ADVENT KERING, MENJADI MENGASIHI YESUS

February 27, 2016 - kesaksian

Ada anggapan bahwa orang yang mengenal kebenaran karena belajar Alkitab (dari denomasi atau agama lainnya yang memutuskan diri menjadi Advent) lebih kuat imannya. Dengan kata lain lebih tahan banting, ketimbang seorang Advent yang memeluk kepercayaan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK), agama warisan orang tuanya yang memang sudah dari sono-nya (Advent sejak dikandungan ibu).

Anggapan di atas benar adanya bagi seorang pemuda yang lumayan tampan yang dibesarkan di tanah Minahasa. Pengalaman pribadinya ini, berani disaksikan kepada orang lain. Menurutnya, dia adalah orang yang sangat bersyukur karena orang tuanya (khususnya sang Ibu) memang sudah Advent dan berupaya mati-matian agar anak-anak yang dikaruniakan Tuhan dalam keluarga mempertahankan iman.

Kisah yang cukup disayangkan berlaku. Meski bersekolah di sekolah gereja (SD, SMP dan SMA berlabel Advent) pemuda ini sama sekali tidak mengetahui siapa dan apakah Tuhan itu. Baginya, Tuhan itu adalah dongeng tidur. Setahunya, orang Advent tidak merokok, tidak meminum minuman keras, tidak makan makanan haram, tidak berjudi, tidak cerai, harus dibabtiskan, harus masuk gereja pada hari Sabtu, dan banyak sekali tetek bengek lainnya. Pokoknya setiap ritual keagamaannya seperti kering kerontongan. Ia tetap meyakini bahwa cuma inilah yang membedakan Advent dari golongan kristiani lainnya. Selebihnya sama saja.

Jiwa sosial sang pemuda boleh dikata sangat tinggi. Bahkan hasrat berprestasinya kental tatkala di tingkat pendidikan yang dilalui selalu mengoleksi banyak gelar terbaik, plus pimpinan bagi rekan sejawat (Ketua OSIS baik di SMP maupun SMA). Tapi perkembangan di masa muda tetap membuatnya penasaran, apakah jiwanya selamat atau tidak, jika dunia ini benar-benar kiamat karena Isa Almaseh (Yesus Kristus) sebagai Imam Mahdi –sesuai yang dibacanya, itu datang kembali.

Pemuda ini, bertanya dalam hati saat menyaksikan tiga anak muda rekannya di sekolah (SMA) : Febri Hanafi, Hendra Intadja, dan mendiang Roy Nawawi, yang membentuk kelompok belajar buku-buku rohani yang ukurannya relatif besar dan tebal, dipandu oleh seorang guru Mata Pelajaran Biologi (Frederik Waworuntu). Di benak pemuda ini, teman-teman pemudanya terlalu mengada-ada. Lebay istilahnya sekarang. Masak buku yang tebal yang selalu dibawa-bawa saat istirahat (bersenang) mampu dibaca dan didiskusikan. Ternyata perasaan mencela ini justru kian memupuk rasa penasaran.

Ketika sibuk-sibuknya menjalin pergaulan dengan teman sekolah, tiba-tiba datang seorang pria paroh baya (Mr. Legi –ayahanda Delisa Legi), yang tanpa tendeng aling-aling, menawarkan buku-buku rohani yang sementara dijual. Lelaki ini ternyata adalah penjual buku yang langsung menyodorkan buku-buku tebal lainnya. Sedikit kikuk, sang pemuda spekulasi manyatakan bahwa dia tidak mungkin membaca buku-buku setebal ratusan halaman. Karenanya sang penjual ujung-ujungnya menawarkan buku tipis berukuran kecil. Sang pemuda merasa harganya cocok dan terjangkau, akhirnya langsung membeli buku ‘Seruan Nyaring’, dengan maksud hanya untuk menghargai penawaran dari si penjual.

Sambil lalu, buku kecil itu dibaca saat ada jam pelajaran lowong, termasuk bila di rumah tidak ada kesibukan. Anehnya, buku kecil itu berhasil menambah rasa penasaran si pemuda yang akhirnya mau dan beraksi membaca buku-buku yang tebal (seri Alva dan Omega saat ini) seperti ‘Tulisan-Tulisan Permulaan’ sampai ‘Kemenangan Akhir’. Lebih ‘wah’ lagi, buku suci Alkitab yang super tebal, dibabat habis sang pemuda.

Dari mencela, penasaran sampai membaca habis, ternyata membuat perubahan pemahaman bagi si pemuda yang bersiap mengikuti ujian akhir di tingkat SMA. Pemuda tersebut jadi yakin seyakin-yakinnya bahwa dia telah mengalami pertemuan pribadi dengan Tuhan Pencipta Semesta Alam.

Kalau sebelumnya hari Sabat dianggap sebagai ritual rutin semata yang tak ada manfaat lebih, justru sekarang terbalik. Sang pemuda sangat bersukacita pada hari Jumat (hari Persiapan) karena Sabat itu hampir tiba. Ditarik oleh kuasa roh kudus, pemuda itu percaya bahwa dirinya menyucikan hari Sabat karena mengasihi Kristus. Dia tidak merokok karena mengasihi Kristus yang lebih dahulu mengasihinya. Dia tidak menerima ini dan itu (tawaran dunia), karena pengenalan pribadinya dengan Juruselamat. Pemuda itu adalah Jeinner Jenry Rawungdad profesi deh. Pernah diterbitkan REBUSKA dan Group Facebook : BERITA ADVENT TERCEPAT. jenrywaldo@yahoo.com

Comments

  1. Djoly Haryono says:

    Sangat menguatkan dan mencerahkan. Sabat itu nikmat@@@@

  2. s says:

    amazing revival testimony!!

Leave a Reply