Bandotan/Chickweed (Tanaman Liar yang edibel/bisa dimakan)

Di Bogor, babadotan dikenal luas sebagai obat luka. Caranya, dengan menumbuk bandotan dan dicampur dengan minyak goreng, dan dipergunakan untuk obat luar saja.[3] Menurut Heyne[6], daun tumbuhan ini diremas-remas, dicampur dengan kapur, dioleskan pada luka yang masih segar. Rebusan dari daun juga digunakan untuk obat sakit dada, sementara ekstrak daunnya untuk obat mata yang panas. Akar yang ditumbuk dioleskan ke badan untuk obat demam; ekstraknya dapat diminum. Daunnya bisa dijadikan obat tetes mata, dengan jalan menumbuknya; air tumbukan tersebut, bisa diteteskan ke mata untuk cuci mata. Cara ini umum di Pantai Gading. Di sana pula, bandotan dipergunakan untuk sakit perut, penyembuhan luka, dan untuk menyembuhkan patah tulang.[3]

Zat yang terkandung dalam babadotan yang dilaporkan pada tahun 1987 adalah sebagai berikut: minyak esensial, alkaloid, dan kumarin.[3] Meski demikian, tumbuhan ini juga memiliki daya racun. Di Barat, bandotan juga dimanfaatkan sebagai insektisida dan nematisida.[7] Sementara, penelitian lain menemukan bahwa bandotan dapat menyebabkan luka-luka pada hati dan menumbuhkan tumor[8][9]. Tumbuhan ini mengandung alkaloid pirolizidina[10].

tentang ekstrak Chickweed: Historis, seluruh tanaman telah digunakan sebagai discutient yang melarutkan lemak dan tumor. dalam ekstrak, Chickweed telah digunakan sebagai emolien untuk menghilangkan rasa sakit dan mengendurkan otot dan tendon. secara internal, hal ini juga digunakan dalam kasus masalah pernapasan (asma, bronkitis, radang selaput dada, suara serak dan batuk), uro-penyakit genital dan sembelit. Chickweed jauh lebih berharga oleh Indian Amerika untuk pembengkakan dari semua jenis seperti bisul, keracunan darah, kanker testis bengkak, ulserasi tenggorokan dan mulut, dan untuk kemacetan dari hati. secara eksternal, Chickweed telah digunakan untuk mengobati wasir, nyeri rematik dan penyakit kulit (eksim, ulkus, dan psoriasis).

Leave a Reply