Era Baru: Menuju One Government?

Dunia Memasuki Era Baru  

Konferensi Tingkat Tingkat (KTT) G-20 di London berakhir sudah.  Hasilnya luar biasa.  Pernyataan yang dikeluarkan banyak merupakan langkah berani, sesuatu yang sulit dibayangkan terjadi 10 tahun yang lalu.  Dalam pidato penutupannya PM Inggris Gordon Brown selaku tuan rumah mengatakan bahwa Washington Consensus sudah berakhir. Konsensus yang pertama kali disebutkan oleh ekonom AS John Williamson pada tahun 1989 ini merujuk kepada konsep reformasi dan liberalisasi yang diinginkan AS dan dipaksakan lewat IMF dan Bank Dunia pada saat kedua lembaga ini memberikan bantuan dana kepada negara yang terpukul krisis ekonomi.  Lalu apa masalahnya, bukankah tujuannya untuk membantu?

Dani Rodrik dari Harvard University berkomentar dalam bukunya Goodbye Washington Consensus, Hello Washington Confusion? Banyak pihak menuduh bahwa konsep yang mempunyai tiga mantra (stabilisasi, privatisasi dan liberalisasi) itu justru lebih banyak menguntungkan negara-negara maju.  Kebijakan ini membuat negara-negara berkembang terbuka untuk dieksploitasi.  Kekayaan alam negara berkembang dapat pindah ke negara maju (padahal orangnya tidak bisa pindah karena terganjal urusan visa, dan tetap tinggal miskin di negaranya masing-masing) yang membuat orang kaya di negara maju semakin kaya.

Kantor berita Reuters menuliskan, “G-20 menandai berakhirnya kejayaan kapitalisme Anglo-Saxon.”  Hal ini merujuk pada liberalisasi lepas yang didukung oleh Inggris di mana AS sebagai pionirnya.  Kapitalisme Anglo-Saxon mencuat ketika AS dipimpin oleh Presiden AS Ronald Reagan dan Inggris dipimpin oleh PM Margaret Thatcher pada dekade 1980-an. – Kompas, 4 April 2009.

Ketidakadilan yang dirasakan oleh negara-negara berkembang akibat kebijakan di atas rawan untuk dieksploitasi oleh Cina dan Rusia yang belakangan semakin akrab dengan Amerika Latin dan Afrika. Tetapi pada saat yang sama kehancuran perekonomian dunia saat ini sangat dirasakan oleh orang-orang kaya yang kehilangan investasinya.  Hal ini sesungguhnya merupakan teguran dari Tuhan bagi mereka yang menimbun harta di dunia.

Situasi yang dapat berkembang menjadi tidak terkendali di atas membuat para pemimpin dunia banting stir merubah arah yang ditempuh.  Kalau masih meneruskan jalan yang selama ini ditempuh, di ujung sana ternyata ada jurang yang siap mengakhiri perjalanan masyarakat dunia.  Itu sebabnya Steven Schrage, ekonom dari Center for Strategic and International Studies di Washington mengatakan: “Ada kemajuan yang berarti; selama ini G-8 terkenal dengan pernyataan-pernyataan yang bombantis tetapi tak bergigi; G-20 kali ini memang berbeda.”  Apanya yang berbeda dan mengapa berbeda?

G-8 terdiri dari negara G-7 ditambah Rusia (yang digandeng supaya jangan menciptakan blok baru).  G-20 sudah mengikutsertakan Cina dan India, dua negara berpenduduk terbesar di dunia yang perekonomiannya lagi naik daun.  Cina khususnya, harus diajak ikut bertanggung jawab memperbaiki kemelut perekonomian dunia karena perdagangannya yang sudah merambah dunia dan mempunyai cadangan devisa hampir USD2triliun.  Cina, sebagaimana Rusia, harus diajak supaya jangan bikin blok baru.  Lebih baik masuk dalam kelompok yang sama sehingga bisa dikontrol dan sepak terjangnya bisa diawasi.  Cina saat ini menghadapi buah simalakama.  Karena dari cadangan devisanya yang besar, lebih USD1triliun disimpan dalam bentuk US Treasury bonds (obligasi yang dikeluarkan pemerintah AS).  Dengan demikian Cina berkepentingan agar dolar AS tidak jatuh.  Karena kalau AS bangkrut obligasi pemerintah AS tidak ada artinya.  Demikian juga, kalau Cina melepas atau menjual obligasi tersebut, harganya juga akan jatuh.

Yang lucunya adalah peningkatan cadangan devisa Cina sebanyak USD1.5triliun dalam 5 tahun terakhir ini tidak terlepas dari surplus perdagangannya yang luar biasa dengan AS setiap tahunnya.  AS yang begitu konsumtif terlalu banyak mengimpor dari Cina barang-barang yang harganya lebih murah, sedangkan barang produksi AS kurang laku di Cina karena harganya mahal.  Iklim kapitalisme dan konsumtif di akhir zaman telah membuat perekonomian AS lebih besar pasak dari tiang.  Dalam sistem kapitalis tidak dikenal penghematan dan pengetatan ikat pinggang.  AS menuduh Cina menjual barang murahan (padahal konsumen AS sangat menyukai produk Cina yang murah itu dan pemerintah tidak dapat melarang hal itu karena terikat dengan prinsip perdagangan bebas menurut WTO – World Trade Organization).  Tidak heran kalau Paul Krugman, ekonom AS pemenang hadiah Nobel yang suka mengkritik pemerintah secara bercanda mengatakan tentang perdagangan AS dengan Cina: “They give us poisoned products, we give them worthless paper”Newsweek, 6 April 2009.

Langkah Baru G-20

KTT G-20 memutuskan untuk mengambil tindakan kepada negara yang masih membiarkan negaranya menjadi ’tax haven’ (surga pajak) bagi para koruptor.  Di negara yang dituduh sebagai tax haven countries seperti Malaysia, Filipina, Uruguay dan Kosta Rika, bunga deposito dikenakan pajak yang sangat kecil atau bahkan tidak. Keputusan yang diambil G-20 juga akan ’mengakhiri’ banking secrecy (kerahasiaan perbankan) yang selama ini dijalankan secara ketat oleh negara seperti Swiss dan Liechtenstein karena telah dijadikan oleh para koruptor untuk menyembunyikan hasil korupsinya.  Pada akhirnya tidak ada lagi tempat yang rahasia di dunia jika sudah berbicara mengenai ancaman yang melanda masyarakat dunia (yang saat ini masih berupa ancaman perekonomian).

G-20 mendesak semua negara untuk tidak melakukan tindakan proteksionisme dan membuka negaranya bagi perdagangan bebas.  Karena dalam keadaan krisis perekonomian global ini, banyak negara yang mencoba untuk melindungi perusahaan dalam negerinya dengan menghalangi serbuan barang dari negara lain yang murah.  AS sebagai lokomotif ekonomi dunia menjadi kewalahan karena semua negara berlomba mengekspor barangnya ke AS.  Langkah jitu Pemerintahan Obama (yang ditentang Eropa dan Cina) dengan mencetak USD1triliun (untuk membeli kredit bermasalah di perbankan AS dan untuk dibelanjakan dalam berbagai proyek di AS) akan menurunkan nilai dolar, tetapi akan membantu ekspor AS karena produk buatan AS akan menjadi lebih murah jika dijual di negara lain.  Pemerintah AS tidak mau dituduh bahwa langkah ini merupakan tindakan proteksionisme dan berdalih bahwa mereka punya kewajiban untuk memperbaiki sistem perbankan AS.

’Kesewenang-wenangan’ pemerintah AS untuk ’mempermainkan’ nilai dolar yang ternyata tetap diminati sebagai reserve currency, membuat banyak negara khususnya Cina merasa ingin agar dolar AS tidak lagi dijadikan sebagai global currency dan reserve currency.  Mungkinkah keinginan Cina berhasil?  Sangat disangsikan, sekalipun Cina menguasai hampir USD1.5triliun dalam bentuk obligasi pemerintah AS.  Justru itu yang membuat Cina tidak bisa berbuat banyak.  Cina masuk dalam perangkap.  Ketergantungan Cina terhadap AS untuk pemasaran produknya dan kejatuhan dolar AS justru akan merugikan Cina sendiri, membuat gertakan Cina oleh AS dilihat bagaikan anjing menggonggong kafilah berlalu.

Cina mau ambil alih? No way!

Melihat perkembangan di atas dunia bingung dan berspekulasi apa yang akan terjadi dengan dolar AS?  Bagi umat Tuhan yang mengetahui nubuatan mestinya dapat lebih mudah membaca.  Kita belajar dari pengalaman dengan runtuhnya Uni Soviet.  Kala itu banyak yang bingung, bagaimana kegenapan Wahyu 13 akan terjadi sementara pada saat itu ada dua negara superpower.  Sejarah telah menunjukkan bahwa Uni Soviet runtuh tanpa harus terjadi Perang Dunia ke-3.  AS akan menjadi pemain utama berduet dengan Vatikan dalam menjalankan skenario Wahyu pasal 13.

Akankah Cina menggantikan AS dalam memimpin perekonomian dunia?  Pendapat ini kalaupun ada terlalu berlebihan.  Kekacauan perekonomian AS (dan yang menyeret dunia) saat ini bukan karena serangan dari luar tetapi karena ulah sendiri.  Pemerintah Partai Republik di AS selama ini terlalu memberi kebebasan kepada bisnis investasi yang merajalela tanpa pengendalian yang memadai.  Kerakusan dari bank investasi dengan hedge fund-nya sangat seirama dengan sifat manusia akhir zaman yang mengejar kekayaan dan membahayakan dirinya.  Sifat rakus dan tidak berhati-hati itu juga akhirnya menular kepada lembaga yang seharusnya lebih berhati-hati seperti lembaga asuransi.  Tidak heran kalau kemudian AIG, perusahaan asuransi terbesar di dunia akhirnya masuk ICU dan mendapat injeksi sampai USD180miliar untuk mempertahankan hidupnya.  Tetapi ’anak asuhnya’ yaitu Lehman Brothers sudah keburu menghembuskan nafasnya karena ’dokter jaga’ AIG kehabisan obat yang diperlukun untuk diijeksikan padanya.  Yang membuat orang menjadi bingung dan marah adalah ketika pimpinan AIG mengumumkan bonus sampai USD165juta kepada para eksekutifnya.  Sense of crisis jelas tidak ada.  Yang menonjol adalah kepentingan diri dan ketidakpekaan pada situasi.

Di mana Vatikan?

Wahyu 13 jelas menunjukkan adanya dua kekuatan dunia yang akan berperan untuk memaksa dunia mengikuti keinginan mereka.  Oleh karena itu dalam mengikuti perkembangan perekonomian dunia, kita tidak bisa terlepas dari mengamati apa yang sedang terjadi akan kebijakan apa yang diambil oleh pemerintah AS.  Jika AS sebagaimana dinubuatkan dalam Wahyu 13 akan berbicara seperti naga dan memaksakan kehendaknya kepada orang lain, mau tidak mau AS akan tetap menjadi yang terkuat.  Tidak wajar rasanya jika AS dalam keadaan lemah dan tak berdaya dapat memaksakan kehendaknya.  Namun yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa di dalam melakukan berbagai rencana pemaksaan di atas, AS tidak bekerja sendiri.  AS akan bekerja sama dengan Vatikan.  Bilamana Vatikan terlibat, maka hal itu tidak boleh terlihat berkaitan dengan perekonomian, sebab Vatikan lebih dikenal sebagai kekuatan moral dan akan lebih diperhatikan jika berbicara dari sudut agama dan perdamaian.

Pergantian kekuasaan di AS dari Partai Republik ke Partai Demokrat bisa membawa dampak lebih baik bagi Vatikan tetapi bisa juga tidak.  Presiden Obama diharapkan dapat memperbaiki citra buruk AS khususnya di mata dunia Arab/Islam.  Dengan pengikut 1.2 miliar, penganut agama Islam jelas harus diperhitungkan, apalagi ada kelompok tertentu di dalamnya yang sering bertindak radikal.  Sebenarnya untuk urusan itu Vatikan bukan orang kemarin.  Sejarah panjang Gereja Katolik khususnya di abad pertengahan penuh dengan unsur radikal yang memaksakan kehendaknya.  Di antara Gereja Katolik dan Islam sendiri terdapat banyak persamaan.  Untuk urusan ke dunia Islam, munculnya sosok Obama cenderung merupakan sesuatu yang baik.  Tetapi pada saat yang sama harus diingat bahwa Pemerintahan Demokrat lebih sekular dan di akhir zaman, keduniawian lebih disukai.  Beberapa pandangan Demokrat yang juga dianut Obama bertentangan dengan doktrin dan pandangan Vatikan.  Kita tentu sudah sering mendengar tentang masalah aborsi dan riset stem-cell.  Vatikan menentangnya tetapi Obama menyetujuinya.  Kita tidak membicarakan mana yang benar atau siapa yang salah.  Keharmonisan antara Gedung Putih dan Santo Petrus yang mencapai puncaknya pada masa pemerintahan George W. Bush kelihatannya tidak bisa dilanjutkan oleh Barack Obama.  Kunjungan Paus pada bulan April 2008 (di tengah hiruk pikuk kampanye pemilihan presiden AS) untuk menunjukkan dukungan Vatikan pada pemerintahan Partai Republik kelihatannya tidak mendapat tanggapan positif dari rakyat AS.  Harapan di balik kunjungan yang telah lama direncanakan tersebut ternyata terganjal isu perekonomian yang memburuk.  Partai Demokrat memanfaatkan hal ini dengan menuding politik perang Partai Republik sebagai penyebabnya.  Tentu hal ini tidak terlepas dari berbagai kebijakan Presiden Bush, termasuk kebijakannya agar semua orang di AS memiliki rumah (Home Ownership).  Kebijakan ini telah  memudahkan dan mendorong orang membeli rumah melebihi kemampuannya sehingga digolongkan sebagai sub-prime mortgage.  Rakyat AS yang menginginkan perubahan ternyata sekalian memecahkan rekor dengan memilih Barack Obama, seorang keturunan Afrika-Amerika menjadi presiden kulit hitam pertama.

Seandainya tidak terjadi krisis keuangan dan John McCain yang terpilih menjadi penghuni Gedung Putih, besar kemungkinan politik perang AS akan berlanjut dengan memakan Iran sebagai korban berikut.  Rencana tersebut tidak terlepas dari rencana AS menguasai pusat minyak dunia sekaligus mengontrol OPEC dan mencegah munculnya Rusia, Cina dan bahkan India menjadi pesaing di kemudian hari.  Sir Halford MacKinder, tokoh geopolitik asal Inggris pada abad ke-19 pernah mengemukakan teori yang mengatakan: “Siapa yang menguasai Heartland, menguasai World-Island, dan siapa yang menguasai World-Island, akan menguasai dunia.”  Heartland mencakup kawasan Asia Tengah, sedangkan WorldIsland adalah Timur Tengah.   AS sudah lama ‘menguasai’ Timur Tengah tetapi cengkeramannya tertanggu karena adanya unsur-unsur radikal yang didukung oleh Syria dan Iran.  Jika AS berhasil menguasai Asia Tengah, maka diharapkan penguasaan AS akan dunia akan semakin cepat dan Pan-Americana dapat diwujudkan dengan Vatikan sebagai jurumudinya.  Jika pemikiran dan rencana di atas benar, kita dapat melihat bahwa tidak semua yang direncanakan manusia akan dapat terwujud jika Tuhan mengatakan hal sebaliknya.

V

atikan mungkin kecewa tetapi mereka tidak akan berhenti berusaha.  Mereka tentu punya Plan B. Karena tujuan akhir mereka adalah untuk memiliki satu pemerintahan dunia di mana Paus sebagai pemimpinnya.  Dan itu sejalan dengan pandangan Gereja Katolik bahwa dunia ini tidak akan dibinasakan tetapi akan diperbaiki sementara manusia masih ada tinggal di dunia. Yang pasti umat Tuhan tidak boleh lengah.  Ini adalah masa untuk persiapan.  Vatikan kelihatannya akan mencoba untuk menggunakan Eropa sebagai pijakan untuk menekan dan mempengaruhi para pengambil keputusan di AS.  Kanselir Jerman Angela Merkel telah secara terang-terangan mengatakan bahwa krisis keuangan dunia saat ini adalah karena kapitalisme AS/Inggris yang dipaksakan dan tidak mau mendengar nasehat Jerman pada saat itu.  Presiden Perancis Nicolas Sarkozy telah mengancam jika G-20 tidak bisa mengambil langkah tegas maka Perancis akan jalan sendiri.  Tekanan-tekanan ini bukan berdiri sendiri.  Tentu ada yang memberi dukungan di balik itu.  Vatikan ingin untuk menanamkan satu pemikiran kepada para pemimpin di Eropa bahwa diperlukan satu kebersamaan di Eropa.  Yang paling memungkinkan adalah kebersamaan di bawah komando Katolik.  Bukan di bawah NATO di mana AS yang nota bene adalah Protestan ikut di dalamnya.  Jangan katakan bahwa bukankah Wahyu 13 mengatakan bahwa Vatikan dan AS akan bergabung?  Itu benar, tetapi yang tahu dan percaya akan hal itu adalah kita.  Para pelaku sendiri belum tentu percaya dan oleh karena itu akan mencoba menempuh jalan lain.  Tetapi pada saat yang sama perlu diingat bahwa Wakil Presiden AS Joseph Biden adalah seorang penganut Katolik yang kuat.  Segala sesuatu mungkin terjadi.  Apa yang sekarang terjadi bahkan mungkin akan lebih mempercepat kegenapan nubuatan.

 

-Bonar Panjaitan

Sumber: WAO 17 April 09

Leave a Reply