KESAKSIAN HIDUP PARA PENGINJIL DI TIMOR LESTE

August 26, 2015 - kesaksian

Oleh Richeel Sumlang – ETMA Director

Kiriman Jeffrey Kiroyan

Pekerjaan Penginjilan di Timor Leste berkembang sangat pesat oleh karena kuasa Tuhan yang menyertai para misionaris dan juga anggota awam yang memiliki kerinduan untuk memberikan waktu mereka dalam penginjilan.  Bermula hanya sebuah gereja yang ada di Dili,  tapi sekarang telah bertambah dengan adanya gereja di Los Palos, dan di Bekora walaupun bangunan fisik gereja masih berupa rumah tempat perkumpulan, karena sulitnya untuk mengadakan pembangunan gereja mengingat prejudice yang sangat tinggi yang ada di Dili karena agama mayoritasnya  adalah Katolik. Namun hal ini tidak mengurangi semangat para anggota gereja untuk beribadah, di mana di setiap sabat, gereja selalu dipenuhi dengan anggota gereja dan juga tamu-tamu dan para simpatisan yang hadir yang jiwanya lapar dan haus akan kebenaran. Uniknya, gereja-gereja ini kebanyakan anggota-anggotanya adalah orang-orang muda .

Di bawah ini para misionaris akan menceritakan pengalaman mereka, baik tantangan yang mereka hadapi, penyertaan Tuhan dan bagaimana pengalaman-pengalaman ini bisa memperkuat iman percaya mereka kepada Tuhan.

 

Abita

Saya adalah seorang misionaris yang bekerja di Kota Los Palos dan sekitarnya, saya sangat suka untuk bekerja bagi Tuhan apalagi menjadi seorang misionaris adalah merupakan kebanggaan saya.  Suatu kali saya bersama teman kerja saya yang bernama Octa, pergi mengunjungi Bible Student kami tepatnya di desa Lausepu Home.

Sementara kami berjalan, kami bertemu dengan seorang anak kecil yang berpenyakit kusta, hati kami tergerak oleh belas kasihan waktu melihat anak itu, kemudian kami berkenalan dengan anak itu dan mengajak anak itu ke rumahnya. Sesampai di rumah si anak, kami pun berkenalan dengan orang tua dari anak itu.  Nama keluarga ini adalah keluarga Fernando, dan  setelah itu kami berbincang-bincang sedikit dengan keluarga ini, tak lama kemudian kami pulang dengan suatu janji “kami akan datang kembali.”

Di hari yang lain  kami kembali mengunjungi keluarga ini, dan mereka pun mulai belajar Alkitab, tapi masalahnya orang-orang di sekitar lingkungan  mereka tidak mau kalau keluarga bapak ini belajar Alkitab, namun keluarga ini tetap bersikeras untuk belajar, apalagi dengan bertambahnya satu keluarga lagi yang ikut bergabung untuk belajar Alkitab yaitu keluarga Bpk. Germano yang juga tidak kalah serius untuk belajar.

Para tetangga pun mulai resah dan mencoba untuk menghalangi kedua keluarga ini untuk belajar, dan melihat bahwa mereka tidak ditanggapi maka mulailah para tetangga itu mengancam mereka, dan ancaman mereka yaitu jikalau mereka tetap belajar maka mereka akan diusir dari rumah mereka sendiri.

Waktu kami kembali lagi untuk mengunjungi keluarga-keluarga ini di hari berikutnya, tanpa kami ketahui rupanya ada orang yang sementara memata-matai kami.  Kami memberikan pelajaran Alkitab kepada keluarga-keluarga ini seperti biasanya dan di saat kami dalam perjalanan pulang tiba-tiba kami dihardik oleh seseorang yang ternyata itu adalah Bapak kepala desa setempat, dan dengan marah Bapak Kepala Desa itu berkata;

“Hai dari mana saja kalian dan siapa-siapa saja yang sudah kamu ajar?  Cepat katakan kepada saya dan tuliskan nama semua orang yang kalian telah ajar itu supaya kami bisa tahu di mana mereka berada dan kami akan usir mereka.”

Kami pun dengan sabar berbicara kepada bapak kepala desa yang tampaknya sangat marah itu dan setiap kata yang kami ucapkan itu kami tidak lupa sisipkan firman Tuhan, tetapi bapak kepala desa itu tetap tidak mau mendengarkan penjelasan kami bahkan bapak itu mulai mencaci maki kami dan mengatakan bahwa kami ini orang bodoh yang tidak terpelajar dan juga pendusta. Lama kami berbincang-bincang kurang lebih satu jam lebih dan sesudah perbincangan itu kami pun pulang ke rumah.

Pada akhirnya karena terror yang terus menerus diberikan oleh pak kepala desa dan juga tetangga setempat membuat Bpk. Fernando menyerah dan mengambil keputusan untuk tidak mau dikunjungi lagi karena ia takut terhadap orang-orang itu, namun Bpk. Germano tetap belajar dengan kami.

Di satu sabat kami dikunjungi oleh pimpinan kami yaitu Pastor Ronaldo dari Dili untuk melihat  pembangunan gereja yang sementara dibangun di sana yang tidak pernah selesai karena selalu dibongkar oleh orang-orang yang membenci kami. Oleh karena itu pada sabat yang istimewa itu semua misionaris  mengundang semua orang yang belajar Alkitab termasuk juga  Bpk. Germano, Bible student kami juga diundang  untuk beribadah bersama di tempat perkumpulan. Saya dan sahabat-sahabat saya, Macario dan Apoli pergi menjemput Bpk. Germano dengan menggunakan mobil Pastor Ronaldo. Pada waktu orang-orang yang membenci kami itu melihat mobil tersebut mereka pun marah besar dan mulai meneriakkan kata-kata yang menuduh bahwa kami ini adalah pencuri, pembohong serta penghancur kedamaian dan lain-lain. Kemudian mereka menelepon polisi agar mereka dapat berdiskusi dengan kami. Dan kami pun semuanya dibawa ke kantor polisi dan di situlah kami diserang habis-habisan, tapi kami dengan tenang menjawab semua tuduhan yang dibuat buat itu dengan firman Tuhan sehingga hal ini membuat para Katekist (pengajar katolik) sangat marah dengan dua jawaban  itu.  Setelah beberapa waktu lamanya berdiskusi dengan mereka maka keputusan yang mereka ambil adalah: “jangan mengajar dan membaptis lagi.”  Tapi walaupun itu yang mereka katakan, sesungguhnya Roh Kudus bekerja di dalam hati setiap orang dan pada akhirnya di antara mereka ada empat orang yang menyerahkan kehidupan mereka kepada Yesus.

 

Pedro Mesquita De Aroujo

Saya dan partner saya Joly bekerja di Becora (nama desa) pada saat itu kami melawat teman kami yang namanya Alu dan Iza, mereka berdua adalah merupakan Bible Student kami, mereka sangat setia mengikuti pelajaran Alkitab yang kami berikan, dalam kehidupan mereka sesungguhnya banyak sekali tantangan, tapi mereka hadapi semuanya dengan ketabahan. Alu dan Iza sudah berkomitmen bahwa “kami bukan pengikut gereja tapi pengikut Kristus,”

Pada suatu hari tatkala kami belajar, orang tua dari teman kami itu datang dan mau bicara dengan kami tetapi sebelumnya kami telah mendengar informasi dari kedua teman kami yang lagi belajar  itu bahwa orang tua mereka akan menayakan 2 pertanyaan yaitu mengenai baptisan dan dari mana kalian datang.

Dan kami pun telah melakukan persiapan untuk menjawab kedua pertanyaan itu, dan tibalah saatnya untuk kami berdiskusi dengan orang tua mereka, itu terjadi kira-kira pukul 3 WTL (waktu timor leste) dan kami pun mulai berdiskusi. Orang tua dari Alu dan Iza memulai pertanyaan yaitu dari mana kalian datang? Kemudian Joly menjawab bahwa kami datang dari tempat yang berbeda  Joly dari Manado sementara Pedro dari Timor Timur, lantas orang tua pun bertanya apa tujuanmu datang ke sini maka kami pun menjawab bahwa maksud kedatangan kami adalah membawa orang-orang kepada Kristus. Diskusi ini pun berlanjut, dan setiap pertanyaan yang mereka berikan kami selalu menjawabnya dengan apa kata firman Tuhan. Kami pun membahas sampai di baptisan dan kami memberikan alasan-alasannya dan menjawabnya menggunakan apa yang tertulis  di dalam firman Tuhan. Di saat kami menjawab bahwa baptisan yang benar itu deselamkan dan tidak ada yang lain tiba-tiba kakak mereka yang bernama Vicenti  itu menendang kursi yang diarahkan kepada kami sambil berkata bahwa ajaran-ajaran yang diberikan itu berasal dari setan, dan kami hanya berdoa di dalam hati dan anehnya tak ada rasa gentar segelintir pun dalam diri kami sehingga tiba pada satu kesimpulan terakhir bahwa jangan lagi kamu datang ke tempat ini. Namun di atas semua tantangan yang dialami tadi,  saya akhirnya dapat bersukacita karena akhirnya Alu dan Iza dibaptiskan tepatnya pada bulan Juli 2006.

 

Kita sudah melihat bagaimana perlindungan Tuhan bagi umat-umat-Nya dan kiranya perkataan Tuhan  dalam Matius 28:19-20 akan tetap menjadi bagian kita.

› tags: penginjil / timor leste /

Leave a Reply