Hukum Ketertarikan – The Secret

October 3, 2013 - Others

“dan Aku(Yesus), apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” Yohanes 12:32

Misi Yesus hampir genap, kematian-Nya segera tiba, sekali lagi Yesus memberitahu murid-muridNya tentang kematianNya yang akan segera tiba.

Untuk ketiga kalinya Yesus mengulang dan menyinggung perihal bagaimana Ia akan mati dan manfaat dari kematianNya. “Apabila Aku ditinggikan dari bumi” mengingatkan mereka akan perbuatan Musa ketika membuat ‘ular tembaga’ dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular tedung, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, ia akan hidup (Bil 21:9). Sebagaimana ular tembaga yang dililitkan pada sebuah tiang, demikianlah Yesus menggambarkan kematianNya nanti; dililitkan pada tiang salib, ditinggikan diantara penjahat !

“Secara Rahasia Allah telah menetapkan sebuah Hukum Ketertarikan yang sanggup menarik semua orang kembali kepada-Nya”.
Sungguh sebuah pernyataan yang penuh dengan rahasia dan bertentangan dengan pengertian umum. Bagaimana tidak? Salib yang menjadi simbol kesengsaraan, kehinaan, kutuk, dosa, hukuman bagi mereka orang jahat, pemberontak dan orang-orang yang tidak perlu diingat; agar dengan kematian mereka melalui hukuman di salib, nama mereka tidak akan diingat dan sejarah mereka dilupakan oleh orang-orang yang hidup pada jaman itu, namun ‘cara’ itu digunakan oleh Allah untuk meninggikan Anak Manusia?

Memang benar meskipun salib menjadi lambang hina, kutuk dan dosa dan ketika Kristus dinobatkan sebagai ‘kepala pendosa’, orang yang paling bersalah diantara seluruh manusia, kepadaNya telah ditimpakan/ dibebankan seluruh dosa umat manusia, pada saat Dia direndahkan serendah-rendahnya diantara seluruh mahkluk hidup- disaat yang sama(justru) Dia ditinggikan/dimuliakan diseluruh semesta alam. Alam menangis, halilintar menggelegar, gunung-gunung bergoyang ketika Sang Anak Manusia mati dan terpaku ditempat tinggi diatas bumi ditiang salib.

Sebuah ‘hukum’ yang bertentangan dengan pola pikir duniawi. Yesus mengatakan bahwa itulah arti dari “penghakiman”, ketika ‘penguasa dunia’ ini telah dilemparkan keluar(Yoh 8:31), sesuatu yang melambangkan logika, rasio, sesuatu yang masuk akal, yang secara umum dimiliki oleh manusia(‘aku’) ternyata menjadi sangat terbalik bagi Allah. Seolah-olah Allah ingin berkata ‘apa yang engkau(logika) pikirkan, percayai akan kugoncangkan dengan sesuatu yang tidak masuk logika-mu, sesuatu yang sangat tidak rasional, dan itu akan menyulitkan engkau untuk mempercayainya ketika engkau menggunakan akal sehatmu yang telah tercemar dengan urusan (cara pandang / spiritisme aku) duniawi. Yang sesungguhnya itu adalah mudah bagiKu dan tentu itu menjadi sulit bagimu untuk menerimanya. Karena itulah yang Kuperlukan adalah hanya ‘iman’. Iman terhadap apa yang akan Aku ‘tinggikan’ itu’.

Dalam rencana besar Sorgawi, apa yang dilakukan Allah melalui Yesus merupakan pertentangan besar yang berisiko tinggi. Ketika Yesus memutuskan untuk menggantikan hukuman manusia dengan diriNya sendiri; seluruh penghuni sorga terkejut sekaligus terkesima, kemungkinan terhilang dan terpisah dari Bapa merupakan resiko yang akan Yesus pikul. Namun keputusan itu sungguh-sungguh mulia, sebuah perwujudan daripada Kasih itu sendiri. Sang Pencipta mati untuk yang diciptakan, yang tidak berdosa menjadi kepala pendosa. Untuk inilah Yesus mengemban misi kematian yang mengerikan. Dan untuk itu maka pantaslah Dia akan ditinggikan oleh Allah.

Allah telah menetapkan sebuah hukum yang ganjil, yang sangat kontradiktif dengan hukum yang ada didunia. Sehingga itu memang sulit untuk dimengerti apalagi di-imani. Namun apapun dan bagaimanapun itu logika manusia, Dia telah menetapkan sebuah mekanisme yang unik. Dia meninggikan ‘sesuatu’ yang dipercaya dapat menarik semua orang datang kepadaNya. Dia telah membuat ‘ular tedung yang sejati’ yang mampu menarik semua unsur yang sejalan denganNya kembali kepada kodrat semula. Dia menetapkan sebuah hukum tarik menarik, Magnet Super yang mampu menarik segenap ciptaan dan manusia kepada kemerdekaan sejati; Hukum Ketertarikan; sebuah Kebenaran yang Membebaskan. Maukah anda mempercayainya?

Sesuatu Hukum Yang Tidak Masuk Akal
Dalam satu artikel lain (10 Kebenaran Tentang Injil)pernah ditulis sebagai berikut : Kebenaran Injil Ke #3
Bahwa sesungguhnya adalah suatu hal yang mudah untuk dapat selamat, dan sukar untuk terhilang, pada saat kita mengerti dan mempercayai betapa baiknya ‘Kabar Baik’ itu. Hal yang paling sulit adalah untuk belajar bagaimana mempercayai Injil(Kabar Baik) yang diajarkan oleh Yesus sendiri.

Bahwa sesungguhnya adalah suatu hal yang mudah untuk dapat selamat, dan sukar untuk terhilang, pada saat kita mengerti dan mempercayai betapa baiknya ‘Kabar Baik’ itu. Hal yang paling sulit adalah untuk belajar bagaimana mempercayai Injil(Kabar Baik) yang diajarkan oleh Yesus sendiri.

Apakah benar demikian? Semudah apakah keselamatan itu dapat diperoleh sehingga lebih sulit terhilang dari dapat selamat? Tetapi mungkin ada unsur benarnya bila keselamatan itu memang mudah untuk diperoleh berarti memang berita itu adalah ‘Kabar Baik’ dan sangat baik sekali. Namun hal ini dapat menimbulkan paradox, karena begitu mudahnya keselamatan itu diperoleh sehingga membuat saya justru tidak mempercayainya-bahwa itu akan semudah itu. Benar bukan? Tentu karena hal ini akan menuntun kepada kebenaran selanjutnya dari kalimat diatas bahwa : hal yang paling sulit adalah mempercayai apa yang sesungguhnya diajarkan Yesus melalui Injil Kabar Baik itu.

Apa yang diajarkan oleh Yesus melalui Injil itu? Diatas telah disinggung soal “Hukum Ketertarikan”. Sepertinya hal ini mirip dan identik dengan paham panteisme atau rahasia ajaran new ages yang terkenal dengan slogannya ‘The Secret’, atau mirip dengan ajaran bpk Yohanes Surya yang dikenal dengan Mestakung(semesta mendukung). Apakah demikian? Ataukah justru ajaran-ajaran(nabi-nabi palsu) itu yang ‘meniru’ Injil Kristus Yesus, mari kita teliti lebih lanjut.

Ajaran-ajaran diatas menekankan bahwa alam semesta memiliki suatu hukum/aturan/mekanisme alamiah yang tidak kelihatan yang bekerja secara harmonis terhadap seluruh mahkluk hidup. Seluruh makhluk hidup berinteraksi satu sama lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Terhubung satu sama lain baik secara fisik maupun dalam dimensi tak terlihat. Apa yang dilakukan satu mahkluk akan berpengaruh atau mempengaruhi mahkluk yang lain. Ketika seseorang berfikir sesuatu maka alam semesta akan mendukung mewujudkan pikirannya dalam kenyataan. Dengan kata lain sikap dan tindakan seseorang akan menarik alam semesta memenuhi hukum alamiah tersebut untuk mewujudkan apa yang diinginkan dengan tingkat keyakinan yang kuat. Mirip dengan hukum IMAN bukan?

Demikianlah orang menyebutnya dengan berbagai istilah; ada yang menyebutnya sebagai iman, keyakinan, kepercayaan, obsesi, cita-cita atau juga kodrat tergantung dari bagaimana dan latarbelakang apa yang dimiliki/dialami oleh orang tersebut. Namun yang jelas bahwa ‘kepercayaan’ tersebut membuat seseorang yang memilikinya kepercayaan itu, yakin bahwa apa yang diyakininya akan terjadi seperti yang dia percayai, tergantung seberapa besar ia percaya. Dengan kata lain seperti sebuah hukum yang mutlak yang mempunyai berkesimpulan : bahwa apa yang seseorang percayai dengan sungguh-sungguh, sesungguhnya bisa terjadi karena hukum alam akan mewujudkan hal itu. Semudah itu!

IMAN vs Keyakinan

Alkitab menjelaskan dalam Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. Firman Allah tersebut memang benar demikian, dan demikianlah makna dari kata IMAN yang sesungguhnya, namun maksud(contexs) Iman disini tidak berhubungan dengan urusan ‘segala sesuatu keinginan manusia terhadap segala sesuatu lahiriah didunia ini’. Iman disini berbicara soal kepercayaan umat tebusan yang sementara tinggal didunia ini terhadap tanah perjanjian, Sorga dimana umat manusia akan menuju kesana, ketempat semula, pulang kembali ketanah itu melalui janji-janji tentang kedatangan Mesias, sang Juruselamat itu. Lebih jauh iman disini berbicara untuk penebusan manusia terhadap dosa-proses pemulihkan kembali; Iman kepada Yesus Kristus dan Ajaran-ajaran-Nya (Iman Yesus).

Ada dua konsep Iman yang berseberangan. Keduanya menggunakan istilah yang sama yaitu ‘beriman kepada Kristus’, tetapi keduanya memiliki pengertian yang berbeda. Bahkan hal itu dapat dikatakan sebagai ‘satu jenis kepercayaan’ yang sama sekali berbeda maksudnya dengan kata IMAN dalam pandangan Alkitab. Yang pertama adalah ‘beriman sepenuhnya’ dan yang kedua adalah ‘beriman saja’.

IMAN adalah unsur kepercayaan sepenuhnya kepada-Nya, bukan sekedar percaya bahwa dia ADA, dan bukan sekedar percaya pada nama-nya Kristus, melainkan percaya kepada apa yang Dia(Kristus) telah, sedang Dia lakukan dan akan Dia selesaikan!.

Konsep yang kedua (beriman saja) adalah kepercayaan/agama yang dipegang oleh ‘setan’ dan para pengikutnya. Mengapa demikian? Karena keberadaan Tuhan dan kuasa-Nya, kebenaran firman-Nya, adalah kenyataan yang Setan dengan pengikut-pengikutnya sekalipun tidak dapat memungkirinya. Mereka mengakui adanya keberadaan dan kuasa Allah dimuka bumi ini. Alkitab mengatakan bahwa ‘Setan-pun juga percaya dan gemetar”- tetapi ini bukanlah iman yang dimaksud dalam Alkitab(Yakobus 2:19). Bukan Iman yang mendatangkan kedamaian, justru sebaliknya ‘iman yang mendatangkan rasa penasaran’.

Konsep pertama (beriman sepenuhnya) adalah kepercayaan/agama yang dipegang oleh orang anak-anak Allah. Mereka tidak hanya percaya Allah ada, mereka tidak saja beriman bahwa Dia berkuasa, tetapi mereka melakukan/mempraktekkan/menerapkan iman itu dalam kenyataan hidup mereka. Iman itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Berupa apa? Apakah itu untuk beriman terhadap segala sesuatu pemenuhan keperluan/kebutuhan hidup, cita-cita, tujuan-tujuan yang ingin diraih dan sederetan daftar panjang impian yang hendak diwujudkan dalam hidup ini? Bukan sekedar untuk inilah Alkitab berbicara soal iman yang sepenuhnya, jauh lebih mulia dari sekedar untuk kebutuhan jasmani saja.

Beriman sepenuhnya kepada Allah berbicara mengenai satu penyerahan total atas kuasa kemauan yang sepenuhnya kepada Tuhan; dimana hati itu dipasrahkan pada-Nya, kasih sayang diletakkan padaNya, maka inilah iman. Hal ini berbicara soal percaya terhadap sesuatu yang mampu mengubah manusia lama menjadi baru, iman yang berhubungan dengan rencana penebusan manusia kepada ciptaan semula, berfokus kepada keyakinan yang menghasilkan satu Hati yang baru yang bukan sekedar percaya Allah ada, tetapi menyerahkan kehendak, kemauan, dan hidup ini sepenuhnya dalam mekanisme yang telah Dia tetapkan untuk menebus Hati Nurani menjadi Bait Suci untuk-Nya! Sebuah kepercayaan yang menyadari bahwa ketika kemauan hati dari manusia dipercayakan kepada Tuhan, maka pada saat itulah Tuhan akan mengerjakan ‘pekerjaan tanganNya’ melalui hukum ketertarikan untuk menebus, membenarkan, menyucikan dan memberikan hati yang baru, memberikan sebuah kehidupan yang HIDUP kepada seseorang.

Iman yang bekerja dengan kasih serta menyucikan jiwa. Melalui iman yang semacam inilah hati dibaharui didalam gambaran citra Allah. Hati yang tadinya belum dibaharui dan tidak tunduk kepada hukum Allah, dan sama sekali tidak takluk sekarang berubah menjadi menggemari peraturan-peraturanNya yang suci itu dan bersama penulis mazmur berani berkata: “Betapa kucinta tauratMu! Aku merenungkan sepanjang hari” (Mazmur 119:27). Dan kebenaran hukum itu dipenuhi didalam kita, “yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh” (Roma 8:4).

Pada saat itulah seseorang dapat mengklaim bahwa dia beriman sepenuhnya kepada Kristus, bahwa dia mempercayai bahwa Allah sanggup/mampu melakukan pekerjaan penebusan-Nya ketika kita menyadari bahwa dia ADA dan dia MAMPU. Disaat mana kita mengakui ketidakmampuan kita disaat itulah Dia mampu bertindak; disaat kita mencari, disaat itulah Dia ditemukan; disaat kita mengetok, disaat itulah pintu terbuka; disaat kita menyadari bahwa kita tidak mencari Dia(dan jauh daripada-Nya), justru disaat itulah Dia telah menemukan kita di lembah yang paling dalam(lembah kekelaman). Dan disaat itulah Dia telah mengubah hati itu dan tinggal didalam hatimu karena IMAN. Jadi iman disini berbicara untuk menunjukkan adanya hukum ketertarikan yang telah Allah sediakan bagi mereka yang mau mengimani hal itu dapat terjadi didalam rencana penebusan itu. IMAN adalah unsur kepercayaan sepenuhnya kepada-Nya, bukan sekedar percaya bahwa dia ADA, dan bukan sekedar percaya pada nama-nya Kristus, melainkan percaya kepada apa yang Dia(Kristus) telah, sedang Dia lakukan dan akan Dia selesaikan!. Yaitu melakukan ‘penebusan’ bagi anda dan saya.

Ketenangan Jiwa (Tempat Peristirahatan Yang Sesungguhnya)’Peacefull Pause’

“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu….dan jiwamu akan mendapatkan ketenangan” (Matius 11:28-29). Yesus mengetahui beban berat yang dipikul oleh umat manusia. Secara fisik manusia mengalami keletihan/kelelahan karena hidup yang sulit dimana setiap hari harus bekerja memenuhi keperluan untuk hidup, menghadapi permasalahan demi permasalahan yang sepertinya tak kunjung usai. Manusia lesu tak bersemangat karena hari esok akan sama dengan hari ini, susah dan tidak akan lebih baik sehingga rasanya hidup ini seperti sebuah beban berat yang melelahkan. Mungkin ada sebagian orang yang tidak merasakan hidup seperti ini karena hidupnya tidak susah dan segala sesuatu yang diperlukannya sudah tersedia, serba berkecukupan. Meskipun demikian secara umum umat manusia sedang hidup dalam kelelahan secara fisik.

Tetapi Firman diatas tidak hanya berbicara tentang kelelahan fisik yang diderita manusia. Firman tersebut berbicara untuk kondisi spiritual manusia yang sesungguhnya sedang mengalami keletihan. Hal itu berbicara tentang ‘jiwa’ yang sedang letih dan sedang mencari tempat perhentian yang abadi. Jiwa manusia sedang merana mencari kelepasan yang melegakan, merefleksikan peperangan besar yang sesungguhnya sedang terjadi didalam diri setiap umat manusia-perang terhadap dirinya sendiri! Kegelisahan yang tidak dapat dikatakan.

Dalam kondisi seperti ini(gelisah), maka jiwa manusia sedang mencari tempat yang dapat memberikan ketenangan. ‘Jiwa’ itu bergumul untuk menemukan identitasnya yang sejati, dengan mencoba mencari jawaban akan misteri hidup ini. Beberapa jiwa yang bertemu dengan jawaban yang pasti akan mengalami ‘kelegaan’ namun yang tidak menemukannya akan menjadi arwah penasaran, karena tidak dapat menemukan jalan pulang.

Didalam kondisi kegelisahan seperti itu, Yesus mampu melihat dan berjanji memberikan kelepasan yang sebenarnya. Yesus tidak berbicara sekedar kelepasan secara fisik tetapi lebih jauh daripada itu. Dia sedang berbicara tentang sebuah kelepasan jiwa, untuk menemukan tempat ‘beristirahat’ yang melegakan.

Kegelisahan akan hidup yang dialami oleh setiap manusia sesungguhnya merupakan refleksi dari sikap mencintai diri sendiri. Semakin besar rasa cinta terhadap diri sendiri maka kecenderungan semakin gelisah pula dia merasakan beban hidup ini. Karena semua dinilai dan dihubungkan dengan kepuasan akan diri sendiri, mencoba mencari jawaban yang memuaskan yang menurutnya dianggap benar. Sementara disatu sisi mereka tidak berpaling kepada yang memberikan hidup.

Yesus sepertinya mengetahui sifat manusia seperti ini. Seolah-olah Dia ingin membuka pemikiran kita bahwa sesungguhnya apa yang sedang dialami oleh ‘jiwa’ manusia yang sedang gelisah adalah bagaikan hidup yang meletihkan karena mencoba mencari jawaban yang dapat melegakan jiwanya. Yesus menawarkan sebuah solusi yang pasti bahwa Dia akan memberikan ‘kelegaan’. Dia ingin mengatakan bahwa cara yang Dia tawarkan itu begitu mudah(kuk yang Dia pasang) yaitu melalui teladan yang pernah dia alami(belajarlah pada-Ku). Selain itu Yesus menjamin bahwa sebagai sumber jawaban, Dia bersedia dengan sabar menanti dan hendak menjawab semua pertanyaan(lemah lembut dan rendah hati). Itu semua Yesus tawarkan sebagai suatu kepastian dan jawaban atas kegelisahan jiwa manusia.
Kelemahlembutan adalah berhenti memperjuangkan agenda kita sendiri, dan percaya bahwa Allah akan memperjuangkan agenda-Nya demi kepentingan kita. Kelemahlembutan adalah lawan dari kesombongan diri sendiri dan kepentingan diri sendiri. Itu berasal dari percaya pada kebaikan Allah dan pengendalian-Nya atas keadaan kita. Sekolah Sabath 21 Februari 2010
Sesungguhnya kasih akan diri sendirilah(cinta diri) yang membawa manusia dalam semua kegelisahannya. Manusia tidak mau menyangkal(diri) akan kenyataan itu dan gantinya mencintai diri(meratapi diri) seharusnya mereka lari(menyangkal diri) kepada sang Pencipta(dan mengikut Aku). Barangsiapa yang melakukan hal itu; percaya akan janjiNya; menyerahkan jiwa mereka pada tangan penjagaan-Nya; kegelisahan hidup mereka kepada hukumNya; maka mereka akan mendapat damai sejahtera dan ketenangan yang abadi. Tidak ada segala perkara dimuka bumi ini yang dapat mendatangkan kesedihan, keletihan yang tak kunjung usai bilamana mereka percaya bahwa Yesus mampu merubah ‘kegelisahan’ itu melalui kehadiran-Nya. Kehadiran-Nya itulah yang melenyapkan kesedihan, kegelapan yang menyelimuti suasana jiwa yang sedang meradang. Melalui penyerahan yang sempurna terdapatlah sentosa yang sempurna. Oleh sebab itu Tuhan berkata: “Yang hatinya teguh yang memiliki kepercayaan(iman) yang penuh(sempurna)…. Orang-orang inilah yang KU-jagai dengan damai sejahtera” Yesaya 26:3. Sebuah jaminan yang pasti tentang suatu kondisi yang memberikan ‘kelegaan’ kepada jiwa yang gelisah.

Sementara itu Yesus memberikan teladan bagaimana menyangkal diri ini melalui peristiwa ‘salib’. Diatas kalvari, salib itu melambangkan suatu langkah penyangkalan diri yang sempurna. Cinta diri dan takut mati telah ditaklukkan ketika ‘diri’ itu berani menghadapi dosa dan maut. Tidak berfikir untuk kesenangan diri, tidak mencari keselamatan, kepuasan dan bentuk-bentuk alasan yang dapat membebaskan DiriNya dari resiko kematian bagi umat manusia. Kegelisahan-Nya dalam malam terakhir telah berhasil ditaklukkan ketika Yesus berhasil melihat ‘iman’ didalam tindakan penyangkalan diri itu yang nantinya akan membuahkan kemuliaan. Peristiwa ‘salib’ memberikan lagu gembira bagi kehidupan dibumi, bagi umat manusia; bahwa penyangkalan diri akan membuahkan kebebasan/kemerdekaan; sebaliknya, dengan mencintai diri sendiri justru membuahkan perasaan gelisah yang tidak terpuaskan.

Yesus melihat manusia ditempat-tempat yang tersembunyi sekalipun, tempat dimana kita berdoa sendirian, menyendiri, merenungkan akan hakikat dari hidup ini. Jika pada waktu itu perenungan dilakukan dengan kesungguh-sungguhan(kesadaran) akan keterbatasan kita dalam kemanusiaan ini serta menyadari dengan sepenuhnya kebutuhan akan pertolongan dari sesuatu yang lebih tinggi dari kemanusiaan kita, mencari hal itu dengan kerelaan untuk dituntun oleh energy yang lebih berkuasa, memohon terang supaya kita dapat mengenal ‘kebenaran’ yang sejati, dengan kerendahan hati mencari tuntunan Ilahi, pada saat itulah sesungguhnya secara tidak disadari para malaikat surga yang diciptakan Allah untuk ‘melayani’ manusia sedang menuntun/menerangi setiap kita untuk menemukan ‘Tuhan’. Hukum Ketertarikan itu sedang berlaku.

Didalam mekanisme penganugerahan Anak-Nya yang tiada taranya itu, Allah telah membungkus seluruh dunia(menebus) dengan satu suasana anugerah sama seperti atmosphere yang menyelubungi dan berputar dimuka bumi ini. Anugerah itu berlaku untuk semua mahkluk hidup yang berakal budi maupun yang kurang berakal budi. Semua mahluk yang ‘memilih’ untuk menghirup udara yang telah diberikan oleh Sang Pencipta untuk menghidupi seluruh sel yang ada didalam tubuh ini, adalah merupakan gambaran yang sama bagi mereka(orang) yang telah memilih untuk menerima ‘anugerah’ itu yang akan menghidupkan-menghidupi kehidupan rohani seseorang untuk bertumbuh menuju standard karakter dalam Yesus Kristus, baik pria maupun wanita.

Ketika manusia percaya dengan sungguh-sungguh akan mekanisme yang Allah telah atur dijagad raya, dibawah matahari, maka segala bentuk kecemasan yang tidak sepatutnya kita rasakan akan lenyap. Kehidupan kita tidak akan lagi dipenuhi oleh kekecewaan, ketakutan dan kegelisahan seperti dahulu maupun masa sekarang ini; karena segala sesuatu, baik kecil maupun besar, telah diserahkan ketangan Tuhan yang penuh Kuasa itu. Kita memasuki dimensi dimana kita akan menikmati satu kedamaian jiwa abadi, yang bagi orang lain sudah lama dicari-cari dan tidak didapatkan. Kedamaian-sukacita bukan dihasilkan karena upaya manusia mencari dan menciptakannya, melainkan hal itu telah ada untuk diterima bagi mereka yang mempercayai itu ADA di tangan Tuhan!

Dia Telah Ada(Alfa) dan Sedang Ada dan Akan Ada Selamanya(Omega)

Apa yang sesungguhnya telah, sedang dan akan Dia kerjakan bagi kita? Firman Allah menuliskan “Jadi siapa yang ada didalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang” (II Korintus 5:17). Apakah yang baru itu?

KAIROS : adalah momen ketika gerbang antara waktu dan kekekalan itu terbuka sehingga suatu peristiwa dapat terjadi sepenuhnya, seperti yang telah Allah tetapkan untuk mengubah nasib semua orang untuk selamanya.

Kembali Firman Allah menjelaskan dalam perumpamaan : “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Seperti angin yang tidak kelihatan, namun efek kerjanya dapat dilihat dan dirasakan dengan jelas, demikianlah Roh Allah bekerja di dalam hati manusia. Kuasa yang memperbaharui itu, yang tidak dapat dilihat oleh manusia, melahirkan satu hati baru didalam jiwa: yaitu menciptakan satu makhluk baru didalam gambaran citra Allah. (Kairos)

“Hati yang baru” ; merupakan tujuan akhir dari upaya penebusan yang menjadi agenda besar sepanjang abad dari kekekalan menuju kekekalan, dari Alfa ke Omega, awal kehidupan sampai akhir menuju kekekalan. Itu sudah dirancang pada mulanya untuk diakhiri dengan kesuksessan diujung akhirnya. Ketika Allah berfirman ‘semuanya baik’ maka Dia melihat pada akhir kehidupan ini manusia akan menjadi sempurna seperti yang Dia inginkan, mahluk Ilahi yang memiliki tabiat seperti Allah-KASIH.

Meskipun tujuan mulia itu sempat terganggu oleh sedikit kesalahan yang ‘fatal’, dan mengakibatkan sebuah ‘penundaan’, namun gema firman Allah ‘semuanya baik’ tetap terus berdengung disegenap semesta alam untuk mencari dan meyakinkan mereka yang mau menerima tawaran itu dan mempercayainya.

Untuk inilah Kristus telah ‘menawarkan’ diriNya melakukan suatu pekerjaan yang suci, misi penyelamatan. Suatu pekerjaan yang bertujuan untuk mengembalikan apa yang telah terhilang dari manusia. Kristus telah ada pada waktu rencana itu dibuat pada mulanya, Dia telah hadir disana, bahkan melalui Dia-lah penciptaan manusia dilakukan. Kristus tahu betul bahwa ciptaanNya itu sesungguhnya sempurna. Allah telah tetapkan itu untuk diterima dengan begitu jelasnya seperti semudah kita membedakan antara terang dan gelap (‘jadilah petang dan jadilah pagi’). Apakah Kristus kemudian ‘berhenti’ bekerja, berhenti untuk tidak mencampuri upaya-upaya menuju kesempurnaan itu? Tidak, bahkan Kristus sedang bekerja dan terus bekerja mengupayakan hal itu tercapai, dia sedang bekerja di bilik maha suci menjalankan tugas keimamatan bagi segenap manusia sesuai peraturan imam Melkisedek(Mazmur 110:4). Dia telah turun kebagian dunia yang paling rendah untuk menemukan manusia dan membawa keatas ketempat yang tinggi. Dia telah mengalami segala sesuatu yang pernah dan akan dialami seorang manusia. Dia senantiasa berupaya untuk mencari dan menyelamatkan meskipun semua upayaNya itu tidak dianggap oleh manusia. Dia tetap melakukan pekerjaanNya meskipun beberapa orang bahkan menolak-Nya. Dia tetap setia menanti, mengetok, menunggu agar terbuka pintu hati kita untuk memahami maksud-maksud pekerjaan-Nya. Dia tetap, telah dan selalu melakukan apa yang terbaik bagi penyelamatan manusia sampai-sampai tidak mampu berbicara dengan bahasa lisan dan menggunakan bahasa diam dalam kematian dan penderitaan untuk membuka kesadaran kita agar membuka diri. Bahkan Dia rela melepaskan hak keselamatan dan hidup kekal untuk menerima kematian bagi anda dan saya. Apakah kemudian Kristus berhenti setelah kematianNya.

Tidak! Dengan gigih pintu kematian-pun(alam maut) tidak sanggup untuk mengunci kehadiranNya dan membelenggu upaya penyelamatan manusia itu. Pintu kematianpun terdobrak dengan kasihNya, alam mautpun tak memiliki kuasa lagi atas upaya mencari dan menyelamatkan manusia. Dia keluar dan terus mencari, mencari, mencari. Kristus akan menyelesaikan pekerjaan itu dengan gemilang. Bila kuasa kematian(maut) yang menjadi kuasa tertinggi mampu dihancurkan, maka tidak ada lagi penghalang untuk menyelesaikan pekerjaan penebusan itu. Penebusan akan diakhiri dengan akhir kemenangan, manusia kembali kepada Allah dengan kesempurnaan sebagaimana ditetapkan Allah ‘sempurna’ dalam tabiat ! Menjadi manusia seutuhnya : Att-one-men!

Ketika kita melakukan kepercayaan seperti ini, dan memelihara hubungan dengan Kristus ini oleh iman serta melakukan penyerahan kehendak yang terus-menerus kepadaNya; selama kita melakukan hal ini, Dia akan bekerja didalam diri kita dalam kehendak dan perbuatan sesuai dengan kehendakNya. Apa yang dihasilkan dari mekanisme hukum ketertarikan ini adalah menjadikan kita mampu untuk berkata : “Namun aku hidup tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup didalam aku. Dan hidupku, yang kuhidupi sekarang didalam daging adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan Dirinya untuk aku” (Galatia 2:20). Demikianlah Kristus berkata kepada murid-murid-Nya; “Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu Dia yang akan berkata-kata didalam dirimu” (Matius 10:20). Kemudian dengan Kristus yang bekerja didalam dirimu, Anda akan menunjukkan roh yang sama serta melakukan pekerjaan yang baik—pekerjaan kebenaran dan penurutan.

Itulah sebabnya pada hakekatnya tak satu pun didalam diri kita sendiri yang dapat disombongkan. Karena kita sesungguhnya tidak melakukan apa-apa dalam proses penebusan ini. Hanya percaya saja(ber-Iman-saja=pembenaran oleh Iman). Kita tidak mempunyai alasan untuk mengagung-agungkan diri sendiri. Atau berkata bahwa aku telah melakukan ini itu untuk membersihkan diriku dari kenajisan. Satu-satunya dasar pengharapan kita ialah kebenaran Kristus yang dihisabkan kepada kita, yang ditempa oleh Roh Kudus-Nya yang bekerja didalam dan melalui kita.

Pada akhirnya mereka yang dengan keberanian penuh menerima hukum ketertarikan yang telah disediakan oleh Allah untuk anak-anakNya, dan mempercayai hal itu memiliki kuasa yang dahsyat yang mampu memberikan hidup yang sesungguhnya, maka mereka akan melakukan segala apa yang dapat mereka lakukan untuk menjadikan dunia ini menjadi tempat yang lebih baik sebagai tempat tinggal mereka-Heaven on Earth!

Ya….. ini semua terjadi karena Allah telah menetapkan sebuah hukum. Mekanisme Ilahi yang begitu jelas dan sederhana. Ketika Kristus ditinggikan dibumi maka Dia akan menarik semua orang datang kepada-Ku. Ketika bumi(yang adalah gambaran hati) telah meninggikan(mencari dalam ketulusan, kerendahan hati, merasa perlu) Kristus, maka hal itu akan menarik kita kedalam hadirat-Nya.

Hukum ketertarikan menjadi sebuah rahasia sepanjang abad yang menjadikan Injil Kabar Baik menjadi begitu sederhana dan mudah untuk diterima bagi mereka yang mencarinya dengan ‘lemahlembut’. Semudah itu, tetapi sebaliknya menjadi sulit bagi kita untuk mempercayainya. Sehingga diperlukan hanya IMAN.

Apakah kita ber-‘Iman’ ketika Dia datang?

Sabath, 27 Februari 2010
Tjokro B. Sinarjo

Leave a Reply