Israel Vs Palestina: Episode Baru Cerita Lama

Produk Lama Kemasan Baru
Ada perkembangan baru di Timur Tengah. Itu tergantung bagaimana melihatnya. Memang benar setelah mendapat tekanan dari AS yang sekarang dikuasai oleh Partai Demokrat, PM Israel Benyamin Netanyahu mengatakan bahwa Israel bersedia untuk menerima solusi dua negara. Maksudnya karena selama ini Israel tidak pernah mengatakan bahwa mereka bersedia melihat berdirinya sebuah negara bernama Palestina. Yang selama ini diizinkan Israel terjadi hanyalah melihat sebuah ‘perkumpulan’ bernama Palestina yang hidup berdampingan dengan Israel tetapi sepenuhnya berada di dalam kendali Israel.
Setelah terjadi pergantian kekuasaan di AS, Presiden Obama mencanangkan perubahan sikap politik AS terhadap berbagai pihak yang selama ini merasa ditekan oleh AS, khususnya dunia Arab. Banyak pihak berharap bahwa karena leluhur Obama berasal dari Afrika dan ayahnya beragama Islam, maka Obama akan mempunyai pendekatan yang berbeda dengan George Bush. Perbedaan pendekatan itu sudah pasti karena partainya juga berbeda. Tetapi perbedaan pendekatan itu sangat kecil diakibatkan oleh karena, kalau tidak bisa dikatakan sama sekali tidak ada hubungannya dengan, latar belakang Obama. Tentu Obama tidak akan mengatakan hal itu karena dia seorang politisi. Terserah orang lain mau berandai-andai. Dia akan melakukan apa yang terbaik menurut pendapatnya dan sebisa mungkin dengan cara yang berbeda sesuai dengan janji kampanye – Change, We Can Believe In.
Ketika Benyamin Netanyahu berkunjung ke AS bulan April lalu, Obama harus terlihat ‘menekan’ Netanyahu untuk menarik simpati dunia Arab sekaligus mengurangi kebencian kaum radikal dan teroris terhadap AS. Dukungan dunia Arab juga diperlukan agar keberadaan AS di Asia Kecil dan Timur Tengah jangan terlalu diusik sekaligus bisa selalu mengawasi Iran yang agak sulit dikontrol. Sebenarnya kalau hanya menghadapi Israel dan Netanyahu tidak sulit bagi Obama. Tetapi Obama juga tahu bahwa yang dhadapi bukan Netanyahu melainkan kekuatan Yahudi di belantara dunia ini yang menginginkan agar Israel tetap menjadi duri dalam daging bagi negara-negara Arab. Kebetulan sekali banyak negara Arab yang kaya dapat menjadi lahan penjualan senjata AS dengan harga tunai.
Dari semula Obama juga tahu bahwa tidak gampang bagi Netanyahu untuk mengikuti anjuran Obama untuk solusi dua negara. Pemerintahan Israel sekarang terdiri dari koalisi garis keras yang menentang pengakuan dan memberi konsesi bagi Palestina. Mereka siap perang dari pada harus membiarkan berdirinya negara Palestina. Barangkali teringat akan semangat perang para leluhur dari leluhurnya, kembali ke zaman 3000 tahun yang lalu. Saat itu Israel di kelilingi oleh berbagai bangsa yang memusuhinya. Mereka sudah terbiasa dengan situasi seperti itu. Dan bahwa agama Yahudi hanya mau percaya kepada Perjanjian Lama?
Solusi Dua Negara, Akankah?
Pidato PM Israel Benyamin Netanyahu awal minggu ini mengecewakan dunia Arab. Tentu saja karena solusi dua negara yang diusulkan oleh Israel mengandung berbagai persyaratan yang sulit untuk bisa diterima oleh dunia Arab.
Israel mengizinkan berdirinya negara Palestina tetapi tanpa militer. Bisakah membayangkan satu negara tanpa kekuatan berada di daerah yang rawan perang? Bukan itu saja. Di sana ada kekuatan radikal seperti Hamas dan (Hezbollah di Syria) yang selama ini sering membuat situasi keamanan menjadi kacau. Kekuatan di bawah tanah ini bebas mendapat senjata dari luar sedang Palestina akan terikat dengan perjanjian. Dan jika keadaan di Palestina kacau dengan gampang Israel akan mengatakan bahwa Palestina belum cukup dewasa untuk berdiri sebagai sebuah negara.
Israel juga menetapkan syarat yang sangat berat yaitu perlunya pengakuan negara-negara Arab secara kolektif bagi Israel. Persoalannya sekarang adalah bagaimana dunia Arab mau mengakui Israel sementara mereka tidak mengetahui batas-batas negara yang mana yang dianggap Israel menjadi wilayahnya. Apakah termasuk Yerusalem Timur dan Tepi Barat? Dan urusan diplomatik ini harus dilakukan lebih dahulu sebelum bicara soal tanah dan perbatasan. Dari satu segi situasi ini seperti situasi antara ayam atau telur, mana lebih dahulu ada. Dari sudut lain hal ini mirip dengan membeli kucing dalam karung. Dan dari sudut yang lain lagi ini adalah politik devide et impera Belanda zaman kolonial dulu. Bagaimana tidak, Israel tahu bahwa bangsa Arab sulit untuk bersatu dan sepakat dalam menghadapi Israel. Jadi bagaimana mereka akan bisa sepakat secara kolektif karena masing-masing punya kepentingan. Seandainya dunia Arab bisa bersatu sudah lama masalah ini mungkin selesai. Tetapi itulah kenyataan di lapangan saat ini. Sungguh suatu usul yang jitu dari Israel untuk keluar dari tekanan. Yang menarik adalah bahwa usul Israel itu langsung disambut oleh Presiden Obama sebagai suatu keputusan yang dikatakan berada di jalan yang tepat. Eropa juga bersikap sama. Dunia Arab kecewa. Ronde pertama episode ini setidak-tidaknya dimenangkan oleh Israel, juga oleh Presiden Obama. Dia telah ‘berhasil’ menekan Israel karena baru kali ini Israel mau mengatakan menerima solusi dua negara. Netanyahu juga ingin memberi muka kepada Obama dengan menerima usul dari Presiden AS dari Partai Demokrat ini. Obama bisa berdiri tegak di depan lawan politiknya. Netanyahu bisa lega lepas dari tekanan. Sekarang bola panas ada di tangan Palestina. Lalu apa sebenarnya arti semuanya ini?
Apa yang terlihat ini hanyalah merupakan ‘sandiwara tujuh babak’. Akankah orang berharap bahwa Yerusalem Timur yang telah diduduki selama lebih 40 tahun akan dilepas begitu saja? Yang pasti Wakil PM Israel Silvan Shalom mengatakan bahwa Yerusalem adalah jantung dan simbol Yahudi dan telah dipilih oleh Raja Daud sejak 3000 tahun yang silam dan akan selamanya menjadi ibukota Israel. Jangan lupa bendera Israel saja mereka sebutkan “the star of David”.
Faktanya bahwa negara Israel dengan agama Yahudinya yang masih tetap berkiblat ke Perjanjian Lama tentu akan sulit untuk diminta melupakan sejarah panjang keturunan Yakub ketika memasuki tanah Kanaan atas perintah Tuhan. Dunia jangan berharap banyak karena memang perdamaian kalaupun mungkin hanya ada di atas kertas. Rumus yang tetap berlaku adalah bahwa kepentingan adalah sesuatu yang akan dipertahankan dan kepentingan menghalalkan segala cara.
Lalu bagaimana kita melihat hal di atas? Berdasarkan sejarah sulit kiranya mengharapkan terjadinya perdamaian di Timur Tengah. Wilayah itu telah dijadikan sebagai kancah uji coba dan ajang tawar menawar diplomasi oleh kekuatan besar dunia. Hal ini dimungkinkan karena berbagai faktor seperti lokasinya yang sangat strategis, keterkaitan dengan berbagai latar belakang sejarah sejak masa Perjanjian Lama, bisnis empuk lahan penjualan senjata kepada negara kaya tetapi lemah dan pusat dari beberapa agama besar dunia. Menilik kepada kenyataan ini wajar kiranya berasumsi bahwa seandainya akan ada ‘penyelesaian’ di sana, hal itu besar kemungkinan melibatkan adanya pemain baru di wilayah yang dipersengketakan. Jika hal ini dihubungkan dengan berbagai tulisan yang mengatakan keinginan dari Kepausan untuk berada di wilayah itu, tentunya hal ini akan semakin menarik untuk dikaji. Akankah hal ini berkaitan dengan nubuatan di dalam Daniel pasal 11? Ini menarik untuk diikuti perkembangannya. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa menjelang berakhirnya sejarah dunia, maka dua kekuatan di dalam Wahyu 13 akan memainkan peran sentral. Dengan demikian berbagai peristiwa penting di dunia tidak bisa dilepaskan dari peran kedua pemain ini dari belakang layar.

-BONAR PANJAITAN

Leave a Reply