Hidup itu simpel..

“…….Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.”

(Kejadian 13:9b)

Ada satu peristiwa yang kita akan renungkan kembali pada hari ini. Sebuah peristiwa yang saudara/i sekalian sudah sangat sering mendengarnya.

Kita awali ingatan kita pada peristiwa itu dari perintah Tuhan kepada Abraham untuk meninggalkan negerinya dan pergi ke sebuah negeri lain tetapi tidak diberitahukan di mana tempat yang akan dituju, sampai pada saat mereka akhirnya menetap di tempat bernama Tanah Negeb. Abraham mengajak saudaranya bernama Lot. Sesuai dengan janji Tuhan maka Abarham diberkati oleh Tuhan dengan sangat limpah sehingga menjadi amat sangat kaya. Juga Lot, menjadi sangat kaya. Kekayaan mereka akhirnya menimbulkan persoalan. Tanah yang mereka tempati menjadi tidak cukup untuk memuat harta kekayaan mereka, yaitu ternak-ternak mereka. Para penggembala ternak mereka pun sering berkelahi.

Mari kita simak kembali ayat renungan kita Kejadian 13:9b “…….Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.”

Kata-kata itu diucapkan oleh Abraham kepada Lot setelah selalu timbul persoalan di antara mereka. Abraham tidak mau selalu ada persoalan dengan saudaranya Lot. Bila melihat latar belakang mereka menjadi kaya, Alkitab menulis bahwa sesungguhnya Allah hanya menyuruh Abraham untuk pergi dari negeri mereka. Allah hanya menjanjikan berkat kepada Abraham. Lot hanyalah diajak oleh Abraham pada waktu itu. Tetapi untuk menghindari persoalan yang berkepanjangan, Abraham memberikan solusi. Solusi yang sama sekali tidak mementingkan diri sendiri. Solusi yang penuh kerendahan hati. Solusi yang tidak menghitung untung/rugi secara ekonomi. Solusi yang tidak menghitung jasa-jasa yang dia sudah berikan kepada Lot.

Bisa saja Abraham mengatakan begini: “Lot, kamu jangan macam-macam! Kalau bukan karena aku yang membawa kamu ke sini, kamu tidak akan jadi kaya seperti sekarang ini, kamu tidak akan jadi siapa-siapa bahkan kamu akan mati kelaparan di negeri kita dahulu. Oleh sebab itu, Lot, pergi kamu dari sini, dan bawa itu semua karyawanmu jangan bikin ribut di sini. Saya yang berhak untuk tinggal di sini! Tuhan telah memberikan tempat ini bagiku!”

Atau, Abraham bisa sedikit lebih manusiawi dengan mengatakan: “Lot, kamu lihat negeri yang di sebelah sana? Kamu pindah saja ke situ! Saya tidak mau tahu! Saya sudah tidak tahan dengan keributan antara kita, jadi lebih baik kamu pindah ke sebelah sana. Kamu bisa mulai buka lahan di sana. Saya tahu itu tandus tapi saya tidak perduli yang penting saya sudah kasih kamu lahan.”

Abraham adalah seorang yang tidak suka membuat masalah baru di atas masalah yang sudah ada! Dia tidak mau seperti syair lagu Ebit G. Ade “kau sayat luka baru di atas luka lama.” Solusi yang dia tawarkan adalah solusi yang tidak akan menimbulkan persoalan baru. Tidak perduli apakah dia secara pribadi akan menderita kerugian atas solusi yang dia tawarkan. Dia hanya ingin masalah selesai dengan baik dan tidak menimbulkan ekses negative lainnya.

Inilah yang saya sebut dengan “Life is Simple”! Hidup itu sederhana! Bila kita ingin sederhana, kita bikin sederhana. Bila kita ingin rumit, kita bisa bikin rumit. Tetapi seorang yang bijaksana selalu berusaha untuk mempermudah yang sulit dan menyederhanakan yang rumit.

Mari kita ikuti kisah selanjutnya.

Lot kemudian memandang ke sekelilingnya, melihat daerah mana yang paling mantap! Kejadian 13:10-11 “Lalu Lot melayangkan pandangannya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. — Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah.”

Daerah yang dipilih Lot adalah daerah yang paling subur karena banyak airnya, bahkan ayat itu mengatakan “seperti taman Tuhan.” Luar biasa! Namun sedikit pun Abraham tidak menyesali kebebasan memilih (referendum) yang dia suguhkan kepada Lot. Dia tidak berubah pikiran setelah Lot memilih tanah yang indah dan subur itu. Dia tidak bersungut sama sekali! Dia tidak mengatakan “Enak aja lu! Emang lu aja yang tau yang enak?” Sama sekali tidak!! Bagi dia hidup ini sederhana. Yang penting tidak ada masalah. Yang penting kita semua aman-aman dan damai! Dia mungkin berkata: “Good luck, brother! You’ve made an excellent choice! Have a nice life!” Dia berikan yang terbaik. Dia korbankan kepentingan dirinya dan egonya. Betapa sebuah penyagkalan diri yang luar biasa.

Orang seperti dia ini adalah orang yang umurnya panjang! Habis itu dia tidur dengan nyenyak. Dia senang saudaranya telah menentukan pilihan yang baik, sekalipun secara hitung-hitungan ekonomi dia dirugikan! Kenapa bisa demikian, karena dia tidak pernah lupa akan pimpinan Tuhan di masa lalu. Buktinya?

Tidak lama setelah mereka berpisah Tuhan berfirman: Kejadian 13:14-17 “Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmu pun akan dapat dihitung juga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.”

Apa yang manusia pikir kerugian, Tuhan jadikan jadi keuntungan bila kita mau berserah kepada-Nya. “Tak lari gunung dikejar”, begitu kata pepatah lama.

Bagi Abraham Life is Simple! Bagi dia yang terpenting adalah hidup aman dan damai. Bagi Abraham soal harta, tinggal berdoa kepada Tuhan! Bagi Abraham hidup yang aman dan damai akan membuat umur panjang. Saudara boleh baca lanjutan cerita itu nanti bagaimana hidup Lot tidak nyaman di negeri yang dia pilih itu oleh karena banyaknya kejahatan. Kota itu terkenal dengan Sodom dan Gomora. Kita semua tahu apa yang akhirnya terjadi dengan kota tersebut. Di kota pilihannya itu bahkan Lot diculik. Waktu Lot diculik, Abraham masih datang untuk melepaskannya. Betapa sebuah contoh hidup yang perlu ditiru! Kalau saya jadi Abraham, mungkin saya akan bilang: “Rasain lu!”

Bila kita tidak mampu menjadi solusi atas sebuah persoalan, paling tidak kita tidak menjadi bagian dari sebuah persoalan. Sederhana, bukan?

Hidup kita di dunia ini penuh dengan tantangan-tantangan dan cobaan-cobaan dari berbagai sisi kehidupan kita. Kalau kita masih mau menambah kerumitan yang lain, bayangkan betapa tersiksanya hidup kita. Untuk itu mari kita berdoa supaya Tuhan memberikan kekuatan dan kemampuan untuk melihat itu semua sebagai sesuatu yang dapat kita lalui tanpa harus menjadi kalap. Berdoalah supaya Tuhan menolong kita untuk menyederhanakan problematika hidup kita yang rumit itu.

Filipi 3:13 “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,”

Ada type manusia yang bahkan masa lalu pun masih menambah kerumitan hidupnya di masa kini bahkan ke masa depannya. Saya mau katakan bahwa “tidak ada yang anda bisa lakukan untuk merubah masa lalu, karena anda bukan Tuhan yang mampu menghentikan waktu atau kembali ke masa lalu.” Tinggalkan masa lalu, entah itu prestasi, entah itu kegagalan. Benahi yang ada sekarang dan yang ke depan. Jangan hidup di atas kenangan-kenangan masa lalu, tetapi hiduplah di atas realita dan realita itu adalah “sekarang”. Anda bukan sedang menonton film seri “Quantum Leap” atau sinetron “Lorong Waktu.”

Hidup itu bisa sederhana atau bisa jadi rumit tidak karu-karuan. Tergantung pilihan anda dan saya. Itu bukan soal untung/rugi dalam hitung-hitungan ekonomi. Tetapi itu adalah soal anda mau hidup tenang dan damai atau hidup miserable, penuh ketakutan, kompleks dan menyedihkan.

Mari kita hidupkan pelajaran dari perpisahan Abraham dan Lot agar kita bisa tidur tenang, bangun nyaman, hidup sehat dengan umur panjang.

– SAMUEL PANDIANGAN

Leave a Reply