Alkitab dan Ilmu Pengetahuan

T
ahun 1633 Mahkamah Inquisition bersidang di Roma. Badan peradilan agama itu, bekerjasama dengan pemerintah sipil, mengadili Galileo Galilei, cendekiawan tenar, ahli matematika dan fisika, mantan gurubesar universitas di Pisa dan Padua.
Tuduhan terhadap Galileo adalah heresy, murtad. Percetakan di Florence tahun sebelumnya telah menerbitkan bukunya yang menggoncang Eropah, “Dialogue Concerning the Two Chief World Systems,” mempertentangkan dua pendapat ilmiah heliocentric, bumi dan planet-planet mengelilingi matahari, dan geocentric, bumi adalah pusat, matahari dan planet-planet mengelilingi bumi. Duapuluh tahun sebelumnya Galileo sudah ditegor keras ketika ia pertama kalinya mengajarkan hasil penemuannya lewat teropong bintang buatan sendiri yang mendukung heliocentric, teori yang diajarkan oleh Nicolai Copernicus se abad sebelumnya. Itu bertentangan dengan teori geocentric ajaran Claudius Ptolemy yang sudah ratusan tahun dianut gereja.
Di bawah ancaman hukuman mati, Galileo yang seumur hidupnya penganut Katolik taat, menarik kembali ajarannya. Tapi teman terdekat mendengar saat Galileo berdiri dari posisi berlutut sambil membantah ajarannya dan mengaku bahwa matahari dan planet-planet beredar sekeliling bumi, ia berbisik, “Tapi bumi bergerak!”
Galileo menutup riwayat hidupnya sebagai tahanan rumah. Episode Galileo dan banyak yang semacamnya tidak urung mengilhami masyarakat abad 17-19 bahwa agama bertentangan dengan sains, ilmu pengetahuan. Bangkitnya renaisans sedikit banyak adalah juga wujud protes kaum intelegensia terhadap sistem dan kepercayaan zaman pertengahan—juga disebut zaman kegelapan—bilamana gereja berupaya mendominasi bukan saja kepercayaan tapi juga kehidupan sosial, pemerintahan dan hati nurani.
Pemikiran zaman pertengahan bahwa Alkitab bertentangan dengan sains itu terbawa sampai ke zaman kita. Ratusan tahun penindasan intelektual oleh ulama menimbulkan antipati terhadap gereja dan Alkitab, membuat para pemikir mempertanyakan asal usul manusia dan kehidupan di bumi, alam semesta dan keberadaan Tuhan. Itu telah mendorong timbulnya sikap agnostik dan faham atheis.
Baru berapa generasi lalu di AS berlaku undang-undang yang melarang teori evolusi ajaran Charles Darwin. Alkitab diterima umum, ceritera asal-usul dunia tidak pernah dipertanyakan. Tetapi situasi berobah. Di sekolah-sekolah negeri Alkitab dilarang dan pembahasan tulisan Alkitab tentang penciptaan alam semesta dan asal-usul manusia tidak diizinkan sekarang. Suara-suara kiritis yang mempertanyakan evolusi ditekan bahkan dicerca di lingkungan akademis.
Saat ini di Amerika teori evolusi resmi diajarkan di sekolah-sekolah menengah sampai universitas. Alkitab dan nama Tuhan tidak boleh dibawa ke dalam kelas dengan alasan prinsip kebebasan dan netralitas. Kalau satu agama diizinkan, semua agama, aliran dan kepercayaan mesti diberi kesempatan yang sama. Anak-anak didik dibesarkan dalam paham evolusi dan prasangka terhadap Alkitab. Zaman ini, prinsip kebebasan Amerika Serikat oleh kaum ekstrim telah didorong demikian jauh, bukan lagi “freedom of religion” tapi “freedom from religion.” Agama mau disingkirkan.
Tetapi sanggahan-sanggahan terhadap evolusi semakin bermunculan dan bukan saja di AS.
Mestinya tidak ada konflik antara Alkitab dan sains, menurut sarjana nuklir Robert A. Faid dalam bukunya “A Scientific Approach to Christianity,” New Leaf Press, 1994. Allah yang mengilhami penulis-penulis Alkitab adalah Allah yang sama yang telah menyusun tata kehidupan di bumi dan menetapkan aturan tata surya, galaksi dan seluruh jagat raya. Teolog mesti menghargai ilmuwan dan ilmuwan mesti menghormati teolog. Keduanya memiliki kapasitas dan domain masing-masing, tulis Prof. Faid.
Tapi konflik sering terjadi. Bentrokan antara keduanya telah timbul oleh beberapa hal, umumnya karena mereka saling melanggar wilayah pihak lain, lanjut Faid. Padahal ilmiawan tidak faham isi Alkitab dan teolog tidak berkompeten dalam sains. Lebih jelek lagi, kadang-kadang, teolog salah menafsirkan apa yang tertera dalam Kitabnya. Sementara banyak di kalangan ilmuwan sengaja menutup mata terhadap fakta-fakta alam yang menunjukkan karya Pencipta, di lain pihak ada pelajar Alkitab berpikir bahwa mereka tahu semua rahasia alam semesta.
Buku Kejadaian pasal 1 sampai 10 adalah salah satu bagian Alkitab yang banyak dipertentangkan.
Alkitab ditulis dalam bahasa yang umum dan sederhana. Buku Kejadian ditulis oleh nabi Tuhan, seorang bijak, akademisi dan negarawan Mesir untuk komsumsi kaum gembala, kelompok nomaden bekas budak yang sedang belajar hidup sosial dalam lingkungan merdeka dan beradab. Itu juga ditulis untuk pembaca-pembaca zaman kita.
Dapatkah Tuhan mengilhami Musa untuk menulis Alkitab dalam bahasa ilmiah? Tentu saja, tetapi Allah tidak menghendaki demikian. Maksud Allah adalah firman-Nya dibaca dan dimengerti semua manusia dalam segala tingkat sosial dan intelegensia, agar mereka memperoleh kebijaksanaan untuk keselamatan dunia-akhirat, bukan demi suksesnya segelintir orang pintar. Alkitab itu dimaksudkan untuk semua orang termasuk kita.
Jadi, bagaimana mestinya membaca “Pada mula pertama Allah menciptakan langit dan bumi” dan banyak bagian Alkitab yang ber- nuansa ilmiah supaya menjadikan kita bijak dan pada saat yang sama menghindarkan pertentangan?
Uskup James Ussher di abad 17 mematok 4004 SM sebagai tahun “kelahiran” Adam dan Hawa setelah menjumlahkan tahun kehidupan para patriak mulai dari Adam [baca: usia mereka waktu anak mereka lahir] sambil menelusuri sejarah Yahudi termasuk silsilah keturunan Yesus Kristus. Usaha ini sudah di dirintis oleh biarawan Dyonisius Exiguus yang di abad ke enam telah memulai perhitungan tahun dengan AD dan BC, Before Christ dan Anno Domino (Sebelum Masehi dan Tarikh Masehi).
Penentuan tahun kelahiran Adam pada 4004 SM dan pendapat bahwa minggu penciptaan Kejadian pasal 1 ayat 1-31 adalah tujuh hari yang terdiri dari siang dan malam, 24 jam, solar day, seperti hari kita sekarang, serta-merta ditolak oleh ilmuwan dari berbagai bidang. Tidak masuk akal umur bumi baru 6000 tahun, batu-batuan di kerak bumi umurnya miliunan tahun, begitu ulasan mereka.
Benarkah “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi,” Kejadian 1:1, dan “Lalu terang itu jadi,” ayat 3, terjadi pada hari yang sama yakni hari pertama minggu penciptaan? Jadi, langit dan bumi baru berumur 6000 tahun? Bagaimana alam semesta? Dan pertanyaan yang berikut: Sebelum alam semesta diciptakan, Tuhan tinggal dimana? Di kalangan pemikir dan pakar Kristenpun ada berbagai pendapat mengenai bagian-bagian Alkitab yang menyangkut sains.
Ferdinand O. Regalado, professor teologi di Adventist University of the Philippines dalam artikel “The Creation Account in Genesis 1: Our World Only or the Universe,” dalam Journal of Adventist Theological Society, vol. 13, No. 2, Autumn 2002, membandingkan beberapa pendapat tentang “Pada mulanya” dan “langit dan bumi” dari berbagai sumber.
Satu pendapat yang diajukan Regalado adalah bahwa langit dan bumi yang dimaksud Musa dalam Kej 1:1 adalah semua yang tercakup dalam ayat 2-31. Yakni bumi, atmosfir sekeliling bumi, bulan dan matahari, yang tidak lain adalah solar system, tata-surya kita, meliputi matahari dan bumi—bersama satelitnya yaitu bulan—dan planet-planet lain serta satelit-satelitnya. Pendapat ini kelihatannya setuju dengan isi dialog antara Allah dengan Ayub dalam Ayub 38: “Dimanakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi . . . pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak. . .” (ayat 4-7). Ayat ini menunjukkan bahwa bintang-bintang sudah ada pada waktu dunia dijadikan.
Masehi Advent Hari Ketujuh mempercayai ajaran Alkitab tentang penciptaan dan menentang teori evolusi tentang asal-usul mahluk hidup dan hubungan antara manusia dengan mahluk hidup lainnya. Demikian penegasan Adventist Beliefs seperti yang dicantumkan dalam adventist.org.
Definisi singkat evolusi adalah “perobahan,” menurut Josh McDowall dalam “Answers to Tough Questions,” seperti perobahan seorang bayi yang berkembang menjadi manusia dewasa, melalui pengaruh berbagai faktor penunjang dan lingkungan seperti makanan, habitat, iklim, cara hidup, dll. Adaptasi manusia terhadap lingkungannya generasi demi generasi menghasilkan perbedaan fisiologi seperti postur tubuh, disebut mikro-evolusi dan ini konsisten dengan Alkitab. Setiap jenis mahluk hidup berkembang tetapi tetap dalam jenisnya. Bukan makro-evolusi, perubahan genetika jenis-jenis hewan selama ratusan generasi yang menyebabkan satu spesis, misalnya kucing menurunkan anjing, spesis lain.
Evolusi dijelaskan lewat proses-proses natural selection, survival of the fittest, random sampling, mutation, genetic drift, modification, dll. Natural selection atau seleksi alamiah adalah perkembangan organisme-organisme kecil dan sederhana dimana yang kecil dan lemah punah, yang kuat dan unggul bertahan. Traits, sifat-sifat genetika yang lemah dalam tubuh hilang, sifat perkasa dan unggul berkembang, berangsur-angsur merobah hewan ybs menjadi jenis mahluk lain yang lebih unggul. Survival of the fittest, yang lemah punah, menjadi mangsa si kuat.
Ditambah dengan mutation, perobahan sifat, fungsi dan bentuk akibat kelainan DNA dan genome, genetic drift, variasi genetika yang muncul dalam kelompok secara kebetulan, maka menurut pendukung evolusi, mahluk hidup di bumi berkembang dari organisme yang paling kecil dan sederhana seperti amoeba menjadi cacing, dan meningkat jadi ikan, lalu reptile, terus berkembang menjadi hewan mamalia, kemudian monyet, dan setelah sekian juta tahun terbentuklah manusia.
Asal mula kehidupan tidak diketahui, cuma andai-andai. 3-4 milyar tahun lalu, kebetulan petir menyambar primordial soup, muka air yang kebetulan mengandung bahan baku protein – amino acid, kebetulan saat itu suhunya cocok dan ratusan situasi, kejadian, waktu dan lokasi yang kebetulan, dan lahirlah manusia—begitu kira-kira teori Darwin. Ceritera kebetulan yang tidak masuk akal, seperti mengatakan gunung meletus lalu tumpukan pecahan-pecahannya membentuk gedung perpustakaan.
Alkitab memberikan keterangan yang jelas dan pasti, tanpa ragu-ragu. Allah menciptakan semua hewan dan tumbuhan, masing-masing menurut jenisnya. Allkitab Bahasa Indonesia kurang jelas, tapi dalam NIV (juga NKJV), “So God created the great creatures of the sea and every living and moving thing with which the water teems, according to their kinds, and every winged bird according to its kind,“ Kejadian 1:21. Ayat 24, “And God said, Let the land produce living creatures according to their kinds: livestock, creatures that move along the ground, and wild animals, each according to its kind.”
Each according to its kind, masing-masing menurut jenisnya. Tiap mahluk diciptakan Allah menurut jenis, sifat atau SPECIES-nya masing-masing. Jadi semua binatang yang ada di bumi saat ini parade di Taman Eden ketika tiap-tiap species diberi nama oleh Adam, 2:19,20. Bukan dimulai dengan satu jenis binatang yang sesudah jutaan tahun evolusi menghasilkan jenis-jenis hewan lain dan manusia. Kalau Adam menamai binatang yang pertama bagaimana ia dapat menamai binatang yang baru muncul jutaan tahun kemudian.
Biologist mengelompokkan dunia hewan dalam tingkatan dan klasifikasi, dari yang terbesar sampai yang terkecil, dari KINGDOM, PHYLUM, CLASS, ORDER, FAMILY, GENUS dan SPECIES. Untuk anjing, misalnya, “Family Tree” atau penggolongan zoology-nya sbb:
Kingdom (Dunia) > Animalia
Phylum (Phylum) > Chordata
Class (Kelas) > Mammalia
Order (Ordo) > Carnivora
Family (Keluarga) > Canidae
Genus (Genus) > Canis
Species (Spesis) > Canis lupus: serigala
Sub-Species > Canis lupus familiaris, anjing.
Dari ratusan jenis, sub-species anjing, dengan aneka ragam bentuk, ukuran, warna, dll., yang paling kita kenal adalah yang tinggi-besar Herder dan St. Bernard, Labrador dan Retriever (sedang), Terrier (rambut panjang), lalu Chihuahua dan Cocker Spaniel (mungil). Semua mereka sekeluarga, berasal dari satu sub-species. Adaptasi terhadap lingkungan yang berbeda seperti pertanian, gurun, padang pasir, pegunungan, pantai, salju, dll. menyebabkan terjadi perobahan sifat dan fungsi indra dan organ tubuh sehingga sesudah ratusan generasi maka anggota-anggota spesis yang sama bervariasi menjadi “breed” atau jenis yang kita lihat sekarang, tapi semuanya adalah anjing. Tidak ada anjing yang karena variasi lalu menurunkan kambing, misalnya.
Sama halnya manusia. Lingkungan hidup, jenis makanan, tempat tinggal, kebiasaan dan cara hidup, dan banyak faktor lain menyebabkan anak-cucu dan turunan dalam penyebarannya mengembangkan ciri-ciri fisiologi yang berbeda. Ada yang tinggi, pendek, rambut hitam, pirang, kulit pucat, coklat, kuning, dll., tapi semuanya adalah manusia.
Adventist adalah creationist, penganut paham penciptaan dan menentang evolusi , teori bahwa semua mahluk hidup baik serangga, kuman, burung, monyet sampai gajah dan manusia itu “sekeluarga.” Berasal dari satu Pencipta, ya!, tidak bukan dari satu nenek moyang.
Sesungguhnya evolusi bukanlah ilmiah. Evolusi tidak lebih dari teori, perkiraan yang tidak banyak bedanya dengan hipotesa, tidak pernah dibuktikan. Ahli manapun, dengan tehnologi apapun, dibantu teori yang paling mengagumkan sampai dimanapun, tidak pernah berhasil menciptakan kehidupan. Jangankan jenis hewan atau tumbuhan yang kelihatan sekeliling kita, satu sel yang hiduppun tidak dapat diciptakan di laboratorium.
Abad 19 muncul Louis Pasteur, ahli kimia dan mikrobiologi Prancis. Pasteur menyumbangkan kepada dunia bukan saja pelayanan kesehatan vaksinasi tetapi juga pengertian tentang kuman dan bakteri yang serta merta menumbangkan generatio spontanea—teori Aristoteles bahwa organisme terbentuk secara spontan, bukan dari orang tua atau mahluk hidup sejenis—dan teori kembarnya abiogenesis yaitu proses terbentuknya kehidupan di dalam materi inorganic.
Banyak penemuan akhir-akhir ini menunjukkan kelemahan teori evolusi. Dan semakin banyak pakar ilmiah berkesimpulan bahwa teori evolusi tidak masuk akal. Buku “Creation or Evolution: Does It Really Matter What You Believe?” terbitan Church of God dan banyak sumber lain menyebut beberapa alasan yang menyangkal teori evolusi, a.l.:
Keajaiban tubuh manusia—bagaimana organ-organ berfungsi tidak dapat diterangkan oleh evolusi. Mata manusia misalnya, kalau organ mata tumbuh berangsur-angsur, bertahap makin lama makin baik; apa gunanya mata yang bertumbuh 25, 50, atau 75 persen? Tidak ada gunanya. Kalau kurang dari 100 persen mata itu tidak berfungsi.
IQ, intelegensia—Otak binatang, mulai organisme melata sampai monyet dan kerbau hampir sama kemampuannya. Tapi otak manusia sangat jauh berbeda, tidak dapat dibandingkan dengan mahluk lain manapun. Garis perkembangan kemampuan otak dari satu hewan ke hewan-hewan berikutnya selama jutaan tahun evolusi itu mendatar, hampir rata; bila dihubungkan ke manusia garis itu melonjak jauh ke atas. Evolusi tidak mampu menjelaskan lonjakan ini.
Sudah lebih seratus lima puluh tahun Charles Darwin mengumumkan teorinya, masih juga belum ditemukan satupun fosil yang mendukung evolusi. Andai kata kucing misalnya berubah menjadi anjing, tapi tidak pernah ditemukan tulang binatang setengah anjing-setengah kucing. Tulang kucing banyak ditemukan, begitu juga anjing, tapi hewan transformasinya tidak ada. Semua belulang binatang yang ditemukan dalam galian-galian dimanapun binatangnya ada sekarang ini, kecuali beberapa jenis yang sudah punah. Bukti hewan missing link tidak pernah ditemukan.
Penganjur evolusi menyalahkan hari-hari penciptaan Alkitab yaitu siang dan malam 24 jam; katanya jutaan tahun. Di California Selatan Januari-Februari suhu jam 6 petang hari sekitar 65-70⁰ Fahrenheit. Jam 6 pagi besoknya suhu sekitar 50⁰ F. Dalam tempo 12 jam temperatur turun 15-20⁰. Kalau satu hari penciptaan itu bukan 12 jam solar day (waktu kita sekarang) tetapi satu minggu, berapa jauh temperatur akan turun? Kalau jutaan tahun seperti teori evolusi, suhu akan turun ratusan derajad dibawah nol dan selama jutaan tahun, mahluk mana yang dapat bertahan.
Argumentasi ini juga adalah jawaban terhadap theistic evolution bahwa benar ada Pencipta, tetapi Allah menciptakan mahluk dengan cara evolusi. Itu coba mengakurkan Alkitab dengan evolusi, dimulai tahun 1950 ketika Paus Pius XII menyatakan bahwa “pada dasarnya tidak ada konflik antara Kekristenan dan evolusi.” Sejak itu teori evolusi masuk ke sekolah-sekolah Katolik se dunia. Akhir 1990an Paus Johanes Paulus II juga membuat pernyataan membenarkan theistic evolution.
Tidak banyak diberitakan bahwa Charles Darwin menjelang akhir hidupnya mulai bimbang terhadap teorinya. “Saya masih muda [ketika itu] dengan idea-idea yang belum terbentuk. Saya melontarkan pertanyaan-pertanyaan, usulan-usulan, sambil mempertanyakan segala hal; dan saya heran pendapat saya menyebar bagaikan kebakaran hutan. Orang-orang membuat itu seperti agama” (kutipan William Federer, “America’s God and Country,” 1996, hal. 199).
Membesarkan hati membaca tulisan dan pernyataan banyak tokoh dan ilmuwan yang meneguhkan creationism dan melawan evolusi. Di bawah ini beberapa di antaranya.
Francis Collins, mantan atheist yang kemudian direktur National Human Geome Research Institute, mengatakan: “Bagi saya jawaban-jawaban mendasar tentang makna kehidupan tidak diperoleh dalan ilmu pengetahuan, tapi dalam pertimbangan asal-usul nurani benar-salah manusia dan dari catatan sejarah kehidupan Kristus di bumi.”
“Saya yakin bahwa sungguh tidak masuk akal zat hidup yang pertama itu telah berevolusi dari benda mati lalu kemudian berkembang menjadi mahluk yang besar.” Anthony Flew, professor emeritus filsafat di Reading University, mantan atheis.
“Penerbangan antariksa berawak adalah pencapaian yang menakjubkan, tetapi itu telah membuka bagi manusia sejauh ini hanya pintu kecil untuk memandang ruang angkasa yang maha luas. Melihat keajaiban alam semesta yang dahsyat melalui lobang intip ini hanya semakin meneguhkan kepercayaan kita pada kepastian Penciptanya. Saya menganggap sama sulitnya untuk memahami ilmuwan yang tidak mengakui adanya pemikiran agung di belakang eksistensi alam semesta sama seperti teolog yang menyangkal kemajuan ilmu pengetahuan. Dan tentu saja tidak ada alasan ilmiah mengapa Allah tidak dapat memiliki relevansi dalam dunia modern kita seperti yang Ia miliki sebelum kita mulai mereka-reka ciptaan-Nya dengan teleskop, siklotron dan kendaraan antariksa. Keberadaan kita di sini kini dan nanti bergantung pada kepatuhan kita pada nilai-nilai etis dan spiritual. Melalui sains manusia mencoba menguasai gaya-gaya alam sekeliling dia, melalui agama ia berusaha mengendalikan kuasa-kuasa alam di dalam dirinya dan mencari kekuatan moral dan bimbingan rohani untuk tugas yang telah diberikan Allah kepadanya.” Dr. Wernher von Braun, bapak roket dan antariksa AS, NASA, Washington, D.C.
Manusia mesti memilih, menganut evolusi atau meyakini Sang Pencipta, mengikuti akal atau meyembah Allah yang memberikan akal itu. Dua sarana telah disediakan Allah bagi manusia untuk mengenal Dia. Kepada semua Allah memberikan akal untuk melihat, menimbang dan menilai karya kasih-Nya dan semua yang nyata. Tapi akal saja tidak memadai. Kepada yang mau menerima Allah memberikan iman untuk memahami yang tidak kelihatan. Dengan menggunakan akal dan iman sepenuhnya manusia boleh mengerti rahasia kehidupan dan alam semesta, tenteram selama hidup sekarang dan dalam kerajaan-Nya nanti.
Tuhan tidak menjanjikan kita akan punya jawaban atas semua pertanyaan. “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita . . .” Ulangan 29:29. Akal yang paling jeniuspun tidak dapat menjangkau Allah atau seluruh rahasia alam semesta. Bersyukurlah kepada Tuhan atas perkenannya memberi dan menyatakan begitu banyak kepada kita.

Lebih dari itu, berdiam adalah emas
Jack Kussoy

Leave a Reply