Edisi 29 Nov

KEHIDUPAN YANG
DIUBAHKAN OLEH YESUS

OLEH TISMAIL HARTOYO

Karl Marx, bapa dari sosialis modern mengatakan “Para Ahli filsafat, hanya menafsirkan dunia ini berlainan atau berbeda tapi yang menjadi pokok utama adalah bagaimana merubahnya”

Sarren Webster, pernah sebagai missionary di Pakistan selama 15 tahun. Ia mengatakan “Jikalau saya punya kesempatan untuk menghidupkan kembali hidup saya, saya akan hidup untuk merubah kehidupan orang-orang, karena engkau belum merubah apa-apa, sampai anda merubah kehidupan orang-orang”

Merubah dunia menuntut perubahan hidup manusia. Kunci merubah dunia kita ialah merubah manusia. Menjajaki ide perubahan dalam Perjanjian Lama yang tertulis dalam Yeremia 18:1-4. Firman yang datang dari Tuhan kepada Yeremia bunyinya “Pergilah dengan segera ke rumah Tukang periuk, di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataanKu kepadamu, lalu pergilah aku ke rumah tukang periuk dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan.

Apabila bejana yang sedang dibuatnya dari tanah-liat di tangannya itu rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.”

Ketelitian kesabaran dan ketekunan harus dimiliki oleh Tukang periuk, tidak ada bagian-bagian kecil yang tak penting, pekerjaan itu harus sempurna. Itulah yang disaksikan oleh Yeremia pada waktu ia melihat Tukang periuk bekerja, kemudian Tuhan memberikan analogy perbandingan bagi Nabi-Nya. Selanjutnya dalam Yeremia 18:5-6, disebutkan bahwa kemudian, datanglah Firman Tuhan kepadaku bunyinya, “Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periok ini, hai kaum Israel. Demikianlah Firman Tuhan, sungguh seperti tanah liat di tangan tukang periuk.

Demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel.” Sangat jelas bahwa kita melihat perubahan di ayat ini walaupun tak menemukan kata perubahan. Israel, engkau bagaikan gumpalan tanah-liat bagi Saya, dan Saya dapat membentuk engkau memberi lubang, menipiskan dindingmu, melebarkan bagian atas, saya dapat membuatmu menarik, indah atau Aku dapat membentukmu kembali dan mulai lagi dari permulaan, sebab merubah adalah keahlian-Ku.

Dan engkau adalah tujuan perhatian kasih-Ku. Kami sekalian adalah buatan Tangan-Mu”. Adalah ide Tuhan untuk membentuk kita dan merubah kita sesuai dengan kehendak-Nya. Biasanya perubahan memerlukan waktu dan penderitaan pada bagian kita dan banyak kesabaran pada pihak Allah.

Allah telah tentukan untuk merubah hidup kita, tidak peduli berapa lama atau betapa sakitnya proses tersebut tapi janganlah melupakan hal ini. Sementara dirubah, kita dapat merasakan seperti bentuk yang kacau atau rusak.

Kita tidak dapat mengerti alas an-Nya, tapi percayalah kepada Bapa, Ia sedang merubah anda. Dia tahu apa yang dilakukan. Dalam Amsal 21:1, “Hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan, dialirkan-Nya kemana Ia ingini”.

Bila Allah telah siap untuk merubah sebuah hati, itu akan berubah. Apakah seorang Raja yang sombong, seorang suami, istri serta anak anak yang keras kepala atau seorang atlit yang punya kemauan keras, atau juga salah satu anggota keluarga kita atau saya sendiri. Ia alirkan kemana saja. Tidak seorangpun yang merupakan suatu hal yang mustahil bagi Allah termasuk kita semua.

Maka kesimpulan yang bisa kita ambil adalah seorang yang mengadakan perubahan telah bertujuan untuk merubahmu, sebagaiman Ia telah lakukan kepada Perempuan di sumur Jakub atau pada pengemis buta di jalan atau kepada murid yang bimbang dan Dia tidak akan menyerah.

Maukah Saudara melakukan agar proses ini lebih mudah? Maukah relax dan biarkan Dia melakukan bagian-Nya?

Marilah kita renungkan dalam hati kita masing-masing di hari sabat yang diberkati ini. Kiranya Berkat Tuhan melimpah kepada kita semua. Amin.

BERSYUKUR DALAM SEGALA HAL

“Happy thanksgiving” to everyone!

Selamat hari “ucapan syukur” untuk semua pembaca REBUSKA di mana saja Anda berada. Ingatlah bahwa hidup yang bersyukur merupakan kunci kepuasan dan dan kebahagiaan hidup. Tidak heran beberapa negara mempunyai acara Thanksgiving, atau hari ucapan syukur. Misalnya Amerika, Canada atau beberapa Negara Eropa. Amerika mempunyai sejarah hari ucapan syukur, setelah para pendatang dari Eropa mendarat pertama kali di benua Amerika, dan mempunyai panen pertama yang berhasil pada tahun 1623. Sejak itu, telah menjadi tradisi untuk mempunyai hari ucapan syukur. Mereka rayakan pada hari Kamis pada minggu keempat dari bulan Nopember seperti minggu ini. Kesempatan ini digunakan menjadi akhir pekan keluarga, di mana umumnya keluarga yang datang dari berbagai tempat, berkumpul untuk merayakan ucapan syukur bersama. Hingga bulan Nopember sering dikenal sebagai bulan ucapan syukur. Hampir semua keluarga telah merindukan bulan ini, khususnya minggu terakhir dari bulan ini untuk menjadi pertemuan keluarga.

Walaupun banyak kalkun yang menjadi korban, sebab orang Amerika umumnya merayakan “akhir pekan bersyukur,” dengan makan kalkun di tengah keluarga; adalah satu perkara yang sangat indah melihat anggota keluarga berkumpul bersama, dan bersyukur bersama dalam mengingat akan kelimpahan berkat Tuhan. Tidak heran kalau untuk di Amerika, transportasi yang paling sibuk adalah waktu thanksgiving tersebut. Misalnya tahun ini ada 34.2 juta penduduk Amerika yang akan mengadakan perjalanan lebih dari 160 km dari rumahnya, apakah dengan udara, bis, kereta api atau kendaraan sendiri. Ini adalah liburan Amerika Serikat yang terpadat.

Hidup yang bersyukur memberikan banyak keuntungan dalam kehidupan kita sehari-hari. Beberapa keuntungan tersebut termasuk:
1. Meningkat kerohanian. Hidup bersyukur menunjukkan pengakuan bahwa Tuhan adalah Sumber segala berkat.
2. Membuat kita lebih bahagia. Hidup yang bersyukur adalah kebalikan dari hidup yang mengeluh. Keluhan mengganggu kebahagiaan kita.
3. Membuat kita lebih sehat dan meningkat immunitas.
Sementara kita menghadapi hidup yang penuh dengan tantangan, namun masih banyak perkara yang kita tetap dapat syukuri. Alkitab mengajar kita untuk bersyukur “DALAM SEGALA HAL (1 Tesolonika 5:18).” Kita bersyukur atas udara yang kita hirup setiap hari. Coba bayangkan, berapa nilai udara bagi orang yang sulit bernapas? Kita bersyukur sebab adanya rezeki. Kita bersyukur sebab kita dapat bangun pada pagi hari. Kita bersyukur atas kehidupan. Mazmur 136:1, mengatakan, “Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Dia baik.” Ya Allah itu baiknya adanya. Allah itu Sumber kehidupan, sumber damai, sumber-sumber sukacita dan sumber kebahagiaan. Namun ucapan syukur terbesar dapat disebabkan karena kita dapat diselamatkan. Manusia telah jatuh dalam dosa. Alkitab mengatakan bahwa ‘dosa adalah pelanggaran hukum Allah (1 Yohanes 3:4). Akibat pelanggaran hukum tersebut, manusia tidak lagi bersuka cita, tidak lagi memiliki damai, bahkan kita sudah mati dan akan mati selamanya. Alkitab mengatakan, “Upah dosa adalah maut. (Roma 6:23). Akibat dari dosa, kita akan mati dan mati untuk selamanya. Namun Yesus menjadi Juruselamat kita… Kita bersyukur oleh sebab keselamatan yang kita peroleh di dalam Yesus. Kitapun bersyukur sebab kita mendapat pemeliharaan Tuhan.
Umumnya kita mudah bersyukur bila segala sesuatu berjalan baik. Bila ada pekerjaan, ada teman, sukses dalam pendidikan atau dalam hidup berumah tangga. Namun dapatkah kita boleh tetap bersyukur dan bersuka cita sementara ada malapetaka? Dapatkah kita bersyukur sementara orang lain yang lebih junior naik pangkat, sementara kita turun pangkat? Dapatkah kita bersyukur sementara kita mendapatkan ancaman deportasi? Atau saat semua jalan yang kita hadapi serba buntu? Alkitab mengajak kita untuk juga bersyukur bila menghadapi kesukaran; sebab kesukaran bermanfaat untuk pengembangan tabiat (Roma 5:3-5). Sebuah cerita klasik yang penulis dengar pada 45 tahun yang lalu adalah pengalaman Pdt. Matthew Henry yang baru saja kerampokan. Ternyata dalam laporannya, beliau bersyukur sebab dia kerampokan. Mengapa bersyukur? Sedikitnya ada empat hal mengapa dia bersyukur, 1) Saya bersyukur sebab saya selamat, hanya uang saya yang diambil, 2) Saya bersyukur sebab uang yang diambil itupun jumlahnya kecil, 3) Saya beryukur sebab yang diambil itu uang saya, bukan uang orang lain, 4) Saya bersyukur sebab saya yang dirampok, dan bukan saya yang merampok. Kita dapat bersyukur dalam keadaan yang paling buruk sekalipun.
Itu adalah pengalaman Matthew Henry saat kerampokan. Namun dapatkah kita bersyukur saat kedukaan? Saat kehilangan Andrew, anak lelaki satu-satunya dalam usia 33 tahun; penulis berpikir; dalam hal apakah penulis bersyukur? Penulis mendapatkan beberapa hal-hal yang patut disyukuri:
1. Bersyukur atas kehidupan Andrew yang 33 tahun tersebut, dia telah memberikan kebahagiaan ke dalam keluarga.
2. Bersyukur oleh sebab hidup Andrew yang juga menjadi berkat bagi orang lain. Kesaksian dari begitu banyak orang yang terjamah oleh hidupnya. Pekerjaannya masih dikenang di seluruh dunia sebab accounting software dan membership software yang dikembangkan dan dipromosikannya sekarang dipakai di seluruh dunia.
3. Bersyukur oleh sebab doa dan hiburan dari begitu banyak saudara/sahabat dari seluruh dunia.
4. Bersyukur oleh sebab kesedihan memberikan makna rohani yang penting, yaitu hidup itu adalah anugerah Allah, dan kita harus bersyukur akan anugerah tersebut; dan kita juga diajar untuk selalu sedia kapan saja kehidupan kita berakhir.
Jadi banyak yang kita syukuri dalam masa dukacita sekalipun. Bagaimana kita bersyukur? Sering kita bersyukur dengan buat acara ucapan syukur dan makan bersama. Sesungguhnya kita dapat bersyukur dengan berbagai cara. Alkitab menyebutkan beberapa cara tersebut:
1. 1 Tawarik 25:3, Bersyukur dan memuji Allah.” Kita dapat bersyukur dengan menyanyi nyanyian pujian kepada Allah.
2. Daniel 6:10, berbicara pengalaman Daniel, dia berdoa dan mengucapkan syukur kepada Allah. Kita dapat bersyukur kepada Allah dalam doa kita.
3. Mazmur 116:17, “Aku akan mempersembahkan korban syukur kepadaMu dan akan menyerukan nama Allah.” Memberikan korban syukur berarti dengan memberikan persembahan kepada Tuhan; pertanda ucapan syukur kita kepada Allah. Persembahan tersebut apakah diberikan untuk kebutuhan gereja, ataupun diberikan kepada fakir miskin, menunjukkan tanda syukur kita kepada Allah.
4. Kita bersyukur dengan kehidupan kita melalui pelayanan atau hidup yang mengabdi kepada Allah. Salah satu pendukung YAPI adalah “Restore a Child,” yang dipimpin oleh Norma Nashed, seorang Advent asal Jordania. Bagaimana sampai dia menaruh perhatian hingga mendukung anak-anak panti asuhan di 13 negara, yang jumlahnya 4000 orang? Oleh sebab dia sendiri pernah jadi penghuni panti asuhan. Dia tunjukkan ucapan syukurnya dengan berbuat baik, menolong anak-anak yang kurang beruntung diberbagai penjuru dunia.

Kita tidak harus bersyukur hanya bulan Nopember. Kita boleh bersyukur kapan saja, dan di mana saja. Kita dapat mengucapkan syukur kita dengan nyanyian, doa, kesaksian, persembahan syukur, atau menolong kebutuhan sesama. Banyak kegiatan “supporting ministry” seperti YAPI memberikan peluang kepada kita untuk bersyukur dengan menolong mereka yang kurang beruntung dari kita. Sebab itu, marilah bersyukur dengan memberikan bantuan kemanusiaan, sebab, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Matius 25:40.

TO GOD BE THE GLORY
BY MRS. ELLEN G. WHITE

But we have this treasure in earthen vessels, that the excellency of the power may be of God, and not of us. 2 Cor. 4: 7.

All the good qualities that men possess are the gift of God; their good deeds are performed by the grace of God through Christ. Since they owe all to God, the glory of whatever they are or do belongs to Him alone; they are but instruments in His hands.

More than this– as all the lessons of Bible history– it is a perilous thing to praise or exalt men; for if one comes to lose sight of his entire dependence on God, and to trust to his own strength, he is sure to fall. Man is contending with foes who are stronger than he. . . . It is impossible for us in our own strength to maintain the conflict; and whatever diverts the mind from God, whatever leads to self- exaltation or to self- dependence, is surely preparing the way for our overthrow. The tenor of the Bible is to inculcate distrust of human power and to encourage trust in divine power.

Our heavenly Father has not sent angels from heaven to preach salvation to men. He has opened to us the precious truths of His Word and implanted the truth in our hearts that we may give it to those who are in darkness. If we have indeed tasted of the precious gifts of God in His promises, we are to impart this knowledge to others. . . .

We are individually to work as though a great responsibility rested upon us. We are to manifest untiring energy and tact and zeal in this work and take the burden, feeling the peril in which our neighbors and friends are placed. We are to work as Christ worked. We are to present the truth as it is in Jesus, that the blood of souls shall not be upon our garments. At the same time we are to feel entire dependence and trust in God, for we know we cannot do anything without His grace and power to help. A Paul may plant, and an Apollos, water, but God alone can give the increase.

Our duty, our safety, our happiness and usefulness, and our salvation call upon us each to use the greatest diligence to secure the grace of Christ.
From God’s Amazing Grace – Page 335

PENGHAKIMAN DAN PENGHARAPAN
Yesaya 34-35

S
etiap orang diperhadapkan kepada TUHAN dengan penghakiman atau pengharapan. Kita menghadapi penghakiman bila kita menempatkan diri sebagai musuh Allah. Kita memiliki pengharapan bila kita telah diperdamaikan dengan Allah.

Dua pasal dalam bacaan hari ini merupakan dua topik yang berbeda dalam konteks yang sama. Pasal 34 membahas penghakiman Allah, sedangkan pasal 35 membahas pengharapan dari Allah. Penghakiman ditujukan kepada bangsa-bangsa yang mencelakakan umat TUHAN, khususnya bangsa Edom. Penghakiman disebabkan karena perlakuan mereka terhadap umat TUHAN (34:8). Penghakiman itu begitu mengerikan karena mendatangkan kebinasaan. Pasal 35 memberikan gambaran yang berbeda jauh. Umat TUHAN akan melihat kemuliaan TUHAN. Kehidupan, kesuburan dan kesejahteraan serta keadilan melingkupi umat TUHAN. Alkitab menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang dibebaskan TUHAN dan akan kembali ke Sion dengan bersukacita.
Penghakiman Allah merupakan hal yang nyata, demikian juga dengan pengharapan yang disediakan Allah. Setiap orang diperhadapkan kepada dua hal ini, yaitu penghakiman Allah atau pengharapan dari Allah, tergantung kepada apakah kita sudah menjadi bagian dari umat Allah atau belum. Jatuh ke bawah penghakiman Allah merupakan pengalaman nyata yang menghasilkan kebinasaan yang mengerikan. Menjadi umat Allah adalah menjadi orang yang dibebaskan TUHAN, bukan sekedar dari murka musuh-musuh di dunia ini, melainkan dari murka Allah. Menjadi umat TUHAN berarti menerima pengharapan yang disediakan TUHAN. Pengharapan itu pasti dan nyata karena TUHAN sendiri yang menjanjikannya.

Yesaya 35:10
“Dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka,kedukaan dan keluh kesah akan menjauh.”

Lord, What Is Your Message?
(8)

JOHN A. SIREGAR, PHD., MPH

Why is the Three Angels Message found in Revelation 14:6-12 so important for Seventh-day Adventist Christians, who keep the seventh day Sabbath and are waiting for the Second Coming of Jesus?

William Miller (February 15, 1782 – December 20, 1849) was a former American Baptist preacher who is credited with beginning the mid-nineteenth century North American religious movement now known as Adventism. He predicted that Jesus second coming will take place on October 22, 1844. This prediction did not take place, which is known as the Great Disappointment. Following the Great Disappointment most Millerites simply gave up their beliefs.

However, some like Hiram Edson, James and Ellen White, and others restudied the 2300-days prophecy and through the guidance of the Holy Spirit it was revealed that the cleansing of the sanctuary was not of the earthly temple, but the heavenly sanctuary. This was the beginning of the Seventh-day Adventist movement.

Some critics wrote that the Seventh-day Adventist Church was started by William Miller and that they keep the Jewish Sabbath. This statement was not correct; first of all, William Miller never accepted the Sabbath truth. Secondly, the Sabbath was not Jewish, because when God created the world in six days and rested on the seventh day (Sabbath), no Jews were around.

The Three Angels Message
The Seventh-day Adventist Church came into existence, not because of a break with a certain Christian church, like the Methodist, Baptist and other Protestant churches, but rose as a result of Bible Prophecy. Where William Miller failed, we have to continue to share the truth with the whole world. That‘s why the Three Angels Message is so important for the SDA Church, which is the remnant church.

Last Warning Message to Prepare for the Second Coming of Jesus Christ
To prepare a people to stand in the day of God, a great work of reform was to be accomplished. God saw that many of His professed people were not building for eternity, and in His mercy He was about to send a message of warning to arouse them from their stupor, and lead them to make ready for the coming of the Lord.

This warning is brought to view in Rev. 14:6-7.

The First Angel’s Message
Revelation 14:6-7. Then I saw another angel flying in the midst of heaven, having the everlasting gospel to preach to those who dwell on the earth—to every nation, tribe, tongue, and people saying with a loud voice, “Fear God and give glory to Him, for the hour of His judgment has come; and worship Him who made heaven and earth, the sea and springs of water.”

To continue the study of the Three Angels Message it is helpful to trace back the history of the SDA Church.

In addition, in order to understand the Three Angels Message it will be also helpful to study the Sanctuary Truth (Doctrine), which is one of the doctrines of the Bible, which is not embraced by other Christian churches, but is an important part for the study of the Second coming of Christ.

Importance of the Sanctuary Truth
The Bible describes 2 sanctuaries – the great original in heaven, described in Exodus, Numbers, and Leviticus. The “day of atonement” services of the earthly sanctuary services are a vivid illustration or the “shadow” of the heavenly sanctuary (Heb. 5:8) where Jesus, our High Priest, mediates for man, and conducts the investigative judgment and first eradication of the record of confessed and forsaken sins of God’s people.

There are 2 phases of Righteousness: (1) Justification through faith …. To receive the righteousness of Christ, this is manifest in obedience to all the commands of God ….is the third angel’s message (embracing the first and second “messages. 8T 197; TM 92
“The foundation of Christianity is Christ our righteousness.” 5T 725.

Justification is Retained Only by Continual Obedience
In order for man to retain justification, there must be continual obedience.” 1SM 366.
Justification is the work of a moment and Cares for Past Sins. “Romans 3:24-25. 24 being justified freely by His grace through the redemption that is in Christ Jesus, 25 whom God set forth as a propitiation by His blood, through faith, to demonstrate His righteousness, because in His forbearance God had passed over the sins that were previously committed,

Meaning of Propitiation
Romans 3:25, whom God set forth as a propitiation by His blood, through faith, to demonstrate His righteousness, because in His forbearance God had passed over the sins that were previously committed,
Christ is the propitiation for our sins (1 John2:2). Propitiation is something done to a person. Christ propitiated God in the sense that He turned God’s wrath away from guilty sinners by enduring that wrath Himself at Calvary.

Meaning of Righteousness
Righteousness: In the teaching of Jesus, righteous ness means a right relationship with God, as well as the quality of life that involved a right relationship both with God and one’s fellow human beings (Matt.5:6, 17-20).
Paul in his great statement in Rom.1:16, 17 said:
For I am not ashamed of the gospel of Christ, for it is the power of God to salvation for everyone who believes, for the Jew first and also for the Greek. For in it the righteousness of God is revealed from faith to faith; as it is written, “The just shall live by faith.”

Justification is a full, complete pardon of sin. The moment a sinner accepts Christ by faith, that moment he/she is pardoned. The righteousness of Christ is imputed to him/her and he/she is no more to doubt God’s forgiving grace.” 6BC 1071 (ST May 19, 1898). See also Luke 18:13, 14.

Luke 18:13-14. And the tax collector, standing afar off, would not so much as raise his eyes to heaven, but beat his breast, saying, ‘God, be merciful to me a sinner!’ 14 I tell you, this man went down to his house justified rather than the other; for everyone who exalts himself will be humbled, and he who humbles himself will be exalted.”

Justification Precedes and Prepares Us for Sanctification
(2) Sanctification
Justification means that the conscience, purged from dead works, is placed where it can receive the blessings of Sanctification. 7BC 908 (MS 113, 1902).
“Sanctification is the work, not of a day, or a year, but of a lifetime.” ST 312, 313.
“Sanctification …. Is a continual growth in grace.” 1T 340.

“The keeping of all the commandments of God is sanctification”
• “Here is Bible sanctification. It is not merely a show of outside work …. It is truth received in the heart, and practically carried out in the life. Sanctification of the Spirit: 1 Peter 1:2 2 elect according to the foreknowledge of God the Father, in sanctification of the Spirit, for obedience and sprinkling of the blood of Jesus Christ: Grace to you and peace be multiplied.

The First Angel’s Message, Rev. 14:6-7
• Then I saw another angel flying in the midst of saying with a loud voice, having the everlasting gospel to preach to those who dwell on the earth—to every nation, tribe, tongue, and people— saying with a loud voice, “Fear God and give glory to Him, for the hour of His judgment has come; and worship Him who made heaven and earth, the sea and springs of water.”

Angel: This is a symbolic vision. The angel represents God’s saints engaged in the task of proclaiming the everlasting gospel. Literally, the angels assist men in the task of proclaiming the gospel.
Midst of heaven: The area of flight indicates the worldwide nature of the angel’s work and message. The work grows until it is brought to the sight and hearing of all mankind.
Everlasting: Used in connection with the gospel of the grace of God. There is but one gospel to save men. There never will be another gospel.
Loud voice: The loud voice indicates that the message will be proclaimed so that all may hear. It also emphasizes the importance of the message.
Fear: The word here is a reverence fear, not in the sense of being afraid of God, but in the sense of coming to Him with reverence and awe. This kind of fear springs from a heart of love, as contrasted with the “terror” fear which is cast out by love (1 John 4:18)
God: The message to fear God is especially timely, for men are worshipping gods of materialism and pleasure and many others of their own desire.
Glory: What is the meaning to “Give glory to Him?
1. Witnessing: “Let your light so shine before men… and glorify your Father in heaven.” “Herein is my Father glorified, that you bear much fruit”
(Matt. 5:16; John 15:8).
2. Loving one another: “Glorify God … receive you one another, as Christ also received us”. (Rom. 15:6, 7).
3. Doing good works: “By your good works …. glorify God”. (1 Pet. 2:12).
4. Sharing Christ’s Suffering: “If any man suffer as a Christian … let him glorify God on this behalf. (1 Pet. 4:16).
5. Praising God: “Whoso offered praise, glorified me” Psalm 50:23
6. Exalting Christ rather than men: Jer. 9:23, 24.
23 “Let not the wise man glory in his wisdom, Let not the mighty man glory in his might, Nor let the rich man glory in his riches; 24 But let him who glories glory in this, That he understands and knows Me, That I am the Lord, exercising loving-kindness, judgment, and righteousness in the earth. For in these I delight,” says the Lord.
7. Revealing Christ’s character: “To give glory to God is to reveal His
character in our own, and this make Him known. And in whatever way we make known the Father or the Son, we glorify God.” (7BC, MS 16, 1890).
8. Health Message is Part of the First Angel’s Message
• “Give glory to Him” – Rev. 14:7
• “Glorify God in your body” – 1 Cor. 6:20, 20 For you were bought at a price; therefore glorify God in your body[a] and in your spirit, which are God’s”.
1 Cor. 10:31, “31 Therefore, whether you eat or drink, or whatever you do, do all to the glory of God”.
“Health reform is one branch of the great work which is to fit a people for the coming of the Lord. It is as closely connected with the third angel’s message (including all three) as the hand to the body.” CH 20.

Hour of Judgment is declared in First Angel’s Message
• “The message of salvation has been preached in all ages; but the message is a part of the gospel which could be proclaimed only in the last days, for only then would it be true that the hour of judgment had come. The prophecies present a succession of events, leading down to the opening of judgment. This is actually true of the book Daniel. But that part of prophecy which related to the last days, Daniel was bidden to close up and seal to the time of the end. Not till we reach this time could a message concerning the judgment be proclaimed.” GC 356
• The 2300-year prophecy of Daniel 8 and 9 came to an end, and the judgment was to begin in the fall of 1844; the SDA Church emerged and proclaimed the message “The hour of His judgment is come.” The great prophetic clock had struck. The hour had arrived for the final investigation of man’s record to begin. Only then could the meaning of the judgment message of warning go forth – “the hour of His judgment IS come” – not something future or past, but now is come. Furthermore, the message concerning the judgment is accompanied by an appeal and a warning that reveal that the day of salvation has not passed. Men may still turn to God and escape the wrath to come.

Worship
• The worship of God is in contrast with the worship of the beast (Rev. 13: 8, 12) and that of the image (Rev. 13:13). In the crisis soon to come, the inhabitants of the earth will be called upon to make their choice, as did the three young men in days of old, between the worship of the true God and that of the false gods (Dan. 3). The message of the first angel is designed to prepare men to make the proper choice and to stand firm in the time of crisis.

Made heaven and earth
• The Creator of the universe is the true and only object of worship. No man, no angel is worthy to worship. This is the prerogative of God only. Creatorship is one of the distinguishing features of the true God in contrast with the false deities (Jer. 10:11, 12). The appeal to worship God as Creator has become especially timely in the years following the initial preaching of the first angel’s message, because of the rapid spread of the theory of evolution.
• Furthermore, the call to worship the God of heaven as Creator of all things implies that due heed be given to the sign of God’s creative works — the Sabbath of the Lord (Ex. 20:8-11). If the true Sabbath had been kept as God intended, it would have served as a great safeguard against infidelity and evolution (Acts 14:15, and PP 336).
• The Sabbath will be a point especially controverted in the closing crisis (see Rev. 13:16). The Sabbath will be the final test of loyalty before the close of probation.

First Angel’s Message Directed Us to God’s Law
• “None could fail to see that the earthly sanctuary was a figure of pattern of the heavenly, the law deposited in the ark on earth was an exact transcript of the law in the ark in heaven; and that an acceptance of the truth concerning the heavenly sanctuary involved an acknowledgment of God’s law. .. “That men may be prepared to stand in the judgment, the message commands them to “fear God, and give glory to Him” and “worship Him that made heaven and earth …..”The result of an acceptance of the messages is given in the
words, “Here are they that keep the commandments of God and the faith of Jesus” (Rev. 14:12).

Remember, the SDA Church came into existence as a fulfilment of Bible Prophecy and therefore is called the remnant church. The name Seventh-day Adventist means that we keep the seventh day Sabbath and are waiting for the Second Coming of Jesus Christ, which will distinguish us from the other Christian churches.
Until next time and have a wonderful Sabbath!

GLIMPSES FROM THE LIFE OF A FAITHFUL SERVANT

The Early Years

His name was Salem Hamonangan Panjaitan. The English translation is Peace Victor Taylor. Born in the village of Siabal-abal, in the northern province of Tapanuli, Sumatra, Indonesia, he belonged to the Batak tribe. It was first visited by Christian missionaries in the early 1900s and many of the population converted to Christianity.

Salem finished his primary education but was unhappy just living in the village and longed to see more of the world. One day, he packed a few belongings and began a trip that would take him many places and adventures. His first destination was Medan, the capital of East Sumatra, located a few hundred miles from his village. It was a long journey; at night, he slept where ever he could find lodging.

In Medan, a Dutch man, who owned a mansion, offered Salem a job as a gardener, taking care of the flowers and plants, mowing grass and keeping the yard clean. The owner gave him a room and paid him a salary, which he had never received in his life.

Salem worked hard and performed his duties as a gardener diligently. The owner noticed that not only was he a hard worker and a faithful employee, but also a smart and intelligent young man. He taught Salem to type and perform other office duties. He finally suggested that Salem look for a job in the city where he could earn a better salary. Salem found a position in an office where he performed typing, filing, and other office duties. In the meantime, he took night classes to become more fluent in the Dutch language.

Several months passed and Salem enjoyed life in his new environment. One day he was presented with an opportunity to go to a nursing school in the southwestern province of Sumatra. He had always wanted to become a nurse and help sick people. With two friends, Karel Tambunan and Partompuan Gultom, they decided to attend nursing training in Padang, about a thousand kilometers away.

After completing the nursing program, the three men obtained positions as nurses and were happy in their new profession. The Lord, however, had a different plan for them.

A Seventh-day Adventist evangelist, Pastor Munson, came into town and the three young men attended his meetings, curious to hear what the evangelist from America had to say about Bible prophecies. Night after night they attended the meetings. Because they were Protestant Lutherans, they were initially skeptical about the SDA teachings. Finally, through the workings of the Holy Spirit, they accepted the true message and were baptized into the SDA Church. The question now was what to do next?

A New Beginning

The three men were so excited with their newly acquired faith and prayed for guidance on what to do as new members of the SDA Church. The Church was new in the then Dutch East Indies and needed native workers to spread the gospel to the population. Most of the people in the country were Muslim and it was not easy to penetrate this strong religious bastion and to win hearts to Christ. In 1924, the Church sent these three men for ministerial training at the Malayan Union Seminary on Upper Serangoon Road in Singapore. After graduation they were sent to Java.

Salem served the church in many cities and in different capacities. In 1925 Pastor Drinhaus and Salem, as his assistant pastor, opened the church in Semarang, Middle Java. Then, in 1927 Salem was sent to Surabaya, East Java to help with the literature evangelists.

The following year he was sent to open the work in Borneo (now called Kalimantan Barat) for church planting (church planting was not new for the early SDA Church). The first city was the city of Banjarmasin, followed by the city of Pontianak. Salem traveled inland along the Barito and Kapuas Rivers on small river boats, the only transportation available in those days. The Dayak people living in that area were still cannibals and embraced animism, which we call heathenism. Crocodiles, commonly called fierce man eaters, inhabited the rivers and most of the country was jungle galore with wild animals and no roads.

Despite all the inconveniences, Salem considered his assignment a challenge and believed that the Lord would direct His work in spreading the Gospel in the unentered territory. With a nursing background and some medical knowledge, Salem treated the illnesses and ailments of the Dayaks; at the same time he shared with them the love of Jesus.

It was not uncommon for Salem to be away from home for weeks at a time, enduring a rigorous life in the inland that was full of unsanitary conditions and diseases such as malaria, typhoid and other infectious diseases. Dina, Salem’s wife, was busy tending and raising their children. Since their house was close to the edge of the river, she designed a devise that would retrieve the coconuts which fell into the river. The coconut meat was rasped and cooked and the oil pressed and sold for additional income.

Dina’s life was not mundane; she was always busy with the children and her coconut oil business, while her dear husband was doing the Lord’s work. There was no communication available in those days, either by telephone or letters, so Dina trusted that the Lord would protect her husband and always waited with great anticipation when Salem came home, safe and healthy. He was instrumental in opening the work in the village of Barimba, near the town of Kuala Kapuas.

Then in 1929 he was sent to Surabaya in East Java and later to Bandung, West Java as head of the literature evangelists. In 1938 Salem was ordained as a Seventh-day Adventist minister.

In 1940, shortly before World War II, Pastor Panjaitan was called to serve in Semarang, Central Java. World War II began in 1942 and with lightning speed the Japanese army moved south and invaded many countries in Southeast Asia, including Indonesia (then known as the Dutch East Indies).

The war came close to Semarang and the Dutch government started to burn some homes and buildings to slow down the approach of the Japanese invaders, while retreating to the inland. Pastor Panjaitan first took his family outside the city to a village inland and, without concern for his own safety, returned to the city to pick up other church members. He did not stop until the last member was rescued and taken out of the city. This happened during the night, because during the day nobody was allowed to leave the city. Since Pastor Panjaitan visited his members regularly, he knew exactly where they lived and it was easy to find their homes.

For three and a half years the SDA Church suffered because there was no contact with the outside world, especially with the division office. The churches looked to their local pastors to administer church business and finance, and to take care of the members. Pastor Panjaitan continued to serve his people and helped members whenever or wherever he was needed.

The Japanese army persecuted some SDA pastors. Knowing this, Pastor Panjaitan always tried to avoid contact with the invaders. Every time he saw a Japanese sentry in the distance, he took a detour to avoid meeting the soldier face to face.

The Later Years

The sufferings during the war affected Pastor Panjaitan’s health. He lost a lot of weight and his health deteriorated. When the war was over, Pastor Kime and others from the United States began to reorganize the church in Indonesia. Pastor Panjaitan was summoned to Jakarta, the headquarters of the SDA Church in Indonesia at that time.

After hearing all the stories of what happened during the Japanese occupation and considering Pastor Panjaitan’s health, Pastor Kime suggested that he take a vacation. Since his territory in the Semarang district was large, the conference offered to provide Pastor Panjaitan with a motorcycle. Pastor Panjaitan responded that he appreciated the conference’s offer, but asked, “How can I visit my members riding on a motorcycle, while many of them live in humble dwellings and do not possess much of the material world? I do not have the heart for it.”

Shortly after the war Pastor Panjaitan was assigned a bigger territory, to be in charge of the churches in the entire Central Java. He still refused to accept an offer to use an automobile or a motorcycle for his work, but continued using his bicycle and other public transportation to visit members and other churches.

Pastor Panjaitan’s health slowly deteriorated and he was hospitalized for several months, finally passing away at the age of 50. Not until his funeral did his family realize how many friends he had made in the city of Semarang. Old and young, common and influential people attended the funeral; a mile long procession accompanied the pastor’s body to his resting place.

Thirty years later, the pastor’s wife passed away. With her request to bury her and her dear husband in their village in Sumatra, Pastor Panjaitan’s body was exhumed and he and his wife were buried on a small hill at the village of Siabal-abal, awaiting resurrection at the Second Coming of Jesus.

It is important to mention here some of the leaders and co-workers who contributed to Pastor Panjaitan’s spiritual growth during his tenure as a faithful servant of the Lord: Pastor Munson, Pastor Zimmerman, Pastor Kime, Pastor Drinhause, Leo Hoogendorp and many others.

During his life as a minister of the Gospel, Pastor Panjaitan touched and blessed many souls. Many have gone to their resting places, but their children or grandchildren may still be alive. We will mention some of these dear people: his brother, Alex Porman Panjaitan; his brothers-in-laws, William and Pancha Tampubolon; Pastor P. R. Gultom; Pastor Karel Tambunan, grandparents of Dr. Kathleen Liwijaya Kuntaraf of the General Conference Health Department; grandmother and mother of Dr. Richard deGraaff of Alaska; parents of Leo Harriman of Big Island, Hawaii; Dr. Paul Liem of Oahu, Hawaii; Dr. and Mrs. Tauran of California; and many others in Indonesia, Europe, the United States and other places.

Pastor Panjaitan left a legacy, a model worth learning and following, and even though his lifespan was not long, it was full of exciting experiences and of saving a great number of souls for the Lord’s Kingdom. If we are faithful, we will see him again soon.

JOHN A. SIREGAR, PHD., MPH – SON-IN-LAW
ERNA E. PANJAITAN-SIREGAR, MPH – DAUGHTER

ADVENTIST WORLD RADIO – DISKUSI KOMUNIKASI DALAM KELUARGA NO 143
Oleh Nico J.J. Koroh

(Ayura) Selamat berjumpa lagi para pendengar yang kami kasihi, mudah-mudahan selalu berada dalam keadaan yang sehat walafiat dengan demikian para pendengar semua dapat mengikuti diskusi kita, dan sekarang ini saya sudah bersama dengan Pak Nico J.J.Koroh nara sumber utama kita dalam acara diskusi komunikasi keluarga ini. Apa kabar pak Nico?

(Nico) Puji Tuhan, baik sekali Ayura, terimakasih, mudah-mudahan para pendengar juga berada dalam keadaan yang sama.

(Ayura) Wah rupanya dalam komunikasi keluarga diperlukan juga kunci, dan menurut pak Nico ini salah satu kunci yang sangat penting, nah itu pak Nico kunci seperti apa kira-kira?

(Nico) Ya seperti yang saya katakan ini tentu ini hanyalah merupakan salah satu, sekali lagi salah satu kunci penting.

(Ayura) Apa rupanya yang membuat kunci ini merupakan salah satu kunci yang sangat penting pak Nico?

(Nico) Ini tentu merupakan salah satu pertanyaan yang baik sekali Ayura, nah untuk jelasnya , coba Ayura baca apa yang tertulis dalam Amsal 12: 4

(Ayura) Baik akan saya bacakan kepada para pendengar kita : Amsal 12:4, “isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.

(Nico) Nah yang anda baca barusan itu adalah Alkitab dalam terjemahan baru, coba anda baca lagi dalam ayat yang sama tapi ini dalam terjemahan sengan menggunakan bahsa sehari-hari, silahkan.

(Ayura) Ya saya akan bacakan : “Istri yang baik adalah kebanggaan dan kebahagiaan suaminya, istri yang membuat suaminya malu adalah bagaikan penyakit tulang yang menggerogoti.” Wah ini pak rupanya merupakan penjelasan sepihak, bagaimana dengan para suami pak Nico?

(Nico) Nah Ayura, ini tentunya kita batasi saja dulu pembahasan kita pada ayat yang bersangkutan sehubungan dengan tema kita dalam koridor “komunikasi keluarga” tentunya, sebab bilamana tidak pasti akan menjadi panjang ceritanya Ayura.

(Ayura) Tapi baiklah pak, sebelum kita lanjutkan, kita akan dengarkan dulu lagu selingan berikut ini

(Ayura) Baiklah pak, yang saya ingin tanyakan, mengapa sang istri yang dijadikan sasaran dan bukan sang suami pak?

(Nico) Wah kalau ini memang suatu pertanyaan sulit untuk dijawab, namun satu hal bahwa Tuhan tidak membuat diskriminasi antara pria dan wanita, apalagi antara istri dan suami karena Tuhan dan Allah kita itu kasih adanya. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa Tuhan hanya mengutamakan pria, masih banyak ayat lainnya dalam PL atau pun PB di mana Tuhan pun mengutamakan wanita. Saya kira bukan itu isu yang diangkat. Tapi bila kita kembali kepada ayat tadi di mana disebutkan bahwa “ Istri yang baik adalah kebanggaan dan kebahagiaan suaminya…….” tapi sebaliknya ayat ini memberikan gambaran betapa besarnya pengaruh seorang istri di dalam rumah tangga, apalagi dalam “komunikasi di dalam rumah tangga”

(Ayura) Kalau demikian apa rupanya pengaruh istri dalam komunikasi keluarga pak Nico?

(Nico) Sebagaimana kita ketahui bahwa komunikasi itu tidak hanya terjadi melalui ungkapan verbal atau apa yang dikatakan seseroang bukan? Lebih dari itu kita sadari bahwa tindakan seseorang akan memberikan pengaruh jauh dlebih efektif dari pada sekedar ungkapan verbal tapi justeru dalam ayat ini diangkat mengenai “istri yang baik”, jadi baik di sini bukan hanya apa yang diungkapkan tapi tindakan apa yang dilakukan seseroang sehingga ia dianggap baik.

(Ayura) Ya benar pak, saya dapat menyimak bahwa justeru tindakan seseorang yang lebih banyak berbicara daripada perkataannya bukan?

(Nico) Ya benar sekali Ayura, oleh karena itu kebaikan seseorang tidak hanya terukur oleh karena kata-katanya tetapi jauh lebih terukur adalah tindakan seseorang. Jadi itulah sebabnya barangkali dasar ungkapan dalam ayat Amsal ini bahwa “istri yang baik adalah kebanggaan suaminya.” Dan sebaliknya apabila istrinya membuat suaminya malu maka diumpamakan hal seperti itu “bagaikan penyakit tulang yang menggerogoti.”

(Ayura) Tapi kan pak Nico bisa juga hal seperti ini terjadi sebaliknya bukan?

(Nico) Itu sudah tentu Ayura, kembali lagi bahwa sebenarnya ayat dalam Amsal tadi tentu tidak hanya ditujukan kepada suami tetapi juga kepada sang istri, tetapi ayat ini sebenarnya kita tidak dapat memisahkan antara suami dan istri, sebab yang menjadi isu di sini bukan hanya perilaku istri, teapi yang yang menjadi tujuan sebenarnya adalah istri dan suami sebagai satu keluarga.Kalau kita perhatikan seperti apa yang ditulis dalam terjemahan pertama bahwa “isteri yang cakap adalah mahkota suaminya”kalau saya boleh bertanya Ayura mahkota itu dipakai dibagian mana dari tubuh kita?

(Ayura) Ya sudah tentu dipakai di atas kepala seperti sebuah topi pak dan bukan seperti sepatu.

(Nico) Benar sekali Ayura, kalau begitu suami juga harus berperan untuk menjunjung mahkota itu bukan?

(Ayura) ya benar juga pak Nico.

(Nico) Itulah sebabnya bilamana kita kaitkan dengan komunikasi dalam rumah tangga maka suami dan istri akan berperan secara sinergis agar bahtera keluarga itu dapat berlayar dengan keseimbangan yang baik bukan? Sebab tanpa keseimbangan yang baik , maka tentunya komunikasi dalam keluarga akan tidak berjalan dengan lancar, dan mungkin saja selalu ada konflik.

(Ayura) Jadi kalau demikian pak, peran istri sebagai mahkota memilki makna dan arti yang sangat mendalam begitu bukan pak Nico?

(Nico) Nah itulah yang senantiasa harus terpancar dalam hubungan suami dan istri yang terwujud dalam komunikasi dalam rumah tangga, dan wujud komunikasi yang dua arah antara suami dan istri senantiasa akan terpancar dalam komunikasi di rumah tangga.

(Ayura) Baiklah pak Nico, terimakasih atas diskusi yang sangat menarik ini, dan dari studion kami ucapkan selamat berpisah pada para pendengar kita, dan kiranya Tuhan memberkati kita semua.

Jangan iri atas keberhasilan oranglain, karena kamu tidak mengetahui apa yang telah ia korbankan untuk mencapai keberhasilannya itu.
Tuhan takkan berikan cobaan melebihi kemampuanmu. Ketika putus asa, ingatlah, jika Tuhan memberinya padamu, Dia akan membantumu melewatinya.

Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yang salah, dan teruslah melangkah.

OLEH H.M. SIAGIAN, STANMORE SDA, SYDNEY

Apa yang kaum wanita perlu tahu mengenai kaum pria?

Meskipun tidak semua pria itu sama, tetapi apa yang kita bahas di sini dapat membantu seorang istri memahami suaminya.

1. Para isteri diharapkan agar tidak menyerang suami mereka dengan ucapan-ucapan ketus, misalnya seperti ucapan: “Kamu pikir itu sikap seorang laki-laki” atau “Kamu kok tidak pernah jadi dewasa?”

Ilustrasi:

Di satu tempat ada seorang wanita yang biasa mengolok-olok suaminya. Suaminya memulai kariernya sebagai seorang petugas pemasaran untuk sebuah produk yang disukainya dan ia sangat bersemangat. Namun ketika di pulang ke rumah di malam hari, yang seharusnya dia haus akan dorongan dan semangat dari isterinya, tetapi isterinya malah menyambutnya dengan berkata, “Bagaimana keadaan si anak jenius malam ini? Apakah kamu membawa pulang komisi, atau cuma petunjuk dari manajer pemasaran?. Saya kira kamu tahu kalau minggu depan kita harus bayar uang sewa rumah?”. Saudaraku,…Bertahun-tahun isterinya melakukan hal ini, namun meskipun istrinya itu terus saja mengejek, dia tetap maju dengan kemampuan yang luar bisa. Sehingga tibalah saatnya dia mendapat promosi untuk menjadi wakil direktur eksekutip pada sebuah perusahaan nasional yang terkenal. Lalu setelah itu bagaimana tentang istrinya?. Sang suami kemudian menceraikannya dan menikahi wanita lain yang mau memberikan kepadanya segenap dukungan yang tidak diberikan oleh istri pertamanya. Dan istrinya yang pertama itu TIDAK BISA MENGERTI mengapa dia kehilangan suaminya. Dia mengeluh kepada teman-temannya, “Jerry meninggalkan saya untuk menikah dengan wanita yang lebih muda pada waktu dia tidak membutuhkan saya lagi untuk menjadi babu. Dasar laki-laki!”,

Kelihatannya dia tidak menyadari bahwa setiap laki-laki merindukan suatu hubungan yang sangat pribadi dan akrab di mana dia dapat mencurahkan isi hati dengan bebas dan aman. Dia memimpikan keintiman seperti ini dan sangat kecewa kalau tidak menemukannya. Dia ingin menumpahkan isi hati (curhat), hal-hal yang dia tidak ceritakan kepada orang lain.

2. Kebutuhan pria akan persahabatan dan perhatian di luar rumah. Hal ini disebutkan dengan istilah: “jangkauan keluar”.

Karena dengan demikian hal itu akan menyediakan tempat baginya untuk meluapkan kekecewaan dan rasa tidak puas.

3. Prioritas seorang pria mengutamakan pekerjaannya kalau ingin sukses.
4. Seorang pria juga memiliki dorongan alami untuk mengejar kedudukan dan status. Jadi seorang pria bekerja keras bukan hanya untuk mencari uang. Kebanyakan wanita tidak memahami hal ini. Seorang pria akan lebih mudah memenuhi kebutuhan istrinya dan merasa lebih bahagia serta lebih romantis apabila dia merasa dirinya sukses.
5. Menyambut suami dengan sikap manis. Dr.Anna K.Daniels, seorang penasihat pernikahan dan penulis mengatakan, “Menyambut di rumah dengan sikap manis adalah hal terbaik yang dapat dilakukan seorang wanita.”

Seorang istri bersaksi seperti ini: “Kalaupun saya terpaksa harus meninggalkan tugas-tugas lain, saya selalu mencari waktu untuk mandi agar segar dan berdandan sebelum suami saya pulang. Saya sadar bahwa suasana hati saya yang lebih penting dari apa pun.”. Ini tentu adalah merupakan nasihat yang bagus. Karena apa?. Karena seorang wanita yang memperbaiki dandanannya dan mengenakan pakaian yang feminin akan mendapatkan seorang suami yang selalu ingin pulang ke rumah pada waktunya setiap sore.
Kebanyakan pria ingin menikmati saat yang tenang setelah sibuk sepanjang hari. Kalau seandainya masih punya anak-anak kecil memang sulit melakukan hal ini, namun mereka bisa disuruh untuk membereskan mainan mereka, sementara anak-anak yang sudah besar mengerjakan pekerjaan rumah (PR) mereka.
Tetapi ketika Anda menyambutnya di pintu, jangan langsung melapor tentang kenakalan anak-anak atau mengenai tagihan. Seorang pria dapat mengatasi persoalan ini dengan lebih baik setelah sedikit melepaskan lelah. Jika Anda mengetahui bahwa suami Anda baru mengalami hari yang sial, lebih baik tunda dulu sesuatu berita buruk sampai lain waktu.

6. Seorang pria memerlukan tempat yang tenang untuk mengumpulkan kembali semangatnya. Yang penting adalah suasana di dalam rumah, bukan meja tamu yang mengkilap atau dekorasi yang indah, melainkan suasana di dalam rumah yakni kadar ketenangan dan kehangatan yang ada. Seorang istri akan mengetahui bahwa musik yang lembut dapat mengurangi ketegangan, menghilangkan rasa cemas, menghilangkan kebosanan, dan membantu pencernaan.
7. Seorang suami membutuhkan dukungan dari istrinya apabila dia menghadapi tekanan, kekalutan, depresi dan kekecewaan dalam bisnisnya/pekerjaannya untuk mencari nafkah. Pria memerlukan seorang wanita yang berada pada posisi untuk memberi dukungan moril kepada suaminya selama masa kekecewaan ini.

Namun perlu kita ketahui, yang diperlukan bukan seorang yang mampu memberikan saran-saran atau seseorang dengan segala macam jalan keluarnya. Apa yang seorang pria inginkan bila dia mengalami suatu masalah adalah TELINGA yang mau mengerti. Dia menginginkan seseorang kepada siapa dia bisa berterus terang tanpa disela, seseorang yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian dan perasaan. Seorang istri yang mempunyai segala jawaban membuat suaminya merasa tidak nyaman, rendah diri, dan tidak dibutuhkan. Jika suami Anda mengalami suatu masalah dan ingin membicarakannya dengan anda, berilah dia kehangatan dan kelembutan. Sikap Anda yang mau memahami dan mendengarkan akan membuat dia tahu bahwa Anda peduli kepadanya.

Kalau dia tidak ingin membicarakan kesulitannya, jangan paksakan. Mungkin dia berusaha menyembunyikan beberapa kegagalan dari Anda. Kalau dia tetap kecewa untuk beberapa saat, terimalah keadaan itu. Berilah sebanyak mungkin waktu yang dia perlukan untuk mengatasi masalahnya, dan besarkan hatinya dengan penghargaan, dukungan, dan keyakinan akan kemampuannya. Ingatlah,..seorang pria membutuhkan seorang istri yang mau mengerti dirinya. Tidak perlu dia harus menguasai semua seluk-beluk persoalan, tapi sekadar telinga yang simpatik terhadap kebutuhannya pada saat itu.

Kesimpulan:

Doa Francis dari Assisi : “Tuhan,..karuniakanlah kepadaku kemauan untuk berusaha lebih….MENGERTI daripada DIMENGERTI.
Inilah yang menjadi tujuan masing-masing pasangan. Tujuan seperti ini dalam pernikahan akan dapat mencegah kesalahpahaman dari kedua pasangan. Tidak boleh hanya sang suami sendiri yang menuntut agar istrinya belajar untuk mengerti suaminya, tentu sang suami juga harus belajar untuk mengerti akan istrinya. Kebutuhan untuk SALING MENGERTI antara pasangan nikah adalah sangat penting diterapkan dalam kehidupan kita.
Suami dan istri harus bercita-cita untuk mempelajari sepenuhnya apa yang disukai dan tidak disukai pasangannya, apa yang cicemaskan, yang dikhawatirkan, yang diimpikan, yang diyakini, dan mengapa dia merasa seperti itu.

DAFTAR PUSTAKA
– Pelt van Nancy, The Compleat Marriage (terj.) Bandung: Indonesia
Publishing House, 2006.

PAHLAWAN TEORI PENCIPTAAN

OLEH: SAM KAMUH, TK NEW ENGLAND

Saat ini kita akan teruskan mempelajari panggilan surgawi yang terakhir kepada umat manusia diatas dunia ini, yang terdapat di dalam Wahyu 14:6-12. Inilah yang disebut sebagai “Pekabaran Tiga Malaikat”.

Banyak orang Kristen yang tidak mengenal istilah ini, padahal pekabaran ini ada dijantung buku Wahyu dan ditujukan kepada umat manusia yang bersiap bagi kedatangan-Nya. Pekabaran yang berisikan Injil yang Kekal yaitu: Penghakiman, Penyembahan kepada Pencipta, Babel, Binatang, Tanda Binatang, Pentingnya memelihara 10 Perintah Allah dan Senantiasa mengikuti Yesus Kristus.

Perdebatan antara teori evolusi dan teori penciptaan terjadi diseluruh dunia selama bertahun-tahun hingga saat ini. Menurut teori ini, nenek moyang kita berasal dari kera. Teori ini pula mengatakan bahwa galaksi kita ini pada awalnya terbentuk dari sebuah ledakan atau yang kita kenal sebagai teori Big Bang. Apakah ini semua benar? Mari kita lihat apa yang sebenarnya dikatakan oleh Alkitab tentang hal ini. Pekabaran Malaikat Pertama akan menjawab pertanyaan diatas. Allah mau agar kita kembali kepada kebenaran Alkitab dan bukan percaya kepada teori manusia.

Mari kita baca Wahyu 14:7. dan ia berseru dengan suara nyaring: “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.”
Jelas sekali Allah mau agar kita berbalik dari teori evolusi dan percaya bahwa Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan semua kehidupan didalamnya. Dan Dia mau agar pekabaran ini disampaikan secara nyaring ke seluruh dunia.

Coba bayangkan bila typhoon yang pekan lalu menghantam Filipina, datang dan menimpa junkyard yang penuh dengan ribuan bangkai mobil bekas. Tiba-tiba, sesaat kemudian, terbentuklah pesawat Boeing 747 yang siap untuk tinggal landas! Percayakah saudara akan hal ini? Inilah logika dibalik teori Big Bang! Benar-benar absurd, tidak masuk akal, namun dipercayai oleh sebagian besar ahli-ahli ilmu pengetahuan alam!

Nah, coba pikirkan yang satu ini, kalau memang manusia berasal dari kera, mengapa kera masih juga eksis? Bukankah kera-kera itu seharusnya punah oleh karena evolusi metamorfosis sel kera yang bertransformasi menjadi sel manusia?

Kalau manusia terlanjur percaya kepada teori-teori ini, maka saya yakin, mereka tidak akan percaya adanya Allah Pencipta, bila hal ini benar, tentunya mereka tidak memiliki harapan akan masa depan, karena sudah tentu mereka tidak percaya adanya surga. Dengan demikian mereka juga tidak akan percaya dengan janji hidup yang kekal dan karena tidak lagi memiliki tujuan dan pengharapan dalam hidup, pada akhirnya mereka akan stress dan depresi. Inilah sebetulnya tujuan Setan, secara perlahan membawa manusia kepada kematian kekal!

Kembali ke teori kera, kalau mereka percaya asal-usul manusia berasal dari kera, yah..bertingkahlah seperti binatang, tidak perlu ada standar moral, tidak ada batas kebaikan dan kejahatanan yang akan membuat hilangnya kesadaran akan pertanggung-jawaban pada masa penghakiman nanti. Sadarkah kita bahwa ini adalah situasi dan kondisi manusia pada saat ini? Tidak bisa dipungkiri, konspirasi Setan tampaknya sangat sukses menipu manusia tanpa mereka sadari! Di sinilah Pekabaran Malaikat yang Pertama, yang terdapat di dalam Wahyu 14:7, menjadi sangat krusial untuk diperhatikan! Pekabaran ini berlawanan dengan terori-teori diatas, memperingatkan kita bahwa ada pertanggung-jawaban pada masa penghakiman oleh karena kita semua adalah ciptaan-Nya! Pada saat yang sama, Allah menawarkan kesempatan bagi kita untuk bertobat, bila kita mau, ada Juruselamat yang siap mengampuni, menolong dan mengubahkan kita agar kita bisa hidup sejalan dengan standar moral Allah, yaitu Injil Kekal Yesus Kristus.

Dalam Wahyu 4:11 Allah menegaskan bahwa Dia adalah Pencipta, Dialah yang menciptakan langit dan bumi. Tidak mungkin sebuah sel inti manusia yang sangat kompleks dalam fungsinya, berevolusi hanya oleh karena terjadi begitu saja.
Mari kita lihat secara lebih mendalam lagi tentang Pekabaran Malaikat Pertama ini. Hal yang akan kami sampaikan berikut ini adalah penemuan yang jarang dikhotbahkan. Coba kita baca Wahyu 14:7, lalu baca ayat 12, lalu buka dan baca Kel. 20:8-11, apa yang bisa saudara simpulkan di sini? Catat ini, kedua ayat sebelumnya (Wahyu 14:7,12) dikutip dari keluaran 20:8-11! Ini adalah Hukum ke-IV dari 10 Hukum Moral Allah, yang diberikan Tuhan kepada Musa di bukit Sinai! Apa artinya ini? Artinya adalah, Sabat Hari Ketujuh adalah tanda/hari peringatan yang harus kita sucikan, agar kita tidak lupa, tidak ditipu, tidak hanyut oleh doktrin-doktrin dan teori-teori palsu. Penyucian Sabat Hari Ketujuh adalah perintah Allah bagi kita ciptaan-Nya agar kita senantiasa menyadari dan mengingat bahwa Allahlah yang menciptakan langit, bumi dan semua kehidupan didalamnya, termasuk kita.

Melalui Pekabaran Tiga Malaikat ini, Allah mau agar manusia menyembah-Nya oleh karena Dia adalah pencipta mereka, melalui penyucian Sabat Hari Ketujuh. Ini adalah pekabaran akhir zaman, pekabaran menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali, pekabaran yang sangat relevan dengan kita yang hidup pada hari-hari terakhir menjelang kedatangan Yesus yang kedua kali. Allah mau agar kita berpaling dari teori evolusi, kembali kepada teori penciptaan. Allah mau agar manusia menyembah Dia dengan mengatakan bahwa ada 1 hari khusus yang perlu disucikan untuk menyembah-Nya. Kalau pemujua teori evolusi memiliki pahlawan, yaitu Darwin, maka Alkitab memiliki pahlawan, yaitu Sabat Hari Ketujuh.
Pernahkah Saudara renungkan mengapa ada 7 hari dalam sepekan? Itu berasal dari Alkitab, di mana Allah menciptakan langit dan bumi dan segala kehidupan selama 6 hari, lalu berhenti dan menyucikan hari yang ketujuh.

Kalau saudara pelajari Alkitab dengan baik, Sabat hari Ketujuh adalah tanda dan jawaban terhadap semua debat penciptaan evolusi, karena sabat menunjuk kepada Dia, Pencipta langit dan bumi. Kalau saja semua percaya pada Sabat Hari Ketujuh, maka tidak akan ada teori evolusi, tidak ada teori manusia berasal dari kera, tidak ada teori Big Bang, melainkan kita semua sadar bahwa kita berada di dunia ini oleh karena kita diciptakan oleh Allah menurut peta dan teladan-Nya sendiri, pada hari ke 6 dari rangkaian 6 hari penciptaan, lalu Allah berhenti pada hari yang ketujuh. Itulah Pekabaran Malaikat yang Pertama yang terdapat dalam Wahyu 14:6,7 yang harus disampaikan dengan nyaring sebelum kedatangan Yesus Kristus.

WAHYU 14:7
….dan ia berseru dengan suara nyaring: “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.”

JANGAN PERNAH PUTUS ASA!

1 Korintus 16:9
“sebab di sini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang.”

J
ikalau saja Kolonel Sanders menyerah dan tidak berusaha lagi, nama KFC tidak mungkin kita kenal saat ini. Jika saja, para atlit olahraga malas dan tidak melatih ketrampilannya karena dia menganggap dia tidak berbakat, maka dia hanya berada di belakang panggung. Jika saja kita berhenti berusaha, maka apa yang sudah kita kerjakan menjadi sia-sia.

Di dunia ini banyak halangan, rintangan, alasan, sebut saja yang kita suka yang menyebabkan kita ingin menyerah dan berhenti berusaha menggapai sesuatu. Kita mulai berpikir semua yang kita lakukan sia-sia.

Mungkin ada yang berusaha sekuat tenaga meraih prestasi namun tidak pernah di lima besar. Ada yang mungkin bekerja membanting tulang tapi tetap merasa kekurangan. Ada juga yang ingin bahagia namun kenapa sepertinya punya pasangan yang salah. Ada pula yang bermaksud mencari pasangan hidup, namun sampai sekarang belum menemukannya.

Paulus sendiri optimis tetap tinggal di Efesus sampai hari raya Pentakosta karena dia merasa bahwa ada banyak kesempatan baginya di sana. Meskipun banyak juga penentang, tapi dia merasa bahwa dia harus mengambil kesempatan yang ada tersebut. Seperti itu jugalah kita seharusnya.

Semuanya itu membuat frustasi meningkat, namun jangan pernah menyerah. Berikan satu kesempatan lagi bagi diri sendiri untuk berusaha lebih baik lagi. Berikan satu kesempatan untuk mulai menggali potensi diri. Berikan satu kesempatan untuk tampil yang terbaik. Jika satu kesempatan ini gagal, berikan lagi satu kesempatan lagi pada diri Anda.
Selamat menyambut Hari Sabat. Tetaplah Semangat dan Berdoa!

Tuhan memberkati kita.

LORAN NAPITUPULU

Aneka Berita Kadnet, 29 Nov

PERTAMA DALAM SEJARAH, MAJELIS JEMAAT DOAKAN KAPOLRES

DILAPORKAN OLEH: DALE SOMPOTAN, TK MADIUN

MADIUN [KADNET] – Pada Hari Jumat tanggal 15 Nopember 2013 Jam 14.00 – 15.00 WIB Majelis GMAHK Kalasan Madiun melakukan doa dan perlawatan di rumah dinas Bpk Kapolres Madiun Kota AKBP ANOM WIBOWO, S.I.K, M.Si, di Jl. Tangkuban Perahu Madiun, adapun perwakilan Majelis yang ikut dalam pelaksanaan giat dimaksud Pdt. Dale Sompotan, Ibu Suprihatin Bambang (Ketua Jemaat 1), Bpk. Yonathan Triwidiarso, S.E. (Ketua Jemaat 2), Ibu Eni Kristan, S.Pd (Sekretaris), Ibu Ririn Yonathan, S.E. (Bendahara 1), Ibu Endang Sukesi, S.Pd (Bendahara 2), Ibu Debby Sompotan Muntu (Ketua BWA), Bpk. Ir. Cahyono Jinarwan (Departemen Penginjilan), Ibu Ramini (Departemen SSA).

Kegiatan yang dilakukan pada saat itu : diawali dengan Bpk. Yonathan Triwidiarso selaku Ketua Jemaat menjelaskan tentang maksud dan tujuan kedatangan dari Perwakilan Majelis GMAHK Kalasan Madiun ke rumah dinas Bpk Kapolres Madiun Kota AKBP ANOM WIBOWO, S.I.K, M.Si. yaitu mengucapkan terima kasih kepada Bpk Kapolres Madiun Kota AKBP ANOM WIBOWO, S.I.K, M.Si yang telah hadir didalam pentahbisan Gereja Gracia di Karang Rejo Magetan dan kehadiran Kapolres Madiun Kota AKBP ANOM WIBOWO, S.I.K, M.Si didalam acara Ibadah Sabat Keluarga di GMAHK Kalasan Madiun serta melaksanakan ibadah dan doa bersama dalam rangka pengamanan kegiatan Suran Agung Pencak silat Setia Hati Winongo (di mana diketahui bahwa dalam setiap tahun Pencak silat ini menyelenggarakan budaya Suran Agung pasti menimbulkan korban Harta benda dan jiwa).

Dan setelah itu Bpk. Yonathan memperkenalkan seluruh Perwakilan Majelis GMAHK Kalasan Madiun kepada Bpk. Kapolres Madiun Kota, dan Bapak Kapolres Madiun Kota memberikan apresiasi bahwa GMAHK Kalasan Madiun adalah gereja yang besar penuh dengan rahmat dan kuasa dalam doa, dan pak Kapolres juga mengucapkan terima kasih atas dukungan doa yang selama ini didoakan Jemaat GMAHK Kalasan Madiun dan selalu dijawab oleh Tuhan itu terbukti sudah ada 2 (Dua) event besar seperti Pilkada Kota Madiun dan kegiatan budaya 1 Muharam Kota Madiun dapat terlaksana dengan aman dan lancar itu semua karena kuasa Tuhan Yesus melalui doa dan tuntutan dari roh kudus ujarnya.

Setelah selesai itu Perwakilan Majelis GMAHK Kalasan Madiun berdoa bersama Bpk. Kapolres Madiun Kota dan setelah itu Ibu Suprihatin Bambang memberikan kenang-kenangan berupa buku kepada Bpk. Kapolres Madiun Kota, dengan adanya perlawatan dan doa bersama Bapak Kapolres Madiun Kota merasa senang dan diberkati oleh Tuhan Yesus.

.
ANN – 29 NOVEMBER 2013

AT FIRST RETENTION SUMMIT, LEADERS LOOK AT REALITY OF CHURCH EXODUS
1 IN 3 MEMBERS LOST OVER PAST 50 YEARS; PERSONAL SUPPORT IS KEY WAY TO HELP MEMBERS
November 19, 2013 | Silver Spring, Maryland, United States | Author: Ansel Oliver/ANN

Adventist Researcher Monte Sahlin speaks at the Summit on Nurture and Retention, Monday, November 18 at the Adventist Church’s world headquarters. More than 100 attendees examined data on why members leave the church, as well as how a focus on discipleship is key to keep members from slipping out the back door. [photo: Ansel Oliver]

The first global summit focusing on Seventh-day Adventist Church membership retention is revealing the rate and reasons members slip out the back door. It’s the first time the matter has been spotlighted in such a major way, prompting church leaders to renew their emphasis on making fruitful and growing disciples of Christ.

The Adventist world church, now with nearly 18 million members, has lost at least 1 in 3 Seventh-day Adventist members in the last 50 years, according to summit organizers. Also, in this century, the ratio of people lost versus new converts is 43 per 100.

“These figures are too high,” said David Trim, director of the Office of Archives, Statistics and Research. “There’s a theological point to this and it’s that God’s mission is to seek the lost.”

For three days this week, 100 attendees from six continents have gathered at the denomination’s world headquarters for the Summit on Nurture and Retention to examine data, which is offering a clearer picture of trends beyond long-held assumptions gained from anecdotal evidence.

Veteran Adventist Church researcher Monte Sahlin said the reasons people drop out of church often have less to do with what the church does and its doctrines than with problems people experience in their personal lives—marital conflict or unemployment, for example. What the church does that contributes to the problem, he said, is not helping people through their tough life experiences.

“The notion of people dropping out because of something the church does or a doctrinal disagreement is not apparent in the data,” Sahlin said. “It’s been shown that a member of a church board is just as likely to disagree with one of the church’s 28 Fundamental Beliefs as someone who’s been disfellowshiped.”

Several presentations showed that the Adventist Church has learned how to better conduct more realistic outreach by learning from past examples. When the Soviet Union collapsed in 1991, many Adventist groups sponsored extravagant evangelism events—complete with mass choirs and large, multi-screen presentations. But while many sponsoring organizations were eager for the once-in-a-generation chance, many newly baptized converts joined the church thinking it was their ticket to gaining their own wealth. The church there lacked a long-term strategy and denominational infrastructure, and most of those new converts soon stopped attending church.

One presentation revealed that in South Africa, the rate of accession of new members had slowed, but membership had significantly increased due to retention. That fact prompted Harald Wollan, an associate executive secretary of the Adventist world church, to suggest to the group that future evangelism efforts should focus on nurturing members.

“What if the church used some evangelism funds for our own members’ care? We might see a similar increase in numbers,” Wollan said.

“We will have to do that,” responded Adventist world church Vice President Armando Miranda, who was chairing the afternoon session.

One delegate, Jimmy V. Adil, from the Philippines, asked why conferences feel pressure to increase membership, often from the parent unions, whom he said feel pressure from the divisions. He asked if the world headquarters was exerting pressure for growth.

Adventist Church Executive Secretary G. T. Ng replied, “There’s no pressure for growth. Do we pressure a papaya tree to produce? … If so, we may stunt its growth.”

Trim, the research director, said the problem, though, is common in some regions. On Tuesday, he revealed that 30 percent of church clerks in one particular division had been pressured to inflate baptismal numbers. “It’s a sin to lie about anything in the Adventist Church, but for some reason, too many people think it’s OK to lie about membership numbers,” Trim said.

Increasing membership audits by divisions are combating incidences of membership inflation in some regions. Trim said several regions have made the audits a priority, including South America, Southeast Asia and West Africa.

“Accurate membership records: that’s a secretary’s contribution to [the church’s current focus on] Revival and Reformation,” said Onalapo Ajibade, secretary for the West-Central Africa Division, based in Abidjan, Ivory Coast. “We must have accuracy. God cannot bless a lie.”

On the meeting sidelines, the youngest attendee, Cheryl Simpson, said she was encouraged by the summit because she said it showed church leaders wanted to encourage young adults like her.

Simpson, who is a senior psychology student at Andrews University in Berrien Springs, Michigan, United States, said she was glad that church leaders were willing to look at reality.

“For me, this is essential because it’s showing me that theologians aren’t afraid to face the facts,” Simpson said.

U.S. FEDERAL JUDGE STRIKES DOWN LAW GIVING CLERGY TAX-FREE HOUSING ALLOWANCE
RULE PENDING APPEAL—ADVENTIST CHURCH WILL LIKELY FILE FRIEND OF COURT BRIEF
November 26, 2013 | Silver Spring, Maryland, United States | Author: Ansel Oliver/ANN

U.S. federal judge strikes down law giving clergy tax-free housing allowance
A U.S. federal judge in Wisconsin ruled that the “parsonage exemption” for clergy is unconstitutional. Her decision is pending appeal. Above, the parsonage of the First Methodist Church in Monroe, Wisconsin. [photo: James Steakley/Wikimedia Commons]

A United States federal judge last week ruled that the clergy exemption for paying taxes on income designated for housing is unconstitutional, a ruling that if upheld could affect the compensation package of tens of thousands of clergy in the country.

In her decision, U.S. District Court Judge Barbara Crabb said the law, known as the “parsonage exemption,” benefits “religious persons and no one else, even though doing so is not necessary to alleviate a special burden on religious exercise.”

The exemption for clergy, she wrote, violated the Establishment Clause of the First Amendment, which prohibits Congress from making a law “respecting an establishment of religion.”

Crabb said her ruling would not be enforced pending appeal.

Her decision is the result of a suit brought by the Wisconsin-based Freedom From Religion Foundation, which advocates for the separation of church and state. The foundation sued the U.S. Treasury secretary and Internal Revenue Service commissioner over the exemption, which was passed by Congress in 1954. Section 107 of the Internal Revenue Code permits a “minister of the gospel” to designate some compensation as a housing allowance and exempt it from income tax.

“This ruling is a huge deal because it would have a dramatic impact in how the church compensates its ministers,” said Tom Wetmore, associate general counsel for the Seventh-day Adventist Church. “We have long depended on this tax benefit for the compensation package for our clergy in North America.”

The after-tax benefit to Adventist ministers is estimated between 5 and 10 percent of their total compensation package, he said.

Wetmore said the ruling also raises questions about other aspects of the tax status of ministers and other unique tax rules for churches, such as exemptions from reporting revenue activities and church benefit plans.

The case is expected to be appealed to the 7th U.S Circuit Court of Appeals in Chicago. If so, Wetmore said the Adventist Church would likely file an amicus brief (friend of the court) or join an amicus brief brought by other groups.

NEW DOCUMENTARY EXPLORES HOLISTIC ‘BLUEPRINT’ OF ADVENTIST EDUCATION
FILMMAKER DOBLMEIER FIRST PROFILED ADVENTISTS IN 2010
November 26, 2013 | Silver Spring, Maryland, United States | Author: Elizabeth Lechleitner/ANN

New documentary explores holistic ‘blueprint’ of Adventist education

Isai Bautista couldn’t read a word—“nada,” he says—when he transferred to the Bronx-Manhattan Seventh-day Adventist School in the third grade. Now he’s graduating from eighth grade with honors, thanks, in part, to a dedicated teacher who worked with him every day after school.

“She’s like a second mom to me,” Bautista says.

Isai Bautista graduates from the Bronx-Manhattan Seventh-day Adventist School with high honors after transferring to the school as a third grader who couldn’t read.

The Bronx-Manhattan Adventist School is one of eight Adventist schools across North America that independent filmmaker Martin Doblmeier profiles in his latest documentary, “The Blueprint: The Story of Adventist Education,” now available on DVD.

“The blueprint” can be traced back to Adventist Church co-founder Ellen G. White, who, in the mid-19th century, introduced the concept of holistic education—mental, physical, social and spiritual health coupled with intellectual growth and service to humanity.

Today, the Adventist Church operates the second largest faith-based school system in the world.

On location in Holbrook, Arizona, Doblmeier explores how the Holbrook Indian School—an Adventist boarding school on the nearby Navaho Indian reservation—teaches students to find value and self worth in their identity as Native Americans and children of God. Many of the students come from abusive, broken homes in a community fraught with unemployment, drug abuse and gangs.

“I want to help them figure out that they are not less than everybody else,” says Vice Principle Jovanna Poor Bear-Adams, who herself grew up on the reservation and battled feelings of inadequacy.

At schools from Holbrook to the Columbine Christian School in Durango, Colorado, students share certain characteristics that correlate with high achievement, the documentary reveals—these traits include reading for pleasure, having positive relationships and getting good nutrition and adequate sleep. Students also identify themselves as spiritual.

Still, a decline in enrollment at some Adventist church schools has led some parents to question whether Adventist education can still deliver quality academics, says Elissa Kido, who directed CognitiveGenesis, a survey of more than 50,000 students at 800 Adventist schools across the U.S., Canada and Bermuda.

At the nine-student Pinon Hills School in Farmington, New Mexico, Doblmeier addresses the challenge of multi-grade classrooms.

“There’s been a cultural change in the Adventist Church. Forty years ago, if you were an Adventist family, it was almost a scandal if you didn’t send your children to the local Adventist school,” says Blake Jones, pastor of the Pinon Hills Adventist Church.

“That’s not the case today,” he adds. Half of Pinon Hills’ operating budget goes to supporting the school.

At Spencerville Adventist Academy in Maryland, students score in the 80 to 90th percentile. “The Blueprint” makes the case that Spencerville is the rule, not the exception. CognitiveGenesis revealed that Adventist students outperform the national average in all grades, all subjects and regardless of class size.

“There’s no academic advantage in going to a large school,” says Lisa Beardley-Hardy, Education director for the Adventist world church.

At Loma Linda Academy in California, Doblmeier reports that students at Adventist schools score “considerably” above the national average in science, despite critics who have questioned whether good science can be taught in the context of creationism.

“We have found that we’re able to develop our students into critical thinkers—good scientists with good scientific method—who also understand the paradigm of how you can be a good scientist and be a believer in God,” says Robert Skoretz, principal of Loma Linda Academy.

Doblmeier explores another hallmark of Adventist education at Oakwood Adventist Academy in Alabama. One of the school’s core values is community service. The school holds regular community service days, during which students distribute food, clothes and other supplies.

“Students begin building habits early in life, and if we want to prepare them for a lifetime of service and involvement in their communities, we have to start early. It’s part of our curriculum,” says Sharon Lewis, principal of Oakwood Academy.

Back at the Bronx-Manhattan Adventist School, teachers say that the key to successful education is the home, school and church working together.

“Not many people from my neighborhood make it successfully,” Bautista says, “but I really think I’m going to make it.”

“The Blueprint” is the latest of Doblmeier’s more than 25 award-winning films on religion, faith and spirituality, which include “Bonhoeffer,” a documentary on Nazi resister Dietrich Bonhoeffer, and “Albert Schweitzer: Called to Africa,” a film recounting the Nobel Prize-winning humanitarian’s life.

Doblmeier first profiled Adventists in a 2010 documentary tracing the roots of the denomination’s health message and ministry in North America. In May, he released “The Adventists 2,” exploring the philosophy and legacy of the church’s international health and humanitarian outreach.

Leave a Reply