Kebijakan AS Mempengaruhi Dunia

Bagi banyak orang kebijakan mantan Presiden AS George W. Bush dianggap sebagai penyebab kehancuran perekonomian AS yang kemudian menyeret dunia.  Kebijakannya dalam Perang Irak telah menguras kantong negara sampai triliunan dolar.  Kebijakannya agar semua rakyat boleh memiliki rumah telah menyebabkan banyak orang telah memaksakan diri membeli rumah melebihi kemampuannya sehingga terjadilah malapetaka subprime mortgage.  Kebijakannya untuk tetap mempertahankan kebebasan yang diberikan kepada bank investasi telah menggoda banyak lembaga keuangan melakukan spekulasi untuk mendapatkan keuntungan besar.

Bank investasi seperti Lehman Brothers, Goldman Sachs berada di luar kontrol bank sentral (the Fed) yang mempunyai peraturan yang lebih ketat dalam mengawasi bank komersial.  Tetapi kegiatan bank investasi banyak mirip dengan bank komersial seperti Citibank, Bank of America.  Bank komersial hanya bisa memberikan pinjaman maksimal 12.5 kali dari modal yang dimilikinya dan sering disebut dengan CAR (capital adequacy ratio) yang ditetapkan minimal sebesar 8%.  Sementara bank investasi sering memberikan pinjaman sampai 30 atau 40 kali lipat dari modal yang dimilikinya.  Kalau bank komersial memberikan pinjaman sampai 40 kali lipat dari modalnya, itu sama saja dengan mengatakan bahwa CAR-nya hanya 2.5%.  Masih ingat, waktu krisis moneter di Indonesia tahun 1998?  Bank yang CAR-nya di bawah 8% disuruh masuk ke rumah sakit yang bernama BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) karena dianggap sebagai bank yang sakit.

Nah, bank investasi yang juga dapat menerima dan mengelola dana masyarakat bisa beroperasi dengan modal kecil (dibandingkan dengan dana pihak ketiga yang dia kelola) tetapi mendapatkan keuntungan besar karena jenis produknya dianggap canggih sehingga harus dibayar mahal.  Bisa dibayangkan kalau ‘bank sakit’ mengelola uang masyarakat.  Itu hanya tinggal waktunya sebelum dia masuk rumah sakit.  Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang sebenarnya kurang sehat terlihat baik-baik saja karena udara masih baik.  Tetapi begitu terjadi pergantian musim atau cuaca, ditambah lagi adanya virus yang sedang mewabah, maka yang diserang terlebih dahulu adalah orang yang kurang sehat tadi.  Virus yang bernama subprime mortgage telah menyebabkan banyak bank investasi masuk rumah sakit, sebagian tidak tertolong dan menghembuskan nafasnya dengan meninggalkan hutang kepada ahli warisnya.  Yang disayangkan adalah karena sebagian dari ‘ahli waris’ itu adalah lembaga-lembaga yang mestinya lebih berhati-hati menjaga kesehatannya karena mereka dianggap menjalankan ‘pola hidup sehat’.  Sebut saja perusahaan asuransi dan juga bank komersial.  Tidak heran kalau perusahaan asuransi terbesar di dunia yaitu AIG yang karena ingin ikut menikmati keberuntungan besar, terseret untuk menjamin tindakan berbahaya dari para spekulan di atas.  Akibatnya AIG sendiri hampir menghembuskan nafasnya kalau tidak ditolong oleh pemerintah AS.  Bank-bank komersial lainnya juga terbawa arus untuk mengembangkan divisi khusus yang menangani bisnis spekulasi ini.

 

Swine Flu vs Subprime Mortgage

S

ekarang dunia lagi dihebohkan dengan adanya swine flu (flu babi).  World Health Organization (WHO) telah menetapkan swine flu ini pada fase 5, yaitu tingkat di mana virus ini telah mewabah paling sedikit di dua negara.  Ini sebenarnya sudah bisa dikatakan sebagai pandemi.  Memang keganasan virus ini tidak seperti avian flu (flu burung) yang sangat berbahaya itu.  Sekedar perbandingan ketika terjadi flu burung sekitar tahun 1917-1918 pandemi flu burung saat itu diperkirakan menelan korban antara 20-100 juta orang di seluruh dunia.  Virus yang semula berasal dari satu negara dapat merambah ke seluruh dunia dan memakan korban banyak.  Virus subprime mortgage yang dimulai dari AS telah merambah ke seluruh dunia dan telah memakan banyak korban.  Seperti virus flu burung atau flu babi, banyak negara yang dapat terkena virus ini karena adanya pergerakan orang antar negara.  Orang yang bepergian dapat membawa virus dan menyebarkannya di negara yang dikunjungi.  Banyak negara ikut menderita walaupun awalnya mereka tidak ada masalah.  Perekonomian dari banyak negara di dunia tadinya baik-baik saja tetapi sekarang telah terpengaruh oleh virus subprime mortgage.  Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa pada saat ini perdagangan antar negara umumnya dilakukan dengan menggunakan mata uang dolar AS.  Dengan demikian jika AS menderita karena virus subprime mortgage, maka negara-negara yang menggunakan dolar AS dalam transaksinya pasti akan terkena dampaknya.  Hal ini masih ditambah lagi karena hampir semua negara mempunyai perdagangan dengan AS.

 

Dolar AS Menguasai Dunia

Aneh tapi nyata.  Perekonomian AS sedang sakit, tetapi dunia tetap memerlukan dolar AS.  Mengapa?  Karena AS adalah negara terkuat dan yang mendominasi perekonomian dunia.  Belum lagi kalau dirujuk ke belakang ketika Bretton Wood Agreement ditetapkan pada tahun 1944, dunia sepakat bahwa nilai tukar mata uang setiap negara akan dikaitkan dengan nilai tukar dolar AS.  Sejak saat itu dolar AS telah berada di kantong semua negara dan disimpan sebagai cadangan devisa.

Krisis perekonomian yang diakibatkan oleh subprime mortgage telah menyebabkan banyak lembaga keuangan di berbagai  negara menderita sakit dan ambruk.  Mereka perlu ditolong dan yang menolongnya biasanya adalah bank sentral di  negara masing-masing.  Banyak orang menganggap bahwa perekonomian AS sudah sangat parah.  Tetapi dalam kenyataannya perekonomian Eropa lebih parah.  Paul Krugman menulis di New York Times sebagai berikut: “Actually, I’m concerned about the whole world – there are no safe havens from the global economic storm.  But the situation in Europe worries me even more than the situation in America.”  Lalu apa yang telah dilakukan?

Huffington Post dalam edisi Maret 2009, US Injecting Billions Into Foreign Central Banks, melaporkan bahwa selama hampir setahun bank sentral AS (Federal Reserve Bank) telah bertindak bagaikan bank sentral dunia (the world’s central bank) dengan menyuntikkan miliaran dolar AS ke berbagai departemen keuangan banyak negara di dunia.  The Fed telah bertindak mengambil alih peranan IMF.  Hal ini kurang diekspos di media massa karena dianggap sebagai kerahasiaan perbankan dan dianggap kurang mempunyai risiko karena akan ditukarkan kembali pada nilai awal pada saatnya.  Apa yang telah dilakukan adalah dengan melakukan swap antara mata uang negara-negara yang berhubungan.  Misalnya, AS memberikan dolarnya kepada Inggris lalu Inggris memberikan poundsterlingnya senilai dolar tersebut kepada AS.  Swap seperti ini dilakukan AS dengan berbagai bank sentral besar di dunia, seperti European Central Bank (Bank Sentral Eropa), Bank of Japan, Bank of England dan lainnya.  Dolar yang diberikan AS kepada bank sentral tersebut akan dipakai untuk menolong perbankan di negara tersebut melunasi kewajiban hutang mereka dalam dolar AS sekaligus untuk menggairahkan perekonomiannya.  Hal itu juga dimaksudkan untuk menaikkan nilai mata uang negara-negara tersebut.  Karena jika ‘permintaan’ akan mata uang suatu negara banyak, maka nilainya akan naik (the law of supply and demand).

Pertukaran mata uang di atas akan dikembalikan pada saatnya dengan nilai tukar yang sama.  Jika nilai salah satu mata uang jatuh, maka itu menjadi risiko dari negara yang menerimanya.  Contohnya, jika dolar AS jatuh pada saat akan ditukarkan kembali dengan poundsterling, maka itu menjadi risiko Inggris.  Inggris tentunya tidak ingin rugi dan tidak akan melakukan hal-hal yang dapat membuat dolar jatuh karena pada akhirnya Inggris sendiri yang akan rugi.

Apa yang ada di belakang peristiwa ini tidaklah sesederhana di atas.  Kenyataannya adalah bahwa AS telah membanjiri bank sentral berbagai negara di dunia dengan tujuan membantu perbankan di negara-negara itu dan untuk menggairahkan perekonomiannya.  Tetapi hal yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa bank sentral berbagai negara (yang notabene negara itu sendiri) menjadi sangat tergantung pada AS.  Hanya AS yang melakukan ‘tindakan penyelamatan’ seperti itu.  Bank sentral Inggris atau Bank Sentral Eropa tidak melakukannya.

 

Bisa dibayangkan bahwa bilamana tiba saatnya, banyak negara di dunia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti kemauan AS.  Mengapa?  Karena mereka telah terperangkap dalam permainan global perekonomian dunia.  Mereka membutuhkan pertolongan AS saat ini untuk menggairahkan perekonomian mereka.  Hanya AS yang berani dan mampu untuk mencetak dolar sesuka hatinya tanpa kuatir nilainya akan jatuh.  Negara-negara lain tidak berani.  Mengapa demikian?  Karena ada kekuatan besar di balik permainan ini yang akan mendukung AS.  Negara-negara lain (lewat bank sentralnya) sedang mengikatkan dirinya dengan permainan terselubung ini untuk tiba saatnya mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan tinggal menurut apa yang diperintahkan oleh binatang kedua dari Wahyu pasal 13.  Cina telah terperangkap dengan cara yang berbeda tetapi mengalami nasib yang sama.  Cina telah membeli banyak US Treasury Bond dan tidak ingin melihat nilai tukar dolar AS jatuh.  Karena itu berarti surat berharga yang dipegangnya juga akan turun nilainya.  Cina telah dikandangi.  Tinggal beberapa negara besar lagi yang akan dikandangi sebelum akhirnya sang juragan akan mengeluarkan perintahnya yang melarang orang untuk berdagang tanpa tanda di tangan dan di dahinya.  Sekarang orang berbicara tentang dunia perlu diselamatkan dari kekacauan perekonomian yang oleh sebagian orang dinilai sebagai akibat kebijakan mantan Presiden Bush.  Tetapi bagi arsitek di belakang layar, kebijakan yang telah dijalankan oleh Bush adalah sesuatu yang akan mempermudah rencana untuk menguasai dunia, tanpa diketahui kedoknya.  Itu sebabnya Presiden Bush disambut secara pribadi pada saat kunjungannya di Roma tahun lalu untuk membalas kunjungan penuh arti dan dukungan moral bagi Bush yang telah memasang badan untuk semua rencana terselubung ini.  Pemahaman tentang nubuatan akan membantu umat Tuhan melihat berbagai hal yang tidak dilihat oleh kebanyakan orang.

 

-Bonar Panjaitan

Sumber: WAO 5 Mei 09

Leave a Reply