Edisi 21 Sept 2013

September 21, 2013 - Buletin Bait

“Memberi”

Memberi mempunyai seni tersendiri. Walau program Penatalayanan jelas mengedepankan pemberian yang terencana namun dalam kenyataannya kadang bobol karena situasi. Sebenarnya anggaran sebulan sudah mantap termasuk dana ekstra untuk pengeluaran tidak terduga. Namun ada-ada saja yang diluar schedule terjadi ketika proposal disodor atau permohonan bantuan ini-itu disampaikan.

Itulah yang terjadi di lapangan, begitu banyak program yang dijalankan semuanya membutuhkan sokongan dana yang tidak sedikit. Bila permohonan sumbangan untuk kegiatan secular barangkali sedikit berat untuk kita membantu tetapi bila kebutuhan itu adalah untuk orang sakit, kedukaan dan program evangelisasi, walau kecil kita akan mengusahakannya. Jaman sekarang sepertinya anggaran yang bernama ‘sumbangan’ perlu dimasukkan dalam budget Rumah tangga sebab kebutuhan untuk menambah dana buat suatu ‘usaha’ sosial bukannya berkurang tapi semakin bertambah dan beragam kebutuhannya. Kita bersyukur karena roh memberi di kalangan anggota gereja tidak pernah surut. Bahkan dalam kenyataannya para ‘penyumbang’ semakin bertambah. Sambil memberi, sambil beramal karena kepedulian serta uluran tangan pertolongan adalah juga sebagian dari ibadah.

“Walau saya memberi dalam jumlah besar, itu tidak mengapa kepada saya dibanding bila saya berganti posisi ke pihak penerima” kata seorang dermawan mengomentari pemberiannya. “Aku melihat-lihat dahulu sebelum memberi kepada seseorang jangan sampai pemberian saya itu hanya mubazir salah-salah bukan madu tapi menjadi racun baginya” ungkap pemberi lain menyayangkan bila si penerima bantuan malah jadi malas untuk bekerja dan berikhtiar lalu terbiasa menadahkan tangan. Memang sebaiknya bila yang diterima adalah pancing dan bukan ikan tambahnya.

Sering kita saksikan banyak orang datang dengan pemberian sambil menghitung “return”-nya, apakah berbentuk Pahala, menjadi mulia, terangkatnya harga diri, mendapat reputasi, memperoleh “nama Baik” bahkan untuk maksud tertentu sehingga memberi sedekah itu perlu diabadikan, di dokumentasikan bahkan di pasarkan. Padahal Yesus pernah berkata “ Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu”. Dalam memberi, ketulusan dan kerelaan saja tidak cukup melainkan benar-benar perlu menyiapkan mental untuk melepaskan “Sesuatu dan Diri” dengan memikirkan kepentingan orang lain secara utuh. Benar, memberi dengan melepas egoisme pribadi karena sudah melayani sesama tanpa pamrih, sudah mengasihi seperti Tuhan telah mengasihi manusia.

Apa pernah ditanyakan kepada diri sendiri: Berapa yang sudah saya berikan kepada orang lain? Apa yang sudah saya baktikan kepada masyarakat? Berapa yang sudah saya sembahkan kepada Tuhan? Kalaupun sudah, apa niat pemberian itu?. Seperti melihat pada cermin kehidupan semuanya akan nampak jelas. Lalu dilanjutkan dengan audit etikal tentang perlakuan kepada diri sendiri dan tingkah kepada orang lain. Mungkinkah diantara banyak kebaikan pemberian yang telah dibuat ada terselip noda dan cinta diri?. Kita juga bisa mengevaluasi mengenai pemberian yang disampaikan itu apa demi kemuliaan diri pribadi, demi menyenangkan orang lain ataukah demi nilai-nilai yang lebih luhur seperti menyumbang kepada pendidikan, kemanusiaan dan Evangelisasi.

Pemberian tidak selamanya di konotasikan berupa material dan barang-barang tangible lainnya karena bila ada ketulusan dan niat baik pemberian itu dapat dilakukan dalam bentuk lain seperti menyumbang waktu, memberi pengetahuan, menyampaikan anjuran, keteladanan, kesempatan. Boleh juga kontribusi itu berupa pencerahan, bimbingan yang berdampak dan berarti serta memiliki mamfaat jangka panjang kepada orang lain.

Pertanyaan lanjutan, apa yang sudah kita didedikasikan untuk keluarga, berapa banyak kasih sayang yang sudah diberikan kepada anak-anak, quality time yang bagaimana kita sudah luangkan bersama si cantik dan si ganteng di Rumah, bagaimana rajutan kasih sayang diantara suami istri pada satu minggu terakhir ini? Nilainya bagus, kurang bagus atau jelek ? Barangkali kita mulai dari sini dulu, yaitu mereka yang paling dekat dengan kita .***

Redaksi

Ny. Ellen G. White mengingatkan kita “Pengertian yang benar pelayanan dalam Bait Suci Surgawi adalah dasar iman kita… Kita tidak boleh berhenti sampai kita mahir mengenai bait suci itu.” EVANGELISM, 221-222. Sedangkan, salah satu fakta yang menarik dari Kaabah di padang belantara adakah mengenai pintu gerbang-nya. Sebagaimana yang kita semua ketahui, pagar di pelataran kaabah membatasi pemandangan bangsa Israel (dari luar kaabah) terhadap lambang kehadiran Allah (di dalam kaabah), tetapi hal ini bukan berarti tidak ada jalan masuk untuk menjadi jalur hubungan antara bangsa Israel di luar kaabah dan Allah di dalam kaabah, karena ada suatu pintu gerbang yang terletak disebelah timur. Pintu gerbang ini selebar 20 hasta/ 9 meter (relatif cukup lebar), sehingga mudah untuk dilewati oleh siapa saja.

Pada satu-satunya jalan masuk ini digantungkan tirai yang berwarna-warni, yaitu : ungu tua/ biru, ungu, kermizi/ merah, dan putih sehingga terlihat sangat menyolok dan menarik. Pada tirai pintu gerbang ini tidak ada tenunan kerub, sedangkan di tirai yang membatasi bait suci dan bait maha suci ada tenunan kerubnya sebagai lambang pengawalan kesucian Allah. Tiga hal ini (lebarnya pintu gerbang, menyoloknya dan menariknya pintu gerbang, serta tidak adanya tenunan kerub), menggambarkan bahwa pintu gerbang ini terbuka untuk siapa saja dan dapat dilalui oleh siapa saja.

Pintu gerbang ini melambangkan Yesus Kristus sebagai jalan masuk pada keselamatan (Yoh. 14 : 6; Kisah 4 : 12).
1. Wana-warni pintu gerbang kaabah.
Wana-warni pintu gerbang kaabah ini melambangkan Yesus Kristus sebagaimana yang diungkapkan/ dikisahkan dalam keempat injil.
a. Warna ungu tua/ biru melambangkan penurutanNya/ kesetiaan Yesus pada kehendak Allah sebagai Raja, sebagaimana yang ditonjolkan dalam buku Matius.
b. Warna kermizi/ merah melambangkan pengorbananNya demi memberi jalan keselamatan bagi umat manusia, sebagaimana yang ditonjolkan dalam buku Markus.
c. Warna putih melambangkan tabiatNya yang suci, sebagaimana yang ditonjolkan dalam buku Lukas.
d. Warna ungu muda sebagai warna kerajaan melambangkan kebesaranNya dan kemuliaanNya sebagai Anak Allah, sebagaimana yang ditonjolkan dalam buku Yohanes.
Sebagaimana warna-warni dari tirai pintu gerbang ini adalah warna-warni yang indah dan
menarik perhatian tiap orang, demikian pula Yesus yang dilambangkannya adalah indah
dan ingin menarik perhatian tiap orang untuk masuk dalam rencana keselamatan Tuhan.

2. Letak pintu gerbang.
Letak pintu gerbang yang terletak di sisi timur ini, juga melambangkan Yesus Kristus.
Yesus Kristus dikenal sebagai “Singa dari suku Yehuda” (Wahyu 5 : 5), yaitu suku
yang berkemah tepat dihadapan kaabah/ tepat dihadapan pintu gerbang kaabah itu.

3. Ukuran pintu gerbang.
Lebar pintu gerbang ini yang 20 hasta/ 9 meter dan tinggi 5 hasta menjadikan kaabah ini adalah suatu tempat ibadah yang pintu gerbangnya sangat lebar . Karena pintu gerbang yang relatif cukup lebar ini maka tentu saja tidaklah sulit bila orang Israel akan meliwatinya untuk masuk kedalam pelataran kaabah. Hal ini menggambarkan bahwa Yesus sebagai jalan keselamatan itu, adalah untuk semua orang.

Mengingat bahwa sekeliling pelataran kaabah dikelilingi oleh pagar yang cukup tinggi (5 hasta) sehingga dari luar orang tidak dapat melihat kedalam kaabah, sehingga keberadaan pintu gerbang ini adalah satu-satunya jalan masuk ke dalam kaabah. Hal ini juga melambangkan akan keberadaan Yesus Kristus yang adalah satu-satunya jalan keselamatan (Yohanes 10 : 9, 14 : 6, Yohanes 14:6, Kisah Para Rasul 4 : 2).
Menyadari akan fakta bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, maka wajarlah bila hukum pertama dari 10 Hukum dalam Keluaran 20:3 mengatakan “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Ya, kita sekarang ini bukanlahlah penyembah-penyembah allah lain seperti paham animisme dan dinamisme. Tetapi lebih dari itu kita tetap perlu waspada akan soal menyembah allah lain ini, karena setiap hal yang kita begitu andalkan sampai menyaingi tempat Allah di hati kita, itu juga telah termasuk berhala! Apakah itu dalam bentuk mengandalkan rekening bank kita, mengandalkan pendidikan kita, atau mengandalkan karir kita, lebih dari hubungan kita dengan Yesus, itu semua adalah juga merupakan berhala! Tentu saja tidak salah untuk kehidupan kita juga diwarnai dengan hal-hal itu, tetapi biarlah kita memastikan bahwa itu semua tidak dapat menyaingi hubungan dan ketergantungan kita pada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan satu-satunya Penyelamat kita.

Saudaraku, pintu gerbang kaabah di padang belantara, tidak pernah ditutup dan seorang imam senantiasa dengan setia dan sabar berdiri di pintu gerbang kaabah untuk menerima umat yang datang, kembali hal ini melambangkan Yesus Kristus yang juga senantiasa dengan setia dan sabar menunggu untuk menyambut setiap orang, termasuk saudara dan saya yang datang kepadaNya untuk memulaikan atau meneruskan suatu kehidupan yang bergantung dan hanya mengandalkan Dia saja.***

Oleh Iman ! Sering kali kita dengar tiga kata ini di khotbahkan dengan berapi-api dari depan mimbar. Tapi bila kita renungkan, seberapa efektifkah konsep ini dalam penarikan jiwa?

Kebanyakan praktek iman yang berlaku di antara umat-umat Tuhan sekarang adalah sejalan dengan persembahan buah-buahan hasil kebun yang di berikan oleh Kain yang mengawali konsep dasar “Pembenaran oleh amal”. Namun di nilai dari sudut manapun, ini bukanlah jalan keselamatan yang benar karena konsep ini di mulaikan oleh manusia, yang adalah pelanggar dosa itu sendiri. Itulah sebabnya, selalu ada penilaian-penilaian yang menjadi ukuran dalam setiap praktek iman, dan standarnya selalu mengarah pada diri sendiri. Dan ini membatasi buah-buah penginjilan serta pertumbuhan iman.

Berbeda dengan konsep “Pembenaran Oleh iman”, konsep ini merupakan dasar untuk mengerti jalan keselamatan yang sesungguhnya yang dari Allah, mengapa? Karena Allah-lah yang memulainya. Yaitu, ketika Allah memakaikan pakaian yang di buat-Nya dari kulit binatang, yang di teguhkan oleh korban habel yang berdasarkan iman (Ibrani 11:4). Artinya praktek iman adalah hasil sepenuhnya dari anugrah Yesus tanpa adanya campur tangan manusia, dan ini adalah pekerjaan dan karya dari iman yang berserah sepenuhnya pada Allah.

Mengapa kita perlu mengerti dasar “Pembenaran Oleh iman?” dalam bersaksi. Tulisan Inspirasi menegaskan sebagai berikut: “Banyak umat yang mengaku percaya pada Pekabaran Tiga Malaikat kehilangan pandangan akan doktrin Pembenaran oleh iman”, 1 SM 360, COR 87. Hal ini boleh kita katakana sebagai fakta dasar kegagalan umat Allah sepanjang zaman, dan jika sampai Yesus datang tetap tidak ada seorangpun di antara kita yang bangkit untuk menjadi “saksi/model hidup” dari Pembenaran oleh Iman ini, maka dapat dipastikan obor keberanan itu akan beralih dari tangan kita.

Saat manusia berdosa, dia memisahkan dirinya sendiri dari Pemberi Hidup (Yesaya 59:2), akibatnya maka pemikirannya tentang Allah serta tabiat-Nya jadi sesat (Yesaya 64:6). Hidup dalam kegelapan dosa (Yohanes 3:19, 20), Menjadi hamba dosa dan tidak dapat terlepas dari jerat tersebut (Roma 7:15-21), dan segala kecenderungan hatinya jahat (Kejadian 6:5), sehingga tidak heran pada kesimpulan akhir maka Rasul Paulus serta Raja Daud sang pemazmur setuju mengatakan: “…Semua manusia telah berdosa…” dan “…menyeleweng…” (Roma 3:23 dan Mazmur 14:3).

Jika saja manusia menyadari sepenuhnya akan kondisi yang menyedihkan ini, maka mereka akan sampai pada jeritan untuk meminta pertolongan Tuhan: “Aku manusia celaka, siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?…” (Roma 7:24). Nah dalam kondisi inilah Efesus 2:8-10 dapat di serukan dengan pengertian yang lebih dalam dan lebih luas mendasari jawaban Yesus dalam Yohanes 3:16 dan Yohanes 14:6, bahwa hanya melalui Dialah adanya keselamatan. Bahkan Rasul Paulus-pun menguatkan kenyataan ini saat beliau menuliskan: “Dan keselamatan tidak aka di dalam siapapun juga selain di dalam Dia…” (Kisah 4:17). Di sinilah inti “Pembenaran Oleh Iman” itu mulai di kumandangkan dengan kuasa Roh Kudus yang amat besar dalam praktek hidup umat-umat Allah.

Saudaraku, hanya dengan memahami arti “Pembenaran Oleh Iman” yang berpusat dalam Yesus Kristus sajalah yang akan menyanggupkan umat-umat Allah peka dan tanpa keraguan untuk memahami Firman Allah yang hidup sehingga pilar mereka untuk bersaksi akan jadi kokoh. Mari kita lihat beberapa fakta untuk membuktikan konsep ini:
1. Keselamatan hanyalah pada Yesus Kristus saja oleh sebab penjelmaan-Nya (Filipi 2:5-8), ini pilar dari Doktrin Reinkarnasi.
2. Keselamatan hanyalah pada Yesus Kristus saja sebab Ia merasakan kematian dan menggantikan kematian yang seharusnya untuk kita (Roma 5:8; Yesaya 53:4, 5; Roma 8:1; Yohanes 11:25, 26), ini pilar dari Doktrin Penebusan oleh Darah Yesus.
3. Keselamatan hanyalah pada Yesus Kristus saja sebab Ia telah bangkit dari antara orang mati (1 Korintus 15:12-14), ini meneguhkan pilar Doktrin Kebangkitan.
4. Keselamatan hanyalah pada Yesus Kristus saja sebab Ia hidup sekarang sebagai pengantara, memohon pada Bapa demi keselamatan kita (Roma 8:34; COL 156), ini pilar Doktrin Kaabah.
5. Keselamatan hanyalah pada Yesus Kristus saja sebab Ia adalah Juruselamat yang akan dating kembali (Titus 2:13; 1 Tesalonika 4:16;Filipi 3:20, 21; KA 878), ini menguatkan pilar Doktrin Kedatangan Ke-2 kali.

Sebagai kesimpulan, yang tidak kalah pentingnya bagi saya sendiri ialah bahwa keselamatan hanyalah pada Yesus Kristus saja sebab Ia menghidupkan “kehidupan yang murni” sebagai teladan kesempurnaan yang dapat menjauhkan orang berdosa yang mau mengikuti-Nya sehingga lepas dari jerat dosa. Mengapa?, karena kesaksian “kehidupan yang murni” menjawab semua wujud nyata dari Pembenaran Oleh Iman yang akan membentuk umat-umat Allah yang bersaksi dengan dasar pilar iman yang teguh sehingga menghasilkan:

a. Penurutan yang otomatis pada Hukum Allah, yang mengalir dengan sendirinya dalam diri umat-umat Allah sebagai buah iman yang mengasihi (Yohanes 15:14)
b. Buah-buah Roh yang hidup sebagai hasil dari bimbingan Roh Kudus (Galatia 5:22, 23)
c. Pengakuan yang penuh dan mutlak atas ke-Tuhanan Kristus yang menciptakan langit dan bumi melalui peringatan penciptaan Sabat Hari ketujuh (Kejadian 2:1-3, Keluaran 20:8-11)
d. Kesetiaan dalam Penatalayanan melalui penyerahan seluruh kehendak, diri dan semua yang kita miliki (Yesaya 61:1-3; 1 petrus 4:10; 1 Korintus 4:2)
e. Kerajinan dan kerelaan untuk mengumandangkan berita keselamatan sebagai “saksi-saksi Yesus yang Setia” (Matius 28:19, 20; Wahyu 12:17)
Kesetiaan untuk menyatakan dirinya kepada dunia bahwa ia adalah milik Kristus dan hidup hanya untuk Tuhan melalui pembaptisan yang suci.

LATIHAN BAGI DUA BELAS MURID
Kisah Para Rasul – Ellen G. White

Tugas Yang Besar

Sesudah kematian Kristus murid-murid sudah hampir dikalahkan oleh kekecewaan. Tuhan mereka telah ditolak, dipersalahkan, dan disalibkan. Imam-imam dan penghulu-penghulu telah menyatakan dengan ejekan, “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan. Ia raja Israel? Baiklah ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.” Matius 27:42. Matahari pengharapan murid-murid telah terbenam, dan malam telah menimpa hati mereka. Sering mereka mengulangi perkataan, “Padahal kami dulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.” Lukas 24:21. Sepi dan sakit hati, mereka teringat akan perkataan-Nya, “Sebab jika orang berbuat demikian dengan kayu yang hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?” Lukas 23:31.

Yesus telah beberapa kali mencoba membuka masa depan kepada murid-murid-Nya, tetapi mereka tidak menghiraukan untuk memikirkan tentang apa yang dikatakan-Nya. Oleh karena hal ini kematian-Nya telah datang kepada mereka sebagai sesuatu yang mengagetkan; dan sesudah itu, sementara mereka mengulangi masa lampau dan melihat akibat kurang percaya mereka, mereka dipenuhi dengan kesusahan. Bila Yesus disalibkan, mereka tidak percaya bahwa Ia akan bangkit. Ia telah menerangkan dengan jelas bahwa ia akan bangkit pada hari yang ketiga, tetapi mereka bingung untuk mengetahui apa yang Ia maksudkan. Kekurangan pengertian ini meninggalkan mereka pada waktu kematian-Nya. Ketiadaan harapan sama sekali. Mereka sangat kecewa. Iman mereka tidak menembusi bayang-bayang yang telah ditaruh oleh Setan, menghalangi masa mendatang. Semuanya tampaknya samar-samar dan rahasia kepada mereka. Kalau mereka telah percaya pada perkataan Kristus, betapa banyak kesusahan dapat mereka hindarkan.

Diremukkan oleh kemurungan, kesusahan, dan putus asa, murid-murid bertemu bersama-sama di ruangan atas, dan menutup serta merapatkan pintu-pintu, takut bahwa nasib Guru mereka yang kekasih menjadi bagian mereka. Di sinilah Juruselamat, sesudah kebangkitan-Nya, menampakkan diri kepada mereka itu.

Selama empat puluh hari Kristus tinggal di dunia ini, menyediakan murid-murid untuk pekerjaan yang ada di hadapan mereka dan menjelaskan yang sampai kini mereka belum sanggup untuk mengerti. Ia mengucapkan nubuatan-nubuatan tentang kedatangan-Nya, penolakan-Nya oleh orang-orang Yahudi, dan kematian-Nya, menunjukkan bahwa tiap-tiap perincian dari nubuatan-nubuatan ini telah digenapi. Ia mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus menganggap kegenapan nubuatan ini sebagai suatu kepastian kuasa yang akan menyertai mereka dalam pekerjaan mereka di masa yang akan datang. “Lalu Ia membuka pikiran mereka,” kita baca “sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: ‘Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.” Lalu Ia menambahkan “Kamu adalah saksi dari semuanya ini.” Lukas 24:45-48.

Selama hari-hari yang digunakan oleh Kristus dengan murid-murid-Nya, mereka memperoleh suatu pengalaman yang baru. Sementara mereka mendengar Tuhan mereka yang kekasih menjelaskan Kitab Suci dalam terang dari semua yang telah terjadi, iman mereka kepada-Nya dikuatkan dengan sepenuhnya. Mereka tiba di tempat di mana mereka dapat mengatakan, “Aku tahu kepada siapa aku percaya.” 2 Timotius 1:12. Mereka mulai menyadari sifat dan luasnya pekerjaan mereka, untuk melihat bahwa mereka harus memasyhurkan kepada dunia kebenaran yang dipercayakan kepada mereka. Peristiwa mengenai kehidupan Kristus, kematian dan kebangkitan-Nya, nubuatan yang menunjuk kepada peristiwa ini, rahasia rencana keselamatan, kuasa Yesus untuk pengampunan dosa–kepada segala perkara ini mereka telah menjadi saksi, dan harus memberitahukannya kepada dunia. Mereka harus memasyhurkan Injil perdamaian dan keselamatan melalui pertobatan dan kuasa Juruselamat.

Sebelum naik ke surga, Kristus memberikan kepada murid-murid-Nya tugas mereka. Ia mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus menjadi wali dari kehendak dalam mana Ia mewariskan kepada dunia harta kehidupan yang kekal. Kamu menjadi saksi tentang hidup pengorbanan-Ku demi kepentingan dunia, kata-Nya kepada mereka. Kamu telah melihat pekerjaan-Ku bagi Israel. Dan meskipun umat-Ku tidak mau datang kepada-Ku supaya mereka bisa hidup, meskipun imam-imam dan penghulu-penghulu telah perbuat kepada-Ku sebagaimana yang mereka rencanakan, meskipun mereka telah menolak Aku, mereka masih juga akan mempunyai kesempatan yang lain untuk menerima Anak Allah. Kamu telah melihat bahwa semua orang yang datang kepada-Ku dan mengaku dosa mereka, Aku terima dengan tangan terbuka. Ia yang datang kepada-Ku sekali-kali Aku tidak akan menolaknya. Kepadamu, murid-murid-Ku, Aku serahkan pekabaran kemurahan ini. Hal itu akan diberikan kepada orang-orang Yahudi dan orang kafir–mula-mula kepada Israel, dan kemudian kepada segala bangsa, bahasa dan kaum. Semua orang yang percaya akan dikumpulkan di dalam satu sidang.

Perintah Injil adalah piagam misionaris yang besar dari kerajaan Kristus. Murid-murid itu harus bekerja dengan sungguh-sungguh untuk jiwa-jiwa, memberikan kepada semua orang undangan kemurahan. Mereka tidak seharusnya menunggu orang-orang untuk datang kepada mereka; mereka harus pergi kepada orang-orang dengan pekabaran mereka.
Murid-murid harus membawa pekerjaan mereka dalam nama Kristus. Tiap-tiap perkataan dan perbuatan mereka adalah untuk menekankan perhatian pada nama-Nya, seperti mempunyai tenaga vital oleh mana orang berdosa itu boleh diselamatkan. Iman mereka terpusat kepada-Nya yang menjadi sumber kemurahan dan kuasa. Dalam nama-Nya mereka harus mempersembahkan permohonannya kepada Bapa, dan mereka akan menerima jawabnya. Mereka harus membaptiskan dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Nama Kristus harus menjadi semboyan mereka, tanda keagungan mereka, tali persatuan mereka, kuasa untuk tindakan perbuatan mereka, dan sumber kemajuan mereka. Tidak ada sesuatu yang dapat dikenal dalam kerajaan-Nya yang tidak membawa nama-Nya dan tulisan-Nya.
Bila Kristus mengatakan kepada murid-murid, Pergilah kamu di dalam nama-Ku untuk mengumpulkan ke dalam sidang semua orang yang percaya, Ia hanya menegaskan kepada mereka perlunya mempertahankan kesederhanaan. Makin kurang kemegahan dan pertunjukan, makin besar pula pengaruh mereka untuk kebaikan. Murid-murid itu harus mengucapkan dengan kesederhanaan yang sama dengan mana Kristus telah berbicara. Mereka harus memberi kesan kepada para pendengar-Nya pelajaran yang diajarkan kepada mereka.

Kristus tidak mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa pekerjaan mereka tidak sulit. Ia menunjukkan kepada mereka persekutuan kejahatan yang besar yang diatur melawan mereka. Mereka akan berperang “melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6:12. Tetapi mereka tidak akan dibiarkan untuk berperang sendirian. Ia memastikan kepada mereka bahwa Ia akan beserta dengan mereka; bahwa kalau mereka mau pergi dengan iman, mereka akan bergerak di bawah perisai Yang Mahakuasa. Ia minta kepada mereka untuk menjadi berani dan kuat; karena Seorang yang lebih kuat dari malaikat-malaikat akan berada pada sisi mereka–Jenderal tentara surga. Ia mengadakan perlengkapan sepenuhnya untuk menghadapi aniaya atas tugas mereka dan mengambil diri-Nya sendiri tanggung jawab untuk kemajuannya. Selama mereka menaati sabda-Nya, dan bekerja sehubungan dengan Dia, mereka tidak dapat gagal. Pergilah kepada segala bangsa, Ia perintahkan kepada mereka. Pergilah ke tempat yang paling jauh yang dapat dihuni dan pastikanlah bahwa hadirat-Ku akan ada bersama-sama dengan dikau di sana. Bekerjalah dalam iman dan keyakinan; karena waktu tidak pernah akan datang bila Aku akan meninggalkan dikau. Aku akan bersama dengan dikau selamanya, menolong dikau untuk melakukan pekerjaanmu, memimpin, menghiburkan, memuaskan, menolong engkau, memberikan kepadamu kemajuan dalam mengucapkan perkataan yang akan menarik perhatian orang-orang lain ke surga.

bersambung …..

Artikel Rohani

Oleh : Pdt. Kalvein Mongkau

MASA KESUKARAN PADA ABAD PERTENGAHAN

lanjutan …..

dewasa ini satu hal yang terbaru dari ulasan terkait Purgatori, melalui pernyataan Konsili Vatikan Kedua tercantum di dalam Constitution on the Church(Konstitusi Gereja) telah membaharui ajaran konsili-konsili sebelumnya yang berkisar pada eskatologi, mencakup doktrin Purgatori. Dalam Konsili yang sakral ini,menyatakan Purgatori sebagai berikut:
Purgatori adalah “penerimaan-penerimaan dengan devosi agung dengan iman yang patut dimuliakan dari para nenek moyang kita berkenaan dengan persekutuan vital ini dengan saudara-saudara yang berada di dalam kemuliaan sorgawi atau yang sudah mati, yang masih sedang disucikan . . . Pada saat yang sama, di dalam persesuaian dengan minat-minat pastoral kita sendiri, kita mendesak semua yang prihatin, seandainya ada sesuatu pelecehan, perbuatan-perbuatan keterlaluan atau cacat cela-cacat cela yang sudah merangkak pelan-pelan di sini atau di sana, untuk melakukan apa pun di dalam kekuatan mereka untuk menghapuskan atau mengkoreksi mereka, dan untuk memulihkan segala hal kepada satu pujian lebih penuh terhadap Kristus Allah”(Constitution on the Church, Chapter VII, no. 51, The Second Vatican Council).

Pada dasarnya, fakta sejarah ini berupaya ditutupi oleh Gereja Roma Katholik saat ini untuk mengalihkan isyu kepada satu pengumpulan sedekah untuk beramal bagi orang-orang miskin dan bagi para imam demi menghindari dari Purgatori. Bukan tidak mungkin pelayanan yang tanpa pamrih dari Ibu Teresa adalah jargon Gereja untuk mengalihkan isyu ini dewasa ini sementara ajaran Purgatori tak dapat ditutupi karena itu tetap dijunjung tinggi di dalam gereja itu. Motivasi dari Ibu Teresa melayani tanpa pamrih dengan cara beramal di Calcuta, India adalah untuk menyediakan jasa dan doa-doanya bagi jiwa-jiwa yang sudah berada di Purgatori. Namun dalam satu ulasan melalui situs FilipinoForum.Net disebutkan bahwa Ibu Teresa dari Calcutta meminta umat Katholik berdoa baginya sebab ia amat takut bahwa ia akan berakhir di Purgatori. Dan di sini, umat yang bahkan tidak mendekati kekudusan dari Ibu Teresa dari secara 100 persen pasti mereka akan langsung pergi ke sorga!!!

Di dalam satu pernyataan berjudul Grateful for Purgatory,Ibu Teresa menyampaikan salah satu doanya pada saat ia berada di Calcuta, India, yang telah dimuat dalam satu judul rubrik yakni “Blessed Teresa of Calcutta: Using Everything for the Glory of God,” yang menunjukkan satu keyakinannya yang mendalamterkaitkepercayaannya untuk berdoa bagi satu jiwa di Purgatori berbunyi sebagai berikut:
” I can’t bear being photographed,
but I make use of everything for the glory of God.
When I allow a person to take a photograph,
I tell Jesus to take one soul to Heaven out of Purgatory.”

(Terjemahan penulis: “Saya tidak dapat dipotret, tetapi saya menggunakan sesuatu untuk kemuliaan Allah. Ketika saya membiarkan seseorang memotret, saya berkata kepada Yesus untuk mengambil satu jiwa ke Sorga keluar dari Purgatori.”)
H. M. Carson menulis, “Ia (Ibu Teresa) direndam di dalam dugaan Purgatori sebagaisatu tempat pemurnian akhir melalui penderitaan untuk mana missa boleh dipersembahkan. Begitu banyak untuk dugaan bahwa ia berada di sorga. Ajarannya hanya dapat mengambilnya sejauh purgatori. Penyangkalan tragis terhadap Kitab Suci ini disoroti pada Radio 4 BBC Radio ketika seorang imam membicarakan sikapnya terhadap para fotografer. Ia membenci pemotretan terhadap dirinya tetapi dilawan dengan oleh berdoa masing-masing waktu untuk kelepasan terhadap satu jiwa lagi dari purgatori–ini adalah seruan yang jauh dari jaminan rasul injil Paulus. Kepada dia, “hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan”(2 Korintus 5:8). Bahkan dengan mendapatkan malapetaka yang menyesatkan yakni penyembahan terhadap Maria. Ini tentu saja, sesuai dengan Hinduismedengan sekumpulan dewa-dewanya yang banyak. Paham Katholik Roma di India sangatlah sinkretistik, sudah mengadopsi praktek-praktek Hindu. Saya mengingat ketika berada di Bangalore ketika hari-hari raya Katholik Roma diadakan di kathedral. Nampaknya sangat serupa dengan kuil Hindu. Saya mengingat dengan bersemangat seorang wanita menaruh tangannya dengan tulus di atas kaca yang menutupi patung Mariadan kemudian menaruhnya ke atas kepalanya.” Secara jelas kesaksian dari H. M. Carson menunjukkan bagaimana seorang wanita penganut Katholik mempraktekkan tata cara berdoa saat ia berada di depan altar di dalam Kathedral yang mempraktekkan doa-doa bagi jiwa-jiwa yang sudah di dalam Purgatori. Dan paham Purgatori di gereja Roma Katholik ini telah diadopsi dari kekafiran di kerajaan Romawi kuno tetapi cara dan sikap berdoa di dunia modern ini masih tetap memiliki kemiripan dengan suatu agama yang menyembah patung milik agama Hindu yang mana notabenenya sudah pasti melanggar hukum pertama dan kedua dalam 10 Hukum Allah yang dituliskan di atas dua loh batu oleh jari Tuhan sendiri (Keluaran 31:18). Melalui Alkitab, Tuhan bahkan melarang praktek-praktek untuk berdoa bagi orang mati yang mana di dunia kekafiran pada jaman Perjanjian Lama boleh jadi itu adalah suatu hal yang sering dibuat. Sebab dalam Imamat 19:28 disebutkan: “Janganlah kamu menggoresi tubuhmu karena orang mati dan janganlah merajah tanda-tanda pada kulitmu; Akulah TUHAN.”

Berikut ini adalah salah satu contoh bunyi doa dari orang kudus bernama St. Gertitude Agung yang berdoa untuk melepaskan jiwa-jiwa dari Purgatori:
“Bapa Kekal,
Saya mempersembahkan kepadamu darah paling berharga Anak Ilahi-Mu, Yesus di dalam persekutuan dengan Misa yang berlangsung hingga dunia dewasa ini, demi semua jiwa yang kudus di Purgatori, demi semua orang berdosa di mana saja, demi semua orang berdosa di dalam Gereja Universal, mereka di dalam rumahku sendiri, di dalam keluargaku. Amin!”

Ada seorang wanita bernama Maria Simma (1915-2004) dipercayai menyimpan rahasia jiwa-jiwa yang miskin di Purgatori. Pengalaman dari Simma ini telah berupaya menyokong doktrin gereja Katholik bahwa benar-benar, dan penderitaan-penderitaan bahwa jiwa-jiwa orang miskin mengalami penderitaan yang amat nyata dan amat menyakitkan. Telah diceritakan bahwa sejak tahun 1940 (saat ia masih berumur 25 tahun), satu jiwa yang istimewah, bernama Maria Simma, sudah mendapatkan kunjungan secara teratur dari Jiwa-Jiwa di dalam Purgatori untuk menjelaskan penderitaan-penderitaan mereka dan meminta agar doa-doa dan Missa sehingga mereka dilepaskan dari Purgatori. Uskup lokalnya dan pendeta wilayahnya mengatakan bahwa ia dapat memberitahukan kunjungan-kunjungan dari jiwa-jiwa dari Purgatori itu sepanjang itu tidak ada kesalahan-kesalahan teologis. Suster Emmanuel Medjugorje sempat mewancarai Maria Simma terkait kunjungan dari jiwa-jiwa dari Purgatori tersebut kepada Maria Simma telah dimuat dalam sebuah booklet berjudul: The Amazing Secret of the Souls in Purgatory, diterbitkan oleh Queenship Publishing Co., P.O. Box 220, Goleta, CA. 93116, USA. Salah satu pertanyaan dari suster Emmanuel Medjugorjeadalah sebagai berikut:

• Tanya:Maria, dapatkah anda menceritakan kepada kami bagaimana anda dikunjungi pertama kali oleh satu jiwa yang sudah berada di dalam Purgatori?
Jawab:Ya, ituterjadi pada tahun 1940. Pada satu malam, sekitar jam 3 atau jam 4 tepat pada dini hari, saya mendengar seseorang masuk ke kamar tidurku… saya melihat seseorang yang benar-benar aneh. Ia berjalan mundur dan maju secara perlahan-lahan. Saya berkata kepadanya secara keras: “Bagaimana anda bisa masuk ke sini? Keluar!” Tetapi ia tetap berjalan dengan sabar di sekitar kamar seolah-olah ia tidak mendengar. Jadi saya bertanya dia lagi: “Apa yang anda sedang lakukan?” Tetapi ia masih tidak menjawab, saya melompat dari tempat tidur dan mencoba untuk menangkap dia, tetapi saya hanya menangkap udara. Di sana tidak ada apa-apa. Jadi saya kembali ke tempat tidur, tetapi lagi-lagi saya mendengar dia melangkah mundur dan maju. Saya heran bagaimana saya dapat melihat orang ini, tetapi saya tidak dapat menangkap dia. Saya bangun lagi untuk memegang dia dan untuk mengentikan dia dari berjalan di sekitar; lagi-lagi saya hanya menangkap kekosongan. Karena kebingunga, saya kembali ke tempat tidur. Ia tidak lagi kembali, tetapi saya tidak dapat kembali tidur. Keesokkan harinya, sesudah Missa, saya melihat pangarah rohaniku dan menceritakan kepadanya segala sesuatu. Ia berkata kepadaku bahwa jikalau ini akan terjadi lagi, saya jangan lagi bertanya, “Siapa anda?” tetapi “Apakah yang anda inginkan dariku?”Malam berikutnya, orang itu datang lagi. Saya bertanya kepadanya: “Apa yang anda inginkan dariku?” Ia menjawab: “Adakan tiga perayaan Missa untukku, dan saya akan dilepaskan.”Jadi saya memahami bahwa itu adalah satu jiwa di dalam Purgatori. Pengarah rohaniku mengkonfirmasi ini. Ia juga menasihatiku agar jangan pernah mengusir jiwa-jiwa malang tersebut, tetapi menerima dengan murah hati apa saja yang mereka minta dariku.

• Tanya:Dan sesudah itu, apakah kunjungan-kunjungan itu tetap berlanjut?
Jawab:Ya. Selama beberapa tahun, hanya ada tiga atau empat jiwa, yang terpenting di bulan Nopember. Sesudah itu, ada lagi yang datang.

• Tanya:Apakah yang jiwa-jiwa ini mohonkan kepadamu?
Jawab:Di dalam sebagian besar kasus-kasus itu, mereka meminta untuk mengadakan perayaan Missa dan itu harus dipaparkan di acara-acara Missa ini. Mereka meminta untuk mengadakan Rosari yang dikatakan dan itu juga membuat membuat Stasiun Salib.

• Tanya:Maria, apakah yang jiwa-jiwa di Purgatori miliki, meskipun demikian,sukacita dan pengharapan di pertengahan penderitaan?
Jawab:Ya. Tidak ada jiwa yang menginginkan untuk kembali dari Purgatori ke bumi. Mereka memiliki pengetahuan yang mana secara tak terbatas di seberang pengetahuan kita. Hanya saja mereka tidak dapat memutuskan untuk kembali ke kegelapan di bumi. Di sinilah kita melihat perbedaan dari penderitaan yang kita ketahui di atas bumi. Di dalam Purgatori, sekalipun penderitaan jiwa tersebut mengerikan, namun ada kepastian dari jiwa yang hidup selama-lamanya bersama Allah. Itulah kepastian yang tak goyah. Sukacita adalah lebih besar dari pada penderitaan. Tidak ada apa-apa di atas bumi yang mana dapat membuat mereka ingin untuk hidup di sini lagi, di mana seseorang tidak pernah memastikan sesuatu.

• Tanya:Maria, dapatkah engkau mengatakan kepada kita sekarang jikalau adalah Allah yang mengirimkan suatu jiwa ke dalam Purgatori, atau jikalau jiwa itu sendiri memutuskan untuk pergi ke sana?
Jawab:Sesungguhnya jiwa itu sendiri yang mana ingin pergi ke Purgatori, agar supaya menjadi murni sebelum pergi ke Sorga.

• Tanya:Maria, mengapa suatu jiwa ke Purgatori? Apakah dosa-dosa yang mana paling menuntun ke Purgatori?
Jawab:Itu adalah dosa-dosa yang melawan amal, melawan kasih dari tetangga seseorang, kekerasan hati, permusuhan, umpat, fitnahan — segala hal ini.

• Tanya:Apakah harta milik yang mana kita dapat amalkan di atas bumi dapat menghindarkan kita dari Purgatoridan langsung pergi ke Sorga?
Jawab:Kita harus melakukan amal yang banyak sekali demi jiwa-jiwa di Purgatori, karena mereka menolong kita di dalam giliran mereka. Kita harus memiliki banyak kerendahan hati. Inilah senjata terbesar melawan kejahatan, melawan Yang Jahat. Kerendahan hati mengusir yang jahat.

Dari hasil wawancara ini dapat ditarik pengertian bahwa gereja Roma Katholik tetap menerima dan mempercayai ajaran Purgatori karena didukung oleh kepercayaan terhadap roh-roh orang mati dan tahyul-tahyul yang mana notabenenya mendukung paham kebakaan jiwa.Ujung-ujungnya saat ini adalah bahwa ajaran Purgatori dari gereja ini berintegrasi dengan paham Intermediate State yang dikembangkan dan dipertahankan di gereja-gereja Protestan.

bersambung ….

Kirimkan artikel, berita dan kesaksian anda ke redaksi BAIT melalui email redaksi@baitonline.org

Artikel Rohani

HUJAN AKHIR
Oleh : Jerry Mamahit

Bilamana mempelajari tentang kecurahan Roh Suci dalam kerangka penyelesaian pekerjaan Injil, maka ayat-ayat yang selalu di pakai untuk topik ini adalah yang terdapat di kitab Joel 2:28; “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat.” Ayat ini yang dikutip oleh Rasul Petrus ketika dia berkhotbah pada hari raya Pentakosta, yang didengar oleh banyak orang dan dimengerti mereka, sesuai dengan bahasa mereka masing-masing. Pada hari raya Pentakosta itu Roh Suci dicurahkan dan tampak seperti lidah-lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing, “dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing,” Kisah 2:3.

Tentang hujan awal dan hujan akhir dicatat di beberapa kitab didalam Kitab Suci, dan yang sering dikutip yaitu dari kitab Joel sebagai berikut “Hai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena TUHAN, Allahmu! Sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkan-Nya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu,” Joel 2:23 dan didalam Kemenangan Akhir halaman 530, kecurahan Roh Suci di Joel 2:28 dan Kisah 2:3 dihubungkan dengan Joel 2:23, sehingga dapat dipahami bahwa kecurahan Roh Suci terjadi dua kali, pertama disebut hujan awal dan kedua disebut hujan akhir, yaitu; “Malaikat yang bergabung dalam penyiaran pekabaran malaikat yang ketiga, menerangi seluruh dunia dengan kemuliannya.…. Pekerjaan itu akan mirip dengan pekerjaan pada hari Pentakosta. Sebagaimana “hujan awal” telah diberikan dengan kecurahan Roh Kudus pada waktu pembukaan pekabaran Injil yang menyebabkan benih berharga itu tumbuh, demikian juga “hujan akhir” akan diberikan pada penutupannya, untuk mematangkan tuaian” KA 530. Yesus menyebutkan waktu penuaian itu adalah akhir zaman, “Waktu menuai ialah akhir zaman…..” Matius 13:39. Roh Nubuat menulis tentang hujan akhir itu sebagai berikut; “Pekerjaan besar pengabaran Injil tidak akan ditutup dengan manifestasi kuasa Allah yang kurang dari yang menandai pembukaan penyiarannya. Nubuatan-nubuatan yang telah digenapi pada pencurahan hujan awal pada pembukaan penyiaran Injil, sekali lagi akan digenapi pada hujan akhir pada penutupan penyiaran Injil itu,” KA 531. Dan Roh Nubuat di buku Maranatha mencatat, “Tetapi mendekati tutupnya penuaian bumi, suatu kecurahan karunia rohani yang istimewa telah dijanjikan untuk mempersiapkan gereja menyongsong kedatangan Anak Manusia. Kecurahan Roh ini diibaratkan dengan turunnya hujan akhir,” M 256.

Dari catatan di Kitab Suci dan dari Roh Nubuat diatas, dapat kita memahami bahwa yang dimaksud dengan “hujan awal” itu adalah kecurahan Roh Suci di hari raya Pentakosta ditahun 31 AD, yaitu dimulainya pekerjaan Injil, dan yang dimaksud dengan “hujan akhir” ialah kecurahan Roh Suci pada penutupan pekerjaan Injil yaitu diakhir zaman. Roh Nubuat menggunakan kalimat “kelegaan dari hadirat Tuhan” untuk menyebutkan kecurahan Roh Suci, di buku Kemenangan akhir, “mereka telah menerima “hujan akhir” waktu kelegaan dari hadirat Allah” KA 532, dan di buku Maranatha disebut “penyegaran dari hadirat Tuhan”, “Ketika pekerjaan keselamatan hendak ditutup kesukaran akan menimpa bumi, bangsa-bangsa akan marah. Pada saat itu “hujan akhir” atau “penyegaran” dari hadirat Tuhan akan turun,” M 170.

Tentang karunia Roh Suci, Roh Nubuat mencatat bahwa, “Kristus telah menjanjikan karunia Roh Suci kepada jemaat-Nya, tetapi sama dengan setiap janji yang lain, karunia itu diberikan bersyarat,” DA 672. Lukas 11:13 mengatakan yang Roh Kudus akan diberikan kepada mereka yang memintanya, yaitu, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Yang dimaksud dengan “permintaan” di ayat ini adalah permohonan melalui berdoa.

Di dalam Roh Nubuat banyak ditulis tentang doa yang mendahului kecurahan Roh Suci (hujan akhir), diantaranya sebagai berikut; “Kita harus berbicara dan berdoa dalam iman, supaya kita bisa memperoleh pengurapan yang berharga dari Roh Suci,” Letter 230 1899, “Sekarang adalah waktu dari hujan akhir. Berdoa dengan sungguh-sungguh, dan berjaga dalam Roh,” TM 512. “Waktu-waktu tertentu untuk berdoa seharusnya dilakukan untuk kecurahan Roh Suci,” Letter 292 1907. “If you will find voice and time to pray, God will find time and voice to answer,” ML 16. “Doa adalah kunci dalam iman untuk membuka perbendaharaan surga, dimana tersimpan harta yang tak ada batasnya dari Yang Maha Kuasa,” SC 94,95. “berkat yang terbesar yang Allah dapat berikan kepada manusia ialah roh berdoa yang sungguh-sungguh,” RH Oct 20, 1896. “Bila terdapat permohonan dari semua jemaat diatas bumi, dan pokok doa persatuannya adalah Roh Suci. Bila ada yang demikian itu, Kristus yang mencukupi keperluan kita selalu hadir, kita akan memperoleh setiap keperluan kita,” Letter 114 1894. Hubungan pribadi yang sungguh dengan Tuhan melalui doa, adalah kunci dari penerimaan “Roh Suci” dalam kerangka “hujan akhir.” dan doa ini pada umumnya dipanjatkan oleh setiap orang didalam kamar sendiri tanpa diketahui orang lain. Roh Nubuat menulis tentang ini sebagai berikut “Kemenangan yang terbesar diperoleh …..… diperoleh dikamar bersama Allah,” GW 259. “Kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh untuk turunnya Roh Suci seperti murid-murid berdoa pada hari Pentakosta. Jika mereka memerlukannya pada waktu itu, kita lebih memerlukannya sekarang,” 5T 158. “Mereka (murid-murid) dalam persekutuan terus berdoa… Walaupun Kristus telah berjanji kepada murid-Nya yang mereka akan menerima Roh Suci, janji ini tidak menggantikan keperluan mereka untuk berdoa,” GW 1892 ed., pp. 370,371. Demikian pentingnya “Doa” ini yang adalah nafas kerohanian yang mendahului kecurahan Roh Suci, sehingga di pelajaran SS kwartal ketiga 2013, pelajaran tentang doa ini ditempatkan di pelajaran kedua.

Kita akan sungguh-sungguh berdoa untuk memohon “Roh Suci” dalam kerangka hujan akhir kalau kita merasa ada keperluan untuk itu. Roh Nubuat mencacat; “The more we discover our real need, our real poverty, the more we desire the gift of the Holy spirit,” MS 3, 1892. Itu sebabnya di pelajaran SS kwartal ketiga 2013 dipelajaran pertama adalah dimaksudkan untuk menyadarkan setiap umat GMAHK tentang keadaan mereka yang sebenarnya sebagai jemaat Laodekia, yang permasalahannya hanya dapat diselesaikan melalui kecurahan “Roh Suci.” “At this very hour His Spirit and His grace are for all who need them and will take him at His word,” 8T20.

Selanjutnya di Roh Nubuat dicatat, pekabaran tiga malaikat harus disatu padukan, dengan memberikan terang rangkap tiga kepada dunia. Tentang hal ini Roh Nubuat menulis sebagai berikut, “Aku melihat seorang malaikat lain turun dari surga, ia mempunyai kekuasaan yang besar dan bumi menjadi terang oleh kemuliaannya (Wahyu 18:1).” … Ini menunjukkan pekabaran amaran terakhir dan rangkap tiga kepada dunia,” M 173. Tulisan ini menjelaskan bahwa pekabaran pada periode hujan akhir adalah pengulangan dari pekabaran tiga malaikat yang intinya adalah panggilan untuk memelihara hari Sabat sebagaimana yang diajarkan, yang menjadi tanda bahwa Tuhan adalah khalik kita dan kita adalah umat-Nya. Pekabaran ini menuntut setiap umat yang menyediakan diri bagi hujan akhir adalah umat yang setia menyucikan hari Sabat sebagaimana seharusnya, dan kelalaian dalam hal ini berarti tidak bersedia untuk menerima hujan akhir.

Selengkapnya, persiapan untuk menerima hujan akhir adalah yang ditulis di buku Maranatha yaitu; “Saya melihat bahwa tidak ada orang yang memperoleh penyegaran (hujan akhir) kecuali mereka mencapai kemenangan atas setiap kesusahan, kecongkakan, cinta diri, cinta dunia dan atas perkataan dan perbuatan salah…..Hendaklah semua orang ingat bahwa Allah itu kudus dan tidak ada selain makhluk makhluk kuduslah yang dapat berdiam dihadirat-Nya sampai selama-lamanya,” M 254. Selanjutnya ditulis di Roh Nubuat, “Tidak satupun di antara kita yang akan pernah menerima meterai Allah apabila didapati cela atau noda dalam tabiat kita. Telah diserahkan kepada kita untuk menyembuhkan cacat cela dalam tabiat kita untuk membersihkan kaabah jiwa daripada setiap kenajisan. Barulah hujan akhir dicurahkan,” M 240. Kutipan-kutipan ini menjelaskan bahwa mereka yang kudus dan tanpa cacat dan cela dalam tabiat yang akan menerima hujan akhir, dan kekudusan, dan tabiat tanpa cacat dan cela adalah pekerjaan pada periode hujan awal, Dan untuk mencapai tingkat ini hanyalah melalui doa dan firman-Nya. Rasul Yohanes mencatat tentang ini di doa Yesus untuk umat-Nya “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran, “ Yoh. 17:17. Begitu mutlaknya Firman Tuhan itu, sehingga hal itu dijelaskan untuk dipelajari kembali, di pelajaran SS kwartal ketiga pada pelajaran ketiga yang khusus tentang Firman karena, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku,” Maz. 119:105 dan memimpin kepada keselamatan, yang ditulis oleh Rasul Paulus pada suratnya kepada Timotius, “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus,” 2 Tim. 3:15.

Paragrap terakhir diatas menjelaskan bahwa hujan akhir dicurahkan kepada mereka yang kudus dan tabiatnya tanpa cacat dan cela, dengan kata lain hujan akhir tidak membuat orang menjadi kudus, tanpa cacat dan cela. Roh Nubuat di Maranatha mencatat tujuan dari hujan akhir, yaitu; “Ketika pekerjaan keselamatan hendak ditutup kesukaran akan menimpa bumi, bangsa-bangsa akan marah. Pada saat itu “hujan akhir” atau “penyegaran” dari hadirat Tuhan akan turun untuk memberi kuasa pada suara nyaring malaikat yang ketiga dan mempersiapkan orang-orang saleh supaya tahan berdiri pada masa tujuh laknat terakhir dicurahkan” M 170. Jadi tujuan hujan akhir adalah untuk memberi kuasa bagi penyelesaian pekerjaan Injil dan yang kedua supaya umat Tuhan tahan berdiri pada masa bila tujuh laknat dicurahkan.

Mengingat kutipan terakhir di Maranatha 170, maka tidak ada jalan lain bagi kita, kecuali ikut serta dalam membawa pekabaran tiga malaikat (penyelesaian pekerjaan Injil) dan bersiap supaya tahan berdiri terhadap tujuh laknat yang akan dicurahkan, dengan jalan mmpersiapkan diri untuk menerima hujan akhir dan melalui sarananya yaitu ikut serta dalam kegiatan “kebangunan dan perubahan” yang sekarang ini sementara berlangsung. Karena “kebangunan dan perubahan” adalah mendahului kecurahan hujan akhir. Roh Nubuat menulis, “Sebelum dilangsungkan penghakiman Allah yang terakhir atas dunia ini, diantara umat Tuhan akan terjadi suatu kebangunan rohani (revival), yang belum pernah disaksikan sejak zaman rasul. Roh dan kuasa Allah akan dicurahkan keatas anak- anak Nya,” KA 436. Sekarang ini adalah kesempatan yang terakhir, jangan sampai terjadi seperti yang diamarkan Roh Nubuat yaitu, “Mungkin hujan (hujan akhir) itu sedang turun kedalam hati orang-orang yang berada di sekeliling kita, akan tetapi kita mengetahuinya dan tidak menerimanya,” M 219, karena jika yang demikian itu terjadi, maka hidup kekal kita yang kita pertaruhkan.***

Cerita Untuk Anak

Dikirim oleh Max Kaway

YEHEZKIEL : MANUSIA PENGLIHATAN
Yehezkiel 1-37

Bertahun-tahun yang lalu, tentara yang besar menyerang Yudea, menawan banyak umat Tuhan untuk dibawa kembali ke Babel sebagai tawanan. Jauh dari rumah mereka, orang-orang Yahudi itu hidup di tepi sungai Kebar.

Suatu hari Tuhan memberikan satu penglihatan kepada Yehezkiel. Kemuliaan Tuhan menampakkan diri sebagai satu cahaya yang terang benderang, di tengah-tangah itu juga ada yang menyerupai makhluk hidup. Masing-masing mempunyai empat muka dan empat sayap. Di atas mereka ada takhta safir yang indah, yang dipenuhi dengan sinar berkilat seperti pelangi. Saat Yehezkiel melihat itu dia sembah sujud.

Tuhan berbicara kepada Yehezkiel. “Aku mengutus engkau kepada orang Israel. Sampaikan perkataan-perkataanKu kepada mereka. Sebab mereka adalah pemberontak.” Satu tangan terulur dan memegang sebuah gulungan kitab. “Makanlah gulungan kitab ini.” Tuhan berfirman, “ dan pergilah berbicara kepada kaum Israel.” Sungguh satu perintah yang aneh! Tetapi Yehezkiel menaatinya, memakan gulungan kitab itu dan pergi.

Roh Tuhan mengangkat dan membawa Yehezkiel pergi kepada orang-orang Yahudi buangan yang tinggal di tepi sungai Kebar. Selama tujuh hari dia duduk tertegun di tengah-tengah mereka. Kemudian Tuhan menjadikan Yehezkiel sebagai seorang penjaga. Dia memperingatkan orang-orang jahat untuk tidak melanggar perintah Tuhan.

Yehezkiel melakukan banyak hal yang aneh agar firman Tuhan itu menjadi jelas bagi seluruh rakyat. Dia mengukir sebuah gambar Yerusalem di atas sepotong batu bata. Mungkin orang-orang melihat melalui bahunya sementara ia manggambarkan gambaran satu pasukan tentara yang besar mengepung Yeurusalem. Dia menujukkan bahwa kota suci Tuhan akan segera dihancurkan.

Israel, kerajaan yang di utara, tidak menaati Tuhan selama 390 tahun, dan Yeduda, kerajaan di sebelah selatan selama 40 tahun. Itulah sebabnya Israel akan dibinasakan dan Yehuda dengan segera akan jatuh. Tuhan berkata kepada Yehezkiel untuk berbaring di sisi kiri selama 390 hari. Dan di sisi kanan selama 40 hari untuk mengingatkan orang-orang akan tahun-tahun berdosa mereka. Mungkin orang-orang akan mulai berpikir bahwa Yehezkiel adalah orang yang sangat aneh. Dia melakukan segala sesuatu yang Tuhan katakan kepadanya. Suatu hari, dia mencukur rambutnya dan membakar ketiga bagiannya. Hal ini menunjukkan bahwa sepertiga dari orang-orang yang tinggal di Yerusalem akan mati karena sampar dan kelaparan saat tentara Babel menyerang kota.

Yehezkiel mengambil sepertiga rambutnya dan memotongnya dengan pedang. Ini menunjukkan bahwa sepertiga umat akan mati oleh pedang-pedang musuh. Sepertiga yang lain, dihamburkan Yehezkiel di tiup angain. Tetap dia manyimpan sedikit rambutnya dan menyimpannya dalam punca kainnya sebagai satu tanda bahwa Tuhan akan menjaga keselamatan beberapa dari umat dan mengembalikan mereka ke tanah Perjanjian.

Nabi yang berani itu mengatakan kepada orang Yahudi buangan segala sesuatu akan memburuk, tidak semakin baik seperti yang mereka harapkan. Orang-orang itu menjadi marah kepada Yehezkiel, tetapi dia tetap mengatakan tentang Firman Tuhan.

Suatu hari, saat dia duduk dengan tua-tua Israel, Tuhan memberikan penglihatan kepada Yehezkiel. Dalam penglihatan itu, Tuhan mengangkat dia pada rambutnya dan membawanya ke rumah ibadah di Yerusalem. Di dalam rumah ibadah itu, Tuhan menjukkan kepada Yehezkiel hal-hal yang mengerikan, binatang-binatang yang kotor, dan patung-patung. Semua itu tidak seharusnya ada di dalam Rumah Tuhan. Dari pada menyembah Tuhan para pemimpin menyembah berhala-berhala ini. Tuhan juga menunjukan kepada Yehezkiel bahwa kemuliaanNya sesudah meninggalkan Rumah Tuhan ini dan Rumah Tuhan ini akan dihancurkan. Saat penglihatan ini berakhir. Yehezkiel mengatakan kepada orang Yahudi mengenai hal ini.

Semua yang dikatakan Tuhan menjadi kenyataan, Yerusalem dihancurkan. Banyak orang mati, Ketika orang Yahudi buangan di Babel mendengar hal ini, mereka berharap Tuhan akan mengangkat umatNya selalu. Tetapi Tuhan memberikan pesan yang lain kepda nabiNya. Dia memipin Yehezkiel ke lembah yang penuh dengan tulang-tulang manusia. “Anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” Tuhan bertanya kepada Yehezkiel. “Ya Tuhan Allah, Engkaulah yang mengetahui!” Yehezkiel manjawab. Tentu saja tulang-tulang kering tidak dapat hidup kembali.

Tuhan berfirman, “Benubuatlah mengenai tulang-tulang kering ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering dengarlah firman Tuhan! Kamu harus hidup.” Saat dia menaati, Yehezkiel mendengar suara berderak-derak. Dalam pikiranmu apa yang terjadi?

Sementara sang nabi melihat dalam kekaguman, tulang-tulang bersatu satu sama lain. Kemudian daging tumbuh padanya. Dan kulit menutupi mereka, tetapi mereka belum bernafas. Tuhan berfirman, “Bernubuatlah, anak manusia dan katakanlah ‘Hai nafas hiudup, datanglah dari empat penjuru angin. Berhembuslah…supaya mereka hidup kembali.” Saat Yehezkiel melakukannya, dan nafas hidup itu masuk ke dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya. Satu tentara yang sangat besar.

Tuhan tahu oang Yahudi di Babel tanpa pengharapan saat Yerusalem jatuh. Dia mengirimkan satu pesan melalui penglihatan Yehezkie., “Tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel. “ Tuhan berfirman. “Aku akan memberikan RohKu ke dalammu, dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu.”

Sungguh suatu pesan pengharapan yang luar biasa dari Tuhan! Janji Tuhan melalui Yehezkiel menjadi nyata saat orang-orang Yahudi kemudian kembali ke tanah mereka. Mereka tahu bahwa Tuhan akan membawa mereka pulang ke tanah mereka.***

Inpirational Story

Indahnya Kasih Sejati
OLeh : Bredly Sampouw

Konon di Jepang pernah ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan. Mereka yang dibuang orang tua yang sudah tidak berdaya supaya tidak memberatkan kehidupan anak-anaknya.

Pada suatu hari, ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan karena si ibu telah lumpuh dan mulai pikun. Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya tersebut. Si ibu yang kelihatan tad berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya dan mematahkannya kemudian menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Sesampainya di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata, ia juga tidak menyangka sanggup melakukan perbuatan itu.

Justru si ibu yang tampak tegar. Dalam senyumnya ia berkata, “Anakku, aku sangat menyayangimu. Dari kau sejak kecil sampai dewasa, aku selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini, rasa sayangku tidak berkurang sedikit pun. Tadi, aku sudah menandai sepanjang jalan yang kita lewati dengan ranting-ranting kayu. Aku takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai di rumah.”

Setelah mendengar kata-kata tersebut, si anak menangis dengan sangat keras. Ia kemudian memeluk ibunya dan kembali menggendongnya untuk membawa si ibu pulang ke rumah. Pemuda tersebut akhirnya merawat ibu yang sangat mengasihinya sampai si ibu meninggal.

Inspirasi
Untuk Direnungkan : Di posisi mana Anda saat ini? Apakah Anda seorang anak yang mempunyai orang tua yang sudah mulai tua? Apakah Anda merasa sangat direportkan oleh kehadiran mereka? Apakah terbesit sedikit keinginan untuk menitipkan mereka ke rumah jompo? Atau Anda adalah orangtua yang saat ini ditinggalkan oleh anak-anak Anda di panti jompo? Apakah Anda merasa kesepian? Tidakkah Anda ingin menjadikan Yesus sebagai Sahabat Sejati Anda?

Untuk Dilakukan : “Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.” Maleakhi 4 : 6

Saat kasih diberikan tanpa motivasi untuk mendapatkan sesuatu, justru sering kali balasannya jauh lebih dahsyat lagi. Sering kita baru sadar ketika menerima balasan diluar pikiran kita dari orang lain termasuk orant tua kita. Kita sering kali lupa Kasih sayang orang tua kita sejak kecil hingga dewasa, kita sibuk dengan mengejar materi, popularitas atau kesenangan dunia. Sampai orang tua yang membesarkan kita dijadikan nomor wahid dalam hidup. Ingat kita boleh saja melupakan budi baik, tetapi orangtua tidak akan pernah lupa sampai akhir hayat.

“Hormatilah Orang tuamu didalam Tuhan”

Global Outreach Fellowship (GOF) di RSA Manado
Dilaporkan oleh: Tim Redaksi

Manado [BAIT]. Global Outreach Fellowship (GOF) dari Amerika Serikat yang mengadakan KKR Serentak di berbagai site di Minahasa, pada Selasa 17 September 2013 menyempatkan diri menghadiri undangan khusus dari Rumah Sakit Advent Manado untuk melihat dari dekat perkembangan yang ada setelah RS ini berusia 5 tahun. Rombongan yang dipimpin Mrs. Sherly meninjau berbagai fasilitas yang ada seperti ruangan Radiologi, CT Scan, farmasi, OPD, UGD, kamar pasien dll diantar oleh dr. Eddy Antou MBA-H.
Dalam sejarahnya yang menjadi penyokong utama beroperasinya lembaga kesehatan yang dikenal dengan Rumah Sakit Advent Manado adalah orang Indonesia yang berada di Amerika Serikat dan Jakarta. Sumbangan pikiran, ide, tenaga dan finansial dari negeri Paman Sam terbilang signifikan. Hal itu dapat dilihat dari nama-nama yang tertera didepan kamar dan ruangan di gedung Rumah Sakit. Dan selanjutnya sampai sekarang ini saudara-saudara dari Amerika asal Indonesia baik perorangan maupun Jemaat tetap memberikan kontribusi bagi pengadaan fisik serta equipment di Rumah sakit ini.

Kunjungan Tim KKR ini sebelumnya dijamu dengan hidangan Vegetarian yang disiapkan oleh ibu-ibu di RSA Manado. “Lima Tahun dengan perkembangan seperti ini sangat menakjubkan” kata Mr. Jack Rantung dari California.
Mengenal Yesus di Lapangan
oleh Pdt. R. Kesaulya
Oleh: Tim BAIT

Manado [BAIT]. Pdt. Reinhold Kesaulya mantan Ketua Uni Indonesia Kawasan Timur selama satu minggu ini membakar rohani pengunjung untuk tetap bernyala di dalam Kristus. Di malam kedua beliau menyampaikan pekabaran Tuhan dengan tema Tanda-Tanda Kedatangan Yesus Kristus menggunakan berbagai ilustrasi terkini yang mendapat sambutan begitu hangat dari para pengunjung.

KKR dengan tema “Mengenal Yesus” diselenggarakan selama satu minggu dari 13-21 September. KKR ini dibantu oleh Tim IT dari Nusantara University yang dipimpin lansung oleh bapak Rektor Mr. Lucky Mangkey Msc, Mkom yang sangat membantu walaupun listrik sempat padam. Lokasi KKR bertempat di ruas jalan Airport hanya dua ratus meter dari Lapangan Terbang Sam Ratulangi.

Pdt. Alex Rantung Memperkenalkan Yesus di Teling
Oleh Tim Bait

Manado [BAIT]. Bertempat di Gereja Advent Teling Pdt. Alex Rantung mantan ketua GMAHK UKIT dan juga Sekretaris SSD memperkenalkan Yesus di Teling dalam satu seri KKR dengan judul Mengenal Yesus.

Pdt. Alex Rantung telah bertahun-tahun tinggal di Amerika Serikat sebagai Gembala Jemaat Everett di Seattle. Walaupun telah berumur 74 tahun tetapi semangat dan penampilannya jauh dibawah umurnya. Evangelisasi adalah jalan hidup saya, katanya banyak kali diberbagai kesempatan. Itu sebabnya ketika ada kesempatan untuk menginjil di negeri sendiri maka hal ini tidak disia-siakan.

Beliau datang dengan Mrs. Netty Rantung Hendriks bersama putra mereka Indra Rantung. Setiap malam hadirin membanjiri gedung KKR dengan pembahasan yang sangat memikat. Data-data terkini disampaikan dengan gamblang mengenai keadaan dunia dan rumah tangga. Sebagai pembicara beliau sangat terkesan dengan persatuan yang ditunjukkan oleh Jemaat-jemaat yang ada di Wilayah Teling. Sabat ini baptisan dalam jumlah besar akan terjadi di SLA Kawangkoan dalam pertemuan Akbar dari 16 site KKR yang diselenggarakan di Minahasa.

Tikala Baru Mengenal Yesus, Pdt. Bobby Sepang Berterus Terang
Oleh Tim Bait

Manado [BAIT]. Sambutan pengunjung diberbagai site “KKR Mengenal Yesus” luar biasa yang diadakan diseluruh Minahasa berlimpah ruah, menempati gedung sampai diluar bagian halaman. Hal itu terlihat disemua lokasi dipadati oleh hadirin yang menyambut dengan sukacita. Tikala Baru, jemaat yang begitu aktip dalam penginjilan menjadi salah satu site KKR. Pdt. Bobby Sepang penceramah Internasional dari Seattle, USA rabu kemarin dengan terus terang menyampaikan kebenaran mengenai hari ketujuh yaitu Sabat Tuhan yang suci. Beliau menerangkan dengan rinci mengenai perobahan hari, pentingnya penyucian hari Sabat dengan menggunakan chart akhir zaman.

Dari malam ke malam sokongan anggota begitu besar apalagi dengan kehadiran Ketua Konferens Pdt. Ferry Rattu bersama ibu. Diharapkan KKR ini akan memberikan pencerahan kepada pengunjung dan menjadi mamfaat kepada anggota jemaat untuk revival and reformation.

Pengorganisasian Jemaat Ke -70 Di Konferens Jawa Kawasan Timur
Oleh: Pdt. Dale Sompotan, BAIT Jatim

Jatim [BAIT]. Jemaat Gracia yang berkedudukan di Jln. Raya Patihan 116 Karangrejo Kabupaten Magetan menjadi Jemaat ke-70 di Konferens Jawa Kawasan Timur baru saja diorganisasikan pada hari senin 16 September 2013. Menggunakan nama Gracia karna hanya oleh kemurahan Tuhan sajalah sehingga Cabang Sekolah Sabat yang sudah berdiri selama 40 tahun ini bisa diorganisasikan di tahun 2013 ini. Kebaktian Pengorganisasian diadakan Pukul 15.00 WIB dihadiri oleh Officers dan Staff Departemen KJKT. Tamu Undangan dari 7 Jemaat di Distrik Madiun serta Majelis Jemaat Induk Kalasan Jln. Kalasan 9-11 Madiun dan mantan-mantan

Pendeta yang pernah melayani jemaat yang yang baru ini, anggota Excom KJKT dan tetangga sekitar Gereja.

Acara dipandu oleh Ibu Endang Sukesi, doa pembukaan oleh Bpk. Tjahjono Djinarwan, kemudian acara dipandu oleh Pdt. Abri Santosa, direktur Departement SS/PP KJKT, untuk pengulangan Doktrin, lalu pemilihan anggota inti dan pengurus jemaat dipandu oleh Pdt. Leonard Mamentu, Direktur Pemuda Advent KJKT, dilanjutkan kemudian dengan lagu-lagu Pujian yang dibawakan berturut-turut oleh Abigail VG dan Mawar Sharon VG, tetapi sebelumnya dibacakan sejarah mulainya Cabang Sekolah Sabat Karangrejo lebih kurang 40 tahun yang lalu oleh Bpk. Gudiarso.

Disela-sela acara datang hadir AKBP. Anom Wibowo, Kapolres Madiun Kota yang merupakan undangan khusus di Kebaktian Pengorganisasian tersebut. Selanjutnya kemudian penyerahan dan penandatangan berkas-berkas surat serta bantuan keuangan untuk Jemaat baru yang dipandu oleh Pdt. Albert Saroinsong, Sekretaris KJKT. Adapun hasil pemilihan pengurus jemaat inti langsung disampaikan kepada hadirin sebagai Ketua Jemaat Bpk. Gudiarso, Pemimpin Diakon : Bpk.

Sumardi, Pemimpin Diakones : Ibu Eliyanawati, Sekretaris :

Sdr. Ivan, Bendahara Ibu Winih. Dilanjutkan dengan pengurapan ketua jemaat dan diakon serta diakones oleh Pdt. Henky Wijaya, Ketua KJKT.

Dalam khotbah pengorganisasian Pdt. Henky yang didampingi oleh Pdt. Ranap Situmeang, Sekretaris Kependetaan, dan Pdt. A. Saroinsong dan Pdtm. Dale D. Sompotan, Gembala Jemaat, mengatakan akan pentingnya pemeliharaan untuk ke-31 anggota jemaat baru di Jemaat Gracia. Setelah itu dipimpin oleh Pdt. Saroinsong diadakan acara janji pentahbisan dan doa pentahbisan bangunan gereja.

Berikutnya sambutan dibawakan oleh AKBP. Anom Wibowo yang menyampaikan syukur bisa bersama –sama dengan Umat Advent dalam kegiatan Pengorganisasian, memaparkan pentingnya kebersamaan dalam masyarakat sebagai umat Tuhan, sambutan yang dibawakan dalam suasana yang hangat memberikan kesan mendalam bagi seluruh anggota Jemaat yang hadir, betapi tidak disela-sela kesibukan yang sangat padat beliau bisa datang ke Acara Pengorganisasian ini. Setelah itu Pdt. Joseph Sianipar (Ass. Roh Nubuat dan Strategic Planning) Uni Indonesia Kawasan Barat yang datang mewakili Ketua UIKB Pdt. Dr. JS. Peranginangin yang berhalangan datang akibat sakit mendoakan khusus AKBP. Anom Wibowo dan memberikan kenang-kenangan dari Jemaat, dilanjutkan dengan foto bersama dan pembukaan tirai papan nama depan GMAHK Gracia yang disumbangkan oleh Kel. Bambang. Pembukaan papan nama ini dilakukan oleh Pdt. J. Sianipar dan AKBP. Anom Wibowo dihalaman depan Gereja.

Kemudian hadirin kembali masuk kedalam Gedung Gereja lalu acara dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti Pengorganisasian dan Peresmian oleh Pdt. Henky Wijaya dan ucapan terima kasih oleh Ketua Jemaat Induk yaitu Jemaat Kalasan Ibu Suprihatin, diakhir dari acara dipanggil maju ke depan mantan-mantan Pendeta yang hadir, dari 9 orang mantan Pendeta yang pernah melayani SSC Karangrejo hadir 4 orang yaitu Pdt. Djoko Sukatno, Pdt. Eko Darmanto, Ibu Suwandi Wibowo dan Kel. Ari mewakili Pendeta Pertama yang membuka dan merintis SSC Karangrejo sekitar tahun 1970-an yaitu Alm. Pdt. Slamet DS. Dan kemudian doa tutup sekaligus doa makan oleh Pdt. Kuswindarto Ketua Distrik Madiun, sebelum pulang semua yang hadir menikmati hidangan yang sudah disediakan disamping kanan Gereja meminjam pekarangan dari tetangga Gereja, dan diberikan kenangan-kenangan souvenir dari Jemaat Gracia sebagai ucapan terima kasih atas kedatangannya dan doa restu kepada semua yang hadir. Mohon doanya dari pembaca sekalian untuk Jemaat Gracia akan dapat terus bertumbuh menjadi Jemaat yang maju dan sukses mempertahankan iman dan menginjil sampai Tuhan datang kedua kali.

Ulang Tahun

Selamat Ulang tahun kepada anak-anak Tuhan yang berulang tahun pada bulan September ini.

Govert Waramori – 10 September
Stenly Keles – 12 September
Pdt. Stephen Salainti – 16 September
Pdtm. Rezza Liwe – 16 September
Caddy Malonda – 20 September

Tuhan memberkati dengan limpahnya. Tetap semangat dalam pelayanan.

HRD BAIT

DUKACITA

TURUT BERDUKACITA

Kehidupan manusia itu fana dan kita bersyukur kepada Tuhan atas tahun-tahun kebahagiaan yang telah dikaruniakan Tuhan kepada manusia sampai akhirnya menutup usia.
Seluruh Alumnus SLA Kawangkoan ikut merasakan duka cita yang dalam atas beristirahatnya dua sahabat Alumnus SLA Kawangkoan yang telah mendahului kita semua. Yang pertama adalah Bpk. Paul Nelwan yang meninggal pada 6 September 2013, beliau bertahun-tahun ketua Jemaat Kairagi Pionir sampai pada akhir hayatnya. Yang kedua adalah Ibu Dr. Lelly Mangowal-Maramis yang beristirahat pada tanggal 14 September 2013 dan dikebumikan di Tumaluntung negeri kelahirannya.

Ikatan Alumnus SLA Kawangkoan (ILANSA) menyampaikan turut belasungkawa dan simpati sedalamnya atas peristiwa ini serta mendoakan kiranya penghiburan yang sejati datangnya dari Tuhan kita Yesus Kristus menjadi bagian dari seluruh keluarga besar Mangowal-Maramis dan juga Keluarga besar Nelwan – Kaumpungan. – dari Pengurus ILANSA.

Riwayat Hidup :
DR. Lelly Mangowal Maramis

Tempat tanggal lahir : Lembean Manado, 17 May 1950
Nama Ayah : Alm. Nicholas Maramis
Nama Ibu : Alm. Beatrice Riwuran Maramis

Nama Kakak Kakak:
1. Alm Pdt. Jonah Sigar Maramis
Menikah dengan Rosye Longdong
Anak : Alm Ferry, Evie& Henny
2. Alm. Ketty Ruth Maramis
Menikah dengan M. Yunus
Anak : Resmi, Ellen & Wenny
3. Alm. Lelly Maramis
Menikah pada tanggal 25 October 1973 di Kampus Unklab, Pemberkatan Nikah di East Hall dengan Benny Mangowal Putra Bungsu dari Alm.Richard Mangowal & Alm. Merry Najoan dari Talikuran Sonder.

Kakak beradik Benny Mangowal : Jootje Mangowal, Alm Vera Sakul Mangowal, Alm Chris Mangowal, Alm Sam (Butje) Mangowal.

Di karuniai dua orang putri :
1. Maryleen Lydia Mangowal, MBA menikah dengan dr. Erik Lucanus Tomarere dikaruniai dengan 2 orang putri : Kania Kimi & Tiara Charmaine (Cham2) Tomarere
2. Shirley Jean Charlotte Mangowal, SE menikah dengan Yosafat Priyanto SE dikaruniai seorang putri Beatrice Vivania Eka Karuniawati

Riwayat Pendidikan:
SD Negeri Tumaluntung- 1961
SMP & SMA Advent Tompaso II (SLA Kawangkoan) – 1973
S1 – Unklab (yang pada waktu itu bernama STK/Sekolah Tinggi Klabat)- 1976
S2 – Master in Education (M.A) dari Manuel Luzon Quezon University (MLQU) di Manila, Philippines tahun 1990
S3 – Doctor in Education (Ed.D) dari Manuel Luzon Quezon University (MLQU) di Manila, Philippines tahun 1993

Riwayat Pekerjaan:
1. Guru SD Advent TIkala – 1973
2. Dosen Sekretaris Unklab – 1974 sampai dengan tahun 1980
3. Guru SMP/SMA Tompaso II (SLA Kawangkoan) – 1980 sampai dgn 1988
4. Dosen Fakultas Pendidikan – 1993 sampai dengan 2013

Mengikuti program Sabbatical di Andrews University, Berrien Spring, Michigan USA

2004 – dengan program Consult Childhood Education
2010 – dengan program Devotional Education

Tugas tugas Gereja:
Bendahara Gereja Pioneer Chapel Unklab
Ketua Diakones Pioneer Chapel Unklab
Ketua BWA Pioneer Chapel Unklab
Ketua RT &Dorkas Pioneer Chapel Unklab
Ketua Pendidikan Pioneer Chapel Unklab

Leave a Reply