Iman Henry Ford

January 30, 2014 - Maxwel Kapitan

Iman Henry Ford
Tuesday, 30 March 2010 11:38
Henry Ford dilahirkan tanggal 30 Juli 1863 di Dearborn, Michigan, Amerika Serikat. Ayahnya berharap ia menjadi seorang pekerja ladang sehingga Ford segera diperkenalkan kepada kerja keras manual bertani. Walau masih kecil, ia sudah curiga bahwa entah bagaimana, banyak hal yang seharusnya dapat dikerjakan dengan cara yang lebih baik.Karenanya ia selalu bermain dengan berbagai logam sisa yang selalu ia ubah menjadi peralatan. Sementara teman-temannya menghabiskan hari-hari mereka bermain di ladang, Ford menghabiskan sebagian besar waktunya di sebuah bengkel kecil yang ia bangun dengan seizin ayahnya di sebuah gubuk di lahan keluarga.

Ketika berusia 12 tahun ia berjumpa dengan sebuah mesin jalanan dalam perjalanannya ke kota. Itulah kendaraan pertama yang bukan ditarik kuda yang ia lihat. Ketika mesin itu berhenti untuk memberi kesempatan bagi keluarganya lewat dengan kuda-kuda mereka, Ford sempat turun dan berbicara dengan sang insinyur sebentar. Sejak itu ide membuat mesin yang akan menempuh jalanan itu mengobsesinya. Walau seringkali terbentuk jurang yang sangat besar antara mendapatkan ide dengan menjabarkannya menjadi kenyataan, bagi Ford pekerjaan yang menarik itu mudah dan ia selalu yakin akan hasil-hasilnya.

Umur 17 tahun ia memutuskan bekerja menjadi masinis pemula untuk Drydock Engine Works walau ditentang oleh ayahnya. Ia menyelesaikan pelatihannya kurang dari setahun, kemudian melahap majalah ilmiah yang ada untuk mengkompensasikan pendidikan formalnya yang hanya sebentar itu. Melalui majalah-majalah ini ia mendapat suatu proyeksi fiksi ilmiah ke masa depan bagi Ford, walau semua ahli dan spesialis menyepakati satu hal: bensin tidak akan pernah menggantikan uap untuk menjalankan mesin.

Ford sempat kembali ke ladang keluarganya setelah meninggalkan pekerjaannya di Westinghouse, di mana ia bekerja sebagai mekanik khusus. Di sana ia tetap mengerjakan impiannya walau ditawari lahan oleh ayahnya. Tak lama, ia segera pergi lagi ketika ia ditawari pekerjaan sebagai insinyur sekaligus masinis di Detroit Edison Company. Ia mendirikan bengkel di belakang rumah kecil yang disewanya di Detroit sehingga ia bisa mengutak-atik mesin bensinya setelah pulang kerja. Tahun 1892, ketika ia berusia 29 tahun, mesin itu terwujud. Antara tahun 1895 hingga tahun 1896 Ford mengemudikan mobilnya tidak kurang dari 1000 mil, terus mengujinya untuk meningkatkan performanya sebelum akhirnya ia menjualnya dengan harga $200.

Karena masa depan mesin bensin itu diragukan, ia ditawari promosi dan kenaikan upah untuk berkonsentrasi pada mobil energi listrik, yang diramalkan akan menjadi satu-satunya sumber daya di masa depan. Ia menolaknya karena impiannya adalah: memproduksi kendaraan berbahan bakar bensin secara massal. 15 Agustus 1899 Ford meninggalkan Edison Company. Karena ia ingin membuktikan kekeliruan asumsi bahwa mobil itu mainan orang kaya, ia mendirikan Detroit Automobil Company dengan para investor yang dengan susah ia dapatkan.

Tetapi karena selama 3 tahun perusahaannya tidak pernah menjual lebih dari enam atau tujuh mobil, dan karena kepentingan para rekannya hanya ingin memproduksi mobil-mobil berdasarkan pesanan dan meraih keuntungan sebesar-besarnya, Ford mengundurkan diri pada Maret 1902. Sejak itu Ford bertekad untuk tidak lagi diperintah, dan menyadari prinsip sederhana: Anda harus mandiri dan mengurus usaha Anda sendiri.

Tahun 1903 ia merancang dua kendaraan khusus balapan yang ia sebut ‘999’ dan ‘Arrow’. Ford memenangkan balapan ini dan memperoleh publisitas yang ia perlukan untuk membuat orang mengetahui keberadaan produknya. Ia kemudian mendirikan Ford Motor Company dengan menyewa sebuah bengkel besar dan langsung bekerja dengan bantuan beberapa rekan. Dalam satu tahun ia berhasil menjual 1708 mobil, dan perusahaannya terus berkembang dengan berbagai tipe mobil yang dihasilkan. Dalam lima tahun, Ford Motor Company sudah mempunyai 1908 karyawan, memiliki pabrik sendiri, dan memproduksi 6181 mobil setahunnya yang dijual baik di Amerika dan Eropa, hingga akhirnya ia memproduksi 100 mobil dalam sehari (walau keputusan ini mendapat reaksi keras dari orang-orang karena takut tidak laku).

Tetapi ia tidak berhenti sampai di situ. Ia terus bertekad mencari pengetahuan baru di tengah persaingan, dan salah satu usahanya adalah dengan berusaha membuat bobot kendaraannya menjadi ringan. Mujur, ia mendapati sebuah bahan bernama baja vanadium dari rongsokan mobil Prancis yang ringsek saat balapan. Bahan ini sebelumnya tidak bisa dicetak di Amerika Utara, tetapi kemudian Ford bisa menemukan sarana untuk mencetaknya di Ohio. Setelah bahan didapat, ia kembali merancang Model T dan berkeinginan untuk melakukan produksi tunggal. Tentu saja rencana ini mendapat tentangan karena mobil masih dianggap mainan khusus orang kaya, dan tidak ada untungnya membuat satu model saja terutama yang tidak mahal harganya. Lagipula jalan beraspal masih sedikit dan bensinpun masih langka.

Tetapi Ford tetap percaya pada mobilnya. Ia merevolusi industri mobil dari yang tadinya industri ‘rumahan’ menjadi kompleks industri yang mahabesar yang mempekerjakan 4000 orang dan memproduksi 35.000 mobil model T setahunnya. Ia juga menjadi salah seorang yang pertama-tama menciptakan sistim perakitan yang dimekanisasikan. Bagian-bagian badan mobil yang digantung di udara dengan gantungan-gantungan mahabesar itu dikirimkan ke perakitan dalam urutan waktu tertentu sehingga waktu 10 jam yang biasanya dibutuhkan untuk merakit seluruh bagian mesinnya berkurang menjadi 5 jam. Akhirnya Model T sukses besar dan Ford membuka pabrik di seluruh dunia.

‘Segalanya itu mungkin… Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan, bukti dari segala sesuatu yang tidak kelihatan.’ Inilah kata-kata terakhir Ford. Imannya telah terealisasi lewat kehidupan dan pekerjaannya.

Leave a Reply