KEHIDUPAN KRISTIANI

PELAJARAN KE-XI; 15 Desember 2012

PRAWACANA:
Dua orang pasien pria separuh baya dirawat di sebuah rumahsakit dalam satu kamar, dan tidak begitu lama mereka berdua langsung menjadi akrab. Karena punggungnya mengalami cedera sangat parah akibat kecelakaan, salah seorang pasien hanya bisa terbaring sepanjang waktu di atas ranjangnya yang ditempatkan dekat pintu masuk. Leher dan sekujur punggungnya dipasangi alat untuk mencegah dia menggerakkannya. Pria yang satu lagi mengidap penyakit kronis dan ranjangnya ditempatkan dekat jendela, dan pada sore hari selama satu jam tempat tidurnya akan dinaikkan pada bagian kepalanya supaya dia bisa duduk tegak untuk membantu mengeluarkan cairan dari paru-paru. Secara kebetulan kedua pria itu bernasib sama, hidup sendirian tanpa sanak keluarga di kota itu. Salah seorang adalah duda tanpa anak, yang lain tidak pernah menikah karena sejak muda menderita penyakit menahun dan sering harus dirawat berminggu-minggu di rumahsakit. Keduanya suka berbagi pengalaman masa remaja, mengenai keluarga masing-masing, dan tentang impian-impian mereka. Sesekali pasien yang mengalami kecelakaan itu mengutarakan kehampaan hidupnya, serta kekhawatiran bakal mengalami cacat seumur hidup dalam keadaan sebatang kara dan merasa lebih baik kalau dia mati saja.

Setiap sore, setelah perawat yang datang menegakkan tempat tidur itu berlalu, pasien yang hanya bisa terbaring di tempat tidur akan meminta temannya untuk mencerikan kepadanya pemandangan yang dia saksikan lewat jendela di dekat tempat tidurnya itu. Mula-mula temannya itu ragu memenuhi permintaannya, selain karena untuk berbicara saja akan menguras cukup banyak tenaga, dia juga sangsi apakah hal tersebut ada gunanya bagi temannya itu. Tapi temannya terus memohon, dengan mengatakan bahwa hal itu mungkin akan memberi semangat kepadanya supaya sembuh. Karena kasihan kepada temannya yang selalu mengeluh karena hanya bisa terbaring datar di atas ranjang tanpa boleh banyak bergerak, akhirnya pasien di dekat jendela itu memenuhi permintaannya. Dia memulai dengan bercerita bahwa mereka beruntung karena jendela kamar mereka menghadap langsung ke sebuah taman cukup luas yang bertaburan bunga warna-warni, dengan pohon-pohon cherry yang rindang tumbuh di dekat semua tempat duduk dari batu yang bertebaran di taman itu.

Dia juga bercerita tentang sebuah kolam dalam taman itu di mana kelompok-kelompok itik dan angsa berenang nyaman, sementara anak-anak kecil bermain dengan kapal-kapalan dari kertas di pinggir kolam. Banyak pasangan muda-mudi menikmati suasana sore yang hangat sembari jalan berpegangan tangan. Pasangan-pasangan itu berjalan lambat dengan sangat mesra, sambil kepala si gadis tersandar di bahu pemuda kekasihnya. Sesekali beberapa pemuda itu berhenti sejenak untuk memetik sekuntum bunga lalu menyematkannya di rambut gadis kekasihnya, yang disambut oleh si gadis dengan mendaratkan seberkas kecupan mesra di pipi sang pemuda. Langit senja yang cerah dengan garis-garis awan berwarna jingga ditimpa sinar mentari ikut menambah ceria suasana. Sekawanan burung belibis muncul dari batas kaki langit sebelah timur terbang dalam formasi menyerupai kepala anak panah melintas di atas taman, menampilkan suatu pemandangan yang elok di mata para pengunjung yang mendongakkan kepala mereka ke atas.

Sementara pasien di dekat jendela itu menyampaikan laporan pandangan mata tentang keindahan pemandangan tersebut, temannya di ranjang sebelah mendengarkan sembari menghiasi bibirnya dengan seutas senyum. Matanya dipejamkan untuk membayangkan keelokan taman di luar sana. Pernah suatu sore pasien di dekat jendela itu menerangkan tentang sebuah parade yang melewati jalan di depan pintu masuk taman itu. Meskipun temannya yang terbaring di tempat tidur dekat pintu itu tidak bisa mendengarkan suara genderang dan musik yang biasanya mengiringi sebuah parade, tetapi di dalam benaknya dia bisa menyaksikan dan mendengarkan semuanya.

Demikianlah rutinitas itu berlangsung selama hampir tiga pekan. Sampai pada suatu pagi, ketika pasien yang hanya bisa terbaring di ranjang sebagaimana biasa menyapa temannya yang tidur dekat jendela itu namun tidak ada sambutan sama sekali. Dengan ekor matanya dia melirik ke arah jendela, matahari sudah naik sehingga di luar terang benderang. Biasanya teman di sebelah itu sudah bangun pada jam seperti ini. Tidak berapa lama perawat masuk dan mengucapkan selamat pagi. Seperti biasa perawat itu langsung menuju ke pasien di dekat jendela siap untuk memandikannya, lalu berusaha membangunkan pria yang tampak masih pulas itu. Tiada reaksi. Perawat tersebut bergegas keluar kamar dan sejurus kemudian kembali bersama seorang dokter. Rupanya pasien di dekat jendela itu telah menghembuskan nafas terakhir sejak tadi malam, beberapa jam sebelum fajar.

Ketika jasad temannya dibawa keluar dari kamar itu, temannya mengiringi dengan isak tertahan. Setelah tempat tidur bekas temannya itu selesai dibersihkan, pria yang tempat tidurnya di dekat pintu itu meminta supaya dia dipindahkan ke dekat jendela. Perawatan yang intensif telah menghasilkan banyak kemajuan pada kondisi tubuhnya, dan dia berharap dapat menyaksikan sendiri pemandangan taman bunga yang ada di luar sana seperti yang setiap sore diceritakan oleh sahabatnya yang kini telah tiada. Pada petang harinya, setelah perawat menaikkan sedikit tempat tidurnya sehingga kepalanya menjadi sejajar dengan jendela, apa yang disaksikannya lewat jendela hanyalah tembok dari bangunan lain dalam kompleks rumahsakit itu. Dengan nada penasaran dia bertanya kepada perawat itu tentang taman bunga yang setiap hari diceritakan kepadanya oleh temannya, pasien yang baru saja meninggal itu. Dia juga mengatakan bahwa hal yang mendorongnya untuk pindah ke dekat jendela adalah supaya dia dapat menikmati sendiri pemandangan yang indah itu.

Setelah tertegun sejenak, sambil tersenyum sang perawat menjelaskan kepadanya bahwa tidak ada taman seperti itu di lingkungan rumahsakit tersebut. Perawat memberitahukan pula bahwa pasien yang baru meninggal itu buta dan sama sekali tidak dapat melihat tembok di luar jendela itu. “Mungkin dia hanya ingin memberi semangat kepada anda supaya lekas sembuh,” ujar perawat itu sebelum berlalu. (Dari sebuah sumber.)

Sabat Petang, 8 Desember
PENDAHULUAN

Membiasakan hidup berbagi. Apa artinya menjadi seorang Kristen? Pertanyaan yang sederhana, tetapi penjelasannya bisa sangat panjang. Tentu saja kita sedang berbicara tentang kehidupan Kristiani sejati, Kekristenan yang berakar di dalam kebenaran pengajaran Kristus yang ditumbuh-kembangkan oleh Roh Kudus di dalam lubuk hati yang terdalam. Kekristenan yang sekadar ditandai dengan ciri-ciri bersifat formalitas dan lahiriah tanpa berasal dari sanubari itu “sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran” (Mat. 23:27). Kristen kosmetik, itu namanya.

Kekristenan sejati ditunjukkan melalui perbuatan-perbuatan yang terdorong oleh iman (Yak. 2:14), yaitu perbuatan yang dilakukan dengan segenap hati “seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol. 3:23). Pasien yang mengidap penyakit paru kronis di dalam cerita di atas (Prawacana) itu tidak bermaksud hendak mengelabui teman sekamarnya dengan pemandangan-pemandangan imajiner yang diutarakannya setiap sore. Sebab dia sendiri tidak dapat melihat apa-apa karena buta, dia hanya berbuat itu untuk menghibur temannya yang nyaris putus asa dengan kondisi tubuhnya yang cedera parah. Apa yang dilakukannya ialah menciptakan kebahagiaan dengan cara berbagi khayalan tentang sebuah suasana penuh kebahagiaan yang dia sendiri impikan supaya bisa dinikmati juga oleh teman sekamarnya yang mulai kehilangan semangat hidup.

Kekristenan adalah soal berbagi dengan sesama; berbagi iman dan keselamatan, pengampunan dan kekudusan, kebahagiaan dan sukacita, serta berkat-berkat rohani dan jasmani. Kekristenan adalah soal berbuat kebajikan kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan, tanpa menghiraukan keadaan diri sendiri yang mungkin saja membutuhkan pertolongan dan penghiburan juga.

“Orang Kristen diselamatkan agar menjadi agen Allah demi keselamatan dan kebaikan orang lain di tengah pertentangan besar antara yang baik dan yang jahat. Menjadi ‘sangat berpikiran surgawi sehingga anda tidak memiliki kebaikan duniawi,’ meskipun ungkapan itu sangat klise namun melambangkan suatu kenyataan yang orang-orang Kristen perlu hindari. Tentu saja surga adalah rumah kita yang utama, tapi sekarang kita masih berada di dunia ini, dan kita perlu mengetahui bagaimana caranya untuk hidup sementara berada di sini” [alinea ketiga].

Minggu, 9 Desember
MELAYANI SESAMA (Penatalayanan)

Jangan lupa daratan. Bangsa Israel sudah siap memasuki tanah perjanjian Kanaan. Mereka sudah berada di perbatasan dan tinggal menyeberang sungai Yordan lalu mereka akan segera mewarisi negeri yang diidam-idamkan itu. Musa, yang telah memimpin perjalanan panjang bangsa besar itu tetapi tidak akan ikut masuk ke sana, mengumpulkan mereka untuk menyampaikan pesan-pesan terakhir. Dengan wanti-wanti Musa berpesan bahwa apabila mereka sudah mendiami negeri subur itu dan diberkati dengan kemakmuran hidup agar jangan menjadi lupa daratan. “Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini…jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan…Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini” (Ul. 8:11, 14, 17).

Kemakmuran cenderung membuat orang terlena dan lupa segalanya. Lupa diri, lupa orang lain, bahkan lupa Tuhan. Kesuksesan hidup berpotensi membuat seseorang merasa diri hebat, cenderung menyepelekan orang lain, dan mengabaikan kuasa Tuhan. Merasa bahwa prestasi yang dicapainya, dalam hal apa saja, itu semata-mata karena kehebatannya sendiri. Orang kaya condong untuk merasa berhak penuh atas kekayaannya, bersikap mementingkan diri, dan ingin menjalankan aturan-aturannya sendiri terhadap orang lain. Jauh dari pikiran mereka bahwa seisi dunia ini adalah milik Tuhan (Mzm. 24:1), senang dipuji dan tidak peduli dengan kepentingan orang lain (Flp. 2:3, 4), dan hampir mustahil mau berkorban untuk orang lain seperti Kristus (1Yoh. 3:16).

Milik Kristus. Alkitab mengajarkan bahwa semua manusia adalah milik Allah melalui penciptaan dan penebusan (lihat Pelajaran pekan lalu.) Persoalannya, berapa banyak manusia yang mau menerima kenyataan ini. Bahkan, banyak orang Kristen yang mengakui kepemilikan Kristus atas dirinya itu hanya sebagai “slogan keagamaan” ketimbang sebagai suatu kenyataan yang sungguh-sungguh dihayati. Atau, seperti seseorang pernah berkata secara berseloroh, “Tubuh dan jiwa saya memang milik Kristus, tetapi harta kekayaan adalah milik saya sebagai suatu berkat. Tuhan itu teramat sangat kaya sehingga tidak membutuhkan harta-benda saya.”

“Kristus telah membeli kita demi kemuliaan Allah (Ef. 1:11-14). Adalah ketika kita mengakui baik dalam perkataan maupun perbuatan akan kepemilikan Kristus sepenuhnya atas hidup kita maka kita membawa kemuliaan bagi Allah. Ungkapan yang sempurna tentang kepemilikan Kristus atas hidup kita akan mencakup pelayanan kita terhadap orang-orang lain melalui penggunaan waktu, bakat, kemampuan, dan harta benda milik kita” [alinea kedua: tiga kalimat terakhir].

Kekayaan dan ego. DEMONSTRASI: Ambillah dua gelas dan masing-masing diisi dengan air hingga setengah. Ke dalam gelas yang satu anda tambahkan sirup berwarna merah sampai penuh lalu dikocok, sedangkan pada gelas yang lain anda masukkan minyak tanah (kerosene) sampai penuh kemudian dikocok. Apa yang terjadi? Gelas pertama akan tampak berisi satu macam cairan berwarna merah; di gelas yang lain akan terlihat berisi dua jenis cairan, bagian atas adalah minyak tanah yang berwarna keruh dan bagian bawah air biasa yang lebih jernih. Berat jenis minyak tanah yang lebih ringan daripada berat jenis air membuat kedua cairan ini tidak dapat larut jadi satu karena minyak tanah akan selalu berada di atas air. MAKNA: Air di kedua gelas itu melambangkan ego (diri) kita, sirup berwarna merah dan minyak tanah melambangkan harta kekayaan yang ditambahkan kepada kita. Bagi orang yang menganggap kekayaan itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari dirinya, bila diminta memberikan hartanya sedikit saja akan merasa “sakit hati” oleh sebab egonya ikut terambil, seperti air bercampur sirup itu. Bagi orang yang memisahkan antara dirinya dengan kekayaannya adalah ibarat minyak tanah dengan air, apabila diminta membagikan hartanya dia dapat merelakannya tanpa sesuatu “rasa sakit” di hati sebab egonya tidak ikut terambil, seperti mengambil minyak tanah dari gelas yang kedua.

Seseorang pernah menggolongkan manusia ke dalam empat kelompok yang dikaitkan dengan kemampuan ekonominya: Orang yang miskin selalu bertanya, Besok mau makan apa? Bilamana keadaan ekonominya meningkat lalu menjadi orang yang hidupnya cukup, pertanyaannya berubah menjadi, Besok mau makan di mana? Selanjutnya, apabila peruntungannya bertambah lalu menjadi orang yang cukup kaya, dia akan bertanya, Besok mau makan dengan siapa? Ketika orang itu kemudian semakin makmur sehingga menjadi orang sangat kaya raya, pertanyaannya adalah, Besok mau makan siapa? Demikianlah gambaran dari kebanyakan orang kaya di dunia ini yang gemar menggunakan kekayaannya untuk kepentingan diri sendiri ketimbang untuk kepentingan orang lain.

Apa yang kita pelajari tentang kekayaan dan penatalayanan?
1. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan yang memiliki seluruh alam semesta ini, termasuk bumi dan segala isinya, yaitu manusia berikut kekayaannya. Tuhan memerintahkan agar orang-orang yang kaya menggunakan kekayaannya untuk melayani sesama manusia, sebab kekayaan adalah titipan Allah kepada sebagian orang sebagai penatalayan-penatalayan-Nya.
2. Simaklah perkataan Salomo ini: “Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya” (Ams. 10:22). “Ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat diberi kelimpahan, siapa memberi minum ia sendiri akan diberi minum” (Ams. 11:24, 25).
3. Kepemilikan Kristus atas diri kita sebagai orang Kristen bersifat menyeluruh, meliputi semua aspek dalam diri kita beserta segala sesuatu yang berhasil kita kumpulkan di atas dunia ini. Sementara Tuhan mengizinkan anda menikmati berkat-berkat kemakmuran hidup, jadikan diri anda sebagai saluran berkat bagi orang-orang lain yang membutuhkannya.

Senin, 10 Desember
HARTA TUHAN DI TANGAN KITA (Persepuluhan: Sesuatu yang Sangat Kecil)

Mengakui kepemilikan Tuhan. Konon, pada zaman dulu, bertemulah tiga orang saudagar di sebuah ladang untuk membahas tentang berapa besar dari keuntungan mereka yang harus dikembalikan kepada Tuhan. Masing-masing membawa sekantong uang logam emas dan perak hasil perniagaan mereka. Setelah berdebat panjang-lebar tanpa menghasilkan kesepakatan, akhirnya mereka memutuskan untuk menyerahkan kepada pendapat masing-masing soal jumlah yang hendak dikembalikan kepada Tuhan. Tidak boleh ada intervensi maupun kritikan. Saudagar yang pertama mengambil sebuah ranting pohon lalu membuat garis lingkaran di atas tanah mengitari tempat di mana dia berdiri. “Saya akan melemparkan semua uang saya ini ke atas, mana yang jatuh di luar lingkaran itu adalah milik Tuhan,” katanya. Kantong yang setengah terbuka itu terlontar ke atas, uang-uang logam itu jatuh kembali ke tanah menimbulkan suara berdenting. Betul, ada beberapa uang emas dan perak yang jatuh atau terlempar ke luar lingkaran lalu dimasukkannya ke dalam sebuah kantong kecil. Wajahnya menunjukkan airmuka lega dan rasa puas.

Saudara kedua mencari tanah yang sedikit berbukit, lalu dengan ranting kecil membuat garis lurus horisontal di tanah kering yang gundul dan landai itu. “Saya akan menggelindingkan semua uang logam saya dari atas sini. Uang-uang yang melewati garis ini sampai ke bawah adalah milik saya, yang tertahan di bagian atas dari garis itu adalah milik Tuhan. Bunyi gemerincing mengiringi uang-uang logam emas dan perak itu saat digelindingkan kemudian melewati garis batas yang dibuatnya. Tapi ada beberapa keping uang yang berhenti di atas garis lalu dipungutnya dan dimasukkan ke sebuah kantong yang tersedia. Saudagar kedua itu juga terlihat cukup puas dan senang. Saudara ketiga maju dan berkata, “Saya tidak mau membatas-batasi jumlah yang akan diberikan kepada Tuhan. Semua uang ini akan saya lemparkan tinggi-tinggi ke atas, berapa pun yang Tuhan mau ambil saya persilakan. Apa yang jatuh ke tanah itulah milik saya!”

Mengembalikan persepuluhan dan memberi persembahan adalah perintah Allah yang disertai dengan janji-janji berkat. Pada umumnya umat Kristen percaya akan perintah dan janji itu, tetapi untuk melaksanakannya seringkali masih menjadi pergumulan yang besar bagi sebagian orang, utamanya jika penghasilannya pas-pasan. Tetapi orang-orang dengan penghasilan sampai ratusan juta bahkan milyaran rupiah, mengembalikan persepuluhan kerapkali juga menjadi hal yang memberatkan oleh sebab nilai nominalnya yang terbilang besar. Persepuluhan dan persembahan dituntut dari kita untuk dikembalikan kepada Tuhan, dan dengan memenuhi tuntutan itu kita mengakui kepemilikan Tuhan atas diri kita, hidup kita, dan semua milik kita. Sesungguhnya, ketika mengembalikan persepuluhan itu kita masih belum memberikan apa-apa kepada Tuhan, sebab persepuluhan (10% dari gaji atau penghasilan atau laba usaha) adalah milik Tuhan yang memang harus dikembalikan kepada-Nya. Kita memberi kepada Tuhan melalui persembahan yang besarnya sesuai dengan kerelaan hati kita. “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2Kor. 9:7). Persepuluhan kita mungkin sangat kecil dari segi jumlah, tetapi persepuluhan adalah suatu hal yang sangat besar maknanya.

Membalas pemberian Tuhan. Tidak seperti pandangan banyak orang, kehidupan manusia tidak hanya berakhir pada kematian. Setidaknya kita sebagai umat percaya yakin bahwa ada kehidupan di balik kematian, dan hal itu dimungkinkan oleh karena kasih Allah yang telah memberikan Putra-Nya, Yesus Kristus, sehingga memungkinkan adanya kehidupan sesudah kematian (Rm. 5:10; 2Kor. 1:10). Bukan seperti yang dibayangkan oleh orang-orang yang tidak beriman, seolah-olah kelahiran adalah awal perjalanan menuju kematian, sebagai orang-orang yang percaya kepada janji Tuhan kita memiliki pengharapan untuk hidup kekal meskipun harus mengalami kematian dari kehidupan yang fana sekarang ini. Seperti kata rasul Paulus, “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (1Kor. 15:19).

“Demikianlah bakal menjadi nasib dari semua kita di alam semesta yang sangat luas sehingga planet kita, apalagi kehidupan kita secara perorangan, bisa tampak begitu tidak berarti dan bukan apa-apa selain hanya sebuah lelucon kejam yang hampir semua kita dapati hal itu tidak lucu…Berlawanan dari skenario itu, lihatlah apa yang telah diberikan kepada kita di dalam Kristus. Tengoklah apa yang sudah diberikan kepada kita melalui Yesus. Perhatikanlah apa yang rencana keselamatan itu katakan kepada kita tentang nilai diri kita, dan perihal apa yang telah dilakukan bagi kita sehingga kita tidak perlu menemui nasib seperti yang digambarkan di atas” [alinea kedua dan ketiga].

Jadi, kita mengembalikan persepuluhan dan memberi persembahan bukan saja karena demikianlah perintah Tuhan, tapi lebih dari itu kita melakukannya sebagai ungkapan rasa syukur atas janji hidup kekal yang akan kita peroleh nanti. Bukan berarti bahwa kita bisa beranggapan bahwa kesetiaan dalam membayar persepuluhan dan persembahan dapat menjadi jaminan atas keselamatan kita, tetapi karena terdorong oleh keyakinan akan keselamatan itulah maka kita dengan setia memenuhi perintah Tuhan tentang persepuluhan dan persembahan itu. Selamanya keselamatan kita mendahului setiap perbuatan kita kepada Tuhan. Kita beribadah kepada-Nya, memuji dan melayani Dia, menaati hukum-hukum-Nya, semua itu dilakukan oleh sebab kita sudah dianugerahkan dengan keselamatan melalui iman kita terhadap kematian penebusan Kristus. Tuhan sudah mengaruniakan keselamatan itu lebih dulu kepada kita, baru Dia meminta kita untuk memenuhi perintah-perintah-Nya.

Apa yang kita pelajari tentang persepuluhan dan persembahan untuk Tuhan?
1. Persepuluhan dan persembahan adalah kewajiban setiap umat percaya untuk dikembalikan kepada Tuhan, bukan supaya dengan sistem persepuluhan itu maka gereja-Nya di dunia ini memiliki sumber dana operasional, tetapi karena persepuluhan dan persembahan adalah harta milik Tuhan yang dititipkan di tangan setiap orang percaya.
2. Sistem persepuluhan juga melambangkan sifat kasih dan keadilan Allah. Karena kasih-Nya maka Dia memberikan kepada kita berkat-Nya lebih dulu baru persepuluhan itu dituntut kembali dari kita; karena keadilan-Nya maka nilai persepuluhan ditentukan secara persentase (10%) sesuai dengan besarnya berkat yang Ia karunikan kepada masing-masing orang.
3. Mengembalikan persepuluhan dan memberi persembahan harus dilihat sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih kita atas apa yang Tuhan telah lakukan bagi kita manusia. Persepuluhan dan persembahan bukan semacam “gratifikasi” supaya atau karena sudah diberikan keselamatan, melainkan bukti bahwa kita menaati perintah-Nya.

Selasa, 11 Desember
KEWAJIBAN UNTUK MENGASIHI SESAMA (Tanggungjawab Pribadi)

Uang dan perubahan. Uang mengubah manusia; suatu perubahan lahir-batin yang membuat seseorang menjadi sama sekali berbeda dan asing terhadap lingkungan sebelumnya. Perubahan ini bisa bersifat perorangan maupun secara kolektif pada sekelompok orang. Pada zaman dulu, di kampung kelahiran saya yang memiliki tradisi-budaya “mapalus” (gotong-royong sesama warga sekampung), untuk membuka ladang baru maupun mendirikan rumah baru dilakukan secara bergotong-royong dan bergilir berdasarkan skala prioritas dan kebutuhan. Pemilik ladang atau rumah hanya menyediakan bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan serta makanan dan minuman untuk warga kampung yang datang menyumbangkan tenaga dan keahlian masing-masing. Sekarang ini, dengan kemampuan ekonomi yang jauh lebih baik yang berperan dalam pergeseran nilai-nilai sosial, orang mendirikan rumah baru cukup memborongkannya kepada tukang-tukang atau memesannya dari perusahaan pengembang (developer). Memang uang membuat orang menjadi lebih independen dan tidak membutuhkan bantuan warga lain, tetapi mereka kehilangan suasana kebersamaan dan keceriaan ketika bekerja sambil bersenda-gurau. Bahkan, kemampuan ekonomi telah menjadi “pagar sosial” yang bahkan menjulang lebih tinggi dari pagar betulan, menjauhkan penghuninya dari para tetangga.

Uang juga dapat menciptakan perilaku anti-sosial dan membuat seseorang pantang untuk bergantung pada orang lain, dan pada waktu yang sama tidak ingin pula jika orang lain bergantung padanya. Bahkan dengan hanya memandangi uang saja dapat mengubah cara berpikir seseorang. Sebuah eksperimen psikologi yang diadakan oleh beberapa psikolog dari Universitas Minnesota di Minneapolis, sebagaimana dilaporkan oleh majalah ScienceNow, telah membagi dua kelompok relawan di mana kelompok pertama dicekoki dengan gambar-gambar mata uang di layar monitor komputer melalui screensaver, dan kelompok kedua diminta terus-menerus memandangi layar monitor bertema ikan. Ketika disodorkan kuisioner yang berisi pertanyaan tentang bagaimana mereka ingin mengisi waktu luang, misalnya, para relawan kelompok pertama lebih memilih mengikuti kursus masak-memasak secara privat ketimbang menikmati suasana makan berempat pada satu meja. Dan ketika diminta menyusun kursi berdua-dua pada sessi mengobrol untuk saling mengenal di antara sesama relawan, mereka yang selama ini selalu menatapi screensaver komputer berisi gambar-gambar berbagai mata uang menaruh kursi mereka lebih berjauhan dibanding para relawan yang menatapi layar bertema ikan. (Sumber–> http://news.sciencemag.org/sciencenow/2006/11/16-03.html).

Ciri altruistik. Ketika salah seorang ahli Taurat mencobai Yesus dengan menanyakan hukum manakah yang terutama dari hukum Taurat (Mat. 22:36), yang dimaksud oleh ahli Taurat itu adalah Sepuluh Perintah (Sepuluh Hukum) Allah. Intisari dari Sepuluh Perintah itu adalah kasih, yaitu kasih kita secara vertikal kepada Allah (hukum ke-1 hingga ke-4) dan kasih secara horisontal terhadap sesama manusia (hukum ke-5 hingga ke-10). Yesus secara tegas dan jitu menjelaskannya dan dengan demikian membungkan kaum Farisi serta ahli-ahli Taurat itu (ay. 37-39), lalu menyimpulkan penjelasan-Nya tentang hukum Allah itu: “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (ay. 40).

Rasul Paulus menasihati jemaat Filipi, “Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp. 2:4). Nasihat ini menonjolkan ciri altruistik bagian kedua dari Sepuluh Perintah. Sementara sebagai ciptaan Allah kita wajib memelihara martabat dan nilai diri kita (Mzm. 8:5; 144:3), dan sebagai umat tebusan kita menghargai nilai diri kita oleh karena tebusan yang sangat mahal telah dibayar Tuhan secara lunas (1Kor. 6:20; 7:23; Mzm. 49:8, 9), namun kenyataan-kenyataan itu tidak lantas membuat kita merasa diri lebih berharga dari orang lain.

“Dalam pengertian Kristiani mengasihi diri sendiri bukanlah cinta diri, hal itu bukan berarti menempatkan diri anda sendiri yang pertama sebelum semua orang dan segala sesuatu yang lain. Sebaliknya, mengasihi diri sendiri berarti menyadari nilai diri anda di hadapan Allah, anda berusaha sedapat mungkin untuk mengamalkan kehidupan yang terbaik, mengetahui bahwa hasil dari kehidupan seperti itu akan bermanfaat tidak saja bagi diri anda sendiri (yang adalah baik) tetapi juga, bahkan lebih penting lagi, bagi mereka dengan siapa anda bergaul” [alinea pertama].

Standar yang terbaik. Seseorang pernah berkata, kualitas dari suatu kehidupan tidak diukur oleh berapa banyak yang anda telah kumpulkan selama hidup, melainkan berapa banyak yang sudah anda bagikan. Di hadapan Tuhan, seseorang dianggap telah mengamalkan suatu kehidupan yang terbaik apabila dia sudah dapat berkata seperti rasul Paulus, “Sekarang bukan lagi saya yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri saya. Hidup ini yang saya hayati sekarang adalah hidup oleh iman kepada Anak Allah yang mengasihi saya dan yang telah mengurbankan diri-Nya untuk saya” (Gal. 2:20, BIMK). Artinya, nilai kita di hadapan Allah ditentukan oleh seberapa jauh kita telah mengikuti keteladanan Kristus dan menghidupkannya dalam diri kita.

“Jika anda mengasihi diri anda maka anda menginginkan apa yang terbaik untuk diri anda, dan apa yang terbaik bagi diri anda itu adalah suatu kehidupan yang berkomitmen untuk Allah, suatu kehidupan yang memantulkan tabiat dan kasih Allah, suatu kehidupan yang diamalkan bukan untuk diri sendiri tetapi bagi kebaikan orang lain. Cara yang paling pasti untuk menjamin hidup anda menjadi sengsara adalah dengan hidup bagi diri sendiri dan tidak pernah memikirkan kebaikan orang lain” [alinea kedua: dua kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Janganlah puas dengan pencapaian standar yang rendah. Kita belum menjadi apa yang dapat kita capai, atau apa kehendak Allah yang harus kita capai. Allah telah memberikan kepada kita kesanggupan berpikir, bukan supaya tetap tidak aktif atau supaya disesatkan kepada pengejaran keduniawian yang rendah, tetapi agar kesanggupan-kesanggupan itu bisa dikembangkan untuk yang tertinggi, yang dimurnikan, yang dikuduskan, yang dimuliakan, dan digunakan dalam memajukan kepentingan-kepentingan kerajaan-Nya” (Ellen G. White, Ministry of Healing, hlm. 498).

Apa yang kita pelajari tentang tanggungjawab pribadi terhadap Tuhan dan sesama manusia?
1. Uang dapat mengubah manusia, kepada kebaikan ataupun kejahatan, tergantung pada bagaimana seseorang memandang uang. Pada hakikatnya uang itu bersifat netral, dapat digunakan untuk maksud yang positif atau negatif itu terserah kepada sikap hidup dan kepribadian orang yang memilikinya.
2. Kristus mengajarkan bahwa Sepuluh Perintah (Sepuluh Hukum) itu adalah ungkapan kasih terhadap Allah secara vertikal dan kasih terhadap sesama manusia secara horisontal. Dalam hal kasih horisontal itu harus ditandai dengan ciri altruistik, di mana kita mengasihi “sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:39).
3. Orang Kristen harus hidup dengan tujuan untuk mencapai standar kehidupan rohani yang tertinggi, sehingga kita hidup seolah-olah bukan lagi diri kita sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup dalam diri kita. Orang Kristen tidak selayaknya menikmati kehidupan untuk diri sendiri, melainkan suatu kehidupan yang mengutamakan kepentingan orang lain.

Rabu, 12 Desember
KOMITMEN DAN INTEGRITAS (Perkawinan Kristen)

Satu daging. Penciptaan Hawa, perempuan pertama di bumi ini, agak lebih dramatis ketimbang penciptaan Adam. Tidak seperti Adam yang seluruh tubuhnya terbuat dari “debu tanah” (Kej. 2:7), Hawa diciptakan Allah dengan lebih dulu melakukan tindakan pembedahan untuk “mengambil salah satu rusuk” dari Adam yang sebelumnya dibuat-Nya tertidur “dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah” itu kemudian perempuan pertama tersebut dibuat (ay. 21, 22). Setelah Adam siuman tiba-tiba di hadapannya sudah berdiri sesosok tubuh molek yang amat mempesona sehingga dia langsung jatuh cinta. Tentu Allah menjelaskan kepadanya bagaimana perempuan itu telah dibuat, sehingga Adam langsung berseru: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki” (ay. 24). Selanjutnya, Allah menyatakan pasangan suami-istri pertama itu sebagai “satu daging” (ay. 25).

Prinsip perkawinan menurut Alkitab adalah monogami, antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Kepada orang-orang Farisi yang hendak menjebak-Nya, Yesus menegaskan: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?…Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat. 19:4-6; huruf miring ditambahkan).

Sebagian orang hanya menekankan makna ungkapan “satu daging” ini sebagai hubungan badan (hubungan seksual) antara suami dan istri. Tentu saja dalam pengertian sempit ungkapan tersebut merupakan manifestasi dari hubungan fisik, tetapi dalam pengertian yang luas itu juga memiliki dimensi hukum jika dikaitkan dengan Sepuluh Perintah, khususnya hukum ketujuh. Rasul Paulus juga menggunakan ungkapan “satu daging” untuk menjelaskan hubungan yang tak terpisahkan antara Kristus dengan umat-Nya (Gereja). “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat” (Ef. 5:31, 32; huruf miring ditambahkan).

“Menurut Alkitab, perkawinan adalah sebuah lembaga yang didirikan oleh Allah, di mana dua orang dewasa berlainan jenis bersumpah untuk mengikatkan diri dalam hubungan pribadi yang intim dan lestari. Perkawinan alkitabiah ditandai oleh suatu penghargaan kesetaraan antara pria dan wanita, suatu ikatan persatuan yang mendalam di mana tujuan-tujuan dipersatukan dan ada suatu rasa keabadian dan kesetiaan dan kepercayaan. Seperti halnya hubungan dengan Allah, hubungan antara seorang suami dengan seorang istri haruslah dijaga kesuciannya” [alinea kedua: tiga kalimat terakhir].

Perkawinan sejenis. Hari Sabat (hari ketujuh dalam pekan) dan Perkawinan adalah dua lembaga yang dicanangkan Allah di Taman Eden, dan kedua-duanya telah menjadi sasaran Setan untuk diruntuhkan. Setelah mengelabui manusia untuk mengubah hukum keempat tentang pengudusan Sabat hari ketujuh menjadi Minggu hari yang pertama, sekarang lembaga perkawinan yang seharusnya melibatkan seorang laki-laki dan seorang perempuan semakin mendapat guncangan hebat. Di Amerikan Serikat, sampai dengan bulan November 2012, dari 50 negara bagian sudah 9 (sembilan) yang mensahkan perkawinan sejenis dilakukan di wilayah hukumnya: Connecticut, Iowa, Maine, Maryland, Massachusetts, New Hampshire, New York, Vermont, dan Washington. Negara bagian Rhode Island, walaupun tidak mensahkan perkawinan sejenis diadakan di wilayahnya, tetapi secara hukum mengakui pasangan-pasangan sejenis yang menikah di negara bagian lain yang mensahkannya. Sedangkan California yang pada tahun 2008 sempat melegalkannya, sekarang hanya memberlakukannya secara terbatas. Pengesahan perkawinan sejenis di AS dilakukan dengan beberapa cara berbeda, ada yang melalui pengesahan pengadilan, keputusan politik melalui legislatif (semacam DPRD), dan juga lewat referendum (popular vote). Masih ada 39 negara bagian lain yang menolak perkawinan sejenis, 9 di antaranya melalui undang-undang dan 30 lainnya melalui konstitusi (undang-undang dasar).

Sebenarnya di AS sudah ada upaya untuk mengantisipasi kemungkinan perkawinan sejenis (same sex marriage) melalui apa yang disebut “Pembelaan Undang-undang Perkawinan” (DOMA=Defense of Marriage Act) yang diberlakukan tahun 1996, menyusul kericuhan hukum dalam masalah ini yang terjadi di negara bagian Hawaii tahun 1993 ketika mahkamah tinggi setempat memutuskan bahwa larangan perkawinan sejenis oleh negara bagian tersebut dianggap inkonstitusional. DOMA adalah sebuah upaya hukum untuk mencegah pemerintah federal (pusat) mengakui perkawinan sejenis, dan juga menjadi sebagai payung hukum bagi pemerintah negara bagian untuk menolak perkawinan sejenis. Namun, kini DOMA itu sendiri juga diobok-obok, dan saat ini sedikitnya 8 mahkamah tinggi negara bagian sudah memutuskan bahwa DOMA adalah inkonstitusional. Sebuah pengumpulan pendapat umum yang diadakan tahun 2011 lalu menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Amerika mendukung perkawinan sejenis. Presiden Barack Obama sendiri bulan Mei lalu secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap perkawinan sejenis, dan dengan demikian menjadi presiden AS pertama yang membuat pernyataan seperti itu ketika sedang menjabat.

Bagaimana dengan negara-negara lain? Di Eropa, 8 negara sudah mensahkan perkawinan sejenis, yaitu Belanda, Belgia, Denmark, Eslandia, Norwegia, Portugal, Spanyol dan Swedia. Negara lainnya adalah Kanada, Afrika Selatan, Argentina, dan Uruguay menjadi negara Amerika Latin paling baru ketika mensahkannya awal pekan ini. Beberapa negara lain di dunia, seperti juga beberapa negara bagian di AS, baru pada tahap “mengakui” tetapi belum mengizinkan untuk dilakukan di wilayah hukumnya. Tetapi ini hanya soal waktu saja, dan diperkirakan banyak negara-negara lain di dunia pada akhirnya akan mensahkannya. Ini baru masalah legalisasi perkawinan sejenis (laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan), belum lagi soal poligami (beristri lebih dari satu) dan poliandri (bersuami lebih dari satu). Lalu, bagaimana dengan soal prostitusi? Banyak sekali negara yang sudah melakukan legalisasi, sedangkan yang lain “baru” pada tahap lokalisasi. Kita sampai tak sempat lagi berbicara perihal hubungan seks di luar nikah, extra-marital dan pre-marital. Lembaga perkawinan sungguh sedang menghadapi serangan iblis secara dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hanya dengan bantuan kuasa Allah kita dapat memelihara komitmen dan integritas dalam perkawinan Kristiani.

Pena inspirasi menulis: “Seperti setiap karunia yang baik dari Allah yang dipercayakan pada pemeliharaan umat manusia, perkawinan telah diselewengkan oleh dosa; tetapi adalah maksud dari injil itu untuk memulihkan kemurnian dan keindahannya…Kasih karunia Kristus, dan hanya ini saja, yang dapat menjadikan lembaga ini menjadi seperti apa yang Allah rencanakan–sebuah saluran berkat dan yang mengangkat harkat kemanusiaan. Dengan demikian keluarga-keluarga di bumi ini, dalam persatuan dan damai dan kasih mereka, bisa mewakili keluarga surgawi” (Ellen G. White, Adventist Home, hlm. 99-100).

Apa yang kita pelajari tentang perkawinan Kristiani?
1. Ungkapan “satu daging” yang disebutkan dalam Alkitab mengenai suami-istri yang menjalin hubungan yang suci dalam lembaga perkawinan adalah gambaran dan sekaligus ide yang Allah ingin untuk diujudkan dalam rumahtangga-rumahtangga manusia di dunia ini. Akibat dosa manusia, perkawinan sekarang ini menjadi bulan-bulanan dari serangan iblis.
2. “Satu daging” digunakan juga untuk melukiskan hubungan yang suci antara Kristus yang adalah sebagai “suami” dengan Gereja (umat-Nya) yang adalah sebagai “istri.” Hubungan antara seorang pria dan seorang wanita dalam ikatan suami-istri harus meliputi seluruh aspek: jasmani, rohani, pikirani dan emosi.
3. Lembaga perkawinan–yang bersama Sabat hari ketujuh dilembagakan oleh Allah sendiri di Taman Eden–sedang diserang habis-habisan oleh Setan yang hendak menghancurkannya. Setan dengan segala kelihayan dan kebenciannya telah menipu manusia sehingga telah mengaburkan makna sesungguhnya tentang perkawinan sebagai lembaga yang suci.

Kamis, 13 Desember
MENGAMALKAN KEKRISTENAN (Perilaku Kristiani)

Kewajiban orang Kristen. Sebagaimana telah kita pelajari terdahulu, “Gereja” berpangkal pada kata Grika ekklesia yang secara harfiah berarti “dipanggil keluar” atau dalam konteks Kekristenan ialah dipanggil keluar”dari dunia.” (Lihat Pelajaran Ke-VIII; 24 November 2012). Ketika berdoa kepada Bapa-Nya di surga untuk murid-murid yang ada bersama Dia, Yesus dengan tandas berkata, “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia” (Yoh. 17:14; huruf miring ditambahkan). Murid-murid itu adalah orang-orang Galilea, sudah jelas mereka lahir dan dibesarkan di dunia ini. Tetapi bilamana mereka menerima panggilan Kristus untuk menjadi pengikut-pengikut-Nya, secara rohani mereka dipersatukan bersama Kristus yang berasal dari surga dan ikut menjadi warga surga. Sebagai pengikut-pengikut dan murid-murid Kristus di zaman moderen ini, secara rohani anda dan saya pun serta-merta memperoleh “naturalisasi” sebagai warganegara surga. Meski secara fisik anda dan saya masih tinggal di dunia ini, tetapi kita dianggap “bukan dari dunia.” Semua yang telah bergabung dalam “tubuh Kristus” yang disebut “Gereja” adalah orang-orang yang hidup di dunia namun memiliki kewajiban untuk memperagakan ciri-ciri tabiat yang berbeda dari dunia.

Orang-orang Kristen tidak dipanggil dari dunia untuk memisahkan diri secara fisik lalu membangun satu koloni dan hidup terasing dari dunia. Yesus sendiri berkata di dalam doa-Nya, “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia” (ay. 18; huruf miring ditambahkan). Kata Grika ?p?st????, apostello, yang pada ayat ini diterjemahkan dengan mengutus, mengandung arti pokok memerintahkan untuk pergi ke suatu tempat yang ditentukan, yang dalam hal ini adalah ke dunia ini juga. Jadi, orang-orang Kristen yang menerima panggilan untuk menjadi pengikut Kristus sesungguhnya mereka tidak pergi ke mana-mana melainkan tetap tinggal dan hidup di dunia ini, tetapi secara rohani status mereka sudah berubah, bukan lagi warga dunia ini melainkan warga surga. Sebagai warga surga di atas dunia ini maka setiap orang Kristen diwajibkan untuk mengamalkan kehidupan yang berbeda dari dunia dengan memperlihatkan ciri-ciri tabiat ilahi yang suci.

Kewajiban sosial. Pengarang pelajaran SS ini menyebut tiga “kewajiban sosial” yang diemban oleh setiap orang Kristen dalam berinteraksi dengan sesama manusia di muka bumi ini. Pertama, dalam hubungan sebagai majikan dan karyawan. Orang Kristen ada di mana-mana dan terlibat hampir di segala bidang pekerjaan dalam berbagai posisi, sebagai karyawan biasa, sebagai atasan atau pimpinan, bahkan sebagai pemilik sebuah usaha bisnis. Apapun kedudukan anda dan saya, sebagai orang Kristen kita dituntut untuk mempraktikkan prinsip-prinsip alkitabiah sebagai seorang yang jujur dan setia serta saling menghormati. Orang Kristen seyogianya menjadi karyawan terbaik, pimpinan yang terpuji, dan majikan yang dicintai oleh karyawan-karyawannya. Dalam suatu hubungan kerja, sebagai bawahan maupun atasan, jika keadaan membutuhkan maka seorang Kristen tidak hanya terpaku pada ketentuan-ketentuan normatif yang berlaku melainkan juga bersedia melakukan yang lebih baik dari itu. Ironisnya, kalau di dalam lingkungan pekerjaan Tuhan sendiri hubungan kerja dan suasana di tempat kerja terus dilanda ketegangan dan terasa mencekam oleh sebab ada oknum-oknum yang kelakuannya justeru lebih esktrem dari “orang dunia” sekalipun.

Kedua, dalam hubungan sebagai warganegara dengan pemerintah. Walaupun secara rohani kita adalah warganegara surga, tapi Alkitab tidak menafikan kewajiban kita sebagai warga dari suatu negara. Rasul Paulus dengan tegas berkata, “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah…Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu” (Rm. 13:1, 4). Dengan kata lain, selama kebijakan-kebijakan pemerintah tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip alkitabiah, setiap orang Kristen harus menghormatinya. Memang, dalam perjalanan sejarah ada pemerintah-pemerintah yang memerintah rakyatnya dengan kekejaman, bahkan dengan melarang aktivitas peribadatan umat Allah. Yesus Kristus sendiri adalah korban dari suatu rezim pemerintahan yang jahat pada zaman-Nya. Meskipun begitu, sebagaimana yang dicontohkan oleh Yesus Kristus, setiap pengikut-Nya harus tetap menjaga kesetiaan kepada negara dan pemerintah. Tuhan mempunyai kebijakan-Nya sendiri sesuai dengan hikmat-Nya untuk menangani pemerintah-pemerintah yang jahat, meskipun terkadang Tuhan “membiarkan” umat-Nya dianiaya secara kejam oleh pemerintah mereka sendiri seperti pada “zaman kegelapan” di abad pertengahan.

Ketiga, dalam hubungan sosial dengan sesama manusia. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, dengan rasa bangga rasul Paulus menulis, “Saudara sendirilah surat pujian kami, yang tertulis di dalam hati kami dan yang dapat diketahui dan dibaca oleh setiap orang. Mereka sendiri dapat melihat bahwa Saudara merupakan surat yang ditulis Kristus, yang dikirim melalui kami. Surat itu ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh Allah yang hidup; bukan juga di atas batu tulis, tetapi pada hati manusia” (2Kor. 3:2, 3, BIMK). Hamba Tuhan itu memandang jemaat Korintus sebagai contoh keberhasilannya dalam menginjil dan dalam mengajar orang-orang untuk menjadi pengikut Kristus, dan dia tidak berusaha menutupi kebanggaannya. Tentu saja pujian yang diutarakannya itu mempunyai alasan yang kuat, yakni kesaksian-kesaksian dari penduduk kota Korintus yang memperhatikan perilaku orang-orang Kristen yang terpuji itu. Belakangan kita bisa melihat bahwa perilaku Kristiani yang ditampilkan oleh jemaat di Korintus telah mempengaruhi orang-orang lain untuk bergabung ke dalam Gereja.

Apa yang kita pelajari tentang kewajiban untuk mengamalkan perilaku Kristiani?
1. Gereja adalah wadah perhimpunan orang-orang yang “dipanggil dari dunia” untuk menjadi pengikut Kristus, yaitu mereka yang dikenal sebagai umat Kristen. Keterpanggilan umat Kristen untuk memisahkan diri dari dunia adalah bersifat rohani, namun secara fisik dan sosial mereka tetap hidup dan bergaul dengan masyarakat dunia ini. Dalam pergaulan dengan dunia itulah setiap orang Kristen harus mengamalkan kehidupan Kristiani.
2. Makna “Gereja” adalah “dipanggil dari dunia (ekklesia) dan kemudian diutus ke dunia (apostello).” Ketika umat Kristen berhimpun, sebagai satu jemaat atau satu Gereja, mereka berinteraksi di antara sesama dalam satu persekutuan (koinonia) di mana orang-orang Kristen itu saling berbagi dan saling menguatkan. Dalam pergaulan dengan sesama “saudara seiman” itulah setiap orang Kristen harus mengamalkan “kasih mesra” (Ef. 4:32).
3. Setiap orang Kristen sejati, yang hidup di dalam Kristus dan memiliki Kristus dalam hidupnya, akan berniat dan berusaha untuk menjadi individu yang baik sesuai dengan kedudukan masing-masing dalam masyarakat: karyawan, atasan, pimpinan, pengusaha, siswa/mahasiswa, guru/dosen, pejabat, dan sebagainya. Pendeknya, setiap orang Kristen harus menjadi warganegara yang baik dan bertanggungjawab.

Jumat, 14 Desember
PENUTUP

Meneladani Kristus. Orang Kristen berarti pengikut Kristus. Istilah ini berasal dari kata Grika ???st?a???, Christianos, sebuah kata bentukan dari akar kata ???st??, Christos, berarti “yang diurapi.” Kata ini adalah terjemahan dari kata Ibrani ????????, Mašía?, atau Mesias, yang digunakan dalam Perjanjian Lama. Jadi, umat Kristen adalah orang-orang yang bukan saja hidup menurut ajaran-ajaran Kristus, tetapi juga menjadikan Kristus sebagai teladan kehidupan. Dengan kata lain, kehidupan Kristiani adalah perpaduan antara pengamalan ajaran-ajaran Yesus dan keteladanan hidup Yesus.

Ajaran Yesus yang terbesar adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu…Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:37-40); dan keteladanan Yesus yang terutama ialah “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:28). Hanya bilamana kita mengamalkan kasih dan pelayanan maka kita pun menjadi orang-orang “yang diurapi” sama seperti Kristus. Inilah makna sesungguhnya dari menjadi “orang Kristen” itu.

“Perbuatan-perbuatan kedermawanan dan kebajikan telah dirancang oleh Allah untuk memelihara hati anak-anak manusia tetap lembut dan simpatik, serta untuk mendorong diri mereka suatu perhatian dan kasih sayang terhadap satu sama lain untuk menyerupai Tuhan, yang demi kepentingan kita sudah menjadi miskin supaya melalui kemiskinan-Nya kita menjadi kaya” [alinea pertama: kalimat pertama].

Orang-orang Kristen berada di dunia untuk suatu missi, yaitu memperluas kerajaan Allah di bumi ini. Dari zaman ke zaman Tuhan memiliki sekelompok orang yang dipilih-Nya dan diurapi-Nya demi menyebarkan injil keselamatan dan menarik banyak orang untuk percaya dan diselamatkan oleh menjadi warganegara surga. Walaupun berkat dijanjikan dan digenapi dalam kehidupan banyak orang Kristen, namun bukan kemakmuran hidup yang menjadi tujuan orang Kristen sejati, melainkan kerajaan surga. Kerajaan Allah itu “bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran” (Rm. 14:17); karena itu umat Kristen hendaknya lebih mengutamakan mencari “Kerajaan Allah dan kebenarannya” sebab segala yang lain itu akan ditambahkan (Mat. 6:33).

“Kita ditempatkan di dunia ini bukan sekadar untuk merawat diri kita sendiri, tetapi kita dituntut untuk membantu dalam pekerjaan keselamatan yang besar, dan dengan demikian meniru penyangkalan diri, pengorbanan diri, dan kehidupan Kristus yang berguna” [alinea terakhir].

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1Yoh. 4:7, 8).

(Oleh Loddy Lintong/California, 13 Desember 2012

Leave a Reply