Bagaimana Seharusnya Kita Memanggil Nama Tuhan? How Should We Address God?

Saat ini banyak orang Kristen yang menuntut untuk hanya memakai nama Ibrani “Yahweh” bagi Allah Bapa dan “Yeshua” (Yahshua) untuk Yesus.
Beberapa orang berpendapat bahwa kita mencemarkan nama Allah ketika menggunakan istilah Tuhan, Allah, dan Yesus dalam doa dan pembicaraan kita. Mereka menegaskan bahwa kita harus menggunakan hanya istilah Ibrani: Yahweh (untuk menunjuk Allah Bapa) dan Yashua (Yesus). Sangat disayangkan bahwa hal seperti ini harus menjadi kontroversi! Apakah tuntutan ini memiliki dasar?
Jika salah untuk merujuk sang Juruselamat sebagai Yesus, maka semua rasul penulis Perjanjian Baru bersalah. Tak satu pun dari mereka yang pernah menggunakan Yeshua (atau Yahshua). Sebaliknya, mereka berkhotbah dan menulis dengan menggunakan nama Tuhan Yesus (Kurios Iesous) dan beberapa variasi istilah tersebut (lihat Kisah Para Rasul 16:31; 1 Thess.1:. 1, Phil 3:8).
Banyak orang sekarang ini bersikeras menggunakan nama Yahwe secara eksklusif, namun di masa lalu, orang-orang Yahudi menolak untuk mengucapkannya, karena mereka takut mencemarkan kekudusan nama Allah! Alkitab Ibrani kuno hanyalah berisi huruf konsonan, pembacalah yang melengkapi kata-katanya dengan huruf vokal yang tepat. Sudah menjadi kebiasaan untuk menggunakan kata lain, biasanya ‘Adonai (“Tuhan”), setiap kali pembaca tiba pada kata YHWH, nama Allah. Oleh karena nama ini semakin lama semakin tidak dilafalkan, pengucapannya yang benar akhirnya terlupakan.
Pada abad ke ketujuh atau kedelapan, ketika bahasa Ibrani tampaknya akan punah sebagai bahasa lisan, sarjana-sarjana Yahudi (Masoretes), menciptakan sebuah sistem huruf vokal yang disisipkan pada teks yang hanya terdiri dari huruf konsonan saja. Namun mereka tetap tunduk pada kebiasaan untuk tidak mengucapkan kata Allah “YHWH”, dengan menambahkan huruf hidup (yang diambil dari kata Adonai) pada ke-empat konsonannya. Kombinasi yang tidak pas ini, memperingatkan pembaca orang Yahudi untuk mengatakan ‘Adonai’ pada saat tiba pada kata “YHWH”. Namun hal ini membingungkan penerjemah bahasa Inggris pada abad kedua belas dan seterusnya, yang kemudian, dari latar belakang pengaturan ini, menciptakan nama Jehovah, yang hingga saat ini terus tercetak dalam Alkitab kita.
Sarjana-sarjana modern kemudian berkesimpulan bahwa nama Allah harus diucapkan Yahweh, tetapi bukti-bukti dokumentasi pendukungnya, masih kurang. Apakah seorang Kristen, oleh karena alasan itu, mencemarkan nama Allah, jika ia tidak setiap saat menggunakan istilah Yahweh? Bukan saja berdasarkan sejarah, pengucapan kata itu sudah terlupakan, tetapi rekomendasi pengucapannya saat ini hanyalah berupa asumsi yang belum benar terbukti, meskipun memberi harapan. Jawabannya tentu menjadi jelas bagi kita.
Istilah Yahweh itu sendiri tampaknya diambil dari kata kerja bahasa Ibrani yang menggambarkan Tuhan sebagai “Oknum Abadi”, “Eksis dengan Sendirinya”, “Oknum Kekal,” atau “Oknum Mandiri”. Apakah istilah ini haruslah merupakan satu-satunya nama yang orang Kristen gunakan untuk Tuhan? Dalam Alkitab, Allah memiliki banyak nama dan gelar, masing-masing menggambarkan aspek yang berbeda dari karakter-Nya. Tidak ada satu istilah yang pas yang dapat meringkaskan karakter Allah, yang secara manusia tidak mampu kita pahami secara utuh. Selanjutnya, nama-nama dan gelar-gelar ini, sering digunakan secara bergantian dalam ayat-ayat Alkitab.
Meskipun Yahweh adalah salah satu nama yang paling umum digunakan dalam Perjanjian Lama (muncul lebih dari 6.800 kali), Allah sendiri menyebut diri-Nya dengan nama lain: misalnya, ‘El Shaddai (“Tuhan Yang Maha Kuasa,” Kejadian 17:1) , atau hanya ‘El atau’ Elohim (“Tuhan,” chap 31:13;. Yes 46:9;.. Maz 46:10). Para penerjemah Alkitab orang Yahudi yang menerjemahkan Alkitab bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani (versi Septuaginta, abad ketiga hingga abad kedua SM) menyebutkan istilah-istilah ini dengan kata Yunani “Theos”, dan empat huruf nama YHWH dengan “Kurios”, istilah yang mereka pandang setara dan sesuai dalam bahasa tersebut. Penerjemah bahasa Inggris menggunakan nama Allah untuk ‘Elohim termasuk bentuk-bentuk lain yang terkait, dan Tuhan untuk YHWH.

Berbagai Nama Allah

Bangsa Israel menggunakan berbagai nama untuk Allah dalam doa-doa mereka tanpa takut mendapatkan hukuman dari Allah. Misalnya, dalam Mazmur 59 Daud menyebut nama Allah sebagai ‘Elohim (“Allah,” ayat 1, 5, 9, 10, 13, 17), dan Yahweh (“Tuhan,” ayat 3, 8), dan sebagai Yahweh’ Elohim (“Tuhan Allah,” ayat 5). Dalam Perjanjian Baru para rasul mengikuti kebiasaan yang diadopsi oleh para penerjemah Yahudi Septuaginta dan menggunakan Kurios untuk Yahweh. Mereka tidak berusaha untuk “memperbaiki” Septuaginta dengan menggantikan Yahweh untuk Kurios. Misalnya, ketika Paulus mengutip Mazmur 117:1 (“pujilah Tuhan [YHWH], semua bangsa”) untuk orang Kristen di Roma, ia menulis, “Pujilah Tuhan [Kurios], semua bangsa-bangsa kafir” (Roma 15:11).
Yesus, teladan kita, tidak berpikir bahwa adalah hal yang tidak pantas untuk menyebut nama Allah dengan nama lain selain Yahweh. Teriakan-Nya di kayu salib, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani … Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Markus 15:34), ini diucapkan dalam bahasa Aramaic. Eloi adalah transliterasi bahasa Yunani dari kata Aramaic “Elahi”, sinonim dengan istilah bahasa Ibrani “Eli” dalam Mazmur 22:1, dimana tampak kata-kata putus asa itu. Juruselamat bisa saja berteriak, “Yahweh, Yahweh”-tapi Dia tidak melakukannya.
Yesus sering mengacu Allah sebagai Bapa-Nya. Untuk penyebutan ini, Dia menggunakan kata Aramaic “Abba” (“Bapa,” Markus 14:36). Sebagai tambahan dari kebiasaan panggilan terhormat-Nya, Kristus mengajarkan semua pengikut-Nya, tentang bagaimana memanggil nama Tuhan: “Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu” (Matius 6:9).
Pada satu kesempatan Yesus mengutip kitab nabi Yesaya: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (Matius 15:8). Jadi, pada saat kita menghampiri Allah, pengucapan kata tertentu pada bibir kita ternyata tidaklah sepenting hati kita, apakah kita mau untuk dituntun? Dan dari diri kita, apakah kita penuh dengan kerendahan hati?
How Should We Address God?
The author responds to the claim that we should address God the Father and Jesus only by their Hebrew names Yahweh and Yeshua (Yahshua).
Some people today argue that Christians profane the name of the Deity when they employ the terms Lord; God; and Jesus in prayer and speech. They assert that we should use only the Hebrew terms: Yahweh (to designate God the Father) and Yashua (for Jesus). How unfortunate that such distortions of the facts should become an issue in any Christian congregation! Is there any validity to the claim?
If it is wrong to refer to the Saviour as Jesus, then all the apostolic writers of the New Testament stand indicted. None of them ever use Yeshûa’ (or Yahshûa’ as some choose to spell the name). On the contrary, they preached and wrote in the name of the Lord Jesus (KuriosIēsous) or some variation of that expression (see Acts 16:31; 1 Thess.1:1;Phil. 3:8).
In regard to use of the name Yahweh, times change. While some now insist on using this name exclusively, in the past Jews refused to pronounce it lest they should thus profane the sacred name! The ancient Hebrew Bible contained only consonants; the reader supplied the correct vowels. It became customary to substitute another word, usually ’Adonai (“Lord”), whenever the reader came to the name YHWH for the Deity. Since the name ceased to be expressed audibly, its correct pronunciation was eventually forgotten.
In the seventh or eighth centuries A.D., when Hebrew appeared to be dying out as a spoken language, Jewish scholars (Masoretes) invented a system of written vowels that they inscribed with the consonantal text. They preserved this curious custom of not pronouncingYHWH by adding to its four consonants the vowels from the word ’Adonai. This improper combination alerted Jewish readers to say ’Adonai at those points. However, it confused English translators from the twelfth century A.D. onward, who “invented” from this arrangement the name Jehovah, which continues to be printed in our common Bibles to this day.
Modern scholars conjecture that the name should be pronounced Yahweh, but conclusive documentary evidence is still lacking. Is a Christian, therefore, profaning the name of God if he does not at all times use a term for which not only the pronunciation was forgotten but the current vocalization is still an unconfinned assumption, although fairly certain? The answer seems obvious.
The term Yahweh appears to have been derived from the Hebrew verb to be, describing God as “the Eternal One,” “the Self-existing One,” “the One who lives eternally,” or possibly “the Self-sufficient One.” Is this the only name Christians should use for God? In the Bible the Deity has many names and titles, each one describing a different aspect of His character. No one term can encompass the incomprehensible One. Furthermore, these names and titles are often used interchangeably in Scripture.
Although Yahweh is one of the more commonly used names in the Old Testament (appearing more than 6,800 times), even the Deity refers to Himself by other names: for example, ’El Shaddai (“Almighty God,” Gen. 17:1), or simply ’El or ’Elohîm (“God,” chap. 31:13; Isa. 46:9; Ps. 46:10). The Jewish translators of the Hebrew Bible into Greek (the Septuagint version, third to second centuries B.C.) rendered these terms with the Greek word Theos, and the four-letter name YHWH with Kurios, terms they viewed as suitable equivalents in that language. English translators use the name God for ’Elohîm and its related forms, and Lord for YHWH.

Variety of names
The Israelites used a variety of names for God in their prayers without any fear of divine condemnation. For example, in Psalm 59 David addresses the Deity as ’ElohÎm (“God,” verses 1, 5, 9, 10, 13, 17), as Yahweh (“Lord,” verses 3, 8), and as Yahweh ’Elohîm (“Lord God,” verse 5). In the New Testament the apostles follow the custom adopted by the Jewish translators of the Septuagint and use Kurios as the equivalent of Yahweh. They make no attempt to “correct” the Septuagint by substituting Yahweh for the translator’s Kurios. For example, when Paul cites Psalm 117:1 (“O praise the Lord [YHWH], all ye nations”) for his Christian friends in Rome, he writes, “Praise the Lord [Kurios], all ye Gentiles” (Rom.15:11).
Jesus, our example, did not think it inappropriate to address the Deity by names other thanYahweh. His cry on the cross, “Eloi, Eloi, lama sabachthani? . . . My God, my God, why hast thou forsaken me?” (Mark 15:34), was in Aramaic. Eloi is a Greek transliteration of the Aramaic ’Elahî, the equivalent of the Hebrew Eli of Psalm 22:1, which His despairing words reflected. The Saviour could have cried, “Yahweh, Yahweh “—but He did not.
Jesus commonly referred to God as His Father. For this designation He apparently used the Aramaic word Abba (“Father,” Mark 14:36). In addition to His own reverent practice, Christ taught His followers for all time how to address God: “After this manner therefore pray ye: Our Father which art in heaven, Hallowed by thy name” (Matt. 6:9).
On one occasion Jesus cited the prophet Isaiah: “this people draweth nigh unto me with their mouth, and honoureth me with their lips; but their heart is far from me” (chap. 15:8). Evidently when we approach God, the specific syllable on our lips is not nearly as important as the humble, teachable attitude of our heart.

Oleh: Frank B. Holbrook

Leave a Reply