Berapa Nilai Manusia

Oleh Oktavian Mantiri

Di dunia zaman modern ini nilai dari suatu materi sangat di tentukan dengan ukuran materi tersebut. Kenyataan yang ada saat ini sangat jelas di mana orang menginginkan sesuatu yang lebih dari orang lain. Apabila ada tetangga yang membeli rumah mewah, kecenderungannya akan ada orang disekitar yang akan membangun atau membeli rumah yang lebih mewah dari tetangga tersebut. Demikian juga kalau ada yang membeli mobil baru.
Negara Negara maju saat ini juga berlomba lomba membangun bangunan termegah ataupun tertinggi didunia. Contohnya di Macau, saat tulisan ini di buat, kebetulan penulis sedang berada di Macau. Sangat jelas terlihat pembangunan yang sangat aggressive yang sedang terjadi di belahan dunia ini. Walaupun Macau ini adalah bagian dari Cina, dan hanya memiliki wilayah yang sangat kecil, tetapi pemerintah disini sangat jelas ingin menjadikan wilayah mereka menjadi terkenal. Pembangunan kasino yang merupakan salah satu terbesar dan termegah didunia terdapat disini. Tujuannya adalah agar nilai ekonomis dari Macau ini naik dan banyak orang akan datang berkunjung.
Jelas terlihat bahwa nilai sesuatu itu tergantung dari ukuran dari materi tersebut dan juga nilai yang diberikan oleh orang yang melihat. Namun demikian, pernahkah muncul dalam pikiran kita akan nilai diri kita? Seberapa berhargakah manusia? Faktor apakah yang menentukan nilai manusia itu?

Sudah umum di khotbahkan bahwa nilai kita manusia itu sangat berharga sehingga Yesus harus mati di kayu salib. Tetapi berapakah harga yang sebenarnya? Kita belum bisa memahami dengan jelas nilai kita yang sebenarnya apabila kita hanya melihat pengorbanan Kristus di kayu salib itu sebagai suatu tanggungjawab yang harus dijalani Yesus. Untuk mengetahui hal ini, kita perlu kembali lagi ke awal mula manusia diciptakan.
Penciptaan manusia bukan hanya sesuatu yang terjadi tanpa direncanakan Allah. Adam dijadikan menurut peta dan gambar Allah (Kejadian 1:26). Proses penciptaan manusia bukanlah sesuatu hal yang biasa seperti ketika Allah menciptakan ciptaan lainnya seperti benda angkasa luar dan ekosistem bumi di mana Tuhan hanya berfirman maka jadilah ciptaan itu. Penciptaan manusia itu sangat khusus dan unik. Dari debu Tuhan membentuk manusia. Proses pembentukannya pun bukan asal jadi. Tuhan harus berlutut di tanah, bahkan duduk diatas tanah agar bisa mencampur debuh dan air hingga siap untuk di bentuk. Gumpalan tanah liat itu di aduk dengan tangan Tuhan, di bentuk dan di poles. Semua ini dapat kita gambarkan dalam pikiran kita seperti kita melihat tukang periuk membuat periuk periuk yang indah. Tuhan sangat hati hati dalam mengolah tanah liat ini. Entah berapa banyak kali Tuhan memoles tanah itu agar menjadi bentuk yang sesuai dengan rupa Tuhan sendiri. Proses yang sangat teliti dan hati hati. Ketika Tuhan melihat manusia itu sudah berbentuk seperti Dia, ketika itu Tuhan bisa saja hanya berfirman “bangunlah” atau “berdirilah” atau “bernafaslah”. Tetapi apa yang Tuhan buat? Tuhan harus kembali berlutut dan harus kembali memegang gumpalan tanah yang berbentuk manusia itu dan menghembuskan nafas hidup ke dalamnya. Ini merupakan satu proses yang sangat intim. Dalam penciptaan manusia, Tuhan sangat terlibat dan sangat dekat dengan gumpalan tanah yang kemudian menjadi manusia. Tanah yang tidak berharga itu akhirnya memiliki nilai.
Nilai manusia itu belum sepenuhnya terlihat ketika penciptaan itu terjadi. Justru nanti ketika manusia jatuh ke dalam dosa dan harus ditebus dari dosa itulah saat di mana nilai manusia itu terungkap. Yaitu, ketika Yesus mati di kayu salib, itu merupakan pernyataan kepada dunia dan seluruh alam semesta, bahwa nilai manusia itu sama dengan nilai Tuhan sendiri. Ketika Yesus mati di kayu salib, itu merupakan saat di mana dunia melihat harga manusia itu terungkap dengan jelas. Sebelum kematian Yesus dikayu salib, tidak ada manusia atau mahluk lain di jagat raya ini yang mengetahui berapa nilai manusia itu.
Sering kita berpikir bahwa kita ini sudah sangat menderita dan sudah tidak bernilai.Mungkin kita tidak memiliki harta seperti kebanyakan tetangga tetangga kita yang kaya. Rumah kita mungkin hanya gubuk dan kita tidak memiliki materi yang dapat di banggakan. Mungkin kita sudah hampir tiba pada titik di mana sudah tidak ada pengharapan lagi. Kita menganggap bahwa hidup kita ini sudah tidak ada artinya lagi. Dalam keadaan seperti ini, kita harus mengingat proses penciptaan manusia dan pengorbanan yang Yesus buat bagi kita di kayu salib. Tuhan sudah nyatakan kepada dunia dan alam semesta bahwa nilai manusia itu tak ternilai. Nilai manusia itu sama seperti Tuhan sendiri, sehingga Tuhan sendiri yang harus datang ke dunia menebus manusia dari dosa dan kematian kekal.
Janganlah kita terpengaruh dengan apa yang orang nilai terhadap diri kita. Yang terpenting yang kita harus ingat adalah bahwa kita sama nilainya dengan Tuhan. Biarlah kita saling mengingatkan satu dengan yang lain akan makna kehidupan ini dan arti penciptaan dan kematian Yesus.

– OKTAVIAN MANTIRI
DIRECTOR GRADUATE STUDIES
ASIA-PACIFIC INTERNATIONAL UNIVERSITY, THAILAND

Leave a Reply