“KEKAYAAN DAN KETENARAN DALAM PERSPEKTIF PEMURIDAN”

February 25, 2014 - Loddy Lintong

“DENGAN YANG KAYA DAN TERKENAL”

Sabat Petang, 15 Februari

PENDAHULUAN

 

Uang bukan segalanya. Adalah Will Rogers [1879-1935] yang mengatakan, “Terlalu banyak orang yang membelanjakan uang yang belum mereka miliki, untuk membeli barang-barang yang tidak mereka perlukan, untuk memberi kesan kepada orang-orang yang tidak mereka sukai.” Will adalah seorang Indian-Amerika dari suku Cherokee yang terkenal sebagai pelawak, aktor, produser film, dan penulis. Maksud dari perkataan ini adalah untuk mengingatkan kita betapa “pencitraan diri” itu mahal dan tidak ada faedahnya. Tidak sedikit orang yang karena alasan “jaga imej” sampai memaksakan diri menghabiskan banyak uang untuk membeli barang-barang “bermerek” dan mahal supaya dikagumi dan dipuja orang.

 

“Berapa banyak kebenaran dalam pernyataan itu yang bisa diperdebatkan; namun apa yang tidak perlu diperdebatkan ialah bahwa uang dapat mempunyai pengaruh yang kuat pada semua kita. Karena kebiasaan-kebiasaan dalam hal keuangan pribadi secara luas melambangkan nilai-nilai seseorang, uang sesungguhnya adalah masalah rohaniah. Itulah sebabnya tidak heran mengapa Alkitab menggunakan banyak waktu berbicara tentang hal itu” [alinea kedua].

 

Dalam dunia yang materialistik dan memuja ketenaran, uang dan nama besar adalah dambaan banyak orang. Ketenaran dan kekayaan sering tampil sebagai kembar identik yang tak terpisahkan, di mana memiliki salah satu berarti mendapatkan yang lain. Orang terkenal biasanya kaya, dan orang kaya biasanya terkenal. Apabila seseorang yang memiliki keduanya itu juga berperangai haus kekuasaan, maka hampir dapat dipastikan bahwa dia akan menggunakan kekayaan dan ketenarannya untuk meraih kekuasaan. Terkadang dalam kondisi tertentu juga bisa dibalik, berkuasa dulu baru kemudian menjadi kaya dan tersohor.

 

“Orang-orang terkenal menggunakan pengaruh, suatu bentuk kekuasaan. Namun, Yesus tidak terkesan oleh kekayaan atau kekuasaan seseorang. Ia hanya berusaha menjangkau mereka karena alasan yang sama seperti Ia lakukan kepada semua orang yang lain: Ia ingin agar mereka memiliki jenis kekayaan yang tak dapat diberli oleh uang” [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

 

Minggu, 16 Februari

BAGAIMANA KITA MEMANDANG KEKAYAAN (Sangat Diberkati*)

 

(*Judul asli: Richly Blessed)

 

Kekayaan bukan dosa. Sekali peristiwa sebuah pesawat penumpang berukuran kecil mengalami kerusakan mesin sehingga memaksa penerbangnya melakukan pendaratan darurat di tengah hutan belantara. Hanya karena kepiawaian sang pilot maka semua penumpang selamat, walaupun pesawat mengalami kerusakan parah dan peralatan komunikasi hancur. Banyak dari mereka yang mulai resah apakah tim penyelamat dapat menemukan mereka dalam waktu dekat. “Mereka segera akan menemukan saya,” gumam seorang bapak berperawakan gempal. “Tapi pak, alat komunikasi tidak dapat digunakan sama sekali?” kata seorang pemuda yang berada di dekatnya. “Mereka pasti berusaha dengan cara apapun,” bapak itu menjawab santai. “Mereka yang bapak maksudkan itu siapa? Dan bagaimana bapak merasa begitu pasti?” tanya pemuda itu lagi penasaran. “Anak muda, kamu tidak kenal siapa saya,” sahut bapak itu sambil menatapnya. “Mana mungkin mereka mau kehilangan seorang anggota jemaatnya yang setia membayar persepuluhan seratus juta rupiah setiap bulan, belum lagi persembahan dan sumbangan beratus-ratus juta? Makanya saya bilang, mereka pasti akan menemukan saya!” Anda tentu tahu, ini cuma cerita rekaan saja.

 

Sementara kekayaan begitu dipuja oleh manusia, Salomo menyatakan bahwa nama baik dan integritas lebih berharga daripada kekayaan (Ams. 22:1; 28:6). Bahkan Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan, “Apa untungnya bagi seseorang, kalau seluruh dunia ini menjadi miliknya, tetapi ia kehilangan hidupnya?” (Mrk. 8:36, BIMK). Sebenarnya kekayaan itu sendiri bukan dosa, tetapi bagaimana kita menggunakan kekayaan itulah yang menentukan dosa atau tidak. Seperti pisau adalah barang yang netral, itu bisa menjadi benda yang bermanfaat bagi kehidupan jika digunakan sebagai peralatan dapur untuk memasak, tapi itu juga dapat menjadi alat kejahatan kalau dipakai untuk membunuh orang. Demikian pula halnya dengan kekayaan, itu bisa mendatangkan berkat ataupun dosa bergantung dari bagaimana anda menggunakannya.

 

“Bagaimana pun, Alkitab bukan tanpa alasan meremehkan kekayaan atau orang kaya. Sebagaimana dengan begitu banyak hal lain dalam kehidupan, masalah-masalah timbul bukan dari benda-benda itu sendiri melainkan dari cara kita berhubungan benda-benda itu” [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

 

Kekayaan dan keselamatan. Banyak tokoh dalam Alkitab yang kaya, bahkan kaya raya. Abraham (Kej. 13:2), Ishak (Kej. 26:12-13), Yakub (Kej. 36:6-7), Daud (1Taw. 29:26-28), Salomo (1Raj. 10:23; 2Taw. 9:22), Hizkia (2Taw. 32:27-29), dan Ayub (Ay. 1:1-3) untuk sekadar menyebutkan beberapa nama. Raja-raja Yehuda dan Israel purba pada umumnya adalah orang-orang kaya sebab mereka diberkati oleh Tuhan karena penurutan mereka. Allah tidak mengharamkan kekayaan, bahkan Ia menjanjikan kekayaan bagi orang-orang yang setia kepada-Nya dan yang dikasihi-Nya. Raja Salomo, orang terkaya yang pernah hidup di dunia, itu berkata: “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahkannya” (Ams. 10:22). Sebab itu dia memuji Allah dengan bernyanyi, “Percuma saja bekerja keras mencari nafkah, bangun pagi-pagi dan tidur larut malam; sebab TUHAN menyediakannya bagi mereka yang dikasihi-Nya, sementara mereka sedang tidur” (Mzm. 127:2, BIMK).

 

“Pendek kata, kekayaan itu sendiri tidak mengindikasikan kemiskinan atau ketidakacuhan rohani. Ada sebagian orang kaya yang sangat setia serta saleh dan ada juga yang begitu keji dan jahat. Bagaimana pun juga kita jangan membuat keinginan akan uang menjadi sebuah obsesi, jangan pula memandang keji orang-orang yang kaya. Mereka memerlukan keselamatan yang sama seperti orang lain juga” [alinea terakhir].

 

Pena inspirasi menulis: “Kepada saya telah ditunjukkan bahwa beribu-ribu orang kaya masuk ke liang kubur mereka tanpa diamarkan, sebab mereka sudah dinilai dari penampilan dan dilewatkan sebagai orang-orang yang tak berpengharapan. Tuhan ingin agar hal ini berubah. Biarlah orang-orang yang bijaksana ikut dalam pekerjaan ini, orang-orang yang belum berbuat apa-apa di dalam tugas ini oleh sebab dianggap haram dan sia-sia. Ini adalah pekerjaan yang besar dan penting, dan Allah hendak memberkati orang-orang dengan hikmat untuk menjalankannya” (Ellen G. White, Medical Ministry, hlm. 245).

 

Apa yang kita pelajari tentang orang-orang kaya dan kekayaan mereka?

1. Menjadi orang kaya itu tidak salah, selama anda yang memiliki kekayaan itu, bukan sebaliknya kekayaan yang “memiliki” anda. Seseorang yang berkuasa atas kekayaannya dapat mengendalikan kekayaan itu, sedangkan orang yang dikuasai oleh kekayaan maka seluruh hidupnya akan diatur dan dipengaruhi oleh kekayaannya.

2. Tidak semua orang kaya berperangai buruk, seperti juga tidak semua orang miskin berperilaku baik. Namun, seringkali orang kaya menjadi “besar kepala” karena kita sendiri yang turut membesarkan kepalanya. Misalnya dengan penghormatan dan pemanjaan yang berlebihan sehingga mereka menjadi tidak realistis dan tidak masuk akal.

3. Orang-orang kaya yang menyadari dan mengakui bahwa kekayaan datangnya dari Tuhan akan senantiasa rendah hati dan mau berbagi. Sebaliknya, orang kaya yang menganggap kekayaannya adalah semata-mata suratan nasib dan kemujuran akan cenderung angkuh dan mengandalkan kekayaan sebagai pemecahan setiap masalah.

 

Senin, 17 Februari

PERLUNYA DILAHIRKAN KEMBALI (Pertemuan Malam Hari*)

 

(*Judul asli: Nightime Rendezvouz)

 

Kebingungan Nikodemus. Dalam PB kita menemukan setidaknya dua orang kaya yang datang menemui Yesus secara pribadi, di antaranya adalah Nikodemus (Yoh. 3:1). Dia adalah seorang pemuka agama Farisi dan anggota Sanhedrin (anggota dewan agama) yang masih muda, berkuasa dan tentu saja kaya. Karena kedudukannya yang tinggi dan terhormat itu maka Nikodemus (nama Grika yang artinya “penakluk”) memilih untuk bertemu dengan Yesus secara diam-diam pada waktu malam. Saat bertemu dia menyapa Yesus dengan sebutan “Rabi” (=Guru) dan secara terbuka mengakui penyertaan Allah dalam diri Yesus (Yoh. 3:2). Tampaknya Nikodemus termasuk salah satu dari banyak orang yang terkesan menyaksikan tanda-tanda yang Yesus nyatakan selama perayaan Paskah di Yerusalem beberapa waktu sebelumnya (Yoh. 2:23).

 

Sebagaimana kita baca, Nikodemus dibuat bingung ketika Yesus berkata kepadanya tentang “dilahirkan kembali” (Yoh. 3:3). Kata Grika yang diterjemahkan dengan kembali di sini adalah ἄνωθεν, anōthen, juga dapat berarti dari atas atau dengan cara baru (Strong; G509). Jadi, “dilahirkan kembali” dapat diartikan “dilahirkan dari atas” atau “dilahirkan dengan cara baru.” Sebagai seorang pemuka agama dan anggota dewan yang terhormat, Nikodemus seharusnya tidak terlalu naif untuk bisa mengerti apa yang Yesus maksudkan dengan kelahiran kembali itu, tapi nyatanya dia kebingungan (ay. 4). Pernyataan Nikodemus bahwa Yesus datang dari Allah tidak cukup untuk menyelamatkan dirinya, dia harus menyatakan keyakinannya itu melalui baptisan dengan air dan dengan Roh (ay. 5). Baptisan dengan air adalah pengakuan di hadapan umum bahwa kita percaya kepada Yesus, dan baptisan dengan Roh adalah kesediaan untuk diubahkan oleh Allah. Seorang pengikut Yesus harus mau meninggalkan keinginan daging (hal-hal duniawi) dan tunduk pada keinginan Roh (hal-hal rohani). Yesus menandaskan, “Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali” (ay. 6-7).

 

“Nikodemus telah menyaksikan kuasa dan kewenangan Allah sebagaimana dinyatakan melalui pelayanan Yesus sehingga berusaha untuk bertemu dengan Dia tapi secara diam-diam. Yesus bisa saja menolak ajakan rahasia ini, tetapi karena tidak rela ada seseorang yang binasa maka Dia bersedia menerima kesempatan ini untuk membawa Nikodemus selangkah lebih dekat kepada kerajaan itu. Kemiskinan Nikodemus bersifat rohani, bukan materi. Diperkaya dengan perkara-perkara duniawi dan kedudukan sosial yang tinggi, namun demikian dia lapar secara rohani” [alinea kedua].

 

Pilihan Nikodemus. Nikodemus muncul tiga kali dalam Alkitab, semuanya tercatat dalam injil Yohanes. Selain pertemuannya dengan Yesus di malam hari itu, pemimpin Yahudi ini juga tampil ketika dia membela Yesus di hadapan rekan-rekannya sesama kaum Farisi yang berniat menangkap Yesus (Yoh. 7:45-52). Ketiga kalinya adalah sesudah penyaliban sewaktu dia bersama Yusuf dari Arimatea mengambil mayat Yesus untuk dikuburkan (Yoh. 19:38-42).

 

“Secara naluri Nikodemus menentang pandangan bahwa orang-orang Israel yang berpengetahuan luas seperti dirinya harus memerlukan baptisan. Namun, Yesus mendesak Nikodemus dengan menyajikan pilihan kekal antara penghakiman dan keselamatan. Takut dituduh dan diejek, Nikodemus menolak untuk menerima undangan Kristus. Wawancara itu tampaknya gagal. Akan tetapi bibit rohani yang sudah tertanam itu lambat laun bertumbuh di dalam tanah hatinya” [alinea ketiga].

 

Nikodemus adalah representasi dari orang-orang yang terkesan dengan pekabaran tentang Yesus Kristus sebagai Juruselamat, namun tetap bersikap kritis dan tidak mau begitu saja menerima kebenaran dari doktrin tersebut. Status sosial dan tingkat intelektualitas mungkin menjadi penyebab dari sikap kritis itu. Banyak kali kita kehilangan calon-calon murid Kristus dari lapisan masyarakat seperti Nikodemus ini karena kita terlalu bersemangat sehingga terburu-buru untuk segera membaptiskan mereka, karena menganggap jiwa-jiwa “kelas kakap” lebih penting dan membanggakan dibandingkan menarik jiwa dari “kelas teri.” Tetapi kita harus memberi ruang kepada Roh Kudus untuk menjalankan peran-Nya, membiarkan bibit kebenaran yang kita tabur itu bertumbuh secara wajar dan menunggu sampai Roh itu bekerja dengan cara yang luar biasa dan tak terduga.

 

Apa yang kita pelajari tentang pengalaman Nikodemus bertemu dengan Yesus?

1. Kelahiran kembali (=pertobatan) adalah inti dari pekabaran Yesus, itu yang diajarkan-Nya kepada rakyat biasa dan itu juga yang diajarkan kepada orang kaya dan berpangkat seperti Nikodemus. Konsistensi dalam pengajaran adalah penting dan tidak dapat dikompromikan hanya karena melihat siapa calon murid itu.

2. Nikodemus tampil dalam tiga peristiwa, tetapi banyak orang lebih menekankan pada kemunculannya yang pertama saat bertemu dengan Yesus di malam hari dengan kesimpulan yang negatif. Pertemuannya dengan Yesus mengandung pelajaran berharga, tetapi akhir yang indah baru datang kemudian.

3. Sikap yang menggebu-gebu untuk menginjili orang kaya serta ternama, dan sebaliknya acuh tak acuh terhadap orang biasa serta miskin mencemari pekerjaan pemuridan itu sendiri. Kalau demikian, mungkin yang perlu “dilahirkan kembali” bukan cuma jiwa yang diinjili itu tapi terutama adalah penginjilnya juga.

 

Selasa, 18 Februari

PENGARUH UANG PADA CARA BERPIKIR (Kaya Tapi Reputasi Buruk*)

 

(*Judul asli: “Rich and Infamous”)

 

Kekayaan dan moralitas. Ketika bintang remaja Justin Bieber yang dipuja seantero dunia bulan lalu ditangkap polisi gara-gara mengemudikan mobil super-mewahnya di jalan raya Miami Beach, Florida secara ugal-ugalan karena berada di bawah pengaruh obat terlarang (DUI=driving under influence), publik Amerika mempersalahkan kekayaan dan ketenaran sebagai biang keladi dari perilaku buruk itu. Orang kemudian teringat pada selebriti-selebriti seperti Miley Cyrus, Lindsay Lohan, Britney Spears, Tiger Woods, Michael Jackson, dan banyak lagi yang kelakuan mereka tak kalah terkenal buruknya. Kekayaan dan ketenaran memang bisa bikin orang keblinger. Tetapi Jim Carrey, bintang komedi dan aktor papan atas Amerika kelahiran Kanada [1962], seorang yang sebelumnya pernah merasakan hidup melarat, mungkin termasuk segelintir selebriti yang tetap menjaga kewarasannya. Dia pernah berkata, “Saya harap semua orang bisa menjadi kaya dan terkenal serta memiliki segala sesuatu yang mereka impikan, supaya mereka bisa tahu bahwa itu semua bukanlah jawaban.”

 

Tahun lalu seorang mahasiswa kandidat doktor psikologi dari University of California, Berkeley melakukan penelitian tentang dampak kekayaan terhadap perubahan perilaku membuktikan bahwa memiliki lebih banyak uang dapat menimbulkan perilaku yang lebih agresif, egois, dan “moral tercela” (morally reprehensible). Bahkan lebih mengagetkan lagi, studi yang diturunkan sebagai laporan khusus siaran televisi PBS dengan judul “Money on the Mind” itu menemukan bahwa orang-orang kaya cenderung lebih menyukai perilaku tidak etis semisal mencuri di tempat kerja. Terhadap banjir kritikan atas kesimpulan yang dianggap kontroversial itu, sehari setelah hasil tersebut dipublikasikan, penelitinya menanggapi: “Tidak menjadi soal siapa anda. Kalau anda kaya, lebih besar kemungkinannya anda akan memperlihatkan pola seperti hasil itu.” (Sumber: DeseretNews.com)

 

“Kehormatan tidak selalu menyertai kekayaan. Walaupun banyak orang memperoleh kekayaan mereka secara jujur melalui kerja keras, kerajinan dan berkat Tuhan, yang lainnya memang bajingan. Gawatnya lagi, sebagian mencari uang secara sah tetapi tidak bermoral, sebab seperti kita tahu tidak semua yang amoral itu tidak sah” [alinea pertama].

 

Kasus Zakheus. Tidak disangsikan lagi bahwa nama Yesus sudah demikian terkenal sampai ke kota Yerikho (artinya “bulan”), sebuah kota yang dibangun oleh Herodes yang Agung pada tahun 105 SM dan tersohor dengan iklimnya yang nyaman serta balsem mujarab yang terbuat dari getah sejenis pohon yang wangi. Kota Yerikho pada zaman Yesus terletak sekitar tiga kilometer sebelah barat daya dari gundukan tanah bekas kota Yerikho zaman Yosua (PL), sebuah oase yang terletak sekitar 30 Km ke arah timur dari kota Yerusalem. Di kota peristirahatan orang-orang kaya inilah Zakheus tinggal dalam kedudukannya sebagai kepala kantor pajak. Kedudukan yang empuk di kota yang makmur, sudah tentu Zakheus adalah seorang yang kaya raya. Tetapi meskipun punya jabatan tinggi dan kaya, Zakheus tanpa malu-malu berlari dan memanjat pohon “untuk melihat orang [seperti] apakah Yesus itu” (Luk. 19:3). Usahanya berhasil, bukan saja dia dapat melihat Yesus, tapi Yesus bisa melihat dia. Lebih penting lagi, Yesus menyapanya dan berkata ingin mampir di rumahnya.

 

Zakheus dicerca oleh orang-orang sebangsanya, dengan alasan yang kuat, yaitu karena dia adalah pengkhianat bangsa yang mengeruk kekayaan dengan cara mencekik leher atas setiap wajib pajak. Tetapi perjumpaan dengan Yesus mengubah segalanya. Di hadapan Tuhan dia bersumpah untuk membagikan setengah dari kekayaannya kepada orang-orang miskin, dan bersedia untuk mengembalikan empat kali lipat kepada para wajib pajak yang telah diperasnya (ay. 8). Orang-orang Yahudi dan khususnya kaum Farisi di luar sana yang memusuhi Zakheus hanya bisa mencela Yesus yang mampir makan di rumahnya, tetapi mereka tidak tahu dan tidak mendengar komitmen Zakheus yang luar biasa itu. Mungkin saja banyak di antara para pengeritik itu yang akan diuntungkan oleh niat “gembong” pemungut cukai ini, kalau orang miskin maka mereka akan mendapat pembagian harta, dan kalau orang kaya yang pernah diperas mereka akan menerima restitusi pajak hingga empat kali lipat. Gantinya mencerca, seharusnya mereka bersyukur kepada Yesus yang oleh kunjungan-Nya telah mengubah hati Zakheus seperti itu.

 

“Sekali lagi, kita harus berhati-hati terhadap bentuk penghakiman rohani yang kita adakan perihal orang lain. Meskipun tidak semua dosa besarnya sama, dan sebagian tentu secara sosial lebih buruk dari yang lain (dan dengan alasan yang kuat), kita semua sederajat di hadapan Allah di mana kita semua kita memerlukan kebenaran Kristus” [alinea terakhir].

 

Apa yang kita pelajari tentang pengaruh kekayaan, dan perubahan dalam diri Zakheus?

1. Kekayaan dapat membuat seseorang jadi terkenal, tetapi hanya moralitas yang tinggi membuat seseorang dikagumi. Kalau hanya sekadar menjadi tersohor anda tidak perlu menjadi orang kaya, sebab ketenaran juga bisa diperoleh melalui prestasi dan reputasi.

2. Kata orang, ada dua jenis manusia yang sangat membahayakan masyarakat: orang kaya yang bertindak bodoh dan orang miskin yang berlaku lihay. Sebenarnya, bukan kaya atau miskin yang menentukan, tetapi moralitas pribadi. Lebih baik kemiskinan yang bermoral daripada kekayaan tanpa moral.

3. Zakheus telah membuktikan bahwa bersama Yesus manusia bisa berubah. Sebagai orang Kristen, khususnya dalam perspektif pemuridan, kita tidak boleh terlalu cepat menyimpulkan moralitas seseorang hanya berdasarkan kekayaannya atau pun kemiskinannya. Setiap orang yang menjadi murid Kristus pasti berubah.

 

Rabu, 19 Februari

KEKAYAAN DAN KITA (Pekabaran yang Disepuh Emas)

 

Kekayaan yang membutakan. Kita mungkin saja tertipu oleh kekayaan orang lain, tetapi yang lebih pasti kekayaan itu dapat menipu pemiliknya. Orang yang kaya cenderung menganggap dirinya pintar, sukses, dan terhormat. Maka ketika dia melihat orang lain yang miskin, dia akan merasa orang itu bodoh, gagal, dan rendah. Coba anda perhatikan, hampir tidak ada orang kaya yang rendah hati, kalau ada maka sebaiknya anda menjaganya dengan berhati-hati karena orang seperti itu termasuk jenis yang langka. Menemukan orang kaya yang rendah hati jauh lebih sulit daripada mencari orang miskin yang sombong, bukan?

 

Banyak ungkapan-ungkapan yang khas perihal keadaan orang kaya. Ada yang bilang, orang kaya itu punya aturan sendiri, yang artinya orang kaya susah diatur. Ada pula yang berkata, kulit muka orang kaya itu tebal, yang artinya orang kaya percaya dirinya berlebihan. Orang kaya itu tidak pernah salah, kalau dia salah harus ada orang lain yang menjadi tumbal. Orang kaya tidak pernah memiliki harta, sebab hartanya itulah yang memiliki dia, yang artinya orang kaya diatur oleh kekayaannya. Yesus menyebutnya, “tipu daya kekayaan” (Mrk. 4:19).

 

“Pikirkanlah dalam-dalam betapa mudahnya uang atau memburu uang itu membutakan prioritas-prioritas kerohanian kita. Alangkah pentingnya kita untuk tetap mengingat kebenaran ini sementara kita berusaha menjangkau orang-orang yang mungkin sudah dibutakan oleh kekayaan” [alinea kedua].

 

Perubahan prioritas. Lebih dari sepuluh tahun yang lampau sebuah majalah di Amerika mengadakan survai tentang bagaimana uang bisa mempengaruhi prioritas kehidupan masyarakat moderen. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para responden semua berkisar tentang uang sebesar US$10,000,000.00 (sepuluh juta dolar), seperti: Demi 10 juta dolar, maukah anda meninggalkan suami/istri anda? Demi 10 juta dolar, maukah anda melepaskan kewarganegaraan anda? Demi 10 juta dolar, maukah anda meninggalkan agama anda? Masih ada sederetan pertanyaan lain lagi dengan tawaran jumlah uang yang sama untuk dijawab dengan ya atau tidak, dan hasilnya secara umum lebih dari separuh menjawabnya dengan “Ya.” Mungkin kalau survai serupa diadakan sekarang ini persentase responden dengan jawaban yang sama akan jauh lebih besar lagi.

 

“Orang-orang yang materialistik, apakah dia kaya atau miskin, berada dalam bahaya mengorbankan kesejahteraan yang kekal dengan kesenangan sementara. Kepuasan abadi digantikan dengan kenikmatan sepintas lalu yang segera membusuk dan menjadi usang. Manusia melayani Allah atau uang, tidak bisa kedua-duanya. Semua orang, kaya atau miskin, perlu diingatkan: ‘Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya’ (Mrk. 8:36)” [alinea terakhir].

 

Pena inspirasi menulis: “Mereka kehilangan rasa kebergantungan mereka pada Allah dan kewajiban mereka kepada sesama manusia. Gantinya memandang kekayaan sebagai sebuah talenta untuk digunakan bagi kemuliaan Tuhan dan mengangkat kemanusiaan, mereka melihatnya sebagai sarana melayani diri sendiri. Gantinya mengembangkan dalam diri manusia ciri-ciri tabiat Allah, kekayaan jadinya digunakan mengembangkan dalam dirinya ciri-ciri tabiat Setan. Bibit firman itu tercekik dengan semak duri” (Ellen G. White,Christ’s Object Lessons, hlm. 52).

 

Apa yang kita pelajari tentang amaran terhadap materialisme?

1. Uang dapat membeli tempat tidur mewah, tapi uang tidak dapat membeli tidur yang nyenyak. Uang dapat membeli rumah megah, tapi uang tidak dapat membeli rumahtangga yang bahagia. Uang dapat membeli makanan lezat, tapi uang tidak dapat membeli selera makan. Tidak segala-galanya dapat dibeli dengan uang.

2. Memang kita hidup di alam nyata, bukan dalam mimpi. Hidup ini membutuhkan uang, sebab kenyataannya banyak kebutuhan hidup bisa terpenuhi dengan adanya uang. Tetapi uang dan kehidupan adalah dua hal yang berbeda, dan bagamana pun kita tidak akan menukar hidup kita dengan uang.

3. Pemuridan, penginjilan, jangkauan keluar, atau apapun namanya itu sering memerlukan dana untuk dapat dilaksanakan dengan lebih lancar. Gereja membutuhkan uang, tetapi Allah tidak. Uang adalah sarana, bukan tujuan. Tujuan pemuridan adalah jiwa-jiwa.

 

Kamis, 20 Februari

“LEBIH MUDAH UNTA MASUK LUBANG JARUM” (Hal yang Membahayakan)

 

Calon murid yang kecewa. Hari itu Yesus didatangi oleh seorang pemuda yang memiliki kerinduan untuk beroleh hidup yang kekal. “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mat. 19:16). Perhatikan, orang muda ini datang dengan konsep berpikir bahwa keselamatan adalah hasil dari “perbuatan baik” sesuai dengan doktrin umum yang berlaku di kalangan orang Yahudi pada masa itu. Ini menunjukkan bahwa orang muda ini adalah seorang yang saleh, tetapi dia ingin memastikan bahwa hidup kekal sudah pasti adalah miliknya. Ketika Yesus menyebutkan soal penurutan Sepuluh Perintah Allah, dia langsung menjawab dengan bangga, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” (ay. 20).

 

Ada beberapa perbedaan antara pertemuan Yesus dengan Nikodemus dibandingkan pertemuan Yesus dengan pemuda yang namanya tidak disebutkan ini. Tidak seperti Nikodemus yang menemui Yesus secara rahasia pada waktu malam karena takut dilihat orang, orang muda ini datang kepada Yesus dengan berlari-lari (Mrk. 10:17). Sangat mungkin Nikodemus telah membuat appointment (janji untuk bertemu) lebih dulu untuk bertemu dengan Yesus pada jam yang tidak biasa itu, sedangkan orang muda ini datang secara tiba-tiba dan hampir saja terlambat karena Yesus dan murid-murid sudah berkemas-kemas hendak berangkat ke tempat lain yang berarti waktunya adalah siang hari. Selain itu, orang muda yang satu ini begitu melihat Yesus langsung bertelut di hadapan-Nya, sekalipun dia kaya. Pada waktu bertemu Yesus, Nikodemus langsung membuat pernyataan tentang keyakinannya mengenai Yesus, sedangkan orang muda yang satu ini langsung mengajukan pertanyaan. Namun, seperti juga Nikodemus, pemuda yang tak dikenal itu adalah juga orang kaya dan mempunyai kedudukan sebagai pemimpin (Luk. 18:18).

 

“Dia memiliki mandat, kualifikasi, sumberdaya materi yang berlimpah, moralitas yang tak diragukan, dan harga diri yang tidak terbatas! Calon murid yang masih muda ini memohon dengan sungguh-sungguh rumus keselamatan dari Guru Utama itu. Haruskah Kristus tersanjung? Akhirnya, kita sedang mempertobatkan orang dari kalangan atas! Kelihatannya tidak ada kegembiraan seperti itu yang mencemari pikiran Kristus. Sekiranya pemohon ini mengharapkan pujian, dia pasti sangat kecewa” [alinea pertama: enam kalimat pertama].

 

Kekayaan sebagai penghambat. Dapat dibayangkan kegembiraan pemimpin muda itu tatkala Yesus menyebutkan soal penurutan Hukum Allah sebagai jawaban awal atas pertanyaannya tentang syarat untuk hidup kekal, dan langsung menanggapi bahwa semua itu sudah dilaksanakannya sejak dulu. Mungkin dia berharap Yesus akan memberi ucapan selamat kepadanya dan menyuruh dia pulang dengan pesan untuk tetap memelihara hukum-hukum itu. Apa yang tidak diduganya ialah bahwa penurutan Sepuluh Hukum hanyalah persyaratan standar, dan bahwa keselamatan tidak ditentukan oleh penurutan hukum saja. Lalu Yesus menambahkan, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat. 19:21).

 

Perhatikan, Yesus menuntut dua hal penting di sini: “pergi” untuk membagikan kekayaannya kepada orang-orang miskin, lalu “datang” untuk menjadi pengikut Yesus, dua tuntutan dalam satu paket. Mendengar tuntutan-tuntutan itu, surutlah kerinduannya untuk beroleh hidup kekal dan menjadi orang yang sempurna. Kekayaannya menjadi penghambat bagi dirinya sendiri. “Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya” (ay. 22). Kalau orang muda itu berlalu dengan perasaan sedih, Yesus lebih sedih lagi melihat kepergiannya. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga,” kata Yesus kepada murid-murid-Nya yang menyaksikan peristiwa itu. “Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (ay. 23-24; huruf miring ditambahkan).

 

Akan halnya kalimat “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” telah menjadi adagium yang sangat populer hingga sekarang. Sebagian orang berusaha menjelaskan perkataan Yesus ini secara harfiah, bahwa “lobang jarum” adalah pintu sempit di samping gerbang utama kota-kota di Palestina zaman dulu yang hanya bisa dilewati oleh satu orang dewasa yang disebut “gerbang jarum” (needle gate), disediakan khusus bagi warga yang pulang kemalaman. Ada pula yang menyebutkan bahwa “lobang jarum” adalah pintu bawah tanah bagi unta milik warga kota yang pulang terlambat dari bepergian setelah gerbang ditutup, di mana unta-unta itu masuk dengan susah payah karena kakinya harus ditekuk. Tetapi itu semua hanyalah spekulasi sebab tidak ada bukti-bukti apapun yang mendukung teori demikian. Perkataan Yesus tersebut lebih tepat disebut sebagai peribahasa hiperbola tentang susahnya orang kaya masuk surga, mungkin pula itu adalah gaya bahasa yang lazim pada masa itu. Dalam Alquran perkataan serupa ditemukan, yang tafsirnya kurang-lebih berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum…” (Surah 7, Al-A’raf ayat 40; huruf miring ditambahkan).

 

“Bagaimana pun, cacat-cacat rohani tidak dapat diabaikan atau dianggap enteng, karena missi Yesus itu suci. Kompromi tidak dapat ditolerir. Setiap pemanjaan diri harus ditinggalkan…Persyaratan dari Allah tidak bersifat lentur. Tidak ada tawar-menawar maupun negosiasi dapat menurunkan harganya: segala sesuatu bagi Yesus; kebesaran duniawi digantikan dengan harta surgawi” [alinea kedua: tiga kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

 

Apa yang kita pelajari tentang kekayaan sebagai hal yang membahayakan?

1. Untuk menjadi pengikut Kristus sejati anda tidak perlu membekali diri dengan sumberdaya pribadi apapun, bahkan anda harus bersedia meninggalkan semuanya itu untuk orang-orang lain yang lebih membutuhkan. Mengikut Yesus adalah suatu pengorbanan total, termasuk melepaskan kepentingan pribadi.

2. Kata Yesus, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu”  (Yoh. 15:16), dan Dia memilih kita apa adanya. Kita tidak dapat menawarkan diri menjadi pengikut Yesus karena merasa memenuhi syarat untuk menjadi murid-Nya.

3. Kekayaan dan sumberdaya pribadi lainnya dapat menjadi berkat jika kita mau menyerahkannya bagi Tuhan, atau sebaliknya bisa menjadi penghalang untuk keselamatan kalau kita ingin menahannya bagi diri sendiri.

 

Jumat, 21 Februari

PENUTUP

 

Pemuridan, kaya atau miskin. Pemuridan tidak pernah tidak berorientasi pada manusia sebagai jiwa-jiwa yang harus diperkenalkan kepada Kristus. Segala atribut yang melekat pada jiwa itu, dan segala sumberdaya yang dimiliki oleh jiwa itu, semuanya bukanlah sasaran pemuridan. Orang kaya perlu diselamatkan bukan karena dia kaya, melainkan karena dia telah ditebus dengan harga yang mahal. Nilai penebusan itulah yang membuat setiap jiwa berharga, kaya atau miskin.

 

“Banyak yang telah dikatakan tentang tugas kita terhadaporang miskin yang terabaikan; bukankah perhatian juga harus diberikan kepada orang kaya yang diabaikan? Banyak yang menganggap golongan ini tidak berpengharapan, dan mereka hanya sedikit berbuat untuk membuka mata mereka yang dibutakan dan disilaukan oleh kilauan kemuliaan duniawi telah kehilangan kekekalan di luar perhitungan mereka” [alinea pertama: dua kalimat pertama].

 

Penebusan Kristus berlaku bagi semua orang, kaya atau miskin. Kedatangan Yesus kedua kali adalah untuk menjemput semua umat-Nya yang setia, kaya atau miskin. Hidup yang kekal disediakan kepada setiap orang percaya, kaya atau miskin. Surga dan dunia baru adalah untuk segenap umat tebusan, kaya atau miskin. Pemuridan harus dijalankan demi semua manusia, kaya atau miskin. Kerinduan untuk diselamatkan adalah kerinduan seluruh umat manusia, kaya atau miskin.

 

“Kekayaan dan kehormatan duniawi tidak dapat memuaskan jiwa. Banyak dari antara orang kaya yang rindu akan secuil jaminan ilahi, sedikit pengharapan rohani. Banyak yang merindukan sesuatu yang akan mengakhiri kehidupan mereka yang monton dan tanpa tujuan. Banyak pula dalam hidup ini merasakan keperluan mereka akan sesuatu yang mereka tidak miliki. Sedikit di antara mereka yang pergi ke gereja; sebab merasa bahwa mereka hanya mendapat sedikit manfaat” [alinea kedua: lima kalimat pertama].

 

“Memang agama memberikan keuntungan yang besar, kalau orang puas dengan apa yang dipunyainya. Sebab tidak ada sesuatu pun yang kita bawa ke dalam dunia ini, dan tidak ada sesuatu pun juga yang dapat kita bawa ke luar!” (1Tim. 6:6-7, BIMK).

Leave a Reply