Alkitab mengubah hidup

Pada tahun 1789, komandan kapal Inggris HMS Bounty yang bernama kapten William Bligh diberi tugas untuk membawa benih-benih pohon sukun dari Tahiti untuk ditanam di Jamaica,

sebagai usaha untuk menggantikan tepung terigu yang biasa diimpor dari Amerika Serikat. Pelayaran itu ternyata tidak berakhir dengan sukses, sebab di tengah perjalanan, atau tepatnya dekat kepulauan Tonga di lautan Pasifik, para awak bernama Fletcher Christian.

Kapten Bligh dan 18 orang anak buahnya yang tetap setia kepadanya diturunkan dengan sekoci di tengah samudera dan terapung-apung selama 48 hari. Akhirnya setelah menempuh jarak 5.822 km, mereka dapat mendarat dengan selamat di pulau Timor (dahulu masuk wilayah Indonesia). Sementara itu, kapal Bounty yang dikuasai para pemberontak tersebut meneruskan pelayarannya sampai ke pulau kecil yang tidak berpenghuni bernama Pitcairan. Fletcher Christian waktu itu ditemani 8 orang awak kapal kulit putih serta 6 orang pria dan 12 orang wanita suku polynesia. Salah seorang dari mereka menemukan metode untuk membuat minuman keras, dan segeralah 26 orang yang menghuni pulau kecil itu terlibat dalam pesta pora, mabuk-mabukan dan perilaku seks yang sangat memalukan.

Hal ini berlangsung selama bertahun-tahun, dan sebagai akibatnya lahirlah anak-anak yang sukar diketahui siapa bapak mereka yang sebenarnya karena pola hidup mereka sudah demikian buruk. Lambat laun kesehatan pria-pria kulit putih itu semakin merosot dan mereka meninggal dunia dalam usia muda. Akhirnya tinggal seorang saja yang tersisa yaitu Alexander Smith.

Pada suatu hari Smith membongkar-bongkar peti yang dibawanya dari kapal Bounty, dan ia menemukan sebuah Alkitab. Ia ingat pada waktu kecil ibunya sering membacakan ayat- ayat Alkitab itu kepadanya, tetapi ketika ia dewasa, ia telah begitu jauh dari Tuhan dan hidup di dalam dosa. Smith sadar bahwa usianya tidak akan lama lagi. Sebab itu, ia rindu sekali kembali kepada iman yang ia miliki pada waktu ia masih anak-anak.

Alkitab tersebut dijadikan sebagai bahan pelajaran bagi seluruh penduduk pulau Pitcairn. Dengan segera terlihat perubahan yang nyata. Kalau semula Smith dan penduduk pulau itu hidup dalam pesta pora, perilaku seks bebas, dan mabuk-mabukan, kini mereka telah bertobat. mereka mempraktikan etika dan moral Alkitabiah yang sangat konsekuen yang menghasilkan hidup kudus di hadapan Tuhan.

Pada tahun 1808, Topaz, sebuah kapal Amerika Serikat mengunjungi pulau kecil ini, dan mereka terheran-heran melihat bahwa di pulau ini ada sebuah koloni yang hidup dengan aman, sejahtera, makmur tanpa minuman keras sedikitpun, tanpa penjara dan juga tanpa kejahatan. Ketika mereka menyelidiki apa yang menyebabkan semua ini bisa terjadi, jawabannya hanya satu: Alkitab yang diajarkan secara konsekuen telah mengubah hidup mereka secara drastis.

Apa yang terjadi di pulau Pitcairn membuktikan dengan jelas sekali apa yang diungkapkan Rasul Paulus tentang manfaat Firman Tuhan, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim.3:16).

Sumber: Akhirzaman.org

 

Leave a Reply