Kanker Hati

kanker-hati

Politikus kondang Sutan Bhatoegana hari ini berpulang setelah bergelut dengan kanker hati. Kondisi yang erat sekali kaitannya dengan sirosis atau pengerasan hati.

Apa itu sirosis dan kanker hati? Dikutip dari Mayo Clinic, sirosis (cirrhosis) merupakan tahap akhir dari perlukaan atau fibrosis hati yang disebabkan oleh berbagai macam penyakit maupun kondisi medis, seperti hepatitis dan penyalahgunaan alkohol.

Sirosis menyebabkan jaringan hati mengeras sehingga tidak berfungsi dengan baik. Normalnya, hati berfungsi untuk menetralkan racun-racun di dalam tubuh, serta membersihkan darah. Jaringan hati yang telanjur mengeras tidak bisa dipulihkan lagi.

Infeksi hepatitis kronis, yakni hepatitis B dan C, jika tidak diobati bisa berujung pada sirosis. Demikian juga dengan penyalahgunaan alkohol, bisa memicu perlemakan hati yang lama kelamaan juga bisa berkembang menjadi sirosis.

Selain itu, dikenal pula istilah non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) yang juga merupakan faktor risiko sirosis hati. Ini terjadi pada orang-orang dengan masalah berat badan atau obesitas, yang juga rentan mengalami perlemakan hati meski tidak mengonsumsi alkohol.

Lalu apa hubungannya dengan kanker hati? Sirosis merupakan faktor risiko utama pada kanker hati. Sekitar 70 persen kasus kanker hati di Amerika Serikat terjadi akibat pasien mengalami sirosis.

Infeksi hepatitis kronis, yakni hepatitis B dan C, jika tidak diobati bisa berujung pada sirosis. Demikian juga dengan penyalahgunaan alkohol, bisa memicu perlemakan hati yang lama kelamaan juga bisa berkembang menjadi sirosis.

Meski begitu, bukan hanya infeksi hepatitis dan konsumsi alkohol saja yang dapat menyebabkan sirosis hati. Dirangkum detikHealth dari berbagai sumber, berikut 4 hal lain yang dapat menyebabkan sirosis hati, mulai dari penggunaan herba dan suplemen hingga terlalu sering begadang.

1. Herba dan suplemen

Victor Navarro selaku pemimpin studi dari Einstein Healthcare Network mengatakan satu dari lima kasus kerusakan hati dalam delapan tahun terakhir di Amerika Serikat penyebabnya adalah herba atau suplemen. Diketahui dalam rentang waktu penelitian ada sekitar 130 kasus tersebut.

Masalah dari komplikasi hati ini menurut Navarro adalah kadang butuh sampai beberapa bulan atau bahkan tahunan hingga gejala muncul sehingga pasien bisa tidak sadar. Awalnya pasien mungkin akan merasa mudah lelah, gatal-gatal, mual, kemudian berkembang kulitnya menguning, cairan tubuh menumpuk, hingga pendarahan.

Efek samping obat masih dapat dimaklumi karena keefektifannya dalam terapi untuk pasien sudah teruji. Namun untuk herba dan suplemen seringkali pasien hanya mendapat janji kosong.

“Konsumen punya akses gratis ke suplemen-suplemen ini, seringkali dengan iming-iming dapat meningkatkan kesehatan dan penampilan. Benar-benar menggoda orang untuk berpikir bahwa ia dapat mengubah status kesehatannya tanpa ada sama sekali bantuan penyedia layanan kesehatan,” kata Navarro.

2. Kelebihan berat badan

Studi yang dilakukan oleh Dr Hannes Hagstrom dan rekan-rekannya dari Center for Digestive Diseases, Karolinska Institute, Stockholm, Swedia, dilakukan kepada 44.248 partisipan. Seluruh partisipan merupakan pria mudah berusia 18-20 tahun saat penelitian dimulai tahun 1970 dan berusia sekitar 60 tahun pada 2009.

Sekitar 7 persen partisipan memiliki berat badan berlebih ketika penelitian dimulai. Dalam waktu 40 tahun, 393 partisipan didiagnosis mengidap penyakit hati, termasuk penurunan fungsi hati, sirosis atau bahkan kematian karena gangguan hati.

Saat dewasa, risiko penyakit hati bertambah akibat kebiasaan minum alkohol, merokok, penggunaan narkoba, kurang olahraga dan tekanan darah tinggi. Dr Hagstrom mencatat risiko terbesar ada pria yang konsumsi alkoholnya lebih dari 3,5 botol per minggu.

“Efek buruk alkohol pada liver memang sudah diketahui sejak lama. Tapi stui kami menemukan bahwa pada pria muda yang sudah kelebihan berat badan, efek buruknya akan meningkat berkali-kali lipat,” tutur Dr Hagstrom.

3. Makanan manis

Sebuah studi tahun 2012 di American Journal of Clinical Nutrition menemukan mereka yang mengonsumsi 1.000 kalori ekstra dari makanan manis selama 3 pekan memiliki kenaikan berat badan sebesar 2 persen dan 27 persen lemak di hati. Makanan manis yang mengandung fruktosa ini dapat menyebabkan gumpalan lemak untuk mulai terbentuk di sel-sel hati.

Hati menggunakan 20 persen kalori yang Anda makan untuk dapat menjalankan perannya di tubuh. Fungsi hati mencakup mengubah protein dan gula dari makan menjadi energi bagi tubuh Anda, dibantu dengan insulin.

Saat lemak menumpuk, hati kehilangan resistensinya terhadap insulin. Sebagai gantinya, pankreas terstimulasi untuk menggantikan fungsi hati. Sehingga kadar insulin meningkat, begitu juga dengan lemak di tubuh.

Jika kondisi ini dibiarkan, hati bisa menjadi radang, yang dapat memicu kondisi hati semakin parah yang disebut dengan non-alcoholic steatohepatitis. Saat peradangan makin parah, jaringan parut menggantikan jaringan sehat sehingga merusak kemampuan hati untuk melakukan banyak fungsinya.

4. Sering begadang

Diutarakan ahli gizi Rita Ramayulis DCN, MKes, begadang pada dasarnya membuat kita memaksa tubuh untuk terjaga di saat tubuh menurunkan aktivitas guna relaksasi. Jika dilakukan sesekali, tubuh masih bisa beradaptasi.’

“Tapi kalau dalam waktu lama nanti yang akan terganggu biasanya hati karena hati itu organ metabolisme. Saat basal meningkat, hati akan menghasilkan energi untuk mengakomodir kebutuhan basal,” terang Rita saat berbincang dengan detikHealth beberapa waktu lalu.

Dikatakan Rita, terutama pada pekerja malam risiko terjadi sirosis hepatis bisa lebih tinggi, dibandingkan dengan orang yang bekerja di siang hari. Jika sudah terjadi sirosis hepati, pastinya akan berbahaya karena diibaratkan Rita hati adalah induk untuk proses metabolisme tubuh.

“Misalnya aja kalau malam suka nonton bola, perhatikan betul makannya dan pastikan saat siang mendapat waktu istirahat setengah sampai satu jam,” imbuh dosen jurusan Gizi Poltekkes II Jakarta ini.

Sumber: Detikhealth.com

Leave a Reply