Hikmah September 11

October 29, 2012 - Steve Wholberg

Mengapa Allah megizinkan bencana alam atau musibah terjadi? Kalau Allah sedemikian besar kasih-Nya akan manusia, mengapa Allah membiarkan korban berjatuhan akibat bencana ini? Apakah Allah yang menyebabkan terjadinya bencana atau musibah? Banyak orang menjadi tidak percaya kepada Allah dan lebih banyak lagi yang bingung, ragu atau bahkan tidak percaya adanya Tuhan oleh karena hal ini. Bagi mereka, cara berpikir Allah haruslah sama dengan logika mereka, kalau tidak, maka Allah bukanlah Allah yang maha kuasa, buat apa percaya kepada-Nya. Jawabannya menurut saya, ada tiga. Pertama, Allah yang menyebabkan peristiwa-peristiwa ini terjadi, dengan kata lain, musibah ini datangnya dari Allah sendiri (Baca Ulangan 28:47-68). Kedua, Allah mengizinkan peristiwa ini terjadi, dalam arti Allah bukanlah penyebab musibah, melainkan Setanlah yang menyebabkannya, Allah hanya sekedar merestuinya (Ayub 1:12). Ketiga, Allah sama sekali tidak ikut campur dengan peristiwa-peristiwa ini, malapetaka atau bencana alam terjadi akibat ulah manusia sendiri (Amsal 26:27).

Sebetulnya ada jawaban yang Allah sendiri telah berikan bagi kita sebagai acuan agar kita bisa menghalau keraguan atau ketidak-pastian menyangkut hal ini, sehingga tidak perlu ada orang yang murtad, tidak perlu ada orang yang kecewa, tidak perlu ada orang Atheis, namun sebaliknya akan lebih meneguhkan iman dan percaya kepada kemaha-kuasaan Allah. Bagi saya, Allah bekerja secara misterius dalam setiap bencana dan musibah yang terjadi dalam kehidupan kita. Ada maksud Allah dibalik semua bencana alam atau musibah itu, terlepas dari narasumber bencana alam dan musibah tersebut. Coba saudara buka dan baca Yakub 4:13-16:
(13) Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ”Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, (14) sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. (15) Sebenarnya kamu harus berkata: ”Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”(16) Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.
Lalu Yesaya 2:10,15,17:
(10) Masuklah di sela gunung batu dan bersembunyilah di dalam liang tanah terhadap kedahsyatan TUHAN dan terhadap semarak kemegahan-Nya! (15) untuk menghukum semua menara yang tinggi-tinggi dan semua tembok yang berkubu; (17) Manusia yang sombong akan ditundukkan dan orang yang angkuh akan direndahkan; hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu.
Melalui bencana dan musibah yang terjadi, jelas sekali Allah mau memperingatkan kita bahwa kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi kepada kita besok hari, hidup kita ini tidak ada artinya, hidup kita seperti uap, sebentar saja tampak lalu lenyap. Frase “Jika Tuhan kehendaki” artinya, serahkan hidup kita kepada Tuhan, jadikanlah Dia nomor satu dalam kehidupan kita, utamakan dahulu kerajaan Allah dalam kehidupan kita, lakukan terlebih dahulu kewajiban kita terhadap Allah, pasrahkan semua rencana kita kepada-Nya, lalu biarkanlah Tuhan yang mengatur dan mengendalikan langkah kita.
Kenyataannya, kita cenderung melalaikan nasehat ini. Kita lebih suka mendahulukan kepentingan diri, kita misalnya lupa membaca Firman Allah sebelum memulaikan aktifitas kita, kita bahkan melanggar akan hukum-Nya dalam ucapan, pikiran dan tindakan kita, pada akhirnya, kita tidak menyediakan sedikitpun waktu bagi Allah, semua waktu digunakan untuk bekerja/usaha/bisnis/sekolah/dll. Dari sinilah kemudian lahir sikap congkak dan angkuh dalam diri kita, oleh karena merasa diri sukses, megah, kaya, dan berpangkat. Ayat diatas jelas sekali memperingatkan kita bahwa sikap seperti ini akan membawa kita kepada kebinasaan ganda, di dunia dan akhirat! Bencana alam dan musibah akan melenyapkan kita (bak uap) selagi kita masih hidup didunia ini dan tidak berhenti sampai disitu, bilamana kita selamat dari bencana dan musibah itu dan tidak juga bertobat, maka kedahsyatan dan kesemarakan kemegahan-Nya akan merendahkan keangkuhan kita alias mematikan kita di hari kedatangan-Nya! Sangat penting bagi kita untuk menjaga keseimbangan kehidupan rohani dan duniawi kita, jangan hidup untuk profit, investasi, uang, dll saja, oleh karena itu akan membuat kita menjadi angkuh dan sombong. Fokuslah kepada kehendak Allah dahulu, biarkanlah Dia yang menjadi kapten dalam hidup kita, biarlah Dia yang memberikan berkat bagi kita. Kemauan Allah haruslah menjadi yang pertama dan terutama dalam hidup kita. Mari kita baca 1 Tesalonika 5:1-3
(1) Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, (2) karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam. (3) Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman — maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin — mereka pasti tidak akan luput.
Pagi hari itu sangat tenang, langit biru, cuaca sangat cerah, tidak ada yang berpikir bahwa pada hari itu, sebuah peristiwa tragis dan dashyat akan menimpa rakyat AS bahkan seluruh dunia. Hari itu adalah hari Selasa tanggal 9 September, 2001. Dua pesawat sipil sengaja ditabrakan ke gedung kembar pusat perdagangan sedunia di New York, AS. Hampir 3000 orang korban akibat peristiwa itu. Minggu, 26 Desember 2004, tidak ada yang menyangka gempa bumi berskala 9 richter, kapasitas 23.000 x bom atom Hiroshima, akan mengakibatkan 155.000 korban, 500.000 luka-luka dan 5 juta orang kehilangan rumah.
Tuhan Allah sudah jauh-jauh hari memperingatkan kita, bagi mereka yang tetap mendahulukan uang, pekerjaan, bisnis, kepelisiran dunia, kesenangan dunia, kenikmatan dunia, bila tidak bertobat, bila tidak mendahulukan kehendak Allah, pada suatu hari nanti, pada hari kedatangan-Nya, mereka akan binasa. Mereka berpikir semuanya aman dan damai, mereka tidak tahu kedatangan Tuhan sudah diambang pintu. Bukankah bencana alam dan musibah yang terjadi dalam kehidupan kita adalah sebetulnya miniatur kehancuran global pada saat kedatangan-Nya nanti? Tidakah saudara melihat sisi positif dari bencana dan musibah mini ini? Dapatkah saudara melihat sekarang bahwa Allah memiliki maksud dalam setiap bencana dan musibah yang datang dalam kehidupan kita? Bila kita tetap setia setelah melalui bencana dan musibah mini ini, kita pasti akan terhindar dari the real global destruction pada waktu kedatangan-Nya, yang justru akan menimpa mereka yang tidak setia, mereka yang tetap tidak perduli dengan peringatan-peringatan melalui bencana dan musibah mini yang terjadi saat ini.
Bila kita melakukan perintah-Nya, kita tidak perlu takut, cemas, kuatir dan gelisah. Allah akan menyertai kita sampai akhir zaman. Allah akan berada disisi kita pada waktu bencana alam itu menimpa, sama seperti Allah berada disisi Yesus ketika Dia mati di kayu salib 2000 tahun yang lalu. Dalam semua penderitaan, Dia ada bersama orang-orang yang mengasihi akan Dia. Tangan-Nya senantiasa diulurkan kepada kita, bila saja kita mau menggapai tangan-Nya, Dia akan menjamin agar kita selamat dan hidup kekal di sorga. Kehidupan di dunia hanyalah sementara, kehidupan di sorga adalah kekal. Rindukah saudara untuk masuk ke negeri mulia itu, negeri dimana tidak ada sakit dan derita, musibah dan bencana alam? Pada suatu hari nanti, nama kita akan dipanggil satu persatu dan akan mempertanggung-jawabkan kehidupan kita. Pastikan bahwa dosa saudara dan saya sudah dihapus. Berjalanlah dengan rendah hati bersama Allah, ikutilah semua ajaran Alkitab, tinggikanlah Allah gantinya diri sendiri. Percayalah kepada Allah dan bukan kepada materi dunia ini.

Leave a Reply