“GEREJA: DALAM PELAYANAN KEMANUSIAAN”

December 9, 2012 - Loddy Lintong

PRAWACANA:

Beberapa bulan silam saya pernah memuat album pada akun Facebook saya yang memuat foto-foto tentang tindakan heroik seorang pemuda yang menyelamatkan seekor anjing kecil yang jatuh ke laut dan berhasil menyelamatkannya. Anjing ras campuran Maltese-shitzu itu terlepas dari pegangan majikannya dan terhempas ke laut dari atas dermaga akibat hembusan angin kencang. Sehubungan dengan tema pelajaran kita pekan ini, saya ingin mengangkat kembali kisah yang telah menyebar ke seluruh dunia ini secara lebih lengkap. Ternyata, nama pahlawan itu adalah Raden Soemawinata, 20, seorang pemuda berdarah Indonesia.

Angin bertiup kencang di kemarau Agustus 2009 itu. Raden bersama keluarga besarnya sedang berada di Brighton Pier, sebuah dermaga di Melbourne, Australia yang digemari pengunjung sebagai tempat bersantai. Tapi kedatangan keluarga Raden ke lokasi di Port Philip Bay hari itu bukan untuk pelesir melainkan mereka hendak melakukan sebuah ritual penting berdasarkan keyakinan mereka, yaitu menaburkan abu jenazah neneknya ke laut. Di tengah suara deburan ombak terdengarlah suara orang berteriak-teriak. Ternyata itu adalah teriakan Sue Drummond, seorang wanita berumur yang panik setengah mati karena anjing kesayangannya, Bibi, telah jatuh terhempas ke dalam air di bawah dermaga. Angin yang bertiup di atas kecepatan 100 Km per jam telah menyeret anjing malang itu.

Sue hanya bisa termangu memperhatikan tubuh Bibi yang mungil itu berusaha sekuat tenaga untuk menahan arus air yang menyeretnya sambil berjuang mengangkat kepalanya ke atas permukaan air. Sesekali dia berhasil berenang mendekat ke tepi, tapi ombak menghanyutkannya kembali ke tengah. Para pengunjung pun cuma bisa memandang denga iba, tetapi tidak bagi Raden. Tanpa keragu-raguan pemuda pemberani ini mulai melucuti pakaiannya satu demi satu, dan hanya dengan mengenakan kemeja dan pakaian dalamnya (maaf!) dia kemudian menuruni tiang penyanggah dermaga. Pada ketinggi yang cukup aman dia langsung terjun ke air yang dingin untuk menyelamatkan Bibi.

Dengan disaksikan oleh puluhan orang yang mengamati dan memberinya semangat, Raden berhasil mengangkat Bibi dari dalam air lalu membawanya ke atas dermaga. Tepuk tangan pun bergema. Sue menerima kembali anjing kesayangannya itu dengan penuh haru, tidak menyangka bahwa ada orang yang tak dikenal bersedia berkorbanan dengan menghadapi risiko demi menyelamatkan seekor hewan kecil.

“Saat itu dingin sekali dan berangin kencang, tapi bukan suatu keputusan yang sulit untuk terjun ke dalam air. Itu bukan sesuatu yang luar biasa,” kata pria yang bekerja paruh waktu sebagai model itu, kepada wartawan suratkabar lokal Herald Sun yang kebetulan berada di tempat itu dan mengabadikan saat-saat yang menegangkan itu. Kisah kepahlawanan Raden Soemawinata ini kemudian diberitakan pula oleh media Inggris terkenal The Telegraph dan Daily Mail, edisi 17 Agustus 2009, dan dikutip pula oleh media-media asing lainnya.

Tentu saja menyelamatkan seekor binatang dari bahaya maut adalah suatu perbuatan kebajikan yang patut dipuji. Tetapi lebih dari itu, pemuda yang baik hati ini telah menyelamatkan seorang ibu tua dari rasa kehilangan dan rasa bersalah yang bukan mustahil dapat menjadi sebuah kenestapaan yang terbawa sepanjang hidup. Atas tindakan yang telah menjadi inspirasi bagi jutaan penyayang binatang itu, Raden menerima penghargaan “Compassionate Citizen Award” dari Animals Australia, sebuah organisasi yang mewakili lebih dari 40 perhimpunan penyayang binatang dan ribuan orang secara pribadi di seluruh Australia (berita baca di sini—> http://www.animalsaustralia.org/media/in_the_news.php?article=482).

Seorang pembaca yang mengomentari peristiwa tersebut antara lain menulis: “Dia adalah seorang pahlawan. Saya berharap ada lagi yang lain seperti dia, alangkah ajaibnya dunia di mana kita hidup ini kalau orang-orangnya tidak mementingkan diri dan berpengasihan seperti pria ini.” Sedangkan pembaca lain berkomentar: “Di hari dan zaman di mana seorang wanita dapat dipukuli di jalan oleh pasangannya, atau seorang pria bisa dibunuh di tengah jalan gara-gara uang beberapa dolar dan tak seorang pun datang menolong, sudah jelas pemuda ini adalah seorang yang langka yang masih mau berpikir bagaimana dia dapat menolong orang lain.”

Pertanyaan bagi kita sekarang, Sejauh mana anda dan saya yang mengaku sebagai orang-orang Kristen yang benar, bersedia berbuat kebajikan dan berkorban untuk menolong orang lain yang membutuhkan bantuan, seperti yang diajarkan Yesus Kristus?

(Untuk foto-foto lainnya silakan klik di sini—> http://www.news.com.au/top-stories/gallery-e6frfkp9-1225762102234?page=1. Untuk membaca ceritanya klik pada link yang terdapat pada akun Facebook milik Raden ini—> http://www.perthnow.com.au/news/hero-rescues-drowning-dog-blown-off-victorian-pier/story-e6frg12c-1225762680209).

Sabat Petang, 17 November

PENDAHULUAN

Gereja, penopang kebenaran. Apakah gereja itu? Banyak orang terpaku kepada pendapat bahwa gereja adalah kumpulan orang-orang yang telah meninggalkan kepedulian terhadap kehidupan duniawi karena sedang menyiapkan diri untuk masuk surga. Gereja sering pula dianggap sebagai tempat berhimpunnya orang-orang yang telah mengambil keputusan untuk meninggalkan arena perjuangan dunia ini karena tidak sanggup lagi menghadapi kejamnya dan kerasnya persaingan hidup. Ada pula sebagian orang yang menganggap gereja sebagai “pelarian” atau tempat mencari “suaka kehidupan” dari orang-orang yang tidak mempunyai pilihan lain.

“Alkitab mengajarkan dengan jelas tentang pentingnya gereja. Itu bukan sebuah pilihan; itu adalah komponen penting dalam rencana keselamatan. Jadi, tidak heran bahwa, sebagaimana tersingkap dari peperangan besar itu, Setan bekerja sedemikian keras untuk menentangnya, khususnya karena gereja adalah sarana yang penting oleh mana orang-orang berdosa di bawah ke dalam hubungan dengan keselamatan yang ditawarkan Allah. Gereja, tulis rasul Paulus, adalah ‘keluarga Allah’ bahkan ‘tiang penopang dan dasar kebenaran’ (1Tim. 3:15). Gereja bukan sesuatu penemuan manusia; itu diciptakan oleh Allah untuk maksud-maksud membawa orang-orang berdosa yang bersalah itu ke dalam suatu hubungan yang menyelamatkan dengan Dia” [empat kalimat terakhir].

Kata asli (Grika) yang diterjemahkan dengan keluarga dalam ayat di atas adalah ?????, oikos,sebuah kata-benda maskulin yang arti harfiahnya adalah rumah sebagai satu bangunan tempat tinggal, seperti digunakan dalam Mat. 9:6, 7; tapi kata ini juga dapat berarti satu umat, keluarga atau keturunan, seperti yang digunakan dalam Mat. 10:6; Luk. 1:27, 33. Bahkan, kata ini digunakan pula dalam PB untuk tempat ibadah–yaitu Gereja–seperti yang Yesus katakan, “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa?” (Mrk. 11:17).

Gereja bukan dasar dari kebenaran, tetapi gereja adalah pilar yang menopang kebenaran itu agar dilihat oleh dunia. Jadi, oleh karena gereja adalah pilar yang menopang kebenaran, maka gereja yang tidak mempunyai kebenaran tidak dapat disebut sebagai gereja. Atau, kalau sebuah gereja tidak memiliki kebenaran “yang benar” maka apa yang ditopangnya adalah “kebenaran palsu” atau “kebenaran” menurut pandangan pribadi segelintir manusia saja.

Minggu, 19 November

GEREJA SEBAGAI SATU UMAT (Sifat Gereja: Bagian 1)

Makna “Gereja.” Yesus Kristus berkata kepada Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18; huruf miring ditambahkan). Dalam bahasa aslinya (Grika kuno), bagian yang diterjemahkan dengan”jemaat-Ku” di sini bunyinya adalah µ?? t?? ?????s?a?, mou ten ekklesian. Kata mou di sini berkenaan dengan sifat memiliki (bentuk posesif) yang merujuk kepada aku, atau padanannya dalam bahasa Inggris ialah my (=kepunyaanku). Sedangkan ten adalah sebuah kata spesifik yang dalam bahasa Inggris padanannya adalah the (dalam struktur gramatika bahasa Inggris kata ini disebut berjenis definite article) yang lazim digunakan di depan kata-benda, seperti the church. Dalam bahasa Indonesia kata ini setara dengan sang atau si, yaitu kata depan yang merujuk kepada sesuatu atau seseorang. Contohnya adalah Sang Saka Merah Putih atau Sang Dwiwarna, Sang Raja, dan Si Anu. Di seluruh Perjanjian Baru, kata ten digunakan sebanyak 1538 kali sebagai kata depan untuk berbagai kata-benda dan sesekali digunakan pula sebagai kata sandang yang.

Kata Grika ?????s?a, ekklesia, aslinya bukan sebuah “istilah rohani” seperti kemudian kita kenal. Istilah ini adalah sebuah kata-benda feminin yang berarti perhimpunan dan lazim digunakan untuk merujuk kepada “sekumpulan warga” apabila mereka berkumpul di suatu tempat untuk sebuah pertemuan. Belakangan kata ini menemukan pengertian Kristiani ketika digunakan untuk “orang-orang percaya” atau “jemaah.” Kata ekklesia sendiri merupakan perpaduan dari dua kata, yaitu kata perangkai ??, ek yang artinya keluar atau dari, dengan kata ?a???, kaleo, sebuah kata-kerja yang berarti panggil atau dipanggil. Dengan demikian ekklesia berarti dipanggil keluar ataudipanggil dari. “Dalam kehidupan Yunani sekuler, kata ini telah digunakan utamanya untuk menerangkan sekelompok warga yang sudah dipanggil keluar dari rumah-rumah mereka ke sebuah tempat umum untuk pertemuan atau berkumpul. Perjanjian Baru menggunakan kata ini dalam pengertian yang umum tersebut” [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

“Gereja” adalah manusianya. Di seluruh Perjanjian Baru, penggunaan kata “gereja” selalu merujuk kepada manusianya, yaitu jemaah. Tetapi peradaban moderen telah menggiring makna gereja kepada pengertian yang bukan lagi sekadar orang-orang, tetapi sudah melebar kepada pemahaman yang lebih sekunder seperti sebagai sebuah bangunan atau suatu organisasi. Kamus Merriam-Webster memasukkan lima entri untuk arti kata “gereja” (church): 1. sebuah bangunan; 2. tugas kependetaan; 3. badan/organisasi (umat Kristen, denominasi, dan kongregasi); 4. peribadatan; dan 5. profesi. {Lihat—> http://www.merriam-webster.com/dictionary/church.}

Sesungguhnya, ekklesia (jemaah) adalah sebuah komunitas anak-anak Tuhan atau umat Allah. Gereja sebagai sebuah “gedung” atau bangunan itu hanya sarana tempat berhimpun dan beribadah, sedangkan gereja sebagai sebuah “organisasi” (denominasi atau sekte) itu adalah prasarana yang melaksanakan fungsi administratif. Tetapi “gereja” dalam pengertian asli adalah satu umat yang percaya dan berbakti kepada Allah melalui Yesus Kristus, terlepas apakah mereka memiliki satu bangunan tempat berkumpul atau tidak, dan apakah mereka mempunyai sebuah organisasi atau tidak. Seperti ketika Paulus dan Silas bersama Timotius datang di kota Filipi, pada hari Sabat mereka “menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi” (Kis. 16:13) untuk mengajar injil dan berbakti bersama warga Yahudi perantauan, dan dengan demikian mereka sudah membentuk sebuah gereja. Sebuah perkumpulan disebut “Gereja” bilamana ada Kristus di tengah orang-orang itu. “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku,” kata Yesus, “di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20).

“Gereja” sebagai bangunan. Bahasa Grika lama mempunyai satu kata-benda yang merujuk kepada gereja sebagai sebuah bangunan, yaitu ????a???, kyriakon, yang secara harfiah berarti milik Tuhan dan kemudian digunakan sebagai rumah Tuhan. Kata ini berasal dari kata dasar ??????, kyrios, yang artinya Tuhan. Kata kyrios ini kemudian diserap ke dalam beberapa bahasa di Eropa dan menjelma menjadi kata baru seperti kirche (Jerman), kirk (Skotlandia), kerk (Belanda), circe(Anglo Saxon), cirice (Inggris tua) lalu menjadi chirche (Inggris pertengahan) dan kemudian berubah menjadi church (Inggris baru). Jadi, dari segi asal-usul kata sebenarnya tidak ada hubungan etimologis sama sekali antara kata kyriakon yang berarti “gereja” atau “rumah Tuhan” dengan kata ekklesia yang berarti “perhimpunan” atau “jemaah.”

“Penting untuk diperhatikan bahwa kata ekklesia tidak pernah digunakan merujuk kepada sebuah bangunan di mana perbaktian umum diadakan. Sama pentingnya ialah bahwa walaupun kata ‘sinagog’ pada mulanya menunjukkan suatu perhimpunan orang banyak untuk maksud tertentu, umat Kristen memilih untuk menggunakan kata ekklesia. Meskipun demikian, kedua kata ini menandakan bahwa gereja Perjanjian Baru secara historis merupakan kelanjutan dari gereja Perjanjian Lama, yaitu ‘sidang jemaah’ Israel (Kis. 7:38)” [alinea ketiga: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang sifat “Gereja” sebagai satu umat?

1. Alkitab PB versi Bahasa Indonesia memiliki padanan kata yang tepat untuk kata Grika ekklesia, yaitu jemaah. Istilah ini merupakan kata serapan dari bahasa Arab, ???????, yang berarti “orang banyak.” Sedangkan kata “gereja” dalam Bahasa Indonesia lebih merujuk kepada bangunan atau organisasi.

2. Makna utama (primer) dari “gereja” sebagai “umat” menunjukkan bahwa manusia adalah unsur paling penting yang tak tergantikan. Sekumpulan orang yang berkumpul sebagai jemaah dapat disebut “gereja” meskipun tidak memiliki bangunan sebagai tempat berhimpun, tetapi sebuah bangunan tanpa jemaah tidak dapat disebut “gereja” sekalipun gedungnya berhiaskan simbol-simbol Kekristenan.

3. “Gereja” zaman Perjanjian Baru (PB) dapat dianggap sebagai kelanjutan dari “sinagog” pada zaman Perjanjian Lama (PL) karena sama-sama merupakan sebuah perkumpulan umat percaya yang berhimpun untuk beribadah kepada Allah yang sama.

Senin, 19 November

GEREJA SEBAGAI SATU BADAN (Sifat Gereja: Bagian 2)

Dua konsep penting. Kita sudah pelajari kemarin bahwa “gereja” yang dimaksudkan dalam PB bukanlah merujuk kepada bangunannya ataupun sebagai organisasi (sekte/denominasi). Gereja, dengan demikian, bukanlah sesuatu yang ditandai oleh batas-batas eksklusivitas tertentu melainkan adalah sesuatu yang dibedakan oleh ciri-ciri dan sifat yang khas. Gereja adalah manusia, yaitu orang-orang yang terpanggil untuk memisahkan diri dari dunia ini meskipun secara fisik masih berada di dunia, satu umat yang hidup di dunia tetapi kehidupannya berbeda dari dunia.

Deskripsi PB yang sangat pas menggambarkan mengenai apa itu “gereja” dan yang sering dikutip adalah perkataan dari salah satu sokoguru gereja (Gal. 2:9) itu sendiri, yaitu rasul Petrus: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan” (1Ptr. 2:9-10; huruf miring ditambahkan). Ayat lainnya yang juga menggambarkan tentang “gereja” sebagai satu kesatuan yang utuh adalah tulisan rasul Paulus yang mengatakan: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1Kor. 12:27; huruf miring ditambahkan).

“Selain kata ekklesia itu sendiri, Perjanjian Baru melukiskan gereja itu dengan beberapa gambaran yang menjelaskan lebih jauh tentang sifat dan fungsinya. Hari ini kita akan melihat pada dua konsep penting tentang gereja: gereja sebagai umat Allah dan gereja sebagai tubuh Kristus”[alinea pertama].

Makna “tubuh Kristus.” Kata asli yang diterjemahkan dengan tubuh dalam 1Kor. 12:27 adalah s?µa, soma, kata-benda netral yang merujuk kepada badan secara fisik maupunkumpulan atau kelembagaan. Kata ini berasal dari akar-kata s???, sozo, sebuah kata-kerja yang berarti menyelamatkan atau mengamankan dari suatu bahaya kehancuran maupun kebinasaan. Berdasarkan pemahaman ini kita dapat menyimpulkan bahwa, sebagai kata-benda tubuh Kristus di sini merujuk kepada satu umat (=Gereja), sebagai kata-kerja “tubuh” itu juga dapat menyelamatkan satu umat melalui kematian dari tubuh itu.

Tatkala Yesus berbicara di depan kaabah di Yerusalem dan berkata, “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh. 2:19), orang-orang Farisi menjadi sangat marah. “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” kata mereka (ay. 20). Tetapi mereka tidak mengerti bahwa Yesus bukan sedang berbicara tentang Bait Allah sebagai sebuah bangunan fisik, “Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri” (ay. 21; huruf miring ditambahkan). Murid-murid itu sendiri juga tidak mengerti. Setelah Yesus mati dan bangkit pada hari yang ketiga, “barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan mereka pun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus” (ay. 22). Di sini Kristus menyamakan tubuh-Nya sebagai Bait Allah, atau “gereja” dalam pengertian kita sekarang.

Kalau kita simak dengan teliti, konteks dari pasal 12 kitab 1Korintus ini berbicara tentang pelayanandari “tubuh Kristus” (Gereja) itu, ke dalam dan keluar. Gereja itu terdiri atas “rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh; rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan” (ay. 4-5). Ayat 7-26 bertutur tentang pelayanan di dalam tubuh itu sendiri, ayat 28-31 berbicara mengenai pelayanan ke luar dalam satu kesatuan dari tubuh itu, dan ayat 27 di tengah-tengahnya adalah sebagai “kesimpulan” yang merangkai dua pelayanan dari tubuh itu. Seperti juga tubuh kita secara fisik hanya dapat mengerjakan sesuatu apabila seluruh bagian dari tubuh itu dikerahkan dan terkonsentrasi untuk melakukan satu aktivitas, demikian pula Gereja sebagai “tubuh Kristus” hanya bisa berhasil untuk melaksanakan suatu kegiatan pelayanan ke luar jika seluruh “tubuh” itu bersatu mengerahkan semua sumberdaya yang ada.

“Banyak ide dapat ditemukan di dalam ayat-ayat ini, mungkin yang paling jelas adalah persatuan(lihat pelajaran hari Rabu) yang harus terlihat di dalam gereja. Inilah gagasan yang dinyatakan di berbagai bagian dalam Perjanjian Baru, utamanya dalam 1Korintus 12 di mana Paulus menulis: ‘Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus'” [alinea ketiga: dua kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang sifat Gereja sebagai satu badan?

1. “Tubuh Kristus” melambangkan “Gereja” dalam pengertian sekumpulan umat (=manusia), bukan sebuah bangunan atau pun suatu organisasi gereja. Walaupun sebagai satu tubuh mengandung ciri eksklusivitas, tetapi dalam hal Gereja sebagai “tubuh Kristus” tidak menempatkan umat-Nya secara terkotak-kotak dalam denominasi-denominasi tertentu.

2. Makna istilah “satu tubuh” yang dimaksudkan oleh rasul Paulus dalam 1Korintus 12 merujuk kepada “persatuan” dari umat Allah sebagai satu Gereja yang melayani, baik ke dalam maupun ke luar. Persatuan dan kesatuan harus menjadi jiwa (ruh) dari tubuh Kristus, yaitu Gereja.

3. Pemaknaan “tubuh Kristus” tidak terbatas pada pengertian sempit dan pasif sebagai satu umat yang sudah diselamatkan, tetapi juga mengandung makna yang luas dan aktif sebagai satu umat yang turut bekerja menyelamatkan sesamanya, sesuai dengan berbagai karunia yang dimiliki masing-masing.

Selasa, 20 November

SATU TUBUH, DUA PELAYANAN (Missi Gereja)

Pelayanan injil. Rasul Paulus melukiskan hubungan Kristus dengan umat-Nya di dunia ini adalah sebagai “kepala” dengan “tubuh” (Kol. 1:18; Ef. 4:15, 16). Hubungan tersebut didasarkan pada dua hal, yaitu: keselamatan yang diadakan oleh Kristus (“Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh”–Ef. 5:23), dan pemeliharaan yang dilakukan oleh Kristus (“Di bawah pimpinan Kristus, seluruh tubuh dipelihara dan disatukan oleh sendi-sendinya, serta bertumbuh menurut kemauan Allah”–Kol. 2:19, BIMK). Dalam perkataan lain, kita yang adalah “tubuh” terhubung kepada Kristus yang adalah “kepala” oleh sebab Dia sudah menyelamatkan kita dansedang memelihara kita. Kalau bukan karena dua alasan ini, kita tidak mempunyai hubungan apapun dengan Kristus.

Sekarang, setelah apa yang sudah dan sedang dilakukan oleh Kristus bagi kita, serta menyadari akan status kita sebagai “tubuh” Kristus dan hubungan dengan Dia sebagai “kepala” bagi kita, kewajiban-kewajiban apa yang mengikat kita kepada Kristus? “Kepala” kita itu sudah kembali ke surga karena Dia mempunyai tugas di atas sana yang harus dilakukan-Nya sendiri, maka untuk tugas-tugas di Bumi ini Dia sudah mendelegasikannya kepada “tubuh” itu untuk melaksanakannya. Dengan demikian, “gereja” sebagai perwujudan “tubuh Kristus” di dunia ini mempunyai kewajiban untuk melakukan tugas-tugas yang diwakilkan-Nya kepada kita. Yesus telah mengamanatkan, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:19, 20).

“Gereja sebagai ‘tubuh Kristus’ berarti bahwa gereja itu harus melakukan apa yang Kristus akan lakukan kalau Dia masih berada di bumi ini ‘secara fisik.’ Untuk alasan inilah gereja sebagai suatu ‘perkumpulan’ telah dipanggil keluar. Gereja tidak hanya sekadar memiliki satu missi; gereja itu sendiri adalah missi” [alinea pertama].

Pelayanan sosial. Keselamatan dan pemeliharaan, yaitu dua hal yang dilakukan Yesus Kristus (sebagai “kepala”) bagi umat-Nya (sebagai “tubuh”), seperti yang telah kita pelajari di atas, tidak hanya bersifat rohani semata tetapi juga jasmani. Artinya, keselamatan dan pemeliharaan yang anda dan saya peroleh sebagai “tubuh Kristus” itu memiliki makna rohani dan jasmani sekaligus. Kita tidak hanya diselamatkan secara rohani tapi jasmani, kita juga dipelihara bukan cuma secara rohani tapi juga secara jasmani. Demikian pula, pelayanan yang anda dan saya harus lakukan di dunia ini atas nama Kristus sebagai “Kepala” kita itu juga mengandung nuansa jasmani, yaitu pelayanan yang bersifat sosial demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani dari sesama kita. Bukankah selagi berada di dunia ini Yesus Kristus sendiri juga melayani orang-orang yang memerlukan makanan dan penyembuhan penyakit?

Dalam pelaksanaannya, pelayanan injil (rohani) dan pelayanan sosial (jasmani) harus dilakukan secara seimbang. Sekalipun benar bahwa keperluan rohani manusia lebih penting dari kebutuhan jasmani, tetapi dengan mengabaikan pelayanan jasmani bisa menjadi penghalang terlaksananya pelayanan rohani. Sebagaimana yang dicontohkan Yesus ketika hidup di dunia ini, kita harus menjadikan pelayanan jasmani untuk membuka pintu bagi pelayanan rohani. Orang yang lapar tidak mungkin diajar untuk mengerti dan menerima Injil; orang yang sudah kenyang harus dibangunkan untuk menyadarkan dia akan kelaparan rohani yang dideritanya. Jadi, pelayanan injil dan pelayanan sosial harus dilakukan secara seimbang dan bijaksana, tahu kapan melakukan apa kepada siapa.

“Sementara pekerjaan itu penting, dalam dan dari dirinya sendiri, jangan sekali-kali hal itu dibiarkan mengesampingkan missi gereja yang terutama, yaitu menjangkau yang hilang untuk Yesus dan menyediakan satu umat bagi kedatangan-Nya. Pada waktu yang sama kita juga harus menghindari sikap hidup yang ekstrem seolah-olah setiap topik pembicaraan menandakan hari kiamat dan dengan demikian mengabaikan tugas-tugas mendasar dari kehidupan sehari-hari. Kita membutuhkan hikmat ilahi supaya mengetahui bagaimana menjaga keseimbangan yang tepat” [alinea keempat: tiga kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Tuhan Yesus akan selalu memiliki satu umat pilihan untuk melayani Dia. Ketika orang Yahudi menolak Kristus, Pangeran kehidupan itu, Ia mengambil kerajaan Allah itu dari tangan mereka dan memberikannya kepada orang kafir. Allah akan terus bekerja dengan prinsip ini pada setiap bidang pekerjaan-Nya. Apabila suatu gereja terbukti tidak setia kepada firman Tuhan, apapun posisi mereka, betapapun tinggi dan sucinya panggilan mereka, Tuhan tidak bisa lagi bekerja dengan mereka. Orang-orang lain kemudian akan dipilih untuk mengemban tanggungjawab-tanggungjawab yang penting ini” (Ellen G. White, Manuscript Releases, jld. 14, hlm. 102).

Apa yang kita pelajari tentang dua sisi pelayanan Gereja sebagai “tubuh Kristus”?

1. Hubungan “gereja” sebagai “tubuh Kristus” dengan Kristus sebagai “kepala” bagi tubuh itu didasarkan pada dua pelayanan Kristus, yaitu penyelamatan dan pemeliharaan. Jadi, keselamatan kita (Gereja) di dunia mau pun di akhirat semata-mata bergantung pada Kristus dan apa yang dilakukan-Nya untuk kita.

2. Sebagai “tubuh Kristus” kita (Gereja) mempunyai kewajiban untuk melaksanakan tugas-tugas yang Kristus telah delegasikan kepada kita untuk dilakukan di dunia ini, oleh sebab Gereja adalah perwujudan Kristus di bumi ini. Gagal melakukan tugas itu membuat hubungan kita dengan Kristus terputus.

3. Dalam menunaikan kewajiban kepada dunia, sebagai Gereja kita harus melakukannya dengan seimbang antara pelayanan Injil dan pelayanan sosial. Sebagai organisasi gereja kita telah melayani masyarakat dari segi rohani (melalui KKR) dan segi jasmani (lewat ADRA, misalnya). Tetapi bagaimana dengan pelayanan kita sebagai satu jemaat dan sebagai pribadi?

Rabu, 21 November

SATU TUBUH YANG UTUH (Kesatuan Gereja)

Kesatuan itu mutlak. Seperti telah disinggung dalam pelajaran hari Senin, persatuan dan kesatuan Gereja sebagai satu “tubuh” adalah hal yang penting dan mutlak. Tubuh tidak bisa berjalan ke mana-mana jika kaki kiri hendak melangkah ke kanan, sementara kaki kanan maunya melangkah ke kiri. Begitu pula, untuk membawa badan anda maju ke depan kaki kiri dan kaki kanan juga tidak bisa melangkah secara bersama-sama (kecuali melompat, untuk beberapa langkah saja!). Jadi, apa yang diperlukan di sini ialah kerjasama yang serasi. Seperti dalam olahraga bulutangkis, agar dapat meliput seluruh lapangan dengan lebih mudah dan lentur seorang pemain harus memiliki footwork yang baik. Keserasian gerak sebagai satu kesatuan. “Kesatuan adalah penting bagi gereja sebab tanpa hal itu gereja tidak bisa berhasil menyelesaikan missinya. Tidak heran bahwa masalah persatuan terbetik dalam benak Kristus menjelang akhir kehidupan pelayanan-Nya di dunia ini (Yoh. 17:21-22)” [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Yesus berdoa: “Aku mohon, Bapa, supaya mereka semua menjadi satu, seperti Bapa bersatu dengan Aku, dan Aku dengan Bapa. Semoga mereka menjadi satu dengan Kita supaya dunia percaya bahwa Bapa yang mengutus Aku. Aku sudah memberikan mereka keagungan yang Bapa berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita juga satu; Aku dengan mereka, dan Bapa dengan Aku; supaya mereka benar-benar satu” (Yoh. 17:21-23, BIMK). Kata-kata dalam doa Yesus ini menyiratkan tentang kesatuan yang juga menjadi prinsip dasar dari hubungan antara Oknum-Oknum ilahi di surga. Yesus dan Bapa semawi-Nya adalah satu, dan Ia ingin agar kesatuan itu terdapat juga dalam hubungan vertikal antara Diri-Nya dengan murid-murid-Nya, dan selanjutnya dalam hubungan horisontal di antara sesama murid-murid itu.

Keluarga Allah. Ketika mendoakan agar “mereka” (dalam pengertian sempit adalah murid-murid, tapi dalam pengertian luas adalah Gereja) itu bersatu, Yesus bukan saja membayangkan kedua belas murid yang ada bersama-Nya pada saat itu saja tapi juga kepada satu jemaah yang sangat besar pada zaman akhir ini, yaitu “Gereja” yang terdiri atas berbagai suku-bangsa dan dari berbagai golongan sosial yang tersebar di seluruh muka bumi yang merupakan “tubuh-Nya” sendiri. Di sini Yesus juga tidak mendoakan tentang keseragaman dari para pengikut-Nya, atau kesatuan institusional di mana para pengikut-Nya akan tergabung sebagai sebuah organisasi gereja, melainkan yang dimaksudkan-Nya adalah kesatuan iman dan keutuhan sebagai satu keluarga Allah yang memiliki “satu Roh dan satu Tuhan” (1Kor. 12:4, 5).

“Kesatuan yang Kristus doakan dan yang dinasihatkan Paulus untuk dicapai oleh umat percaya jelas mencakup suatu kesatuan perasaan, pemikiran, tindakan, dan lebih banyak lagi. Itu bukan suatu keserasian yang diperoleh melalui ‘rekayasa’ sosial, pengendalian politik, ataupun alasan politis. Itu adalah sebuah pemberian yang dikaruniakan kepada umat percaya dengan berdiamnya Kristus(Yoh. 17:22-23) dan terpelihara oleh kuasa Allah Bapa (Yoh. 17:11)” [alinea kedua].

Terpulang pada kita. Mungkin satu pertanyaan cukup pantas ditanyakan di sini: Kalau Yesus Kristus sudah memohon kesatuan/persatuan itu dari Allah Bapa, dan jika kesatuan/persatuan itu adalah karunia surgawi, mengapa ada perpecahan di dalam Gereja dan mengapa Jemaat itu sulit bersatu? Atau, kalaupun “kelihatan” bersatu, kesatuan itu tidak berakar tapi hanya sekadar bersatu atas dasar kompromi, yaitu “kesepakatan untuk suatu kepentingan sesaat.” Persatuan yang semu. Mengapa?

Kalau Gereja atau Jemaat sulit bersatu, atau persatuannya dangkal dan semu, tentu itu bukan karena doa Yesus kurang mujarab atau kesatuan yang dikaruniakan Bapa itu kurang mantap. Tetapi, sama seperti iman dan Injil, kesatuan yang Allah karuniakan kepada manusia itu bukan dalam bentuk yang sudah “siap pakai” melainkan baru berupa benih. Anda dan saya harus menyediakan hati sedemikian rupa untuk menjadi seperti tanah yang gembur supaya benih kesatuan dan persatuan itu bisa tumbuh dengan subur. Doa Yesus itu sangat manjur dan benih kesatuan dari surga itu sungguh berdayaguna, tetapi kecuali hati kita siap menerimanya disertai dengan ketekunan dan keseriusan untuk memeliharanya, benih kesatuan itu akan mudah layu dan akhirnya mati akibat kegersangan kasih. Kesatuan adalah buah yang dihasilkan melalui kerjasama ilahi dan manusiawi.

Kesatuan dan persatuan di dalam Gereja harus dipandang sebagai “produk” dari sikap dan semangat dalam diri setiap anggota jemaat yang dipupuk dan terpelihara secara konsisten, bukan sebuah “solusi” yang terpaksa dicapai setelah pertikaian panjang yang berdarah-darah. Persatuan sejati merupakan hasil dari pencerahan oleh Roh Kudus yang menyadarkan setiap orang bahwa dia adalah bagian yang utuh dari “tubuh Kristus” dengan fungsi tertentu, dan bersama orang-orang lain bekerjasama secara harmonis untuk membuat tubuh itu mampu berakselerasi di tengah dunia yang ruwet. Kesatuan dan persatuan kita sebagai Jemaat adalah tanggungjawab setiap orang, dengan demikian keniscayaannya itu terpulang kepada kita masing-masing.

Pena inspirasi menulis: “Berjuanglah dengan tekun bagi kesatuan. Doakan itu, usahakan itu. Kesatuan akan membawa kesehatan rohani, mengangkat pikiran, meluhurkan tabiat, berpemikiran surgawi, menyanggupkan anda untuk mengalahkan cinta diri serta persangkaan jahat, dan untuk menjadi lebih dari pemenang-pemenang melalui Dia yang mengasihi anda dan yang memberikan Diri-Nya bagi anda. Salibkanlah diri; hargailah orang lain lebih dari anda sendiri. Dengan demikian anda akan dibawa ke dalam kesatuan dengan Kristus” (Ellen G. White, Testimonies for the Church,jld. 9, hlm. 188).

Apa yang kita pelajari tentang pentingnya kesatuan Gereja sebagai “tubuh Kristus”?

1. Kesatuan dan keutuhan Gereja menjadi salah satu kepedulian Kristus sehingga Dia secara khusus mendoakannya serta memohokannya dari Bapa. Tampaknya lebih mudah untuk menyuruh murid-murid itu menginjil ketimbang meminta mereka untuk bersatu. Yesus perlu mengeluarkan “perintah baru” supaya mereka itu saling mengasihi (Yoh. 13:34, 35).

2. Sebagai “tubuh Kristus” gereja adalah keluarga Allah yang anggota-anggotanya berasal dari berbagai latar belakang suku-bangsa dan status sosial, tetapi berpadu dalam satu orientasi: melayani Tuhan dan sesama manusia. Kasih Kristus adalah dasar terbaik untuk mempersatukan; bila setiap orang sungguh-sungguh mengasihi Yesus akan lebih mudah baginya untuk mengasihi sesamanya.

3. Kesatuan dalam Gereja adalah karunia Allah yang harus ditumbuh-kembangkan dalam diri setiap anggota. Kesatuan harus menjadi sikap dan semangat seluruh jemaat, dan itu adalah tanggungjawab dari setiap orang.

Kamis, 22 November

KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI (Tata-kelola Gereja)

Model tata kelola gereja. Gereja-gereja Kristen di dunia secara umum terbagi ke dalam tiga sistem tata kelola (Ecclesiastical polity): Episkopal (Episcopal Polity), Presbiterian (Presbyterian Polity), dan Kongregasi (Congregational Polity). Sistem Episkopal membagi kewenangan mengatur gereja secara bertingkat, dari puncak tertinggi ke tingkat terendah, karena itu sering disebut sebagai Model Hirarkis. Gereja dengan sistem ini misalnya Katolik Roma, Anglikan, Metodis dan Lutheran. Sistem Presbiterian adalah sistem yang berkembang setelah Reformasi Protestan pada abad ke-16 di mana otoritas gereja berada di tangan ketua-ketua dari gereja setempat yang disebut majelis atau konsistori, dan di atasnya ada pengurus wilayah yang disebut sinode atau dewan yang diisi oleh perwakilan-perwakilan dari gereja-gereja setempat. Sistem ini ditemukan oleh John Calvin (salah seorang reformator bersama Martin Luther) dan karena itu sering pula disebut sebagai sistem Calvinisme. Sistem Kongregasi lebih bersifat independen dengan kekuasaan otonom. Kepemimpinan dengan sistem ini bermacam-macam, ada yang otonominya berada di tangan pendeta (biasanya adalah pendirinya), dewan ketua, atau melalui suara terbanyak (demokratis) di mana kedaulatan berada di tangan para anggota jemaat.

“Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh mempunyai sebuah sistem tata kelola gereja yang bersifat perwakilan. Idealnya, pimpinan hanya bertindak sebagai perwakilan, menerima wewenang dan tanggungjawab yang didelegasikan dari anggota-anggota jemaat. Tidak cukup sekadar menunjukkan suatu sistem tata kelola gereja yang berdasarkan Kitabsuci; menjalankan wewenang di dalam sistem itu harus memperlihatkan kepekaan pada nilai-nilai alkitabiah” [alinea kedua].

Pendelegasian. Pada zaman rasul-rasul di abad pertama pernah diadakan sebuah rapat konsultasi di Yerusalem ketika timbul suatu pertikaian perihal sunat, apakah itu wajib atau tidak. Beberapa orang Kristen dari Yudea sudah datang ke kota Antiokhia dan mengajarkan bahwa orang-orang Kristen non-Yahudi (kafir) harus disunat sesuai dengan hukum Taurat, hal mana didukung sepenuhnya oleh kaum Farisi yang sudah menjadi orang Kristen di kota itu. Tetapi ajaran ini ditentang habis-habisan oleh Paulus dan Barnabas. Karena telah menimbulkan kebingungan, gereja mengutus Paulus dan Barnabas serta beberapa perwakilan jemaat lainnya pergi ke Yerusalem untuk berkonsultasi (Kis. 16:1-2). Delegasi ini diterima oleh Petrus dan Yakobus yang dianggap sebagai sokoguru-sokoguru gereja, yaitu orang-orang yang dihormati sebagai para pemimpin gereja. Pertemuan tersebut menghasilkan suatu kesepakatan, dan pimpinan gereja di Yerusalem itu menunjuk beberapa orang untuk berangkat ke Antiokhia sambil membawa surat untuk menjelaskan hasil pertemuan tersebut (ay. 22, 23).

Rapat konsultasi di Yerusalem ini oleh sebagian orang disebut sebagai “rapat general conference” pertama. Tetapi peristiwa ini menjadi bukti alkitabiah tentang perlunya rapat konsultasi untuk memecahkan suatu masalah, melalui pendelegasian sebagaimana dicontohkan oleh Gereja yang mula-mula. Dalam sistem gereja MAHK, rapat sedunia yang diadakan setiap lima tahun sekali itu selain untuk membahas dan menyetujui berbagai program kerja, pemecahan masalah dan penentuan kebijakan, rapat itu juga sekaligus untuk memilih kepemimpinan Gereja secara global. Sesudah itu, rapat serupa kemudian diadakan secara berjenjang di berbagai wilayah di dunia berturut-turut secara regional, nasional, dan lokal. Setiap rapat lima tahunan dihadiri oleh delegasi-delegasi yang mewakili wilayahnya dengan mandat untuk berbicara atas nama seluruh anggota jemaat yang berada di wilayah yang diwakilinya. Sebab dalam sistem tata kelola Gereja MAHK kedaulatan itu berada di tangan anggota-anggota jemaat lokal di seluruh dunia, tetapi hak suara mereka diwakilkan secara berjenjang kepada organisasi gereja yang lebih tinggi. Pada setiap tingkatan organisasi gereja selalu ada anggota-anggota awam yang dipilih secara demokratis berdasarkan peraturan yang baku untuk duduk dalam apa yang disebut Komite Eksekutif atau semacam dewan pelaksana harian.

“Gereja yang mula-mula sadar akan kenyataan bahwa mereka tidak dapat menjalankan sesuatu wewenang terlepas dari Kristus dan firman-Nya. Dalam Kisah 15:28 adalah penting bagi jemaat bahwa apa yang mereka putuskan itu ‘berkenan kepada Roh Kudus’ (TL), perwakilan Kristus yang sesungguhnya. Para pemegang jabatan di dalam gereja dewasa ini tidak dapat bertindak lain” [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Amaran terhadap sekularisme. Dalam kitab Wahyu kita menemukan teguran kepada jemaat Pergamus, salah satu dari Tujuh Jemaat dalam sorotan yang merupakan sifat-sifat Gereja zaman akhir. “Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus” (Why. 2:15). Sinyalemen ini terdapat juga pada jemaat Efesus yang sudah disebut terdahulu (ay. 6). Siapa atau apakah Nikolaus itu? “Nikolaus” berasal dari kata “Nikao-laos” yang secara harfiah berarti “menaklukkan kaum awam” (Nikao=menaklukkan; laos=orang biasa/kaum awam). Paham Nikolaus mengajarkan bahwa imam-imam (=pendeta) dan pemimpin-pemimpin gereja itu telah diberikan “pengetahuan istimewa dan rahasia yang tidak dimiliki oleh anggota awam, serta memegang hak istimewa untuk melaksanakan upacara-upacara sakramen yang tidak boleh dilakukan oleh anggota biasa” sehingga mereka itu patut diperlakukan lebih istimewa dari anggota-anggota jemaat biasa atau kaum awam.

Bukti-bukti sejarah mengungkapkan bahwa “doktrin Nikolaus” dikaitkan juga dengan kepelesiran duniawi, termasuk uang dan seks. Dalam hal “kaum rohaniwan” yang serakah terhadap uang hal ini menemukan asal-usulnya dalam diri Bileam, seorang nabi yang dibayar oleh Balak, raja Moab, untuk mengutuki bala tentara Israel (Bilangan 22-25; 31). Irenaeus, sejarahwan gereja abad kedua, menyebut Nikolaus sebagai sebuah aliran Gnostik yang disebarkan oleh Cerinthus, seorang penganjur ajaran sesat yang menyangkal penciptaan oleh Allah Maha Kuasa dan menolak keilahian Yesus Kristus. Jadi, “Nikolaus” yang dimaksudkan dalam Wahyu 2:6, 15 itu bukanlah nama orang melainkan nama sebuah ajaran dari aliran tertentu di abad permulaan. Intinya, “ajaran Nikolaus” itu adalah paham sekularisme yang dipadukan dengan doktrin injil. (Dari berbagai sumber otentik dan terpercaya.)

Apa yang kita pelajari tentang tata kelola Gereja yang alkitabiah?

1. Dari mulanya Gereja telah dikelola secara bersama-sama antara para rasul, penatua, dan jemaat. Ketiga unsur di dalam gereja ini (rasul=pendeta; penatua=ketua/majelis; jemaat=semua anggota) semuanya membentuk “tubuh Kristus” di mana satu unsur tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari unsur yang lain, dan seluruhnya tunduk kepada “Kristus yang adalah Kepala” (Ef. 4:15).

2. Kepemimpinan Gereja yang benar adalah “kepemimpinan yang melayani” (servitude leadership) sebagaimana telah dicontohkan oleh Yesus Kristus. “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mat. 20:26-28).

3. Para pemimpin Gereja harus mengantisipasi arus keduniawian yang menghanyutkan itu agar tidak masuk ke dalam gereja di tingkat mana saja, baik di kalangan anggota awam dan terutama di antara para pemimpin. Para pejabat dan pengurus Gereja harus memiliki roh seperti rasul Paulus yang melayani “dengan rendah hati dan dengan banyak air mata” (Kis. 20:19, BIMK).

Jumat, 23 November

PENUTUP

Optimisme yang keliru. Sebuah kasus yang cukup memalukan dunia pendidikan nasional terjadi belasan tahun silam di salah satu perguruan tinggi di Jawa Tengah. Seorang dosen yang terlalu percaya diri karena merasa dirinya super-cerdas dan menguasai beberapa bidang ilmu pengetahuan, dengan sembrono mendesak dekan agar memberinya porsi mengajar yang lebih besar meskipun harus memotong jam-jam mengajar sesama dosen. Memang harus diakui bahwa para mahasiswa sangat puas dengan kepiawaiannya memberi kuliah, menarik dan mudah dimengerti. Akhirnya timbullah kecurigaan rekan-rekannya yang berujung kepada penyelidikan terhadap keabsahan ijazahnya. Pendek cerita, terungkaplah bahwa ijazahnya “aspal” (asli tapi palsu) sehingga dia langsung dipecat sebagai dosen dan harus berurusan dengan pihak berwajib atas dakwaan pasal pemalsuan dan penipuan.

Sementara sikap optimistik itu penting dan sangat dianjurkan dalam kehidupan, optimisme yang berlebihan dapat menjadi bumerang yang berbalik menghantam diri sendiri. Apalagi dalam pelayanan pekerjaan Tuhan yang menuntut kerendahan hati serta penyerahan pada kuasa Allah, gantinya mengandalkan kemampuan diri sendiri. Orang yang terlalu percaya diri untuk mengemban suatu tugas cenderung menilai dirinya lebih besar dari pekerjaan itu, dan berakibat dia meremehkan tugas tersebut. Optimisme dalam pekerjaan Tuhan tetap perlu, tetapi optimisme itu harus didasarkan semata-mata pada kedahsyatan kuasa Allah dan bukan pada kehebatan diri sendiri.

“Jika seseorang terlalu optimistik dengan kekuatannya sendiri dan berusaha menguasai saudara-saudaranya, merasa bahwa dia diberi wewenang untuk menjadikan kehendaknya sebagai kuasa yang mengatur, satu-satunya jalan yang terbaik dan aman ialah menurunkan dia, kalau tidak bahaya besar bisa terjadi dan dia kehilangan jiwanya sendiri serta membahayakan jiwa orang lain…Sikap yang menguasai warisan Allah ini akan menimbulkan suatu reaksi kecuali orang-orang ini mengubah cara mereka…Posisi seseorang tidak membuat dirinya lebih besar sedikitpun dalam pemandangan Allah; tabiat saja yang dinilai Allah” [alinea pertama].

Memegang jabatan kepemimpinan dalam Gereja adalah suatu kesempatan yang istimewa, dan tidak semua orang berpeluang untuk itu. Rasul Paulus berkata, “Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah” (1Tim. 3:1). Hal yang berbahaya bagi Gereja dan bagi diri orang itu sendiri ialah apabila seseorang berambisi terhadap suatu jabatan kegerejaan karena terdorong oleh niat yang mementingkan diri gantinya pengorbanan.

“Saya minta dengan sangat supaya kalian menggembalakan kawanan domba yang diserahkan Allah kepadamu. Gembalakanlah mereka dengan senang hati. Janganlah pula melakukan pekerjaanmu guna mendapatkan keuntungan, melainkan karena kalian ingin sungguh-sungguh untuk melayani. Janganlah bertindak sebagai penguasa terhadap mereka yang dipercayakan kepadamu, melainkan jadilah teladan untuk mereka” (1Ptr. 5:1-3, BIMK).

(Oleh Loddy Lintong/California, 21 November 2012

Leave a Reply