ALLAH DIDAKWA

September 19, 2012 - Alfred E. Boling

Kasih Dan Keadilan-Nya Serta Hukum Dan Kewibawaan-Nya Terancam!
Oleh Alfred E. Boling

Pernahkah Anda menjadi terdakwa? Jika pernah, banyak orang yang lain juga pernah mengalaminya.  Tetapi mengapa Allah menjadi terdakwa?  Ini adalah upaya Setan untuk menggagalkan karya keselamatan manusia oleh Allah.

Rencana keselamatan meliputi pokok yang lebih besar dari pada yang selalu kita pikirkan.  Dalam pertikaian antara Allah bersama umat-Nya di satu pihak, melawan Setan bersama pengikutnya di pihak lain yang sementara berlangsung, bahkan sejak nenek moyang manusia yang pertama, yang secara pasti kemenangan berada di pihak Allah.  Tetapi hal yang paling penting ialah bahwa Allah harus memenangkan pertikaian ini secara adil, agar keberadaan-Nya akan selalu dinyatakan.

 

“Maka timbullah peperangan di sorga” (Wahyu 12:7).  Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?  Jika Allah itu Mahakuasa, siapa yang berani menandingi kekuasaan-Nya?  Mengapa justru peperangan terjadi di sorga?  Tetapi demikianlah kenyataannya, bahwa terjadi peperangan di sorga, dan “satupertiga dari bintang di langit” (malaikat sorga) memberontak melawan Allah, dibawah pimpinan “naga besar itu, si ular tua yang disebut Iblis atau Satan,” penyesat seluruh dunia (Wahyu 12:4, 9).  Para pemberontak dikalahkan, sehingga tidak lagi mendapat tempat di sorga (Wahyu 12:8).

 

Ke mana rombongan besar malaikat yang tidak setia itu pergi?  Mereka tidak ditahan di sel atau penjara yang gelap di sudut alam semesta, jauh dari makhluk ciptaan yang lain.  Mereka justru diizinkan oleh Allah untuk menguji teori mereka, di mana saja mereka dapat didengar.  Karena kehidupan terdapat juga di dunia yang lain, yaitu di sistim tatasurya yang lain, baik di galaxi kita, maupun di galaxi-galaxi yang lain di alam semesta, maka Allah mengizinkan mereka untuk maksud tersebut. Dari sudut pengalaman dunia, catatan Alkitab mengatakan bahwa mereka “dicampakkan ke bumi” (Wahyu 20:9). 

 

Kabar baik yang penting, bahkan mahapenting untuk kita, ialah bahwa kita tidak dibiarkan sendirian di dalam kegelapan selama pertikaian berlangsung, hingga pada akhirnya.  Rasul Yohanes mengatakan kepada kita bahwa setelah berjuang beribu-ribu tahun, setelah Setan dapat melakukan semua dustanya kepada alam semesta, akan terdengar “suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya:  Haleluya!  Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita, sebab besar dan adil segala penghakiman-Nya karena Ialah yang menghakimi pelacur besar itu yang merusakkan bumi dengan percabulannya, dan Ialah yang telah membalas darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu (Wahyu 19:1,2).

 

Dalam pertikaian ini, terdapat suatu petunjuk tentang inti permasalahan, yaitu Setan menuduh Allah dengan mengatakan bahwa Allah tidak adil, keras, dan semena-mena. Pertikaian terbesar yang telah berlangsung sepanjang zaman, dan yang masih terus berlangsung hingga saat ini, dapat berakhir jika umat manusia percaya dengan keyakinan yang teguh bahwa Allah layak disembah, dipuji, dikasihi, dan dipercayai.

 

Di dalam Alkitab, dari Kejadian sampai Wahyu, kisah pertikaian ini dipaparkan secara terbuka, sekaligus menggambarkan bagaimana Allah mengadakan pembelaan diri dengan menjawab pertanyaan demi pertanyaan sehubungan dengan kecurangan yang dituduhkan kepada-Nya.

 

Dari sudut pandang teologi Kristen, sesungguhnya hal ini adalah kisah sederhana dari siapa, mengapa, apa yang diperoleh, di luar pertikaian ini.  Dalam hal ini, teologi dapat digambarkan sebagai “ilmu komunikasi secara sepihak dari Allah,” jika dihubungkan dengan tantangan dari musuh-Nya.  Alkitab, jika kita mempelajarinya dengan seksama tentang konteks ini, seolah theatre yang mempertunjukkan bahwa (1) para musuh mengejar sasarannya tanpa belas kasihan, untuk meruntuhkan kepemerintahan Allah di alam semesta, dan (2) Allah yang panjang sabar dan penuh kasih setia menyatakan posisi-Nya.

 

Rasul Yohanes menggambarkan musuh itu sebagai “Iblis atau Satan yang menyesatkan seluruh dunia”(Wahyu 12:9), “yaitu ular tua” (Wahyu 20:2), sementara menurut Yesus, “Ia adalah pembunuh sejak semula … pendusta dan bapa segala pendusta” (Yohanes 8:44).

 

Dari mana asal mula Setan?  Para pelajar Alkitab pada awal Kekristenan telah menemukan di dalam Perjanjian Lama (Yesaya 14 dan Yehezkiel 28) intisari dari kisah sehubungan dengan asal mula Setan.  Alkitab menggambarkan tentang pemimpin biduan sorga, yaitu Lucifer, “bintang timur, putra fajar”(Yesaya 14:12) sebagai pemberontak.  Dia diciptakan dalam “kesempurnaan, penuh hikmat dan maha indah” (Yehezkiel 28:11), “engkau tak bercacat di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu” (Yehezkiel 28:15).  Ketidakadilannya juga digambarkan sebagai hati yang “sombong,” yaitu mempunyai keinginan yang besar untuk menjadi nomor satu, sehingga “hikmatmu kau musnahkan demi semarakmu” (Yehezkiel 28:17).

 

Sungguh suatu ide yang aneh, karena Lucifer, Setan itu, “berkata dalam hati, aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, … aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi” (Yesaya 14:13, 14).

 

Dengan meyakinkan para Malaikat agar mereka berbalik setia kepadanya, ia merampas kuasa kemuliaan dan otoritas yang adalah milik oknum ke-Allahan, yang mana itu adalah tempat Yesus, Putra Allah.  Irih, cemburu, kecurangan, pemberontakan, justru berawal di sorga.  Sungguh suatu hal yang takterpecahakan, dan tak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, bahwa sorga, tempat tinggal Allah, tempat yang suci, justru pemberontakan terhadap Allah, atau dosa, berawal di sana.  Hal yang sangat mungkin untuk dipertanyakan ialah bagaimana mungkin tuduhan yang sangat menakutkan yang ditujukan kepada Allah dan hukum-Nya, serta dusta yang digunakan oleh Setan untuk mendapatkan simpati dari satupertiga dari Malaikat sorga, dengan mudah muncul di dalam pikiran Lucifer?  Ia (Setan)berdusta tentang kepribadian Allah dengan mengatakan bahwa Allah tidak adil, keras, dan semena-mena, dan menuduh bahwa kasih dan hukum Allah tidaklah merupakan sesuatu yang sangat baik bagi manusia, dan bahwa Allah meminta kesetiaan penurutan dari manusia, sementara Allah sendiri tidak mempraktekkan penyangkalan diri serta pengorbanan.  Setan menghasut manusia dengan mengatakan bahwa hukum Allah tidak dapat dituruti, dan bahwa Allah adalah sumber dosa, penderitaan, dan kematian.

Kita melihat muslihatnya di taman Eden (Yehezkiel 28:13).  Dengan kelicikannya yang luar biasa, Setan menciptakan kebingungan yang hebat di dalam hati Hawa dengan mengatakan “Tentu Allah berfirman:  semua pohon di dalam taman ini jangan kamu makan buahnya bukan?” (Kejadian 3:1).  Allah Tidak mengatakan demikian (baca Kejadian 2:17).  Tetapi hancurnya kepercayaan manusia pertama kepada Allah telah berawal pada peristiwa ini.  Hawa kemudian menitikberatkan perhatiannya kepada buah tersebut.  Ia memberikan penilaian yang tinggi terhadap buah tersebut melebihi perintah Allah.  Walau Hawa menganggap kebenaran perintah Allah itu penting (Kejadian 3:3), namun ketika ular (jelmaan dari malailat yang telah berdosa) itu  menunjukkan buah terlarang tersebut kepadanya, serta dilihatnya bahwa tidak ada sedikitpun bahaya yang tampak dari pada buah tersebut, Hawa yang kini telah mempercayai perasaannya, serta kelicikan Setan tanpa alasan, melebihi firman yang diucapkan langsung oleh Tuhan,  mengambil buah tersebut untuk dirinya dan suaminya, Adam.  Demikianlah pemberontakan di sorga telah berpindah ke bumi ini, dan dosapun berawal di planet ini.

 

Bukti Kasih Allah

 

Apakah hubungan Allah dengan pemberontakan?  Apakah Ia mengampuni pemberontak?  Bagaimana caranya agar mereka yang telah terjangkit secara moral dan telah rusak secara fisik oleh pemberontakan ini dapat dipulihkan kembali?  Caranya ialah dengan menempatkan manusia pada “rencana keselamatan.” Inilah cara Allah mempertahankan sifat-Nya, kepemimpinan-Nya,  wibawa-Nya serta hukum-Nya  yang difitnah oleh Setan selama pertikaian berlangsung dalam pengamatan alam semesta.

 

Dasar dari rencana ini ialah pernyataan Yesus dan para pengikut-Nya tentang Allah itu sendiri.  Rasul Yohanes menulis:  “Firman itu adalah Allah (Yohanes 1:1-3), dan Yesus datang untuk menyatakan kebenaran tentang Allah.  “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang telah diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa”(Yohanes 1:14).

 

Para penulis Perjanjian Baru mempunyai pemahaman yang baik dan jelas tentang arti penjelmaan Yesus yang ajaib ke dalam dunia yang berdosa.  Yesus datang untuk mendemonstrasikan kasih Allah, serta memperbaiki pemahaman manusia yang salah tentang Allah.  “Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yohanes 1:18)  “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan penopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan”(Ibrani 1:3).

 

Mengapa keselamatan orang berdosa tergantung pada suatu gambaran yang benar tentang Allah?  Mengapa Yesus begitu tekun dalam pelayanan dan ajaran-Nya untuk menjelaskan tentang Allah?  Mengapa kebenaran tentang Allah, kabar baik tentang Allah, pencipta alam semesta, sangat penting?  Ya!  Pengenalan akan Allah dalam cara yang benar – “benar-benar mengenal-Nya” – adalah motivasi terkuat untuk berbalik dari dosa dan mempercayai-Nya melebihi segala tindakan dan pertimbangan dunia (baca Yohanes 17:3; Lukas 10:27).  Melihat Allah di dalam Yesus (melalui Yesus) secara pasti memberikan dorongan untuk “diubahkan menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Korentus 3:18; Kejadian 2:27).

 

Apa yang Yesus tunjukkan kepada kita tentang Allah? Dalam hidup dan ajaran-Nya selama berada di dunia, Ia menunjukkan kepada kita secara jelas bahwa Allah yang adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang menantikan manusia berdosa dengan penuh kesabaran, sebagaimana  orangtua yang menanti anaknya yang belum kembali ke rumah, dengan pintu rumah yang tetap terbuka lebar.  Sebagai bukti, Ia tidak saja menunggu di pintu rumah yang terbuka, Ia keluar mencari anak-anak-Nya yang hilang (baca Lukas 15:3-240).

 

Yesus menyatakan bahwa Allah tidak pernah marah, membenci, memusuhi orang berdosa, apalagi mereka yang membutuhkan ketenangan di dalam Dia (baca Yohanes 3:16, 17; Lukas 6:35).  Ia justru mengambil inisiatif dalam memperbaiki hubungan dengan para pemberontak (baca 1 Timotius 2:4; Titus 2:11).  Melalui Kristus, Allah mendamaikan kita dengan diri-Nya sendiri (2 Korentus 5:18).

 

Yesus juga menyatakan kepada kita bahwa dengan tidak meremehkan dosa, Allah mempunyai cara untuk memulihkan keadaan dan tetap sanggup menjamin kedamaian abadi kepada para pengikut-Nya.  Melalui kehidupan dan kematian Yesus, Ia menunjukkan kepada kita bahwa “masa kini … Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus” (Roma 3:26).  Adalah penting juga untuk mengetahui bahwa pengampunan bukanlah penyucian seluruh alam semesta, tetapi adalah penghargaan atas suatu perobahan yang mendasar di dalam setiap pribadi yang bertobat dari pemberontakan mereka kepada Allah (baca Matius 3:8; 6:14, 15).

 

Semua itu boleh terjadi karena sebagai korban tebusan kita, Yesus menunjukkn kepada kita bahwa pernyataan tuduhan Setan adalah dusta, dan dalam hal ini Yesus menyatakan yang sebaliknya dari tuduhuan Setan, sekaligus menyatakan bahwa Allah mengorbankan diri-Nya sendiri bagi mereka yang memberontak terhadap-Nya.  Melalui pengorbanan-Nya, Allah ingin menyatakan kepada alam semesta bahwa dosa adalah masalah moral dan juga adalah masalah hubungan –hubungan manusia dengan Allah– dan di sinilah jelas terlihat bahwa harga dosa itu sangat mahal, bukan harga dari dosa itu, tetapi harga dari sebuah pengorbanan untuk mereka yang telah berdosa oleh karena pemberontakan mereka terhadap-Nya.  Inilah cara Allah menanggung resiko pemberontakan kita, untuk keselamatan kita – inilah kasih Allah.

 

Saksi Yang Meringankan

 

Walau Yesus menyatakan tentang Allah dan mengatakan bahwa Allah mengasihi orang berdosa sehingga keampunan ditawarkan secara gratis kepada semua orang berdosa, tetapi bagaimana caranya agar “kabar baik” ini mendobrak, atau paling tidak, mulai mendobrak masalah dosa, sejak awal keberadaannya di planet bumi?  Bagaimana bisa membuktikan bahwa Allah itu adil, ketika Ia meminta orang berdosa untuk menuruti hukum-Nya, dan mengadili mereka sesuai dengan sambutan mereka, yaitu perbuatan? (baca Matius 19:16-22; Roma 6:12-19; 8:3, 4; Pengkhotbah 12:13, 14).  Apakah Allah meletakkan suatu beban yang berat, yang tidak mungkin dipikul oleh umat-Nya, ketika Ia memperingatkan mereka berjalan sebagaimana Yesus? (baca 1 Yohanes 2:3-6; Efesus 5:1; Filipi 2:1-5; 1 Petrus 1:14, 16).

 

Penekanan rasul Paulus kepada jemaat di Efesus merupakan sesuatu yang sangat menarik:

 

“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.  Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula  oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya … sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya … yang … dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus … karena di dalam Dialah kami mendapat bahagian yang dijanjikan.”  “Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang yang bukan Yahudi, kekayaan Kristus yang tidak terduga itu … yang telah berabad-abad tersembunyi di dalam Allah … supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah …  Aku berdoa semoga kamu berakar serta berdasar di dalam kasih …  supaya kamu bersama-sama segala orang kudus dapat memahami … kasih Kristus, dan dapat mengenl kasih itu, seklipun ia melampaui segala pengetahuan.  Aku berdoa supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (Efesus 1:4-12; 3:8-13).

 

Paulus mengerti dengan baik bahwa jemaat ditentukan untuk memperagakan hikmat Allah, dan disanggupkan oleh Roh Allah untuk memberikan kesaksian yang meyakinkan bahwa cara Tuhan adalah “benar dan adil” (Wahyu 19:2).

 

Pertikaian antara kedua kuasa ini, antara terang dan gelap, akan berakhir pada waktu alam semesta diyakinkan tentang kebenaran Allah yang penuh kebaikan dan panjang sabar.

 

Missi yang diemban oleh umat Allah ialah “memuliakan Allah” (baca Wahyu 14:7).  Injil yang kekal (Wahyu 14:6) haruslah dimengerti dengan benar, agar menjadi “kesaksian bagi segala bangsa” (Matius 24:14; Wahyu 14:6) bahwa Allah layak untuk disembah dan dipercayai, dan bahwa Ia membenci dosa, sehingga akan mengalahkan dan mengakhiri dosa dengan sempurna.

 

Allah dimuliakan ketika umat tebusan-Nya memahami dengan baik dan dapat memberikan penjelasan dengan baik dan benar akan keyakinan mereka kepada orang lain.  Khotbah yang bersemangat, berapi-api, dengan budi bahasa yang halus, tidak dapat menyatakan Allah secara benar.  Gedung gereja yang megah serta kegiatan rohani yang menyolok dan populer belum tentu memuliakan Allah.  Hanya mereka yang memantulkan hidup Yesus dan mempertahankan kepemerintahan Allah atas dirinya melalui penurutan akan hukum Allah yang dapat memuliakan Allah.  Maksud dari keselamatan ialah “menjadi serupa dengan Yesus agar supaya menjadi yang sulung di antara banyak saudara”(Roma 8:29). Dengan menghidupkan kasih, keagungan, kerendahan hati, kekudusan, teguh dalam menghadapi pencobaan sebagaimana Kristus, serta ketergantungan kepada anugerah Allah secara penuh, maka demikianlah kita memantulkan kehidupan Kristus (Ibrani 5:7-9).

 

Pertikaian hanya bisa diakhiri bila umat Allah memuliakan Dia (Wahyu 14:7) dengan cara membuat keputusan yang benar secara cerdas, dengan penuh kesadaran bahwa rencana Allah merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan.  Setiap pribadi harus membuat keputusan untuk “memelihara hukum Allah dan beriman kepada Yesus Kristus” (Wahyu 12:17; 14:12).

 

Upaya mempertahankan nama baik Allah melalui umat-Nya di akhir zaman, bukanlah suatu keistimewaan yang baru dalam pertikaian besar ini.  Melalui umat-Nya, baik secara pribadi maupun kelompok, Allah ingin menyatakan posisi-Nya dalam pertikaian ini.

 

Nabi Yehezkiel mengingatkan kepada kita bahwa Allah senantisa ingin agar umat-Nya membuktikan kesalahan Setan, baik posisinya maupun tuduhannya kepada Allah, Walau Allah selalu dikecewakan oleh mereka.

 

“Aku merasa sakit hati karena nama-Ku yang kudus dinajiskan oleh kaum Israel di tengah bangsa-bangsa, di mana mereka datang.  Oleh karena itu katakanlah kepada kaum Israel:  beginilah firman Tuhan ALLAH: Bukan karena kamu Aku bertindak, hai kaum Israel, tetapi karena nama-Ku yang kudus yang kamu najiskan di tengah-tengah bangsa-bangsa di mana kamu datang.  Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka.  Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa” (Yehezkiel 36:21-23).

 

Bagaimana agar Allah dapat mempertahankan nama baikNya melalui umatNya?  Bagaimana agar Allah dapat dilihat sebagai Allah yang suci, walau memang Dia adalah suci?  Nabi Tuhan ini melanjutkan:

 

“Aku mencurahkan kepadamu air jernih yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenjisanmu dan dari segala berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.  Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yanbg baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.  Roh-Ku akan Kubiarkan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang kepada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya” (Yehezkiel 36:25-27). 

 

Di sini kita melihat adanya hubungan antara pemulihan nama baik Allah, dengan hati yang baru dari umat Kristen yang sejati, yaitu ketika melalui Yesus Kristus, mereka beralih dari pemberontakan kepada pertobatan, dikuatkan oleh Roh Kudus, sehingga memiliki tekad yang bulat untuk berjalan di dalam penurutan akan hukum Allah (Wahyu 12:17; 14:12). 

 

Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjin Baru, keduanya menggunakan analogi “anggur” (Yesaya 5, Yohanes 15) dan “ladang gandum” (Matius 13, Markus 4) untuk menggambarkan pertumbuhan iman hingga pada waktu kedatangan Yesus Kristus untuk menyabitnya.  Benih Injil ditanam di dalam ladang hati orang Kristen yang baru, dan hasilnya ialah buah yang menyenangkan.  Roh Kudus memelihara dan menyanggupkan setiap orang percaya untuk “tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh” agar supaya “tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita” (Roma 8:4). 

Buah dari benih Injil (Galatia 5:22, 23) yaitu kedewasaan rohani umat pilihan, adalah merupakan tujuan Kristus dalam pelayanan-Nya di dunia ini.  Hal ini dilakukan-Nya dengan menambatkan rencana keselamatan, dalam perpaduan dengan hukum-Nya dan kasih-Nya.  “Itulah sebabnya dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya” (Ibrani 2:17), agar Ia mempersiapkan dasar bagi iman Kristen dalam kemenangan-Nya atas dosa.  Inilah cara Yesus memuliakan Bapa-Nya (bacaYohanes 17:14).  Sementara itu, bahagian kita adalah “sama seperti Engkau mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku mengutus mereka ke dalam dunia.  Aku di dalam Engkau dan Engkau di dalam Aku … agar dunia tahu Engkau mengasihi mereka sama seperti Engkau mengasihi Aku” (Yohanes 17:18, 23).     

 

 

Posisi ini tidak mudah untuk kita, bahkan tidak mudah pula untuk Yesus, ya, Yesus yang tidak berdosa.  “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluh kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehanNya Ia telah didengarkan.  Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya” (Ibrani 5:7-9).

 

Maleakhi mengenal cara berpikir banyak orang yang sekedar mencari nama Allah tetapi tidak mencari karakter-Nya.

 

“Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu.  Tetapi kamu berkata:  “Dengan cara bagaimana kami menyusahi Dia?”  Dengan cara kamu menyangka:  “Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang yang demikianlah Ia berkenan – atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?” (Maleakhi 2:17) .

 

Nabi ini melanjutkan dengan menunjuk kepada keadaan kita di akhir zaman, ketika peristiwa terakhir:  “Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya?  Dan siapakah yang dapat tahan berdiri, apabila Ia menampakkan diri?  Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukan penatu.  Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN” (Maleakhi 3:2, 3).  Nabi ini melanjutkan:  “Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya” (ayat 18).

 

Setan akan mengadakan perlawanan yang dahsyat terhadap umat yang sisa, yang tekun menderita hingga tiba hari kedatangan-Nya, karena kesaksian mereka yang berpihak kepada Allah.  Sementara Allah siap mengayunkan sabit dan mengumpulkan tuaian yang masak (Wahyu 14:15, 16), Setan mengilhami dunia dengan peristiwa-pewristiwa yang dahsyat untuk memutuskan semua bentuk dukungan dan hubungan terhadap mereka yang setia kepada Allah melalui penurutan akan hukum-Nya(baca Wahyu 13:15-17).

 

Di hadapan seluruh alam semesta, suatu pemandangan terakhir dari pertikaian besar yang terus berlangsung menuju kepada akhirnya.  Pada pihak Allah, umat-Nya tetap teguh berdiri dalam kemenangan iman mereka, tetap tenang dalam menghadapi ujian, yaitu mereka yang memiliki materai Allah – restu Allah tetap menyokong mereka secara sempurna untuk terus berdiri mewakili Allah (bacaWahyu 7:3).  “Di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama bapa-Nya. …  Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak tercela” (Wahyu 14:1, 5; baca Daniel 12:10).  Rahmat Allah “berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya” (Yudas 24; bandingkan dengan 2 Petrus 3:11, 12, 14). Demikinlah pada akhirnya, umat Tuhan terus memantulkan kebenaran, dan membenarkan bahwa Allah adalah sebagaimana yang Ia katakan tentang diri-Nya, yaitu Mahabesar, Mahasuci, Mahaadil, dan penuh kasih setia.

 

Nyatalah Keadilan Allah

 

Sementara kelompok umat Allah berada di satu pihak memantulkan kebenaran Allah, ada lagi satu kelompok, yaitu mereka yang telah menjadi “anak Setan,” terus berupaya untuk membunuh umat Allah, sebagaimana juga yang telah dilakukannya sejak peristiwa Kain.  Alkitab menyebut kelompok ini sebagai “penyembah binatang dan patungnya” (Wahyu pasal 13, 14).

 

Segera sebelum kedatangan Yesus, akan terlihat amat jelas, perbedaan antara kelompok umat Tuhan dari kelompok penyembah “binatang.”  Ketika Yesus menyelesaikan fungsi keimamatanNya dan datang ke dunia untuk menuai, akan mudah dikenal-Nya, mana yang tuaian, dan mana yang bukan tuaian.

 

Sebelum kutuk dicurahkan (Wahyu 16), sebelum kebangkitan umat tebusan (1 Tesalonika 4:16, 17; Wahyu 20:4, 6), Allah akan mengumumkan kepada alam semesta bahwa dari dunia yang telah berdosa, ada umat pilihan yang segera akan bergabung dengan keluarga besar sorga (Wahyu 22:11; Daniel 12:1).

 

Akankah alam semesta menerima penghakiman Allah atas dosa dan orang-orang berdosa, hanya karena para saksi-Nya, yaitu orang-orang percaya?  Daniel berjanji bahwa waktunya akan tiba, ketika Allah dan Setan akan menyampaikan alasan mereka masing-masing di hadapan alam semesta, yaitu pada saat penghakiman (baca Daniel 7:9-14; 8:14).  Nabi Tuhan ini juga telah melihat bahwa “keadilan diberikan kepada orang-orang kudus milik Allah yang Mahatinggi” (Daniel 7:22).

 

Allah mempertanggungjawabkan keadilan-Nya melalui uma-Nya, tanpa kekerasan atau paksaan, melainkan melalui kasih. Secara pasti, Ia menyatakan kebenaran secara terbuka (2 Korentus 4:2).  Di sini, pada peristiwa ini, Allah menunjukkan serta mempertahankan prinsip dan metode kepemimpinan-Nya, dan sejak saat itu tidak pernah akan ada lagi makhluk ciptaan di mana saja, di seluruh alam semesta yang akan bertanya-tanya, dan mempertanyakan karakter Allah, atau bahkan mungkin  meragukan hukum-Nya. Dalam keserasian yang sempurna, “dalam nama Yesus bertekuk lutut semua yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi dan segala lidah mengaku bahwa Yesus  Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah, Bapa” (Filipi 2:10, 11).

 

Pujian akan menggema di seluruh alam semesta:  “Haleluya!  Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan ada pada Allah kita, sebab benar dan adil segala penghakimanNya”  “…Haleluya!  Karena Tuhan Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja (Wahyu 19:1, 6).  Pendurhakaan dan pemberontakan akan berakhir, keadilan dan kebenaran Allah tetap untuk selamanya.

 

Inilah pengharapan Kristen, pengharapan pemulihan dari dosa.  Inilah iman dari semua orang kudus, termasuk “Henokh, keturunan ketujuh dari Adam” (Yudas 14), iman dari mereka yang telah mengorbankan diri atau menjadi korban demi Injil, dan bahkan iman dari semua orang yang menantikan kedatangan Yesus Kristus.  Iman saya, yang kiranaya juga menjadi iman dari para pembaca.  Ya! Semua ini mungkin jikaRoh Kudus mendorong kita menyambut kasih Allah yang “begitu besar.”

 

Marilah kita mempersiapkan diri bagi peristiwa besar ini, saat mana kita akan berada di pihak Allah, memuliakan Dia, dan bergabung dengan anggota keluarga besar sorga.

 

 

› tags: dakwa /

Leave a Reply