BERDOA DAN KESEHARIAN KITA

January 16, 2014 - Loddy Lintong

Sabat Petang, 11 Januari

Doa, hal pokok dalam pemuridan. Sekalipun sukar untuk dimengerti, tapi kenyataannya banyak orang Kristen yang jarang sekali bahkan tidak pernah berdoa secara pribadi. Seseorang mungkin ikut dalam doa bersama pada acara-acara kebaktian, atau berdoa sebelum makan sebagai suatu kebiasaan, tetapi doa pribadi yang dilakukan sendirian di tempat yang terasing untuk berkomunikasi dengan Tuhan adalah bentuk doa yang jika dilaksanakan secara terjadwal dan terencana akan meningkatkan kualitas kehidupan rohani kita sebagai murid Kristus.

Nasihat rasul Paulus agar orang Kristen “berdoa dengan tiada berkeputusan” (1Tes. 5:17, TL) itu tidak memperhitungkan doa bersama, doa waktu makan, doa ketika hendak bepergian, dan doa-doa sejenis itu. Meskipun pada prinsipnya setiap kali kita berdoa kita menempatkan diri di hadapan Allah dan menyelaraskan hati kita dengan surga, doa pribadi yang dilakukan secara khusus dalam ketenangan dan keheningan suasana itulah yang mesti dijalankan secara konstan dan konsisten oleh umat Tuhan. Teristimewa bilamana kita mengaitkan perlunya berdoa dalam pekerjaan penginjilan ataupun proyek pemuridan.

“Apapun hal lain yang kita lakukan dalam pekerjaan untuk jiwa-jiwa, apapun program jangkauan keluar yang kita adakan, kita harus berdoa bagi mereka yang sedang kita usahakan untuk jangkau. Ini merupakan hal pokok tentang apa artinya menjadi seorang Kristen, apalagi sebagai seorang pencari murid. Betapa perubahan-perubahan yang penuh kuasa bisa terjadi jika doa yang terus-menerus dan tekun menjadi pusat dari metodologi kita dalam usaha mencari dan memelihara murid-murid!” [alinea pertama].

Doa pribadi harus terintegrasi ke dalam usaha penginjilan maupun program pemuridan, sebab tanpa doa segala teori dan strategi apapun segera kehilangan daya dan makna. Untuk berhasil dalam sebuah proyek pemuridan Kristen seseorang harus lebih dulu menjadikan dirinya sebagai murid Kristus yang handal, dan hal itu hanya bisa terjadi jika seseorang menerapkan “pola hidup berdoa dan pola berdoa yang hidup.”

Doa dapat terbagi ke dalam 4 kategori. Kita merumuskannya dengan “4P” yang berturut-turut terdiri atas doa-doa pemujaan, pengakuan dosa, pengucapan syukur, dan permohonan. Dalam bahasa Inggris pengelompokkan ini disingkat dengan “ACTS”:
1. Adoration (pemujaan/penyembahan)
2. Confession (pengakuan dosa)
3. Thanksgiving (pengucapan syukur)
4. Supplication (permohonan).

Minggu, 12 Januari
MOTIVASI DALAM BERDOA (Belas Kasihan yang Tahan Uji)

Berdoa demi siapa? Kalau secara sempit dan kaku kita menganggap sikap “memperhatikan kepentingan sendiri” adalah dosa (Flp. 2:4), oleh karena hal itu berlawanan dengan perintah Yesus agar “mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri” (Mat. 22:39; Mrk. 12:31), maka jika tak hati-hati berdoa bisa menjadi perangkap dosa. Misalnya kalau dalam doa kita selalu hanya meminta dari Tuhan apa yang berkaitan dengan keperluan hidup diri kita sendiri saja. Seperti memohon berkat, perlindungan, keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan yang pada dasarnya adalah hal-hal yang menyangkut kesejahteraan hidup pribadi. Sementara dalam segala keperluan hidup kita harus bergantung pada Tuhan, doa yang selalu hanya terpusat pada kepentingan diri sendiri saja akan menjadi doa yang cengeng.

“Namun, doa pengantaraan yang terpusat pada kebutuhan-kebutuhan orang lain menghilangkan kecenderungan motivasi yang mementingkan diri. Sepanjang sejarah, doa-doa pengantaraan telah mewakili ungkapan-ungkapan pembicaraan rohani yang paling tinggi. Tanpa dinodai oleh keinginan akan kepuasan pribadi, percakapan-percakapan ini menunjukkan hal yang tidak mementingkan diri sendiri, belas kasihan, dan kerinduan mendalam akan keselamatan orang lain” [alinea kedua].

Doa pengantaraan (intercessory prayer), atau dalam Alkitab disebut doa syafaat (1Tim. 2:1)–Grika: ἔντευξις, enteuxis–adalah doa yang kita layangkan demi kepentingan orang lain, baik pribadi maupun kelompok. Misalnya untuk orang-orang yang sedang sakit supaya beroleh kesembuhan, mereka yang perlu dikuatkan dalam pergumulan hidup, orang-orang yang sedang menghadapi tantangan hidup atau saat-saat genting dalam kehidupan, dan sebagainya. Setiap orang akan merasa senang jika mengetahui bahwa kita mendoakan mereka, tidak peduli apakah mereka itu seiman dengan kita atau tidak. Bahkan orang yang tidak beragama sekalipun akan merasa terkesan bila mengetahui bahwa kita berdoa demi kebaikan mereka. Dengan cara demikian secara tidak langsung kita telah mengajarkan mereka tentang kuasa doa.

Bercermin pada kehidupan doa nabi Daniel. Salah satu tokoh dalam Alkitab yang terkenal tekun berdoa secara teratur dan konsisten adalah Daniel, seorang nabi yang terkenal dengan nubuatan-nubuatan besarnya yang menyingkap peristiwa-peristiwa global hingga zaman akhir. Sebagai seorang penasihat utama kerajaan, baik semasa kekuasaan kerajaan Babel maupun Persia, Daniel tinggal di lingkungan istana dan di apartemennya itu dia memiliki sebuah kamar khusus yang jendelanya dibiarkan terbuka menghadap ke arah kota Yerusalem di mana dia biasa berdoa berlutut tiga kali sehari (Dan. 6:11). Apa saja hal-hal yang didoakan Daniel?

Berdoa sehari tiga kali tiap-tiap hari akan terlalu banyak kalau isi doanya hanya melulu untuk keperluan pribadinya, dan Daniel yang hidupnya serba cukup dan terjamin itu tidak mempunyai banyak keperluan diri sendiri untuk didoakan. Sang nabi menggunakan hampir seluruh jam-jam doanya itu demi kepentingan orang-orang lain, yaitu untuk bangsanya sendiri serta demi raja dan bangsa kafir di mana dia hidup. Dalam pasal 9:2-19 kita membaca bahwa Daniel berdoa memohon pengampunan Allah atas dosa-dosa bangsanya sendiri supaya Allah memulihkan Israel. Perhatikan, ketika sedang berdoa itu malaikat Gabriel diutus Allah kepadanya untuk menjawab doanya. “Ketika engkau mulai menyampaikan permohonan keluarlah suatu firman, maka aku datang untuk memberitahukannya kepadamu, sebab engkau sangat dikasihi. Jadi camkanlah firman itu dan perhatikanlah penglihatan itu!” (ay. 23; huruf miring ditambahkan). Inilah jawaban doa tercepat yang pernah tercatat dalam Kitabsuci!

“Pemulihan Yerusalem pun tidak akan memulihkan keberuntungan pribadi Daniel. Tidak ada dalam doa Daniel yang menunjukkan kepentingan pribadi. Nabi zaman purba itu secara tegas memohon dengan sangat kepada Allah menyangkut masa depan bangsa Yahudi dalam pembuangan dan demi nama baik Yehovah sendiri. Pengakuan dosa yang panjang mendahului permohonan-permohonannya” [alinea terakhir: kalimat ketiga hingga keenam].

Apa yang kita pelajari tentang doa dan belas kasihan yang terpantul dari padanya?
1. Meskipun berstatus sebagai tawanan namun kehidupan Daniel dalam ukuran masa itu tergolong sangat nyaman, tetapi keadaan itu tidak membuat dia lupa daratan. Kepedulian nabi itu terhadap nasib bangsanya ditunjukkan dengan melayangkan doa pengantaraan secara terjadwal dan konsisten.
2. Sebagai orang Kristen kita diajar untuk mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri, tetapi doktrin ini tampaknya “terlalu ideal” untuk diamalkan dalam kehidupan nyata. Namun, setidaknya kita bisa mempraktikkan ajaran itu dalam berdoa, yaitu dengan mendoakan orang lain sesering mendoakan diri sendiri.
3. Tidak ada kekikiran yang melebihi kekikiran untuk tidak mau berdoa demi orang lain. Kalau untuk mendoakan orang lain saja anda begitu pelit, bagaimana anda mau berbagi hal-hal lain yang lebih konkret (berujud)? Bukankah jauh lebih mudah untuk berbagi doa dengan orang lain daripada berbagai sesuatu barang?

Senin, 13 Januari
KAPAN KITA BERDOA (Waktu Untuk Berdoa)

Kehidupan doa Yesus. Sepanjang bisa kita cermati, masa hidup kedewasaan Yesus Kristus di dunia ini sebelum penyaliban hanya dihabiskan untuk dua hal: berdoa dan melayani. Murid-murid-Nya sering mendapati Yesus sedang berdoa sendirian, suatu kehidupan doa yang begitu mengesankan sehingga mereka ingin menirukannya. Lukas mencatat, “Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: ‘Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya'” (Luk. 11:1; huruf miring ditambahkan). Tampaknya Yesus berdoa begitu kusyuk dan cukup lama sehingga murid-murid harus menunggu sampai Dia selesai berdoa. Tidak disebutkan apakah mereka bisa mendengarkan kata-kata dalam doa-Nya atau saat itu Yesus sedang berdoa dalam hati. Tetapi sesudah itu Yesus mengajarkan kepada mereka apa yang kemudian dikenal oleh sebagian orang sebagai “Doa Bapa Kami.”

Yesus biasa menyendiri ke tempat-tempat yang sunyi untuk berdoa (Luk. 5:16), selain berdoa bersama murid-murid (Luk. 9:28; 22:39-41). Yesus juga suka berdoa untuk Diri sendiri (Yoh. 17:1, 5) maupun bagi orang-orang lain (ay. 9) bahkan untuk anak-anak kecil (Mat. 19:14-15). Yesus pun berdoa sebelum membuat keputusan penting semisal memilih murid-murid terdekat-Nya (Luk. 6:12-13).

“Kristus sudah tentu mencontohkan kehidupan berdoa yang Ia perintahkan pada murid-murid-Nya. Pagi hari, petang hari, sesudah berkhotbah, sebelum berkhotbah, kapan saja memungkinkan–Yesus berdoa. Taman, pegunungan, tempat-tempat yang terpencil, di mana saja gangguan-gangguan mereda–Yesus berdoa. Terpisah secara ruang dari hadirat Bapa, Yesus dipersatukan secara rohani dengan Bapa melalui doa. Sumber kehidupan rohani Kristus mengalir melalui nadi rohani dari doa” [alinea kedua: lima kalimat pertama].

Sedangkan Yesus berdoa. Mungkin anda bertanya, mengapa Yesus perlu berdoa? Secara teologis kita dapat menyimpulkan sedikitnya ada tiga alasan: (1) Yesus berdoa untuk menjadi teladan bagi murid-murid dan semua pengikut-Nya; (2) penjelmaan membuat Yesus memiliki ciri sifat keilahian dan juga kemanusiawian; (3) hubungan Yesus dengan Bapa surgawi-Nya harus terjalin secara terus-menerus. Yesus bukan hanya mengajarkan cara berdoa dan menganjurkan murid-murid untuk berdoa, tetapi Dia memberi contoh dalam hal berdoa. Sebagai Oknum ilahi yang mengenakan kemanusiawian selama penjelmaan-Nya, Yesus sebagai manusia perlu untuk berdoa. Doa adalah satu-satunya saluran komunikasi yang menghubungkan Yesus yang berada di Bumi langsung dengan Bapa surgawi.

“Juga, ketika Allah di dalam Kristus membungkus Diri-Nya dalam daging manusia, menerima keterbatasan-keterbatasan manusiawi, Dia juga merasakan perlunya doa. Walaupun tidak berdiri di hadapan Bapa dalam posisi yang sama seperti kita sebagai orang-orang berdosa yang telah jatuh, Yesus sebagai seorang manusia tetap melihat perlunya untuk berdoa” [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Tatkala menjelma dan hidup sebagai manusia di atas dunia ini, Yesus “telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:7). Untuk itu, “sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat” (Ibr. 5:8). Penjelmaan Yesus adalah penjelmaan secara totalitas, dan Ia melakukan itu demi untuk menunaikan kehendak Bapa-Nya. Seperti yang dikatakan-Nya, “Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh. 6:38).

Apa yang kita pelajari tentang waktu yang digunakan Yesus dalam kehidupan doa-Nya?
1. Program pemuridan yang dijalankan Yesus Kristus di dunia ini telah dimulai dengan doa dan diakhiri dengan doa. Yesus berdoa sebelum memilih murid-murid-Nya, dan menjelang kenaikan-Nya ke surga Ia mendoakan mereka serta menyerahkan mereka kepada Bapa.
2. Kehidupan doa Yesus setara dengan kehidupan pelayanan-Nya; seberapa banyak waktu yang digunakan-Nya untuk melayani manusia sebanyak itu pula waktu yang diluangkannya untuk berdoa. Bahkan saat tubuh-Nya tergantung di atas salib, demi pelayanan-Nya yang terbesar bagi manusia sebagai Penebus, Yesus tetap berdoa.
3. Penjelmaan Yesus bukan mengubah status-Nya sebagai Anak Allah menjadi manusia, melainkan mengenakan rupa manusia pada sifat keilahian-Nya. Itulah sebabnya Yesus yang secara wujud lahiriah adalah seorang manusia biasa merasa perlu untuk berdoa terus-menerus kepada Bapa surgawi.

Selasa, 14 Januari
DOKTRIN TENTANG DOA (Pengajaran Tanpa Batas Waktu)

Hubungan melalui doa. Kata “doa” dalam PB berasal dari kata Grika προσευχή, proseuchē (baca: prosuké), yaitu sebuah kata benda feminin yang dapat diartikan sebagai “berhubungan dengan Tuhan” (Strong, G4335). Dalam pemakaiannya sebagai kata kerja berubah menjadi προσεύχομαι, proseuchomai (baca: prosukomai), yang berarti “berdoa” atau “melayangkan doa” (Strong, G4336). Dalam konkordansi Grika dari Alkitab PB versi King James kata ini digunakan sebanyak 90 kali dalam 82 ayat.

Pada dasarnya, berdoa adalah suatu pengalaman pribadi yang kita alami dalam berhubungan dengan Allah, yang dalam iman Kristiani hubungan itu dilakukan melalui Yesus Kristus sebagai “jalan masuk” kita (baca Yoh. 14:6). Kualitas kehidupan doa kita ditentukan oleh kualitas dari doa-doa pribadi yang kita layangkan kepada Tuhan, dan pada gilirannya hal itu mempengaruhi pula kualitas hubungan kita dengan Tuhan. Sebagaimana hubungan timbal-balik dalam rumahtangga–suami >< istri; orangtua >< anak--itu ditentukan oleh kualitas komunikasi yang terjalin, demikian halnya hubungan kita dengan Tuhan ditentukan oleh kualitas komunikasi yang kita jalin dengan Dia. Kualitas komunikasi juga berkaitan erat dengan kualitas waktu yang kita sediakan dan gunakan dalam komunikasi itu, semakin berkualitas komunikasi kita dengan Tuhan kian berkualitas pula hubungan kita dengan Dia. "Doa secara ajaib mengikat jiwa-jiwa yang terbatas dengan Pencipta mereka yang tidak terbatas. Doa adalah perekat rohani. Diikat dengan Bapa surgawi, umat percaya melampaui sifat-sifat duniawi dan kencenderungan-kecenderungan jahat mereka. Transformasi ini memisahkan mereka dari dunia" [alinea pertama: empat kalimat pertama]. Janji atas doa. Sebagaimana dalam suatu hubungan horisontal di antara sesama manusia dibangun atas dasar saling percaya, demikian pula hubungan vertikal antara umat percaya dengan Allah berlandaskan pada percaya. Ketika kita berdoa kepada Tuhan maka kita percaya bahwa Dia akan menjawab doa kita, dan bilamana Tuhan mengabulkan doa kita Dia pun percaya bahwa kita dapat memanfaatkan jawaban doa kita itu dengan baik. Allah bisa dipercaya dalam hal menjawab doa kita sekalipun itu dilayangkan secara diam-diam di tempat yang tersembunyi, sebab "Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu" (Mat. 6:6). Yesus sendiri sudah menjamin bahwa setiap orang yang meminta kepada-Nya akan menerima, "Karena orang yang minta akan menerima; orang yang mencari akan mendapat; dan orang yang mengetuk, akan dibukakan pintu" (Mat. 7:8, BIMK). Tetapi selain janji atas doa juga ada syarat untuk berdoa, yang saya sebut sebagai "syarat teknis" dan "syarat esensial." Syarat teknis termasuk cara kita berdoa yang "tidak bertele-tele serta banyak kata-kata" (Mat. 6:6), dan juga jangan berdoa seperti sebuah pertunjukan sehingga menimbulkan kesan cari perhatian, baik dalam hal kata-kata maupun gaya (baca Luk. 18:11-12). Syarat esensial dalam berdoa ialah keyakinan bahwa Allah mendengar dan menjawab doa kita (Mat. 21:22). Selain itu, dalam memohon sesuatu melalui doa ialah motif atas apa yang diminta. Rasul Yakobus berkata, "Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu" (Yak. 4:2-3). "Orang percaya yang tulus percaya pada kemampuan Allah untuk menghormati janji-janji-Nya. Belum pernah ada seorangpun mengajukan permohonan yang menggertak Allah. Kekuasaan-Nya tak terbatas, kekuatan-Nya tak tertandingi. Umat Allah menghampiri gerbang surga dengan keyakinan pada Tuhan--bahwa Ia akan melakukan apa yang terbaik bagi kita, sekalipun kita tidak bisa melihatnya sekarang...Keyakinan jangan dirancukan dengan kesombongan atau keangkuhan. Menghampiri takhta Allah dengan keberanian tidak dengan perasaan berhak. Sikap orang percaya ditandai dengan keberanian dan kerendahan hati" [alinea kedua: empat kalimat pertama; alinea ketiga: tiga kalimat pertama]. Apa yang kita pelajari tentang doa sebagai sebuah pengajaran yang abadi? 1. Doa adalah sarana komunikasi yang disediakan Tuhan bagi manusia yang percaya dan rindu menjalin hubungan pribadi dengan-Nya. Bukan sekadar hubungan dangkal yang hanya sesekali saja bilamana perlu, melainkan hubungan berkualitas yang konsisten. 2. Mahatma Gandhi mengatakan, "Doa adalah kerinduan jiwa. Dalam berdoa lebih baik mempunyai hati tanpa kata-kata daripada kata-kata tanpa hati." Kita berdoa karena ada kerinduan dalam jiwa kita terhadap Tuhan, dan karena keakraban yang terbangun di lubuk hati. 3. Keyakinan (percaya) adalah esensi dari setiap doa kepada Tuhan. Yesus berkata, "Sebab itu ingatlah ini: Apabila kalian berdoa dan minta sesuatu, percayalah bahwa Allah sudah memberikan kepadamu apa yang kalian minta, maka kalian akan menerimanya" (Mrk. 11:24, BIMK). Rabu, 15 Januari MAKNA DOA PENGANTARAAN YESUS (Belas Kasihan Tanpa Batas Waktu) Belas kasihan Yesus. Tidak ada yang dapat menandingi rasa belas kasihan Yesus Kristus atas nasib umat manusia. Betapa tidak! Bukankah Dia telah datang ke dunia ini menjelma sebagai manusia biasa dan mati di kayu salib demi menyediakan keselamatan bagi umat manusia? Selama hidup di antara manusia Yesus juga telah menunjukkan belas kasihan-Nya melalui pelayanan dalam berbagai kebutuhan manusia, baik rohani maupun jasmani. Menjelang penyaliban, Yesus telah mengadakan doa pengantaraan secara khusus demi murid-murid-Nya bahkan untuk para pengikut-Nya sepanjang zaman (baca Yohanes pasal 17). Semua itu didorong oleh sifat belas kasihan yang merupakan salah satu ciri tabiat Kristus. Inilah makna dari doa pengantaraan (doa syafaat) itu. "Kristus adalah perwujudan dari kesempurnaan; yakni, semua kesempurnaan Allah dinyatakan dalam Dia. Jadi, pernahkah ada seseorang yang lebih berbelas kasihan daripada Kristus? Siapakah yang memiliki kerinduan lebih besar daripada Yesus untuk meringankan penderitaan manusia?" [alinea pertama]. Doa Yesus yang tercatat dalam Yohanes 17 adalah doa pengantaraan paling penting yang dilayangkan-Nya menjelang kematian-Nya di kayu salib. Doa ini kerap disebut sebagai "doa pengantaraan yang agung" (great intercessory prayer) atau "doa keimamatan besar" (high priestly prayer), dan merupakan doa terpanjang yang pernah tercatat dalam Alkitab. Dalam doa ini pertama-tama Yesus mendoakan diri-Nya selaku persembahan kurban (ay. 1-5), kemudian mendoakan murid-murid-Nya (ay. 6-19), dan selanjutnya mendoakan umat Kristen sepanjang zaman sebagai hasil dari pemuridan yang dilakukan oleh murid-murid-Nya yang pertama (ay. 20-26). Kepedulian Yesus. Hidup di antara manusia selama kurang-lebih 33 tahun sudah lebih dari cukup bagi Yesus untuk mengenal keadaan manusia, khususnya dalam tiga setengah tahun terakhir hidup-Nya sejak Ia memulai pelayanan-Nya pada usia 30 tahun (baca Luk. 3:23). Kemanusiaan Kristus adalah fakta alkitabiah, dengan maksud untuk mengalami suatu kehidupan sebagai manusia biasa yang tunduk di bawah hukum Allah. Seperti kata rasul Paulus: "Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak" (Gal. 4:4-5). Yesus mengerti apa itu godaan dan cobaan hidup, tetapi Dia tidak pernah jatuh ke dalam dosa akibat godaan dan cobaan hidup. "Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa" (Ibr. 4:15). Berdasarkan pengalaman-Nya sendiri, dan didorong oleh rasa belas kasihan pada kondisi manusiawi yang lemah dan tidak tahan godaan serta cobaan, maka Yesus menaruh simpati dan sekaligus prihatin melihat Petrus yang belum berpengalaman itu berjanji dalam ketulusannya untuk tetap setia. "Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu" (Luk. 22:31-32; huruf miring ditambahkan). Perkataan Yesus ini masih tetap bergaung hingga sekarang ini bagi anda dan saya yang harus bergumul setiap hari. "Yesus bisa secara efektif mengantarai demi murid-murid-Nya karena Dia terlibat aktif dalam hidup mereka, memahami mereka sepenuhnya, dan dengan kesungguhan menginginkan kebaikan mereka. Pengantaraan yang efektif dewasa ini menuntut tidak kurang dari itu...Pemuridan dewasa ini menuntut lebih dari sekadar membagikan traktat dan argumentasi alkitabiah tanpa cela. Berdoa dalam kesadaran yang simpatik terhadap penderitaan orang lain, dan dengan kerinduan yang sungguh untuk meringankan penderitaan itu, masih merupakan ukuran dari doa pengantaraan dalam pemuridan yang efektif" [alinea ketiga: dua kalimat pertama; alinea keempat: dua kalimat terakhir]. Apa yang kita pelajari tentang belas kasihan dan kepedulian Yesus terhadap umat-Nya? 1. Besarnya belas kasihan Yesus atas umat manusia tidak terbantahkan. Yesus sudah mati untuk menebus manusia, Ia juga telah berdoa bagi kita dan menyerahkan kita ke dalam pemeliharaan Bapa surgawi. Tentu saja Yesus berkepentingan agar semua umat percaya selamat di dunia dan di akhirat. 2. Meskipun sebagian orang menganggap Yesus adalah manusia biasa semata (paham Ebionisme), sementara sebagian lagi melihat Yesus sebagai oknum ilahi sepenuhnya (paham Docetisme), namun kemanusiaan dan keilahian yang menyatu dalam diri Yesus Kristus adalah fakta alkitabiah yang tak dapat disangkal. 3. Dalam sifat kemanusiaan-Nya yang nyata Yesus telah digoda, dicobai, dicerca, disakiti, dianiaya bahkan dibunuh. Yesus mengerti apa itu penderitaan dan cobaan, karena itu Dia berbelas kasihan atas umat-Nya yang harus menderita dan menghadapi cobaan. Itulah sebabnya Dia telah mendoakan kita dan menjadi Pengantara untuk doa-doa kita. Kamis, 16 Januari MENELADANI BELAS KASIHAN KRISTUS (Belas Kasihan Tanpa Batas Waktu Berulang) Mendoakan orang lain. Kehidupan doa yang Yesus amalkan selama hidup di atas dunia ini adalah kehidupan doa yang berorientasi pada kepentingan orang lain. Tentu saja sebagai "manusia biasa" Yesus juga perlu berdoa bagi diri-Nya sendiri, tetapi porsi terbesar dari kehidupan doa Yesus selama berada di Bumi ini dibaktikan untuk orang lain. Mendoakan orang lain adalah ciri doa Yesus, dan itulah yang ditularkan kepada murid-murid-Nya. "Persembahan pujian yang paling tulus adalah peniruan. Murid-murid Kristus yang mula-mula menirukan kehidupan doa Guru mereka. Secara alamiah mereka berdoa untuk keselamatan pribadi, bagi keperluan-keperluan mereka sehari-hari, dan demi tuntunan kerohanian perorangan. Namun demikian, doa pengantaraan telah menjadi satu bagian penting dari pemuridan mereka" [alinea pertama]. Soal berdoa bagi kepentingan orang lain ini sudah diterapkan dalam pelayanan para rasul. Murid-murid dan para pengikut Kristus yang mula-mula terbiasa mengadakan doa bersama (Kis. 1:13, 14), dan para rasul itu mendorong dilayangkannya doa syafaat. Misalnya untuk mendoakan para penguasa dan pejabat-pejabat pemerintah (1Tim. 2:1-4), mendoakan saudara-saudara seiman yang sakit atau sedang menderita (Yak. 5:13-16), yang terjebak dalam perbuatan dosa (1Yoh. 5:16), mendoakan mereka yang bimbang (Yud. 20-22), dan bagi penguasaan diri (1Ptr. 4:7). Berkat saling mendoakan. Gereja yang mula-mula berkembang pesat antara lain oleh kebiasaan saling mendoakan. Para rasul selaku pemimpin rohani mendoakan jemaat, dan jemaat balik mendoakan para rasul di dalam perjalanan penginjilan mereka. Doa pengantaraan (=doa syafaat) kerap dilayangkan, bukan saja oleh rasul-rasul tetapi juga oleh sesama umat Tuhan. Allah mendengar doa setiap orang percaya, rohaniwan ataupun kaum awam. "Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka Tuhan mendengar..." (Mzm. 34:18), itulah sebabnya "doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya" (Yak. 5:16). "Kitabsuci mengatakan bahwa doa menyenangkan hati Allah karena Ia menginginkan keselamatan bagi setiap orang dan mengusahakan kemajuan dari kebenaran. Melalui doa--dipadukan dengan pengajaran, khotbah yang bersemangat, mukjizat, dan persekutuan kasih dari para rasul--gereja yang mula-mula bertambah dengan cepat. Kendati terjadi penganiayaan hebat, Kekristenan menyelimuti kekaisaran. Beribu-ribu orang menerima injil. Nyawa-nyawa yang telah diubahkan dibakar menjadi sebagai obor-obor hidup dari istana Caesar hingga ke tempat-tempat yang tak diketahui" [alinea kedua: lima kalimat terakhir]. Pena inspirasi menulis: "Doa adalah nafas jiwa. Itulah rahasia kuasa rohani. Tidak ada sarana kasih karunia lain dapat digantikan dan kesehatan jiwa terpelihara. Doa membawa hati ke dalam hubungan langsung dengan Mata Air kehidupan, dan menguatkan urat serta otot pengalaman rohani. Lalai berdoa, atau berdoa secara tidak teratur, terkadang kelihatannya mudah, dan anda kehilangan pegangan anda pada Tuhan. Kecerdasan rohani kehilangan vitalitasnya, pengalaman rohani kekurangan kesehatan dan kebugarannya..." (Ellen G. White, To Be Like Jesus, hlm. 33). Apa yang kita pelajari tentang belas kasihan Yesus dipantulkan dalam doa pengantaraan kita? 1. Belas kasihan adalah alasan utama mengapa Yesus mendoakan murid-murid yang mula-mula, dan juga mendoakan para pengikut-Nya di kemudian hari. Doa pengantaraan (doa syafaat) menjadi bagian utama dan terbesar dalam kehidupan doa Yesus selama di dunia ini. 2. Sebagaimana Yesus mendoakan orang-orang lain demikianlah murid-murid pun menirukan doa pengantaraan Guru mereka itu, dan pada gilirannya umat Tuhan sepanjang masa juga meneladani doa syafaat seperti itu. Dengan cara demikianlah rasa belas kasihan Kristus terus dipantulkan melalui doa-doa pengantaraan umat-Nya. 2. Rahasia utama dari pesatnya pertumbuhan gereja mula-mula di zaman para rasul adalah kebiasaan saling mendoakan di antara mereka. Gereja dewasa ini pun dapat bertumbuh dengan cepat, secara kuantitas maupun kualitas, apabila tradisi saling mendoakan ini terus dipelihara. Jumat, 17 Januari PENUTUP Berdoa dan bekerja. Sementara berdoa adalah penting, bekerja (=berusaha) juga jangan diabaikan. Keberhasilan program pemuridan ditentukan oleh perpaduan kedua unsur ini, yaitu bekerja dan berdoa. Doa bagi pekerjaan Tuhan adalah ibarat pupuk bagi tanaman yang menjamin pertumbuhannya hingga menghasilkan buah. Tetapi supaya doa kita tidak terkesan mementingkan diri, kita juga perlu mendoakan program penginjilan ataupun proyek pemuridan yang dilaksanakan oleh orang lain di tempat lain. Roh kasih dalam kebersamaan harus selalu melandasi setiap doa pengantaraan atau doa syafaat yang kita layangkan. "Orang yang tidak berbuat apa-apa selain berdoa segera akan berhenti berdoa, atau doa-doanya akan menjadi sebuah rutinitas...Doa-doa mereka menjadi bersifat pribadi dan mementingkan diri. Mereka tidak dapat berdoa tentang keinginan umat manusia atau pembinaan kerajaan Kristus, memohon kekuatan untuk bekerja" [alinea kedua: kalimat pertama dan dua kalimat terakhir]. Doa syafaat yang paling penting adalah mendoakan kemajuan pekerjaan Tuhan, baik yang sedang dikerjakan sendiri maupun oleh saudara-saudara seiman lainnya. Pekerjaan pemuridan adalah bagian dari strategi untuk memperluas Kerajaan Allah di dunia ini, tetapi pekerjaan ini tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu kelompok tertentu dengan kekuatan dan sumberdayanya sendiri. Kita harus saling mendoakan supaya oleh bantuan kuasa Allah usaha ini akan berhasil. "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur...Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus" (Flp. 4:6, 19).

Leave a Reply