Haruskah Kita Merayakan Natal? (Should We Celebrate Christmas?)

December 9, 2012 - Doug Batchelor

Kebanyakan orang Kristen di seluruh dunia merayakan tanggal 25 Desember sebagai hari libur untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus (Bahkan banyak non-Kristen sekarang merayakan festival ini dengan saling memberikan hadiah dalam pertemuan sosial). Namun tanggal kelahiran Yesus yang pasti tidak diketahui, dan sebagaimana asal-usul Natal oleh kebanyakan orang sedang dipertanyakan, beberapa mulai bertanya-tanya apakah orang Kristen harus berpartisipasi dalam kebiasaan kebiasaan yang berhubungan dengan hari libur yang paling populer di dunia Barat ini?

Pertama, jelas bahwa tidak ada perintah dalam Alkitab untuk memelihara Natal sebagai hari yang suci, seperti halnya hari Sabat dalam Sepuluh Perintah Allah. Alkitab tidak berkata, “Engkau harus menyucikan tanggal 25 Desember”. Walaupun itu menjadi hari libur umum, secara alkitabiah, itu bukanlah hari yang suci.

Bagaimana asal-usul Natal? Kekhawatiran tentang unsur-unsur pagan dalam hari libur ini bukanlah hal yang baru. Kontroversi Natal dapat diurut ratusan tahun yang lalu. Kaum Puritan di Inggris sebenarnya memimpin Parlemen Inggris untuk melarang Natal oleh karena bagi mereka natal adalah suatu “festival kepausan tanpa didukung pembenaran alkitabiah” bahkan menurut mereka perayaan Natal merupakan pemborosan waktu serta pertunjukkan perilaku yang tidak bermoral. Bahkan di Amerika pada masa Kolonial, ada suatu waktu (Thn. 1659) dimana Natal dilarang. Baru-baru ini, unsur unsur masyarakat sekuler bersitegang dengan kelompok-kelompok agama sehubungan dengan adegan adegan kelahiran dan salib pada tempat tempat umum.

Alkitab sudah tentu menuliskan tentang kelahiran Kristus (Lukas 3:7). Bukan hanya mengumumkan kemuliaan kelahiran Mesias (ay 13), tetapi juga bercerita tentang gembala yang datang untuk menyembah anak yang baru lahir (ay 16). Gembala-gembala yang rendah hati ini tidak dapat tenang dengan apa yang mereka lihat (ayat 17). Selain itu, ada catatan dari orang-orang bijak dari timur yang membawa hadiah kepada Yesus-meskipun hal ini terjadi ketika Yesus sudah mulai merangkak (Matius 2:11). Jika orang mengakui kelahiran Kristus melalui ibadah dan dengan membawa hadiah, barangkali ada sesuatu yang kita bisa kita pelajari dari teladan mereka.

Selain berasal dari unsur paganisme, kebanyakan orang memahami bahwa Natal adalah perayaan kelahiran Yesus. Tapi dalam prakteknya, orang menghabiskan lebih banyak waktu pada bulan Desember untuk menjelajahi pusat pusat perbelanjaan daripada mempelajari kehidupan Juruselamat. Frosty Snowman dan Rudolf Reindeer berhidung merah, bersaing dengan orang-orang bijak dan gembala-gembala, dalam menarik perhatian kita. Dalam semua hiruk-pikuk antara “Black Friday” dan Malam Natal, materialisme cenderung menghimpit kandang sederhana tempat kelahiran Yesus itu.

Tapi bagaimana jika orang Kristen menghabiskan lebih banyak waktu bersaksi bagi Kristus pada hari Natal atau berbagi sumber-sumber daya Kristen untuk mengarahkan orang-orang kepada Yesus? Apa yang akan terjadi jika lebih banyak keluarga mendedikasikan waktu dan uang untuk melayani orang miskin dan mempercepat pekabaran Injil melalui pelayanan misi jangka pendek? Apa yang akan terjadi bilamana gereja-gereja kita, selama waktu liburan, menjelajahi nubuatan kedatangan Kristus yang pertama dan mempelajari kedatangan-Nya yang kedua? Mungkin keprihatinan kita tentang Natal akan sedikit memiliki hubungan dengan asal-usul paganismenya dan lebih banyak kepada prakteknya saat ini.

Banyak orang mungkin menyangkal “menyembah” hari Natal sebagai sesuatu yang suci, tapi apakah ibadah itu? Ibadah tidak diukur dengan sekedar menghadiri konser Natal ataupun misa ditengah malam. Ibadah menggambarkan bagaimana kita menjalani hidup ini dan bagaimana kita menghabiskan sumber-sumber daya kita. Seperti kata Paulus, “Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan…” (Roma 14:6), dan “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10 : 31).

Should We Celebrate Christmas?

Most Christians around the globe observe December 25 as a holiday to commemorate the birth of Jesus Christ. (Of course, even many non-Christians now celebrate this festival with gift giving and social gatherings.) Yet the exact date of Jesus’ birth is unknown, and as the origins of Christmas understood by most people are being called into question, some are beginning to wonder if Christians should participate in the many customs surrounding this most popular holiday in the Western world?

First, it is clear that the Bible does not contain a command to keep Christmas as a sacred day, such as with the Sabbath in the Ten Commandments. There is no Scripture saying, “Thou shalt keep the 25th of December holy.” While it might be a public holiday, it is not a biblical holy day.

What about the origins of Christmas? Concerns about pagan elements in this holiday are nothing new. Controversies over Christmas go back hundreds of years. The Puritans in England actually led the English Parliament to ban Christmas for a period of time as a “popish festival with no biblical justification” and a time of wasteful and immoral behavior. Even in Colonial America there was a time (1659) when Christmas was outlawed. More recently, secular elements of society have faced off with religious groups over nativity scenes and crosses on public property.

The Bible certainly highlights the birth of Christ (Luke 3:7). It not only describes the glorious announcement of the Messiah’s birth (v. 13) but also tells of shepherds coming to worship the newborn child (v. 16). These humble worshippers were not quiet about what they saw either (v. 17). Furthermore, there is a record of wise men from the east bringing gifts to Jesus—though this likely occurred when Jesus was a toddler (Matthew 2:11). If people recognized the birth of Christ through worship and bringing gifts, perhaps there is something we can learn from their examples.

Aside from its pagan elements, most people understand that Christmas celebrates the birth of Jesus. But in practice, people spend more time in December cruising shopping malls than studying the life of the Savior. Frosty the Snowman and Rudolf the Red-nosed Reindeer compete with wise men and shepherds for our attention. During all the bustle between “Black Friday” and Christmas Eve, materialism tends to overshadow the simple stable.

But what if Christians spent more time witnessing for Christ at Christmas or purchasing and sharing Christians resources to point people to Jesus? What would happen if more families dedicated time and money to serve the poor and advance the gospel through short-term mission service? How would our churches be strengthened if, during this holiday time, believers explored the prophecies of Christ’s first advent as well as His second advent? Perhaps our concerns about Christmas should have less to do with its pagan origins and more with its current practice.

Many people might deny they “worship” this day as holy, but what is worship? Worship isn’t measured by simply attending a Christmas concert or midnight mass. It describes how we live our lives and spend our means. As Paul said, “He who observes the day, observes it to the Lord” (Romans 14:6), and, “Whether you eat or drink, or whatever you do, do all to the glory of God” (1 Corinthians 10:31).
Sumber: Amazingfacts.org

Leave a Reply