Apakah 10 Hukum Allah Masih Relevan?

January 7, 2014 - Alfred E. Boling

Kebanyakan orang Kristen dari berbagai denominasi mempunyai kesan bahwa adalah legalist, karena memelihara Hukum Allah adalah suatu hal yang penting untuk memperoleh keselamatan. Pertanyaan: Apa sikap MAHK terhadap hukum, dan bagaimana pandangan MAHK sehubungan dengan posisi Protestant sepanjang sejarah?

Posisi MAHK sehubungan dengan Sepuluh Perintah Allah dijelaskan di dalam “Fundamental Beliefs of Sevnth-day Adventist,” seksi 6, sebagai berikut: “Kehendak allah sehubungan dengan petunjuk morl dipadukan di dalam hukumNya, yaitu Sepuluh Perintah; dan bahwa hal ini adalah g moral yang tertinggi, perintah yang tidak dapat berobah, yang mengikat setiap manusia, tanpa dibatasi oleh usia (Keluaran 20:1-17).”

Sepuluh Perintah yang diucapkan oleh Allah sendiri dari gunung Siani berbeda dari Perintah Allah lainnya yang terdapat di dalam Alkitab. Perintah itu sendiri merupakan bukti terbaik dari kehendak dan sifatNya. Manusia yang bermoral tentu menyetujui perintah, dan adalah tidak mungkin bagi seorang Kriaten yang diterangi oleh Roh Kudus, untuk membayangkan kondsi atau keadaan, bahwa Allah adalah tetap Allah, dan manusia adalah makhluk moral, sehingga Perintah Allah tidak dapat berlaku secara efektif di antara kedua oknum ini.

Gambaran yang benar ialah bahwa Perintah Moral lebih dari sekedar Undang-Undang resmi. Perintah itu adalah salinan dari Tabiat Allah. Seorang Theolog dari Gereja Baptis, A.H. Strong, mengatakan: “Perintah Allah, secara sederhana adalah pernyataan sifat Allah dalam bentuk syarat moral, dan suatu pernyataan yang penting dri sifat itu tampak dari keberadaan makhluk moral (Mazmur 19:7; bandingkan dengan ayat 1). Terhadap Perintah ini, semua orang membrikan kesaksian. Bahkan hati nuruani dari para penyembah berhalapun memberikan kesaksian tentang hal ini (Roma 2;14, 15). Mereka yang memiliki Perintah tertulis melihat perintah dasar ini sebagai pedoman (Roma 7:14; 8:4). Penjelmaan yang sempurna dari Perintah ini dapat dilihat hanya di dalam Yesus Kristus (Roma 10:4; Pilipi 3:8, 9”.

Salah seorang Pioneer MAHK, Ellen Gould Harmon, yang lebih dikenal dengan nama Ellen G. White mengekspresikan kebenaran ini dengan gaya yang sama: “Perintah Allah sama sucinya dengan Allah. Perintah itu adalah pernyataan kehendakNya, sebuah salinan tentang sifatNya, pernyataan tentang kasih dan hikmat Tuhan. Keharmonisan ciptaan tergantung pada kesempurnaan yang serasi dari semua ciptaan … kepada hukum Pencipta.”

“Keindahan tabiat Illahi dari Kristus, tentang siapa yang termulia dan paling lemah lembut di antara manusia, hanya satu pantulan; tentang orang itu Salomo menulis setelah mendapat ilham Roh Allah,bahwa Dia adalah yang termulia di antara selaksa orang, … segala yang ada padanya menarik” (Kidung Agung 5:10-16); raja Daud melihatNya dalam penglihatan nubuat, dan berkata: “Engkau yang terelok dari antara anak-anak manusia (Mazmur 45:2); Yesus, citra yang jelas dari Bapa, cahaya dari kemuliaanNya; Penebus yang menyangkal diri, sepanjang penjelmaanNya yang penuh kasih di atas dunia adalah suatu gambaran hidup dari sifat Perintah Allah. Di dalam kehidupanNya dinyatakan bahwa kasih yang lahir dari sorga, prinsip-prinsip menyerupai Yesus, mendasari hukum-hukum kejujuran abadi.”

Untuk memperoleh pengrtian yang yang benar secara lengkap tentang apa yang Allah maksudkan melalui PerintahNya, orang Kristen harus berbalik kepada Kristus. Dia yang memberikan kesanggupan kepada jiwa yang baru lahir untuk mulai menghidupkan kehidupan yang baru. Hal ini adalah merupakan bukti bahwa Kristus benar-benar hidup di dalam hatinya, dan karena orang percaya, karena kepatuhannya, maka ia menghidupkan prinsip tabiat Allah di dalam hati dan tabiatnya.

Posisi MAHK berkenaan dengan hubungan antara Sepuluh Perintah Allah dengan keselamatan dinyatakan di dalam Fundamental Belief of Seventh-day Adventist, seksi ke 8, yang berbunyi sebagi berikut:

“Sepuluh Perintah menunjuk kepad dosa, dan hukumannya ialah maut. Perintah itu sendiri tidak dapat menyelamatkan orang berdosa dari dosanya, juga tidak dapat membernya kuasa untuk mencegahnya dari berbuat dosa. Dalam kasih dan anugerahNya yang tidak terbatas, Allah menyediakan satu cara yang olehnya penyelamatan manusia dari dosa dapat dilaksanakan. Ia menyediakan pengganti, yaitu Kristus yang benar, untuk mati sebagai pengganti manusia, membuat “diriNya berdosa untuk kita, … agar kita dapat dibuat benar oleh Allah di dalam Dia” (II Korentus 5:21). Bahwa seorang dibenarkan bukan oleh penurutan akan Perintah Allah, tetapi oleh kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus. Oleh menerima Kristus, manusia didamaikan dengan Allah, dibenarkan oleh darahNya dari dosa masa lalu, dan menyelamatkan mereka dari kuasa dosa melalalui tinggalnya Kristus di dalam hatinya. Dalam hal ini Injil menjadi kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Roma 1:16). Pengalaman ini ditempah oleh agen Illahi, yaitu Roh Kudus, yang meyakinkan tentang bahaya dosa dan menuntun kepada Penanggung dosa, bahwa orang percaya dapat masuk ke dalam hubungan Perjanjian Baru, di mana hukum Allah tertulis di dalam hati mereka, dan melalui kuasa yang memungkinkan, Kristus tinggal di dalam dia, hidupnya dituntun kepada persesuaian dengan perintah Allah. Kehormatan semata-mata milik Kristus (I Yohanes 2:1; 3:4; Roma 3:20; 5:8-10; 7:7; Efesus 2:8-10; 3: 17; Galatia 2:20; Ibrani 8:8-12).

Posisi MAHK ini sangat serasi dengan apa yang diajarkan sepanjang sejarah pengakuan iman dari waktu ke waktu, sebagaimana dicatat dalam sejarah. Berikut ini beberapa catatan sejarah pengakuan iman:

The Waldensian Catechism, katekismus orang-orang Waldensi yang diterbitkan pada tahun 1500 dan The Conenfession of Waldenses, pengakuan iman orang-orang Waldensi yang diterbitkan pada tahun 1655. Keduanya menyebutkan bahwa Sepuluh Perintah Allah dan Doa Tuhan Yesus sebagai “dasar iman dan kesetiaan kami.” Selanjutnya, dikatakan bahwa “Iman yang hidup ialah percaya kepada Allah, dan maksud dari hal itu ialah mencintaiNya dan menuruti perintahNya.”
Luthter’s Small Catechism, katekismus Martin Luther yang kecil yang diterbitkan pada tahun 1529, kutipan tentang Sepuluh Perintah Allah, menyebutkan: “Kita harus mencintai dan percaya kepadaNya, dan secara gembira menuruti PerintahNya …”
The Heidelberg Catechism, katekismus Heidelberg yang diterbitkan pada hatun 1563, merupakan symbol-simbol reformasi yang paling popular dan pertama kali “ditanamkan” di daratan Amerika di antara gereja-gereja reformasi Belanda dan Jerman , setelah beberapa seri pertanyaan tentnang Sepuluh Perintah, menyatakan bahwa Sepuluh Perintah dengan tegas memerintahkan kepada kita bahwa kita harus “lebih bersungguh-sungguh mencari pengampunan dosa dan kebenaran di dalam Kristus;” dan “menjadi lebih diubahkan kepada keserupaan dengan gambar Allah.”
The (Lutheran) Formula of Concord, Formula Concord dari kaum Lutheran yang diterbitkan pada tahun 1576, mengatakan bahwa orang-orang Kristen harus bebas dari “kutuk” dan “ketidakleluasan” hukum, tetapi bukan dari hukum itu sendiri. Pada Sepuluh Perintah Allah ini orang Kristen bertindak sebagai pengantara siang dan malam, dan “terus menerus melatih diri sendiri dalam menuruti Perintah ini.” Perintah ini mengecam “kepalsuan dan kejahatan” dari konsep yang mengatakan bahwa Sepuluh Perintah Allah bukanlah standard orang Kristen.
The Soctch Confession of Faith, Pengakuan Iman Scotch, yang diterbitkan pada tahun 1540, pada artikel XV, menekaknkan kesempurnaan Perintah itu dan ketidaksempurnaan manusia.
The Westminster shorter Catechism, Katekismus Westminster yang diterbitkan pada tahun 1647, diadopsi oleh gereja Scotland pada tahun 1648, oleh Sinode Presbiterian New York dan Philadelphia pada tahun 1788, dan hampir oleh semua kaum Calvinist, Presbiterian, dan gereja-gereja congregational. Katekismus ini digunakan secara lebih luas daripada yang lainnya, kecuali katekismus Luther yang kecil dan katekismus Heidelberg. Katekismus ini menyatakan bahwa Sepuluh Perintah, atau Hukum Moral, menyatakan kewajiban yang Allah kehendaki dari manusia. Dan ditambahkan bahwa “kita terikat untuk menuruti seluruh kehendakNya.
The Yew Hamshire Baptist Cofession, Pengakuan Iman Gereja Baptist New Hamshire yang diterbitkan pada tahun 1833, diterima di Negara-negara bahagian Utara dan Barat Amerika Serikat. Artikel XII dari Katekismus ini, yang berjudul “Keharmonisan Hukum Dan Injil,” menyatakan bahwa Perintah Allah adalah “aturan kekal dan tidak dapat berubah dari keperintahan moral Allah, dan oleh karena itu, kita, melalui Pengantara kita, memperoleh “kesenggupan untuk menuruti hukum kudus,” sebagaimana penurutan kepada Injil.
Selanjutnya, MAHK mempunyai pemahaman yang sama dengan ribuan orang dari denominasi Kristen lainnya, termasuk di dalamnya, seperti John Calvin, John Wesley, Spurgeon, Clarke, Dwight L. Moody, G. Campbell Morgan, Henry Clay Trumbull, Billy Graham. Mereka semua ini percaya kepada keabsahan dan kekekalan Hukum Moral Allah, yaitu Sepuluh Perintah Allah, dan kepercayaan mereka itu terbukti melalui pernyataan mereka berikut ini:

8. John Calvin – Aturan yang kekal bagi kehidupan: Kita tidak haus mengira bahwa kedatangan Yesus sudah membebaskan kita dari otoritas hukum; karena Perintah itu merupakan adalah aturan kekal bagi kehidupan dari seorang yang beriman dan hidup suci, dan tentunya hukum adalah susuatu yang tidak dapat berobah sebagaimana keadilan Allah (yang tidak dapat berobah) yang kesatuannya tatap dan sama. – Commentary on a Harmony of the Evangelist (1845), vol. I, hal. 277.

9. John Wesley – Tetap Berlaku: Tetapi Hukum Moral terdapat di dalam Sepuluh Perintah, dan dilaksanakan oleh para nabi, Ia tidak meniadakannya. Itu bukan dirancang untuk ditiadakan oleh kedatangannya, walau hanya untuk bahagian tertentu. Ini adalah Hukum yang tidak pernah ditiadakan yang “murni, tanpa cacat dan cela sebagaimana saksi yang setia di Sorga.” Moral berdiri pada suatu dasar yang sama sekali berbeda dari hukum tatacara upacara ibadah … setiap bahagian dari hukum ini harus terus berlaku pada setiap manusia, dan pada setiap zaman; sebagaiman juga tidak tergantung pada waktu dan tempat, atau keadaan tertentu yang dapat mengubah, tetapi tergantung pada sifat Allah, dan sifat manusia, dan hubungan yang tidak dapat berubah satu dengan yang lain. – Sermon on Several Occations, vol. I, hal. 221, 222.

10. G. Campbell Morgan – Penurutan Oleh Iman: Hal itu dapat terjadi bilamana kasih karunia Allah menyanggupkan manusia untuk memelihara hukum, sehingga mereka bebas dari hukum; sebagaimana orang-orang yang bermoral yang hidup menurut hukum Negara dan tidk dihukum. Allah tidak mengesampingkan Hukum, tetapi sebaliknya Ia mempunyai cara oleh mana mnusia dapat hidup sesuai dengan hukum, sehingga bebas dari tuntutan hukum. – The Ten Commandments, (1901), hal. 23.

11. Spurgeon – Hukum Allah Adalah kekal: Kesalahan sangat besar telah dibuat berkenaan dengan hukum. Beberapa waktu yang lalu ada sekelompok orang dari antara kita yang menegaskan bahwa Hukum itu sama sekali telah dihapuskan dan telah dibatalkan, dan mereka mengajarkan secara terbuka bahwa orang percaya tidak terikat untuk melakukan Hukum Moral sebagai aturan hidup mereka. Betapa orang yang telah berdosa sanggup berdiri dalam keadaan tanpa dosa. Dari kelompok anti nomianism ini kiranya Tuhan Allah menjauhkan kami … HUKUM ALLAH HARUSLAH KEKAL. Tidak ada pembatalah atau penghapusan atas Hukum, dan tidak ada juga amandemen terhadapnya.

Beberapa orang berkata kepada saya, “Anda dapat melihat, bahwa sebagai ganti dari Sepuluh Perintah Allah, kita telah menerima dua perintah, yaitu jauh lebih mudah.” Saya menjawab bahwa pembacaan hukum yang tidak terdapat di dalam daftar adalah lebih mudah. Sebagaimana suatu ucapan menyatakan kemauan pikiran dan apa yang dialami. Kedua Hukum itu meliputi Sepuluh Hukum secara lebih lengkap, dan itu tidak boleh dianggap sebagai penghapusan bahagian tertentu dari Sepuluh Hukum …

Untuk meunjukkan bahwa Ia tidak pernah bermaksud untuk membatalkan Hukum, Tuhan kita Yesus Kristus telah menanggungkan semua tuntutan Hukum kepada diriNya sendiri. Di dalam diriNya terdapat suatu sifat yang secara sempurna serasi dengan Hukum Allah dan sebagaimana sifatNya, demikian juga hidupNya. Ia dapat berkata, “siapakah dari antara kalian yang meyakinkan saya tentang dosa?” Dan lagi, saya telah memelihara perintah Bapa dan tinggal di dalam kasihNya.” …

Melalui kematianNya, Ia telah mempertahankan kehormatan kepemerintahan moral Allah, dan membuat Hukum menjadi penuh kasih karunia melalui Dia. Ketika Pemberi Hukum itu sendiri tunduk kepada Hukum, Ketika Raja yang berkuasa sendiri menanggung hukuman yang sangat berat sebagai tuntutan Hukum, kemudian kemuliaan Allah diletakkan di atas takhta supaya seluruh dunia yang sedang bertanya-tanya akan kagum dan takjup akan hal ini. Jika telah terbukti dengan sangat jelas bahwa Yesus taat kepada Hukum, bahkan sampai mati, Ia tentunnya tidak datang untuk menghapus atau membatalkan Hukum. Jika demikian siapa yang melakukannya? Jika Ia meneguhkan hukum, siapa yang melakukannya?

Hukum itu secara absolut adalah sempurna, dan tidak ada yang dapat menambah atau menguranginya. “Sebab barang siapa yang menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bahagian dari padanya ia bersalah terhadap seluruhnya.” Jika tidak ada satu bahagianpun dari Hukum itu yang harus dibatalkan, maka berarti itu harus tetap teguh, dan teguh untuk selamanya. – The Perpetuity of the Law of God, diterbitkan di Spurgeon Expository Encyclopedia, oleh Baker.

12. Billy Graham – Tetap dan Tidak Berobah: Kata “Hukum’ digunakan oleh penulis Perjanjian Baru dalam dua maksud. Kadang kala kata itu menunjuk kepada hukum upacara Perjanjian Lama, yang berhubungan dengan hal-hal ritual dan peraturan-peraturan yang berkenaan dengan makanan dan minuman dan hal-hal lain untuk jenis kegiatan itu. Dari hukum ini, orang Kristen sesungguhnya bebas. Tetapi Perjanjian Baru juga berbicara tentang Hukum Moral, yang mana itu tetap, dan tabiat Allah yang tidak berobah itu secara ringkas terdapat di dalam Sepuluh Perintah. Associated Press dispatch,Chicago Tribune Syndicate.

13. Dwight L. Moody – Hukum Yang Kekal: Dituruti Dengan Kasih Di Dalam Hati: Pertanyaan untuk masing-masing kita ialah: apakah kita menuruti (Perintah-Perintah) itu? Jika Allah ingin membebani kita dengan Hukum, adakah didapati kemauan atau penolakan? Apakah kit memelihara hukum dengan sungguh-sungguh? Apakah kita mengasihi Allah dengan segenap hati? Apakah kita menunjukkan kepadaNya suatu penurutan dengan kemauan yang sungguh-sungguh?

Sepuluh Perintah Allah itu bukanlah suatu daftar lainnya, tetapi itu adalah suatu kesatuan hukum. Jika saya bergantung di udara sengan satu untaian rantai dengan sepuluh mata rantai, dan saya memutuskan salah satu mata rantai, saya pasti jatuh, sama pastinya dengan memutuskan sepuluh mata rantai. Jika saya dilarang untuk pergi keluar pagar, tidak ada bedanya dengan saya pergi merusak pagar dan pergi keluar. “Sebab barang siapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bahagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Rantai emas penurutan akan rusak jika satu mata rantainya hilang…”

Untuk seribu lima ratus tahun manusia berada di bawah hukum dan tidak ada yang sanggup untuk melakukan tuntutan hukum. Kristus datang dan menunjukkan bahwa perintah-perintah itu penting, lebih dari sekedar daftar yang tertulis; dan dapatkah seorang berkata bahwa ia telah sanggup menuruti perintah-perintah itu oleh kekuatan dan kesanggupannya sendiri?

Saya boleh mengira bahwa anda berkata kepada diri sendiri. “Jika kita akan dihakimi oleh Hukum ini, bagaimana kita dapat diselamatkan? Hampir setiap bahagian dari hukum itu telah kita hancurkan di dalam roh, jika bukan dalam bentuk Perintah yang tertulis.” Saya seolah-olah mendengar anda berkata: “Saya khawatir jika tuan Moody sudah siap untuk ditimbang? Apakah ia meletakkan ujian – ujian itu pada dirinya?”

Dengan segala kerendahan hati saya menjawab bahwa jika Allah memerintahkan saya untuk melangkah ke timbangan sekarang ini juga, saya siap.

“Apa!” anda berkata, bukankah anda telah melanggar hukum?” Ya, benar bahwa saya telah melanggar. Tadinya saya adalah orang berdosa di hadapan Allah, sebagaimana anda, tetapi empat puluh tahun yang lalu saya telah mengakui kesalahan saya di hadapanNya. Dengan menangis saya memohon kasih karunia, dan Ia telahmengampuni saya. Jika saya melangkah nenuju timbangan untuk ditimbang, Putra Allah telah berjanji untuk bersama dengan saya. Saya tidak akan berani melangkah kesana tanpa Dia. Jika saya ditimbang, betapa cepatnya segala beban akan lenyap.

Kristus memelihara Hukum. Jika Ia pernah melanggar Hukum, pasti Ia telah mati untuk diriNya sendiri sebagai akibat dari pelanggaran itu; tetapi Ia adalah Anak Domba Allah tanpa cacat dan noda, kemenanganNya dari maut akan menjadi bahagian kita, karena Ia telah mati ganti kita.

Kristus adalah akhir dari Hukum untuk kebenaran setiap orang percaya. Kita adalah benar di hadapan Allah, karena kebenaran Allah, melalui iman di dalam Kristus Yesus, diberikan kepada semua yang percaya.

Jika kasih Allah terpancar ke dalam hatimu, maka engkau akan disanggupkan untuk memenuhi Hukum. – Weighed and Wanting, hal. 119-124.

Beberapa tahun salah satu seri artikel diterbitkan di Moody Bible Institute Monthly, dengan judul, “Apakah orang Krissten dibebaskan dari Hukum? Penulis seri artikel ini berkata di dalam artikelnya yang pertama, “Mari kita lihat sekarang bagaimana Hukum Moral ditegaskan, diperluas, dan dilaksanakan secara dinci di dalam Perjanjian Baru.” Ia, penulis ini kemudian menunjukkan bagaimana Kristus dan para rasul bersikap:

Sangat jauh dari maksud membatalkan bahagian tertentu dari Sepuluh Perintah, Ia (Kristus) mempertegas bahwa marah, atau kata-kata pesas, melanggar hukum ke enam, dan berahi, melanggar hukum yang ketujuh (Matius 5:21, 22, 27, 28).

Ajaran para rasul berdasarkan ilham dari Allah melalui Roh Kudus justru lebih tegas dan bersungguh-sungguh sesuai dengan tujuan dan maksud dari Hukum Moral. –Moody Bible Institute Monthly, October, 1933.

Jika suami setia kepada pasangnnya, maka itu berarti ia bebas dari hukum ketujuh dari Sepuluh Perintah Allah. Tetapi bukan hanya hukum ketujuh, tetapi seluruh bahagian dari Perintah itu. Pertanyaan yang penting untuk diajukan ialah, apakah menjadi legalist bila seorang suami setia kepada istrinya setelah mereka mengadakan sumpah setia di hadapan Tuhan pada upacara pernikahan kudus? Jika hal ini tidaklah legalist, mengapa kebanyakan orang mempunyai kesan bahwa MAHK telah menjadi legalist, ketika sebagai gereja, oleh karena percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, mereka menyatakan kesetiaan kepada Tuhan dan Juruselamat melalui penurutan akan HukumNya?

Kepercayaan MAHK semata-mata berdasarkan Alkitab, dan tentunya tidak bertentangan dengan posisi Protestan dari masa ke masa. Adalah benar bahwa jika ada orang yang mengajarkan bahwa Hukum Allah sudah tidak berlaku lagi, itu adalah ajaran yang baru, yang jauh dari maksud Allah memberikan HukumNya kepada manusia.

Kehidupan yang dibenarkan adalah kehidupan yang secara sadar, oleh kuasa Illahi, mau menuruti dan menghidupkan Sepuluh perintah Allah, yaitu “hukum yang memerdekakan.”

Sebagaimana dalam kehidupan keseharian di tengah masyarakat kita membutuhkan hukum, bukan saja berfungsi untuk mengatur ketentraman masyarakat, tetapi juga hukum menolong kita untuk berlaku benar dan tetap benar, Tuhan memberikan HukumNya kepada kita untuk maksud yang sama, yaitu sebagai aturan standar bagi manusia dalam bertingkah laku agar identitas kita sebagi “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah” tetap terpelihara. Ingat bahwa Sepulu Hukum Allah bukanlah “Juruselamat,” artinya, kita bukan diselamatkan oleh karena menuruti Sepuluh Perintah Allah, tetapi oleh karena kita telah diselamatkan oleh Allah melalui pengorbanan Yesus di kayu salib, untuk membenarkan dan melayakkan kita sebagai umat Allah, maka untuk mempertahankan pembenaran dan kelayakan itu maka kita wajib menuruti Allah melalui menuruti Sepuluh PerintahNya.

Semoga oleh pertolongan Tuhan, kita dapat mengerti penjelasan yang sangat sederhana ini, dan oleh pertolongan dari sumber kuasa yang sama pula, kita didorong untuk membuktikan rasa cinta sekaligus menunjukkan rasa hormat kita kepada Tuhan, Pencipta, dan Penebus kita, melalui menuruti PerintahNya. A m i n.10commandmentstop

› tags: hukum Allah /

Comments

  1. Anonymous says:

    PERLU DIINGAT…! KALO BACA ALKITAB JANGAN SETENGAH2 TAPI MENYELURUH DAN PAHAMI DENGAN BAIK DULU SETELAH ITU PLEASE TO COMMENT,OK…GOD BLESS YOU

  2. Anonymous says:

    ALLAH ADALAH KEKAL MAKA OTOMATIS SEGALA HUKUMNYA KEKAL
    MEMAKAI AKAL PIKIRAN SENDIRI NTAR JADI DOSA LOHHH,YA GAK???

  3. Anonymous says:

    akirnya neh orang capek juga…hhhh

  4. topan says:

    vanilo apa anda tidak mengerti maksud yesus
    kasihila Tuhan Allahmu dan kasihila manusia seperti dirimu sendiri itu menyangkut hukum taurat? hukum 1-4 menyatakan kasih kita krpada Tuhan Allah kita dan 5-10 untuk kita sesama manusia.

    dan satu lagi soal kata di hosea 2:11 mending anda baca dlu alkitab itu dengan benar supaya tidak salah tafsir.
    baca dlu imamat baru anda mengerti maksud hosea dsitu. dan sabat apa maksud hosea disitu.
    harus ingat sabatnya ( sabatnya manusia ) bukan sabatNya ( sabatnya Tuhan Allah )

    Amsal 3:5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.

  5. Vanilio says:

    Ayat dibawah tidak perlu ditafsir jadi Ngapain harus ditafsir akhir lari dri makna sebenarnya….

  6. Mantan Katholik Roma says:

    Bosen itu lagi, udah di jelasin juga Anda gak akan ngerti selama Anda MEngeraskan Hati Anda

  7. Vanilio says:

    Ayat dibawah ini siapakan yang membatalkan Sabat fisikal pada hari Sabtu.???

    Hosea 2:11 (2-10) Aku akan menghentikan segala kegirangannya, hari rayanya, bulan barunya dan hari Sabatnya dan segala perayaannya.

  8. Mantan Katholik Roma says:

    Koq ketawa, Paskah aja masih di rayakan oleh kalian yg sebenarnya ITULAH yang diBATALKAN karna sudah di GENAPI

    Sabat menubuat kan sapa? Yesus? Ada juga Yesus mengambil Cara melakukan SABAT yang Benar !!!!

    Selama Hidup Yesus pernah mengatakan bahwa Sabat akan dibatalkan?

  9. Vanilio says:

    Mengapa harus pake Orang Farisi segala jika ada ayat Kitab Suci menyatakan Hukum taurat telah batal dan salah satuNya hukum taurat adalah Hari Raya Yahudi yakni ttg sabat..he.hehe…

  10. Mantan Katholik Roma says:

    Anda seperti Ahli2 Taurat dan orang-orang Farisi yang Suka mencari kesalahan Yesus pada hari SABAT, tapi meskipun di sudutkan Apakah Yesus pernah mengatakan/menubuatkan bahwa nanti nya pun Hari Sabat tidak akan berlaku saat DIA Bangkit!
    Contoh
    Seperti KebangkitanNya Yesus mengatakan Rombak bait Allah ini, dan dalam 3 hari Aku akan mendirikannya

  11. Vanilio says:

    Mantan Katolik Roma@ silakang baca ayat dibawah ini..

    Efesus 2:15
    sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,

    Kematian Kristus telah membatalkan Hukum taurat dengan SEGALA Perintah dan Ketentuannya dan salah satuNya yang dibatalkan adalah tentang hari raya sabat pada hari seperti yang tertulis dalam ayat dibawah ini…..

    Hosea 2:11 (2-10) Aku akan menghentikan segala kegirangannya, hari rayanya, bulan barunya dan hari Sabatnya dan segala perayaannya.

    jadi sudah sangat jelas hanya anda saja yg masih menolak dan muter-muter dan lompat-lompat utk
    mengelabui…he.hehe…

    Jika anda paksakan jemaat Kristus harus bersekutu pada hari Sabtu tidak memiliki dasar yang kuat sama
    sekali…he.hehe…

  12. Vanilio says:

    Hosea 2:11 (2-10) Aku akan menghentikan segala kegirangannya, hari rayanya, bulan barunya dan hari Sabatnya dan segala perayaannya.

  13. Mantan Katholik Roma says:

    Saudara jgn salah, saya tidak memaksakan orang berhari sabat, karna sudah di jelaskan bahwa hari sabat, penurutan Hukum tidak bisa menyelamatkan, contohnya Ahli Taurat, Farisi, mereka menuruti tapi gak percaya Yesus sebagai Mesias tetep aja ga selamat

  14. Vanilio says:

    Karena saudara paksakan Hukum sabat Hari Sabtu harus mengikat jemaat Kristen sedangkan jemaat Kristen tidak terikat oleh Hukum taurat..

  15. Mantan Katholik Roma says:

    Looohhh… yg bilang ada3 sapa??? Anda pun gak paham dengan ke-2 hukum yg di berikan Yesus bahwasanya itulah kesimpulan dari 10 Perintah Allah
    Kasihilah Tuhan Allah mu no.1-4
    Kasihi sesama No.5-6

    Masaq harus saya sampaikan terus secara Detil beserta ayatnya???

  16. Mantan Katholik Roma says:

    Anda tidak pernah baca Alkitab yah, bahwa Paulus pun mengajar orang tak bersunat pada Hari Sabat….

    Kasihaaaannnn…

  17. Vanilio says:

    Hukum Perjanjian Baru hanya 2 Hukum BUKAN 3 Hukum supaya ada Hukum sabatnya jadi berbeda dengan 10 tersebut

  18. Vanilio says:

    Paulus datang ke sinagoga krn utk memberitakan Injil kepada kaum Yahudi yang menolak/Membunuh Kristus….

    yang mana rasul paulus sebelumNya adalah Yahudi sehingga tidak ada halangannya datang ke sinagoga…

  19. Mantan Katholik Roma says:

    Kalo memang ada pembicaraan saat penampakan diri (selama 40 HARI BERULANG2!, mengenai perubahan hari sabat pasti akan di sampaikan sama mereka!!!!
    Apakah ada???
    Hahahaaaa…

  20. Mantan Katholik Roma says:

    Mengapa di Kisah Para Rasul dll…
    Paulus masih datang Hari Sabat ke sinagoga?

  21. Vanilio says:

    Setelah Kristus bangkit dan sebelum naik ke sorga dan yesus juga masih menampakan diriNya kepada para rasul namun yang tercatat, Yesus selalu hadir pada hari Minggu secara berturut utk memberikan SHALLOM kepada pengikut namun hari SabtuNy tidak pernah disebutkan lagi dengan ini sudah sangat jelas bahwa Yesus Kristus bersama pengikutNya tidak terikat oleh Hukum taurat PL salah satuNya yakni bersabat pada hari Sabtu…

  22. Vanilio says:

    Mengapa harus sekte baru sedangkan sejak Kristus bangkit Jemaat Kristen yang tidak dibawah Hukum taurat justru adventislah sekte yang baru yang merasa diri seperti pengikut musa sehingga dibawah hukum taurat sedangkan Hukum taurat telah dibatalkan oleh kematian Kristus di salib…

  23. Vanilio says:

    10 Firman/Hukum tidak kekal krn hanya dimateraikan oleh darah binatang sebagai Simbol dan yang kekal Adalah Hukum Kristus yang dimateraikan oleh darah Kristus sendiri dan merupakan undang-undang Kerajaan sorgawi yakni kasih kepada Allah dan kasih kepada manusia…

    sedangkan 10 Hukum di gunung sinai adalah Hukum duniawi…
    dan yang mana kematian Kristus telah membatalkan Hukum taurat dengan segala perintah teemasuk 10 Hukum gunung sinai tersebut..

  24. Mantan Katholik Roma says:

    Mendingan Anda buat Gereja sendiri dengan Pemahaman anda sendiri, Mudah-mudahan ada Pengikutnya, cuma Anda yg berpendapat bahwa 10 Firman Allah tidak KEKAL!!!

  25. Vanilio says:

    Pembatalan Hukum Allah tidak dalam wewenang manusia, tidak pula dalam wewenang Rasul Paulus atau para
    malaikat sekalipun! Tetapi pembatalan itu adalah dalam wewenang Allah sendiri Sang Pembuat dan pemilik hukum
    itu, sebab Dia adalah Hukum! .

    Taurat hanya dapat batal oleh kuasa Allah dan kehendak Allah. TAURAT itu BATAL karena kematian Kristus, yaitu
    Allah yang inkarnasi, Allah yang empunya hukum Taurat itu, mati di kayu salib :

    * Efesus 2:15
    sebab dengan mati-Nya sebagai manusia IA TELAH MEMBATALKAN HUKUM TAURAT DENGAN SEGALA PERINTAH
    DAN KETENTUANNYA, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu
    mengadakan damai sejahtera,

    Dalam pasal selanjutnya Rasul Paulus berkata :
    * Roma 7:6
    Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat , sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita,
    sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf
    hukum Taurat
    Kita perhatikan lagi frasa Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? . Paulus dkk tidak
    membatalkan Taurat, tetapi Kristus lah yang telah menggenapi Taurat itu :

    * Roma 10:4
    LAI TB, Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat , sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang
    percaya.

  26. Vanilio says:

    Hukum ke 4 Tidak dipakai krn dibatalkan oleh kematian Kristus….

    Hosea 2:11 (2-10) Aku akan menghentikan segala kegirangannya, hari rayanya, bulan barunya dan hari Sabatnya dan segala perayaannya.

  27. Vanilio says:

    Hukum Kristus yang menjadi Hukum Perjanjian Baru hanya 2 hukum yakni kasih kepada Allah dan kasih kepada manusia bukan bukan 9 atau 10 Hukum…..

    Dan 2 Hukum Kristus ini yang akan mnjadi Undang-undang Kerajaan Sorga dan merupakan segala Induk Hukum…….

    status 2 Hukum ini lebih tinggi dari 10 Hukum taurat yang diturunkan digunung sinai….

    krn 10 Hukum tersebut adalah Hukum duniawi…

  28. Shandy says:

    Berarti Anda cuma milih 9 hukum dong, hukum ke-4 gak kepake ya?

  29. Vanilio says:

    10 Firman/Hukum yang diturunkan di gunung sinai tidak semua mengandung Hukum Moral tetapi ada hukum upacara/Hari Raya yang hanya mengikat bangsa Tertentu yakni hanya bangsa Israel yaitu tentang Hukum sabat pada hari Sabtu dan Hukum sabat tersebut tidak pernah mengikat bangsa lain bahkan sama sekali tidak pernah mengikat Nenek moyang bangsa Israel sendiri…

    dan yang mana 10 Firman/Hukum tersebut secara Khusus hanya diberikan kepada umat Allah pada jaman perjanjian lama yang bersifat Fisikal/jasmani/Lahiriah bukan diberikan kepada bangsa-bangsa lain…..

  30. Vanilio says:

    Sabat pada hari Sabtu Bukanlah Hukum yang bersifat Moral Kodrati tetapi hukum yang bersifat Bayang-bayang/Hari Raya/Upacara/Cerimonial…

    sabat pada hari Sabtu digolongkan sebagai Hukum upacara/Hari Raya krn dirayakan pada hari tertentu sedangkan Hukum yang bersifat moral kodrati tidak pernah dirayakan pada hari tertentu..

    contohNya kaum adventis melaksanakan Hukum upacara/hari Raya yakni merayakan/menguduskan hari Sabat pada hari Sabtu tetapi tidak pernah merayakan hukum moral seperti dilarang mencuri atau dilarang membunuh pada hari tertentu…

  31. Vanilio says:

    Hukum Kristus yang menjadi Hukum Perjanjian Baru hanya 2 Hukum yakni kasih kepada Allah dan kasih kepada Manusia…

  32. Vanilio says:

    Dan sepuluh Firman adalah bagian yang tak terpisahkan dalam hukum taurat…..

  33. Vanilio says:

    Bangsa-bangsa lain/Non Israel tidak diberikan hukum taurat tertulis ssperti yg tertulis diatas dua batu loh tetapi bangsa-bangsa lain/Non Israel memiliki taurat tersendiri yang tertulis didalam hatiNya yakni hukum-hukum yang bersifat Moral kodrati yang tetap melekat disetiap hati manusia….

    Efesus 2:15
    sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,

    Hukum taurat itu batal tetapi hukum-hukum yang bersifat Moral Kodrati tetap melekat dan sepuluh firman yang diturunkan digunung sinai tidak semuanya adalah hukum moral krn mngandung hukum yang bersifat bayang-bayang/Hari raya/Cerimonial yang hanya mengikat bangsa tertentu saja yakni hanya mengikat bangsa Israel…

    yang dikatakan Hukum yang bersifat Moral kodrati adalah hukum yg tetap melekat disetiap hati manusia entah itu bangsa Israel maupun Non Israel dan mengikat siapa saja, dimana saja, dan kapan saja sedangkan hukum yang bersifat upacara/hari raya hanya mengikat pada hari tertentu saja dan hanya mengikat golongan tertentu saja…..

  34. Vanilio says:

    maksudNya bangsa-bangsa Lain/Non Israel diangkat menjadi Umat Allah yang bersifat Rohani pada jaman Perjanjian baru lewat kematian dan kebangkitan Kristus bukan lewat 10 firman yang hany ditujukan kepada bangsa Israel…..

  35. Vanilio says:

    Sepuluh Hukum yang diturunkan di Gunung sinai secara Khusus hanya ditujukan kepada bangsa Israel atau Umat Allah yang bersifat Fisikal/Jasmani/lahiriah pada jaman PL, krn pada jaman perjanjian lama sebelum kematian Kristus untuk membatalkan Hukum Taurat yang bukan bangsa Israel Tidak termasuk umat Allah….

    bangsa-bangsa lain diangkat mnjadi umat Allah yang bersifat Jasmank karena lewat kematian dan kebangkitan Kristus bukan lewat sepuluh firman yang diturunkan di gunung sinai….

Leave a Reply