Adoniram Judson dan Penginjilan di Birma

Adoniram Judson adalah seorang Misionaris Amerika Serikat pertama yang melayani ke luar negeri. Sejak usia 3 tahun, Adoniram telah memperlihatkan bakat dan potensi luar biasa, ia sudah bisa membaca tulisan. Adoniram mengungguli anak-anak sebayanya, ia selalu menjadi juara di kelasnya.
Ayah Adoniram menginginkan anaknya menjadi seorang hamba Tuhan. Ya, anak-anak terbaik, putera dan puteri terbaik lah yang dipilih untuk menjadi hamba Tuhan. Ini mungkin berbeda dengan apa yang kita temukan di lapangan. Beberapa kali saya bertemu dengan pendeta, berbincang-bincang tentang latar belakangnya “kenapa dia memilih menjadi hamba Tuhan?”. Pendeta itu berkata, sebenarnya orang tua ingin menyekolahkannya di Fakultas Teknik, Fakultas Kedokteran atau Fakultas Ekonomi, tetapi sayang tidak lolos tes. Akhirnya ada oom yang mengusulkan agar ia masuk “sekolah pendeta”. Rupanya, persyaratan masuk Sekolah Tinggi Teologia (STT) lebih mudah. Pada kesempatan lain, ada lagi seorang pendeta yang dimasukkan orang tuanya ke STT karena ia adalah anak nakal dan bandel suka ngerecokin di rumah. Karena nakal, masuk sekolah pendeta. Ini tentu saja salah kaprah, yang terbaik lah yang dipersembahkan kepada Tuhan, seperti yang diinginkan ayahanda Adoniram.
Tetapi, ketika Adoiram Judson masuk perguruan tinggi, sikapnya berubah total. Ia tertarik dengan kegiatan politik, gerakan perjuangan pemuda, dan berteman karib dengan seorang aktifis yang dikaguminya, bernama Ernest. Ernest seorang ateis, jago pidato yang mampu membakar semangat. Adoniram banyak dipengaruhi oleh Ernest. Adoniram pun menjadi seorang Atheis, tidak percaya Tuhan.
Ketika ayahnya mencoba menariknya kembali ke jalan yang benar, Adoniram dengan gampang mematahkan argumentasi yang disampaikan oleh ayahnya. Memang ia seorang jago debat, ia bisa mendebat ayahnya. Tetapi syukurlah ia tidak bisa mendebat ibunya karena ibunya berbicara dengan air mata dan berkata “Adoniram dengarkanlah ayahmu”.
Pada suatu hari ia melakukan perjalanan ke kota lain dengan naik kuda. Karena hari sudah malam ia berhenti disebuah penginapan. Pemilik penginapan minta maaf karena semua kamar penuh terisi, hanya ada satu kamar kosong, tetapi disebelahnya ada seorang yang sedang sakit keras, suka mengerang dan barangkali mengganggu.
Adoniram mengatakan: “Tidak masalah dengan orang sakit disebelah saya, saya seorang ateis, saya tidak takut melihat orang mati”. Ia mengambil kamar itu dan beristirahat. Disebelahnya terdengar erangan-erangan kesakitan. Menjelang pagi erangan itu semakin lemah dan semakin lemah, akhirnya hilang sama sekali.
Ketika bangun, ia penasaran ingin tahu apa yang terjadi dengan orang sakit di kamar sebelah. Pengurus penginapan berkata: “Orang itu sudah meninggal”. Adoniram bertanya: “Siapakah orang yang meninggal itu?”. Pengurus penginapan itu berkata, namanya Ernest, dari perguruan tinggi dimana Adoniram kuliah. Ernest terperanjat! Ia tidak menduga, orang yang dikaguminya selama ini, mati dengan cara seperti itu, kesakitan dan mengerang. Kejadian ini lah yang dipakai Tuhan untuk memutar balik kembali sikap Adoniram.
Ia kemudian mengikuti kuliah di sebuah STT dan menyelesaikannya dengan baik. Sebuah kerja pelayanan di Gereja Boston telah menantinya. Ibu dan saudara Adoniram senang, sekarang mereka dapat melayani Tuhan bersama-sama. Tentu saja mereka terkejut, ketika Adoniram mengatakan: “Tempat ku bukan disini, panggilanku adalah memberitakan Injil di negeri-negeri yang masih dalam kegelapan”.
Adoniram menikah dengan seorang gadis cantik bernama Anna, putri dari seorang diaken. 13 hari sesudah pernikahannya dalam tahun 1812, Adoniram masih berusia 25 tahun, berangkat berlayar selama 4 bulan ke India bersama isterinya. Ternyata pelayanan di India tertutup bagi mereka, Tuhan mengarahkan-Nya untuk berangkat berlayar ke Birma. Di negeri ini, mulai lah perjalanan panjang pelayanan penginjilan Adoniram beserta dengan Isterinya.
Sebagai seorang asing mereka tidak mengerti bahasa Birma, mereka belajar dari nol. Kecerdasan Adoniram dan isterinya membuat mereka bisa mempelajari bahasa asing yang sulit itu dan mulai menejemahkan Alkitab ke dalam bahasa Birma sedikit demi sedikit.
Kehidupan di Birma, daerah tropis, sangatlah berbeda dengan kehidupan 4 musim di Amerika Serikat. Budaya sangat berbeda, jauh pula dari sanak keluarga.
Ketika mulai bisa berbahasa Birma, mereka mengabarkan Injil di kota Rangoon, sekarang namanya Yangon. Setahun, dua tahun, tiga tahun belum ada satu jiwa pun yang berhasil dimenangkan. Organisasi pengutus di Amerika Serikat mulai bertanya: “Bagaimana prospek memenangkan jiwa di Birma?”. Adoniram menjawab: “Prospeknya cerah seperti dinyatakan oleh firman Tuhan”.
Orang Birma pertama yang dimenangkan, yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat-nya terjadi dalam tahun 1819, enam tahun sesudah Adoniram dan isterinya menginjakkan kaki di Birma. Kalau seandainya organisasi penginjilan yang mengutus hanya bekerja atas dasar target, kalau tidak ada hasil dalam dua tahun penginjilan diberhentikan, maka mungkin tidak ada jiwa yang dimenangkan di Birma dan mungkin tidak ada pula jiwa yang dimenangkan di India, karena William Carrie melayani selama tujuh tahun baru ada seorang India yang bertobat.
Tahun 1824 pecah perang antara Birma dengan Inggris, akibatnya orang-orang kulit putih ditangkap, mereka ditempatkan dalam satu ruangan yang dihuni oleh puluhan orang. Keadaan penjara sungguh tidak manusiawi dan penyiksaan-penyiksaan terjadi. Ketika Adoniram dipenjara, isterinya berusaha mengunjunginya dari waktu ke waktu membawa makanan dengan cara memberi hadiah-hadiah bagi para penjaga. Pada suatu waktu, isterinya tidak mengunjungi Adoniram selama tiga minggu, ia tidak tahu apa yang terjadi. Tiga minggu kemudian isterinya muncul kembali, sekali ini membawa bayi dipangkuannya. Kelahiran bayi menjelaskan kenapa ia tidak datang selama tiga minggu.
Peperangan antara Birma dan Inggris berlangsung terus dan akhirnya kedua pihak setuju untuk mengadakan perundingan. Pihak Birma memerlukan tenaga-tenaga penerjemah. Adoniram adalah salah seorang yang dipilih oleh pemerintah Birma. Sekitar 21 bulan lamanya ia berada di penjara. Agak lama sebelum pembebasannya, isterinya Anna tidak datang menjenguk. Ketika ia tiba dirumah, didapatinya isterinya dan anaknya dalam keadaan terbaring sakit. Tahun 1826 Anna meninggal. Kehilangan ini tampaknya melebihi kemampuan Adoniram untuk menanggungnya. Anna adalah pasangan hidupnya, penopang dalam pekerjaannya, teman dalam suka dan duka.
Kehilangan ini membuat Adoniram jatuh dalam kesedihan sangat mendalam. Ia mengasingkan diri ke tengah hutan yang didiami oleh harimau-harimau, diam dalam sebuah pondok. Sekitar 40 hari lamanya ia diam di pondok itu, merenungkan kehidupannya. Sama seperti Nabi Elia, dalam Perjanjian Lama, ketika merasa tertekan ia melarikan diri keatas Gunung, Tuhan memelihara Elia dalam perjalanannya itu, Tuhan juga memelihara Adoniram ditengah hutan lebat yang berbahaya itu.
Delapan tahun sesudah kematian Anna, Adoniram dipertemukan oleh Tuhan dengan seorang janda seorang penginjil, namanya Sarah, dan mereka menikah dan punya 6 orang anak. Hampir 8 tahun Adoniram dan Sarah meneruskan pelayanan penginjilan bersama-sama. Tetapi, ketika mereka pulang ke Amerika, perjalanan panjang itu rupanya sangat meletihkan Sarah. Sarah meninggal di Amerika Serikat.
Tahun 1850 Adoniram pulang kerumah Bapa di Sorga, meninggalkan sekitar 7000 orang Birma yang sudah percaya, 63 Gereja, 123 penginjil dan pendeta.
Kehadiran Adoniram menjadi berkat bagi bangsa Birma. Berkat keselamatan adalah yang terutama, disamping itu, ia adalah orang pertama yang menerbitkan kamus bahasa Birma dan bahasa Inggris.
Adoniram melayani dan menginjili tanpa pernah mengharapkan menerima hadiah dari orang-orang lain, tetapi sesudah ia meninggal namanya di hormati di berbagai tempat. Setiap bulan Juli gereja-gereja baptis di Birma merayakan Judson Day, memperingati bulan kedatangan Adoniram Judson di Birma. Di dalam kampus Universitas Yangon ada rumah ibadah yang diberi nama Gereja Judson. Ditempat almamaternya di Amerika Serikat, ada sebuah gedung yang diberi nama gedung Judson.
(Pdt. Remedi)

Leave a Reply