“HARI PENDAMAIAN ESKATOLOGIS”

Sabat Petang, 30 November
PENDAHULUAN

Tanduk kecil dan pemulihan Bait Suci. Dalam pelajaran pekan lalu kita sudah membahas tentang “tanduk kecil” dari Daniel 7 dan sepak terjangnya. Pelajaran pekan ini masih berkisar perihal tanduk kecil yang kali ini terdapat dalam Daniel 8, dikaitkan dengan “pemulihan” Bait Suci. Mengapa perlu dilakukan pemulihan–istilah lain dari “pembersihan”–Bait Suci, dan apa hubungannya tanduk kecil dari kambing jantan itu dengan tanduk kecil dari binatang keempat yang muncul dalam penglihatan nabi Daniel sebelumnya?

Ayat inti pelajaran pekan ini berbunyi: “Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar” (Dan. 8:14; huruf miring ditambahkan). Sesuatu perlu dipulihkan–atau dibersihkan–karena telah terjadi sesuatu yang tidak sepatutnya, dan menyangkut “tempat kudus” atau Bait Suci hal itu adalah penajisan. Atau, dalam konteks ini adalah kemurtadan. Kata asli yang diterjemahkan dengan “dipulihkan” dalam ayat ini adalah צָדַק, tsadaq, yang dapat berarti “diperbaiki kepada keadaan yang semestinya.”

“Pekan ini kita akan mempelajari Daniel 8. Kita akan menemukan persoalan sesungguhnya dari pertentangan antara kekuasaan tanduk itu dengan Allah, dan kita akan melihat mengapa pembersihan atau pemulihan Bait Suci, dimulai dalam tahun 1844, itu merupakan jawaban Allah yang sempurna terhadap tantangan itu” [alinea terakhir].

Minggu, 1 Desember
SEPAK TERJANG “TANDUK KECIL” (Serangan Tanduk Kecil)

Sekilas tentang Daniel dan kitabnya. Para peneliti Alkitab menemukan bahwa kitab Daniel telah ditulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa Ibrani sebagai bahasa ibu dari sang nabi, dan bahasa Aram sebagai bahasa pergaulan yang digunakannya setelah berada di Babel sebagai bagian dari tawanan gelombang pertama yang diangkut dari Yerusalem (Dan. 1:1, 6). Ini terjadi tak lama setelah Nebukadnezar menjadi raja Babilon lalu mengalahkan Mesir dan merebut wilayah kekuasaannya yang meliputi kerajaan Yehuda pada sekitar tahun 605 SM (2Raj. 24:7). Pembagiannya adalah: pasal 1 hingga pasal 2:4a (bahasa Ibrani), pasal 2:4b hingga pasal 7 (bahasa Aram), pasal 8-12 (bahasa Ibrani). Dalam bahasa Ibrani, דָּנִיֵּאל, Dānī’ēl, artinya “Allah adalah hakimku.” Tetapi di Babel dia mendapat nama baru menurut bahasa setempat, yaitu Beltsazar (Dan. 1:7), yang artinya “pangeran Bel.”

Ketika ditawan bersama tiga pemuda Ibrani lainnya–Hananya (Sadrakh), Misael (Mesakh), dan Azarya (Abednego)–Daniel memang sudah termasuk warga istana raja Yoyakim di kerajaan Yehuda, dan di Babel pemuda cerdas ini pun terpilih untuk menjadi penasihat raja Nebukadnezar serta tinggal di lingkungan istana dan digaji. Daniel melayani di istana kerajaan Babel hingga tahun 539 SM ketika Cyrus yang Agung dari kerajaan Medo-Persia menaklukkan Babilon, tetapi Daniel tetap dipertahankan sebagai penasihat raja sampai ibukota kerajaan dipindahkan ke kota Susan. Sementara dalam Alkitab buku Daniel termasuk dalam kelompok tulisan para nabi, dalam kitabsuci Yahudi, Tanakh, buku Daniel tergolong ke dalam kelompok Ketuvim atau “kumpulan tulisan-tulisan” karena isinya dianggap sebagai tulisan yang mengandung ramalan-ramalan.

Menafsirkan sang “tanduk.” Penglihatan Daniel dalam pasal 8 adalah “suatu penglihatansesudah yang tampak kepadaku dahulu itu” (ay, 1; huruf miring ditambahkan), yaitu penglihatan dalam pasal 7 yang telah kita pelajari pekan lalu itu. Bedanya, kalau pada pasal 7 “tanduk kecil” itu adalah salah satu dari sepuluh tanduk di kepala binatang keempat yang sosoknya aneh dan “berbeda dari segala binatang yang terdahulu” (7:7), kali ini tanduk itu tumbuh di kepala seekor kambing jantan sebagai salah satu dari empat tanduk aneh yang tumbuh di tempat satu tanduk besar sebelumnya yang patah (8:8). Perihal tanduk kecil ini disebutkan bahwa “ia membesarkan dirinya, dan dari pada-Nya diambilnya korban persembahan sehari-hari” (ay. 11), dan dia melakukan suatu kebaktian yang “diadakan secara fasik menggantikan korban sehari-hari” (ay. 12).

Terdapat dua pendekatan dalam memahami nubuatan, yakni pendekatan historis dan futuris. Mereka yang berpedoman pada pendekatan historis menyebutkan bahwa nubuatan ini telah digenapi oleh sepak terjang Antiokhus IV Epifanes (215-164 SM), raja Yunani purba, yang mencemari mezbah kurban bakaran di Yerusalem dengan mempersembahkan di atasnya seekor babi kepada dewa Zeus pada tahun 168 SM atau empat tahun sebelum kematiannya. Penganut pendekatan historis ini juga percaya bahwa satu tanduk besar yang tumbuh pertama mengacu kepada Alexander Yang Agung (356-323 SM), raja pertama Yunani purba yang naik takhta tahun 336 SM dan membesarkan kerajaan itu, sedangkan empat tanduk yang muncul kemudian melambangkan pecahnya kerajaan menjadi empat bagian yang masing-masing dikuasai oleh keempat jenderalnya (baca Dan. 8:20-22). Sepak terjang “Epifanes” (nama gelar yang digunakan Antiokhus IV yang artinya “termashur,” tetapi oleh orang Yahudi dipelintir menjadi “Epimanes” yang artinya “orang gila”) dianggap cocok dengan “tanduk kecil” dalam nubuatan Daniel 8 yang secara faktual telah melebarkan wilayah kekuasaannya “ke arah selatan, ke arah timur dan ke arah Tanah Permai” (ay. 9). “Tanah Permai” adalah sebutan untuk negeri Israel (Yeh. 20:6; 25:9).

Sedangkan penganut pendekatan futuristik percaya bahwa kegenapan nubuatan ini adalah “mengenai akhir zaman” (Dan. 8:19), dan “tanduk kecil” itu merujuk kepada Kepausan yang “akan mendatangkan kebinasaan yang mengerikan…juga umat orang kudus” (ay. 24), yang “oleh karena akalnya, penipuan yang dilakukannya akan berhasil; ia akan membesarkan dirinya dalam hatinya, dan dengan tak disangka-sangka banyak orang akan dibinasakannya; juga ia akan bangkit melawan Raja segala raja” (ay. 25).

“Tanduk kecil itu menyusul segera setelah domba jantan (Medo-Persia) dan kambing jantan (Yunani); karena itu harus dikenal dalam sejarah sebagai Roma yang datang sesudah kerajaan-kerajaan Medo-Persia (Dan. 8:20) dan Yunani (Dan. 8:21). Walaupun tanduk kecil itu mulai muncul sebagai kekaisaran Romawi, penekanan lebih besar adalah pada kepausan Roma sebagai fokus dari penglihatan ini” [alinea ketiga: dua kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang tanduk kecil dan sepak terjangnya?
1. Kitab Daniel adalah sebuah kitab nubuatan dalam PL yang menyingkap berbagai peristiwa dunia sampai akhir zaman, termasuk peperangan besar antara kuasa kepalsuan melawan kuasa kebenaran. Sebagai kitab nubuatan, pasangannya dalam PB adalah kitab Wahyu.
2. Sementara banyak komentator Alkitab membedakan antara tanduk kecil dalam Daniel 7 dengan tanduk kecil dalam pasal 8, pada pelajaran ini kita mempelajari kesamaannya. Perbedaan pendekatan dalam menafsirkan “tanduk kecil” dalam Daniel 8 telah menghasilkan penafsiran yang berbeda.
3. Hal yang menarik adalah pernyataan Daniel sendiri: ” Maka aku, Daniel, lelah dan jatuh sakit beberapa hari lamanya; kemudian bangunlah aku dan melakukan pula urusan raja. Dan aku tercengang-cengang tentang penglihatan itu, tetapi tidak memahaminya”(Dan. 8:27; penekanan ditambahkan).

Senin, 2 Desember
MASA KEGELAPAN ROHANI (“Berapa Lama?”)

Pertanyaan keprihatinan. Kitab Daniel mencatat pertanyaan yang dilontarkan oleh “seorang kudus” kepada “seorang kudus” yang lain: “Sampai berapa lama berlaku penglihatan ini, yakni korban sehari-hari dan kefasikan yang membinasakan, tempat kudus yang diserahkan dan bala tentara yang diinjak-injak?” (Dan. 8:13). Jadi, bukan sang nabi yang bertanya tetapi salah satu warga surga kepada rekannya, mungkin sesama malaikat. Pertanyaan ini membersitkan rasa keprihatinan yang mendalam terhadap sepak terjang tanduk kecil itu yang “membesarkan dirinya” dengan mengambil alih “korban persembahan sehari-hari” yang benar dan kemudian “secara fasik menggantikan korban sehari-hari” (ay. 11-12). Perbuatan tanduk kecil tersebut “mencemari” pelayanan keimamatan Kristus di Bait Suci surgawi, dan hal itu memprihatinkan malaikat-malaikat surga sehingga mereka bertanya-tanya sampai berapa lama hal itu dibiarkan berlangsung.

Pelajaran kita hari ini menekankan pada tindakan “tanduk kecil” (Kepausan Roma) yang “mengambil korban persembahan sehari-hari” (misalnya: sakramen pengampunan dosa oleh imam-imam Katolik) yang seharusnya adalah hak Yesus Kristus sebagai Imam Besar. Tanduk kecil itu melambangkan Kepausan (Dan. 8:9), dan perbuatannya yang melakukan “korban persembahan sehari-hari” itu sama dengan menentang Kristus sebagai “Panglima bala tentara” surga (Dan. 8:11). Seperti telah kita pelajari sebelumnya, setelah Yesus Kristus menjalani kematian penebusan di salib sebagai kurban pengganti manusia, Ia telah diangkat ke surga (31 TM) untuk melanjutkan rencana keselamatan atas manusia itu di Bait Suci surgawi sebagai Imam Besar. Tanduk kecil yang melambangkan Kepausan Roma itu baru muncul sebagai sebuah kekuatan berpengaruh pada tahun 538 TM, yaitu permulaan nubuatan 1260 tahun sebagai masa penganiayaan oleh Kepausan atas umat Allah (Dan. 7:25; Why. 11:3). Alkitab tidak mengatakan bahwa “tanduk kecil” itu bangkit bersamaan dengan permulaan pelayanan keimamatan Kristus, tetapi hal itu terjadi dalam masa nubuatan 2300 hari atau tahun (457 SM-1844 TM).

“Dalam Kitabsuci, pertanyaan ‘Berapa lama?’ selalu menanyakan tentang kapan situasi yang sekarang berlangsung itu akan berubah. Pertanyaan itu ada yang ditujukan kepada manusia oleh Allah dan nabi-nabi-Nya (Kel. 10:3, Bil. 14:27, dan 1Raj. 18:21). Itu juga ditujukan kepada Allah oleh umat-Nya (Mzm. 94:3, Why. 6:10) dan oleh malaikat kepada Yahweh (Za. 1:12). Seruan malaikat ‘Berapa lama?’ (Dan. 8:13; 12:6) itu adalah sebuah ratapan atas penderitaan berkepanjangan, suatu permohonan akan perubahan dan seruan akan penghakiman ilahi. Pertanyaan seperti itu mengungkapkan pengharapan bahwa pada akhirnya Allah akan menang” [alinea ketiga].

Nubuatan terpanjang. Terhadap pertanyaan “orang kudus” atau malaikat itu datang jawaban: “Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar” (ay. 14). Dalam hal ini tentu kita tidak akan menyimpulkan bahwa ada malaikat surga yang tidak mengerti, atau malaikat yang satu lebih tahu dari malaikat yang lain. Kemungkinan besar dialog antara dua malaikat itu adalah untuk diketahui oleh nabi Daniel sendiri, bahwa pencemaran dan hujatan itu tidak akan berlangsung selamanya tetapi hanya dibiarkan untuk sementara waktu yang lamanya sudah ditentukan, yaitu 2300 petang dan pagi atau hari, yang dalam pemahaman nubuatan berarti 2300 tahun (baca Yeh. 4:5-6).

Gereja MAHK menganut penafsiran tentang nubuatan tentang 2300 hari atau tahun dari Daniel 8:14 ini yang dimulai dari tahun 457 SM, yaitu waktu dikeluarkannya dekrit oleh raja Persia bernama Artaxerxes Longimanus (Artahsasta) kepada Ezra untuk membangun kembali bait suci dan kota Yerusalem (Ezr. 7:1). Tahun yang sama juga bertepatan dengan permulaan nubuatan 70 minggu, yaitu 490 hari atau tahun, tentang kesempatan bagi bangsa Yahudi yang berakhir pada tahun 34 tatkala Stefanus dirajam sampai mati, menandai batas waktu kesabaran Tuhan atas Israel dan ditolaknya mereka sebagai umat pilihan (baca Dan. 9:24). Jika penghitungan nubuatan 2300 hari atau tahun–nubuatan terpanjang dalam Alkitab–dimulai dari tahun 457 SM, maka waktunya akan berakhir pada tahun 1844 (“kekecewaan besar” para pengikut William Miller ketika kedatangan Yesus Kristus kedua kali yang diharapkan tidak terjadi). Berdasarkan penghitungan ini kita percaya bahwa tahun 1844 bukan waktu kedatangan kedua kali, tetapi waktu dimulainya pelayanan Yesus Kristus sebagai Imam Besar di bilik mahasuci Bait Suci surgawi, yaitu permulaan dari masa yang juga disebut “penghakiman pemeriksaan” di surga di mana Yesus bertindak sebagai Pembela umat-Nya sebagaimana telah kita pelajari terdahulu. Lihat timeline dalam diagram berikut:

(Ilustrasi: littlebookopen.org)

“Sekali kita mengerti keadaan manusia dan masa nubuatan di mana kita hidup, kita tidak boleh tinggal diam. Seruan ‘Berapa lama?’ itu harus disampaikan. Sementara kita memandang di sekitar dunia kita, bagaimana mungkin kita tidak memohon supaya Tuhan datang dan membawa kita masuk ke satu dunia yang baru ‘di mana terdapat kebenaran’ (2Ptr. 3:13)?” [alinea terakhir: tiga kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang nubuatan 2300 tahun dan pengaruhnya pada diri kita?
1. Nubuatan 2300 pagi dan petang (=tahun) sangat penting karena berkenaan dengan sejarah dunia dan nasib manusia. Bahkan nubuatan ini juga memprihatinkan warga surga oleh karena di dalam kurun waktu tersebut terjadi penganiayaan atas umat Tuhan selama 1260 tahun oleh “tanduk kecil” yang merajalela.
2. Seruan “Berapa lama?” yang dilontarkan oleh warga surga seperti disaksikan oleh Daniel itu menunjukkan kengerian akan sepak terjang tanduk kecil itu, bukan saja karena tindakannya yang menganiaya umat Tuhan, tapi lebih dari itu adalah terhadap perbuatannya yang “mencemari tempat kudus” (=penghujatan).
3. Penganiayaan atas umat Tuhan yang benar oleh tanduk kecil itu adalah fakta sejarah, hal yang benar-benar sudah terjadi. Tetapi sesuai dengan amaran Alkitab, kita mengantisipasi tindakan penganiayaan yang sama, bahkan lebih brutal lagi, yang akan terjadi menjelang kedatangan Kristus kedua kali (Mat. 24:9-10, 21-22).

Selasa, 3 Desember
PASCA NUBUATAN 2300 HARI (Pemulihan Kesucian)*

Penafsiran 2300 petang dan pagi. Sekali lagi kita mengutip jawaban malaikat itu: “Maka ia menjawab: ‘Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar'” (Dan. 8:14; huruf miring ditambahkan). Kata asli untuk “petang dan pagi” di sini adalah עֶ֣רֶב, erev (petang) dan בֹּ֔קֶר, boqer (pagi), sebuah perhitungan waktu satu hari berdasarkan perhitungan hari dalam kisah penciptaan. Namun angka “2300” ini masih menjadi perdebatan di kalangan pelajar Alkitab, sebagian menghitung jumlah hari dalam ayat ini hanya separuhnya, yaitu 1150, berdasarkan penafsiran bahwa “petang dan pagi” itu sama dengan “satu malam” yang lamanya hanya sekitar 12 jam. Atas dasar inilah maka Alkitab versi Bahasa Indonesia Masa Kini menerjemahkan ayat ini: “Kudengar malaikat yang satu lagi menjawab, ‘Sampai 1.150 hari lagi. Selama itu kurban petang dan kurban pagi tidak dipersembahkan. Setelah itu barulah rumah ibadat akan dipulihkan'” (Dan. 8:14, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Gereja MAHK adalah salah satu dari segelintir sekte Kristen yang menafsirkan nubuatan dalam Daniel 8:14 ini sebagai suatu peristiwa global (sekte lainnya adalah Saksi Yehovah dan beberapa gerakan Pentakosta), sedangkan Kristen Protestan pada umumnya menafsirkan nubuatan ini hanya khusus mengenai Israel. Kelompok terakhir ini percaya bahwa nubuatan itu menyangkut penajisan bait suci Yerusalem oleh Anthiokus Epifanes yang pemulihannya sudah dilakukan oleh Yudas Maccabeus (pemimpin pemberontakan Maccabe), atau oleh Yesus Kristus sendiri pada “hari pentahbisan” bait suci tersebut (Yoh. 10:22-23).

“Anak kalimat ‘petang dan pagi’ mencerminkan bahasa dari kisah Penciptaan yang menandakan satu hari (Kej. 1:5, 8, dan lain-lain). Itu berarti bahwa dengan menggunakan kuasa penciptaan-Nya sendiri Allah akan menghadapi aktivitas yang merusak dari tanduk kecil itu beserta tentaranya. Sang Pencipta menyebabkan suatu perubahan situasi yang memang diserukan oleh pertanyaan dalam Daniel 8:13” [alinea pertama].

Pemulihan bait suci. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa kitab Daniel terbagi dua bagian yang masing-masing telah ditulis dalam dua bahasa berbeda, di mana pasal 7 termasuk bagian yang ditulis dalam bahasa Aram dan pasal 8 adalah bagian yang ditulis dalam bahasa Ibrani (lihat ulasan pelajaran hari Minggu di atas). Kenyataan ini menimbulkan spekulasi penafsiran bahwa kitab Daniel pasal 8 (dan seterusnya sampai pasal 12) adalah bagian yang mungkin dialamatkan kepada bangsa Israel. Tetapi dalam hal ini posisi kita tidak seperti itu sebab kita menerima seluruh isi kitab Daniel sebagai satu kesatuan, dan bahwa penulisan dalam dua bahasa itu hanya soal teknis.

Anak kalimat “lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar” (Dan. 8:14b) mengungkapkan apa yang bakal terjadi sesudah masa 2300 tahun itu. Mereka yang menyebut nubuatan ini bersifat terbatas mengenai orang Israel menafsirkan kata “tempat kudus” di sini pada bait suci Yerusalem secara fisik, sedangkan penafsiran bersifat global menafsirkan kata ini sebagai “praktik peribadatan” yaitu suatu kebaktian yang “diadakan secara fasik menggantikan korban sehari-hari” (Dan. 8:12). Kefasikan dalam peribadatan itulah yang akan dipulihkan sesudah masa 2300 tahun itu berakhir.

“Jadi, pemulihan yang ‘kudus’ (atau ‘bait suci’) dalam Daniel 8:14 mencakup penyelesaian terhadap semua masalah yang disebutkan sebelumnya dalam pertanyaan ini. Bukan saja penghakiman akan diberikan terhadap kuasa tanduk kecil tersebut, tetapi bait suci itu akan dibersihkan dan umat Allah serta bait suci Allah akan dikembalikan pada kedudukan mereka yang benar. Hal ini menemukan kesejajarannya dengan apa yang terjadi pada Hari Pendamaian dalam kitab Imamat (Im. 16:20, 30)” [alinea ketiga].

Apa yang kita pelajari tentang pemulihan bait suci dalam nubuatan Daniel 8:14?
1. Penafsiran terhadap nubuatan “2300 petang dan pagi” dalam Daniel pasal 8 akan menentukan pemahaman terhadap apa yang dimaksudkan oleh nubuatan tersebut. Penafsiran yang keliru akan menghasilkan pemahaman yang juga keliru.
2. Penafsiran historis yang penerapannya terbatas pada Israel dan bait suci Yerusalem akan melihat nubuatan ini sudah digenapi pada masa lalu serta tidak ada sangkut-pautnya dengan praktik peribadatan palsu yang berlangsung, dan dengan demikian tidak ada relevansinya bagi kita yang hidup pada zaman akhir.
3. Pemulihan tempat kudus sesudah masa nubuatan 2300 hari atau tahun itu adalah “Hari Pendamaian Eskatologis” ketika “bait suci” (=peribadatan yang benar dan kudus) dipulihkan, dan pada waktu yang sama dilakukan penghakiman atas “tanduk kecil” itu.

*(Judul asli: “Restoration of the Holy”)

Rabu, 4 Desember
PAHALA BAGI ORANG BENAR (Hari Pendamaian Dalam Daniel 8)

Pemulihan umat Allah. Dalam peribadatan di bait suci duniawi, khususnya selama masa empat puluh tahun Musa memimpin bangsa Israel dalam perjalanan dari Mesir ke Kanaan, “Hari Pendamaian” (Yom Kippur) adalah peristiwa khusus yang diadakan “untuk mengadakan pendamaian bagimu [Israel] di hadapan Tuhan” (Im. 23:28), dan merupakan upacara sekali setahun “untuk menyucikan bangsa Israel dari segala dosa mereka” (Im. 16:34, BIMK). Jadi, “hari pendamaian” itu pada dasarnya adalah sebuah kesempatan yang Allah berikan kepada manusia untuk berdamai dengan Dia dan sekaligus menguduskan mereka. Dalam pengertian tertentu hal itu merupakan “pahala” bagi umat Tuhan.

Dalam Daniel pasal 8, “hari pendamaian” itu juga membawa pahala kepada umat Tuhan berupa pemulihan status mereka sebagai orang benar setelah mereka diperdamaikan dengan Allah dan diampuni dosa-dosanya serta dibenarkan. Selain itu, umat Tuhan yang teraniaya oleh kuasa tanduk kecil itu akan beroleh kelepasan dan diselamatkan.

“Sasaran dari serangan tanduk itu adalah bait suci surgawi Allah dan umat-Nya. Apa yang disediakan bagi mereka di masa depan? Itulah pertanyaan yang ditanyakan dalam Daniel 8:13. Namun, hanya Hari Pendamaian yang dapat membawa bait suci dan umat Allah kembali kepada kedudukan mereka yang benar dan dengan demikian membenarkan Allah dalam tindakan-tindakan-Nya. Jadi, jawaban dalam Daniel 8:14 haruslah sebuah kegiatan Hari Pendamaian” [alinea kesatu: lima kalimat pertama].

Campur tangan ilahi. Tentang masa kesusahan zaman akhir Yesus berkata, “Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat” (Mat. 24:22). Frase “oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat” dalam perkataan Yesus ini harus dimaknai sebagai suatu campur tangan ilahi atas kesusahan yang dialami oleh umat-Nya pada zaman akhir.

“Peperangan sang tanduk di alam agama dilawan dan dipersingkat oleh campur tangan ilahi yang dijalankan dalam konteks suatu Hari Pendamaian eskatologis. Pada akhirnya teror berakhir dan umat Allah, peribadatan yang benar, dan bait suci dipulihkan kepada kedudukannya yang benar, dan dalam analisis akhir Allah sendiri dibenarkan” [alinea ketiga: dua kalimat pertama].

Pena inspirasi menulis: “Kristus adalah Imam Besar kita. Setan berdiri di hadapannya siang dan malam sebagai penuduh saudara-saudara. Dengan nada suara yang angkuh dia mengemukakan ciri-ciri tabiat mereka yang tak terbantahkan sebagai alasan yang cukup untuk penarikan kuasa perlindungan Kristus, dan dengan demikian mengizinkan Setan untuk mengecilkan hati dan menghancurkan mereka yang telah disebabkannya untuk berdosa. Tetapi Kristus sudah mengadakan penebusan bagi setiap orang berdosa” (Ellen G. White, Sermons and Talks, jld. 2, hlm. 211).

Apa yang kita pelajari tentang “hari pendamaian” dalam Daniel pasal 8?
1. Hari Pendamaian adalah sebuah berkah bagi orang berdosa, diperdamaikan dengan Allah dan diampuni dosa-dosanya serta dibenarkan. Pada masa bait suci di zaman Musa hari pendamaian itu dilaksanakan setahun sekali untuk umat Israel, hari pendamaian eskatologis terjadi hanya sekali untuk seluruh umat Tuhan.
2. Hari Pendamaian adalah juga hari kelepasan bagi umat Tuhan dari kesusahan di dunia yang disebabkan oleh serangan Setan. Masa kesusahan pada zaman akhir sangat berat, tetapi oleh campur tangan Tuhan waktunya akan dipersingkat.
3. Hari Pendamaian eskatologis adalah jawaban Allah terhadap tudingan Setan terhadap umat Tuhan ketika Allah mengampuni dosa-dosa umat-Nya dan menguduskan mereka, suatu tindakan yang dibenarkan oleh sebab kematian penebusan Kristus selaku kurban pengganti manusia berdosa.

Kamis, 5 Desember
PENJELASAN ATAS NUBUATAN 2300 HARI (Daniel 8 dan 9)

Kurun waktu yang panjang. Kepada Daniel yang termangu-mangu pada penglihatan itu malaikat Gabriel telah datang untuk memberi penjelasan: “Pahamilah, anak manusia, bahwa penglihatan itu mengenai akhir masa!” (Dan. 8:17). Malaikat itu menambahkan, “Kuberitahukan kepadamu apa yang akan terjadi pada akhir murka ini, sebab hal itu mengenai akhir zaman” (ay. 19). Kemudian dijelaskannya tentang kerajaan-kerajaan yang dilambangkan oleh domba jantan dan kambing jantan dalam penglihatan itu, yakni kerajaan Medo-Persia dan kerajaan Yunani purba (Grika). Kalau jangka waktu dari nubuatan 2300 hari/tahun itu dihitung mulai tahun 457 SM pada zaman pemerintahan kerajaan Medo-Persia (538-331 SM) dan berakhir pada tahun 1844, maka sesudah tahun 1844 kita sudah memasuki “akhir masa” atau “akhir zaman” sebagaimana dimaksud oleh ayat-ayat di atas.

Penetapan awal dari nubuatan 2300 hari/tahun yang dimulai pada tahun 457 SM saat raja Artahsasta (Cyrus) mengeluarkan dekrit untuk pembangunan kembali Yerusalem dan bait suci di kota itu menemukan dukungannya dalam Daniel 9:25: “Maka ketahuilah dan pahamilah: dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja, ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa lamanya kota itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan.”

“Karena panjangnya, pengertian 2300 hari secara harfiah bagaimanapun juga tidak cukup panjang untuk mencakup kurun waktu dari penglihatan itu. Sebab itu kita perlu menafsirkannya menurut prinsip hari-tahun sebagai 2300 tahun, mengikuti contoh dari Yehezkiel 4:5, 6 dan Bilangan 14:34” [alinea kesatu: dua kalimat terakhir].

Penjelasan Gabriel. Daniel adalah seorang peneliti Kitabsuci yang tekun dan selalu memiliki rasa ingin tahu. Hal itu terungkap dalam tulisannya sendiri: “…aku, Daniel, memperhatikan dalam kumpulan Kitab jumlah tahun yang menurut firman TUHAN kepada nabi Yeremia akan berlaku atas timbunan puing Yerusalem, yakni tujuh puluh tahun” (Dan. 9:2). Sudah tentu bagian dari kitab Yeremia yang dimaksudkannya di sini adalah Yeremia 25:11-12 dan 29:10. Allah menghargai ketekunan Daniel dan doanya yang memohon penjelasan atas apa yang dibacanya itu sehingga Gabriel diutus sekali lagi untuk memberi penjelasan kepadanya (Dan. 9:22-23).

Kepada Daniel malaikat itu menjelaskan: “Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus, untuk melenyapkan kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan kesalahan, untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nabi, dan untuk mengurapi yang maha kudus. Maka ketahuilah dan pahamilah: dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja, ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa lamanya kota itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan. Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan disingkirkan seorang yang telah diurapi, padahal tidak ada salahnya apa-apa” (ay. 24-26).

“Nubuatan tujuh puluh minggu dalam ayat-ayat tersebut membantu kita untuk memahami unsur waktu nubuatan dari Daniel 8:14. Adalah katakerja ‘ditetapkan’ pada permulaan Daniel 9:24, yang paling tepat diterjemahkan ‘dibagi’ atau ‘dipotong,’ yang secara khusus menunjukkan bahwa tujuh puluh minggu itu merupakan bagian dari kurun waktu 2300 hari yang lebih panjang. Jadi, nubuatan tujuh puluh minggu itu ‘dipotong’ dari nubuatan 2300 hari dari Daniel 8:14 yang lebih panjang. Ini memberi kita titik awal bagi periode waktu nubuatan yang digambarkan dalam Daniel 8:14 (Lihat pelajaran besok untuk lebih rinci)” [alinea terakhir: empat kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang hubungan antara Daniel 8 dan 9?
1. Korelasi antara Daniel pasal 8 dan pasal 9 ditunjukkan dengan penjelasan yang terdapat dalam Daniel 9:24-27 atas nubuatan 2300 hari dalam Daniel 8:14. Malaikat Gabriel yang disebutkan dalam pasal 8 adalah tokoh yang sama dengan yang disebutkan dalam pasal 9.
2. Pasal 8 dan pasal 9 merupakan dua penglihatan yang berbeda pada waktu yang berlainan, tetapi keduanya bertutur tentang satu nubuatan yang sama. Perbedaannya ialah bahwa pasal 8 berbicara tentang nubuatan 2300 hari/tahun secara keseluruhan, sedangkan pasal 9 tentang bagian-bagian dari nubuatan 2300 hari/tahun itu.
3. Nubuatan dalam Daniel pasal 9 juga menyebutkan tentang Mesias, yaitu “seorang yang diurapi” (ay. 25, 26), yang berujud pada diri Yesus Kristus sebagai penebus manusia. Penyaliban Kristus adalah bagian dari nubuatan 2300 hari/tahun (lihat bagan pada pelajaran hari Senin dalam ulasan ini).

Jumat, 6 Desember
PENUTUP

Nubuatan dan sejarah. Penentuan waktu dari suatu nubuatan Alkitab sama penting dan sulitnya dengan penafsiran tentang nubuatan itu sendiri. Kedua hal ini–penentuan waktu dan penafsiran arti–harus tepat supaya dapat dibuktikan secara historis serta disinkronisasikan dengan peristiwa-peristiwa sejarah, sebab kejadian-kejadian dalam sejarah merupakan rujukan yang sah bagi nubuatan. Nubuatan dan sejarah tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling berkaitan (terkecuali nubuatan-nubuatan yang belum digenapi), dan terkadang beberapa nubuatan memiliki periode waktu yang bersamaan secara tumpang-tindih sehingga menambah rumitnya penafsiran dan penentuan waktu yang cocok.

Sebagai nubuatan terpanjang dalam Alkitab, nubuatan 2300 hari/tahun dari Daniel 8:14 juga “memayungi” beberapa nubuatan lain yang jangka waktunya lebih singkat tetapi termasuk di dalam kurun waktu yang sama secara tumpang-tindih. Misalnya di dalam nubuatan 2300 hari/tahun ini tercakup pula nubuatan 70 minggu (490 tahun) tentang perjalanan sejarah bangsa Israel, dan juga nubuatan “satu masa, dua masa, dan setengah masa” (1290 tahun) perihal sepak terjang Kepausan.

Penghitungan titik awal nubuatan 2300 hari/tahun yang rentang waktunya meliputi kedatangan Mesias dan kematian-Nya sampai kepada dimulainya masa penghakiman pemeriksaan di surga yang termasuk “akhir zaman” menemukan ketepatannya pada waktu yang bersamaan dengan dikeluarkannya dekrit raja Artahsasta I untuk pembangunan kembali kota Yerusalem dan bait suci. “Dalam Alkitab, hanya dekrit ini yang diikuti dengan pengucapan syukur yang memuji Allah karena mempengaruhi sang raja (Ezr. 7:27-28). Selanjutnya, hanya dengan tahun 457 SM sebagai titik awal maka tujuh puluh minggu (yakni 40 tahun) menjangkau zaman Kristus, ‘seorang yang diurapi, seorang Raja” dari Daniel 9:25-27. Jadi, nubuatan tujuh puluh minggu menyediakan peristiwa yang tepat terhadap tanggal permulaan 2300 petang dan pagi. Keduanya dimulai pada tahun 457 SM dan berakhir sesudah 2300 tahun dalam tahun 1844 TM” [alinea kedua: empat kalimat terakhir].

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2Tim. 3:15-16).

Leave a Reply