Dilema Teori Evolusi

April 16, 2017 - Amazing Facts

Baru-baru ini saya berbincang dengan seorang pria yang memiliki iman yang luar biasa. Tak ada satu bayang keraguan dalam penjelasannya yang mengasyikkan mengenai asal usul dan takdir manusia. Dia adalah seorang evolusionis yang saya temui di pesawat terbang. Dengan kepercayaan diri yang luar biasa dia menghubungkan ribuan tahun masa prasejarah untuk menjelaskan keberadaan tumbuhan dan hewan modern. Penjelasannya yang gamblang bahwa manusia berkembang dari sebuah sel tunggal yang kecil sangat menarik dan meyakinkan sehingga seseorang dapat hampir yakin bahwa dia telah melihat amoeba yang hanya bias dilihat oleh mikroskop berubah menjadi seorang manusia.

Pengajaran apakah evolusi ini sehingga mengilhami iman yang besar bagi para muridnya? Bagaimana itu membuat ilmuwan-ilmuwan hebat menjadi lawan yang dogmatis terhadap sudut pandang lain? Banyak ilmuwan-ilmuwan evolusioner mengumpulkan pengaruh professional mereka untuk melarang pelajaran apapun di ruang kelas yang bertentangan dengan pandangan-pandangan mereka. Apakah teori evolusi pantas menerima dukungan fanatik yang akan membungkan semua gagasan lain yang bertentangan? Ketika umat beragama mengambil sikap ini, mereka akan disebut sebagai orang fanatik, namun nampaknya para ilmuwan lepas dari tuduhan itu. Pada Februari 1977, hampir 200 anggota komunitas akademisi Amerika Serikat mengirim surat kepada dewan pengurus sekolah diseluruh Amerika Serikat, menghimbau bahwa tidak ada gagasan lain mengenai asal usul manusia yang diijinkan untuk diajarkan di ruang kelas.

Hal ini menunjukkan bahwa kaum evolusionis merasa terancam akan munculnya perlawanan terhadap teori versi mereka yang klise dan bertentangan. Banyak siswa yang mencari jawaban yang jujur atas pertanyaan mereka tetang asal usul dan tujuan kehidupan. Mulanya, tradisi evolusi yang membosankan haruslah dipertahankan. Namun marilah lihat hal apa yang harus mereka pertahankan. Maka Anda akan mengert mengapa para ilmuwan evolusionis ini adalah orang-orang dengan iman yang luar biasa, dan mengapa mereka sangat takut menghadapi kompetisi di sekolah.

Generasi yang Spontan

Bagaimana para evolusionis menjelaskan munculnya hewan bersel tunggal pertama yang darinya semua kehidupan diduga berkembang? Untuk bertahun-tahun lamanya gagasan tentang generasi yang spontan adalah penjelasan yang diterima. Menurut kamus Webster, generasi spontan adalah “generasi kehidupan yang berasal dari zat yang tidak hidup.. [diambil] dari keyakinan, yang sekarang telah ditinggalkan, bahwa organisme-organisme ditemukan muncul dari zat organik busuk secara spontan. ”

Secara sederhana, ini berarti, bahwa dibawah kondisi suhu, waktu, dan tempat yang tepat, zat yang membusuk berubah menjadi kehidupan organic. Gagasan sederhana ini mendominasi pemikiran ilmiah sampai tahun1846, ketika Louis Pasteur menghancurkan sepenuhnya teori ini dengan eksperimen-eksperimennya. Dia memaparkan bahwa keseluruhan konsep ini adalah semata-mata kebodohan. Dalam kondisi laboratorium yang terkendali, dalam sebuah semi-vakum, tidak ada kehidupan organik yang muncul dari zat yang tidak hidup dan membusuk. Sebagai sebuah pokok masalah ilmiah yang sah, gagasan ini dengan enggan telah ditinggalkan. Inilah mengapa Webster mengatakan bahwa hal ini “telah ditinggalkan”. Hal ini tidak pernah dan tidak akan pernah dapat didemonstrasikan dalam sebuha tabung uji. Sekarang tidak ada proses yang diamati yang dapat mendukung gagasan generasi yang spontan.Sesungguhnya, jika generasi spontan benar-benar terjadi jauh di masa lampau untuk menghasilkan percik kehidupan yang pertama, maka haruslah diasumsikan bahwa hukum-hukum yang mengatur kehidupan benar-benar berbeda dari hukum-hukum yang ada sekarang. Tetapi tunggu sebentar! Hal ini juga tidak dapat terjadi, karena seluruh teori evolusi didasarkan pada asumsi bahwa kondisi bumi tetap seragam sepanjang masa.

Apakah Anda mulai melihat dilema ketika para evolusionis menjelaskan amoeba pertama, atau monad, atau apapun itu yang membentuk sel hidup pertama? Jika itu berasal secara spontan dari tidak adanya kehidupan sebelumnya, hal ini bertentangan dengan hukum alam dasar yang menjadi fondasi dari keseluruhan teori. Namun, tanpa mempercayai generasi spontan, para evolusionis akan mengakui sesuatu yang lain daripada kekuatan alam yang bekerja – dengan kata lain, Tuhan. Bagaimana mereka berkeliling dalam dilema ini?

Dr. George Wald, pemenang hadiah Nobel dari Universitas Harvard, menyatakan dengan jujur sebagai seorang evolusionis:

“Seseorang hanya perlu merenungkan besarnya tugas ini untuk mengakui bahwa generasi spontan dari makhluk hidup adalah tidak mungkin. Namun kita ada disini – hasilnya, saya percaya, akan generasi spontan.” Scientific American, August 1954.

Pernyataan dari Dr. Wald ini menunjukkan sebuah iman yang jauh lebih besar daripada seorang beragama yang mempercayai penciptaan dapat kumpulkan. Perhatikan bahwa seorang ilmuwan evolusionis mengatakan bahwa itu tidak dapat terjadi. Itu tidak mungkin. Namun dia meyakini itu telah terjadi. Apa yang dapat kita katakana terhadap jenis iman ini? Paling tidak mereka yang meyakini pencipataan percaya bahwa Tuhan mampu berfirman untuk menciptakan kehidupan. Iman dari Sseorang yang meyakini penciptaan bukanlah iman yang buta dalam sesuatu yang dia yakini sebagai hal yang tidak mungkin.

Jadi kita ada disini, berhadapan dengan kontradiksi pertama evolusi dengan hukum dasar ilmu pengetahuan. Untuk mempertahankan penjelasan humanis tentang asal usul kehidupan, dia harus menerima teori generasi spontan yang meletus dan tidak ilmiah. Dan pertanyaan besarnya ialah ini: Mengapa dia dengan sangat kasar menentang generasi spontan yang dibicarakan di Alkitab? Sebuah keajaiban penciptaan dibutuhkan dalam masing-masing kasus ini. Apakah Tuhan menciptakan dengan kemampuan ilahi, atau makhluk yang tidak cerdas yang dihasilkan dari tindakan yang tidak mungkin menurut Wald. Baiklah setiap pemikiran yang bijak merenungkan alternative-alternatif ini untuk sesaat. Bukankah itu membutuhkan iman yang lebih besar untuk meyakini bahwa sebuah kemungkin dapat menghasilkan kehidupan dibandingkan untuk meyakini bahwa sebuah kecerdasan yang tidak terbatas dapat menghasilkan itu?

Mengapa Dr. Wald mengatakan adalah mustahil kehidupan berasal dari generasi spontan? Tidaklah mudah bagi seorang evolusionis untuk membuat pernyataan ini. Pencariannya yang melelahkan untuk sebuah penjelasan ilmiah berakhir pada kegagalan, seperti juga yang terjadi pada ilmuwan evolusionis lainnya, dan dia berani untuk mengakuinya. Namun, dia juga memiliki iman yang luar biasa untuk tetap meyakini hal tersebut, meskipun itu tidaklah mungkin secara ilmiah. Seorang Kristen yang mengakui iman sejenis ini akan dicap sebagai seorang yang naïf dan mudah tertipu. Toga pendidikan tinggi sungguh menimbulkan perbedaan pada pikiran kita yang mudah terkesan! Betapa lebih sederhana dan manis iman yang menerima catatan yang diilhami ini: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian 1:1)

Sebuah Ketidakmungkinan yang Menggelikan

Apakah yang akan terlibat dalam perkembangan yang kebetulan dari sebuah sel hidup tunggal? Faktanya adalah, bentuk kehidupan yang paling dasar jauh lebih rumit dibandingkan benda apapun yang dibuat oleh manusia. Seluruh kompleks di Kota New York tidak serumit susunan sel mikroskopik yang paling sederhana. Sungguh lebih menggelikan untuk membicarakan munculnya hal tersebut secara kebetulan. Para ilmuwan sendiri meyakinkan kita bahwa struktur dari sebuah sel adalah sangat rumit. Kemungkinan sebuah kombinasi yang tepat dari molekul-molekul pembentuk asam amini, yang akan membentuk protein dengan sifat-sifat kehidupan adalah seluruhnya tidak realistis. Majalah American Scientist membuat pengakuan ini pada Januari 1955:

“Dari segi probabilitas, menyusun lingkungan yang ada sekarang menjadi sebuah molekul asam amino sungguhlah sepunuhnya tidak mungkin dalam semua keadaan ruang dan waktu yang tersedia untuk memulai kehidupan di bumi. ”

Ahli Matematika Swiss, Charles Eugene Guye , menghitung kemungkinan kejadian tersebut sebesar satu dibandingkan 10 pangkat 160. Ini berarti 10 dikalikan 10 sebanyak 160 kali, sebuah angka yang sangat besar bahkan untuk diucapkan. Ilmuwan lain menyatakan hal ini demikian:

“Jumlah zat yang diperlukan untuk dicampurkan untuk menghasilkan sebuah molekul protein tunggal adalah jutaan kali lebih besar dari zat yang tersedia di alam semesta. Diperlukan sangat banyak, hampir tidak berakhir, milyaran tahun supaya hal tersebut dapat terjadi di bumi.” (The evidence of God in an Expanding Universe, p. 23)

Bagaimana kita dapat menjelaskan pertahanan yang naïf para ilmuwan untuk meyakini sesuatu yang sungguh tidak sesuai dengan latar belakang ilmiah mereka? Dan bagaimana kita dapat menyelaraskan toleransi orang berpendidikan yang umumnya berpikiran luas, dengan kefanatikan sempit yang ditunjukkan ilmuwan evolusionis yang mencoba untuk menekan sudut pandang lain yang berlainan? Penjelasan yang nyata nampaknya berakar pada keputus asaan para evolusionis untuk mempertahankan reputasi mereka sebagai satu-satunya sumber kebenaran dogmatis. Untuk mengakui kebijaksaan yang unggul yang telah lama diperkuat oleh komunitas evolusionis. Sekian lama, mereka mengulang-ulangi asumsi-asumsi mereka sendiri yang mendukung teori-teori mereka sehingga mereka harus mulai menerima asumsi tersebut sebagai dakta. Tidak ada yang keberatan terhadap pengasumsian mereka apapun yang mereka ingin asumsikan, namun untuk mengasumsikan hal yang bertentangan dengan semua bukti ilmiah dan tetap menyebutnya sebagai ilmu pengetahuan adalah sebuah ketidak jujuran.

Mutasi- Seberapa Besar Perubahan itu?

Sekarang mari lihat pengajaran dasar evolusi kedua yang bertentangan dengan hukum ilmiah. Salah satu bagian evolusi yang paling diperlukan, yang seharusnya menyediakan daya untuk mengubah amoeba menjadi manusia, adalah mutasi. Ini merujuk pada perubahan abnormal pada organisme yang diasumsikan disebabkan oleh perubahan kimiwi didalam gen-gen mereka sendiri. Gen adalah faktor keturunan didalam kromosom setiap spesies. Setiap spesies memiliki sejumlah tertentu kromosom yang memuat gen. Didalam setiap tubuh manusia terdapat 46 kromosom yang diperkirakan memuat 100.000 genm yang masing-masing gen dapat mempengaruhi beberapa hal seperti ukutan, warna, tekstur, ataupun kualitas dari setiap individu. Asumsinya ialah, gen-gen ini yang menurunkan sifat-sifat yang kita peroleh dari nenek moyang kita, adakalanya dipengaruhi oleh pemasangan yang tidak sesuai, kerusakan kimiwi, atau pengaruhh lainnya, yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa pada salah satu keturunannya. Ini disebut mutasi. Melalui perubahan bertahap yang dilalui oleh berbagai spesies melalui mutasi, para evolusionis mengasumsikan bahwa amoeba berubah menjadi invertebrate, yang akan menjadi amfibi, lalu reptil, binatang berkaki empat, kera, dan akhirnya manusia. Dalam kata lain, spesies tidak tepat dalam pandangan evolusionis. Famili selamanya berubah manjadi makhluk yang lebih tinggi seiring waktu berjalan. Ini berarti semua catatan sejarah hewan harus mengungkapkan ketiadaan total dari batasan-batasan family. Semuanya harus berada dalam proses untuk berubah menjadi sesuatu yang lain – dengan ratusan juta literal makhluk setengah-ikan mencoba menjadi amfibi, dan reptile sudah setengah jalan untuk bertransformasi menjadi burung, dan mamalia terlihat seperti setengah-monyet atau setengah-manusia.

Sekarang semua orang tau , bukannya menemukan milyaran fosil dari famili yang membingungkan, para ilmuwan menemukan kebalikannya. Tidak ada satupun makhluk yang mengapung, menunjukkan perubahan bentuk kehidupan telah dipelajari. Semuanya tetap berada dalam batasan jelas dari jenisnya sendiri dan tentunya menolak untuk bekerjasama dalam kebutuhan evolusionis modern.Kebanyakan orang akan menyerah dan mengubah teori mereka saat menghadapi tamparan yang menghancurkan ini, namun tidak demikian dengan para evolusionis! Mereka tetap mencari hubungan yang hilang yang dibuat-buat yang paling tidak dapat membuktikan bahwa mereka tidak 100 persen salah. Namun mari kita lihat sarana tempat para evolusionis menggantungkan kemungkinan perubahan drastis yang diperlukan teori mereka. Sir Julian Huxley, jurubicara utama evolusi mengatakan:

“Mutasi menyediakan bahan mentah untuk evolusi.”Lalu dia mengatakan, “Mutasi adalah sumber pokok dari semua…. Variasi yang diturunkan.” (Evolution in Action, p. 38)

Professor Ernst Mayr, pemimpin evolusionis lain, membuat pernyataan ini:
“”Tetap saja tidak boleh dilupakan, bahwa mutasi adalah sumber pokok dari semua variasi genetic yang ditemukan di populasi alamiah dan satu-satunya bahan mentah yang tersedia supaya seleksi alam dapat terjadi.” (Animal Species and evolution, p. 170)

Tetaplah ingat dengan jelas: evolusionis berkata bahwa mutasi memang penting untuk menyediakan peningkatan spesies yang tidak dapat ditawar, yang berubah dari bentuk yang sederhana kepada bentuk yang lebih kompleks. TETAPI – fakta ilmiahnya adalah mutasi TIDAK PERNAH dapat memenuhi kebutuhan evolusi, karena beberapa alasan. Semua ilmuwan setuju, mutasi sangat jarang terjadi. Huxley menebak bahwa hanya sekitar satu dari ratusan ribu adalah mutant. Kedua, ketika mutasi terjadi, mutasi yang terjadi hampir pasti menjadi hal yang berbahaya atau mematikan bagi organisme yang mengalaminya. Dengan kata lain, kebanyakan mutasi menyebabkan kepunahan dibandingkan evolusi; mutasi membuat organisme menjadi lebih buruk, bukannya lebih baik. Huxley menambahkan: “Mayoritas gen mutan memberi pengaruh berbahaya bagi organisme” (Ibid p. 39)

Ilmuwan lain, termasuk Darwin sendiri, mengakui bahwa kebanyakan mutan bersifat resesif dan degeneratif; oleh karena itu, sesungguhnya mutan akan tereleminasi dalam seleksi alam, dibandingkan mempengaruhi peningkatan yang signifikan dari organisme. Profesor G.G. Simpson, salah seorang jurubicara elit evolusi, menulis tentang berkali-kali mutasi yang terus menerus, dan melaporkan bahwa kemungkinan matematis untuk mendapatkan hasil evolusi yang baik hanya terjadi sekali dalam 274 milyar tahun! Dan hal ini mengasumsikan 100 juta individu menghasilkan generasi baru setiap hari! Dia menyimpulkan dengan berkata:

“Dengan jelas… proses yang demikian tidak memainkan bagian apapun dalam evolusi”(The Major Features of Evolution, p. 96)

Apakah ini terdengar membingungkan? Mereka berkata bahwa mutasi diperlukan untuk membuat perubahan- perubahan yang diperlukan teori mereka, namun mereka harus mengakui bahwa secara ilmiah mutasi berulang kali tidak mungkin untuk membuat perubahan. Hal yang membingungkan ini adalah hal yang khas dan membuat teman-teman evolusi kita berusaha untuk menjunjung teori yang meledak. Jadi pokok kontradiksi kedua dengan ilmu pengetahuan sejati telah ditetapkan.

Mutasi, tentu saja, menyebabkan perubahan minor pada spesies dasar, namun perubahan-perubahan itu terbatas, dan tidak pernah menghasilkan family baru. Mereka dapat menjelaskan aneka ragam baik tumbuhan dan hewan, tetapi tidak pernah dapat menjelaskan penciptaan spesies dasar yang diperlukan evolusi.

Fosil mendukung Paham Penciptaan

Karena kita menemukan bahwa catatan fosil tidak memberi dukungan pada paham bahwa spesies berubah secara bertahap menjadi spesies lain, mari kita lihat apakah fosil terbukti selaras dengan Alkitab. Sepuluh kali di kitab Kejadian kita membaca titah Tuhan berkenaan reproduksi dari ciptaan-Nya – “menurut jenisnya.” Kata ‘jenis’ menunjukkan spesies, atau famili. Setiap famili yang diciptakan hanya menghasilkan jenisnya sendiri. Hal ini selamanya menghalangi proses perubahan mengapung yang diperlukan evolusi organic, dimana satu spesies berubah menjadi spesies lain.

Ingatlah bahwa Tuhan tidak berkata tidak dapat terjadi perubahan didalam famili. Dia tidak menciptakan semua ragam anjing, kucing, kuda, dll pada mulanya. Hanya ada sepasang jantan dan betina dari setiap spesies, dan banyak perubahan yang terjadi setelahnya untuk menghasilkan aneka jenis yang luas didalam famili. Tetapi ingatlah dengan jelas bahwa kucung tetap menjadi kucing, anjing tetap menjadi anjing, dan manusia tetap menjadi manusia. Mutasi hanya bertanggungjawab atas munculnya varietas baru dalam spesies yang sama, tetapi tidak pernah menghasilkan jenis lain yang baru. Pembiakan selektif juga membawa peningkatan yang dahsyat seperti sapi tanpa tanduk, kalkun putih, dan jeruk tanpa biji, tetapi semua organisme tetap menghasilkan seperti yang Tuhan titahkan pada penciptaan – menurut jenisnya.

“Nenek moyang bersama” yang diperlukan evolusi tidak pernah ada. Tidak ada “hubungan yang hilang”. Manusia dan monyet diduga berasal dari leluhur hewan yang sama! Bahkan simpanse dan banyak kelompok monyet berbeda-beda dengan dahsyat. Ada yang cerdas, yang lain dungu. Beberapa memiliki ekor yang pendek dan yang lain panjang. Yang lain tidak memiliki ekor sama sekali. Gigi mereka jumlahnya berbeda-beda. Beberapa memiliki ibu jari dan yang lain tidak. Gen mereka berbeda. Darah mereka berbeda. Kromosom mereka tidak bersesuaian. Cukup menarik, siamang hanya berkembang biak dengan siamang, simpanse dengan simpanse, dan monyet dengan monyet.

Namun ketika kita mulai membandingkan manusia dengan monyet, nampak bahwa lebih banyak perbedaan tidak mungkin dibandingkan diantara jenis-jenis kera. Faktanya, perbedaan-perbedaan ini merupakan dukungan yang tak dapat disangkal akan aturan Alkitab “menurut jenisnya”. Fakta bahwa beberapa monyet dapat dilatih untuk merokok pipa, mengendarai skuter, atau bahkan mengangkat sebuah tabung uji di laboratorium tidak membuktikan bahwa para ilmuwan adalah hewan yang berkembang, atau bahwa monyet adalah manusia yang terlambat berkembang.

Sudah dinyatakan bahwa evolusionis mengharpakan catatan fosil untuk mendukung teori perubahan spesies mereka. Ajaran mereka membutuhkan reptile bersisik dalam jumlah banyak mengubah sisik mereka menjadi bulu dan kaki depan mereka menjadi sayap. Reptil lain diharapkan berubah menjadi hewan berkaki-empat yang berbulu. Apakah mereka menemukan ribuan makhluk yang banyak berubah? Tidak ada satupun! Tidak peduli di lapisan mana mereka ditemukan, semua fosil dikenali dengan mudah dan dikelompokkan sesuai familinya sendiri, seperti yang Tuhan titahkan. Jika ajaran evolusi benar, strata akan dipadati dengan ratusan juta bentuk transisi yang memiliki ciri dari dua spesies atau lebih. Bukan hanya itu, namun akan ada berjuta-juta makhluk yang hidup sekarang berada dalam proses perubahan ke bentuk yang lebih tinggi. Darwin mengaku:

“Ada dua atau tiga juta spesises di bumi. Sebuah medan yang cukup bagi pengamatan; namun harus dikatakan sekarang berdasarkan hasil yang diperoleh pengamat-pengamat terlatih, tidak ada satupun spesies yang berubah menjadi spesies lain yang tercatat.” (Life and Letters, vol. 3, p. 25).

Sungguh menarik! Lalu mengapa mereka bersikeras demikianlah yang terjadi? Inilah hal mengherankan dari mereka yang berpegang pada teori tradiisonal. Walaupun bentuk fosil paling kuno di dasar paling rendah tetaplah sama dengan ciri-ciri pada bagian yang sama di dunia modern, sungguh menggelikan mendengar seruan keterkejutan para evolusionis. Mereka yang meyakini penciptaan tidaklah terkejut sama sekalu. Alkitab-Nya berkata demikianlah adanya, dan mereka tidak dipaksa untuk kebingungan diantara bukti yang bertolak belakang.

Misteri Strata yang Kosong

Kebingungan yang lain bagi evolusionis yang malang ialah kasus strata kosong yang aneh. Ketika seseorang menggali bumi, satu demi satu lapisan atau stratum akan tersingkap. Kadang kita dapat melihat lapisan-lapisan terbuka dengan jelas di sisi sebuah gunung atau potongan dari alas jalan. Para geologis memberikan nama kepada rangkaian strata yang menumpuk satu sama lain. Contohnya, menurun hingga Grand Canyon, seseorang akan bergerak turun melalui, Mississippi, Devonian, Cambrian, dll, sebagaimana para ilmuwan melabeli mereka.

Sekarang inilah kebingungan para evolusionis. Cambrian adalah stratum terakhir pada tingkat-tingkat menurun yang memiiki fosil didalamnya. Seluruh strata yang lebih rendah dari Cambrian tidak memiliki catatan fosil kehidupan selain jenis-jenis sel tunggal seperti bakteria dan gangga. Kenapa tidak ada? Lapisan Cambrian penuh dengan jenis-jenis utamaa hewan yang ditemukan sekarang kecuali vertebrata. Dalam kata lain, tidak ada yang primitif dari struktur fosil paling kuno yang manusia ketahui. Utamanya, mereka sebanding dengan kompleksitas makhluk hidup sekarang. Tapi pertanyaan besarnya adalah: dimana leluhur mereka? Dimana makhluk-makhluk yang berkembang hingga menjadi fosil ini? Menurut teori evolusi, lapisan Precambrian seharusnya dipenuhi dengan bentuk-bentuk yang lebih primitif dari fosil Cambrian dalam proses perubahan dan peningkatan.

Darwin mengakui dalam bukunya, Origin of The Species:

“Saya tidak dapat memberi jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan mengapa kita tidak menemukan deposit yang menyimpan fosil pada lapisan-lapisan yang diasumsikan periode paling awal sebelum sistem Cambrian… kasus ini harus tetap tidak dapat dijelaskan; dan dapat sungguh didesak sebagai argument yang sah bagi pandangan-pandangan yang disajikan disini.” (p.309)

Sungguh ajaib! Darwin mengakui tidak ada cara untuk membela teorinya, tetapi dia tetap tidak akan menyesuaikan teorinya untuk memenuhi argument yang tidak terjawab terhadapnya.

Banyak ilmuwan evolusionis lain yang menunjukkan kekecewaan dan kebingungan serupa. Dr. Daniel Axeliod dari University of California menyebut itu:

“Salah satu masalah utama geologi dan evolusi yang tak terpecahkan.” (Science, July 4 1958)

Dr. Austin Clark dari Musium Nasional AS menulis tentang fosil Cambrian:

“Nampaknya sangat aneh… moluska adalah moluska tidak salah lagi seperti moluska sekarang” (The New Evolution: Zoogenesis, p. 101).

Drs. Marshall Kay dan Edwin Colbbert dari Columbia University dalam heran berkata:

“Mengapa bentuk-bentuk organic yang kompleks ada pada batuan kira-kira 600 juta tahun dan tidak ada atau tidak dikenali pada catatan di dua milyar tahun sebelumnya? Jika evolusi kehidupan benar-benar ada, tidak adanya fosil yang diperlukan pada batuan yang lebih tua dari Cambria sungguh membingungkan.” (Stratigraphy and Life History, p. 102).

Georger Gayford Simpson, “Putera Mahjkota Evolusi”, meringkaskan:

“Munculnya kehidupan secara tiba-tiba bukan hanya menjadi ciri khas yang paling membingungkan dari seluruh catatan fosil, tetapi juga adalah kekurangannya yang paling jelas.” (The Evolution of Life, p.144).

Didepan semua pengakuan yang dipaksakan yang gagal menemukan bukti ilmiah pendukung, bagaimanakah ilmuwan-ilmuwan ini tetap bertahan dengan dogmatis pada pandangan mereka yang goyah? Tidak heran, mereka berjuang untuk menjaga mahasiswa mereka dari argument yang berlawanan. Posisi mereka akan hancur dibawah investigasi penelitian yang jujur dan tidak berpihak.

Tidak adanya fosil precmbrian menunjukkan sebuah fakta besar, yang tidak dapat diterima oleh evolusionis – aksi kreatif Tuhan yang membuat ada semua ciptaan utama dalam waktu yang sama. Pernyataan mereka bahwa penciptaan tidak ilmiag dibuat hanya untuk menjadi kamuflase dari kurangnya bukti yang benar. Data ilmiah fisik lebih banyak yang mendukung penciptaan, bukan evolusi.

Keseragaman atau Banjir?

Pokok mengenai dasar strata menuntun pada pertanyaan menarik mengenai bagaimana lapisan-lapisan ini terbentuk dan mengapa evolusionis memperkirakan umur lapisan ini milyaran tahun. Penanggalan lapisan-lapisan ini dilakukan dengan dasar teoti keseragaman. Teori ini mengasumsikan bahwa semua proses alam yang bekerja di masa lalu beroperasi tepat seperti hari ini. Dengan kata lain, munculnya strata-strata ini hanya dapat dijelaskan didasarkan apa yang kita lihat terjadi hari ini. Para ilmuwan harus mengkalkulasi berapa lama sedimentasi terjadi untuk membentuk sebuah strata sedalam satu kaki. Kemudian waktu tersebut digunakan pada setiap lapisan sepanjang 12 inci, tidak peduli berapa dalamnya lapisan tersebut berada di dalam bumi.

Apakah ini merupakan sebuah asumsi yang valid? Apakah semua gaya alamiah di masa lalu adalah juga gaya yang dapat didemonstrasikan dan dimengerti hari ini? Sungguh naïf dan angkuh untuk memaksa masa lalu agar sesuai dengan pengamatan dan pengalaman kita yang yang terbatas! Kita dapat mengasumsikan apa saja, namun itu tidak membuktikan apapun selain sifat kita yang mudah tertipu. Alkitab menjelaskan dengan nyata tentang Air Bah yang membinasakan permukaan bumi, menutupi pegunungan tertinggi dan menghancurkan seluruh tumbuhan dan hewan yang hidup di luar bahtera. Tindakan merusak Air bah dinyatakan demikian dalam Alkitab:

“Pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit. Dan turunlah hujan lebat meliputi bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya.” (Kejadian 7:11,12)

Munculnya strata-strata dapat dijelaskan secara ilmiah selaras dengan catatan Alkitab. Air Bah universal di Kitab Kejadian memberi penjelasan yang jauh lebih masuk akal tentang strata disbanding spekulasi evolusi. Sementara air menyusut dari bumi, pasang surut arus air mengukir ngarai yang besar dalam waktu singkat. Lapisan puing-puing, menurut berat tertentu, ditempatkan, memampatkan hewan dan tumbuhan menjadi sebuah lapisan atau stratum. Demikianlah yang dapat kita jelaskan mengenai banyaknya cadangan minyak dan batubara di seluruh dunia. Minyak dan batubara adalah hasil dari vegetasi dan bangkai hewan yang terkubur dalam panas dan tekanan yang ekstrim. Tidak ada proses pembentukan fosil hari ini. Tidak ada juga gaya alamiah yang bekerja sekarang membentu minyak dan batubara. Teori keseragaman gagal disini.

Faktanya adalah, pernah terjadi bencana alam dahsyat yang menjungkirbalikkan alam, membunuh dan mengubur jutaan ton tanaman dan hewan. Posisi beberapa fosil yang berdiri tegak melalui sebuah atau beberapa strata menunjukkan bahwa ini bukanlah proses yang lambat atau dalam waktu yang lama. Material ditumpuk dengan cepat di sekitar tubuh hewan, atau hewan tersebut tidak dapat tetap berada dalam posisi tegak. Air Bah mengubur jutaan ikan, banyak diantaranya berubah bentuk seakan-akan mengalami sebuah gaya fenomenal. Fosil-fosil yang berhubungan dengan laut telah ditemukan dari jangkauan pegunungan tertinggi, dan daftar dari bukti-bukti ilmiah lain menunjukkan sebuah air bah universal yang terjadi di seluruh planet bumi.

Yang Paling Kuat Yang Bertahan

“Seleksi alam” adalah sebuah ungkapan yang dibuat para evolusionis untuk menjelaskan bahwa yang paling kuat yang akan bertahan. Sederhananya, ini adalah sebuah proses alamiah yang memungkinkan yang paling kuat di setiap generasi untuk bertahan dan yang lebih lemah, yang lebih buruk dalam proses penyesuaian mati. Asumsi evolusi adalah karena hanya yang paling kuat yang bertahan untuk menjadi induk dari generasi selanjutnya, spesies akan berangsur-angsur menjadi lebih baik, bahkan berkembang menuju keadaan yang lebih terkembang pada ukuran evolusi.

Darwin meyakini bahwa seleksi alam adalah factor yang paling penting dalam pengembangan teorinya. Banyak guru-guru unggulan evolusi hari ini berselisih mengenai betapa pentingnya teori ini. Sir Julian Huxley mempercayanya, dan pernyataan ini menunjukkannya:

“Sejauh yang kita ketahui… seleksi alam… adalah satu-satunya agen evolus yang efektif.” (Evolution in Action, p. 36).

Dia dibantah oleh seorang kaliber di bidang ini, Dr. Ernst Mayr.

“Seleksi alam tidak lagi diperhitungkan sebagai sebuah proses semua-atau tidak ada, namun murni sebagai sebuah konsep statistika.” (Animal Species, p. 7).

G.G Simpson, yang diperhitungkan sebagai juru bicara utama teori ini sekarang, menolak pandangan-pandangan yang bertentangan ini. Dia berkata,

“Pencarian penyebab evolusi telah ditinggalkan. Sekarang jelas bahwa evolusi tidak memiliki satu pun penyebab. ” (The Geography of Evolution, p. 17).

Ngomong-ngomong, ketika Anda membaca kesatuan dan persetujuan yang besar diantara para ilmuwan sehubungan evolusi, jangan meyakini hal tersebut. Setiap orang sedang sibuk bereksperimen dengan kemungkinan spekulasi baru tentang bagaimana perubahan terjadi dalam evolusi dan lalu meninggalkannya ketika hal tersebut nampak lebih dan lebih menggelikan. Satu prinsip dasar yang mereka setujui bersama ialah bahwa tidak ada kemampuan cipta Ilahi seperti yang dijelaskan dalam Alkitab.

Mari kembali ke seleksi alam. Apa buktinya bahwa seleksi alam dapat benar-benar menghasilkan semua perubahan yang terlibat dalam transisi amoeba menjadi manusia? Adakah bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa seleksi alam dapat membuat bahkan hanya satu perubahan kecil? Ketika pertanyaan ini muncul, juru bicara evolusi memilih kata-kata yang paling indah dan membuat pengakuan paling menkjubkan. Meskipun Simpson mendukung seleksi alam sebagai sebuah faktor, dia menyadari kurangnya bukti dari pernyataan tersebut.

“Adalah hal yang dapat diperdebatkan, bahwa teori ini kurang kuat dan hanya berstatus sebagai sebuah spekulasi.” (Major Features, pp. 118, 119).

Tetapi lihatlah cara berpikir Huxley yang tidak berujung, dia berkata:

“Didasarkan pada pengetahuan kita sekarang, seleksi alam bertujuan menghasilkan adaptasi genetic: dan adaptasi genetik dianggap sebagai bukti bagi efisiensi seleksi alam.” (Evolution in Action, p. 48)

Apakah Anda mengikuti logikanya? Bukti bagi seleksi alam adalah aadaptasi atau perubahan pada organisme, tetapi perubahan tersebut disebabkan seleksi alam! Dengan kata lain: karena A=B; maka B=A. ‘Bukti” ini tidak membuktikan apapun. Apakah perubahan dihasilkan oleh seleksi alam atau apakah dia menemukan seleksi alam untuk menjelaskan perubahan? Ini seperti kemungkinan besar bahwa perubahan menghhasilkan teori seleksi alam. Lucunya, perubahan dari satu spesies ke spesies lainnya tidak pernah diverifikasi. Seperti yang telah ditunjukkan sebelumnya, tidak secarik bukti fosil ataupun bukti yang hidup bahwa ada spesies yang pernah berubah menjadi spesies lain. Jadi bukti seleksi alam Huxley adalah perubahan yang tidak pernah terjadi, dan perubahan yang tidak pernah terjadi diajukan sebagai bukti seleksi alam. Sesungguhnya inilah kebanyakan bukti kosong yang ditemukan dalam buku pelajaran ilmu pengetahuan.

Namun mari kita lanjutkan dengan penjelasan Sir Julian mengenai keandalan proses seleksi alam:

“Untuk meringkaskan, seleksi alam mengubah hal yang acak menjadi terarah dan peluangyang buta menjadi tujuan yang nyata. Ini berjalan dengan bantuan waktu untuk menghasilkan peningkatan pada mesin kehidupan, dan proses ini menghasilkan lebih dari ketidakmungkinan astronomi yang tidak dapat dicapai dengan cara lain.” (Evolution in Action, pp. 54, 55).

Jangan lupakan kekuatan kalimat terakhir. Perubahan evolusi yang dibuat seleksi alam adalah “tidak mungkin secara astronomi”, namun karena rekan kita Huxley tidak melihat cara lain untuk melakukannya, dia meyakini ketidakmungkinan astronomu. Sungguh malang! Dia salah ketika dia mengatakan kehidupan yang teratur dan rumit yang adaa sekarang tidak dapat dicapai dengan cara lain. Tuhan menciptakan keajaiban sel dan gen dan jutaan proses lain yang membuat pemenang hadiah Nobel terheran-heran.

Namun, karena Sir Julian tidak meyakini penciptaan Ilahi, dia harus menemukan sebuah proses keajaiban yang bekerja untuk menjelaskan terciptanya makhluk hidup yang kompleks – yang nyatanya ada disini begaimanapun caranya. Untuk menggambarkan kemahakuasaan tuhan ‘seleksi alam’, Huxley menghitung kemungkinan terjadinya proses tersebut. Perhitungan dilakukan dengan kemungkinan besar setiap faktor evolusi mampu memproduksi seekor kuda. Ingatlah ini semua adalah pengembangan kemungkinan melalui operasi alam, waktu, mutasi dan seleksi alam. Dalam bukunya, Evolution in Action, Huxley menjelaskan kemungkinan tersebut demikian:

“Angka 1 dengan tiga juta nol setelahnya: ini memerlukan tiga tumpuk kertas, yang masing-masing 500 halaman,hanya untuk mencetaknya!… Tidak ada yang akan bertaruh bahwa hal yang sangat tidak mungkin ini terjadi; namun itu telah terjadi. ” (p.46)

Sebelumnya kita telah mengomentari iman para evolusionis yang mempercayai hal yang tidak mungkin terjadi. Karena peggabungan dari kemungkin singkatnya ialah nol, bagaimana sebuah pemikiran ilmiah, tanpa adanya bukti yang ditunjukkan, menjadi sangat dogmatis dalam mempertahankan teorinya? Mengapa Huxley menggunakan rumus matematika untuk menggambarkan ketidakmungkinan untuk teorinya bekerja? Mungkin dia menggunakan angka-angka ini untuk menekankan kesaksian pribadinya. Seperi seorang Kristen yang lahir baru yang mencari kesempatan untuk membawa kesaksian pribadi tentang iman mereka dalam Kristus, Huxley melumpuhkan kemungkinan ilmiah dari teorinya untuk memperkuat aspek iman pribadi dari kesaksian pribadinya bagi tuhan evolusi.

Marshall dan Sandra Hall dalam buku mereka The Truth – God or Evolution membagi reaksi mereka terhadap iman Huxley yang absurd dalam peluang munculnya seekor kuda. Ini akan memberi puncak bukti yang sesuai mengapa evolusi gagal dalam uji ilmu pengetahuan.

“Dan mari kami ingatkan Anda kembali yang menemukan peluang tersebut menggelikan (bahkan jika Anda diyakinkan oleh Mr. Huxley), bahwa angka ini dihitung bagi evolusi seekor kuda! Betapa banyak angka nol lagi yang Mr. Huxley perlukan untuk memproduksi seorang manusia? Dan jika Anda memiliki hanya seekor kuda dan seorang manusia, kecuali seorang matematikawan hendak menjumlahkan kemungkinan untuk evolusi seluruh tumbuhan dan hewan yang diperlukan untuk mendukung seekor kuda dan manusia, Anda hanya akan memiliki sebuah dunia yang kosong dimana tidak ada apapun yang bertahan dalam tahapan evolusi apapun! Apa yang kita miliki sekarang – sebuah angka 1 diikuti oleh ribuan rangkaian angka nol? Lalu tambahkan ribuan rangkaian lainnya untuk ketidakmungkian bumi memiliki semua kekayaan ang diperlukan supaya ada kehidupan didalamnya. Lalu tambahkan ribuan tangkaian lainnya untuk ketidakmungkinan munculnya matahari, bulan dan bintang. Lalu tambahkan ribuan lainnya untuk evolusi semua pemikiran yang manusia miliki,semua obyektivitas dan subyektivitas kenyataan bahwa pasang surut dalam hidup kita seperti bagian dari degupan kosmos yang tidak dapat diduga!

Jumlahkan mereka semua dan Anda telah lama berhenti berbicata tentang pemikiran rasional, dengan lebih sekiti bukti ilmiah. Namun Simpson, Huxley, Dobzhansky, Mayr dan lusinan lainnya terus memberi tahu kita cara seharusnya itu terjadi! Mereka telah mundur dari semua pokok yang pernah dipinjam untuk persamaan kredibilitas teori evolusi. Sekarang mereka menyibukkan diri dengan perumusan matematika esoteric yang didasarkan populasi genetika, penyimpangan acak, isolasi, dan cara-cara lain yang memiliki kemungkinan bagi kehidupan di bumi sebesar nol! Mereka mengacaukan perpustakaan kita, dan menekankan ke pemikiran orang dimana saja sebuah gambaran teori berlapis lilin yang menyenangkan yang telah mati dekade lalu. Evolusi tidak memiliki hak apapun untuk menjadi ilmu pengetahuan. Ini saatnya untuk semua omongkosong berhenti. Ini saatnya mengubur bangkai. Ini saatnya untuk menggeser buku-buku fiksi menggelikan dari perpustakaan-perpustakaan. ” (pp. 39, 40).

Contoh-contoh kebodohan evolusi ini hanyalah ujung dari gunung es, namun mereka meyakinkan kita bahwa kita tidak memiliki alasan apapun untuk menjadi malu karena iman kita terhadap penciptaan. Jutaan orang Kristen terintimidasi oleh teknik bahasa bersuara tinggi yang digunakan para evolusionis yang terpelajar, banyak diantaranya sangat tajam dalam serangan mereka terhadap penciptaan khusus. Apa yang kita perlukan adalah informasi yang lebih untuk mengungkapkan jerat-jerat teori evolusi; ini didasarkan pada inkonsistensi yang tidak ilmiah dan berbelit-belit, sering disembunyikan dibawah istilah ilmiah yang berbelit-belit.

Untuk mengikuti asal usul kita hingga anak-anak Adam, “yang adalah anak Tuhan” jauh lebh memuaskan daripada mencari melalui rawa yang suram untuk memanggil nenek moyang ber sel tunggal. Ras manusia telah jatuh, bahkan di masa kita, beberapa derajat lebih dalam kepada kesesatan moral dan kekacauan yang kasar. Humanis mengatakan bahwa leluhur manusia yang adalah hewan sebagai alasan perilaku yang aneh ini. Mengapa menyalahkan manusa untuk tindakan yang didikte oleh gen dan kromosom hewani mereka? Rasionalisasi ini, seperti permohonan sementara yang gila, menyediakan kebebasan untuk tindakan lebih jauh yang tidak bertanggungjawab. Penyebab yang benar dari kejahtan dan obatnya yang sejati hanya ditemukan dalam Firman Tuhan. Dosa telah menodai citra Tuhan didalam manusia, dan hanya pertemuan pribadi dengan Juruselamat yang sempurna akan membalikkan masalah kejahatan.

Leave a Reply