Amaran Ditolak

Dalam mengkhotbahkan doktrin kedatangan Tuhan, William Miller dan rekan-rekannya bekerja dengan satu tujuan membangunkan orang-orang untuk bersedia kepada penghakiman. Mereka berusaha membangunkan orang-orang yang mengaku beragama kepada pengharapan gereja yang benar dan kepada kebutuhan mereka akan pengalaman Kristen yang lebih dalam. Mereka juga membangunkan orang-orang yang belum bertobat kepada penyesalan dan pertobatan segera kepada Allah. “Mereka tidak berusaha menobatkan seseorang kepada sesuatu sekte atau golongan agama. Oleh karena itu mereka bekerja di antara semua golongan dan sekte tanpa mengganggu organisasi atau disiplin mereka.”
“Dalam semua usaha saya,” kata Miller, “saya tak pernah berkeinginan atau berpikir untuk mendirikan kepentingan terpisah dari denominasi yang ada, atau menguntungkan sesuatu atas biaya yang lain. Saya berpikir untuk menguntungkan semua. Seandainya semua orang Kristen bersukacita dalam prospek kedatangan Kristus, dan bahwa mereka yang tidak melihat sebagaimana saya lihat akan mengasihi sebagaimana mereka yang menerima ajaran ini, saya tidak melihat perlunya mengadakan pertemuan yang terpisah. Tujuan saya satu-satunya adalah keinginan untuk menobatkan jiwa-jiwa kepada Allah, untuk memberitahu dunia mengenai penghakiman yang akan datang, dan mengajak sesama manusia untuk mengadakan persediaan hati yang akan menyanggupkan mereka bertemu dengan Allah mereka di dalam damai. Mayoritas dari mereka yang bertobat oleh karena usaha-usaha saya bergabung dengan berbagai gereja yang ada.” — Bliss, “Memoirs of Wm. Miller,” p. 328.
Oleh karena usahanya adalah membangun gereja-gereja, maka untuk sementara usaha-usaha ini diterima dengan baik. Tetapi pada waktu pendeta-pendeta dan para pemimpin agama memutuskan menentang ajaran tentang kedatangan Kristus dan bermaksud untuk menekan semua yang menggerakkan ajaran itu, mereka bukan saja menentangnya dari mimbar, tetapi melarang anggota-anggotanya untuk mengikuti dan menghadiri khotbah-khotbah mengenai kedatangan Yesus yang kedua kali, atau bahkan membicarakan pengharapan mereka di perkumpulan-perkumpulan sosial gereja. Dengan demikian orang-orang yang percaya ini menghadapi cobaan dan kebingungan besar. Mereka mencintai gereja mereka, dan tidak ingin berpisah dari gereja itu. Tetapi pada waktu mereka melihat kesaksian firman Allah di tindas, dan hak mereka untuk menyelidiki nubuatan dilarang, mereka merasa bahwa kesetiaan mereka kepada Allah melarang mereka menyerah. Yang berusaha menutupi kesaksian firman Allah, tidak bisa dianggap sebagai bentuk gereja Kristus, “sebagai tiang dan landasan kebenaran.” Oleh karena itu mereka merasa benar kalau berpisah dari gereja mereka semula. Pada musim panas tahun 1844 kira-kira 50,000 orang mengundurkan diri dari gereja-gereja.
Kira-kira pada waktu ini terjadi perubahan nyata di kebanyakan gereja-gereja di seluruh Amerika Serikat. Selama bertahun-tahun terdapat perubahan pelan-pelan tetapi pasti di dalam gereja. Mereka semakin menyesuaikan diri dengan praktek-praktek dan kebiasaan keduniawian, dan kemerosotan dalam kehidupan kerohanian yang sebenarnya semakin nyata. Dan pada tahun itu ada tanda-tanda kemunduran yang nyata di hampir semua gereja-gereja di negara itu. Sementara tak seorangpun yang dapat mengatakan penyebabnya, maka fakta itu tersebar luas dan dikomentari baik oleh pers maupun oleh para pendeta dari mimbar.
Pada sebuah pertemuan dewan gereja Philadelphia, Tuan Barnes, seorang pengarang komentar yang digunakan secara luas, dan pendeta dari salah satu gereja yang terutama di kota itu, “mengatakan bahwa ia telah bekerja dalam pelayanan kependetaan selama dua puluh tahun, dan tak pernah ia melaksanakan aturan tanpa menerima lebih atau kurang ke dalam gereja, sampai perjamuan yang terakhir. Tetapi sekarang tidak ada kebangunan, tidak ada pertobatan, tidak banyak pertumbuhan nyata dalam kasih karunia pada orang-orang yang mengaku orang Kristen, dan tak seorangpun datang untuk belajar membicarakan mengenai keselamatan jiwa-jiwa mereka. Dengan bertambahnya usaha bisnis, dan prospek cerah perdagangan dan pabrik-pabrik, ada pertambahan dalam pemikiran keduniawian. Demikianlah yang terjadi dengan semua agama.” — Congregational Journal, May 23, 1844.
Pada bulan Februari tahun itu, Profesor Finney dari Oberlin College, berkata, “Kita telah mempunyai fakta dalam pikiran kita, bahwa pada umumnya gereja-gereja Protestan di negara kita bersikap apatis atau buas terhadap hampir semua pembaharuan moral pada zamannya. Memang ada pengecualian, namun tidak cukup memberikan fakta sebaliknya daripada yang umumnya. Kita juga mempunyai fakta pendukung lainnya: hampir sama sekali tidak ada pengaruh kebangunan rohani di dalam gereja. Apatisme kerohanian sudah hampir merajalela kepada semua, dan sangat mendalam dan menakutkan; demikianlah kesaksian surat kabar agama diseluruh negeri menyaksikannya . . . . Anggota-anggota gereja sudah sangat keranjingan mode — bergandengan tangan dengan orang-orang yang tidak percaya dalam pesta pora kepelesiran, dalam dansa-dansi, dalam perayaan-perayaan dan lain-lain . . . . Tetapi kita tidak perlu memperluas masalah yang menyakitkan ini. Cukuplah kita melihat bahwa bukti-bukti semakin menumpuk dan melanda kita untuk menunjukkan bahwa pada umumnya gereja-gereja merosot akhlaknya dengan sangat menyedihkan. Mereka telah menyimpang begitu jauh dari Tuhan, dan Dia telah menarik diri dari mereka.”
Dan seorang penulis dalam Religious Telescope menyaksikan, “Kita belum pernah menyaksikan kemerosotan umum agama seperti sekarang ini. Sungguh, gereja harus bangun, dan mencari penyebab penderitaan ini, karena setiap orang yang mengasihi Sion harus memandang itu sebagai penderitaan. Kalau kita merenungkan betapa “sedikit dan jarang” ada kasus pertobatan yang benar, dan betapa kekurangajaran dan kekerasan orang-orang berdosa, maka tanpa disadari kita berseru, ‘Apakah Allah sudah lupa kasih karunia-Nya? atau apakah pintu kasihan sudah tertutup?”
Keadaan seperti itu tidak akan pernah terjadi tanpa sebab di dalam gereja itu sendiri. Kegelapan rohani yang menimpa bangsa-bangsa, gereja-gereja dan pribadi bukan karena Tuhan menarik kasih karunia ilahi-Nya, tetapi karena manusia itu mengabaikan atau menolak terang ilahi itu. Ilustrasi menarik mengenai kebenaran ini dinyatakan dalam sejarah orang-orang Yahudi pada zaman Kristus. Oleh karena pengabdian mereka kepada dunia dan kelalaiannya kepada Allah, pengertian mereka menjadi gelap, hati mereka dipenuhi keduniawian dan hawa nafsu. Dengan demikian mereka menjadi acuh tak acuh dan bodoh mengenai kedatangan Mesias, dan di dalam kesombongan dan ketidakpercayaan mereka, mereka menolak Penebus. Allah bahkan sesudah itu tidak menghalangi bangsa Yahudi untuk mengetahui atau ikut serta dalam berkat-berkat keselamatan. Tetapi mereka yang menolak kebenaran kehilangan semua kerinduan untuk memperoleh karunia Surga. Mereka telah “mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan,” sampai terang yang ada pada mereka menjadi kegelapan. Dan betapa pekatnya kegelapan itu!
Sesuailah dengan kebijakan Setan, bahwa manusia harus mempertahankan formalitas agama, tetapi roh keilahian dan kesalehan yang vital kurang. Setelah mereka menolak Injil, orang Yahudi terus mempertahankan upacara-upacara keagamaan lama dengan sungguh-sungguh. Mereka dengan gigih memelihara keekslusifan nasional mereka, sementara mereka sendiri mengaku bahwa hadirat Allah tidak lagi dinyatakan di antara mereka. Nubuatan nabi Daniel menunjuk dengan tak mungkin salah kepada masa kedatangan Mesias dan secara langsung menubuatkan kematian-Nya. Mereka melarang mempelajari nubuatan, dan akhirnya para rabbi mengumumkan kutuk bagi semua yang mencoba menghitung masa. Dalam kebutaan dan tanpa penyesalan, orang Israel telah berdiri selama 1800 tahun tidak memperdulikan tawaran kasih karunia keselamatan, tidak memperhatikan berkat-berkat Injil, dan amaran yang sungguh-sungguh dan menakutkan mengenai bahayanya menolak terang dari Surga.
Bilamana penyebabnya ada terjadi, maka akibat yang sama akan menyusul. Ia yang dengan sengaja mengabaikan tanggungjawab karena mengganggu kesukaan-kesukaannya, pada akhirnya akan kehilangan kuasa untuk membedakan antara kebenaran dan kesalahan. Pengertiannya menjadi digelapkan, hati nuraninya tidak berperasaan, hatinya dikeraskan dan jiwanya dipisahkan dari Allah. Dimana pekabaran kebenaran ilahi ditolak atau diremehkan, maka di sana gereja akan selubungi oleh kegelapan. Iman dan kasih menjadi dingin, dan perpecahan serta perselisihanpun masuk. Anggota-anggota gereja memusatkan perhatian dan tenaga mereka kepada perkara-perkara duniawi, dan orang-orang berdosa semakin tidak mau menyesal.
Pekabaran malaikat yang pertama dalam Wahyu 14 yang mengumumkan saat penghakiman Allah, dan yang memanggil orang-orang supaya takut akan Allah dan menyembah Dia, dimaksudkan untuk memisahkan orang-orang yang mengaku umat Allah dari pengaruh bejat dunia ini, dan membangunkan mereka untuk melihat keadaan mereka yang sebenarnya yang murtad dan bersifat keduniawian. Dalam pekabaran ini Allah telah mengirimkan amaran kepada jemaat, yang kalau diterima, akan memperbaiki kejahatan yang telah memisahkan mereka dari Dia. Seandainya mereka menerima pekabaran yang dari Surga itu dan merendahkan hati mereka di hadirat Allah serta berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mempersiapkan diri berdiri di hadirat-Nya, maka Roh dan kuasa Allah akan dinyatakan di antara mereka. Jemaat itu sekali lagi akan memperoleh berkat persatuan, iman dan kasih yang ada pada zaman rasul-rasul; bilamana orang-orang percaya itu “sehati dan sejiwa,” dan “memberitakan firman Allah dengan berani,” dan bilamana “Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” (Kisah 4:32, 31; 2:47).
Jikalau orang-orang yang mengaku umat Allah mau menerima terang sebagaimana bersinar kepada mereka dari firman-Nya, mereka akan mencapai persatuan sebagaimana yang telah didoakan oleh Kristus, yang oleh rasul itu dikatakan, “kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” Ada “satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan. (Epes. 4:3-5).
Demikianlah berkat-berkat yang akan dialami oleh mereka yang menerima pekabaran kedatangan Kristus. Mereka datang dari berbagai denominasi atau organisasi agama, dan batasan-batasan denominasi mereka dicampakkan, ajaran-ajaran yang bertentangan telah dihancurkan, pengharapan kerajaan seribu tahun yang tidak sesuai dengan keterangan Alkitab telah ditinggalkan, pandangan-pandangan yang salah mengenai kedatangan Kristus yang kedua kali dibetulkan, kesombongan dan keduniawian dibuang jauh-jauh, yang salah dibenarkan. Hati bersatu dalam persekutuan yang paling manis, dan kasih serta sukacita menguasai mereka sepenuhnya. Jika doktrin ini melakukan hal-hal itu kepada mereka yang menerimanya yang sedikit jumlahnya, hal yang sama akan dilakukan kepada semua jika semuanya menerima ajaran itu.
Tetapi pada umumnya jemaat tidak mau menerima amaran itu. Pendeta-pendeta mereka, “sebagai penjaga Israel” yang seharusnya adalah yang pertama melihat tanda-tanda kedatangan Yesus, telah gagal mengetahui kebenaran, baik dari kesaksian nabi-nabi maupun dari tanda-tanda zaman. Sementara pengharapan-pengharapan dan ambisi-ambisi duniawi memenuhi hati, kasih kepada Allah dan iman kepada firman-Nya semakin dingin. Dan bilamana doktrin kedatangan Kristus itu diajarkan, itu hanya menimbulkan prasangka dan tidak percaya bagi mereka. Fakta bahwa pekabaran itu sebagian besar disiarkan oleh kaum awam, telah digunakan sebagai argumentasi untuk menentangnya. Sebagaimana pada zaman dahulu, kesaksian sederhana firman Allah telah dihadapi dengan pertanyaan, “Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang Farisi?” (Yoh. 7:48). Dan kenyataan betapa sulitnya membantah argumentasi yang diangkat dari masa-masa nubuatan, maka banyaklah orang yang berhenti mempelajarai nubuatan, dan mengatakan bahwa buku-buku nubuatan itu dimeteraikan, dan tidak akan bisa dimengerti. Orang banyak yang hanya percaya kepada pendeta-pendeta mereka, menolak mendengarkan amaran itu. Dan yang lain, walaupun yakin terhadap kebenaran itu tetapi tidak berani mengakuinya, kalau-kalau mereka “dikucilkan” dari rumah perbaktian. Pekabaran yang dikirimkan Allah untuk menguji dan memurnikan jemaat menyatakan dengan jelas betapa besar jumlahnya orang-orang yang mengasihi dunia ini dibandingkan dengan mereka yang mengasihi Kristus. Tali yang mengikat mereka ke dunia ini lebih kuat daripada penarikan yang menuju Surga. Mereka memilih untuk mendengarkan suara hikmat duniawi, dan berpaling dari pekabaran kebenaran yang menyelidiki hati.
Dengan menolak amaran malaikat yang pertama, mereka menolak sarana yang disediakan Surga untuk pemulihan mereka. Mereka menolak dengan hinaan jurukabar yang murah hati, yang akan memperbaiki kejahatan yang memisahkan mereka dari Allah. Dan dengan keinginan yang lebih besar mereka berbalik, mencari persahabatan dengan dunia. Inilah penyebab keadaan yang menakutkan dari keduniawian, kemurtadan, dan kematian rohani yang terjadi dalam jemaat pada tahun 1844.
Dalam buku Wahyu 14, malaikat yang pertama diikuti oleh malaikat yang kedua, mengumumkan, “Sudahlah rubuh, sudahlah rubuh Babel, kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.” (Wah. 14:8). Istilah “Babilon,” diambil dari kata “Babel,” yang melambangkan kekacauan. Digunakan dalam Alkitab untuk menyatakan berbagai bentuk agama yang salah atau murtad. Dalam buku Wahyu 17, Babilon dilambangkan sebagai seorang perempuan, — sosok yang digunakan dalam Alkitab sebagai lambang gereja; perempuan yang saleh melambangkan gereja yang murni, dan perempuan sundal melambangkan gereja yang murtad.
Dalam Alkitab tabiat yang saleh dan yang bertahan dalam hubungan antara Kristus dengan gereja-Nya dilambangkan dengan persekutuan nikah. Tuhan telah menggabungkan umat-Nya kepada diri-Nya oleh suatu perjanjian khidmat; Ia berjanji menjadi Allah mereka dan mereka berjanji menjadi kepunyaan-Nya, dan hanya kepunyaan Dia sendiri. Ia mengatakan, “Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteriku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang.” (Hosea 2:18). Dan sekali lagi, “Aku telah menjadi tuan atas kamu.”(Yer. 3:14) (Aku telah menikah dengan kamu — Yer. 3:14 KJV). Dan Paulus menggunakan sosok yang sama dalam buku Perjanjian Baru pada waktu ia berkata, “Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” (2 Kor. 11:2).
Ketidaksetiaan jemaat kepada Kristus dengan membiarkan kepercayaan dan kasih sayangnya dialihkan daripada-Nya, dan dengan membiarkan cinta kepada perkara-perkara duniawi mengisi jiwanya, disamakan dengan pelanggaran kepada sumpah pernikahan. Dosa Israel dengan berpaling dari Tuhan dinyatakan dengan gambaran ini. Dan kasih Allah yang ajaib yang mereka hinakan digambarkan begini, “Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan engkau, demikianlah firman Tuhan Allah, dan dengan ini engkau Aku punya.” “Dan engkau menjadi sangat cantik, sehingga layak menjadi ratu. Dan namamu termasyhur di antara bangsa-bangsa karena kecantikanmu, sebab sangat sempurna adanya, oleh karena semarak perhiasan-Ku yang Kuberikan kepadamu, . . . . Tetapi engkau mengandalkan kecantikanmu dan engkau seumpama bersundal dalam menganggarkan ketermasyhuranmu.” “Tetapi sesungguhnya, seperti seorang isteri tidak setia terhadap suaminya, demikianlah kamu tidak setia terhadap Aku, hai kamu Israel, demikianlah firman Tuhan.” “Hai isteri yang berzinah, yang memeluk orang-orang lain ganti suaminya sendiri.” (Yehez. 16:8, 13-15,32; Yer. 3:20).
Dalam Alkitab Perjanjian Baru, bahasa yang sangat mirip dengan yang di atas ditujukan kepada orang-orang yang mengaku Kristen yang bersahabat dengan dunia ini melebihi daripada dengan Allah. Rasul Yakub berkata, “Hai kamu orang-orang yang tidak setia! (orang-orang yang berzinah — KJV) Tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” (Yakub 4:4).
Perempuan (Babilon) dalam buku Wahyu 17 digambarkan sebagai “yang memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas, permata, dan mutiara, dan ditangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya. Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia, “Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi.” Nabi berkata, “Dan aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus.” Lebih jauh, Babilon dinyatakan sebagai “kota besar yang memerintah atas raja-raja di bumi.” (Wah. 17:4-6,18). Kuasa yang untuk beberapa abad lamanya mempertahankan kekuasaan kelaliman atas raja-raja dunia Kristen ialah Roma. Warna ungu dan kirmizi, emas, batu permata dan mutiara menggambarkan kemegahan luar biasa yang melebihi raja yang dipertontonkan oleh Roma yang sombong dan pongah. Dan tidak ada satu kuasa yang benar-benar bisa dinyatakan sebagai “mabuk oleh darah orang-orang kudus,” seperti gereja ini yang dengan begitu kejam menganiaya pengikut-pengikut Kristus. Babilon juga dituduh karena dosanya berhubungan secara tidak sah dengan “raja-raja dunia.” Karena meninggalkan Tuhan dan bersekutu dengan orang-orang kafir sehingga jemaat Yahudi menjadi seorang pelacur, seorang sundal. Dan demikian juga Roma, yang korup oleh mencari dukungan kuasa-kuasa dunia, menerima hukuman yang sama .
Babilon dikatakan sebagai “ibu dari wanita-wanita pelacur” (Wahyu 17:5). Dan anaknya, yaitu wanita-wanita pelacur, melambangkan gereja-gereja yang bergantung kepada ajaran-ajarannya dan tradisi-tradisinya dan yang mengikuti teladannya mengorbankan kebenaran dan pengakuan Allah, untuk membentuk persekutuan ilegal dengan dunia. Pekabaran Wahyu 14, yang mengumumkan kejatuhan Babilon, digunakan untuk badan-badan agama yang pada suatu kali adalah murni tetapi kemudian menjadi korup atau bejat. Oleh karena pekabaran ini menyusul amaran penghakiman, maka pekabaran itu pastilah diberikan pada akhir zaman. Jadi tidak dimaksudkan hanya kepada Gereja Roma saja, oleh karena gereja tersebut sudah berada dalam keadaan jatuh selama berabad-abad. Lebih jauh, pada fatsal delapan belas buku Wahyu, umat Allah dipanggil supaya keluar dari Babilon. Menurut tulisan ini, banyak umat-umat Allah yang masih berada di Babilon. Dan di dalam badan agama manakah pengikut-pengikut Kristus paling banyak ditemukan? Tanpa ragu-ragu, di berbagai gereja yang mengaku iman Protestan. Pada waktu kebangkitan gereja-gereja Protestan, gereja-gereja ini mengambil pendirian yang agung demi Allah dan kebenaran-Nya, dan berkat-berkat-Nya ada bersama mereka. Dunia yang tidak mau percaya sendiripun terpaksa mengakui manfaat yang diakibatkan oleh penerimaan prinsip-prinsip Injil. Kata-kata nabi kepada Israel, “Dan namamu termasyhur di antara bangsa-bangsa karena kecantikanmu, sebab sangat sempurna adanya, oleh karena semarak perhiasan-Ku yang Kuberikan kepadamu, demikianlah firman Tuhan Allah.” Tetapi mereka jatuh oleh karena keinginan yang sama yang telah mengutuki dan meruntuhkan Israel — keinginan untuk meniru persahabatan dengan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan. “Tetapi engkau mengandalkan kecantikanmu dan engkau seumpama bersundal dalam menganggarkan kemasyhuranmu.” (Yehez. 16:14,15).
Banyak gereja-gereja Protestan mengikuti teladan hubungan jahat Roma dengan “raja-raja dunia,” — gereja-gereja negara, oleh hubungan mereka dengan pemerintah, dan denominasi-denominasi lain, oleh usaha-usaha agar disukai dunia. Dan istilah “Babilon” — yang berarti kekacauan — dapat dikaitkan dengan badan-badan ini yang semua mengaku mengambil ajaran atau doktrinnya dari Alkitab, namun, terbagi-bagi menjadi banyak sekte, dengan ajaran dan teori yang bertentangan.
Selain persekutuan jahat dengan dunia ini, gereja-gereja yang memisahkan diri dari Roma menampilkan karakteristiknya yang lain.
Seorang Katolik Roma memberikan bantahan, bahwa “jikalau Gereja Roma pernah dipersalahkan mengenai penyembahan berhala sehubungan dengan orang-orang saleh, maka anak perempuannya, Gereja Inggeris, juga melakukan kesalahan yang sama, dimana sepuluh gereja diabdikan kepada Maria sementara hanya satu diabdikan kepada Kristus.” — Dr. Challoner, “The Catholic Christian Instructed,” Preface, pp. 21,22 (ed. 1897).
Dan Dr. Hopkins dalam “A Treatise on the Millenium,” menyatakan, “Tidak ada alasan menganggap roh dan praktek-praktek agama antikristen dibatasi hanya kepada apa yang sekarang disebut Gereja Roma. Gereja-gereja Protestan sendiripun mempunyai banyak antikritus di dalamnya, dan masih jauh dari pembaharuan seluruhnya dari . . . kebejatan dan kejahatan.” — Hopkins, Samuel, “Works,” Vol.II, p. 328 (ed. 1854).
Menegnai pemisahan Gereja Presbyterian dari Roma, Dr. Guthrie menulis, “Tiga ratus tahun lalu, gereja kita dengan Alkitab terbuka dalam panji-panjinya, dengan motto ini, ‘Selidiki Alkitab’ dalam gulungan dokumennya, berbaris keluar dari gerbang kota Roma.” Lalu ia menanyakan pertanyaan penting, “Apakah mereka keluar dengan bersih dari Babilon?” — Guthrie, John, “The Gospel in Ezekiel,” p. 237 (Edinburgh ed. 1857).
“Gereja Inggeris,” kata Spurgeon, “tampaknya digerogoti terus oleh upacara-upacara sakramentarianisme, tetapi ketidaksesuaian kepada tradisi hampir sama buruknya dengan falsafah tidak percaya kepada Tuhan. Hal-hal yang kita anggap baik telah disisihkan satu persatu dari dasar-dasar iman. Seterusnya, saya percaya bahwa hati Inggeris dipenuhi oleh sarang-sarang ketidaksetiaan yang terkutuk, yang masih berani naik mimbar dan memanggil dirinya orang Kristen.”
Apakah asal mula kemurtadan besar itu? Bagaimanakah gereja pertama kali menyimpang dari kesederhanaan Injil? Oleh penyesuaian diri kepada praktek-praktek penyembahan berhala, untuk memudahkan Kekristenan diterima oleh kekafiran. Rasul Paulus menyatakan pada zamannya, “Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja.” Selama hidupnya para rasul gereja tetap murni. Tetapi menjelang abad kedua kebanyakan gereja-gereja mengambil bentuk baru. Kesederhanaan mula-mula itu hilang lenyap, dan tak terasa, pada waktu murid-murid dulu itu meninggal dunia, anak-anak mereka bersama-sama dengan orang-orang yang baru bertobat . . . tampil dan membuat bentuk baru.” — Robinson, Robert, “Ecclesiastical Researches,” ch. 6, par. 17 (ed. 1792, p. 51). Untuk mendapatkan orang-orang yang bertobat, standar iman Kristen yang tinggi diturunkan, dan sebagai akibatnya “penyembah-penyembah berhala berduyun-duyun masuk gereja, dengan membawa adat kebiasaannya dan segala praktek serta berhala-berhalanya.” — Gavazzi’s Lectures, p. 278 (ed. 1854). Pada waktu agama Kristen memperoleh bantuan dan dukungan pemerintahan negara, secara nominal diterima oleh orang banyak. Tetapi walaupun tampaknya mereka adalah orang-orang Kristen, masih banyak yang masih tetap penyembah berhala, terutama dengan sembunyi-sembunyi menyembah berhala-berhala mereka.” — Gavazzi’s Lectures, p. 278, (ed. 1854)
Bukankah proses yang sama telah diulang-ulangi di hampir setiap gereja yang menamakan dirinya Protestan? Pada waktu para penemunya yang memiliki roh pembaharuan yang benar meninggal, keturunannya tampil dan membuat “bentuk baru.” Sementara mereka secara membabibuta bergantung kepada ajaran-ajaran leluhur mereka dan menolak menerima setiap kebenaran yang belum pernah mereka ketahui, anak-anak para pembaharu itu menyimpang jauh dari teladan kerendahan hati, penyangkalan diri, dan membuangkan dunia. Dengan demikian “kederhanaan yang mula-mula itu lenyap.” Banjir keduniawian mengalir ke gereja, “membawa adat kebiasaan, praktek-praktek dan berhala-berhala dunia.”
Betapa menakutkan meluasnya persahabatan dunia yang adalah “permusuhan dengan Allah” yang sekarang melanda umat yang mengaku pengikut Kristus! Betapa jauhnya gereja-gereja populer di seluruh dunia Kristen menyimpang dari standar Alkitab mengenai kerendahan hati, penyangkalan diri, kesederhanaan dan kesalehan! John Wesley berkata mengenai pemakaian uang yang benar, “Jangan sia-siakan sebagianpun dari talenta yang begitu berharga, hanya untuk memuaskan keinginan mata, untuk pakaian yang berlebih-lebihan dan mahal, atau untuk perhiasan-perhiasan yang tidak perlu. Jangan sia-siakan sebagianpun daripadanya untuk menghiasi rumahmu dengan berlebihan atau dengan perabot yang mahal-mahal, dengan gambar dan lukisan yang mahal-mahal, dan barang-barang sepuhan . . . . Jangan gunakan apapun untuk memuaskan kesombongan hidup, untuk memperoleh kekaguman dan pujian orang-orang . . . . ‘Selama engkau berlaku baik maka orang lain akan berkata baik mengenai engkau.’ Selama engkau ‘berpakaian kain lenan yang halus, memakan makanan yang paling mahal setiap hari,’ tak heran banyak orang akan memuji kemewahan seleramu, kemurahanmu dan keramahanmu. Tetapi janganlah membeli pujian mereka dengan begitu mahal. Sebaliknya berpuaslah dengan penghormatan yang datang dari Allah.” — Wesley’s Works, Sermon 50, “The Use of Money.” Tetapi ajaran seperti ini diabaikan di banyak gereja pada zaman kita.
Pengakuan agama telah menjadi populer di dunia ini. Para penguasa, ahli politik, ahli hukum, doktor-doktor, dan para pedagang bergabung ke dalam gereja sebagai cara untuk memperoleh penghormatan dan kepercayaan masyarakat, dan untuk memajukan kepentingan duniawi mereka. Dengan begitu mereka berusaha menutupi semua transaksi mereka yang tidak benar, di bawah pengakuan Kekristenan. Berbagai badan-badan agama yang didukung oleh kekayaan dan pengaruh orang-orang duniawi yang sudah dibaptiskan ini, masih dilakukan demi popularitas dan perlindungan. Bangunan gereja-gereja yang megah, yang dihiasi dengan sangat mewah, dibangun di jalan-jalan protokol. Para pengunjung yang mau beribadat menghiasi diri mereka dengan pakaian yang mahal-mahal dan mode-mode mutakhir. Pendeta berbakat digaji dengan gaji yang tinggi untuk menghibur dan menarik perhatian orang-orang. Khotbah-khotbahnya tidak boleh menyinggung dosa-dosa, tetapi harus dibuat lembut dan menyenangkan bagi pendengar-pendengar modern. Dengan demikian orang-orang modern yang berdosa didaftarkan dalam catatan-catatan gereja, dan dosa-dosa modern ditutupi di bawah kesalehan yang pura-pura.
Mengomentari sikap orang-orang yang mengaku Kristen dewasa ini terhadap dunia, sebuah majalah terkenal berkata, “Dengan tak disadari gereja telah tunduk kepada kehendak zaman, dan menyesuaikan upacara perbaktiannya kepada kehendak kemodernan.” “Memang, segala sesuatu yang menolong membuat agama menarik, sekarang digunakan oleh gereja sebagai alat.” Seorang penulis dalam majalah New York Independent, berbicara mengenai Metodisme, “Garis pemisah antara orang saleh dengan orang yang tidak beragama lenyap bagaikan bayangan kabur waktu gerhana, dan orang-orang yang giat bersemangat di kedua belah pihak berusaha keras untuk menghapuskan semua perbedaan antara cara tindakan dan kesenangan mereka.” “Popularitas agama cenderung dengan cepat menambah jumlah orang yang mau mendapatkan keuntungan-keuntungan tanpa sama sekali memenuhi kewajiban-kewajibannya.”
Howard Crosby berkata, “Sangat memprihatinkan kita menemukan gereja Kristus sangat sedikit melaksanakan rencana Tuhan. Sama seperti oarng Yahudi zaman dahulu membiarkan pergaulan biasa dengan bangsa-bangsa penyembah berhala mencuri hati mereka dari Allah, . . . demikianlah gereja Yeusu sekarang, oleh persekutuannya dengan dunia yang tidak percaya kepada Tuhan, telah kehilangan metode ilahi dalam kehidupannya yang benar. Dan tunduk menyerah kepada kebiasaan atau tabiat berbahaya masyarakat yang tidak mempunyai Kristus, walaupun sering masuk akal, dengan menggunakan argumen-argumen dan mencapai kesimpulan yang asing kepada kenyataan Allah, dan secara langsung berlawanan dengan semua pertumbuhan dalam kasih barunia.” — “The Healthy Christian: An Appeal to the Church,” pp. 141,142 (ed. 1811).
Dalam arus keduniawian dan kepelesiran ini, penyangkalan diri dan pengorbanan diri demi Kristus hampir seluruhnya hilang. “Sebagian dari laki-laki dan perempuan sekarang yang hidup aktif dalam gereja kita adalah mereka yang telah dididik waktu masih kanak-kanak untuk berkorban agar dapat melakukan sesuatu bagi Kristus.” Tetapi “jika dana dibutuhkan sekarang, . . . tak perlu seorangpun dipanggil untuk memberi. Oh, tidak! Adakanlah perayaan atau pekan raya, sajikan makanan pesta, lelucon, makan malam cara kuno, dan sesuatu untuk dimakan, sesuatu yang menghibur orang-orang.”
Gubernur Washburn dari negara bagian Wisconsin, pada amanat tahunannya pada tanggal 9 Januari 1873 menyatakan, “Seperangkat undang-undang atau hukum diperlukan untuk membubarkan sekolah-sekolah dimana penjudi-penjudi di buat, yang merajalela dimana-mana. Bahkan gereja sendiri kadang-kadang (secara tidak sengaja, tidak diragukan) melakukan pekerjaan Setan. Konser-konser amal, usaha-usaha dan undian amal, kadang-kadang untuk membantu tujuan-tujuan keagamaan dan kedermawanan, (tetapi sering untuk tujuan-tujuan yang kurang berguna), lotere, paket-paket hadiah, dan lain-lain, adalah semua cara untuk mendapatkan uang tanpa imbalan diterima. Tidak ada yang paling meracuni dan merusak moral, terutama kepada orang-orang muda, daripada mendapatkan uang atau harta tanpa bekerja. Orang-orang terhormat melibatkan diri dalam usaha musiman ini, dan menenangkan hati nurani mereka dengan refleksi bahwa uang yang diperoleh dari usaha ini digunakan untuk tujuan-tujuan baik. Tidak heran bahwa pemuda-pemuda negara bagian itu sering harus terjerumus ke dalam kebiasaan yang kegemparan permainan berbahaya ini hampir pasti dapat menimbulkan kekejian.”
Roh penyesuaian diri dengan keduniawian telah melanda gereja-gereja sepanjang zaman Kekristenan. Robert Atkins, dalam sebuat khotbahnya di London melukiskan gambaran hitam kemerosotan kerohanian yang merajalela di Inggeris, “Orang yang betul-betul benar telah lenyap dari muka bumi ini, dan tak seorangpun yang memperdulikannya. Yang mengakui beragama dewasa ini di setiap gereja adalah pecinta-pecinta dunia, yang menyesuaikan diri dengan dunia ini, pecinta-pecinta hawa nafsu dan pengejar-pengejar kehormatan diri. Mereka dikatakan menderita dengan Kristus, tetapi mereka bahkan menghindar dari teguran . . . . Kemurtadan, kemurtadan dan kemurtadan saja yang terukir di paling depan setiap gereja. Dan sekiranya mereka menyadari itu, dan sekiranya mereka merasakan itu, mungkin masih ada pengharapan. Tetapi malangnya, mereka berseru, ‘Kita kaya dan bertambah-tambah kekayaan, sehingga kami tidak memerlukan apa-apa.'” — Second Advent Library, Tract No. 39.
Dosa besar yang ditimpakan kepada Babilon adalah bahwa ia telah “memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.” Cawan kemabukan yang diberikan kepada dunia ini melambangkan ajaran-ajaran palsu yang diterimanya sebagai akibat dari hubungan gelapnya dengan para pembesar dunia. Persahabatan dengan dunia telah merusakkan imannya, dan pada gilirannya ia menyebarkan pengaruh kerusakan iman dan kebejatan kepada dunia oleh mengajarkan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan pernyataan-pernyataan Alkitab yang begitu sederhana dan jelas.
Roma menahan Alkitab itu dari orang-orang, dan sebagai penggantinya mengharuskan semua orang menerima ajaran-ajarannya. Adalah perjuangan Pembaharuan untuk mengembalikan firman Allah kepada manusia. Tetapi bukankah hal itu benar sekali bahwa dalam gereja-gereja zaman kita orang-orang diajar untuk mengalaskan iman mereka kepada doktrin dan ajaran gereja sebagai gantinya kepada Alkitab? Berbicara mengenai gereja Protestan, Charles Beecher berkata, “Mereka mengelak dari mengucapakan kata-kata kasar melawan ajaran kepercayaan sama seperti bapa-bapa kudus mengelak mengucapkan kata-kata kasar melawan orang-orang kudus dan para syuhada (martir) yang sedang naik daun untuk dipuja, yang mereka telah pelihara . . . . Denominasi penginjilan Protestan begitu terikat satu sama lain, dan juga dengan dirinya sendiri, bahwa di antara mereka semua seseorang tidak bisa menjadi seorang pengkhotbah sama sekali, dimana saja, tanpa menerima beberapa buku disamping Alkitab . . . . Tidak ada khayalan dalam pernyataan itu, bahwa kekuasaan ajaran atau syahadat gereja sekarang mulai melarang Alkitab sebagaimana yang dilakukan oleh Roma, meskipun dengan cara yang lebih halus.” — Sermon on “The Bible a Sufficient Creed,” delivered at Fort Wayne, Indiana, Febr. 22, 1846.
Pada waktu guru-guru yang setia menjelaskan firman Allah, bangkitlah orang-orang terpelajar, pendeta-pendeta yang mengaku mengerti Alkitab, yang mencela doktrin yang kuat dan benar sebagai bida’ah atau ajaran sesat. Dengan demikian membuat orang-orang pencari kebenaran berpaling. Seandainya dunia ini tidak dimabukkan dengan anggur Babilon, maka orang-orang banyak akan diyakinkan dan ditobatkan oleh kebenaran firman Allah yang sederhana, jelas dan menusuk. Akan tetapi kepercayaan keagamaan begitu membingungkan dan bertentangan, sehingga orang tidak mengetahui apa yang harus dipercayai sebagai kebenaran. Dosa pendurhakaan dunia terletak di pintu gereja.
Pekabaran malaikat yang kedua dalam buku Wahyu 14 pertama kali dikabarkan pada musim panas tahun 1844, yang kemudian mempunyai penerapan langsung kepada gereja-gereja di Amerika Serikat, dimana amaran penghakiman begitu luas dikabarkan, dan yang pada umumnya ditolak; dan dimana kemerosotan dalam gereja-gereja begitu cepat terjadinya. Akan tetapi pekabaran malaikat yang kedua itu tidak mencapai kegenapannya yang penuh pada tahun 1844. Gereja-gereja kemudian mengalami kejatuhan moral, sebagai akibat dari penolakan terang pekabaran kedatangan Tuhan. Tetapi kejatuhan itu belum lengkap. Pada waktu mereka terus menolak kebenaran istimewa bagi zaman ini, mereka jatuh semakin dalam dan rendah. Tetapi, belumlah bisa dikatakan bahwa “Babilon sudah rubuh, . . . krena ia memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.” Belum smua bangsa dibuatnya melakukan ini. Roh penyesuaian diri dengan dunia dan tidak perduli menguji kebenaran pada zaman kita, terdapat dan telah berakar di dalam gereja-gereja yang beriman Protestan di seluruh dunia Kekristenan. Dan gereja-gereja ini termasuk dalam celaan serius malaikat yang kedua. Tetapi kemurtadan belum mencapai puncaknya.
Alkitab menyatakan bahwa sebelum kedatangan Tuhan, Setan akan bekerja “disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat.” Dan mereka yang ” tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka,” akan menerima “kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta.” (2 Tes. 2:9-11). Setelah keadaan ini dicapai dan persekutuan gereja dengan dunia benar-benar tercapai sepenuhnya di seluruh dunia Kekristenan, barulah kejatuhah Babilon itu lengkap. Perobahan terus berlangsung secara bertahap, dan kegenapan sempurna buku Wahyu 18:8 akan terjadi pada masa yang akan datang.
Walaupun kegelapan kerohanian dan pemisahan diri dari Allah yang terjadi di dalam gereja-gereja, yang membentuk Babilon itu, kelompok besar pengikut Kristus yang benar masih terdapat dalam persekutuan mereka. Banyak dari antara mereka ini yang belum pernah melihat kebenaran khusus zaman ini. Tidak sedikit yang tidak puas dengan keadaan mereka sekarang, dan rindu kepada terang kebenaran yang lebih jelas. Mereka tidak melihat gambaran Kristus di gereja-gereja tempat mereka bergabung. Sementara badan-badan ini berpisah semakin jauh dari kebenaran, dan bersekutu dengan dunia ini, maka perbedaan antara dua golongan akan semakin lebar, dan akhirnya akan mengakibatkan perpisahan. Waktunya akan datang bilamana mereka yang mengasihi Allah tidak lagi berhubungan dengan “mereka yang mengasihi kepelesiran lebih dari pada Allah, yang tampaknya beribadat, tetapi menyangkal kuasa peribadatan itu.”
Buku Wahyu 18 menunjuk kepada waktu sebagai akibat penolakan amaran rangkap tiga Wahyu 14:6-14, bilamana gereja mencapai sepenuhnya keadaan yang diramalkan oleh malaikat yang kedua, dan umat Tuhan yang masih berada di Babilon akan dipanggil keluar memisahkan diri dari persekutuannya. Pekabaran itu adalah pekabaran yang terakhir yang pernah diberikan kepada manusia, dan akan mencapai tujuannya. Bilamana mereka yang “tidak percaya akan kebenaran, dan yang suka kejahatan,” (2 Tes. 2:12) akan dibiarkan menerima penipuan dan mempercayai kebohongan, kemudian terang kebenaran akan bersinar ke dalam semua hati yang terbuka untuk menerimanya. Dan semua anak-anak Tuhan yang tinggal di Babilon akan mendengarkan panggilan, “Keluarlah daripadanya hai kaum-Ku.” (Wahyu 18:4 Terkemahan Lama).

Leave a Reply