Hidup oleh Iman

Galatia 3:12-14 Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya. Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.

Apa artinya hidup dalam iman? Iman itu tidak bisa dipisahkan dari bersyukur, karena iman itu walauopn saya belum melihat, tapi saya percaya – itulah iman. Jadi, walaupun saya belum melihat, saya sudah bersyukur, walaupun saya belum melihat, saya tidak mau pikirkan yang negative, saya tidak mau pikir yang buruk-buruk. Iman itu adalah ketika saya adalah anak Tuhan, maka apapun yang terjadi, pasti Tuhan akan ubahkan hal itu untuk kebaikan.

Dengan demikian, orang yang beriman itu pasti:
 Hidup dalam syukur. Ia menyadari bahwa kehidupan adalah anugerah Tuhan dan patut bersyukur dalam segala hal.
 Hidup dalam ketaatan. Ia tidak miring kekiri maupun kekanan, karena orang beriman itu ia mau menyenangkan hati Tuhan, dan apa yang Tuhan perintahkan pasti ia taati.
 Hidup dalam kesetiaan. Makanya dalam bahsa inggris yang namanya kesetiaan di sebut sebgai faithful – dengan penuh iman.

Artinya, orang yang beriman, yang pertama ia selalu penuh dengan syukur, orang yang beriman selalu berjalan dalam ketaatan, dan orang yang beriman selalu hidup dalam kesetiaan. Sekalipun ada tantangan dan ada masalah, ia tetap percaya, bahwa Tuhan, sang pemberi berkat, akan menununtunnya untuk hidup dalam berkat yang berkelimpahan.

Perkembangan dunia ini mungkin akan membuat kita memandang dunia yang terus merosot ini secara negatif. Akan tetapi, bila kita memandang dengan iman, kita akan memiliki pengharapan bahwa Allah akan memakai hal-hal yang nampak negatif itu untuk kebaikan kita.

Bagi Habakuk, bila dia memandang kehidupan masyarakat saat itu, yang dia lihat adalah kejahatan, kekerasan, dan ketidakadilan. Di satu sisi, ia merindukan agar keadaan segera berubah. Di sisi lain, ia merasa ngeri bila mengingat bahwa yang Allah rencanakan adalah mengutus bangsa Kasdim yang jahat itu untuk menghukum umat-Nya.

Dengan akal sehatnya, Nabi Habakuk beranggapan bahwa hukuman tersebut terlalu berat dan terasa tidak adil karena bangsa Kasdim lebih jahat daripada bangsa Yehuda. Memang, keadilan Allah hanya bisa dilihat bila kita memandang dengan iman bahwa pada waktu yang ditentukan Allah, bangsa Kasdim pun akan dihukum oleh Allah (2:4-20). Umat Allah dihukum Allah karena dosa-dosa yang mereka lakukan dengan tujuan untuk memurnikan iman mereka, sedangkan bangsa Kasdim yang jahat dan tidak mengenal Allah itu juga akan dihukum Allah. Bangsa Yehuda (Israel) saat ini masih ada dan tetap ada, tetapi bangsa Kasdim yang menyombongkan dirinya itu saat ini sudah tidak ada lagi (2:4-5).

Bila kita memandang kejahatan di dunia sekitar kita pada saat ini, mungkin kita bingung mengapa Allah tidak segera bertindak untuk menghukum orang-orang yang telah berlaku jahat. Mungkin kita pun juga merasa tidak sabar ketika melihat bahwa orang-orang yang berusaha menutup tempat ibadah Kristen terlihat semakin berkuasa. Kita harus melihat dengan iman dan tetap percaya bahwa Allah masih memegang kendali kehidupan ini.

Habakuk 2:4 “Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.”

Leave a Reply