Edisi 7 Des

December 8, 2013 - Kadnet Rebuska

ZONA AMAN KE ZONA IMAN

OLEH PDT. EBEN EZER SEMBIRING
GEMBALA JEMAAT GMAHK DUKUH KUPANG-SURABAYA.

Zona nyaman dalam hidup atau comfort zone adalah suatu keadaan dimana membuat kita nyaman, tidak terancam, menyenangkan karena kita sudah terbiasa dan bisa mengenali situasi dan kondisi disekitar kita. Zona nyaman bisa berarti keadaan keluarga kita yang baik-baik saja, pekerjaan yang menyenangkan dan dikelilingi orang-orang yang sudah kita kenal.

Walaupun kelihatannya nyaman, tetapi terjebak dalam zona nyaman justru bisa membahayakan kita karena membuat kita kurang peka dan peduli dengan perubahan yang terjadi.

Barangkali kita pernah mendengar ilustrasi “boiling frog” atau merebus kodok. Konon ceritanya, orang-orang yang mengkonsumsi binatang kodok yang berukuran besar yang punya kekuatan lompat yang keras, mereka memiliki cara tersendiri untuk memasaknya. Cara yang mereka pakai adalah memasukkan kodok-kodok itu ke kuali yang diisi air dan perlahan-lahan air itu dipanaskan dari bawah. Kodok-kodok itu merasa nyaman dengan air yang perlahan-lahan terasa hangat, tetapi kodok-kodok itu tidak sadar saat airnya menjadi panas dan mendidih. Akhirnya tamatlah riwayatnya di tempat itu.

Sepertinya tidak ada yang salah dengan menikmati zona nyaman kita. Tetapi terus menerus berada dan menikmati suasana itu bisa membuat kita menjadi statis. Membuat kita tidak berkembang dan tidak melakukan atau mencoba sesuatu yang lebih baik dan lebih besar yang sebenarnya bisa kita lakukan.

Terkadang kita memerlukan situasi yang “tidak nyaman”, supaya kita “dipaksa” untuk melakukan hal yang lebih dari sebelumnya. Seringkali orang yang berada dalam situasi yang tidak nyaman, orang tersebut lebih dekat dengan Tuhan, lebih sungguh-sungguh berdoa, dll.

Perhatikan kehidupan kita, saat berada dalam situasi yang nyaman, berdoa kita biasa-biasa saja, penyerahan kita biasa-biasa saja, pelayanan kita biasa-biasa saja, kecintaan kita kepada Firman-Nya biasa-biasa saja. Hal ini akan membuat iman kita akan statis atau tidak akan mengalami perubahan dan pertumbuhan.

Ada dua kisah hidup dalam Alkitab yang saya mau bagikan sebagai contoh, satu kisah tentang situasi zona aman dan kisah yang lain menjalani apa yang saya sebut dengan zona iman.

Kisah yang pertama, adalah sepenggal dari kehidupan raja Daud, ketika dia menikmati zona aman dalam hidupnya di istana saat bangsanya sedang berperang dengan sengit. Kisahnya tercatat di kitab 2 Samuel 11: 1-13.

Daud sedang berada di zona nyaman, ia tinggal di istana dan peperangan terhadap musuh pun tidak bergitu terasa. Daud tinggal jauh dari peperangan, suara atau dentuman perang pun tidak sampai di telinganya, bahkan pekik peperangan pun mungkin tidak sampai di telinganya. Ia berjalan-jalan di atas sotoh istana dan melihat seorang wanita cantik yang bernama Batsyeba sedang mandi dan tergeraklah hatinya untuk memiliki wanita itu. Pada kedudukannya sebagai raja, maka apa yang diinginkan hati Daud, bisa tercapai.

Zona nyaman telah membuat Daud lupa pada keadaanya yang sebenarnya, bukan hanya itu zona nyaman pun melupakan dia pada tanggung jawabnya sebagai raja untuk memimpin peperangan. Pada zaman itu merupakan hal yang biasa seorang raja harus maju ke medan perang bersama pasukannya. Bahkan saya berpikir, kalaupun dia tidak maju ke medan perang, seharusnya dia berdoa dan mempersembahkan korban untuk bangsanya dan pasukannya yang sedang berada di medan perang.

Dalam hidup kita, mungkin saja hal yang sama sering terjadi seperti pengalaman ini.
Ada beberapa alasan yang menunjukkan zona aman adalah merupakan zona berbahaya (2 Samuel 11), yaitu:
• Zona Aman menuntun kepada ‘gaya hidup santai’! (ay.1-2).
• Zona Aman menurunkan ‘kewaspadaan’ ! (ay. 3-5).
• Zona Aman melemahkan ‘stamina rohani’! (ay.6-27).

Kisah yang kedua, adalah sepenggal dari kehidupan Abraham.
Pada satu kali Abraham mendapatkan perintah dari Tuhan untuk pergi dari negerinya. Kejadian 12:1 Pergilah dari negerimu … ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.- Dia tidak tahu kemana dia disuruh pergi, tetapi dia tahu siapa yang menyuruh dia untuk pergi.

Saat Abraham pergi meninggalkan kampung halamannya yang sudah sangat nyaman baginya, saya membayangkan apa yang orang katakan tentang dia, kenapa dia memilih keluar dari kenyamanan dan memulai petualangan baru di usia 75 tahun, dia tidak muda lagi, dia hidup mapan dan berkemewahan di negerinya, dia sudah menjadi orang terpandang, dia tinggal di Ur yang notabene kota metropolis di daerah Mesopotamia, apa lagi yang dia cari, bukankah ini waktunya menikmati usia senja. Mungkin itu yang orang lain pikirkan terhadap keputusan abraham. Namun Abraham tetap meninggalkan zona aman itu, untuk memulai sebuah perjalanan menuju zona iman.

Abraham adalah contoh orang yang anti kenyamanan. Demi menggenapi rencana Tuhan, dia berani meninggalkan zona nyamannya dan harus beralih ke zona penuh tantangan.

Zona aman dimana kita tidak waspada, tidak siap, di dalam hidup ini adalah merupakan zona paling berbahaya dalam kehidupan yang patut diwaspadai agar tidak mengalami kehancuran. Waspadalah, tatkala kita ada dalam zona aman sebab musuh sedang mengintai dan berusaha menyerang kita ketika kita lengah.

Mari bersiap untuk meninggalkan zona nyaman. Karena pasti ada sesuatu yang lebih baik dan lebih besar yang sebenarnya kita bisa lakukan. Tetapi jangan menjadi orang-orang yang radikal atau ekstrim dan tidak alkitabiah.

Kadangkala kita takut untuk meninggalkan zona kenyamanan kita, misalnya dalam hal melayani, dalam hal menolong sesama, dalam hal menanggapi panggilan Tuhan dalam hidup kita, dll.

Secara jemaat atau organisasi gereja, kita juga perlu waspada tentang hal ini. Barangkali secara jemaat kita sedang berada dalam zona aman sehingga membuat jemaat tidak bertumbuh dengan baik. Dalam organisasi gereja, mungkin kita sudah merasa nyaman dengan rutinitas dan kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan, dalam metode penginjilan misalnya. Kita sudah merasa nyaman dengan metode-metode yang selama ini kita lakukan. Tetapi sebenarnya kita harus mencoba sesuatu yang lebih dari pada apa yang kita sudah lakukan selama ini.

Albert Schweitzer, Penerima Nobel perdamaian 1935, seorang filsuf hebat, musikus tenar, dan teolog kondang. Ia sudah mencapai puncak kesuksesannya pada usia 27 tahun. Meski demikian hatinya terusik melihat masyarakat Afrika yang kondisi kesehatannya sedemikian menyedihkan, sehingga ia memutuskan untuk masuk sekolah kedokteran dan pergi ke Afrika sebagai relawan medis sampai berpuluh-puluh tahun lamanya. Dia meninggalkan kehidupannya yang sudah sangat nyaman untuk menjalani sebuah perjalanan yang lebih menantang untuk menjadikan kehidupannya lebih berguna dan menjadi berkat bagi orang lain.

Kesimpulan.
Ada dua point utama yang saya mau ulangi:
1. Saat kita menikmati berkat-berkat Tuhan dan rasa nyaman yang Tuhan berikan, jangan sampai rohani kita terlena dan akhirnya rohani kita tetap biasa-biasa saja dan kita tidak bertumbuh dalam iman serta kita tidak siap bilamana ada situasi yang sulit yang kita alami.
2. Dalam rasa nyaman yang kita nikmati, mari kita berbuat lebih lagi dari selama ini, kita harus keluar sedikit dari rasa nyaman kita agar kerohanian dan pelayanan kita tidak biasa-biasa saja.

Marilah kita memulai sebuah perjalanan rohani dari zona aman (comfort zone) kita ke zona iman (faith zone) supaya rencana Tuhan dalam hidup masing-masing kita bisa terwujud bersama-sama dengan Tuhan.

Selamat Sabat. Tuhan memberkati.

PDT. EBEN EZER SEMBIRING
GEMBALA JEMAAT GMAHK DUKUH KUPANG-SURABAYA

Kasih Karunia, Dosa dan Keselamatan Kekal

Salah satu surat tersingkat dalam Perjanjian Baru adalah Surat Yudas. Surat ini tidak ditujukan kepada orang atau kelompok tertentu, tetapi secara umum kepada orang-orang yang terpanggil, yang dikasihi [dikuduskan, KJV] dalam Allah Bapa, dan yang dipelihara untuk Yesus Kristus (Yud 1:1).
Walau surat yang ditulis oleh Yudas, hamba Kristus dan saudara Yakobus ini (Yud 1:1; Mrk 6:3; Mat. 13:15) hanya terdiri dari satu pasal, 25 ayat dan masa penulisannya pun sudah hampir dua ribu tahun silam, namun pekabarannya sangat dalam, aktual dan relevan buat umat Tuhan yang hidup di akhir zaman ini. Dia terdorong dengan sungguh-sungguh untuk menulis (Yud 1:3) kepada umat Tuhan agar berjuang untuk mempertahankan iman (Yud 1:3) menghadapi tantangan waktu itu.
Mengapa dia terdorong dengan sungguh-sungguh untuk menulis kepada mereka? Dia menulis untuk memberi peringatan rohani (spiritual warning) agar mereka jangan sampai tercebur ke dalam kehidupan yang berlawanan dengan kasih karunia yang sedang diam-diam menyusup ke dalam jemaat oleh guru-guru palsu (Yud 1: 4, . Mereka jangan sampai “menyalahgunakan kasih karunia Allah untuk melampiaskan hawa nafsu mereka” (Yud 1:4). Artinya jangan sampai menyalahgunakan kasih karunia Allah menjadi kasih karunia murahan (cheap grace) untuk hidup di dalam dosa. Sebab Tuhan memberikan kasih karunia kepada manusia bukan supaya bebas berbuat dosa atau tetap hidup di dalam dosa, tetapi supaya manusia lepas dari dosa (Mat 1:2; 1 Yoh 2:1) dan hidup dalam kebenaran (Ef 4:24).
Secara khusus Yudas memperingatkan para pembacanya tentang apa yang terjadi kepada bani Israel yang dituntun Tuhan keluar dari Mesir; para malaikat yang memberontak kepada Tuhan; dan penduduk kota Sodom dan Gomora. Pada akhirnya semua mereka ini binasa. Apa persamaan mereka semua? Secara luar (form) mereka adalah orang-orang beragama dan tampak rohani. Namun kenyataannya, karakter mereka korup, penuh nafsu, sensual, angkuh, sombong, tamak, penuh persungutan dan keluhan, banyak bicara, suka ribut, kacau, bersifat mencemooh dan menjadi noda di hadapan Tuhan.
Melihat kepada bahaya ini, Yudas menasihati mereka agar terus hidup berdasarkan iman kepada Kristus sehingga berkat Tuhan tetap menaungi mereka (Yud 1:20, 21); mengasihi orang yang bimbang agar terlepas dari maut kekal; dan waspada agar tidak turut tercemar oleh keinginan-keinginan dosa (Yud 1:22, 23).
Demikian juga kita yang sedang menantikan kedatangan Kristus kedua kali. Kita harus waspada terhadap kasih karunia murahan (cheap grace), keduniawian, dan formalitas. Jika tidak, maka seperti kebanyakan orang-orang Israel yang keluar dari Mesir dan penduduk kota Sodom dan Gomora, kita pun tidak luput dari kebinasaan. Semua pemahaman doktrin dan pengakuan iman yang hanya di bibir saja—bila tidak diikuti oleh implementasi dalam kehidupan nyata—tidak akan membawa manfaat apa-apa. Bahkan tidak jarang, apa yang kita khotbahkan di mimbar akan dimentahkan oleh apa yang kita lakukan setelah turun dari mimbar. Surat Yudas memperingatkan kita agar jangan menjadi Adventist yang hanya banyak bicara, tetapi harus banyak bekerja. Agar jangan menjadi Adventist pecundang (looser), tetapi harus menjadi Adventist pemenang (victor). Agar jangan Adventist KTP (Nominal Adventist), tetapi harus Adventist sejati (Genuine Adventist) yang siap menyambut kedatangan Kristus kedua kali.
Hal ini tidak mustahil sebab Yudas mengakhiri suratnya dengan menuliskan janji Tuhan yang luar biasa indah bagi mereka yang mau menjaga hidupnya murni dan berkenan kepada Tuhan, yaitu: Tuhan berkuasa [sanggup] menjaga mereka supaya tidak jatuh (fall) ke dalam dosa sehingga hidup tak bernoda (blameless) dan penuh sukacita (joy) di hadapan kemuliaan-Nya (Yud 1:24). Bagi Dialah pujian, hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya!

GOD’S GLORIOUS PLAN
BY MRS. ELLEN G. WHITE

That as sin hath reigned unto death, even so might grace reign through righteousness unto eternal life by Jesus Christ our Lord. Rom. 5:21.
The plan by which alone man’s salvation could be secured, involved all heaven in its infinite sacrifice. The angels could not rejoice as Christ opened before them the plan of redemption, for they saw that man’s salvation must cost their loved Commander unutterable woe. In grief and wonder they listened to His words as He told them how He must descend from heaven’s purity and peace, its joy and glory and immortal life, and come in contact with the degradation of earth, to endure its sorrow, shame, and death. He was to stand between the sinner and the penalty of sin; yet few would receive Him as the Son of God. He would leave His high position as the Majesty of heaven, appear upon earth and humble Himself as a man, and by His own experience become acquainted with the sorrows, and temptations which man would have to endure. All this would be necessary in order that He might be able to succor them that should be tempted. When His mission as a teacher should be ended, He must be delivered into the hands of wicked men and be subjected to every insult and torture that Satan could inspire them to inflict. He must die the cruelest of deaths, lifted up between the heavens and the earth as a guilty sinner. He must pass long hours of agony so terrible that angels could not look upon it, but would veil their faces from the sight. He must endure anguish of soul, the hiding of His Father’s face, while the guilt of transgression– the weight of the sins of the whole world– should be upon Him. . . .
He bade the angelic host to be in accord with the plan that His Father had accepted, and rejoice that, through His death, fallen man could be reconciled to God.
Then joy, inexpressible joy, filled heaven. The glory and blessedness of a world redeemed, outmeasured even the anguish and sacrifice of the Prince of life. Through the celestial courts echoed the first strains of that song which was to ring out above the hills of Bethlehem–” Glory to God in the highest, and on earth peace, good will toward men” (Luke 2: 14).
From God’s Amazing Grace – Page 345

ANTI KRISTUS

Allah menyatakan bahwa umat manusia sedang hidup di zaman terakhir, era terakhir, masa perpanjangan waktu terakhir, masa terakhir dari sejarah dunia. Siapakah atau apakah anti kristus itu? Ada dalam Alkitab, 2:18 Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar bahwa antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Dari hal inilah kita mengetahui bahwa waktu ini benar-benar waktu yang terakhir (1 Yohanes 2:18, BIS).
Kata Yunani asli untuk kata “antikristus” dapat mempunyai dua arti. Kata itu dapat berarti “menentang Kristus”, dalam arti seseorang atau suatu kekuasaan yang menentang pekerjaan Kristus. Atau kata itu dapat berarti “pengganti Kristus”, menyatakan seseorang atau suatu kekuasaan yang “mengambil tempat Kristus”, atau seorang “Kristus palsu”.

Allah berkata bahwa sebagai tambahan untuk kedatangan seorang antikristus khusus, terdapat banyak antikristus yang sudah ada pada zaman gereja awal. Ada dalam Alkitab, “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, tentu mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya nyata bahwa mereka semua tidak termasuk pada kita …. Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu” (1 Yohanes 2:19, 26, TB2).

Menurut Firman Allah, anti kristus-anti kristus adalah orang-orang Kristen palsu yang telah memisahkan diri dari umat beriman yang sejati. Mereka adalah pembohong yang menyangkal Yesus sebagai Kristus. Ada dalam Alkitab, “Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Mesias? Inilah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak” (1 Yohanes 2:22, TB2). “Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itulah si penyesat dan antikristus” (2 Yohanes 1:7).

Anti kristus bukanlah orang atheis (yang tak percaya adanya Allah). Mereka bukanlah orang-orang kafir yang mengadakan perang melawan Yesus. Mereka adalah orang-orang yang mengabarkan suatu injil, tetapi bukan injil yang sejati. Itu adalah “injil yang berbeda”. Ada dalam Alkitab, “Sebab kamu sabar saja, jika ada seseorang datang memberitakan Yesus yang lain daripada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain daripada yang telah kamu terima atau Injil yang lain daripada yang telah kamu terima …. Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang. Jadi, bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka” (2 Korintus 11:4, 13-15, TB2).

Yesus mengamarkan Gereja tentang pekerjaan penipuan dari nabi-nabi palsu ini. Ada dalam Alkitab, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas…. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!”(Matius 7:15, 21-23)

Selanjutnya Yesus mengamarkan bahwa pada masa mendekati Kedatangan-Nya yang kedua kali pada akhir masa Gereja, antikristus-antikristus akan benar-benar meniru pribadi-Nya, sambil menyatakan diri sebagai Kristus atau Mesias yang telah kembali. Ada dalam Alkitab, “Jawab Yesus kepada mereka, “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. … Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mukjizat-mukjizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. Perhatikanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu. Jadi, apabila orang berkata kepadamu: Lihatlah, Ia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihatlah, Ia ada di dalam kamar yang tersembunyi, janganlah kamu percaya” (Matius 24:4-5, 24-26).

Sesaat sebelum hari Kedatangan Yesus yang kedua kali, akan ada suatu manifestasi antikritus yang besar dan terakhir, antikristus yang “harus datang”. Ada dalam Alkitab, “Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah” (2 Tesalonika 2:3-4).

Apakah akan terjadi kepada anti kritus ini, dan bagaimana kita bisa mengenal dia? Ada dalam Alkitab, “Pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulut-Nya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali. Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka” ( 2 Tesalonika 2:8-10).

Bibleinfocom
(Artikel di bagian Wawasan dan Perspektif tidak selalu mendukung dan selaras dengan kepercayaan GMAHK, dipersembahkan untuk memberikan sudut pandang lain dan menambah wawasan dan pengertian pihak lain/Pembaca)
Terima kasih.

-Redaksi

ADVENTIST WORLD RADIO – DISKUSI KOMUNIKASI DALAM KELUARGA NO 144
Oleh Nico J.J. Koroh

(Ayura) Selamat berjumpa lagi para pendengar yang kami kasihi, mudah-mudahan selalu berada dalam keadaan yang sehat walafiat dengan demikian para pendengar semua dapat mengikuti diskusi kita, dan sekarang ini saya sudah bersama dengan Pak Nico J.J.Koroh nara sumber utama kita dalam acara diskusi komunikasi keluarga ini. Apa kabar pak Nico?

(Nico) Puji Tuhan, baik sekali Ayura, terimakasih, mudah-mudahan para pendengar juga berada dalam keadaan yang sama.

(Ayura) Wah judul hari ini juga cukup unik pak, saya pikir kalau menjaga mulut adalah untuk orang lain dan bukan untuk keluarga sendiri, ini bagaimana pak Nico?

(Nico) Ya memang Ayura, mengangkat sebuah judul untuk diskusi, saya kira harus selalu unik, jangan itu-itu saja yang kita bahas bukan?

(Ayura) Ya benar pak, saya kira juga memang harus begitu, tapi apa yang saya pikir pak, karena biasanya dalam komunikasi keluarga, setiap anggotanya seharusnya lebih bebas untuk berbicara bukan?

(Nico) Oh itu betul sekali Ayura, tetapi sebagaimana kita sudah bicarakan terlebih dahulu, bahwa komunikasi keluarga juga dapat merupakan tempat untuk keluarga apalagi anak-anak dalam keluarga untuk melatih diri agar selalu menjaga mulut bila kita berbicara. , barangkali Ayura perlu bacakan apa yang ditulis dalam Amsal 13:3

(Ayura) Baik akan saya bacakan “ Amsal 13:3 “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan” yah saya pikir pesan yang dibawakan dalam ayat ini sangat jelas pak Nico, sebab sering mulut seseorang itu seperti lebah yang dapat menyengat kiri kanan,

(Nico) Benar sekali Ayura, tapi kalau kita perhatikan ayat tersebut lebih dalam lagi , dimana dikatakan bahwa……. “siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan” tentu yang dimaksud disini bukan bentuk secara fisik dari bibir yang membawa kebinasaan, tetapi lebar bibir disini berarti orang yang sering suka menjelekkan orang lain, dan biasanya orang seperti itu , tidak akan pernah kehabisan bahan untuk berbicara negatif tentang orang lain.

(Ayura) Wah ini kalau sering membawa gosip termasuk juga disini apa begitu pak Nico?

(Nico) Sebenarnya gosip itu tidak selamanya negatif bukan? Sebab ada juga gosip yang positif, misalnya saja kalau anak-anak muda kumpul maka sering yang menjadi sumber gosip adalah “Oh si A sedang pacaran dengan si B apa kamu sudah tahu nggak?” kan pacaran sebenarnya biasa saja.

(Ayura) Tapi kalau hanya seperti itu pak bukanlah gosip yang keren, yang keren pak misalnya “eh kamu tahu nggak si A sudah pancaran lagi dengan si C, padahal dia masih sama si B kan?” nah itu baru gosip pak Nico.

(Nico) Ya tapi yang saya maksudkan bahwa ada juga berita gosip yang positif bukan?

(Ayura) Ya itu betul pak, tapi biasanya apa yang sering terjadi bahwa gosip itu sebagian besar barangkali mengenai hal yang negatif, tetapi sebenarnya maksud pak Nico menghubungkan ayat ini dengan komunikasi keluarga seperti apa? Pasti ada pesan dibalik itu bukan?

(Nico) Sebenarnya pesan yang lebih serius sehubungan dengan ini Ayura dapat baca dalam Yakobus 3:6, barangkali Ayura tolong membacakannya.

(Ayura) Baiklah Pak akan saya bacakan dari Yakobus 3:6” Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. Wah benar pak, ayat ini memang sangat serius kalau melihat apa yang dapat dilakukan oleh mulut kita lanjutkan, kita dengarkan dulu lagu selingan berikut ini. Selamat mendengarkan.

(Nico) Ya bila kita kembali ayat dalam Yakobus ini jelas bahwa akibat mulut itu bisa sangat fatal bukan? Nah oleh karena melihat bahaya seperti itu, kita harus secara dini melatih anak-anak dalam keluarga kita untuk selalu berkomunikasi secara baik, dan tentu ini harus dimulai di dalam keluarga kita oleh karena itu, sebenarnya komunikasi keluarga antara lain dapat menjadi tempat yang tepat untuk melatih anak-anak kita untuk selalu berhati-hati mengeluarkan perkataan-perkataan.

(Ayura) Tapi biasanya pak, agak sulit untuk melakukan hal seperti itu, karena dirumah memang dapat kita kendalikan, tapi yang sulit kalau mereka sudah berada diluar rumah bukan? Biasanya pengendalian itu akan mengalami kesulitan.

(Nico) Benar Ayura, tapi justeru disinilah tantangan kita sebagai orang tua, kita tidak boleh berhenti-henti menekankan hal ini di dalam keluarga. Misalnya saja kalau kita mendengar anak-anak kita berbicara tidak benar, atau mengungkapkan sesuatu yang tidak benar, misalnya mulai mengumpat dengan kata-kata kotor, atau bahkan memaki, maka disinilah kita harus mengarahkan mereka kembali. Kalau mereka sudah mulai dewasa, kita harus secara khusus mengatakan atau menasihati mereka bagaimana kita harus senantiasa bersifat sopan dalam mengeluarkan kata-kata kita.
(Ayura) Tapi yang saya lihat pak Nico, sangat sulit menghindari hal seperti itu, karena anak-anak sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekolah mereka, lingkungan teman-teman mereka, barangkali kalau kita hitung-hitung, setelah anak-anak sudah mulai bermain dengan anak-anak lain, apalagi kalau sudah sekolah, maka kata-kata atau ungkapan-ungkapan bahkan kata-kata makian yang mereka dapatkan dari semua lingkungan mereka akan juga dibawa kerumah kan pak?

(Nico) Itulah makanya kita pun sadari bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari hal-hal seperti itu akan sulit untuk dihindari, tapi kita pun harus ingat bahwa nilai-nilai yang sudah kita tanamkan pasti akan berbuah bila kita memang selalu menanamkannya dengan benar bukan? Pasti memang tantangan akan selalu ada, tapi itulah mendidik anak-anak harus tetap menjadi fokus orang tua hingga anak-itu dewasa, bila tidak, hal-hal yang sepele pun seperti bagaimana bagaimana mengungkapkan kata-kata atau berbicara pada orang lain harus berhati-hati, dan hal seperti ini harus dimulai dari dalam keluarga, bukan nanti kalau sudah bergaul baru belajar.

(Ayura) Jadi memang benar pak Nico “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan” kalau kita tidak belajar berhati –hati dengan mulut kita pasti akan banyak menimbulkan masalah, baiklah terimakasih banyak atas diskusi yang sangat bernilai ini, pak Nico dan para pendengar yang kekasih, samapai disini dulu diskusi komunikasi keluarga kita, dari studio kami ucapkan selamat berpisah, sampai jumpa lagi dalam kesempatan berikut, dari studio kami ucapkan selamat berpisah, kiranya Tuhan memberkati kita semua.

“Jangan terlalu berharap apa yang dapat dunia berikan untukmu,Tetapi berikanlah yang terbaik untuk dunia. Niscaya dunia akan menjadi tempat yang lebih indah”

“Memberi adalah wujud perasaan berterima kasih terhadap berkat-berkat yang telah kita terima”

“Orang yang berpikiran positif, dalam kondisi apapun juga selalu memacu dirinya sendiri ke arah yang lebih baik, tanpa terpengaruh oleh kondisi luar, selalu berusaha melihat dari segi positif, dan menjadikan halangan sebagai tantangan
untuk maju”

OLEH H.M. SIAGIAN, STANMORE SDA, SYDNEY

Keluarga adalah suatu pondasi dari masyarakat. Suatu pernikahan yang sukses akan membawa kebahagiaan baik bagi keluarga yang bersangkutan dan juga masyarakat, tetapi pernikahan juga dapat membawa permasalahan yang menantang. Sesungguhnya, bagaimanakah Anda dapat meningkatkan pernikahan Anda?

Ketika seorang pria dan wanita membuat suatu komitmen untuk menjadi suami istri, biasanya acara tersebut akan disertai dengan kegembiraan seluruh keluarga serta kerabat untuk merayakan terbentuknya keluarga yang baru tersebut. Sebuah pernikahan adalah sebuah acara yang menggembirakan, yang biasanya diiringi dengan alunan musik, rangkaian bunga, keluarga dan teman. Pada kenyataannya, pernikahan adalah salah satu kejadian yang paling penting di dalam kehidupan seorang manusia. Sebuah komitmen yang formal yang diucapkan didepan khalayak ramai memulai suatu kehidupan bersama, yang mana biasanya masing-masing mempelai baik wanita dan pria akan mengucapkan ikrar kata-kata tradisional seperti, “baik senang baik susah, baik kaya baik miskin, baik sakit baik sehat sampai maut memisahkan kita.”

Jika Anda pada saat ini sedang merencanakan untuk menikah, apakah Anda telah benar-benar siap? dan jikalau Anda pada saat ini sudah menikah, bagaimanakah seharusnya Anda melakukan komitmen Anda tersebut?

Anda mungkin akan terkejut jika mengetahui keadaan pernikahan secara nasional (diambil sampling dari Amerika Serikat, Australia, dan Inggris), stabilkah pernikahan-pernikahan tersebut? sukseskah pernikahan-pernikahan tersebut?. Angka perceraian dapat memberikan kepada kita suatu indikasi untuk memahaminya. Di tahun 2001, di Amerika Serikat, terdapat 9.8 pernikahan, dan 4.5 perceraian bagi setiap 1000 orang. Australia memiliki 6.9 pernikahan dan 2.52 perceraian bagi setiap 1000 orang. Inggris memiliki 6.8 pernikahan dan 3.08 perceraian untuk setiap 1000 orang. Hal ini berarti terdapat satu perceraian bagi setiap 2.2 pernikahan di Amerika Serikat dan Inggris, dan sekitar satu perceraian bagi setiap 2.7 pernikahan di Australia. (United Nations Monthly Bulletin of Statistics, April 2001). Sedangkan di Indonesia Angka perceraian terus meningkat drastis pada periode tahun 2005 hingga 2010 hingga 70 persen. Rata-rata setiap tahun naek 10 persen.(Republika.co.id.jakarta).

Statistik memberikan suatu indikasi bahwa masyarakat kita tidak stabil. Namun berbahagialah oleh karena Anda sesungguhnya dapat menerapkan strategi-strategi untuk mencapai suatu pernikahan yang sukses di dalam kehidupan kita.

Kita sungguh perlu untuk memperkuat keluarga dan pernikahan kita. Di banyak masyarakat, nilai-nilai Alkitab menyatakan penyebab-penyebab dan juga solusi-solusi bagi permasalahan-permasalahan kita. Hal ini menyatakan tujuan dan maksud dari kehidupan yang sudah direncanakan oleh Allah bagi kita. Allah Penciptalah yang sesungguhnya menciptakan, dan mengadakan pernikahan. Ketika anda memahami tujuan dan rencana Allah yang agung melalui Juru Selamat kita Yesus Kristus, maka anda akan melihat arti rohaniah serta pentingnya sebuah pernikahan. Rencana Allah adalah untuk mengembangkan suatu keluarga rohani milikNya yang abadi. Ia menciptakan keluarga manusia untuk mempersiapkan masing-masing daripada kita suatu masa depan yang indah. Tentang hal ini, rasul Paulus menuliskan, “Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya” (Efesus 3:14-15).

Tujuan Allah adalah untuk menciptakan sebuah keluarga rohani. Hal ini adalah suatu kenyataan yang benar yang sesungguhnya dapat memotivasi kita untuk meningkatkan hubungan keluarga dan pernikahan kita. Jika anda mengakui Allah di dalam pernikahan Anda, dan jika Anda menerapkan prinsip-prinsip dan strategi dari kehidupan keluarga, maka Anda akan dapat memperkaya, meningkatkan atau bahkan menyelamatkan pernikahan Anda!

Telah sungguh-sungguh dibuktikan kunci-kunci Alkitab bagi pernikahan yang sukses. Anda butuh untuk mengetahui dan melakukannya di dalam kehidupan pernikahan Anda sendiri. Demikian juga Anda dapat menceritakannya dan berbagi tentangnya dengan teman-teman dan kerabat-kerabat Anda yang berencana untuk menikah tidak lama lagi. Hal ini mungkin tidak mudah tetapi usaha yang Anda lakukan akan dapat memberikan kepada Anda suatu upah yang besar dan hubungan yang penuh kasih.

Kunci 1: Memberi 100 Persen

Pepatah kuno, “Pernikahan itu sesungguhnya adalah suatu hubungan fifty-fifty/lima puluh persen lima puluh persen”, pada kenyataan adalah tidak benar dan sungguh-sungguh salah! Para profesional zaman ini dapat saja berkata, “kebebasan adalah prioritas kita. Kita akan mau bekerja sama, tetapi saya juga masih akan menyimpan tindakan penyelamatan diri/ escape route jikalau terdapat hal-hal yang tidak baik terjadi.” Pada kenyataan seorang manusia perlu untuk bertanya tentang apakah batas dari hubungan pernikahan? atau batasnya adalah perasaan atau kerja sama yang saling menguntungkan satu dengan lainnya? atau apakah hal itu adalah hubungan yang berdasarkan Alkitab yang akan tumbuh di dalam kualitas dan karakter diri di seluruh sisa hidup kita? apakah yang dikatakan oleh Alkitab? perhatikanlah ayat ini, yang manakah yang termasuk ayat pondasi bagi hubungan yang berbahagia dan karakter yang berbahagia yang kita butuhkan untuk selama-lamanya: “Dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35). Atau, seperti yang diberikan oleh terjemahan Moffat, “Adalah lebih berbahagia untuk memberi daripada menerima.”

Salah satu pemberian terbesar yang Anda dapat berikan adalah waktu Anda!. Apabila Anda menerapkan hal ini, suatu saat Anda akan merasakan bahwa pengorbanan waktu bagi Anda , pada kenyataannya akan berubah menjadi suatu hubungan yang indah dan istri Anda akan menghargai usaha Anda itu. Seperti Yesus mengatakan, “lebih baik memberi daripada menerima”.

Kasih yang nyata adalah keinginan dan tindakan untuk memberi tanpa menginginkan kembali. Ketika dua orang masing-masing memberikan 100 persen, maka anda akan memiliki suatu hubungan yang kuat, suatu hal yang akan menjamin ke fleksibilitasan dan kemampuan untuk menangani krisis dan masalah. Sedangkan jika kita hanya menjalankan cara fifty-fifty/lima puluh persen lima puluh persen, maka hal ini akan menciptakan suatu hubungan yang tidak kuat!

Jalan hidup Allah adalah jalan hidup memberi-suatu jalan hidup yang memberikan pendekatan yang matang bagi hidup dan pernikahan. Alkitab juga memberikan instruksi kepada para suami istri untuk saling memberi di dalam hal seksualitas. Di abad pertama, rasul Paulus memberikan instruksi ini bagi para orang bukan Israel yang menjadi umat Kristen. Yaitu kepada mereka yang tinggal di kota Korintus, suatu kota yang terkenal akan aktivitas amoral seksnya,”tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya. Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak. ” (1 Korintus 7:2-5).

Apakah anda berkeinginan untuk mengikuti instruksi ini?. Apakah Anda telah menunjukkan perhatian kepada suami atau istri Anda? Ketahuilah bahwa pelukan dan ciuman kecil ketika anda akan bekerja, dan kembali dari kantor adalah amat penting. Beberapa tahun yang lalu, sebuah perusahaan asuransi Jerman mengeluarkan suatu laporan yang menyimpulkan bahwa pria yang mencium istrinya setiap hari jarang terkena tabrakan, dan mereka biasanya lebih sukses secara finansial dibandingkan dengan mereka yang tidak mencium istri mereka setiap hari.

Berkomentar tentang masalah keegoisan, Dr. John A. Schindler menuliskan, orang yang mampu memberikan cinta yang sesungguhnya adalah seorang yang dapat melupakan dirinya dan ketertarikannya sejenak sementara ia menempatkan kesejahteraan dan ketertarikan akan orang lain terlebih dahulu. Ketika baik suami dan istri dapat melakukan hal itu, maka mereka tidak akan memiliki masalah di dalam rumah tangga mereka atau seks” (How to Live 365 Days a Year, halaman 142).

Pada kenyataannya, berapa banyakkah suami dan istri yang benar-benar mempraktekkan prinsip ini? dan berapa banyakkah suami dan istri Kristen yang benar-benar mempraktekkan prinsip ini?

Kunci 2: Hargai dan Hormati Pasangan Anda

Apakah anda benar-benar menghargai pasangan anda?. Apakah anda benar-benar menghormatinya sebagai manusia yang diciptakan Allah di dalam gambar dan rupaNya?. Perhatikanlah instruksi Allah mengenai bagaimanakah hubungan kita yang semestinya dengan orang lain: “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang siasia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;” (Filipi 2:3).

Ya, anda butuh untuk memberikan harga diri dan penghargaan bagi pasangan anda lebih baik daripada diri anda sendiri. Bagi mereka yang ingin melihat diri mereka dan memuaskan keinginan diri mereka sendiri, maka hal ini mungkin akan kedengaran keterlaluan. Namun pada kenyataannya hal tersebut adalah suatu hukum yang hidup. Kita perlu untuk bertobat dari ambisi dan kecongkaan egoistis. Hendaklah kita mengubah sikap kita. Hargailah pasangan anda sebagai seorang anak Allah yang berpotensi. Dan, seperti yang dikatakan oleh peribahasa, “Jangan membesar-besarkan masalah kecil.” Temukanlah dan hargailah nilai-nilai positif yang Anda temukan didalam diri pasangan Anda! Dan jika Anda telah menyakiti pasangan Anda, baik secara fisik maupun verbal, maka jelas Anda butuh untuk bertobat! Anda butuh untuk merendahkan diri Anda sendiri dihadapan Allah dan memohon pengampunanNya, dan Anda juga butuh untuk meminta maaf kepada pasangan Anda! Memang kita tahu bahwa terkadang amatlah sulit untuk mengatakan, “saya meminta maaf.” Tetapi suatu permintaan maaf dapat menyembuhkan dan memperbaiki suatu hubungan!

Bagaimanakah anda dapat mendemonstrasikan penghormatan dan penghargaan terhadap suami atau istri anda? Terdapat banyak cara seperti memberikan bingkisan yang khusus, memberikan waktu khusus untuk mendengarkan pasangan dengan bersungguh-sungguh, dan menunjukkan rasa terima kasih serta menggunakan kesopanan di dalam kata-kata dan nada suara.

Seberapa sabar anda dengan keluarga anda? Kesabaran adalah suatu jalan untuk menunjukkan kasih seperti yang kita pelajari dari 1 Korintus 13 (suatu bab yang sering disebut “bab kasih”). Kita akan membaca didalam bab itu, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.(1 Korintus 13:4-8). Berdoalah sehingga Allah akan memberikan kepada Anda kemampuan untuk hidup dengan kualitas-kualitas tersebut dan bertumbuh di dalam kualitas-kualitas tersebut. Hendaklah Anda membaca bab ini secara keseluruhan. Dan berdoalah sehingga Allah akan memberikan kepada Anda kemampuan untuk menghidupkan kualitas-kualitas tersebut dan bertumbuh di dalam kualitas-kualitas tersebut.

Anda dapat meningkatkan pernikahan anda dengan mendengarkan, memahami, dan memberikan ruang bagi satu sama lain. Dan Anda juga dapat meningkatkan pernikahan Anda dengan menghormati dan menghargai pasangan Anda! Perhatikan instruksi penting yang diberikan oleh Allah kepada para suami: “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7).

Allah memberikan instruksi bagi suami untuk menghormati istrinya. Ingatlah bahwa anda adalah “ahli waris dari janji hidup yang kekal”. Kunci yang penting adalah untuk memahami bagaimanakah Allah menilai setiap manusia, khususnya pasangan anda, tanpa mempedulikan pendapatnya. Setiap manusia di bumi memiliki potensi untuk dilahirkan kembali ke dalam keluarga agung Allah sebagai anakNya yang agung dan abadi. Rasul Paulus mengingatkan kita akan rencana Allah bagi kita: “Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” (2 Korintus 6:18).

Kunci 3: Memberikan Teladan Yang Positif

Rasul Petrus menginstruksikan umat Kristen untuk memberikan teladan yang baik bahkan bagi pasangan yang bukan Kristen: “Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.” (1 Petrus 3:1-2).

Ingatlah bahwa anda tidak dapat mengubah orang lain melawan keinginannya, tetapi anda dapat mengubah diri anda! Kita semua memiliki suatu tanggung jawab yang diberikan oleh Allah bagi pernikahan dan keluarga mereka. Allah memmenceritakan kepada para suami: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” (Efesus 5:25). Apakah anda, sebagai seorang suami, memenuhi tanggung jawab? beberapa suami dan istri sangat senang untuk menghakimi tingkah laku pasangan mereka, untuk memberikan suatu alasan bagi diri mereka sendiri untuk tidak melayani dan menghormati pasangan mereka dengan semestinya. Ingatlah bahwa kita semua harus berdiri dihadapan tahkta penghakiman Kristus seperti yang dituliskan Roma 14:10. Pastikan bahwa anda memenuhi tanggung jawab yang diberikan oleh Allah bagi anda sebagai seorang suami atau istri!

Beberapa tahun yang lalu, kepala redaksi majalah Tomorrow’s World bapak Roderick C. Meredith menuliskan suatu artikel tentang tanggung jawab dari suami dan istri Kristen. Artikel beliau yang berjudul “What All Husbands Need To Know!/Apa Yang Perlu Diketahui Oleh Semua Suami!”, mungkin boleh membantu setiap pasangan dalam pernikahan. Diringkas dengan singkat, tanggung jawab seorang suami kepada istrinya dinyatakan di dalam 5 kategori penting sebagai berikut: mencintai dan menghargai, menopang dan memberikan semangat, membantu dan melindungi, memberikan inspirasi untuk bertumbuh (Plain Truth, June 1966).

Beberapa bulan sebelumnya, ia telah menuliskan sebuah artikel yang serupa yang berjudul “True Womanhood-Is It a Lost Cause?/Kewanitaan Yang Sesungguhnya-Apakah Ini Penyebab Yang Terhilang?” Di dalamnya beliau memberikan penjelasan tentang kualitas yang harus di miliki oleh seorang wanita untuk membantu suami dan seluruh keluarganya. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah tanggapan dan pelayanan, kehalusan dan kecantikan, kepandaian dan pemahaman, nilai-nilai kekristenan, iman, harapan, dan semangat (Plain Truth, November 1965.

Ketika kita menjalankan nilai-nilai Alkitab di dalam kehidupan kita, maka kita akan dapat memperkaya kehidupan orang lain dan juga memperkuat pernikahan dan keluarga kita.

Kitab Titus memberikan garis besar tentang tanggung jawab-tanggung jawab wanita Kristen yang berdasarkan Alkitab. Ia menjelaskan bahwa wanita yang lebih tua sudah selayaknya harus mengajari dan “mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya” (Titus 2:4). Apakah Anda para kaum istri dan ibu-ibu yang membaca artikel ini telah memenuhi tanggung jawab yang diberikan oleh Allah kepada Anda? Jika Anda memenuhinya, Anda akan menjadi teladan yang positif bagi suami Anda. Allah pasti akan memberkati segala usaha Anda, yaitu jika Anda mengakui Allah di dalam pernikahan Anda, dan jika Anda meminta Yesus Kristus untuk menghidupkan kehidupanNya didalam diri Anda. Dengan bantuan Allah, berusahalah untuk menjadi suami dan istri yang paling baik.

Kunci 4: Berkomunikasilah Di Dalam Kasih

Seberapa seringkah para pasangan yang ada di zaman sekarang ini “benar-benar tenggelam” di dalam kenyamanan percakapan?. Komunikasi yang efektif memiliki arti mendengarkan dan juga berbicara secara efektif. Kita harus mendengarkan untuk memahami, dan berusaha untuk memahami pendapat orang lain. Berusahalah untuk memahami perasaan dan kebutuhan orang lain! Tunjukkanlah penghargaan dengan memberikan perhatian yang penuh.

Rasul Paulus memberikan suatu prinsip dasar di dalam berkomunikasi secara efektif. “tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Efesus 4:15). Beberapa orang berbicara kebenaran di dalam kebencian. Tetapi umat Kristen yang dewasa di dalam Kristus akan memelihara tentang bagaimanakah kata-kata mereka berdampak kepada mereka yang mendengarkan mereka.

Ketika berbicara dengan suami atau istri Anda, apakah Anda menunjukkan rasa perhatian dan sayang? apakah Anda berkomunikasi dengan rasa hormat? Tentu saja kita perlu untuk bersabar antara satu dengan yang lain. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” (1 Korintus 13:4). Terjemahan NIV menyatakannya seperti ini “Love is patient, love is kind” , bersiaplah selalu untuk berbicara kebenaran di dalam kasih!

Di dalam kehidupan kita yang serba cepat, suami-suami dan istri-istri seringnya berjalan di dalam arah yang berbeda dan sulit untuk mendapatkan waktu untuk berbicara.

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa banyak pasangan yang hanya memiliki waktu berkomunikasi kurang dari 20 menit! Pengarang Leonard dan Natalie Zunin telah menyarankan “aturan empat menit” sebagai suatu jalan untuk mendapatkan manfaat yang maksimal di dalam waktu yang singkat yang mungkin Anda miliki bersama. Mereka menyatakan bahwa kesuksesan atau kegagalan dari sebuah pernikahan “dapat bergantung dari apa yang terjadi di antara suami dan istri hanya di dalam kurun waktu selama delapan menit di dalam satu hari: empat menit di pagi hari setelah bangun pagi, dan empat menit ketika mereka berkumpul setelah jam kantor” (Contact: The First Four Minutes, halaman 133).

Zunin dengan benar menyatakan bahwa bahasa, sikap atau ekspresi Anda pada permulaan hari dapat berdampak kepada keseluruhan hubungan. Belajarlah untuk menunjukkan suatu sikap yang positif dan penuh kasih selama empat menit pertama bagi anda berdua pada permulaan setiap hari. Jika anda membuat suatu usaha, anda akan dapat menghindari suatu argumentasi yang sepele, atau sungut-sungut yang tidak penting yang dapat berlangsung sepanjang hari. Demikian juga Anda perlu untuk meluangkan waktu bersama di penghujung hari. Bahkan jika Anda lelah, sebuah kata positif yang berisi semangat atau penghargaan, sebuah pelukan atau ciuman dapat membuat suatu perbedaan yang besar di dalam hubungan anda di seluruh sore hari.

Kunci 5: Berdoa Bersama

Banyak dari Anda yang membaca artikel ini mungkin menikah dengan seorang yang tidak percaya. Jika ya, maka Anda tidak dapat berdoa bersama-sama dengan pasangan anda. Walaupun begitu Anda masih dapat berdoa bagi pasangan Anda, dan bagi kesuksesan pernikahan Anda! Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, anda dapat menjadi seorang teladan Kristen bagi pasangan Anda. Alkitab memberikan instruksi ini bagi para istri yang suaminya bukan Kristen. “Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya,” (1 Petrus 3:1). Teladan kekristenan Anda yang penuh dengan kasih, dan jalan hidup yang memberi akan dapat menjadi suatu pengaruh yang positif bagi pasangan Anda. Perhatikanlah bahwa hal yang ditekankan disini adalah tingkah laku Anda, dan bukan untuk berusaha berargumentasi dengan pasangan Anda agar ia menerima dan masuk agama anda!

Tentu saja jika baik Anda dan pasangan berdoa, maka Anda akan dapat berdoa bersama-sama. Ketika istri saya dan saya berdoa bersama, saya biasanya akan memulai doa, dan setelahnya saya akan memberikan tanda bagi istri saya untuk berdoa. Ia akan kemudian berdoa, dan ketika ia selesai maka saya akan menyimpulkan doa berdua kami tersebut. Sangatlah menakjubkan tentang bagaimanakah pikiran-pikiran intim dan pribadi keluar pada saat kami berdoa bersama. Di dalam cara itu, kita saling berbagi satu sama lain dan juga dengan Allah kita.

Kita harus memiliki keinginan untuk mengikut sertakan Allah di dalam pernikahan kita dan di dalam kehidupan kita bersama dengan pasangan kita. Kita semuanya butuh untuk mengetahui Allah dan Juru Selamat kita di dalam setiap aspek kehidupan kita. Alkitab menceritakan kepada kita: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” (Amsal 3:5-6).

Sebuah pernikahan membutuhkan suatu usaha, dan pemeliharaan yang berkesinambungan untuk sukses. Hal ini berarti melakukan segala hal sebaik mungkin di dalam memenuhi segala tanggung jawab yang diberikan oleh Allah baik bagi Anda sebagai seorang suami maupun seorang istri. Memang kita akan mendapat permasalahan, perbedaan, dan bahkan konflik. Tetapi dengan bantuan Allah, Anda akan dapat meningkatkan kualitas pernikahan Anda, dan bahkan menyelamatkan pernikahan Anda jika memang pada saat ini pernikahan Anda berada di ambang kehancuran!

Mintalah Allah untuk membantu Anda menerapkan prinsip-prinsip ini di dalam kehidupan pribadi Anda. Ingatlah bahwa Anda tidak dapat memaksa pasangan Anda untuk berubah, Anda hanya dapat mengubah diri anda sendiri. Namun teladan dari kasih dan pelayanan Anda akan dapat menjadi suatu pengaruh yang hebat di dalam diri pasangan Anda. Ingatlah bahwa Anda tidak dapat melakukan segala hal ini sendirian. Anda membutuhkan bantuan dari Juru Selamat di dalam kehidupan Anda sendiri. Sama seperti yang dituliskan oleh rasul Paulus “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). Biarlah Allah memberkati diri Anda beserta pernikahan dan keluarga Anda sejalan dengan Anda berusaha untuk hidup menurut firman-Nya!

BABEL WANITA PELACUR
OLEH: SAM KAMUH, TK NEW ENGLAND

Kedatangan Yesus yang kedua kali akan terjadi setelah Pekabaran Tiga Malaikat selesai. Pekabaran Malaikat yang Pertama telah kita bahas seebelumnya, saat ini kita akan mempelajari Pekabaran Malaikat yang Kedua.
Mari kita buka Wahyu 14:8. Dan seorang malaikat lain, malaikat kedua, menyusul dia dan berkata: ”Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.
Siapakah “Babel” dalam ayat ini? Tentunya Babel disini tidak mengacu kepada kota Babilon purba (Ajaran populer saat ini mengatakan bahwa kota purbakala Babilon akan dibangun kembali di Timur Tengah. Coba kita baca Yesaya 13:19-20, (19) Dan Babel, yang permai di antara kerajaan-kerajaan, perhiasan orang Kasdim yang megah, akan sama seperti Sodom dan Gomora pada waktu Allah menunggangbalikkannya: (20) tidak ada penduduk untuk seterusnya, dan tidak ada penghuni turun-temurun; orang Arab tidak akan berkemah di sana, dan gembala-gembala tidak akan membiarkan hewannya berbaring di sana; jelas sekali ayat ini mementahkan doktrin ajaran ini). Jadi siapakah atau apakah arti “Babel” disini? Baca Wahyu 17:5 Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia: “Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi.” Dikatakan “Babel” adalah Ibu dari wanita-wanita pelacur atau “Babel” sama dengan “wanita”. Apakah yang dilambangkan oleh “wanita” dalam nubuatan Alkitab? (Kita harus ingat, buku Wahyu sarat dengan symbol dan nubuatan akhir zaman). Dalam Wahyu 19:7,8 Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!” [Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.] Yesus melambangkan gereja-Nya atau umat-umatNya sebagai pengantin wanita. Dia akan datang kembali untuk menjemput pengantin wanita-Nya yaitu gereja-Nya yang ada di atas dunia ini. Kalau wanita kudus melambangkan gereja yang benar, maka so pasti lambang dari wanita yang merupakan ibu dari para pelacur tentunya adalah gereja yang salah atau gereja yang palsu.

Coba kita baca Wahyu 18:2-4 Dan ia berseru dengan suara yang kuat, katanya:’Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, dan ia telah menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci, 3 karena semua bangsa telah minum dari anggur hawa nafsu cabulnya dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia, dan pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya.4 Lalu aku mendengar suara lain dari sorga berkata: ‘Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya.

Dikatakan bahwa Allah memanggil umat-Nya keluar dari Babel, jelas Babel disini sama dengan gereja yang palsu, kalau tidak, mengapa umat-umat Allah yang ada didalam-Nya, dipanggil keluar? Mari kita baca Wahyu 12:1,6,17. Ayat 1 mengacu kepada gereja yang benar, yang dilambangkan dengan perempuan kudus berselubungkan matahari. Ayat 6 mengatakan bahwa gereja Allah yang benar, harus mengalami penganiayaan, tapi akan dipelihara oleh Allah. Ayat 17 menyatakan bahwa ada tertinggal gereja Allah yang benar, yang akan diperangi terus menerus oleh sang Naga yaitu Setan. Ciri-ciri gereja yang benar itu adalah, menurut hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.

Wahyu 17 menunjukkan adanya Gereja Palsu yang dilambangkan oleh wanita pelacur yaitu Babel yang merupakan pokok amaran Malaikat yang Kedua didalam Wahyu 14:8. Babel itu sendiri berarti kekacauan, baca Kejadian 11:9. Babel nubuatan ini sebenarnya mengacu kepada gereja akbar yang tidak mengajarkan Injil yang Kekal yaitu Alkitab dengan sebenarnya. (Baca kembali isi Pekabaran Malaikat yang Kedua dalam Wahyu 14:8). Dengan keterangan-keterangan Alkitabiah yang sudah diberikan diatas, bisa kita simpulkan bahwa gereja palsu ini adalah gereja yang tadinya dimulai dengan benar namun dalam perjalanan sejarah telah jatuh atau bergeser dari kebenaran Alkitab atau telah murtad (istilah rasul Paulus, baca 2 Tesalonika 2:3, Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, sebelum datang hari itu (hari kedatangan Yesus Kristus) haruslah terjadi kemurtadan!)
Gereja akbar yang telah murtad inilah yang disebut sebagai Babel, yang identik dengan kecacauan rohani, oleh karena telah bergeser dari kebenaran Alkitab.

Nanti pada tulisan berikutnya kita akan melihat deskripsi dari wanita pelacur ini. Ini akan mengejutkan. Jadi jangan sampai terlewatkan. Setelah itu akan kita lanjutkan dengan Anggur Babilon yang memabukkan seluruh dunia.
Setan melakukan banyak sekali tipuan agar kita tidak mempercayai nubuatan ini. Ajaran populer saat ini mengatakan bahwa semua peristiwa ini akan terjadi dimasa yang akan datang, belum sekarang, sesudah peristiwa yang disebut sebagai rapture, sesaat sebelum kedatangan Yesus, sehingga dengan demikian, nubatan ini menjadi tidak relevan lagi. Saya percaya nubuatan ini adalah untuk kita yang hidup pada saat ini. Saya percaya Babel telah jatuh saat ini. Allah sedang memanggil keluar umat-umatNya dari gereja akbar yang telah murtad ini, agar kembali menuruti kebenaran Alkitab, supaya bisa menjadi bagian gereja Allah yang benar yaitu mereka yang dalam Pekabaran Malaikat yang Ketiga, yang terdapat dalam Wahyu 14:12, adalah mereka yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus.

Sesuai dengan Pekabaran Malaikat yang Kedua, ada Babel global yang saat ini masih hidup. Allah memberikan peringatan khusus dalam buku-Nya yang terakhir yaitu buku Wahyu, agar kita tidak terjatuh dari kebenaran tapi tetap mengikuti Injil yang Kekal yaitu Injil Yesus Kristus, agar oleh rahmat-Nya, kita bisa memperoleh keselamatan.
rangkaian 6 hari penciptaan, lalu Allah berhenti pada hari yang ketujuh. Itulah Pekabaran Malaikat yang Pertama yang terdapat dalam Wahyu 14:6,7 yang harus disampaikan dengan nyaring sebelum kedatangan Yesus Kristus.

BANYAK BERKAT BAGI ORANG BENAR

Mazmur 5:12
“Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar,
ya Tuhan; Engkau memagari
dia dengan anugerah-Mu
seperti perisai.”

Dalam kitab Maleakhi ditegaskan bahwa akan ada perbedaan antara kehidupan orang benar dan orang fasik. Terhadap orang benar Tuhan menegaskan, “Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia.” (Maleakhi 3:17).

Ini membuktikan bahwa orang-orang benar senantiasa berada dalam pengawasan Tuhan, “Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai.” (ayat nas). Berkat-berkat Tuhan disediakan bagi orang-orang yang hidup sesuai dengan kehendakNya.

Sebelum kita mengalami keberhasilan dalam hidup ini kita harus terlebih dahulu berhasil dalam Tuhan. Artinya kita harus mengutamakan Tuhan dan menempatkan Dia sebagai prioritas utama, “…maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Kita harus memiliki waktu pribadi dengan Tuhan, hidup benar sesuai firmanNya.

Jika hubungan kita dengan Tuhan semakin dekat, apa saja yang kita minta dalam namaNya akan terjadi seperti yang Tuhan janjikan. Kata ‘apa saja yang diperbuatnya’ menunjuk kepada suatu usaha atau tindakan kita, bukan hanya berdoa saja tapi doing nothing. Kita pasti tahu apa itu Ora Et Labora yaitu berdoa dan juga bekerja; keduanya harus sejalan.

Yakub pun demikian, bekerja 7 tahun pada Laban. Meski selalu dicurangi, ia tetap tekun bekerja dan Tuhan membuat segala yang diperbuatnya berhasil: “Maka sangatlah bertambah-tambah harta Yakub, dan ia mempunyai banyak kambing domba, budak perempuan dan laki-laki, unta dan keledai.” (Kejadian 30:43). Karena itu, jangan kuatir akan hidup ini!

Selamat Hari Sabat. Mari saling mendoakan dan Tetaplah Semangat!

Tuhan memberkati kita

CHRISTMAS CARD CAMPAIGN TO OFFER SUPPORT FOR IMPRISONED MEMBERS
MONTEIRO AND AMAH IN TOGO, MASIH IN PAKISTAN STILL JAILED ON NO EVIDENCE
December 03, 2013 | Silver Spring, Maryland, United States | Author: Vania Chew/SPD/ANN staff

Christmas card campaign to offer support for imprisoned members Antonio Monteiro has been held in Prison in Lomé, Togo, since March of 2012. Here he washes the feet of a fellow inmate during a communion ceremony in January. [ANN file photo]

Seventh-day Adventist human rights advocates are urging church members worldwide to send encouragement in the form of Christmas cards to three members in prison on what church officials say are false charges.

More than a year and a half has passed since Seventh-day Adventist pastor Antonio Monteiro and church elder Bruno Amah were imprisoned in the West African country of Togo in a criminal case without evidence or a trial.

Cards for Monteiro and Amah, preferably in English or French, can be sent to the Sahel Union office. The address is:

Antonio Monteiro / Bruno Amah
Union du Sahal
B.P. 2157
Lomé, Togo

“Everyone can do something for our members in prison. We want to show them that they are not alone; that they have brothers and sisters praying for them,” said John Graz, director of Public Affairs and Religious Liberty for the Adventist world church. “Every Christmas card they will receive will be an encouragement.”

In March 2012, a Togolese man implicated Monteiro and Amah as conspirators in an alleged blood trafficking network. A police search of the pastor’s home and local church headquarters produced no evidence, but Monteiro and Amah have not been released.

Seventh-day Adventists around the world have rallied to show support for their brothers in Christ. Last December, a social media campaign calling for a day of prayer helped raise awareness of the situation in Togo. Facebook followers interacted with ‘Pray for Togo’ content more than 50,000 times while the Twitter event hashtag reached more than 7 million users. Members are encouraged to visit the website Pray4Togo.com and sign the petition.

Church leaders are also urging members to send Christmas cards of encouragement to Sajjad Masih, who is being held in prison in Pakistan on charges of blasphemy, despite his accuser’s subsequent retraction and prosecutors’ failure to produce evidence of his involvement.

MORE DIVISIONS MAKE RECOMMENDATION TO ORDINATION STUDY COMMITTEE
[ANN file photo] COMMITTEE GREW OUT OF PLEDGE AT 2010 SESSION TO STUDY THEOLOGY OF ORDINATION
December 03, 2013 | Silver Spring, Maryland, United States | Author: ANN staff

More divisions make recommendation to ordination study committee.
More of the Adventist Church’s 13 world divisions are submitting their Biblical Research Committee’s recommendations to the Theology of Ordination Study Committee. Above, the full committee, with representation from around the world, meets in July
More of the Seventh-day Adventist Church’s 13 world divisions are preparing their recommendation to the world church’s Theology of Ordination Study Committee.

The denomination is in the midst of a five-year process of studying the biblical foundation of theology as it relates to gender and its implications if women were to be ordained. The Adventist world church does not ordain women as ministers.

More of the Adventist Church’s 13 world divisions are submitting their Biblical Research Committee’s recommendations to the Theology of Ordination Study Committee. Above, the full committee, with representation from around the world, meets in July. [ANN file photo]

ANN previously reported that the North American Division at its Year-End Meeting recommended that women be ordained as ministers. Now, more divisions are reporting their recommendation:

The Inter-European Division, based in Berne, Switzerland, released a statement saying it will recommend to the committee that there is room for the church to ordain women.

A spokesman for the Southern Africa-Indian Ocean Division, based in Pretoria, South Africa, said in an email to ANN: “The action taken by the [division’s committee] supported the position against the ordination of women to the gospel ministry” and “in the absence of clear biblical revelation, the established model and practice of ministry should be upheld.”

The Trans-European Division, based in St. Albans, England, reported it would recommend an inclusive ministry without gender distinction.

The South Pacific Division, based in Waroonga, New South Wales, Australia, said it does not see any scriptural principle that would be an impediment to women being ordained.

ANN will report the recommendations of the rest of the 13 world divisions as they become available.

The five-year process was established following a pledge at the denomination’s General Conference Session in 2010. Each of the Adventist Church’s 13 world divisions has formed its own Biblical Research Committee and is preparing its own report. Several study sessions of the full committee have already met. World church officials have promised to bring back a compiled report to the 2015 General Conference Session.

Leave a Reply