Dalam Keserasian dengan HukumNya

Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang tauratMu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati. Mazmur 119:34.

Dalam kelahiran baru hati dibawa ke dalam keserasian dengan Allah, sebagaimana ia itu diselaraskan dengan hukumNya. Manakala perubahan yang kuat ini terjadi di dalam diri orang berdosa, maka ia telah melintasi kematian menuju kehidupan, dari dosa menuju kesucian, dari pelanggaran hukum dan pemberontakan menuju ketaatan dan kesetiaan….. 231.1
Teori-teori yang salah tentang pengudusan….. yang bertolak dari pengabaian atau penolakan hukum ilahi, memiliki tempat yang utama dalam pergerakan-pergerakan religius masa kini. Teori-teori ini adalah palsu dalam ajarannya dan berbahaya dalam akibat-akibat praktisnya; dan fakta bahwa teori-teori itu secara umum disukai, membuatnya menjadi dua kali lipat pentingnya bahwa semua orang memiliki pengertian yang jelas tentang apa yang diajarkan Alkitab mengenai pokok persoalan ini. 231.2
Pengudusan yang benar adalah sebuah ajaran Alkitab. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika menyatakan: “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu…” Dan dia berdoa: “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya…” (1 Tesalonika 4:3; 5:23). Alkitab secara jelas mengajarkan apa yang dimaksud dengan pengudusan dan bagaimana ia itu diperoleh. Sang Juruselamat berdoa bagi murid-muridNya: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firmanMu adalah kebenaran”. (Johannes 17:17). Dan Paulus mengajarkan bahwa orang-orang beriman haruslah “dikuduskan oleh Roh Kudus” (Roma 15: 16). Apakah pekerjaan Roh Kudus? Yesus mengajarkan kepada murid-muridNya: “Tetapi apabila ia datang, yaitu Roh Kebenaran, ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;…” (Johannes 16:13). Dan pemazmur mengatakan: “HukumMu adalah kebenaran.” Melalui Firman dan Roh Allah, prinsip-prinsip agung kebenaran yang ditaruh di dalam hukumNya dibukakan kepada orang-orang. Dan oleh karena hukum Allah adalah “suci, benar, dan baik”, sebuah salinan kesempurnaan ilahi, maka suatu karakter yang dibentuk oleh ketaatan kepada hukum itu akan menjadi suci. Kristus adalah contoh yang sempurna dari karakter tersebut. Dia berkata: “Aku menuruti perintah-perintah BapaKu….” “Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepadaNya…” (Johannes 15:10; 8:29). Para pengikut Kristus haruslah seperti Dia—dengan rahmat Allah untuk membentuk karakter-karakter dalam keserasian dengan prinsip-prinsip hukum suci milikNya. Inilah pengudusan Alkitab. 231.3
Pekerjaan ini dapat diselesaikan hanya melalui iman di dalam Kristus, melalui kuasa Roh Allah yang selalu ada dalam jiwa. 231.4

12 Agustus – Pengudusan yang Palsu
Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. 1 Johannes 2:4,5.

Pada masa ini pengudusan yang mengambil tempatnya dalam dunia agama membawakan peninggian diri dan suatu pengabaian terhadap hukum Allah yang menjadikannya asing bagi agama Alkitab. Pengudusan diajarkan sebagai suatu pekerjaan instan, yang dengannya mereka dapat meraih kesucian sempurna melalui iman saja. “Percaya saja,” kata mereka, “maka berkat itu akan menjadi milikmu.” Tidak ada usaha lebih lanjut yang dituntut bagi penerima ajaran tersebut. Mereka menyangkal kewenangan hukum Allah, dengan mengajarkan bahwa mereka dilepaskan dari kewajiban memelihara hukum-hukum Allah itu. Tetapi mungkinkah bagi manusia menjadi suci dan serasi dengan kehendak dan karakter Allah tanpa menyelaraskan dirinya dengan prinsip-prinsip yang mengungkapkan tabiat dan kehendakNya….? 232.1
Keinginan untuk memiliki agama yang mudah yang tidak menuntut pergumulan, penyangkalan diri, dan pemisahan dari kebodohan dunia ini telah membuat doktrin iman, dan hanya iman, menjadi sebuah doktrin yang populer; tetapi apa yang dikatakan oleh firman Allah? Rasul Yakobus berkata: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? ….. Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. (Yak. 2:14,17) 232.2
Kesaksian firman Allah adalah bertentangan dengan doktrin iman tanpa perbuatan yang memperdayakan ini. Iman tidak berhak menuntut karunia Surga tanpa melengkapi persyaratan yang dengannya belaskasih dapat diterima, hal ini merupakan kecongkakan; sebab iman yang murni berlandaskan pada janji-janji dan syarat-syarat dari Alkitab. 232.3
Janganlah ada yang menipu diri sendiri dengan keyakinan bahwa dia bisa menjadi suci sementara dengan sengaja melanggar salah satu dari syarat-syarat yang ditentukan Allah. Perbuatan dosa yang diketahui mendiamkan suara kesaksian Roh dan memisahkan jiwa dari Allah…. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. (1 Yoh 2:4,5). 232.4

August 11 – In Harmony with His Law
Give me understanding, and I shall keep thy law; yea, I shall observe it with my whole heart. Ps. 119:34.
In the new birth the heart is brought into harmony with God, as it is brought into accord with His law. When this mighty change has taken place in the sinner, he has passed from death unto life, from sin unto holiness, from transgression and rebellion to obedience and loyalty. . . . 231.1
Erroneous theories of sanctification, . . . springing from neglect or rejection of the divine law, have a prominent place in the religious movements of the day. These theories are both false in doctrine and dangerous in practical results; and the fact that they are so generally finding favour, renders it doubly essential that all have a clear understanding of what the Scriptures teach upon this point. 231.2
True sanctification is a Bible doctrine. The apostle Paul, in his letter to the Thessalonian church, declares: “This is the will of God, even your sanctification.” And he prays: “The very God of peace sanctify you wholly” (1 Thess. 4:3; 5:23). The Bible clearly teaches what sanctification is and how it is to be attained. The Saviour prayed for His disciples: “Sanctify them through thy truth: thy word is truth” (John 17:17, 19). And Paul teaches that believers are to be “sanctified by the Holy Ghost” (Rom. 15: 16). What is the work of the Holy Spirit? Jesus told His disciples: “When he, the Spirit of truth, is come, he will guide you into all truth” (John 16:13). And the psalmist says: “Thy law is the truth.” By the Word and the Spirit of God are opened to men the great principles of righteousness embodied in His law. And since the law of God is “holy, and just, and good,” a transcript of the divine perfection, it follows that a character formed by obedience to that law will be holy. Christ is a perfect example of such a character. He says: “I have kept my Father’s commandments.” “I do always those things that please him” (John 15:10; 8:29). The followers of Christ are to become like Him–by the grace of God to form characters in harmony with the principles of His holy law. This is Bible sanctification. 231.3
This work can be accomplished only through faith in Christ, by the power of the indwelling Spirit of God. 231.4

August 12 – Counterfeit Sanctification
He that saith, I know him, and keepeth not his commandments, is a liar, and the truth is not in him. But whoso keepeth his word, in him verily is the love of God perfected: hereby know we that we are in him. 1 John 2:4, 5.
The sanctification now gaining prominence in the religious world carries with it a spirit of self-exaltation and a disregard for the law of God that mark it as foreign to the religion of the Bible. Its advocates teach that sanctification is an instantaneous work, by which, through faith alone, they attain to perfect holiness. “Only believe,” say they, “and the blessing is yours.” No further effort on the part of the receiver is supposed to be required. At the same time they deny the authority of the law of God, urging that they are released from obligation to keep the commandments. But is it possible for men to be holy, in accord with the will and character of God, without coming into harmony with the principles which are an expression of His nature and will . . . ? 232.1
The desire for an easy religion that requires no striving, no self-denial, no divorce from the follies of the world, has made the doctrine of faith, and faith only, a popular doctrine; but what saith the word of God? Says the apostle James: “What doth it profit, my brethren, though a man say he hath faith, and have not works? can faith save him? . . . Wilt thou know, O vain man, that faith without works is dead? . . .” 232.2
The testimony of the word of God is against this ensnaring doctrine of faith without works. It is not faith that claims the favour of Heaven without complying with the conditions upon which mercy is to be granted, it is presumption; for genuine faith has its foundation in the promises and provisions of the Scriptures. 232.3
Let none deceive themselves with the belief that they can become holy while wilfully violating one of God’s requirements. The commission of a known sin silences the witnessing voice of the Spirit and separates the soul from God. . . . “He that saith, I know him, and keepeth not his commandments, is a liar, and the truth is not in him. But whoso keepeth his word, in him verily is the love of God perfected” (1 John 2:4, 5). 232.4

Leave a Reply