Edisi 17 Agustus

Aneka Tulisan Bait, 17 Agustus 2013

Menjadi Pemenang Abadi
Oleh: Pdt. Sammy Lee

Pada waktu anak saya lahir, saya berikan nama kepadanya Victor, yang tentu para pembaca semua tahu artinya, “Pemenang.” Dan ibunya menamakan Dia Lie Sheng Li 李勝利 , dalam bahasa Mandarinnya, yang juga sama artinya. Saya ingin dia tidak pernah menyerah kalah dalam peperangan hidup ini. Karena ada orang yang pintar meramal berkata, bahwa dia akan selalu mengalami banyak tantangan dan tendangan dalam hidup ini.

Sebenarnya Tuhan juga sudah mengamarkan kepada kita sebagai pengikut-pengikut-Nya bahwa kita akan menghadapi banyak tantang, rintangan dan terjangan badai dalam hidup ini. Terlebih lagi kita yang hidup pada akhir zaman dimana Setan akan sangat meledak amarahnya karena dia tahu waktunya sudah dekat dia akan mengalami kebinasaan. Wahyu 12:10,11. Jadi satu-satunya cara kita bisa menang adalah kalau kita bersatu dengan dia dan mengikuti jejak-Nya.

Tuhan menginginkan kita semuanya harus jadi Pemenang Ulung dan Unggul bersama dengan Dia. Dan satu-satunya cara ini bisa tercapai adalah kalau kita bersalut dengan Dia dan tidak pernah bimbang atau pun sombong berpikir bahwa kita bisa menang dan berhasil dalam hidup tanpa Dia. Kita harus menang dengan darah anak domba dan dengan tekad bulat kalau pun kita harus meletakkan nyawa kita, dalam menjadi saksi-Nya yang setia, kita akan rela lakukan itu.

Hanya kalau kita bertekad seperti ini kita akan bisa mengalami kemenangan dalam pertarungan hidup yang akbar dan mencakup alam semesta ini. Janji-Nya adalah (Wahyu 3:21) “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku diatas takhtaNya.”

Rasul Paulus menguraikan ini lebih lanjut dalam 2 Korintus 2:14 dengan menggunakan istilah-istilah kesusasteraan dan filsafat politik di zaman dia hidup, yaitu di masa pemerintahan Kerajaan Romawi. “Tetapi syukur kepada Allah, yang didalam Kristus selalu membawa kita di jalan kemenangan-Nya.” Perhatikan kata “selalu” dalam ayat di atas. Didalam Yesus kita bisa menjadi pemenang abadi dalam segala pergumulan hidup.

Paulus menuliskan suratnya ini tidak lama setelah mengalami bencana maut yang hampir merengutkan hidupnya dalam kematian di kota Efesus. Namun dia sudah diluputkan oleh Pelindugnya. Kemudian dia menggambarkan kemenangannya itu dalam kata-kata yang selalu dengan bangga digunakan penulis sejarah di zamannya ketika menyampaikan kabar tentang akhir peperangan yang gemilang dari para jendral perang tentera Romawi apabila mereka kembali dengan kemenangan gemilang dalam sebuah kampanye peperangan. Begitulah dia menggambarkan orang2 Kristen yang sudah menggabungkan diri mereka di bawah panji Kristus, akan dengan bangga dan bahagia berbaris dibelakang Jendral Bala Tentara Sorga, memasuki kota Yerusalem Baru nanti. Kita akan telah mencapai kemenangan dalam peperangan yang terbesar di alam semesta.

Paulus memandang ke depan pada saat kita yang sudah mengalami kemenangan karena sudah berjuang bersama Kristus, dengan pengorbanan darahNya, yang memberikan kita semangat dan kuasa untuk menang dalam peperangan yang bagaimana pun hebatnya. Bukan dengan kuasa kita sendiri, melainkan karena kita sudah mempersatukan hidup kita dengan Dia. Ada orang-orang yang berpikir bahwa kita tidak mungkin menang dari pencobaan hidup dan akan selalu berdosa dan berlumuran kejahatan terus sampai akhir hidup kita. Tapi Injil Kelima, yaitu buku Wahyu, yang seharusnya dinamakan “Pengungkapan dari Yesus Kristus” dengan jelas dan tegas, bahwa orang-orang saleh yang akan berbahagia hadir dalam Pesta Perjamuan Nikah Anak Domba, nanti, adalah orang-orang yang sudah berhasil memenangkan pergumulan dan peperangan hidup sebagai orang-orang yang dengan kuasa Kristus sudah menjadi orang-orang saleh yang benar. Sebagai pengantenNya kita harus dan akan mengalami kemenangan dari segala pencobaan iblis untuk terus berbuat dosa. (Wahyu 19:7,8) “Marilah kita bersukacita dan bersorak sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dn pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!” [Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.”

Kain lenan itu terbuat dari kapas yang terpilih, dan bersih. Itu melambangkan suatu pekerjaan yang berat, dan penuh pengorbanan. Para petani yang menanam kapas itu harus kerja keras, dan waktu menuai kapas itu tangan mereka akan mendapat luka kalau tersentuh duri dari kapas itu. Tapi hasilnya adalah kain lenan yang halus putih bersih dan berkilauan sangat indah. Jadi ini juga harus menjadi kerinduan dan jaminan kita untuk menang dan selalu menang bersama Kristus sang Pemenang yang tidak pernah dikalahkan itu! Kemenangan dari kesombongan, kecemburuan, cinta diri sendiri dan lain sebagainya yang merupakan panah-panah setan untuk menaklukkan dan membinasakan kita.. ***

Media massa memainkan peranan yang sangat besar dalam menyalurkan aspirasi kepada publik tujuan. Media masa-pun memiliki peran dalam membentuk opini publik sehingga penguatan pendapat dari sumber informasi dimana publik akan semakin meyakini kebenaran informasi tersebut. Media massa punya wartawan dengan kemampuan investigasi yang tajam guna membongkar kebijakan pemimpin yang merugikan masyarakat banyak. Peranan media masa semakin tajam bila didukung oleh LSM dengan peran advokasi.

Berkaitan dengan media massa dan LSM yang sejatinya merupakan paduan yang pas, maka Dwi Joko Diwiyanto dalam bukunya “Jalan Panjang Mengobah Kebijakan Publik” mengatakan bahwa kolaborasi antara keduanya sebagai ramuan “racun mematikan”.
Advokasi pada dasarnya merupakan usaha yang sistimatis dan terorganisir untuk mendesak lembaga-lembaga pengambil kebijakan agar merobah kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan umum atau berjuang untuk memposisikan masyarakat untuk turut ambil bagian dalam proses pengambilan keputusan melalui perencanaan partisipatif.

Sebenarnya kegiatan advokasi menjadi penting bagi masyarakat marginal karena mereka memiliki keterbatasan dalam menyuarakan kepentingan kelompoknya apalagi sering terjadi kemacetan komunikasi antara masyarakat dan wakil rakyat, inilah yang medorong para pegiat LSM melakukan advokasi.

Sering kita menyaksikan efektifnya advokasi yang dilakukan LSM, sehingga terciptanya perobahan pola pikir kelompok masyarakat, bahkan masyarakat diberdayakan secara ekonomi, maupun politik, mereka lantas menyadari hak dan kewajibannya dan berani mengemukakan pendapat secara baik. Dalam hal ini advokasi dipandang sebagai instrumen perobahan bagi masyarakat.
Untuk melakukan advokasi dibutuhkan keterpaduan berbagai elemen termasuk pengembangan jaringan multistakeholders: individu maupun organisasi yang memiliki kapasitas dan kepakaran pada bidangnya, artinya kemitraan menjadi kekuatan yang dapat meretas perobahan.

Dalam masyarakat tradisional yang memiliki keterbatasan pendidikan, perlu dilakukan advokasi agar mereka memiliki kesadaran untuk bangkit memperjuangkan hak-haknya, dilain pihak advokasi pada masyarakat yang maju perlu juga dilakukan sebagai kekuatan yang dapat memperjuangkan kepentingan tertentu dalam masyarakat.

Oleh karena itu kemitraan dapat melahirkan perobahan, sebab dalam kemitraan ada interaksi dan pembelajaran serta dapat mengisi ruang-ruang kosong antar pihak. Untuk memperkuat sebuah perjuangan dibutuhkan advokasi. Melalui advokasi kolaboratif akan terciptanya akses ke berbagai sumber daya seperti: finansial, pengetahuan dan ketrampilan, serta informasi.

Pers sangat berperan dalam setiap proses advokasi. Jangkauan media menembus ke seluruh pelosok dan lapisan masyarakat. Setiap peristiwa dengan cepat dipublikasikan untuk dibaca dan didengar oleh masyarakat. Disisi lain media juga punya kemampuan mempengaruhi persepsi serta perilaku masyarakat. Oleh karena itu pers mesti menjadi sarana pendukung advokasi. Pers menjadi daya gedor nurani para pengambil kebijakan untuk menempatkan kepentingan masyarakat untum di atas kepentingan pribadi dan golongan. Pertanyaannya adalah bagaimana menjadikan media sebagai sarana pendukung advokasi.

Bagaimana dengan fungsi pers gereja ? Sampai sejauh ini pers gereja adalah pers yang sepenuhnya mendukung organisasi gereja. Apa yang dilakukan oleh dunia pers gereja diyakini tidak boleh berseberangan dengan kegiatan organisasi gereja, namun era 2000-an terjadi perubahan besar-besaran ketika dunia pers yang selama ini hanya melalui media cetak, radio dan televise berubah ketika internet mengambil peranan yang sangat besar. Kecepatan informasi melalui internet mendorong pertumbuhan yang sangat signifikan media ini. Koran online, majalah online dengan berbagai versi terus membanjiri maasyarakat tidak terkecuali dunia gereja. Sebut saja Kadnet yang sudah mengudara sekitar 15 tahun terakhir. BAIT pun segera akan memasuki tahun ke 6 dalam penyebaran informasi melalui dunia cyber. Belum lagi media social seperti milling list dan facebook menjadi sarana yang sangat efektif dalam penyebaran informasi.

Meskipun dunia cyber dengan bebas dapat digunakan kaum awam namun sebagian besar kalangan gereja tetap meyakini bahwa media internet harus tetap digunakan untuk mendukung program organisasi gereja. Penyimpangan ataupun informasi negatif mengenai gereja dan personil di dalamnya haruslah ditabukan sehingga tidak menjadi batu sandungan bagi pihak lain terlebih mereka yang baru mengalami pertumbuhan iman. Hal itu diaminkan oleh sebagian besar anggota gereja apalagi mereka yang duduk di kursi organisasi tetapi bagi sebagian kalangan yang menjadi pengamat gereja sangat meyakini bahwa organisasi harus terus dikritisi sehingga akan lebih efektif dalam menjalankan misinya. “So musti ada shock terapi kalo dorang ndak mau perhatikan” demikian pendapat salah satu anggota gereja yang pernah melempar isu ke komunitas cyber belum lama ini. Terlepas dari benar tidaknya pendapatnya namun terlihat pihak-pihak yang berkompeten segera mengambil langkah-langkah maju untuk perbaikan.

Semoga saja media dapat mengambil peran yang positif untuk tercapainya perubahan ke arah yang positif dan dengan peran pintarnya dapat meminimize “batu sandungan” bagi anggota jemaat.

Sebagian disadur dari Pos Kupang ***

PEMBAHARUAN (REFORMASI) DI PERANCIS — 12
Kemenangan Akhir – Ellen G. White

Lanjutan ….

Maka ditentukanlah tanggal 21 Januari 1535 tanggal penyelenggaraan upacara itu. Rasa rakut ketakhyulan dan dendam kesumat seluruh bangsa itu telah dibangkitkan. Kota Paris dipadati orang-orang negeri sekitarnya memenuhi jalan-jalannya. Datangnya hari itu disambut dengan sebuah arak-arakan besar yang menakjubkan. “Dari rumah yang ada di sepanjang jalan yang dilalui barisan arak-arakan bergelantungan kain lambang kedukaan, dan mezbah-mezbah dibangun berselang-seling.” Di depan setiap pintu ditempatkan sebuah obor yang sedang menyala sebagai tanda penghormatan kepada “upacara kudus” itu. Sebelum matahari terbit, arak-arakan itu telah disiapkan di istana raja. “Di baris depan terdapat bendera-bendera dan salib-salib dari beberapa gereja, kemudian nampak penduduk yang berjalan berdua-dua sambil membawa obor.” Kemudian menyusul keempat ordo biarawan, masing-masing dengan pakaian mereka yang khas. Lalu menyusul koleksi benda-benda peninggalan masa lalu. Sesudah ini menyusul rohaniawan dengan jubah merah dan ungu dengan perhiasan permata yang berkilau-kilauan.
“Roti ekaristi dibawa oleh uskup Paris yang ditutupi dengan tudung yang megah, . . . ditopang oleh empat orang pangeran upacara berdarah . . . . Di belakang roti itu berjalan raja . . . . Francis I pada hari itu tidak mengenakan mahkota, atau jubah kenegaraan.” Dengan “kepala yang terbuka, matanya melihat ke tanah, dan tangannya memegang lilin yang sedang menyala,” raja Perancis itu tampak “seperti seorang berdosa yang bertobat.” — Wylie, b. 13, ch. 21. Di setiap mezbah ia tunduk merendahkan diri, bukan bagi dosa-dosanya yang mencemarkan jiwanya atau darah orang-orang yang tidak bersalah yang mengotori tangannya, tetapi bagi dosa rakyatnya yang berani mencela upacara misa. Dibelakangnya menyusul ratu dan pejabat-pejabat tinggi negara, yang berjalan berdua-dua, masing-masing membawa obor yang menyala.
Sebagai bagian dari upacara hari itu, raja sendiri memberi amanat kepada pejabat-pejabat tinggi kerajaan di ruangan besar istana keuskupan. Dengan muka sedih ia tampil di depan mereka, dan dengan kata-kata yang lancar ia meratap, “kejahatan, penghujatan, hari kedukaan dan memalukan,” telah datang menimpa bangsa ini. Dan ia menghimbau semua rakyat yang setia untuk membantu membasmi bida’ah yang mengancam kehancuran Perancis. “Tuan-tuan, sebagaimana sebenarnya saya adalah rajamu,” katanya, “jikalau saya tahu salah satu anggota tubuhku diketahui ternoda atau terinfeksi dengan kebusukan, saya akan menyerahkannya kepadamu untuk dipotong . . . . Dan lebih jauh, jika saya melihat salah seorang anak saya tercemar olehnya, saya tidak akan menyayangkannya . . . . Saya akan menyerahkannya dan mengorbankannya kepada Allah.” Air matanya menyumbat kata-katanya, dan seluruh hadirin menangis, dan dengan suara bulat berseru, “Kami mau hidup dan mati demi agama Katolik!” — D’Aubigne, “History of the Reformation in the Time of Calvin,” b. 4, ch. 12.
Kengerian menutupi bangsa yang menolak terang kebenaran. “Kasih karunia yang membawa keselamatan” telah tampak; tetapi Perancis, setelah memandang kuasa dan kesuciannya, setelah beribu-ribu orang yang telah ditarik oleh keelokan ilahi, setelah kota-kota dan desa-desa diterangi oleh sinarnya, telah meninggalkan dan memilih kegelapan lebih dari pada terang. Mereka telah menolak karunia Surgawi yang ditawarkan kepada mereka. Mereka telah mengatakan yang jahat itu baik, dan yang baik itu jahat, sampai mereka jatuh menjadi korban penipuan diri sendiri. Sekarang, walaupun mungkin mereka percaya bahwa mereka sedang melakukan pekerjaan Allah dalam menyiksa umat-umat-Nya, namun kesungguh-sungguhan mereka itu tidak membuat mereka tidak bersalah. Mereka telah dengan sengaja menolak terang yang akan menyelamatkan mereka dari penipuan, dari penodaan jiwa mereka dengan dosa penumpahan darah.
Mereka telah bersumpah untuk menumpas bida’ah di katedral yang besar, dimana hampir tiga abad kemudian, “Dewi Pemikir” akan dinobatkan bangsa itu yang telah menolak Allah yang hidup. Sekali lagi arak-arakan dibentuk dan utusn Perancis pergi memulai pekerjaan yang mereka telah bersumpah untuk melakukannya. “Tiang-tiang gantungan didirikan dalam jarak yang berdekatan, tempat membakar hidup-hidup orang-orang Kristen Protestan tertentu. Dan telah diatur, agar tumpukan kayu api dinyalakan pada waktu raja mendekat, dan arak-arakan harus berhenti meyaksikan pelaksanaan hukuman mati itu.” — Wylie, b. 13, ch. 21. Rincian penganiayaan yang ditanggung oleh saksi-saksi Kristus itu terlalu ngeri untuk diceriterakan kembali, tetapi para korban itu sedikitpun tidak goyah. Pada waktu didorong untuk menarik kembali imannya, seseorang justeru berkata, “Saya hanya percaya pada apa yang dahulu dikhotbahkan oleh para nabi dan rasul-rasul, dan apa yang persekutuan semua orang-orang saleh percayai. Imanku percaya pada Allah yang akan melawan semua kuasa neraka.” — D’Aubigne, “History of the Reformation in the Time of Calvin,” b. 4, ch. 12.
Berulang-ulang arak-arakan itu berhenti di tempat-tempat penganiayaan. Setelah kembali di istana raja darimana arak-arakan itu dimulai, orang-orang ramai itu membubarkan diri, dan raja serta para pejabat tinggi agama pulang, merasa puas dengan pekerjaan hari itu, dan mengucapkan selamat kepada mereka sendiri, dan bahwa pekerjaan yang sekarang dimulai akan diteruskan sampai selesai pembasmian para bida’ah itu.
Injil perdamaian yang telah ditolak oleh Perancis cepat atau lambat pasti akan tercabut, dan akibatnya sungguh mengerikan. Pada tanggal 21 Januari 1793, dua ratus lima puluh delapan tahun sesudah Perancis bersumpah untuk menganiaya para Pembaharu, arak-arakan lain melintasi jalan-jalan kota Paris, dengan tujuan yang sangat berbeda. “Sekali lagi raja menjadi figur utama. Sekali lagi ada kegaduhan dan teriakan. Sekali lagi terdengar teriakan mencari lebih banyak mangsa atau korban. Sekali lagi ada tiang-tiang gantungan atau panggung. Dan sekali lagi pemandangan hari itu ditutup dengan pelaksanaan hukuman yang mengerikan. Louis XVI, yang berjuang melawan para penjaga penjara dan para pelaksana hukuman, diseret ke tempat pelaksanaan hukuman, dan di sini ia dipegangi dengan kuat sampai kampak dijatuhkan memotong lehernya, dan kepalanya yang sudah terpisah dari badan itu bergulir dari atas panggung pelaksanaan hukuman.” — Wylie, b. 13, ch. 21. Bukan hanya raja yang menjadi korban. Didekat tempat yang sama dua ribu delapan ratus orang anak manusia dibinasakan dengan pisau gulotin (alat pemenggal) selama hari-hari berdarah Pemerintahan Teror itu.
Pembaharuan telah menjanjikan kepada dunia ini Alkitab yang terbuka, membukakan ajaran-ajaran hukum Allah, dan mendorong hati nurani manusia. Kasih yang Takterbatas itu telah membukakan kepada manusia ketetapan-ketetapan dan prinsip-prinsip Surga. Allah telah bersabda, “Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.” (Ulangan 4:6). Pada waktu Perancis menolak karunia Surga, ia menaburkan bibit anarki dan kebinasaan. Dan sebagai sebab dan akibatnya adalah Revolusi dan Pemerintahan Teror.
Lama sebelum penganiayaan dibangkitkan oleh selebaran-selebara itu, Farel, sipemberani dan yang rajin telah melarikan diri dari tanah kelahirannya. Ia pergi ke Swis, dan dengan usahanya ia meneruskan usaha Zwingle. Ia membantu majunya gerakan Pembaharuan. Ia menggunakan waktunya selanjutnya di sini, namun ia terus memberikan pengaruh yang menentukan kepada Pembaharuan di Perancis. Pada tahun pertama pengasingannya, usaha-usaha secara khusus ditujukan kepada peyebaran Injil di tanah airnya. Ia menggunakan banyak waktu berkhotbah kepada teman-teman senegaranya dekat perbatasan, dimana dengan kewaspadaan yang tinggi ia memperhtikan pertentangan itu, dan membantu mereka dengan kata-kata dorongan dan nasihat. Dengan bantuan orang-rang yang diasingkan lainnya, tulisan-tulisan para Pembaharu Jerman diterjemahkan kedalam bahasa Perancis, dan bersama-sam dengan Alkitab bahasa Perancis dicetak dalam jumlah yang besar. Buku-buku atau tulisan-tulisan ini dijual secara luas di Perancis oleh para kolportir. Buku-buku itu dijual dengan harga yang lebih rendah kepada para kolportir, sehingga denga keuntungan pekerjaan mereka sanggup meneruska penyebaran buku-buku itu.
Farel memulai pekerjaannya di Swis dengan menyamar sebagai guru sekolah yang sederhana. Ia pergi ke salah satu gereja yang terpencil, dan di sanalah ia membaktikan dirinya mengajar anak-anak. Selain mata pelajaran yang biasa, dengan hati-hati ia memperkenalkan kebenaran Alkitab, dengan harapan melalui anak-anaknya dapat menjangkau orang-orang tua. Ada beberapa orang yang percaya, tetapi imam-imam segera datang untuk menghentikan kegiatan itu, dan orang-orang yang masih percaya kepada ketakhyulan bangkit menentangnya. “Tidak mungkin ini Injil Kristus,” desak para imam, “karena dengan mengkhotbahkannya tidak membawa damai, melainkan perang.” — Wylie, b. 14, ch. 3. Sebagaimana murid-murid yang mula-mula, bilamana dianiaya di suatu kota ia pergi ke kota lain. Dari desa ke desa, dari kota ke kota, ia pergi berjalan kaki menahan lapar, dingin dan keletihan, dan dimana-mana hidupnya terancam bahaya. Ia berkhotbah di pasar-pasar, di gereja-gereja, kadang-kadang di mimbar katedral. Kadang-kadang ia mendapati gereja itu kosong tanpa pendengar. Suatu waktu khotbahnya diganggu dengan teriakan dan cemoohan. Untuk kesekian kalinya ia diseret dengan kasar dari mimbar. Lebih dari sekali ia diserang orang gembel, dan dipukuli hampir mati. Namun, ia terus maju. Walaupun ia sering ditolak, tetapi dengan tidak mengenal lelah ia datang kembali. Ia melihat kota-kota kecil dan besar yang menjadi benteng kepausan, satu persatu membuka pintu gerbangnya bagi kabar Injil. Gereja kecil, dimana ia pertama sekali bekerja, tidak lama kemudian menerima iman yang dibaharui itu. Kota-kota Morat dan Neuchatel juga menolak upacara-upacara Romawi, dan membuangkan patung-patung berhala dari gereja-gereja mereka.
Farel sudah sejak lama ingin menanamkan standar Protestan di Geneva. Jika sekiranya kota ini bisa dimenangkan, kota ini akan menjadi pusat Pembaharuan di Perancis, Swis dan Italia. Dengan pemikiran ini di benaknya, ia meneruskan pekerjaannya, sehingga banyak kota-kota dan desa-desa disekitarnya telah dimenangkan. Kemudian, bersama seorang teman, ia memasuki kota Geneva. Tetapi hanya dua khotbah yang diizinkn dikhotbahkan. Karena gagal berusaha menghukumnya melalui penguasa sipil, imam-imam memanggilnya menghadap majelis rohaniawan. Mereka datang ke majelis itu dengan membawa senjata yang disembunyikan di balik jubahnya. Mereka bermaksud untuk menghabisi nyawanya. Di luar gedung, segerombolan rakyat yang mengamuk dengan membawa pemukul dan pedang telah menanti untuk membunuhnya, jika seandainya ia berhasil melarikan diri dari majelis itu. Akan tetapi, kehadiran para hakim dan tentara di dalam majelis menyelamatkan nyawanya. Besoknya pagi-pagi benar ia bersama temannya dituntun melalui danau ke tempat yang aman. Dengan demikian berakhirlah usahanya yang pertama untuk memberitakan Injil di Geneva.

Bersambung …..
Rohani 1

Oleh: Pdt. Drs Reinhold Kesaulya, MPH

RANJAU DOSA BERKOMPROMI

lanjutan ……

Secara singkat marilah kita perhatikan beberapa kesamaan Sodom yang juga sekarang sudah menjadi tanda bagi kita manusia di tahun 2013 abad ke 21 ini. 3 tanda tersebut ialah:

Kesamaan Pertama (1): Bahwa menurut pernyataan Tuhan, keadaan zaman sekarang ini adalah sama dengan keadaan di zaman Lot. Jadi pekabaran dari Tuhan kepada Lot, keluarganya dan generasinya di Sodom adalah sama dengan pekabaran-Nya bagi kita dewasa ini. Perhatikan Kejadian 19: Lalu kedua orang itu berkata kepada Lot: “Siapakah kaummu yang ada di sini lagi? Menantu atau anakmu laki-laki, anakmu perempuan, atau siapa saja kaummu di kota ini, bawalah mereka keluar dari tempat ini, 19:13 sebab kami akan memusnahkan tempat ini, karena banyak keluh kesah orang tentang kota ini di hadapan TUHAN; sebab itulah TUHAN mengutus kami untuk memusnahkannya.”

Tuhan mengutus 2 malaikat ke rumah Lot untuk mengamarkannya bahwa Sodom dan Gomora akan dibinasakan karena sudah sangat besar dosa yang dibuat para penduduknya. Tugas amat penting kedua malaikat itu ialah: “bawalah mereka keluar dari tempat ini.”

Kejadian 19:14 Keluarlah Lot, lalu berbicara dengan kedua bakal menantunya, yang akan kawin dengan kedua anaknya perempuan, katanya: “Bangunlah, keluarlah dari tempat ini, sebab TUHAN akan memusnahkan kota ini.” Tetapi ia dipandang oleh kedua bakal menantunya itu sebagai orang yang berolok-olok saja. 19:15 Ketika fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya bersegera, katanya: “Bangunlah, bawalah isterimu dan kedua anakmu yang ada di sini, supaya engkau jangan mati lenyap karena kedurjanaan kota ini.”

Tuhan masih memberikan kesempatan kepada Lot, isterinya dan kedua anak mereka, bahkan para calon menantunya. Karena sudah tua, maka Lot berlambat-lambat keluar sehingga malaikat harus menarik mereka dan berpesan seperti yang tercantum dalam Kejadian 19:16 Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana. Kejadian 19:17 Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.”

Tuhan tidak membinasakan Sodom dan Gomora tanpa pemberitahuan. Tuhan amat mengasihi Lot dan keluarganya yang walaupun sudah berkompromi dengan Sodom dan Gomora, tetapi masih mengamarkan mereka untuk segera tinggalkan wilayah itu. Ada pehukuman yang telah disiapkan. Para pedosa jaman Lot dan jaman akhir ini sama betul. Dalam istilah ilmu ukur dan aljabar, sama dan sebangun sehingga pekabaran Tuhan bagi mereka pun sama. Roma 3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, – berarti tidak ada perbedaan antara semua kita. Di jaman Lot dan di jaman kita ini semua telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Tuhan. Tapi Roma 5:8 berkata: Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Ini adalah pekabaran tentang salib. Pekabaran yang menyatakan bahwa sementara kita berada dalam keberdosaan dan cinta diri, Allah kirim Juruselamat seperti yang Ia janjikan dalam Kejadian 3:15 kepada Adam dan Hawa. Juruselamat itu lahir di Bethlehem, Anak Allah yang tidak berdosa itu datang dalam rupa manusia dan mati disalib, menderita murka Allah yang seharusnya kita tanggung. Ia mengambil pehukuman saudara dan saya. Mati kekal yang harus kita tanggung, ditanggung Kristus. Puji Tuhan karena kita mempunyai Juruselamat, dan karena itu Ia tawarkan kelepasan sama seperti yang Ia tawarkan kepada Lot dan keluarganya.

Mereka disuruh berlari dan jangan menoleh kebelakang. Jangan melihat dan mengingat lagi apa yang pernah mereka lakukan di Sodom. Mereka harus lari meninggalkan tempat yang penuh dosa tersebut. Ini yang disebut pertobatan, yaitu berbalik dari dosa dan datang kepada Yesus untuk menerima pengampunan. Walaupun Tuhan harus dan akan menghakimi orang berdosa, namun Tuhan juga memberi jalan keluar bagi manusia. Tuhan begitu berkemurahan buat Lot, maka Ia juga berkemurahan buat kita. Rasul Paul dalam Roma 1:16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.

Kesamaan kedua (2): ialah bahwa dosa yang merajalela di zaman Lot adalah sama dengan dosa yang merajalela di zaman abad ke 21 ini.Itu membuktikan bahwa kedatangan Yesus sudah semakin dekat dan pehukuman pun telah siap di muka pintu. Status moral generasi di mana Lot tinggal sudah sangat rendah. Perhatikan Kejadian 18:20 Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya.

Tuhan menyebut dosa itu tetap dosa. Karena dosa telah sangat mendukakan-Nya. Dosa telah membuat Allah Bapa dan Roh Kudus harus berpisah dengan Allah Yesus. Sejak kekekalan ketiga Oknom Ke-Ilahian ini tetap satu, Esa adanya. Tetapi dosa telah memaksakan Mereka harus berpisah. Itulah sebabnya Yesus ketika tergantung di salib berseru dengan suara nyaring:

Matius 27:46 Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Markus 15:34 Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

The Bible Exposition Commentary mengatakan: “Ketika kegelapan terjadi, Yesus berdiam diri selama 3 jam. Setelah itu Yesus berseru: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Ini adalah kutipan dariMazmur 22:2 Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Adalah pada saat kegelapan itulah Yesus telah dibuat menjadi dosa oleh Bapa. Kegelapan merupakan symbol dari pembalasan Tuhan yang Ia terima ketika Ia telah “menjadi kutuk karena kita”. Galatia 3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!

Pada pengertian ayat-ayat di atas Yesus menyerukan sebanyak 2 kali kata“Allahku”. Bila pengertian saya ini salah maka saya bermohon agar Tuhan kiranya mengampuni. Ada dua keterangan mengapa Yesus menyerukan kata “Allahku” sebanyak 2 kali. (1) Yesus mengulanginya karena begitu berat penderitaan yang Ia hadapi sehingga harus berpisah dari Allah Bapa. Pengertian ke (2): Di sini Yesus berseru kepada Allah Bapa dan Allah Roh. Dosa sangat kejam dan merusak hubungan kesatuan Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh. Persekutuan Trinitas dipisahkan oleh dosa. Baru di kayu salib inilah Yesus dipisahkan dari Bapa dan Roh Kudus. Sesungguhnya kita dapat saksikan bahwa dosa berkompromi itu sangat kejam. Banyak dari antara kita tidak menyadari hal yang menyedihkan ini.

.Bersambung …..

Artikel Rohani 2

Oleh : Pdt. Kalvein Mongkau

MASA KESUKARAN PADA ABAD PERTENGAHAN

lanjutan …..

Pengalihan Isyu Dari Ordo Jesuit
Ada beberapa pengalihan isyu yang sudah dibuat oleh ordo Jesuit (yang telah berupaya dilihat oleh penulis artikel ini)di mana pada dasarnya sengaja telah digulirkan oleh penguasa kegelapan di akhir zaman sebagai salah satu agenda rahasianya yakni bertujuan untuk menyebabkan mereka yang mengaku Kristen tidak akan menemukan kebenaran yang sesungguhnya di dalam konteks pekabaran tiga malaikat. Raja kegelapanpasti memahami dengan betul bahwa pekabaran tiga malaikat adalah injil kekal yang legasinya secara asli adalah berasal dari Tuhan Yesus sendiri dan diberikan kepada rasul Yohanes dimana pada akhir zaman dipercayakan khusus kepada MAHK untuk diberitakan kepada semua bangsa, suku, bahasa dan kaum (Wahyu 14:6, 7). Ada dua bahkan pengalihan isyu utama yang terkenal yang ditelontorkan oleh ordo Jesuit yakni paham Antikris masa depan, paham kebakaan jiwa dan paham pemeliharaan hari Minggu.

1) Paham Antikris Masa Depan
Ordo Jesuit dari gereja Roma Katholik menafsirkan bahwa kuasa tanduk kecil dalam Daniel 7:25 dan Binatang Laut dalam Wahyu 13 sebagaimana yang dikleim oleh Martin Luther bukanlah merujuk kepada Roma Kepausan melainkan merujuk kepada Antikris di masa depan. Pengalihan isyu ini sudah berhasil membuat para penganut Protestan mengembangkan paham Antikris di dalam konteks pengangkatan rahasia sebelum 7 tahun masa kesukaran di akhir zaman. Francisco Ribera (1537-1591) adalah seorang doktor teologi dari Jesuit, lahir di Spanyol, yang mulai menulis satu komentar panjang di tahun 1585 terhadap kitab Wahyu (Apokalypse) berjudul In Sacrum Beati Ioannis Apostoli, & Evangelistiae Apocalypsin Commentarij, dan diterbitkan pada kira-kira tahun 1590. Ia meninggal dunia tahun 1591 pada umur 54 tahun, sehingga ia tidak sanggup untuk memperluas karya tulisnya atau menulis komentar lain lagi atas Wahyu. Agar supaya menghapuskan Gereja Katholik dari pertimbangan kuasa Antikris, maka Ribera mengusulkan bahwa beberapa pasal pertama dari kitab Wahyu harus diterapkan kepada Roma kafir kuno, dan pasal-pasal sisanya ia batasi kepada satu periode yang masih berada di masa depan yakni periode 3 1/2 tahun secara harafiah, langsung sesaat sebelum kedatangan Kristus kedua kali. Selama masa itu, Gereja Roma Katholik akan mengalami kejatuhan dari paus yang murtad. Kemudian, ia mengusulkan, Antikris, seorang individu tunggal, yangakan: menganiaya dan menghujat orang-orang kudus Allah; membangun kaabah di Yerusalem; menghapuskan agama Kristen; menolak Yesus Kristus; Diterima oleh orang Yahudi; berpura-pura menjadi Allah; membunuh dua saksi Allah; menaklukan dunia. Menurut Ribera, 1260 hari dan 42 bulan dan 3 ½ masa nubuatan bukanlah 1260 tahun, tetapi 3 ½ tahun harafiah, dan oleh karena itu tak ada satupun dari kitab Wahyu memiliki aplikasi apapun kepada zaman pertengahan atau kepausan, tetapi ke masa depan, kepada periode langsung mendahului kedatangan kedua kali, oleh karenanya nama Futurisme. sebuah edisi1591, 1593, dan edisi1603 dari komentar ini sekarang dapat dibaca secara online di websitenya dimana tinggal mengklik pada situs http://www.biblelight.net/.

2) Paham Api Penyuciandan Keadaan Intermediate Dari Jiwa
Paham tentang Api Penyucian (Purgatori) di gereja Roma Katholik nampaknya berhubungan dengan paham Intermediate State (keadaan sementarajiwaseseorang yang eksis antara kematian dan kebangkitan secara universal. Doktrin Intermediate State berurusan dengan kondisi manusia antara kematian dan kebangkitan. Baik gereja Yunani di Timur dan gereja Roma di Barat, percaya bahwa mereka yang berada di dalam intermediate state (keadaan sementara)secara tradisional sudah menjadi penerima warisan doa-doa, seperti doa misa requiem. Gereja Timur, mempercayai bahwa mereka yang selamat dikatakan ditinggalkan di dalam terang sementara orang-orang jahat dimurnikan di dalam kegelapan. Di Gereja Timur, doa-doa dikatakan menguntungkan bahkan bagi orang-orang kafir. Sementara di Barat, St. Augustinusmenjelaskan doa sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi mereka yang berada di dalam persekutuan dengan gereja, diisyaratkan bahwa setiap nasib akhir dari jiwa ditentukan pada kematian. Dan di Barat, doa datang untuk dibatasi bagi jiwa-jiwa di dalam Purgatori. Pada Zaman Pertengahan, gereja Barat memberikan indulgensia-indulgensia bagi mereka di dalam Purgatori, yang mana berkembang dari praktek lebih dahulu dari remisi-remisi (surat-surat pengampunan) kanonis. Namun para penganut Protestan secara luas berhenti berdoa bagi orang mati. Namun sebelumnya, seorang bapa gereja bernama Irenaeus menulis satu risalat berjudul Against Heresies di tahun 180-185 TM yang mana di dalam risalat ini ia memaparkan ulasan terkait tempat intermediate berkenaan dengan bidat-bidat tertentu pada masa jamannya sebagai berikut:
“Orang-orang ini (para bidat) berada di dalam semua maksud yang tidak konsisten dengan diri mereka sendiri, ketika mereka memutuskan bahwa semua jiwa tidak masuk ke dalam tempat intermediate, but tetapi hanyalah mereka yang benar …. Mereka mempertahankan pendapat bahwa jiwa-jiwa akan tetap berada di dalam tempat intermediate, sementara tubuh-tubuh, oleh sebab mereka memiliki substansi materi, ketika mereka sudah dipisahkan ke dalam materi, akan ditelan oleh api yang mana eksis di dalamnya; tetapi tubuh mereka akan dihancurkan, dan jiwa mereka tetap berada di tempat intermediate, tidak ada bagian lagi dari manusia yang akan tertinggal untuk masuk ke dalam Pleroma. Karena intelek dari manusia—baik pikirannya, pemikiran, maksud mental, dan serupa itu-tidak ada apa-apa lagi selain dari pada jiwanya; tetapi emosi-emosi dan operasi-operasi dari jiwa itu sendiri tidak lagi memiliki substansi yang menjadi bagian dari jiwa. Apakah bagian dari mereka, kemudian, akan masih tetap tertinggal untuk masuk ke dalam Pleroma? Karena mereka sendiri, di dalamnya sejauh mereka adalah jiwa-jiwa, tetap tersisa di dalam tempat intermediate; sementara , sejuah mereka adalah tubuh, mereka akan ditelan dengan sisa materi tersebut.”

Perhatikan bahwaIrenaeus membicarakan satu “tempat Intermediate”antara kematian dan kebangkitan di dalam mana, ia pikirkan, jiwa manusia akan tetap berada di situ sampai kebangkitan. Dapatkah ini menjadi pengenalan terhadap doktrin purgatori yang mana sudah bergerak dengan pelan-pelan ke dalam beberapa daerah pemikiran gerejani? Hal itu telah diakui bahwa para teolog Yunani pertama kali memperkenalkan gagasan Purgatori dan bahwa gereja Yunani Orthodoks sudah mengakui eksistensi dari “intermediate state” (tempat atau keadaan sementara), tidak seperti gereja Roma di barat, gereja Yunani menahan diri dari mendefinisikannya agar supaya tidak mengaburkan takdir-takdir alternatif yang jelas tentang sorga dan neraka. Hal ini jelas bahwa penggunaan paham terkait istilah “tempat Intermediate” (intermediate place) di jaman bapa-bapa gereja sesudah zaman rasul-rasul akhirnya berobah istilah menjadi “keadaan semementara”(intermediate state)dan akhirnya berubah menjadi “Purgatori.”Proses pergerakan dan perubahan secara perlahan-lahan dari paham intermediate state ini menjadi paham yang populer dengan sebutan Purgatori ke dalam Gereja Roma Katholik telah berlangsung lama sampai bergulirnya Reformasi Protestan.Paham ini terus digulirkan oleh ordo Jesuit demi mengalihkan isyu yang digulirkan oleh para Reformis Protestan terkait kondisi jiwa sesudah seseorang mengalami kematian. Bagi para penganut Protestan percaya bahwa sesudah seseorang mati maka jiwanya sudah tidur di dalam kedamaiandi dalam keadaan intermediate yakni suatu keadaan di antara kematian dan kebangkitan. Tentu saja paham ini tetap saja ditolak oleh MAHK karena secara Alkitabiah setelah orang mati maka nafasnya berhenti dan pikirannya tidak tahu apa-apa (Pengkhotbah 9:5). Setiap orang memiliki jiwa yang hidup dan jiwanya ini memiliki potensi untuk mati dan pada waktu jiwanya sudah mati, jiwa itu tidak tahu apa-apa lagi. Jiwanya juga sudah mati bersama-sama dengan tubuh (Lukas 12:20; Yehezkiel 18:4; Mazmur 33:19; Mazmur 44:26; 66:9; 78:50; 88:4; 119:25; 146:4).
Dalam surat 1 Korintus 15:29 Paulus menulis: “Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?” Latar belakang dan konteks yang membahas kematian dan kebangkitan di dalam Kristus pada kedantangan-Nya kedua kali dalam pasal 15 dari surat 1 Korintus ini boleh jadi mengindikasikan bahwa pada saat ada orang di jemaat Korintus mau dibaptis demi keluarga atau saudara mereka yang sudah meninggal dunia di ayat 29 maka orang yang dibaptis itu masih hidup, dan tentu saja pada saat sebelum dan sesudah dibaptis,orang itu pasti berdoa bagi saudara-saudaranya yang boleh jadi telah diketahui oleh publik tidak sempat dibaptiskan menjadi Kristen dari kekafiran dalam arti tidak sempat bertobat sebelum mengalami kematian. Sehingga mereka-mereka ini dikhawatirkan oleh saudara-saudara mereka yang masih hidup bahwa orang-orang itu tidak pernah dibangkitkan dan tidak akan diselamat saat Yesus datang kedua kali dan atas kerinduan agar mereka dapat dibangkitkan maka saudara-saudara-saudara yang sudah menjadi Kristen yang masih hidup ini meminta gembala jemaat mereka di Korintus untuk membaptiskan kembali mereka demi saudara-saudaramereka yang sudah mati. Ini jelas menunjukkan bahwa kalau ada orang Kristen di Korintus mau dibaptiskan demi orang-orang yang sudah meninggal dunia maka dia pasti mengadakan ritual doa-doa khusus untuk orang-orang yang sudah mati.

Bersambung …..

Artikel Rohani 3

Masa Penganiayaan

Oleh: Sam Kamuh,
BAIT New England

Kapankah masa penganiayaan itu? Apakah ada masa tertentu dimana umat Allah akan dianiaya? Apakah penganiayaan itu sangat besar? Apakah umat-umat Allah akan terluputkan? Apakah benar masa penganiayaan itu ada didepan kita? Apakah kita perlu takut dianiaya? Mari kita lihat apa yang sebenarnya dikatakan oleh Alkitab mengenai hal ini. Mari kita baca ayat-ayat berikut ini:

Yohanes 16:33b Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.
Kisah 14:22b Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.
Roma 5:3 Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan
Roma 8:35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?

Roma 12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

2 Korintus 1:3,4 Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.

Wahyu 2:9,10 Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu — namun engkau kaya — dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis. Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari.

Dan masih banyak ayat-ayat lagi. Namun jelas dalam ayat-ayat diatas bahwa kita umat-umat Tuhan sudah, sementara atau akan mengalami penganiayaan! Kita harus senantiasa siap dianiaya, tidak ada penentuan waktu khusus untuk itu. Beberapa contoh bisa dituliskan disini. Simon Petrus disalibkan dengan kepala dibawah (67 AD). Kota Jerusalem dihancurkan Nebukadnezar, bangsa Israel ditawan Kerajaan Babylon (597 BC). Orang-orang Waldensi (Abad ke-12). Orang-orang Kristen di Timur-Tengah khususnya Mesir http://www.cbn.com/cbnnews/world/2013/August/Egypt-Christians-Allege-Torture-Under-Morsi-Regime/ dan Syria http://www.worthynews.com/12527-more-christian-clergy-missing-in-syria, orang-orang Kristen di Rusia, China, Korea Utara http://www.christiantoday.com/article/call.for.end.to.appalling.human.rights.violations.in.north.korea/33384.htm, Eropa Timur, India dan di negara-negara Islam khususnya Indonesia, seperti yang terjadi di Ambon, Poso, dll beberapa tahun yang lalu. Penganiayaan ini tidak akan berhenti namun akan terus terjadi di masa yang akan datang hingga kedatangan Yesus yang kedua kali.

Wahyu 2:10b mengatakan bahwa kita harus setia sampai akhir, oleh karena itu kita tidak bisa menghindarkan diri dari penganiayaan. Matius 28:20 mengatakan bahwa Yesus akan berserta kita, artinya penganiayaan itu tidaklah berat, Yesus akan menolong kita, asalkan kita percaya. Memang dalam Wahyu 7:13,14 ada istilah masa penganiayaan yang besar, tapi itu adalah sebutan untuk semua penganiayaan yang dialami umat-umat Allah secara keseluruhan. Yesus tidak mengacu kepada satu masa tertentu dimana umat Allah akan dianiaya secara hebat.

Penganiayaan telah ada sejak zaman dahulu, bahkan sedang berlaku sekarang ini kepada sebagian umat Allah dan akan terjadi di masa yang akan datang, hingga kedatangan Yesus yang kedua kali. Setan senantiasa ingin mengacaukan pengertian kita tentang apa yang dituliskan oleh Alkitab. Sekarang ini ada doktrin yang disebut sebagai Pretribulation, dimana doktrin ini mengajarkan bahwa umat Allah tidak akan dianiaya oleh karena mereka akan diangkat scara diam-diam ke sorga sebelum masa penganiayaan itu tiba. Mereka mengartikan masa penganiayaan itu adalah suatu rentang waktu di masa depan, yang akan terjadi sebelum kedatangan Kristus. Doktrin ini sangat berbahaya oleh karena umat Allah secara mental tidak siap menghadapi penganiayaan dalam kehdiupannya. Dalam Yohanes 16:33b Yesus sendiri mengatakan kepada kita bahwa kita tidak perlu takut, sebab Ia telah mengalahkannya. Kita harus percaya dengan janji-janjiNya. 1 Korintus 10:13 mengatakan: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” Iman kita harus berjangkar pada firman-Nya dan bukan berdasarkan kepada apa yang diajarkan oleh manusia. Kapal kehidupan yang kita tumpangi sudah, sementara dan akan menerpa banyak gelombang, badai dan topan penganiayaan, namu kita tidak perlu takut, oleh karena Yesus adalah Kapten kita. Alkitab telah menubuatkan penganiayaan di masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang dan secara eksak telah, sementara dan akan digenapi. Biarlah kita siap senantiasa menghadapi penganiayaan, agar iman kita semakin kuat supaya bilamana Yesus datang, kita boleh didapati setia, lalu kita diselamatkan dan boleh mengenakan mahkota kehidupan kekal. Wahyu 2:10b mengatakan: “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”***

Artikel Rohani 4

KEBANGUNAN DAN PEMBARUAN
(Sekolah Sabat Kwartal III-2013)
Oleh : Jerry Mamahit

Bagi setiap anggota yang sudah lama menjadi anggota GMAHK, setiap judul baru dari pelajaran Sekolah Sabat (SS) yang diterima pada Sabat pertama dari setiap kwartal adalah suatu hal yang biasa. Pelajaran itu diterima seadanya sebagaimana diturunkan oleh organasasi karena demikianlah halnya yang sudah berlangsung sejak dahulu. Akan tetapi sikap seperti ini harus dibuang jauh-jauh menanggapi isi dari pelajaran SS kwartal III-2013. Oleh karena pelajaran SS kwartal III-2013, yang berjudul “Kebangunan dan Pembaruan”, adalah bagian integral dari persiapan global dari GMAHK, untuk kecurahan kuasa Roh Suci dalam kerangka hujan akhir, agar supaya pekerjaan Tuhan dapat diselesaikan dan Yesus Kristus segera datang untuk kedua kalinya.

Semenjak dimulainya gerakan “Kebangunan dan Pembaruan” tanggal 1 Januari 2011, pimpinan tertinggi organisasi GMAHK adalah sangat serius dalam program ini, yang tujuannya untuk persiapan bagi kecurahan kuasa Roh Suci dalam kerangka hujan akhir, dan ini nyata dari program lima tahun yang sementara berjalan, yang dimulai 1 Januari 2011, yaitu menghimbau agar setiap anggota GMAHK melakukan kegiatan-kegiatan secara bersamaan, sebagai berikut;
Berdoa setiap hari
Belajar Kitab Suci setiap hari
Doa tujuh tujuh tujuh
Doa sepuluh hari setiap bulan Januari
Doa persatuan
Doa dan berpuasa pada Sabat pertama setiap
kwartal yang baru
Berpuasa sekali sebulan
Membaca buku Kemenangan Akhir pada tahun
2012
Membagi buku Kemenangan Akhir kepada non
anggota GMAHK tahun 2013

Penulis menyadari bahwa sebagian besar kegiatan ini belum dilakukan oleh setiap anggota GMAHK selama ini oleh karena berbagai alasan. Keselamatan itu adalah urusan setiap pribadi, itu sebabnya jangan menunggu dikomando oleh orang lain baru melakukannya, tetapi lakukanlah sendiri sesuai dengan keadaan masing-masing. Sebagai contoh yaitu dua hal yang terakhir tentang buku Kemenangan Akhir. Buku ini diperhitungkan sebagai buku yang sangat tepat untuk diberikan kepada umat Kristen non anggota GMAHK, karenanya tahun ini diprogramkan untuk membagi secara gratis buku-buku ini kepada mereka. Organisasi menghimbau agar anggota GMAHK lebih dahulu membacanya di tahun 2012, dengan pengharapan bahwa setelah membacanya setiap anggota akan mengetahui tentang dekatnya kesudahan dunia dan akan terjadi kebangunan dan pembaruan rohani diantara anggota GMAHK. Tentunya ada juga pemikiran jangan sampai buku ini, yang diberikan kepada umat Kristen non anggota GMAHK dan setelah mereka membacanya kemudian mereka bertobat dan diselamatkan, tidak dibaca oleh anggota GMAHK sendiri dan oleh karena itu yang sebaliknya yang terjadi pada mereka. Walaupun tahun 2012 sudah berlalu, hal itu tidak berarti bahwa sudah terlambat untuk membacanya.

Demikian juga dengan pelajaran SS kwartal ini adalah dimaksudkan agar supaya setiap anggota menyadari pentingnya kuasa Roh Suci dan berpartisipasi aktif dalam menyediakan diri untuk menerima-Nya, melalui kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi GMAHK.

Pelajaran pertama kwartal ini dimaksudkan untuk menyadarkan setiap anggota bahwa; “Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang” (Wahyu 3:17). Bilamana kita menyadari keadaan kita yang sebenarnya yaitu melarat, malang, miskin, buta dan telanjang, maka apa yang diajarkan di pelajaran kedua tentang “Doa” dan di pelajaran ketiga tentang “Firman”, akan kita lakukan setiap hari dengan sungguh-sungguh, yaitu menyediakan waktu yang signifikan untuk datang kepada Tuhan dalam doa dan firman-Nya. Panggilan ini adalah himbauan Ketua GC GMAHK yang dimuat di Warta Gereja Advent Januari 2011 pada tahun pertama dimulainya program lima tahun “Kebangunan dan Pembaruan” dan juga telah menjadi komitmen dari semua Ketua Uni diseluruh dunia untuk melakukannya atas nama anggota-anggotanya. Ketiga pelajaran pertama dari kwartal ini adalah inti dari seluruh pelajaran dan yang selebihnya adalah buah dari pelajaran tersebut. Bilamana dengan sungguh-sungguh pelajaran ini dimengerti oleh setiap anggota GMAHK maka seharusnya telah terjadi perubahan dari kebiasaan hidup kerohanian setiap anggota, sementara mempelajari pelajaran kwartal III tahun ini.

Pertanyaannya adalah perubahan apa yang diharapkan? Jawabannya adalah setiap anggota GMAHK akan memberi waktunya dalam jumlah yang signifikan setiap hari untuk dengan sungguh-sungguh datang kepada Tuhan dalam doa dan firman-Nya. Bilamana kedua hal ini dilakukan maka janji-janji Tuhan yang dicatat didalam Kitab Suci dan didalam Roh Nubuat, akan menjadi bagian setiap orang, sehingga dengan demikian setiap orang siap untuk menerima hujan akhir. Janji-janji Tuhan itu diantaranya adalah sebagai berikut;

Cerita Untuk Anak

Inpirational Story

Memberi Lebih Dulu
Oleh : Bredly Sampouw

Seorang pria paruh baya mempunyai sebuah toko makanan ternak yang tidak begitu laku. Semakin hari, semakin sedikit orang yang membeli pakan ternak. Setelah berpikir sekian lama, pria tersebut mendapat sebuah ide gila, yaitu menginvestasikan 50 dolar (uang yang cukup banyak pada zaman itu) untuk membeli 1000 ekor anak ayam. Para tetangganya langsung mengejek dan menganggap pria itu gila.

Jual pakan ayam saja tidak bisa, apalagi jual anak ayam. Mereka lebih heran lagi ketika tahu bahwa pria ini tidak menjual anak ayam tersebut. Sebaliknya, ia memberikan anak-anak ayam tersebut secara gratis kepada para pembeli pakan ternak.

Benar-benar gila! Para tetangganya berpikir, tokonya mau bangkrut, malah beli banyak anak ayam, terus membagikan anak ayam secara gratis. Mana ada pebisnis waras yang melakukan itu? Nyatanya, setelah ada program anak ayam gratis tersebut, mulai banyak orang berdatangan ke tokonya. Semakin hari, tokonya semakin laris saja. Setelah diselidiki, para pembeli yang menerima anak ayam gratis itu kembali lagi.
Mengapa bisa demikian? Tentu saja mereka membeli makanan ayam untuk anak ayam gratisan itu.

Inspirasi
Untuk Direnungkan : Kata “Terima kasih” dalam bahasa Indonesia mengandung makna mendalam. Hanya dengan menerima, kita bisa memberi. Sebaliknya, jika memberi lebih dulu, kita akan memperoleh. Selama ini, apakah anda dikenal sebagai pemberi atau penerima? Bagaimana anda bisa menjaga keseimbangan antara memberi dan menerima? Pernahkah Anda memberi lebih dulu tanpa berpikir untuk menerima, dan Tuhan membuktikan janjiNya dengan memberkati Anda secara luar biasa?

Untuk Dilakukan : “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorak. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” Mazmur 126 : 5 – 6.

Mengapa kita sering manabur, tetapi tidak pernah menuai? Coba cek, Pertama Apakah benih yang kita tabur itu hidup atau mati. Kedua, apakah benih yang kita tabur itu ada di tempat yang tepat atau tidak. Ketiga, apakah kita merawatnya atau membiarkannya mengering atau dimakan burung? Pada dasarnya apa yang kita tabur itu yang kita tuai juga. Permasalahan sering kita tidak menuai apa yang ditabur! Ada apa dengan benih yang kita tabur? Penyebabya tidak lari dari ketiga aspek yang telah diutarakan diatas tadi. Jangan harap kita akan menuai bila ketiga hal diatas terjadi atas benih yang kita tabur. Pesan moralnya adalah biarlah benih yang kita tabur itu dipelihara dengan baik sampai dia bertumbuh dan memberikan hasilnya. Tabur dalam daging menuai dari daging juga tetapi tabur dalam roh akan menuai dari roh juga.

Hidup itu penuh dengan tantangan dan pergumulan, sering seseorang mengharapkan lebih banyak daripada apa yang ditaburnya. Tetapi ada juga yang menabur dengan susah payah bahkan dengan mencucurkan airmatanya tetapi justru dia yang berhasil menuai. Diperlukan akal budi dan hikmat serta doa yang sungguh atas semua usaha yang dihadapi. Modal lain yang diperlukan kesabaran dan ketekunan menjadi dasar keberhasilan, mungkin orang lain menanggp kita manusia aneh bahkan gila seperti cerita diatas, tetapi bila tekun, setia dan sabar maka pasti berhasil. Memberi dan memberi seolah kita tidak akan menerima tetapi bila memberi dengan ikhlas tanpa mengharapkan balasaannya disuatu waktu kita akan menerima. “Coba dan dicoba lagi”

Kunjungi website BAIT di
www.buletin.baitonline.org

Kesaksian
Tuhan Menolong Melalui Beasiswa Unggulan Bagi Mahasiswa AIIAS
Oleh: Dr. Joseph H. Sianipar

“Jehovah Jireh” adalah 2 kata yang sangat tepat untuk menggambarkan bagaimana tuntunan Tuhan kepada setiap umat yang percaya kepadanya. Tak terkecuali bagi penulis yang kurang lebih 3, 5 tahun menempuh pendidikan di AIIAS untuk program Doctor of Ministry. Banyak tantangan yang harus dilalui dan Doa, Puasa dan kesungguh-sunguhan adalah salah satu metode utama yang dilakukan penulis untuk terus bergantung kepada Tuhan. Doa pun di jawab, Atase Pendidikan KBRI dipakai Tuhan untuk menjadi saluran berkat bagi kami penulis. Berikut sekilas “Kesaksian” dan “Opini” penulis mengenai Berkat Tuhan melalui KBRI Manila :

Semua orang berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Ada banyak cara yang ditempuh agar dapat mengenyam pendidikan salah satunya adalah lewat program besiswa mahasiswa unggulan unggulan dan bantuan untuk melanjutkan pendidikan merupakan harapan bagi k ita semua. Program besiswa mahasiswa unggulan unggulan dapat memberikan banyak manfaat. Program ini merupakan sebagian dari tanggungjawab pemerintah dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa yang hrekan mahasiswal dan berkualitas. Program ini pada akhirnya bukan saja mempersiapkan pemimpin bangsa di masa depan tetapi juga menentukan masa depan bangsa dan Negara. Tidak ada Negara maju yang tidak memperhatikan pendidikan bagi generasi penerus bangsa.

Penulis secara pribadi merasakan betapa besar manfaat besiswa mahasiswa unggulan unggulan yang disalurkan oleh Atase Pendidikan Tinggi Kedutaan Besar Manila yang dikoordinir oleh Dr. Ir. Paristiyanti. Manfaat yang penulis rasakan antara lain: (1) Penulis dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu tanpa ada kendala atau hambatan dari segi keuangan, (2) Penulis dapat menyelesaikan karya tulis dan memperbanyak disertasi tersebut untuk diberikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Beberapa mahasiswa menganggap bahwa besiswa mahasiswa unggulan unggulan dirancang untuk semua mahamahasiswa berprestasi yang membutuhkan bantuan keuangan. Sesungguhnya bukanlah demikian. Bahkan, dalam beberapa kasus, mahamahasiswa yang berprestasi berhasil mendapatkan besiswa mahasiswa unggulan unggulan setelah beberapa tahun mereka menerima penghargaan atas prestasinya. Jika Rekan mahasiswa berada dalam antrian dan melamar beasiswa mahasiswa unggulan namun tidak mau menunggu atau memberikan waktu untuk proses permohonan besiswa mahasiswa unggulan unggulan, maka rekan mahasiswa perlu mempertimbangkan kembali akan niat rekan mahasiswa:
Jika Rekan mahasiswa memenangkan beasiswa mahasiswa unggulan, Rekan mahasiswa patut bersyukur karena dapat memberikan diri dan berhasil mendapatkan beasiswa mahasiswa unggulan dari antara ribuan pelamar. Bila rekan mahasiswa mendapat pengakuan untuk prestasi rekan mahasiswa itu memberikan kepercayaan diri untuk mengejar tujuan-tujuan lain. Hal ini sangat penting bagi mahasiswa untuk mengenali potensi mereka sendiri di awal karir akademik mereka sehingga mereka mendorong pengakuan pertumbuhan penerimaan dari suatu organisasi atau perusahaan membantu mahasiswa mengambil langkah ini.

Menerima beasiswa mahasiswa berbasis prestasi menunjukkan bahwa rekan mahasiswa berdiri di antara rekan mahasiswa lainnya. Yang lebih penting lagi adalah bahwa penyedia beasiswa mahasiswa unggulan ini mengakui kualitas ini, dan hal yang penting juga adalah bahwa rekan rekan mahasiswa lainnya mengetahui dan melihatnya. Bila anda membutuhkannya untuk pendidikan selanjutnya atau pekerjaan di masa depan, rekan mahasiswa punya bukti bahwa dalam satu wilayah rekan mahasiswa dapat membuktikan kualitas diri yang berbeda dari rekan-rekan lainnya. Hal ini akan memotivasi rekan mahasiswa lainnya untuk memacu diri untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dalam hidup mereka.

Besiswa mahasiswa unggulan Menyediakan dengan Dukungan Keuangan bukan saja menjadi beban pengeluaran pemerintah namun hal ini juga merupakan investasi yang mempersiapkan calon pemimpin bangsa di masa mendatang. Ada juga mahasiswa yang beruntung yang tidak bergantung pada bantuan keuangan atau beasiswa mahasiswa unggulan untuk dapat bersekolah, namun itu tidak berarti bahwa rekan mahasiswa tidak bisa mendapatkan keuntungan dari besiswa mahasiswa unggulan karena uang dapat digunakan untuk membayar biaya lain yang terkait dengan perguruan tinggi. Daripada menghabiskan penghasilan rekan mahasiswa dari sumber yang lain, beasiswa mahasiswa unggulan memungkinkan rekan mahasiswa dapat menghemat dana tersebut untuk kepentingan yang lain!

Berhasil mendapatkan besiswa mahasiswa unggulan adalah merupakan hal yang besar! Kebanyakan perguruan tinggi mencari untuk menambah mahamahasiswa yang akan menjadi kontributor yang positif kepada mahamahasiswa mereka. Sebuah besiswa mahasiswa unggulan prestasi menegaskan bahwa Rekan mahasiswa adalah asset bukan hanya bagi sekolah atau universitas tersebut melainkan asset bagi bangsa, karena masa depan bangsa dan Negara terletak pada kualitas sumber daya manusianya.

Besiswa mahasiswa unggulan membuat CV rekan mahasiswa memiliki nilai tambah. Membedakan resume atau CV rekan mahasiswa dari orang-orang yang dikirim oleh ratusan pelamar lain bisanya sangat sulit. Besiswa mahasiswa unggulan dapat mempermudah proses yang sulit tersebut. Sangatlah mudah membuat CV dan Resume mahasiswa unggulan. Dia diakui oleh orang lain untuk prestasinya. Itu sudah cukup untuk menghantarkan Anda untuk wawancara dengan pihak yang menawarkan pekerjaan. Mencari pekerjaan memerlukan kerja keras, tetapi ketika Anda memiliki banyak prestasi dan kualifikasi itu jauh, jauh lebih mudah.

Sepanjang 2 tahun terakhir ada 5 mahasiswa AIIAS yang mendapatkan “Beasiswa Unggulan” diantaranyaPdt. Josep Sianipar, Pdt. Sonny Situmorang, Pdt. Ronnel Mamarimbing, Pdt. Alfonso Tarigan dan Pdt. B. Sumendap, dan mereka boleh merasakan manfaatnya hingga saat ini . Terimakasih kepada Tuhan yang memakai Atdiknas KBRI Manila atas beasiswa unggulan yang kami terima, dan bagi rekan mahasiswa yang belum mendapat selamat mencoba semoga anda sukses untuk mendapatkan beasiswa mahasiswa unggulan.

SAHABAT ,….
Penulis: Anonim
Dilengkapi ayat Alkitab oleh Yoshen Danun

Satpam dan tembok rumah yang kokoh bukan jaminan hidup tenang.
Hati yang damai, kasih dan bebas tiada keserakahan dan kebencian itulah kunci ketenangan dan rasa aman……
Kolose 3:5-6 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, (6) semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka].

Hidup kita itu sebaiknya ibarat “jam dinding”
Diliat orang atau tidak ia tetap mendentak.
Dihargai orang atau tidak ia tetap berputar.
Diterima kasih’i atau tidak ia tetap ‘bekerja’.
1 Tes. 2 : 5 – 8
2:5 Karena kami tidak pernah bermulut manis — hal itu kamu ketahui — dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi — Allah adalah saksi —
2:6 juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus.
2:7 Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.
2:8 Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.
Kalau jam dinding bisa bicara, ia akan berkata: “Karena aku punya kualitas.. komitmen… dan tanggung jawab”.

Leave a Reply