AS dan Israel Bentrok?

Saudara Tua dan Saudara Muda Bertengkar?

Apakah aneh melihat AS dan Israel berbeda pendapat?  Tentu saja tidak.  Sedangkan dalam satu negara saja bisa terjadi perbedaan pendapat kalau sudah berbicara kepentingan diri.  Sejak minggu lalu Israel menjadi sorotan ketika Departemen Dalam Negeri mengumumkan akan membangun 1600 rumah di Yerusalem Timur, wilayah yang diharapkan oleh Palestina akan dijadikan ibukota negara Palestina.  Kehebohan terjadi karena pengumuman dilakukan justru pada saat Wakil Presiden AS Joseph Biden sedang berkunjung ke Israel untuk mengusahakan dimulainya kembali perundingan damai dengan Palestina.  Bulan Nopember yang lalu PM Israel Benyamin Netanyahu sebenarnya sudah mengatakan bahwa Israel akan menghentikan sementara pembangunan di Tepi Barat tetapi bukan di Yerusalem Timur.  Pengumuman di atas membuat hubungan Israel dengan AS (baca: pemerintahan Obama) menjadi tegang.   Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mencak-mencak dan mengatakan kepada PM Israel Benyamin Netanyahu untuk memperbaiki hubungan itu untuk menunjukkan komitmennya kepada aliansi AS-Israel yang merupakan kunci bagi keamanan Israel dalam wilayah yang rawan tersebut.  Clinton bahkan meminta dilakukannya penyelidikan atas insiden itu dan segera menghentikan pembangunan yang ada.  Dalam kunjungan itu Biden mengutuk pembangunan tersebut sesuatu yang hampir tidak pernah dilakukan oleh AS terhadap Israel.

Netanyahu tidak terima dengan teguran Clinton dan di depan parlemen Israel setelah insiden itu, Netanyahu mengatakan bahwa selama 40 tahun terakhir tidak ada pemerintahan di Israel yang membatasi pembangunan di Yerusalem (baca: lalu mengapa sekarang saya harus menghentikannya, toh dari dulu perundingan selalu on/off?).

Menjadi semakin menarik karena sebelum tiba di Israel, Biden mengatakan bahwa AS akan berada di garis depan jika Israel menghadapi ancaman (terkait dengan rencana nuklir Iran).  Yang perlu ditanyakan adalah siapa sebenarnya yang lebih membutuhkan siapa, dan siapa yang memanfaatkan siapa, dalam urusan dengan Iran.   Israel sangat menyadari dan pintar memainkan kartu truf yang dimilikinya.  Jika sekutu strategis AS ini diserang, sang  ‘saudara tua’ tentu tidak bisa berdiam diri jika tidak ingin komitmennya diragukan oleh sekutunya yang lain (NATO, Jepang, Korsel, Taiwan).  Pada saat yang sama Israel juga siap untuk menjadi bad guy jika Iran harus diserang, kemudian AS akan menggunakan hak vetonya di DK PBB.

Lalu ada apa sebenarnya di balik episode ini?  Tentu saja ada berbagai kemungkinan.  Salah satunya tentu mengirimkan pesan kepada pihak-pihak di Timur Tengah bahwa keberadaan dan keunggulan Israel agar diterima dengan lapang dada, karena sang saudara tua saja dilawan.  Namun alasan yang paling masuk akal adalah bahwa pemerintahan Obama berkepentingan untuk menunjukkan kemajuan dalam perundingan damai di Timur Tengah dalam menghadapi pemilihan anggota DPR dan Senat pada bulan Nopember yang akan datang.

Hal di atas semakin jelas terlihat sekaligus menunjukkan bahwa Israel tidak sendiri.  Abraham Foxman dari Anti-Defamation League (lobby Yahudi di Kongres AS) mengatakan: “we are shocked and stunned at the administration’s tone and public dressing down of Israel. We cannot remember an instance when such harsh language was directed at a friend and ally of the United States.  One can only wonder how far the US is prepared to go in distancing itself from Israel in order to palcate the Palestinians.”  Senator John McCain mengatakan: “If we want the Israeli government to act in a way that would be more in keeping with our objectives…., it doesn’t help them to have public disparagement by the secretary of state.” – Netanyahu defies US over Jerusalem settlementJakarta Post, 17 Maret 2010.

Pemerintahan Obama panik melihat banyak janji semasa kampanye yang justru membedakannya dengan Partai Republik belum terwujud.  Sebut saja pendekatan ke dunia Islam melalui penyelesaian konflik Timur Tengah serta penutupan penjara Guantanamo Bay, penyediaan lapangan kerja yang justru sangat dibutuhkan oleh golongan Afro-American yang sangat mendukung Obama dalam pemilu yang lalu, kesepakatan untuk penurunan emisi karbon dalam rangka mengatasi pemanasan global masih terkatung-katung karena para industrialis di AS masih belum bersedia, dan tentunya program kesehatan (healthcare reform) yang dalam waktu dekat akan ditentukan nasibnya.  Partai Republik sudah pasang ancang-ancang untuk menjatuhkan Partai Demokrat dalam pemilu bulan Nopember yang akan datang jika semua program yang dicanangkan tidak berjalan sesuai janji.  Dengan demikian dapat dimengerti mengapa pemerintahan Obama seperti kebakaran jenggot ketika sang centeng Timur Tengah berlaku kurang sopan pada saat kunjungan sang paman.  Setidak-tidaknya teguran keras AS ke Israel bukanlah karena ingin menyelamatkan proses perundingan Israel-Palestina (yang sudah berkali-kali terjadi dan gagal), tetapi terutama untuk menjaga citra Partai Demokrat di dalam negeri yang harus mempersiapkan diri menghadapi pemilu sela pada bulan Nopember yang akan datang.

Obama – Citra dan Harapan

Banyak harapan digantungkan pada Barack Obama ketika terpilih menjadi presiden AS ke-44.  Ketika masih kampanye dan setelah terpilih, masyarakat Indonesia juga sangat berharap akan terjadi perubahan drastis dalam pendekatan AS terhadap dunia Islam.  Obama juga berharap demikian.  Hal itu ditunjukkannya dengan mengadakan kunjungan ke Mesir (Timur Tengah) tidak sampai setengah tahun setelah menjadi penghuni Gedung Putih.  Obama sangat menyadari adanya sentimen negatif kaum Muslim terhadap sepak terjang dan kebijakan pemerintah AS, khususnya terhadap dunia Islam.  Itulah sebabnya Obama ingin menunjukkan penghargaannya dengan memberikan kesempatan pertama untuk diinterview secara resmi oleh jaringan televisi Al-Arabiya hanya satu minggu setelah dilantik menjadi presiden AS.

Melihat perkembangan selanjutnya, khususnya seperti di Indonesia menjelang kedatangan Obama yang sekarang ditunda sampai bulan Juni yang akan datang karena harus melakukan lobby kepada para anggota Kongres menjelang voting untuk undang-undang kesehatan, barangkali masyarakat Palestina yang paling tepat memberi komentar pada saat terpilihnya Obama.  Mereka mengatakan bahwa mereka tidak terlalu berharap akan terjadinya perbaikan dan akan melihat dulu kenyataannya.  Hal itu tidak terlepas dari pengalaman bangsa Palestina yang sudah sering menerima janji tetapi bukan kenyataan.

Menjelang kedatangan Obama ke Indonesia, banyak muncul protes yang bahkan menghendaki agar Obama tidak usah diterima.  Banyak yang kecewa bahkan mengatakan bahwa Obama lebih kejam dari Bush.  Mereka mengatakan bahwa Georga Bush adalah sesuai kata dan perbuatannya, sementara Barack Obama di depan baik tetapi di belakang tidak.  Buktinya Obama melakukan pengiriman tambahan 30,000 pasukan AS ke Afghanistan.  Obama dicap sebagai silent killer.  Hah, betulkah?  Tentu saja tidak.  Satu hal yang perlu dimengerti adalah bahwa presiden AS bukanlah diktator.  Presiden AS mengambil kebijakan dan bertindak dengan mengikuti rambu-rambu dari sebuah sistem yang sudah mapan.  Seringkali seorang presiden seperti terbelenggu dalam satu sistem yang dikuasai oleh kekuatan besar di belakang layar.  Itulah sebabnya mereka perlu melakukan lobby dan negosiasi.

Ironis memang ketika seseorang begitu disanjung dan dipuji pada saat muncul dengan gaya yang berbeda tetapi dalam waktu yang tidak terlalu lama semuanya berubah.  Dunia di luar AS tentu merasa seperti kurang diperhatikan oleh Obama karena konsentrasinya sangat tersita oleh agenda dalam negeri untuk menggolkan program raksasa kesehatan bernilai 2,5 triliun dolar yang terkatung-katung. Partai Republik sangat berkepentingan menjegal program kesehatan yang akan menguntungkan sekitar 30 juta orang yang cenderung akan bersyukur dan berpihak pada Partai Demokrat pada pemilihan yang akan datang. Tetapi bukan itu saja. Perlu diketahui bahwa sebagian dari dana untuk program kesehatan itu akan disalurkan pada rumah sakit untuk membantu orang yang melakukan aborsi. Ini jelas bertentangan dengan pandangan Partai Republik dan terutama dengan Vatikan. Jangan lupa sebagian besar senator AS adalah beragama Katolik atau pendukung Katolik. Tidak heran kalau program ini terkatung-katung sudah lebih dari satu tahun.

Partai Republik dengan cerdik menguras perhatian Obama sehingga kurang berkonsentrasi dalam politik luar negerinya yang justru menjadi ‘titik kelemahannya’.  Pengiriman Wakil Presiden Joseph Biden yang ahli politik luar negeri ke Timur Tengah ternyata diboikot oleh politikus ultra kanan di Israel yang tidak menghendaki pembicaraan damai mengutak-atik status Yerusalem.  Bagi mereka Yerusalem adalah ibukota abadi sejak zaman Daud.  Susah memang untuk mencari jalan keluar kalau kedua pihak yang bertikai mengacu pada sumber dan sejarah yang berbeda.

Israel yang dipengaruhi oleh agama Yudaisme masih tetap mengacu kepada Perjanjian Lama yang mengatakan tanah yang mereka duduki adalah diberikan oleh Tuhan.  Apalagi yang bisa menggantikan kekuasaan Tuhan.  Lalu apakah kita akan mengatakan kepada mereka bahwa oleh karena pandangannya itu mereka mempunyai banyak musuh?  Sejarah Alkitab mengatakan bahwa bani Israel dulu sudah terbiasa untuk menghadapi banyak musuh di sekelilingnya dan mereka tetap bertahan.  Itu menjadi inspirasi bagi mereka.

Lalu bagaimana dengan Palestina?  Mereka juga menganggap berhak atas tanah Palestina yang sudah mereka tinggali sejak ratusan tahun sebelum ‘kepulangan’ orang Israel dari perantauan.  Jangankan puluhan tahun, beberapa tahun saja anda punya tanah kosong diduduki oleh orang, untuk menyuruhnya pergi akan mengalami kesulitan.  Orang tersebut merasa sudah mempunyai hak untuk tinggal dan perlu negosiasi jika ingin memintanya pergi.  Nah, kalau mau negosiasi dengan wilayah seluas satu negara, bagaimana?  Belum lagi begitu banyak kepentingan yang terlibat di dalamnya.  Tidak baik kalau bersikap pesimis, tetapi jangan juga terlalu optimis jika belum siap untuk kecewa.

Rusia melihat peluang untuk menjembatani jika perundingan yang diprakarsai AS mandek.  Tetapi tidak bisa terlalu berharap.  Dunia Muslim umumnya tidak terlalu percaya dengan Rusia yang dianggap kafir dan tidak beragama.  Dulu negara-negara Arab berharap kepada Uni Soviet karena persenjataan yang diberikan gratis untuk mengimbangi pengaruh AS di Timur Tengah.  Sekarang negara-negara Arab sudah punya uang banyak lebih baik beli dari AS karena para pemimpinnya juga menyimpan uangnya di bank-bank di AS.  Itu sebabnya AS harus selalu menjaga citra bahwa mereka ‘netral’ dan bisa juga memarahi Israel.  Semuanya itu tidak terlepas dari kepentingan AS juga, jadi bukan semata untuk melindungi Israel, tetapi juga melindungi kepentingan AS di kawasan itu.  ‘Pembangkangan’ Israel terhadap AS dengan pembangunan 1600 rumah dianggap dapat merugikan AS yang dinilai tidak dapat mengontrol anak yang nakal ini.  Itu sebabnya Hillary Clinton mengeluarkan pernyataan yang sangat keras sebelum menghadiri perundingan kwartet dari mediator Timur Tengah (Uni Eropa, AS, Rusia dan PBB) di Moskow akhir pekan ini.

Melihat berbagai keadaan yang terjadi baik di Timur Tengah dan di dalam negeri AS sendiri, kita dapat merasakan adanya ganjalan demi ganjalan yang terjadi dalam pemerintahan Presiden Barack Obama dari Partai Demokrat.  Adakah semuanya ini diatur oleh kekuatan di belakang layar?  Lalu kalau demikian, mengapa Obama bisa menang?  Mungkin saja kemenangan Obama untuk memberikan kesempatan bagi umat Tuhan mempersiapkan diri sebelum masa kesusahan karena tekanan agama datang.  Seperti yang sudah menjadi rahasia umum, Partai Republik lebih menekankan kepatuhan terhadap berbagai hal-hal menyangkut keagamaan sementara Partai Demokrat lebih liberal.  Sejarah Alkitab menunjukkan bahwa seringkali rencana Setan yang merugikan umat Tuhan dapat gagal, setidak-tidaknya tertunda jika Tuhan melihat bahwa waktunya belum tiba.  Tetapi hal itu haruslah kita gunakan untuk mempersiapkan diri kita sementara waktu masih ada.

 

-Bonar Panjaitan

Sumber: WAO edisi 19 maret 2010

Leave a Reply