“BAIT SUCI, UJUD KERINDUAN ALLAH-PELAJARAN-PELAJARAN DARI BAIT SUCI”

bait suci bait suci c bait suci

 

 

 

 

 

 

 

(Replika “Bait Suci” atau “Kemah Pertemuan” zaman Musa di Taman Nasional Timna, Israel)

PENDAHULUAN

Pelajaran pokok. Bait Suci adalah gagasan Allah melalui mana Ia hendak mengajarkan suatu pelajaran paling penting kepada manusia, yaitu tentang rencana keselamatan melalui Yesus Kristus sebagai “kurban pengganti” manusia berdosa. Sementara Bait Suci menjadi semacam ruang kelas, upacara persembahan kurban binatang adalah alat peraga untuk mengajarkan pelajaran pokok perihal penebusan dosa.

Berdasarkan rincian dalam kitab Keluaran pasal 27 bahwa Bait Suci yang dibangun Musa menurut contoh yang dilihatnya di atas gunung itu memiliki dimensi panjang x lebar x tinggi adalah 30x10x10 hasta (1 hasta=1,5 kaki, atau 18 inci, atau 45.7 cm), yaitu setara dengan 45x15x15 kaki atau 13.70×4.57×4.57 meter. Bangunan Bait Suci itu terbagi atas dua ruangan yang dipisahkan dengan tirai, masing-masing disebut “bilik yang suci” dengan luas 20×10 hasta, yaitu 30×15 kaki atau 9.14×4.57 meter, dan “bilik yang maha suci” dengan luas 10×10 hasta, yaitu 15×15 kaki atau 4.57×4.57 meter. Bait Suci tersebut didirikan dalam sebuah lahan sebagai halaman yang luasnya 100×50 hasta, yaitu setara dengan 150×75 kaki atau 45.72×22.86 meter. Untuk memperoleh gambaran secara fisik dapat dilihat pada gambar di bawah ini, atau mengikuti penjelasan audio-visual pada tautan ini—> http://www.youtube.com/watch?v=XAJT6wWG-x0.

(repro: templebuildersministry)

“Bait Suci adalah salah satu dari alat utama Allah untuk mengajarkan kepada kita arti dari injil…Pelajaran pekan ini terfokus pada sebagian dari wawasan pokok yang diberikan oleh Bait Suci di bumi” [alinea pertama, kalimat pertama; alinea terakhir, kalimat pertama].

Meskipun Bait Suci yang Allah perintahkan untuk dibangun itu kerap juga disebut Kemah Pertemuan, namun itu harus dibedakan dari tenda yang Musa dirikan atas inisiatif sendiri dan ditempatkan di luar perkemahan dengan maksud untuk beraudiensi dengan Allah (Kel. 33:7-9). Allah tidak keberatan dengan gagasan Musa untuk menyediakan “Kemah Pertemuan” darurat sebelum Bait Suci model surgawi itu dibangun, bahkan Allah berkenan memperlihatkan hadirat-Nya melalui fenomena tiang awan yang berhenti di pintu kemah tersebut setiap kali Musa masuk ke dalamnya. Tampaknya pembuatan Bait Suci rancangan Allah seperti yang ditunjukkan kepada Musa di atas gunung itu telah mengalami keterlambatan, antara lain karena kemurtadan bangsa Israel yang telah memaksa Harun untuk membuat patung anak lembu emas (Kel. 32:22-24).

Minggu, 20 Oktober
ALLAH DI TENGAH MANUSIA (Tempat Kehadiran)

Hubungan yang tak pernah putus. Setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa dengan melanggar perintah Allah oleh memakan buah terlarang itu, Setan menyangka bahwa hubungan Allah dengan manusia ciptaan-Nya akan terputus untuk selamanya. Terbuang dan kehilangan kekuasaannya di surga, Iblis berharap dapat membangun kerajaannya yang baru di bumi ini dengan manusia sebagai warganya, tetapi dia keliru. Allah tidak pernah akan meninggalkan umat-Nya, dan Taman Eden dari mana manusia itu terusir keluar ternyata bukanlah satu-satunya tempat di mana Allah bisa berada dekat dengan manusia.

Allah memberi instruksi kepada Musa, “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka” (Kel. 25:8; huruf miring ditambahkan). Kata Ibrani “diam” dalam ayat ini adalah שָׁכַן, shakan, yang artinya “tinggal” atau “bersemayam” (Strong, H7931). Sebagai pembanding, menurut situs Biblos.com, bagian kalimat yang berbunyi “supaya Aku akan diam” dalam ayat ini berasal dari satu kata Ibrani, וְשָׁכַנְתִּי, wəšāḵantî; sedangkan menurut Wikipedia bagian ini dalam Alkitab Ibrani adalah משכן‎, mishkan (artinya “tempat tinggal”) yang merujuk kepada tempat kediaman Allah di bumi pada waktu itu. Dalam bahasa Inggris terdapat dua kata serapan yang diterjemahkan secara transliteral dari bahasa Latin untuk menyebut “gereja” sebagai rumah Tuhan, yaitu “tabernacle” (dari kata tabernāculum, arti harfiah: pondok tempat tinggal), dan “sanctuary” (dari kata sānctuārium, arti harfiah: tempat yang suci). Dua kata ini mulai diperkenalkan pada abad ke-13 dan ke-14 dalam Bahasa Inggris Pertengahan (Middle English).

“Dengan demikian Bait Suci membuktikan kerinduan Allah yang tidak putus-putusnya untuk tinggal di antara umat-Nya. Hal ini merupakan gagasan Allah (Mzm. 132:13-14). Tujuan utama-Nya adalah hubungan, dan Bait Suci adalah sarana pilihan-Nya untuk melaksanakan itu. Bait Suci merupakan wujud nyata dari hadirat Allah bersama umat-Nya di bumi” [alinea kedua].

Allah sebagai pusat. Sesudah Bait Suci atau Kemah Pertemuan itu berdiri dan siap digunakan, Tuhan berfirman kepada Musa dan Harun, kakak-beradik yang memimpin umat-Nya: “Orang Israel harus berkemah masing-masing dekat panji-panjinya, menurut lambang suku-sukunya. Mereka harus berkemah di sekeliling Kemah Pertemuan, agak jauh dari padanya” (Bil. 2:2). Selanjutnya di ayat-ayat berikut kita membaca nama-nama suku Israel beserta jumlah pasukannya yang diatur menurut posisi masing-masing bilamana mereka berhenti dan berkemah mengelilingi Bait Suci itu. Selama 40 tahun perjalanan pengembaraan bangsa Israel di gurun Arabia itu tercatat 16 kali mereka berhenti dan berkemah untuk beberapa waktu, setiap kali perhentian dan keberangkatan itu atas instruksi Allah sendiri.

Kita menemukan dua hal pokok dari perintah Allah sebagaimana bunyi ayat tersebut di atas: (1) pengorganisasian, dan (2) pemusatan perhatian. Setelah kurang-lebih satu tahun umat Israel menjelajah gurun Arabia dalam perjalanan dari tanah perhambaan Mesir menuju ke tanah perjanjian Kanaan, sekarang mereka harus menata diri. Kehadiran Bait Suci yang melambangkan hadirat Allah di tengah bangsa itu berdampak kepada cara mereka mengatur pasukan, dan lebih penting lagi ialah memusatkan perhatian mereka kepada hadirat Allah. Penempatan Bait Suci tepat di tengah-tengah perkemahan dimaksudkan supaya perhatian umat itu terfokus kepada Allah yang sedang menuntun mereka. Allah adalah pusat dari perjalanan hidup mereka.

“Tujuan lain dari Bait Suci adalah untuk menyediakan satu tempat bagi sebuah sistem peribadatan yang terpusat dan ditahbiskan secara ilahi. Karena kehadiran Allah di tengah umat itu telah menjadi berbahaya oleh kenajisan dan kebejatan moral mereka, Ia menyediakan suatu sistem kurban dan persembahan melalui mana orang banyak yang cemar itu bisa hidup dan tetap di dalam hadirat Allah yang suci” [alinea kelima].

Apa yang kita pelajari tentang hadirat Allah di tengah manusia?
1. Dosa mengakibatkan keterpisahan manusia dari Allah, tetapi dosa tidak dapat menghalangi kerinduan Allah untuk tetap dekat dengan manusia. Kasih Allah lebih besar daripada dosa manusia. Bait Suci adalah sarana yang dipilih Allah untuk mempertahankan hubungan-Nya dengan manusia.
2. Bait Suci bukan saja manifestasi dari kerinduan Allah untuk berada di antara manusia, tetapi juga sebagai sarana interaksi vertikal antara Allah dengan umat-Nya melalui upacara-upacara kurban, dan sarana interaksi horisontal antara sesama umat yang datang untuk mempersembahkan kurban bakaran.
3. Pengaturan ilahi bahwa Bait Suci harus berada tepat di tengah-tengah perkemahan bangsa itu adalah untuk menegaskan posisi Allah sebagai pusat dari kehidupan manusia. Selain itu, kedudukan Bait Suci harus menjadi lambang persatuan umat yang beraneka suku dan kaum itu. Apakah gereja anda sudah menjadi tempat yang mempersatukan seluruh jemaat, atau sebaliknya?

Senin, 21 Oktober
DIKHUSUSKAN BAGI ALLAH (“Kuduslah Kamu”)

Peruntukkan yang khas. Alkitab versi Bahasa Indonesia Masa Kini menerjemahkan Keluaran 40:9-10 seperti berikut: “Kemudian Kemah dan segala perlengkapannya harus kaupersembahkan kepada-Ku dengan cara meminyakinya dengan minyak upacara, maka semua itu dikhususkan untuk Aku. Persembahkanlah mezbah dan segala perlengkapannya dengan cara itu, supaya seluruhnya dikhususkan untuk Aku” (BIMK; huruf miring ditambahkan). Perhatikan kata-kata “menguduskannya” (Ibrani: qadash) dan “kudus” (Ibrani: qodesh) pada ayat yang sama menurut versi TB, dalam versi BIMK ini telah digantikan dengan “dikhususkan untuk Aku” (“Aku” di sini merujuk kepada Allah).

Apa artinya “kudus”? Ada semacam salah kaprah dari kebanyakan kita yang menganggap kudus atau suci itu sebagai suatu keadaan yang bebas dari kecemaran maupun kenajisan, dan sesuatu yang suci tidak boleh dijamah. Tetapi kekudusan itu bukan soal keadaan, tapi peruntukkan. Kudus berarti milik Allah atau diperuntukkan bagi kepentingan-Nya secara utuh dan sempurna. “Keluaran 40:9-10 menunjukkan kepada kita bahwa Bait Suci harus dianggap ‘kudus.’ Pengertian dasar dari kekudusan adalah keterpisahan dan keunikan yang dipadukan dengan kepemilikan Allah” [alinea pertama].

Pena inspirasi menulis: “Kekudusan sejati adalah keutuhan dalam pelayanan Tuhan. Inilah keadaan dari kehidupan Kristen sejati. Kristus meminta dari kita suatu pengabdian tanpa pamrih, pelayanan yang tidak terbagi. Ia menuntut hati, pikiran, jiwa, kekuatan. Diri sendiri bukan untuk dihargai. Orang yang hidup untuk dirinya sendiri dia bukan orang Kristen” (Ellen G. White, Christ’s Object Lessons, hlm. 48, 49).

Mengapa harus kudus. Allah berkata, “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus” (Im. 19:2). Mengutip perkataan Tuhan ini, rasul Petrus menasihati jemaat, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1Ptr. 1:14-16). Perhatikan bagaimana sang rasul mengaitkan kekudusan itu dengan kepolosan kanak-kanak dalam hal ketaatan, dan tidak mengikuti hawa nafsu diri sendiri seperti ketika kita masih dalam “kebodohan” karena dosa.

Menjadi kudus tidak bisa hanya sebagian, tetapi harus keseluruhan. Anda dan saya tidak dapat menjadi kudus untuk sesekali saja, semisal hanya pada hari Sabat tapi tidak pada hari-hari lain sepanjang minggu. Demikian juga, kita tidak mungkin hanya menjadi kudus dalam hal-hal tertentu saja namun tidak untuk hal-hal yang lainnya. Kalau hati dan pikiran kita sudah menjadi kudus, selanjutnya kekudusan akan mengalir dari kehidupan kita. Berkata rasul Paulus, “Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus” (Rm. 11:16).

“Jelaslah, Allah ingin kita bertumbuh dalam kekudusan sementara kita semakin dekat kepada-Nya. Perubahan ini dapat terjadi hanya melalui suatu penyerahan diri dari sifat-sifat kita yang berdosa, dan melalui kerelaan untuk melakukan apa yang benar apa pun akibatnya” [alinea terakhir: dua kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang perintah untuk menjadi kudus?
1. Kudus artinya dipisahkan dan dikhususkan bagi Tuhan. Menjadikan sesuatu “kudus” berarti mengkhususkan peruntukkan atau penggunaannya untuk hal-hal yang berkaitan dengan maksud dan kepentingan Tuhan saja. Manusia tidak boleh membonceng kepentingan mereka atas apa saja yang dikhususkan bagi Tuhan.
2. Allah menuntut umat-Nya agar menjadi kudus seperti Diri-Nya adalah kudus. Kekudusan itu bersifat totalitas, kita tidak bisa menjadi kudus secara sebagian atau kadang-kadang. Kecemaran sedikit saja akan membatalkan keseluruhan kekudusan itu.
3. Kekudusan bukan sebuah pilihan tetapi keharusan, sebuah perintah. Menjadi kudus, atau suci, berarti mengambil bagian dalam sifat Allah. Jika kita ingin menjadi anak-anak Allah maka kita harus memelihara kekudusan diri kita supaya layak untuk menyandang predikat sebagai anak-anak Allah.

Selasa, 22 Oktober
ARTI SEMUA ITU (Peralatan Bait Suci)

Kekristenan dilambangkan. Seperti digambarkan pada ilustrasi di bagian pendahuluan pelajaran ini, dan sesuai dengan daftar rincian barang-barang perlengkapan seperti disebutkan dalam Keluaran 31:7-9, Bait Suci dilengkapi dengan tujuh perkakas utama. Berturut-turut adalah mezbah kurban bakaran dan bejana pembasuhan yang ditempatkan di halaman depan, meja untuk roti sajian atau roti pertunjukkan beserta kandil atau kaki dian (menorah) serta mezbah tempat membakar dupa atau ukupan yang ketiganya ditaruh di bilik yang suci, dan peti perjanjian yang berisi sepuluh hukum beserta tutup pendamaian (shekinah) yang diletakkan di dalam bilik yang maha suci. Lihat diagram berikut ini:

Dalam perspektif Kristen, susunan perlengkapan dalam Bait Suci ini menggambarkan perjalanan rohani seorang anak Tuhan. Masuk melalui pintu gerbang Bait Suci adalah langkah awal kehidupan Kekristenan, mezbah kurban bakaran menandakan pertobatan dan pengakuan dosa serta menerima Yesus Kristus selaku kurban pengganti, bejana pembasuhan ialah baptisan. Pengalaman selanjutnya adalah menikmati roti sajian yang melambangkan Yesus sebagai roti hidup, diterangi oleh cahaya kaki dian yang menandakan Yesus sebagai terang dunia, pembakaran dupa di mezbah pembakaran ukupan adalah kehidupan doa yang tidak berkeputusan, dan pada akhirnya mencapai peti perjanjian berisi Sepuluh Hukum yang melambangkan kehidupan dalam penurutan akan hukum Allah dan mengalami hidup dalam kedamaian dengan Allah seperti dilambangkan oleh tutup pendamaian itu. Sesungguhnya, susunan peralatan Bait Suci itu bisa menginspirasikan Salib Kristus, seperti ini:

“Dari semua benda-benda dalam Bait Suci, tabut perjanjian adalah lambang tertinggi dari hadirat dan kekudusan Allah. Nama itu diambil dari dua loh batu hukum itu, yang disebut ‘assyahadat’ (Kel. 32:15-16, TL), yang diletakkan di dalam tabut (Kel. 25:16, 21)…Di atas tabut ditempatkan ‘tutup pendamaian’ dengan dua kerub menudungi tutup itu dengan sayap-sayap mereka (Kel. 25:17-21)” [alinea pertama, dan alinea kedua kalimat pertama].

Bait Suci dalam sejarah. Bait Suci Musa mulai digunakan tidak lama setelah bangunan itu rampung (Kel. 40:33), dan berfungsi selama 494 tahun (1444-953 SM), yaitu selama 39 tahun sisa pengembaraan Israel di padang gurun sampai mereka bermukim di tanah perjanjian. Setelah menyeberangi sungai Yordan bangsa Israel memasuki tanah Kanaan lalu berkemah di Gilgal (Yos. 4:19; 5:10), dan Bait Suci itu berada di sana selama 14 tahun sementara bangsa Israel berperang menaklukkan bangsa-bangsa kafir itu untuk menguasai negeri mereka. Sesudah itu mereka pindah ke Silo (Yos. 18:1; 19:51) di mana Bait Suci mengalami renovasi dengan memasangi dinding batu menggantikan rangka kayu dan menjadi pusat peribadatan selama 306 tahun. Di Bait Suci itulah Samuel kecil melayani di bawah imam Eli ketika pada suatu tengah malam dia mendengar namanya dipanggil oleh Tuhan (1Sam. 2:18; 3:1-11). Pemerintahan raja Saul yang murtad menyebabkan Tuhan mengijinkan bangsa Filistin menghancurkan kota Silo, atau dalam kata-kata pemazmur “Ia membuang kediaman-Nya di Silo” (Mzm. 78:60). Bagian-bagian dari Bait Suci yang bisa diselamatkan kemudian dipindahkan ke kota Nob dan berada di sana selama 76 tahun. Di Bait Suci itulah Daud dalam pelariannya mampir mencari makanan dan imam Ahimelekh memberinya roti kudus (1Sam. 21:1-6). Raja Saul yang naik pitam mendengar buruannya telah ditolong lalu membantai seluruh penduduk kota Nob (1Sam. 22:17, 19), dan menyusul tragedi itu Bait Suci pun dipindahkan ke Gibeon dan berada di situ selama 59 tahun hingga Bait Suci yang dibangun Salomo selesai dalam tahun 953 SM.

Setelah Daud naik takhta menggantikan Saul, dia mendirikan sebuah “Bait Suci” di Sion, atau disebut juga “Kota Daud” yang masih termasuk wilayah kota Yerusalem, lalu memindahkan tabut perjanjian berisi Sepuluh Hukum ke tempat itu (2Sam. 6:17). Bait Suci yang dibangun oleh Daud ini tidak memiliki perlengkapan utama lainnya seperti mezbah untuk persembahan kurban, tetapi pada saat peresmiannya Daud mengadakan upacara besar dengan mengadakan upacara persembahan kurban bakaran yang dimeriahkan oleh paduan suara yang menyanyikan kidung-kidung rohani atas arahannya (1Taw. 16:1-7). Mezbah buatan Musa yang digunakan untuk persembahan kurban bakaran masih berada di Bait Suci di Gibeon yang diawasi oleh imam besar Zadok (1Taw. 16:39-40). Di tempat yang dijuluki “Bukit Pengorbanan” ini pulalah Salomo ketika diangkat menjadi raja menggantikan Daud, ayahnya, telah mempersembahkan seribu kurban bakaran (1Raj. 3:2-4).

Raja Salomo, atas rencana dan perkenan Allah (2Sam. 7:13), kemudian mendirikan Bait Suci permanen yang sangat indah dan mewah dengan bahan-bahan yang telah dipersiapkan oleh Daud dan dilaksanakan atas kerjasama dengan raja Hiram dari Tirus (1Raj. 5:2-6). Setelah pembangunan Bait Suci yang kemudian dikenal sebagai Kaabah Salomo itu rampung, tabut perjanjian yang semula disimpan di kemah Daud dipindahkan ke Bait Suci yang baru ini dan ditempatkan dalam ruangan maha kudus (1Raj. 8:1-10). Belakangan, akibat pendurhakaan bangsa Israel, Allah membiarkan Bait Suci yang termegah dalam sejarah Israel itu dihancurkan oleh tentara Nebukadnezar dari Babel dalam tahun 586 SM. Bait Suci ini kemudian dibangun kembali oleh Zerubabel pada tahun 515 SM bersamaan dengan pemulangan tawanan gelombang pertama dari Babel atas dekrit Koresh, raja Persia (Ezr. 1:2; 2:2). Tatkala raja Anthiokus Epifanes (215-164 SM) dari Yunani menyerbu Yerusalem pada tahun 167 SM, Bait Suci ini telah dirusakkan bahkan dicemarkan dengan menaruh seekor babi di atas mezbah kurban bakaran. Pada tahun 30 SM bangunannya direnovasi oleh raja Herodes I (74-4 SM; berkuasa 37-4 SM) demi mencari dukungan politik dari orang Yahudi, itulah sebabnya Bait Suci ini kerap disebut “Kaabah Herodes.”

Apa yang kita pelajari tentang peralatan dalam Bait Suci?
1. Peralatan dalam Bait Suci dirancang dan dibuat dengan sangat cermat berdasarkan petunjuk Tuhan. Selain memiliki tujuan fungsional, benda-benda itu juga melambangkan makna-makna tertentu. Dalam pembuatan Bait Suci dan peralatannya kita melihat keteraturan yang mencerminkan ciri-ciri sifat Allah.
2. Bait Suci, perabot-perabot pelengkap, dan upacara-upacara yang berlangsung di dalamnya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Semua itu diatur oleh Allah sendiri, dan imam-imam sebagai pelaksana upacara dan pengurus Bait Suci itu melambangkan partisipasi unsur manusiawi dalam pekerjaan Tuhan sepanjang zaman.
3. Sepanjang hikayatnya Bait Suci telah berkali-kali pindah lokasi sesuai dengan tuntutan keadaan, bahkan juga mengalami berbagai perlakuan buruk dari manusia, tetapi Allah tidak pernah berhenti untuk berada di antara umat-Nya. Sesudah Yesus mati di salib dan upacara di Bait Suci tidak diperlukan lagi, Allah yang terus ingin tinggal dengan manusia memilih untuk berdiam dalam diri kita sebagai Bait Suci yang hidup.

Rabu, 23 Oktober
“RUMAH DOA BAGI SEGALA BANGSA” (Pusat Kegiatan Ilahi dan Umat)

Bait Suci sebagai rujukan hidup. Bait Suci bangsa Israel purba telah menjadi obyek kajian yang menarik bagi banyak peneliti Kristen moderen, antara lain oleh sekelompok mahasiswa teologia dari Jerman yang menunjukkan perhatian mereka yang tinggi sehingga sudah membangun sebuah replika Bait Suci zaman Musa berdasarkan informasi terinci dari kitab Keluaran. “Bait Suci” yang dirancang sesuai dengan penafsiran Alkitab Perjanjian Lama itu mereka bangun di sebuah tempat di Taman Nasional Timna, tak jauh dari kota Eliat, di bagian selatan Israel. Meskipun tidak menggunakan bahan yang sama persis dengan Bait Suci Musa–tidak memakai kayu jenis akasia yang dilindungi UU pelestarian alam Israel, dan tentu saja tidak menggunakan emas dan batu permata asli–namun dari sudut arsitektur dan dimensi replika itu membuka wawasan kita terhadap keadaan Bait Suci yang asli. (Untuk melihat gambar-gambarnya silakan klik di sini–> http://www.ourdailybreadmissions.org/tabernacle_model2.htm.)

Sebuah sebutan mengatakan, “Jangan mengagamakan tradisi, sebaiknya mentradisikan agama.” Tetapi dalam kehidupan umat Israel purba agama adalah tradisi, dan tradisi adalah agama. Konstitusi mereka adalah Bait Suci, undang-undang mereka adalah Hukum Musa atau Torah. Setiap aspek dalam kehidupan mereka merujuk kepada Bait Suci, dan sistem pemerintahan mereka adalah teokrasi absolut. Ketika raja Salomo mengadakan upacara penahbisan Bait Suci yang dibangunnya, yang secara tradisional disebut sebagai “Kaabah Kedua,” dia berkata: “Tuhan telah menetapkan matahari di langit, tetapi Ia memutuskan untuk diam dalam kekelaman. Sekarang, aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap selama-lamanya” (1Raj. 8:12-13). Selanjutnya dalam doanya dia memohon, “Apabila umat-Mu berdosa kepada-Mu…lalu mereka bertobat dari dosa mereka dan menghormati Engkau sebagai Tuhan, kemudian menghadap ke rumah ibadat ini serta berdoa kepada-Mu, kiranya dari surga Engkau mendengarkan mereka. Dan ampunilah dosa umat-Mu Israel dan raja mereka” (ay. 35-36, BIMK).

“Pada upacara penahbisan Bait Suci yang baru didirikan, Raja Salomo menyampaikan tujuh hal khusus yang dapat didoakan di Bait Suci…Bahwa Bait Suci dimaksudkan untuk menjadi ‘rumah doa bagi segala bangsa’ (Yes. 56:7) menjadi nyata dari fakta bahwa Salomo membayangkan orang Israel sebagai pribadi, orang asing, dan seluruh bangsa sebagai pemohon doa” [alinea pertama: kalimat pertama; alinea kedua].

“Bait Suci” masa kini. Bait Suci adalah segalanya bagi umat Israel purba. Bahkan, bangsa Israel moderen percaya dan masih berharap akan berdirinya “Kaabah Ketiga” seperti yang dinubuatkan dalam kitab Yehezkiel pasal 40-47. Para rabi Israel moderen yakin bahwa peralatan Bait Suci yang asli masih tersimpan dalam ruang bawah tanah “Temple Mount” (sekarang ini di atasnya berdiri tempat suci kaum muslim, “Dome of the Rock”) yang berada di kawasan kota tua Yerusalem di mana bait itu kelak akan didirikan oleh Allah. Tapi terlepas dari keyakinan dan doktrin tersebut, Bait Suci memang adalah bagian yang tak terpisahkan dari riwayat kehidupan bangsa Israel sejak mereka keluar dari Mesir, dalam pengembaraan di gurun Arabia, hingga mereka mewarisi tanah perjanjian Kanaan. Kemurtadan membuat mereka kehilangan Bait Suci yang selama ini telah menjadi ujud kehadiran Allah di tengah mereka.

Kematian Yesus di kayu salib menggenapi dan membatalkan semua upacara persembahan kurban di Bait Suci, tetapi tidak membatalkan janji Allah untuk tetap tinggal di tengah umat-Nya. Dahulu hadirat Allah berujud sebuah Bait Suci yang terbuat dari benda-benda tak bernyawa, dalam diri Kristus “Bait Suci” itu menemukan bentuknya yang bernyawa dan hidup (Yoh. 2:19-21). Sekarang, hampir 2000 tahun setelah kenaikan Yesus ke surga, “Bait Suci” itu tersebar ke dalam jutaan orang yang menerima Kristus di hatinya. “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor. 3:16). Setiap keluarga di mana terdapat orang-orang yang di dalam hatinya Roh Allah tinggal adalah “Bati Suci” dan dapat berfungsi sebagai “rumah doa” di mana puji syukur setiap hari dipanjatkan ke hadirat Allah di surga.

Pena inspirasi menulis: “Kalau ada waktu di mana setiap rumah harus menjadi rumah doa, sekaranglah waktunya…Dari setiap rumahtangga Kristen suatu terang suci harus terpancar keluar. Kasih harus dinyatakan dalam perbuatan. Kasih itu harus mengalir keluar dalam semua hubungan keluarga, menampilkan dirinya dalam kebaikan hati yang bijak, dalam keramahtamahan yang lembut dan tidak mementingkan diri. Ada rumahtangga-rumahtangga di mana prinsip ini dipelihara, rumahtangga-rumahtangga di mana Allah disembah dan kasih paling sejati memerintah. Dari rumahtangga-rumahtangga ini doa pagi dan petang dipanjatkan kepada Allah bagaikan dupa yang harum, dan rahmat serta anugerah-Nya turun ke atas pemohon-pemohon itu seperti embun pagi” (Ellen G. White, Christian Education, hlm. 221-222).

Apa yang kita pelajari tentang Bait Suci sebagai pusat kegiatan bersifat keilahian?
1. Kehidupan bangsa Israel purba tidak dapat dipisahkan dari Bait Suci di mana kegiatan keilahian berlangsung sehari-hari. Itulah sebabnya pada upacara penahbisan Bait Suci kedua, yang disebut Kaabah Salomo, raja Salomo kembali memperbarui komitmen untuk menjadikan Bait Suci sebagai pusat kehidupan bangsa Israel.
2. Gereja sebagai bangunan dapat menggantikan “Bait Suci” di mana berbagai kegiatan keilahian dan aktivitas sebagai jemaat dipusatkan, meskipun tidak tiap hari. Pertanyaannya: Seberapa besar kerinduan kita untuk hadir pada setiap ibadah di gereja, dan apakah motivasi kita pergi ke gereja adalah untuk berbakti tanpa maksud lain?
3. Bagi umat Kristen, gereja bukanlah satu-satunya tempat untuk berdoa karena kita dapat melayangkan doa di mana saja. Rumah yang kita huni dapat menjadi “rumah doa” apabila kita membiasakan untuk mengadakan mezbah keluarga, pagi dan petang.

Kamis, 24 Oktober
MERINDUKAN HADIRAT ALLAH (“Sampai Aku Masuk ke Dalam Tempat Kudus Allah”)

Kegemaran akan Bait Suci. Seperti telah kita pelajari sebelumnya, Daud sangat rindu bahkan gemar akan Bait Suci. Dialah yang sudah mendirikan Bait Suci sementara sebagai sebuah tempat yang layak untuk menyimpan tabut perjanjian lambang hadirat Allah, dan adalah atas ide serta usahanya pula untuk membangun sebuah Bait Suci permanen dan megah yang pelaksanaannya diserahkan kepada Salomo, putranya. Tampaknya Daud memiliki pengalaman batin yang mendalam dengan Bait Suci, sehingga dia “akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa” (Mzm. 23:6). Bagi Daud, Bait Suci adalah tempat perlindungan dan jaminan pengharapannya. “Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya. Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu” (Mzm. 27:4-5).

“Kegiatan-kegiatan Allah di Bait Suci melukiskan beberapa hal penting: Ia memelihara keamanan orang yang beribadah dan menyembunyikan dia di dalam Bait Suci-Nya, sekalipun pada masa-masa yang sulit (Mzm. 27:5). Allah menyediakan perlindungan yang aman dan menjamin ketenangan pikiran bagi semua yang datang ke hadirat-Nya. Ungkapan-ungkapan ini menghubungkan keindahan Allah dengan apa yang Ia lakukan bagi umat-Nya. Selain itu, upacara Bait Suci dengan makna simboliknya menunjukkan kebaikan dan keadilan Allah” [alinea kedua].

Pena inspirasi menulis: “Sementara Daud mengambil janji-janji dan kesempatan-kesempatan istimewa ini bagi dirinya, dia memutuskan bahwa dia tidak ingin lagi tergesa-gesa dalam menilai, menjadi kecewa, dan melemparkan diri dalam keputusasaan yang tak berdaya. Jiwanya dikuatkan sementara dia merenungkan sifat Allah pada umumnya sebagaimana ditunjukkan dalam pengajaran-Nya, kesabaran-Nya, keagungan dan rahmat-Nya yang tiada bandingannya, dan dia melihat bahwa pekerjaan dan perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib tidak mengandung penerapan yang terbatas” (Ellen G. White, SDA Bible Commentary, jld. 3, hlm. 1149).

Pencerahan dari Bait Suci. Judul pelajaran hari ini adalah petikan dari doa Asaf, penyair dan penyanyi yang juga menjadi pemimpin biduan Bait Suci pada zaman raja Daud (1Taw. 15:19; 16:5, 7), mengutarakan kegelisahan dan kebingungannya melihat kontradiksi antara keadilan Allah dengan kemakmuran orang jahat. Dalam kegundahannya pemazmur itu bertutur, “‘Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?’ Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya! Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku tanda tak bersalah…Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka” (Mzm. 73:11-13, 16-17; huruf miring ditambahkan).

Bukankah pergumulan batin Asaf adalah juga pergumulan batin kita semua, manakala kita menyaksikan tingkah laku orang-orang pada zaman ini yang secara terang-terangan dan tanpa malu-malu lagi berusaha memperkaya diri dengan menghalalkan segala cara, sementara kita yang berusaha untuk memelihara kejujuran dan menjaga moralitas semakin terpuruk dalam kemiskinan, seolah-olah Tuhan menutup mata-Nya? Namun pernyataan Asaf di atas adalah kesaksian pribadi yang bisa menguatkan kita, bahwa dia kesulitan untuk memahami semua itu, sampai dia masuk ke dalam Bait Suci di mana Tuhan membuat dia mengerti. Bait Suci adalah sumber pencerahan!

“Bagi mereka yang mencari Allah, tempat kudus menjadi suatu tempat yang meyakinkan, sebuah benteng kehidupan di mana Allah akan menempatkan mereka ‘ke atas gunung batu’ (Mzm. 27:5). Dari kebenaran yang diajarkan oleh upacara di Bait Suci sesungguhnya kita dapat belajar untuk percaya pada kebaikan dan keadilan Allah” [alinea terakhir: dua kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang pembelajaran dari Bait Suci?
1. Bait Suci identik dengan hadirat Allah. Tapi ketika Daud bertutur tentang kerinduannya akan Bait Suci dia bukan berbicara mengenai sebuah bangunan atau tempat suci, melainkan perihal hadirat Allah secara pribadi. Bagi seorang yang percaya seperti Daud, Allah adalah tempat perlindungan dan jaminan keselamatan.
2. Demikian pula halnya dengan Asaf yang berbicara tentang pencerahan serta hikmat yang diperolehnya untuk dapat memahami misteri kehidupan manusia, pengertian itu bukan dari bangunan Bait Suci melainkan dari hadirat Allah. Bait Suci, seperti juga Gereja, bukan bangunannya tetapi Allah yang ada di dalamnya.
3. Gereja sebagai bangunan fisik adalah benda mati yang tidak dapat menjelaskan apa-apa mengenai rahasia kehidupan dan pergumulan hidup, tetapi peribadatan yang diadakan di dalamnya di hadapan hadirat Allah dapat memberi pencerahan serta hikmat yang kita perlukan agar tetap teguh dalam iman.

Jumat, 25 Oktober
PENUTUP

Bait Suci dan roh pengorbanan. Alkisah, ada sebuah jemaat sedang mengadakan acara penggalangan dana renovasi gereja yang dilakukan secara terbuka. Satu demi satu para anggota jemaat mengacungkan tangan sambil menyebut jumlah sumbangannya, lalu sekretaris jemaat menuliskan nama penyumbang dan nilai sumbangannya di papan tulis dan bendahara jemaat mencatat hal yang sama pada buku catatan di tangannya. Setelah hampir semua anggota sudah menyumbang, hadirin masih menunggu acungan tangan seorang anggota jemaat yang merupakan salah satu pengusaha terkaya di kota itu. Dalam keheningan itu tiba-tiba sepenggal eternit jatuh dari langit-langit gereja yang sudah lapuk dan menimpa kepalanya, seketika itu juga orang kaya ini mengunjuk tangannya dan menyebutkan satu jumlah. Selang beberapa menit kemudian sepenggal eternit yang lebih besar lagi jatuh ke bahunya, segera dia mengacungkan tangan lagi dan menyebut jumlah yang lebih besar. Pemimpin diakon yang kebetulan memperhatikan kejadian itu tidak tahan untuk berseloroh, dengan suara agak nyaring: “Tuhan, jatuhkan eternit yang lebih besar lagi!”

Sebagaimana persembahan kurban adalah upacara utama di Bait Suci, demikian pula pembangunan Bait Suci harus mengutamakan persembahan yang bersifat pengorbanan. Dalam memberi untuk pekerjaan Tuhan tentu saja kuantitas (jumlah) itu penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah kualitas (roh yang mendorong seseorang untuk memberi). Allah mengasihi orang yang memberi dengan kerelaan hati dan sukacita, bukan dengan kesedihan karena terpaksa (2Kor. 9:7).

“Untuk pembangunan Bait Suci diperlukan persiapan-persiapan yang besar dan mahal; sejumlah besar bahan-bahan yang sangat berharga dan mahal dibutuhkan; namun Tuhan hanya menerima persembahan-persembahan sukarela…Pengabdian kepada Allah dan roh pengorbanan merupakan syarat pertama dalam menyiapkan satu tempat tinggal bagi Yang Maha Tinggi” [kalimat pertama dan terakhir].

“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah” (Ef. 5:1-2).

Leave a Reply