BUDAYA DAN PRAKTEK-PRAKTEK KEKERASAN POLIGAMI DI DUNIA MUSLIM: SATU KAJIAN HISTORIS DAN TEOLOGIS

Disusun Oleh: Pdt. Kalvein Mongkau, S.Ag

(Segala Isi ulasan dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis)

 

Bab 4. 

APAKAH TUHAN ALLAH TA’ALA MENTOLERANSI KEKERASAN DAN POLIGAMI?

 


Seandainya Khadijah sewaktu menikah sudah berumur tidak terpaut jauh dengan umur Muhammad maka pasti ia tidak akan wafat lebih dulu dari suaminya dan itu tidak akan memberikan peluang suaminya itu untuk mempraktekkan kehidupan berpoligami.  Bahkan boleh jadi malaikat Gibraelasli yang menggantikan kedudukan Lucifer sebagai kerub berjaga di depan tahta Allah di sorga pasti bukanlah oknum ilahi yang asli dimana terus mendatangi Muhammad selama 22 tahun untuk menuntun dia menjadi seorang rasul yang berpoligami dan tak mempraktekkan kekerasan mengatas-namakan agama.[1]Bukankah Khadijah mengakui kerasulan Muhammad saat dia masih hidup.  Demikian pun Waraqah bin Naufal, adalah sosok penasihat beragama Kristen yang pernah menikahkan Khadijah dengan Muhammad wafat diusianya yang sudah uban dan tidak dapat lagi memberikan nasihat kepada Muhammad untuk tidak mempraktekkan poligami dan kekerasan selama hidupnya.  Ini artinya adakah catatan dan literatur yang menyaksikan bahwa kerasulan Muhammad tetap diakui oleh sorga saat dia menghidupkan praktek poligami dan mempraktekkan kekerasan di dalam penyebaran agamanya?  Boleh jadi tidak ada catatan terkait hal tersebut.  Pilihan ada pada Muhammad sendiri.  Ketika dia sudah terobsesi dengan jabatan dan kekuasaan politik sebagai pemimpin komunitas di Madinah maka pada saat dia tetap mengkleim dirinya sebagai pemimpin agama yang selalu mendapatkan wahyu dari Tuhan SWT maka tidak mau merendahkan diri dan sikap memaksakan kehendak kepada para bawahannya tidak dapat dihindari sehingga tidak ada satu pun rohaniwan yang berani mempertanyakan keabsahan dari kerasulannya pada saat itu apakah ia masih dituntun oleh ruakh dari Tuhan.  Bahkan ia terobsesi dengan kehidupan pemuasan nafsu seks saat dia memiliki jabatan penting sebagai seorang pendakwah dan pemimpin politik maka mudah baginya untuk mendapatkan wanita.

Mengapa Allah SWT yang datang kepada rasul Paulus tidak mengijinkan tindakan kekerasan dalam menyebarkan agama Kristen dan praktek poligami bagi para pengikut Isa-Almasih yang ditobatkan oleh Paulus selama pelayanan kerasulannya?   Namun melalui artikel ini diperooleh jawaban yang gamblang dan jelas bahwa Tuhan Allah SWT yang datang kepada rasul Paulus sama sekali tidak mau diakui oleh para penganut dan teolog Islam sepanjang zaman sesudah Isa-Almasih naik ke sorga sebagai oknum ilahi yang benar oleh karena mereka sendiri tidak mengakui bahwa masih ada pengilhaman atau pewahyuan akan firman Tuhan secara ilahi di antara jaman Isa-Almasih dan pada jaman Muhammad SAW.Seandainya para cendekiawan dan teolog Muslim mau mengakui bahwa masih ada pengilhaman dan pewahyuan Firman Tuhan SWT di antara jaman Isa Al-masih dan jaman Muhammad SAW maka pasti akan timbul satu kebangunan besar yakni kebangunan rasa ingin tahu tentang keilahian Yesus Kristus seperti yang diajarkan oleh rasul Paulus dalam surat-surat yang ia pernah tulis.  Dan jika itu yang terjadi maka konsep kasih Kristus yang diajarkan Paulus dalam 1 Korintus pasal 13 pasti akan mudah dicermati dan dihayati oleh kaum Muslimin di mana pada akhirnya akan memudahkan mereka untuk mengenal sifat dan tabiat Yesus Kristus yang sebenarnya yang memudahkan mereka memahami  dan memutuskan bahwa kekerasan itu tidak patut untuk diterapkan secara agama di dalam kehidupan sehari-hari.  Pada saat yang sama maka mereka pasti akan terbuka hatinya di bawah terang Ruh’ul Kudus untuk memahami prinsip perkawinan yang benar tanpa harus berpoligami dalam 1 Korintus pasal 7 dan Efesus 5.   Maka pada akhirnya kaum Muslimin yang soleh dan istiqomah akan mengakui bahwa Allah SWT tidak pernah mentolerransi tindakan-tindakan kekerasan dan poligami di antara manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya apalagi yang menerapkannya mengatas-namakan agama.

Untuk itu jika dibandingkan dengan rasul Paulus, di saat dia bekerja sebagai seorang rasul maka walaupun kaum Judaizer sudah menyebarkan isyu berupa tudingan di kalangan Kristen asal Yahudi di Asia Kecil pada umumnya dan juga terhadap jemaat-jemaat di Galatia pada khususnya bahwa status kerasulannya tidak berasal dari Allah atau berasal dari manusia (Galatia 1:1-2, 10-12), justru setelah mendapatkan tudingan yang melecehkan asal-usul, status dan otoritas kerasulannya namun Paulus tidak pernah terpancing marah dan membalas tudingan itu dengan kekerasan.   Justru dia sendiri menyatakan dirinya sebagai berikut:  “Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya.”…….  “Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia.”……. “Sekalipun bagi orang lain aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai dari kerasulanku.  …… “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.”(1 Timotius 1:16; I Korintus 4:9; 9:2; 15:9).

Bahkan seandainya pekerjaan kerasulan yang ditetapkan dari Allah itu memerlukan seorang istri pendamping di dalam jabatan sebagai seorang rasul Tuhan, maka itu pasti diperbolehkan oleh Allah seperti yang dialami sahabat-sahabat rasul lainnya yang sudah nenikah ketika ditetapkan Yesus sebagai rasul sebab dengan tetap membawa istri dalam pelayan kerasulan mereka maka Petrus (Kefas) dan teman-temannya akan dicegah dari praktek poligami.  Namun justru sebagai seorang rasul, Paulus tidak pernah didampingiseorang istri selama umur hidup dan pelayanannya sebagai seorang rasul, seperti yang dia katakan dalam 1 Korintus 9:5, “Tidakkah kami mempunyai hak untuk membawa seorang isteri Kristen, dalam perjalanan kami, seperti yang dilakukan rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas?” Untuk itu, walaupun Paulus belum lagi hidup bersama dengan 12 rasul Yesus lainnya selagi Kristus masih berada di dunia ini selama 3 ½ tahun (27-31 TM) di dalam pekerjaan mengajarkan hukum  moral tetapi justru ia menjunjung tinggi hukum moral yang menentang kekerasan dan poligami seperti yang Yesus ajarkan dalam Matius 5:21-32, 38, 39 sebagai berikut:

5:21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.  5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! Harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.  5:23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 5:24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 5:25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. 5:26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas. 5:27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. 5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu:  Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. 5:29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. 5:30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. 5:31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus ember surat cerai kepadanya. 5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah. ,,,,,,5:38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.  5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu”

 

Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa sedangkan seseorang yang marah kepada orang lain itu sudah sama dengan melakukan tindakan kekerasan bahkan sedang membunuh dalam hati apalagi pembunuhan secara terang-terangan.  Tidak heran, karena mengetahui bahwa amarah adalah sama dengan tindakan membunuh maka Paulus menulis dalam Efesus 4:26, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.”  Dan oleh menyadari bahwa seseorang yang memanjakan pikiran dalam oleh memandang seorang wanita dan mengingininya itu sudah sama dengan berzinah dalam hati yang bisa berujung kepada perbuatan yang diulang-ulang dan menjadi satu kebiasaan berpoligami maka Paulus menegaskan dalam nasihatnya agar setiap orang harus kawin dengan satu orang istri dan jangan pernah mengingini istri sesama (1 Korintus 7:2, 26). *****

[1]Teolog Islam saling bersilang pendapat, tidak tahu persis kapan Muhammad pribadi mulai memastikan bahwa Ruh tersebut adalah utusan Allah, dan terlebih-lebih kapan ia mulai disebut sebagai “Jibril”. Memang ada hadits (muncul hampir 200 tahun setelah Al-Qura’n) yang menyebutkan nama Jibril di awal kenabian Muhammad, Jibril sendiri baru memperkenalkan nama dirinya setelah di Medina. Dan kembali hal itu hanya memberi kemungkinan tunggal bahwa Ruh tersebut memang tidak ingin memperkenalkan nama dan identitas dan sumber-sumbernya, kecuali membiarkan dirinya diasumsikan orang saja sebagai utusan Allah, entah dinamai Rohulqudus atau Jibril, atau Ruhul Amin, apa saja.Hanya lewat pandangan pribadi dari sepupu Khadijah, yaitu Waraqah bin Naufal yang Nasrani, maka ruh tersebut ditafsirkan sebagai “Namus”, yang berarti “rahasia atau “hukum” (HSB no.3). Tetapi, seandainya Waraqah bin Naufal cukup paham akan Injil, seharusnya ia akan menguji ruh tersebut sebelum menjawabnya secara spontan, karena itulah yang dipesankan Alkitab dalam 1Yoh.4:1, “Janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Tuhan”. Dan jikalau Waraqah memang paham Injil maka seharusnya ia sudah tahu bahwa sosok malaikat Tuhan yang datang kepada nabi Zakharia dan Maryam adalah bernama Gabriel, dan bukan “Namus” yang tidak diketahui sosok atau identitasnya! Ketika ia berspekulasi bahwa itu adalah Namus dan bukan Gabriel (sosok historis yang definitif dalam Injil), maka kita mempunyai alasan kuat untuk berkata bahwa roh tersebut memang bukan Gabriel, melainkan “Namus” versi Waraqah sendiri! Sebaliknya Muhammad tetap gamang dan tidak punya konklusi, karena ruh yang misterius tersebut tetap membungkamkan namanya, sampai akhirnya Muhammad mendapatinya juga kelak dari sumber lain (bukan dari yang empunya nama), yaitu tatkala beliau berada di Medinah dan berhubungan dengan banyak orang-orang Yahudi !Muhammad mengakui dirinya sebagai Rasul Allah, namun dibalik itu ternyata beliau sering gamang tentang ruh. Itu diketahui dari seringnya beliau di olok-olok dan di-test oleh orang-orang Yahudi tentang hal tersebut. Untuk menutup-nutupi ketidak pastian, maka atas nama wahyu Allah, Muhammad menjawab mereka: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, ‘Ruh itu adalah urusan Tuhanku dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit.” (Qs. 17:85).Tetapi ayat defensif ini jelas tidak membela Nabi, karena mengimpresikan pengakuan akan kekerdilan diri beliau yang disamakan dengan orang-orang awam yang memang tidak diberi ilmu tentang ruh kecuali sedikit. Padahal justru seorang Nabi mendapat hak istimewa untuk menyedot rahasia-rahasia tentang ruh. Konten ayat ini “menentang” Muhammad yang mengklaim dirinya sangat dekat dan sering bercakap-cakap dan mereview ayat-ayat bersama dengan ruh pewahyu setiap Ramadhan, sehingga Muhammad tidak punya alasan untuk sama awam tentang ruh!Para kritisi menyimpulkan bahwa pengetahuan Muhammad yang mendadak akan nama Jibril (setelah gamang belasan tahun) berasal dari hasil interaksi Muhammad dengan orang-orang Yahudi di Madinah.Sejarah kenabian Yahudi sudah mengenal nama malaikat Gabriel seribuan tahun sebelum Muhammad, di- zamannya Daniel, dan digaungkan lebih jauh di era Zakharia dan Maria. Disitu Gabriel memperkenal-kan nama dan jati dirinya sebagaimana yang layak, tanpa bermisteri: “Akulah Gabriel yang melayani Tuhan dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau…” (Lukas 1:19). Gabriel yang sejati bukan hanya mengklaim, tetapi sekaligus juga menunjukkan otoritas dan berita kebenaran yang dibawanya dari Tuhannya, sehingga tak ada kerancuan apakah ini ruh jahat atau utusan Tuhan.(Dikutip dalam artikel berjudul: If Jibril Tiruannya Gabriel, diakes tanggal 3 Mei 2015 dalam situshttps://buktidansaksi.com/whatif

 

Leave a Reply