“KEBANGUNAN YANG DIJANJIKAN: MISSI ALLAH DISELESAIKAN”

September 28, 2013 - Loddy Lintong

PELAJARAN KE-XIII; 28 September 2013

Sabat Petang, 21 September
PENDAHULUAN

Allah akan menyelesaikan missi-Nya. Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh barangkali adalah denominasi Kristen terdepan dalam hal evangelisasi di seluruh dunia. Bahkan, gereja yang berdiri sekitar 150 tahun silam ini bisa eksis di lebih dari 230 negara di dunia adalah karena semangat penginjilan yang didasarkan pada Pekabaran Tiga Malaikat dari Wahyu 14:6-12. Namun, meskipun ekspansi terus berlangsung, jumlah keanggotaannya secara global baru sekitar 17 juta (data per Januari 2012), atau kurang-lebih 0,25% dari populasi dunia yang berjumlah 7 milyar lebih. Tetapi tentu saja penginjilan itu tidak sama dengan Adventisasi ataupun Kristenisasi. Penginjilan ialah: (1) memberitakan kepada dunia tentang keselamatan oleh kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus (Kis. 4:12; Kis. 15:11); dan (2) mengamarkan tentang kedatangan-Nya yang kedua kali untuk merealisasikan keselamatan itu kepada mereka yang telah dikuduskan dan disiapkan bagi kerajaan surga (1Ptr. 1:2-4).

Tuhan tidak menyelamatkan manusia secara kelompok berdasarkan agama yang dianutnya, melainkan secara pribadi berdasarkan penilaian Tuhan sendiri (Rm. 2:16; 1Sam. 16:7). Allah tidak berurusan dengan agama tetapi berurusan dengan umat-Nya, yaitu mereka yang percaya dan melakukan kehendak-Nya (Mat. 7:21). Bukan agama yang menyelamatkan kita, tetapi Allah yang menyelamatkan kita (Yoh. 3:16-17; Tit. 2:11). Agama adalah ikhtiar manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan demi mencari keselamatan, sedangkan keselamatan adalah ikhtiar Allah untuk menarik manusia datang kepada-Nya (2Tim.1:9; Ef. 2:8-9; Rm. 5:8-9).

Penginjilan adalah pekerjaan Allah, sebuah missi yang telah dirancang di surga dan dicanangkan di Taman Eden pada hari nenek moyang pertama manusia jatuh ke dalam dosa, yakni ketika Allah mengumumkan Injil yang pertama (Kej. 3:15). Janji injil ini terwujud melalui kelahiran Yesus Kristus di dunia ini hingga kematian-Nya di salib, dan missi penyelamatan manusia telah dimulaikan oleh Kristus sendiri (Luk. 19:10). Kita manusia hanya dilibatkan sebagai pekerja injil yang menjalankan mandat Kristus (Mrk. 16:15-16; Kis. 1:8; Mat. 9:37-38; Yes. 6:8). Penyelamatan manusia adalah missi Allah. “Ada satu hal yang selalu harus diingat bilamana membahas topik ini: missinya adalah missi Allah, dan Dia akan menyelesakannya. Akan tetapi pada waktu yang sama kita harus ingat bahwa kita juga sudah dipanggil untuk suatu peran penting dalam pekerjaan pamungkasnya” [alinea kedua: dua kalimat terakhir].

Minggu, 22 September
TUGAS AGUNG YANG PENUH TANTANGAN (Kuasa yang Dijanjikan)

Menginjil dengan kuasa Allah. Beberapa hari setelah kebangkitan-Nya, Yesus bertemu dengan murid-murid di sebuah bukit di Galilea sesuai dengan janji sebelumnya. Dalam pertemuan itulah Yesus menyampaikan pesan yang di kalangan umat Kristen sering disebut sebagai Perintah Agung. Kata Yesus, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:18-20).

Perhatikan bahwa sebelum Yesus berbicara tentang missi lebih dulu Dia menyebut tentang kuasa yang dimiliki-Nya, baik di surga maupun di bumi. Berdasarkan kewenangan itulah Yesus berkata, “Karena itu pergilah…” Dengan kata lain, Yesus menyuruh murid-murid untuk pergi menginjil oleh sebab ada kuasa di tangan-Nya, dan kuasa itu akan menyertai mereka “sampai kepada akhir zaman.” Ini menunjukkan bahwa perintah untuk menginjil adalah sebuah kewajiban dan tanggungjawab, bukan sekadar imbauan atau pilihan. Yesus bukan saja memberi perintah, tetapi juga memberi otoritas untuk melaksanakan perintah itu.

“Kristus berjanji kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan ‘mengirim kepadamu apa yang sudah dijanjikan oleh Bapa’ dan mereka akan menerima ‘kuasa dari Allah’ (Luk. 24:49, BIMK). Juruselamat menambahkan, ‘Tetapi kalian akan mendapat kuasa, kalau Roh Allah sudah datang kepadamu. Dan kalian akan menjadi saksi-saksi untuk-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea, di Samaria, dan sampai ke ujung bumi’ (Kis. 1:8, BIMK)” [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Tugas yang harus selesai. Kuasa Allah dapat membuat kita berani dan bersemangat dalam melaksanakan tugas penginjilan, namun ketekunan dalam melaksanakannya sering menjadi kata kunci bagi keberhasilan. Seperti halnya dalam mengerjakan tugas apa saja yang kita lakukan sehari-hari, ketekunan dalam pekerjaan itu dapat menjadi faktor yang menentukan hasil akhir. Rasul Paulus menasihati, “Tetapi tentu kalian harus tetap setia percaya dan berdiri teguh pada kepercayaanmu. Jangan sampai kalian melepaskan harapan yang sudah diberikan kepadamu ketika kalian menerima Kabar Baik dari Allah. Kabar itu sudah diberitakan kepada setiap orang di seluruh dunia. Dan untuk itulah juga saya, Paulus, sudah menjadi pelayan” (Kol. 1:23, BIMK).

Bagian kalimat “Kabar itu sudah diberitakan kepada setiap orang di seluruh dunia” dalam ayat di atas (versi TB: “telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit”) mungkin bisa terasa sebagai pernyataan yang berlebihan mengingat bahwa penginjilan di masa itu baru mencakup sebagian kecil dari wilayah Laut Tengah. Kata-kata ini lebih tepat untuk dimaknai sebagai gambaran tentang pesatnya perkembangan penginjilan di zaman rasul-rasul sampai menimbulkan iri hati dari orang-orang Yahudi. Maka ketika Paulus dan Silas datang ke Tesalonika orang-orang Yahudi yang iri hati itu mendalangi demonstrasi dengan mengupah preman-preman pasar untuk memprotes sambil berteriak-teriak, “Orang-orang yang telah mengacaukan seluruh dunia telah datang juga kemari…” (Kis. 17:5-7).

Pekerjaan penginjilan tidak pernah mudah untuk dilaksanakan, sejak zaman Yesus dan murid-murid-Nya sampai kepada masa para rasul pertama di abad-abad permulaan. Bahkan, penginjilan akan menjadi semakin berat menjelang kedatangan Yesus kedua kali ketika Setan akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghalangi pekerjaan ini. Namun pekerjaan ini harus selesai oleh karena itulah prasyarat bagi kedatangan Yesus yang kedua kali (Mat. 24:14). “Betapapun tugas ini begitu menantang, janji-janji Allah itu pasti…Pengabaran injil ke seluruh dunia mungkin tampak mustahil, tetapi kuasa Allah akan mengatasi setiap rintangan. Setiap orang di planet Bumi ini akan memiliki kesempatan memadai untuk mendengar dan memahami pekabaran kasih dan kebenaran Allah sebelum kedatangan Tuhan kita (Baca Why. 18:1)” [alinea kedua: kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang kuasa Allah yang menyertai tugas penginjilan?
1. Menginjil adalah tugas yang diamanatkan Kristus kepada setiap pengikut-Nya. Sebagai sebuah perintah, penginjilan memiliki kedudukan yang sama dengan perintah-perintah Yesus lainnya. Seseorang tidak dapat disebut orang Kristen kalau dia tidak menjalankan tugas penginjilan dalam bentuk apa saja yang dia sanggup.
2. Pada situasi dan kondisi tertentu penginjilan bisa lebih berat untuk dijalankan ketimbang perintah-perintah Yesus lainnya. Tetapi “sikon” (situasi dan kondisi) bukan alasan yang sah untuk tidak melaksanakan tugas penginjilan. “Beritakanlah firman…baik atau tidak baik waktunya” (2Tim. 4:2).
3. Salah satu alasan utama dan terpenting untuk menyelesaikan pekerjaan penginjilan ialah karena itulah prasyarat bagi kedatangan Yesus kedua kali. Anda bukan seorang Kristen yang sedang menantikan kedatangan Yesus kedua kali kalau anda tidak terlibat dalam pekerjaan penginjilan.

Senin, 23 September
ROH KUDUS DAN PENGINJILAN (Hujan Awal dan Hujan Akhir)

Kuasa Allah dilambangkan. Roh Kudus yang sering disebut sebagai Oknum ketiga dari keilahian selalu dikaitkan dengan Kuasa Allah. Alkitab mencatat manifestasi fisik dari Roh Kudus dalam ujud burung merpati (Mat. 3:16) dan api (Kis. 2:2-4), dan dalam hal cara bekerja Roh Kudus sering diibaratkan sebagai angin (Yoh. 3:8) dan air (Yoh. 7:37-39). Dalam bahasa asli PL (Ibrani) Roh adalah ?????, ruwach, yang juga dapat diterjemahkan sebagai angin, nafas, pikiran, dan jiwa dengan berbagai makna (Strong, H7307). Sedangkan dalam bahasa asli PB (Grika) Roh itu p?e?µa, pneuma (dilafalkan: pnyü’-mä), yang juga bisa diterjemahkan sebagai angin, nafas, perasaan, pengaruh, dan jiwa dengan berbagai makna (Strong, G4154).

“Baik Perjanjian Lama dan Baru menggunakan simbol air untuk melambangkan Roh Kudus…Nabi Yoel juga membahas perlambangan air. Allah berjanji untuk menyirami ladang-ladang Israel, lalu menyatakan, ‘Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia’ (Yl. 2:28). Yesus menggunakan simbol air untuk melambangkan Roh Kudus (Yoh. 7:37-39)” [alinea pertama: kalimat pertama dan tiga kalimat terakhir].

Hujan awal dan hujan akhir. Nabi Yoel–namanya berarti “Tuhan adalah Allah”–menubuatkan tentang hujan awal dan hujan akhir yang akan turun di tanah Israel “seperti dahulu” bilamana umat Tuhan itu bertobat (Yl. 2:21-27). Setelah bernubuat perihal hujan dalam arti kata yang sebenarnya, sang nabi juga menubuatkan tentang kecurahan Roh Kudus: “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan” (ay. 28). Nubuatan bagian kedua ini bersifat futuristik, yang secara lokal telah digenapi pada zaman rasul-rasul sebagaimana dikutip oleh rasul Petrus dalam khotbahnya (Kis. 2:14-20). Kegenapan secara global, disertai dengan fenomena-fenomena alam seperti yang disebutkan, terjadi di kemudian hari pada zaman akhir. Sementara itu rasul Yakobus dalam memberi semangat kepada orang Kristen yang diumpamakannya sebagai “petani” menggunakan analogi “hujan musim gugur” (hujan awal) dan “hujan musim semi” (hujan akhir) untuk menggambarkan pertolongan kuasa Allah yang segera akan tiba (Yak. 5:7-8).

Israel purba belum mengenal sistem irigasi karena itu pertanian mereka sangat bergantung pada pola musim di wilayah Timur Tengah dan pada sumber mata air serta sungai yang debit airnya sangat bergantung pada tinggi-rendahnya curah hujan. Hujan awal yang biasanya mulai turun pada akhir bulan Oktober atau awal bulan November penting untuk melembutkan tanah dan menumbuhkan benih pada musim tanam, sedangkan hujan akhir yang mulai turun di penghujung bulan April atau awal Mei perlu untuk mematangkan tanaman tidak lama sebelum tiba musim panen. Negeri Kanaan pada zaman dulu terkenal karena kesuburan tanahnya, “suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya” (Ul. 8:7-8).

Pencurahan Roh Kudus. “Allah menggunakan perlambangan hujan awal dan hujan akhir dalam dua cara. Roh hujan awal turun atas murid-murid di Hari Pentakosta demi untuk melancarkan missi Kristen. Hujan akhir akan dicurahkan pada gereja Allah di zaman akhir demi untuk menyelesaikan missi-Nya di bumi. Istilah ‘hujan awal’ juga merujuk kepada pekerjaan Roh Allah sehari-hari yang meyakinkan, menasihati, menuntun, dan memberdayakan setiap orang percaya. ‘Hujan akhir’ adalah istilah yang digunakan untuk menerangkan anugerah yang istimewa dari Roh Kudus Allah pada gereja Kristus sebelum kedatangan Yesus” [alinea ketiga].

Pena inspirasi menulis: “Banyak yang telah gagal menerima hujan awal dalam ukuran yang besar. Mereka belum memperoleh semua manfaat yang Allah sudah sediakan bagi mereka. Mereka berharap bahwa kekurangan itu akan dipenuhi oleh hujan akhir. Bilamana kasih karunia yang sangat berlimpah akan dianugerahkan, mereka bermaksud hendak membuka hati mereka untuk menerimanya. Mereka melakukan suatu kesalahan yang mengerikan. Pekerjaan yang Allah telah mulai di dalam hati manusia dengan memberi terang dan pengetahuan harus terus berlanjut. Setiap orang mesti menyadari kebutuhannya sendiri” (Ellen G. White, Review and Herald, 2 Desember 1897).

Apa yang kita pelajari tentang pencurahan Roh Kudus sebagai hujan awal dan hujan akhir?
1. Karena sifat pekerjaan-Nya, dalam Alkitab Roh Kudus dikiaskan sebagai air yang menumbuhkan dan mematangkan kerohanian dalam diri orang percaya. Pekerjaan Roh Kudus adalah seperti angin yang tidak kelihatan tapi hasilnya nyata (Yoh. 3:8).
2. Secara massal pencurahan Roh Kudus untuk umat Tuhan sudah terjadi pada Hari Pentakosta di zaman rasul-rasul dan akan terjadi lagi pada zaman akhir menjelang kedatang Yesus kedua kali. Secara pribadi pengalaman Roh hujan awal terjadi ketika seseorang bertobat dari dosa, dan Roh hujan akhir akan mematangkan kerohaniannya.
3. Allah menganugerahkan Roh Kudus kepada umat-Nya sama seperti hujan yang tercurah ke bumi, awalnya untuk menumbuhkan bibit rohani dan akhirnya untuk mematangkan. Seseorang harus mendapatkan Roh hujan awal lebih dulu baru Roh hujan akhir itu berguna bagi dia. Anda tidak bisa hanya menerima salah satu.

Selasa, 24 September
PERSIAPAN UNTUK PENCURAHAN ROH (Prasyarat Bagi Hujan Akhir)

Syarat yang harus dipenuhi. Menurut pengarang pelajaran SS ini bahwa untuk pencurahan Roh Allah manusia harus melakukan persiapan-persiapan (sesuai dengan daftar ayat yang disediakannya dalam pembahasan pelajaran hari ini), termasuk sehati dalam doa bersama (Kis. 1:14), meminta (Za. 10:1), bertobat supaya dosa dihapuskan (Kis. 3:19), hidup sesuai dengan firman Tuhan (Mzm. 119:25), hidup bergantung pada Roh (Yoh. 6:63). Barangkali masih banyak ayat lain lagi dalam Kitabsuci yang bisa ditambahkan di sini menyangkut pokok pembahasan ini. (Anda dapat berkontribusi di kelas UKSS.)

Pertanyaan untuk direnungkan: Kalau penginjilan itu adalah pekerjaan Tuhan, dan keberhasilannya bukan karena kemampuan manusia melainkan oleh kuasa Roh Allah, maka pencurahan Roh itu seyogianya diberikan secara otomatis kepada setiap orang yang hendak melakukan penginjilan. Karena pada hakikatnya pencurahan itu adalah demi kepentingan pekerjaan Tuhan, mengapa harus ada prasyarat yang harus dipenuhi oleh manusia sebelum menerima pencurahan Roh? Untuk pertanyaan tersebut sedikitnya ada dua jawaban yang bisa dikemukakan: 1. Sekalipun Allah menghendaki agar semua manusia selamat (1Tim. 2:3-4), dan bahwa surga bersukacita karena satu orang berdosa yang bertobat (Luk. 15:7), keselamatan tetap merupakan kepentingan manusia itu sendiri; 2. Manusia harus menyiapkan diri bagi pencurahan Roh supaya kuasa Roh Allah dapat bekerja efektif, kalau tidak kuasa Roh itu akan sia-sia.

“Alasan mengapa Allah meminta kita agar berdoa untuk Roh Kudus bukanlah karena Dia tidak bersedia memberikan Roh itu kepada kita tetapi karena kita tidak siap untuk menerimanya. Sementara kita berdoa bagi pencurahan Roh Kudus, Allah bekerja di hati kita untuk menuntun kita kepada pertobatan yang lebih sungguh-sungguh. Berdoa dalam kelompok-kelompok kecil bersama anggota-anggota jemaat lainnya membawa kita ke dalam suatu ikatan persatuan dan persekutuan yang lebih erat. Berdoa dan pendalaman Alkitab menyiapkan pikiran kita agar lebih peka terhadap pekerjaan Roh Kudus dalam hidup kita” [alinea pertama: empat kalimat terakhir].

Kebangunan rohani. Pengalaman kebangunan rohani memiliki dampak yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang yang lain. Bagi Daud, kebangunan rohani membuat dia berjanji kepada Tuhan untuk “mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu” (Mzm. 51:10-15). Bagi Petrus dan Yohanes kebangunan rohani itu membuat mereka jadi berani berkhotbah walaupun “keduanya orang biasa yang tidak terpelajar” (Kis. 4:13) sebab mereka tidak bisa berdiam diri “untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar” (ay. 20), tidak peduli bahwa orang lain tersinggung sampai mau membunuh mereka (Kis. 5:33), dan dengan keberanian mereka “menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil” (Kis. 8:4).

Kalau pada tahap awal pekerjaan penginjilan itu saja, yaitu di abad-abad permulaan yang tantangan-tantangannya jauh lebih sederhana dibandingkan dengan tantangan-tantangan di zaman akhir ini, Allah sudah mencurahkan kuasa Roh-Nya sedemikian rupa sehingga pekerjaan penginjilan maju dengan sangat pesatnya, apalagi pada abad ke-21 sekarang ini dengan populasi dunia yang ribuan kali lipat jumlahnya dan persebaran penduduk yang jauh lebih luas? Mungkin tantangan geografis dan demografis tersebut dapat dihadapi dengan kecanggihan teknologi yang menyediakan berbagai alternatif untuk menginjili seluruh penduduk Bumi, antara lain melalui media sosial seperti Facebook ini (konon sekarang sudah dapat dialihbasakan ke dalam 43 bahasa dunia, dan sedang diusahakan untuk 60 bahasa lagi dengan melibatkan 25.000 relawan, karena Facebookers yang berbahasa Inggris hanya 40%). Meskipun begitu, tantangan terbesar dan terutama adalah kesiapan umat Allah untuk melaksanakannya.

“Sama seperti pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta telah menyanggupkan murid-murid untuk menjadi saksi yang hebat bagi generasi mereka, pencurahan Roh Kudus dalam kuasa hujan akhir akan memberdayakan gereja Allah untuk menjangkau dunia pada generasi terakhir. Dibutuhkan tidak kurang dari kuasa hujan akhir untuk menyelesaikan missi Allah di bumi ini, dan Allah menawarkan tidak kurang dari itu. Pemberian surga yang paling berharga ditawarkan dalam pasokan yang tak terbatas demi untuk menuntaskan tugas yang paling mendesak dan penting yang pernah dipercayakan kepada gereja-Nya” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang prasyarat pencurahan Roh “hujan akhir”?
1. Pencurahan Roh hujan akhir mensyaratkan persiapan di pihak kita manusia supaya kuasa Roh efektif. Kuasa Roh Kudus terlalu berharga untuk diberikan kepada manusia yang tidak siap sehingga menjadi suatu kesia-siaan. Sebab, “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!” (Yak. 4:5).
2. Ketika anda berangkat menginjil (mengadakan KKR atau memimpin pendalaman Alkitab), persiapan apa yang anda utamakan–kebangunan rohani pribadi, atau komputer pribadi dengan materi-materi yang terdesain apik? “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam” (Za. 4:6).
3. Tantangan terbesar dan terutama dalam penginjilan sesungguhnya bukanlah keterbatasan anggaran, izin dari pihak berwenang, resistensi masyarakat, atau gangguan iblis. Tantangan terbesar dan terutama dalam penginjilan adalah kesiapan pribadi sang penginjil untuk menerima pencurahan Roh hujan akhir!

Rabu, 25 September
DIMURNIKAN DALAM KEMULIAAN ALLAH (Baptisan Dengan Api)

Dengan Roh Kudus dan api. Missi dari Yohanes Pembaptis adalah untuk “membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia” (Luk. 1:16-17). Ini sesuai dengan nubuatan nabi Yesaya yang juga dikutip oleh Matius (Yes. 40:3; Mat. 3:3). Sebagai pendahulu Sang Juruselamat, Yohanes Pembaptis menginjil dengan mengkhotbahkan tentang kedatangan yang pertama dari Yesus Kristus sebagai Mesias tetapi ditolak oleh pemuka-pemuka agama Yahudi itu. Anehnya, Yohanes tidak mengadakan KKR di tempat-tempat yang nyaman dan tersohor semacam gedung pertemuan di kota besar, melainkan di alam terbuka “padang gurun Yudea” (Mat. 3:1). Hebatnya lagi, para pengunjung ceramah itu banyak sekali yang datang mencari dia, yaitu “penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan” (ay. 5). Bukan itu saja, di antara mereka terdapat juga “banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis” (ay. 7).

Demi melihat kedatangan orang Farisi dan orang Saduki itu–mereka adalah dua kelompok politik dalam masyarakat Yahudi yang saling bersaing dan bertentangan dalam hal doktrin, tetapi berkoalisi untuk menentang Yesus Kristus–Yohanes langsung menghardik mereka dengan kata-kata yang keras, “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?” (Mat. 3:7b). Sehabis menegur dan menasihati mereka, Yohanes kemudian menyampaikan suatu pernyataan penting yang gaungnya terus bergema hingga pada akhir zaman: “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (ay. 11). Menurut penuturan Lukas, pernyataan ini disampaikan Yohanes untuk memastikan kepada orang banyak itu bahwa dirinya bukanlah Mesias (Luk. 3:15-16).

“Ada banyak yang salah mengerti pernyataan Yohanes ini. Ayat itu tidak mengatakan, ‘Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus atau dengan api.’ Ayat itu berkata, ‘Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dandengan api.’ Ungkapan kedua, ‘dan dengan api’ menjelaskan ungkapan yang pertama, ‘baptisan Roh Kudus.’ Baptisan Roh Kudus adalah baptisan dengan api. Kata baptisan dalam Perjanjian Baru digunakan 80 kali dan merujuk kepada pencelupan secara keseluruhan” [alinea kedua].

Api dalam Alkitab. “Api” dalam PL (Ibrani: ????, ‘esh) adalah sebuah kata benda feminin yang digunakan sebanyak 51 kali, dengan pemakaian menurut arti kata yang sebenarnya maupun arti kiasan (figuratif). Sebagai kata menurut arti yang sebenarnya, pemakaian kata api dalam PL adalah untuk api biasa yang digunakan memasak di dapur maupun api kudus yang digunakan untuk mezbah bakaran di Bait Suci serta api yang turun dari langit atas kehendak Allah. Sebagai kata kiasan, pemakaian kata api atau nyala api adalah untuk menggambarkan murka Allah. Dalam peribadatan bangsa Israel purba api adalah simbol dari hadirat Allah di tengah mereka, seperti yang dilambangkan oleh api di atas mezbah yang tidak boleh padam (Im. 6:12-13). Api juga sering menjadi media melalui mana malaikat atau Allah sendiri menampakkan diri agar dapat dilihat oleh mata manusia berdosa, seperti yang tercatat dalam Kel. 3:2-4; 24:17; 1Raj. 18:24; Mal. 3:2-3. Sementara “api” dalam PB (Grika: p??, pyr) adalah kata benda netral, pemakaiannya bisa dalam arti kata yang sebenarnya maupun sebagai kiasan, digunakan sebanyak 74 kali dalam 73 ayat, di antaranya Kis. 2:1-4 dan Ibr. 12:29. Konon, dari kata Grika inilah lahir kata Inggris “purge” (pembersihan/pencucian).

“Perlambangan api adalah sebuah simbol kemuliaan, hadirat, dan kuasa Allah yang dinyatakan dalam pelayanan Roh Kudus. Dibaptiskan dengan api berarti dicelup ke dalam kemuliaan hadirat Allah melalui Roh Kudus demi untuk bersaksi dalam kuasa-Nya…Baptisan Roh Kudus ialah pencelupan dalam hadirat dan kuasa Allah supaya kita dapat bersaksi secara efektif tentang kemuliaan-Nya. Sekali lagi, pada zaman akhir dari sejarah bumi ini umat Allah akan dicelupkan dalam hadirat-Nya, dipenuhi dengan kuasa-Nya, dan diutus untuk menyaksikan kemuliaan-Nya kepada dunia” [alinea ketiga: dua kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

Penafsiran lain. Sementara penyusun pelajaran SS ini menafsirkan “baptisan dengan api” dalam Mat. 3:11 itu sebagai “dicelup ke dalam kemuliaan hadirat Allah,” yang berarti dipersatukan atau dibalut dengan kemuliaan Allah, sebagian komentator Alkitab menafsirkan baptisan dengan api seperti yang dimaksudkan oleh Yohanes Pembaptis itu adalah pembersihan diri dari hal-hal yang tidak berguna, atau pemurnian jiwa melalui ujian iman. Ini berpatokan pada bunyi ayat sebelumnya tentang kapak yang siap menebang pohon yang “tidak menghasilkan buah yang baik” untuk dibuang ke dalam api (ay. 10), dan ayat sesudahnya tentang alat penampi di tangan Tuhan yang siap untuk “mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api” (ay. 12). Ucapan Yohanes dalam ayat 10 sama dengan perkataan Yesus dalam Mat. 7:19, dan ucapan dalam ayat 12 itu sama dengan perkataan Yesus dalam Mat. 13:40.

Dalam pengalaman nabi Yesaya, api adalah lambang dari pemurnian dan pengudusan (Yes. 6:5-6). Api juga digunakan oleh rasul Paulus sebagai lambang untuk menguji perbuatan seseorang (1Kor. 3:13-15), dan rasul Petrus pun berbicara tentang api untuk tujuan pemurnian (1Ptr. 1:7). Yesus sendiri menyebutkan api sebagai alat pemurni jiwa ketika Ia berkata, “Setiap orang akan dimurnikan dengan api, seperti kurban disucikan dengan garam” (Mrk. 9:49, BIMK). Itulah sebabnya kepada jemaat Laodikea, jemaat ketujuh dan terakhir, Yesus menyarankan, “Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya” (Why. 3:18).

Sesuai dengan maksud ayat-ayat tersebut, baptisan dengan api adalah sebuah pengalaman pribadi yang luar biasa bagi seorang anak Tuhan demi ketahanan imannya. Tidak seperti baptisan dengan air yang cukup dialami satu kali sebagai tanda pertobatan dan penyerahan diri kepada Yesus Kristus, baptisan dengan Roh dan dengan api mungkin bisa menjadi pengalaman seumur hidup. Baptisan dengan Roh melalui pengudusan mematangkan kerohanian kita, baptisan dengan api melalui ujian penderitaan menyempurnakan iman kita. Dalam bahasa Inggris terdapat ungkapan “baptism of fire” yang artinya “cobaan berat pertama” yang dialami seseorang dalam kehidupannya, khususnya pengalaman pertama seorang tentara di medan pertempuran. Prajurit yang lulus dalam “baptism of fire” berarti masih hidup dan bisa terus berkiprah dalam kemiliteran, sedangkan prajurit yang tidak lulus dalam pertempuran pertama itu mungkin sudah mati atau cacad seumur hidup. Bagi umat Kristen pun baptisan dengan api sangat menentukan kelangsungan iman Kristianinya, apakah dia bertahan dan selamat atau gugur dan binasa.

Apa yang kita pelajari tentang baptisan dengan Roh Kudus dan dengan api?
1. Baptisan dengan air membuat nama anda tercatat dalam buku keanggotaan jemaat, tetapi baptisan dengan Roh Kudus dan dengan api memastikan nama anda tercatat dalam buku kehidupan di surga. Baptisan dengan air dapat dilakukan oleh pendeta, tetapi baptisan dengan Roh dan dengan api hanya bisa dilakukan oleh Kristus sendiri.
2. Alkitab menggunakan kata “api” dalam berbagai makna dan cara, menurut arti kata yang sebenarnya maupun arti kiasan. Baptisan dengan api mengiaskan pemurnian rohani dan penyucian jiwa untuk melayakkan umat Tuhan mengalami kemuliaan bersama-sama dengan Kristus.
3. Baptisan dengan Roh dan dengan api adalah proses yang berkelanjutan sepanjang hidup Kekristenan untuk membawa seseorang mencapai kesempurnaan yang dikehendaki Allah (Mat. 5:48). Sasaran kesempurnaan orang Kristen adalah menjadi serupa dengan Kristus, sehingga seperti Paulus kita dapat berkata: “Sekarang bukan lagi saya yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri saya” (Gal. 2:20, BIMK).

Kamis, 26 September
PADA AKHIRNYA… (Peperangan Besar Berakhir)

Kristus menang. Peperangan antara Kristus dan iblis, yaitu pertarungan antara kebenaran dan kepalsuan, antara kebaikan dan kejahatan, antara terang dan gelap, berakhir untuk kemenangan Kristus. Tatkala peperangan itu berlangsung di surga, antara Mikhael dan Lusifer, yang terlibat adalah seluruh malaikat (Why. 12:7-9); ketika peperangan itu berlanjut di Bumi ini yang terlibat adalah semua manusia. Setelah dikalahkan di surga, Lusifer yang berubah menjadi Setan atau Iblis dibuang ke bumi ini bersama sepertiga malaikat surga yang tertipu menjadi pengikutnya. Dengan kejatuhan Adam dan Hawa di Taman Eden tampaknya Setan akan menguasai umat manusia seluruhnya, tetapi Mikhael datang ke dunia ini dalam inkarnasinya sebagai Yesus Kristus dan untuk kedua kalinya mengalahkan Setan di salib Golgota.

Dalam peperangan di surga Setan bertarung untuk merebut takhta Kristus sebagai Anak Allah, dalam peperangan di bumi ini Setan yang sudah kalah dalam pertarungan di surga itu berperang untuk menguasai manusia. Pertarungan memperebutkan umat manusia itu direpresentasikan dalam insiden perebutan jasad nabi Musa di gunung Nebo, tanah Moab (Ul. 34:1, 5-6), sewaktu Mikhael hendak membangkitkan pemimpin besar Israel purba itu untuk dibawa ke surga (Yudas 9). Nama “Mikhael” sebagai penghulu malaikat adalah personifikasi Kristus yang dalam Alkitab selalu muncul dalam suasana dan konteks peperangan. Selain dalam Wahyu pasal 12 dan kitab Yudas, nama Mikhael juga muncul dalam kitab Daniel pasal 10 dan 12, semuanya bernuansa peperangan.

“Inilah kabar baik itu: Yesus yang sama yang telah mengalahkan Setan di salib akan datang lagi dan menang atas kekuasaan neraka dan menyudahi kejahatan (Why. 19:19-21; Yeh. 28:18-19). Kejahatan tidak akan menentukan. Kemiskinan dan bela sampar tidak akan menentukan. Kesakitan dan penderitaan tidak akan menentukan. Kekacauan dan kriminalitas tidak akan menentukan. Penyakit dan kematian tidak akan menentukan” [alinea kedua].

Menang bersama Kristus. Sementara kemenangan Kristus di surga itu penting, kemenangan-Nya di salib Golgota adalah lebih penting bagi kita manusia berdosa, karena tanpa kemenangan Golgota itu anda dan saya tidak mempunyai harapan akan masa depan. Kemenangan Yesus disambut meriah di surga, tetapi banyak orang yang tidak menghargainya. Kemenangan Yesus melalui kematian dan kebangkitan-Nya merupakan kemenangan rangkap dua: Dalam kematian-Nya di atas salib Yesus menang untuk merebut manusia dari penyanderaan di tangan iblis, dan dalam kebangkitan-Nya dari kubur Yesus menang atas maut. Sesungguhnya, kemenangan Yesus Kristus itu adalah kemenangan semua umat percaya (1Kor. 15:54-57).

Kemenangan Yesus atas kejahatan dan kegelapan itu juga menjadi modal utama bagi pekerjaan penginjilan. Kalau saja Yesus tidak menang di kayu salib, usaha penginjilan adalah omong kosong. Sekiranya Yesus tidak bangkit dari kubur, janji hidup kekal adalah isapan jempol. Tetapi kenyataannya Yesus sudah menang, Dia telah mati dan bangkit kembali. Itulah realisasi injil, kabar baik yang kita bagikan kepada orang lain. “Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana” (2Kor. 2:14).

“Pekerjaan Allah di bumi akan dituntaskan. Yesus akan datang. Seantero langit dan bumi akan bersuka. Tidak ada lagi prioritas penting dalam hidup kita selain mengalami suatu kebangunan akan kasih karunia Allah di dalam hati kita setiap hari dan mengundang Roh Kudus-Nya untuk mengubah kita ke dalam citra-Nya (1Yoh. 3:1-3)” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang akhir dari perang kosmik di mana seluruh manusia terlibat?
1. Setelah menipu Adam dan Hawa sehingga nenek moyang pertama umat manusia itu jatuh ke dalam dosa, Setan mengklaim bahwa seluruh manusia berada dalam kekuasaannya. Tetapi Yesus Kristus, Mikhael yang sudah mengalahkan Lusifer di surga, datang ke dunia ini untuk memerdekakan manusia dari belenggu dosa itu.
2. Kedatangan Juruselamat manusia, yaitu Mesias, ke dunia ini dalam wujud Yesus Kristus adalah untuk bertarung melawan Setan sebagai penghulu dunia demi untuk menyelamatkan manusia. Peperangan yang Yesus hadapi di atas bumi ini sejatinya adalah peperangan anda dan saya, dan Yesus menang.
3. Peperangan besar antara yang baik dan yang jahat itu melibatkan setiap orang pada sepanjang zaman. Anda dan saya memiliki pertarungan kita sendiri di dalam peperangan besar itu, “melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:12). Tetapi kemenangan Yesus dapat menjadi kemenangan kita.

Jumat, 27 September
PENUTUP

Kebenaran lebih berharga. Kurang-lebih tiga bulan lagi dunia akan merayakan Hari Natal yang secara tradisional dianggap sebagai hari kelahiran Yesus Kristus. Pesan Natal tidak pernah beranjak jauh dari tema damai, sesuai dengan kedatangan Yesus Kristus ke dunia ini untuk “mendamaikan” manusia dengan Allah (Luk. 2:14; Rm. 5:1, 10; Ef. 2:13-18). Kedatangan Yesus Kristus yang pertama ke dunia ini, seperti yang telah kita pelajari dalam pelajaran pekan ini, adalah membawa missi perdamaian melalui Injil. Ini adalah perdamaian secara vertikal antara Allah dan manusia.

Namun, pada waktu yang sama kedatangan Yesus yang pertama itu juga membawa “perseteruan” secara horisontal di antara manusia. Yesus sendiri berkata, “Janganlah menyangka bahwa Aku membawa perdamaian ke dunia ini. Aku tidak membawa perdamaian, tetapi perlawanan. Aku datang menyebabkan anak laki-laki melawan bapaknya, anak perempuan melawan ibunya, dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya. Ya, yang akan menjadi musuh terbesar adalah anggota keluarga sendiri. Orang yang mengasihi bapaknya atau ibunya lebih daripada-Ku tidak patut menjadi pengikut-Ku. Begitu juga orang yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada-Ku” (Mat. 10:34-37, BIMK). Bahkan Yesus menarik garis yang lebih tegas lagi ketika Dia berkata, “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku, dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan” (Mat. 12:30; Luk. 11:23).

Siapa yang bisa menyangkal kenyataan betapa nama Yesus Kristus itu sudah menimbulkan perpecahan di antara manusia–secara bangsa, kelompok, keluarga maupun pribadi–dalam posisi pro dan kontra? Sekali lagi, sementara kedatangan Yesus membawa perdamaian terhadap konflik vertikal antara Allah dan manusia, tanpa bisa dihindari kedatangan-Nya juga membawa konflik horisontal di antara sesama manusia. Dan konflik itu berpusat di sekitar kebenaran yang melekat pada Nama-Nya, yaitu kebenaran berharga yang diterima oleh sebagian orang tetapi ditolak oleh sebagian yang lain. Kebenaran Kristus ini telah menjadi bahan argumentasi di antara jutaan orang, dari waktu ke waktu dan dari satu tempat ke tempat yang lain.

“Pekabaran akan dibawakan bukan oleh mengandalkan argumentasi melainkan keyakinan mendalam oleh Roh Allah. Argumentasi-argumentasi sudah diutarakan…Sekarang berkas-berkas cahaya menerobos ke mana-mana, kebenaran itu terlihat dalam kejernihannya, dan anak-anak Allah yang tulus hatinya memutuskan ikatan-ikatan yang membelenggu mereka. Hubungan-hubungan kekeluargaan, hubungan-hubungan kegerejaan, sekarang tidak berkuasa menahan mereka. Kebenaran lebih berharga daripada segala yang lain. Meskipun semua kaki-tangan yang menentang kebenaran itu bergabung, sejumlah besar orang mengambil tempat mereka di pihak Tuhan” [dua kalimat pertama dan empat kalimat terakhir].

Kebenaran Tuhan jauh lebih berharga daripada hal apapun di dunia ini, sebab kebenaran Tuhan itulah yang menyelamatkan kita dari dosa. Sebagai orang Kristen sejati kita tidak akan mundur dari kebenaran yang telah menuntun kita sampai sejauh ini, ketika sisa perjalanan tinggal sedikit lagi untuk ditempuh.

“Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran” (2Kor. 13:8)

Leave a Reply