Apakah Kasih Karunia Membatalkan Hukum?

bk-dggb

By Joe Crews

Otoritas Hukum Tuhan
Setan, melalui dosa telah menghancurkan dunia kita. Kita hidup dalam zaman pemberontakan melawan pengekangan dan hukum. Bangsa kita sangat terkejut menyaksikan penyimpangan terhadap aturan sosial dan hak-hak kepemilikan oleh geng di kota besar, termasuk hak untuk hidup. Pembunuhan, perampokan, dan penyerangan terhadap pribadi telah menjadi merek dari kota dan desa dalam kehidupan abad ini.

Setiap hari sementara kita membaca surat kabar kelihatannya bahwa mutu kehidupan telah berjalan turun terus lebih lanjut. Ada saat-saat kita tergoda untuk percaya bahwa hal-hal itu tidak akan menjadi lebih buruk, dan keadaan itu telah mencapai dasar dari batu cadas. Namun hari berikutnya, malahan lebih banyak kekerasan, kejahatan-kejahatan aneh dilaporkan dan kita hanya menggelengkan kepala tidak percaya. Sukar untuk mengerti suatu bangsa seperti Amerika dengan begitu banyak warisan Kristiani dapat berpisah sedemikian jauh dari prinsip-prinsip saat didirikan. Bahkan Negara-negara non-Kristen tidak terserang dengan begitu banyak kejahatan dan segala kekerasan seperti bangsa yang disebut Kristen. Lebih banyak kejahatan dilaporkan di Washington D.C., dibandingkan di Moscow dalam 24 jam dilaporkan dalam setahun penuh. Tidak diragukan bahwa metode-metode pelaporan tidaklah sama, tetapi tetap menyajikan gambaran yang mengkhawatirkan.

Masalahnya menjadi lebih serius ketika kita menyadari bahwa ketiadaan-hukum akan menjangkau ke dalam bidang-bidang agama dan berdampak kepada berjuta-juta orang yang tidak pernah berpikir tentang membunuh dan memperkosa. Itu adalah mungkin bahwa mayoritas dari anggota gereja-gereja di Amerika saat ini menganut sedikit keyakinan melawan pelanggaran paling sedikit satu dari Sepuluh Perintah Tuhan. Satu doktrin yang paling membahayakan yang telah dikembangkan dalam teologia Katholik maupun Protestan yang cenderung mengecilkan otoritas dari Hukum moral Tuhan yang agung. Itu telah menuntun banyak orang memandang ringan terhadap pelanggaran dan membuat dosa kelihatan tidak dapat tidak disetujui. Faktanya dosa telah kehilangan sifat yang menakutkan bagi orang banyak dan menjadi mode kehidupan yang dapat diterima baik oleh orang muda dan yang dewasa. Saksikan kecederungan mutakhir dalam gaya hidup yang mendukung pandangan ini.

Berapa banyak orang muda pria dan wanita hidup bersama tanpa manfaat pernikahan! Mereka tidak percaya semacam pengaturan kehidupan yang harus ditandai sebagai dosa. Sebagian besar dari pencuri di toko (pengutil) adalah orang yang mengaku Kristen, dan kebanyakan mereka yang adalah anggota gereja percaya bahwa adalah tidak berdosa walaupun melanggar Sabat hari ketujuh dari perintah keempat.

Bagaimana kita menjelaskan situasi yang paradoks ini dikalangan mereka yang mengaku begitu menghargai Alkitab, dan begitu mengasihi Kristus? Pertanyaan ini menjadi lebih berarti ketika kita mempertimbangkan posisi kesejarahan Kekristenan terhadap Sepuluh Perintah Tuhan (Dekalog). Hampir semua denominasi-denominasi besar telah menempatkan diri mereka secara sah tercatat sebagai pendukung otoritas hukum itu. Namun kesalahan-kesalahan interpretasi yang sukar dirasakan telah merangkak ke dalam gereja modern, menuntun kepada keadaan sekarang yang membingungkan kesetiaan terhadap Dekalog. Betapa dengan sungguh-sungguh kita perlu memandang hukum itu dan mempelajari hubungannya dengan kasih karunia Tuhan dan kepada keselamatan itu sendiri. Begitu mudah menerima klise popular berkaitan dengan hukum dan kasih karunia tanpa meneliti fakta alkitab yang olehnya kita pada akhirnya akan dihakimi. Kita harus menemukan jawaban-jawaban alkitab yang sah atas pertanyaan-pertanyaan seperti ini: Dalam pengertian apa orang Kristen bebas dari hukum? Apa artinya berada di bawah hukum Taurat? Apakah kasih karunia Tuhan membatalkan Dekalog? Apakah seorang Kisten dibenarkan melanggar salah satu dari Sepuluh Perintah karena dia berada di bawah kasih karunia? Inilah pertenyaan-pertanyaan yang kita tujukan kepada diri kita sendiri dalam pelajaran penting ini.

Dihukum Untuk Mati
Marilah kita mengesampingkan sampah-sampah kebingungan yang mengaburkan kebenaran tentang bagaimana manusia diselamatkan. Orang banyak sudah mendengar pembicaraan emosional tentang dosa dan keselamatan, namun mereka tetap tidak mengerti logika dan alasan yang mempersyaratkan suatu korban darah.

Dapatkah anda membayangkan kengerian berdiri dihadapan hakim dan mendengar keputusan hukum mati atas Anda diumumkan? Mungkin tidak. Tetapi Anda sudah merasakan dorongan rasa bersalah dan ketakutan ketika Firman Tuhan menembus Anda dengan kalimat ini: “Sebab upah dosa ialah maut” (Roma 6:23). Mengapa takut dan bersalah? Karena “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23).

Perkataan itu ada dan artinya tidak dapat salah. Kata “semua” dapat disebut juga untuk John atau Mary atau apapun nama Anda. Fakta yang mengejutkan ialah bahwa Anda berada di bawah keputusan hukuman mati! Anda telah ditemukan bersalah di hadapan hukum, dan tidak ada pengadilan banding di dunia ini yang dapat membalikkan keputusan itu dan mendapati Anda tidak bersalah. Faktanya Anda bersalah, sama bersalahnya seperti dosa. Menurut 1 Yohanes 3:4 “Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah” dan anda dinyatakan salah melanggar hukum. Hukum siapakah yang Anda langgar? Paulus menjawab dengan segera, “justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: Jangan mengingini!” (Roma 7:7). Itu dia. Sepuluh Perintah TUHAN yang dilanggar, dan itu menuntut kematian bagi si pelanggar.

Dalam keputus-asaan orang berdosa itu mencari jalan agar dibenarkan dalam pandangan tentang pelanggaran hukum itu. Bagaimana vonis mati itu dibalik? Dapatkah manusia memperbaiki atau mengubah dosa-dosanya oleh menaati hukum-hukum Tuhan untuk sisa umur hidupnya? Jawaban datang dalam bahasa yang tidak dapat disalah-mengerti “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat (Roma 3:20)

Dengar: ada satu alasan mengapa perbuatan-perbuatan tidak akan membenarkan seseorang. Jika seorang kedapatan bersalah karena mencuri dan divonis sepuluh tahun dalam penjara, dia mungkin dapat membenarkan dirinya dengan perbuatan-perbuatan. Dengan menjalani waktu vonisnya, orang itu mungkin memenuhi tuntutan hukum. Dia dipertimbangkan dibenarkan sempurna dan tidak bersalah karena dia sudah melakukan kelepasannya oleh memenuhi vonis itu. Dalam cara yang sama, seorang pembunuh mungkin dapat dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan apabila dia menjalani lima puluh tahun vonisnya. Tetapi bagaimana misalnya vonisnya adalah hukuman mati gantinya lima puluh tahun? Dapatkah narapidana itu membenarkan dirinya dengan perbuatan-perbuatan? Tidak pernah! Walaupun jika ia harus bekerja seratus tahun dengan kerja keras, hukum tetap menuntutnya harus mati. Kebenarannya ialah “tanpa mencurahkan darah tidak ada pengampunan….. Demikianlah Kristus sekali mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang (Ibrani 9:22-28).

Inilah sebabnya mengapa perbuatan-perbuatan tidak pernah dapat menyelamatkan orang berdosa. Hukuman bagi dosa bukan sepuluh tahun dalam penjara atau lima puluh tahun kerja keras. Vonisnya ialah mati, dan hukum itu tidak dapat dipuaskan kecuali oleh penumpahan darah. Hukum yang tak dapat diganti dengan vonis mati itu tidak dapat diringankan atau diampuni, lebih tidak dapat dihapus ketimbang tahta TUHAN dapat runtuh. Kesalahan masa lalu tidak dapat dihapus oleh resolusi-resolusi kelakuan baik di masa depan. Akhirnya orang berdosa dipaksa mengakui bahwa ia berhutang sesuatu yang dia tidak dapat bayar. Hukum menuntut kematian dan dia tidak dapat memenuhi itu tanpa menyerahkan nyawanya sendiri untuk selama-lamanya.

Hukum Tetap Mengikat
Sekarang kita dibawa kepada pertanyaan yang sudah menciptakan kebingungan untuk kebanyakan orang Kristen: Jikalau perbuatan hukum tidak dapat menyelamatkan seseorang, apakah penting memelihara hukum? Kelihatannya ini adalah isu yang membakar dalam gereja mula-mula, karena Paulus menanyakan pertanyaan yang sama dalam Roma 6:1 “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Dengan perkataan lain, apakah kasih karunia memberi kita ijin untuk tidak mentaati hukum Tuhan? Jawabannya ialah: “Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” (ayat 2)

Betapa menariknya bahwa orang Kristen jaman relativisme ini dapat menemukan definisi mereka sendiri yang memaafkan pelanggaran hukum. Alkitab berkata dosa ialah pelanggaran akan Dekalog – hukum yang sudah dijelaskan sebagai tidak relevan dan ketinggalan zaman oleh banyak teolog-teolog modern. Jangan tertipu! Setiap ketetapan dari moral yang besar itu adalah tepat pada waktunya dan sama perlunya seperti pada waktu TUHAN menulis diatas loh batu yang tak dapat dibinasakan. Dan tidak pernah sesuatu terjadi yang membuatnya kurang mengikat dari pada keadaan saat TUHAN memberikannya. Kenyataannya, kita sedang menemukan bahwaYesus datang untuk membesarkan hukum itu dan membuka penerapan spiritualnya, membuat lebih lengkap dari pada apa yang orang Farisi legalistik pernah bayangkan. Di bawah pengaruh yang menyaring dari ketaatan kehidupan Kristus yang sempurna, kita dapat melihat rincian rohani pemeliharaan hukum yang tidak dapat dikenal atau membuatnya mungkin jika terpisah dari Dia.

Hukum Tuhan – Sebuah Cermin
Dalam hal ini kita haru sangat berhati-hati untuk menandai juga apa yang hukum tidak dapat lakukan. Walau hukum itu menyatakan dosa, dia tidak berkuasa untuk menyelamatkan dari dosa. Tidak ada pembenaran, dan kasih karunia yang membersihkan di dalamnya. Semua pekerjaan dari semua hukum tidak akan cukup menyelamatkan satu jiwapun. Mengapa? Untuk alasan yang sederhana ialah kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman, sebagai pemberian gratis. “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” Rom 3:20

Jangan tersandung dengan hal yang krusial ini. Kita tidak dapat memperoleh pengampunan oleh bekerja keras untuk taat. Tidak seorang berdosapun dapat memperoleh perkenan dan penerimaan dari Tuhan kerena memelihara hukum. Hukum tidak dibuat untuk maksud menyelamatkan atau menyucikan. Itu dibuat untuk menunjukkan kebutuhan kita akan pembersihan dan untuk menunjukkan kita kepada sumber agung pembersihan, Yesus Kristus, Tuhan kita. Alkitab berbicara tentang hukum sebagai cermin untuk menunjukkan manusia jenis apakah kita sesungguhnya. “Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidakmelakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” Yakobus 1:23-25.

Jelas bagi semua bahwa sebuah cermin tidak dapat menghapus sebuah noda dari wajah. Memandang ke dalam cermin sepanjang hari, tetap tidak menghapus itu dari wajah, tidak akan menyediakan pembersihan apapun. Tugasnya ialah menyatakan noda dan menunjuk yang kotor kepada bak cuci untuk pembersihan yang nyata. Hukum demikian juga, hanya dapat mempersalahkan orang berdosa dengan memberinya pengetahuan tentang keadaannya dan kemudian menunjukkan salib untuk pembersihan yang sesungguhnya. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8). Paulus lebih jauh menekankan hal ini dalam Galatia 2:16 “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus…….tidak ada seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat.”

Di sini kita perlu mempertimbangkan satu dari dalil-dalil yang paling keliru yang pernah dinyatakan sehubungan dengan hukum. Tak terhitung banyaknya orang Kristen yang tulus telah menerimapendapat ini bahwa Perjanjian Lama meliputi dispensasi dari perbuatan-perbuatan dan Perjanjian Baru menyediakan dispensasi dari kasih karunia. Di bawah rencana yang diputar-balik ini orang diselamatkan oleh perbuatan di Perjanjian Lama dan oleh kasih karunia di Perjanjian Baru. Ini sama sekali tidak benar. Alkitab berbicara hanya satu rencana yang indah dan sempurna untuk siapa saja untuk diselamatkan, dan itu adalah oleh kasih karunia melalui iman. Surga tidak akan terbagi antara mereka yang masuk di sana karena perbuatan dan mereka yang masuk di sana karena iman. Setiap jiwa di antara yang ditebus ialah orang berdosa yang diselamatkan oleh kasih karunia.

Mereka yang selamat pada zaman Perjanjian Lama adalah mereka yang bergantung pada jasa darah Yesus Kristus, dan mereka mendemonstrasikan iman mereka dengan membawa anak domba dan menyembelihnya. Mereka memandang ke depan dalam iman kepada pengantaraan darah Yesus. Kita melihat ke belakang dalam iman kepada kematian yang sama dan diselamatkan dalam cara yang tepat sama. Pastikanlah bahwa seluruh umat tebusan sepanjang kekekalan akan menyanyikan lagu kelepasan yang sama, mengagungkan Anak Domba yang tersembelih sejak dunia dijadikan.

Hukum Kristus Yang “Baru”
Beberapa orang mencoba membuang Dekalog atas dasar hukum kasih yang “baru” yang Kristus perkenalkan. Tentu itu benar bahwa Yesus meletakkan dua hukum kasih yang besar sebagai kesimpulan dari semua hukum, tetapi apakah Dia memberi ide bahwa ini adalah baru dalam hal waktu? Kenyataannya ialah bahwa Dia mengutip langsung dari Perjanjian Lama ketika Dia memberikan hukum-hukum baru itu. “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ulangan 6:5). “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Imamat 19:18). Sudah tentu, prinsip-prinsip rohani yang merasuk itu telah dilupakan oleh para legalis pada zaman Kristus, dan hukum itu baru bagi mereka di dalam kaitannya dengan praktek kehidupan mereka. Tetapi hukum itu tidak dimaksudkan Yesus menggantikan Dekalog.

Ketika seorang ahli hukum bertanya kepada Yesus hukum mana yang terbesar di dalam hukum Taurat, ia menerima jawaban:” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Perhatikan bahwa dua hukum kasih ini sekedar menyimpulkan “seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:37 – 40.

Semuanya bergantung pada dua prinsip kasih ini. Kristus sedang mengatakan bahwa kasih adalah kegenapan hukum Taurat seperti yang Paulus ulangi kemudian dalam Roma 13:10. Jika seseorang sangat mengasihi Yesus dengan hati, jiwa dan pikiran, dia akan mentaati empat perintah yang pertama yang berkaitan dengan kewajiban kita kepada TUHAN. Ia tidak akan menyebut nama TUHAN sembarangan, menyembah ilah/allah-allah lain, dan lain-lain. Jika seseorang mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri, dia akan mentaati enam perintah yang berhubungan dengan kewajiban kita kepada sesama manusia. Ia tidak akan mencuri dari sesamanya, mendustai, dll. Kasih akan menuntun untuk mentaati atau menggenapi semua hukum.

Tidak Berada Di Bawah Hukum Taurat.
Sering kita mendengar pernyataan ini dalam usaha untuk mengecilkan hukum Tuhan: “Baik, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat tetapi di bawah kasih karunia, kita tidak perlu memelihara Sepuluh Perintah Tuhan lagi seterusnya.” Apakah ini pengertian yang valid? Alkitab memang mengatakan bahwa kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi apakah itu berarti bahwa kita bebas dari kewajiban untuk menurutinya? Ayatnya ditemukan dalam Roma 6:14,15. “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!”

Betapa dengan mudah kita dapat menghindari kebingungan apabila kita menerima apa yang Alkitab katakan dengan tepat. Paulus memberi penjelasannya sendiri tentang pernyataannya. Sesudah menyatakan bahwa kita tidak berada di bawah hukum Taurat tetapi di bawah kasih kasih karunia, dia bertanya, “Jadi bagaimana? Ini sebenarnya berarti, “Bagaimana kita mengerti hal ini?” kemudian perhatikan jawabannya. Dalam mengantisipasi bahwa bebrapa orang akan menafsirkan perkataannya yang mengartikan bahwa anda dapat melanggar hukum karena anda berada di bawah kasih karunia, dia berkata “Apakah kita akan berbuat dosa (melanggar hukum), karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak)! Dalam bahasa kemungkinan yang terkuat Paulus nyatakan bahwa berada di bawah kasih karunia tidak memberi suatu ijin untuk melanggar hukum. Namun inilah sesungguhnya yang sekarang jutaan orang percayai, dan mereka mengabaikan sepenuhnya apa peringatan khusus Paulus.

Jika berada di bawah kasih karunia tidak membebaskan kita dari menaati hukum, lalu apa yang Paulus maksudkan dengan mengatakan bahwa orang Kristen tidak berada di bawah hukum Taurat? Dia memberi jawaban dalam Roma 3:19 “Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah.” Di sini Paulus menyamakan berada di bawah hukum dengan “berada di bawah hukuman Allah.” Dengan kata lain, mereka yang berada di bawah hukum adalah salah karena melanggarnya dan berada di bawah hukuman nya. Inilah sebabnya mengapa orang Kristen tidak dibawahnya. Mereka tidak melanggarnya – tidak bersalah dan dihukum olehnya. Karena itu mereka tidak berada di bawahnya, tetapi gantinya, berada di bawah kuasa kasih karunia. Kemudian dalan pernyataannya Paulus menunjuk bahwa kuasa kasih karunia lebih besar dari pada kuasa dosa. Inilah sebabnya mengapa dia menyatakannya dengan tegas “Karena dosa tidak lagi berkuasa atasmu; karena kamu tidak berada di bawah hukum, tetapi di bawah kasih karunia.” Kasih karunia menolak kekuasaan dosa, memberi kuasa untuk mentaati hukum Tuhan. Inilah alasan yang tepat bahwa kita tidak berada di bawah kesalahan dan hukuman hukum Tauratdan juga mengapa Paulus menyatakan bahwa kita tidak akan terus berdosa.

Misalnya seorang pembunuh dijatuhi hukuman mati di atas kursi listrik. Menunggu eksekusi orang itu akan benar-benar di bawah hukum dalam setiap arti kata – di bawah kejahatan, di bawah hukuman, di bawah vonis mati, dll. Tepat sebelum tanggal eksekusi gubernur meninjau kasus hukuman dan memutuskan mengampuni dia. Dalam pertimbangan situasi-situasi yang meringankan gubernur menjalankan hak prerogatifnya dan mengirim pengampunan penuh kepada si narapidana. Sekarang ia tidak lagi di bawah hukum tetapi di bawah kasih karunia. Hukum tidak lagi mempersalahkan dia. Dia dianggap benar sepenuhnya sejauh tuntutan hukum diperhatikan. Dia bebas melangkah keluar dari penjara dan tidak seorang polisi dapat menangkap dia. Tetapi sekarang dia berada di bawah kasih karunia dan tidak lagi berada di bawah hukum, dapatkah kita katakan dia bebas melanggar hukum? Pasti tidak! Kenyataannya, orang yang sudah diampuni itu akan wajib mentaati hukum dua kali lipat karena dia telah mendapat kasih karunia dari gubernur. Dalam perasaan syukur dan kasih dia akan sangat berhati-hati menghargai hukum dari negara yang sudah memberinya kasih karunia. Itukah yang Alkitab katakan tentang orang-orang berdosa yang diampuni? “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” (Roma 3:31). Disinilah jawaban eksplisit dari keseluruhan masalah. Paulus bertanya apakah hukum Taurat dibatalkan bagi kita hanya karena kita sudah memiliki iman kepada kasih karunia Kristus yang menyelamatkan. Jawabannya ialah bahwa hukum Tautrat itu diteguhkan dan dikuatkan dalam kehidupan seorang Kristen yang diselamatkan oleh kasih karunia.

Kebenaran tentang hal ini begitu sederhana dan jelas dan tidak menuntut pengulangan, tetapi penalaran yang berliku-liku dari mereka yang mencoba menghindari ketaatan membuatnya penting untuk menekankan kebenaran ini sedikit lebih jauh. Pernahkan anda diberhentikan oleh polisi karenan melampaui batas kecepatan? Itu adalah pengalaman yang memalukan, teristimewa kalau anda sadar anda bersalah. Tetapi seandainya anda benar-benar tergesa karena sesuatu yang mendesak, dan anda menjelaskan alasan yang meyakinkan kepada polisi sementara dia menulis surat tilang. Dengan perlahan dia melipat surat tilang itu lalu merobeknya. Kemudian dia berkata:”Baiklah, saya memaafkan anda kali ini, tetapi …. “ Sekarang apa pendapat anda tentang kata “tetapi”? pasti maksudnya “tetapi saya tidak mau menangkap anda atas pelanggaran kecepatan lagi.” Apakah pengampunan ini (kasih karunia) membuka jalan bagi anda untuk tidak mentaati hukum? Sebaliknya, itu menambah desakan yang memaksa keputusan anda agar jangan melanggar hukum lagi. Kalau demikian, akankah seorang Kristen sejati berusaha membuat rasionalisasi (alasan yang sepertinya masuk akal) jalannya agar tidak mentaati hukum TUHAN? “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15).

Ketaatan – Ujian Kasih
Seseorang mungkin mengajukan keberatan sesudah hukum digenapi maksudnya menunjukkan Kristus kepada orang berdosa untuk pengampunan, itu tidak lagi diperlukan dalam pengalaman orang percaya. Apakah ini benar? Tentu tidak. Orang Kristen akan selalu butuh penjaga dari hukum untuk menyatakan penyimpangan dari jalan yang benar dan untuk menunjuk kembali kepada salib Yesus yang membersihkan. Tidak pernah akan ada waktu bilamana cermin koreksi tidak diperlukan dalam pengalaman pertumbuhan orang Kristen yang terus maju.

Hukum dan kasih karunia dalam bekerja tidak berkompetisi satu sama lain melainkan dalam kerjasama yang sempurna. Hukum menunjukkan akan dosa, dan kasih karunia menyelamatkan dari dosa. Hukum merupakan kehendak Tuhan dan kasih karunia menyediakan kuasa untuk melakukan kehendak Tuhan. Kita memiliki penurutan bukan supaya diselamatkan, tetapi karena kita sudah di selamatkan kita memiliki penurutan. Sebuah ayat yang indah menggabungkan kedua hal ini dalam hubungan yang sebenarnya di Wahyu 14:12 “Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus.” Suatu gambaran yang sempurna dari iman dan tindakan. Dan kombinasi ini ditemukan di antara mereka yang termasuk dalam “orang-orang kudus”.

Perbuatan ketaatan adalah ujian kasih yang sesungguhnya. Itulah sebabnya mengapa mereka begitu penting di dalam pengalaman seorang percaya. “Iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:20). Tidak ada seorang pria yang dapat memenangkan hati gadis yang manis hanya dengan kata-kata saja. Seandainya tidak ada bunga, tidak ada tindakan memuja, tidak ada hadiah-hadiah tanda kasih, banyak pria masih akan terus mencari seorang pendamping. Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7:21.

Kata-kata dan pengakuan tidaklah cukup. Bukti sejati adalah ketaatan. Sekarang ini stiker-stiker di bumper mobil menggambarkan konsep kasih yang dangkal. Mereka katakan “Senyumlah bila anda mengasihi Yesus,” “Bunyikan klakson bila anda mengasihi Yesus”; tetapi apa yang Guru sendiri katakan? Ia berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15). Dan itulah persis yang kebanyakan orang tidak ingin perbuat. Apabila kasih tidak menuntut melampaui satu senyuman dan lambaian itu akan disambut; tetapi apabila gaya hidup diganggu maka mayoritas akan menolaknya. Sayangnya banyak orang sekarang ini tidak mencari kebenaran. Mereka sedang mencari suatu agama yang enak, mudah dan menyenangkan yang akan mengijinkan mereka hidup dengan cara yang mereka sukai dan terus memberi jaminan keselamatan. Tentu tidak ada agama yang benar yang dapat melakukan itu untuk mereka.

Salah satu ayat yang sangat kuat dalam Alkitab tentang pokok pikiran ini ditemukan dalam 1 Yohanes 2:4. “Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.” Yohanes dapat menulis itu dengan kepastian demikian karena itu adalah salah satu kebenaran yang ditegakkan sangat mendalam di dalam Alkitab. Yesus berbicara tentang mereka yang berseru Tuhan, Tuhan, tetapi tidak melakukan kehendak Bapa. Kemudian Ia menjelaskan banyak yang mau berusaha masuk ke kerajaan itu mengklaim adalah pembuat-pembuat mujizat di dalam nama Kristus. Tetapi dengan sedih Ia harus berkata “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:21-23). Anda lihat, mengenal Kristus berarti mengasihi Dia, dan mengasihi Dia adalah menaati Dia.

Anggapan yang benar dari penulis-penulis Alkitab sangat jelas dan sederhana: apabila seorang tidak menaati Kristus, ia tidak mengasihi Kristus. Dan jika ia tidak mengasihi Tuhan, maka ia tidak mengenal Dia. Yohanes menjamin “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” Yohanes 17:3. Dengan demikian kita dapat mengerti bagaimana mengenal dan mengasihi terikat erat bersama dan mutlak tidak terpisahkan di dalam kehidupan umat Tuhan yang setia. Yohanes kekasih menyimpulkan dalam kata-kata: “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat” (1 Yohanes 5:3)

Apakah Mungkin Mentaati Hukum?
Tak terhitung banyaknya orang Kristen telah diajar bahwa karena hukum adalah rohani dan kita manusia berdosa, tidak ada manusia akan pernah mampu dalam kehidupan ini memenuhi persyaratan hukum yang sempurna. Apakah ini benar? Apakah itu diberikan oleh Tuhan sebagai suatu idealistik yang besar, tujuan yang tidak mungkin ke arah mana jiwa-jiwa yang bertobat harus berjuang namun tidak berharap untuk mencapainya? Adakah persediaan tersembunyi atau arti rahasia dalam banyak perintah untuk mentaatiSepuluh Peraturan besar yang TUHAN tulis di atas batu? Apakah Tuhan mengerti apa yang Dia katakan dan katakan apa yang Dia maksud?

Banyak yang percaya bahwa hanya Kristus yang sudah dapat mentaati hukum dan hanya Dia karena Dia memiliki kuasa khusus yang tidak tersedia untuk kita. Tentu itu benar bahwa Yesus satu-satunya yang hidup tanpa berbuat satupun tindakan ketidak-taatan. AlasanNya untuk hidup sempurna itu, hidup yang berkemenangan dipaparkan dalam Roma 8:3,4:” Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.”

Jangan lewatkan butir bahwa Yesus datang untuk menjatuhkan hukuman atas dosa oleh kehidupan yang sepurna di dalam daging agar supaya “tuntutan hukum” digenapi di dalam kita. Apakah kebenaran itu? Kata Grika “dikaima” digunakan di sini yang artinya “persyaratan benar” dari hukum. Ini hanya dapat berarti bahwa Kristus memenangi kemenanganNya yang sempurna agar supaya membuat kemenangan yang sama tersedia untuk kita. Sudah mengalahkan setan, menunjukkan bahwa dalam daging hukum itu dapat ditaati, Kristus sekarang menawarkan untuk masuk ke dalam hati kita dan membagi kemenangan dengan kita. Hanya oleh kekuatanNya dan kuasa yang berdiam dalam kita persyaratan hukum dapat digenapi oleh seseorang. Paulus berkata, “Segala perkara dapat kutanggung (KJV – dapat kubuat) di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13)

Tidak seorangpun dapat memelihara satu dari Sepuluh Perintah hanya dalam kekuatan manusia, tetapi semuanya dapat dipelihara melalui kekuatan yang memampukan dari Yesus. Dia memperhitungkan kebenaranNya untuk pengampunan dan menanamkan kebenaranNya untuk hidup yang berkemenangan. Kristus datang dalam daging sama seperti daging kita dan bergantung penuh kepada BapaNya dalam menghidupkan kehidupanNya untuk mendemonstrasikan jenis kemenangan yang adalah mungkin untuk setiap jiwa yang juga mau mempergunakan kasih karunia Bapa.

Dihakimi Oleh Hukum
Sekarang, pertanyaan terakhir tentang hukum: Berapa banyak dari Sepuluh Perintah yang seorang langgar agar menjadi bersalah dan berdosa? Yakobus berkata, “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. Sebab Ia yang mengatakan: “Jangan berzinah”, Ia mengatakan juga: “Jangan membunuh”. Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga. Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang” (Yakobus 2:10-12).

Tiap individu akhirnya akan dihakimi oleh aturan moral yang kuat dari Hukum Tuhan. Melanggar satu adalah berdosa. Alkitab menggambarkan bahwa Sepuluh Perintah sama seperti rantai dengan sepuluh kaitan. Jika satu kaitan patah, rantai itu patah. Demikianlah dengan hukum. Mereka yang berdiri di depan pengadilan akan harus menghadapi ujian yang tajam dari Sepuluh Perintah itu. Jika seorang pencuri berusaha masuk ke dalam kerajaan, dia akan ditolak. Inilah sebabnya Paulus mengatakan pencuri-pencuri tidak akan mewarisi kota surgawi itu. selanjutnya Alkitab secara khusus mengumumkan bahwa pendusta, pezinah, penyembah berhala, yang tamak tidak akan berada dalam kerajaan itu. Mengapa? Karena Sepuluh Perintah itu melarang perkara-perkara demikian dan pada akhirnya orang – orang akan dihakimi oleh hukum itu. Tidak seorangpun akan diijinkan masuk ke surga yaitu mereka yang dengan sengaja melanggar satu dari Sepuluh Perintah itu, karena melanggar satu adalah melanggar semua.

Seseorang mungkin keberatan bahwa ini adalah membuat perbuatan menjadi dasar untuk masuk surga. Tidak. Itu sesungguhnya membuat kasih menjadi faktor mutu. Yesus juga berkata. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15). Mereka yang melakukan dosa yang disengaja sebenarnya menyatakan bahwa mereka tidak mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati, jiwa dan pikiran. Jadi kekurangan kasih inilah yang membuat mereka berada di luar – bukan perbuatan ketidak-taatan yang mengekspos kekurangan itu. Hanya bilamana kasih yang memotivasi ketaatan, itulah yang diterima Tuhan. Perbuatan yang lain adalah usaha manusia yang sia-sia untuk mendapat keselamatan dan menyangkal kemanjuran korban pengantaraan Kristus.

Ditebus Untuk Apa?
Suatu gambaran yang dramatis dari doktrin hukum – kasih karunia terlihat dalam kisah pelelangan budak di New Orleans dahulu. Dua pemilik perkebunan menawar seorang budak Negro tua yang terus meneriakkan perlawanannya dari tempat pelelangan. Akhirnya, seorang pemilik perkebunan memenangkan penawaran dan membawa budak itu dalam mobilnya kembali ke perkebunan. Selama perjalanan orang hitam yang menentang itu meneriakkan bahwa dia tidak mau bekerja untuk pemilik yang baru. Ketika mereka tiba di perkebunan tuannya melepas belenggu budak yang baru dibelinya itu lalu berkata: “Sekarang kamu bebas untuk pergi, kamu bukan seorang budak lagi. Saya membeli engkau untuk memberi engkau kebebasanmu.”

Menurut kisah ini, orang tua itu jatuh di kaki pemilik kebun dan berkata, “Tuan, saya akan melayani engkau selamanya.”

Dalam cara yang sama, kita semua dalam perbudakan dosa, dihukum, dan mati. Kristus kemudian membayar harga untuk memastikan kebebasan kita dari perbudakan yang tak berpengharapan. Dengan penuh kasih Dia katakana kepada kita bahwa alasan Dia membuat pengorbanan ialah untuk membebaskan kita. Apakah seharusnya respons kita? Setiap anak Tuhan yang sudah ditebus akan jatuh di kakiNya dan berkata, Tuhan, aku mengasihiMu untuk apa yang Engkau sudah lakukan bagiku. Aku akan melayani Engkau seumur hidupku.”

Pikirkan sejenak. Yesus harus mati karena hukum sudah dilanggar. Dosa menuntut kematian. Jika hukum dapat dibatalkan, hukuman dosa dapat dikesampingkan juga. “tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran” (Roma 4:15). Begitu kuat otoritas dari hukum yang tak dapat diubah yang Tuhan sendiri tidak dapat membatalkannya – tidak juga demi menyelamatkan Anak-Nya sendiri dari kematian.

Kisah lama dari dua bersaudara hampir sempurna mengilustrasikan baik hukum maupun kasih karunia dalam berproses. Saudara yang tua adalah seorang hakim. Adiknya dibawa ke hadapannya sebagai pelanggar hukum. Dari semua bukti sudah jelas bahwa dia bersalah. Pengadilan menjadi tegang. Akankah hakim menyimpangkan keadilan dalam kasus ini? Hakim memandangi saudaranya dan dengan kejam mengumumkan dia bersalah. Kemudian dia membingungkan pengadilan dengan mengesankan menjatuhkan denda maksimum. Tetapi segera dia meninggalkan bangku dan pergi merangkul saudaranya dan berkata “Saya harus melakukan itu karena engkau bersalah. Saya tahu engkau tidak dapat membayar denda itu, tetapi aku akan membayarnya untukmu.”

Maksud kisah ini dramatis dalam pengaruhnya. Saudara itu diampuni, tetapi hukumannya tidak. Itu harus dibayar. Tetapi oleh membayar denda maksimum, hakim bukan saja tidak membatalkan hukum, melainkan membesarkannya. Dia mendemonstrasikan bahwa tuntutan yang mengikat tidak dapat dibatalkan. Di dalam pengertian yang sama Tuhan tidak akan dan tidak dapat meniadakan atau menghapus hukum untuk menyelamatkan Putra-Nya yang kekasih. Ada sesuatu yang harus dibayar untuk meninggikan hukum dan membayar hukuman maksimum. Tidak seorangpun pernah tahu berapa harga Anak Tuhan. Tetapi betapa bersyukur seharusnya kita bahwa kasih-Nya sesempurna keadilan-Nya. Di dalam tubuh-Nya sendiri Dia menanggung hukuman, memenuhi tuntutan hukum, dan membenarkan si pelanggar.

Dapatkah anda melihat bahwa tidak pernah ada demonstrasi yang lebih besar yang sudah dibuat untuk membuktikan permanennya Sepuluh Perintah Tuhan? Di seluruh alam semesta Tuhan tidak dapat memamerkan argumen yang lebih meyakinkan dan yang tak dapat dibantah berkenaan dengan hukum-Nya. Namun, di hadapan pameran yang dahsyat ini, jutaan orang yang miskin dan lemah telah diarahkan mengecilkan pemerintahan Tuhan oleh meremehkan hukum-Nya. Kelihatannya mereka tidak mengerti bahwa hukum hanyalah pantulan dari kekudusan dan kebenaran-Nya. Berbicara mengenai penghapusannya adalah membatasi dan pengkhianatan terhadap pemerintahan ilahi surga.

Periksalah hukum suci sekarang ini untuk suatu penyataan ilahi tentang apa yang Tuhan inginkan tentang kehidupan anda. Akuilah bahwa anda tidak punya kekuatan untuk menghidupkan standar yang sempurna. Kemudian balikkan mata anda kepada Satu-satunya yang sudah memelihara hukum dengan sempurna dan yang merindukan saat ini juga memasuki kehidupan anda dengan kuasa yang memampukan. Dia akan memenuhi kebenaran dari hukum – tuntutan hukum yang benar – di dalam anda, sehingga anda dapat berkata bersama Paulus, “Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20).

Leave a Reply