BERTUMBUH DAN MENANG DALAM KRISTUS

PELAJARAN KE-5; 3 November 2012

“BERTUMBUH DALAM KRISTUS”

Sabat Petang, 27 Oktober

PENDAHULUAN

Kemenangan Kristus. Ayat inti: “Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka” (Kol. 2:15). Untuk memperoleh pemahaman yang tepat mengenai ayat inti pelajaran pekan ini kita harus memahami konteks dari pasal ini, khususnya mulai ayat 6 hingga 19. Rasul Paulus sedang mengamarkan jemaat di Kolose terhadap dua hal: (1) legalisme Yahudi, dan (2) sekularisme orang kafir. “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus,” pesan sang rasul (ay. 8; huruf miring ditambahkan).

Umat Kristen di Kolose–seperti juga banyak jemaat lainnya yang didirikan Paulus di kawasan Asia Kecil dan Mediteranea–terdiri dari dua kelompok, kaum perantauan Yahudi dan bangsa non-Yahudi, yang sama-sama percaya kepada Yesus Kristus sebagai Mesias. Kaum Yahudi dengan latar belakang adat-istiadat serta budaya yang berakar pada Hukum Musa (Taurat), dan kaum non-Yahudi dengan latar belakang kepercayaan kekafiran yang sarat dengan tahyul dan falsafah duniawi, merupakan dua kekuatan yang tarik-menarik dan seringkali melahirkan ketegangan dan pertikaian di jemaat. Paulus menghendaki agar kedua kelompok ini melupakan latar belakang masing-masing oleh sebab mereka sekarang adalah orang-orang Kristen yang percaya kepada Injil Kristus.

Kata asli (bahasa Grika) untuk pemerintah-pemerintah dalam ayat ini adalah ἀρχὰς, archas, dari akar kata ἄρχω, archō, yang berarti memimpin atau mengatur; dalam kata bentukan lainnya menjadi ἄρχομαι, archomai, yang bisa berarti memulai atau menjadi awal. Sedangkan kata asli untuk penguasa-penguasa adalah ἐξουσίας, exousias, yang bisa berarti kuasa memerintah dan wewenang. Dalam bahasa aslinya ayat ini selengkapnya berbunyi: ἀπεκδυσάμενος τὰς ἀρχὰς καὶ τὰς ἐξουσίας ἐδειγμάτισεν ἐν παρρησίᾳ θριαμβεύσας αὐτοὺς ἐν αὐτῷ, apekdysamenos tas archas kai tas exousias edeigmatisen en parrēsia thriambeusas autous en autō. Alkitab versi Bahasa Indonesia Masa Kini menerjemahkan ayat ini, “Pada salib itu Kristus membuat segala roh-roh yang memerintah dan berkuasa menjadi tidak berdaya lagi. Mereka dijadikan tontonan umum pada waktu Kristus menggiring mereka sebagai tawanan dalam pawai kemenangan-Nya” (Kol. 2:15, BIMK).

Untuk lebih memperjelas maksud rasul Paulus ini dapat kita lihat melalui pernyataannya dalam suratnya kepada jemaat di Efesus yang juga mengandung pesan identik: “Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:12; huruf miring ditambahkan). Meskipun begitu, bukan berarti bahwa sebagai orang Kristen kita tidak akan pernah berhadapan dengan kekuatan-kekuatan “darah dan daging” yang bersifat fisik, dan hanya perjuangan bersifat rohani yang berperang di dalam hati dan pikiran kita saja. Pada kenyataannya, Setan juga menggunakan dan dibantu oleh kekuatan-kekuatan manusia dalam memerangi umat Allah.

“Pekan ini kita akan melihat kepada sifat kemenangan yang Kristus raih di atas salib. Oleh kemenangan-Nya–bukan saja atas dosa, tapi atas setiap kekuatan yang bekerja melawan umat manusia dan ciptaan Allah–Kristus telah memperoleh keselamatan untuk kita…Kemenangan-Nya dapat menjadi kemenangan kita kalau kita menuntutnya bagi diri kita, sebab tidak menjadi soal apapun yang Yesus sudah lakukan untuk kita, kita harus memilih untuk menerimanya. Kemenangan tidak secara otomatis diberikan kepada siapa saja” [alinea kedua: dua kalimat terakhir; alinea ketiga: dua kalimat terakhir].

Dengan mengangkat Kolose 2:15 sebagai ayat inti pekan ini, penyusun pelajaran Sekolah Sabat hendak menekankan dan membawa pemikiran kita kepada fakta teologis tentang kemenangan Kristus yang telah diraih-Nya di kayu salib. Dengan demikian, apa yang dimaksudkan dengan frase “melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa” bukanlah kekuasaan politik yang memerintah negara-negara di dunia, melainkan penguasa dunia kegelapan, yaitu Setan. Pada zaman dulu, pasukan yang kalah perang akan dilucuti dan disuruh berbaris di hadapan panglima tentara yang mengalahkan mereka, atau sebagai tawanan perang seringkali pasukan yang kalah itu ditampilkan dalam parade kemenangan di hadapan raja dan rakyat sebagai tontonan. Rasul Paulus menggunakan tradisi militer zaman itu yang dipahami oleh umat Kristen di Kolose untuk menanamkan kesan dalam pikiran mereka bahwa kemenangan Kristus di kayu salib itu adalah suatu kemenangan mutlak atas Setan.

Untuk mengalahkan pemerintah dan penguasa kerajaan-kerajaan dunia, seperti yang diharapkan oleh para pemimpin Yahudi waktu itu, tentu saja Yesus Kristus tidak perlu mati di kayu salib. Bahkan, Anak Allah itu tidak mesti datang ke dunia ini secara pribadi, Allah cukup mengirim satu malaikat surga saja maka segalanya akan beres. Kedatangan Anak Allah ke dunia ini, dengan mengenakan kemanusiawian, adalah untuk memerangi serta mengalahkan Setan di dunia ini demi kepentingan seluruh umat manusia sepanjang zaman, dan sekaligus sebagai contoh bahwa seorang manusia yang bersandar pada kuasa Allah sanggup mengalahkan Setan. Missi Kristus ke bumi ini bukan hanya demi kepentingan bangsa Yahudi yang hidup pada masa itu saja, apalagi untuk sekadar membebaskan mereka dari penindasan kerajaan Romawi.

Minggu, 28 Oktober

MAKNA KEMATIAN YESUS (Penebusan)

Intervensi ilahi. Seperti telah kita pelajari pekan lalu, status dari orang berdosa adalah “hamba dosa” (Yoh. 8:34), dan dosa merupakan “tuan” yang bengis karena sangat mendominasi hambanya (=orang berdosa) itu, tidak membiarkannya untuk berbuat lain dari apa yang dikehendaki oleh dosa itu sendiri meski bertentangan dengan apa yang sebenarnya ingin dilakukan orang berdosa tersebut (Rm. 7:15-17). Katakanlah, seorang “hamba dosa” itu sama seperti “robot dosa” yang hanya dapat melakukan menurut apa yang telah “diprogram” oleh dosa itu. Situasi ini tidak memberi peluang sedikitpun bagi orang berdosa itu untuk melepaskan diri dari dosa yang terus-menerus mengangkangi dirinya; harapan satu-satunya untuk bisa terbebas dari keadaan ini hanyalah melalui intervensi (=campur tangan) suatu kuasa yang telah mengalahkan dosa, yaitu intervensi ilahi.

“Kekristenan adalah sebuah agama penebusan yang mana manusia diselamatkan dari kebinasaan dosa melalui apa yang orang lain–dalam hal ini, Yesus–telah lakukan bagi mereka. Jadi, agama Kristen bisa dibedakan dari sebuah agama hukum di mana seseorang bisa mengubah hukumannya atas usaha-usahanya sendiri dengan berbuat baik…Nasib buruk orang berdosa menuntut campur tangan dari luar, dan campur tangan ini mengandung suatu harga. Seperti yang dengan begitu jelas diajarkan oleh Perjanjian Baru, harga itu adalah kematian Yesus di kayu salib” [alinea pertama: dua kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

“Agama penebusan” vs “agama hukum.” Campur tangan Allah yang secara langsung dan kongkret menolong manusia mengatasi akibat dosa ialah ketika Allah membuatkan pakaian dari kulit binatang untuk menutupi ketelanjangan Adam dan Hawa. “Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka” (Kej. 3:21). Sebelumnya, ketika menyadari ketelanjangan mereka sehabis memakan buah larangan itu, pasangan manusia pertama tersebut hanya sekadar “menyemat daun pohon ara dan membuat cawat” (ay. 7). Teologi dari peristiwa ini ialah: manusia berdosa yang berusaha mengatasi akibat dosa melalui usaha mereka sendiri tidak berguna di mata Tuhan, dan Allah harus menolong manusia mengatasi akibat dosa itu dengan korban makhluk tidak bersalah yang harus mati. Inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia ini terjadi pertumpahan darah yang dilakukan oleh Allah sendiri demi manusia berdosa, sebuah lambang dari apa yang Allah lakukan melalui Yesus Kristus.

“Agama hukum” yang semata-mata didasarkan atas usaha manusia untuk menurut adalah sama dengan “agama daun pohon ara” seperti yang dipakai oleh Adam dan Hawa untuk menutupi aurat dosa mereka. Bukan saja agama seperti itu tidak bermutu karena tidak bertahan lama, sebagaimana daun ara yang akan menjadi kering dalam beberapa hari saja sehingga bakal menjadi baju rombeng dan usang, tapi juga hal itu dianggap tidak etis dalam pemandangan surga yang kudus. Sebaliknya, “agama penebusan” sebagai hasil dari campur tangan Allah itu bukan saja jauh lebih bermutu dan abadi, tapi juga memenuhi syarat dari segi etika kekudusan karena dapat membungkus seluruh ketelanjangan dosa manusia, meski untuk itu satu nyawa yang tidak berdosa harus dikorbankan. Tidak ada catatan dalam Alkitab bahwa Adam dan Hawa pernah mengganti pakaian sepanjang hidup mereka di atas bumi ini, karena pakaian dari kulit binatang “made in Eden, designed by God” itu tak pernah menjadi usang, lapuk, atau ketinggalan zaman.

Penebusan Kristus. Rasul Paulus menulis, “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Ef. 1:7; huruf miring ditambahkan). Jadi, penebusan Kristus menghasilkan pengampunan dosa bagi manusia. Pada kesempatan lain rasul yang sama menulis, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Rm. 3:23, 24; huruf miring ditambahkan). Berarti, penebusan Kristus menyebabkan manusia dibenarkan dari pelanggaran dosa. Kata asli (Grika) yang diterjemahkan dengan penebusan dalam kedua ayat ini adalah ἀπολύτρωσις, apolytrōsis, sebuah kata-benda feminin yang artinya kelepasan atau pembebasan yang disebabkan oleh pembayaran uang tebusan. Dalam hal dosa, tebusan atas “hutang dosa” itu bukan dibayar dengan uang melainkan oleh “darah Kristus” (Ibr. 9:14; 1Ptr. 1:19).

“Dari sudut pandang Perjanjian Baru, kematian penebusan Kristus adalah bersifat pengorbanan dan pengganti. Ia mengambil tempat kita, mengorbankan Diri-Nya menggantikan kita, menderita takdir untuk kita supaya kita tidak perlu harus merasakannya sendiri. Meskipun sebagian orang menolak gagasan ini oleh karena mereka tidak suka pendapat tentang seseorang yang menderita untuk orang lain (khususnya untuk seseorang yang bersalah), tapi itulah jantung dan jiwa dari pekabaran injil” [alinea kedua].

Apa yang kita pelajari tentang penebusan yang dilakukan oleh Kristus?

1. Kematian penebusan Kristus adalah manifestasi dari campur tangan Allah untuk menanggulangi akibat dosa. Intervensi ilahi ini harus dilakukan karena itulah jalan satu-satunya agar dapat membebaskan manusia yang sudah menjadi “hamba dosa” bahkan “robot dosa” dan tidak dapat membebaskan diri sendiri.

2. Usaha manusia untuk membebaskan diri dari kekuasaan dosa, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang melalui penurutan hukum, itu sama saja dengan usaha yang dilakukan Adam dan Hawa di Taman Eden untuk menutup ketelanjangan mereka setelah memakan buah larangan itu. Usaha yang kita sebut sebagai “agama daun pohon ara” itu sia-sia karena tidak memenuhi standar kekudusan surga.

3. Hanya penebusan yang dilakukan Kristus di kayu salib dapat mengatasi dan menyelesaikan masalah dosa manusia, sekali dan untuk selamanya. Penebusan itu memenuhi syarat oleh karena menghasilkan pengampunan dosa dan menyebabkan manusia dibenarkan dari pelanggaran terhadap hukum Allah.

Senin, 29 Oktober

KELEPASAN DARI DOSA (Budak yang Dimerdekakan)

Dibebaskan. Rasul Paulus mengatakan, “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran…sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran…Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal” (Rm. 6:18, 20, 22). Di sini rasul Paulus sedang berbicara tentang perubahan status dari orang-orang yang menerima dan percaya kepada Yesus Kristus, yaitu mereka yang tadinya adalah “hamba dosa” sekarang menjadi “hamba kebenaran.” Berdasarkan ayat-ayat ini, menjadi hamba kebenaran berarti menjadi “hamba Allah.” Apa istimewanya menjadi hamba Allah? Kita membaca di sini bahwa dengan menjadi hamba Allah akan menghasilkan buah berupa pengudusan, dan dari pengudusan akhirnya kepada hidup yang kekal. Sedangkan “hamba dosa” telah menyebabkan kemerosotan (Rm. 3:23) dan berujung kepada kebinasaan (Rm. 6:23).

Dalam Perjanjian Baru penebusan selalu dikaitkan dengan kata hamba (=budak) dan kebebasan (=kemerdekaan). Ketiga kata ini merupakan kata-kata kunci dalam konsep keselamatan menurut teologi Kristen sebagaimana diperkenalkan oleh Paulus dan rasul-rasul lainnya di abad pertama. Perlu diingat, teologi Kristen yang diajarkan Yesus Kristus dan disebarluaskan oleh murid-murid dan rasul-rasul lainnya itu diperkenalkan tatkala perbudakan sedang marak-maraknya. Istilah-istilah yang lazim dalam dunia perbudakan itu digunakan sebagai metafora dalam rangka menyajikan rencana keselamatan Allah dan pelaksanaannya secara lebih mudah untuk dipahami oleh masyarakat pada masa itu. Orang berdosa itu sama seperti seorang hamba atau budak yang sedang berada di tangan majikan yang menguasainya, dan untuk memerdekakannya harus dengan tebusan.

“Bila kita memahami penebusan sebagai kemerdekaan dari suatu bentuk perbudakan yang menuntut bantuan dari luar, kita bisa menyimpulkan bahwa umat manusia yang berdosa itu terikat oleh suatu kuasa atau pengaruh yang lebih kuat daripada dirinya. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah: Oleh kuasa atau perantara apakah umat manusia yang berdosa itu telah begitu terikat?” [alinea pertama].

Zaman perbudakan adalah masa di mana kemanusiaan berada di titik nadir, keadaan terendah dalam peradaban, tatkala manusia diperlakukan seperti benda atau barang dagangan yang diperjual-belikan. Perbudakan memiliki sejarah terpanjang dalam hikayat manusia, di mana menurut catatan perbudakan telah dikenal sejak zaman Hamurabi sehingga hal itu termaktub dalamCode of Hammurabi (1760 SM); perbudakan baru berakhir secara resmi tahun 1981 ketika Mauritania, sebuah negara bekas jajahan Prancis di Afrika Barat, mengumumkan pemberlakuan UU Abolisi Perbudakan dan menjadikannya sebagai negara terakhir di dunia yang melarang perbudakan.

Hamba kebenaran. Dalam Roma 6:12-23, rasul Paulus mengingatkan bahwa sebagai orang-orang yang sudah ditebus dari perhambaan dosa kita tidak lagi menjadi “hamba dosa” tetapi sudah menjadi “hamba kebenaran.” Penggunaan kata “hamba” di sini untuk mempertahankan pemahaman tentang makna kepatuhan, yang semula tunduk kepada keinginan dosa sekarang tunduk kepada tuntutan kebenaran. Kalau tadinya sebagai hamba dosa telah menimbulkan kecemaran yang akan berakhir dalam kebinasaan, sekarang sebagai hamba kebenaran membuahkan kekudusan yang berujung kepada hidup kekal.

Peralihan dari “hamba dosa” kepada “hamba kebenaran” (=hamba Allah) adalah sebuah pengalaman sangat istimewa yang momentumnya perlu terus dipelihara, agar seseorang yang semula diperhamba oleh dosa menyadari akan kemerdekaannya sehingga tidak selalu merasa dikendalikan oleh kuasa dosa. Sebaliknya, menjadi hamba kebenaran adalah memiliki kebebasan untuk melakukan hal-hal yang benar tanpa dihalang-halangi lagi oleh kuasa dosa yang sudah tak berdaya lagi. Namun, seringkali kebiasaan hidup berdosa yang sudah mendarah-daging itu masih terbawa terus walaupun kita sekarang sudah menjadi hamba Allah. Seperti mantan narapidana yang baru dibebaskan setelah bertahun-tahun meringkuk di balik jeruji besi, acapkali agak sukar baginya untuk bisa langsung berperilaku sebagai orang merdeka. Sehingga rasul Paulus mengingatkan, “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran” (Rm. 6:12, 13).

Menurut kisah, pada abad keempat belas ada dua orang laki-laki bersaudara yang saling berperang demi untuk gelar adipati (duke) di negeri yang sekarang dikenal sebagai kerajaan Belgia. Sang kakak bernama Raynald, tapi lebih dikenal dengan nama julukan “Crassus” yang dalam bahasa Latin berarti “Si Gendut.” Raynald ini gendutnya memang minta ampun. Dalam peperangan itu adiknya, Edward, berhasil mengalahkan sang kakak dan mengambil alih kekuasaan sebagai Adipati yang baru. Tidak seperti biasanya dalam peperangan memperebutkan takhta kekuasaan, Edward tidak langsung membunuh Raynald yang berhasil dikalahkannya itu, tetapi memenjarakannya di salah satu ruangan yang sengaja dibuat dalam kastilnya sebagai kamar tahanan buat sang kakak. Anehnya, kamar tahanan yang berpintu satu dan berjendela satu itu sama sekali tidak dikunci tapi dibiarkan terbuka dan tanpa pengawalan. “Kalau kamu bisa keluar dari ruangan ini, kamu boleh menduduki kembali takhtamu,” kata Edward kepada Raynald.

Tetapi masalahnya bukan pada pintu atau jendela yang ukurannya normal, melainkan pada diri Raynald sendiri. Tubuhnya yang sangat kegendutan mustahil bisa melewati pintu atau jendela itu untuk meloloskan diri. Dia harus berdiit habis-habisan dalam waktu cukup lama agar bisa menurunkan berat badannya mendekati normal, dan dengan sedikit usaha niscaya dia baru bisa keluar memerdekakan diri. Namun, Edward terus saja mengirimi kakaknya itu makanan-makanan lezat yang berlimpah, termasuk berbagai jenis coklat yang menggiurkan, sehingga meskipun Raynald sangat rindu untuk bebas tapi kerinduannya itu tidak pernah berhasil mengalahkan seleranya untuk terus melahap makanan-makanan yang disajikan. Terhadap tudingan bahwa Duke Edward berlaku kejam terhadap kakaknya, sang adik hanya menjawab, “Kakak saya itu bukan dipenjarakan, sebab dia boleh meninggalkan ruangan itu kapan saja dia mau.” Raynald mendekam selama sepuluh tahun di kamar itu sampai orang-orang datang membantunya keluar dengan membobol pintu setelah Edward tewas dalam suatu pertempuran.

“Apa yang membuatnya begitu buruk ialah perbudakan itu bukan semata-mata dipaksa dari luar; sebaliknya, itu datang dari dalam diri kita. Bagaimana kita bisa dibebaskan dari suatu perbudakan, suatu perhambaan, yang berasal dalam diri kita, bahkan di dalam sifat alamiah kita?…Jawabnya, sebagaimana telah kita lihat pada ayat-ayat di atas, hanya datang dari kuasa Yesus saja, yang sudah menang untuk kita dan yang menawarkan kepada kita kuasa untuk mengatasinya” [alinea keempat; dan alinea kelima: kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang dimerdekakan dari perbudakan dosa?

1. Kemerdekaan dari perbudakan dosa adalah keadaan di mana manusia tidak lagi terikat pada keinginan alamiah untuk berbuat dosa. Sebagaimana seorang budak yang dibebaskan dari perbudakan memiliki kesempatan untuk menikmati hidup yang lebih bermartabat, demikianlah seorang hamba dosa yang sudah dimerdekakan itu beroleh kesempatan untuk hidup lebih suci.

2. Dimerdekakan dari perhambaan dosa bukanlah atas kekuatan kita sendiri melainkan itu adalah karunia Tuhan. Status baru ini memberi suatu kesempatan kepada kita untuk hidup terlepas dari kekangan dosa, dan untuk melakukan kebenaran sehingga kita disebut sebagai “hamba kebenaran.”

3. Meskipun Allah telah menyediakan kemerdekaan dari perhambaan dosa bagi setiap orang, namun pilihan tetap berada pada diri orang itu sendiri. Tidak seperti perbudakan fisik yang berasal dari kehendak di luar diri orang yang dijadikan budak itu, perhambaan dosa berpangkal di dalam diri orang yang menjadi hamba dosa itu sendiri.

Selasa, 30 Oktober

KEKUATAN GABUNGAN (Para Pemerintah dan Penguasa: Bagian 1)

Pihak pemenang. Bilamana membaca ayat-ayat yang dikemukakan dalam pelajaran hari ini kita dapat membayangkan dan menyimpulkan betapa dahsyat dan nyata peperangan besar antara Kristus dan Setan, serta alangkah luasnya dampak dari peperangan itu. Kita bersyukur dan memuji Tuhan bahwa dalam peperangan itu Kristus keluar sebagai pemenang; peperangan yang besar telah menghasilkan kemenangan besar bagi pemenangnya, sebaliknya telah menimbulkan kekalahan yang besar pula pada pihak yang kalah. Namun, yang lebih penting lagi ialah kalau anda dan saya berada di pihak yang menang, yaitu pihak Kristus. Sebab apalah artinya kemenangan Kristus yang besar itu bagi anda dan saya, kalau kita sendiri berada di pihak yang kalah? Tetapi kalau kita berada di pihak Kristus, tentu saja kemenangan-Nya itu sangat berarti dan berharga.

Jika kita telah turut berperang di pihak Kristus, maka kita akan merayakan kemenangan itu dengan penuh sukacita dan dalam kemeriahan bersama seluruh umat tebusan dan malaikat-malaikat surga pada hari kedatangan-Nya yang kedua kali. Kemenangan itu juga akan mendorong kita untuk terus mempertahankan hubungan kita dengan Kristus, apapun yang terjadi. Seperti kata rasul Paulus, “Sebab aku yakin bahwa baik maut maupun hidup, baik malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa baik yang di atas maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 8:38, 39).

“Alkitab menggambarkan dunia kita sedang berada di bawah kekuasaan dari kekuatan jahat yang berusaha hendak mengendalikan dan pada akhirnya menghancurkan kita. Tentu saja, pertentangan besar adalah hasil dari pekerjaan Tuhan melawan kuasa-kuasa ini. Kabar baiknya ialah, setelah Salib kemenangan atas mereka dipastikan, sekalipun pertempuran terus berkecamuk. Konflik itu dramatis, semesta, dan dahsyat, tetapi kemenangan adalah milik Allah, suatu kemenangan di mana kita dapat ikut ambil bagian oleh iman” [alinea pertama].

Kuasa gaib. Setelah Setan dicampakkan ke Bumi ini dia langsung membangun kerajaannya–yang kita sebut kerajaan kegelapan–di planet ini, dan di dunia inilah dia mendirikan markas besarnya. Sejak itu, bumi yang semula dikuasai dan tunduk kepada hukum alam berdasarkan penciptaan Allah telah disusupi oleh kekuatan supra alami yang dibawa serta oleh Setan dari tempat asalnya di surga. Bumi sekarang dikuasai oleh dua kekuatan, yakni hukum alam yang bersifat lokal dan kuasa gaib hasil impor. Sebagai kekuasaan yang menduduki bumi ini, acapkali kuasa gaib iblis itu memperlihatkan keunggulannya atas hukum alam, dan pada pemandangan manusia itu adalah suatu hal yang “ajaib” dan mempesonakan. Kita bisa menyaksikan manifestasi dari kuasa gaib yang berasal dari Setan itu dalam berbagai peristiwa fenomenal, termasuk segala bentuk “ilmu hitam” yang digandrungi sebagian masyarakat kita. Kuasa Setan itu riil, sebab Allah tidak pernah mencabut kekuatannya. Tulis rasul Paulus, “Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang” (2Kor. 11:14).

“Sebaliknya Alkitab menyajikan, sebagai bagian dari realitas dunia kita adalah satu jajaran kekuatan musuh yang terdiri atas pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa kejahatan. Meskipun pandangan alkitabiah menggabungkan konsep-konsep alamiah dan ilmiah, tentu saja itu tidak mendasari seluruh pemahaman realita pada konsep-konsep tersebut. Pandangan Alkitab akan dunia cukup luas untuk mencakup pandangan-pandangan alami maupun supra alami” [alinea kedua: tiga kalimat terakhir].

Setan yang tidak berhasil membunuh “perempuan itu” kemudian mengalihkan sasaran dengan “memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus” (Why. 12:17), yakni gereja yang benar. Dalam amarahnya, Setan tidak hanya menggunakan kuasa gaibnya saja tapi juga memanfaatkan kekuatan dari komprador-komprador manusiawi yang menjadi pendukungnya, yaitu “binatang dan patungnya” (Why. 14:9) yang memiliki kekuatan ekonomi, politik, dan militer. Jadi, musuh umat Tuhan dalam peperangan kosmik itu adalah sebuah kekuatan gabungan, alami dan supra alami, dan kedua-duanya nyata.

Apa yang kita pelajari tentang kekuatan-kekuatan yang harus dihadapi oleh umat Allah?

1. Setelah dikalahkan dalam pemberontakan di surga, Setan dicampakkan ke bumi ini lalu mendirikan markasnya di sini. Sasaran utamanya adalah “keturunan perempuan” yang dinubuatkan Allah (Kej. 3:15), yaitu Yesus Kristus. Setelah kalah, Setan mengalihkan serangan kepada sasaran sekunder, yaitu orang-orang yang percaya dan menerima Kristus.

2. Meskipun sudah terusir dari surga, Setan tidak kehilangan kuasa aslinya, yaitu kekuatan supra alami yang lebih perkasa dari kekuatan alami dunia ini. Kekuatan supra alami iblis itu riil, dan dia tidak segan-segan untuk menggunakannya di mana perlu.

3. Kabar baiknya ialah bahwa kuasa Setan itu sudah dikalahkan oleh Yesus Kristus dua kali, di surga dan di Kalvari, dan kuasa Yesus yang unggul itu ditawarkan kepada kita untuk digunakan melawan serangan iblis. Bahkan, bukan saja ditawarkan, tapi dianjurkan untuk memakai kuasa Yesus itu demi menjamin kemenangan bagi kita.

Rabu, 31 Oktober

KEUNGGULAN INJIL KRISTUS (Para Pemerintah dan Penguasa: Bagian 2)

Falsafah manusia. Dalam pesannya kepada jemaat di Galatia, rasul Paulus menulis, “Begitu juga dengan kita: Selama kita masih belum dewasa, kita diperhamba oleh roh-roh yang menguasai dunia ini…Tetapi sekarang kalian mengenal Allah, atau lebih tepat lagi, Allah mengenal kalian. Nah, mengapa kalian mau kembali lagi kepada roh-roh dunia ini, yang lemah dan miskin? Mengapa kalian mau diperhamba lagi oleh roh-roh itu?” (Gal. 4:3, 9, BIMK; huruf miring ditambahkan). Kata asli yang diterjemahkan dengan roh-roh dalam kedua ayat ini adalah στοιχεῖα, stoicheia, yang artinya prinsip-prinsip dasar. Versi King James menerjemahkannya dengan elements (unsur-unsur), sedangkan versi Amplified Bible menggunakan istilah elementary teachings (ajaran-ajaran dasar).

Istilah ini berkaitan dengan tradisi budaya Yunani purba, di mana kaum berduit biasanya akan mempekerjakan seorang guru privat untuk mendidik anak-anak mereka yang masih di bawah umur, dengan maksud untuk mengajarkan kepada mereka adat-istiadat serta nilai-nilai kemasyarakatan sebagai prinsip dasar yang harus dikuasai. Semasa menempuh pendidikan dasar tersebut anak itu dianggap sebagai δοῦλος, doulos, yaitu hamba (ay. 1), dan gurunya diizinkan untuk memberi hukuman fisik terhadap anak itu bilamana perlu. Apabila anak itu sudah memasuki usia dewasa atau akil-balig, barulah dia bebas dari status “hamba” dan dipercaya untuk menjalani kehidupan pribadinya sendiri.

“Perjanjian Baru, khususnya konsep Paulus tentang kekuasaan, tampaknya menghubungkan makhluk-makhluk rohani dengan kekuatan-kekuatan atau kuasa-kuasa yang memerintah atas kehidupan manusia di luar Kristus. Ini bisa bersifat politik, sosial, tradisional, bahkan keagamaan. Kata stoicheia yang digunakan dalam Galatia 4:3, 9 berbicara tentang sistem kekafiran dari mana orang-orang Kristen Galatia telah dilepaskan. Itu digunakan juga dalam merujuk kepada aspek-aspek sistem hukum Yahudi purba” [alinea kedua: lima kalimat pertama].

Bahaya sekularisme. Jadi jelas bahwa pada intinya apa yang dimaksud oleh rasul Paulus di sini ialah sebagai umat percaya yang sudah menerima ajaran kebenaran Injil Kristus, dan dengan demikian telah dibenarkan dan diselamatkan, jangan lagi terpengaruh oleh falsafah-falsafah dunia (bagi umat Kristen non-Yahudi) ataupun oleh doktrin-doktrin Hukum Taurat (bagi umat Kristen Yahudi). Sekularisme dan legalisme, kedua-duanya sama berbahaya bagi iman Kristiani, baik pada zaman rasul-rasul dulu maupun pada zaman moderen sekarang ini. Patut diwaspadai ialah, sebagaimana Setan telah menggunakan kedua paham itu untuk menyesatkan umat Allah pada zaman dulu, dia juga akan menggunakan pengaruh ajaran-ajaran yang sama untuk menyesatkan anda dan saya sekarang ini. Setan berusaha menggunakan orang-orang terpandang, di luar maupun di dalam gereja, yang pendapat-pendapatnya kita anggap seakan-akan benar dan layak dipegang. “Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya [kaki-tangan iblis] menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran” (2Kor. 11:15).

Sebagai umat percaya, kita bukan saja telah dimerdekakan dari perbudakan dosa tapi sebenarnya kitapun sudah dibebaskan dari pengaruh sekularisme. Sepatutnyalah anda dan saya memiliki “rasa keunggulan” (sense of excellence) terhadap doktrin duniawi apapun yang tidak selaras dengan ajaran Alkitab. Orang Kristen yang benar juga tidak perlu berkecil hati sekalipun tidak memiliki simbol-simbol kesuksesan hidup menurut parameter duniawi seperti kekayaan, kedudukan, ketenaran bahkan kecendekiawanan sekuler. “Sebab orang yang terpuji adalah orang yang dipuji oleh Tuhan, bukan orang yang memuji dirinya sendiri,” tulis Paulus (2Kor. 10:18, BIMK).

“Tekanan-tekanan masa sekarang, belum lagi kekhawatiran akan masa depan, dan juga tuntutan-tuntutan kehidupan, masyarakat, tradisi dan ideologi, semuanya bisa menimbulkan pengaruh-pengaruh yang dapat memisahkan seseorang dari Tuhan. Tetapi melalui Kristus kita sudah dibebaskan bukan saja dari dosa-dosa kita tapi juga dari perhambaan terhadap kuasa-kuasa ini. Kita perlu memahami sifat dari kemenangan itu dan menuntutnya sebagai milik kita” [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Berbicara perihal masa lalu umat Kristen di jemaat Efesus, rasul Paulus menulis, “Dahulu kalian mati secara rohani karena kalian berdosa dan melanggar perintah-perintah Allah. Pada waktu itu kalian mengikuti kebiasaan-kebiasaan dunia ini; berarti kalian taat kepada penguasa angkasa raya, yaitu roh yang sekarang menguasai hati orang-orang yang tidak taat kepada Allah” (Ef. 2:1-2, BIMK). Sebagai pengikut Kristus, kita tidak tunduk kepada “penguasa angkasa raya” dan kita tidak ada hubungan sama sekali dengan “roh-roh jahat di angkasa” itu. Orang Kristen adalah “bangsa yang terpilih…umat kepunyaan Allah sendiri” yang berbeda dari manusia pada umumnya (1Ptr. 2:9). Itulah sebabnya sang rasul mengingatkan, “Kalian tidak boleh minum dari piala anggur Tuhan, dan sekaligus dari piala anggur roh jahat juga. Kalian tidak boleh makan di meja Tuhan, dan di meja roh jahat juga” (1Kor. 10:21, BIMK). Jangan mencampur-adukkan doktrin ilahi dengan doktrin duniawi!

Apa yang kita pelajari tentang pengaruh falsafah duniawi dan bagaimana mengatasinya?

1. Falsafah dan doktrin-doktrin duniawi merupakan sarana yang bisa digunakan Setan untuk mempengaruhi umat Allah dan akhirnya menguasai pikiran mereka. Penyebaran ajaran-ajaran ini menggunakan berbagai media yang digemari oleh masyarakat, termasuk melalui dunia maya lewat jejaring pertemanan yang berbasis internet. Kalau anda cukup cermat, gelagat ini sesekali muncul sekelebat.

2. Bahaya sekularisme di zaman moderen ini tak boleh dianggap sepele, apalagi setelah melihat gejala-gejalanya di tengah jemaat. Di sini kita tidak berbicara soal mode dan gaya hidup sebagai ciri-ciri keduniawian di dalam gereja–sekalipun itu juga patut dicermati!–tetapi kita lebih memfokuskan perhatian kepada pola berpikir dan cara pandang sekuler dari sebagian anggota.

3. Pengikut-pengikut Kristus adalah sekelompok orang yang berbeda dari dunia. Perbedaan ini bisa menimbulkan sikap antagonisme dari dunia. Yesus berkata, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu” (Yoh. 15:18, 19).

Kamis, 1 November

DIKALAHKAN DAN DILUCUTI (Si Pembunuh Dinyatakan)

Maut dikalahkan. Tidak seperti yang diidam-idamkan oleh bangsa Yahudi pada umumnya, Mesias itu datang dengan “mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:7; huruf miring ditambahkan). Kata asli untuk hamba di sini adalah δοῦλος, doulos, sama seperti yang digunakan dalam Galatia 4:1 dalam pelajaran kemarin (lihat ulasan pelajaran hari Rabu, 31 Oktober); dan kata asli untuk manusia adalah ἄνθρωπος, anthrōpos, seperti misalnya yang digunakan dalam Mat. 4:19; 10:32; Luk. 7:34; Rm. 5:18 dan banyak lagi. Jadi, Mesias yang datang dalam sosok bernama Yesus Kristus adalah benar-benar manusia biasa, bahkan sebagai hamba dalam arti kata yang sebenarnya. Yesus Kristus itu, “dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8), namun demikian Allah telah meninggikan nama-Nya, “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi” (ay. 10).

Penjelasan rasul Paulus ini konsisten dengan penulis kitab Ibrani yang mengatakan, “Oleh sebab orang-orang yang Ia sebut anak itu adalah makhluk manusia yang dapat mati, maka Yesus sendiri menjadi sama dengan mereka dan hidup dalam keadaan manusia. Ia berbuat begitu, supaya dengan kematian-Nya Ia dapat menghancurkan Iblis yang menguasai kematian” (Ibr. 2:14, BIMK; huruf miring ditambahkan). Dalam ayat ini kita mendapat tambahan penjelasan perihal tujuan kematian Yesus Kristus di kayu salib, bahwa selain sebagai “korban pengganti” manusia berdosa, kematian Yesus Kristus adalah juga untuk “menghancurkan Iblis yang menguasai kematian.” Itulah sebabnya rasul Paulus dengan tandas berkata, “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” (1Kor. 15:54, 55).

Maut, atau kematian, identik dengan Setan karena dialah penguasa kerajaan maut itu. Setan berharap bahwa manusia tidak ada yang selamat tapi semuanya menghadapi kematian oleh karena “upah dosa ialah maut” (Rm. 6:23). Tetapi dengan kematian Yesus Kristus di kayu salib Dia telah mengalahkan Setan dan kerajaan mautnya itu, sehingga pada akhirnya Yesus akan berkata, “Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut” (Why. 1:18).

Setan dilucuti. Sebagaimana bunyi ayat inti pelajaran pekan ini, “Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka” (Kol. 2:15). Adalah suatu kenyataan paling menyakitkan apabila Setan yang selama ini merasa dirinya berkuasa atas manusia dan seisi bumi yang telah berdosa, pada akhirnya kekuasaannya akan dilucuti dan dirinya dibiarkan menjadi tontonan seluruh alam semesta sebagai pihak yang telah dikalahkan. Pertama, sebagai Lusifer dia sudah dikalahkan di surga sehingga dia tercampak ke bumi ini; kedua, sebagai Setan sekali lagi dia pun telah dikalahkan di bumi tempat pembuangannya: kedua-duanya oleh Tokoh yang sama, yaitu Yesus Kristus. Bedanya, pada peperangan di surga Setan hanya kehilangan kedudukannya tetapi kuasanya masih tetap melekat pada dirinya, sedangkan pada peperangan di bumi ini semua kuasa dan kekuasaannya bakal dilucuti seluruhnya. Bukan itu saja, tapi di bumi inilah riwayatnya pun akan tamat!

“Oleh karena Salib, satu hari akan datang bilamana kekuasaan dari penguasa-penguasa itu bakal tiba pada akhir yang tuntas dan pasti. Itu pada waktu Kristus mengakhiri seluruh pemerintahan serta semua penguasa dan kekuasaaan (1Kor. 15:24), dan musuh terakhir yang harus dibinasakan itu ialah maut (1Kor. 15:26). Sebelum waktu itu tiba, kita harus bertahan, menggumuli peperangan iman di dalam kekuatan Allah yang ditawarkan kepada semua yang hendak menuntutnya” [alinea kelima].

Tentu saja “senjata dan taktik” yang digunakan oleh Setan terhadap manusia pada umumnya itu berbeda dari apa yang digunakannya untuk memerangi umat percaya yang berada di dalam Kristus. Untuk menghadapi orang-orang yang menolak Kristus dan tidak percaya, Setan cukup menggunakan taktik penyesatan dan rasa ketakutan itu sudah dapat menaklukkan mereka. Tetapi terhadap umat percaya yang tetap setia tinggal di dalam Yesus, taktik dan senjata tersebut akan percuma sebab orang Kristen tidak mempan ditipu atau ditakut-takuti sehingga mau meninggalkan Allah yang mengasihi mereka. “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” tanya rasul Paulus (Rm. 8:35).

Apa yang kita pelajari tentang kekalahan dan nasib akhir dari Setan, si pembunuh itu?

1. Bagi dunia salib adalah kematian dan kehinaan, tapi bagi surga salib itu adalah kehidupan dan kemuliaan. Oleh pengorbanan Kristus di atas kayu salib Dia telah memenangkan peperangan terakhir atas Setan, dan oleh kematian Kristus di kayu salib itu maut telah dikalahkan. Salib bukan saja solusi bagi dosa manusia, tetapi salib adalah juga senjata pamungkas yang mengalahkan Setan dan kerajaan mautnya.

2. Kekalahan Setan yang dipastikan oleh Yesus Kristus di kayu salib tidak saja menempatkan Setan pada pihak yang kalah, tetapi salib itu juga memberi kuasa kepada Kristus untuk melucuti seluruh kekuasaan Setan di dunia ini dan menjadikan dia sebagai “tawanan perang” yang digiring menjadi tontonan semesta alam pada waktunya nanti.

3. Perlucutan kekuasaan Setan belum terjadi, itulah sebabnya sekarang dia sedang bersiap untuk pertempuran terakhir dan habis-habisan demi mengalahkan umat manusia sebanyak-banyaknya sebelum Yesus Kristus datang kedua kali. Taktik dan senjata apa yang dia sedang gunakan dalam usahanya untuk menaklukkan anda dan saya? Kekayaan dan kepelesiran? Pangkat dan jabatan? Ketenaran dan pengaruh?

Jumat, 2 November

PENUTUP

Kemenangan akhir. Kehidupan sesehari di dunia ini, dalam hampir setiap aspek, selalu merupakan sebuah medan pertarungan yang mau tak mau akan menempatkan yang satu sebagai pemenang dan yang lain sebagai pecundang. Akibatnya, nilai seseorang kerap diukur berdasarkan apakah dia menang atau kalah. Selalu ada sanjungan serta kekaguman bagi pihak yang menang, dan cibiran serta celaan bagi pihak yang kalah. Karena itu tak ada orang yang tidak berkeinginan untuk menang, dan tak ada orang yang mau dianggap kalah. Setiap kekalahan akan selalu memicu pembalasan, dan setiap pembalasan selalu akan dilakukan dengan usaha yang lebih besar lagi.

Tetapi menang atau kalah bukan hanya berlaku dalam kehidupan jasmani saja; bahkan dalam kehidupan rohani pertarungan untuk menang itu jauh lebih dahsyat dan mengerikan. Peperangan rohani tidak mengenal garis demarkasi dan garis belakang, semua berada di garis depan dan setiap orang terlibat dalam peperangan kosmik ini. Setan yang kekalahannya sudah pasti itupun tidak mau pasrah dengan nasibnya, justeru dia semakin beringas untuk menebus kekalahannya, bagaimanapun caranya. “Tetapi celakalah bumi dan laut, sebab Iblis sudah turun kepadamu dengan amarah yang sangat besar, karena ia tahu bahwa waktunya tinggal sedikit lagi” (Why. 12:12, BIMK).

“Hari demi hari pertempuran itu berlanjut. Seandainya mata kita bisa terbuka untuk melihat agen-agen kebaikan dan kejahatan sedang bekerja, tidak akan ada kata-kata sepele, tidak ada ucapan yang sia-sia, tidak ada senda gurau atau canda. Jika setiap orang mengenakan seluruh persenjataan Alah dan berperang dengan gagah berani dalam peperangan Tuhan, kemenangan-kemenangan akan diraih sehingga membuat kerajaan kegelapan gemetar” [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].

Dalam peperangan rohani, kemenangan bukanlah segalanya melainkan itulah satu-satunya. In the battle of the Lord, winning is not everything; it’s the only thing! Tidak ada istilah split decision (juara bersama) ataupun win-win solution (penyelesaian tanpa merugikan salah satu pihak) dalam pertentangan besar antara Kristus dan Iblis di mana kita semua terlibat, oleh karena itu bagi anda dan saya peluangnya hanya salah satu dari dua kemungkinan ini: selamat atau binasa. Menang berarti selamat, kalah berarti binasa. Titik.

“Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya” (Why. 3:21).

(Oleh Loddy Lintong/California, 31 Oktober 2012)

Leave a Reply