Ini Fakta Tentang Alkitab

April 17, 2017 - Amazing Facts

Pernahkah anda dibingungkan oleh banyaknya Alkitab versi Bahasa Inggris? Pernahkah anda memikirkan yang manakah yang harus anda pilih sebagai Alkitab untuk dipelajari?

Dalam jangka waktu beberapa generasi lebih dari 100 Alkitab versi Bahasa Inggris tersedia. The King James Version (KJV), the Revised Standard Version (RSV), Today’s English Version (TEV), New English Bible (NEB), Jerusalem Bible (JB), New American Standard Bible (NASB), dan the New International Version (NIV) adalah hanya beberapa versi terkenal yang banyak digunakan pada saat ini.

Setiap versi memiliki kekuatan dan kelemahan. Tidak ada versi yang sempurna. Namun bukan berarti bahwa memilih versi Alkitab untuk kita pelajari bukan hal yang penting. Alkitab adalah media yang Allah pilih untuk berkomunikasi dengan manusia, dan kita seharusnya menggunakan versi yang terbaik yang dapat kita miliki untuk mempelajari kedalaman dari Kebenaran Firman-Nya. Namun versi yang mana yang paling dapat dipercaya dan bagaimana kita dapat mengenalinya?

Para ahli mengevaluasi berbagai macam versi Alkitab mengikuti metode Naturalistik. Bagaimanapun juga kita akan menggunakan pendekatan iman yang juga menjadi bukti pertimbangan para ahli. Kita akan membandingkan berbagai macam versi dengan keterangan Alkitabiah dari Firman Allah yang telah diilhamkan. Versi terbaik yang sesuai keterangan ini akan menjadi pilihan Alkitab kita.

Firman Allah di deskripsikan dalam beberapa tempat di dalam kitab-kitab. Roma 10:17 memberikan kita karakteristik penting yang pertama: “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Firman Allah yang diilhamkan membentuk dan membangun iman kita. Ini adalah pondasi kuat kita, dan sebagaimana kita sungguh-sungguh mempelajarinya, keyakinan kita di dalam Allah dan firman-Nya akan bertumbuh. “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan” (1 Korintus 14:33). Akan tetapi Dia adalah “yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibrani 12:2); karakter Firman-Nya itulah yang membangun iman kita.

Karakteristik yang kedua yang dapat ditemukan di dalam 2 Timotius 3:16: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Mulai saat ini, semuanya jelas bahwa Firman yang suci memberikan doktrin yang murni dan arahan untuk kehidupan seseorang. Tidak tercemar oleh opini-opini atau pengajaran manusia.

Karakteristik terakhir dari Firman Allah yang akan kita tinjau terdapat di dalam 1 Petrus 1:23: “oleh Firman Allah, yang hidup dan yang kekal” Kitab-kitab diberikan oleh wahyu dari Allah dan yang telah dipelihara untuk digunakan oleh umat-umat Allah di setiap zaman. Kitab-kitab itu tidak pernah di sembunyikan dari umat manusia namun telah menjadi nyata, meyakinkan,dan menjadi bagian hidup dari gereja Kekristenan. Tidak hanya telah menetap di dalam hati setiap manusia, tetapi salinan-salinan setia kitab-kitab tersebut telah melewati dari satu generasi ke generasi berikutnya. Seringkali Yesus dan Paulus menegaskan keakuratan kitab-kitab tersebut dengan banyak mengutipnya. Tidak pernah mereka memperingatkan apabila Firman itu akan rusak dan hilang. Malahan Yesus menyatakan “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Matius 24:35; Markus 13:31; Lukas 21:33). Bahkan selama Masa Kegelapan, Kitab Suci tidak hilang. Wahyu 11:3, 4 memberitahu kita bahwa selama 1260 tahun Supremasi kepausan, kedua saksi—Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru— masih bernubuat dengan kuat.

Mazmur 12:6, 7 menuliskan, “Adapun segala firman Tuhan itulah perkataan yang suci adanya … Engkau juga akan menunggui mereka itu dan Engkau juga akan memeliharakan mereka itu dari bangsa ini sampai selama-lamanya.” Kita dapat melihat dengan jelas bahwa Kitab-kitab suci ini telah dijaga secara ajaib/ilahi turun temurun kepada generasi kita.

Sebagai kesimpulan, Alkitab menjelaskan Firman Tuhan memiliki karakteristik sebagai berikut. :

Tidak membuat kebimbangan atau keraguan, namun membangun iman kita
Alkitab bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran
Alkitab ini telah dijaga secara ajaib/ilahi dan telah memiliki peran aktif di dalam gereja sepanjang masa.

Setelah menetapkan karakteristik Firman Allah, kita akan membandingkan berbagai macam versi Alkitab dengan karakteristik tersebut.

Firman Allah membangun iman

Karakteristik pertama dari Firman Allah adalah Firman tersebut membangun iman kita. Hal ini berlaku untuk semua terjemahan alkitab yang ada. Melalui bantuan Roh Kudus, poin poin penting keselamatan dapat dimengerti, dan banyak orang dapat menghubungkan perubahan yang mereka alami dengan versi Alkitab satu atau yang lain. Namun masih terdapat aspek yang lebih luas dari hal ini yang perlu di selidiki lebih lanjut.

Dampak umum apa yang dimiliki oleh penyebaran versi-versi Alkitab terhadap iman orang-orang kepada Firman Allah? Tentu saja ini merupakan hal yang tidak dapat diukur secara pasti, karena terdapat banyak factor yang mempengaruhi masyarakat. Akan tetapi umumnya kita dapat mengamati perbedaan sikap masyarakat saat ini terhadap Alkitab di bandingkan dengan sikap mereka dahulu ketika terdapat hanya ada satu versi Alkitab yang diakui.

Ketika Alkitab versi King James digunakan sebagai alkitab utama. Para pendeta betul-betul mengkabarkan perkabaran dari Alkitab itu, dan para orang awam bersemangat dan berketetapan hati untuk menghafalnya. Sebagai Buku suci, dulu Alkitab sangat di hormati, Iman kepada Allah dan kuasa Firman-Nya dahulu dijunjung tinggi.

Pada saat ini, terdapat perbedaan pandangan. Iman di dalam Tuhan dan Firman-Nya pada titik yang terendah pada zaman ini. Banyak sekali masyarakat yang tidak menghormati Kitab suci. Para pendeta tidak lagi mengabarkan isi Firman Allah, malahan menyampaikan khotbah-khotbah filosofi dengan pesan-pesan umum dari Kitab Injil. Jarang sekali para orang awam berketetapan hati untuk menghafalkan isi dari Alkitab. Bahkan wabah ketidak pedulian terhadap isi yang paling dasar di dalam Alkitab telah menodai pemuda-pemuda gereja1.

Apakah versi-versi modern telah memberikan kontribusi pada kondisi yang disesalkan ini. Mari kita mepertimbangkan beberapa cara dimana versi-versi modern ini dapat mendorong situasi seperti ini.

Pertama, dalam beberapa tahun belakangan ini, terdapat kemajuan meluas dari terjemahan “pidato modern”. Meskipun terjemahan-terjemahan ini membantu beberapa orang, terjemahan tersebut kurang memiliki rasa hormat dalam menumbuhkan penghormatan dan serta mengindahkan Firman Allah. Akitab adalah merupakan buku bersejarah, benda purba, suara Ilahi, tetapi ketika dibuat layaknya buku biasa, Alkitab akan di perlakukan layaknya benda biasa pula. Sebuah penelitian dari versi “Good News Bible (TEV)” atau Alkitab Kabar Baik, mengindikasikan bahwa para mahasiswa “pertama mudah dimengerti karena seperti yang mereka katakan, layaknya membaca koran. Namun setelah itu mereka memiliki ketertarikan untuk menggunakannya kembali- dengan alasan yang sama!” 2.

Kedua, versi modern tidak dapat dijadikan sebagai hafalan. Ketika semua orang menggunakan King James Version, ayat-ayat yang sama sering di perdengarkan berulang kali dimana membantu ayat-ayat tersebut untuk terus diingat. Namun sekarang, ayat-ayat dibacakan dari berbagai versi yang “hampir” dikenal sebagai ayat yang sama. Masyarakat nampaknya tidak dapat menentukan terjemahan yang mana yang perlu diingat.

Ketiga, ketika anda memulai menggunakan versi terjemahan masa kini (modern), tidak lama anda akan menemukan perbedaan antara terjemahan tersebut dengan versi King James Version yang akrab diperdengarkan. Pada saat anda membuka Lukas 4:8, anda akan menemukan ayat dimana ketika Yesus dicobai ditengah-tengah padang gurun, PerintahNya “Lalulah daripadaKu, Iblis” tidak tercatat (anda hanya akan temukan di dalam Alkitab Bahasa Inggris King James Version, dalam versi Terjemahan Baru Bahasa Indonesia tidak ditemukan) Bahkan tidak ada catatan kaki untuk menandai kelalaian ini. Secara serupa anda mungkin beranda-andai apa yang terjadi dengan panggilan Yesus kepada orang-rang berdosa “untuk bertobat” (Markus 2:17 dan Matius 9:13) atau pada baris terakhir dalam Doa Bapa Kami (Matius 6:13).

Pandangan lain pada versi yang paling terbaru (modern) mengungkapkan kebingungan tambahan. Dalam RSV, MV, dan NEB, anda akan menemukan catatan kaki ke Lukas 23:34 yang menunjukkan bahwa beberapa naskah kuno menghilangkan perkataan Yesus, “Bapa, ampunilah mereka; sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Tiba tiba hal ini menimbulkan pertanyaan, “Apakah Yesus benar-benar mengatakan hal itu?” Tampaknya para ahli mempertanyakan hal ini, jadi mengapa anda tidak?

Pembandingan terjemahan masa kini (modern) dengan King James Version mengungkapkan lebih dari dua ratus kasus dimana kebenaran sebuah ayat sangat serius dipertanyakan, baik dengan dihilangkan atau dengan catatan kaki. Yang paling terungkap dari semuanya itu adalah Yohanes 7:53-8:11 (catatan Yohanes tentang wanita yang ditemukan berzinah) dan Markus 16:9-20 (Catatan Markus tentang kemunculan dan kenaikan Yesus). Catatan-catatan kaki dan bacaan-bacaan kecil dapat menolong, namun mungkinkah pengetahuan modern membuat pelajar Alkitab kewalahan dengan berbagai komentar-komentar kritikan yang berlebihan dari versi yang satu ke versi yang lain.

Kita akan melihat alasan utama penyebab penghilangan ayat. Namun pada saat ini, hal tersebut dapat dijadikan alasanbahwa penyebaran terjemahan-terjemahan tersebut telah melemahkan iman orang dalam otoritas Kitab-kitab Suci.

Segera setelah penerbitan dari Alkitab versi abad ke 19th, sebuah artikel Katholik Dublin Review membuat sebuah klaim mengejutkan: “ Prinsip ‘kembali kepada Alkitab’ terbukti tidak benar, ini akhirnya membuktikan bahwa Kitab Suci tidak berkuasa tanpa Gereja (Katolik) sebagai saksi yang menginspirasi Kitab Suci tersebut, pengawal integritas, dan sebagai lambang dari pengertiannya. Dan ini akan menjadi jelas untuk semua manusia yang mana Gereja yang benar, Ibu kandung, pemilik Alkitab yang sesungguhnya” 3

Hal ini adalah suatu pemikiran yang menenangkan. Protestanisme sendiri tidak memiliki pijakan dalam keadaan yang terpisah dari iman kuat di dalam Firman Allah. Apabila Protestan berhenti memandang Alkitab sebagai Firman Allah yang dapat dipercaya, pada saat krisis, kuasa apa yang mereka akan pandang?

Untuk menyimpulkan penemuan kita, kita melihat bahwa semua terjemahan cocok dengan karakteristik “membangun iman”. Namun sebuah pertanyaan muncul oleh karena penyebaran terjemahan modern yang mana masyarakat dahulu memiliki kepercayaan terhadap kuasa dari Kitab Suci.

Firman Allah berguna bagi ajaran

Karakteristik yang kedua dari Firman Alah adalah dapat bergunna bagi pengajaran, menegur, mengoreksi, dan menuntun pada kebenaran. Karakteristik penting dari Firman Tuhan ini bergantung pada pembaca yang memperbolehkan Roh Suci untuk mengungkapkan kebenaran. Roh Suci tidak dapat di hambat baik oleh prasangka pribadi atau prasangka pihak lain.

Setiap terjemahan Alkitab berisi prasangka dari penerjemah Alkitab tersebut; besarnya tergantung dari metode yang digunakan untuk menerjemahkan. Semakin bebas menerjemahkan, semakin besar kemungkinan prasangka yang terdapat di dalamnya, dan semakin kurang dapat dipercaya sebagai tujuan pembelajaran. Untuk mengutip, seperti Living Bible, bukan Alkitab yang baik untuk dipelajari. Sebuah kutipan sebagian besar adalah interpretasi dari Alkitab— definisinya harus dipengaruhi oleh kepercayaan penerjemahnya.

Terjemahan dinamik seperti NEB, TEV, dan Phillips juga tidak disarankan sebagai bahan pembelajaran Alkitab. 4 Alkitab-alkitab ini diterjemahkan dengan memberikan asumsi “apa yang ingin dimaksudkan penulis Alkitab” itu tuliskan. Meskipun alkitab tersebut sangat ringan dibaca, anda tidak dapat yakin bahwa anda membaca lebih dari ide pikiran para penterjemah dalam Alkitab tersebut.

Metode terbaik bagi terjemahan untuk mempelajari Alkitab adalah terjemahan yang formal.5 KJV, RSV dan NASB adalah contohnya. 6 Terjemahan-terjemahan ini mencoba untuk menyampaikan arti dalam bagian Alkitab, sementara pada waktu yang sama menyuguhkan Firman yang asli. Ketika terdapat kata benda dalam ayat yang asli, terjemahan formal secara umum akan sesuai dengan kata benda dalam bahasa Inggris. Kata kerja akan tetap menjadi kata kerja, dan sebagainya. Sementara metode ini akan masih tetap meninggalkan keburaman atau ambigu dalam perikop tersebut, pembaca setidaknya memiliki terjemahan harafiah dari Firman yang asli. Melalui bantuan Roh Kudus, akan dapat memahami makna untuk dirinya sendiri. The KJV dan NASB memberikan kita bantuan tambahan melalui menekankan kata kata dimana penerjemah merasa perlu untuk menambahkan dalam perikop untuk memberikan pengertian yang lebih jelas.

Terjemahan-terjemahan yang diterjemahkan secara formal jauh lebih kurang terpengaruh oleh ide-ide prasangka pribadi dari penerjemah dan mereka lebih tepat untuk karakteritik Firman Tuhan kita yang kedua.

Ketika menggunakan berbagai macam terjemahan untuk mengajarkan pengajaran/doktrin, anda akan dapati bahwa beberapa doktrin lebih mudah diajarkan dari versi satu dari versi yang lain. Namun pengajaran-pengajaran yang umum bagi iman Kekristenan dapat ditemukan disetiap terjemahan. Bagaimanapun juga KJV menyediakan banyak pengajaran-pengajaran yang yang lebih jelas daripada yang lain. Terutama kebenaran tentang nubuatan Daniel dan Wahyu. Harus di catat bahwa lebih sulit untuk membuktikan ketuhanan Kristus ketika menggunakan terjemahan modern. Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri sebuah pertemuan yang diadakan oleh sebuah kelompok orang muda yang terlihat seorang pelajar Alkitab yang rajin. Saya terheran mengetahui bahwa mereka menolak ketuhanan Kristus dan mendukung posisi mereka dengan mengacu pada terjemahan kata demi kata dari berbagai macam terjemahan modern.

Di antara semua versi terjemahan modern, anda akan mendapati hampir setiap ayat membuktikan ketuhanan Kristus telah diubah dari satu ke yang lain versi.(Lihat 1 Timotius 3:16, Efesus 3:9, dan Roma 14:10,12 di dalam RSV, NEB, NASB, TEV, NIV, dan JB; dan Kisah Para Rasul 20:28 dan Roma 9:5 di dalam RSV, NEB, and TEV.) Ini jelas bahwa telah terjadi perubahan mendasar di dalam terjemahan semenjak KJV. Dengan begitu, kita melanjutkan diskusi dari karakteristik Firman Allah yang diinspirasikan.

Kitab Suci dijaga oleh Ilahi

Krakterisik kita yang terakhir adalah yang paling membuka pikiran. Dikatakan bahwa Firman Allah telah dijaga secara Ilahi dan telah memiliki sebuah peran yang aktif dalam Gereja dari abad-ke abad. Sebelum kita menggali ke dalam diskusi ini, penting untuk melihat sedikit informasi dari latar belakang.

Ketika melihat sejarah dari isi Alkitab, kita harus berhati-hati bahwa naskah yang asli ditulis dalam bahasa yang umum pada jaman itu. Pada dasarnya, Perjanjian Lama ditulis dalam Bahasa Ibrani, dan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Naskah pertama dalam Alkitab, ditulis oleh penulis-penulis yang terinspirasi, tidak lagi ada di dunia ini. Hanya salinan-salinan yang masih tetap menjadi saksi dari naskah yang asli. Ketika salinan-salinan ini dibandingkan satu dengan yang lain, beberapa ratus ribu perbedaan dapat di temukan. Banyak dari versi versi yang ada terlihat salah ketik,atau terlihat jelas salah, namun beribu ribu versi lainnya harus diperhatikan secara seksama.

Untuk membantu mengevaluasi berbagai macam bacaan, para ahli telah membagi naskah naskahnya menjadi jenis teks, yaitu kelompok naskah naskah yang membuat bacaan yang sama. Selama bertahun-tahun para ahli telah menguji naskah naskah yang masih ada, mempertimbangkan berbagai macam bacaan mereka, dan telah menyusun teks ibrani dan yunani milik mereka yang mana mereka percaya telah dengan akurat mewakili bacaan daripada naskah-naskah yang asli.

Ketika terjemahan telah di terbitkan, para ahli memilih kedua baik teks Yunani dan Ibrani yang di terjemahkan, atau mereka merumuskan teks mereka sendiri.

Teks Perjanjian Lama telah didudukkan pada pokoknya 8 semenjak penemuan dari gulungan Laut Mati. Teks Perjanjian Baru, bagaimanapun telah menjadi perdebatan yang panas. Dari beberapa tahun kebelakang terdapat perseturuan antara dua teks Yunani – The Received Teks 9 dan Kritikan Teks. 10

Teks Perjanjian Lama telah didudukkan pada pokoknya 8 semenjak penemuan dari gulungan Laut Mati. Teks Perjanjian Baru, bagaimanapun telah menjadi perdebatan yang panas. Dari beberapa tahun kebelakang terdapat perseturuan antara dua teks Yunani – The Received Teks 9 dan Kritikan Teks. 10

Kritikal teks mengambil bagian dari teks tipe Alexandrian dan termasuk teks-teks yang diterbitkan sebagai United Bible Society, Nestle-Aland, dan Westcott-Hort. Perjanjian Baru dari terjemahan paling modern seperti RSV, TEV, NEB, dan NASB di terjemahkan dari teks-teks kritikal ini.

Sebuah versi Alkitab diyakini hanya sebaik teks yang mana di alih bahasakan. 11 Maka dari itu kira harus menentukan Teks Yunani manakah yang terbaik – The Received Teks atau Kritikal Teks. Ini mungkin terdengar seperti tugas yang berat untuk seseorang tanpa latar belakang yang suka mengupas naskah secara mendalam. Namun melalui ajaran alkitabiah dari penjagaan berikut, kita tidak akan menemukan kesulitan di dalamnya. Teks Yunani yang lebih dipilih harus satu-satunya yang telah bermain peran aktif dalam gereja sepanjang jaman.

Kritikal Teks telah menerima pujian mendunia dalam beberapa ratus tahun belakangan, sebagai bukti adalah Alkitab telah di terjemahkan dari teks ini dalam jumlah yang besar. Seperti penjelasan di atas, bacaannya sangat dipengaruhi secara luas oleh deretan manuskrip Alexandrian(atau jenis teks). Lebih dari 5000 naskah Yunani yang ada, hanya sedikit yang berguna (sering lebih sedikit dari 10) yang berisi tipe teks ini. 12 Namun, yang menyolok di antara ini terdapat dua naskah yang banyak ahli-ahli menilai tinggi daripada naskah-naskah yang lain. Teks ini dipanggil Sinaiticus dan Vaticanus, dan berumur sedikit lebih tua 200 tahun dari tulisan asli 13

Sinaiticus dahulu ditemukan pada tahun 1844 oleh Constantine Tischendorf ketika mengunjungi St. Catherine sebuah biara yang terdapat di Gunung Sinai. Dia menemukan 43 lembaran lembaran naskah di dalam sebuah keranjang sebelum akan dibakar. 14 Beberapa waktu kemudian dia memperoleh sisa lembaran-lembaran naskah dari biara dan pada tahun 1862 Dia mempublikasikan naskah yang lengkap.

Sejarah Vaticanus tidak se-dramatis seperti Sinaiticus. Paus Nicholas V membawa naskah ke Vatican pada tahun 1448. 15 Selama bertahun-tahun, Gereja Katolik Roma menjaganya sangat ketat sehingga tidak ada ahli yang diperbolehkan untuk dapat mempelajari nya sampai jangka waktu yang ditentukan. 16 Bagi mereka yang dikabulkan permintaannya untuk melihat naskah dipastikan mereka tidak memiliki kertas ataupun tinta/alat tulis. Kemudian apabila merek tertangkap melihat terlalu dekat dengan bagian tertentu, du a pelayan akan merenggut buku itu dari hadapan mereka! 17 Pada tahun 1866, namun, pihak Vatican akhirnya mengijinkan Constantine Tischendorf, di bawah pengawasan, untuk menyalin naskah tersebut. Pada tahun 1867 Ia mencetak naskah tersebut.

Menyadari bahwa naskah kuno ini berisi bacaan-bacaan yang sangat berbeda dari isi yang terdapat dalam Received Teks, Tischendorf sangat bergembira pada saat itu. Ia pervaya bahwa kerja kerasnya akhirnya mengembalikan Firman Tuhan untuk umat manusia yang pernah hilang selama 1500 Tahun.

Pada masa Tischendorf, Perjanjian Baru telah ada kira-kira 1700 tahun lamanya. Alexandrian Teks telah keluar dari peredaran selama 1500 tahun. Apabila Alexandrian Teks adalah bentuk murni dari Perjanjian Baru, hal ini menjelaskan bahwa gereja dahulu dirampas dari keuntungan-keuntungannya sebesar 88 persen dari jangka waktu semenjak tulisan itu dituliskan! Betapa aneh ide yang keluar konsep dari deskripsi Alkitabiah dari Firman Allah. Alkitab telah hidup dan kekal di dalam Gereja Allah sepanjang zaman. Tidak pernah hilang, hanya untuk ditemukan pada keranjang sampah atau tergeletak di dalam rak-rak yang terlupakan di Vatican. Sebagai tambahan, “keuntungan-keuntungan” Alexandrian Teks untuk gereja telah memang meragukan.

Tidak hnya tipe teks ini yang tidak cocok dengan standart Alkitabiah kita yang mewakili Firman Tuhan secara akurat, namun juga memiliki ketidak cocokan dengan standart-standart para ahli untuk keakuratan tulisan. Perbedaan-perbedaan kecil di dalam tipe-tipe sangat normal; namun, jumlah variasi-variasi pada Alexandrian teks sangat besar sekali. Tidak termasuk kesalah-kesalahan kecil seperti pengejaan, Sinaiticus dan Vaticanus tidak sependapat 3000 kali kepada satu sama lain dalam lingkup 4 Injil sendiri. 18 Ini mengartikan bahwa satu atau yang lain salah sebanyak 3000 kali. Rata-rata tersebut untuk sebuah perselisihan pendapat untuk setiap ayat dalam Injil-injil! ini benar, kenyataannya lebih mudah untuk menemukan 2 ayat berikatan yang mana 2 naskah berbeda anatara satu sama lain, dari pada 2 ayat berikatan yang mana keduanya setuju secara untuh. 19

Tanpa diragukan lagi, naskah-naskah ini menderita dari ketidak pedulian dalam merawatnya. Vaticanus memperlihatkan banyak sekali lokasi-lokasi dimana penulistelah menulis kata yang sama atau frasa kedua kali dalam rangkaian, 20 indikasi yang jelas apabila tulisan yang ada tidak di periksa. Penulis dari Sinaiticus kadangkala melewati baris dalam menyalin dan membuat banyak kesalahan-kesalahan yang telihat jelas yang mana pada jaman Sinaiticus dipergunakan, sepuluh pembaca-pembaca yang berbeda mencatat perbaikan-perbaikan. 21 Bagaimanapun juga, daripada mempertanyakan keandalan dari naskah-naskah ini, para ahli telah menerima banyak keanehan bacaan-bacaan ini. Sinaiticus dan Vaticanus adalah dasar dari dua ratus penghilangan dari Perjanjian Baru versi modern yang disebutkan di dalam buku kecil ini.

Dalah beberapa tahun Alexandrian Teks dianggap representasi yang murni atau “netral” dari teks asli penulis-penulis Alkitab. Tetapi ahli baru telah mengkorfirmasikan bahwa apa yang telah dipulihkan seharusnya tidak boleh dianggap teks asli, namun sederhannya teks yang telah memiliki otoritas tertinggi di Alexandria, Mesir pada abad ketiga. 22 Alexandria, Mesir, sebuah area yang tidak ada disebutkan dalam naskah-naskah asli, 23 telah mengklaim atas kepercayaan kita sebagai kepemilikan teks murni. Sebuah tinjauan ke dalam sejarah dari Alexandria, khususnya selama zaman naskah-naskah ini dipercayai telah di hasilkan, cukup mengungkapkan.

Alexandria, pusat besar perdagangan dan budaya Helenistic, tetkenal oleh karena sekolah-sekolah filosofinya. Pengajaran filosofi meresap pada komunitas – termasuk Gereja Kristen. “Pemikir” Kristen menganggap filosofi Yunani sebagai sebuah alat untuk mengerti dan menerapkan Kitab Suci, dan sebagaimana para penyembah berhala disekeliling mereka, mereka memulai sekolah yang menjadi focus inti dan dorongan dari kehidupan intelektual dan spiritual mereka. Pemimpin sekolah biasanya ahli dalam filosofi Yunani, dan berpengaruh besar terhadap ilmu agama dari para orang Kristen di Alexandria.

Salah satu pemimpin penting dari sekolah ini pada saat itu adalah Origen. Origen memperlajari secara mendalam tentang Platonisme dan pengajaran ketabahan, mencari keharmonisan dari prinsip-prinsip filosofi mereka dengan Kitab Suci. Untuk melakukan hal tersebut, Ia mengkhiaskan Kitab Suci – Sebuah proses yang memngijinkan dia untuk mengintrepertasikan Kitab suci dalam bentuk yang mereka inginkan. Lebih lanjut, Ia mempertanyakan keautentikan bagian tertentu dadri Kitab Suci yang tidak sesuai dengan kepercayaan istimewa yang Ia miliki. Pengajaran-pengajarannya tidak hanya mempromosikan perilaku kritis kepada Kitab-kitab Suci, namun mereka membantu mengembangbiakkan banyak ajaran sesat di Alexandria, termasuk doktrin Arianisme. 24

Kontroversi Arian terpusat sekitar sifat dari Kristus. Kepercayaan Arian mengajarkan bahwa Kristus dahulu adalah seorang ciptaan, sedangkan para tradisional pada waktu itu mengajarkan bahwa Kristus itu kekal, sepenuhya bukan ciptaan, dan sejajar dengan Allah Bapa. Lebih dari enam puluh tahun kontroversi ini membabi buta. Hanya ketika jika terlihat satu pihak telah menang, pihak yang lain akan bangkit untuk mendominasi.

Konstantin, pencampur besar dari penyembahan berhala dan Kekristenan, adalah kaisar ketika kontroversi dimulai pada 320 A.D. Lebih tertarik kepada politik dari pada agama murni, Konstantin berkepentingan sisi manasaja yang tampaknya menjadi keuntungannya. Mula-mula, Konstantin mengasingkan pemimpin Arian, namun 3 tahun kemudian (328 A.D.), Ia tidak hanya menyambut kembalinya pemimpin Arian ini namun juga membuat salah satu dari mereka sebagai penasihat pribadi. 25

Ini terjadi pada saat kenaikan pengajaran Arianisme yang mana Vaticanus dan Sinaiticus percayai telah diproduksi. 26 beberapa ahli percaya bahwa mereka telah diidentifikasi dengan 2 dari 50 Alkitab yang Konstantin permintaan untuk disiapkan pada tahun 331 A.D. 27 Vaticanus dan Sinaiticus keduanya ditulis dalam perkamen kulit dari penulis-penulis kaligrafi yang bertalenta, sebuah spesifikasi yang sangat mahal temasuk dalam permintaan Konstantin. 28

Konstantin memanggil Eusebius dari Kaisarea untuk bertanggung jawab dalam persiapan Alkitab-Alkitab. Eusebius adalah seorang yang terkenal sebagai penggemar antusias dari Origen, dan cenderung kepada kepentingan Arians. Jika pribadi tersebut ambil andil dalam persiapan naskah-naskah ini, maka tidak heran bahwa Kritikal Teks – dan akibatnya hampir setiap versi modern – kurang dukungan kuat untuk hal ketuhanan dari Kristus. Apabila Eusebius menggunakan kemampuan kritikal yang mana saja dari penasihatnya, Ia akan cenderung untuk membedah Kitab-Kitab dan berpikir bahwa Ia memperbaikinya. Ini dapat menjelaskan beberapa sifat penghilangan dari Alexandrian Teks dan demikian juga kebanyakan dari versi-versi modern.

Yang lain terlihat penghilangan yang kurang berhati-hati dalam naskah-naskah ini yang dikarenakan permintaan Konstantin butuh bergegas yang ekstrem dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Diulang kembali, Konstantin mendesak Eusebius untuk menekan projek dengan waktu yang singkat. Perbaikan-perbaikan tidak hanya akan membutuhkan dana tetapi memakan banyak waktu, dan sedikit yang dibuat. 29

Tentu saja, tanpa dokumentasi lebih lanjut, tidak seorang pun dapat memasktikan sejarah yang benar dari Vaticanus dan Sinaiticus. Namun terlihat seperti mereka terpengaruh oleh sekolah-sekolah filosofi dari Alexandria. Apakah melalui Eusebius, kritis yang sesat dari lainnya, atau satu dari ajaran sesat yang tidak terhitung banyaknya yang dihasilkan oleh Alexandria, 30 hal ini terlihat jelas bahwa orang-orang Alexandrian gagal dalam mencoba untuk “memperbaiki” Kitab Suci. Dalam 200 tahun tipe teks ini jatuh ke dalam ketidak percayaan dan tidak dipergunakan. 31

Menarik untuk menyadari bahwa beberapa penghilangan dan keanehan bacaan dari Vaticanus dan Sinaiticus dahulu ditemukan hanya di dalam Kitab Suci Roma Khatolik. Dr. Benjamin G. Wilkinson, professor dalam bidang Sejarah dan mendiang presiden dari Wahington Missionary College, telah mengusulkan bahwa Jerome, pengagum terbesar dari Origen dan Eusebius, membawa banyak kesalahan Eusebio-Origen kedalam Vulagata Latin. 32 Vulgata Latin telah diakui sebagai Alkitab para Katolik selama berabad-abad. Versi Bahasa Inggris Rheims-Douay di terjemahkan dari alkitab tersebut. Sejarah penuh dengan episode-episode ditempa kekerasan oleh Gereja Katolik yang melawan semua orang yang tidak mau menerima Vulgata Latin. Menyangkal Kitab mereka juga menyangkal otoritas Gereja yang diangkat sendiri. Ketika versi-versi modern mulai muncul dengan beberapa bacaan-bacaan yang sebelumnya disebarkan hanya dalam Kitab-kitab Katholik, Thomas S. Preston dari St. Ann’s Church di New York mencatat dalam koleksi pendapat dan ulasan Dr. Warfields sebagaimana berbunyi, “kepuasan kita untuk mencari berbagai hal yang mereka telah adopsi dari bacaan versi Katholik, dan melalui penegasan pengetahuan mereka kebenaran dari Kitab Suci kita [Katholik].” 33

Kesimpulannya, kita menemukan bahwa Kritikal Teks sangat sulit cocok dengan deskripsi Alkitabiah dari Kitab Suci. Ini berdasarkan dari sebuah tipe teks yang tergeletak diam selama 1500 tahun kecuali untuk beberapa terjemahan yang ditahan dalam Gereja Katholik. Untuk tambahan, teks tersebut melambangkan pandangan Arian yang terkenal pada abad ke empat di Alexandria, dan berisi banyak sekali kelalaian/penghilangan seperti perbaikan naskah yang sesat dan penyalinan yang kurang berhati-hati.

Sebuah pemeriksaan dari Received Teks, di samping itu, hasil-hasilnya membuat cerita yang berbeda. Tidak seperti sedikit naskah-naskah yang mendukung Alexandrian Teks, Received Teks berasal dari Tipe teks Byzantine yang mana mewakili 80 hingga 90 persen dari semua naskah-naskah Yunani. 34 Jumlah tersebut sekitar 4000 saksi! Dipastikan lebih dari berates-ratus tahun saksi-saksi ini datang dari beberapa lokasi yang berbeda – Yunani, Konstantinopel, Asia Kecil, Palestina, Syria, Alexandria, dan bagian lain dari Afrika, tidak disebutkan Sicily, Italia selatan, Gaul, Inggris, dan Ireland. 35 ini sangat kontras dengan lokasi lokasi yang dibatasi dan jangka waktu dari Alexandrian Teks.

Meskipun tidak ada dari naskah Yunani dari tipe teks byzantine sebelum 400 A.D, banyak dari para ahli setuju bahwa tipe teks ini akan mendunia dan manjadi menonjol di antara naskah-naskah Yunani, karena teks ini telah hadir lebih dahulu. 36 Memang, Bacaan Byzantine yang khusus ditemukan di dalam semua versi yang terdahulu, 37 pada pohon lontar, 38 dan kutipan-kutipan Kitab dari pendiri-pendiri gereja mula-mula. 39 banyak sekali tempat-tempat yang dapat ditunjukkan oleh tipe-teks Byzantine sebagai yang paling awal dari tipe teks manapun. 40 ini merupakan kekuasaan Kitab suci dari Gereja Syrian, Gereja orang Wldensia di Utara Italia dan Gereja Orthodox Yunani. Pengajaran Wilkison juga memberi kesan bahwa tipe-teks Byzantine adalah Kitab Suci dari gereja-gereja yang mula mula seperti Gereja Celtic di Skotlandia dan Irlandia, dan Gereja Gallic di selatan negara Perancis.

Pada masa Zaman Kegelapan, kemurtadan kelihatannya hampir menelan kaum Kristiani, namun Allah masih memiliki orang-orang yang tinggal dan beserta dengan FirmanNya selamanya. Sebagai gereja yang benar melarikan diri kepada padang belantara (Wahyu 12:6, 14), menolak kesesatan dan berpegang teguh pada Kitab Suci. Yang paling menonjol di antara orang-orang percaya ini adalah orang-orang Waldensia, yang menggunakan terjemahan Latin dari naskah Byzantine pada tahun 157 A.D. 42 Berpergian sebagai pedagang-pedagang dan penjual keliling, mereka diam-diam menyebarkan bagian dari Salinan Ayat yang berharga di tangan mereka.

Ketika Bahasa Yunani dan buku-buku mulai dipelajari lagi, Eropa seperti bangun dari kematian setelah 1000 tahun masa kegelapan. Sebuah kebangkitan untuk belajar pun terjadi dan Allah membangkitkan manusia untuk membaringkan dasar dari pergerakan perbaikan terbesar di dalam sejarah. Eramus dahulu diberkahi dengan kecerdasan yang sangat luar biasa yang mana ia dapat mengerjakan 10 jam pekerjaan dalam satu jam saja. Ia membuat kagum Eropa dengan kesarjanaannya yang luar biasa. 10 kolom dalam katalog dari perpusatakaan Museum Inggris diambil dari hasil terjemahaan, pengeditan atau keterangan yang ia kerjakan. 43 Sebagai tambahan, ia dahulu adalah seorang penulis yang aktif. Pembaharu sejati, Erasmus menulis beberapa buku yang mengguncang Eropa dengan menyingkapkan ketidakpedulian dari para biarawan, kethakayulan dari pendeta dan pendirian keras, agama yang kasar pada waktu itu. 44 Namun dari semua terbitannya, pekerjaannya yang paling besar adalah Perjanjian Baru yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Yunani. Hal ini adalah perhatian ilmiah yang pertama yang telah dibayar dari teks Yunani Perjanjian Baru lebih dari beribu-ribu tahun. Versi yang selanjutnya dari teks Yunani diketahui sebagai Textus Receptus atau Received Teks.

Ketika Erasmus menyiapkan Perjanjian Baru Yunaninya, ada berates-ratus naskah yang harus ia periksa, dan perjalanannya yang luas membuat dia dapat melakukan hal tersebut. Tetapi setelah banyak belajar, ia memilik untuk menggunakan sedikit naskah yang mewakili. Naskah-naskah ini bagian luas dari semua naskah yunani Perjanjian Baru, adalah teks Byzantine itu sendiri- teks yang sama yang telah di jaga dan digunakan oleh gereja di padang belantara. Ini bukan suatu kebetulan. Melalui penerbitan dari Perjanjian Baru Yunani milik Erasmus, Pemeliharaan Allah yang menyediakan jalan untuk banyak terjemahan selanjtunya yang menjadi pembimbing Gereja-Nya yang benar yang mana 2/3 Eropa terpecah dari Gereja Katholic dalam Reformasi Besar Protestanisme.

Sebagai lampu pedoman kebenaran yang telah membawa kepada Reformasi, kita menemukan terjemahan demi terjemahan di terjemahkan dari Received Text dalam produksi terjemahan Jerman dari Perjanjian Baru. Dasar yang sama pada Terjemahan Olivetan di Bahasa Perancis, terjemahan Diodati Bahasa Itali, dan terjemahan Tyndale Bahasa Inggris.45

Ketika waktu nya sudah tepat, Penyertaan Allah diarahkan kepada terjemahan Bahasa Inggris yang akan diproduksi yang akan menjadi yang terbaik untuk segala jaman. Dengan teks Yunani milik Erasmus, beberapa Alkitab berpengaruh yang dimiliki orang Waldensia, dan buku buku unggul dari Tyndale, 46 empat puluh tujuh ahli memproduksi versi King James tahun 1611.

Para penerjemah KJV adalah orang-orang yang memiliki integritas spiritual begitu juga pelajar yang terkemuka dalam bidangnya. Pemimpin umum dari kegiatan ini adalah Lancelot Andrews, salah satu yang terbaik dari para penulis pada zamannya. Diketahui menghabiskan 5 jamnya dalam sehari untuk berdoa, kepribadiannya yang saleh tidak perlu dipertanyakan lagi. Malahan King James yang biasanya sombong menghormati pribadinya. Meskipun orang-orang ini tidak sependapat sepenuhnya dalam hal doktrin, mereka semua memiliki rasa hormat dalam memandang Kitab Suci yang terinspirasi oleh kuasa Ilahi ini. Sebagai tambahan, kegiatan menerjemah ini diatur sedemikian rupa atas bagian apapun dari Kitab Suci. Setiap bagian dari pekerjaan di tinjau secara kritis sedikitnya empat belas kali.

Dengan Perjanjian Lama berdasarkan tipe teks Masoretic, dan Perjanjian Baru berdasarkan tipe teks Byzantine, pekerjaan telah selesai tepat waktu untuk dibawa oleh para bapa-bapa musafir ke Amerika dimana selama tiga ratus tahun menjadi Kitab Suci yang “sah” untuk berjuta juta orang yang berbahasa Inggris dalam Dunia Baru. Sebagai tambahan, teks itu telah menjadi Alkitab para pembicara di negara negara yang berbahasa Inggris di muka bumi ini. Teks ini juga telah menjadi pedoman untuk menuntun para pria dan wanita dalam setiap tahap kehidupan dan setiap tingkat pengetahuan dan pendidikan. Begitu dalamnya sehingga bahasanya meresap kedalam berbagai pengertian Bahasa, yang mana bisa saja mereka tidak bisa mengerti koran atau membaca satu buah buku yang mana beberapa frase tidak dipinjam secara sadar maupun tidak sadar dari KJV. Pengaruh luas dan positif dari versi yang sah tidak dapat di lebih-lebihkan. 47

Kitab Perjanjian Baru dari gereja mula mula, gereja padang belantara, gereja reformasi, dan kitab Suci dari para pendiri kita semuanya terpokok di dalam Received teks. Darah para martir yang telah tertumpah di atasnya, bangsa-bangsa yang telah dibangun karenanya, dan penyertaan Ilahi yang telah menjaganya. Received Teks adalah teks Yunani yang telah memainkan peran aktif di dalam gereja di segala zaman, dan sangat pas dan cocok dengan karakteristik kita yang ketiga dari Firman Allah yang hidup.

Perubahan yang dramatis pada pengetahuan

Perbedaan yang jelas antara Received teks dan Kritikal teks sangat mengejutkan, namun Kritikal Teks telah memegang posisi terhormat di dalam dunia pendidikan pada tahun tahun belakangan ini. Di awali oleh versi Revised Standar yang akan memberitahu anda bahwa semenjak “kita sekarang memiliki banyak lagi naskah naskah kuno” (yaitu, Vaticanus dan Sinaiticus yang telah disebutkan seblumnya), kita “jauh lebih dilengkapi untuk mencari dan memulihkan kata-kata asli dari Teks Yunani.” Ini juga akan memberitahu anda bahwa teks Yunani dari King James Version “dirusak oleh kesalahan”. Anda mungkin heran bagaimana para ahli datang dengan kesimpulan yang demikian tentang versi sah yang sangat dihormati ini. Untuk memahaminya kita harus kembali ke dalam sejarah sekitar 100 tahun.

Setengah akhir dari abad ke-19 membawa banyak perubahan kepada dunia. Selagi kebenaran yang besar seperti sabat dan perkabaran ketiga malaikat sedang dikumandangkan, kesalahan yang memedihkan seperti ilmu-ilmu gaib, evolusi dan Marxisme juga sedang bangkit. Sama seperti pergerakan pengajaran sesat ini dicari untuk melawan Allah sebagai pencipta dari alam semesta, para ahli yang kritis mencoba untuk meragukan Alkitab sebagai Firman Allah yang diilhami. Dengan mengabaikan penjagaan Allah kepada teks Alkitabiah, manusia memulai untuk menganalisanya seperti mereka menganalisa potongan sastra-sastra kuno pada umumnya. Terutama di antara manusia tersebut adalah Brooke Foss Wesrcott dan Fenton John Anthony Hort.

Westcott dan Hort keduanya adalah professor di Cambridge yang terkenal di bidang kritikal tekstual. Orang-orang ini membagi beberapa poin yang menarik, termasuk sebuah pesona dari teori evolusi. Tetapi satu keyakinan yang hampir menyatukan kedua orang ini adalah negative prasangka kepada Received Teks. Dr. Hort pada waktu itu berumur 23 tahun dan tidak pernah sekalipun mempelajari kritikal tekstual ketika dia menjelaskan tentang Received Teks sebagai “kekejian” dan “kehinaan”. 48 terlepas dari ketidak ortodoksan orang-orang ini, pendidikan mereka telah menggunakan pengaruh yang dibuat di atas bacaan-bacaan tersendiri dari versi-versi modern.

Pada tahun 1890 perubahan besar dari KJV telah dipertimbangkan. Hingga saat ini, pengejaan dan tatabahasa telah dirubah dan banyak kata-kata terjemahan lama yang digunakan di KJV dipikir memiliki arti yang tidak jelas. Beberapa kritikan percaya bahwa meningkatnya pengetahuan dan ketersediaan Vaticanus dan Sinaiticus belakangan ini mengharuskan perbaikan. Meskipun ada banyak ketakutkan dan ketidakpercayaan dalam pemikiran public, hal ini didukung di bawah kondisi dimana tidak ada perubahan yang dibuat dalam KJV kecuali itu benar-benar dibutuhkan. 49 empat puluh empat orang, termasuk Westcott dan Hort, diminta untuk menjadi Komite Revisi/Perbaikan dan mereka memulai apa yang seharusnya dilakukan dalam waktu singkat.

10 tahun yang melelahkan setelahnya, komite memperkenalkan kepada public yang tercengang dengan jumlah terjemahan yang terbaru berdasarkan Teks Yunani yang berbeda dengan Received Teks. Versi Revised 1881 membuat 36000 perubahan dalam Bahasa Inggris dari KJV, dan hampir 6000 dalam teks Yunani. 50 Singkatnya sebelum Alkitab dikeluarkan kepada masyarakat, Westcott dan Hort menerbitkan teks kritikal atas Perjanjian Baru milik mereka. Perjanjian Baru Yunani ini ditarik dari Vaticanus dan Sinaiticus, dan pokoknya adalah teks Yunani yang mana dipergunakan oleh Komite Revisi untuk menerjemahkan dari Yunani kedalam Bahasa Inggris. 51 Ini kemudian menjadi bukti yang mana Westcott dan Hort telah menjalankan pengaruh yang tidak seimbang kepada Komite Revisi.

Banyak dari orang-orang tidak menyadari bahwa Westcott dan Hort telah, dibawah ikrar kerahasiaan, yang beredar di antara Salinan Komite Revisi dari edisi Perjanjian Baru Yunani milik mereka. 52 dengan fasih menguraikan atas metode metode yang telah mereka pergunakan untuk menyusun teks mereka, mereka mengkagetkan anggota yang lain dari komite. Metode mereka memberikan status istimewa kepada Vaticanus dan Sinaiticus, 53 dan telah membentuk pemikiran dari semua pendekatan kritikal tekstual. 54

Satu hal dari hal yang paling menyesatkan dari peraturan mereka menyatakan bahwa naskah tertua berisi bacaan istimewa. Vaticanus dan Sinaiticus telah sekitar 100 tahun lebih tua dari naskah naskah manapun yang ada yang mendukung Received Teks. Bagaimanapun juga, umur tidak menjamin kesucian. Kenyataannya, beberapa naskah-naskah yang paling awal malahan rusak/tidak murni. Sejarah mencatat bahwa selama abad yang mengikuti penyelesaian dari Perjanjian Baru, naskah-naskah mengalami penderitaan kekerasan yang hebat. 55 ini terjadi pada saat itu yang mana orang orang bidaah diketahui telah membuat ketidak murnian dalam Salinan dari Kitab Suci. Bahkan ketika Paulus ada, seseorang menyebarkan naskah-naskah yang palsu/sesat (lihat 2 Tesalonika 2:2). Pada zaman dari Vaticanus dan Sinaiticus tidak ada ukuran untuk mempertimbangkan kemurnian bacaan mereka. Kenyataannya, hal tersebut dapat menjadi dasar dari mempertanyakan keakuratannya. Naskah-naskah ini dapat terselamatkan karena jarang digunakan. Iklim kering dari Mesir dan kekokohan dari biara tidak cukup untuk menjelaskan keutuhan mereka. Naskah yang dapat dipercaya dari Kitab Suci sangat amat dihancurkan dari penggunaan terus menerus sementara naskah-naskah ini diawetkan karena tidak digunakan. Satu yang harus dipertanyakan mengapa naskah tersebut tidak dipergunakan ketika Salinan dari Kitab Suci sangat berharga dan sedikit? 56

Seperti layaknya teori evolusi, teori Westcott dan Hort berisi sebuah missing link. Mereka harus menjelaskan mengapa kebanyakan naskah-naskah mendukung bacaan Byzantine dari Received Teks dan buka untuk Bacaan Alexandrian dari Kritikal Teks. Disadari bahwa terlalu ambigu untuk bersikeras bahwa berbagai macam penulis, yang dipisahkan waktu dan ruang dan bekerja sendiri, yang segala “ubahan” naskah mereka sehingga diproduksi bacaan yang seragam dari tipe teks Byzanrine, Westcott dan Hort merancang sebuah teori. Mereka menteorikan bahwa pada abad keempat, sebuah perintah sah kegerejaan telah menadopsi sebuah bentuk kestandartan dari Teks Yunani. Mereka beralasan bahwa Teks Yunani, dengan demikian disebarkan, berisikan banyak kesalahan. Teori ini menjadi terkenal sebagai Syrian Recension.

Meskipun para sarjana menerima teori tersebut sementara saja, kesalahannya kemudian terungkap dan dibantah. Tidak ada bukti sejarah atas revisi yang sah dari Teks Yunani. Bahkan jika teori tersebut benar, ini mengasumsikan bahwa orang-orang yang mana hanya 200 tahun dari yang asli sangat tidak peduli sampai mereka tidak dapat menyadari naskah yang benar untuk digunakan sebagai yang sah. Anehnya, sekarang hampir 1900 tahun dari yang asli, para ahli merasa lebih baik untuk dapat menghakimi dari pada yang mereka bisa. Bapak Frederick Kenyon, seorang pelopor dalam bidang papirologi dan untuk waktu yang lama sebagai director dari Museum British, menyimpulkan ketika dia menulis, “tidak semua teori buatan dan ilusi semata, membayangkan dengan sia sia sebuah pemikiran yang berbakat, seperti banyak produk dari kritik kritik modern, yang mana berputar jarring tanpa ujung dari kedalamannya, yang akan dihapus esok dengan sapu yang kejam dari pikiran yang masuk akal?” 57

Ketika teori Syria Recension dihancurkan, risalah ilmiah Westcott dan Hort ditinggalkan tanpa dasar. Namun para ahli masih menolak untuk mengakui tangan penyertaan Tuhan dalam menyebarkan Received Teks. Tanpa penjelasan yang pas mengapa tipe teks Byzantine ditemukan sangat bayak dalam naskah-naskah Yunani dari seluruh dunia, 58banyak dari para ahli masih berpegang teguh dengan kerangka dari kritisme tekstual yang dibuat oleh Westcott dan Hort. Jadi, edisi yang paling terkenal dani teks Yunani pada saat ini –Nestle-Aland dan UBS-sedikit bervariasi dari teks Westcott-Hort.

Bagaimanapun juga, ketidakpastian menang karena semakin banyak para ahli cendikiawan menyadari kelamahan dari Teks Alexandrian dan pengetahuan Westcott dan Hort 59 yang telah begitu rupa membentuk ilmu pengetahuan dari kritisisme tekstual. Pada zaman Westcott dan Hort, dipercayai bahwa teks asli dari Perjanjian Baru telah hampir dipulihkan. Namun saat ini banyak ahli yang telah datang pada kesimpulan untuk mempertimbangkan hal ini sebagai tugas yang hampir tidak mungkin dikerjakan. 60

Sementara yang lain berputus asa, kita dapat memiliki suatu jaminan bahwa teks yang sama gereja gunakan melalui zaman ke zaman masih mencerminkan keakuratan dari tulisan asli dari Perjanjian Baru. Dan teks tersebut pada hari ini dikenal sebagai Received Teks.

Versi yang mana?

Memiliki iman bahwa Allah menjaga FirmanNya dalam gereja sepanjang abad membawa kepada penerimaan dari Received Teks sebafai yang paling dipercaya dari Perjanjian Baru Yunani. Namun bagi barangsiapa yang tidak dapat membaca Bahasa Yunani, dibutuhkan terjemahan.

Melihat kepada Versi Alkitab Bahasa Inggris yang tersedia. Anda akan menemukan bahwa hanya versi-versi yang menggunakan Received Teks sebagai dasar untuk Perjanjian Baru yang mana dimiliki oleh King James. 61 terutama dalam hal ini, adalah King James Version itu sendiri. Setelah kita lihat, lebih dari 300 tahun KJV telah membangun iman para pembacanya, menjadi sebuah terjemahan formal yang berguna untuk pembelajaran doktin, dan keduanya, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru di dasarkan oleh tipe teks yang mana telah dijaga dengan rahmat surgawi melewati zamn oleh para imamat yang percaya. Sesungguhnya hal ini cocok/pas untuk deskripsi alkitabiah kita untuk Firman Tuhan.

Ini bukan berarti, bagaimanapun bahwa KJV adalah sebuah terjemahan yang sempurna. Satu kelemahannya adalah kemampuannya untuk dibaca. 62 meskipun kesulitan ini selalu dilebih-lebihkan oleh orang-orang yang mencela KJV, benar adanya bahwa Bahasa Inggrisnya tidak diperbarui semenjak 1769. Sehingga berisi kata kata yang masih kolot. Ini bukan menjadi masalah untuk siapa yang telah tumbuh dengan membaca KJV, namun bahasanya mungkin dapat mematahkan semangat yang lainnya. Bagi barangsiapa yang memiliki kesulitan dengan Bahasa Inggris dari KJV, Versi Baru King James 63 sangat direkomendasikan.

Dibandingkan dengan kekurangan dari Teks Yunani 64 yang diikuti oleh versi-versi terbaru, kelemahan-kelemahan dari KJV 65 sangat sedikit. Perjanjian Baru dari versi-versi terbaru di dasarkan dari teks Mesir yang ditolak oleh kaum Kristen 1500 tahun lalu. 66 Sementara kita dapat mengakui poin-poin yang baik dari versi modern dan menghargai kegunaan mereka untuk sebagai referensi dan komentari, 67 namun tidak ada yang lebih dapat dipercaya Belajar Alkitab Bahasa Inggris daripada KJV. Penerjemah KJV tidak hanya menyediakan terjemahan Bahasa Inggris yang akurat 68 dari naskah aslinya, namun mereka telah dengan ahli memberikan bahasa Inggris dengan gaya sastra yang sesuai bagi kehormatan dari Tulisan yang Kudus ini. 69 Meskipun penerbit telah berharap untuk memperbanyak keuntungan mereka melalui menerbitkan versi-versi yang dapat menggantikan KJV, namun KJV masih tetpa menjadi alkitab yang paling dipercayai di mayoritas orang Kristen yang berbahasa Inggris.

Sebagai mana kita berdiri di hari-hari terakhir dari sejarah dunia ini, iman kita dalam Firman Tuhan harus kuat. Kita harus dengan oercaya diri kembali kepada Kitab Suci untuk oenyertaan dan agar dapatuntuk menunjukkan kebenarannya yang menyelamatkan untuk orang lain dengan jelas. Sementara versi-versi yang lain seringkali membuat kebenaran ambigu yang relevan, King James Version dengan menyolok menegaskannya. Tidak ada versi yang lain yang berbicara begitu meyakinkan unuk masalah-masalah akhir zaman ini. Dengan pastin bahwa terdapat tujuan Kudus pada pekerjaan penerbitan dan pemeliharaan dari Salinan yang berkuasa dari tulisan Kudus itu. Sebagaimana kita belajar Firman Yang Kudus, semoga setiap kita pribadi diyakinkan bahwa “tetapi Fiman Allah kita tetap untuk selama-lamanya” (Yesaya 40:8). Dan biarlah kita dapat menerima kebenaran yang mengagumkan ini bukan hanya secara intelektual, namun membuat mereka sebuah semangat, bagian yang berarti dari kehidupan sehari-hari kita.

NOTES

“Bible Illiteracy Plagues Youth,” Group, (November/ December, 1984), P. 27 dikutip di Ted Letis, “Sebuah Surat Terbuka untuk Kelompol Alkitab Internasional dan Zondervan Corporation,” (April 29, 1985).2. Pelajar Perjanjian Baru dan Terjemahan Alkitab (Phillipsburg: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1978), p. 155 dikutip di Letis, “Sebuah surat terbuka.”3. “The Revision of the New Testament,” Dublin Review, VI (July-October, 1881), p. 144.4. Don F. Neufeld, “Supernatural atau Manusia?” Review and Herald (February 10, 1977), p. 14.
5. Gerhard F. Hasel, Memahami Firman Allah yang Hidup (Mountain View, Calif.: Pacific Press Pub. Assoc., 1980), p. 104.

6. JB dan NIV juga diakui sebagai terjemahan formal namun diakui bebas, sedikit literal (Lihat Hasel, pp. 104-105.)

7. Wilber N. Pickering, Identitas Teks Perjanjian Baru (Nashville: Thomas Nelson Pub., 1980), p. 16. 8. Teks Masoretic telah diakui sebagai tipe teks Ibrani yang oaling dijaga dan diwariskan. (See Hasel, pp. 92-93.)

9. Juga dikenal sebagai Textus Receptus, Traditional Text, Greek Vulgate, Ecclesiastical Text, Syrian Text, Koine (Common) Text dan sering digunakan sinonim dengan Majority Teks.

10. Saya menggunakan istilah Kritikal Teks untuk mengacu kepada teks Yunani kebanyakan yang diproduksi dalam belakangan tahun ini. Teks tersebut sebagai keseluruhan yang berbeda dari bacaan-bacaan dari Received Teks.

11. Sakae Kubo dan Walter Specht, Versi Yang Mana saat ini? (Washington, D.C.), p. 8.

12. Pickering, p. 16.

13. Bruce M. Metzger, Teks Perjanjian Baru, 2nd ed. (Oxford: Oxford University Press, 1968), p. 47.

14. Metzger, pp. 42-43.

15. Ira Maurice Price, Asal dari Alkitab Inggris Kita, 12th ed. (New York: Harper and Brothers, 1940), p. 150.

16. Ibid. 17. Frederick Kenyon, Alkitab Kita dan Naskah-naskah Kuno (New York: Harper & Brothers, 1958), p. 202.

18. Herman C. Hoskier, Codex B and Its Allies (2 vols.; London: Bernard Quaritch, 1914), II, p. vi.

19. John Burgon, The Revision Revised (London: John Murray, 1883), p. 12.

20. F.H.A. Scrivener, Sebuah Pengantar Sederhana untuk kritikan Perjanjian Baru, 4th ed. (2 vols.; London: George Bell dan Sons), II, p. 120. Juga Kenyon, Buku Petunjuk untuk kritikan tekstual Perjanjian Baru (2nd ed.; Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Pub. Co., 1951), p. 308, menyatakan bahwa Vaticanus “dijelekkan oleh banyak kesalahan dalam tulisannya.”

21. F.C. Cook, The Revised Version of the First Three Gospels (London: John Murray, 1881), p. 172. juga Burgon, p. 13.

22. George Salmon, Beberapa Pemikiran tentang Kritikan Tekstual Perjanjian Baru (London: John Murray, 1897), pp. 52, 155. Also Ernest C. Colwell, Memperlajari bidang Metodologi Kritikan Tekstual Perjanjian Baru, Vol. IX (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans, 1969), p. 54 dikatakan “tipe teks Beta (milik Hort ‘Neutral’) sebuah teks yang diada-ada, mungkin yang asli dari Alexandrian, diproduksi dalam bagian oleh seleksi secara keseluruhan ‘good old mss.’ Namun lebih pentingnya oleh editorial filological yang tahu bagaimana menjadi Alexandrian”.

23. Pickering, p. 111.

24. Kenneth Scott Latourette, Sejarah Kekristenan (New York: Harper & Row, 1975), pp. 147-152.

25. Ibid., pp. 152-158.

26. Cook, p. 244.

27. T. C. Skeat of the British Museum menyarankan untuk menolak Vaticanus di antara lima puluh salinan. (See Metzger, pp. 47-48.)

28. Cook, p. 164.

29. Cook, pp. 161-162, 170.

30. Edward Hills, The King James Version Defended, 4th ed. (Des Moines: The Christian Research Press, 1984), p. 134 menuliskan, “Mesir sebelum awal abad Kekristenan adalah sebuah tempat yang terdapat ajaran sesat yang merajalela.Begitu banyak seperti Bauer (1934) dan Van Unnik (1958) telah ditunjukan, setelah orang Kristen Mesir telah malu terhadap ajaran sesat yang terdapat pada negaranya pada masa lampau dan mereka telah ditarik dari pengetahuannya tentang hal tersebut. Ini alasannya mengapa sedikit yang mengetahui sejarah dari awal Kekristenan Mesir.” Hills juga menyarankan bahwa Gnostic dan docetist pengaruhnya menjelaskan banyak keganjilan di bacaan – bacaan teks Alexandrian (See pp. 136-138, 143.)

31. Hoskier, p. 9.

32. Benjamin G. Wilkinson, Our Authorized Bible Vindicated (Washington, D.C., 1930), pp. 19-22.

33. Dr. Warfields Collection of Opinions and Reviews, Vol. II, p. 21 as quoted in Wilkinson, p. 229.

34. Pickering, p. 116.

35. Pickering, p. 142.

36. Pickering, p. 119.

37. Hills, pp. 172-175, 186-188. (Predominating in the Syriac Peshitta and Gothic.)

38. Colwell, pp. 48-49. Also Gunther Zuntz, “The Byzantine Text in New Testament Criticism,” The Journal of Theological Studies, XLII (1942), p. 55.

39. John Burgon, Tradisional Text Injil yang Suci Dibenarkan dan Ditetapkan, diselesaikan oleh Edward Miller (London: George Bell and Sons, 1896), pp. ix-x cites Investigasi Miller berdasarkan saksi dari kutipan-kutipan patristik. (Lihat juga Pickering, pp. 65-76 untuk pembahasan atas hal ini.)

40. H. Sturz, The Byzantine Text-type dan New Testament Textual Criticism (Nashville: Thomas Nelson Pub., 1984), pp. 53-131.

41. Wilkinson, pp. 24-40.

42. The Italic Version. (Lihat Wilkinson, p. 35.)

43. Hills, p. 196.

44. Wilkinson, p. 53.

45. Wilkinson, p. 40.

46. Ibid.

47. Kenyon, Our Bible, p. 307.

48. “Hort mengatur semua argumennya untuk melawan Textus Receptus. Ketika masih menjadi seorang mahasiswa di Cambridge, dua puluh tiga tahun umurnya, Hort dengan jelas menunjukkan dalam sebuh surat identitas penjahat: ‘Saya tidak mengetahui apa apa tentang pentingnya naskah sampai beberapa minggu belakangan ini, membaca sedikit sekali Perjanjian Yunani, dan diarahkan kepada kejamnya Textus Receptus. … Pikirkan Textus Receptus yang hina kepada mendiang Mss.; ini merupakan anugerah bahwa ada seperti itu dari awal. …’ (December 29 and 30, 1851)” Colwell, p. 158 mengutip surat milik Hort yang di terbitkan di Arthur Fenton Hort, Kehidupan dan Surat-Surat Fenton John Anthony Hort, I (London and New York, 1896), p. 211.

49. H.F.D. Sparks, Dalam Berbagai Terjemahan Alkitab (London: the Athlone press, 1973), p.7.

50. Edmund Beckett, Perlukah Perjanjian Baru Yang Diperbaiki di-Sahkan? (London: John Murray, 1881), p. 37.

51. Metzger, p. 135.

52. Luther Weigle, Perjanjian Baru Bahasa Inggris (New York & Nashville: Abingdon-Cokesbury Press, 1949), p. 96. Also Burgon, The Revision Revised, p. 24.

53. Kenyon, Our Bible, p. 204.

54. Colwell, p. 106.

55. Metzger, p. 201.

56. Pickering, p. 129, Kirsopp Lake, R. P. Blake and Silva New, “The Caesarean Text of the Gospel of Mark,” Harvard Theological Review, Vol. 21(1928), pp. 347-349 menyarankan bahwa kitab-kitab “biasanya dijancurkan lembaran-lembarannya ketika mereka telah menyalin Buku Yang Suci.”

57. Kenyon, Our Bible, p. 173. Colwell on p. 106 records, “Kirsopp Lake menjelaskan pekerjaan Hort sebagai sebuah kegagalan, meskipun sebuha kejayaan.”

58. Pickering, p. 97.

59. Pickering, pp. 31-97.

60. Termasuk para ahli seperti Rendel Harris, Conybeare, Kirsopp Lake, G. Zuntz, H. Greeven, R. M. Grant, K. W. Clark, Frederick Kenyon, dan K. Aland dikutip dalam Hills, pp. 66-67.

61. Termasuk KJV, NKJV, and KJVII. Yang kemudian, tidak lagi tersedia untuk dibaca.

62. Ini bukan untuk menyarakan bahwa terjemahan harus dituliskan dalam Bahasa yang digunakan sehari-hari. Bertolak belakang dengan pandangan yang telah di pegang, Perjanjian Baru tidak ditulis dalam dialek yang tidak dibangun dari market-place. (See Nigel Turner, Christian Words , p. xiii.) dan juga KJV yang asli dituliskan dalam Bahasa Inggris sehari-hari pada zaman itu. (Lihat Hills, pp. 218-219.)

63. NKJV adalah sebuah pujian yang sempurna untuk KJV.

64. Teks Yunani hal yang paling penting untuk memilih versi Alkitab. Lihat Kubo dan Specht, Which Version Today?, p. 8. juga Alex Roberts menuliskan “hal tersebut merupakan kepentingan yang sepenuhnya vital yang mana harus diyakinkan bahwa teks tersebut layak untuk dipercaya…. Tanpa hal ini, hal yang lainnya agak tidak berhaga.” Alex Roberts, Companion to the Revised Version of the English New Testament (London and New York: Cassell, Petter, Galpin & Co., 1881), p. 34.

65. Of lesser significance than readability are a few places where the KJV could have been more literal in a consistent translation of verb tenses and articles.

66. Pickering, p. 136. Also Hoskier, p. 9.

67. Ada beberapa tempat dimana versi modern lebih jelas dan dalam beberapa hal, lebih tepat diterjemahkan Bahasa Yunani yang sama yang ditemukan dalam Received Teks. (The NASB secara khusus membantu yang disebabkan oleh terjemahan literal yang konsisten. LihatbKubo dan Specht, So Many Versions? , p. 338.)

68. “Membuat King James Version lebih baik,” Adventist Review, July 5, 1979, p. 13 says of Dr. Arthur Farstad, New Testament editor of the NKJV, “Dia mengakui bahwa ia telah condong berprasangka oleh penelitiannya dalam berbagai seminar yang mengarahkan penerimaan pandangan bahwa KJV berisikan banyak sekali ketidak tepatan dalam terjemahannya. Ia sekarang telah berbalik dati keyakinan ini, menyimpulkan sebaliknya jikalau penerjemah KJV bekerja dengan ketepatan yang akurat, memilih pilihan-pilihan yang valid dalam teks Yunani” [Emphasis supplied.] John Skilton juga menuliskan “[The A.V.] adalah terjemahan tertutup yang dilakukan sangat berhati-hati. Sementara tidak literal, kata per kata di ubahkan yang mana tanpa mengacuhkan gaya dan langgam Bahasa dalam Bahasa Inggris, tulisannya tepat dan sungguh berhasil dalam menyampaikan pengertian dari teks tersebut ke dalam Bahasa Inggris.” John H. Skilton, “The King James Version Today,” in John H. Skilton, ed., The Law and the Prophets (Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1974) p. 104 as quoted in Letis, “Hugh Broughton Redivivus,” The Majority Text: Essays and Reviews in the Continuing Debate.

There have not been significant advances in the understanding of biblical Greek since the KJV was translated. The discovery of secular papyri has not been as beneficial in Christian word study as once hoped. (See Turner, pp. xii-xiii.) Also Cadbury commented, “It would be a mistake to exaggerate the extent to which such revised judgments of the language can be actually recorded in translation. … Improved knowledge of the original is often mainly a matter of slight nuances … than such as to necessitate one English rendering instead of another.” Henry J. Cadbury, “The Vocabulary and Grammar of New Testament Greek,” in An introduction to the Revised Standard Version of the New Testament (The International Council of Religious Education, 1967), p. 105 as quoted in Letis, The Majority Text.

69. Skilton, p. 107 dikutip di Letis, The Majority Text mengatakan “Versi yang Sah memiliki indra kelayakan yang luar biasa, bakat, dan efektifitas dari ungkapan. Juga memiliki insting dan tasa dari kegeniusan dalam music dan rhythm. Dapat ditemukan kata atau frasa yang “tidak dapat terelakkan” dalam konteks yang diberikan. Gayanya dicerminkan dengan kekaguman atas kehormatan, kekuasaan, dan keagungan dari yang asli”.

Leave a Reply