Kebangunan Rohani Modern

Di mana saja firman Allah diberitakan dengan setia, hasilnya selalu terlihat yang membuktikan bahwa itu berasal dari Allah. Roh Allah menyertai pekabaran hamba-hambanya, dan kata-kata mereka memiliki kuasa. Orang-orang berdosa merasa hati nurani mereka digerakkan. “Terang yang menenrangi setiap orang datang kepada dunia,” menyinari relung-relung jiwa mereka yang paling tersembunyi, sehingga perkara-perkara yang tersembunyi di dalam kegelapan telah dibuat menjadi nyata. Keyakinan yang mendalam menguasai pikiran dan hati mereka. Mereka diyakinkan mengenai diosa dan mengenai kebenaran, dan mengenai penghakiman yang akan datang. Mereka mempunyai kepekaan terhadap kebenaran Yehowa dan perasaan gentar untuk tampil dihadirat Penyelidik hati dalam keadaan bersalah dan najis. Dalam penderitaan mereka berseru, “Siapaka yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Rom. 7:24). Sementara salib di Golgota, dengan korbannya yang sangat besar itu bagi dosa-dosa manusia, dinyatakan, mereka melihat bahwa tidak ada yang lain selain jasa Kristus yang dapat mengadakan pendamaian bagi pelanggaran-pelanggaran mereka. Hanya dengan ini saja manusia dapat diperdamaikan kembali kepada Allah. Dengan iman dan kerendahan mereka menerima Anak Domba Allah yang mengangkut dosa isi dunia ini. Melalui darah Yesus Ia telah “membiarkan dosa-dosa yang terjadi dahulu.” (Rom 3:25).
Jiwa-jiwa ini menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Mereka percaya dan dibaptiskan, dan bangkit dalam pembaharuan hidup, — menjadi kejadian yang baru di dalam Yesus Kristus; tidak merupakan dirinya menurut hawa nafsu sebelumnya, tetapi oleh iman kepada Anak Allah akan mengikuti-Nya dalam setiap langkah-langkah-Nya, merefleksikan tabiat-Nya dan menyucikan diri mereka sebagaimana Kristus suci adanya. Perkara-perkara yang pada suatu ketika dibenci, sekarang mereka sukai; dan perkara-perkara yang pada suatu ketika disukai, mereka benci. Sifat sombong dan suka menonjolkan diri, menjadi lemah lembut dan rendah hati. Kesia-siaan dan keangkuhan menjadi sungguh-sungguh dan tidak suka menonjolkan diri. Kenajisan menjadi rohani, peminum dan pemabuk dan orang yang tidak bermoral menjadi suci. Gaya hidup yang penuh kesia-siaan dunia ini dikesampingkan. Orang-orang Kristen tidak berusaha menghiasi dirinya dengan “secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-epang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi . . . manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa, yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” (1 Pet. 3:3,4).
Kebangunan rohani membawa penyelidikan hati yang mendalam dan kerendahan hati. Hal itu ditandai oleh himbauan yang sungguh-sungguh dan khidmat kepada orang-orang berdosa, oleh kerinduan yang kuat kepada belas kasihan penebusan darah Kristus. Pria dan wanita berdoa dan bergumul dengan Allah bagi keselamatan jiwa-jiwa. Buah-buah kebangunan rohani seperti itu nampak pada jiwa-jiwa yang tidak akan ciut dengan penyangkalan diri dan pengorbanan, tetapi bersukacita karena mereka dianggap layak menderita celaan dan cobaan demi Kristus. Manusia melihat suatu perubahan dalam hidup mereka yang mengaku nama Yesus. Masyarakat diuntungkan oleh pengaruh mereka. Mereka berkumpul dengan Kristus dan menabur kepada Roh, menuai kehidupan yang kekal.
Mengenai mereka boleh dikatakan, “Dukacitamu membuat kamu bertobat,” “Sebab dukacitamu menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia menghasilkan kematian. Sebab perhatikanlah betapa justru dukacita yang menurut kehendak Allah itu mengerjakan pada kamu kesungguhan yang besar, bahkan pembelaan diri, kejengkelan, ketakutan, kegiatan, penghukuman! Di dalam semuanya itu kamu telah membuktikan, bahwa kamu tidak bersalah dalam perkara itu.” (2 Kor. 7:9-11).
Inilah hasil pekerjaan Roh Allah. Tidak ada bukti pertobatan sejati kecuali pertobatan itu mengerjakan pembaharuan dalam diri orang itu. Jikalau seorang berdosa memperbaharui janjinya, mengembalikan apa yang sudah dirampoknya, mengakui dosa-dosanya, dan mengasihi Allah dan sesamanya manusia, maka orang berdosa itu boleh merasa yakin bahwa ia telah menemukan perdamaian dengan Allah. Begitulah pengaruh yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya sesudah kebangunan keagamaan. Dari buah-buah yang dihasilkan, dapatlah diketahui bahwa mereka diberkati Allah dalam penyelamatan manusia dan meninggikan kemanusiaan.
Akan tetapi banyak kebangunan rohani pada zaman modern ini telah menunjukkan suatu perbedaan yang mencolok dengan manifestasi rahmat Allah yang pada masa-masa sebelumnya mengikuti pekerjaan hamba-hamba Allah. Benar bahwa perhatian yang luas dibangkitkan, dan banyak mengaku bertobat, dan banyak orang bergabung ke dalam gereja-gereja. Namun, hasil-hasilnya tidak menjamin bahwa terdapat peningkatan dalam kehidupan kerohanian yang sesungguhnya. Terang yang bersinar untuk sesaat lamanya segera padam, meninggalkan kegelapan yang lebih pekat dari sebelumnya.
Kebangunan-kebangunan rohani populer sering dihasilkan oleh penarikan kepada imaginasi, oleh membangkitkan emosi, oleh memuaskan keinginan terhadap sesuatu yang baru dan mengagumkan. Dengan demikian orang-orang yang bertobat dengan cara seperti itu tidak begitu tertarik untuk mendengarkan kebenaran Alkitab, tidak begitu tertarik kepada kesaksian para nabi dan para rasul. Kecuali upacara keagamaan mempunyai sesuatu yang bersifat sensasi, maka hal itu tidak menarik bagi mereka. Suatu pekabaran yang tidak menarik kepada logika tidak akan mendapat respons atau sambutan. Amaran sederhana yang jelas dari firman Allah, yang berhubungan langsung dengan kepentingan hidup kekal mereka, tidak dihiraukan.
Bagi setiap jiwa yang benar-benar bertobat, hubungan dengan Allah dan dengan perkara-perkara kekal adalah merupakan pokok utama dalam kehidupan. Tetapi dalam gereja-gereja populer sekarang ini, dimanakah roh penyerahan kepada Allah? Yang bertobat itu tidak meninggalkan kesombongan dan kasih kepada dunia ini. Mereka tidak mau lebih menyangkali diri sendiri, memikul salib lalu mengikut Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, daripada sebelum mereka bertobat. Agama telah menjadi permainan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan orang-orang yang skeptis sebab banyak yang mengaku beragama tidak mau tahu mengenai prinsip-prinsipnya. Kuasa kesalehan telah hampir meninggalkan banyak gereja-gereja. Piknik, sandiwara gereja, pasar malam gereja, bazar, rumah-rumah mewah, pameran pribadi, telah menghilangkan pemikiran dari Allah. Tanah dan harta benda serta pekerjaan duniawi menyibukkan pikiran, dan perkara-perkara kekekalan sulit untuk mendapat perhatian.
Walaupun kemerosotan iman dan kesalehan merajalela, masih terdapat pengikut-pengikut Kristus yang benar di dalam gereja itu. Sebelum penghakiman terakhir Allah atas dunia ini, di antara umat Tuhan akan ada kebangunan rohani seperti yang belum pernah disaksikan sebelumnya, sejak zaman rasul-rasul. Roh dan kuasa Allah akan dicurahkan kepada anak-anak-Nya. Pada waktu itu banyak yang akan memisahkan diri mereka dari gereja-gereja dimana kasih kepada dunia ini telah menggantikan kasih kepada Allah dan kasih kepada firman-Nya. Baik pendeta-pendeta maupun orang awam pada waktu itu dengan gembira menerima kebenaran agung yang Allah suruh disiarkan kepada dunia ini, untuk menyediakan orang-orang kepada kedatangan Tuhan. Musuh jiwa-jiwa ingin menghalangi pekerjaan ini. Dan sebelum waktu untuk gerakan seperti itu datang, ia berusaha mencegahnya dengan memperkenalkan suatu penipuan. Dalam gereja-gereja yang bisa di bawah kuasa penipuannya, akan ditunjukkannya bahwa seolah-olah berkat-berkat khusus Allah dicurahkan; di sana akan dinyatakan apa yang dianggap sebagai kepentingan agama yang besar. Orang banyak akan bersukaria bahwa Allah bekerja dengan sangat mengagumkan bagi mereka, padahal pekerjaan itu adalah perbuatan roh yang lain. Dengan berkedok agama, Setan akan berusaha meluaskan pengaruhnya terhadap dunia Kristen.
Dalam banyak kebangunan rohani yang terjadi selama setengah abad terakhir ini, pengaruh yang seperti itu sedikit banyaknya telah bekerja, yang akan dinyatakan dalam gerakan yang lebih luas lagi pada masa yang akan datang. Ada suatu luapan emosi, suatu pembauran antara yang benar dan yang salah, yang begitu baik dipadukan untuk menyesatkan. Namun tak seorangpun harus tertipu. Dalam terang firman Allah tidak sulit untuk menentukan sifat gerakan-gerakan ini. Di mana saja manusia melalaikan kesaksian Alkitab, dan berpaling dari kebenaran yang jelas dan sederhana serta yang menguji jiwa, yang memerlukan penyangkalan diri dan meninggalkan hal-hal duniawi, kita boleh merasa pasti bahwa berkat-berkat Allah tidak diberikan di sana. Dan dengan peraturan yang telah diberikan Kristus sendiri, “Dari buahnyalah kamu mengenal mereka” (Mat. 7:16), sudah jelas bahwa gerakan-gerakan itu bukan pekerjaan Roh Allah.
Di dalam kebenaran firman-Nya, Allah telah memberikan kepada manusia penyataan diri-Nya; dan bagi mereka yang menerimanya, penyataan ini adalah perisai melawan penipuan Setan. Kelalaian akan kebenaran inilah yang telah membukakan pintu kepada sijahat yang sekarang menjadi begitu tersebar luas di dunia keagamaan. Sifat dan pentingnya hukum Allah sebegitu jauh telah diabaikan. Konsepsi yang salah mengenai tabiat, kekekalan dan tuntutan hukum ilahi, telah menuntun kepada kesalahan-kesalahan dalam hubungannya dengan pertobatan dan penyucian, dan telah mengakibatkan menurunnya ukuran kesalehan di dalam gereja. Di sinilah akan ditemukan rahasia kekurangan Roh dan kuasa Allah dalam kebangunan rohani pada zaman kita.
Di berbagai denominasi, ada orang-orang yang terkenal kesalehannya oleh siapa fakta ini diakui dan disesali. Profesor Edwards A. Park, dalam mengetengahkan bahaya-bahaya keagamaan dewasa ini berkata, “Salah satu sumber bahaya adalah mengabaikan mimbar sebagai tempat menguatkan dan menekankan hukum ilahi. Pada zaman-zaman sebelumnya mimbar itu adalah tempat menggemakan suara hati nurani . . . . Para pengkhotbah kita yang terkenal memberikan kebesaran dan kemuliaan kepada pidato-pidato mereka yang mengikuti teladan Guru, dan menonjolkan hukum Allah, peraturan-peraturan-Nya dan ancaman-ancaman-Nya. Mereka mengulang-ulangi dua pernyataan terkenal, bahwa hukum itu adalah salinan kesempurnaan ilahi, dan bahwa orang yang tidak mengasihi hukum itu tidak mengasihi Injil, karena hukum maupun Injil adalah cermin yang memantulkan tabiat Allah yang sebenarnya. Bahaya ini menuntun kepada bahaya berikutnya, yaitu meremehkan jahatnya, meluasnya dan celanya dosa itu. Sebanding dengan benarnya hukum itu demikianlah salahnya jika tidak menurutinya . . . .
“Berkaitan dengan bahaya-bahaya yang sudah disebutkan, adalah bahaya menganggap remeh keadilan Allah. Kecenderungan mimbar modern ini ialah memutarbalikkan keadilan ilahi dengan kebajikan dan kemurahan ilahi, menenggelamkan kebajikan dan kemurahan itu ke dalam perasaan gantinya meninggikannya menjadi prinsip. Prisma teologi yang baru menceraikan apa yang telah dipersatukan Allah. Apakah hukum Allah itu baik atau jahat? Hukum Allah itu baik. Berarti keadilan itu baik, karena keadilan adalah sifat mutlak pelaksanaan hukum. Dari kebiasaan meremehkan hukum dan keadilan ilahi, luas dan cacadnya pelanggaran manusia, manusia dengan mudah tergelincir kepada kebiasaan meremehkan rahmat yang telah menyediakan pendamaian bagi dosa.” Demikianlah Injil kehilangan nilai serta pentingnya di dalam pikiran manusia, dan tidak lama kemudian mereka siap menyingkirkan Alkitab seluruhnya.
Banyak guru-guru agama mengatakan bahwa Kristus oleh kematian-Nya telah menghapuskan hukum itu, dan oleh karena itu manusia dibebaskan dari tuntutan hukum itu. Sebagian menggambarkan hukum itu sebagai kuk yang kejam dan memberatkan serta menyusahkan. Dan bertentangan dengan perhambaan hukum itu, mereka menawarkan kebebasan yang akan dinikmati di bawah Injil.
Tetapi para nabi dan para rasul tidak menganggap hukum Allah yang suci itu demikian. Daud berkata, “Aku hendak hidup dalam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-Mu.” (Maz. 119:45). Rasul Yakobus, yang menulis sesudah Kristus mati, menganggap hukum itu sebagai “hukum utama” dan “hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang.” (Yakub 2:8; 1:25). Dan Pewahyu, setengah abad setelah penyaliban Kristus, mengumumkan suatu berkat atas mereka “yang melakukan perintah-perintah-Nya, sehingga mereka berhak menghampiri pohon kehidupan, dan masuk melalui pintu gerbang ke dalam kota itu.” (Wah. 22:14 — terjemahan langsung).
Pernyataan bahwa Kristus oleh kematian-Nya menghapuskan hukum Bapa-Nya, tidaklah beralasan. Seandainya hukum itu bisa diubah atau dikesampingkan, maka Kristus tidak perlu mati untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa. Kematian Kristus, yang sama sekali tidak menghapuskan hukum itu, membuktikan bahwa hukum itu tidak bisa diubah. Anak Allah datang untuk memberi pengajaran-Nya yang besar dan mulia.” (Yes. 42:21). Ia berkata, “Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat;” “selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat sebelum semuanya terjadi.” (Mat. 5:17,18). Dan mengenai diri-Nya sendiri Ia mengatakan, “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Tauratmu ada dalam dada-Ku.” (Maz. 40:9).
Hukum Allah, dari sifatnya sendiri, tidak dapat diubah. Hukum itu adalah penyataan kehendak dan tabiat Penciptanya. Allah adalah kasih, dan hukum-Nya adalah kasih. Prinsip agungnya ialah mengasihi Allah dan mengasihi manusia. “Kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” (Rom. 13:10). Tabiat Allah ialah kebenaran; demikianlah sifat hukum-Nya. Pemazmur berkata, “Taurat-Mu benar,” “segala perintah-Mu benar.” (Maz. 119:142,172). Dan Rasul Paulus menyatakan, “Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.” (Roma 7:12). Hukum seperti itu, yang menjadi penyataan pikiran dan kehendak Allah, sudah tentu sekekal Penciptanya.
Pertobatan dan penyucianlah yang mendamaikan manusia kepada Allah, oleh membawa manusia itu selaras dengan hukum-Nya. Pada mulanya manusia diciptakan menurut peta Allah. Ia sangat selaras dengan sifat dan hukum Allah. Prinsip-prinsip kebenaran dituliskan di dalam hati. Tetapi dosa memisahkan dia dari Penciptanya. Ia tidak lagi memancarkan peta ilahi. Hatinya berperang dengan prinsip-prinsip hukum Allah. “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah, hal ini memang tidak mungkin baginya.” (Roma 8:7). Tetapi “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,” agar manusia boleh diperdamaikan dengan Allah. Melalui jasa-jasa Kristus manusia itu bisa kembali selaras dengan Penciptanya. Hatinya harus diperbaharui oleh rahmat ilahi. Ia harus mempunyai hidup baru yang dari atas. Perubahan ini adalah kelahiran baru, tanpa itu kata Yesus “ia tidak bisa melihat kerajaan Allah.”
Langkah pertama dalam pendamaian kepada Allah ialah pengakuan dosa. “Dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” “Oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” (1 Yoh. 3:4; Roma 3:20). Agar dapat melihat dosanya, orang berdosa itu harus menguji tabiatnya dengan standar kebenaran Allah. Standar kebenaran itu adalah cermin yang menunjukkan penyempurnaan tabiat kebenaran, dan yang menyanggupkannya untuk melihat cacad pada dirinya.
Hukum itu menunjukkan kepada manusia dosa-dosanya, tetapi tidak menyediakan obatnya. Sementara hukum itu menjanjikan hidup kepada yang menurut, ia menyatakan kematian menjadi bagian pelanggar. Hanya Injil Kristus saja yang dapat membebaskannya dari hukuman dan pencemaran dosa. Ia harus menunjukkan penyesalan kepada Allah, yang hukum-Nya telah dilanggar; dan iman kepada Kristus, korban pendamaiannya. Dengan demikian ia memperoleh “pengampunan dosa-dosa yang terjadi dahulu,” dan menjadi ikut mengambil bagian dalam sifat ilahi. Ia adalah anak Allah yang telah menerima pengangkatan menjadi anak, dimana ia berkata, “Abba, ya Bapa!”
Apakah sekarang ia bebas melanggar hukum Allah? Rasul Paulus berkata, “Jika demikian, apakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya.” (Rom. 3:31). “Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? (Rom, 6:2). Dan Yohanes menyatakan, “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.” (1 Yoh. 5:3). Dalam kelahiran baru, hati dibawa menjadi selaras dengan Allah, sebagaimana juga menjadi selaras dengan hukum-Nya. Bilamana perubahan besar ini terjadi pada orang berdosa, ia telah melewati dari kematian kepada kehidupan, dari dosa ke kesucian, dari pelanggaran dan pemberontakan ke penurutan dan kesetiaan. Hidup lama yang terpisah dari Allah telah berakhir, hidup baru yaitu hidup yang berdamai dan beriman kepada Allah, telah mulai. Kemudian “tuntutan hukum Taurat” akan “digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.” (Rom. 8:4).Dan bahasa jiwa akan berkata ,” O, betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari ” [ Maz 119 : 97 ).
“Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa.” (Maz. 19:7). Tanpa hukum Taurat, manusia tidak mempunyai pandangan yang benar mengenai kesucian dan kekudusan Allah, atau mengenai kejahatan dan kecemaran manusia itu sendiri. Mereka tidak mempunyai pandangan yang benar mengenai dosa, dan tidak merasa perlu bertobat. Tidak melihat keadaan mereka yang hilang sebagai pelanggar-pelanggar hukum Allah. Mereka tidak menyadari kebutuhan mereka akan darah pendamaian Kristus. Pengharapan keselamatan diterima tanpa perobahan hati yang drastis atau pembaharuan hidup. Demikianlah pertobatan dangkal merajarela, dan orang-orang banyak bergabung dengan gereja yang sebenarnya tidak pernah bersatu dengan Kristus.
Teori-teori pengudusan yang salah, juga yang timbul karena melalaikan atau menolak hukum Taurat ilahi, tampak menonjol dalam gerakan keagamaan sehari-hari. Teori-teori ini salah dalam doktrin dan berbahaya dalam akibat praktek sehari-hari. Dan fakta bahwa teori-teori ini mendapat perhatian umum, adalah sangat penting agar semua mempunyai pengertian yang jelas tentang apa yang diajarkan Alkitab mengenai pengudusan ini.
Penyucian yang benar adalah doktrin Alkitab. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika, menyatakan, “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu.” Dan ia berdoa, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya.” (1 Tes. 4:3; 5:23). Alkitab dengan jelas mengajarkan apa itu pengudusan, dan bagaimana cara memperolehnya. Juru Selamat mendoakan murid-murid-Nya, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firmanmu adalah kebenaran.” (Yoh. 17:17,19). Dan Rasul Paulus mengajarkan bahwa orang-orang percaya akan “disucikan oleh Roh Kudus.” (Roma 15:16). Apakah pekerjaan Roh Kudus itu? Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu kedalam seluruh kebenaran.” (Yoh. 16:13). Dan Pemazmur berkata, “Taurat-Mu itulah kebenaran.” (Maz. 119:142). Melalui firman dan Roh Allah telah dibukakan kepada manusia prinsip-prinsip agung kebenaran yang terkandung di dalam hukum-Nya. Dan oleh karena hukum Allah adalah “kudus, benar dan baik,” sebagai salinan kesempurnaan ilahi, maka tabiat yang dibentuk oleh karena penurutan kepada hukum itu juga adalah kudus. Kristus adalah contoh yang sempurna tabiat seperti itu. Ia berkata, “Aku menuruti perintah Bapa-Ku.” (Yoh. 15:10). “Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.” (Yoh. 8:29). Para pengikut Kristus harus menjadi seperti Dia oleh rahmat Allah membentuk tabiat yang selaras dengan prinsip-prinsip hukum-Nya yang kudus. Inilah pengudusan menurut Alkitab.
Pekerjaan pengudusan ini dapat dicapai hanya melalui iman dalam Kristus, oleh kuasa Roh Allah yang tinggal di dalam hati. Rasul Paulus menasihati orang-orang percaya, “Hai Saudara-saudara, . . . tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:12,13). Orang-orang Kristen akan merasakan dorongan-dorongan atau desakan-desakan dosa itu, tetapi ia akan selalu berperang melawannya. Di sinilah pertolongan Kristus diperlukan. Kelemahan manusia menjadi bersatu dengan kekuatan ilahi, dan iman berseru, “Tetapi syukur kepada Allah yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus.” (1 Kor. 15:57).
Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa pekerjaan pengudusan itu bersifat progresif, terus maju. Bilamana pada pertobatan seseorang berdosa memperoleh perdamaian dengan Allah melalui darah pendamaian itu, maka pada waktu itu kehidupan Kristen baru mulai. Sekarang ia harus “beralih kepada perkembangan yang penuh.” (Iberani 6:1); bertumbuh ke “tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.” (Epes 4:13). Rasul Paulus berkata, “Tetapi ini yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah dibelakangku dan mengarahkan diri kepada yang dihadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dan Kristus.” (Filipi 3:13,14). Dan Rasul Peterus menetapkan tangga-tangga di hadapan kita, dengan mana pengudusan Alkitab kita capai: “Sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pemngetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saurada, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, Saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” (2 Pet. 1:5-10).
Mereka yang mengalami pengudusan cara Alkitab akan menunjukkan roh kerendahan hati. Seperti Musa, mereka telah memandang kebesaran kekudusan yang menakjubkan, dan melihat betapa ketidaklayakan mereka tidak bisa dibandingkan dengan kemurnian dan kesempurnaan yang ditinggikan dari Yang Kekal itu.
Nabi Daniel adalah satu contoh pengudusan yang benar. Sepanjang hidupnya dipenuhi dengan pelayanan mulia bagi Tuannya. Ia adalah “orang yang dikasihi Surga.” (Dan 10:11). Namun, gantinya mengakui murni dan kudus, nabi yang dihormati ini menyatakan dirinya sebagai seorang yang sangat berdosa di Israel, pada waktu bermohon kepada Allah mengenai bangsanya, “sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah.” “Kami telah berbuat dosa, kami telah berlaku fasik.” (Dan. 9:18,15). Ia menyatakan, “Sementara aku berbicara dan berdoa dan mengaku dosaku dan dosa bangsaku, bangsa Israel.” (Dan. 9:20). Dan pada waktu hari kemudian Anak Allah muncul, untuk memberikan petunjuk kepadanya, Daniel berkata, “aku menjadi pucat sama sekali, dan tidak ada lagi kekuatan padaku.” (Dan. 10:8).
Pada waktu Ayub mendengar suara Tuhan dari angin badai, ia berseru, “Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” (Ayub 42:6). Yesaya berseru setelah ia melihat kemuliaan Tuhan dan mendengar kerub berseru: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam,” “Cilakalah aku! Aku binasa!” (Yes. 6:3,5). Rasul Paulus, setelah terangkat ke langit yang ketiga, dan mendengar kata-kata yang tak terucapkan oleh manusia, berbicara mengenai dirinya, sebagai “yang paling hina di antara segala orang kudus.” (2Kor. 12:2-4; Epes 3:8). Yohanes yang kekasih, yang bersandar kepada Yesus dan yang memandang kemuliaan-Nya, jatuh tersungkur di depan kaki malaikat itu. Wah 1:17).
Mereka yang berjalan dalam bayang-bayang salib Golgota tidak akan meninggikan diri, tidak akan menyombongkan diri karena mereka telah dibebaskan dari dosa. Mereka merasa bahwa oleh karena dosa-dosa merekalah yang menyebabkan penderitaan yang menghancurkan hati Anak Allah, dan pemikiran ini akan menuntun mereka kepada penyesalan yang mendalam. Mereka yang hidup paling dekat dengan Yesus melihat dengan jelas kelemahan dan keberdosaan manusia, dan harapan mereka satu-satunya hanyalah jasa-jasa Juru Selamat yang tersalib dan yang telah bangkit kembali itu.
Sekarang pengudusan menonjol di dunia keagamaan, dan bersamaan dengan itu Roh meninggikan diri sendiri, dan ketidakperdulian kepada hukum Allah yang menandakannya sebagai yang asing bagi agama Alkitab. Para penganjurnya mengajarkan bahwa penyucian adalah pekerjaan seketika, sekejap, oleh mana, melalui iman saja mereka memperoleh kekudusan yang sempurna. “Percaya saja,” kata mereka, “dan berkat menjadi milikmu.” Tidak diperlukan usaha-usaha lebih jauh di pihak sipenerima. Pada waktu yang sama mereka menyangkal wewenang dan kekuasaan hukum Allah, dan mengatakan bahwa mereka telah dibebaskan dari kewajiban memeliharakan hukum-hukum atau perintah-perintah itu. Tetapi apakah mungkin bagi manusia menjadi kudus, sesuai dengan kehendak dan tabiat Allah, tanpa menyesuaikan atau menselaraskan diri dengan prinsip-prinsip atau hukum Allah, yang adalah pernyataan sifat dan kehendak-Nya, dan yang menyatakan apa yang menjadi kesukaan bagi-Nya?
Keinginan kepada agama yang gampang, yang tidak menuntut suatu perjuangan, tidak ada penyangkalan diri, tidak ada perpisahan dengan kebodohan dunia ini, telah membuat ajaran iman, hanya iman, menjadi ajaran atau doktrin yang populer. Tetapi apakah yang dikatakan oleh firman Allah? Rasul Yakobus berkata, “Apakah gunanya saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: ‘Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!’ tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? . . . . Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengaku sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. . . . Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, dan bukan hanya karena iman.” (Yakobus 2:14-24).
Kesaksian firman Allah menentang ajaran “iman tanpa perbuatan” yang menjerat itu. Bukanlah iman yang hanya menuntut kemurahan Surga tanpa menyesuaikan dengan syarat-syarat atas mana kemurahan diberikan. Itu hanyalah dugaan, karena iman yang sejati berdasarkan janji-janji dan syarat-syarat Alkitab.
Jangan seorangpun menipu diri sendiri dengan kepercayaan bahwa mereka dapat menjadi kudus sementara dengan senagaja melanggar salah satu tuntutan-tuntutan Allah. Perbuatan dosa yang diketahui atau disengaja mendiamkan suara Roh, dan akan memisahkan jiwa dari Allah. “Dosa adalah pelanggaran kepada hukum.” Dan “setiap orang yang tetap berbuat dosa (melanggar hukum), tidak melihat dan tidak mengenal Dia.” (1 Yoh. 3:6). Walaupun Yohanes dalam surat-suratnya banyak menekankan tentang kasih yang sepenuhnya, namun ia tidak ragu-ragu menyatakan tabiat yang sebenarnya dari golongan yang mengaku dikuduskan sementara mereka hidup dalam pelanggaran hukukm Allah. “Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah.” (1 Yoh. 2:4,5). Inilah ujian pengakuan setiap orang. Kita tidak dapat mengatakan seseorang suci tanpa mengukurnya dengan satu-satunya standar kesucian baik di Surga maupun di dunia. Jika manusia tidak merasakan pengaruh dari hukum moral, jika mereka mengecilkan dan meremehkan ajaran-ajaran Allah, jika mereka melanggar salah satu yang terkecil dari perintah-perintah ini dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, mereka akan tidak berharga di pandangan Surga, dan kita akan tahu bahwa ajaran-ajaran dan tuntunan mereka itu tanpa dasar.
Dan pengakuan seseorang bahwa ia tanpa dosa, adalah suatu bukti bahwa ia yang membuat pengakuan itu sebenarnya jauh dari kudus. Hal itu disebabkan karena ia tidak mempunyai konsepsi yang benar mengenai kemurnian dan kesucian Allah, atau mengenai bagaimana caranya menjadi selaras dengan tabiat-Nya. Karena ia tidak mempunyai konsep yang benar mengenai kemurnian dan kekudusan Yesus yang ditinggikan dan permusuhan dan kejahatan dosa, sehingga orang menganggap dirinya suci. Semakin besar jarak antara dia dengan Kristus, dan semakin tidak memadai konsepsinya mengenai tabiat ilahi dan tuntutatn-Nya, semakin benar ia tampak oleh matanya sendiri.
Pengudusan yang diberikan di dalam Alkitab mencakup manusia seutuhnya — roh, jiwa dan badan. Rasul Paulus bedrdoa bagi orang-orang di Tesalonika, agar “semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Tes. 5:23). Sekali lagi ia menulis kepada orang-orang percaya, “Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah.” (Rom. 12:1).
Pada zaman Israel kuno, setiap persembahan yang dibawa sebagai korban kepada Allah, harus diperiksa dengan teliti. Jika ditemukan cacad pada hewan yang diserahkan, persembahan itu akan ditolak, oleh karena Allah telah memerintahkan bahwa persembahan itu haruslah “tanpa cela.” Jadi orang Kristen di himbau untuk mempersembahan tubuhnya menjadi “persembahan yang hidup, kudus, dan bekenan kepada Allah.” Agar dapat melaksanakan ini, seluruh kuasa harus disimpan dalam keadaan yang paling baik. Setiap perbuatan yang melemahkan kekuatan fisik atau mental membuat seseorang tidak layak bagi pelayanan kepada Khalik-Nya. Dan apakah Allah akan senang dengan sesuatu yang kurang dari yang paling baik yang kita persembahkan kepada-Nya? Kristus berkata, “Hendaklah kamu mengasihi Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu.” Mereka yang mengasihi Allah dengan segenap hati ingin memberikan kepada-Nya pelayanan terbaik dari kehidupan mereka, dan mereka akan terus berusaha membawa seluruh kuasa tubuhnya tetap selaras dengan hukum yang mengembangkan kemampuan mereka untuk melakukan kehendak-Nya. Mereka tidak akan melemahkan atau mengotori persembahan yang mereka serahkan kepada Bapa surgawi oleh pemanjaan selera atau hawa nafsu.
Rasul Peterus berkata, “Saudara-saudara, . . . kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.” (1 Pet. 2:11). Setiap pemuasan hawa nafsu dosa cenderung melumpuhkan kemampuan-kemampuan jasmani dan mematikan kemampuan pikirani dan rohani, sehingga firman atau Roh Allah hanya memberikan kesan lemah kepada hati. Rasul Paulus menulis kepada orang-orang Korintus, “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.” (2 Kor. 7:1). Dan buah-buah Roh — kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan — digolongkan “penguasaan diri.”
Walaupun telah mengetahui pernyataan yang diilhamkan ini, betapa banyaknya orang yang mengaku orang Kristen melemahkan kuasa mereka dengan usaha mengejar keuntungan atau pendewaan mode; betapa banyaknya orang yang merendahkan peta Allah dalam diri mereka dengan kegelojohan, minuman keras, dan kesenangan-kesenangan yang terlarang. Dan jemaat, gantinya menegur, seringkali mendorong untuk berbuat jahat oleh memanjakan selera, keinginan untuk memperoleh keuntungan atau kecintaan kepada kepelesiran, untuk mengisi perbendaharaannya, yang tidak bisa dipenuhi oleh kasih kepada Kristus. Seandainya Yesus memasuki gereja zaman ini dan menyaksikan pesta pora dan kegiatan-kegiatan yang tidak suci yang dilakukan atas nama agama, apakah Ia tidak akan mengusir mereka sebagaimana Ia telah mengusir para penukar uang dari kaabah?
Rasul Yakobus menyatakan bahwa hikmat dari atas adalah “pertama murni.” Seandainya ia bertemu dengan mereka yang menyebut nama Yesus yang berharga dengan bibir yang dikotori oleh tembakau, dengan mereka yang nafasnya dan tubuhnya tercemar dengan bau busuk dan yang mengotori udara, dan memaksa orang-orang sekitarnya menghisap racun — seandainya rasul berhubungan dengan praktek-praktek yang bertentangan dengan kemurnian Injil, tidakkah ia akan mencelanya sebagai “duniawi, hawa nafsu, seperti setan?” Budak-budak kepada tembakau, yang menuntut berkat pengudusan menyeluruh, berbicara mengenai harapan mereka masuk Surga; tetapi firman Allah dengan jelas mengatakan bahwa “tidak akan masuk kedalamnya sesuatu yang najis.” (Wah. 21:27).
“Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Kor. 6:19,20). Ia yang tubuhnya adalah bait Roh Kudus tidak akan diperbudak oleh kebiasaan-kebiasaan yang berbahaya. Segala kekuatan dan kemampuannya adalah milik Kristus, yang telah membelinya dengan harga darah-Nya. Harta miliknya adalah milik Tuhan. Bagaimanakah ia dianggap tidak bersalah dalam memboroskan harta yang dipercayakan kepadanya? Orang-orang yang mengaku Kristen membelanjakan sejumlah besar uang setiap tahunnya kepada pemanjaan diri yang tidak berguna dan berbahaya, sementara jiwa-jiwa binasa tanpa firman yang hidup. Allah dirampok dalam persepuluhan dan persembahan, sementara mereka membakar di atas mezbah hawa nafsu yang merusak lebih banyak dari yang mereka berikan untuk menolong orang miskin atau untuk menolong pekerjaan Injil. Jika sekarang semua orang yang mengaku pengikut Kristus benar-benar dikuduskan, maka harta mereka, gantinya digunakan untuk pemanjaan diri yang sia-sia dan bahkan merusak, akan dikembalikan ke dalam perbendaharaan Tuhan, maka orang-orang Kristen akan memberikan satu teladan penguasaan diri, penyangkalan diri dan pengorbanan. Dengan demikian mereka akan menjadi terang dunia.
Dunia ini telah takluk kepada pemanjaan diri. “Keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup” (1 Yoh. 2:16), mengendalikan orang banyak. Tetapi pengikut-pengikut Kristus mempunyai panggilan yang lebih suci. “Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis.” (2 Kor. 6:17). Dalam terang firman Tuhan kita dibenarkan dalam menyatakan bahwa pengudusan tidak akan benar-benar bilamana tidak melepaskan usaha-usaha yang penuh dosa dan pemanjaan duniawi.
Kepada mereka yang setuju dengan syarat-syarat ini, “Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu . . . dan janganlah menjamah apa yang najis,” janji Allah adalah, “Maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan, demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” (2 Kor. 6:17,18). Adalah suatu kesempatan dan kewajiban setiap orang Kristen untuk mempunyai pengalaman yang kaya dan melimpah dalam perkara-perkara Allah. “Akulah terang dunia,” kata Yesus, “barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia mempunyai terang hidup.” (Yoh. 8:12). “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.” (Amsal 4:18). Setiap langkah iman dan penurutan membawa jiwa dalam hubungan yang lebih dekat dengan Terang dunia, yang padanya “tidak ada kegelapan sama sekali.” Cahaya terang Matahari Kebenaran bersinar ke atas hamba-hamba Allah dan mereka memantulkan sinar-sinar-Nya. Sebagaimana bintang-bintang memberitahukan kepada kita bahwa ada terang besar di langit yang dengan kemuliaannya mereka dibuat bersinar, demikianlah orang-orang Kristen menyatakan bahwa ada Allah di atas takhta semesta alam yang sifatnya patut dipuji dan ditiru. Karunia-karunia Roh-Nya, kemurnian dan kekudusan-Nya, akan dinyatakan dalam umat-umat-Nya sebagai saksi-saksi-Nya.
Rasul Paulus, dalam suratnya kepada orang-orang Kolose, mengemukakan berkat-berkat yang limpah yang diberikan kepada anak-anak Allah. Ia berkata, “Kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak dihadapan-Nya serta berkesan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar.” (Kolose 1:9-11).
Sekali lagi ia menuliskan kerinduannya agar saudara-saudara di Epesus mengerti tingginya kesempatan Kristen. Ia membukakan dihadapan mereka, dengan bahasa yang sangat luas, kuasa dan pengetahuan ajaib yang boleh mereka miliki sebagai anak-anak laki-laki dan perempuan Yang Mahatinggi. Adalah bagian mereka untuk dikuatkan dan diteguhkan oleh Roh-Nya di dalam batin mereka, sehingga iman mereka berakar dan berdasar di dalam kasih, untuk memahami bersama-sama segala orang kudus, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Tetapi doa rasul itu mencapai klimaks kesempatan pada waktu ia berdoa, “supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” (Epes. 3:16-19).
Di sini dinyatakan tingginya pencapaian yang dapat dicapai melalui iman pada janji-janji Bapa surgawi kita kalau kita memenuhi tuntutan-Nya. Melalui jasa-jasa Kristus, kita dapat datang kepada takhta Yang Mahakuasa. “Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkannya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu bagi kita bersama-sama dengan Dia?”(Rom. 8:32). Bapa memberikan Roh-Nya kepada Anak-Nya tanpa batas, dan kita juga bisa mengambil bagian dalam kepenuhannya. Yesus berkata, “Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di Surga. Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Lukas 11:13). “Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku atas nama-Ku, Aku akan melakukannya.” “Mintalah maka kamu akan menerima supaya penuhlah sukacitamu.” (Yoh. 14:14; 16:24).
Sementara kehidupan Kristen akan ditandai oleh kerendahan hati, tetapi tidak mesti ditandai oleh kesedihan dan rendah diri. Adalah kesempatan setiap orang untuk hidup sedemikian rupa sehingga Allah berkenan kepadanya. dan memberkatinya. Bukanlah kehendak Bapa surgawi kita agar kita tetap di bawah hukum dan kegelapan. Kepala yang selalu tertunduk dan hati yang dipenuhi dengan pemikiran diri sendiri bukanlah bukti kerendahan hati yang sejati. Kita boleh datang kepada Yesus dan dibasuh, dan berdiri di hadapan hukum tanpa malu dan perasaan bersalah yang mendalam. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” (Rom 8:1).
Melalui Kristus anak-anak Adam yang jatuh menjadi “anak-anak Allah.” “Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara.” (Iberani 2:11). Kehidupan Kristen haruslah merupakan suatu kehidupan iman, kemenangan dan sukacita di dalam Allah. “Sebab semua yang lahir dari Allah mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” (1 Yoh. 5:4). Hamba Allah Nehemia berkata dengan sungguh-sungguh, “Sebab sukacita karena Tuhan itulah perlindunganmu!” (Neh. 8:11). Dan Rasul Paulus berkata, “Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (Filipi 4:4; 1 Tes. 5:16-18).
Demikianlah buah-buah pertobatan dan pengudusan menurut Alkitab; dan adalah oleh karena prinsip-prinsip kebenaran agung yang terdapat di dalam hukum Allah begitu disepelekan oleh dunia Kristen, sehingga buah-buah ini begitu jarang dapat disaksikan. Itulah sebabnya mengapa sedikit saja terlihat pekerjaan Roh Allah yang dalam yang menandai kebangunan rohani pada tahun-tahun terdahulu.
Adalah oleh memandang kita berubah. Dan pada waktu ajaran-ajaran kudus di mana Allah telah membukakan kepada manusia penyempurnaan dan penyucian tabiat-Nya dilalaikan, dan pikiran orang-orang telah ditarik kepada ajaran-ajaran dan teori-teori manusia, maka tidak heran kalau terjadi kemerosotan kehidupan saleh gereja. Tuhan berkata, “Mereka meninggalkan Aku, sumber air hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.” (Yer. 2:13). “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik . . . tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Maz. 1:1-3). Hanya kalau hukum Allah dikembalikan kepada kedudukannya yang benar barulah ada kebangunan iman yang sederhana dan kesalehan di antara umat-umat-Nya. “Beginilah firman Tuhan: Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan.” (Yer. 6:16).

Leave a Reply