GEREJA SEBAGAI ORGANISME

July 17, 2017 - Wawasan

Organism Leadership Network – Jejaring Kepemimpinan

Didalam kamus, organisme berarti makhluk hidup dengan anggota-anggota yang bekerja secara bersama-sama. Yang dimaksud makhluk hidup disini berarti suatu keberadaan yang mempunyai kehidupan. Jadi, baik manusia, binatang serta tumbuh-tumbuhan, termasuk dalam kategori makhluk hidup.
Kita menggunakan istilah organisme, karena gereja adalah sesuatu yang hidup. Tetapi perlu diingat bahwa hidup gereja, bukanlah jenis kehidupan yang dijalani oleh manusia alamiah [ natural man ].
Dalam bahasa Yunani, ada 3 kata yang dipakai untuk menjelaskan hidup. Pertama, bios, yang berarti suatu jenis kehidupan dengan makna yang umum. Tuhan Yesus menggunakan kata ini ketika memberi komentar mengenai persembahan seorang janda. Kedua, psuche, yang berarti jenis hidup jiwa manusia. Ketiga, zoe, yang berarti jenis hidup Allah. Gereja adalah orang-orang yang sedang belajar menjalani hidup zoe, dan bertumbuh menjadi manusia Allah oleh kekuatan transformasi hidup zoe. Jadi, organisme yang kita maksud adalah manusia dengan hidup zoe.

Organisme dan Organisasi

Kita menggunakan istilah organisme, untuk mengingatkan orang-orang bahwa gereja bukanlah organisasi. Sebab organisasi itu menempatkan orang-orang dalam suatu “kotak” sesuai fungsi dan tugas, serta membuat garis komando supaya suatu “kotak” tertentu mengetahui kepada siapa ia harus bertanggung jawab, dan juga mengetahui siapa saja yang akan bertanggung jawab padanya.
Otoritas atau wewenang suatu “kotak” tertentu semata-mata tergantung posisinya didalam struktur organisasi. Pelayanan seseorang juga tergantung posisinya didalam struktur organisasi. Bukan saja otoritas dan tugas pelayanan, tetapi kemuliaan serta berkat-berkat yang lainnya juga sangat tergantung posisinya didalam struktur.
Dalam kondisi sedemikian, sudah tidak relevan lagi kalau orang-orang didalam suatu “kotak” tertentu bertanya tentang kehendak Tuhan, hidup dipimpin Roh, atau mengikut Anak Domba kemana saja Ia pergi. Keadaan ini bukanlah gereja seperti yang dijelaskan didalam kitab Kisah Para Rasul, dimana orang-orang mengikut Tuhan dan dipimpin Roh Kudus. Jadi, gereja adalah organisme, dan bukan organisasi.

Penggunaan istilah organisme juga dimaksud untuk menjelaskan jenis hubungan yang ada diantara anggota gereja, dan lebih khusus lagi diantara para pemimpin. Hubungan yang ada diantara sesama anggota gereja bukanlah jenis hubungan antara sesame anggota organisasi, melainkan jenis hubungan “kaki – tangan”. Hubungan “kaki – tangan” terjadi karena keduanya merupakan anggota dari satu organisme, dan juga karena keduanya mutlak berada dibawah kendali kepala.
Hubungan ini demikian harmonisnya, sehingga tidak ada konflik sama sekali diantara keduanya. Pergerakan tangan maupun kaki, mutlak diatur oleh kepala. Kaki tidak mengatur tangan, ataupun sebaliknya.
Semua pengaturan berasal dari kepala, namun antara kaki dan tangan terjadi hubungan saling membangun, saling melengkapi, saling menundukkan diri, saling mengasihi. Hubungan “saling” yang seperti inilah yang seharusnya ada diantara anggota gereja. Dalam pemahaman yang seperti inilah kita dapat mengerti mengapa Yesus berkata, “Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias” [Matius 23:10]. Dengan perkataan ini, Yesus tidak mengajarkan bahwa gereja tidak memerlukan pemimpin di muka bumi ini selain Mesias. Tetapi Ia sedang menekankan bahwa, “…kamu semua adalah saudara” [ayat 8]. Hubungan “saling”, hubungan “kaki – tangan”, dan hubungan “semua adalah saudara”, hanya dimungkinkan apabila hakikat gereja yang adalah organisme, tidak diganggu gugat, dalam arti tidak di-organisasikan. Ketika gereja di organisasikan, maka yang dihancurkan adalah hakikat gereja, dan juga hubungan diantara sesama anggotanya.

Penaklukan Kaum Awam

Hubungan anggota “gereja” yang telah di-organisasikan, adalah hubungan clergy-laity, dan bukan hubungan organisme. Inilah perkara yang dibenci Tuhan Yesus, dimana dalam Wahyu 2:6 diungkapkan dengan istilah nikolaus. Istilah nikolaus berasal dari kata niko, yang berarti menaklukkan, dan kata laos, yang berarti kaum awam. Jadi nikolaus artinya menaklukkan kaum awam. Mereka yang memahami organisasi, akan tahu bahwa didalam organisasi terjadi pembagian kekuasaan [otoritas] sedemikian sehingga terciptalah hubungan “manajer-bawahan”, atau apa yang telah kita sebut sebelumnya , yaitu hubungan “clergy-laity”.
Jadi mengorganisasikan gereja bukanlah perkara yang ringan. Kita perlu melihat apa yang ada dibalik perbuatan itu. Sesungguhnya, disadari atau tidak, mengorganisasikan gereja adalah tindakan para pemimpin untuk menaklukkan dan menguasai jemaat.
Sementara itu, istilah leadership yang dimaksud adalah kemampuan memimpin. Karena pemimpin gereja adalah Tuhan Yesus Kristus, maka apa yang kita maksud “pemimpin-pemimpin” gereja itu tidak lain adalah hamba-hamba Tuhan Yesus, yang dianugerahi kemampuan untuk memimpin. Dan karena gereja adalah organisme, maka kemampuan memimpin yang dianugerahi oleh Tuhan Yesus adalah kemampuan memimpin gereja SEBAGAI ORGANISME.
Pemimpin organisme ini sangat berbeda dengan pemimpin organisasi, karena jenis otoritas dan fokusnya berbeda. Otoritas pemimpin organisme berasal dari hidup zoe, sedangkan otoritas pemimpin organisasi berasal dari posisinya didalam struktur. Kepemimpinan organisasi sangat mengutamakan atau berfokus pada kemampuan untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan, sementara itu kepemimpinan organisme berfokus pada membangun hubungan dalam konteks hidup zoe, sedemikian sehingga gereja bertumbuh dalam hidup zoe.
Artinya gereja menjadi semakin dekat serta mengenal hidup zoe yang adalah Kristus itu sendiri. Kepemimpinan organisasi adalah goal oriented atau people oriented atau kombinasinya, sementara itu kepemimpinan organisme adalah Christ oriented.

Pemimpin Organisme

Para pemimpin gereja mula-mula adalah pemimpin organisme. Petrus, Paulus dan Yohanes adalah pemimpin yang sangat Christ oriented, dan berfokus padapertumbuhan hidup zoe. Mereka semua tidak membangun organisasi, serta tidak hidup dan melayani dalam konteks organisasi.
Ada yang mengatakan bahwa Yesus itu pemimpin organisasi, karena Ia mempunyai seorang bendahara bernama Yudas. Kalau benar demikian, berarti Yesus adalah pemimpin organisasi yang sangat buruk, karena Ia membiarkan uang organisasiNya dicuri terus menerus oleh bendahara Yudas yang tidak jujur.
Sungguh menggelikan ! Sebagian lagi mengatakan bahwa Kis. 6:1-6, adalah peneguhan dan persetujuan pemimpin gereja mula mula akan perlunya organisasi, untuk mengatasi masalah pembagian persembahan kepada janda-janda. Tetapi kalau diperhatikan dengan sungguh-sungguh, Kis 6:1-6, sama sekali tidak berbicara mengenai organisasi, melainkan hanya pembagian tugas dalam suatu organisme.
Sama seperti tangan dan kaki mempunyai tugas dan fungsinya masing-masing, demikian juga anggota komunitas ini [ gereja di Yerusalem ] mempunyai fungsinya masing-masing. Dalam Kis 6:1-6, fungsi masing-masing anggota komunitas diperjelas dan dibagi-bagi, agar dapat mengatasi masalah yang ada. Sebagian anggota organisme berfungsi sebagai pelayan meja, sebagian lagi berfungsi sebagai pelayan firman.
Jadi Kis 6:1-6, samasekali tidak berbicara organisasi melainkan fungsi. Bahkan sebenarnya kata organisasi tidak ada didalam Alkitab. Istilah ini berasal dari sistem pemerintahan manusia, bukan pemerintahan Allah. Jadi semua pemimpin gereja mula-mula adalah pemimpin organisme. Mereka semua menjalankan prinsip prinsip kepemimpinan organisme.
“Bintang-bintang” Perempuan

Telah dinyatakan sebelumnya bahwa takdir akhir gereja, seperti dilambangkan oleh perempuan Wahyu 12, adalah melahirkan anak-anak Allah yang dewasa. Gereja yang bagaimana, atau mungkin lebih tepat, komunitas yang seperti apa, yang pada akhirnya dapat melahirkan anak-anak Allah yang dewasa.
Seperti kita ketahui bahwa kitab Wahyu mengungkapkan sesuatu dengan bahasa simbol, demikian juga perempuan Wahyu 12 ini, penuh dengan simbol-simbol yang mengungkapkan seperti apa identitas komunitas yang dimaksudkannya. Dalam Wahyu 12:1 tertulis, “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit : Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan dibawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya”. Realitas apa yang diungkapkan oleh matahari, bulan, dan secara khusus kita akan perhatikan ke-12 bintang ini ?
Bila kita lihat kembali kitab Maleakhi 4:2, ada tertulis, “Tetapi kamu yang takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran…” Karena komunitas yang dilambangkan oleh perempuan Wahyu 12, dapat disebut komunitas yang takut akan Nama Tuhan, serta surya [ matahari ] kebenaran sejati kita adalah Kristus, maka dapat disimpulkan bahwa matahari di Wahyu pasal 12, adalah Kristus, sebagai terang bagi komunitas yang takut akan NamaNya.

Sementara itu, terang yang memancar dari bulan, adalah terang pantulan. Artinya, terang yang dipancarkan bulan, hanyalah merupakan “bayang-bayang” dari terang matahari yang sesungguhnya. Kristus sebagai terang kita yang sejati, juga memiliki “bayang-bayangnya”, seperti yang telah dinyatakan melalui Hukum Taurat dengan segala peraturannya. Sebab dalam Kolose 2:16-17 tertulis, “…mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus”. Jadi, bulan di Wahyu 12, dapat dipahami sebagai Hukum Taurat, lengkap dengan segala peraturan mengenai makanan, minuman, hari raya, dst.

Simbol perempuan di Wahyu 12:1, diselubungi matahari, dimana bulan berada di bawah kakinya. Artinya bahwa komunitas yang di lambangkan oleh perempuan ini, sedemikian dipenuhi Roh Kristus, sehingga ia tidak hidup di dalam “bayang-bayang” hukum Taurat dengan segala peraturannya. Ketika gereja mulai jatuh dan realitas Kristus semakin memudar, maka pola-pola ibadah di dalam Perjanjian Lama-pun mulai masuk. Gereja mulai sibuk dengan rutinitas “ibadah” bergaya Perjanjian Lama, sementara pengalaman bersama Kristus semakin menghilang. Bahkan pengalaman yang sangat mendasar, seperti lahir baru pun mulai meninggalkan gereja.
Selanjutnya, perempuan ini mengenakan mahkota dari 12 bintang diatas kepalanya. Makna dari simbol bintang ini, dijelaskan dalam Wahyu 1:20, dimana bintang berarti malaikat jemaat. Malaikat disini tidak harus berarti makhluk sorgawi, karena makna sesungguhnya dari malaikat disini adalah seorang utusan. Karena ketujuh surat di dalam Wahyu pasal 2 dan 3, terutama ditujukan kepada “bintang-bintang” ini, maka dapatlah disimpulkan bahwa “bintang” yang dimaksud disini adalah para pemimpin jemaat.
Sementara itu, angka 12 di dalam Alkitab mengacu pada pemerintahan ilahi. Dengan adanya 12 suku Israel, 12 Rasul Anak Domba, serta 12 pintu gerbang Yerusalem Baru dan 12 malaikat di atasnya, semua ini menjelaskan bahwa angka 12 berbicara tentang pemerintahan ilahi. Jadi kita lihat bahwa komunitas yang dilambangkan oleh perempuan Wahyu 12 ini, berada dibawah suatu kepemimpinan ilahi. Sekalipun komunitas ini adalah suatu organisme ilahi yang semua anggotanya berada dibawah perintah langsung sang Kepala, namun bukan berarti tanpa kepemimpinan manusia.
Hanya perlu di ingat bahwa manusia “bintang” ini, bukanlah pemimpin organisasi, dan sama sekali tidak menjalankan otoritas atas jemaat karena jabatannya didalam organisasi. Komunitas yang dilambangkan oleh perempuan Wahyu 12 ini, sama sekali tidak bergerak dan hidup di alam organisasi, karena ia adalah organisme ilahi.

Jadi manusia “bintang” ini menjalankan kepemimpinannya atas komunitas “perempuan Wahyu 12”, dengan otoritas ilahi, dan bukan otoritas organisasi. Bagaimana manusia “bintang” ini mendapatkan otoritas ilahinya ? Dengan cara “bintang-bintang” ini bersatu sedemikian sehingga membentuk sebuah mahkota, artinya kesatuan “bintang-bintang” ini menghasilkan otoritas ilahi. Para pemimpin organisme, bergerak dan menjalankan kepemimpinannya secara tim, dimana masing masing anggotanya memiliki hubungan organis satu dengan yang lain. Hubungan organis diantara para pemimpin organisme inilah, yang menghasilkan otoritas untuk melayani gereja. Apabila hubungan organis diantara para pemimpin ini diubah menjadi hubungan organisasi, maka otoritas ilahi yang ada di tengah-tengah mereka menjadi hilang.

Kepemimpinan Tim

Kepemimpinan organisme ini adalah kepemimpinan tim dalam arti egaliter, yaitu semua anggotanya sederajat. Tidak ada istilah senior, the first among equals, ketua tim, koordinator tim, atau yang lainnya. Istilah-istilah ini hanya berlaku dan ada dalam konteks organisasi, tidak dalam konteks organisme.
Ini bukan berarti tidak ada pemimpin organisme yang lebih berkarunia, lebih dewasa dalam pertumbuhan hidup zoe, lebih berpengalaman, lebih berpengetahuan dari yang lainnya. Tetapi ini berarti semua adalah sesama saudara dalam arti yang sesungguhnya, serta menjadi hamba satu dengan yang lain, dan saling melengkapi, serta tidak ada satu orangpun yang menguasai, mengontrol, apalagi memanfaatkan yang lain demi keuntungan sendiri.
Dampak dari kepemimpinan organisme ini sangat luar biasa yaitu, lahirnya anak-anak Allah yang dewasa, “yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi…” [ Wahyu 12:5 ]. Kepemimpinan organisme inilah yang akan menghadirkan kerajaan Allah di muka bumi.

Bentuk Kerja Sama Organisme

Kerja sama yang dimaksud disini, perlu dipahami dalam bentuk idealnya, dan juga dalam bentuknya yang sedang dalam proses menuju bentuk idealnya [ masih bentuk awal-nya ]. Memang bentuk kerja sama yang sempurna itu akan terjadi secara alamiah, apabila jenis hubungan organis, egaliter, serta kesatuan di antara para pemimpin organisme ini telah mencapai tingkat idealnya, seperti digambarkan oleh “bintang bintang” di Wahyu 12.
Apabila tingkat idealnya tercapai, maka bentuk kerja sama diantara para pemimpin organisme, telah menjadi seperti bentuk kerja sama “tangan – kaki” di dalam satu tubuh. Bentuk kerja sama “tangan – kaki” ini begitu harmonis, mengalir, dan secara sempurna saling melengkapi. Tetapi kita perlu ingat bahwa bentuk kerja sama ideal seperti “tangan – kaki” ini, tidak mungkin dicapai tanpa suatu proses. Jadi, perlu dipahami bentuk idealnya, dan juga bentuknya yang sedang dalam proses.

Yang akan di uraikan disini adalah kerja sama para pemimpin organisme, dalam bentuk awal-nya. Kenyataannya para pemimpin rohani saat ini, telah memiliki ministri sendiri yang telah dirintisnya. Atau kalau komunitas ini kita sebut gereja rumah, maka setiap pemimpin sudah memiliki “rumahnya” sendiri. Bagaimana seharusnya bentuk awal kerja sama diantara para pemimpin yang sudah memiliki “rumahnya”, agar masing-masing pemimpin tidak ada yang merasa “diganggu” rumahnya atau merasa dirugikan. Karena kita yakin bahwa kerja sama dalam Tuhan haruslah menimbulkan keuntungan tambahan, sesuai dengan yang tertulis, “…satu orang dapat mengejar seribu orang, dan dua orang dapat membuat lari sepuluh ribu orang…” [ Ulangan 32:30 ].
Jadi, keuntungan tambahan akibat dua orang bekerja sama, menurut ayat ini, adalah delapan ribu. Maka kerja sama dalam Tuhan, pastilah membuat masing-masing pihak menikmati keuntungan tambahan, serta tidak ada yang dirugikan.

Disini akan diusulkan bentuk awal kerja sama para pemimpin agar selalu menghasilkan keuntungan tambahan. Yang pertama diperlukan adalah adanya suatu pertemuan round table, yaitu suatu pertemuan dimana masing-masing pemimpin dapat berbagi firman dan pengalaman, tanpa ada satu orangpun yang “menguasai”.
Pertemuan round table ini dijalankan sesuai kesepakatan bersama, baik waktu, tempat maupun hal-hal lainnya. Selain pertemuan round table ini, para pemimpin sebaiknya sesering mungkin berkomunikasi, baik melalui telp, sms, email, atau mungkin group email. Melalui proses saling berbagi ini, para pemimpin diharapkan bertumbuh dalam kesatuan, ke-egaliter-an, dan dalam membangun hubungan organis satu dengan lainnya. Mungkin juga, dua atau beberapa pemimpin menjalankan proyek “membuat tenda” seperti
yang dilakukan Paulus dan Akwila di Korintus [ Kis. 18:3 ]. Semua hal ini dapat menjadi sarana untuk mencapai bentuk ideal kerja sama diantara para pemimpin organisme.

Kalau kita meminjam istilah IGMN [ Integrated Global Mission Network ], sebenarnya kita sedang membangun bentuk kerja sama “jaring ikan” [ tanpa pusat ] dan bukan “jaring laba-laba” [ ada pusatnya ]. Artinya setiap pemimpin dapat bekerja sama, tanpa ada pemimpin pusat yang mengatur. Tetapi bentuk kerja sama para pemimpin organisme [ Organism Leadership Network atau Jejaring Kepemimpinan Organisme – JKO ], tetap berbeda dengan model IGMN. Keberbedaan ini disebabkan model IGMN berada dalam konteks organisasi, sedangkan model JKO berada dalam konteks organisme atau tubuh.
Akhirnya, kita perlu selalu ingat agar tidak berada terus-menerus dalam bentuk awalnya dan mengalami stagnasi. Karena tujuan kita adalah mencapai bentuk idealnya, agar gereja di-akhir zaman ini dapat melahirkan anak-anak Allah yang dewasa, serta dapat memerintah bersama Tuhan Yesus di muka bumi, demi kemuliaan Bapa.

Leave a Reply