Advent Agama Sempit dan Penuh Larangan?

bk-ccj

Salah satu keluhan yang paling sering dan salah yang orang buat terhadap agama adalah terlalu banyaknya larangan. Di zaman yang serba bebas ini, dimana semua penekanannya adalah “urus diri Anda sendiri.” Sebuah sikap tanpa alasan yang jelas dari diri sendiri telah berkembang. Sikap ini telah merasuk pada agama. Anggota dan bukan anggota gereja tampaknya berada pada jalan yang sama: sebuah agama yang tidak turut campur dengan hak dan kebebasan pribadi. Kecurigaan langsung timbul terhadap ajaran-ajaran yang meminta “penyerahan” dalam bentuk apapun.

Seiring semangat kebebasan ini menguat, banyak anggota gereja telah menjadi semakin kritis dengan standard rohani yang tinggi yang dimiliki gereja. Tentunya karena malu oleh jurang perbedaan yang semakin mencolok antara gereja dan dunia, dan sungkannya menerima pandangan sebagai kaum minoritas yang “berbeda”, para anggota ini mencari pembenaran kompromi mereka dalam hal standard kekristenan. Mereka seringkali berdalih bahwa pandangan ajaran gereja sempit dan legalistik dan banyak orang baik menjadi sungkan bergabung dengan gereja karena “peraturan yang tidak pada zamannya ini.”

Kalau keluhan ini valid, maka beberapa perubahan dasar tentunya perlu dibuat dalam ajaran gereja. Kalau hal itu tidak valid maka kita sungguh perlu tahu bagaimana untuk mempersembahkan standard tindakan Kristen sesuai dasar Alkitabiah yang benar. Dengan kata lain kita harus tahu pasti apakah aturan-aturan ini dibuat oleh Tuhan atau oleh gereja. Kita juga perlu mencari tahu apakah itu larangan yang sewenang-sewenang atau peraturan penuh kasih dari Tuhan untuk kebahagiaan kita sendiri.

Bertentangan dengan pemberontakan umum terhadap hukum absolut apapun mengenai sikap pribadi, kita harus menyadari fakta Alkitabiah tentang kehidupan kekristenan secara umum, dan moral khususnya. Seberapa sesuaikah permintaan modern untuk kebebasan pribadi ini dengan standard firman Tuhan? Anggaplah bahwa posisi Alkitabiah yang sesungguhnya dapat dihadirkan dengan segenap kasih dan ajakan dari seorang malaikat dari surga. Akankah dengan demikian kebenaran menjadi mudah diterima siapapun?

Mari kita hadapi ini. Bahwa jalan menuju hidup kekal bukan sebuah jalan yang mudah dan penuh keindahan. Yesus menekankan hal ini pada banyak ayat sehingga kita tidak bisa menutup mata untuknya. Dia katakan, “karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Matius 7:14). Satu dari prinsip utama sebagai seorang Kristen adalah penyangkalan diri. Kristus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23). Untuk menjadi seorang Kristen itu termasuk penyerahan sepenuhnya. Tuhan kita dalam perumpamaan mutiara dan si pedagang menyatakan bahwa kita harus bersedia menginvestasikan setiap hal yang kita punya guna mendapatkan upah luar biasa yaitu kehidupan kekal. Kalau kita izinkan ada satu hal atau seseorang menghalangi kita melakukan kehendak Kristus, kita tidak dapat diselamatkan.

Apakah kita bersalah karena mengurangi harga pemuridan sehingga orang tidak akan merasa bahwa jalan itu begitu sempit dan penuh larangan? Yesus berkata, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari seluruh miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku” (Lukas 14:33). Pemimpin muda yang kaya diberitahu Yesus bahwa dia hanya kurang satu hal dalam persiapannya untuk surga, tetapi satu hal itu dia tidak bersedia melakukannya. Dia harus menyerahkan kekayaannya agar boleh diselamatkan, tetapi dia tidak bersedia menyerahkannya. Dia mengasihi sesuatu lebih dari kasihnya kepada Tuhannya, dan dia pergi dengan bersedih hati dan kehilangan keselamatan. Posisi dari Kristus dalam hal ini sangat kuat, bahkan Dia sampai berkata, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku” (Matius 10:37).

Saya percaya kita harus mencari cara yang paling baik, taktis dan mengasihi untuk menghadirkan persyaratan dari Kristus pada tiap pria dan wanita. Tapi saya juga percaya bahwa itu tidak akan membuat perbedaan, bagaimanapun itu dihadirkan kalau pribadi itu tidak mempunyai kasih bagi Tuhan Yesus. Kesalahannya bukan terletak pada pekabarannya, beberapa kesalahan ada oleh sebab cara si pembicara membawakannya, tetapi kebanyakan itu terletak pada sikap dari orang Kristen mengeluh yang suka berontak terhadap kebenaran karena itu memerlukan sebuah derajat penyangkalan diri.

Izinkan saya ilustrasikan bagaimana perasaan dan sikap pribadi dapat membuat semua perbedaan dalam dunia ini. Pernikahan adalah pengalaman yang paling banyak larangan yang manusia dapat masuki secara sukarela di dunia ini, disamping komitmen rohaninya kepada Kristus. Si pria berjanji untuk menyerahkan banyak keterikatan dan kelakuannya di masa lalu. Dia serahkan kebebasannya untuk mengencani wanita lain dan dengan serius mengikatkan dirinya pada dia dan yang satu-satunya sepanjang sisa hidupnya. Si mempelai juga membuat janji larangan yang serupa, setuju untuk menyingkirkan semua yang lain yang mana dia berdedikasi kepada pria pendampingnya. Janji pernikahan tidak diragukan lagi ada di antara komitmen yang paling sempit, dan kaku yang siapapun dapat buat dalam hidupnya. Kalau larangan dan peraturan-peraturan adalah penyebab begitu banyaknya penderitaan, maka pernikahan seharusnya menjadi pengalaman yang paling menyedihkan dan tidak membahagiakan untuk jadi pusat perhatian. Tetapi tidak demikian! Hal itu adalah peristiwa yang paling membahagiakan. Kenapa demikian? Kenapa si mempelai begitu berseri-seri saat dia berdiri untuk menyerahkan hidupnya yang paling berharga pada sang mempelai pria? Bagaimana bisa si pria begitu berseri-seri untuk membuat janji yang akan menghambat aktivitasnya sepanjang sisa hidupnya? Jawabannya sederhana. Mereka saling mengasihi satu sama lain. Adalah sikap dan perasaan mereka satu sama lain yang membuat larangan itu sebuah sukacita untuk diterima.

Pernahkan kalian mendengar seorang pengantin mengeluh setelah perayaan? Mungkin tidak seorangpun pernah mendengar dia mengungkapkan dengan pahitnya, “sekarang saya tidak dapat berkencan dengan Jim dan Andy lagi. Ini tidak adil. Negara memaksa saya untuk setia pada suami saya. Pernikahan ini terlalu banyak larangan.” Tidak, kalian belum pernah mendengar hal itu. Opini umum siap menghakimi sang mempelai wanita jika dia berzinah, tetapi dia bahkan tidak memikirkan sebuah kemungkinan seperti itu. Dia dalam keadaan jatuh cinta, dan kasih merubah segalanya. Dia tidak jadi setia karena takut akan hukuman atau cemoohan. Dia setia karena dia ingin menyukakan hati orang yang sangat dia kasihi.

Pria dan wanita yang paling menyedihkan di dunia ini adalah mereka yang telah menikah dan tidak lagi saling mengasihi. Ini hampir menjadi neraka di muka bumi. Mereka jengkel dan mengeluh mengenai larangan-larangan dan peraturan-peraturan yang diberlakukan bagi mereka. Sama halnya, anggota gereja yang paling tidak berbahagia di seluruh dunia adalah mereka yang menikah dengan Kristus lewat baptisan, tetapi tidak mengasihi-Nya. Mereka seringkali dengan pahitnya menyalahkan gereja dan pengajarnya karena memberlakukan pada mereka agama yang sempit dan penuh larangan.

Tetapi apakah agama ataukah pendetanya yang bersalah? Kenyataan menyedihkannya adalah bahwa orang-orang itu tidak pernah memasuki hubungan kasih pribadi yang menjadi batu landasan dari semua agama yang sejati. Banyak dari mereka telah belajar ayat yang benar untuk panduan pendalaman Alkitab dan cukup mampu menjelaskan urutan peristiwa akhir zaman, tetapi mereka tidak mempunyai hubungan pribadi dengan Yesus Kristus. Pada titik tertentu atau semua titik, sepanjang garis pengajaran mereka tidak diajar atau tidak memilih untuk menerima, dasar sejati dari agama yang bersumber dari hati. Bahwa itu bukanlah sebuah set peraturan atau sebuah daftar pengajaran, tetapi sebuah keterikatan pribadi yang dalam sebuah hubungan kasih dengan manusia itu Yesus Kristus.

Permasalahan dengan jutaan umat Kristen adalah motif mereka menjadi anggota gereja. Mereka punya agama hanya untuk lolos dari api siksaan. Mereka lakukan beberapa hal hanya karena mereka takut akan api yang ada di ujung jalan. Mereka melayani Tuhan dengan ketakutan karena takut dengan pikiran akan dilemparkan ke lautan api. Tidak heran mereka berwajah muram dan menyedihkan! Sungguh sebuah penyimpangan kebenaran! Orang Kristen seharusnya menjadi orang yang paling bahagia di dunia – lebih berbahagia bahkan daripada pasangan baru seiring mereka usai pemberkatan gereja! Umat Kristen seharusnya lebih mengasihi Tuhan daripada dia mengasihi istri dan keluarganya sendiri.

Apakah Anda pikir sebuah rumah tangga dapat bahagia kalau sang istri menyiapkan suaminya makanan kesukaannya setiap hari karena dia takut diceraikan olehnya? Hubungan dunia akan runtuh dibawah tekanan ini. Dia menyiapkan makanan itu karena dia mengasihi suaminya dan ingin menyukakan hatinya. Saat ulang tahun istrinya mendekat seorang suami Kristen yang pengasih seringkali memperhatikan dan mendengarkan akan apa yang istrinya ingin miliki. Dan biasanya dia tidak perlu mengatakannya langsung supaya sang suami tahu! Dia akan dengan senang hati membelikan dia sebuah hadiah karena dia mengasihinya dan ingin menyenangkan hatinya. Sama halnya orang Kristen akan menyelidiki Alkitab setiap hari untuk menemukan cara untuk menyukakan hati Tuhan. Dia secara terus-menerus akan mencari tanda-tanda dan indikasi bagaimana menyenangkan Dia yang paling dikasihinya. Pada terjemahan Alkitab abad ke-20 an kita baca firman, “dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan” (Efesus 5:10). Sungguh sebuah moto yang seharusnya dimiliki setiap orang Kristen! Sungguh ini adalah sebuah kerinduan utama dari mereka yang mengasihi Tuhan dengan tulus. Tidak heran Kristus menyimpulkan loh hukum pertama dengan perkataan ini: “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama” (Matius 22:37-38).

Alasan nyata kenapa beberapa orang Kristen mengerutu dan mengeluh mengenai peraturan dan disiplin itu adalah karena mereka hanya beragama untuk membuat mereka menderita. Pandangan pengalaman hidup kekristenan mereka didasarkan pada pergumulan konstan untuk mematuhi peraturan-peraturan – sebuah usaha untuk memelihara hukum. Tentunya tidak ada yang salah dengan mematuhi perintah-perintah Tuhan seperti halnya seorang suami mematuhi aturan untuk mendukung istrinya. Tetapi apabila persyaratan hukum itu adalah satu-satunya alasan untuk mematuhinya, maka ada sesuatu yang salah dengan menjadi orang Kristen dan suami yang demikian. Kasih mengangkat beban hukum itu dan merubahnya menjadi sebuah sukacita apa yang dapat menjadi beban dan tekanan.

Seorang ibu dari tiga anak laki-lakinya mempunyai sebuah pergumulan berat mencoba memberlakukan aturan kerapian dan kebersihan. Seperti halnya anak kecil lainnya, ketiga anak ini menolak peraturan untuk membersihkan telinga, menyisir rambut dan menyemir sepatunya. Itu adalah sebuah pertempuran tiap hari yang sang ibu menangkan hanya lewat perpanjangan lengan kewenangan dan paksaan. Tetapi suatu hari anak lelaki tertuanya, di usia awal belasannya, keluar kamarnya terlihat rapi tanpa cacat cela. Setiap helai rambutnya seakan pada posisinya yang tepat, dan sepatunya terlihat mengkilat sempurna. Si ibu hampir pingsan. Betapa susah untuk menekan kekagetan dan kebahagiaannya, dia dengan bijak memutuskan untuk menunggu dan melihat jawaban dari titik perubahan ini.

Jawaban dari teka-teki ini tidak lama lagi akan muncul. Besoknya si ibu mengetahui bahwa sebuah keluarga baru, baru saja pindah ke kompleks itu, dan ada seorang gadis dalam keluarga itu. Mungkin si gadis itu belum melihat Johnny, tetapi dia telah melihatnya dan itu telah dengan jelas mempengaruhinya. Kita tidak akan mengatakan bahwa kasihlah yang merubah sikapnya akan aturan kerapian yang baik tadi, tetapi jelasnya dia tidak melakukannya karena paksaan dari si ibu lagi.

Poinnya adalah bahwa kehidupan kekristenan bukan hanya terdiri dari daftar apa yang “boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan.” Ada larangan-larangan tentunya dalam pernikahan rohani ini, seperti halnya dalam pernikahan secara fisik. Tetapi larangan-larangan itu diberikan lewat kasih yang selalu mencari atau ingin selalu menyenangkan obyek yang dikasihi. Orang Kristen yang jatuh cinta dengan Kristus selalu bersemangat, memancarkan kesaksian bahwa ini adalah jalan kebahagiaan yang sejati. Sayangnya ada sekelompok besar dari anggota gereja yang secara menyedihkan menolak apa yang seharusnya dinikmati menjadi kebahagiaan. Mereka merasakan kepahitan dan mengeluh karena tidak dapat makan semua yang mereka suka atau berpakaian seperti mereka inginkan. Mereka menyalahkan gereja karena mereka dipaksa “menyerahkan” begitu banyak hal. Agama mereka seakan seperti seseorang dengan sakit kepalanya. Dia tidak mau memotong kepalanya, tetapi itu menyakiti dia karena terus memeliharanya. Sikap mereka yang tanpa keceriaan membuat terlihat seakan agama mereka adalah hasil dari beberapa majelis pengkhotbah muram yang tunduk padanya, termasuk semua peraturan melarang yang membuat pria, wanita dan orang muda tidak bahagia.

Tetapi apakah ini benar? Bagaimana dengan prinsip rohani yang menyusun pengajaran yang sering kita sebut standard kekristenan? Apakah ini peraturan sewenang-wenang gereja bahwa seseorang tidak seharusnya pergi ke bioskop? Apakah itu keputusan Tuhan atau keputusan manusia bahwa tarian modern tidak layak bagi seorang Kristen? Dan bagaimana dengan penggunaan kosmetik yang berwarna-warni dan perhiasan – Apakah itu berkenan atau tidak bagi Tuhan? Kebenarannya adalah tiap poin dari iman dan pengajaran kita harus berdasarkan sepenuhnya pada prinsip melakukan kehendak Tuhan seperti dinyatakan dalam Alkitab. Kasih kepada-Nya akan selalu menanyakan, Bagaimana saya dapat selalu mencoba yang terbaik untuk menyenangkan Tuhan?

Jawaban dari pertanyaan itu ditemukan dalam banyak ayat Alkitab yang memberi indikasi dan tanda-tanda yang jelas tentang bagaimana menyenangkan Dia daripada diri kita sendiri. Ini adalah satu-satunya pertanyaan relevan mengenai aktivitas atau praktek apapun; bagaimana menurut Tuhan mengenai hal itu? Tidak masalah apa yang pengkhotbah ini atau itu pikirkan, atau gereja ini atau itu percaya mengenai hal itu. Pertanyaan besar yang terpenting adalah ini: Apakah ini berkenan atau tidak berkenan bagi Tuhan? Kalau kita temukan ayat bahwa Tuhan tidak setuju, tidak seharusnya ada perdebatan lebih lanjut dalam hati seorang Kristen yang sejati. Kita sangat mengasihi-Nya sehingga tidak ingin membuatnya tidak senang. Kesukaan kita seharusnya untuk mencari dan melakukan hal-hal yang akan menyukakan Dia yang kita kasihi dan untuk melenyapkan dari hidup kita hal-hal yang tidak berkenan bagi-Nya.

Saat orang sedang jatuh cinta, mereka tidak perlu untuk saling mengancam atau memberikan ultimatum. Mereka secara terus-menerus mencari cara bagaimana menunjukkan kasih mereka dan menyenangkan satu sama lain. Mereka yang menggenapi perintah pertama dan terutama dari Kristus tidak akan merasa itu sebuah beban untuk menurut. Tuhan mencari mereka yang akan sensitif pada tanda kecil dari kehendak-Nya. Dia tidak berkenan pada mereka yang secara terus-menerus harus didorong masuk jalur karena takut akan hukuman. Tuhan berkata: “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. Janganlah seperti kuda atau keledai yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau” (Mazmur 32:8,9).

Banyak orang Kristen adalah pengikut dengan tali les dan kekang. Mereka hanya merespon pada ancaman-ancaman dan menurut karena takut akan hukuman. Tuhan berkata, “Aku mau agar kamu dikoreksi dengan sebuah pandangan dari Aku.” Hanya mereka yang mengasihi Dia sebagai yang terutama dan mengamati tanda dari perkenanan-Nya akan mengenali tatapan koreksi penuh kasih. Selidiki Alkitab dengan satu tujuan – untuk menemukan apa yang berkenan pada-Nya – menyusun setiap fase kehidupan selaras dengan kehendak-Nya yang telah dinyatakan karena kasih.

KOSMETIK YANG BERWARNA-WARNI DAN PERHIASAN
Dengan sedikit latar belakang akan bagaimana untuk membuat kasih menjadi faktor yang memotivasi dalam menyusun standard kekristenan, kita sekarang siap untuk mengilustrasikan bagaimana prinsip itu berlaku dalam prakteknya. Meskipun banyak standard yang diterapkan gereja dapat dipakai, mari kita pilih satu yang telah menimbulkan keluhan yang patut mendapat perhatian – kosmetik yang berwarna-warni dan perhiasan. Banyak anggota yang tulus telah mengesampingkan pemakaian dari perhiasan palsu ini “karena gereja mengatakan demikian.” Ini adalah alasan menyedihkan untuk melakukan apapun dalam kehidupan kekristenan. Berharap setelah membaca pasal ini, penjelasan mengenai peraturan gereja yang terlihat sewenang-wenang mengenai topik ini dapat memberikan jalan bagi keyakinan pribadi berdasarkan rasa kasih dan ingin menyenangkan Tuhan.

Secara berulang-ulang banyak pendeta telah berhadapan dengan pertanyaan: “Apa yang salah dengan cincin pernikahan saya yang sederhana? Apakah kamu pikir Tuhan akan membiarkan saya berada diluar surga hanya karena saya mengenakan perhiasan kecil ini?” Hati saya pribadi kecewa dan terganggu pada banyak situasi atas pendekatan negatif ini terhadap kekristenan. Tolong perhatikan apa maksud pertanyaan ini: Si penanya dengan jelas ingin tahu apa saja yang dapat dia bawa dan tetap masuk surga. Sikapnya merefleksikan sebuah keinginan legaslisme untuk melakukan hanya hal-hal yang dijelaskan sebagai “lakukan itu atau kalau tidak” hukuman ilahi.

Tetapi pendekatan ini adalah salah, salah dan salah! Orang Kristen yang sejati tidak akan bertanya, “Apalagi yang harus saya lakukan untuk tetap menjadi anak Tuhan?” akan tetapi, “apalagi yang dapat saya lakukan untuk menyenangkan hati Yesus yang kukasihi?” Ini adalah pendekatan positif berdasarkan mencari kehendak Tuhan atas pertanyaan itu dan mengasihi Dia sehingga mau menuruti kehendak-Nya seperti dinyatakan dalam Alkitab. Sekali hati yang terbuka – pikiran kasih itu diterima, yang tersisa adalah hanya menyelidiki seluruh Kitab Suci untuk mencari tanda-tanda dari kehendak Tuhan mengenai pemakaian kosmetik yang berwarna-warni dan perhiasan. Inilah yang seharusnya sekarang kita lakukan.

Dalam Kejadian 35:1-4, Yakub diberitahu Tuhan untuk membawa keluarganya ke Betel dimana mereka harus dibawa ke hadapan mezbah Tuhan. Ini adalah tempat yang sangat kudus bagi Yakub – tempat pertobatannya di masa lalunya, setelah melihat tangga surgawi dalam mimpinya. Tetapi sebelum mereka dapat dikuduskan pada tempat suci itu, Yakub berkata pada anggota keluarganya untuk “jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu” (ayat 2). Tampaknya keluarganya telah mengadopsi beberapa kebiasaan bangsa kafir sementara mereka menunggu di tanah itu. Ada beberapa obyek yang harus disingkirkan sebelum mereka datang ke mezbah, karena hal-hal itu adalah obyek kekafiran. Tolong perhatikan dalam ayat 4 apa saja obyek-obyek ini: “Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem.” Dalam Hakim-hakim 8:24, kita diberitahu secara jelas bahwa anting-anting dikenakan oleh mereka orang Ismael. Konteksnya secara kuat menandakan bahwa mereka mengenakan perhiasan sebagai tanda kermurtadan mereka dari Tuhan yang benar. Kejadian 34 menyatakan bahwa putra-putra Yakub melakukan beberapa dosa berat, dan Yakub datang ke hadapan Tuhan untuk membuat sebuah pendamaian serius bagi mereka dan keluarganya. Ini adalah sebuah masa untuk menyelidiki hati dan bertobat. Semuanya harus dilakukan untuk menebus kesalahan dan membuka jalan agar berkat Tuhan boleh datang atas mereka. Kebiasaan mengenakan perhiasan bangsa kafir diserahkan, bersama dengan dewa-dewa asing. Anting-anting tersebut disingkirkan.

Pada situasi yang sama sebuah reformasi juga terjadi dalam Keluaran 33:1-6. Sebuah kemurtadan telah berkembang dalam pasal sebelumnya sementara Musa di gunung menerima Sepuluh Perintah. Sebagian besar bangsa Israel telah menyembah lembu emas, membawa tulah dan kehancuran yang mengancam bangsa tersebut. Musa memanggil mereka untuk bertobat dengan perkataan ini: “”Baktikanlah dirimu mulai hari ini kepada TUHAN, masing-masing dengan membayarkan jiwa anaknya laki-laki dan saudaranya–yakni supaya kamu diberi berkat pada hari ini” (Keluaran 32:29).

Di pasal berikutnya, Musa naik ke atas untuk memohon pada Tuhan bagi kaumnya, yang masih mengenakan riasan bangsa kafir semenjak hari pesta pora dan penuh dosa itu. Instruksi yang Tuhan berikan untuk pemulihan Israel termasuk sebuah perubahan berpakaian, seperti halnya dalam kasus Yakub dan keluarganya (Kejadian 35:2). Tuhan berfirman: “”Katakanlah kepada orang Israel: Kamu ini bangsa yang tegar tengkuk. Jika Aku berjalan di tengah-tengahmu sesaatpun, tentulah Aku akan membinasakan kamu. Oleh sebab itu, tanggalkanlah perhiasanmu, maka Aku akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepadamu.” Demikianlah orang Israel tidak memakai perhiasan-perhiasan lagi sejak dari gunung Horeb” (Keluaran 33:5,6).

Kita tidak ditinggalkan dengan keraguann mengenai sikap Tuhan tentang pemakaian perhiasan-perhiasan tersebut. Tuhan yang tidak pernah berubah, berkata kepada mereka untuk menanggalkan hal-hal itu dan menyiapkan diri mereka sendiri untuk penghakiman, untuk menjawab atas kemurtadan mereka. Adalah lebih dari sekedar sesuatu yang menarik untuk dicatat bahwa larangan ini diberikan sehubungan dengan perjalanan mereka menuju Tanah Perjanjian. Tuhan berfirman: “Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu dan akan menghalau orang Kanaan, orang Amori,… Sebab Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu, karena engkau ini bangsa yang tegar tengkuk” (Keluaran 33:2,3). Adalah penting bahwa mereka diharuskan untuk menanggalkan perhiasan mereka sebelum mereka dapat memasuki Tanah Perjanjian. Apakah ini ada hubungannya dengan kita? Tentunya. Paulus memastikan pada kita dalam 1 Korintus 10:11 bahwa “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” Dia ibaratkan pengalaman menyebrang Laut Merah mereka sebagai baptisan di ayat 2, dan di ayat 7 dan 8 dia rujuk pengalaman kemurtadan besar dari Israel di keluaran 32, saat mereka membuat patung lembu emas mereka. Lalu segera dia jelaskan dalam ayat 11 bahwa hal-hal ini yang terjadi pada mereka adalah untuk “peringatan bagi kita.” Ini hanya berarti bahwa cara Tuhan bertindak pada mereka atas kemurtadan mereka adalah untuk mengajarkan kita sesuatu. Perintah-Nya pada mereka untuk menanggalkan perhiasan sebelum memasuki tanah Kanaan teraplikasi bagi kita sebelum memasuki Kanaan surgawi. Paralelnya sangat jelas dalam konteks tersebut.

Catatan awal menyangkut penggunaan kosmetik yang berwarna-warni ditemukan dalam 2 Raja-raja 9:30. Banyak orang mempertanyakan asal pernyataan “mewarnai mukanya seperti Izebel.” Jawabannya ditemukan dalam ayat ini: “Sampailah Yehu ke Yizreel. Ketika Izebel mendengar itu, ia mencalak matanya [disapunyalah mukanya dengan bedak – ITL], dihiasinyalah kepalanya, lalu ia menjenguk dari jendela.” Sejarah dari ratu kafir yang terkenal jahat itu, yang menghukum mati ratusan nabi Tuhan, dikenal dengan baik oleh para pelajar Alkitab. Untuk melacak asal Alkitabiah mengenai kebiasaan Izebel tentunya membuat sebuah bayangan gelap akan praktek itu. Tetapi kita akan melihat sesaat lagi bahwa penggunaan kosmetik yang berwarna-warni adalah tanda konsisten dari wanita bangsa kafir dan tidak setia sepanjang catatan Alkitab.

Lewat nabi Yesaya, Tuhan memberikan sebuah peringatan tegas tentang perhiasan yang tidak ditemukan dimanapun dalam Alkitab. Tidak di tempat lain manapun juga kita temukan sebuah wahyu perasaan Tuhan secara langsung dan tegas terhadap pemakaian perhiasan. Dalam Yesaya 3:16 Tuhan tidak mengeneralisasikan tentang perhiasan, tetapi memberi sebuah daftar panjang riasan yang dipakai oleh “wanita Sion.” Sekarang mari kita perhatikan apakah Tuhan yang sama kemarin, sekarang dan selamanya, berkenan dengan penggunaan hal-hal ini. “TUHAN berfirman: Oleh karena wanita Sion telah menjadi sombong dan telah berjalan dengan jenjang leher dan dengan main mata [bercelak matanya – ITL], berjalan dengan dibuat-buat langkahnya dan gemerencing dengan giring-giring kakinya,… Pada waktu itu Tuhan akan menjauhkan segala perhiasan mereka: gelang-gelang kaki, jamang-jamang [semacam perhiasan kepala] dan bulan-bulanan [kalung bulan – literal] ; perhiasan-perhiasan telinga, pontoh-pontoh dan kerudung-kerudung [selendang– literal]; perhiasan-perhiasan kepala, gelang-gelang rantai kaki, tali-tali pinggang, tempat-tempat wewangian dan jimat-jimat; cincin meterai [segala cincin – ITL] dan anting-anting hidung” (Yesaya 3:16-21).

Mari kita berhenti ditengah kutipan ini dan bertanya, bagaimana Tuhan akan menyingkirkan hal-hal ini? Di pasal selanjutnya ayat 4 kita baca, “apabila TUHAN telah membersihkan kekotoran puteri Sion… dengan roh yang mengadili dan yang membakar.” Jangan terlalu melewatkan bahwa Tuhan merujuk semua obyek tersebut sebagai “kekotoran.” Dia lebih lanjut menyatakan dengan gambaran jelas bahwa mereka yang melewati “pembersihan” perhiasan itu, Pada waktu itu tunas yang ditumbuhkan TUHAN akan menjadi kepermaian dan kemuliaan, dan hasil tanah menjadi kebanggaan dan kehormatan bagi orang-orang Israel yang terluput. Dan orang yang tertinggal di Sion dan yang tersisa di Yerusalem akan disebut kudus, yakni setiap orang di Yerusalem yang tercatat untuk beroleh hidup” (Yesaya 4:2,3).

Secara tegas dan jelas sang nabi menyatakan ketidakberkenanan Tuhan atas pernyataan kesombongan dalam mengenakan perhiasan. Setelah menyingkirkan perhiasan artifisial tersebut, Tuhan mengambarkan si perempuan sebagai “permai”, “kudus” dan “cantik.” Tampaknya Tuhan tidak menilai kecantikan dengan cara yang sama seperti halnya kita. Para wanita memakai berbagai perhiasan mereka untuk mempercantik diri mereka, tetapi Tuhan katakan itu sebagai kenajisan. Saat itu semua disingkirkan dia sebut mereka sebagai kehormatan dan cantik. Jangan lewatkan kepentingan terdalam dari kebenaran ini. Tuhan memakai kata “permai” untuk menggambarkan mempelai-Nya, gereja Tuhan. “Bahwa puteri Sion itu seperti taman yang permai dan seperti padang lezat” (Yeremia 6:2 – ITL).

Seakan untuk menegaskan penilaiannya atas kesombongan berlebihan yang tampak pada umat-Nya, Tuhan membuat observasi sebagai berikut: “Air muka mereka menyatakan kejahatan mereka, dan seperti orang Sodom, mereka dengan terang-terangan menyebut-nyebut dosanya, tidak lagi disembunyikannya. Celakalah orang-orang itu! Sebab mereka mendatangkan malapetaka kepada dirinya sendiri” (Yesaya 3:9). Tidak ada keraguan diizinkan tetap ada mengenai hal memalukan dari perhiasan luar.

Baik untuk jadi catatan pada titik ini bahwa Tuhan mengidentifikasi cincin sebagai bagian dari “kekotoran puteri Sion.” Jenis cincin apa yang dia bicarakan? Anak SMU akan langsung menjawab, “cincin kelas saya merupakan lambang senioritas saya. Ini tidak dipakai sebagai perhiasan. Tuhan sedang berbicara tentang cincin jenis lain “Anggota freemason akan mempertahankan cincin masoniknya dengan perkataan yang hampir sama:”. Tuhan tidak berbicara tentang cincin saya. Ini hanya lambang keanggotaan saya di loji. “Lalu ada cincin kelahiran, cincin pertunangan, dan cincin pernikahan mereka juga memiliki makna simbolis. Betapa mudahnya untuk membenarkan yang kebetulan kita pakai, dan menyatakan bahwa Tuhan tidak bicara tentang yang satu itu. Tapi bagaimana kita tahu Tuhan tidak berbicara tentang yang sedang kita pakai? Apakah tidak terlalu berlebihan untuk merasa bahwa Tuhan membuat pengecualian untuk yang kita pakai, hanya karena kita tidak ingin menyerahkannya?

Apa yang Tuhan maksudkan saat Dia mengatakan “cincin-cincin?” Apakah yang Dia maksudkan hanya beberapa jenis cincin?

Saya bertanya pada ibu saya pertanyaan serupa suatu kali. Anda lihat, dia larang saya mengambil icing (lapisan gula) apapun dari kue itu setelah beku. Saya diizinkan untuk “menjilati panci” dengan cara mengorek semua ibu sisakan di bagian bawah wadah, tapi itulah aturan di rumah bahwa saya tidak dapat mencolek bagian manapun dari kue.

Tapi suatu hari Ibu pergi ke toko dan meninggalkan saya sendirian dengan kue coklat di meja. Saya melihat lelehan icing lezat di sisi kue dan berkumpul di tepi piring. Godaan itu terlalu besar, dan segera saya colek semua yang icing berlebihan dengan jari – tapi tidak cukup cepat. Tepat saat itu juga Ibu masuk dari pintu.

Percayalah, Ibu segera menyeret saya ke kamar tidur sementara saya berusaha untuk mencegah hal yang tak terelakkan. Saya masih ingat inti perkataan saya untuk menghindari hukuman. Ibu katakan, “Sudah kubilang untuk tidak mengambil icing kue manapun.” Dengan penuh kemenangan kujawab, “Tapi ibu kamu tidak mengatakan kue coklat.”

Entah kenapa, ibu saya yang bijak tidak sedikitpun terkesan dengan jawaban logika remaja itu. Saya bertanya-tanya bagaimana itu kedengarannya di telinga Bapa Surgawi kita yang Maha bijaksana saat kita berkata, “Tapi Engkau tidak pernah mengatakan cincin kawin.” Dan itu benar. Ibu hanya berkata “kue,” dan Tuhan hanya berkata “cincin,” dan untuk berdalih atas apa spesifiknya itu adalah upaya kekanak-kanakan untuk membenarkan pelanggaran jelas kita atas kehendak Tuhan.

Biar bagaimana, untuk apa kita menyelidiki Alkitab tentang subjek itu? Bukankah kita mencoba mencari tahu bagaimana cara terbaik menyenangkan Tuhan? Kita tidak mencari cara untuk dapat berada dekat dengan apa yang menyenangkan hati-Nya. Satu-satunya tujuan kita adalah menemukan kehendak-Nya untuk dikerjakan. Kita terlalu mengasihi-Nya untuk mengambil risiko atas apa yang tidak menyenangkan-Nya. Inilah sebabnya mengapa orang Kristen sejati tidak akan berdalih atas jenis cincin apa atau mencari rasionalisasi dalam hal bertentangan dengan kehendak Tuhan. Mengesampingkan semua cincin. Bukankah itu terang-terangan jelas bahwa jika satu cincin simbolis dapat dipertahankan, maka semua cincin simbolik dapat dipertahankan? Dimanapun tidak kita temukan kisah alkitabiah untuk memakai tanda fisik dari perkawinan. Sejarah cincin kawin dicemari dengan pemujaan matahari paganism dan takhayul kepausan. Tidak satupun argumen yang diajukan mendukung yang berbobot dibandingkan dengan satu fakta besar bahwa itu tidak menyenangkan Tuhan! Orang Kristen yang duniawi bisa berpendapat itu tidaklah jelas bahwa ada seseorang yang tidak selamat karena mengenakan cincin. Tetapi orang Kristen yang mencintai Tuhan sebagai yang utama akan menjawab bahwa itu sudah cukup mengetahui bahwa itu tidak menyenangkan Sahabat kita.

Kebetulan, sejarah memberi kita gambaran yang sangat jelas tentang hubungan antara kemurtadan gereja mula-mula dan pengenalan cincin kawin. Kardinal Katolik yang terkenal John Henry Newman menggambarkannya pada tahun 1845 dalam Pembangunan buku monumental dari Christian Doctrine, hal. 373: “Konstantin, untuk merekomendasikan agama baru kepada orang kafir, mentransfer kepadanya perhiasan luar yang mana telah menjadi kebiasaan dalam hal itu sendiri. Tidaklah perlu untuk menengok subjek yang ditulis para penulis Protestan dengan tekun yang telah membuatnya akrab bagi sebagian besar kita. Penggunaan kuil, dan didedikasikan untuk orang kudus tertentu… kemenyan… lilin… air suci… prosesi… cincin dalam pernikahan, berdoa ke timur, gambar di kemudian hari… semua yang berasal dari paganisme, dan dikuduskan oleh pengadopsiannya ke dalam gereja.”

Nabi Yeremia, seperti begitu banyak penulis Perjanjian Lama lainnya, menambahkan nasihat lebih mengenai tipe orang yang memakai perhiasan buatan. Tuhan menggerakkan orang-orang kudus untuk melambangkan gereja secara nubuatan sebagai seorang wanita. Saat umat Tuhan murtad, mereka digambarkan oleh nabi sebagai pelacur atau istri yang tidak setia. Jadi kita dapati ayat seperti berikut: “Dan engkau, yang dimusnahkan, apakah yang hendak kaulakukan, mengapa engkau mengenakan pakaian kirmizi, menghiasi dirimu dengan perhiasan emas, memalit matamu dengan celak? Sia-sia engkau memperelok dirimu, pencinta-pencintamu menolak engkau, bahkan mereka ingin mencabut nyawamu” (Yeremia 4:30).

Melalui Yehezkiel, Tuhan melambangkan umat murtad Nya, Yehuda dan Israel, dengan dua pelacur bernama Ohola dan Oholiba. Deskripsi pemakaian perhiasan mereka yang jelas cocok dengan perilaku mesum mereka. “Tambahan lagi mereka meminta orang-orang datang dari tempat yang jauh dengan menyuruh suruhan memanggil mereka, dan sungguh, mereka datang. Demi kedatangan mereka engkau mandi bersih-bersih, mencalak alismu dan menghias dirimu dengan perhiasan-perhiasan”(Yehezkiel 23:40).

Hosea mengungkapkan pikiran yang sama saat ia menggambarkan kemunafikan Israel. Sekali lagi, ketidaksetiaan itu juga didramatisasi oleh seorang wanita memakai perhiasan. “Dan Aku akan menghukum dia karena hari-hari ketika dia membakar korban untuk para Baal, berhias dengan anting-antingnya dan kalungnya, dan mengikuti para kekasihnya dan melupakan Aku,” demikianlah firman TUHAN” (Hosea 2:12).

Berkali-kali, Alkitab menghubungkan memakai kosmetik warna-warni dan perhiasan dengan dosa, kemurtadan, dan kekafiran. Saat berpaling dari Tuhan mereka memakai perhiasan yang, seperti kata Yesaya, “menyatakan dosa mereka.” Tidak ada ayat yang kurang jelas menguraikan kebenaran dengan jelas dan tanpa dalih – Tuhan yang Maha Besar di surga tidak suka dengan hal-hal itu dan menggunakannya untuk melambangkan keberpalingan mereka dari kehendak-Nya.

Beralih ke Perjanjian Baru, gambar itu muncul dalam fokus yang lebih tajam. Yohanes, di kitab Wahyu, menggambarkan wanita berpakaian kirmizi yang penuh dosa (melambangkan gereja palsu) dengan “dihiasi dengan emas, permata dan mutiara, dan di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya” (Wahyu 17:4).

Sebaliknya, gereja sejati digambarkan dalam Wahyu 12:1 sebagai perempuan cantik berpakaian dengan kemuliaan matahari. Wanita ini disebut mempelai Kristus dalam Wahyu 21:9. Perhatikan bahwa tidak ada perhiasan yang dikenakan oleh mempelai Kristus. Jenis sistem agama yang benar dan salah ini juga menunjukkan estimasi yang Tuhan tempatkan atas dasar penggunaan perhiasan buatan.

Dua ayat terakhir dari tulisan Petrus dan Paulus akan mengungkapkan pandangan yang konsisten dan tegas dari jemaat mula-mula mengenai praktek ini. Kedua orang ini menduduki posisi yang berpengaruh di antara para murid, dan surat-surat mereka yang dipenuhi Roh Kudus mewakili pandangan luar biasa dari gereja zaman para rasul. Paulus menulis, “Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah” (1 Timotius 2:9,10).

Petrus menulis dengan mirip, terutama ditujukan kepada wanita Kristen yang memiliki suami yang tidak percaya. “Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah” (1 Petrus 3:1-4).

Perkataan Petrus berisi nasihat untuk setiap orang Kristen yang jadi istri di gereja hari ini, dan mereka berurusan dengan salah satu masalah yang paling membingungkan yang dihadapi wanita Kristen yang suaminya tidak seiman dengan mereka. Seberapa jauh si istri yang percaya melangkah dalam mencoba untuk menyenangkan suami yang belum percaya? Sampai seberapa jauh dia harus mengkompromi kebenaran Tuhan dalam hal-hal kecil untuk memelihara kelangsungan rumah tangganya dan bila mungkin untuk membantu memenangkan suaminya? Nasihat Petrus sederhana dan jelas: Jangan kompromikan kebenaran dan prinsip sama sekali. Bahkan jika sang istri tidak diizinkan untuk berbicara tentang iman, dia dapat memenangkan suaminya dengan “perkataan yang bersih.” Terjemahan lain menggunakan istilah yang lebih tepat “kelakuannya” bukan “perkataannya”.

Tapi perhatikan bagaimana perilaku istri Kristen akan menyatakan dirinya. Petrus menegaskan bahwa dia akan memenangkan suaminya jauh lebih mudah dengan menyisihkan perhiasannya. Tentunya Roh Tuhan mengantisipasi dilema istri yang merasa bahwa dia perlu memakai cincin kawin untuk menyenangkan suaminya, meskipun dia tahu itu tidak menyenangkan Tuhan. Teks ini membuatnya sangat jelas bahwa Tuhan harus diutamakan, dan bahwa keputusan seperti itu juga akan berbuat lebih banyak untuk memenangkan suami daripada cara lainnya. Ratusan penginjil dan pendeta bisa bersaksi bahwa hal ini benar. Para wanita yang akhirnya membawa suaminya masuk ke iman mereka adalah orang-orang yang memegang teguh standar Firman Tuhan. Yang tidak memenangkan pendampingnya adalah mereka yang akan menurunkan standar dalam hal-hal kecil untuk menjadi lebih cocok dengan suami mereka yang tidak beriman.

Hal ini mungkin tampak bertentangan, tetapi hasilnya praktis terbukti. Selama istrinya tidak menghidupkan semua poin dari keyakinannya sendiri, suaminya mengira bahwa itu pastilah tidak begitu penting. Dia tidak akan tertarik melakukan sesuatu yang bahkan tidak mengharuskan kepatuhan penuh istri Kristennya yang manis. Tetapi jika ia mengambil sikap tegas untuk menyenangkan Tuhan di atas semua orang lain, bahkan dalam menghadapi ketidaksenangannya sendiri, itu akan memberi kesan mendalam pada suaminya bahwa agama itu pastilah penting. Dia mungkin akan mengatakan apapun tentang perasaannya yang sebenarnya. Dia mungkin, pada kenyataannya, tampak marah besar, tapi rasa hormat dan kekagumannya akan diam-diam diaduk oleh ketegasan berdiri seksama dari istrinya.

Kita harus mengantisipasi di sini argumen yang dikemukakan oleh para istri yang cenderung tidak mau berpisah dengan cincin pernikahan mereka. Mereka mengatakan, “Saya tidak ingin menyerahkan cincin saya karena menunjukkan bahwa saya menikah. Saya bangga dengan suami saya. Saya ingin semua orang tahu bahwa aku sudah menikah. Saya pikir pernikahan adalah hal yang paling sakral dan penting. “Tidak ada yang bisa menemukan kesalahan dengan ini sentimen tulus. Setiap istri harus mencintai suaminya dan bangga padanya. Pernikahan adalah penting, dan dia harusnya ingin semua orang tahu bahwa dia sudah menikah. Tapi mari kita ajukan pertanyaan ini: Apakah ada sesuatu dalam hidup seseorang yang lebih penting dari pernikahan? Ya, hanya ada satu hal yang lebih penting daripada menikah dengan suami atau istri, dan itu adalah untuk menikah dengan Kristus. Pernyataan dari kasih Kristus adalah satu-satunya klaim yang pernah harus mengambil prioritas di atas cinta suami dan istri. Dalam terang semua bukti Alkitabiah yang luar biasa, kita telah temukan bahwa perhiasan tidaklah menyenangkan Tuhan. Memang benar bahwa cincin kawin akan memberitahu semua orang bahwa si istri menikah dengan suaminya, tetapi juga akan memberitahu sesuatu yang lain. Ini akan memberi tahu bahwa dia telah memilih untuk menyenangkan suaminya bahkan di atas Tuhan Yesus. Ini akan mengungkapkan bahwa dia akan menempatkan orang lain di atas keinginan Alkitabiah Tuhan yang dinyatakan. Dengan demikian, hal itu memberikan kesaksian yang salah kepada dunia.

Beberapa mungkin tidak setuju dan menyatakan bahwa kesimpulan semacam itu terlalu kuat. Beberapa terikat untuk mengatakan, “Anda menilai dan menguji kekristenan saya dengan hal kecil seperti cincin atau perhiasan.” Tidak, bukan itu kasusnya. Kasih pada Tuhanlah yang sedang diuji, dan Alkitab dengan jelas menunjukkan kriteria ujiannya. Tes yang tidak hanya melibatkan penurutan perintah Tuhan yang dinyatakan dengan jelas, tetapi juga mencakup mengesampingkan segala sesuatu yang lain yang kita temukan tidak menyenangkan-Nya. Berikut adalah buktinya: “dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (1 Yohanes 3:22).

Harap jangan mengabaikan dua hal yang orang Kristen sejati akan selalu lakukan. Mereka mematuhi langsung, persyaratan jelas yang Tuhan tetapkan dalam hukum-Nya, tetapi mereka juga melangkah lebih jauh dengan mencari tahu segala sesuatu yang akan menyenangkan-Nya. Dengan kata lain, mereka akan mematuhi perintah untuk “selalu berusaha untuk mencari tahu apa yang terbaik yang menyenangkan Tuhan.” (Efesus 5:10, terjemahan 20th Century). Yesus mencontohkan dan menghidupkan prinsip ketuhanan ini dalam kehidupan dan ajaran-Nya sendiri. Dia berkata, “Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (Yohanes 8:29). Perintah ini sangat jelas bahkan untuk manusia duniawi, tetapi hal-hal kecil yang menyenangkan Tuhan hanya terungkap pada hati orang Kristen yang menyelidiki Firman untuk indikasi kehendak-Nya. Inilah fakta serius bahwa orang-orang yang akan diselamatkan pada kedatangan Yesus yang dilambangkan oleh Henokh, yang “terangkat supaya ia tidak mengalami kematian… sebab sebelum terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Tuhan” (Ibrani 11:5). Paulus menjelaskan kedatangan Kristus penuh kemuliaan dalam 1 Tesalonika 4:16. Dalam teks yang sama, ia menggambarkan kebangkitan orang benar yang telah mati dan pengangkatan orang hidup yang benar. Tapi berbicara mereka orang-orang kudus yang harusnya siap untuk pengangkatan, Paulus berkata, aku “kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah” (1 Tesalonika 4:1). Salah satu tanda dari orang-orang yang ditebus dari bumi adalah kesediaan mereka untuk menyenangkan Tuhan dalam segala hal.

Dengar, jika Anda tahu hal tertentu adalah menyenangkan Tuhan, namun Anda menolak untuk melakukannya, apa yang sesungguhnya Anda lakukan? Anda menyenangkan orang lain lebih dari Tuhan. Anda mungkin berkata, “Tapi itu hal yang kecil sekali.” Tentu saja, itu adalah hal kecil, tapi cinta sebenarnya diuji dan dibuktikan oleh hal-hal kecil yang kita lakukan satu sama lain. Tanyakan ibu rumah tangga manapun jika tidak begitu. Suaminya mungkin memberinya mesin cuci pada hari ulang tahunnya, dan dia akan menghargai itu. Tapi jika dia membawa bunga ke rumah di tengah-tengah minggu dan berkata, “Sayang, biarlah aku yang mengeringkan piring untuk kamu,” Istri manapun akan berkata pada Anda bahwa itu lebih berarti dari mesin cuci. Kenapa? Karena itu lebih mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya dengan melakukan hal-hal kecil daripada melakukan hal-hal besar yang bisa jadi lebih-atau-kurang diharapkan. Tuhan senang saat kita terus menuruti Sepuluh Perintah-Nya, tapi kita sungguh menunjukkan kasih kita lebih melampaui perintah, dengan menyenangkan-Nya dalam hal-hal kecil yang terungkap dalam Alkitab.

Benar dan salah tidak pernah, dan tidak seharusnya diukur dari jumlah. Adalah kualitas dosa, bukan kuantitasnya yang menghadirkan masalah terbesar bagi orang Kristen. Alkitab mengungkapkan fakta bahwa kosmetik warna-warni, cincin, dll, tidak menyenangkan Tuhan. Firman Tuhan tidak mengungkapkan bahwa kuantitas tertentu kosmetik berwarna-warni yang salah atau bahwa jenis tertentu atau jumlah cincin yang tidak berkenan di hadapanNya. Bahkan pelanggaran terkecil yang disengaja dari kehendak Tuhan adalah serius. Hal ini menunjukkan pemberontakan dalam menempatkan Tuhan sebagai yang terutama. Argumen favorit iblis saat ini adalah “sedikit saja tidak masalah.” Ini adalah argumen bodoh Lot saat ia diperintahkan oleh malaikat untuk melarikan diri ke pegunungan. Dia memohon izin untuk pergi ke kota lain dekat Sodom dan Gomora. Argumennya adalah, “Bukankah kota itu kecil?” (Kejadian 19:20). Dapatkah Anda mengerti mengapa dia ingin pergi ke kota lain setelah kehilangan segala yang ia miliki di Sodom? Namun rasionalisasi yang sama dipakai oleh banyak orang Kristen saat ini. Mereka berdebat dan berdalih atas ukuran cincin mereka atau jumlah ketidaklayakan tersebut.

Setan senang mendengar orang yang mencoba untuk memutuskan berapa banyak mereka harus melanggar kehendak Tuhan. Jangan pernah lupakan ini: bukanlah tingkat penyimpangan dari standar Alkitab yang sangat penting, tetapi kenyataan bahwa adanya penyimpanganlah yang merupakan masalah yang sebenarnya. Ukuran langkah bukanlah hal terpenting, melainkan arahnya.

Kadang-kadang pendeta dituduh membuat masalah besar dari cincin kawin karena mereka menunggu calon baptisan menyingkirkannya sebelum dibaptis. Sebenarnya, pengalaman telah membuktikan bahwa cincin bukanlah masalah sama sekali. Cincin hanyalah gejala dari masalah yang jauh lebih serius: kurangnya penyerahan penuh. Saat hati diserahkan, dan Tuhan dibuat menjadi yang pertama dalam hidup, tidak ada orang yang bertobat akan mengizinkan sebuah cincin kecil untuk menghalangi jalan dia bersatu dengan tubuh Kristus melalui baptisan. Saat kasih bagi Kristus lebih kuat daripada cinta diri, suami atau istri, maka tidak ada yang akan menghalangi di jalan, apalagi cincin logam kecil.

BATU SANDUNGAN
Dalam bab terakhir ini, kita akan memberikan pertimbangan aspek lain dari bukti alkitabiah tentang hal ini yang dianggap beberapa orang paling persuasif di antara semua. Ini menjawab keberatan yang diajukan oleh beberapa orang yang masih tidak yakin bahwa perhiasan tidak menyenangkan Tuhan. Dengan cara yang paling eksplisit, itu menghancurkan benteng pertahanan terakhir bahkan cincin kawin.

Sebelum pindah ke wacana fasih Paulus pada titik ini, mari kita membangun sebuah fakta yang cukup dikenal semua yang terlibat dalam bekerja penuh waktu memenangkan jiwa. Mereka yang bertahan dalam memakai perhiasan mereka, setelah menjadi anggota gereja, telah bertanggung jawab untuk menempatkan batu sandungan di jalan jiwa yang tertarik. Hampir setiap penginjil atau pendeta bisa mematahkan hati Anda dengan cerita-cerita dari pria dan wanita yang berbalik saat hampir dibaptis karena inkonsistensi dari beberapa anggota gereja. Setelah diajarkan kebenaran Alkitab penuh tentang standar Kristen, kandidat ini terkejut melihat anggota gereja, dan kadang-kadang petugas gereja, mengenakan cincin atau perhiasan lainnya. Banyak yang keluar karena kecewa dan menolak untuk bergabung dengan gereja sepenuhnya.

Seseorang pasti akan keberatan, “Ya, mereka tidak seharusnya banyak melihat orang. Mereka harusnya menerima kebenaran karena itu kebenaran.” Ini sangat baik dan benar, tapi ingat bahwa kita berhadapan dengan jiwa-jiwa yang sedang mencari celah dari pekabaran yang tidak populer dari Alkitab. Ini adalah pekerjaan kita untuk menutup setiap celah dengan sabar dan menghadapi setiap argumen sehingga mereka akhirnya menyerah dalam penurutan penuh. Faktanya adalah bahwa orang-orang ini memiliki hak untuk mengharapkan gereja mempraktekkan apa yang diajarkan. Beberapa anggota yang tidak konsisten dapat membuat tidak berarti pembelajaran Alkitab berbulan-bulan, dan persiapan calon pada bagian dari pendeta. Tidaklah benar apabila ada orang yang menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Paulus mencatatkan peringatan yang paling serius bagi mereka yang akan mencegah satu jiwa dalam pertumbuhan Kristen mereka. “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung” (Roma 14:13). Yesus bicara tentang topik yang sama, dengan cara Dia gambarkan dahsyatnya menyebabkan anak tersandung. Mungkin perkataan-Nya akan memiliki lebih banyak makna bagi kita jika kita membacanya dengan pikiran guru Sekolah Sabat anak-anak. “”Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut” (Matius 18:6). Perkataan yang serius memang! Tapi tidak lebih serius daripada pelanggaran yang digambarkan – menyesatkan anak-anak kecil yang melihat ke guru sebagai contoh. Seberapa sering gadis kecil mempertanyakan standard Alkitab tentang cincin setelah melihat cincin di jari seorang guru favoritnya?

Pada suatu gereja, ada seorang guru TK yang mengenakan cincin kawin sangat diidolakan oleh seorang gadis kecil di departemennya. Selama kebaktian gereja, anak itu sering diizinkan untuk duduk dengan guru dan suaminya. Karena mereka tidak memiliki anak sendiri, pasangan itu senang dengan adanya gadis kecil berperilaku baik duduk bersama mereka. Dia biasanya akan menyibukkan dirinya dengan barang-barang di tas si guru, tetapi sudah jadi tanda kasih, ia akan melekat pada tangan gurunya seringkali. Pada suatu hari Sabat selama khotbah, wanita itu melirik gadis kecil dan melihat ia melepas cincin kawinnya dan meletakkannya di jari kecilnya. Agak terganggu, ia ambil kembali cincin itu dan memakainya kembali di jarinya sendiri.

Minggu demi minggu, dengan kecewa, dia melihat bagaimana terobsesinya si gadis pada cincin itu. Dia membelai dan terus membelai cincin itu, dan sering mencoba mengambilnya diam-diam, sehingga ia bisa memakainya pada jari kecilnya. Bertumbuhnya daya tarik dari gadis kecil itu untuk cincin emas menjadi perhatian si guru. Mengetahui ajaran Alkitab tentang perhiasan, nuraninya bergumul sejak saat dia mulai memakai cincin itu. Sekarang dia tidak bisa menikmati perbaktian, saat ia berusaha untuk mengalihkan perhatian sia-sia gadis itu dari artikel perhiasan tersebut.

Akhirnya dia tidak tahan lagi. Berdasarkan keyakinan mendalam bahwa ia menempatkan batu sandungan di jalan si anak, ia lepas cincin yang menjadi sandungan itu sekali dan untuk selamanya. Kemudian, ia menceritakan pengalamannya kepada pendetanya dan menggambarkan perasaan bersalah yang menyiksanya karena menempatkan godaan di hadapan seorang gadis kecil yang tidak bersalah.

“Tapi aku tidak hal sesuatu yang salah dengan cincin. Mengapa saya harus munafik dan melepaskannya hanya untuk mengesankan seseorang? “Ini adalah pertanyaan yang menjawab Paulus dengan dampak yang buruk dalam 1 Korintus 8:1-13. Seluruh pasal itu bersangkutan dengan masalah makanan dipersembahkan kepada berhala. Gereja mula-mula serius terpecah karena masalah ini. Umat Kristen bangsa lain yang datang dari paganisme percaya bahwa itu salah untuk makan daging tersebut. Mereka ingat menawarkan makanan sajian untuk berhala. Meskipun mereka sekarang jadi Kristen, mereka masih merasa entah bagaimana itu tetap memberi kesetiaan kepada berhala untuk makan makanan sajian itu. Di sisi lain orang Kristen Yahudi yang datang ke gereja dari Yudaisme merasa bahwa makanan itu sangat baik untuk dimakan. Karena dagingnya tidaklah “haram” dan karena itu dijual bersama dengan daging lainnya di pasar, orang Kristen Yahudi membelinya dengan tanpa keraguan dari hati nuraninya.

Ketegangan menjadi begitu parah antara kedua kelompok sehingga Paulus akhirnya harus berurusan dengan itu panjang lebar dalam 1 Korintus 8. Perhatikan keputusannya dalam hal ini: “Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: “tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.” Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah”, baik di sorga, maupun di bumi–dan memang benar ada banyak “allah” dan banyak “tuhan” yang demikian– namun bagi kita hanya ada satu Allah saja,… Tetapi bukan semua orang yang mempunyai pengetahuan itu. Ada orang, yang karena masih terus terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Dan oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya… Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah. Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai “pengetahuan”, sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala? Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena “pengetahuan” mu. Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus” (ayat 4-12)

Ayat-ayat yang luar biasa, dengan fokus rohani tentang cinta kasih terhadap orang lain, teraplikasi juga bahkan dengan kekuatan yang lebih besar untuk mereka yang merasa bebas untuk memakai cincin di gereja. Aplikasi ini lebih kuat karena pemakaian perhiasan yang dikutuk oleh Tuhan, sedangkan daging persembahan berhala tidak dikutuk. Namun, Paulus mengatakan ini adalah dosa untuk makan makanan seperti itu karena itu adalah batu sandungan, atau hambatan, bagi orang lain. Karena cincin telah menjadi batu sandungan dengan cara yang sama bagi sesama Kristen lainnya, kita tidak bisa lari dari kesimpulan bahwa kejahatan tersebut juga merupakan “dosa terhadap Kristus.”

Ini membawa kita kembali ke tema pusat dari kitab kecil ini – kasih. Apakah kita melihat standar Kristen dari sudut pandang mengasihi dan menyenangkan Tuhan atau mengasihi sesama kita, hasilnya sama saja. Ide keseluruhannya adalah untuk menempatkan diri terakhir dari semua. Sebuah agama berdasarkan kasih itu tidak akan puas hanya sekedar memenuhi surat dari Sepuluh Perintah Tuhan, tetapi akan mencari Firman Tuhan setiap hari untuk mencari tanda kehendak-Nya. Seperti Yohanes mengingatkan kita: “karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (1 Yohanes 3:22).

Boleh saya mengajukan pertanyaan tentang apa yang Anda baca sampai saat ini? Apakah itu mengangkat keraguan tentang pemakaian perhiasan? Apakah bukti dari semua ayat-ayat ini, yang tersebar di seluruh Alkitab, menunjukkan bahwa praktek ini terbuka untuk dipertanyakan? Salah satu pasangan mengatakan, “Kami belum yakin bahwa Tuhan akan mengusir kita keluar surga karena memakai perhiasan.” Saya bertanya mereka, “Meskipun Anda tidak merasa Anda akan tidak selamat dengan memakai itu, tetapi apakah banyak ayat tersebut memunculkan setidaknya beberapa pertanyaan tentang apakah praktek tersebut persetujuan penuh dari Tuhan?” “Oh ya,” kata mereka, “Kita tidak bisa mengatakan bahwa masalahnya belum jelas.” Pertanyaan saya berikutnya adalah ini:” Apakah Anda berpikir ada 10 persen kemungkinan bahwa mengenakan dengan cincin Anda bisa tidak menyenangkan Tuhan?” Setelah berpikir sejenak, mereka berdua sepakat bahwa setidaknya ada kemungkinan sebesar itu bahwa itu dipertanyakan. Lalu saya bertanya pada mereka pertanyaan ini: “Saat Anda berdiri di ambang baptisan dan penyerahan total hidup Anda kepada Tuhan Yesus Kristus, apakah Anda ingin memasukkan 10 persen kemungkinan tidak menyenangkan Tuhan yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi Anda?”

Perlahan mereka menurunkan tangan dan mulai melepas cincin mereka. “Tidak,” kata sang suami, “Kami tidak ingin memasukkan bahkan peluang terkecil sekalipun yang tidak menyenangkan-Nya. Kami ingin berjalan sepenuhnya dengan Yesus. Meski ada keraguan, kami akan memberi-Nya keuntungan dari keraguan itu.”

Saya tidak akan mencoba berpura-pura bahwa penyerahan diri semacam ini mudah. Yesus berkata, “”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Lukas 9:23). Mengatakan “tidak” pada diri adalah apa yang Sang Guru bicarakan. Dia berkata bahwa setiap orang akan punya pertempuran itu muncul dalam suatu hal yang dirinya tidak ingin serahkan. Individu yang datang kepada Kristus dan belajar jalan-Nya harus menyangkal diri dan berkata “tidak” untuk sesuatu yang sifatnya sangat dia pertahankan. Itulah penyangkalan diri. Beberapa orang gagal tes pada satu titik, dan lainnya pada titik yang berbeda. Saya telah melihat beberapa yang tidak bisa menyangkal diri dalam hal uang. Untuk menaati Tuhan dapat membahayakan pekerjaan mereka atau mengurangi gaji mereka, dan mereka tidak bersedia untuk mengatakan “Tidak” untuk sikap cinta uang mereka. Lainnya harus meninggalkan teman-temannya untuk mengikuti Kristus, dan mereka tidak mau menyangkal diri dalam pertemanan mereka. Nafsu merintangi di jalan banyak orang yang tidak mau menyangkal diri dari alkohol, tembakau, atau makanan haram seperti yang dipersyaratkan dalam Alkitab. Beberapa telah gagal tes pada titik kesombongan dan kebanggaan diri. Mereka tidak bersedia untuk menyangkal diri akan kebanggaan diri dalam berpakaian.

Selalu menarik untuk melihat bagaimana kebenaran membuat orang-orang yang adalah ilalang keluar mendengarkan KKR. Tidak ada yang keluar sampai kita menyajikan klaim Tuhan yang menuntut perubahan hidup dan prakteknya. Jika kita tidak memberitakan semua nasihat Tuhan, sebagian besar pendengar akan dengan senang hati menanggapi panggilan. Pergumulan terjadi saat kebenaran yang menantang pemanjaan kesenangan diri. Ujian hari Sabat, persepuluhan, dan makanan semua ditujukan untuk beberapa unsur alamiah diri. Banyak yang gagal pada tiap poinnya. Tapi anehnya, pertempuran terbesar tampaknya terjadi saat kehendak Tuhan menyentuh bagian kebanggaan pribadinya. Kesombongan adalah dalam dan luas. Rasa cinta diri memiliki seribu wajah dan menampilkan dirinya sendiri dalam berbagai cara yang halus.

Perhatikanlah, di suatu titik sepanjang jalannya untuk setiap jiwa setan akan menggunakan diri kita sendiri untuk membuat pertahanan putus asa terakhirnya terhadap kehendak Tuhan. Hanya mereka yang mengasihi Kristus dengan segenap hati, jiwa, dan pikiran akan mampu atau bersedia untuk membuat 100-persen penyerahan kepada-Nya yang dipersyaratkan. Orang paling berbahagia di dunia adalah mereka yang tidak membiarkan apa pun menghalangi mereka menyenangkan Tuhan dalam segala hal.

Telah disebutkan bahwa orang Kristen yang hidup untuk menyenangkan Tuhan adalah orang paling berbahagia di dunia. Yesus berkata, “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh” (Yohanes 15:10, 11). Sehingga tidak heran bahwa orang Kristen yang berkomitmen penuh begitu mudah dikenali. Ada cahaya suci dan sukacita bersinar dari dalam bahkan mengubah wajah tersebut. Meskipun mereka telah meletakkan mengesampingkan perhiasan dunia, mereka telah mengenakan perhiasan lain dari Roh, yang langsung menandai mereka. Beberapa wanita merasa hampir telanjang setelah melepas perhiasan mereka, tetapi segera setelah mereka menyadari bahwa Tuhan telah menggantikan yang buatan dengan yang sejati. Daud menulis, “Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu” (Mazmur 34:5).

“Tampilan baru” orang Kristen yang baru lahir inilah yang menyebabkan dunia kagum. Untuk setiap hal jahat yang diserahkan, anak Tuhan menerima ganti rohaninya. Seperti kata Paulus, “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!” (Roma 13:12). Dan tolong perhatikan bagaimana dramatisnya pertukaran ini saat melibatkan pakaian dan perhiasan dari seorang individu. Mempelai Kristus menerima perhatian khusus. Yesaya membuat kontras gaun pernikahan umat Tuhan dengan gaun dunia. “Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya” (Yesaya 61:10). Ketika kita menikah dengan Kristus dan mengambil nama-Nya, kita tidak seharusnya menghiasi diri seperti halnya pengantin laki-laki dan mempelai duniawi. Kita dengan sukacita akan berpakaian dengan “pakaian keselamatan” dan “jubah kebenaran.” Inilah yang membuat wajah bercahaya dan menyajikan penampilan baru yang berseri-seri yang mengherankan dunia.

Poin penting ini harus diberikan penuh pertimbangan. Wajah banyak berbicara tentang karakter dan pengalaman seseorang. Kesaksian kita sebagai umat Kristen yang paling kuat mungkin hanya dari sekedar wajah kita yang berseri-seri. Salah satu argumen yang paling meyakinkan yang pernah saya dengar terhadap penggunaan kosmetik yang berwarna-warni didasarkan pada fakta ini. Frances Parkinson Keyes, penulis Katolik terkenal, menjelaskan mengapa dia tidak pernah mengizinkan wajah atau rambutnya “tersentuh” dengan perhiasan buatan: “Seperempat abad hidup seharusnya menghasilkan banyak hal ke wajah wanita selain beberapa keriput dan beberapa lipatan yang tidak diinginkan di sekitar dagu. Dalam jangka waktu itu ia telah jadi akrab dengan rasa sakit dan kesenangan, suka dan duka, hidup dan mati. Dia telah berjuang dan bertahan, gagal dan berhasil. Dia telah kehilangan dan mendapatkan imannya kembali. Dan sebagai hasilnya dia harus lebih bijaksana, lembut, lebih sabar dan lebih toleran dari saat dia masih muda. Rasa humor harus melunak, pandangannya harus lebih luas, simpatinya harus diperdalam. Dan semua ini harusnya ditunjukkan. Jika dia mencoba untuk menghapus jejak usia itu, ia punya risiko pada saat yang sama merusak, jejak pengalaman dan karakter” (Kata-kata Inspirasi, p. 198).

Sungguh sebuah kebenaran luar biasa yang terkandung dalam pernyataan itu! Wanita Kristen punya kesaksian untuk dibawa lewat ekspresi wajah mereka. Kebenaran, martabat, kemurnian, dan iman tak tergoyahkan dalam Tuhan – atribut-atribut ini seringkali jelas terungkap oleh wajah saja. Mungkin ini adalah apa yang dimaksudkan Yesus saat Ia berkata, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16). Terang rohani dan pancaran wajah tanpa hiasan bahkan mungkin menarik lebih banyak perhatian pada agama Yesus Kristus dari selusin khotbah atau pelajaran Alkitab.

Kita telah cukup meluangkan waktu pada subjek perhiasan buatan agar dapat menunjukkan bagaimana kasih membawa ke Alkitab sehingga kita dapat mencari tahu apa yang menyenangkan Tuhan. Kita bisa juga menggunakan contoh lain dari standar kekristenan. Prinsip yang sama memberikan motivasi untuk selalu menyenangkan-Nya dalam apa yang kita lakukan tentang menari provokatif, film, perjudian, pola makan, dan berpakaian. Hal ini dapat ditunjukkan sama jelasnya bahwa standar-standar tinggi dari gereja tidak didasarkan pada kumpulan orang majelis, tetapi pada kehendak Tuhan yang dinyatakan dalam Firman-Nya. Semoga Tuhan membantu kita menemukan sukacita terbesar kita dan kebahagiaan dalam melakukan hal-hal yang menyenangkan Dia.

Leave a Reply