di Surga. Dan sementara oleh iman mereka harus mengikuti Imam Besar mereka dalam pelayanan-Nya di sana, tugas-tugas baru akan dinyatakan. Pekabaran amaran dan petunjuk yang lain akan diberikan kepada gereja.
Nabi itu berkata, “Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukangpemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia akan mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan.” (Mal. 3:2,3). Mereka yang hidup di atas dunia ini pada waktu pengantaraan Kristus akan berakhir ditempat kudus di atas, akan berdiri dihadapan Allah yang kudus tanpa pengantara. Jubah mereka harus tidak bernoda; tabiat mereka harus dimurnikan dari dosa oleh percikan darah. Melalui karunia Allah dan usaha keras mereka, mereka harus menjadi penakluk dalam perang melawan yang jahat. Sementara penghakiman pemeriksaan berlangsung di Surga, sementara dosa-dosa orang percaya yang menyesali dosa-dosanya dipindahkan dari tempat kudus, akan ada pekerjaan khusus pemurnian, untuk membuangkan dosa, di antara umat Tuhan di dunia ini. Pekerjaan ini lebih jelas lagi dinyatakan dalam pekabaran Wahyu 14.
Kalau pekerjaan ini telah dilaksanakan, pengikut-pengikut Kristus akan siap bagi kedatangan-Nya. “Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati Tuhan seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.” (Mal. 3:4). Kemudian jemaat yang akan diterima Tuhan kepada-Nya pada waktu kedatangan-Nya, akan “menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacad atau kerut atau yang serupa itu.” (Eps. 5:27). Kemudian jemaat itu akan “muncul laksana fajar merekah, indah bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan surya, dahsyat seperti balatentara dengan panji-panjinya.” ( Kidung 6:10).
Selain kedatangan Tuhan ke dalam bait-Nya, Maleaki juga meramalkan kedatangan-Nya yang kedua kali, kedatangan-Nya untuk melaksanakan keputusan penghakiman, dalam kata-kata berikut ini, “Aku akan mendekati kamu untuk menghakimi dan akan segera menjadi saksi terhadap tukang-tukang sihir, orang-orang berzinah, dan orang-orang yang bersumpah dusta dan terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu, dan mendesak ke samping orang asing, dengan tidak takut kepada-Ku, firman Tuhan semesta alam.” (Mal. 3:5). Yugas juga merujuk kepada pemandangan yang sama pada waktu ia berkata, “Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik.” (Yudas 15,15). Kedatangan ini dan kedatangan Tuhan ke dalam bait-Nya, adalah jelas dan peristiwa yang terpisah.
Kedatangan Kristus sebagai imam besar kita ke dalam bilik yang mahakudus untuk memulihkan tempat kudus itu seperti yang ditampilkan di dalam Daniel 8:14; kedatangan Anak Manusia kepada Yang Lanjut Usianya seperti dinyatakan dalan Daniel 7:13; dan kedatangan Tuhan ke dalam bait-Nya yang diramalkan oleh Maleaki, adalah keterangan peristiwa yang sama. Dan ini juga dinyatakan oleh kedatangan mempelai laki-laki ke pesta pernikahan sebagaimana diterangkan Kristus dalam perumpamaan sepuluh anak dara dalam Matius 25.
Dalam musim panas dan musim gugur tahun 1844, pengumuman “Mempelai datang! Songsonglah Dia!” telah diberikan. Dua golongan seperti yang dilambangkan oleh anak dara yang bijaksana dan yang bodoh itu telah terjadi — satu golongan yang mengharap dengan sukacita kedatangan Tuhan dan yang dengan tekun menyediakan dirinya untuk bertemu dengan Tuhan; sementara segolongan lain yang dipengaruhi oleh ketakutan, dan bertindak hanya atas hawa nafsu, telah puas dengan teori kebenaran, tetapi miskin karunia Allah. Dalam perumpamaan itu disebutkan, bahwa pada waktu mempelai datang, “mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan Dia ke ruang perjamuan kawin.” Kedatangan mempelai laki-laki, yang ditampilkan di sini, terjadi sebelum pernikahan. Pernikahan melambangkan penerimaan oleh Kristus kerajaan-Nya. Kota suci, Yerusalem yang baharu, yaitu ibukota dan sebagai cerminan kerajaan itu, disebut “mempelai perempuan, isteri Anak Domba itu.” Malaikat itu berkata kepada Yohanes, “Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kedapamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.” “Lalu di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung,” kata nabi itu, “dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari Sutrga, dari Allah.” (Wah. 21:9,10). Jelaslah, mempelai perempuan melambangkan kota suci itu, dan anak-anak dara yang pergi menemui mempelai laki-laki adalah lambang jemaat. Dalam buku Wahyu, umat Tuhan dikatakan adalah tamu pada perjamuan kawin. (Wah. 19:9). Jika umat Tuhan adalah tamu, tidak mungkin juga melambangkan mempelai wanita. Kristus, sebagaimana dikatakan oleh nabi Daniel, akan menerima dari Yang Lanjut Usianya, ” kekuasaan dan kemuliaan, dan kerajaan.” Ia akan menerima Yersualem Baru, ibukota kerajaan-Nya, “yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdan-dan untuk suaminya.” (Dan. 7:14; Wah. 21:2). Setelah menerima kerajaan, Ia akan datang dalam kemuliaan-Nya, sebagai Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala tuan, untuk menebus umat-Nya, yang akan “duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub” di meja-Nya dalam kerajaan-Nya (Matius 8:11; Luk. 22:30), untuk turut ambil bagian dalam perjamuan kawin Anak Domba.
Pengumuman “Mempelai datang! Songsonglah Dia!” pada musim panas tahun 1844, menyebabkan ribuan orang dituntun untuk mengharapkan kedatangan Tuhan yang segera. Pada waktu yang ditetapkan, mempelai datang bukan ke dunia ini sebagaimana diharapkan oleh orang-orang, tetapi kepada Yang Lanjut Usianya di Surga, kepada pernikahan, penerimaan kerajaan-Nya. “Mereka yang telah siap sedia, masuk bersama-sama dengan Dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu tertutup.” Mereka tidak akan hadir secara pribadi pada pernikahan itu, karena pernikahan itu berlangsung di Surga, sementara mereka ada di atas dunia ini. Pengikut-pengikut Kristus “menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan itu.” (Lukas 12:36).Tetapi mereka harus mengerti pekerjaan-Nya, dan mengikut Dia oleh iman sementara Dia pergi ke hadirat Allah. Dalam pengertian inilah mereka dikatakan pergi ke pernikahan.
Dalam perumpamaan itu, hanya mereka yang mempunyai minyak dalam buli-buli dan dalam pelitanya saja yang masuk ke perjamuan kawin itu. Mereka yang mengerti kebenaran dari Alkitab, dan juga yang mempunyai Roh dan karunia Allah, dan yang pada malam pencobaan paling pahit mereka telah dengan sabar menunggu, menyelidiki Alkitab untuk terang yang lebih jelas, — mereka ini melihat kebenaran mengenai tempat kudus di Surga dan perobahan pelayanan Juru Selamat, dan oleh iman mereka mengikuti-Nya dalam pekerjaan-Nya di tempat kudus di atas. Dan semua yang melalui kesaksian Alkitab menerima kebenaran yang sama, mengikuti Kristus oleh iman pada waktu Ia masuk ke hadirat Allah untuk melaksanakan pekerjaan pengantaraan yang terakhir, dan pada penutupannya menerima kerajaan-Nya — semuanya ini dilambangkan sebagai pergi pernikahan.
Dalam perumpamaan Matius 22 gambaran pernikahan yang sama diperkenalkan. Dan penghakiman pemeriksaan dengan jelas digambarkan terjadi sebelum pernikahan. Sebelum pesta pernikahan mulai, raja itu datang untuk menemui tamu-tamu (Mat. 22:11), untuk melihat kalau-kalau semuanya memakai pakaian pesta, jubah tabiat yang tidak bernoda yang dibasuh dan diputihkan dalam darah Anak Domba (Wah. 7:14). Ia yang ditemukan kurang, dibuang keluar, tetapi semua yang setelah diperiksa ditemukan memakai pakaian pesta perkawinan, diterima oleh Allah dan layak memperoleh bahagian dalam kerajaan-Nya dan tempat duduk di atas takhta-Nya. Pekerjaan pemeriksaan tabiat ini, yang menentukan siapa yang bersedia kepada kerajaan Allah, adalah penghakiman pemeriksaan, pekerjaan penghabisan di kaabah di Surga.
Bilamana pekerjaan pekerjaan pemeriksaan berakhir, bilamana mereka yang pada segala zaman mengaku pengikut-pengikut Kristus telah diperiksa dan diputuskan, kemudian berakhirlah masa percobaan, dan pintu kasihanpun tertutuplah. Jadi dalam kalimat pendek, “mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan Dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup,” kita dibawa melalui pelayanan terakhir Juru Selamat, kepada waktu bilamana pekerjaan besar penyelamatan manusia diselesaikan.
Dalam upacara di tempat kudus atau kaabah duniawi, seperti yang kita telah lihat adalah gambaran upacara di kaabah surgawi, bilamana imam besar pada Hari Pendamaian memasuki bilik yang maha kudus, maka pelayanan di bilik yang kudus terhenti. Allah memerintahkan “Seorangpun tidak boleh hadir di dalam Kemah Pertemuan, bilamana Harun masuk untuk mengadakan pendamaian di tempat kudus, sampai ia keluar.” (Imamat 16:17). Jadi bilamana Kristus memasuki bilik yang maha kudus untuk melaksanakan penutupan pekerjaan pendamaian, Ia menghentikan pelayanan-Nya di bilik yang kudus. Tetapi bilamana pelayanan di bilik yang kudus berakhir, maka pelayanan di bilik yang maha kuduspun mulai. Bilamana dalam pelayanan lambang, imam besar meninggalkan bilik yang suci pada Hari Pendamaian, ia pergi ke hadirat Allah untuk mempersembahkan darah dari persembahan karena dosa atas nama semua orang Israel yang benar-benar menyesali dosa-dosa mereka. Demikianlah Kristus telah menyelesaikan satu bagian dari pekerjaan-Nya sebagai pengantara, untuk memulai bagian yang lain dari pekerjaan itu, dan Ia masih mempersembahkan darah-Nya di hadirat Bapa atas nama orang-orang berdosa.
Pokok pelayanan ini tidak dimengerti oleh orang-orang Advent pada tahun 1844. Setelah waktu berlalu pada waktu Juru Selamat diharapkan datang, mereka masih percaya kedatangan-Nya sudah dekat. Mereka berpendapat bahwa mereka telah sampai kepada suatu krisis penting, dan bahwa pekerjaan Kristus sebagai pengantara di hadirat Allah telah berakhir. Tampak kepada mereka diajarkan di dalam Alkitab bahwa masa percobaan manusia akan tertutup sedikit waktu lagi sebelum kedatangan Tuhan yang sebenarnya di awan-awan langit. Hal ini terbukti dari Alkitab yang menunjuk kepada suatu masa bilamana manusia akan mencari, mengetok di pintu rahmat, dan pintu itu tidak akan dibuka. Dan menjadi pertanyaan bagi mereka apakah tanggal yang mereka harapkan kedatangan Kristus itu, bahkan menandai permulaan masa yang segera mendahului kedatangan-Nya? Setelah memberikan amaran penghakiman yang sudah dekat, mereka merasa pekerjaan mereka bagi dunia ini sudah selesai, dan tidak ada lagi beban jiwa mereka bagi keselamatan orang-orang berdosa. Sementara itu hujatan keras dan ejekan orang yang tidak percaya kepada Tuhan dianggap sebagai bukti lain bahwa Roh Allah telah ditarik dari mereka yang menolak kasih karunia-Nya. Semuanya ini meyakinkan mereka bahwa percobaan sudah berakhir, atau sebagaimana kemudian mereka sebutkan, “pintu kasihan telah tertutup.”
Tetapi terang yang lebih jelas datang dengan penyelidikan mengenai masalah tempat kudus. Sekarang mereka melihat bahwa mereka adalah benar dalam mempercayai bahwa akhir dari 2300 hari itu ialah tahun 1844 yang ditandai dengan krisis penting. Akan tetapi walaupun benar bahwa pintu pengharapan dan pengasihan, melalui mana 1800 tahun manusia datang kepada Allah, sudah tertutup, pintu yang lain terbuka, dan pengampunan dosa diberikan kepada manusia melalui pengantaraan Kristus di bilik yang maha kudus. Satu bagian pelayanan-Nya sudah tertutup, sementara satu lagi terbuka. Masih ada “pintu terbuka” ke tempat kudus surgawi, dimana Kristus melayani demi kepentingan orang-orang berdosa.
Sekarang terlihat penerapan perkataan Kristus yang terdapat dalam Wahyu, yang ditujukan kepada jemaat pada zaman ini: “Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun.” (Wah. 3:7,8).
Mereka, yang oleh percaya mengikut Yesus dalam pekerjaan pendamaian-Nya yang besar itu, yang akan menerima manfaat pengantaraan-Nya demi kepentingan mereka. Sementara mereka yang menolak terang yang menampakkan pekerjaan pelayanan ini tidak akan memperoleh manfaat dari padanya. Orang Yahudi yang menolak terang yang diberikan pada waktu kedatangan Kristus yang pertama, dan menolak untuk percaya kepada-Nya sebagai Juru Selamat dunia, tidak dapat menerima pengampunan melalui Dia. Ketika Yesus pada waktu kenaikan-Nya dengan darah-Nya sendiri memasuki tempat kudus surgawi mencurahkan berkat-berkat pengantaraan-Nya kepada murid-murid-Nya, orang-orang Yahudi telah ditinggalkan dalam kegelapan, meneruskan korban-korban dan persembahan-persembahan mereka yang tidak berguna lagi. Pelayanan secara lambang dan bayangan telah berakhir. Pintu melalui mana sebelumnya manusia dapat datang kepada Allah, tidak lagi terbuka. Orang Yahudi telah menolak mencari-Nya di jalan satu-satunya dimana Ia bisa ditemukan, melalui pelayanan dalam tempat kudus di Surga. Itulah sebabnya mereka tidak menemukan persekutuan dengan Allah. Kepada mereka pintu sudah tertutup. Mereka tidak mengetahui Kristus sebagai korban yang benar dan satu-satunya pengantara di hadirat Allah; dan oleh sebab itu mereka tidak dapat menerima manfaat pengantaraan-Nya.
Keadaan orang Yahudi yang tidak percaya itu menggambarkan keadaan orang-orang yang lalai dan tidak percaya di antara orang-orang yang mengaku dirinya orang Kristen, yang dengan sengaja tidak mau tahu mengenai pekerjaan pengasihan Imam Besar kita. Pada upacara lambang, bilamana imam besar memasuki bilik yang maha kudus, seluruh orang Israel diharuskan berkumpul di sekitar kemah suci, dan dalam sikap yang paling khidmat merendahkan hati dan jiwa mereka di hadirat Allah, agar mereka boleh menerima pengampunan atas dosa-dosa mereka, dan tidak dikucilkan dari perhimpunan bangsa itu. Betapa lebih penting lagi pada hari pendamaian yang sebenarnya ini kita memahamai pekerjaan Imam Besar kita, dan mengetahui kewajiban-kewajiban yang dituntut dari kita.
Manusia tidak dapat menolak amaran yang dikirimkan Allah dalam kemurahan-Nya kepada mereka. Pekabaran telah dikirim dari Surga ke dunia ini pada zaman Nuh, dan keselamatan mereka tergantung kepada sikap mereka memperlakukan pekabaran itu. Oleh karena mereka menolak dan tidak memperdulikan amaran itu, maka Roh Allah ditarik dari bangsa yang berdosa itu, dan akhirnya mereka binasa di dalam air bah. Pada zaman Abraham, kemurahan berhenti membujuk penduduk jahat kota Sodom, sehingga semua orang, kecuali Lot dengan isterinya dan kedua anak gadisnya, binasa dimakan api yang dikirim dari langit. Demikian juga pada zaman Kristus. Anak Allah mengatakan kepada orang Yahudi yang tidak percaya mengenai bangsa itu, “Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.” (Mat. 23:38). Memandang kepada akhir zaman, Penguasa Takterbatas yang sama itu menyatakan mengenai mereka yang “tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.” “Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan.” (2 Tes. 2:10-12). Sementara mereka menolak pengajaran firman-Nya, Allah menarik Roh-Nya, dan membiarkan mereka jatuh kepada penipuan yang mereka sukai.
Akan tetapi Kristus masih mengantarai demi kepentingan manusia. Dan terang akan diberikan kepada mereka yang mencarinya. Walaupun pada mulanya hal ini tidak dimengerti oleh orang Advent, tetapi kemudian menjadi jelas, pada waktu ayat-ayat Alkitab yang menjelaskan kedudukan mereka yang sebenarnya mulai dibukakan dihadapan mereka.
Berlalunya waktu pada tahun 1844 telah diikuti oleh masa pencobaan besar bagi mereka yang masih memegang kepercayaan kepada kedatangan Kristus kedua kali. Satu-satunya yang melegakan, sejauh yang menyangkut penegasan kedudukan mereka yang benar, ialah terang yang mengarahkan pikiran mereka ke tempat kudus di Surga di atas. Beberapa orang meninggalkan imannya mengenai perhitungan-perhitungan nubuatan sebelumnya, dan menganggap kekuatan manusia atau agen-agen Setan mempengaruhi kuasa Roh Kudus yang telah membantu Pergerakan Advent. Golongan lain berpegang teguh bahwa Tuhan telah menuntun mereka dalam pengalaman-pengalaman mereka di masa lalu. Dan sementara mereka menunggu, berjaga dan berdoa untuk mengetahui kehendak Allah, mereka melihat bahwa Imam Besar mereka telah memasuki pekerjaan pelayanan lain, dan dengan mengikuti-Nya oleh iman mereka telah dituntut untuk melihat juga pekerjaan penutup gereja. Mereka mempunyai pengertian yang lebih jelas mengenai pekabaran-pekabaran malaikat yang pertama dan kedua, dan bersedia menerima dan memberikannya kepada dunia ini amaran yang sungguh-sungguh malaikat yang ketiga dalam Wahyu 14.

13 Mei – Kekacauan di Berbagai Kota

May 12, 2013 in Ellen G. White

Sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka akan menyesatkan dan disesatkan. 2 Timotius 3:13.

Bukanlah kehendak Allah bahwa umatNya harus hidup dalam kerumunan di kota-kota, berkumpul bersama-sama di teras-teras dan rumah-rumah susun. Pada mulanya Dia menempatkan orang tua kita yang pertama itu dalam sebuah taman di tengah-tengah pemandangan-pemandangan yang indah dan suara-suara yang menarik dari alam, dan pemandangan-pemandangan serta suara-suara ini Dia inginkan untuk dinikmati manusia pada masa ini. 141.1
Terang telah diberikan kepada saya bahwa kota-kota akan dipenuhi dengan kekacauan, kekerasan, dan kejahatan, dan bahwa perkara-perkara ini akan meningkat hingga akhir sejarah bumi ini. 141.2
Ini adalah saatnya bagi umat kita untuk memindahkan keluarga-keluarga mereka dari kota-kota ke dalam daerah-daerah pemukiman pensiunan, sebab jika tidak demikian maka banyak pemuda dan juga orang-orang yang lebih tua akan disesatkan dan diambil oleh musuh itu. 141.3
“Keluarlah dari kota-kota; keluarlah dari kota-kota!”—inilah pesan yang Tuhan berikan kepada saya. 141.4
Kekacauan dan kebingungan yang memenuhi kota-kota ini, kondisi-kondisi yang dimunculkan oleh serikat-serikat buruh dan pemogokan-pemogokan, akan menjadi sebuah penghalang besar pada pekerjaan kita. Orang-orang akan berupaya membawa mereka yang terlibat di dalam perdagangan-perdagangan yang berbeda ke bawah perbudakan serikat-serikat tertentu. Hal ini bukanlah rencana Allah, tetapi rencana dari suatu kekuatan yang kita tidak mesti ketahui. Firman Allah sedang menemukan penggenapannya; orang jahat sedang mengikatkan diri mereka sendiri dalam ikatan-ikatan yang siap untuk dibakar. 141.5
Kita sekarang harus menggunakan semua kemampuan yang telah dipercayakan kepada kita dalam menyebarkan pekabaran amaran terakhir kepada dunia. Dalam pekerjaan ini kita harus menjaga kepribadian kita. Kita tidak boleh bergabung dengan perkumpulan-perkumpulan rahasia atau dengan serikat-serikat dagang. Kita harus berdiri bebas di dalam Allah, secara terus-menerus menatap kepada Kristus. 141.6
Kota-kota yang tidak saleh dari dunia kita harus dimusnahkan oleh sapu kehancuran. Dalam bencana-bencana yang sekarang menimpa bangunan-bangunan besar dan bagian-bagian besar dari kota-kota, Allah sedang menunjukkan apa yang akan terjadi atas seluruh bumi. Dia telah mengatakan kepada kita: “Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.” Matius 24:32,33. 141.7

May 13 – Turmoil in the Cities
Evil men and seducers shall wax worse and worse, deceiving, and being deceived. 2 Tim. 3:13.
It was not God’s purpose that His people should be crowded into cities, huddled together in terraces and tenements. In the beginning He placed our first parents in a garden amidst the beautiful sights and attractive sounds of nature, and these sights and sounds He desires men to rejoice in today. 141.1
Light has been given me that the cities will be filled with confusion, violence, and crime, and that these things will increase till the end of this earth’s history. 141.2
It is time for our people to take their families from the cities into more retired localities, else many of the youth, and many also of those older in years, will be ensnared and taken by the enemy. 141.3
“Out of the cities; out of the cities!”–this is the message the Lord has been giving me. 141.4
The turmoil and confusion that fill these cities, the conditions brought about by the labour unions and the strikes, would prove a great hindrance to our work. Men are seeking to bring those engaged in the different trades under bondage to certain unions. This is not God’s planning, but the planning of a power that we should in no wise acknowledge. God’s word is fulfilling; the wicked are binding themselves up in bundles ready to be burned. 141.5
We are now to use all our entrusted capabilities in giving the last warning message to the world. In this work we are to preserve our individuality. We are not to unite with secret societies or with trade-unions. We are to stand free in God, looking constantly to Christ. 141.6
The ungodly cities of our world are to be swept away by the besom of destruction. In the calamities that are now befalling immense buildings and large portions of cities God is showing us what will come upon the whole earth. He has told us: “Now learn a parable of the fig tree; When his branch is yet tender, and putteth forth leaves, ye know that summer is nigh: so likewise ye, when ye shall see all these things, know that it [the coming of the Son of man] is near, even at the doors.” Matthew 24:32, 33. 141.7

“PELAJARAN DARI KISAH YUNUS?”

May 11, 2013 in Others

Nama “Yunus” berarti “merpati”. Seharusnya, nama tersebut menggambarkan karakter orang yang tulus dan setia. Akan tetapi, ternyata nama tersebut bertolak belakang dengan karakter Yunus yang sebenarnya, yaitu seorang yang menyimpan kebencian dan berlaku tidak setia terhadap perintah Tuhan. Kitab ini sangat sedikit menyoroti tentang Niniwe, kota tempat Tuhan mengutus Yunus. Sebaliknya, dapat dikatakan bahwa kitab ini justru lebih banyak menyoroti ketidaktaatan nabi Allah dan kesabaran Allah kepada nabi-Nya.
Niniwe adalah ibu kota Asyur. Letaknya di timur laut Mesopotamia (sekarang Irak) di sungai Tigris. Nahum 2:10-3:4 menggambarkan kekejaman orang-orang Niniwe. Yafo adalah sebuah pelabuhan yang ramai, yang terletak di Laut Tengah. Tarsis (Spanyol) terletak di arah berlawanan dengan Niniwe. Yunus melayani pada masa pemerintahan Raja Yerobeam II. Pada waktu itu, kerajaan Israel adalah kerajaan yang kuat dan siap menghadapi serbuan tentara Asyur yang menjadi musuh besar mereka. Kondisi politik seperti ini membuat Yunus sulit untuk mengerti mengapa Allah berusaha menyatakan kasih-Nya kepada Niniwe.

Adapun tujuan penulisan kitab ini adalah:
(1) untuk menunjukkan kepada Israel dan bangsa-bangsa lainnya betapa besarnya dan luasnya kasih sayang Allah yang bertindak menyelamatkan melalui pemberitaan tentang pertobatan;
(2) Untuk menekankan kuasa universal Allah atas perseorangan dan atas segenap bangsa.
(3) Untuk menggambarkan kegagalan bangsa Israel yang seharusnya menjadi berkat bagi bangsa lain dalam konteks panggilan misionari yang seharusnya mereka ingat. (Kejadian 12:1-3; Yesaya 42:6-7; Yesaya 49:6).

Dalam Perjanjian Baru (Matius 12:39-41), Tuhan Yesus menyamakan dirinya dengan Yunus. Tuhan Yesus bersabda, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus.”

Ayat Bacaan : Yunus 1:1-17
Kisah tentang Nabi Yunus merupakan salah satu cerita yang mungkin sering kita baca dan dengar. Sejak kanak-kanak saat kita di sekolah minggu sampai kita beranjak dewasa bahkan tua kita sudah berulang kali mendengarnya.Namun demikian isi Alkitab yang kita baca atau dengar tersebut pasti selalu memberikan sesuatu yang baru karena ketika kita sungguh-sungguh membaca atau mendengarkannya maka Roh Kudus akan memberikan inspirasi dan pewahyuan yang baru pada setiap kita. Oleh karena itu bergaulah dengan Alkitab melalui perenungan FirmanNya setiap hari agar hidup kita semakin berubah lebih baik lagi.

Beberapa Hal yang dapat kita pelajari dari kisah Nabi Yunus ini antara lain…

Jangan Mengingkari Janji Judul perikop dari ayat bacaan (yang di berikan Lembaga Alkitab Indonesia) bertuliskan “Yunus Mengingkari Panggilan Tuhan”. Yunus ingkar akan janjinya dengan ia tidak mentaati perintah Tuhan yang menyuruh ia pergi ke Niniwe (Yun 1:1-2) untuk mengingatkan kejahatan orang-orang Niniwe. Dalam bahasa aslinya kata Yunus berati Merpati (dove) gambaran perdamaian dan kesetiaan namun justru Yunus berlaku tidak setia dengan mengingkari janji panggilannya sebagai abdi Allah akibatnya Tuhan murka kepadanya.

 Tuhan setia dan tidak akan ingkar terhadap janji-Nya tetapi tidak terhadap orangnya, yaitu terhadap orang-orang yang tidak setia dan suka ingkar janji. Karena itu hendaklah engkau setia sampai mati (Why 2:10).
 Hati-hati terhadap janji, lebih baik tidak usah berjanji daripada tidak dapat menepatinya.
 Karena itu tepati janji kita, untuk tetap mengasihi Dia dengan tetap setia terhadap pelayanan yang Tuhan sudah percayakan melalui pemimpin.

Jangan Lari dari Tuhan Tuhan memerintahkan Yunus pergi ke Niniwe untuk mengingatkan kejahatan orang-orang di sana tetapi Yunus malah pergi ke Tarsis ia ingin Tuhan langsung menghukum saja orang-orang Niniwe yang jahat itu, gak usah di peringatkan lagi. Kebencianya terhadap orang-orang Niniwe membuat Yunus lari dari Tuhan (Yun 1:3-4), menjauh dari hadapan Tuhan.

 Manusia tidak bisa lari dari Tuhan karena Tuhan maha hadir (Mzm 139:7-12)
 Kita akan rugi dan membayar mahal jika coba lari dari Tuhan
 Jangan lari dari tugas dan tanggung jawab pelayanan hanya karena tidak suka terhadap pelayanan yang ada atau tidak suka terhadap seseorang.
 Tuhan murka terhadap orang yang lari dari tanggung jawab (Yun 1:4).

Jangan tertidur! Sungguh aneh.. dalam keadaan terjadi angin ribut dan gelombang besar bahkan badai besar tersebut hampir menenggelamkan kapal yang ia tumpangi, Yunus malah tertidur dengan nyenyak (Yun 1:6). Saat ini banyak dari orang-orang percaya sama seperti Yunus gelombang dan badai hidup hampir menengelamkan iman kita atau iman keluarga kita, iman saudara-saudara kita tetapi kita tenang-tenang saja. Gelombang aniaya melanda sebagian gereja-gereja di Indonesia kita tidak perduli, masa bodoh, kita tertidur dengan nyenyak.

Saat ini Gereja harus bangun dari tidur, lihat keadaan sekelilingmu dan tunjukan keperdulian terhadap sesama, Jangan bersikap masa bodoh.

 Jangan Berseru & Berdoa hanya untuk diri sendiri saja, tetapi juga untuk saudara seiman yang sedang menglami kesukaran dan aniaya sebagai bentuk keperdulian kita.
 Belajarlah berseru kepada Tuhan bukan kepada manusia (Pendeta/Gembala/Pastor, dll), agar tetap sadar dan connect dengan Tuhan.

Berani Berkorban. Salah satu sikap yang baik dari Yunus adalah berani berkorban, dalam keadaan keos (chaos, kacau) Yunus berani tampil dan mengakui bahwa angin ribut dan badai tersebut terjadi karena dirinya, karena ia lari dari Tuhan dan ia berani mengorbankan dirinya untuk di campakkan ke dalam laut (Yun 1:12) agar laut menjadi reda tidak menyerang mereka lagi.

 Untuk ikut Yesus setiap kita harus berani berkorban dengan menyangkal diri dan pikul salib.
 Jika berkata mau Hidup di dalam KASIH berarti harus juga berani BERKORBAN

Sadar lalu Berseru kepada Tuhan. Setelah di telan ikan besar dan tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam lamanya maka sadarlah Yunus atas segala kesalahan yang telah ia perbuat lalu berdoalah Yunus kepada Tuhan (Yun 2:1) dan berjanji akan membayar apa yang pernah ia nazar-kan. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat(Yun 2:10) Masalahpun selesai.

 Yunus berani mengoreksi dirinya dan mengakui kesalahannya, setiap kita seharusnya juga seperti itu dari pada suka mengoreksi dan menyalahkan orang lain lebih baik koreksi diri sendiri.
 Dalam keadaan sulit kita seharusnya berdoa, berseru memanggil nama Yesus jangan panggil yang lain (dukun, renternir, suami, tetangga, dll).
 Selalu ada jalan keluar bagi orang yang mau berseru memanggil nama Tuhan.
 Ketika berseru memanggil nama Tuhan pada akhirnya persoalan pasti selesai.

JANGAN PERNAH LARI DARI TUHAN SEPERTI YUNUS LAKUKAN, KITA AKAN RUGI DAN MEMBAYAR MAHAL JIKA NEKAT MENCOBANYA.

LH dan Bobby Pattiruhu

Merendahkan Diri

May 10, 2013 in Others

Berkelahi, berdebat, mengkritik, dan bergosip-membuat kita lelah. Kapankah ini akan berakhir? Mengapa hal ini terjadi di gereja-gereja kita, dalam milis rohani kita, dalam group-group di FB, ditempat kerja dan bahkan dalam rumah-tangga kita? Kalau kita lihat kebelakang, berkelahi, berdebat, mengkritik dan bergosip dimulaikan di kerajaan surga oleh Lucifer. Sekarang kita lihat, usahanya yang gigih untuk menghancurkan, tampak dalam gereja-gereja. Banyak pemuda Kristen dan anggota-anggota baru yang sedang mencari kedamaian. Hati mereka menangis mendambakan tempat dimana kedamaian itu terjaga. Mereka ingin diterima, dicintai dan diampuni. Akankah mereka temukan kasih karunia dalam keluarga dan gereja kita? Jika kita tinggi hati dan tidak memiliki pikiran Yesus (Phil 2:5-8), pola pikir yang jahat ini akan menghancurkan kehidupan yang tenang dan damai yang Yesus janjikan bagi kita semua. Obat penawarnya sangat sederhana: Jadilah rendah hati. Jadilah seperti Yesus. Hindarilah penyakit ini melalui kepasrahan hidup kepada Allah.
Kebanggaan diri memaksakan kehendak. Kerendahan hati menjauhi perkelahian. Arogansi menonjolkan kebenaran diri sendiri. Kata Thomas Merton: “Cinta sebetulnya hanya mencari satu hal saja, kebaikan dari yang dicintai”. Ego tak akan pernah menyerah, akan terus menantang kita. Nasihat Paulus: “Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu dan sabar menanggung segala sesuatu. Cinta tidak pernah gagal. “(Kor. 13:7-8). Satu-satunya yang menang ketika dua pihak tetap bersikeras pada cara mereka sendiri adalah iblis. Mereka berdua kalah!
Ibrani 12:14 berkata: “Berusahalah hidup damai dengan semua orang, dan kudus, tanpa itu, tak seorangpun akan melihat Tuhan”. Dengan kata lain, kehilangan surga. Ayat ini melanjutkan dengan mengatakan, “Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang” Ayat 15. Early Writings, hal. 119 mengatakan: “Jika kebanggaan dan egoisme dikesampingkan, hanya dibutuhkan lima menit untuk menyelesaikan sebagian besar kesulitan.”
Apakah sepadan kehilangan surga yang kekal dan perdamaian saat ini, demi kemenangan cara dan kebenaran kita sendiri? Saya mendengar bahwa ada tiga sisi dari sebuah argumentasi: sisi saya, sisi anda dan sisi Allah. Kita sangat egois sehingga kita senantiasa mengasah kebenaran dalam pikiran kita. Kita benci untuk mengakui bahwa kemungkinan kita bisa salah. Argumen teman saya dalam hal ini: “Seberapa ruginya sih menjadi salah?” Teman yang lain: “Saya punya pilihan untuk “benar” atau “bahagia”. Saya memilih untuk menjadi bahagia”. Ini juga: “Apakah kehilangan pasangan hidup, teman, saudara seiman, dll sebanding dengan ke-ngotot-an kita pada kemauan kita sendiri? Tiga kali firman Allah mengatakan dengan sangat jelas: Mazmur 25:9, Yakobus 4:06 dan 1 Petrus 5:5, “Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati”. “Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu”. “Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ”Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati”. Anugerah Allah membenarkan kita, menguduskan kita dan menyelamatkan kita selamanya. Belajarlah dari Yesus untuk dapat mengendalikan suasana sehingga kita bisa memiliki kedamaian yang melampaui segala akal. Saya menjamin berikut ini, jika anda memilih untuk menyerahkan diri 100% kepada Yesus, merendahkan diri dan lalu melepaskan ego diri sendiri itu:
1. Kedamaian pribadi 2. Tidur seperti bayi 3. Hidup sehat dan bahagia 4. Menerima 100 kali lipat dalam hidup ini 5. Mewarisi kehidupan kekal 6. Memiliki kehidupan yang lebih berlimpah.
Tuhan ingin anda merasakan suasana surga dalam kehidupanmu baik di rumah Anda maupun di gereja anda. Lepaskan kebanggaan diri dan serahkanlah itu kepada Yesus.

Sebuah Teror Besar Segera Datang

May 10, 2013 in Ellen G. White

Kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. 1 Korintus 4:9.

Dunia ini adalah sebuah gedung pertunjukan; para aktor, para penghuninya, sedang bersiap untuk memainkan peran mereka dalam drama besar yang terakhir. Dalam jumlah besar massa manusia tidak ada kesatuan, kecuali bila orang-orang berkonfederasi untuk menyelesaikan tujuan-tujuan egois mereka. Allah sedang menyaksikan. Tujuan-tujuanNya mengenai para pendurhakaNya akan digenapi. Dunia ini belum diserahkan ke dalam tangan manusia, meskipun Allah sedang membiarkan elemen-elemen kebingungan dan kekacauan merajalela untuk sementara. Sebuah kekuatan dari bawah sedang bekerja untuk menampilkan pertunjukan besar yang terakhir dalam drama itu—Setan datang sebagai Kristus, dan bekerja dengan semua yang dapat disesatkan dari ketidakbenaran dalam diri orang-orang yang mengikatkan diri mereka sendiri secara bersama-sama dalam perkumpulan-perkumpulan masyarakat yang bersifat rahasia. Mereka yang menyerah pada hasrat untuk konfederasi itu sedang mengerjakan rencana-rencana musuh. Penyebab akan diikuti oleh akibatnya. 138.1
Pelanggaran hukum sudah hampir mencapai batasnya. Kebingungan memenuhi dunia ini, dan sebuah teror besar akan segera datang menimpa semua manusia. Akhir zaman itu sangat dekat. Kita yang mengetahui kebenaran haruslah sedang bersiap untuk apa yang segera akan menimpa dunia ini sebagai sebuah kejutan yang luar biasa……… 138.2
Apakah kita sebagai sebuah umat sedang tertidur? Oh, jika kaum pemuda dan pemudi dalam lembaga-lembaga kita yang saat ini tidak siap untuk kedatangan Tuhan, tidak layak menjadi anggota-anggota keluarga Tuhan, hanya bisa mengetahui tanda-tanda zaman, betapa perlunya sebuah perubahan terlihat dalam diri mereka! Tuhan Yesus sedang memanggil para pekerja yang menyangkal diri sendiri untuk mengikuti jejakNya, untuk berjalan dan bekerja untuk Dia, untuk memikul salib, dan mengikuti ke mana Dia memimpin jalan. 138.3
Banyak orang segera puas dengan mempersembahkan kepada Tuhan tindakan-tindakan pelayanan yang sepele. Kekristenan mereka adalah lemah. Kristus memberikan diriNya sendiri bagi para pendosa. Betapa dengan kecemasan mestinya diri kita dipenuhi demi penyelamatan jiwa-jiwa sebagaimana kita melihat umat manusia sedang binasa di dalam dosa! Jiwa-jiwa ini sudah dibeli dengan harga yang tidak terkira. Kematian Putera Allah pada salib Kalvari adalah ukuran dari harga mereka. Hari demi hari mereka sedang memutuskan apakah mereka akan memiliki hidup yang abadi atau kematian yang kekal. 138.4

May 10 – A Great Terror Soon to Come
We are put on view to the world, and to angels, and to men. 1 Cor. 4:9, Bible in Basic English.
The world is a theatre; the actors, its inhabitants, are preparing to act their part in the last great drama. With the great masses of mankind there is no unity, except as men confederate to accomplish their selfish purposes. God is looking on. His purposes in regard to His rebellious subjects will be fulfilled. The world has not been given into the hands of men, though God is permitting the elements of confusion and disorder to bear sway for a season. A power from beneath is working to bring about the last great scenes in the drama–Satan coming as Christ, and working with all deceivableness of unrighteousness in those who are binding themselves together in secret societies. Those who are yielding to the passion for confederation are working out the plans of the enemy. The cause will be followed by the effect. 138.1
Transgression has almost reached its limit. Confusion fills the world, and a great terror is soon to come upon human beings. The end is very near. We who know the truth should be preparing for what is soon to break upon the world as an overwhelming surprise. . . . 138.2
Are we as a people asleep? Oh, if the young men and young women in our institutions who are now unready for the Lord’s appearing, unfitted to become members of the Lord’s family, could only discern the signs of the times, what a change would be seen in them! The Lord Jesus is calling for self-denying workers to follow in His footsteps, to walk and work for Him, to lift the cross, and to follow where He leads the way. 138.3
Many are readily satisfied with offering the Lord trifling acts of service. Their Christianity is feeble. Christ gave Himself for sinners. With what anxiety for the salvation of souls we should be filled as we see human beings perishing in sin! These souls have been bought at an infinite price. The death of the Son of God on Calvary’s cross is the measure of their value. Day by day they are deciding whether they will have eternal life or eternal death. 138.4

Pawai Eksternal dari Kekuatan Kafir

May 10, 2013 in Ellen G. White

11 Mei – Pemuda dan Sindrom Obat-Obatan
Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan. Pengkotbah 11:9.

Setan adalah pemberontak pertama di jagad raya ini, dan semenjak pengusirannya dari surga ia telah berusaha untuk membuat setiap anggota keluarga manusia menjadi murtad dari Allah, bahkan seperti dirinya sendiri. Ia membentangkan rencana-rencananya untuk menghancurkan manusia, dan melalui kesenangan yang tidak teratur akan selera, ia menuntun manusia untuk melanggar hukum-hukum Allah. Ia menggoda Adam dan Hawa untuk mengambil buah terlarang itu, dan dengan demikian menyempurnakan kejatuhan mereka serta pengusiran mereka dari Eden. Betapa banyak orang mengatakan, “Seandainya saya menjadi Adam, saya tidak akan pernah melanggar hukum dalam suatu ujian yang semudah itu.” Tetapi engkau yang menyatakan kesombongan ini memiliki sebuah kesempatan besar menunjukkan kekuatan maksudmu, kesetiaanmu kepada prinsip berada dalam uji coba…… Apakah Allah melihat tidak ada dosa dalam hidupmu?……. 139.1
Di setiap sisi, Setan berusaha untuk memikat pemuda kepada jalan kebinasaan; dan jika ia bisa sekali saja menarik kaki mereka ke jalan itu, maka ia bersegera membuat mereka berada di jalan menurun, menuntun mereka dari satu pemborosan ke pemborosan yang lain, hingga korban-korbannya kehilangan kecenderungan kesadaran mereka, dan tidak lagi memiliki rasa takut akan Allah di mata mereka. Mereka kurang melakukan pengekangan diri. Mereka menjadi ketagihan pada penggunaan anggur dan alkohol, tembakau dan opium, dan beranjak dari satu tingkatan penurunan harga diri yang satu ke tingkat berikutnya. Mereka adalah budak nafsu makan. Nasehat yang telah mereka junjung tinggi, menjadi mereka benci. Mereka menyombongkan diri, dan bermegah akan kebebasan padahal mereka adalah budak-budak dari kekotoran. Mereka mengartikan bahwa dengan kebebasan mereka adalah budak-budak keegoisan, nafsu makan yang hina, dan kecerobohan……. 139.2
Setan ditetapkan untuk memiliki umat manusia sebagai penurut-penurutnya, tetapi Kristus telah membayar dengan harga yang tidak terkira sehingga manusia bisa ditebus dari musuh, dan agar citra moral Allah boleh dikembalikan kepada umat yang telah jatuh itu…… Orang-orang yang telah jatuh boleh melalui Kristus menemukan jalan kepada Bapa, boleh memiliki karunia untuk memampukan mereka menjadi para pemenang melalui jasa-jasa Sang Juruselamat yang telah disalibkan dan bangkit. 139.3

12 Mei – Pawai Eksternal dari Kekuatan Kafir
Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. 2 Timotius 4:3.

Dengan cepat orang-orang sedang menyatukan diri mereka sendiri di bawah panji yang mereka pilih, dengan gelisah menunggu dan menyaksikan pergerakan-pergerakan para pemimpin mereka. Ada orang-orang yang sedang menjaga dan menantikan serta bekerja demi kedatangan Tuhan mereka; sementara kelompok yang lain sedang cepatnya jatuh ke dalam kekuasaan dari kemurtadan besar yang pertama. Mereka mencari sesuatu Allah di dalam kemanusiaan, dan Setan mempersonifikasi allah yang mereka cari itu. Banyak orang akan disesatkan melalui penolakan mereka akan kebenaran, sehingga mereka akan menerima kebenaran tandingan itu. Kemanusiaan dielu-elukan sebagai Allah. 140.1
Karena kita mendekati akhir zaman, akan ada pawai eksternal yang lebih besar dan semakin besar dari kekuatan kafir; dewa-dewa kafir akan mewujudkan kekuatan sinyal mereka, dan akan memamerkan diri mereka sendiri di kota-kota dunia; dan penggambaran ini telah mulai digenapi. Melalui berbagai gambaran Tuhan Yesus menunjukkan orang fasik itu kepada Yohanes dan pengaruh yang menggoda dari mereka yang telah dipisahkan karena penganiayaan mereka atas umat Allah. Semua orang memerlukan kebijaksanaan secara berhati-hati untuk menyelidiki rahasia kedurhakaan yang terbentang begitu luas dalam akhir sejarah dunia ini. …… Dalam waktu di mana kita sekarang hidup, Tuhan telah memanggil umatNya dan telah memberikan mereka sebuah pekabaran untuk disebarkan. Dia telah memanggil mereka untuk mengungkapkan kejahatan orang durhaka itu yang telah membuat hukum peribadatan Hari Minggu menjadi sebuah kekuatan yang unik, yang telah merancang untuk mengubah masa dan hukum, dan untuk menindas umat Allah yang berdiri teguh memuliakanNya dengan memelihara satu-satunya Sabat yang benar, yaitu Sabat penciptaan…… 140.2
Bahaya-bahaya akhir zaman berada di hadapan kita, dan dalam pekerjaan kita kita harus mengamarkan masyarakat akan bahaya di mana mereka berada. Janganlah pemandangan-pemandangan serius yang telah diungkapkan oleh nubuatan dibiarkan tanpa sentuhan. Jika umat kita setengah terjaga, seandainya mereka menyadari kedekatan peristiwa-peristiwa yang digambarkan di dalam kitab Wahyu itu, sebuah reformasi akan dibentuk di dalam gereja kita, dan lebih banyak lagi yang mempercayai pekabaran itu. Kita tidak mempunyai waktu untuk disia-siakan; Allah memanggil kita untuk menjaga jiwa-jiwa yaitu mereka yang harus memberi pertanggungjawaban. 140.3

May 11 – Youth and the Drug Syndrome
Rejoice, O young man, in thy youth; and let thy heart cheer thee in the days of thy youth, and walk in the ways of thine heart, and in the sight of thine eyes: but know thou, that for all these things God will bring thee into judgment. Eccl. 11:9.
Satan was the first rebel in the universe, and ever since his expulsion from heaven he has been seeking to make every member of the human family an apostate from God, even as he is himself. He laid his plans to ruin man, and through the unlawful indulgence of appetite, led him to transgress the commandments of God. He tempted Adam and Eve to partake of the forbidden fruit, and so accomplished their fall, and their expulsion from Eden. How many say, “If I had been in Adam’s place, I would never have transgressed on so simple a test.” But you who make this boast have a grand opportunity of showing your strength of purpose, your fidelity to principle under trial. . . . Does God see no sin in your life? . . . 139.1
On every side, Satan seeks to entice the youth into the path of perdition; and if he can once get their feet set in the way, he hurries them on in their downward course, leading them from one dissipation to another, until his victims lose their tenderness of conscience, and have no more the fear of God before their eyes. They exercise less and less self-restraint. They become addicted to the use of wine and alcohol, tobacco and opium, and go from one stage of debasement to another. They are slaves to appetite. Counsel which they once respected, they learn to despise. They put on swaggering airs, and boast of liberty when they are the servants of corruption. They mean by liberty that they are slaves to selfishness, debased appetite, and licentiousness. . . . 139.2
Satan is determined to have the human race as his subjects, but Christ has paid an infinite price that man may be redeemed from the enemy, and that the moral image of God may be restored to the fallen race. . . . Fallen men may through Christ find access to the Father, may have grace to enable them to be overcomers through the merits of a crucified and risen Saviour. 139.3

May 12 – External Parade of Heathen Power
The time will come when they will not endure sound doctrine; but after their own lusts shall they heap to themselves teachers, having itching ears. 2 Tim. 4:3.
Rapidly are men ranging themselves under the banner they have chosen, restlessly waiting and watching the movements of their leaders. There are those who are watching and waiting and working for our Lord’s appearing; while the other party are rapidly falling into line under the generalship of the first great apostate. They look for a God in humanity, and Satan personifies the one they seek. Multitudes will be so deluded through their rejection of truth, that they will accept the counterfeit. Humanity is hailed as God. 140.1
As we near the close of time, there will be greater and still greater external parade of heathen power; heathen deities will manifest their signal power, and will exhibit themselves before the cities of the world; and this delineation has already begun to be fulfilled. By a variety of images the Lord Jesus represented to John the wicked character and seductive influence of those who have been distinguished for their persecution of God’s people. All need wisdom carefully to search out the mystery of iniquity that figures so largely in the winding up of this earth’s history. . . . In the very time in which we live, the Lord has called His people and has given them a message to bear. He has called them to expose the wickedness of the man of sin who has made the Sunday law a distinctive power, who has thought to change times and laws, and to oppress the people of God who stand firmly to honour Him by keeping the only true Sabbath, the Sabbath of creation. . . . 140.2
The perils of the last days are upon us, and in our work we are to warn the people of the danger they are in. Let not the solemn scenes which prophecy has revealed be left untouched. If our people were half awake, if they realized the nearness of the events portrayed in the Revelation, a reformation would be wrought in our churches, and many more would believe the message. We have no time to lose; God calls upon us to watch for souls as they that must give an account. 140.3

Seperti Pada Zaman Nuh

May 9, 2013 in Ellen G. White

Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia. Lukas 17:26.

Saya diberi petunjuk bahwa sebuah keadaan yang mengerikan akan berbagai perkara terjadi di dunia kita. Malaikat belaskasih itu sedang menekuk sayap-sayapnya, bersiap untuk pergi……. Hukum Allah dinyatakan tidak berlaku. Kami melihat dan mendengar akan hal kekacauan dan kebingungan, kekurangan dan kelaparan, gempa bumi dan banjir; kemarahan-kemarahan yang mengerikan akan diperbuat oleh orang-orang; hasrat, bukan nalar, merajalela. Murka Allah berada di atas para penduduk bumi, yang begitu cepat menjadi kotor seperti para penduduk Sodom dan Gomora. Api dan banjir sedang bersiap menghancurkan ribuan makhluk hidup dan harta benda yang telah dikumpulkan secara egois melalui penindasan atas orang-orang miskin. Tuhan segera mempersingkat pekerjaanNya dan mengakhiri dosa. Oh, sekiranya pemandangan-pemandangan yang diperlihatkan kepada saya mengenai kedurhakaan yang dipraktikkan dalam hari-hari terakhir ini boleh memberikan sebuah kesan yang mendalam pada pikiran umat Allah. 137.1
Seperti pada zaman Nuh, maka demikianlah jadinya kelak ketika Anak Manusia dinyatakan. Tuhan sedang mengangkat pembatas-pembatasNya dari bumi ini, dan segera akan terjadi kematian dan kehancuran, kejahatan dan kekejaman yang semakin meningkat, pekerjaan yang jahat menghadapi orang-orang kaya yang telah meninggikan diri mereka sendiri terhadap orang-orang miskin. Mereka yang tanpa perlindungan Allah tidak akan menemukan keamanan di dalam tempat dan posisi manapun. Agen-agen manusia sedang dilatih dan sedang menggunakan kekuatan daya cipta mereka demi mengoperasikan mesin yang sangat kuat untuk melukai dan membunuh…….. 137.2
Para Saudara dan Saudariku……., saya menghimbau kepadamu…… Kehidupan banyak orang adalah terlalu lembut dan manis……. Mereka berpikir bahwa diri mereka sendiri adalah orang-orang Kristen, tetapi mereka tidak mengetahui apa yang menandakan kehidupan Kristen yang praktis. Apa artinya menjadi seorang Kristen? Itu artinya menjadi seperti Kristus…….. Bekerjasama dengan Allah dengan bekerja dalam keserasian denganNya. Usirlah dari kaabah jiwa segala perkara yang merupakan bentuk dari sebuah berhala. Sekarang adalah waktu Allah, dan waktuNya adalah waktumu. Perjuangkanlah perjuangan yang baik akan iman, dengan menolak untuk memikirkan atau membicarakan ketidakpercayaan. Dunia ini harus mendengar pekabaran amaran yang terakhir. 137.3

May 9 – “As it was in the Days of Noe”
As it was in the days of Noe, so shall it be also in the days of the Son of man. Luke 17:26.
I was shown that a terrible condition of things exists in our world. The angel of mercy is folding her wings, ready to depart. . . . The law of God is made void. We see and hear of confusion and perplexity, want and famine, earthquakes and floods; terrible outrages will be committed by men; passion, not reason, bears sway. The wrath of God is upon the inhabitants of the world, who are fast becoming as corrupt as were the inhabitants of Sodom and Gomorrah. Already fire and flood are destroying thousands of lives and the property that has been selfishly accumulated by the oppression of the poor. The Lord is soon to cut short His work and put an end to sin. Oh, that the scenes which have come before me of the iniquities practiced in these last days, might make a deep impression on the minds of God’s professing people. 137.1
As it was in the days of Noah, so shall it be when the Son of man shall be revealed. The Lord is removing His restrictions from the earth, and soon there will be death and destruction, increasing crime, and cruel, evil working against the rich who have exalted themselves against the poor. Those who are without God’s protection will find no safety in any place or position. Human agents are being trained and are using their inventive power to put in operation the most powerful machinery to wound and to kill. . . . 137.2
My brethren and sisters . . . , I make my appeal to you. . . . The lives of many are too delicate and dainty. . . . They think themselves Christians, but they do not know what practical Christian life signifies. What does it mean to be a Christian? It means to be Christlike. . . . Co-operate with God by working in harmony with Him. Expel from the soul-temple everything that assumes the form of an idol. Now is God’s time, and His time is your time. Fight the good fight of faith, refusing to think or to talk unbelief. The world is to hear the last warning message. 137.3

Masa dan Waktu

May 9, 2013 in Ellen G. White

8 Mei – Masa dan Waktu
JawabNya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasaNya.” Kisah Para Rasul 1:7.

Masa dan waktu telah Allah tetapkan menurut kuasaNya sendiri. Dan mengapa Allah belum memberitahukan hal ini kepada kita?—Sebab kita tidak akan menggunakannya dengan benar jika Dia telah memberitahukannya. Sebuah keadaan perkara-perkara akan muncul dari pengetahuan ini di antara umat kita sehingga sangat menghambat pekerjaan Allah dalam mempersiapkan sebuah umat untuk tahan berdiri dalam hari besar yang akan datang itu……. Yesus telah mengatakan kepada para muridNya untuk “berjaga-jaga”, tetapi bukan untuk waktu yang ditentukan. Para pengikutNya haruslah berada dalam posisi yang sama dengan mereka yang mendengarkan perintah-perintah dari Kapten mereka; mereka harus berjaga-jaga, menunggu, berdoa, dan bekerja, sebagaimana mereka mendekati waktu kedatangan Tuhan; tetapi tidak seorang pun akan mampu meramalkan kapan persisnya waktu itu akan datang; sebab “tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu.” [Matius 24:36]. Engkau tidak akan dapat mengatakan bahwa Dia akan datang dalam satu, dua, atau lima tahun lagi, ataupun menunda kedatanganNya dengan menyatakan bahwa ia itu tidak mungkin dalam sepuluh atau duapuluh tahun ini…… Kita tidak diharuskan untuk mengetahui waktu yang pasti demikian juga saat pencurahan Roh Suci ataupun kedatangan Kristus. 136.1
Saya telah ditunjukkan kepada sejumlah orang yang berada dalam kesalahan besar yang mempercayai bahwa adalah tugas mereka untuk pergi ke Yerusalem Kuno, [DITULIS PADA AWAL TAHUN 1850-an KETIKA “ABAD YANG AKAN DATANG” MENGANJURKAN AJARAN BAHWA JERUSALEM KUNO AKAN DIBANGUN SEBAGAI SEBUAH PUSAT KESAKSIAN KRISTEN UNTUK MENGGENAPI NUBUATAN-NUBUATAN TERTENTU DARI PERJANJIAN LAMA] dan menganggap bahwa mereka memiliki sebuah pekerjaan untuk dilakukan di sana sebelum Tuhan datang. Pandangan yang demikian dianggap mengambil alih pikiran dan minat dari pekerjaan sekarang milik Tuhan, di bawah pekabaran malaikat ketiga; sebab mereka yang berpikir untuk harus pergi ke Yerusalem akan memikirkan Yerusalem, dan sarana-sarana mereka akan ditahan dari pekerjaan kebenaran sekarang untuk mereka bawa sendiri dan juga orang-orang lain ke sana. Saya melihat bahwa misi yang demikian tidak akan menghasilkan apa-apa, bahwa hal itu akan memakan waktu yang lama membuat hanya sedikit orang Yahudi percaya bahkan dalam kedatangan Kristus yang pertama, untuk bertambah banyak lagi percaya akan kedatanganNya yang kedua. 136.2

May 8 – The Times and Seasons
He said unto them, It is not for you to know the times or the seasons, which the Father hath put in his own power. Acts 1:7.
The times and seasons God has put in His own power. And why has not God given us this knowledge?–Because we would not make a right use of it if He did. A condition of things would result from this knowledge among our people that would greatly retard the work of God in preparing a people to stand in the great day that is to come. . . . Jesus has told His disciples to “watch,” but not for definite time. His followers are to be in the position of those who are listening for the orders of their Captain; they are to watch, wait, pray, and work, as they approach the time for the coming of the Lord; but no one will be able to predict just when that time will come; for “of that day and hour knoweth no man.” You will not be able to say that He will come in one, two, or five years, neither are you to put off His coming by stating that it may not be for ten or twenty years. . . . We are not to know the definite time either for the outpouring of the Holy Spirit or for the coming of Christ. 136.1
I was pointed to some who are in the great error of believing that it is their duty to go to Old Jerusalem, [WRITTEN IN THE EARLY 1850'S WHEN "THE AGE-TO-COME" ADVOCATES TAUGHT THAT OLD JERUSALEM WOULD BE BUILT UP AS A CENTRE OF CHRISTIAN WITNESS FULFILLING CERTAIN PROPHECIES OF THE O.T.] and think they have a work to do there before the Lord comes. Such a view is calculated to take the mind and interest from the present work of the Lord, under the message of the third angel; for those who think that they are yet to go to Jerusalem will have their minds there, and their means will be withheld from the cause of present truth to get themselves and others there. I saw that such a mission would accomplish no real good, that it would take a long while to make a very few of the Jews believe even in the first advent of Christ, much more to believe in His second advent. 136.2

Sebuah Karya Besar dari Penyesatan-Penyesatan Setan

May 9, 2013 in Ellen G. White

Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini. Ulangan 29:29.

Pengetahuan manusia akan perkara-perkara yang material dan spiritual adalah terbagi dan tidak sempurna; oleh karena itu banyak orang yang tidak dapat mengharmoniskan pandangan-pandangan mereka akan ilmu pengetahuan dengan pernyataan-pernyataan Alkitab. Banyak orang yang menerima sekedar teori-teori dan spekulasi-spekulasi sebagai fakta-fakta ilmiah, dan mereka berpikir bahwa perkataan Allah harus diuji oleh ajaran-ajaran dari “apa yang disebut pengetahuan”. 1 Timotius 6:20. Sang Pencipta dan pekerjaanNya adalah melampaui pemahaman mereka; dan karena mereka tidak mampu menjelaskan perkara-perkara ini melalui hukum-hukum alam, maka sejarah Alkitab dianggap sebagai tidak dapat dipercaya. Mereka yang meragukan kehandalan catatan-catatan sejarah dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru juga seringkali melangkah lebih jauh dan meragukan keberadaan Allah dan menghubungkan kuasa yang abadi kepada alam. Setelah melepaskan jangkar mereka, mereka dibiarkan untuk mengalahkan batu-batu ketidakpercayaan. 135.1
Demikianlah banyak orang menyimpang dari iman dan digoda oleh setan……. Filsafat manusia telah menggoda untuk menyelidiki dan menjelaskan rahasia-rahasia yang tidak akan pernah diungkapkan selamanya. Jika orang-orang mencari dan memahami hanya apa yang Allah telah beritahukan akan DiriNya sendiri dan maksud-maksudNya, mereka akan memperoleh suatu pandangan yang sedemikian tentang kemuliaan, keagungan, dan kuasa Yehova sehingga mereka menyadari kekerdilan mereka sendiri dan akan merasa puas dengan apa yang telah diungkapkan……. 135.2
Adalah sebuah karya besar dari penyesatan-penyesatan Setan untuk membuat pikiran orang-orang terus menyelidiki dan menduga-duga tentang apa yang Allah tidak beritahukan dan apa yang Dia tidak kehendaki untuk kita pahami. Adalah karena demikian Lusifer kehilangan tempatnya di dalam surga. Dia menjadi tidak puas karena semua rahasia dari maksud-maksud Allah tidak dipercayakan kepadanya, dan ia mengabaikan sepenuhnya apa yang telah diungkapkan mengenai pekerjaannya sendiri dalam kedudukan tinggi yang diberikan kepadanya. Dengan membangkitkan ketidakpuasan yang sama dalam diri malaikat-malaikat yang berada di bawah perintahnya, ia menyebabkan kejatuhan mereka. Sekarang ia mengusahakan untuk mengilhami pikiran orang-orang dengan roh yang sama dan untuk menggiring mereka juga mengabaikan perintah-perintah yang langsung dari Allah. 135.3

May 7 – A Masterpiece of Satan’s Deceptions
The secret things belong unto the Lord our God: but those things which are revealed belong unto us and to our children for ever, that we may do all the words of this law. Deut. 29:29.
Human knowledge of both material and spiritual things is partial and imperfect; therefore many are unable to harmonize their views of science with Scripture statements. Many accept mere theories and speculations as scientific facts, and they think that God’s word is to be tested by the teachings of “science falsely so called.” 1 Timothy 6:20. The Creator and His works are beyond their comprehension; and because they cannot explain these by natural laws, Bible history is regarded as unreliable. Those who doubt the reliability of the records of the Old and New Testaments too often go a step further and doubt the existence of God and attribute infinite power to nature. Having let go their anchor, they are left to beat about upon the rocks of infidelity. 135.1
Thus many err from the faith and are seduced by the devil. . . . Human philosophy has attempted to search out and explain mysteries which will never be revealed through the eternal ages. If men would but search and understand what God has made known of Himself and His purposes, they would obtain such a view of the glory, majesty, and power of Jehovah that they would realize their own littleness and would be content with that which has been revealed. . . . 135.2
It is a masterpiece of Satan’s deceptions to keep the minds of men searching and conjecturing in regard to that which God has not made known and which He does not intend that we shall understand. It was thus that Lucifer lost his place in heaven. He became dissatisfied because all the secrets of God’s purposes were not confided to him, and he entirely disregarded that which was revealed concerning his own work in the lofty position assigned him. By arousing the same discontent in the angels under his command, he caused their fall. Now he seeks to imbue the minds of men with the same spirit and to lead them also to disregard the direct commands of God. 135.3

Bahaya-Bahaya Ilmu Pengetahuan Yang Palsu

May 9, 2013 in Ellen G. White

Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan. 1 Timotius 6:20.

Di New Hampshire ada orang-orang yang aktif dalam penyebarluasan gagasan-gagasan palsu tentang Allah. Terang telah diberikan kepada saya bahwa orang-orang ini sedang membuat kebenaran-kebenaran yang tidak berpengaruh dari gagasan-gagasan mereka, sebagian yang menuntun kepada paham cinta bebas. Saya diberi petunjuk bahwa orang-orang ini sedang menggoda jiwa-jiwa dengan menyajikan teori-teori spekulatif tentang Allah…….. 134.1
Di antara pandangan-pandangan lainnya, mereka meyakini bahwa orang-orang yang sekali disucikan tidak dapat berdosa, dan hal ini mereka ajarkan sebagai makanan injil. Teori-teori palsu mereka, dengan beban pengaruh penyesatannya, sedang membuat kerugian besar pada diri mereka sendiri dan orang-orang lain. Mereka sedang memperoleh sebuah kekuatan spiritualistik atas orang-orang yang tidak bisa melihat kejahatan dari teori-teori yang dibungkus secara indah ini. Kejahatan-kejahatan besar telah dihasilkan. Doktrin yang menyatakan bahwa semua orang adalah suci telah mengantarkan kepada keyakinan bahwa perasaan-perasaan orang-orang suci itu tidak pernah lagi dalam bahaya penyesatan. Akibat dari keyakinan ini adalah penggenapan hasrat-hasrat jahat dari hati yang walaupun kelihatannya suci, namun jauh dari kemurnian pikiran dan praktiknya. 134.2
Hal ini hanyalah salah satu dari contoh-contoh di mana saya dipanggil untuk menegur mereka yang sedang mengajarkan doktrin dari sebuah allah yang bukan pribadi yang berbaur dengan alam, dan doktrin dari daging yang suci. 134.3
Di masa depan, kebenaran akan ditandingi oleh ajaran-ajaran manusia. Teori-teori yang menyesatkan akan disajikan sebagai ajaran-ajaran yang aman. Ilmu pengetahuan yang palsu adalah salah satu agen yang Setan gunakan dalam pengadilan-pengadilan surgawi, dan masih digunakan olehnya pada masa kini……. 134.4
Saya memohon mereka yang sedang bekerja bagi Allah untuk tidak menerima perkara yang palsu untuk menggantikan yang asli. Kita memiliki seluruh Alkitab yang penuh dengan kebenaran yang berharga. Kita tidak memerlukan dugaan atau kegembiraan yang palsu. Dalam pedupaan emas kebenaran, sebagaimana disajikan dalam ajaran-ajaran Kristus, kita memiliki sesuatu yang mendakwa dan mengubah jiwa-jiwa. Kemukakanlah dalam kesederhanaan Kristus kebenaran-kebenaran bahwa Dia telah datang ke dunia ini untuk mengabarkan, maka kuasa pekabaranmu akan terasa. Janganlah menyajikan teori-teori atau ujian-ujian yang tidak memiliki landasan di dalam Alkitab. 134.5

May 6 – The Perils of False Science
O Timothy, keep that which is committed to thy trust, avoiding profane and vain babblings, and oppositions of science falsely so called. 1 Tim. 6:20.
In New Hampshire there were those who were active in disseminating false ideas in regard to God. Light was given me that these men were making the truth of no effect by their ideas, some of which led to free-loveism. I was shown that these men were seducing souls by presenting speculative theories regarding God. . . . 134.1
Among other views, they held that those once sanctified could not sin, and this they were presenting as gospel food. Their false theories, with their burden of deceptive influence, were working great harm to themselves and to others. They were gaining a spiritualistic power over those who could not see the evil of these beautifully clothed theories. Great evils had already resulted. The doctrine that all were holy had led to the belief that the affections of the sanctified were never in danger of leading astray. The result of this belief was the fulfilment of the evil desires of hearts which, though professedly sanctified, were far from purity of thought and practice. 134.2
This is only one of the instances in which I was called upon to rebuke those who were presenting the doctrine of an impersonal god diffused through nature, and the doctrine of holy flesh. 134.3
In the future, truth will be counterfeited by the precepts of men. Deceptive theories will be presented as safe doctrines. False science is one of the agencies that Satan used in the heavenly courts, and it is used by him today. . . . 134.4
I beseech those who are labouring for God not to accept the spurious for the genuine. We have a whole Bible full of the most precious truth. We have no need for supposition or false excitement. In the golden censer of truth, as presented in Christ’s teachings, we have that which will convict and convert souls. Present in the simplicity of Christ the truths that He came to this world to proclaim, and the power of your message will make itself felt. Do not present theories or tests that have no foundation in the Bible. 134.5

Pdt. Dr. H.I. Missah

May 4, 2013 in Others

Memutarbalikkan Alkitab

May 4, 2013 in Ellen G. White

4 Mei – Memutarbalikkan Alkitab
Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain. 2 Petrus 3:16.

Pendirian yang menyatakan bahwa apa yang orang-orang percayai tidak memiliki konsekuensi adalah salah satu tipuan yang paling sukses dari Setan. Ia tahu bahwa kebenaran itu, jika diterima dengan mencintainya, akan menyucikan jiwa penerimanya; dengan demikian si penerima kebenaran itu secara terus-menerus berusaha untuk menyisihkan teori-teori yang palsu, dongeng-dongeng, dan injil yang lain……. 132.1
Penafsiran-penafsiran yang samar-samar dan aneh dari Alkitab, dan banyaknya teori-teori yang bertentangan mengenai iman agama, yang ditemukan dalam dunia Kristen saat ini adalah pekerjaan musuh besar kita untuk mengacaukan pemikiran sehingga mereka tidak akan melihat kebenaran. Dan perselisihan serta perpecahan yang terdapat di antara gereja-gereja Kekristenan adalah dalam skala besar disebabkan oleh merebaknya kebiasaan pemutarbalikan Alkitab demi mendukung sebuah teori yang disenangi. Alih-alih mempelajari firman Allah secara hati-hati dengan kerendahan hati untuk memperoleh sebuah pengetahuan yang berasal dari kehendakNya, banyak orang menyelidiki hanya untuk menemukan sesuatu yang ganjil atau yang asli. 132.2
Untuk mempertahankan doktrin-doktrin yang keliru atau praktik-praktik non-Kristen, sebagian orang akan mengambil bacaan-bacaan Alkitab secara terpisah dari konteksnya, barangkali dengan mengutip sebagian atau salah satu ayat untuk membuktikan pokok pikiran mereka, tatkala bagian bacaan yang masih tersisa akan menunjukkan makna yang sangat bertentangan dengan pokok pikiran mereka itu. Dengan kelicikan sang ular mereka membawa diri mereka sendiri masuk ke antara perkataan-perkataan yang tidak berkaitan yang ditafsirkan demi menyesuaikan nafsu-nafsu kedagingan mereka. Demikianlah banyak orang dengan sengaja menyesatkan perkataan Allah. Sebagian lainnya, yang memiliki imajinasi yang aktif, mengambil kiasan-kiasan dan simbol-simbol dari Tulisan Suci, menafsirkannya untuk menyesuaikan khayalan mereka, dengan meremehkan kesaksian Alkitab sebagai penafsir Alkitab itu sendiri, dan kemudian menyajikan bualan mereka sebagai ajaran-ajaran dari Alkitab. 132.3
Bilamana pembelajaran Alkitab dimulai tanpa roh yang penuh doa, yang rendah hati, dan yang dapat diajar, maka sangat jelas dan sangat mudah sebagaimana halnya bacaan-bacaan yang paling sukar akan diputarbalikkan dari maknanya yang sebenarnya……. Firman Allah adalah jelas kepada semua orang yang mempelajarinya dengan hati yang penuh doa. Setiap kejujuran yang sungguh-sungguh akan datang menerangi kebenaran. “Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati.” Mazmur 97:11. Dan tak ada gereja yang bisa maju dalam kesucian jika para anggotanya tidak dengan sungguh-sungguh mencari kebenaran seperti mencari harta tersembunyi. 132.4

5 Mei – Teori-Teori Yang Palsu Tentang Allah
Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepadaNya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Roma 1:21.

Teori yang menyatakan bahwa Allah adalah dasar yang mengisi seluruh alam semesta adalah salah satu perangkat yang paling licik dari Setan. Ia itu salah mengartikan Allah, dan merupakan sebuah penghinaan pada kebesaran dan keagunganNya. 133.1
Teori-teori Pantheistik tidak didukung oleh Firman Allah. Terang kebenaranNya menunjukkan bahwa teori-teori ini merupakan agen-agen penghancur jiwa. Kegelapan adalah elemen pembentuknya, sensualitas merupakan ruang lingkupnya. Teori-teori ini memuaskan hati yang alami, dan memberikan izin pada kecenderungannya. Pemisahan dari Allah menjadi konsekuensi dari penerimaan teori-teori ini…….. 133.2
Hanya ada satu kuasa yang bisa menghancurkan genggaman setan dari hati manusia, dan ia itu adalah kuasa Allah dalam Yesus Kristus. Hanya melalui darah Yang Tersalib itu ada pembersihan dari dosa. RahmatNya saja yang memampukan kita untuk bertahan dan menaklukkan kealamian kita yang telah jatuh. Teori-teori yang membahas Allah itu tidak memberikan tempat bagi kuasa ini. Jika Allah adalah suatu dasar yang mengisi seluruh alam, maka Dia tinggal di dalam diri semua orang; dan untuk memperoleh kesucian, orang hanya perlu membangun kekuatan yang ada di dalam dirinya sendiri. 133.3
Teori-teori ini, yang ditelusuri sampai pada kesimpulan logisnya, meruntuhkan seluruh ekonomi Kristen. Ia itu menyingkirkan kebutuhan untuk pendamaian, dan membuat manusia sebagai juruselamatnya sendiri. Teori-teori yang membahas Allah ini membuat FirmanNya tidak berpengaruh, dan mereka yang menerimanya berada dalam bahaya besar untuk dituntun pada akhirnya menganggap Alkitab sebagai sebuah fiksi. Mereka mungkin menganggap keutamaan lebih baik daripada tabiat buruk; akan tetapi Allah telah dihapuskan dari posisi kemahakuasaanNya, akibatnya mereka menempatkan ketergantungan pada kuasa manusia, yang tanpa Allah, tidak berarti apa-apa. Manusia yang tidak mendapat pertolongan tidak akan mempunyai kekuatan sejati untuk bertahan dan mengalahkan kejahatan. Pertahanan-pertahanan jiwa adalah rapuh. Manusia tidak mempunyai penghalang untuk menentang dosa. Begitu pengekangan diri yang berasal dari Firman Allah dan RohNya ditolak, kita tahu seberapa dalam seseorang itu tenggelam. 133.4
Mereka yang terus mempertahankan teori-teori spiritualistik ini pastilah akan merusak pengalaman Kristen mereka, mengakhiri hubungan mereka dengan Allah, dan kehilangan hidup abadi. 133.5

May 4 – Wresting the Scriptures
They that are unlearned and unstable wrest. . . the . . . scriptures, unto their own destruction. 2 Peter 3:16.
The position that it is of no consequence what men believe is one of Satan’s most successful deceptions. He knows that the truth, received in the love of it, sanctifies the soul of the receiver; therefore he is constantly seeking to substitute false theories, fables, another gospel. . . . 132.1
The vague and fanciful interpretations of Scripture, and the many conflicting theories concerning religious faith, that are found in the Christian world are the work of our great adversary to confuse minds so that they shall not discern the truth. And the discord and division which exist among the churches of Christendom are in a great measure due to the prevailing custom of wresting the Scriptures to support a favourite theory. Instead of carefully studying God’s word with humility of heart to obtain a knowledge of His will, many seek only to discover something odd or original. 132.2
In order to sustain erroneous doctrines or unchristian practices, some will seize upon passages of Scripture separated from the context, perhaps quoting half of a single verse as proving their point, when the remaining portion would show the meaning to be quite the opposite. With the cunning of the serpent they entrench themselves behind disconnected utterances construed to suit their carnal desires. Thus do many wilfully pervert the word of God. Others, who have an active imagination, seize upon the figures and symbols of Holy Writ, interpret them to suit their fancy, with little regard to the testimony of Scripture as its own interpreter, and then they present their vagaries as the teachings of the Bible. 132.3
Whenever the study of the Scriptures is entered upon without a prayerful, humble, teachable spirit, the plainest and simplest as well as the most difficult passages will be wrested from their true meaning. . . . The Word of God is plain to all who study it with a prayerful heart. Every truly honest soul will come to the light of truth. “Light is sown for the righteous.” Psalm 97:11. And no church can advance in holiness unless its members are earnestly seeking for truth as for hid treasure. 132.4

May 5 – False Theories About God
Because that, when they knew God, they glorified him not as God, neither were thankful; but became vain in their imaginations, and their foolish heart was darkened. Rom. 1:21.
The theory that God is an essence pervading all nature, is one of Satan’s most subtle devices. It misrepresents God, and is a dishonour to His greatness and majesty. 133.1
Pantheistic theories are not sustained by the Word of God. The light of His truth shows that these theories are soul-destroying agencies. Darkness is their element, sensuality their sphere. They gratify the natural heart, and give license to inclination. Separation from God is the result of accepting them. . . . 133.2
There is but one power that can break the hold of evil from the hearts of men, and that is the power of God in Jesus Christ. Only through the blood of the Crucified One is there cleansing from sin. His grace alone can enable us to resist and subdue the tendencies of our fallen nature. This power the spiritualistic theories concerning God make of no effect. If God is an essence pervading all nature, then He dwells in all men; and in order to attain holiness, man has only to develop the power that is within him. 133.3
These theories, followed to their logical conclusion, sweep away the whole Christian economy. They do away with the necessity for the atonement, and make man his own savoir. These theories regarding God make His Word of no effect, and those who accept them are in great danger of being led finally to look upon the whole Bible as a fiction. They may regard virtue as better than vice; but God being removed from His position of sovereignty, they place their dependence upon human power, which, without God, is worthless. The unaided human will has no real power to resist and overcome evil. The defences of the soul are broken down. Man has no barrier against sin. When once the restraints of God’s Word and His Spirit are rejected, we know not to what depths one may sink. 133.4
Those who continue to hold these spiritualistic theories will surely spoil their Christian experience, sever their connection with God, and lose eternal life. 133.5

Perjuangan Penting Dihadapan Kita

May 4, 2013 in Ellen G. White

3 Mei – Perjuangan Penting Di Hadapan Kita
Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Kisah Para Rasul 5:29.

Sebuah krisis yang besar menanti umat Allah. Sebuah krisis menanti dunia ini. Perjuangan yang paling penting dari segala zaman begitu dekat di hadapan kita….. Tuntutan untuk memaksakan penyucian hari Minggu telah menjadi salah satu kepentingan dan kebutuhan nasional. Kita tahu persis apa yang menjadi akibat dari pergerakan ini. Tetapi apakah kita sudah siap untuk menghadapinya? Sudahkah kita dengan penuh iman menyelesaikan tugas yang Allah perintahkan pada kita untuk memberikan orang-orang amaran akan adanya bahaya di hadapan mereka?……. 131.1
Ada banyak orang yang belum pernah memahami tuntutan-tuntutan Sabat Alkitab dan landasan yang salah yang di atasnya pelembagaan hari Minggu bertumpu. Setiap pergerakan yang mendukung legislasi agama adalah sesungguhnya sebuah tindakan konsesi kepada kepausan, yang selama berabad-abad telah terus-menerus berperang menentang kebebasan hati nurani. Penyucian hari Minggu meminjam keberadaannya sebagai sesuatu yang disebut dengan pelembagaan Kristen pada “rahasia kedurhakaan” [bandingkan 2 Tesalonika 2:7]; dan peneguhannya akan menjadi sebuah pengakuan yang kuat dari prinsip-prinsip yang merupakan landasan Romanisme. Bilamana bangsa kita akan mengharamkan prinsip-prinsip pemerintahannya sendiri demi memaksakan hukum peribadatan hari Minggu, di mana Protestantisme dalam tindakan ini akan bergabung dengan ajaran Katolik Roma; maka ia itu tidak lain daripada menyerahkan hidup kepada tirani yang sedemikian lama telah mengincar kesempatannya dengan tidak sabar untuk bersemi kembali pada kelaliman yang aktif….. 131.2
Jika ajaran Katolik Roma atau prinsip-prinsipnya akan dilegislasikan kembali ke dalam kekuasaan, maka api penganiayaan akan dinyalakan kembali untuk menentang mereka yang tidak akan mengorbankan nurani dan kebenaran demi rasa hormat kepada kesalahan yang memasyarakat secara umum. Kejahatan ini kini berada pada titik perwujudannya. 131.3
Bilamana Allah telah memberikan kita terang yang menunjukkan bahaya-bahaya di hadapan kita, maka bagaimana kita bertahan bersih pada pandanganNya jika kita lalai untuk mengerahkan setiap usaha dalam kekuatan kita untuk membagikannya kepada masyarakat? Bisakah kita menjadi senang meninggalkan mereka untuk menghadapi issu yang penting ini tanpa diamarkan?…… 131.4
Ketika hukum-hukum yang dibuat para penguasa dunia ini dibuat untuk menentang hukum-hukum dari Sang Penguasa Tertinggi jagad raya ini, maka mereka yang adalah penurut-penurut setia milik Allah akan menjadi benar di hadapanNya. 131.5

May 3 – Momentous Struggle Before Us
We ought to obey God rather than men. Acts 5:29.
A great crisis awaits the people of God. A crisis awaits the world. The most momentous struggle of all the ages is just before us. . . . The question of enforcing Sunday observance has become one of national interest and importance. We well know what the result of this movement will be. But are we ready for the issue? Have we faithfully discharged the duty which God has committed to us of giving the people warning of the danger before them? . . . 131.1
There are many who have never understood the claims of the Bible Sabbath and the false foundation upon which the Sunday institution rests. Any movement in favour of religious legislation is really an act of concession to the papacy, which for so many ages has steadily warred against liberty of conscience. Sunday observance owes its existence as a so-called Christian institution to “the mystery of iniquity”; and its enforcement will be a virtual recognition of the principles which are the very cornerstone of Romanism. When our nation shall so abjure the principles of its government as to enact a Sunday law, Protestantism will in this act join hands with popery; it will be nothing else than giving life to the tyranny which has long been eagerly watching its opportunity to spring again into active despotism. . . . 131.2
If popery or its principles shall again be legislated into power, the fires of persecution will be rekindled against those who will not sacrifice conscience and the truth in deference to popular errors. This evil is on the point of realization. 131.3
When God has given us light showing the dangers before us, how can we stand clear in His sight if we neglect to put forth every effort in our power to bring it before the people? Can we be content to leave them to meet this momentous issue unwarned? . . . 131.4
When the laws of earthly rulers are brought into opposition to the laws of the Supreme Ruler of the universe, then those who are God’s loyal subjects will be true to Him. 131.5

Apakah Kaabah Itu?

May 2, 2013 in Ellen G. White

Alkitab, yang di atas segala sesuatu yang lain telah menjadi landasan dan tiang utama iman tentang kedatangan Kristus, telah menyatakan, “Sampai dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan kepada keadaan yang wajar.” (Daniel 8:14). Kata-kata ini tidak asing lagi bagi orang-orang yang percaya kepada kedatangan Tuhan yang segera. Kata-kata nubuatan ini diulang-ulangi oleh bibir ribuan orang sebagai kata-kata semboyan iman mereka. Semua merasa bahwa ke atas kejadian-kejadian yang diramalkan kesanalah bergantung penantian dan harapan mereka. Hari-hari nubuatan itu telah ditunjukkan akan berakhir pada musim gugur tahun 1844. Sama seperti dunia Krsiten lain, pada umumnya orang-orang Advent berpendapat bahwa dunia ini, atau bagian daripadanya, adalah kaabah itu. Mereka mengerti bahwa pemulihan kaabah adalah penyucian dunia ini oleh api pada hari terakhir yang besar itu, dan bahwa hal ini akan terjadi pada kedatangan kedua kali. Sejak waktu itu mereka mengambil kesimpulan bahwa Kristus akan kembali ke dunia ini pada tahun 1844.
Tetapi waktu yang ditetapkan telah berlalu, dan Tuhan tidak datang kembali. Orang-orang percaya tahu bahwa firman Allah tak bisa salah. Penafsiran mereka akan nubuatan pasti salah, tetapi dimanakah kesalahan itu? Banyak orang yang dengan terburu-buru menyatakan bahwa masa 2300 hari itu tidak berakhir pada tahun 1844. Tidak bisa menampilkan alasan kecuali bahwa Kristus tidak datang pada waktu yang mereka harapkan Ia datang. Mereka memperdebatkan bahwa jika masa-masa nubuatan berakhir pada tahun 1844, Kristus tentu sudah datang untuk memulihkan kaabah oleh penyucian dunia ini dengan api; dan oleh karena Ia tidak datang maka hari itu tentu belum berakhir.
Menerima kesimpulan ini berarti menolak perhitungan masa-masa nubuatan atau yang sebelumnya. Masa 2300 hari telah bermula pada waktu perintah raja Artahsasta untuk membangun kembali Yerusalem mulai berlaku pada musim gugur tahun 457 SM (Sebelum Masehi). Dengan mengambil ini sebagai titik permulaan, maka sangat cocok dalam pengetrapan semua peristiwa yang disebutkan dalam penjelasan masa itu di dalam Daniel 9:25-27. Enam puluh sembilan kali tujuh masa, yaitu 483 tahun pertama dari masa 2300 tahun, tiba kepada Mesias, yaitu Dia Yang Diurapi; dan baptisan dan pengurapan Kristus dengan Roh Suci pada tahun 27 TM(Tarikh Masehi) tepat menggenapi perincian itu. Pada pertengahan tujuh masa ketujuh puluh Mesias dikorbankan. Tiga setengah tahun sesudah ia dibaptiskan, Kristus disalibkan, pada musim semi tahun 31 TM. Tujuh puluh kali tujuh masa atau 490 tahun dikhususkan bagi orang Yahudi. Pada akhir masa ini bangsa itu memeteraikan penolakan akan Kristus dengan menganiaya murid-murid-Nya, sehingga rasul-rasul pergi kepada bangsa-bangsa lain pada tahun 34 TM. Masa 490 tahun pertama dari 2300 tahun itu berakhir dan tinggallah lagi 1810 tahun. Bermula dari tahun 34 TM, yang seribu delapan ratus sepuluh tahun itu akan berakhir pada tahun 1844. “Lalu,” kata malaikat itu, “tempat kududs itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar.” Semua spesifiksai nubuatan yang sebelumnya, tidak diragukan telah digenapi tepat pada waktu yang ditetapkan.
Dengan perhitungan ini, semua jelas dan cocok, kecuali bahwa tidak tampak adanya peristiwa yang terjadi yang menyatakan pemulihan tempat kudus pada tahun 1844. Menolak berakhirnya masa itu pada tahun itu berarti melibatkan seluruhnya dalam kebingungan dan menolak pendirian yang telah ditetapkan oleh kegenapan nubuatan yang tidak salah.
Tetapi Allah telah menuntun umat-Nya dalam Pergerakan Advent yang besar itu. Kuasa-Nya dan kemulian-Nya telah menolong pekerjaan itu dan Ia tidak akan membiarkannya berakhir dalam kegelapan dan kekecewaan, untuk dicela sebagai gerakan palsu dan fanatik. Ia tidak akan membiarkan firman-Nya terlibat dalam keragu-raguan dan ketidakpastian. Meskipun banyak yang meninggalkan perhitungan masa nubuatan mereka yang mula-mula, dan menyangkal ketepatan gerakan yang didasarkan atasnya, yang lain-lainnya tidak mau meninggalkan pokok-pokok iman dan pengalaman yang telah ditunjang oleh Alkitab dan oleh kesaksian Roh Allah. Mereka percaya bahwa mereka telah menerima prinsip penafsiran yang benar dan mempelajari nubuatan-nubuatan, dan bahwa adalah tugas mereka untuk berpegang teguh kepada kebenaran yang telah diperoleh, dan meneruskan menyelidiki Alkitab. Dengan doa yang sungguh-sungguh mereka memeriksa kembali kedudukan mereka dan mempelajari Alkitab untuk menemukan kesalahan mereka. Sementara mereka tidak menemukan sesuatu kesalahan dalam perhitungan masa-masa nubuatan, mereka mulai memeriksa lebih cermat mengenai masalah tempat kudus.
Pada penelitian mereka, mereka mengetahui bahwa tidak ada bukti-bukti dari Alkitab yang mendukung pandangan populer bahwa dunia ini adalah tempat kudus. Tetapi mereka menemukan dalam Alkitab penjelasan lengkap mengenai tempat kudus, keadaannya, lokasinya, dan upacara-upacaranya. Kesaksian penulis-penulis kudus begitu jelas dan cukup sehingga tidak ada keraguan. Rasul Paulus, dalam surat kepada orang Iberani berkata, “Memang perjanjian yang pertama juga mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan untuk tempat kudus buatan tangan manusia. Sebab ada dipersiapkan suatu kemah, yaitu bagian yang paling depan dan di situ terdapat kaki dian dan meja dengan roti sajian. Bagian ini disebut tempat yang kudus. Dibelakang tirai yang kedua terdapat suatu kemah lagi yang disebut tempat yang maha kudus. Di situ terdapat mezbah tempat pembakaran ukupan dari emas, dan tabut perjanian yang seluruhnya disalut dengan emas; di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian, dan di atasnya kedua kerub kemuliaan yang menaungi tutup pendamaian.” (Iberani 9:1-5).
Tempat kudus yang dikatakan Rasul Paulus di sini ialah kemah suci yang didirikan oleh Musa atas perintah Allah, sebagai tempat tinggal duniawi Yang Mahatinggi. “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka” (Kel. 25:8), demikianlah perintah yang diberikan kepada Musa pada waktu ia di atas gunung bersama Allah. Orang-orang Israel berjalan melalui padang gurun, dan kemah suci dibangun sedemikian rupa sehingga dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun, bangunan itu adalah suatu struktur yang megah dan indah. Dindingnya terbuat dari papan yang dilapisi dengan emas, dan engsel-engselnya terbuat dari perak, sementara atapnya terbuat dari sejumlah tirai atau penutup, dan bagian luarnya terbuat dari kulit. Bagian paling dalam terbuat dari lenan halus yang dengan indah dilukisi dengan gambar kerub. Di samping pelataran luar, yang berisi mezbah persembahan bakaran, kemah suci itu terdiri dari dua buah ruangan yang disebut bilik yang kudus dan bilik yang maha kudus, yang dipisahkan oleh tirai mewah dan indah, atau selubung, selubung yang sama yang menutup pintu masuk ke bilik yang pertama.
Di bilik yang kudus terdapat kaki dian, di sebelah Selatan, dengan tujuh lampunya menerangi tempat kudus itu siang dan malam. Di sebelah Utara, berdiri meja roti sajian. Dan di depan tirai atau selubung yang memisahkan bilik yang kudus dari bilik yang maha kudus terdapat mezbah pedupaan, yang daripadanya naik asap bau-bauan yang harum, bersama doa-doa orang Israel ke hadirat Allah.
Di bilik yang maha kudus berdiri tabut perjanjian, suatu peti yang terbuat dari kayu berharga yang dilapisi demgan emas, tempat menyimpan dua loh batu tempat kesepuluh hukum dituliskan oleh Allah. Dia atas tabut perjanjian itu, yang menjadi penutup peti suci itu tedapat tutup pendamaian, suatu hasil kerja yang indah, dan di atasnya terdapat dua kerub — satu di setiap ujungnya — dan semuanya disalut dengan emas murni. Di bilik ini hadirat ilahi ditandai dengan awan kemuliaan di antara kedua kerub itu.
Setelah orang Iberani menetap di tanah Kanaan, kemah suci itu telah digantikan oleh Kaabah Salomo, yang walaupun dengan bangunan permanen dan dalam ukuran yang lebih besar, tetap menuruti perbandingan-perbandingan yang sama dan dilengkapi dengan perlengkapan yang sama. Dalam bentuk ini tempat kudus berdiri teguh sampai dihancurkan tentera Roma pada tahun 70 TM — kecuali kerusakaan pada zaman Daniel.
Hanya inilah tempat kudus yang pernah berdiri di atas dunia ini, yang mengenai itu Alkitab memberikan keterangan. Inilah tempat kudus yang Rasul Paulus katakan tempat kudus perjanjian yang pertama. Tetapi bukankah perjanjian yang baru mempunyai tempat kudus?
Kembali membuka buku Iberani, para pencari kebenaran menemukan bahwa keberadaan tempat kudus yang kedua, atau tempat kudus perjanjian yang baru tercantum dalam kata-kata Rasul Paulus yang telah dikutip “Memang perjanjian yang pertama juga mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan untuk tempat kudus buatan tangan manusia.” Dan penggunaan kata “juga” memberi kesan bahwa Rasul Paulus sebelumnya telah menyebutkan tempat kudus. Kita buka kembali kepada permulaan fatsal sebelumnya akan kita baca, “Inti segala yang kita bicarakan itu ialah kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di Surga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan bukan oleh manusia.” (Iberani 8:1-2).
Di sinilah dinyatakan tempat kudus perjanjian baru. Tempat kudus perjanian yang pertama didirikan oleh tangan manusia, dibangun oleh Musa, dan yang kedua ini didirikan oleh Tuhan, bukan oleh manusia. Di dalam tempat kudus perjanjian yang pertama, imam-imam dunia menjalankan upacara-upacara, sedangkan pada tempat kudus perjanjian yang baru Kristus, Imam Besar kita, melayani di sebelah kanan Allah. Satu kaabah suci ada di dunia ini dan yang satu lagi ada di Surga.
Lebih jauh, kemah suci yang dibangun oleh Musa dibangun sesuai pola atau contoh. Tuhan menuntun dia, “Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah kamu harus membuatnya.” Dan sekali lagi perintah diberikan, “Dan ingatlah, bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu.” (Kel. 25:9,40). Dan Rasul Paulus berkata, bahwa kemah suci yang pertama itu, “adalah kiasan masa sekarang. Sesuai dengan itu dipersembahkan korban dan persembahan;” bahwa bilik yang kudusnya adalah “melambangkan apa yang ada di Surga;” bahwa imam yang mempersembahkan persembahan sesuai dengan hukum adalah “gambaran dan bayangan dari apa yang ada di Surga,” dan bahwa “Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia, yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam Surga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita.” (Iberani 9:9,23; 8:5; 9:24).
Tempat kudus yang di Surga, dimana Yesus melayani demi kita, adalah tempat kudus besar yang asli. Kemah suci yang dibangun oleh Musa mencontoh dari tempat kudus ini. Allah mencurahkan Roh-Nya ke atas orang-orang yang membangun kemah suci duniawi. Ketrampilan artistik yang diperagakan dalam pembagunan tempat kudus itu adalah manifestasi hikmat ilahi. Dinding-dinding yang tampak bagaikan emas besar memantulkan ke segala penjuru sinar ketujuh kandil dari kaki dian emas itu. Meja roti pertunjukan dan mezbah pedupaan berkilau-kilau bagaikan emas mengkilat. Tirai yang maha indah yang membentuk langit-langit, yang dihiasi dengan gambar-gambar malaikat dengan warna biru, ungu dan merah menambah keelokan pemandangan. Dan di balik selubung kedua terdapat sinar shekinah suci, sebagai manifestasi kemuliaan Allah, yang kehadirat-Nya hanya imam besar yang bisa masuk dan tetap hidup.
Keindahan yang tiada taranya tempat kudus duniawi itu merefleksikan kepada pandangan manusia kemuliaan kaabah Surgawi dimana Kristus, penghulu kita, melayani bagi kita di hadirat takhta Allah. Tempat tinggal Raja segala raja itu, dimana seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya (Dan. 7:10); kaabah itu dipenuhi kemuliaan takhta kekal, dimana serapim, sebagai pengawalnya yang bercahaya, menyelubungi wajahnya dalam sikap hormat. Keindahan dan kemuliaan yang terdapat pada bangunan indah yang di dunia ini yang dibangun oleh tangan manusia hanyalah refleksi yang redup dari kebesaran dan kemuliaan tempat kudus Surgawi. Namun kebenaran-kebenaran penting mengenai tempat kudus Surgawi dan mengenai pekerjaan-pekerjaan besar yang dilaksanakan di sana yang dijalankan untuk penebusan manusia telah diajarkan oleh tempat kudus duniawi dan upacara-upacaranya.
Tempat-tempat suci kudus kaabah Surgawi dilambangkan oleh kedua bilik di kaabah yang di dunia ini. Di dalam penglihatan, Rasul Yohanes diizinkan melihat kaabah Allah di Surga, ia melihat di sana “tujuh obor menyala-nyala dihadapan takhta itu.” (Wah. 4:5). Ia melihat seorang malaikat “dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyaan untuk dipersembahkan bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas dihadapan takhta itu.” (Wah. 8:3). Di sini nabi telah diizinkan memandang bilik yang pertama tempat kudus di Surga itu; dan ia melihat di sana “tujuh obor menyala-nyala” dan “mezbah emas” dilambangkan oleh kaki dian dan dupa dalam tempat kudus yang di dunia ini. Sekali lagi, “terbukalah Bait Suci Allah yang di Surga,” dan ia melihat selubung bagian dalam, di atas bilik yang maha suci. Di sini ia melihat “tabut perjanjian-Nya” yang dilambangkan oleh peti kudus yang dibangun oleh Musa yang berisi hukum Allah.
Jadi demikianlah mereka yang mempelajari pelajaran ini menemukan bukti yang tidak bisa dibantah mengenai adanya tempat kudus di Surga. Musa membangun tempat kudus di dunia ini menurut pola yang ditunjukkan kepadanya. Rasul Paulus mengajarkan bahwa pola itulah tempat kudus yang sebenarnya, yaitu yang di Surga. Dan Rasul Yohanes menyaksikan bahwa ia melihatnya di Surga.
Di dalam kaabah di Surga, tempat tinggal Allah, takhta-Nya didirikan dalam kebenaran dan keadilan. Di bilik yang maha suci ia melihat hukum-Nya, sebagai ukuran kebenaran dengan mana semua umat manusia diuji. Tabut tempat menyimpan loh-loh hukum itu ditutupi dengan tutup pendamaian. Di hadirat inilah Kristus mengadakan permohonan melalui darah-Nya demi orang-orang berdosa. Dengan demikian dilambangkan gabungan keadilan dan dan kemurahan dalam rencana penebusan manusia. Hanya hikmat yang tanpa batas saja yang dapat merancangnya dan kuasa yang tak terbatas yang dapat mewujudkannya. Gabungan inilah yang memenuhi semua Surga dengan kekaguman dan rasa hormat. Kerub di tempat kudus duniawi, yang memandang dengan rasa hormat ke tutup pendamaian itu, melambangkan perhatian seluruh Surga mengenai pekerjaan penebusan manusia. Inilah rahasia kemurahan yang ingin di lihat oleh malaikat-malaikat, — bahwa Allah dapat berlaku adil sementara Ia membenarkan orang-orang berdosa yang bertobat, dan memperbaharui pergaulan-Nya dengan manusia yang sudah jatuh; bahwa Kristus dapat merendahkan diri-Nya untuk mengangkat orang-orang yang tak terhitung banyaknya dari jurang kebinasaan, dan memakaikan kepada mereka jubah kebenaran-Nya sendiri, untuk dipersatukan dengan malaikat-malaikat yang tidak pernah jatuh, dan untuk tinggal selamanya di hadirat Allah.
Pekerjaan Kristus sebagai pengantara manusia dinyatakan dalam nubuatan nabi Zakaria mengenai Dia “yang bernama Tunas.” Nabi itu berkata, “Dialah yang akan mendirikan bait Tuhan, dan dialah yang akan mendapat keagungan dan duduk memerintah di atas takhtanya. [takhta Bapa-Nya]. Di sebelah kanannya akan ada seorang imam [Ia akan menjadi imam di takhtanya -- Alkitab Bahasa Inggeris]: dan permufakatan tentang damai akan ada di antara mereka berdua.” (Zakaria 6:13).
“Dialah yang akan mendirikan bait Tuhan.” Oleh pengorbanan dan pengantaraan-Nya, Kristus adalah fondasi dan pembangun gereja Allah. Rasul Paulus menunjuk kepada-Nya sebagai “batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga,” katanya, “turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” (Epes. 2: 20-22).
“Dan dialah yang akan mendapat keagungan.” Keagungan dan kemuliaan penebusan manusia yang sudah jatuh itu adalah milik Kristus. Melalui zaman kekekalan, nyanyian orang tebusan adalah, “Bagi Dia yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya, . . . bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya.” (Wah. 1:5,6).
Dan Ia “akan duduk memerintah di atas takhtanya, [takhta Bapanya]. Di sebelah kanannya akan ada seorang imam.” Belum sekarang “di atas takhta kemuliaan.” Kerajaan kemuliaan belum datang. Setelah pekerjaan pengantaraan-Nya berakhir barulah “Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,” suatu kerajaan yang “tidak akan berkesudahan.” (Luk. 1:32,33). Sebagai seorang imam, Kristus sekarang duduk bersama-sama dengan Bapa di atas takhta-Nya (Luk. 3:21). Di atas takhta itu duduk bersama Yang Kekal dan yang dengan sendirinya ada, adalah Dia yang “telah menanggung penyakit kita dan yang memikul kesengsaraan kita,” yang dalam segala hal “Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa,” sehingga dengan demikian Ia “dapat menolong mereka yang dicobai.” “Namun jika seorang berdosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa.” (Yes. 53:4; Iberani 4:15; 2:18; 1 Yoh. 2:1). Pengantaraan-Nya ialah dengan tubuh-Nya yang yang ditusuk dan dihancurkan, dengan kehidupan yang tak bercacad. Tangan-Nya yang terluka, lambung-Nya yang ditusuk, kaki-Nya yang dirusakkan, memohon bagi manusia yang sudah jatuh, yang penebusan-Nya dibeli dengan harga yang tidak ternilai.
“Dan permufakatan tentang damai akan ada di antara mereka berdua.” Kasih Bapa, tidak kurang dari kasih Anak, adalah mata air keselamatan bagi orang yang telah hilang. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya sebelum Ia pergi, “Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu.” ( Yoh. 16:26,27). “Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus.” (2 Kor. 5:19). Dan dalam pelayanan di dalam tempat kudus di atas, “permufakatan tentang damai akan ada di antara mereka berdua.” “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16).
Pertanyaan, apakah kaabah itu? dijawab dengan jelas dalam Alkitab. Istilah “tempat kudus” sebagaimana digunakan dalam Alkitab, digunakan pertama-tama kepada kemah suci yang dibangun oleh Musa, menurut pola yang ada di Surga, dan kedua, kepada “kaabah yang sebenarnya” di Surga, yang ditunjuk oleh kaabah duniawi. Pada kematian Kristus, upacara-upacara kaabah berakhir. “Kaabah yang sebenarnya” di Surga adalah tempat kudus perjanjian yang baru. Dan sementara nubuatan Daniel 8:14 digenapi dalam dispensasi ini, tempat kudus yang dimaksud haruslah tempat kudus perjanjian baru. Pada akhir masa 2300 hari pada tahun 1844, di dunia ini tidak ada lagi tempat kudus selama ratusan tahun. Dengan demikian, “Sampai 2300 petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar,” tanpa diragukan lagi menunjuk kepada tempat kudus di Surga.
Tetapi pertanyaan yang paling penting tetap harus dijawab. Apakah maksudnya tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar? Bahwa ada upacara yang serupa itu sehubungan dengan tempay kudus duniawi, diterangkan dalam Alkitab Perjanjian Lama. Tetapi adakah sesuatu di Surga yang akan dipulihkan (disucikan — terjemahan langsung)? Dalam Iberani 9 pemulihan tempat kudus ke dalam keadaan yang wajar diajarkan dengan jelas. “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum taurat dengan darah, dan tanpa pertumpahan darah tidak ada pengampunan. Jadi segala sesuatu yang melambangkan apa yang ada di Surga haruslah ditahirkan secara demikian [darah binatang], tetapi benda-benda surgawi sendiri oleh persembahan-persembahan yang lebih baik dari pada itu,” (Iberani 9:22,23), yaitu darah Kristus yang tidak ternilai harganya.
Pemulihan kembali, baik dalam lambang maupun upacara yang sebenarnya harus dilakukan dengan darah; yang pertama dengan darah binatang, dan yang kemudian dengan darah Kristus. Rasul Paulus menyatakan sebagai alasan mengapa pemulihan itu harus dilakukan dengan darah, bahwa tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Pengampunan itu, atau membuangkan dosa, adalah pekerjaan yang harus dicapai. Tetapi bagaimanakah ada dosa sehubungan dengan tempat kudus baik yang di Surga maupun yang di dunia? Hal ini bisa diketahui dengan merujuk kepada upacara bayangan di kaabah dunia, karena imam-imam yang melakukan upacara di kemah suci duniawi “adalah gambaran dan bayangan yang ada di Surga.” (Iberani 8:5).
Pelayanan dalam tempat kudus duniawi terdiri dari dua bagian: imam-imam bekerja di bilik yang kudus setiap hari, sementara sekali setahun imam besar melakukan pekerjaan khusus penyucian di bilik yang maha kudus, untuk pemulihan tempat kudus itu. Hari demi hari orang berdosa yang bertobat membawa persembahannya ke pintu kemah suci, dan meletakkan tangannya di atas kepala korban, mengakui dosa-dosanya, dengan demikian menggambarkan pemindahan dosa-dosa dari dirinya sendiri kepada korban yang tidak bersalah itu. Binatang itu kemudian disembelih. “Tanpa penumpahan darah,” kata rasul, “tidak ada pengampunan.” “Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya.” (Imamat 17:11). Pelanggaran hukum Allah menuntut nyawa dari pelanggar. Darah yang melambangkan hutang nyawa orang berdosa, yang kesalahannya ditanggungkan kepada korban, dibawa oleh imam ke dalam bilik yang kudus dan memercikkannya di hadapan tirai penghubung, yang dibelakangnya terdapat tabut perjanjian yang berisi hukum yang dilanggar oleh orang berdosa itu. Dengan upacara ini dosa-dosa, melalui darah, dipindahkan secara simbolis ke tempat kudus. Dalam beberapa kasus, darah tidak dibawa ke bilik yang suci, tetapi dagingnya kemudian akan dimakan oleh imam, sebagaimana Musa memberi petunjuk kepada anak-anak Harun dengan mengatakan, “Tuhan memberikan kepadamu, supaya kamu mengangkut kesalahan umat.” (Imamat 10:17). Kedua upacara ini sama-sama melambangkan pemindahan dosa dari orang berdosa kepada tempat kudus.
Itulah pekerjaan yang terus berlangsung dari hari ke hari sepanjang tahun. Dosa-dosa orang Israel dengan demikian dipindahkan ke tempat kudus, dan satu pekerjaan khusus diperlukan untuk menghilangkan dosa-dosa ini. Allah memerintahkan untuk melakukan penyucian dan pendamaian tiap-tiap bilik yang kudus. “Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka.” Suatu pendamaian juga harus dibuat bagi mezbah untuk “menguduskannya dari segala kenajisan orang Israel.” ( Imamat 16:16,19).
Sekali setahun, pada hari besar pendamaian, imam memasuki bilik yang maha kudus untuk membersihkan dan memulihkan tempat kudus. Pekerjaan ini dilakukan untuk mengakhiri pelayanan tahunan. Pada hari pendamaian, dua ekor kambing jantan dibawa ke pintu kemah suci, lalu dibuang undi bagi keduanya, “sebuah undi bagi Tuhan, dan sebuah lagi bagi Azazel.” (Imamat 16:8). Kambing yang terundi bagi Tuhan akan disembelih sebagai korban persembahan bagi orang banyak. Dan imam akan membawa darahnya ke dalam tirai selubung, dan memercikkan darah itu ke atas tutup pendamaian dan di hadapan tutup pendamaian itu. Juga darah itu dipercikkan ke atas mezbah pedupaan yang di hadapan tirai selubung itu.
“Dan Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun dengan perantaraan seseorang yang sudah siap sedia untuk itu. Demikianlah kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun.” (Imamat 16:21,22). Kambing Azazel itu tidak lagi datanbg ke perkemahan orang Israel, dan orang yang menggiringnya ke padang gurun harus membasuh dirinya dan pakaiannya dengan air sebelum ia kembali ke perkemahan.
Seluruh upacara itu dimaksudkan untuk memberi kesan kepada orang Israel mengenai kekudusan Allah dan kebencian-Nya kepada dosa. Dan lebih jauh, untuk menunjukkan kepada mereka bahwa mereka tidak boleh berhubungan dengan dosa tanpa menjadi cemar dan najis. Setiap orang diharuskan menyesali dosanya, dan merendahkan diri dan jiwanya sementara upacara pendamaian itu berlangsung. Segala pekerjaan sehari-hari harus dikesampingkan, dan seluruh perhimpunan orang Israel pada hari itu merendahkan diri dengan sungguh-sungguh di hadirat Allah, dengan berdoa, berpuasa dan menyelidiki hatinya yang terdalam.
Kebenaran penting mengenai pendamaian diajarkan oleh upacara lambang-lambang. Suatu pengganti diterima sebagai pengganti orang berdosa. Tetapi dosa tidak dapat ditiadakan oleh darah korban. Dengan demikian suatu cara telah disediakan untuk memindahkan dosa itu ke tempat kudus. Dengan mempersembahkan darah, orang-orang berdosa mengakui otoritas hukum, mengakui kesalahannya dalam pelanggaran, dan menyatakan keinginannya untuk memperoleh pengampunan melalui imam kepada Penebus yang akan datang. Tetapi ia belum seluruhnya dibebaskan dari hukuman dan kutukan hukum. Pada Hari Pendamaian, setelah mengambil persembahan yang orang banyak, imam besar masuk ke bilik yang maha kudus dengan darah persembahan ini, dan memercikkan darah itu ke atas tutup pendamaian, langsung ke atas hukum itu, untuk memenuhi tuntutannya. Kemudian, dalam sikapnya sebagai pengantara, imam besar itu mengambil dosa-dosa itu kepada dirinya dan membawanya keluar dari tempat kudus. Dengan meletakkan tangannya di atas kepala kambing Azazel, ia mengakui segala dosa-dosa ini, dengan demikian menggambarkan pemindahan dosa-dosa itu dari dirinya ke kambing jantan. Kemudian kambing membawa dosa-dosa itu jauh-jauh dan mereka menganggap dosa-dosa itu dipisahkan dari mereka selama-lamanya.
Demikianlah upacara yang dilaksanakan “sebagai gambaran dan bayangan dari perkara-perkara surgawi.” Dan apa yang dilakukan dalam lambang dalam pelayanan tempat kudus duniawi, dilakukan dengan sesungguhnya dalam pelayanan tempat kudus surgawi. Setelah kenaikan-Nya, Juru Selamat kita memulai pekerjaan-Nya sebagai imam besar kita. Rasul Paulus berkata, “Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam Surga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita.” (Iberani 9:24).
Pelayanan imam sepanjang tahun di bilik yang suci dari tempat kudus itu, “di dalam tirai selubung” yang membentuk pintu dan memisahkan bilik yang suci dari halaman luar, melambangkan pekerjaan pelayanan yang dimulai oleh Kristus pada waktu Ia naik ke Surga. Itu adalah pekerjaan pelayanan harian imam untuk menyampaikan ke hadirat Allah darah persembahan karena dosa, juga dupa yang naik bersama doa-doa orang Israel. Demikian juga Kristus memohon dengan darah-Nya di hadapan Bapa atas nama orang-orang berdosa, dan menyampaikan juga di hadapan-Nya doa-doa orang percaya yang menyesali dosa-dosanya, yang disertai keharuman kebenaran-Nya sendiri. Demikianlah pekerjaan pelayanan di bilik yang kudus di kaabah surgawi.
Kesanalah iman murid-murid Kristus mengikuti Dia pada waktu Ia naik dari pandangan mereka. Di sinilah pengharapan mereka berpusat, “pengharapan itu” kata Rasul Paulus, “adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, dimana Yesus telah masuk sebagai Perintis kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.” “Dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal (bagi kita).” (Iberani 6:19,20; 9:12).
Selama delapan belas abad lamanya pekerjaan pelayanan ini berlangsung di bilik yang suci. Darah Kristus dipersembahkan atas nama orang-orang percaya yang menyesali dosa-dosanya, mendapatkan pengampunan dan penerimaan mereka kepada Bapa, namun, dosa-dosa mereka masih tertulis di dalam buku catatan. Sebagaimana dalam upacara lambang ada pekerjaan pendamaian pada akhir tahun, demikian juga sebelum pekerjaan Kristus untuk menebus manusia diselesaikan, ada pekerjaan pendamaian untuk memindahkan dosa-dosa dari tempat kudus. Inilah upacara yang telah dimulai pada waktu masa 2300 hari itu berakhir. Pada waktu itu, sebagaimana diramalkan oleh nabi Daniel, Imam Besar kita memasuki bilik yang maha kudus untuk melaksanakan bagian terakhir dari pekerjaan-Nya, — untuk memulihkan tempat kudus itu. (membersihkan — terjemahan langsung).
Seperti pada zaman dahulu dosa-dosa orang banyak, oleh iman, ditanggungkan ke atas persembahan karena dosa, dan melalui darah korban dipindahkan dalam lambang ke tempat kudus duniawi, demikianlah juga pada perjanjian yang baru dosa-dosa orang-orang yang bertobat, oleh iman, ditanggungkan ke atas Kristus, dan dipindahkan ke tempat kudus surgawi. Dan sebagaimana pemulihan tempat kudus duniawi secara lambang dicapai oleh memindahkan dosa-dosa yang mencemari tempat kudus itu, demikianlah pemulihan yang sebenarnya tempat kudus surgawi dicapai oleh memindahkan, atau menghapuskan dosa-dosa yang telah dicatat di sana. Tetapi sebelum ini dilaksanakan, harus dilakukan terlebih dahulu pemeriksaan buku-buku catatan untuk menentukan siapa yang berhak memperoleh manfaat pendamaian Kristus, melalui pertobatan dari dari dosa dan iman kepada Kristus. Oleh sebab itu pemulihan tempat kudus itu melibatkan pekerjaan pemeriksaan — pekerjaan penghakiman. Pekerjaan ini harus dilakukan sebelum kedatangan Kristus untuk menebus umat-Nya, karena bila Ia datang, upah-Nya ada bersama-sama dengan Dia yang akan diberikan-Nya kepada tiap-tiap orang menurut perbuatannya.” (Wah. 22:12).
Dengan demikian mereka yang mengikuti dalam terang perkataan nubuat itu melihat bahwa, sebagai gantinya datang ke dunia ini pada akhir masa 2300 hari pada tahun 1844, Kristus memasuki bilik yang mahasuci dalam kaabah surgawi untuk melaksanakan pekerjaan penutup dari pekerjaan pendamaian, persiapan kepada kedatangan-Nya.
Juga terlihat bahwa sementara persembahan karena dosa menunjuk Kristus sebagai korban, dan imam besar melambangkan Kristus sebagai pengantara, demikian juga kambing Azazel melambangkan Setan sebagai sumber dosa, ke atas mana dosa-dosa orang yang benar-benar menyesali dosanya pada akhirnya ditanggungkan. Bilamana imam besar, oleh jasa darah korban karena dosa, memindahkan dosa-dosa dari tempat kudus ke atas kambing Azazel. Bilamana Kristus, oleh jasa darah-Nya sendiri, memindahkan dosa-dosa umat-Nya dari tempat kudus surgawi pada akhir pelayanan-Nya, Ia akan menanggungkan dosa-dosa itu ke atas Setan, yang pada pelaksanaan hukuman harus menanggung hukuman terakhir. Kambing Azazel di bawa jauh dan dilepaskan di tempat yang tidak berpenduduk, agar tidak pernah datang kembali ke tengah-tengah perkumpulan orang Israel. Demikianlah Setan untuk selama-lamanya terhapus dari hadirat Allah dan umat-Nya, dan ia akan dihadapkan pada kebinasaan terakhir dosa dan oarng-orang berdosa.

Setan Melipatgandakan Usahanya

May 2, 2013 in Ellen G. White

2 Mei – Setan Melipatgandakan Usaha-Usahanya
Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Mazmur 34:7.

Kekuatan dan kedengkian Setan beserta seluruh pengikutnya mungkin selayaknya memperingatkan kita kalau bukan agar kita bisa menemukan tempat perlindungan dan kelepasan dalam kuasa yang lebih unggul dari Sang Penebus kita. Kita dengan berhati-hati mengamankan rumah kita dengan berbagai baut dan kunci untuk melindungi kekayaan dan kehidupan kita dari orang-orang yang jahat; tetapi kita jarang berpikir tentang malaikat-malaikat jahat yang terus-menerus mencari jalan masuk kepada kita dan menentang orang-orang yang menyerang kita, dengan kekuatan kita sendiri, tanpa metode pertahanan. Jika diijinkan, maka mereka dapat mengalihkan pikiran kita, mengacaukan dan menyengsarakan tubuh kita, menghancurkan harta dan hidup kita. Kesenangan mereka hanyalah berada dalam kesengsaraan dan kehancuran. Adalah mengerikan kondisi mereka yang mempertahankan tuntutan ilahi namun menyerah kepada godaan-godaan Setan, hingga akhirnya Allah menyerahkan mereka pada kendali roh-roh jahat. Tetapi mereka yang mengikuti Kristus selalu aman di bawah pengawasanNya. Malaikat-malaikat yang unggul dalam kekuatan diutus dari surga untuk melindungi mereka. Si jahat itu tidak bisa menembus penjagaan yang Allah lakukan bagi umatNya. 130.1
Pertentangan besar antara Kristus dan Setan, yang telah berlangsung selama hampir enam ribu tahun, akan segera berakhir; dan si jahat itu kini melipatgandakan usaha-usahanya untuk mengalahkan pekerjaan Kristus atas nama kepentingan manusia dan mengikat jiwa-jiwa ke dalam perangkapnya. Untuk mempertahankan umat di dalam kegelapan dan kedurhakaan [tanpa penyesalan dosa] sampai selesainya pengantaraan Kristus, dan tak ada lagi kurban bagi dosa, adalah sasaran yang mau dicapainya. 130.2
Bilamana tidak ada usaha khusus yang dibuat untuk menahan kekuatannya, bilamana sikap acuh tak acuh merajalela di dalam gereja dan dunia ini, maka Setan tidak dapat dicemaskan; sebab ia tidak lagi berada dalam bahaya akan kehilangan mereka yang telah ia tuntun ke dalam kehendaknya. Tetapi bilamana perhatian diarahkan kepada perkara-perkara yang abadi, dan jiwa-jiwa sedang menyelidiki, “Apa yang harus aku perbuat untuk selamat?” maka ia pun muncul, berusaha untuk menyamakan kekuatannya melawan kuasa Kristus……. Ia mengawasi ketika orang-orang berkumpul untuk penyembahan Allah. Meskipun tersembunyi dari penglihatan, ia sedang bekerja dengan segala ketekunannya untuk mengendalikan pikiran para penyembah Allah itu. 130.3

May 2 – Satan Redoubles His Efforts
The angel of the Lord encampeth round about them that fear him, and delivereth them. Ps. 34:7.
The power and malice of Satan and his host might justly alarm us were it not that we may find shelter and deliverance in the superior power of our Redeemer. We carefully secure our houses with bolts and locks to protect our property and our lives from evil men; but we seldom think of the evil angels who are constantly seeking access to us, and against whose attacks we have, in our own strength, no method of defence. If permitted, they can distract our minds, disorder and torment our bodies, destroy our possessions and our lives. Their only delight is in misery and destruction. Fearful is the condition of those who resist the divine claims and yield to Satan’s temptations, until God gives them up to the control of evil spirits. But those who follow Christ are ever safe under His watchcare. Angels that excel in strength are sent from heaven to protect them. The wicked one cannot break through the guard which God has stationed about His people. 130.1
The great controversy between Christ and Satan, that has been carried forward for nearly six thousand years, is soon to close; and the wicked one redoubles his efforts to defeat the work of Christ in man’s behalf and to fasten souls in his snares. To hold the people in darkness and impenitence till the Saviour’s mediation is ended, and there is no longer a sacrifice for sin, is the object which he seeks to accomplish. 130.2
When there is no special effort made to resist his power, when indifference prevails in the church and the world, Satan is not concerned; for he is in no danger of losing those whom he is leading captive at his will. But when the attention is called to eternal things, and souls are inquiring, “What must I do to be saved?” he is on the ground, seeking to match his power against the power of Christ. . . . He is in attendance when men assemble for the worship of God. Though hidden from sight, he is working with all diligence to control the minds of the worshipers. 130.3

Nubuatan Digenapi

May 1, 2013 in Ellen G. White

NUBUATAN-NUBUATAN DIGENAPI — 22
Pada waktu kedatangan Tuhan yang diharapkan itu berlalu — pada musim semi 1844 — tanpa terjadi apa-apa, mereka yang dengan iman menantikan kedatangan-Nya, untuk sementara dilanda kebimbangan dan ketidakpastian. Sementara dunia ini menganggap mereka telah kalah telak dan terbukti menjadi korban penipuan, sumber konsolidasi mereka masih tetap firman Allah. Banyak yang terus menyelidiki Alkitab, memeriksa kembali tanda-tanda dan bukti-bukti iman mereka, dan dengan seksama menyelidiki dan mempelajari nubuatan-nubuatan untuk mendapatkan terang lebih jauh. Kesaksian Alkitab yang mendukung posisi mereka tampak jelas dan meyakinkan. Tanda-tanda yang tidak bisa salah menunjukkan kedatangan Kristus sebagai sudah dekat. Berkat khusus dari Tuhan, baik dalam pertobatan orang-orang berdosa maupun kebangunan kehidupan kerohanian orang-orang Kristen, telah menyaksikan bahwa pekabaran itu datangnya dari Surga. Dan walaupun orang-orang percaya itu tidak dapat menerangkan kekecewaan mereka, mereka merasa yakin bahwa Allah telah menutnun mereka dalam pengalaman-pengalaman masa lalu.
Dijalin dengan nubuatan-nubuatan yang mereka anggap sebagai yang diterapkan pada kedatangan kedua kali, adalah ajaran atau petunjuk yang khusunya sesuai dengan keadaan mereka yang tidak menentu dan dalam keadaan tegang, dan mendorong mereka menunggu dengan sabar dalam iman bahwa apa yang sekarang gelap kepada pengertia mereka akan menjadi jelas pada waktunya.
Di antara nubuatan-nubuatan itu yang terdapat dalam Habakuk 2:1-4, “Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. Lalu Tuhan menjawab aku demikian: Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.”
Pada permulaan tahun 1842, petunjuk yang diberikan dalam nubuatan ini “tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh supaya orang sambil lalu dapat membacanya,” telah mendorong Charles Fitch untuk menerbitkan satu peta nubuatan untuk menggambarkan penglihatan Daniel dan Wahyu. Penerbitan peta ini dianggap sebagai kegenapan perintah yang diberikan oleh Habakuk. Namun, tak seorangpun memperhatikan bahwa penundaan pelakasanaan penglihatan itu — waktu menunggu — ada dinyatakan dalam nubuatan yang sama. Setelah kekecewaan itu, maka ayat ini tampak jelas, “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab ia sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh . . . . Orang benar akan hidup oleh percayanya” (Habakuk 2:1-4).
Sebahagian dari nubuatan Jehezkiel juga menjadi sumber kekuatan dan penghiburan bagi orang-orang percaya: Lalu datanglah firman Tuhan kepadaku, “Hai anak manusia, sindiran apakah itu yang hidup di antara kamu di tanah Israel yang berbunyi sudah lama berselang tetapi satu penglihatanpun tak jadi? Oleh sebab itu katakanlah kepada mereka: Beginilah firman Tuhan Allah: Aku akan menghentikan sindirian ini dan orang tidak akan mengucapkannya lagi ditanah Israel. Sebaliknya katakanlah kepada mereka: Waktunya sudah dekat dan tiap penglihatan akan jadi. Sebab tidak akan ada lagi penglihatan yang menipu ataupun tenungan yang menyesatkan di tengah-tengah kaum Israel, sebab Aku Tuhan, akan berfirman dan apa yang Kufirmankan akan terjadi dan firman itu tidak akan ditunda-tunda lagi, sebab masa hidupmu, hai kamu pemberontak, Aku akan mengucapkan suatu firmn dan Aku akan menggenapinya, demikianlah firman Tuhan Allah.” (Yehez. 12:21-25,27-28).
Mereka yang sedang menantikan bersukacita, percaya bahwa Ia yang mengetahui akhir dari permulaan telah memelihara mereka sepanjang zaman dan yang melihat sebelumnya kekecewaan mereka, telah memberikan kepada mereka keberanian dan pengharapan. Kalau bukan bagian ayat-ayat Alkitab yang seperti ini, yang mengingatkan mereka agar menunggu dengan sabar dan berpegang teguh pada firman Allah, iman mereka sudah gagal dalam cobaan seperti itu.
Perumpamaan sepuluh anak dara dalam Matius 25 juga menggambarkan pengalaman orang-orang yang percaya kepada kedatangan Tuhan (orang-orang Advent). Dalam Matius 24, dalam jawaban kepada pertanyaan murid-murid-Nya mengenai tanda-tanda kedatangan-Nya dan akhir dari dunia ini, Kristus telah menunjukkan beberapa peristiwa-peristiwa paling penting dalam sejarah dunia ini dan sejarah gereja mulai dari kedatangan-Nya yang pertama sampai kepada kedatangan-Nya yang kedua, seperti kebinasaan Yerusalem, kesusahan besar yang menimpa gereja di bawah penganiayaan kekafiran dan kepausan, gelapnya matahari dan bulan, dan jatuhnya bintang-bintang. Setelah itu Ia berbicara mengenai kedatangan-Nya dalam kerajaan-Nya, dan menghubungkan dengan kedua golongan hamba yang menantikan kedatangan-Nya. Fatsal dua puluh lima dimulai dengan kata-kata, “Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis.” Di sini diungkapkan kehidupan gereja pada akhir zaman, sama seperti yang ditunjukkan pada penghabisan fatsal 24. Dalam perumpamaan ini pengalaman mereka digambarkan dalam satu peristiwa pernikahan cara Timur.
“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima diantaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!”
Kedatangann Kristus, sebagaimana diumumkan oleh pekabaran malaikat yang pertama, diketahui dilambangkan oleh kedatangan mempelai laki-laki. Pembaharuan yang meluas melalui pemberitaan kedatangan-Nya yang segera menerangkan arti kepergian gadis-gadis itu. Dalam perumpamaan ini, sebagaimana halnya dalam Matius 24, ada dua golongan yang ditunjukkan. Semua telah membawa pelitanya, Alkitab, dan oleh terangnya pergi keluar menyambut mempelai. Tetapi sementara “gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,” “gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.” Golongan yang terakhir ini telah menerima kasih karunia Allah, kuasa Roh Kudus yang menerangi dan membaharui, yang membuat firman-Nya jadi lampu kepada kakinya dan terang kepada jalannya. Dalam takut akan Allah mempelajari Alkitab untuk mengetahui kebenaran dan dengan sungguh-sungguh berusaha agar mempunyai hati dan hidup yang murni dan bersih. Mereka mempunyai pengalaman pribadi, iman kepada Allah dan kepada firman-Nya, yang tidak bisa dihilangkan oleh kekecewaan dan penangguhan kedatangan Kristus. Yang lain “membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak.” Mereka tergerak hanya oleh dorongan hati. Rasa takut mereka telah dibangkitkan oleh pekabaran yang sungguh-sungguh, tetapi mereka bergantung kepada iman saudara-saudaranya tanpa mengerti kebenaran sepenuhnya, atau tanpa kasih karunia sejati bekerja di dalam hatinya. Mereka ini pergi menyambut Tuhan dengan pengharapan penuh pada prospek upah yang segera. Tetapi mereka tidak bersedia dan bersiap bagi penangguhan dan kekecewaan. Bilamana pencobaan datang, iman mereka gagal dan terang mereka padam.
“Tetapi karena mempelai itu tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.” Penangguhan kedatangan mempelai laki-laki adalah mengumpamakan berlalunya waktu yang diharapkan Tuhan datang, kekecewaan dan sepertinya penangguhan. Dalam masa yang tidak tentu ini, orang-orang yang perhatiannya tidak mendalam dan yang setengah-setengah hati segera mulai goyang, dan usaha-usaha mereka mengendor. Tetapi mereka yang imannya didasarkan atas pengetahuan pribadi Alkitab, mempunyai batu karang yang teguh tempatnya berpijak, yang tidak bisa dihanyutkan oleh gelombang kekecewaan. “Mengantuklah mereka semua, lalu tertidur.” Satu kelompok tidak perduli dan meninggalkan iman mereka, dan satu kelompok lain menunggu dengan tabah dan sabar sampai terang yang lebih jelas diberikan. Tetapi, pada malam pencobaan itu kelompok terakhir ini, sebegitu jauh, kehilangan semangat dan penyerahan mereka. Orang-orang yang setengah hati dan yang mempunyai pengetahuan yang dangkal tidak boleh lagi bersandar kepada iman saudara-saudaranbya. Masing-masing harus berdiri atau jatuh atas dirinya sendiri.
Kira-kira pada waktu ini, fanatisisme mulai muncul. Beberapa orang yang mengaku percaya sungguh-sungguh pada pekabaran itu, menolak firman Allah sebagai penuntun yang mutlak atau tidak bisa salah, dan menyatakan dituntun oleh Roh, menyerahkan dirinya dikendalikan oleh perasaan, kesan dan imaginasi mereka sendiri. Sebagian menampakkan kesungguh-sungguhan yang buta dan fanatisisme sempit, menolak semua orang yang tidak setuju pendapat mereka. Pendapat-pendapat dan kekhawatiran fanatik mereka tidak mendapat simpati dari pengikut-pengikut Advent yang besar itu. Namun, mereka menjadi celaan bagi kepentingan kebenaran.
Dengan cara ini Setan berusaha untuk menentang dan menghancurkan pekerjaan Allah. Orang-orang sangat digemparkan oleh pergerakan advent. Ribuan orang-orang berdosa bertobat dan orang-orang yang setia dengan rela bekerja menyiarkan kebenaran, bahkan pada masa penangguhan itu. Raja kejahatan kehilangan pengikutnya, dan untuk mendatangkan celaan kepada pekerjaan Allah, ia berusaha menipu beberapa orang yang mengaku beriman, dan mendorong mereka melampaui batas atau ekstrim. Dan kemudian agen-agennya siap untuk menangkap setiap kesalahan, setiap kegagalan, setiap tindakan yang tidak sesuai atau tidak senonoh dan mengangkatnya tinggi-tinggi di hadapan orang-orang dan dibesar-besarkan agar orang-orang Advent itu dan imannya dibenci orang. Dengan demikian, semakin banyak jumlah mereka yang bisa dikumpulkan membuat pengakuan iman pada kedatangan Kristus kedua kali sementara kuasanya mengendalikan hati mereka, semakin besar keuntungan yang akan diperoleh oleh menarik perhatian kepada mereka sebagai wakil dari seluruh umat percaya.
Setan adalah “pendakwa saudara-saudara” (Wah. 12:10), dan adalah roh Setan yang mengilhami orang-orang untuk memperhatikan kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan umat Allah, dan menunjukkannya dan menyiarkannya kepada orang-orang lain, sementara perbuatan-perbuatan baik mereka berlalu tanpa disebut-sebut. Setan selalu giat pada waktu Allah bekerja bagi keselamatan jiwa-jiwa. Pada waktu anak-anak Allah datang berkumpul di hadirat Tuhan, Setan juga menyusup bersama mereka. Pada setiap kebangunan rohani ia siap sedia membawa mereka yang tidak disucikan hatinya dan yang pikirannya tidak seimbang. Pada waktu orang-orang ini menerima beberapa bagian dari kebenaran, Setanpun bekerja melalui mereka untuk mengemukakan teori-teori yang akan menipu orang yang tidak waspada. Tak seorangpun terbukti menjadi seorang Kristen yang benar hanya karena ia berada di antara anak-anak Allah, bahkan di rumah perbaktian sendiri dan di sekeliling meja perjamuan Tuhan. Setan sering di sana pada saat-saat yang paling khidmat dalam bentuk mereka yang bisa dipakainya sebagai agennya.
Raja kejahatan memperebutkan setiap inci kemajuan dimana umat Tuhan maju dalam perjalanan mereka menuju kota surgawi. Sepanjang sejarah gereja tidak ada kemajuan pembaharuan yang diperoleh tanpa menemui hambatan yang serius. Demikian juga pada zaman Paulus. Dimana saja rasul itu membangun sebuah gereja, di sana ada beberapa orang yang mengaku menerima iman, tetapi yang membawa ajaran yang menyimpang atau bida’ah, yang jika di terima akan menghilangkan kecintaan kepada kebenaran. Luther juga menderita kebingungan dan tekanan besar dari orang-orang fanatik yang mengatakan bahwa Allah telah berbicara lansung melalui mereka, yang, lalu menetapkan buah pikiran dan pendapat-pendapat mereka di atas kesaksian Alkitab. Banyak yang kurang iman dan pengalaman, tetapi yang merasa cukup percaya pada diri sendiri dan yang suka mendengar dan menceriterakan sesuatu yang baru, diperdaya oleh keangkuhan guru-guru baru, dan bergabung dengan agen-agen Setan dalam kerjanya merobek-robek apa yang Allah suruh Luther bangun. Begitu juga Wesley bersaudara dan yang lain-lain, yang telah menjadi berkat bagi dunia oleh pengaruh dan iman mereka, menemui tipu muslihat Setan dalam setiap langkahnya. Setan mendorong orang-orang yang terlalu bersemangat, yang tidak berpikiran stabil, dan yang tidak disucikan menjadi fanatik dalam berbagai tingkatan.
William Miller tidak bersimpati dengan pengaruh-pengaruh yang menuntun kepada kefanatikan. Ia menyatakan, bersama Luther, bahwa setiap roh harus diuji dengan firman Allah. “Sijahat itu,” kata Miller, “mempunyai kuasa besar atas pikiran sebagian orang sekarang ini. Dan bagaimanakah kita tahu jenis roh yang ada pada mereka? Alkitab menjawab, ‘Dari buahnya kamu mengetahui’ . . . . Ada banyak roh yang pergi ke dunia ini. Dan kita disuruh untuk menguji roh-roh itu. Roh yang tidak membuat kita hidup sungguh-sungguh dan tenang, benar, dan saleh di dunia sekarang ini, ia bukan Roh Kristus. Saya semakin yakin bahwa Setan memegang peranan penting dalam gerakan pengacauan ini . . . . Banyak di antara kita, yang pura-pura disucikan seluruhnya, mengikuti tradisi manusia, dan nyata-nyata adalah bodoh mengenai kebenaran seperti yang lain-lain yang tidak berpura-pura.” — Bliss, “Memoirs of Wm. Miller,” pp 236,237,282. “Roh kesalahan akan menuntun kita jauh dari kebenaran. Dan Roh Allah akan menuntun kita ke dalam kebenaran. Tetapi, katamu, seseorang mungkin bersalah, tetapi berpikir bahwa ia mempunyai kebenaran. Lalu apa? Kami menjawab, ‘Bahwa Roh dan Firman itu tidak bertentangan’. Jikalau seseorang memyakinkan dirinya sendiri dengan firman Allah dan menemukan keharmonisan yang sempurna dengan seluruh firman itu, ia boleh percaya bahwa ia mempunyai kebenaran. Tetapi jikalau ia temukan roh yang menuntunnya itu tidak harmonis atau selaras dengan seluruh maksud hukum atau buku Allah, maka baiklah ia berhati-hati berjalan, agar jangan tertangkap jerat sijahat.” — The Advent Herald and Signs of the Times Reporter, Vol. VIII, No. 23 (Jan. 15, 1845), “Saya sering mendapatkan lebih banyak bukti kesalehan dalam hati melalui mata yang bersinar, pipi yang basah, dan ucapan yang tersendat-sendat dari pada semua suara gaduh dalam dunia Kristen.” — Bliss, “Memoirs of Wm. Miller,” pp.236,237,282.
Pada zaman Pembaharuan musuh-musuhnya menuduhkan semua kejahatan kefanatikan kepada orang-orang yang berusaha sungguh-sungguh menentang kefanatikan itu. Cara yang sama ditempuh oleh penentang-penentang pergerakan advent. Kaum ekstremis dan kaum fanatik tidak puas dengan salah melukiskan dan membesar-besarkan kesalahan, mereka menyebarkan laporan-laporan palsu yang sama sekali tidak mempunyai kemiripan dengan kebenaran. Orang-orang ini digiatkan oleh prasangka buruk dan kebencian. Ketenangan mereka diganggu oleh pemberitaan kedatangan Kristus yang sudah di muka pintu. Mereka takut kalau-kalau itu benar, namun masih berharap supaya tidak benar, dan inilah rahasia pertentangan mereka melawan orang-orang Advent dan kepercayaan mereka.
Fakta bahwa orang-orang fanatik berusaha menjadi sejajar dengan orang Advent sehingga tidak lagi menjadi alasan mengatakan bahwa gerakan itu tidak berasal dari Allah seperti kehadiran orang-orang fanatik dan penipu-penipu dalam gereja pada zaman Paulus atau Luther menjadi alasan yang cukup untuk mengutuk pekerjaan mereka. Biarlah umat Allah bangun dari tidurnya, dan memulai pekerjaan pertobatan dan pembaharuan yang sungguh-sungguh. Biarlah mereka menyelidiki Alkitab untuk mengetahui kebanaran yang di dalam Kristus. Biarlah mereka mengadakan penyerahan yang menyeluruh kepada Allah, sehingga tidak lagi ada tanda-tanda bahwa Setan masih giat dan siap siaga. Setan akan menunjukkan kuasanya dengan berbagai macam penipuan yang mungkin menggerakkan seluruh malaikat yang sudah jatuh untuk membantunya.
Bukanlah pekabaran kedatangan kedua kali yang menimbulkan kefanatikan dan perpecahan. Hal ini nyata pada musim panas 1844 pada waktu orang-orang Advent berada dalam keadaan ragu dan bingung mengenai posisi mereka yang sebenarnya. Penyiaran pekabaran malaikat yang pertama dan “seruan tengah malam” cenderung secara langsung menindas kefanatikan dan pertikaian. Orang-orang yang turut dalam gerakan yang sungguh-sunmgguh ini hidup secara harmonis. Hati mereka dipenuhi kasih satu sama lain dan kasih kepada Yesus, yang mereka harapkan kedatangan-Nya yang segera. Hal satu iman, satu pengharapan yang berbahagia mengangkat mereka mengatasi pengendalian setiap pengaruh manusia, dan terbukti sebagai perisai melawan serangan-serangan Setan.
“Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, maka mengantuklah mereka semua, lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.” (Matius 25:5-7). Pada musim panas tahun 1844, yaitu pertengahan antara musim panas dan musim gugur pada tahun itu juga, waktu yang diperkirakan sebelumnya nubuatan 2300 hari akan berakhir,, yang kemudian diketahui diperpanjang, pekabaran itu disiarkan dalam kata-kata Alkitab, ‘Mempelai datang! Songsonglah dia!’”
Yang menuntun kepada pergerakan ini ialah karena ditemukan bahwa dekrit Artahsasta mengenai pembangunan kembali Yerusalem yang menjadi permulaan masa 2300 hari itu, mulai berlaku pada musim gugur tahun 457 SM, dan bukan pada permulaan tahun sebagaimana dipercayai sebelumnya. Dengan menghitung mulai dari musim gugur 457 SM, yang 2300 tahun (hari) itu akan berakhir pada musim gugur tahun 1844 — Diagram opposite page 328; also Appendix.
Argumentasi yang dikutip dari lambang-lambang Perjanjian Lama juga menunjuk kepada musim gugur sebagai peristiwa yang dilambangkan dengan “penyucian kaabah” yang harus terjadi. Hal ini sangat jelas jika diperhatikan cara yang berhubungan dengan kedatangan pertama digenapi.
Penyembelihan Domba Paskah adalah bayang-bayang kematian Kristus. Paulus berkata, “Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.” (1Kor. 5:7). Berkas buah-buah sulung yang pada waktu Paskah dilambai-lambaikan di hadirat Tuhan adalah lambang kebangkitan Kristus. Paulus berkata mengenai kebangkitan Tuhan dan umat-umat-Nya, “Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.” (1 Kor. 15:23).
Seperti berkas-berkas yang dilambai-lambaikan itu, yaitu buah-buah yang pertama masak yang dikumpulkan sebelum musim menuai, Kristuslah buah sulung dari penuaian kekal umat tebusan yang pada kedatangan-Nya kelak akan dikumpulkan ke dalam lumbung Tuhan.
Lambang ini sudah digenapi bukan saja peristiwanya tetapi juga waktunya. Pada hari ke empat belas bulan yang pertama orang Yahudi pada hari dan bulan mana domba Paskah disembelih selama lima belas abad, Kristus, pada waktu memakan Paskah bersama murid-murid-Nya, memulaikan pesta yang memperingati kematian-Nya sendiri sebagai “anak domba Allah yang mengangkut dosa isi dunia ini.” Pada malam itu juga ia telah ditangkap oleh tangan-tangan jahat untuk disalibkan dan dibunuh. Dan sebagai yang dilambangkan berkas buah sulung yang dilambaikan itu, Tuhan kita telah dibangkitkan dari kematian pada hari yang ketiga, “sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal! (1 Kor. 15:20), sebagai contoh dari semua orang-orang benar yang dibangkitkan, yang mempunyai tubuh yang hina akan diubahkan, “sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia.” (Fil. 3:21).
Dengan cara yang sama, lambang-lambang yang berhubungan dengan kedatangan kedua kali harus digenapi pada waktu yang ditentukan dalam lambang upacara kaabah. Di bawah tatanan Musa, penyucian kaabah, atau hari garfirat atau hari Pendamaian, dilakukan pada hari ke sepuluh bulan yang ke tujuh penanggalan Yahudi (Imamat 16:29-34). Pada waktu imam besar keluar dari dalam kaabah dan memberkati orang Israel setelah ia menadakan penyucian bagi semua bangsa itu, dan dengan demikian menghapuskan dosa mereka dari dalam kaabah. Jadi dipercayai bahwa Kristus, Imam Besar Agung kita, akan datang untuk menyucikan dunia ini oleh membinasakan dosa dan orang-orang berdosa, dan memberkati umat-Nya yang menantikan-Nya dengan berkat kekekalan. Hari kesepuluh dari bulan ketujuh, hari besar penyucian, hari Grafirat, waktu penyucian kaabah, yang pada tahun 1844 jatuh pula tanggal 22 Oktober, dianggap sebagai hari kedatangan Tuhan. Ini sesuai dengan bukti-bukti yang sudah dikemukakan, bahwa masa 2300 hari akan berakhir pada musim gugur, dan kesimpulan itu kelihatannya tidak dapat ditolak.
Dalam perumpamaan Marius 25, masa menunggu dan mengantuk diikuti oleh kedatangan mempelai laki-laki. Ini sesuai dengan argumentasi yang baru saja dikemukakan, baik dari nubuatan maupun dari lambang-lambang. Keduanya membawa keyakinan yang kuat akan kegenapannya, dan “seruan di tengah malam” itu telah disiarkan oleh ribuan orang percaya.
Bagaikan gelombang pasang, pergerakan ini menyapu seluruh negerei. Dari kota ke kota, dari kampung ke kampung dan ke tempat-tempat yang jauh terpencil pekabaran itu disampaikan, sampai umat Tuhan yang menunggu benar-benar dibangunkan. Kefanatikan lenyap sebelum pengumuman ini bagaikan embun pagi sebeleum matahari terik. Orang-orang percaya melihat kebingungan dan kebimbangan mereka dibuangkan, dan pengharapan serta keberanian menggerakkan hati mereka. Pekerjaan ini terbebas dari ekstrim yang biasanya selalu menandai bilamana kebangunan manusia tanpa pengendalian pengaruh firman dan Roh Allah. Sama halnya dengan orang Israel zaman dahulu yang merendahkan diri dan kembali kepada Tuhan setelah adanya pekabaran teguran dari hamba-hamba Tuhan. Pekerjaan itu mempunyai ciri yang menandai pekerjaan Allah pada segala zaman. Hanya sedikit saja perasaan sangat gembira, tetapi lebih suka menyelidiki hati, pengakuan dosa, dan melupakan keduniawaian. Beban roh mereka yang menderita adalah persiapan untuk bertemu dengan Tuhan. Ada doa untuk ketabahan, dan penyerahan tanpa pamrih kepada Allah.
Miller berkata, dalam menjelaskan pekerjaan itu, “Tidak ada pernyataan sukacita yang besar: yaitu sepertinya disembunyikan untuk peristiwa di masa datang, di mana semua Surga dan dunia akan bersukacita bersama dengan sukacita yang tak terucapkan dan yang penuh kemuliaan. Tidak ada teriakan: inipun, dicadangkan bagi teriakan dari Surga. Penyanyi-penyanyi diam: mereka menunggu untuk bergabung dengan rombongan malaikat, paduan suara dari Surga . . . . Tidak ada bentrokan perasaan: semua sehati dan sepikir.” — Bliss, “Memoirs of Wm. Miller,” pp. 270,271. Seorang lain yang berpatisipasi dalam pergerakan ini menyaksikan, “Dimana-mana gerakan itu menghasilkan penyelidikan hati yang mendalam dan merendahkan jiwa di hadirat Allah Yang Mahatinggi. Gerakan itu menyebabkan berhenti mengasihi perkara-perkara duniawi, menyembuhkan pertentangan dan perselisihan, mengakui kesalahan-kesalahan, semua dinyatakan di hadirat Allah; dan orang-orang yang menyesal dan mau bertobat dan yang hancur hatinya, memohon pengampunan dan penerimaan dari Allah. Gerekan itu menyebabkan orang merendahkan diri dan jiwa seperti yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Sebagaimana Allah memerintahkan melalui nabi Yoel, pada waktu hari Allah yang besar itu sudah dekat, orang-orang merobek hatinya dan bukan pakaiannya, dan berbalik kepada Allah dengan berpuasa dan menangis serta berkabung. Sebagaimana Allah berkata melalui nabi Zakaria, roh karunia dan permohonan dicurahkan ke atas anak-anak-Nya; mereka memandang kepada Dia yang telah mereka tikam, sehingga ada dukacita besar di negeri itu . . . dan mereka yang memandang kepada Tuhan menderita jiwa mereka dihadapan-Nya.” — Bliss, in Adventist Shield and Riview, Vol. I, p. 271 (Jan. 1845).
Dari semua pergerakan keagamaan besar sejak zaman rasul-rsaul, tidak ada yang lebih terbebas dari ketidaksempurnaan manusia dan tipu muslihat Setan daripada musim gugur 1844 itu. Bahkan sekarangpun setelah berselang beberapa tahun, semua yang ambil bagian dalam pergerakan itu dan yang telah beridiri teguh di atas landasan kebenaran, masih merasakan pengaruh kudus pekerjaan yang berbahagia itu, dan menyaksikan bahwa pergerakan itu datang dari Allah.
Pada waktu panggilan, “Mempelai datang! Songsonglah Dia!” yang menunggu “bangun semuanya, lalu membereskan pelita mereka.” Mereka mempelajari firman Allah dengan perhatian yang sungguh-sungguh yang sebelumnya belum diketahui. Malaikat-malaikat dikirimkan dari Surga untuk membangunkan mereka yang tawar hati, dan menyediakan mereka untuk menerima pekabaran itu. Pekerjaan itu tidak bergantung kepada kebijaksanaan dan pengetahuan manusia, tetapi kepada kuasa Allah. Bukanlah orang yang paling berbakat, tetapi orang yang paling rendah hati dan yang paling berserah yang pertama sekali mendengar dan menuruti panggilan itu. Para petani meninggalkan tanamannya di ladang, ahli mekanik meletakkan peralatan mereka, dan dengan air mata dan sukacita mereka pergi keluar memberitakan amaran itu. Mereka yang dulunya memimpin pekerjaan ini adalah di antara orang yang terakhir yang bergabung dengan pergerakan ini. Pada umumnya gereja-gereja menutup pintu kepada pekabaran ini, dan sekelompok besar yang menerima pekabaran itu menarik diri dari persekutuan. Dengan pertolongan Allah, penyiaran ini bersatu dengan pekabaran malaikat yang kedua, dan memberikan kuasa kepada pekerjaan itu.
Pekabaran, “Mempelai datang! Songsonglah Dia!” bukanlah masalah argumentasi walaupun bukti Alkitab jelas dan nyata. Bersama seruan itu ada kuasa yang mendorong yang menggerakkan jiwa. Tidak ada keragu-raguan dan tidak ada yang perlu dipertanyakan. Pada peristiwa kemenangan Kristus memasuki kota Yerusalem, orang-orang yang berkumpul dari segala penjuru untuk merayakan pesta, berkumpul di Bukit Zaitun, dan pada waktu mereka bergabung dengan khalayak ramai yang mengikuti Yesus, mereka mendapat inspirasi saat itu dan turut berseru, “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” (Matius 21:9). Demikianlah juga orang-orang yang tidak percaya yang datang berkumpul pada pertemuan-pertemuan orang Advent, sebagian karena ingin tahu, sebagian semata-mata cuma mau mencemoohkan saja, — merasakan kuasa yang memyakinkan menolong pekabaran itu, “Mempelai datang! Songsonglah Dia!”
Pada waktu itu ada iman yang membawa jawaban kepada doa, — iman yang menghargai yang membawa upah. Seperti curahan hujan ke atas tanah yang kering, Roh karunia turun ke atas orang-orang yang mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Mereka yang mengharapkan segera berdiri muka dengan muka dengan Penebus mereka, merasakan sukacita yang sungguh-sungguh yang tak terucapkan. Kuasa melembutkan dan menaklukkan dari Roh Kudus melelehkan hati, pada waktu berkat-berkat-Nya dikaruniakan dengan limpahnya kepada yang setia dan percaya.
Dengan hati-hati dan sungguh-sungguh mereka yang menerima pekabaran itu, sampai pada waktu dimana mereka mengharap bertemu dengan Tuhan mereka. Pada setiap pagi mereka merasakan bahwa adalah kewajiban mereka yang pertama untuk memastikan penerimaan mereka akan Allah. Hati mereka dipersatukan dengan erat, dan mereka banyak berdoa bersama orang orang lain dan untuk satu sama lain. Mereka sering bertemu di tempat-tempat terasing untuk bergaul dengan Allah, dan suara pengantaraan atau syafaat naik ke Surga dari ladang-ladang dan dari hutan-hutan. Kepastian perkenan Juru Selamat lebih penting bagi mereka daripada makanan mereka sehari-hari. Dan jikalau awan menggelapkan pikiran mereka, mereka tidak akan berhenti sebelum awan itu berlalu. Sementara mereka merasakan kesaksian karunia yang mengampuni itu, mereka rindu untuk melihat Dia yang dikasihi jiwa mereka.
Tetapi sekali lagi mereka terpaksa mengalami kekecewaan. Waktu yang diharap-harapkan berlalu, dan Juru selamat tidak kelihatan. Dengan keyakinan yang tidak goyang mereka telah mengharapkan kepada kedatangan-Nya, dan sekarang mereka merasa seperti Maryam pada waktu datang ke kubur Yesus Juru Selamat itu dan mendapati kubur itu kosong, ia berseru sambil menangis, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu dimana Ia diletakkan.” (Yoh. 20:13).
Suatu perasaan luar biasa, suatu ketakutan bahwa pekabaran itu mungkin benar, yang untuk sementara waktu telah menjadi kekang bagi dunia yang tidak percaya. Setelah berlalunya waktu, hal ini tidak hilang dengan segera. Pada mulanya mereka yang tidak percaya itu tidak berani menunjukkan perasaan menang atas mereka yang kecewa. Tetapi pada waktu tanda-tanda murka Allah tidak tampak, maka hilanglah rasa takut mereka, dan kembali mereka mencela dan mencemooh. Sekelompok besar orang yang telah mengaku percaya pada kedatangan Tuhan yang segera, meninggalkan iman mereka. Beberapa orang yang begitu yakin akan kedatangan Tuhan itu terluka sangat dalam oleh karena kesombongan mereka sehingga mereka ingin melarikan diri dari dunia ini. Seperti nabi Yunus, mereka mengeluh kepada Allah, dan ingin mati saja daripada hidup. Mereka yang mendasarkan imannya atas pendapat orang-orang lain dan bukan atas firman Allah, sekarang siap untuk mengubah pandangan mereka. Orang pengolok-olok memenangkan orang yang lemah dan pengecut ini kedalam kelompok mereka, dan semua ini bersatu menyatakan bahwa tidak ada lagi ketakutan atau pengharapan kedatangan Tuhan. Waktu sudah berlalu, Tuhan tidak datang, dan dunia mungkin akan tetap sama selama ribuan tahun lagi.
Orang-orang percaya yang sungguh-sungguh dan setia telah mengorbankan segalanya bagi Kristus, dan telah merasakan hadirat-Nya seperti belum pernah sebelumnya. Mereka percaya telah memberikan amaran terakhir kepada dunia ini, dan berharap akan diterima dengan segera ke dalam persekutuan Tuhan dengan malaikat-malaikat surgawi. Sedemikian jauh mereka telah menarik diri dari persekutuan orang-orang yang tidak menerima pekabaran itu. Dengan kerinduan yang sungguh-sungguh mereka berdoa, “Datanglah Tuhan Yesus, datanglah segera.” Tetapi Ia tidak datang. Dan sekarang mereka harus menanggung kembali beban berat kehidupan dan kebingungan, dan menanggung cemoohan, dan ejekan para pencemooh dunia ini merupakan cobaan berat iman dan kesabaran mereka.
Tetapi kekecewaan ini tidak sebesar yang dialami oleh murid-murid pada waktu kedatangan Kristus yang pertama. Pada waktu Yesus mengendarai seekor keledai dengan kemenangan memasuki kota Yerusalem, para pengikut-Nya percaya bahwa ia sudah mau menduduki takhta Daud dan membebaskan orang-orang Israel dari penindas-penindasnya. Dengan harapan-harapan yang tinggi dan antisipasi sukacita, mereka berlomba satu sama lain untuk menunjukkan penghormatan kepada Raja mereka. Banyak yang membentangkan pakaian mereka sebagai karpet di jalan yang akan dilalui-Nya , atau menyebarkan daun-daun palem dihadapan-Nya. Dalam sukacita mereka yang sangat besar, mereka bersatu dan berseru dengan gembira, “Hosana bagi anak Daud!” Pada waktu orang-orang Farisi terganggu dan marah oleh karena luapan kegembiraan besar ini, mereka meminta agar Yesus menegur murid-murid-Nya itu. Yesus menjawab, “Aku berkata kepadamu, jika mereka ini diam, maka batu-batu ini akan berteriak.” (Luk. 19:40). Nubuatan harus digenapi. Murid-murid itu sedang melaksanakan rencana Allah, namun mereka menderita kekecewaan pahit. Tetapi beberapa hari telah berlalu sebelum mereka menyaksikan kematian Juru Selamat yang memilukan itu dan meletakkan-Nya di dalam kubur. Yang mereka nantikan belum terwujud sedikitpun, pada hal semua harapan-harapan mereka telah sirna bersama Yesus. Mereka tidak mengerti sebelum Tuhan mereka keluar dari kubur dalam kemenangan, bahwa semua telah diramalkan terlebih dahulu oleh nubuatan, dan “bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati.” (Kis. 17:3).
Lima ratus tahun sebelumnya, Tuhan telah menyatakan melalui nabi Zakaria, “Bersorak-soraklah dengan nyaring hai putri Sion, bersorak-soraklah, hai putri Yerusalem! Lihat rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” (Zak. 9:9). Sekiranya murid-murid itu menyadari bahwa Kristus akan dihakimkan dan dibunuh, mereka tidak akan menggenapi nubuatan ini.
Dengan cara yang sama, Miller dan rekan-rekannya menggenapi nubuatan dan menyampaikan suatu pekabaran yang telah diramalkan oleh Ilham Allah yang harus disampaikan kepada dunia ini. Tetapi mereka tidak dapat menyampaikan pekabaran itu sekiranya mereka mengeri dengan sepenuhnya nubuatan-nubuatan yang menunjukkan kekecewaan mereka, dan menyampaikan pekabaran yang lain untuk diberitakan kepada segala bangsa sebelum Tuhan datang. Pekabaran malaikat yang pertama dan kedua diberikan pada waktu yang tepat, dan menyelesaikan pekerjaan yang dirancang Allah untuk diselesaikan oleh mereka.
Dunia sedang mengharapkan dan menantikan bahwa jika waktu berlalu dan Kristus tidak datang, maka seluruh sistem Adventisme akan menyerah dan ditinggalkan. Tetapi sementara banyak yang meninggalkan iman mereka, di bawah cobaan yang keras, ada sebagian orang yang tetap berdiri teguh. Buah-buah Pergerakan Advent itu, roh kerendahan dan penyelidikan hati, roh penolakan dunia dan roh pembaharuan hidup yang telah membantu pekerjaan, menyaksikan semuanya itu berasal dari Allah. Mereka tidak berani menyangkal bahwa kuasa Roh Suci telah menyaksikan penyiaran kedatangan Tuhan kedua kali, dan mereka tidak dapat menemukan kesalahan dalam perhitungan-perhitungan mereka mengenai masa-masa nubuatan. Penentang yang paling keras dan mampupun tidak berhasil menjatuhkan sistem penafsiran nubuatan mereka. Mereka tidak dapat menyetujui, tanpa bukti-bukti dari Alkitab, utnuk meninggalkan pendirian yang telah dicapai dengan penyelidikan Alkitab yang sungguh-sungguh dan penuh doa, dan dengan pikiran yang diterangi oleh Roh Allah, dan hati yang telah dibakar oleh kuasa-Nya yang hidup. Pendirian yang telah menahan kritik yang paling pedas dan perlawanan pahit dari guru-guru agama dan kaum cendekiawan dunia, dan yang telah berdiri teguh melawan kekuatan gabungan ilmu dan kefasihan berbicara, dan begitu juga ejekan penghinaan kaum terhormat maupun yang hina.
Benar ada kegagalan dalam hal kejadian yang dinantikan, tetapi inipun tidak bisa menggoyahkan iman mereka atas firman Allah. Pada waktu Yunus memberitakan di jalan-jalan kota Niniwe bahwa dalam waktu empat puluh hari kota itu akan dimusnahkan, Tuhan berkenan menerima pertobatan orang-orang Niniwe, dan memperpanjang masa percobaan mereka. Namun, pekabaran Yunus adalah berasal dari Allah, dan Niniwe diuji sesuai dengan kehendak-Nya. Orang-orang Advent percaya bahwa sama seperti itu Allah telah menuntun mereka untuk memberikan amaran penghakiman. Mereka menyatakan, “Pekabaran itu telah menguji hati semua orang yang mendengarkannya, dan membangunkan suatu kerinduan kepada kedatangan Tuhan. Atau hal itu mendatangkan kebenaran, lebih atau kurang mengetahui mengenai kedatangan-Nya, tetapi Allah mengetahui Pekabaran itu telah menarik satu garis . . . sehingga mereka yang mau memeriksai hatinya sendiri, boleh mengetahui di pihak mana mereka berada sekiranya Tuhan datang — apakah mereka akan berseru, ‘Lihat, inilah Allah kita, kita telah menantikan-Nya, dan Ia akan menyelamatkan kita,’ atau mereka akan berseru kepada batu-batu dan gunung-gunung untuk menimpa mereka dan menyembunyikan mereka dari wajah Dia yang duduk di atas takhta, dan dari murka Anak Domba. Dengan demikian, Allah, sebagaimana kita percayai, telah menguji umat-Nya, telah mencoba iman mereka, telah membuktikan mereka, dan melihat apakah mereka menciut pada masa pencobaan dari posisi dimana Dia mungkin cocok menempatkan mereka; dan apakah mereka akan meninggalkan dunia dan bergantung sepenuhnya kepada firman Allah. — The Advent Herald and Singns of the Times Reporter, Vol. VIII, No. 14 (13 Nov. 1844).
Perasaan orang-orang yang masih percaya bahwa Allah telah menuntun mereka dalam pengalaman di masa lalu, dinyatakan dalam kata-kata William Miller, “Sekiranya saya bisa mengulangi hidupku kembali, dengan bukti yang sama yang saya punyai kemudian, saya mengakui secara jujur kepada Allah dan kepada manusia, bahwa saya akan berbuat seperti apa yang telah saya perbuat.” “Aku harap aku telah membasuh jubahku dari darah orang-orang. Aku merasa bahwa aku telah membebaskan diriku sendiri dari semua kesalahan dan tuduhan, sejauh itu berada dalam kuasaku.” “Meskipun aku telah dua kali kecewa,” tulis hamba Allah ini, “aku belum ambruk atau tawar hati . . . . Harapanku dalam kedatangan Kristus tetap sekuat yang biasanya. Aku telah lakukan hanya apa yang aku rasa adalah tugasku untuk melakukannya, setelah mempertimbangkan selama bertahun-tahun. Jikalau aku salah, itu hanyalah dalam bidang kedermawanan, kasih kepada sesama manusia, dan keyakinan tugas kepada Allah.” “Satu perkara aku tahu, aku telah menyiarkan yang kupercayai, dan Allah telah menyertai aku. Kuasanya telah dinyatakan dalam pekerjaanku, sehingga menghasilkan banyak kebaikan.” “Ribuan orang dalam segala rupa manusia telah mempelajari Alkitab oleh mengkhotbahkan waktu, dan oleh itu, melalui iman dan siraman darah Kristus, telah diperdamaikan kepada Allah.” — Bliss, “Memoirs Wm. Miller,” pp. 256,255,277,280,281. “Aku tidak pernah meramahi senyum orang sombong, atau merasa takut bilamana dunia ini bermuka masam. Aku tidak mau membeli persetujuan mereka, dan juga tidak mengundang kebencian mereka. Aku tidak akan pernah mencari hidupku di tangan mereka, atau merasa takut kalau kehilangan hidupku, saya harap jika Allah dalam pemeliharaan-Nya menghendaki demikian.” — White, J., “Life of William Miller,” p. 315.
Allah tidak melupakan umat-Nya. Roh-Nya masih tinggal bersama mereka yang tidak terburu-buru menyangkal terang yang telah mereka terima, dan mencela Pergerakan Advent. Dalam surat kepada Iberani ada kata-kata dorongan dan amaran kepada yang dicobai dan yang menunggu pada krisis ini, “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya. Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya. Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.” (Iberani 10:35-39).
Bahwa nasehat ini ditujukan kepada gereja pada akhir zaman nyata dari kata-kata yang menunjukkan kepada dekatnya kedatangan Tuhan, “Sebab sedikit, bahkan sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang sudah akan ada tanpa menangguhkan kedatangan-Nya.” Dan dengan jelas menyatakan bahwa akan ada seperti penundaan, dan bahwa Tuhan seolah-olah menangguhkan kedatangan-Nya. Petunjuk yang diberikan di sini terutama diberikan sesuai dengan pengalaman orang-orang Avent pada zaman ini. Orang yang diberi amanat di sini berada dalam bahaya karam kapal iman. Mereka telah melakukan kehendak Allah dalam mengikuti tuntunan Roh-Nya dan firman-Nya. Namun demikian, mereka tidak mengerti maksud Allah dalam pengalaman masa lalu mereka, atau dapat melihat dan membedakan jalan-jalan yang terbentang dihadapan mereka, dan mereka tergoda meragukan apakah Allah benar-benar menuntun mereka. Pada waktu ini firman ini dapat diterapkan, “Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman.” Pada waktu sinar terang “seruan di tengah malam” telah bersinar ke jalan mereka, dan telah melihat nubuatan dibuka meterainya, dan tanda-tandanya yang digenapi dengan segera mengatakan bahwa kedatangan Kristus sudah dekat, mereka telah berjalan dengan penglihatan sebagaimana sebelumnya. Tetapi sekarang tertunduk oleh pengharapan yang mengecewakan, mereka dapat berdiri hanya oleh iman pada Allah dan firman-Nya. Dunia pengolok-olok berkata, “Engka sudah tertipu. Sangkallah imanmu, dan katakanlah bahwa Pergerakan Advent itu berasal dari Setan.” Tetapi firman Tuhan menyatakan, “Dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” Menyangkal iman mereka sekarang dan menyangkal kuasa Roh Kudus yang telah menolong pekabaran itu adalah mengundurkan diri dan binasa. Mereka didorong dan diberanikan berdiri teguh oleh kata-kata Rasul Paulus, “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu;” “sebab kamu memerlukan ketekunan,” “sebab sedikit, bahkan sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada tanpa menangguhkan kedatangan-Nya.” Satu-satunya tindakan mereka yang aman ialah mengasihi terang yang mereka telah terima dari Allah, dan berpegang teguh kepada janji-janji-Nya, serta terus menyelidiki Alkitab. Dan dengan tekun dan tabah menanti dan berjaga untuk menerima terang lebih lanjut.

Allah akan Menuntun Umat-Nya

May 1, 2013 in Ellen G. White

1 Mei – Allah akan Menuntun UmatNya
Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Yesaya 43:2.

Allah mempunyai sebuah gereja di muka bumi ini, yang merupakan umat pilihanNya, yang memelihara perintah-perintahNya. Dia sedang memimpin, bukan cabang-cabang yang menyimpang, bukan seorang di sini dan seorang di sana, tetapi sebuah umat. 129.1
Tidak perlu ragu dan takut bahwa pekerjaan ini tidak akan berhasil. Allah adalah pemimpin pekerjaan ini, dan Dia akan mengatur segalanya. Jika perkara-perkara membutuhkan penyesuaian pada puncak pekerjaan, Allah akan memperhatikannya dan bekerja untuk membetulkan setiap kesalahan. Marilah kita beriman bahwa Allah akan membawa kapal yang mulia itu, yang membawa umat Allah, dengan selamat ke pelabuhan. 129.2
Ketika saya berlayar dari Portland, Maine, ke Boston, beberapa tahun yang lalu, sebuah badai melanda kami, dan gelombang-gelombang besar mengombang-ambingkan kami. Lampu-lampu berjatuhan dan tangkai-tangkainya berguling ke sana ke mari seperti bola. Para penumpang ketakutan dan banyak yang menjerit, menunggu ajal menjemput. 129.3
Setelah beberapa saat nakhoda datang ke atas kapal. Kapten kapal berdiri di samping nakhoda itu ketika sang nakhoda mengendalikan roda kemudi, dan mengungkapkan ketakutannya tentang jalur yang menjadi arah perjalanan kapal. “Maukah Anda mengendalikan kemudi ini?” tanya nakhoda itu. Sang kapten tidak siap untuk melakukan hal itu sebab ia tahu bahwa ia kurang berpengalaman. Kemudian beberapa penumpang menjadi gelisah dan mengatakan bahwa mereka takut kalau nakhoda itu akan menghempaskan mereka pada batu. “Maukah Anda mengambil kemudi ini?” tanya sang nakhoda; tetapi mereka tahu bahwa sang kapten tidak dapat mengendalikan kemudi itu. 129.4
Bilamana engkau merasa bahwa pekerjaan ini berada dalam bahaya, berdoalah, “Tuhan, berdirilah pada kemudi. Bawalah kami melewati kebingungan ini. Bawalah kami dengan selamat menuju pelabuhan.” Apakah kita tidak mempunyai alasan untuk percaya bahwa Tuhan akan membawa kita keluar dengan menang?……. 129.5
Engkau tidak bisa memahami pekerjaan dari segala takdir Allah dengan pemikiranmu yang terbatas. Biarlah Allah menangani pekerjaanNya sendiri. 129.6

MAY
May 1 – God will Guide His People
When thou passest through the waters, I will be with thee; and through the rivers, they shall not overflow thee: when thou walkest through the fire, thou shalt not be burned; neither shall the flame kindle upon thee. Isa. 43:2.
God has a church upon the earth, who are His chosen people, who keep His commandments. He is leading, not stray offshoots, not one here and one there, but a people. 129.1
There is no need to doubt, to be fearful that the work will not succeed. God is at the head of the work, and He will set everything in order. If matters need adjusting at the head of the work, God will attend to that, and work to right every wrong. Let us have faith that God is going to carry the noble ship which bears the people of God safely into port. 129.2
When I voyaged from Portland, Maine, to Boston, many years ago, a storm came upon us, and the great waves dashed us to and fro. The chandeliers fell, and the trunks were rolled from side to side, like balls. The passengers were frightened, and many were screaming, waiting in expectation of death. 129.3
After a while the pilot came on board. The captain stood near the pilot as he took the wheel, and expressed fear about the course in which the ship was directed. “Will you take the wheel?” asked the pilot. The captain was not ready to do that, for he knew that he lacked experience. Then some of the passengers grew uneasy, and said they feared the pilot would dash them upon the rocks. “Will you take the wheel?” asked the pilot; but they knew that they could not manage the wheel. 129.4
When you think that the work is in danger, pray, “Lord, stand at the wheel. Carry us through the perplexity. Bring us safely into port.” Have we not reason to believe that the Lord will bring us through triumphantly? . . . 129.5
You cannot with your finite minds understand the working of all the providences of God. Let God take care of His own work. 129.6

Amaran Ditolak

April 30, 2013 in Ellen G. White

Dalam mengkhotbahkan doktrin kedatangan Tuhan, William Miller dan rekan-rekannya bekerja dengan satu tujuan membangunkan orang-orang untuk bersedia kepada penghakiman. Mereka berusaha membangunkan orang-orang yang mengaku beragama kepada pengharapan gereja yang benar dan kepada kebutuhan mereka akan pengalaman Kristen yang lebih dalam. Mereka juga membangunkan orang-orang yang belum bertobat kepada penyesalan dan pertobatan segera kepada Allah. “Mereka tidak berusaha menobatkan seseorang kepada sesuatu sekte atau golongan agama. Oleh karena itu mereka bekerja di antara semua golongan dan sekte tanpa mengganggu organisasi atau disiplin mereka.”
“Dalam semua usaha saya,” kata Miller, “saya tak pernah berkeinginan atau berpikir untuk mendirikan kepentingan terpisah dari denominasi yang ada, atau menguntungkan sesuatu atas biaya yang lain. Saya berpikir untuk menguntungkan semua. Seandainya semua orang Kristen bersukacita dalam prospek kedatangan Kristus, dan bahwa mereka yang tidak melihat sebagaimana saya lihat akan mengasihi sebagaimana mereka yang menerima ajaran ini, saya tidak melihat perlunya mengadakan pertemuan yang terpisah. Tujuan saya satu-satunya adalah keinginan untuk menobatkan jiwa-jiwa kepada Allah, untuk memberitahu dunia mengenai penghakiman yang akan datang, dan mengajak sesama manusia untuk mengadakan persediaan hati yang akan menyanggupkan mereka bertemu dengan Allah mereka di dalam damai. Mayoritas dari mereka yang bertobat oleh karena usaha-usaha saya bergabung dengan berbagai gereja yang ada.” — Bliss, “Memoirs of Wm. Miller,” p. 328.
Oleh karena usahanya adalah membangun gereja-gereja, maka untuk sementara usaha-usaha ini diterima dengan baik. Tetapi pada waktu pendeta-pendeta dan para pemimpin agama memutuskan menentang ajaran tentang kedatangan Kristus dan bermaksud untuk menekan semua yang menggerakkan ajaran itu, mereka bukan saja menentangnya dari mimbar, tetapi melarang anggota-anggotanya untuk mengikuti dan menghadiri khotbah-khotbah mengenai kedatangan Yesus yang kedua kali, atau bahkan membicarakan pengharapan mereka di perkumpulan-perkumpulan sosial gereja. Dengan demikian orang-orang yang percaya ini menghadapi cobaan dan kebingungan besar. Mereka mencintai gereja mereka, dan tidak ingin berpisah dari gereja itu. Tetapi pada waktu mereka melihat kesaksian firman Allah di tindas, dan hak mereka untuk menyelidiki nubuatan dilarang, mereka merasa bahwa kesetiaan mereka kepada Allah melarang mereka menyerah. Yang berusaha menutupi kesaksian firman Allah, tidak bisa dianggap sebagai bentuk gereja Kristus, “sebagai tiang dan landasan kebenaran.” Oleh karena itu mereka merasa benar kalau berpisah dari gereja mereka semula. Pada musim panas tahun 1844 kira-kira 50,000 orang mengundurkan diri dari gereja-gereja.
Kira-kira pada waktu ini terjadi perubahan nyata di kebanyakan gereja-gereja di seluruh Amerika Serikat. Selama bertahun-tahun terdapat perubahan pelan-pelan tetapi pasti di dalam gereja. Mereka semakin menyesuaikan diri dengan praktek-praktek dan kebiasaan keduniawian, dan kemerosotan dalam kehidupan kerohanian yang sebenarnya semakin nyata. Dan pada tahun itu ada tanda-tanda kemunduran yang nyata di hampir semua gereja-gereja di negara itu. Sementara tak seorangpun yang dapat mengatakan penyebabnya, maka fakta itu tersebar luas dan dikomentari baik oleh pers maupun oleh para pendeta dari mimbar.
Pada sebuah pertemuan dewan gereja Philadelphia, Tuan Barnes, seorang pengarang komentar yang digunakan secara luas, dan pendeta dari salah satu gereja yang terutama di kota itu, “mengatakan bahwa ia telah bekerja dalam pelayanan kependetaan selama dua puluh tahun, dan tak pernah ia melaksanakan aturan tanpa menerima lebih atau kurang ke dalam gereja, sampai perjamuan yang terakhir. Tetapi sekarang tidak ada kebangunan, tidak ada pertobatan, tidak banyak pertumbuhan nyata dalam kasih karunia pada orang-orang yang mengaku orang Kristen, dan tak seorangpun datang untuk belajar membicarakan mengenai keselamatan jiwa-jiwa mereka. Dengan bertambahnya usaha bisnis, dan prospek cerah perdagangan dan pabrik-pabrik, ada pertambahan dalam pemikiran keduniawian. Demikianlah yang terjadi dengan semua agama.” — Congregational Journal, May 23, 1844.
Pada bulan Februari tahun itu, Profesor Finney dari Oberlin College, berkata, “Kita telah mempunyai fakta dalam pikiran kita, bahwa pada umumnya gereja-gereja Protestan di negara kita bersikap apatis atau buas terhadap hampir semua pembaharuan moral pada zamannya. Memang ada pengecualian, namun tidak cukup memberikan fakta sebaliknya daripada yang umumnya. Kita juga mempunyai fakta pendukung lainnya: hampir sama sekali tidak ada pengaruh kebangunan rohani di dalam gereja. Apatisme kerohanian sudah hampir merajalela kepada semua, dan sangat mendalam dan menakutkan; demikianlah kesaksian surat kabar agama diseluruh negeri menyaksikannya . . . . Anggota-anggota gereja sudah sangat keranjingan mode — bergandengan tangan dengan orang-orang yang tidak percaya dalam pesta pora kepelesiran, dalam dansa-dansi, dalam perayaan-perayaan dan lain-lain . . . . Tetapi kita tidak perlu memperluas masalah yang menyakitkan ini. Cukuplah kita melihat bahwa bukti-bukti semakin menumpuk dan melanda kita untuk menunjukkan bahwa pada umumnya gereja-gereja merosot akhlaknya dengan sangat menyedihkan. Mereka telah menyimpang begitu jauh dari Tuhan, dan Dia telah menarik diri dari mereka.”
Dan seorang penulis dalam Religious Telescope menyaksikan, “Kita belum pernah menyaksikan kemerosotan umum agama seperti sekarang ini. Sungguh, gereja harus bangun, dan mencari penyebab penderitaan ini, karena setiap orang yang mengasihi Sion harus memandang itu sebagai penderitaan. Kalau kita merenungkan betapa “sedikit dan jarang” ada kasus pertobatan yang benar, dan betapa kekurangajaran dan kekerasan orang-orang berdosa, maka tanpa disadari kita berseru, ‘Apakah Allah sudah lupa kasih karunia-Nya? atau apakah pintu kasihan sudah tertutup?”
Keadaan seperti itu tidak akan pernah terjadi tanpa sebab di dalam gereja itu sendiri. Kegelapan rohani yang menimpa bangsa-bangsa, gereja-gereja dan pribadi bukan karena Tuhan menarik kasih karunia ilahi-Nya, tetapi karena manusia itu mengabaikan atau menolak terang ilahi itu. Ilustrasi menarik mengenai kebenaran ini dinyatakan dalam sejarah orang-orang Yahudi pada zaman Kristus. Oleh karena pengabdian mereka kepada dunia dan kelalaiannya kepada Allah, pengertian mereka menjadi gelap, hati mereka dipenuhi keduniawian dan hawa nafsu. Dengan demikian mereka menjadi acuh tak acuh dan bodoh mengenai kedatangan Mesias, dan di dalam kesombongan dan ketidakpercayaan mereka, mereka menolak Penebus. Allah bahkan sesudah itu tidak menghalangi bangsa Yahudi untuk mengetahui atau ikut serta dalam berkat-berkat keselamatan. Tetapi mereka yang menolak kebenaran kehilangan semua kerinduan untuk memperoleh karunia Surga. Mereka telah “mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan,” sampai terang yang ada pada mereka menjadi kegelapan. Dan betapa pekatnya kegelapan itu!
Sesuailah dengan kebijakan Setan, bahwa manusia harus mempertahankan formalitas agama, tetapi roh keilahian dan kesalehan yang vital kurang. Setelah mereka menolak Injil, orang Yahudi terus mempertahankan upacara-upacara keagamaan lama dengan sungguh-sungguh. Mereka dengan gigih memelihara keekslusifan nasional mereka, sementara mereka sendiri mengaku bahwa hadirat Allah tidak lagi dinyatakan di antara mereka. Nubuatan nabi Daniel menunjuk dengan tak mungkin salah kepada masa kedatangan Mesias dan secara langsung menubuatkan kematian-Nya. Mereka melarang mempelajari nubuatan, dan akhirnya para rabbi mengumumkan kutuk bagi semua yang mencoba menghitung masa. Dalam kebutaan dan tanpa penyesalan, orang Israel telah berdiri selama 1800 tahun tidak memperdulikan tawaran kasih karunia keselamatan, tidak memperhatikan berkat-berkat Injil, dan amaran yang sungguh-sungguh dan menakutkan mengenai bahayanya menolak terang dari Surga.
Bilamana penyebabnya ada terjadi, maka akibat yang sama akan menyusul. Ia yang dengan sengaja mengabaikan tanggungjawab karena mengganggu kesukaan-kesukaannya, pada akhirnya akan kehilangan kuasa untuk membedakan antara kebenaran dan kesalahan. Pengertiannya menjadi digelapkan, hati nuraninya tidak berperasaan, hatinya dikeraskan dan jiwanya dipisahkan dari Allah. Dimana pekabaran kebenaran ilahi ditolak atau diremehkan, maka di sana gereja akan selubungi oleh kegelapan. Iman dan kasih menjadi dingin, dan perpecahan serta perselisihanpun masuk. Anggota-anggota gereja memusatkan perhatian dan tenaga mereka kepada perkara-perkara duniawi, dan orang-orang berdosa semakin tidak mau menyesal.
Pekabaran malaikat yang pertama dalam Wahyu 14 yang mengumumkan saat penghakiman Allah, dan yang memanggil orang-orang supaya takut akan Allah dan menyembah Dia, dimaksudkan untuk memisahkan orang-orang yang mengaku umat Allah dari pengaruh bejat dunia ini, dan membangunkan mereka untuk melihat keadaan mereka yang sebenarnya yang murtad dan bersifat keduniawian. Dalam pekabaran ini Allah telah mengirimkan amaran kepada jemaat, yang kalau diterima, akan memperbaiki kejahatan yang telah memisahkan mereka dari Dia. Seandainya mereka menerima pekabaran yang dari Surga itu dan merendahkan hati mereka di hadirat Allah serta berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mempersiapkan diri berdiri di hadirat-Nya, maka Roh dan kuasa Allah akan dinyatakan di antara mereka. Jemaat itu sekali lagi akan memperoleh berkat persatuan, iman dan kasih yang ada pada zaman rasul-rasul; bilamana orang-orang percaya itu “sehati dan sejiwa,” dan “memberitakan firman Allah dengan berani,” dan bilamana “Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” (Kisah 4:32, 31; 2:47).
Jikalau orang-orang yang mengaku umat Allah mau menerima terang sebagaimana bersinar kepada mereka dari firman-Nya, mereka akan mencapai persatuan sebagaimana yang telah didoakan oleh Kristus, yang oleh rasul itu dikatakan, “kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” Ada “satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan. (Epes. 4:3-5).
Demikianlah berkat-berkat yang akan dialami oleh mereka yang menerima pekabaran kedatangan Kristus. Mereka datang dari berbagai denominasi atau organisasi agama, dan batasan-batasan denominasi mereka dicampakkan, ajaran-ajaran yang bertentangan telah dihancurkan, pengharapan kerajaan seribu tahun yang tidak sesuai dengan keterangan Alkitab telah ditinggalkan, pandangan-pandangan yang salah mengenai kedatangan Kristus yang kedua kali dibetulkan, kesombongan dan keduniawian dibuang jauh-jauh, yang salah dibenarkan. Hati bersatu dalam persekutuan yang paling manis, dan kasih serta sukacita menguasai mereka sepenuhnya. Jika doktrin ini melakukan hal-hal itu kepada mereka yang menerimanya yang sedikit jumlahnya, hal yang sama akan dilakukan kepada semua jika semuanya menerima ajaran itu.
Tetapi pada umumnya jemaat tidak mau menerima amaran itu. Pendeta-pendeta mereka, “sebagai penjaga Israel” yang seharusnya adalah yang pertama melihat tanda-tanda kedatangan Yesus, telah gagal mengetahui kebenaran, baik dari kesaksian nabi-nabi maupun dari tanda-tanda zaman. Sementara pengharapan-pengharapan dan ambisi-ambisi duniawi memenuhi hati, kasih kepada Allah dan iman kepada firman-Nya semakin dingin. Dan bilamana doktrin kedatangan Kristus itu diajarkan, itu hanya menimbulkan prasangka dan tidak percaya bagi mereka. Fakta bahwa pekabaran itu sebagian besar disiarkan oleh kaum awam, telah digunakan sebagai argumentasi untuk menentangnya. Sebagaimana pada zaman dahulu, kesaksian sederhana firman Allah telah dihadapi dengan pertanyaan, “Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang Farisi?” (Yoh. 7:48). Dan kenyataan betapa sulitnya membantah argumentasi yang diangkat dari masa-masa nubuatan, maka banyaklah orang yang berhenti mempelajarai nubuatan, dan mengatakan bahwa buku-buku nubuatan itu dimeteraikan, dan tidak akan bisa dimengerti. Orang banyak yang hanya percaya kepada pendeta-pendeta mereka, menolak mendengarkan amaran itu. Dan yang lain, walaupun yakin terhadap kebenaran itu tetapi tidak berani mengakuinya, kalau-kalau mereka “dikucilkan” dari rumah perbaktian. Pekabaran yang dikirimkan Allah untuk menguji dan memurnikan jemaat menyatakan dengan jelas betapa besar jumlahnya orang-orang yang mengasihi dunia ini dibandingkan dengan mereka yang mengasihi Kristus. Tali yang mengikat mereka ke dunia ini lebih kuat daripada penarikan yang menuju Surga. Mereka memilih untuk mendengarkan suara hikmat duniawi, dan berpaling dari pekabaran kebenaran yang menyelidiki hati.
Dengan menolak amaran malaikat yang pertama, mereka menolak sarana yang disediakan Surga untuk pemulihan mereka. Mereka menolak dengan hinaan jurukabar yang murah hati, yang akan memperbaiki kejahatan yang memisahkan mereka dari Allah. Dan dengan keinginan yang lebih besar mereka berbalik, mencari persahabatan dengan dunia. Inilah penyebab keadaan yang menakutkan dari keduniawian, kemurtadan, dan kematian rohani yang terjadi dalam jemaat pada tahun 1844.
Dalam buku Wahyu 14, malaikat yang pertama diikuti oleh malaikat yang kedua, mengumumkan, “Sudahlah rubuh, sudahlah rubuh Babel, kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.” (Wah. 14:8). Istilah “Babilon,” diambil dari kata “Babel,” yang melambangkan kekacauan. Digunakan dalam Alkitab untuk menyatakan berbagai bentuk agama yang salah atau murtad. Dalam buku Wahyu 17, Babilon dilambangkan sebagai seorang perempuan, — sosok yang digunakan dalam Alkitab sebagai lambang gereja; perempuan yang saleh melambangkan gereja yang murni, dan perempuan sundal melambangkan gereja yang murtad.
Dalam Alkitab tabiat yang saleh dan yang bertahan dalam hubungan antara Kristus dengan gereja-Nya dilambangkan dengan persekutuan nikah. Tuhan telah menggabungkan umat-Nya kepada diri-Nya oleh suatu perjanjian khidmat; Ia berjanji menjadi Allah mereka dan mereka berjanji menjadi kepunyaan-Nya, dan hanya kepunyaan Dia sendiri. Ia mengatakan, “Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteriku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang.” (Hosea 2:18). Dan sekali lagi, “Aku telah menjadi tuan atas kamu.”(Yer. 3:14) (Aku telah menikah dengan kamu — Yer. 3:14 KJV). Dan Paulus menggunakan sosok yang sama dalam buku Perjanjian Baru pada waktu ia berkata, “Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” (2 Kor. 11:2).
Ketidaksetiaan jemaat kepada Kristus dengan membiarkan kepercayaan dan kasih sayangnya dialihkan daripada-Nya, dan dengan membiarkan cinta kepada perkara-perkara duniawi mengisi jiwanya, disamakan dengan pelanggaran kepada sumpah pernikahan. Dosa Israel dengan berpaling dari Tuhan dinyatakan dengan gambaran ini. Dan kasih Allah yang ajaib yang mereka hinakan digambarkan begini, “Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan engkau, demikianlah firman Tuhan Allah, dan dengan ini engkau Aku punya.” “Dan engkau menjadi sangat cantik, sehingga layak menjadi ratu. Dan namamu termasyhur di antara bangsa-bangsa karena kecantikanmu, sebab sangat sempurna adanya, oleh karena semarak perhiasan-Ku yang Kuberikan kepadamu, . . . . Tetapi engkau mengandalkan kecantikanmu dan engkau seumpama bersundal dalam menganggarkan ketermasyhuranmu.” “Tetapi sesungguhnya, seperti seorang isteri tidak setia terhadap suaminya, demikianlah kamu tidak setia terhadap Aku, hai kamu Israel, demikianlah firman Tuhan.” “Hai isteri yang berzinah, yang memeluk orang-orang lain ganti suaminya sendiri.” (Yehez. 16:8, 13-15,32; Yer. 3:20).
Dalam Alkitab Perjanjian Baru, bahasa yang sangat mirip dengan yang di atas ditujukan kepada orang-orang yang mengaku Kristen yang bersahabat dengan dunia ini melebihi daripada dengan Allah. Rasul Yakub berkata, “Hai kamu orang-orang yang tidak setia! (orang-orang yang berzinah — KJV) Tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” (Yakub 4:4).
Perempuan (Babilon) dalam buku Wahyu 17 digambarkan sebagai “yang memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas, permata, dan mutiara, dan ditangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya. Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia, “Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi.” Nabi berkata, “Dan aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus.” Lebih jauh, Babilon dinyatakan sebagai “kota besar yang memerintah atas raja-raja di bumi.” (Wah. 17:4-6,18). Kuasa yang untuk beberapa abad lamanya mempertahankan kekuasaan kelaliman atas raja-raja dunia Kristen ialah Roma. Warna ungu dan kirmizi, emas, batu permata dan mutiara menggambarkan kemegahan luar biasa yang melebihi raja yang dipertontonkan oleh Roma yang sombong dan pongah. Dan tidak ada satu kuasa yang benar-benar bisa dinyatakan sebagai “mabuk oleh darah orang-orang kudus,” seperti gereja ini yang dengan begitu kejam menganiaya pengikut-pengikut Kristus. Babilon juga dituduh karena dosanya berhubungan secara tidak sah dengan “raja-raja dunia.” Karena meninggalkan Tuhan dan bersekutu dengan orang-orang kafir sehingga jemaat Yahudi menjadi seorang pelacur, seorang sundal. Dan demikian juga Roma, yang korup oleh mencari dukungan kuasa-kuasa dunia, menerima hukuman yang sama .
Babilon dikatakan sebagai “ibu dari wanita-wanita pelacur” (Wahyu 17:5). Dan anaknya, yaitu wanita-wanita pelacur, melambangkan gereja-gereja yang bergantung kepada ajaran-ajarannya dan tradisi-tradisinya dan yang mengikuti teladannya mengorbankan kebenaran dan pengakuan Allah, untuk membentuk persekutuan ilegal dengan dunia. Pekabaran Wahyu 14, yang mengumumkan kejatuhan Babilon, digunakan untuk badan-badan agama yang pada suatu kali adalah murni tetapi kemudian menjadi korup atau bejat. Oleh karena pekabaran ini menyusul amaran penghakiman, maka pekabaran itu pastilah diberikan pada akhir zaman. Jadi tidak dimaksudkan hanya kepada Gereja Roma saja, oleh karena gereja tersebut sudah berada dalam keadaan jatuh selama berabad-abad. Lebih jauh, pada fatsal delapan belas buku Wahyu, umat Allah dipanggil supaya keluar dari Babilon. Menurut tulisan ini, banyak umat-umat Allah yang masih berada di Babilon. Dan di dalam badan agama manakah pengikut-pengikut Kristus paling banyak ditemukan? Tanpa ragu-ragu, di berbagai gereja yang mengaku iman Protestan. Pada waktu kebangkitan gereja-gereja Protestan, gereja-gereja ini mengambil pendirian yang agung demi Allah dan kebenaran-Nya, dan berkat-berkat-Nya ada bersama mereka. Dunia yang tidak mau percaya sendiripun terpaksa mengakui manfaat yang diakibatkan oleh penerimaan prinsip-prinsip Injil. Kata-kata nabi kepada Israel, “Dan namamu termasyhur di antara bangsa-bangsa karena kecantikanmu, sebab sangat sempurna adanya, oleh karena semarak perhiasan-Ku yang Kuberikan kepadamu, demikianlah firman Tuhan Allah.” Tetapi mereka jatuh oleh karena keinginan yang sama yang telah mengutuki dan meruntuhkan Israel — keinginan untuk meniru persahabatan dengan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan. “Tetapi engkau mengandalkan kecantikanmu dan engkau seumpama bersundal dalam menganggarkan kemasyhuranmu.” (Yehez. 16:14,15).
Banyak gereja-gereja Protestan mengikuti teladan hubungan jahat Roma dengan “raja-raja dunia,” — gereja-gereja negara, oleh hubungan mereka dengan pemerintah, dan denominasi-denominasi lain, oleh usaha-usaha agar disukai dunia. Dan istilah “Babilon” — yang berarti kekacauan — dapat dikaitkan dengan badan-badan ini yang semua mengaku mengambil ajaran atau doktrinnya dari Alkitab, namun, terbagi-bagi menjadi banyak sekte, dengan ajaran dan teori yang bertentangan.
Selain persekutuan jahat dengan dunia ini, gereja-gereja yang memisahkan diri dari Roma menampilkan karakteristiknya yang lain.
Seorang Katolik Roma memberikan bantahan, bahwa “jikalau Gereja Roma pernah dipersalahkan mengenai penyembahan berhala sehubungan dengan orang-orang saleh, maka anak perempuannya, Gereja Inggeris, juga melakukan kesalahan yang sama, dimana sepuluh gereja diabdikan kepada Maria sementara hanya satu diabdikan kepada Kristus.” — Dr. Challoner, “The Catholic Christian Instructed,” Preface, pp. 21,22 (ed. 1897).
Dan Dr. Hopkins dalam “A Treatise on the Millenium,” menyatakan, “Tidak ada alasan menganggap roh dan praktek-praktek agama antikristen dibatasi hanya kepada apa yang sekarang disebut Gereja Roma. Gereja-gereja Protestan sendiripun mempunyai banyak antikritus di dalamnya, dan masih jauh dari pembaharuan seluruhnya dari . . . kebejatan dan kejahatan.” — Hopkins, Samuel, “Works,” Vol.II, p. 328 (ed. 1854).
Menegnai pemisahan Gereja Presbyterian dari Roma, Dr. Guthrie menulis, “Tiga ratus tahun lalu, gereja kita dengan Alkitab terbuka dalam panji-panjinya, dengan motto ini, ‘Selidiki Alkitab’ dalam gulungan dokumennya, berbaris keluar dari gerbang kota Roma.” Lalu ia menanyakan pertanyaan penting, “Apakah mereka keluar dengan bersih dari Babilon?” — Guthrie, John, “The Gospel in Ezekiel,” p. 237 (Edinburgh ed. 1857).
“Gereja Inggeris,” kata Spurgeon, “tampaknya digerogoti terus oleh upacara-upacara sakramentarianisme, tetapi ketidaksesuaian kepada tradisi hampir sama buruknya dengan falsafah tidak percaya kepada Tuhan. Hal-hal yang kita anggap baik telah disisihkan satu persatu dari dasar-dasar iman. Seterusnya, saya percaya bahwa hati Inggeris dipenuhi oleh sarang-sarang ketidaksetiaan yang terkutuk, yang masih berani naik mimbar dan memanggil dirinya orang Kristen.”
Apakah asal mula kemurtadan besar itu? Bagaimanakah gereja pertama kali menyimpang dari kesederhanaan Injil? Oleh penyesuaian diri kepada praktek-praktek penyembahan berhala, untuk memudahkan Kekristenan diterima oleh kekafiran. Rasul Paulus menyatakan pada zamannya, “Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja.” Selama hidupnya para rasul gereja tetap murni. Tetapi menjelang abad kedua kebanyakan gereja-gereja mengambil bentuk baru. Kesederhanaan mula-mula itu hilang lenyap, dan tak terasa, pada waktu murid-murid dulu itu meninggal dunia, anak-anak mereka bersama-sama dengan orang-orang yang baru bertobat . . . tampil dan membuat bentuk baru.” — Robinson, Robert, “Ecclesiastical Researches,” ch. 6, par. 17 (ed. 1792, p. 51). Untuk mendapatkan orang-orang yang bertobat, standar iman Kristen yang tinggi diturunkan, dan sebagai akibatnya “penyembah-penyembah berhala berduyun-duyun masuk gereja, dengan membawa adat kebiasaannya dan segala praktek serta berhala-berhalanya.” — Gavazzi’s Lectures, p. 278 (ed. 1854). Pada waktu agama Kristen memperoleh bantuan dan dukungan pemerintahan negara, secara nominal diterima oleh orang banyak. Tetapi walaupun tampaknya mereka adalah orang-orang Kristen, masih banyak yang masih tetap penyembah berhala, terutama dengan sembunyi-sembunyi menyembah berhala-berhala mereka.” — Gavazzi’s Lectures, p. 278, (ed. 1854)
Bukankah proses yang sama telah diulang-ulangi di hampir setiap gereja yang menamakan dirinya Protestan? Pada waktu para penemunya yang memiliki roh pembaharuan yang benar meninggal, keturunannya tampil dan membuat “bentuk baru.” Sementara mereka secara membabibuta bergantung kepada ajaran-ajaran leluhur mereka dan menolak menerima setiap kebenaran yang belum pernah mereka ketahui, anak-anak para pembaharu itu menyimpang jauh dari teladan kerendahan hati, penyangkalan diri, dan membuangkan dunia. Dengan demikian “kederhanaan yang mula-mula itu lenyap.” Banjir keduniawian mengalir ke gereja, “membawa adat kebiasaan, praktek-praktek dan berhala-berhala dunia.”
Betapa menakutkan meluasnya persahabatan dunia yang adalah “permusuhan dengan Allah” yang sekarang melanda umat yang mengaku pengikut Kristus! Betapa jauhnya gereja-gereja populer di seluruh dunia Kristen menyimpang dari standar Alkitab mengenai kerendahan hati, penyangkalan diri, kesederhanaan dan kesalehan! John Wesley berkata mengenai pemakaian uang yang benar, “Jangan sia-siakan sebagianpun dari talenta yang begitu berharga, hanya untuk memuaskan keinginan mata, untuk pakaian yang berlebih-lebihan dan mahal, atau untuk perhiasan-perhiasan yang tidak perlu. Jangan sia-siakan sebagianpun daripadanya untuk menghiasi rumahmu dengan berlebihan atau dengan perabot yang mahal-mahal, dengan gambar dan lukisan yang mahal-mahal, dan barang-barang sepuhan . . . . Jangan gunakan apapun untuk memuaskan kesombongan hidup, untuk memperoleh kekaguman dan pujian orang-orang . . . . ‘Selama engkau berlaku baik maka orang lain akan berkata baik mengenai engkau.’ Selama engkau ‘berpakaian kain lenan yang halus, memakan makanan yang paling mahal setiap hari,’ tak heran banyak orang akan memuji kemewahan seleramu, kemurahanmu dan keramahanmu. Tetapi janganlah membeli pujian mereka dengan begitu mahal. Sebaliknya berpuaslah dengan penghormatan yang datang dari Allah.” — Wesley’s Works, Sermon 50, “The Use of Money.” Tetapi ajaran seperti ini diabaikan di banyak gereja pada zaman kita.
Pengakuan agama telah menjadi populer di dunia ini. Para penguasa, ahli politik, ahli hukum, doktor-doktor, dan para pedagang bergabung ke dalam gereja sebagai cara untuk memperoleh penghormatan dan kepercayaan masyarakat, dan untuk memajukan kepentingan duniawi mereka. Dengan begitu mereka berusaha menutupi semua transaksi mereka yang tidak benar, di bawah pengakuan Kekristenan. Berbagai badan-badan agama yang didukung oleh kekayaan dan pengaruh orang-orang duniawi yang sudah dibaptiskan ini, masih dilakukan demi popularitas dan perlindungan. Bangunan gereja-gereja yang megah, yang dihiasi dengan sangat mewah, dibangun di jalan-jalan protokol. Para pengunjung yang mau beribadat menghiasi diri mereka dengan pakaian yang mahal-mahal dan mode-mode mutakhir. Pendeta berbakat digaji dengan gaji yang tinggi untuk menghibur dan menarik perhatian orang-orang. Khotbah-khotbahnya tidak boleh menyinggung dosa-dosa, tetapi harus dibuat lembut dan menyenangkan bagi pendengar-pendengar modern. Dengan demikian orang-orang modern yang berdosa didaftarkan dalam catatan-catatan gereja, dan dosa-dosa modern ditutupi di bawah kesalehan yang pura-pura.
Mengomentari sikap orang-orang yang mengaku Kristen dewasa ini terhadap dunia, sebuah majalah terkenal berkata, “Dengan tak disadari gereja telah tunduk kepada kehendak zaman, dan menyesuaikan upacara perbaktiannya kepada kehendak kemodernan.” “Memang, segala sesuatu yang menolong membuat agama menarik, sekarang digunakan oleh gereja sebagai alat.” Seorang penulis dalam majalah New York Independent, berbicara mengenai Metodisme, “Garis pemisah antara orang saleh dengan orang yang tidak beragama lenyap bagaikan bayangan kabur waktu gerhana, dan orang-orang yang giat bersemangat di kedua belah pihak berusaha keras untuk menghapuskan semua perbedaan antara cara tindakan dan kesenangan mereka.” “Popularitas agama cenderung dengan cepat menambah jumlah orang yang mau mendapatkan keuntungan-keuntungan tanpa sama sekali memenuhi kewajiban-kewajibannya.”
Howard Crosby berkata, “Sangat memprihatinkan kita menemukan gereja Kristus sangat sedikit melaksanakan rencana Tuhan. Sama seperti oarng Yahudi zaman dahulu membiarkan pergaulan biasa dengan bangsa-bangsa penyembah berhala mencuri hati mereka dari Allah, . . . demikianlah gereja Yeusu sekarang, oleh persekutuannya dengan dunia yang tidak percaya kepada Tuhan, telah kehilangan metode ilahi dalam kehidupannya yang benar. Dan tunduk menyerah kepada kebiasaan atau tabiat berbahaya masyarakat yang tidak mempunyai Kristus, walaupun sering masuk akal, dengan menggunakan argumen-argumen dan mencapai kesimpulan yang asing kepada kenyataan Allah, dan secara langsung berlawanan dengan semua pertumbuhan dalam kasih barunia.” — “The Healthy Christian: An Appeal to the Church,” pp. 141,142 (ed. 1811).
Dalam arus keduniawian dan kepelesiran ini, penyangkalan diri dan pengorbanan diri demi Kristus hampir seluruhnya hilang. “Sebagian dari laki-laki dan perempuan sekarang yang hidup aktif dalam gereja kita adalah mereka yang telah dididik waktu masih kanak-kanak untuk berkorban agar dapat melakukan sesuatu bagi Kristus.” Tetapi “jika dana dibutuhkan sekarang, . . . tak perlu seorangpun dipanggil untuk memberi. Oh, tidak! Adakanlah perayaan atau pekan raya, sajikan makanan pesta, lelucon, makan malam cara kuno, dan sesuatu untuk dimakan, sesuatu yang menghibur orang-orang.”
Gubernur Washburn dari negara bagian Wisconsin, pada amanat tahunannya pada tanggal 9 Januari 1873 menyatakan, “Seperangkat undang-undang atau hukum diperlukan untuk membubarkan sekolah-sekolah dimana penjudi-penjudi di buat, yang merajalela dimana-mana. Bahkan gereja sendiri kadang-kadang (secara tidak sengaja, tidak diragukan) melakukan pekerjaan Setan. Konser-konser amal, usaha-usaha dan undian amal, kadang-kadang untuk membantu tujuan-tujuan keagamaan dan kedermawanan, (tetapi sering untuk tujuan-tujuan yang kurang berguna), lotere, paket-paket hadiah, dan lain-lain, adalah semua cara untuk mendapatkan uang tanpa imbalan diterima. Tidak ada yang paling meracuni dan merusak moral, terutama kepada orang-orang muda, daripada mendapatkan uang atau harta tanpa bekerja. Orang-orang terhormat melibatkan diri dalam usaha musiman ini, dan menenangkan hati nurani mereka dengan refleksi bahwa uang yang diperoleh dari usaha ini digunakan untuk tujuan-tujuan baik. Tidak heran bahwa pemuda-pemuda negara bagian itu sering harus terjerumus ke dalam kebiasaan yang kegemparan permainan berbahaya ini hampir pasti dapat menimbulkan kekejian.”
Roh penyesuaian diri dengan keduniawian telah melanda gereja-gereja sepanjang zaman Kekristenan. Robert Atkins, dalam sebuat khotbahnya di London melukiskan gambaran hitam kemerosotan kerohanian yang merajalela di Inggeris, “Orang yang betul-betul benar telah lenyap dari muka bumi ini, dan tak seorangpun yang memperdulikannya. Yang mengakui beragama dewasa ini di setiap gereja adalah pecinta-pecinta dunia, yang menyesuaikan diri dengan dunia ini, pecinta-pecinta hawa nafsu dan pengejar-pengejar kehormatan diri. Mereka dikatakan menderita dengan Kristus, tetapi mereka bahkan menghindar dari teguran . . . . Kemurtadan, kemurtadan dan kemurtadan saja yang terukir di paling depan setiap gereja. Dan sekiranya mereka menyadari itu, dan sekiranya mereka merasakan itu, mungkin masih ada pengharapan. Tetapi malangnya, mereka berseru, ‘Kita kaya dan bertambah-tambah kekayaan, sehingga kami tidak memerlukan apa-apa.’” — Second Advent Library, Tract No. 39.
Dosa besar yang ditimpakan kepada Babilon adalah bahwa ia telah “memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.” Cawan kemabukan yang diberikan kepada dunia ini melambangkan ajaran-ajaran palsu yang diterimanya sebagai akibat dari hubungan gelapnya dengan para pembesar dunia. Persahabatan dengan dunia telah merusakkan imannya, dan pada gilirannya ia menyebarkan pengaruh kerusakan iman dan kebejatan kepada dunia oleh mengajarkan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan pernyataan-pernyataan Alkitab yang begitu sederhana dan jelas.
Roma menahan Alkitab itu dari orang-orang, dan sebagai penggantinya mengharuskan semua orang menerima ajaran-ajarannya. Adalah perjuangan Pembaharuan untuk mengembalikan firman Allah kepada manusia. Tetapi bukankah hal itu benar sekali bahwa dalam gereja-gereja zaman kita orang-orang diajar untuk mengalaskan iman mereka kepada doktrin dan ajaran gereja sebagai gantinya kepada Alkitab? Berbicara mengenai gereja Protestan, Charles Beecher berkata, “Mereka mengelak dari mengucapakan kata-kata kasar melawan ajaran kepercayaan sama seperti bapa-bapa kudus mengelak mengucapkan kata-kata kasar melawan orang-orang kudus dan para syuhada (martir) yang sedang naik daun untuk dipuja, yang mereka telah pelihara . . . . Denominasi penginjilan Protestan begitu terikat satu sama lain, dan juga dengan dirinya sendiri, bahwa di antara mereka semua seseorang tidak bisa menjadi seorang pengkhotbah sama sekali, dimana saja, tanpa menerima beberapa buku disamping Alkitab . . . . Tidak ada khayalan dalam pernyataan itu, bahwa kekuasaan ajaran atau syahadat gereja sekarang mulai melarang Alkitab sebagaimana yang dilakukan oleh Roma, meskipun dengan cara yang lebih halus.” — Sermon on “The Bible a Sufficient Creed,” delivered at Fort Wayne, Indiana, Febr. 22, 1846.
Pada waktu guru-guru yang setia menjelaskan firman Allah, bangkitlah orang-orang terpelajar, pendeta-pendeta yang mengaku mengerti Alkitab, yang mencela doktrin yang kuat dan benar sebagai bida’ah atau ajaran sesat. Dengan demikian membuat orang-orang pencari kebenaran berpaling. Seandainya dunia ini tidak dimabukkan dengan anggur Babilon, maka orang-orang banyak akan diyakinkan dan ditobatkan oleh kebenaran firman Allah yang sederhana, jelas dan menusuk. Akan tetapi kepercayaan keagamaan begitu membingungkan dan bertentangan, sehingga orang tidak mengetahui apa yang harus dipercayai sebagai kebenaran. Dosa pendurhakaan dunia terletak di pintu gereja.
Pekabaran malaikat yang kedua dalam buku Wahyu 14 pertama kali dikabarkan pada musim panas tahun 1844, yang kemudian mempunyai penerapan langsung kepada gereja-gereja di Amerika Serikat, dimana amaran penghakiman begitu luas dikabarkan, dan yang pada umumnya ditolak; dan dimana kemerosotan dalam gereja-gereja begitu cepat terjadinya. Akan tetapi pekabaran malaikat yang kedua itu tidak mencapai kegenapannya yang penuh pada tahun 1844. Gereja-gereja kemudian mengalami kejatuhan moral, sebagai akibat dari penolakan terang pekabaran kedatangan Tuhan. Tetapi kejatuhan itu belum lengkap. Pada waktu mereka terus menolak kebenaran istimewa bagi zaman ini, mereka jatuh semakin dalam dan rendah. Tetapi, belumlah bisa dikatakan bahwa “Babilon sudah rubuh, . . . krena ia memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.” Belum smua bangsa dibuatnya melakukan ini. Roh penyesuaian diri dengan dunia dan tidak perduli menguji kebenaran pada zaman kita, terdapat dan telah berakar di dalam gereja-gereja yang beriman Protestan di seluruh dunia Kekristenan. Dan gereja-gereja ini termasuk dalam celaan serius malaikat yang kedua. Tetapi kemurtadan belum mencapai puncaknya.
Alkitab menyatakan bahwa sebelum kedatangan Tuhan, Setan akan bekerja “disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat.” Dan mereka yang ” tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka,” akan menerima “kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta.” (2 Tes. 2:9-11). Setelah keadaan ini dicapai dan persekutuan gereja dengan dunia benar-benar tercapai sepenuhnya di seluruh dunia Kekristenan, barulah kejatuhah Babilon itu lengkap. Perobahan terus berlangsung secara bertahap, dan kegenapan sempurna buku Wahyu 18:8 akan terjadi pada masa yang akan datang.
Walaupun kegelapan kerohanian dan pemisahan diri dari Allah yang terjadi di dalam gereja-gereja, yang membentuk Babilon itu, kelompok besar pengikut Kristus yang benar masih terdapat dalam persekutuan mereka. Banyak dari antara mereka ini yang belum pernah melihat kebenaran khusus zaman ini. Tidak sedikit yang tidak puas dengan keadaan mereka sekarang, dan rindu kepada terang kebenaran yang lebih jelas. Mereka tidak melihat gambaran Kristus di gereja-gereja tempat mereka bergabung. Sementara badan-badan ini berpisah semakin jauh dari kebenaran, dan bersekutu dengan dunia ini, maka perbedaan antara dua golongan akan semakin lebar, dan akhirnya akan mengakibatkan perpisahan. Waktunya akan datang bilamana mereka yang mengasihi Allah tidak lagi berhubungan dengan “mereka yang mengasihi kepelesiran lebih dari pada Allah, yang tampaknya beribadat, tetapi menyangkal kuasa peribadatan itu.”
Buku Wahyu 18 menunjuk kepada waktu sebagai akibat penolakan amaran rangkap tiga Wahyu 14:6-14, bilamana gereja mencapai sepenuhnya keadaan yang diramalkan oleh malaikat yang kedua, dan umat Tuhan yang masih berada di Babilon akan dipanggil keluar memisahkan diri dari persekutuannya. Pekabaran itu adalah pekabaran yang terakhir yang pernah diberikan kepada manusia, dan akan mencapai tujuannya. Bilamana mereka yang “tidak percaya akan kebenaran, dan yang suka kejahatan,” (2 Tes. 2:12) akan dibiarkan menerima penipuan dan mempercayai kebohongan, kemudian terang kebenaran akan bersinar ke dalam semua hati yang terbuka untuk menerimanya. Dan semua anak-anak Tuhan yang tinggal di Babilon akan mendengarkan panggilan, “Keluarlah daripadanya hai kaum-Ku.” (Wahyu 18:4 Terkemahan Lama).

Surga Sedang Menantikan Engkau

April 29, 2013 in Ellen G. White

30 April – Surga Sedang Menantikan Engkau
Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu. Yohanes 20:21.

Tentang para rasul ada tertulis, “Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.” [Mark 16:20]. Sebagaimana Kristus mengutus murid-muridNya, maka pada hari ini Dia mengutus para anggota gerejaNya. Kuasa yang sama yang dimiliki oleh para rasul itu adalah untuk mereka. Jika mereka akan membuat Allah sebagai kekuatan mereka, maka Dia akan bekerja bersama mereka, dan mereka tidak akan bekerja dalam kesia-siaan. Biarlah mereka menyadari bahwa pekerjaan itu yang di dalamnya mereka terlibat adalah sesuatu pekerjaan yang padanya Tuhan menempatkan meteraiNya. Allah berfirman kepada Yeremia, “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman Tuhan.” Lalu Tuhan mengulurkan tanganNya dan menjamah mulutKu; Tuhan berfirman kepadaku: “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataanKu ke dalam mulutmu.” [Yeremia 1:7-9]. Dan Dia menganjurkan kita pergi untuk mengucapkan perkataan yang diberikanNya kepada kita, dengan merasakan sentuhan suciNya pada mulut kita. 128.1
Kristus telah memberikan kepada gereja sebuah tanggungjawab yang suci. Setiap anggota haruslah menjadi saluran dengan mana Allah dapat mengkomunikasikan kepada dunia ini harta rahmatNya, kekayaan-kekayaan yang tak dapat dicari dari Kristus. Tak ada yang sedemikian diinginkan Juruselamat itu selain agen-agen yang akan mewakili Roh dan tabiatNya kepada dunia ini. Tak ada yang sedemikian dibutuhkan oleh dunia selain manifestasi cinta Sang Juruselamat melalui kemanusiaan. Seluruh surga sedang menantikan pria dan wanita yang melaluinya Allah dapat mengungkapkan kuasa Kekristenan. 128.2
Gereja adalah agen Allah untuk penyampaian kabar kebenaran, yang dikuatkan olehNya untuk melaksanakan sebuah pekerjaan istimewa; dan jika ia setia kepadaNya, patuh terhadap segala perintahNya, maka akan bersemayam di dalamnya kemuliaan karunia ilahi. Jika ia akan menjadi benar pada persekutuannya, jika ia akan menghormati Tuhan Allah Israel, maka tidak akan ada kekuatan yang mampu bertahan melawannya. 128.3
Semangat untuk Allah dan PekerjaanNya telah menggerakkan para murid dahulu untuk menyampaikan kesaksian pada injil dengan kuasa yang besar. Bukankah seharusnya demikian api semangat hati kita dengan sebuah tekad untuk menceritakan kisah cinta yang menebus dari Kristus dan Dia yang disalibkan itu? Adalah hak istimewa setiap orang Kristen, bukan saja untuk menantikan, tetapi juga untuk mempercepat kedatangan Sang Juruselamat. 128.4

April 30 – Heaven is Waiting for You
As my Father hath sent me, even so send I you. John 20:21.
Of the apostles it is written, “They went forth, and preached every where, the Lord working with them, and confirming the word with signs following.” Mark 16:20. As Christ sent forth His disciples, so today He sends forth the members of His church. The same power that the apostles had is for them. If they will make God their strength, He will work with them, and they shall not labour in vain. Let them realize that the work in which they are engaged is one upon which the Lord has placed His signet. God said to Jeremiah, “Say not, I am a child: for thou shalt go to all that I shall send thee, and whatsoever I command thee thou shalt speak. Be not afraid of their faces: for I am with thee to deliver thee.” Then the Lord put forth His hand and touched His servant’s mouth, saying, “Behold, I have put my words in thy mouth.” Jer. 1:7-9. And He bids us go forth to speak the words He gives us, feeling His holy touch upon our lips. 128.1
Christ has given to the church a sacred charge. Every member should be a channel through which God can communicate to the world the treasures of His grace, the unsearchable riches of Christ. There is nothing that the Saviour desires so much as agents who will represent to the world His Spirit and His character. There is nothing that the world needs so much as the manifestation through humanity of the Saviour’s love. All heaven is waiting for men and women through whom God can reveal the power of Christianity. 128.2
The church is God’s agency for the proclamation of truth, empowered by Him to do a special work; and if she is loyal to Him, obedient to all His commandments, there will dwell within her the excellency of divine grace. If she will be true to her allegiance, if she will honour the Lord God of Israel, there is no power that can stand against her. 128.3
Zeal for God and His cause moved the disciples to bear witness to the gospel with mighty power. Should not a like zeal fire our hearts with a determination to tell the story of redeeming love, of Christ and Him crucified? It is the privilege of every Christian, not only to look for, but to hasten the coming of the Saviour. 128.4

Sebuah Dasar yang Teguh

April 29, 2013 in Ellen G. White

29 April – Sebuah Dasar Yang Teguh
Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: “Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya” dan “Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.” 2 Timotius 2:19.

Tuhan akan mempunyai sebuah umat yang benar seperti baja, dan yang memiliki iman sekuat batu granit. Mereka akan menjadi saksi-saksiNya di dunia ini, perantaraan-perantaraanNya untuk melakukan suatu pekerjaan yang istimewa dan mulia dalam hari persiapan kedatanganNya….. 127.1
Para pendeta yang telah mengkotbahkan kebenaran dengan segala semangat dan kesungguhan mungkin akan ingkar dan bergabung dengan rombongan musuh-musuh kita, tetapi apakah hal ini mengubah kebenaran Allah menjadi sebuah dusta? “Tetapi”, kata rasul itu, “dasar yang diletakkan Allah itu teguh.” Iman dan perasaan orang-orang mungkin berubah; namun kebenaran Allah, tidak pernah……. 127.2
Adalah sama pastinya kita memiliki kebenaran dengan kenyataan bahwa Allah itu hidup; dan Setan, dengan segala keahlian dan kekuatan jahatnya, tidak bisa mengubah kebenaran Allah menjadi sebuah dusta. Sementara musuh besar itu akan mencoba sekuat tenaganya untuk menghapuskan pengaruh firman Allah, kebenaran harus memancar laksana sebuah obor yang menyala. 127.3
Tuhan telah mengambil kita keluar dan membuat kita menjadi penurut-penurut dari belaskasihNya yang luar biasa. Akankah kita terpesona dengan ocehan-ocehan kemurtadan? Akankah kita memilih untuk berdiri bersama Setan dan seluruh pengikutnya? Akankah kita bergabung dengan para pelanggar hukum Allah? Sebaiknya biarlah menjadi doa kita: “Tuhan, buatlah permusuhan antara aku dengan ular itu.” [bandingkan Kejadian 3:15]. Jika kita tidak bermusuhan dengan pekerjaan-pekerjaan kegelapannya, maka lipatan-lipatannya yang kuat akan mengitari kita, dan sengatnya siap sedia setiap saat ditujukan ke hati kita. Kita harus menganggapnya sebagai musuh yang mematikan. Kita harus melawannya dalam nama Kristus. Pekerjaan kita masih sedang berlangsung…. Biarlah semua orang yang menyebut nama Kristus memakaikan pada diri mereka sendiri jubah kebenaran itu….. 127.4
Waktunya sudah tiba ketika kita harus mengetahui untuk diri kita sendiri mengapa kita meyakini sebagaimana yang kita perbuat…… Mari membentangkan bagi diri kita sendiri sebuah dasar yang teguh menghadapi waktu yang akan datang itu, agar kita boleh bertahan pada hidup abadi. Kita harus bekerja, bukan dalam kekuatan kita sendiri, tetapi di dalam kekuatan Tuhan kita yang telah bangkit. Apa yang akan kita perbuat dan hadapi demi Yesus? 127.5

April 29 – A Sure Foundation
Nevertheless the foundation of God standeth sure, having this seal, The Lord knoweth them that are his. And, Let every one that nameth the name of Christ depart from iniquity. 2 Tim. 2:19.
The Lord will have a people as true as steel, and with faith as firm as the granite rock. They are to be His witnesses in the world, His instrumentalities to do a special, a glorious work in the day of His preparation. . . . 127.1
Ministers who have preached the truth with all zeal and earnestness may apostatize and join the ranks of our enemies, but does this turn the truth of God into a lie? “Nevertheless,” says the apostle, “the foundation of God standeth sure.” The faith and feelings of men may change; but the truth of God, never. . . . 127.2
It is as certain that we have the truth as that God lives; and Satan, with all his arts and hellish power, cannot change the truth of God into a lie. While the great adversary will try his utmost to make of none effect the word of God, truth must go forth as a lamp that burneth. 127.3
The Lord has singled us out and made us subjects of His marvelous mercy. Shall we be charmed with the pratings of the apostate? Shall we choose to take our stand with Satan and his host? Shall we join with the transgressors of God’s law? Rather let it be our prayer: “Lord, put enmity between me and the serpent.” If we are not at enmity with his works of darkness, his powerful folds encircle us, and his sting is ready at any moment to be driven to our hearts. We should count him a deadly foe. We should oppose him in the name of Christ. Our work is still onward. . . . Let all who name the name of Christ clothe themselves with the armour of righteousness. . . . 127.4
The time has come when we must know for ourselves why we believe as we do. . . . Let us lay up for ourselves a good foundation against the time to come, that we may lay hold on eternal life. We must labour, not in our own strength, but in the strength of our risen Lord. What will we do and dare for Jesus? 127.5

Semangat yang Keliru

April 29, 2013 in Ellen G. White

27 April – Sebuah Kehidupan Rangkap Dua
Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya Yesus Kristus. 1 Yohanes 1:3.

Tak ada yang lebih dibutuhkan dalam pekerjaan kita selain hasil-hasil praktis dari persekutuan dengan Allah. Kita harus menunjukkan lewat kehidupan kita sehari-hari bahwa kita memiliki kedamaian dan perhentian dalam Sang Juruselamat. DamaiNya di dalam hati akan memancar pada wajah…… Persekutuan dengan Allah akan meluhurkan tabiat dan kehidupan. Orang-orang akan mengetahui dari kita, sebagaimana murid-murid pertama dahulu, bahwa kita bersama Yesus. Hal ini akan menanamkan di dalam diri pekerja sebuah kuasa yang tidak dapat datang dari yang lain. Dengan adanya kuasa ini ia mestinya tidak memperbolehkan dirinya sendiri untuk dirampas [oleh si jahat]. Kita harus menjalani sebuah kehidupan rangkap dua—sebuah kehidupan dari pemikiran dan perbuatan, dari doa yang hening dan pekerjaan yang sungguh-sungguh. 125.1
Semua orang yang berada di bawah pelatihan Allah membutuhkan waktu yang hening untuk persekutuan dengan hati mereka sendiri, dengan alam, dan dengan Allah…… Kita harus secara pribadi mendengarkanNya berbicara kepada hati kita. Ketika suara-suara lain dibisikkan, dan di dalam keheningan kita menanti di hadapanNya, keheningan jiwa membuat suara Allah lebih berbeda. Dia menawarkan kita, “Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah.” [Mazmur 46:10]. Ini adalah persiapan yang efektif untuk semua pekerjaan bagi Allah. Di tengah-tengah kerumunan orang yang bergegas, dan tekanan berbagai aktivitas yang intens dari kehidupan ini, ia yang disegarkan dengan cara demikian akan dikelilingi dengan sebuah atmosfir terang dan damai. Ia akan menerima sebuah anugerah baru baik kekuatan fisik maupun mental. Hidupnya akan meluapkan sebuah keharuman, dan akan mengungkapkan sebuah kuasa ilahi yang akan menjangkau hati orang-orang. 125.2
Banyak orang, bahkan dalam masa pengabdian mereka, gagal menerima berkat dari persekutuan yang nyata dengan Allah. Mereka terlalu tergesa-gesa. Dengan langkah yang terburu-buru mereka melewati lingkaran kehadiran Kristus yang mengasihi, mungkin berhenti sesaat dalam batas-batas wilayah yang suci, namun tidak mendambakan nasehat. Mereka tidak mempunyai waktu untuk tinggal bersama Guru ilahi. Dengan beban-bebannya mereka kembali bekerja. 125.3
Para pekerja ini tidak bisa meraih keberhasilan yang paling tinggi jika mereka tidak mempelajari rahasia kekuatan itu. Mereka harus memberi diri mereka sendiri waktu untuk berpikir, berdoa, menunggu dari Allah sebuah kuasa fisik, mental, dan spiritual yang memperbaharui. Mereka membutuhkan pengaruh yang meninggikan yang berasal dari RohNya. Dengan menerima ini, mereka akan dipercepat oleh hidup yang segar. 125.4

28 April – Semangat Yang Keliru
Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Roma 10:2.

Ada sebuah semangat yang kacau, tanpa maksud atau tujuan, yang tidak sejalan dengan pengetahuan, yang buta dalam pelaksanaannya dan destruktif dalam hasil-hasilnya. Ini bukanlah semangat Kristen. Semangat Kristen dikendalikan oleh prinsip dan bukannya tidak teratur. Ia itu sungguh-sungguh, dalam, dan kuat, melibatkan seluruh jiwa dan membangkitkan kepekaan moral. 126.1
Penyelamatan jiwa-jiwa dan kepentingan-kepentingan kerajaan Allah adalah urusan-urusan yang sangat penting. Perkara apakah yang menuntut kesungguhan yang lebih besar selain penyelamatan jiwa-jiwa dan kemuliaan Allah? Ada pertimbangan-pertimbangan di sini yang tidak boleh dianggap remeh. Pertimbangan-pertimbangan itu sama pentingnya dengan keabadian. Takdir-takdir abadi sedang dipertaruhkan. Para pria dan wanita sedang memutuskan untuk kebaikan atau celaka. Semangat Kristen tidak akan membuang-buang energinya sendiri dalam pembicaraan, tetapi akan merasa dan bertindak dengan kuat dan efisien. Meskipun demikian semangat Kristen tidak akan bertindak supaya dilihat orang. Kerendahan hati akan memberi tabiat bagi setiap usaha dan terlihat dalam setiap pekerjaan. Semangat Kristen akan menuntun kepada doa yang sungguh dan kerendahan hati serta kepenuhan iman dalam tugas-tugas rumah. Dalam lingkungan keluarga akan terlihat kelemahlembutan dan cinta, kebajikan dan kasih sayang, yang senantiasa merupakan buah-buah dari semangat Kristen…… 126.2
Aduh, betapa sedikit orang yang merasakan nilai dari jiwa-jiwa itu! Betapa sedikit orang yang mau berkorban untuk membawa jiwa-jiwa tersebut pada pengetahuan akan Kristus! Ada banyak pembicaraan, banyak cinta yang diakui untuk jiwa-jiwa yang sedang binasa; tetapi hanya sebatas pembicaraan. Adalah semangat Kristen yang dibutuhkan—sebuah semangat yang akan diwujudkan dengan melakukan sesuatu. Semua orang sekarang harus bekerja bagi diri mereka sendiri, dan bilamana mereka memiliki Yesus dalam hati mereka maka mereka akan mengakui diriNya kepada orang-orang lain. Jiwa yang memiliki Kristus tidak lebih bisa lagi dihalangi untuk mengakui diriNya daripada air sungai Niagara dihentikan dari aliran terjunnya. 126.3
Hidup yang abadi harus melibatkan minat yang paling dalam dari setiap orang Kristen. Menjadi rekan sekerja Kristus dan para malaikat surga dalam rencana besar penyelamatan! Pekerjaan apa yang sebanding dengan ini! Dari setiap jiwa yang diselamatkan ada datang ke hadirat Allah sebuah ganjaran kemuliaan untuk dipantulkan pada orang yang diselamatkan dan juga pada orang yang menjadi alat dalam penyelamatannya. 126.3

April 27 – A Twofold Life
Our fellowship is with the Father, and with his Son Jesus Christ. 1 John 1:3.
Nothing is more needed in our work than the practical results of communion with God. We should show by our daily lives that we have peace and rest in the Saviour. His peace in the heart will shine forth in the countenance. . . . Communion with God will ennoble the character and the life. Men will take knowledge of us, as of the first disciples, that we have been with Jesus. This will impart to the worker a power that nothing else can give. Of this power he must not allow himself to be deprived. We must live a twofold life–a life of thought and action, of silent prayer and earnest work. 125.1
All who are under the training of God need the quiet hour for communion with their own hearts, with nature, and with God. . . . We must individually hear Him speaking to the heart. When every other voice is hushed, and in quietness we wait before Him, the silence of the soul makes more distinct the voice of God. He bids us, “Be still, and know that I am God.” Ps. 46:10. This is the effectual preparation for all labour for God. Amidst the hurrying throng, and the strain of life’s intense activities, he who is thus refreshed will be surrounded with an atmosphere of light and peace. He will receive a new endowment of both physical and mental strength. His life will breathe out a fragrance, and will reveal a divine power that will reach men’s hearts. 125.2
Many, even in their seasons of devotion, fail of receiving the blessing of real communion with God. They are in too great haste. With hurried steps they press through the circle of Christ’s loving presence, pausing perhaps a moment within the sacred precincts, but not waiting for counsel. They have no time to remain with the divine Teacher. With their burdens they return to their work. 125.3
These workers can never attain the highest success until they learn the secret of strength. They must give themselves time to think, to pray, to wait upon God for a renewal of physical, mental, and spiritual power. They need the uplifting influence of His Spirit. Receiving this, they will be quickened by fresh life. 125.4

April 28 – Mistaken Zeal
For I bear them record that they have a zeal of God, but not according to knowledge. Rom. 10:2.
There is a noisy zeal, without aim or purpose, which is not according to knowledge, which is blind in its operations and destructive in its results. This is not Christian zeal. Christian zeal is controlled by principle and is not spasmodic. It is earnest, deep, and strong, engaging the whole soul and arousing to exercise the moral sensibilities. 126.1
The salvation of souls and the interests of the kingdom of God are matters of the highest importance. What object is there that calls for greater earnestness than the salvation of souls and the glory of God? There are considerations here which cannot be lightly regarded. They are as weighty as eternity. Eternal destinies are at stake. Men and women are deciding for weal or woe. Christian zeal will not exhaust itself in talk, but will feel and act with vigour and efficiency. Yet Christian zeal will not act for the sake of being seen. Humility will characterize every effort and be seen in every work. Christian zeal will lead to earnest prayer and humiliation, and to faithfulness in home duties. In the family circle will be seen the gentleness and love, benevolence and compassion, which are ever the fruits of Christian zeal. . . . 126.2
Oh, how few feel the worth of souls! How few are willing to sacrifice to bring souls to the knowledge of Christ! There is much talking, much professed love for perishing souls; but talk is cheap stuff. It is earnest Christian zeal that is wanted–a zeal that will be manifested by doing something. All must now work for themselves, and when they have Jesus in their hearts they will confess Him to others. No more could a soul who possesses Christ be hindered from confessing Him than could the waters of Niagara be stopped from flowing over the falls. 126.3
Eternal life should engage the deepest interest of every Christian. To be a co-worker with Christ and the heavenly angels in the great plan of salvation! What work can bear any comparison with this! From every soul saved there comes to God a revenue of glory to be reflected upon the one saved and also upon the one instrumental in his salvation. 126.4

Semua Harta Kita Untuk Allah

April 29, 2013 in Ellen G. White

26 April – Semua Harta Kita Untuk Allah
Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Matius 10:8.

Semua yang orang terima dari karunia Allah tetap milik Allah. Apa saja yang Dia limpahkan dalam bentuk benda-benda yang berharga dan indah dari dunia ini adalah diserahkan ke tangan kita untuk menguji kita, untuk menyuarakan kedalaman cinta kita bagiNya dan penghargaan kita akan kemurahan-kemurahan hatiNya. Entah itu harta kekayaan ataupun kecerdasan, semuanya harus diletakkan, dengan persembahan yang rela, di kaki Yesus. 124.1
Dalam mengutus murid-muridNya untuk pergi “ke seluruh dunia, dan mewartakan injil kepada segala makhluk,” Kristus menugaskan orang-orang untuk menyampaikan pengetahuan akan rahmatNya. Namun sementara sebagian orang pergi mengajar, Dia memanggil sebagian yang lain…… untuk persembahan-persembahan yang digunakan demi menyokong pekerjaanNya di bumi. 124.2
Tidak semua orang bisa memberikan persembahan yang besar, tidak semua orang bisa melaksanakan pekerjaan-pekerjaan besar, perbuatan-perbuatan megah; tetapi semuanya bisa mempraktikkan penyangkalan diri, semua bisa memperlihatkan ketidakegoisan dari Sang Juruselamat. Sebagian orang bisa membawa pemberian yang banyak ke rumah perbendaharaan Tuhan; sebagian lainnya bisa membawa hanya sedikit; tetapi setiap pemberian yang dibawa dalam ketulusan hati diterima oleh Tuhan. 124.3
Banyak orang akan terkejut melihat betapa banyak yang dapat disimpan demi pekerjaan Allah melalui tindakan-tindakan penyangkalan diri. Jumlah-jumlah yang sedikit yang disimpan melalui perbuatan-perbuatan berkorban akan berbuat lebih besar bagi pembangunan pekerjaan Allah daripada pemberian-pemberian yang lebih banyak yang tidak berasal dari penyangkalan diri. 124.4
Semangat kebebasan adalah semangat surga. Cinta pengorbanan diri dari Kristus diperlihatkan pada kayu salib. Agar manusia bisa diselamatkan, Dia telah menyerahkan segala yang Dia miliki dan kemudian menyerahkan diriNya sendiri. Salib Kristus memberikan imbauan pada kebajikan setiap pengikut Juruselamat yang terberkati itu. Prinsip yang digambarkan di situ adalah memberi, memberi…. Prinsip yang berasal dari dunia ini adalah mengambil, mengambil….. 124.5
Terang injil bersinar dari salib Kristus menegur keegoisan….. Banyak dari umat Allah sekarang berada dalam bahaya penyesatan oleh keduniawian dan hasrat kepemilikan. Mereka seharusnya mengerti bahwa adalah belaskasihNya yang melipatgandakan tuntutan-tuntutan untuk arti keberadaan mereka……. Dia dengan cara demikian membuat manusia menjadi saluran untuk menyalurkan berkat-berkatNya di bumi. Allah telah merancang sistem kemurahan hati agar manusia bisa menjadi seperti Penciptanya, yaitu murah hati dan tidak egois dalam tabiat, dan akhirnya ikut ambil bagian bersama dengan Kristus dalam ganjaran yang abadi dan mulia itu. 124.6

April 26 – All Our Treasures for God
Freely ye have received, freely give. Matt. 10:8.
All that men receive of God’s bounty still belongs to God. Whatever He has bestowed in the valuable and beautiful things of earth is placed in our hands to test us, to sound the depths of our love for Him and our appreciation of His favours. Whether it be the treasures of wealth or of intellect, they are to be laid, a willing offering, at the feet of Jesus. 124.1
In commissioning His disciples to go “into all the world, and preach the gospel to every creature,” Christ assigned to men the work of extending the knowledge of His grace. But while some go forth to preach, He calls upon others . . . for offerings with which to support His cause in the earth. 124.2
Not all can make large offerings, not all can do great works, magnificent deeds; but all can practice self-denial, all can reveal the unselfishness of the Saviour. Some can bring large gifts to the Lord’s treasury; others can bring only mites; but every gift brought in sincerity is accepted by the Lord. 124.3
Many would be surprised to see how much could be saved for the cause of God by acts of self-denial. The small sums saved by deeds of sacrifice will do more for the upbuilding of the cause of God than larger gifts will accomplish that have not called for denial of self. 124.4
The spirit of liberality is the spirit of heaven. Christ’s self-sacrificing love is revealed upon the cross. That man might be saved, He gave all that He had and then gave Himself. The cross of Christ appeals to the benevolence of every follower of the blessed Saviour. The principle there illustrated is to give, give. . . . The principle of worldlings is to get, get. . . . 124.5
The light of the gospel shining from the cross of Christ rebukes selfishness. . . . Many of God’s people are in danger of being ensnared by worldliness and covetousness. They should understand that it is His mercy that multiplies the demands for their means. . . . He thus makes man the medium through which to distribute His blessings on earth. God planned the system of beneficence in order that man might become like his Creator, benevolent and unselfish in character, and finally be a partaker with Christ of the eternal, glorious reward. 124.6

Kisah Pendakian Mt. Washington

April 26, 2013 in Others

Sabtu malam, 20 April, 2013, pukul 9:30 waktu Amerika bagian timur, saya mendapat telepon dari kantor dimana saya bekerja, yang mengabarkan bahwa klien saya masuk ke Rumah Sakit, dengan begitu saya tidak perlu bekerja besok hari. Sesaat saya merasa kesal karena jelas saya akan kehilangan peluang untuk mendapatkan uang. Namun saya telah banyak diajar oleh Tuhan untuk selalu bersyukur dalam setiap kesempatan, baik susah maupun senang. Sayapun berkesimpulan, Tuhan senantiasa memiliki sesuatu bagi saya, yang walaupun belum saya ketahui, namun bila saya mau percaya/melihat dengan mata iman, pasti itu akan menguntungkan bagi saya, yang dikemudian hari, mungkin saja akan saya sadari (namun kenyataannya lebih banyak menjadi misteri), namun, pasti, pada waktunya nanti, di masa 1000 tahun, semua tabir itu akan terbuka.
Keesokan harinya, ketika terbangun di pagi hari, sayapun sadar bahwa sebetulnya inilah kesempatan yang saya tunggu tunggu. Dengan tidak bekerja, saya memiliki waktu untuk hiking. Selama ini saya tidak memiliki waktu untuk itu. Enam hari bekerja benar benar telah membuat hidup ini monoton dan membosankan. Apa yang dibutuhkan oleh tubuh saya saat ini adalah rekreasi, terlepas dari beban pekerjaan sehari-hari. Musim dingin baru saja berlalu, saljupun telah mencair, kesempatan emas untuk kembali menikmati hobi yang tertunda. Yeah..saya berteriak girang, bersyukur kepada Tuhan oleh karena klien saya masuk RS, seolah olah tampak konyol, tapi ini adalah juga kesempatan bagi saya untuk bersenang, toh saya tidak merencanakan ini semua, saya hanya menikmati kenyataan hidup. Prinsip saya dalam hal ini, serahkanlah segala sesuatu kepada Tuhan, apapun itu, maka Ia akan meng-ada-kannya (baca: segala keperluanmu). Ayat yang sempurna, pikirku. “Tidak perlu bertanya, nikmati saja. Kemalangan orang lain akan dibelokan menjadi berkat bagi umat Tuhan yang setia kepada-Nya”, bisik hatiku.
Mt. Washington terletak di pegunungan White Mountains di Negara Bagian New Hampshire. Mt. Washington adalah gunung tertinggi di belahan utara timur laut AS. Tingginya 6.288 kaki atau 1.917 m. Sangat terkenal dengan cuacanya yang sangat cepat berubah/sangat berbahaya. Observatorium cuaca di puncak gunung tersebut pernah mencatat kecepatan angin sebesar 231 mph (372 km/jam atau 103 m/detik pada tanggal 12 April, 1934, yang merupakan kecepatan angin tertinggi di permukaan bumi (terdengar bunyi angina dibalik musik bila anda menyaksikan videonya).
Cepat saya bangun, tanpa makan pagi, berangkat dengan hanya membawa air, juice, telur rebus, tempe goreng, nasi dan burger vegie (sudah sejak awal tahun 2012 vegetarian minus teri, mpe2 dan roa, haha..belum bisa jadi teladan nih!) khawatir cahaya matahari tidak cukup untuk mendaki dan turun gunung (dulu pernah gagal mencapai puncak, padahal tinggal 30 menit lagi, akibat hari sudah senja). Saya tidak mau terulang kembali kegagalan yang sama. Kalau saja puncak gunung itu adalah kerajaan surga, maka saya tergolong kepada umat Tuhan yang sangat malang, bak orang Israel kuno, sudah melihat Kanaan didepan mata, namun gagal memasukinya. Baca kisahnya di Bilangan 13:3-21. Bangsa Israel sudah tiba di Kadesh Barnea namun harus kembali mengarungi padang gurun lagi.
Perjalanan 2,5 jam ke North Conway dengan kendaraan, saya persingkat menjadi 2 jam, “saya harus memberi banyak waktu bagi pendakian dan resiko resikonya” pikir saya dalam hati. Mobil yang berjalan pelan terpaksa saya tempeli dari belakang, membuat dia kikuk lalu minggir secara perlahan, memberi tempat bagi saya untuk berlalu meninggalkannya. Hari yang sangat cerah, membuat hatikupun senang, tidak terkecuali orang orang lain juga, yang merasakan hal yang sama, sehingga tampak banyak kendaraan yang menuju ke utara, searah dengan kendaraan saya.
Tiba di Pinkham Notch Visitor Center, saya harus mengeluarkan uang $ 60 untuk membeli gerigi sepatu agar bisa berjalan diatas salju. Hal ini tidak saya antisipasi sebelumnya, namun ditengah jalan ketika masih mengendarai mobil, tampak puncak gunung Mt. Washington tertutup oleh salju, “pasti jalan-jalannya pun sama”, kilahku dalam hati.
Tidak begitu lama, sayapun sudah bergegas memasuki trail. Tampak banyak sekali orang yang mendaki pada hari itu. Mereka semua membawa Snowboard ataupun Skiboard di punggung mereka. Pasti mereka hanya akan mendaki untuk bersenang-senang dan tentunya dalam perjalanan pulang tidak perlu cape cape jalan kaki, tapi bisa meluncur turun dengan papan ski mereka dari atas hingga ke pelataran parkir mobil. Tidak ada yang hanya memikul ransel kecil seperti saya. “Bukan menjadi halangan untuk mengundurkan diri” kata saya dalam hati. Walaupun saya bisa bermain Snowboard, saya tidak datang untuk snowboarding saat ini, saya datang untuk menaklukan gunung tertinggi di pantai timur AS dan ini sudah merupakan upaya yang ke 3, setelah gagal 2 kali sebelumnya. Saya bertekad untuk tidak lagi gagal. Ibarat Surga, saya harus bisa mendarat disana, walalupun melawan arus (kebanyakan orang pergi untuk berselancar atau dalam pengertian rohani, kebanyakan orang tidak mengikuti ajaran Alkitab secara keseluruhan, tampaknya saya hanya seorang diri yang datang untuk pure hiking atau hanya seorang diri yang tetap mengikuti taurat dan syariatnya namun saya tidak harus menyerah terhadap keadaan atau korbankan prinsip Alkitab oleh karena arus orang banyak. 2 Raja 5:20-27 Mengisahkan bagaimana Gehazi mendapat kusta oleh karena dia mengorbankan prinsip Allah gara gara terpikat harta duniawi.
Tanpa makan pagi, saya berhasil melampaui hampir 30 orang, kebanyakan mereka berusia muda, kebetulan umur saya sudah tidak lagi muda :) namun tentunya diantara mereka, ada ibu ibu, anak anak dan bapa bapa, tapi tidak ada orang berusia tua dan memang semuanya membawa beban yang cukup berat, antara lain mereka memakai sepatu ski, alat ski dan backpack yang cukup besar dan barangkali berat. Saya sendiri cukup memakai pakaian casual, sweater, ransel kecil berisikan air minum dan makanan ringan. Ada 6 orang yang berhasil melewati saya, namun 2 orang berhasil saya lewati kembali. Memang dalam hidup ini, sehebat-hebatnya anda, pasti akan ada yang lebih hebat dari anda, jadi jangan takabur dulu. Roda kehidupan terus berputar, kadang anda kuat, kadang lemah, kita semua membutuhkan teman dan saudara seiman untuk menolong maupun ditolong agar sama sama kita bisa mencapai tanah Kanaan sorgawi. Amsal 16:5 “Semua orang sombong dibenci TUHAN; Ia tidak membiarkan mereka luput dari hukuman”.
Selang 2 jam mendaki, saya tiba di Last Camp, waktu untuk beristirahat. Makan telur rebus 2 butir, minum, ambil video dan terus berjalan. Waktu adalah kesempatan emas, terlalu banyak dipakai untuk istirahat akan merugikan diri sendiri, selain perjalanan kedepan masih panjang, jerat jerat mara bahaya pun mengintai. Memanfaatkan waktu dengan sebaiknya adalah kunci kesuksesan utama. Demikian halnya dengan kehidupan kerohanian kita. Fokus kepada hal hal rohani adalah bekal dalam mengarungi bahtera kehidupan duniawi, gunakan setiap waktu lowong untuk membekali pikiran kita dengan Sabda Allah, agar kita kita kuat melawan cobaan setan. Mazmur 119:105 “Sabda-Mu adalah pelita bagi langkahku, cahaya untuk menerangi jalanku”.
Perjalan menuju Tuckerman Ravine, sebuah lembah sebelum mencapai puncak, tidak mudah. Selain jalannya kecil, penuh salju, mendaki, disamping kiri terdapat jurang yang sangat dalam. Saya berulang kali tergelincir namun untung bisa mengendalikan diri, walaupun banyak energi turut tersita akibat kejatuhan itu. Rasa-rasanya tubuh lebih suka untuk tetap duduk, berat diangkat untuk berdiri kembali bila sudah terjatuh. Demikian halnya dengan orang orang yang lain, merekapun terjatuh dan enggan untuk berdiri, barangkali sekaligus ingin untuk beristirahat sejenak, pikirku. Tampak dikejauhan kedalaman jurang, ada sungai yang mengalir, indah namun mengerikan, oleh karena mata ini berada didalam tubuh yang sudah sangat lelah, nafas terengah-engah, kematian terselip pada setiap langkah kaki yang terayun. Dosa kadang juga berat ditinggalkan, namun harus ada usaha untuk melawannya, Tuhan pasti akan menolong kita, memberikan kuasa kepada kita untuk meninggalkan kebiasaan kebiasaan kita yang salah bila kita sendiri mau berdiri dan mengebaskannya terlebih dahulu untuk memohon kuasa-Nya. Kuasa Tuhan baru akan dicurahkan bila ada percik kemauan dalam hati untuk meminta pertolongan dari padaNya. Matius 7:7 ”Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu”.
Tidak begitu lama, sayapun tiba di Tuckerman Ravine. Tampak puluhan orang bermain ski, namun sebagian besar orang duduk untuk menonton. Lembah Tuckerman yang sangat terjal ini digunakan sebagai ajang pertunjukkan dan permainan oleh mereka yang trampil dan ahli dalam dunia per-ski-an. Banyak godaan setan tampak sangat mematikan bagi sebagian orang namun sebaliknya bagi orang lain hanyalah medan yang tak berarti bahkan digunakan sebagai wadah untuk menikmati berkat kehidupan Allah. Kita harus bisa menjadikan godaan setan sebagai sesuatu yang tak bergaung alias menjadi kebal terhadapnya. Caranya adalah dengan mengalahkannya setiap hari, sampai kita merasa tidak lagi terganggu oleh cobaan itu/kebal terhadap cobaan itu. Gunakan firman Tuhan sebagai perisai, setiap kali si Iblis mencoba menggoda kita. Dengan demikian kita siap melangkah ke depan, menikmati berkat yang Tuhan berikan, tak terhiraukan oleh cobaan Setan, sama seperti Yesus ketika Setan mencoba menjatuhkannya. Baca kisahnya di Matius 4:1-11.
Dari lembah Tuckerman, saya lihat ada 2 trail yang cukup banyak digunakan untuk mendaki ke atas. Saya sudah terlanjur berada di lembah ini, saya harus memilih diantar kedua trail ini untuk bisa mencapai puncak. Di awal trail, ada alternatif lainnya namun sudah berada jauh dibelakang. Banyak pemain ski yang menggunakan Trail yang tampak lebih jauh dari tempat dimana saya berada, namun sedikit yang menggunakan trail di dekat saya. Saya memilih untuk mendaki melewati trail kedua. Dari tempat saya berdiri, trail ini tampak lebih pendek namun sangat terjal, kira kira kemiringan mencapai 70 derajat dibagian awal namun menjadi 80 derajat dibagian puncak. Saya tidak pernah mendaki gunung bersalju sebelumnya, tidak memiliki pengetahuan pendakian medan bersalju, tidak memiliki alat mendaki sedikitpun, hanya bermodalkan sepatu bergerigi saja, sedikit memori film pendakian gunung Mt. Matterhorn (ketika film ini dulu diputar, versi layar tancap, di Unklab, itu juga sudah lama sekali, pada waktu saya masih SMP) dan yang terakhir Yesus Kristus, Tuhan Allah, Juruselamat saya (baru saat itu saya bisa menyelami arti kata Juruselamat yang sebenarnya). Saya ingat, mereka kerap menggunakan tali, sangkur, sepatu dan pakaian khusus pendakian. Saya membanding bandingkan penampilan diri saya dengan para pemain ski professional ini, sungguh sungguh menyedihkan, boleh dikata aneh dan berbeda langit dan bumi. Mereka menggunakan celana anti air, saya jeans. Mereka menggunakan sepatu boot ski yang berat dan kuat serta bergigi tajam, saya menggunakan kets dengan sedikit gerigi ekstra/murah dan dipasang secara amatiran. Mereka menggunakan jaket anti air yang tebal, saya menggunakan sweater biasa, walaupun berapis dua. Mereka menggunakan helmet keras pelindung kepala, saya menggunakan sweater yang sekaligus memiliki penutup kepala. Mereka menggunakan sarung tangan keras dan kuat, saya menggunakan sarung tangan biasa hanya untuk pengaman dari suhu yang dingin. Jelas jelas saya tidak siap, kalau sampai terjatuh, tidak ada kemungkinan untuk selamat, kalaupun selamat sampai diatas, hanyalah mujiksat Tuhan sahaja. Tidak heran, seorang diantara pemain ski ini memanggil saya Sherpa, pemandu pendakian gunung Mt. Everest di Nepal. Dalam hati sayapun berbangga, penampilan luar saya mencerminkan keahlian pendaki pendaki gunung tersohor. Tak nampak dari luar pergumulan bathin dan kesengsaraan saya ketika itu, yakni kaki yang bergetar, keram dan nyeri pada bagian paha, ketakutan yang tak tergambarkan, kelelahan ekstrim, serta doa permohonan perlindungan dan pertolongan Tuhan yang tidak henti-hentinya. Setiap empat/lima langkah, saya harus beristirahat oleh karena hal ini. Saya akhirnya memutuskan untuk kembali, tidak lagi saya perduli dengan nazar saya untuk mengalahkan gunung ini, yang bagi saya adalah kerajaan Surga, yang bilamana saya menyerah lagi, saya akan dibayangi oleh kegagalan mencapai kerajaan Sorga, seperti kegagalan kegagalan sebelumnya. Dari pada mati, mendingan saya tunda sampai kesempatan berikutnya, gagal adalah kesuksesan yang tertunda, bathin saya. Saya teringat ucapan seseorang ketika sambil lalu berbicara kepada temannya, “tidak mungkin meneruskan pendakian, mereka yang tetap akan pergi, akan menghadapi resiko jatuh oleh karena terjal dan licinnya tebing”. Namun saya sudah sampai ditengah-tengah tebing, ketika saya mencoba untuk turun, saya kesulitan umtuk meletakkan sepatu saya, karena bekas sepatu yang ada mengarah keatas, tidak ada bekas sepatu menurun, apalagi jejak sepatu yang ada tidak begitu dalam, seperti halnya pijakan untuk menaiki pohon kelapa (Bagi mereka yang tinggal di kampung, pasti mengetahui dengan pasti besarnya pijakan ini. Saya sendiri dulu waktu masih kecil, suka mendaki pohon kelapa, walaupun tidak sampe 10 atau 30 pohon seperti om William, almarhum adik Papa saya). Tidak ada tempat untuk meluruskan kaki, oleh sebab jejak pendakian di salju hanya ada didepan anda, tidak ada disamping kiri dan kanan, resiko untuk jatuh tergelincir sangat besar bila hendak bermaksud untuk merintis jejak baru. Yang dapat saya lakukan adalah menahan sakit dan nyeri pada paha dan kaki, berdoa dan terus melangkah tanpa sedikitpun memalingkan mata kebawah. Jarak pendakian tebing salju ini sekitar 250 meter. Setiap langkah adalah mujiksat. Tidak ada kesempatan untuk memikirkan atau membayangkan hal yang lain. Semua tertuju kepada hadirat Allah. Moral dari kasus ini adalah, terkadang kita jatuh kedalam dosa oleh karena kurangnya kelengkapan senjata Allah melawan Setan. Saya sangat menyadari akan hal itu. Pakailah senantiasa perlengkapan perang Allah untuk melawan cobaan Setan. Alkitab, pelajaran Sekolah Sabat dan Doa adalah sebagian perlengkapan yang ampuh. Lalai mempelajarinya akan bernasib sama dengan keadaan saya, bergelantungan diatas tebing salju yang terjal, sangat mudah untuk dijatuhkan oleh Setan, bahkan dengan sekali tiupan mulut saja. Efesus 6:11 “Pakailah olehmu selengkap senjata Allah, supaya kamu tahan melawan segala semu daya Iblis”.
Tapi bilamana kita setia, Allah tidak akan segan untuk menjaga dan melindungi kita, asalkan kita tidak dengan sengaja menguji pertolongan surga. Penampilan luar tidak penting bagi Allah, kedamaian, ketulusan, kejujuran hati adalah yang terutama bagi-Nya. 1 Samuel 16: 7 “Tetapi TUHAN berkata kepada Samuel, Janganlah kau terpikat oleh rupanya yang elok dan tinggi badannya; bukan dia yang Kukehendaki. Aku tidak menilai seperti manusia menilai. Manusia melihat rupa, tetapi Aku melihat hati.”
Tiba di puncak tebing, kembali keram menyerang paha. Dari atas memandang kebawah, saya bisa melihat betapa dalam, terjalnya dan jauhnya tebing yang saya jalani. Sayapun menyadari, tanpa pertolongan Tuhan, saya tidak akan tiba diatas tebing, sebaliknya akan menjadi tontonan orang banyak di lembah Tuckerman, namun bukan tontonan yang indah tetapi sebaliknya tontonan yang menyedihkan. Surat kabar dan Televisi akan menyiarkan berita kejatuhan seseorang pendaki, yang barangkali akan diberi label nekad dan terlalu memaksakan diri.
Lepas dari tebing Tuckerman, tampak puncak gunung Washington di depan mata. Penderitaan belum berhenti, masih berlanjut. Dalam perjalanan menuju puncak, kembali harus beristirahat beberapa kali oleh karena keram pada kaki. Gantinya mengikuti jalan yang sudah ada, saya memilih mengikuti jalan pintas, mendaki lurus keatas, mengikuti jejak langkah pemain ski yang ada didepan saya. Kali ini lereng puncak gunung tidak terlalu terjal, namun sangat melelahkan. Butiran butiran salju terus meluncur mengenai kaki akibat pijakan pendaki gunung yang berada diatas. Akhirnya dengan susah payah tibalah saya di perbatuan, yang bila tampak dari bawah seakan akan sudah merupakan puncaknya, namun masih membutuhkan kesabaran selama 20 menit lagi. Saya harus bersusah payah melangkahi batu batu yang tajam dan besar untuk bisa mencapai puncak. Kehati-hatian dalam melandaskan langkah sangat penting. Pada waktu yang lalu, ketika saya mencoba mendaki gunung ini pada kesempatan yang kedua, kaki saya terperosok kedalam lubang diantara batu batu hitam yang tajam dan kasar ini, pada bagian pertengahan gunung. Luka goresan membuat kaki nyeri. Saya harus beristirahat sekian lama untuk mengurut kaki yang terperosok. Mengingat perjalan pulang yang tidak kalah beratnya, saya harus berhati hati sekali menjaga agar kaki ini tidak sedikitpun cedera. Hamparan batu batu hitam, tajam dan besar tampak tidak habis habisnya. Namun, melihat tujuan sudah didepan mata, sayapun berjalan dengan cepat, tanpa merasakan kelelahan dan nyeri lagi. Semua penderitaan dan sakitpun sirna ketika saya berhasil mencapai puncaknya. Sayapun berdoa, memanjatkan syukur kepada Tuhan Alam Semesta, pencipta langit dan bumi. Bersyukur atas perlindungan-Nya. Bersyukur atas kekuatan yang diberikan. Bersyukur atas kesempatan untuk bisa memandang gunung gunung yang indah yang terhempas bak permadani hijau kebiru-biruan. Bersyukur atas langit yang cerah, matahari yang hangat (Bayangkan bilamana hujan dan dingin sekali). Wahyu 4:11 ”Ya Tuhan, ya Allah kami! Engkau sajalah yang layak menerima pujian, hormat dan kuasa. Sebab Engkaulah pencipta segala sesuatu, dan atas kehendak-Mu juga segala sesuatu itu telah terjadi dan hidup.”
Perjuangan belum selesai, perjalanan pulang terbayang dalam pikiran. Tadinya saya berpikir aka ada kendaraan di puncak, padahal oleh karena cuaca yang masih dingin, dengan es yang masih membeku diatas gunung, tidak diperbolehkan kendaraan mendaki gunung ini. Di puncak memang tampak sebuah gedung megah nan luas, dimana makanan dan minuman hangat tersedia. Namun itu semua hanya akan disajikan pada musim panas. Suasana puncak sungguh sepi. Tidak ada seorangpun yang terlihat. Keindahan alam yang tak tertandingi ini bila dinikmati tanpa kehadiran orang lain, sungguh sangat mengganggu. Tidak menunggu berapa lama, saya bergegas turun, makanan yang dibawa terpaksa dibuang, agar beban menjadi lebih ringan. Perjalanan turun tidak kalah mendebarkan. Saya berjumpa dengan beberapa pendaki diatas tebing Tuckerman. Dalam perjalanan turun saya juga melewati kira kira 6 orang. Kegirangan dan kesenangan akibat sudah menaklukan gunung Washington, tidak sirna dalam hati saya sepanjang perjalanan dan selalu menjadi hiburan dalam mengatasi terjalnya tebing. Sam halnya dengan itu, kesuksesan mengalahkan cobaan setanpun tidak begitu saja sirna. Bila kita menang dalam pencobaan, itu akan menjadi modal kekuatan kita dalam menghadapi cobaan berikutnya dan selang dengan berjalannya waktu, kita akan semakin kuat dan muak terhadap dosa. Asalkan kita mau terus menerus melangkah bersama Yesus, tidak ada yang tidak mungkin kita kalahkan, bila tidak, sekuat apapun kita, siapapun kita, kita akan sama seperti Petrus/murid Yesus sendiri, hampir tenggelam oleh karena mengandalkan kekuatan sendiri, padahal Yesus berada sangat dekat daripadanya/padahal Yesus hanya sejauh doa untuk kita. Mazmur 46:2 “Allah adalah perlindungan dan kekuatan kita; Ia selalu siap dan mampu menolong dalam kesesakan”.
Tebing demi tebing saya lewati, kadang hanya berpengangan pada akar, batu dan pohon, namun bisa juga terlampaui. Jurang disebelah kiri, gunung batu disamping kanan, semuanya menghantui setiap langkah dan kepercayaan diri kita. Sekali tergelincir, tidak akan ada orang yang akan menolong saya. Saya akan hilang ditelan kegelapan dan kebekuan malam. Bila musim panas, jalan ini akan dengan mudah dilalui hanya bermodalkan kekuatan, oleh karena tangga-tangga batu telah dibuat untuk memudahkan pendaki gunung. Namun pada saat seperti ini, ketika semua jalan setapak ditutupi oleh salju, kekuatan tidak terlalu penting, kejelian dan kepandaian mendaratkan kakilah yang memegang peranan penting. Terkadang badan saya jatuh terhempas ke batu dan pepohonan. Kaki terpeleset dan harus dengan cepat mencari cabang pohon atau akar untuk menahan tubuh. Banyak kali harus merangkak turun. Melangkah dengan hati yang gemetar melewati tebing, dengan satu tangan pada batu dan tangan yang satu pada pohon untuk keseimbangan. Namun lebih banyak jatuh dan berselancar tanpa kenikmatan diatas salju alias terpeleset. Lebih kurang 1 mile perjalanan mendebarkan dan mengerikan ini. Namun setelah tiba di tempat yang aman dan datar, hatipun terasa senang dan damai. Tidak ada perasaan sesenang itu bila tidak menempuh segala rintangan dan bahaya dalam perjalanan turun gunung yang mematikan itu. Demikian juga kehidupan kerohanian kita, tidak akan indah dan nyaman tanpa kita melewati penderitaan dan cobaan hidup. Justru dengan problema keuangan, keluarga, gereja, pekerjaan, perkawinan, kita akan semakin kuat. Bersyukurlah dengan semua itu, sebab Allah memiliki rencana dalam segala hal yang kita lalui dan rencana itu adalah baik di mataNya. Kadang kita belum bisa melihatnya, namun kita harus percaya, God’s way is the best way. ”Bukankah Aku sendiri tahu rencana-rencana-Ku bagi kamu? Rencana-rencana itu bukan untuk mencelakakan kamu, tetapi untuk kesejahteraanmu dan untuk memberikan kepadamu masa depan yang penuh harapan”. Yeremia 29:11.
Perjalanan selanjutnya, bagi saya tidak seseru yang sebelumnya. Hanya perjalanan turun gunung biasa, sama seperti dulu, ketika masih anak-anak, sering dibawa ke kebun oleh ayah saya, perjalanan yang cukup jauh, naik turun bukit, baru bisa tiba di tempat tujuan. Namun ketika tiba disana, kita akan merasa sangat senang sebab kita bisa bermain ayunan tinggi, mandi di sungai kecil, tidur digubuk berlantai anyaman bambu dengan angin yang bertiup sepoi sepoi basah, minum air kelapa muda, makan ikan asin campur nasi jagung yang dimasak diatas bara tempurung, makan jagung muda baik yang dibakar maupun yang direbus dan yang tak kalah menarik, makan durian segar yang tersedia setiap saat. Sekali lagi, kebahagian akan lebih terasa setelah kita melalui penderitaan. Kemenangan akan terwujud bilamana kita mengalahkan semua tantangan kehidupan. Ekspedisi Mt. Washington telah selesai. Namun perjalanan hidup masih terus berlanjut (Mt. Katahdin is next). Pergulatan kehidupan rohani kita juga belum berakhir. Setan akan terus menghadang, namun bila kita setia, kita tidak perlu khawatir. The Lord will help us. Ternyata tabir diawal kisah inipun tersingkap. Allah memanggil saya untuk mendaki gunung Washington, sama seperti Dia memanggil Musa dahulu kala, Dia mau menampakkan Diri-Nya, Dia mau menunjukkan mujiksatnya. Inilah pesannya kepada saya dan kepada saudara semua, terlepas dari semua persoalan hidup kita: “Jangan takut, sebab Aku menyertaimu, jangan cemas, sebab Aku Allahmu. Engkau akan Kuteguhkan dan Kutolong, Kutuntun dengan tangan-Ku yang jaya”. Yesaya 41:10 (Saksikan videonya: http://youtu.be/6xr9iKYfvzA)

Kebangunan Keagamaan yang Besar

April 25, 2013 in Ellen G. White

Sebuah kebangunan agama di bawah pengumuman kedatangan Kristus yang segera, diramalkan dalam nubuatan pekabaran malaikat yang pertama yang terdapat dalam Wahyu 14. Seorang malaikat tampak terbang “ditengah-tengah langit dan padanya ada Injil yang kekal untuk diberitakannya kepada mereka yang diam di atas bumi dan kepada semua bangsa, dan suku, dan bahasa dan kaum.” “Dengan suara nyaring,” ia mengabarkab pekabaran itu, “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.” (Wah. 14:6,7).
Fakta bahwa seorang malaikat dikatakan menjadi jurukabar amaran ini adalah sesuatu yang penting dan berarti. Oleh kemurnian, kemuliaan, dan kuasa Jurukabar Surgawi itu, hikmat ilahi berkenan menyatakan sifat pekerjaan yang tinggi yang harus dicapai oleh pekabaran dan kuasa dan kemuliaan yang menyertainya. Dan malaikat yang terbang di “tengah-tengah langit” dan “suara nyaring” dengan mana amaran itu disuarakan, dan penyebarluasan kepada semua “yang diam di atas bumi” — “kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum,” — membuktikan betapa cepatnya pergerakan itu menyebar ke seluruh dunia.
Pekabaran itu sendiri memancarkan terang seperti pada saat pergerakan ini dimulai. Ia dinyatakan sebagai bagian dari “Injil kekal.” Dan pekabaran itu mengumumkan pembukaan penghakiman. Kabar keselamatan telah disiarkan pada segala zaman, tetapi pekabaran ini adalah bagian dari Injil yang dapat dikabarkan hanya pada akhir zaman, karena hanya sesudah itulah benar bahwa saat penghakiman telah tiba. Nubuatan-nubuatan itu menyatakan suatu rentetan peristiwa yang menuntun kepada dimulainya penghakiman. Hal ini terutama benar dalam buku Daniel. Tetapi bagian dari nubuatan ini yang berhubungan dengan akhir zaman, telah diperintahkan kepada Daniel agar disembunyikan dan dimeteraikan “sampai pada akhir zaman.” Kita tidak boleh memberitakan berita tentang penghakiman sebelum tiba waktunya, yang didasarkan atas penggenapan nubuatan-nubuatan itu. Tetapi pada akhir zaman, kata nabi itu, “banyak orang akan menyelidikinya, dan pengetahuan akan bertambah.” (Daniel 12:4).
Rasul Paulus mengamarkan gereja agar jangan mencari kedatangan Kristus pada zamannya. “Sebab sebelum hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka yang harus binasa.” (2 Tes. 2:3). Kita tidak bisa melihat kedatangan Tuhan sebelum kemurtadan besar, dan pemerintahan yang lama dari “manusia durhaka.” “Manusia durhaka,” yang juga dijuluki “rahasia kejahatan,” “si manusia jahanam,” dan “si jahat,” melambangkan kepausan, yang mempertahankan supremasinya selama 1260 tahun, sebagaimana diramalkan dalam nubuatan. Masa ini berakhir pada tahun 1798. Kedatangan Kristus tidak akan terjadi sebelum waktu itu. Rasul Paulus menutupi seluruh dispensasi Kristen sampai tahun 1798 dengan amarannya. Saat setelah waktu inilah pekabaran kedatangan Kristus yang kedua kali itu dikabarkan.
Tidak ada pekabaran yang seperti itu pernah diberitakan pada masa lalu. Paulus, sebagaimana kita lihat, tidak mengkhotbahkannya, ia menunjukkan saudara-saudaranya kepada hari depan yang jauh kepada kedatangan Tuhan. Para Pembaharu tidak memberitakannya. Martin Luther menempatkan penghakiman itu kira-kira 300 tahun di muka zamannya. Akan tetapi sejak tahun 1798 buku Daniel telah dibukakan meterainya, pengetahuan akan nubuatan telah dipertambahkan, dan banyak yang telah mengabarkan berita penghakiman yang sudah dekat.
Seperti Pembaharuan besar pada abad ke enam belas, Pergerakan Advent muncul di berbagai negeri Kekristenan pada waktu yang bersamaan. Baik di Eropa maupun di Amerika orang-orang beriman dan yang penuh doa telah dituntun untuk mempelajari nubuatan, dan meneliti catatan-catatan yang diilhamkan. Mereka menemukan bukti bahwa akhir dari segala sesuatu sudah dekat. Di berbagai negeri ada badan-badan Kristen yang terpencil yang, sama sekali hanya mempelajari Alkitab, sampai pada keyakinan bahwa kedatangan Juru Selamat sudah dekat.
Pada tahun 1821, tiga tahun setelah Miller sampai pada keterangan (eksposisi) nubuatan-nubuatan yang menunjuk kepada waktu penghakiman, Dr. Joseph Wolff, “misionaris ke seluruh dunia,” mulai menyiarkan kedatangan Tuhan yang segera. Wolf lahir di Jerman, dari keturunan Iberani, ayahnya seorang rabbi Yahudi. Pada masa remaja ia telah yakin kebenaran agama Kristen. Selaku seorang yang aktif dan berpikiran cerdas, ia telah menjadi pendengar yang menaruh perhatian kepada pembicaraan-pembicaraan yang diadakan di rumah ayahnya, pada waktu orang-orang Iberani yang taat berkumpul setiap hari untuk memperbincangkan pengharapan dan perkiraan orang-orang mereka, kemuliaan kedatangan Mesias, dan pemulihan Israel. Pada suatu hari ia mendengar Yesus orang Nasaret diperbincangkan, lalu anak itu bertanya siapa Dia. “Seorang Yahudi yang sangat berbakat,” jawabnya, “tetapi pada waktu ia berpura-pura jadi Mesias, pengadilan Yahudi menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya.” “Mengapa,” kembali penanya bertanya, “Yerusalem dihancurkan, dan mengapa kita ditawan?” “Wah, wah!” jawab ayahnya, “karena orang-orang Yahudi membunuh nabi-nabi.” Pikiran segera timbul pada anak itu, “mungkin Yesus juga adalah seorang nabi, dan orang Yahudi membunuh Dia sedangkan Dia tidak bersalah.” — “Travels and Adventures of Rev. Joseph Wolff.” Vol. I, p. 6.(ed.1860). Begitu kuat perasaan ini mempengaruhinya, sehingga walaupun ia dilarang memasuki gereja Kristen, sering ia tinggal di luar untuk mendengarkan khotbah.
Pada waktu ia baru berumur tujuh tahun, ia membual kepada seorang tetangga, seorang orang Kristen yang sudah tua, mengenai kemenangan Israel di masa depan pada waktu kedatangan Mesias. Orang tua itu berkata dengan lembut, “Hai anakku, saya katakan kepadamu siapa Mesias yang sebenarnya. Ia adalah Yesus orang Nasaret, . . . yang telah disalibkan oleh nenek moyangmu, seperti yang telah mereka lakukan kepada nabi-nabi zaman dahulu. Pulanglah ke rumah dan baca fatsal 53 buku Yesaya, maka engkau akan yakin bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.” — “Travels and Adventures of Rev. Joseph Wolff,” Vol. I, p. 7. Anak itu segera yakin. Ia pulang ke rumah dan membaca Kitab Suci, dengan kagum ia melihat betapa sempurnanya hal itu digenapi pada diri Yesus orang Nasaret. Apakah benar kata-kata orang Kristen itu? Anak itu meminta penjelasan nubuatan itu dari ayahnya. Tetapi ayahnya diam dan marah sehingga ia tidak pernah berani lagi menyinggung masalah itu. Tetapi, hal ini hanya menambah kerinduannya untuk mengetahui lebih banyak mengenai agama Kristen.
Pengetahuan yang ia cari tidak bisa ia peroleh di rumahnya yang keluarga Yahudi, sebab begitu ketat dihindarkan daripadanya dan dilarang. Tetapi pada waktu ia berumur sebelas tahun, ia meninggalkan rumah ayahnya dan pergi berkelana untuk mencari pendidikan, untuk memilih agamanya dan pekerjaan seumur hidupnya. Untuk sementara ia tinggal di rumah sebuah keluarga, tetapi segera diusir dari sana sebagai seorang yang murtad. Sekarang ia sendirian, tanpa uang sesenpun ia mengadakan perjalanan di antara orang-orang asing. Ia pergi dari satu tempat ke tempat yang lain, belajar dengan rajin dan membiayai dirinya dengan mengajar bahasa Iberani. Melalui pengaruh seorang instruktur Katolik, ia dituntun untuk menerima iman Romawi, dan bermaksud menjadi seorang misionaris kepada bangsanya sendiri. Dengan tujuan ini, beberapa tahun kemudian, ia pergi belajar di College of the Propaganda di Roma. Di sini, ia dituduh sebagai seorang murtad, seorang bida’ah karena kebiasaannya berpikir bebas dan berbicara terus terang. Ia menyerang secara terus terang penyalahgunaan gereja dan mengajak mengadakan pembaharuan seperlunya. Walaupunpada mulanya ia diperlakukan secara istimewa oleh pejabat-pejabat kepausan, tetapi tidak berapa lama kemudian ia diusir dari Roma. Di bawah pengawasan gereja ia pergi dari satu tempat ke tempat lain, sampai akhirnya jelas bahwa ia tidak bisa tunduk kepada perhambaan Romanisme. Ia dinyatakan sebagai seorang yang tidak bisa diperbaiki dan dibiarkan dengan bebas kemana ia suka pergi. Sekarang ia pergi ke Inggeris, dan mengaku mempunyai iman Protestan. Ia bergabung dengan Gereja Inggeris. Setelah belajar selama dua tahun, ia berangkat pada tahun 1821 untuk memulai misinya.
Pada waktu Wolff menerima kebenaran yang agung, yaitu kedatangan Kristus yang pertama sebagai “seorang yang susah dan biasa dengan penderitaan.” ia melihat bahwa nubuatan-nubuatan menyatakan dengan jelas kedatangan-Nya yang kedua kali dengan kuasa dan kemuliaan. Pada waktu ia berusaha menuntun umat-Nya kepada Yesus dari Nasaret sebagai Yang Dijanjikan, dan menunjukkan mereka kepada kedatangan-Nya yang pertama dalam kehinaan sebagai korban bagi dosa-dosa manusia, ia juga mengajarkan kepada mereka mengenai kedatangan-Nya yang kedua kali sebagai raja dan pelepas.
“Yesus orang Nasaret, Mesias yang benar,” katanya, “yang tangan-Nya dan kaki-Nya telah dipaku, yang telah dibawa ke pembantaian seperti seekor anak domba, seorang orang susah yang sudah biasa dengan penderitaan, yang adalah tongkat kerajaan yang diambil dari suku Yehuda dan pemerintahan di antara kedua kakinya datang untuk pertama kali, Ia akan datang untuk kedua kalinya dalam awan dengan bunyi sangkakala penghulu malaikat,” — Wolff, “Researches and Missionary Labours,” p. 62 (ed. 1835), “dan akan berdiri di atas Bukit Zaitun. Dan pemerintahan, yang pernah diberikan kepada Adam pada waktu kejadian, tetapi hilang dari tangannya(Kej. 1:26; 3:17) akan diserahkan kepada Yesus. Ia akan menjadi raja atas seluruh dunia. Rintihan dan ratapan semua makhluk ciptaan akan berakhir, tetapi nyanyian pujian dan ucapan syukur akan terdengar . . . . Bilamana Yesus datang dalam kemuliaan Bapa-Nya, dengan malaikat-malaikat kudus, . . . orang-orang percaya yang sudah mati akan bangkit dahulu.(1 Tes. 4:16; 1 Kor. 15:23). Inilah yang kita orang-orang Kristen sebut kebangkitan yang pertama. Kemudian dunia binatang akan mengubah alamiahnya (Yes. 11:6-9), dan tunduk kepada Yesus (Maz. 8). Terjadilah perdamaian universal.” — “Journal of the Rev. Joseph Wolff,” pp. 378,379 (ed.1839). “Sekali lagi Tuhan akan melihat dunia ini, dan berkata, ‘Lihatlah, semuanya baik adanya.’” — Idem, p. 294.
Wolff percaya bahwa kedatangan Tuhan itu sudah dekat, dan penafsirannya akan masa-masa nubuatan itu menempatkan hari kebinasaan besar itu atau hari penyempurnaan besar itu beberapa tahun sesudah waktu yang ditunjukkan oleh Wm. Miller. Kepada mereka yang mengutip dari Alkitab, “Tetapi tentang hari dan ketikanya tak seorangpun yang tahu,” bahwa tak seoranpun yang tahu mengenai dekatnya kedatangan itu, Wolff menjawab, “Apakah Tuhan kita mengatakan bahwa hari dan ketikanya itu tidak akan pernah diketahui? Bukankah Ia memberikan kepada kita tanda -tanda zaman agar kita tahu paling sedikit kedatangan-Nya yang sudah mendekat?, sebagaimana seseorang yang mengetahui bahwa musim panas sudah mendekat oleh melihat ranting-ranting pohon ara mulai melembut dan mulai bertunas? (Maz. 24:32). Apakah kita tidak boleh mengetahui waktunya, sementara Ia sendiri mengajak kita untuk tidak hanya membaca buku nabi Daniel, tetapi juga mengertinya? Dan dalam buku Daniel itu sendiri dikatakan bahwa firman itu dimeteraikan sampai akhir zaman (memang demikianlah halnya pada zamannya) dan bahwa ‘banyak orang akan menyelidikinya’ (istilah Iberani untuk mengatakan memperhatikan dan memikirkan mengenai waktu), ‘dan pengetahuan’ (mengenai waktu itu) ‘akan dipertambahkan.’ (Dan. 12:4). Disamping itu, Tuhan kita tidak bermaksud dengan mengatakan ini bahwa waktunya yang sudah dekat tidak akan diketahui, tetapi ‘hari dan jam yang tepat tak seorangpun yang tahu.’ Ia mengatakan bahwa cukup mengetahui dari tanda-tanda zaman untuk mendorong kita bersedia kepada kedatangan-Nya itu, sebagaimana Nuh menyediakan bahtera.” — Wolff, “Research and Missionary Labours,” pp. 404,405.
Mengenai cara penafsiran Alkitab yang umum atau penafsiran Alkitab yang salah, Wolff menulis, “Sebagian besar gereja Kristen telah menyimpang dari arti sederhana Alkitab itu, dan telah beralih ke cara berpikir khayal orang-orang Buddha; mereka percaya bahwa kebahagiaan manusia di masa yang akan datang akan terdiri dari melayang-layang di udara, dan menyangka bahwa bilamana mereka membaca orang Yahudi; mereka harus memahami orang kafir; dan bilamana mereka membaca Yerusalem, mereka harus memahami gereja. Dan jikalau dikatakan dunia, artinya langit; dan untuk kedatangan Tuhan mereka harus mengerti kemajuan perkumpulan-perkumpulan misionaris; dan naik ke bukit rumah Tuhan, menyatakan pertemuan kelompok Metodis besar.” — “Journal of the Rev. Joseph Wolff,” p. 96.
Selama dua puluh empat tahun, dari tahun 1821-1845, Wolff menjelajahi Mesir dan Abessinia di Afrika, melintasi Palestina, Syria, Persia, Bokhara dan India di Asia. Ia juga mengunjungi Amerika Serikat, dalam perjalanan untuk berkhotbah di pulau St. Helena. Ia tiba di New York pada bulan Agustus 1837, dan setelah berkhotbah di kota itu ia berkhotbah di Philadelphia dan Baltimore, dan akhirnya menuju Washington. Di sini ia berkata, “atas usul yang dikemukakan bekas presiden John Quincy Adam, dalam salah satu rapat-rapat Kongres, dengan suara bulat Kongres menyetujui Gedung Kongres saya gunakan untuk tempat ceramah. Saya berceramah di sana pada hari Sabtu dihadapan semua anggota Kongres dan juga uskup Virginia, dan para ulama serta penduduk Washington. Penghormatan yang serupa juga diberikan kepada saya oleh anggota-anggota pemerintahan New Jersey dan Pensylvania, dimana saya menyampaikan ceramah saya mengenai riset saya di Asia dan juga tentang keberadaan pribadi Yesus Kristus.” — “Journal of the Rev. Joseph Wolff,” pp. 398,399.
Dr. Wolf menjelajahi negeri-negeri yang paling kejam dan biadab, tanpa perlindungan sesuatu negara atau kekuasaan Eropah, menanggung banyak kesulitan dan dikelilingi banyak mara bahaya. Ia dipukuli dengan tongkat, dibiarkan kelaparan, dijual sebagai budak, dan tiga kali dijatuhi hukuman mati. Ia dihadang perampok, dan kadang-kadang hampir mati kehausan. Suatu kali semua miliknya dirampok, dan dibiarkan berjalan ratusan mil tanpa alas kaki melalui gunung-gunung, salju menerpa wajahnya, dan kakinya yang bertelanjang itu kaku karena menginjak tanah yang sudah membeku.
Pada waktu ia diamarkan jangan pergi tanpa senjata di antara suku-suku yang ganas dan liar, ia menyatakan bahwa dirinya “dipersenjatai” — “doa, semangat bagi Kristus, dan keyakinan akan pertolongan-Nya.” “Saya juga,” katanya, “dibekali dengan Kasih Allah dan tetangga saya dalam hati saya, serta Alkitab ditangan saya.” — Adams, W.H.D., “In Perils Oft,” p. 192. Kemana saja ia pergi ia membawa Alkitab bahasa Iberani dan bahasa Inggeris sertanya. Mengenai salah satu perjalanannya yang kemudian, ia berkata, “Saya memegang Alkitab itu terbuka di tangan saya. Saya merasakan kuasa saya ada di dalam Alkitab itu dan bahwa kuasa itu akan memelihara saya.” — Idem, p. 201.
Demikianlah ia bersabar di dalam pekerjaannya sampai pekabaran penghakiman itu telah disampaikan ke sebagian besar dunia yang sudah berpenduduk. Ia membagikan firman Allah dalam berbagai bahasa di antara orang-orang Yahudi, Turki, Persia, Hindu dan banyak lagi bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa lain, dan dimana-mana ia mengabarkan pemerintahan Mesias yang sudah dekat itu.
Dalam perjalanannya ke Bokhara ia menemukan doktrin kedatangan Tuhan yang segera yang dipegang oleh orang-orang udik yang terpencil. Orang-orang Arab di Yaman, katanya, “memiliki buku yang dinamakan ‘Seera’ yang mengamarkan mengenai kedatangan Kristus yang kedua kali dan pemerintahannya dalam kemuliaan. Dan mereka mengharapkan akan terjadi peristiwa besar pada tahun 1840.” — Journal of the Rev. Joseph Wolff,” p. 377. “Di Yaman, . . . saya tinggal bersama anak-anak keturunan Rechab selama enam hari. Mereka tidak minum anggur, tidak menanam pokok anggur, tidak menanam biji apapun, mereka hidup di tenda dan mengingat Jonadab, anak Rehab. Dan saya menemukan bersama mereka anak-anak Israel dari suku Dan . . . yang, bersama anak-anak Rechab, mengharapkan kedatangan Mesias yang segera di awan-awan.” — Idem, p. 389.
Kepercayaan yang sama ditemukan oleh misionaris lain di antara orang-orang Tartar. Imam Tartar bertanya kepada misionaris kapan Kristus akan datang kedua kali. Pada waktu misionaris itu menjawab bahwa ia tidak mengetahuinya, imam itu tampaknya heran atas kebodohan seseorang yang mengaku sebagai guru Alkitab. Dan ia mengatakan kepercayaannya, yang didasarkan atas nubuatan, bahwa Kristus akan datang kira-kira pada tahun 1844.
Pada tahun 1826 pekabaran Advent mulai diberitakan di Inggeris. Pergerakan di sini tidak begitu jelas bentuknya seperti di Amerika. Waktu yang tepat mengenai kedatangan itu tidak begitu umum diajarkan, tetapi kebenaran agung mengenai kedatangan Yesus yang segera, dalam kuasa dan kemuliaan diberitakan secara luas. Dan pemberitaan ini bukan saja kepada orangorang yang ingkar, tetapi juga kepada orang-orang yang tidak mau berkompromi. Mourant Brock, seorang penulis Inggeris, mengatakan bahwa kira-kira tujuh ratus pendeta Gereja Inggeris terlibat dalam mengkhotbahkan “Injil kerajaan” itu. Pekabaran yang menunjukkan kepada tahun 1844 sebagai waktu kedatangan Tuhan juga diberitakan di Inggeris Raya. Risalah-risalah mengenai kedatangan Kristus kedua kali dari Amerika serikat disebarkan secara luas. Buku-buku dan majalah-majalah dicetak-ulang di Inggeris. Dan pada tahun 1842, Robert Winter, seorang kelahiran Inggeris, yang telah menerima iman advent di Amerika, kembali ke negerinya untuk memberitakan kedatangan Tuhan. Banyak orang yang bergabung dengan dia, dan pekabaran penghakiman itu disiarkan di berbagai bagian Inggeris.
Di Amerika Selatan, di antara barbarisme, Lacunza, seorang Spanyol dan seorang imam, membaca Alkitab dan menemukan dan menerima kebenaran tentang kedatangan Kristus yang segera. Di dorong oleh keinginan untuk memberikan amaran, namun ingin melepaskan diri dari cemoohan dan kritikan Roma, ia menerbitkan pandangannya dalam buku yang diberi judul, “Rabbi Ben-Ezra,” yang memperkenalkan dirinya sebagai seorang Yahudi yang sudah bertobat. Lacunza hidup pada abad ke delapan belas, tetapi baru kira-kira tahun 1825 buku ini tersebar di London. Buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris. Penerbitan buku itu memperdalam perhatian yang telah bangkit di Inggeris mengenai kedatangan Kristus kedua kali.
Di Jerman, doktrin ini telah diajarkan pada abad ke delapan belas oleh Bengel, seorang pendeta Gereja Lutheran, dan seorang sarjana dan ahli kritik Alkitab yang terkenal. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Bengel telah “membaktikan dirinya untuk mempelajari teologia yang sangat diminatinya dan diperdalam serta diperkuat oleh pendidikannya yang sebelumnya. Seperti pemuda-pemuda lain yang bertabiat berhati-hati, baik sebelum ataupun sesudah, ia bergumul dengan keragu-raguan dan kesulitan sifat-sifat agama. Dan ia menyindir dengan perasaan tentang “banyak anak panah yang menusuk hatinya yang membuat masa mudanya sulit ditanggung.” — Encyclopaedia Britanica, art. Bengel (ninth edition). Setelah ia menjadi anggota Majelis Gereja di Wurtemberg, ia menganjurkan kebebasan beragama. “Sementara mempertahankan hak-hak dan kesempatan gereja, ia adalah penganjur untuk semua kebebasan yang layak bagi mereka yang terikat, atas dasar hati nurani, untuk mnengundurkan diri dari persekutuannya.” — Encyclopaedia Britanica, art. Bengel (ninth edition). Pengaruh-pengaruh baik kebijakan ini masih terasa di kampung halamannya.
Pada waktu ia menyediakan khotbah dari Wahyu 21 untuk “Minggu Advent,” terang kedatangan Kristus yang kedua kali muncul di pikiran Bengel. Nubuatan-nubuatan Wahyu dibukakan kepada pengertiannya seperti belum pernah sebelumnya. Dipenuhi dengan perasaan penting yang menakjubkan dan pandangan yang melebihi segala kemuliaan yang ditunjukkan nabi itu, ia dipaksa beralih untuk sementara dari pokok pemikiran itu. Di mimbar, perasaan itu sekali lagi datang kepadanya dengan sangat terang dan berkuasa. Sejak waktu itu ia mengabdikan diri untuk mempelajari nubuatan-nubuatan, terutama nubuatan yang mempunyai lambang-lambang, yang kekuasaan Allah akan menghancurkan segala kekuasaan dunia, seperti pada buku Wahyu. Dan dengan segera ia sampai pada keyakinan bahwa nubuatan-nubuatan itu menunjuk kepada kedatangan Kristus kedua kali yang sudah dekat. Waktu yang ia tetapkan sebagai waktu kedatangan yang kedua kali itu tidak jauh berbeda dengan apa yang ditetapkan oleh William Miller kemudian.
Tulisan-tulisan Bengel telah disebarkan di seluruh dunia Kristen. Pandangan-pandangannya mengenai nubuatan pada umumnya diterima di negara bagiannya Wurtemberg, dan dalam beberapa hal, di bagian-bagian Jerman lainnya. Pergerakan ini diteruskan sesudah ia meninggal dunia, dan pekabaran Advent itu di dengar di Jerman pada waktu yang sama pekabaran itu menarik perhatian orang-orang di negeri-negeri lain. Sebelumnya beberapa dari oranhg-orang percaya pergi ke Rusia, dan membentuk kelompok tempat tinggal di sana. Dan iman mengenai kedatangan Kristus yang kedua kali yang tidak lama lagi tetap dipegang oleh gereja-gereja orang Jerman di negeri itu.
Terang itu juga bersinar di Perancis dan Swis. Di Geneva, dimana Farel dan Calvin telah menyebarkan kebenaran Pembaharuan, Gaussen memberitakan kabar kedatangan Kristus yang kedua kali. Pada waktu masih menjadi mahasiswa, Gaussen telah menemukan bahwa roh rasionalisme melanda Eropa pada akhir abad ke delapan belas dan permulaan abad ke sembilan belas; dan pada waktu ia memulai pelayanannya sebagai pendeta ia bukan saja buta mengenai iman yang benar, tetapi ia cenderung skeptis, ragu-ragu. Pada masa mudanya ia tertarik untuk mempelajari nubuatan. Setelah ia membaca tulisan “Rollin’s Ancient History,” perhatiannya tertarik kepada buku Daniel fatsal yang kedua. Dan ia tertarik kepada ketepatan yang luar biasa dari nubuatan yang telah digenapi, sebagaimana terlihat dalam catatan ahli sejarah itu. Ini adalah suatu kesaksian kepada inspirasi Alkitab, yang menjadi jangkar baginya ditengah-tengah malapetaka tahun-tahun berikutnya. Ia tidak merasa puas dengan ajaran rasionalisme. Dan dalam mempelajari Alkitab dan mencari terang yang lebih jelas, setelah beberapa lama kemudian, ia telah dituntun kepada iman yang positif.
Pada waktu ia meneruskan penyelidikannya terhadap nubuatan-nubuatan, ia akhirnya tiba pada keyakinan bahwa kedatangan Tuhan sudah dekat. Terkesan oleh khidmatnya dan pentingnya kebenaran agung ini, ia ingin membawakannya di hadapan orang-orang. Tetapi kepercayaan populer yang menyatakan bahwa buku Daniel adalah misteri yang tidak bisa dimengerti menjadi penghalang besar keinginannya itu. Akhirnya ia memutuskan — sebagaimana yang telah lakukan oleh Farel sebelum dia dalam mengevangelisasi Geneva — memulai dengan anak-anak dengan harapan dapat menarik perhatian para orang tua.
“Saya ingin hal itu dimengerti,” katanya kemudian waktu berbicara mengenai langkah yang diambilnya, “bukan karena itu kurang penting, tetapi sebaliknya oleh karena nilainya yang besar, sehingga saya ingin menyajikannya dalam bentuk yang biasa, dan saya tujukan kepada anak-anak. Saya ingin didengar, dan saya takut tidak akan didengar jika terlebih dahulu saya tujukan kepada orang-orang dewasa. “Oleh sebab itu saya putuskan untuk memulai dengan yang paling muda. Saya kumpulkan pendengar anak-anak. Jika kelompok ini semakin banyak, jika mereka kelihatannya mau mendengar, jika mereka senang, tertarik dan bahwa mereka mengerti dan dapat menerangkan pokok bahasan, maka saya merasa pasti akan ada kelompok kedua dengan segera. Dan pada gilirannya, orang-orang dewasa akan dapat melihat bahwa adalah berguna duduk bersama dan belajar. Bilamana hal ini terjadi, maka usaha sudah berhasil.”– Gaussen, L., “Daniel the Prophet,” Vol. II, Preface.
Usaha itu berhasil. Pada waktu ia mengajar anak-anak itu, orang-orang dewasa datang untuk mendengarkan. Ruang gerejanya penuh dengan pendengar-pendengar yang berminat. Di antara mereka terdapat orang-orang berpangkat dan yang terpelajar, dan orang-orang yang sedang berkunjung ke Geneva. Dengan demikian, kabar itu telah dibawa ke tempat-tempat lain.
Didorong oleh keberhasilannya, Gaussen menerbitkan pelajaran-pelajarannya itu, dengan harapan untuk memajukan pelajaran buku-buku nubuatan di jemaat-jemaat yang berbahasa Perancis. “Untuk menerbitkan pelajaran yang diberikan kepada anak-anak,” kata Gaussen, “adalah mengatakan kepada orang dewasa, yang terlalu sering mangabaikan buku-buku seperti itu dengan dalih bahwa buku-buku itu samar-samar, ‘bagaimana mungkin buku-buku itu samar-samar sementara anak-anakmu bisa mengerti?’” “Saya mempunyai kerinduan yang besar,” ia tambahkan, “memberikan pengetahuan nubuatan yang populer di kelompok kita, kalau memungkinkan.” “Dan yakin tidak ada pelajaran yang tampaknya bisa menjawab kebutuhan zaman lebih baik dari ini.” “Dengan inilah kita boleh bersedia kepada kesengsaraan dan penderitaan yang sudah dekat, dan berjaga dan menunggu kedatangan Yesus Kristus.
Walaupun Gaussen adalah seorang pendeta berbahasa Perancis yang paling menonjol dan paling disenangi, tidak berapa lama kemudian ia diskors dari kependetaan. Kesalahan utamanya adalah bahwa ia telah menggunakan Alkitab dalam mengajar pemuda-pemuda sebagai gantinya katekismus gereja, buku pegangan yang rasionalistis, dan yang hampir tak mempunyai iman yang positif. Sesudah itu ia menjadi guru di sekolah teologia, sementara pada hari Minggu ia terus mengerjakan tugasnya sebagai guru agama mengajar anak-anak dan memberikan petunjuk dari Alkitab. Pekerjaannya mengenai nubuatan membangkitkan banyak minat. Dari jabatannya sebagai profesor, melalui percetakan dan kerja favoritnya sebagai guru anak-anak, ia teruskan selama bertahun-tahun mengerahkan suatu pengaruh yang luas. Dan ia adalah alat yang ampuh dalam menarik perhatian orang banyak untuk mempelajari nubuatan-nubuatan yang menunjukkan bahwa kedatangan Tuhan sudah dekat.
Di Skandinavia juga telah diberitakan pekabaran Advent dan api perhatian yang luas telah disulut. Banyak orang yang telah bangkit dari kelalaiannya, mengakui dan meninggalkan dosa-dosa mereka, dan mencari pengampunan dalam nama Yesus Kristus. Tetapi alim ulama gereja negara menentang gerakan ini, dan melalui pengaruh mereka beberapa orang yang memberitakan pekabaran itu dijebloskan ke dalam penjara. Di beberapa tempat, pengkhotbah kedatangan Yesus Kristus yamg tidak lama lagi itu dibungkam, Allah suka mengirim pekabaran itu dalam cara yang ajaib, melalui anak-anak kecil. Oleh karena mereka masih di bawah umur, undang-undang negara tidak boleh membatasi mereka, dan mereka diizinkan untuk berbicara tanpa gangguan.
Gerakan ini terutama di antara golongan bawah, dan di tempat-tempat sederhana tempat tinggal para buruh itulah orang-orang berkumpul untuk mendengarkan amaran. Pengkhotbah-pengkhotbah cilik itu sendiri adalah anak-anak dari penghuni gubuk-gubuk miskin itu. Beberapa dari antara mereka belum berumur enam tahun atau delapan tahun. Dan sementara kehidupan mereka menyaksikan bahwa mereka mengasihi Juru selamat, dan mencoba hidup dalam penurutan kepada kehendak Allah yang kudus, biasanya mereka hanya menunjukkan kecerdasan dan kemampuan yang biasa terlihat pada anak-anak seumur mereka. Namun, bilamana mereka berdiri di hadapan orang-orang, nyatalah bahwa mereka digerakkan oleh suatu pengaruh di luar karunia mereka yang biasa. Nada dan cara berbicaranya berubah, dan dengan kuasa yang sungguh-sungguh mereka memberikan amaran penghakiman dengan menggunakan kata-kata dari Alkitab, “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena hari penghakiman-Nya sudah tiba.” Mereka mencela dosa-dosa orang banyak, bukan saja mencela kebejatan moral dan kejahatan, tetapi juga mencela keduniawian dan kemurtadan; dan mengamarkan pendengar-pendengar agar segera menyingkir dari murka Allah yang akan datang.
Orang-orang mendengarkan dengan gemetar. Roh Allah yang meyakinkan itu berbicara ke dalam hati mereka. Banyak yang dituntun untuk menyelidiki Alkitab dengan minat yang baru dan mendalam. Keadaan tak bertarak dan tak bermoral dibaharui, yang lain meninggalkan kebiasaannya yang tidak jujur. Dan pekerjaan ini telah dilakukan begitu nyata sehingga pendeta-pendeta negara sendiripun terpaksa mengakui bahwa tangan Allah ada dalam gerakan ini.
Adalah kehendak Allah agar berita kedatangan Juru Selamat dikabarkan di negara-negara Skandinavia. Dan bilamana suara hamba-hamba-Nya dibungkam, Ia mencurahkan Roh-Nya ke atas anak-anak, agar pekerjaan itu dapat dilaksanakan. Pada waktu Yesus semakin dekat memasuki Yerusalem diserati oleh orang banyak yang bersukacita yang, dengan pekik kemenangan dan lambaian daun-daun palem, mengumumkan-Nya sebagai Anak Daud, orang-orang Farisi yang cemburu memintanya untuk mendiamkan mereka. Tetapi Yesus menjawab bahwa semua ini adalah kegenapan nubuatan. Jika mereka harus diam maka batu-batu juga akan berbicara. Orang-orang, yang ditakut-takuti oleh ancaman imam-imam dan penguasa-penguasa, menghentikan pernyataan sukacita mereka pada waktu mereka memasuki gerbang kota Yerusalem. Tetapi kemudian anak-anak di halaman Bait Allah menyambut dengan sorak sorai, sambil melambai-lambaikan daun palem mereka berseru, “Hosana bagi anak Daud!” (Mat. 21:8-16). Pada waktu orang Farisi sangat jengkel, lalu mereka berkata kepada-Nya, “Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?” Yesus menjawab, “Aku dengar, belum pernah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusui Engkau telah menyediakan puji-pujian?” Sebagaimana Allah bekerja melalui anak-anak pada waktu kedatangan Yesus yang pertama, demikianlah Ia bekerja melalui mereka dalam memberitakan kedatangan-Nya yang kedua kali. Firman Allah harus digenapi, bahwa pekabaran kedatangan Juru Selamat harus disampaikan kepada semua orang, bahasa dan bangsa.
Kepada William Miller dan rekan-rekannya diberi tugas untuk memberitakan amaran itu di Amerika. Negara ini menjadi pusat Pergerakan Advent besar itu. Di sinilah nubuatan pekabaran malaikat yang pertama digenapi secara langsung. Tulisan-tulisan Miller dan rekan-rekannya telah dibawa ke negeri-negeri yang jauh. Di mana saja misionaris telah menjelajahi seluruh dunia, disanalah diberitakan kabar kesukaan mengenai kedatangan Kristus yang tidak lama lagi. Jauh dan luaslah penyebaran kabar Injil kekal, “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena hari penghakiman-Nya sudah tiba.”
Kesaksian nubuatan yang kelihatannya menunjuk kepada kedatangan Kristus pada musim semi tahun 1844, berakar dalam di pikiran orang-orang. Pada waktu pekabaran itu tersebar dari satu Negara Bagian ke Negara Bagian lainnya, dimana-mana terjadi kebangunan perhatian yang meluas. Banyak yang diyakinkan bahwa argumen dari masa-masa nubuatan itu adalah tepat, dan mereka membuang pendapat sombong mereka dan menerima kebenaran dengan sukacita. Beberapa pendeta mengesampingkan pandangan-pandangan dan perasaan-perasaan sekte mereka, mereka meninggalkan kepegawaian dan gereja mereka dan bersatu untuk memberitakan kedatangan Yesus. Namun hanya sedikit pendeta yang menerima pekabaran ini, oleh sebab itu kebanyakan pemberitaan itu sebagian besar diserahkan kepada kaum awam yang sederhana. Para peladang meninggalkan ladangnya, para ahli bengkel meninggalkan perkakasnya, para pedagang meninggalkan barang dagangannya, dan para profesional meninggalkan jabatan mereka. Namun begitu jumlah pekerja masih sedikit dibandingkan dengan pekerjaan yang harus diselesaikan. Keadaan gereja yang tidak beriman dan dunia yang penuh kejahatan membebani jiwa-jiwa para penjaga yang setia, dan dengan rela mereka menanggung kerja keras, kesepian dan penderitaan, agar mereka bisa memanggil orang-orang untuk bertobat kepada kesela,matan. Walaupun ditentang oleh Setan, pekerjaan itu maju terus dan kebenaran Advent itu diterima oleh ribuan orang.
Dimana-mana terdengar kesaksian-kesaksian yang menggugah hati menggambarkan orang-orang berdosa, baik anggota jemaat maupun orang yang bersifat duniawi, untuk menghindarkan diri dari murka yang akan datang. Seperti Yohanes Pembaptis, pendahulu Kristus, para pengkhotbah meletakkan kampaknya pada akar pohon, dan mendorong semua untuk memberikan buah-buah pertobatan. Himbauan dan ajakan mereka yang menggugah hati sangat berbeda dengan jaminan damai sejahtera yang terdengar dari mimbar populer dimana saja pekabaran itu dikabarkan, maka orang-orangpun digerakkan. Kesaksian Alkitab yang langsung dan sederhana, dengan kuasa Roh Kudus, membawa keyakinan yang mendalam yang hanya sedikit yang berhasil menolaknya. Mahaguru-mahaguru agama telah dibangunkan dari keselamatan mereka yang palsu. Mereka melihat kemurtadan mereka, keduniawian dan ketidakpercayaan mereka, kesombongan dan sifat mementingkan diri mereka. Banyak yang mencari Tuhan dengan pertobatan dan kerendahan hati. Kasih sayang yang selama ini ditujukan kepada perkara-perkara dunia, sekarang ditujukan ke Surga. Roh Allah turun ke atas mereka, dan dengan hati yang dilembutkan dan diserahkan mereka bergabung memekikkan seruan, “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena saat penghakiman-Nya telah tiba.”
Orang-orang berdosa bertanya sambil menangis, “Apakah yang harus kuperbuat supaya selamat?” Mereka yang hidupnya ditandai dengan ketidakjujuran ingin membuat ganti rugi. Semua orang yang telah menemukan kedamaian dalam Kristus rindu melihat orang-orang lain mendapat berkat. Hati orang-orang tua berbalik kepada anak-anak mereka, dan hati anak-anak kepada orang tua mereka. Penghalang kesombongan dan pamrih telah dibuang jauh-jauh. Pengakuan yang menyentuh hati dilakukan; dan anggota keluarga bekerja untuk keselamatan keluarga mereka yang paling dekat dan yang paling disayang. Sering terdengar suara pengantaraan yang sungguh-sungguh. Dimana-mana terdapat jiwa-jiwa yang sangat menderita, yang memohon kepada Allah. Banyak yang bergumul berdoa sepanjang malam untuk memastikan bahwa dosa-dosa mereka sudah diampuni, atau untuk pertobatan sanak keluarga atau tetangga mereka.
Semua golongan berbondong-bondong ke perkumpulan-perkumpulan orang-orang Advent. Orang kaya dan orang miskin, yang terhormat dan yang hina, oleh karena berbagai alasan, ingin mendengar sendiri doktrin kedatangan kedua kali itu. Tuhan menahan roh perlawanan sementara hamba-hambanya-Nya menjelaskan alasan-alasan iman mereka. Kadang-kadang alat-alat itu lemah, tetapi Roh Allah memberikan kuasa kepada kebenaran-Nya. Kehadiran malaikat-malaikat kudus terasa di perkumpulan-perkumpulan, dan setiap hari banyak yang ditambahkan kepada orang-orang percaya. Pada waktu bukti-bukti kedatangan Kristus yang tidak lama lagi dikemukakan berulang-ulang, orang banyak berkerumun mendengarkan firman itu dengan tekun seolah-olah tidak bernafas. Surga dan dunia seolah-olah saling mendekat. Kuasa Allah dapat dirasakan oleh orang tua dan orang muda maupun orang setengah baya. Orang-orang kembali ke rumah mereka dengan puji-pujian di bibir mereka, dan suara kesukaan terdengar di udara malam yang tenang itu. Tak seorangpun dari mereka yang menghadiri perkumpulan-perkumpulan itu dapat melupakan pemandangan perhatian yang begitu besar dan dalam.
Pemberitaan mengenai waktu yang pasti kedatangan Kristus menimbulkan perlawanan besar dari berbagai golongan, dari pendeta di mimbar gereja sampai kepada orang-orang berdosa yang paling gegabah, dan yang berani menantang Surga. Kata-kata nubuatan digenapi, “bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: Dimanakah janji kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.” (2 Pet. 3:3,4). Banyak orang yang mengaku mengasihi Juru Selamat, menyatakan bahwa mereka tidak menentang doktrin kedatangan Kristus yang kedua kali. Mereka hanya tidak setuju mengenai waktu yang dipastikan. Tetapi Allah yang maha melihat membaca hati mereka. Mereka tidak ingin mendengarkan kedatangan Kristus untuk menghakimi dunia ini dalam kebenaran. Mereka adalah hamba-hamba yang tidak setia. Pekerjaan mereka tidak tahan kepada ujian Allah yang mengetahui segala isi hati, dan mereka takut bertemu dengan Tuhan mereka. Seperti orang-orang Yahudi pada waktu kedatangan Yeusu yang pertama kali, mereka tidak siap sedia menyambut Yesus. Mereka bukan saja menolak untuk mendengar argumentasi sederhana dari Alkitab, tetapi bahkan mengejek mereka yang mencari Tuhan. Setan dengan malaikat-malaikatnya bersukaria, dan melemparkan cemoohan ke muka Kristus dan malaikat-malaikat-Nya yang kudus, bahwa orang yang mengaku umat-Nya tidak mengasihi-Nya dan bahwa mereka itu tidak menginginkan kedatangan-Nya.
“Tak seorangpun yang mengetahui hari atau jamnya,” adalah argumentasi yang paling sering dikemukakan oleh para penolak iman kedatangan kedua kali itu. Alkitab mencatat, “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat yang di Surga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.” (Mat. 24:36). Keterangan yang jelas dan harmonis serta selaras mengenai ayat ini telah diberikan oleh mereka yang mencari Tuhan, dan penggunaan yang salah dari ayat ini oleh penentang-penentang telah dinyatakan dengan jelas. Firman itu diucapkan oleh Kristus dalam suatu percakapan yang tak terlupakan dengan murid-murid-Nya di Bukit Zaitun setelah untuk terakhir kalinya Ia meninggalkan kaabah. Murid-murid itu bertanya, “Apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (Mat. 24:3). Yesus memberikan tanda-tanda kepada mereka, dan berkata, “Jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah diambang pintu.” (Mat. 24:33). Suatu ucapan Juru Selamat tidak akan dibuat untuk merusakkan ucapan-Nya yang lain. Walau tak seorangpun yang tahu tentang hari dan saat kedatangan -Nya, kita diajar dan diharuskan untuk mengetahui kapan kedatangan-Nya itu sudah dekat. Lebih jauh kita diajar bahwa mengabaikan amaran-Nya dan menolak atau tidak mau mengetahui kapan kedatangan-Nya itu, akan sama fatalnya kepada kita seperti kepada mereka pada zaman Nuh. Mereka tidak mengetahui kapan air bah itu datang. Dan perumpamaan dalam fatsal yang sama mempertentangkan hamba yang setia dengan yang tidak setia, dan memberikan kebinasaan kepada mereka yang berkata dalam hatinya, “Tuanku tidak datang-datang,”(Mat. 24:49) dan Kristus menghargai dan memberi upah kepada mereka yang didapat-Nya berjaga dan mengajarkan kedatangan-Nya, dan mereka yang menyangkalnya. “Karena itu berjaga-jagalah,” (Mat. 24:42), kata-Nya. “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.” (Mat. 24:46). Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri, dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu.” (Wah. 3:3).
Paulus berbicara kepada segolongan orang yang tidak berjaga-jaga pada waktu kedatangan Tuhan. “Bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam. Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman — maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan . . . mereka pasti tidak akan luput.” (1 Tes. 5:2). Tetapi ia tambahkan kepada mereka yang memperhatikan amaran Juru Selamat itu, “Tetapi kamu, Saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.” (1 Tes. 5:4-5).
Jadi jelas ditunjukkan bahwa Alkitab tidak membiarkan orang-orang yang tetap tidak mau tahu atau bersikap masa bodoh terhadap kedatangan Kristus itu. Tetapi mereka yang hanya mencari dalih untuk menolak kebenaran, menutup telinganya kepada keterangan ini, dan perkataan “tentang hari dan saat itu tak seorangpun yang tahu,” terus digemakan dan didengungkan oleh pengolok-olok, bahkan oleh mereka yang mengaku pelayan-pelayan Kristus. Pada waktu orang-orang bangkit dan mulai mencari jalan keselamatan, guru-guru agama menghalangi mereka menemukan kebenaran, berusaha menenteramkan ketakutan mereka dengan menafsirkan salah firman Allah. Para penjaga yang tidak setia bersatu dengan penipu besar itu berseru, Damai, damai, sementara Allah tidak berbicara damai. Seperti Farisi pada zaman Kristus, banyak yang menolak memasuki kerajaan Surga. Dan mereka yang mau masuk, mereka halang-halangi. Darah jiwa-jiwa ini akan dituntut dari tangan mereka.
Orang yang paling rendah hati dan yang bersungguh-sungguh berserah biasanya adalah yang pertama menerima pekabaran ini. Mereka yang mempelajari sendiri Alkitab itu akan dengan segera dapat melihat sifat yang tidak Alkitabiah dari pandangan-pandangan populer nubuatan. Dan dimana orang-orang tidak dikendalikan oleh alim ulama, dimana mereka bisa menyelidiki firman Allah bagi mereka sendiri, maka doktrin itu hanya perlu dibandingkan dengan Alkitab saja untuk menetapkan kewenangan ilahinya.
Banyak orang dianiaya oleh Saudara-saudara mereka yang tidak percaya. Untuk mempertahankan kedudukannya di dalam jemaat, sebagian orang memilih diam mengenai pengharapannya. Tetapi yang lain merasa bahwa kesetiaan kepada Allah melarang mereka menyembunyikan kebenaran yang telah dipercayakan Tuhan kepada mereka. Banyak yang dipecat dari persekutuan jemaat dengan alasan karena menyatakan keyakinan mereka pada kedatangan Kristus. Kata-kata nabi ini sangat berharga bagi mereka yang mengalami cobaan iman, “Saudara-saudaramu yang membenci kamu, yang mengucilkan kamu oleh karena kamu menghormati nama-Ku, telah berkata, ‘Baiklah Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya supaya kamu melihat sukacitamu.’ Tetapi mereka sendirilah yang mendapat malu.” (Yes. 66:5).
Malaikat-malaikat Tuhan memperhatikan dengan sungguh-sungguh hasil dari amaran ini. Bilamana secara umum jemaat-jemaat menolak pekabaran itu, maka malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dengan sedih. Tetapi banyak yang belum diuji sebelumnya dengan kebenaran kedatangan Kristus itu. Banyak yang tertipu oleh suami, isteri, orang tua, atau anak-anak, dan membuatnya percaya bahwa adalah dosa hanya mendengar sajapun kepada ajaran-ajaran sesat seperti yang diajarkan oleh orang-orang Advent. Malaikat-malaikat diperintahkan untuk terus memperhatikan jiwa-jiwa ini, karena terang lain masih akan bersinar kepada mereka dari takhta Allah.
Dengan kerinduan yang tak terucapkan, mereka telah menerima pekabaran memperhatikan kedatangan Juru Selamat mereka. Waktunya sudah dekat dimana mereka akan bertemu dengan-Nya. Mereka menantikan saat itu dengan tenang dan khidmat. Mereka tetap mengadakan persekutuan yang mesra dengan Allah, suatu kedamaian yang sungguh-sungguh yang akan mereka warisi pada masa depan yang cerah. Tak seorangpun yang mengalami oengharapan dan kepercayaan ini dapat melupakan indanya dan berharganya saat-saat menunggu itu. Beberapa minggu sebelum waktu itu, kebanyakan usaha-usaha duniawi telah dikesampingkan umat-umat percaya yang sungguh-sungguh dengan cermat memeriksa setiap pikiran dan emosi hati mereka seperti seseorang yang mau meninggal dan beberapa saat lagi akan menutup mata mereka terhadap pemandangan dunia ini. Tidak ada yang membuat “jubah kenaikan,” (Lihat Lampiran) tetapi semua merasakan perlunya keyakinan kesaksian dalam diri bahwa mereka telah bersedia bertemu dengan Juru Selamatnya. Jubah putih mereka adalah kemurnian jiwa — tabiat yang disucikan dari dosa oleh darah Kristus. Apakah roh pemeriksaan hati yang seperti itu masih ada pada orang-orang yang mengaku umat Allah, iman yang sama yang sungguh-sungguh dan yang pasti? Sekiranya mereka terus merendahkan diri di hadirat Tuhan, dan mengajukan permohonan mereka ke hadapan takhta kemurahan, mereka akan memiliki pengalaman yang jauh lebih kaya daripada yang mereka miliki sekarang. Terlalu sedikit doa, terlalu sedikit pengakuan dan kesadaran dosa dan kurangnya iman yang hidup membuat banyak orang jadi miskin akan kasih karunia yang sebenarnya begitu limpahnya disediakan oleh Penebus.
Allah bermaksud menguji umat-Nya. Tangan-Nya menutupi kesalahan dalam perhitungan masa-masa nubuatan. Orang-orang Advent tidak menemukan kesalahan itu, atau ditemukan oleh penentang-penentangnya yang paling terpelajar. Penentang itu berkata, “Perhitunganmu mengenai masa-masa nubuatan itu adalah tepat. Beberapa peristiwa besar akan terjadi. Tetapi itu bukan yang diramalkan oleh Tuan Miller. Itu adalah pertobatan dunia ini, dan bukan kedatangan Kristus yang kedua kali.” (Lihat Lampiran).
Waktu yang diharapkan itu sudah berlalu dan Kristus tidak datang untuk melepaskan umat-Nya. Mereka yang dengan iman dan kasih yang sungguh-sungguh yang telah mencari dan menantikan Juru Selamat mereka, mengalami kekecewaan yang pahit. Namun begitu maksud Allah sedang dicapai. Ia menguji hati mereka yang mengaku menanttikan kedatangan-Nya. Ada beberapa di antara mereka yang hanya karena takut. Pengakuan iman mereka tidak mengubah hati mereka, atau hidup mereka. Pada waktu peristiwa yang diharapkan tidak terjadi, orang-orang ini menyatakan bahwa mereka tidak kecewa. Mereka tidak pernah percaya kalau Kristus akan datang. Merekalah justru yang pertama mengejek kesedihan orang-orang percaya yang benar itu.
Tetapi Yesus, bersama seluruh balatentera Surga, melihat dengan kasih sayang dan simpati kepada mereka yang dicobai dan yang setia namun kecewa. Seandainya tirai yang memisahkan dunia yang kelihatan dan dunia yang tidak kelihatan disingkirkan, maka malaikat-malaikat akan tampak semakin dekat dengan jiwa-jiwa yang teguh ini dan melindungi mereka dari serangan Setan.

Pekerjaan untuk Segala Zaman

April 24, 2013 in Ellen G. White

24 April – Sebuah Pekerjaan untuk Segala Zaman
Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat. 1 Yohanes 2:14.

Ada banyak jalan di mana pemuda dapat menemukan kesempatan untuk usaha yang membantu…… Dalam pekerjaan penghabisan dari injil ini ada sebuah ladang yang luas untuk diduduki; dan, lebih dari yang pernah ada, pekerjaan ini adalah untuk memperoleh para penolong dari masyarakat umum. Baik orang muda maupun orang-orang yang lebih tua akan dipanggil dari ladang itu, dari kebun anggur, dan dari tempat-kerja, dan diutus oleh Sang Guru untuk memberikan pekabaranNya. Banyak dari antara mereka ini telah memiliki sedikit kesempatan untuk memperoleh pendidikan, tetapi Kristus melihat dalam diri mereka kemampuan-kemampuan yang akan memudahkan mereka untuk menggenapi tujuanNya. Jika mereka memberi hati mereka dalam pekerjaan itu dan terus menjadi pelajar, maka Dia akan menguatkan mereka untuk bekerja bagiNya….. 122.1
Seberapapun besar atau kecilnya talenta-talentamu, ingatlah bahwa apa yang engkau miliki adalah milikmu hanya di dalam kepercayaan. Demikianlah Allah sedang menguji engkau, dengan memberikan padamu sebuah kesempatan untuk membuktikan dirimu sendiri adalah benar. KepadaNya engkau berutang untuk segala kemampuanmu. MilikNyalah kekuatan-kekuatan tubuh, pikiran dan jiwamu, dan bagiNyalah kekuatan-kekuatan ini harus digunakan. Waktumu, pengaruhmu, kemampuan-kemampuanmu, keahlianmu – semuanya harus disumbangkan kepadaNya yang telah memberikan segalanya. 122.2
Pemuda yang menemukan sukacita dan kegembiraan dalam membaca firman Allah dan dalam waktu berdoa adalah secara terus-menerus disegarkan oleh air sirup yang memancar dari Mata Air kehidupan itu. Ia akan memperoleh sebuah ketinggian dari keunggulan moral dan sebuah keluasan pikiran yang tidak dapat dimiliki orang lain….. Mereka yang dengan cara demikian menghubungkan jiwa mereka dengan Allah diakui olehNya sebagai putera dan puteriNya. Mereka terus-menerus mencapai tempat yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, memperoleh pandangan-pandangan yang lebih jelas akan Allah dan akan keabadian, hingga Tuhan menjadikan mereka sebagai saluran-saluran terang dan kebijaksanaan kepada dunia. 122.3
Dengan barisan pekerja yang demikian pada pemuda kita, yang dilatih dan diperlengkapi dengan benar, betapa cepatnya pekabaran dari Sang Juruselamat yang tersalib, bangkit, dan segera datang itu disebarkan ke seluruh dunia! Betapa cepatnya akhir zaman itu tiba—akhir dari segala penderitaan dan kesedihan serta dosa! 122.4

April 24 – A Work for All Ages
I write to you, fathers, because you know him who is from the beginning. I write to you, young men, because you are strong, and the word of God abides in you, and you have overcome the evil one. 1 John 2:14, R.S.V.
There are many lines in which the youth can find opportunity for helpful effort. . . . In this closing work of the gospel there is a vast field to be occupied; and, more than ever before, the work is to enlist helpers from the common people. Both the youth and those older in years will be called from the field, from the vineyard, and from the workshop, and sent forth by the Master to give His message. Many of these may have had little opportunity for education, but Christ sees in them qualifications that will enable them to fulfil His purpose. If they put their hearts into the work and continue to be learners, He will fit them to labour for Him. . . . 122.1
However large, however small, your talents, remember that what you have is yours only in trust. Thus God is testing you, giving you an opportunity to prove yourself true. To Him you are indebted for all your capabilities. To Him belong your powers of body, mind, and soul, and for Him these powers are to be used. Your time, your influence, your capabilities, your skill–all must be accounted for to Him who gives all. 122.2
The youth who finds joy and happiness in reading the word of God and in the hour of prayer is constantly refreshed by drafts from the Fountain of life. He will attain a height of moral excellence and a breadth of thought of which others cannot conceive. . . . Those who thus connect their souls with God are acknowledged by Him as His sons and daughters. They are constantly reaching higher and still higher, obtaining clearer views of God and of eternity, until the Lord makes them channels of light and wisdom to the world. 122.3
With such an army of workers as our youth, rightly trained, might furnish, how soon the message of a crucified, risen, and soon-coming Saviour might be carried to the whole world! How soon might the end come–the end of suffering and sorrow and sin! 122.4