Falsafah indah

July 11, 2017 - Renungan

● Aku melihat hidup orang lain begitu nikmat,
Ter,nyata ia hanya menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah..

● Aku melihat hidup teman2ku tak ada duka dan kepedihan,
Ternyata ia hanya pandai menutupi dengan mensyukuri.

● Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian,
Ternyata ia begitu menikmati badai ujian dlm kehidupannya.

● Aku melihat hidup sahabatku begitu sempurna,
Ternyata ia hanya berbahagia “menjadi apa adanya”..

● Aku melihat hidup tetanggaku beruntung,
Ternyata ia selalu tunduk pada sang pencipta untuk bergantung..

● Maka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rejeki orang lain..
Mungkin aku tak tahu dimana rejekiku..
Tapi rejekiku tahu dimana diriku..

● Dari lautan biru, bumi dan gunung, sang pencipta telah memerintahkannya menuju kepadaku…

● Sang pencipta yang Maha pengasih menjamin rejekiku, sejak 9 bulan aku dalam kandungan ibuku..

● Amatlah keliru bila berkeyakinan rejeki dimaknai dari hasil bekerja.. Karena bekerja adalah ibadah, sedang rejeki itu urusan-Nya..

● Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda..

● Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati..

● Mereka lupa bahwa hakekat rejeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya..

● Rejeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, sang Pencipta menaruh berkat sekehendak-Nya..
Ikhtiar itu perbuatan..
Rejeki itu kejutan..

● Dan yang tidak boleh dilupakan, tiap hakekat rejeki akan ditanya kelak..
“Darimana dan digunakan untuk apa” Karena rejeki hanyalah “Hak Pakai”, bukan “Hak Milik”…

Semoga Bermanfaat

🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏

Leave a Reply