Apa yang Dibatalkan di Kayu Salib?

January 7, 2014 - Alfred E. Boling

Salah satu pernyataan Rasul Paulus yang dapat dikatakan sebagai pernyataan yang menjadi bahan perdebatan, dan terus diperdebatkan di antara denominasi Kristen hingga sekarang ini ialah yang terdapat di dalam Efesus 2:15. Bunyinya sebagai berikut:

“Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.”

Tidak dapat disangkal bahwa hampir setiap denominasi Kristen mempunyai pemahaman yang berbeda tentang pernyataan ini. Dengan berpijak pada pernyataan rasul Paulus ini, ada sebahagian orang yang mempunyai pemahaman, dan bahkan telah dipublikasikan, bahwa dengan kematian Yesus di atas kayu Salib maka hukum Taurat sudah tidak berlaku lagi.

Beberapa orang yang lain berpendapat bahwa di dalam kehidupan-Nya di atas dunia, Yesus tidak pernah membatalkan hukum Taurat. Mereka bahkan mengutip pernyataan Yesus di dalam Matius 5:17 yang berbunyi:

“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya.”

Mereka ini berpendapat bahwa hukum Taurat tidak pernah dibatalkan oleh siapapun, termasuk oleh Yesus. Perdebatan ini nampaknya tidak membuahkan kesimpulan yang logis, lantas rasul Pauluslah yang disalahkan dengan mengatakan bahwa pernyataannya ini membingungkan.

Pernyataan Paulus Yang Sulit Dipahami

Rasul Paulus dikenal sebagai ‘rasul besar’ karena beberapa alasan: a). Seorang yang berpendidikan tinggi, b). berpengaruh di kalangan Yahudi, c). gigih dalam memberitakan Injil melalui perjalanan missionari yang diadakannya, d). rajin menulis kepada mereka yang telah ia tuntun kepada Yesus. Dalam suratnya yang dikirimkan ke berbagai kalangan, baik kepada jemaat maupun kepada pribadi-pribadi, banyak terdapat pernyataan yang sukar dipahami, bukan saja oleh kita dewasa ini, tetapi juga oleh mereka yang hidup sezaman dengannya. Beberapa contoh dari pernyataan Paulus yang sukar untuk dipahami ialah Roma 14:5, 6a, dan Ibrani 4:9. Secara sekilas, nampaknya kedua ayat ini memberi kesan saling bertentangan satu dengan yang lain. Roma 14:5,6a mengatakan “semua hari sama saja. Siapa yang berpegang pada satu hari tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan.” Ayat ini memberikan kesan bahwa kita bisa memilih hari apa saja yang kita sukai untuk berhenti, sucikan, dan berbakti kepada Tuhan. Sementara Ibrani 4:9 mengatakan bahwa “masih tersedia satu hari perhentian, hari ketujuh bagi umat Allah.” Ayat ini memberi kesan bahwa hari perhentian yang pernah dilembagakan oleh Allah pada saat penciptaan (Kejadian 2:1-3) masih terus disediakan oleh Allah bagi umat-Nya di zaman ini.

Pernyataan paulus yang terkesan sulit untuk dipahami yang akan kita tinjau pada kesempatan ini ialah yang terdapat di dalam Efesus 2:15 dan Roma 3:31. Ada kesan yang sangat kuat bahwa kedua ayat ini saling bertentangan. Bunyi kedua ayat tersebut sebagai berikut:

Efesus 2:15 “Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkn hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.”

Roma 3:31“Jika demikian adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya kami meneguhkannya.”

Kepada jemaat di Efesus rasul Paulus mengatakan bahwa hukum Taurat telah dibatalkan melalui kematian Yesus. Namun pada kesempatan yang lain, ia menulis kepada jemat di Roma dan mengatakan kepada mereka bahwa hukum Taurat tidak dibatalkan karena iman. Ia justru mengatakan bahwa ia meneguhkan hukum Taurat oleh iman. Kedua pernyataan ini bukan saja membingungkan para rohaniawan, tetapi juga membingungkan para pelajar Alkitab, sehingga ada dari para rohaniawan dan bahkan para pelajar Alkitab secara terang-terangan mengatakan bahwa “tulisan Pauluslah yang telah mengacaukan dunia Kristen.” Namun tuduhan ini tentu saja tidak beralasan, karena menurut pengakuan Paulus, semua tulisannya itu dibuat berdasarkan ilham dari Dia yang telah memanggilnya (Efesus 3:1-4). Lebih jauh kesaksian tentang tulisan rasul Paulus datang dari rekannya sesama rasul, yaitu rasul Petrus, bahwa semua yang ditulis oleh Paulus adalah ditulis berdasarkan hikmat yang diberikan kepadanya (2 Petrus 3:15).
B.Hukum Taurat Yang Dibatalkan

Dalam beberapa pernyataannya, Paulus menggunakan kata “hukum Taurat” dengan penekanan seperti: a). Hukum Taurat sudah tidak berlaku lagi pada zaman setelah Kristus (Galatia 3:24; 5:18; Roma 6:14), b). Orang yang melakukan hukum Taurat yang dibenarkan (Roma 2:13), c), hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan (1 Timotius 1:8), d). Aku percaya kepada segala yang tertulis di dalam hukum Taurat (Kisah 24:14), e). Anak Allah takluk kepada hukum Taurat untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat (Galatia 4:4, 5,) f). “Sengat maut adalah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat (1 Korintus 15:56), g). Kristus adalah kegenapan hukum Taurat (Roma 10:4), serta pernyataan serupa lainnya tentang hukum Taurat yang terkesan membingungkan. Namun yang pasti ialah bahwa semua pernyataan itu benar dan tidak ada satupun yang salah dari pernyataan Paulus itu. semua pernyataan itu benar sesuai dengan konteksnya masing-masing.

Hal yang nampaknya membingungkan kita sekalian yaitu kata “hukum Taurat.” Hukum Taurat itu hanya satu, yang dalam bahasa Ibrani disebut “Torah,” mempunyai pengertian yang berfariasi. Kata itu dapat diartikan sebagai Literatur Yahudi yang mengatur tentang tatacara upacara ibadah, tradisi lisan yang ada di tengah masyarakat Yahudi, ajaran, Lima buku nabi Musa, dan Sepuluh hukum Allah.

Dari pengertian yang berfariasi ini nampaknya sulit bagi kita untuk dapat meletakkan kata “hukum Taurat” pada posisi yang sebenarnya jika kita sekedar membacanya secara sepintas lalu. Namun jika diteliti, sebenarnya Paulus memberikan ciri-ciri dengan sangat spesifik agar dapat dimengerti oleh para pembaca. Ciri-ciri ini begitu penting untuk diketahui agar dapat melihat dan memahami secara benar terhadap tulisan Paulus; karena jika tidak, kita akan mempunyai pengertian yang salah terhadap tulisan-tulisannya. Betapa fatalnya lagi bila kita mempunyai pemahaman yang salah, dan berdasarkan pemahaman yang salah itu, kita kemudian mengajarkan kepada orang lain. Inilah yang dimaksudkan oleh rasul Petrus dengan “memutarbalikkan” (2 Petrus 3:16). Tentu saja cara ini akan mengakibatkan kebinasaan, bukan hanya kepada kita yang salah menafsirkannya, tetapi juga kepada mereka yang menerima penafsiran yang salah. Yesus mengatakan bahwa “Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang” (Matius 15:14).

Dalam menggunakan istilah “hukum Taurat, Paulus tidak menggunakannya untuk “Tradisi lisan yang ada di tengah masyarakat Yahudi,” atau “Ajaran,” atau “Lima buku nabi Musa” (Kejadian – Keluaran – Imamat – Bilangan – Ulangan), tetapi ia menggunakannya untuk menekankan tentang literatur yang berisi tatacara upacara ibadah agama Yahudi pada satu pihak, dan Sepuluh Hukum Allah di pihak yang lain. Kepada jemaat di Efesus, Paulus menekankan bahwa yang dibatalkan dia atas kayu Salib pada saat kematian Yesus ialah “hukum Taurat” yang di dalamnya terdapat perintah dan ketentuan atau dogma. “Hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuanmya” (Efesus 2:15, The Greek New Testament). Konteks ini ditekankan lebih tegas lagi oleh Paulus ketika ia menulis kepada jemaat di Kolose. Paulus memberikan penekanan kepada mereka bahwa hukum Taurat itu ialah “… surat hutang yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam” (Kolose 2:14 The Greek New Testament).

Hal ini menunjuk kepada literarur Yahudi yang mengatur tentang tatacara upacara ibadah yang mengatur bagaimana orang Yahudi harus beribadah, apa saja yang harus dibawa dalam ibadah, dan apa sebenarnya hakekat ibadah itu. Sebagai bukti, jika seorang membuat pelanggaran, ia harus dihukum mati (Keluaran 21:12; 35:2; Imamat 20:2, 10), “dosa ialah pelanggaran terhadap hukum Allah” (1 Yohanes 3:4), sebab “Upah dosa ialah maut” (Roma 6:23). Karena mereka menaruh pengharapan kepada Yesus yang akan datang untuk menebus manusia, mereka membawa domba atau lembu kepada imam untuk mengadakan upacara korban pengampunan dosa (Kejadian 4:4, 5; Keluaran 12:1-28, 43-51; Imamat 23:5) sebagai lambang dari Kristus Yesus yang akan mengampuni dosa isi dunia. Jadi, yang dimaksudkan oleh rasul Paulus sehubungan dengan hukum Taurat yang dibatalkan oleh kematian Yesus, yaitu hukum Taurat yang di dalamnya terdapat ketentuan-ketentuan upacara yang sifatnya lambang atau “bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus” (Kolose 2:17). Inilah yang dimaksudkan oleh Paulus ketika ia mengatakan “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat” (Kolose 2:16). Di dalam tatacara ibadah orang Yahudi, ada aturan tentang makanan bayangan, minuman bayangan, upacara bulan baru bayangan, dan hari Sabat bayangan. Marilah kita melihatnya satu persatu.

Makanan dan minuman bayangan. Hal ini menunjuk kepada Korban (Minchah) Sajian makanan dan minuman persembahan yang dibawakan secara sukarela, bersamaan dengan hewan yang akan dijadikan korban persembahan sesuai dengan peraturan tatacara upacara. Salah satu contoh yang dapat kita lihat sehubungan dengan makanan dan minuman bayangan ialah korban sajian (baca Imamat 2:1-16).
ü Makanan bayangan: adalah merupakan korban persembahan sukarela yang dipersembahkan mendampingi korban bakaran (Keluaran 29:30-420) Makanan bayangan adalah berasal dari dunia tumbuh-tumbuhan, seperti gandum dan sejenisnya. Kemenyan dan garam dapat ditambahkan (baca Imamat 2:13)

ü Minuman Bayangan: adalah Korban Curahan (drinking offering). Korban curahan ini berupa minuman keras yang dicurahkan di tempat kudus, tetapi bukan dicurahkan di mezbah (Bilangan 28:7; Keluaran 30:9), dicurahkan ke “piala” (Keluaran 25:29) bukan dicurahkan ke tenggorokan para imam yang bertugas.

Hari-hari raya bayangan: Ini adalah deretan hari raya orang Yahudi yaitu Paskah, Roti Tidak Beragi, Pentakosta, Meniup Serunai, Hulu Hasil, Pondok Daun-daunan , dan hari Grafirat (Pendamaian), serta peraturan tentang setiap hari raya, apa yang boleh dilakukan, apa yang harus dibawa oleh umat, serta apa yang akan dilakukan oleh imam. Untuk jelasnya, baca Imamat 23.
Bulan baru bayangan: Hari raya atau hari upacara yang jatuh pada hari pertama dari setiap bulan, atau Hari Raya Bulan Baru (baca Bilangan 10:10; 28:11; 1 Samuel 20:5).
Hari Sabat bayangan: Hari sabat bayangan adalah hari perhentian dari setiap rangkaian hari raya atau hari upacara agama Yahudi. Jika hari raya atau hari upacara jatuh pada hari Kamis, maka hari ketujuh dari rangkaian upacara itu, yaitu hari Jumat, disebut sebagai “hari sabat.” Kepada Musa Tuhan mengatakan bahwa hari sabat bayangan ini sebagai “hari sabatmu” (Imamat 23:23-32). Jika hari “sabatmu” jatuh pada hari “Sabat Tuhan,” yaitu hari ketujuh pada pekan, maka hari Sabat itu disebut “Sabat agung,” atau “hari Sabat yang besar”(Yohanes 19:31). Hari “sabatmu,” berbeda dengan hari “Sabat Tuhan,” hari ketujuh dalam pekan, yaitu hari yang dikuduskan oleh Allah sendiri pada awal penciptaan dunia (Kejadian 2:1-3), “Sabat Tuhan Allah” (Keluaran 20:8, 9; Yesaya 56:2), “Hari kenikmatan” (Yesaya 58:13, 140,) “Hari ketujuh,” hari Sabtu (Ibrani 4:9) Tuhan menyebut hari Sabat yang Ia sendiri kuduskan ini sebagai hari “Sabat-Ku” (Yehezkiel 20:12, 20).
Mengapa hari “sabatmu” disebut bayangan, atau mengapa semua ini membayangkan Yesus? Seluruh upacara agama dalam Alkitab Perjanjian Lama, yang berhubungan dengan orang Israel, berdasarkan perintah Tuhan, termasuk perabot yang digunakan di dalam upacara ibadah, ada hubungannya dengan darah ternak (domba, lembu, atau burung merpati dan binatang halal lain sebagainya). Upacara ini berhubungan erat dengan penebusan, pengampunan dosa, penyucian, pendamaian, dan pemulihan hubungan dengan Allah. Semua deretan hari-hari raya, termasuk sistem dan syaratnya, hanyalah merupakan lambang, sedangkan wujud dari lambang tersebut ialah Yesus. Di atas darah segala jenis ternak, darah Yesus mempunyai kuasa untuk mengadakan penebusan, pengampunan dosa, penyucian, pendamaian, dan pemulihan hubungan dengan Allah. Para penulis Perjanjian Baru menyebut Yesus sebagai “Anak Domba Allah” (Yohanes 1:29, 36), “Anak Domba Paskah” (1 Korintus 5:7), dan “Seekor Anak Domba seperti telah disembelih” (Wahyu 5:6).

Seluruh rangkaian hari-hari raya dan upacara agama Yahudi hanyalah bayangan, sedangkan Yesus adalah wujud dari bayangan itu. Ketika Yesus berseru di Kayu Salib, “Sudah genap” atau “sudah selesai” (Yohanes 19:30), berarti Ia yang adalah wujud dari upacara yang dilakonkan oleh orang Yahudi yang adalah bayangan, telah “menggenapi” atau telah “menyelesaikan” lambang itu. Hal itu ditandai dengan “tabir bait suci terbelah dua” (Lukas 23:45). Dengan demikian, saat Yesus tergantung di kayu salib, Ia telah membatalkan segala sistim upacara kaabah, atau upacara korban yang melambangkan Dia melalui “hanya satu kali berkorban.” Alkitab mengatakan:

“Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, dan sekarang hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpukan kaki-Nya. Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan” (Ibrani 10:12-14).

Itulah sebabnya, sebagai orang Kristen, kita tidak lagi membawa korban ternak ke gereja untuk disembelih sebagai korban untuk menghapus dosa dan mengampuni kesalahan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Israel hingga sekarang ini.

C. Hukum Taurat Yang diteguhkan

Pengertian dari kata “diteguhkan,” atau sesuai dengan istilah rasul Paulus, ‘meneguhkannya,” menunjuk kepada hukum Taurat yang tidak pernah dibatalkan, atau jelasnya, hukum Taurat tetap diteguhkan oleh iman (Roma 3:31). Maksudnya ialah bahwa sementara kita mempunyai iman yang teguh kepada Yesus Kristus Tuhan kita, hukum Taurat harus juga tetap diteguhkan di dalam praktek hidup kita.

Ketika berbicara kepada jemaat di Roma, Paulus tidak bermaksud untuk tetap mempertahankan praktek tatacara upacara ibadah di kaabah dan membatalkan Sepuluh Perintah Allah. Di sini, di dalam buku Roma, Paulus ingin menasehatkan kepada orang-orang percaya di Roma agar tetap setia dalam mempraktekkan Sepuluh Perintah Allah sebagai bahagian dari mengimplementasikan nilai-nilai iman Kristen. Mungkin anda tidak sepaham, namun Paulus memberikan ciri yang jelas, ketika ia mengatakan kepada mereka “jangan mengingini” (Roma 7:7). Kata “jangan mengingini” adalah kata yang terdapat di dalam perintah yang kesepuluh dari Sepuluh Perintah Allah (Keluaran 20:1-17), dan merupakan ciri spesifik dari hukum ini. Berikut ini daftar ringkasan dari Sepuluh Perintah Allah:

SEPULUH PERINTAH ALLAH

I. Jangan ada padamu allah lain di hadapan hadirat-Ku

II. Jangan membuat patung dan menyembah

III. Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu dengan sembarangan

IV. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat

V. Hormatilah ayahmu dan ibumu

VI. Jangan membunuh

VII. Jangan berzinah

VIII. Jangan mencuri

IX. Jangan berdusta

X. Jangan mengingini

Inilah hukum Taurat yang harus terus diteguhkan oleh setiap orang yang mengaku percaya kepada Kristus. Rasul Paulus mengatakan bahwa hukum itu kudus, benar, dan baik bahkan tidak dosa (Roma 7:7, 12). Sebaliknya hukum Taurat justru mengatakan dosa (Roma 7:7). Hukum ini mengatur moral umat Allah agar tetap benar di hadapan Allah. Andaikata tidak ada hukum yang mengatur moral umat Allah, dapat dipastikan bahwa mereka yang mengaku percaya kepada Allah akan terus mempraktekkan gaya hidup kafir. Mereka akan terus membunuh, mencuri, menyembah berhala, tidak mengindahkan hari Sabat, dan bahkan terus menghujat Nama Allah dengan tanpa sedikitpun merasa bersalah. Hukum Taurat sangat berguna bagi kita karena dengan hukum ini, Allah menolong kita untuk dapat mengendalikan tingkah laku serta tutur kata kita, menjaganya dengan baik, agar hubungan baik antara kita dengan Allah dan dengan sesama tetap terpelihara. Itulah sebabnya betapa sesuatu yang patut disayangkan jika ada yang mengajarkan bahwa “di zaman anugerah ini hukum Taurat sudah tidak berlaku lagi,” dan hukum Taurat yang dimaksudkan ialah Sepuluh Perintah Allah. Sungguh, ide ini tidak Alkitabiah.

Hukum Taurat yang diteguhkan di dalam iman adalah hukum yang memantulkan tabiat Allah. Sebagaimana Allah adalah benar, kudus, dan baik, maka hukum-Nya juga adalah benar, kudus, dan baik. Hukum Allah diberikan kepada manusia untuk ditaati, dan itu berarti mempraktekkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan nenghidupkan Sepuluh Perintah Allah maka oleh pertolongan Roh Kudus, Tabiat Kristus akan menjadi tabiat kita. Hal ini mungkin karena Kristus menginginkan agar umat-Nya sempurna dalam tabiat sebagaimana Allah yang adalah sempurna dalam tabiat-Nya (Matius 5:48).

Sebagai orang Kristen, penurutan akan Sepuluh Hukum Allah, tidak menjadikan hukum itu sebagai juruselamat, tidak!!! Penurutan akan Sepuluh Hukum Allah justru menyatakan bahwa kita mencintai Juruselamat yang telah mati dan menebus kita. Yesus meminta bukti cinta kita kepada-Nya melalui penurutan akan perintah-Nya (Yohanes 14:15; 15:14). Sebaliknya, jika kita mengaku bahwa kita berada di dalam Kristus, tetapi mengabaikan satu bahagian saja dari perintah-Nya, kita adalah pendusta dan tidak ada kebenaran pada kita (baca 1 Yohanes 2:1-6; Yakobus 2:10; Matius 7:21-23; Markus 7:7, 8).

Tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa Sepuluh Perintah Allah itu berat untuk dituruti. Pernyataan ini mungkin saja benar, jika kita berada pada posisi sebagaimana orang Yahudi yang mengandalkan perbuatan mereka untuk memperoleh keselamatan. Mereka membuat perintah Allah sebagai juruselamat, melalui upaya yang sunggu-sungguh untuk secara sempurna menuruti hukum-hukum itu agar dapat memperoleh keselamatan. Sehubungan dengan upaya orang Yahudi untuk memperoleh keselamatan melalui penurutan rasul Paulus berkata kepada jemaat di Roma: “Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan, seperti ada tertulis: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan” ” (Roma 9:31-33). Orang yang memastikan bahwa ia telah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, baginya “hukum Allah itu tidak berat” (1 Yohanes 5:4). Mereka justru memelihara dan menjunjung tinggi hukum dengan penuh rasa sukacita, sebagai wujud ungkapan rasa cinta kepada Pencipta dan Juruselamat.

Ketika mengungkapkan perasaan cintanya kepada Tuhan, Pemazmur menyatakan betapa dia mencintai hukum Taurat-Nya (baca Mazmur 119:97-176). Ia mengungkapkan demikian karena telah dirasakannya betapa besar kasih karunia Allah yang senantiasa dicurahkan kepadanya. Ia tidak dapat membalas kasih Allah yang senantiasa diterimanya. Ia hanya menyambut dan menikmati berkat itu sambil terus menjaga hubungannya dengan Tuhan agar tetap baik, dengan demikian berkat dari sorga terus ia nikmati, dan itu melalui penurutan akan kesepuluh Perintah Allah.

Ketika menjawab pertanyaan dari seorang ahli Taurat tentang “hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat,” Kristus mengatakan: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap akal budimu, itulah hukum yang terutama dan pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37-39). Hukum ini telah diberikan oleh Allah kepada orang Israel, melalui Musa (baca Ulangan 6:5; Imamat 19:18). Kedua hukum ini yang kemudian dikenal sebagai “Hukum Kasih,” adalah merupakan intisari dari Sepuluh Hukum Allah, karena empat hukum pertama mengatur bagaimana kita mengasihi Allah, dan enam hukum berikutnya mengatur tentang bagaimana kita mengasihi sesama.

Sebagai bukti bahwa kita mengasihi Allah, kita tidak memiliki Allah lain selain dari Allah Pencipta, tidak menyembah patung, tidak menyebut nama Allah dengan sembarangan, serta ingat dan menguduskan hari Sabat. Ini adalah wujud nyata dari menghormati dan mencintai Allah. Menghormati orangtua, tidak membunuh, tidak berzinah, tidak berdusta, dan tidak mengingini barang orang lain, adalah wujud dari mengasihi sesama manusia.

Dalam segala keterbatasan kita sebagai manusia, merupakan kewajiban kita untuk menghidupkan nilai moral yang baik, yang rohani, melalui perbuatan kita sehari-hari tanpa dipengaruhi oleh ruang dan waktu, dan itu melalui penurutan akan perintah Allah.

Untuk jelasnya, marilah kita melihat perbedaan antara hukum Taurat yang tetap diteguhkan karena iman di dalam Yesus dan hukum Taurat yang telah digenapi oleh Yesus di kayu salib pada bagan berikut ini:

HUKUM TAURAT

Hukum Taurat Yang Diteguhkan di dalam Yesus

Perintah Moral (10 Perintah Allah)

1. Diucapkan oleh Allah sendiri (Ulangan 5:22; 10:4; Keluaran 20:1-17)

2. Ditulis oleh Allah sendiri (Keluaran 31:18; 32:16)

3. Ditulis pada loh batu (Keluaran 31:18)

4. Disimpan di dalam Tabut Perjanjian (Ulangan 10:5)

5. Isinya adalah Perintah Moral (Keluaran 20:3-17)

6. Diserahkan oleh Allah kepada Musa (Keluaran 31:18)

7. Menghakimi semua orang. (Yak 2:10-12)

8. Bersifat Rohani. (Roma 7:14)

9. Diteguhkan oleh Iman di dalam Yesus (Roma 3:31)

10. Disebut “hukum yang terutama” (Matius 22:28)

11. Tetap teguh untuk selamanya(Mazmur 111:7, 8)

Hukum Taurat Yang Digenapi oleh Yesus

(Aturan Tatacara Ibadah (Hukum Bayangan)

1. Diucapkan oleh Musa (Keluaran 24:3)

2. Ditulis oleh Musa (Keluaran 24:4; Ulangan 31:9, 24)

3. Ditulis pada sebuah kitab gulungan (Keluaran 24:4-7; Ulangan 31:24)

4. Disimpan di sisi Tabut Perjanjian (Ulangan 31:26)

5. Isinya adalah ketentuan Upacara Ibadah (Imamat 23)

6. Diserahkan oleh Musa kepada Suku Lewi (Ulangan 31:16)

7. Tidak menghakimi seorangpun. (Kol 2:14-16)

8. Bersifat Daging. (Ibrani 7:16)

9. Ditiadakan oleh kematian Yesus di Salib (Efesus 2:15)

10. Disebut hukum yang berisi ketentuan (Efesus 2:15)

11. Dipakukan di kayu Salib (Kolose 2:14

Paulus adalah seorang yang terdidik, bahkan spesialisasi dalam bidang hukum (Kisah 22:3). Oleh karena itu, ketika ia berbicara mengenai hukum, ia tahu benar tentang apa yang dikatakannya. Lebih dari itu, semua surat yang ditulis dan dikirim kepada berbagai kalangan, ditulisnya berdasarkan ilham. Hal itu berarti bahwa kata-katanya yang tertuang di dalam semua suratnya itu berdasarkan otoritas yang diberikan oleh Tuhan. Jika demikian, haruskah kita meragukan tulisan rasul Paulus?

Sehubungan dengan tulisan rasul Paulus, salah seorang murid yang pernah menyangkal Yesus, rasul Petrus, memberikan kesaksian:

“Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuat di dalam semua suratnya, apabila ia berkata tentang perkara-perkara ini. Dalam suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang yang tidak memahaminya, dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain” (2 Petrus 3:15, 16).

D. Kesimpulan

Tidak dapat disangkal bahwa ada ajaran Alkitab tentang Hukum Allah (Sepuluh Perintah Allah) ditafsirkan secara bervarisasi oleh para pemimpin berbagai denominasi Kristen. Ada yang mengatakan bahwa Sepuluh Perintah Allah berlaku secara mutlak tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu; ada yang mengatakan bahwa Sepuluh Perintah Allah masih berlaku, termasuk Hukum keempat, nanun hari Sabat orang Kristen dibedakan dari hari Sabat orang Yahudi; namun ada yang secara tegas mengatakan bahwa di era sekarang ini Sepuluh Perintah Allah tidak berlaku lagi. Penjelasan yang tertuang di dalam tulisan ini disediakan dengan tujuan untuk menolong para pembaca sekalian memahami, atau paling tidak mengetahui, bahwa Allah menginginkan agar hukum-Nya diteguhkan oleh umat manusia yang telah ditebus-Nya dari dosa, agar menjadikan mereka sebagai suatu umat kesayangan-Nya.

Ketika rasul Paulus berkata kepada Jemaat di Efesus: “ sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera” (Efesus 2:15), dan juga Jemaat di Kolose: “dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib” (Kolose 2:14), rasul Tuhan ini tidak bermaksud untuk meniadakan Sepuluh Perintah Allah. Yang dimaksudkannya ialah bahwa dengan kematian Yesus Kristus di atas kayu salib, maka “Ia telah membatalkan” Hukum Taurat yang mengatur tatacara upacara ibadah orang Israel, semua yang berhubungan dengan upacara di dalam kaabah. Semua “itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib.” Hal ini benar, karena segera sebelum kematian Kristus di atas kayu salib, Yohanes mencatat: “ Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya” (Yohanes 19:30). berarti Ia yang adalah wujud dari upacara yang dilakonkan oleh orang Yahudi yang adalah bayangan, telah “menggenapi” atau telah “menyelesaikan” lambang itu. Hal itu ditandai dengan “tabir bait suci terbelah dua” (Lukas 23:45). Dengan demikian, saat Yesus tergantung di kayu salib, Ia telah membatalkan segala sistim upacara kaabah, atau upacara korban yang melambangkan Dia melalui “hanya satu kali berkorban.” Alkitab mengatakan:

“Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, dan sekarang hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpukan kaki-Nya. Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan” (Ibrani 10:12-14).

Ketika rasul Paulus berkata kepada jemaat di Roma: “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” (Roma 3:31), ia sementara memberikan nasehat kepada kumpulan orang percaya di sana bahwa Sepuluh Perintah Allah terus dijunjung tinggi oleh orang yang telah dimerdekakan oleh Kristus dari kutuk dosa. Hal ini benar, karena rasul Tuhan ini selanjutnya berjata: “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: “Jangan mengingini!” (Roma7:7). Rasul yang dipanggil secara ajaib ini kemudian berkesimpulan bahwa: “Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.” (Roma7:12).

Penulis kitab Ibrani memberikan nasehat kepada para pembacanya dengan mengutip tulisan nabi Yeremia, sebagai berikut: “Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya di dalam akal budi mereka, dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka” (Ibrani 10:16, 17). Adalah merupakan kehendak-Nya, agar umat-Nya di sepanjang zaman dapat mengimplementasikan perintah moral Allah yang rohani ini di dalam kehidupan setiap hari.

Adalah benar bahwa Kekristenan tidak mengajarkan pelanggaran terhadap hukum moral yang diberikan oleh Allah kepada manusia, namun adalah penting untuk menghidupkan perintah ini secara benar, yaitu menurutinya dengan tidak mengabaikan bahagian tertentu. Rasul Yakobus menegaskan kepada kita dengan berkata: “Sebab barang siapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bahagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya” (Yakobus 2:10). Rasul Tuhan ini melanjutkan dengan berkata: “Sebab Ia yang mengatakan: “Jangan berzinah,” Ia mengatakan juga: “Jangan membunuh.” Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga” (ayat 11). Kita tidak berzinah, tidak membunuh, tidak membuat patung dan menyembah, tidak menyebut nama TUHAN, Allah dengan sembarangan. Namun, jika kita tidak menguduskan hari Sabat, tentu saja kita bersalah terhadap seluruh hukum itu.

Allah yang membuat hukum, dan itu diberikan kepada umat kepunyaan-Nya untuk dihidupkan. Bila kita setia kepada Allah melalui mempraktekkan hukum di dalam kehidupan kita, maka kita akan berbahagia oleh perbuatan kita. Firman Tuhan menasehatkan kepada kita:

“Tetapi barang siapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya” (Yakobus 1:25).

E. Appeal

Kepada kita dinasehatkan agar “berkatalah dan berlakulah seperti orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang” (Yakobus 2:12) Jika Allah menaruh hukum-Nya di dalam hati kita, dan menuliskannya di dalam akal budi kita, maka tentunya tidak akan kita lupakan, bahkan menolong agar segala pertimbangan kita senantiasa selaras dengan hukum Allah.

Setan sangat membenci hukum Allah. Hal ini jelas, karena ia mempunyai hasrat untuk “menyamai Yang Mahatinggi” (Yesaya 14). Ia berontak terhadap Allah dan ingin untuk menyamai Dia. Rasul Yohanes menggunakan bahasanya sendiri dalam menggambarkan peristiwa ini: “Maka timbullah peperangan di sorga” (Wahyu 12:7). Ini adalah gambaran tentang pemberontakan Setan terhadap hukum Allah. Di dunia, ia mempengaruhi manusia pertama di taman Eden untuk melanggar hukum, perintah, dan kehendak Allah, dengan berkata: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui bahwa waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kejadian 3:4, 5). Adalah cara Setan untuk menjebak manusia ke dalam konflik dengan Allah melalui merangsang keinginan manusia pertama ini untuk sama dengan Allah. Karena keinginan Setan untuk sama dengan Allah yang membuat dia memberontak melawan Allah dan hukum-Nya. Setan tidak saja membenci Allah, tetapi juga membenci hukum dan peraturan-Nya. Setan mengakui adanya Allah tetapi menolak untuk menurut perintah-Nya. Upaya Setan adalah agar semua manusia di dunia tidak tunduk kepada Allah melalui penurutan akan hukum-Nya walaupun manusia mengakui eksistensi Allah, bahkan menyembah-Nya. Dengan tidak menurut kehendak Allah, yaitu Sepuluh Hukum Allah, manusia telah berada di pihak Setan walau mereka terus menyembah Allah dan memuliakan Yesus.

Salah satu ciri umat Allah di akhir zaman ini yang merupakan sasaran utama Setan untuk membinasakannya, yaitu mereka “yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus”(Wahyu 12:17). Setan sangat membenci mereka, karena dia tidak menginginkan Allah untuk menyelamatkan mereka. Mereka ini adalah orang yang sungguh-sungguh meneliti dan memelihara serta melakukan “hukum yang memerdekakan” itu. Mereka adalah orang-orang yang “mengenal Allah” karena melakukan perintah-perintah-Nya, yang tentunya mereka dikenal pula oleh Allah sebagai umat-Nya. Mereka adalah orang-orang yang mencintai Yesus bukan sekedar dengan kata-kata, tetapi melalui tindakan, yaitu menuruti perintah-Nya (Yohanes 14:15; 15:14).

Pengenalan akan Allah haruslah secara timbal balik, kita mengenal Allah dan Allah juga mengenal kita(Galatia 4:9,10), hal itu melalui penurutan akan perintah-Nya. Jika kita mengaku mengenal Dia tetapi tidak melakukan perintah-Nya, maka tentu kita adalah “seorang pendusta” (1 Yohanes 2:4). Pada waktu kedatangan-Nya, kepada mereka yang mengaku mengenal Dia tetapi tidak hidup sesuai dengan perintah dan kehendak-Nya Yesus akan berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (baca Matius 7:21-23).

Allah mencintai kita sehingga Ia memberikan hukum-Nya kepada kita untuk ditaati, dituruti, dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Maukah kita melakukan hal yang sama, menuruti kehendak-Nya dengan penuh rasa hormat? Maukah kita membuktikan cinta kita kepada Allah melalui taat melakukan perintah-Nya? Ingat, sebelum kita mencintai Allah Ia telah lebih dahulu mencintai kita.

Kiranya Pencipta dan Juruselamat kita akan senantiasa memberkati dan menuntun kita untuk maksud hukum-Nya, Amin.

image

› tags: Hukum taurat /

Comments

  1. Bonggakaradeng says:

    Saya mengundang Vanilia untuk mendiskusikan pendapat di artikel ini.

  2. Bonggakaradeng says:

    Saya berharap ada yang boleh mendiskusikan artikel ini

Leave a Reply