Kesaksian dari Timor Leste

August 15, 2015 - kesaksian

Oleh Pastor Inaciu da Kosta

Kalau para umat membaca Warta Advent edisi 17 February 2006, ini adalah pengalaman di DRAGON’S DEN yang dialami oleh umat-umat Tuhan..

Beberapa waktu yang lalu dibaptislah tujuh orang yang rindu untuk mengikuti Yesus. Setelah sabat itu lewat, maka Kamis berikut beberapa orang muda yang baru dibaptis itu menuju kampung asalnya (Soiquili), oleh karena di sana ada banyak orang muda yang telah lama menerima Yesus di dalam SDA. Sehingga pada saat itu mereka berangkat dengan Gembala Jemaat di Lospalos dengan berjalan kaki sekitar 15 km untuk mengadakan Upacara Perjamuan Suci pada hari Sabat-nya. Ketika orang itu membawa alat-alat perjamuan, Roti, Anggur dan lainnya dari Lospalos. Di tengah perjalanan sudah ada teman yang menjemput Gembala dengan ketiga orang muda tersebut.

Mereka pun singgah di salah satu orang tua anggota jemaat (Keluarga tersebut bukan anggota SDA), setelah makan siang, mereka pun melanjutkan perjalanan bersama dengan salah seorang missionary yang berasal juga dari kampung tersebut (Soiquili).

 

Oleh karena kampung tersebut di atas gunung batu yang penuh dengan batu karang, mereka pun sampai tepat jam 18:00 waktu Timor Leste.

 

Seperti kebiasaannya Gembala tersebut melaporkan diri kepada pemimpin kampung tersebut, bahwa ia akan berada di sana sampai hari Senin. Pemimpin kampung menerima dengan baik. Setelah dia kembali ke rumah tempat mereka menginap, sudah ada beberapa anggota yang menunggu. Mereka datang saling bergantian karena sejak mereka dibaptis, orang tua bersama dengan masyarakat kampung bahkan sekecamatan sudah membenci mereka. Kadang kala mereka dianiaya dan segala macam kejahatan mereka lakukan kepada anggota jemaat yang baru tersebut. Walaupun demikian ada juga orang tua yang menerima mereka dengan baik. Orang tua tersebut anaknya sudah dua orang yang dibaptiskan dalam Jemaat-Nya. Para anggota jemaat yang terdiri dari orang-orang muda yang masih duduk di bangku SMP dan SMA tersebut datang  ke rumah di mana Pendeta mengginap. Mereka datang dengan memberikan berbagai informasi mengenai situasi di kampung mereka tersebut. Di mana penduduk sangat membenci SDA bersama dengan Pendeta. Setelah pendeta menjelaskan/memberikan semangat untuk mengikuti Yesus mereka pun kembali ke rumah masing-masing.

 

Tuan rumah di mana pendeta mengginap juga datang dan menanyakan tentang situasi yang tejadi dengan Timor Leste khususnya di Dili. Akhirnya mereka pun berbincang-bincang tentang peristiwa-peristiwa akhir zaman sebelum kedatangan Tuhan Yesus. Mereka belajar firman Tuhan bersama sampai jam 11 tenggah malam. Lalau mereka pun berdoa bersama dengan beristirihat. Para misionaris lokal tersebut pulang ke rumahnya karena tempat tidur hanya cukup untuk Pendeta dan salah seorang anggota jemaat yang menginap di rumah tersebut.

 

Tepat jam 00:30 tengah malam ada keributan di luar dekat rumah di mana pendeta bersama dengan salah seorang anggota menginap. Pendeta bersama dengan anggota tersebut tidak menyadari. Namun salah seorang anggota jemaat yang masih duduk di bangku SMP mendengar keributan ini sehingga ia datang ke rumah tersebut. Namun pada saat itu rumah di mana ada Pendeta gelap dan tenang. Sementara di luar masyarakat sudah mengepung rumah tersebut dan mau membunuh pendeta. Tidak lama kemudian ada seorang anggota jemaat yang sudah tiga tahun selesai SMA mulai juga berteriak dan mengatakan bahwa pendeta kami tidak pernah akan lari. Kalau ada masalah bicarakan saja besok pagi atau bicarakan saja di dalam rumah. Sebab mereka yang marah-marah tersebut mau supaya menyelesaikan masalah soal baptisan anak-anak mereka di luar—di kegelapan tersebut. Tak lama kemudian seorang anak muda yang adalah SDA datang dan memberitahukan bahwa sebenarnya mereka sudah membuat rencana di lapangan bola kaki tersebut. Pada waktu ia lewat mereka mengatakan bahwa, “Apakah kamu juga mau ikut mereka (SDA)?”

 

Anggota SDA ini datang dan memberitahukan hal tersebut. Dan saat yang sama ada dua anggota orang muda yang datang dan mau melapor ke kantor Polisi. Oleh karena mereka sudah sangat marah, dengan melempar rumah, memaki-maki dan bahkan mengatakan bunuh saja pendetanya dan segala macam kata-kata yang tidak biasa diucapkan oleh orang Kristen, semua terucap dari bibir mereka. Pada tengah malam itu juga kedua anggota jemaat tersebut  mau melapor ke kantor polisi yang jaraknya 9 km. Ketika baru saja keluar, mereka dipanah dengan Rama Ambon – panah yang saat ini namanya terkenal di Kota Dili dalam konflik di Timor Leste tersebut. Tuhan masih melindungi kedua umat Tuhan tersebut dengan menghindari mereka dari panah tersebut. Mereka kemudian lari dan kembali ke rumah.

 

Kira-kira selang dua jam setelah keributan baru kepala kampung datang ke menemui pendeta tersebut. Rupanya ada informasi juga bahwa para pemimpin kampung dan desa tersebut sudah bersekongkol. Kepala kampung minta maaf oleh karena situasi tersebut yang menggangu pendeta. Dan mereka (Pendeta dan Kepala Kampung) sepakat besok paginya baru duduk bersama dengan mereka yang mau membunuh Pendeta.

 

Kira-kira jam tiga dini hari orang-orang yang marah-marah pun bubar. Para anggota jemaat dan Pendeta tersebut tidur kembali. Setelah itu mereka pun bergumul dan minta lindungan Tuhan.

 

Tepat Jam empat dini hari orang-orang sudah mulai melempar rumah dan memaki-maki pendeta sampai jam enam pagi di hari Jumat. Setelah itu  ada lagi yang pergi melapor ke kantor polisi tetapi mereka mengatakan soal agama lagi.  Mereka mencari alasan dan tidak datang. Sementara di rumah mereka mulai mengamuk dan mau memukul atau bahkan mau membunuh Pendeta. Mereka berusaha memukul pendeta dengan membawa pentungan kayu bahkan ada yang membawa parang dan lainnya, oleh karena polisi pun tidak datang dan kepala kampung juga tidak lagi bertindak menjadi penengah dalam situasi tersebut, dengan alasan ia tidak bisa karena itu tugas polisi, sementara polisi juga banyak alasan.

 

Situasi makin panas. Dengan kemarahan yang sangat, mereka masuk ke rumah dan memukul pendeta dan menendang walaupun sudah dihalang-halangi oleh anggota jemaat. Dan mereka  mengusir pendeta dan mengatakan bahwa kegiatan SDA tidak boleh berjalan di kampung mereka. Pendeta meninggalkan alat-alat perjamuan dan pakaiannya dan berjalan sepanjang 9 km  untuk datang ke kantor polisi menyusul temannya-temanya yang sudah terlebih dahulu melapor ke polisi… tentang apa yang terjadi kepada Pdt. Inaciu da Kosta, Octavio de Yesus Marques, Lucio Dias Fernandes, Gabriel Ximenes, Idelio Gonsalves..

 

Ikuti kelanjutannya di Warta Avent On-line yang akan datang. Umat-umat Tuhan di Timor Leste yang sementara berkonflik tetap memohon doa umat-umat Tuhan  yang membaca Warta Advent On-line ini.

› tags: kesaksian / timor leste /

Leave a Reply