KETIKA ALLAH MERAYAKAN PENCIPTAAN

January 19, 2013 - Loddy Lintong

Allah pencipta waktu. Penciptaan yang Allah lakukan tidak hanya menghadirkan ruang (langit dan bumi), tetapi juga waktu. Seperti kita pelajari minggu yang lalu, bersamaan dengan penciptaan langit dan bumi itu Allah juga menciptakan hari sebagai sebuah siklus waktu yang pertama. Selanjutnya, bersamaan dengan selesainya masa penciptaan itu, Allah menetapkan pula siklus waktu yang kedua, yaitu pekan. Jadi, selama minggu penciptaan itu Allah telah menciptakan ruang dan waktu, dua fenomena yang saling berhubungan erat dan sama-sama dibutuhkan oleh manusia untuk beraktivitas. Tanpa salah satu dari kedua hal tersebut manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Sedangkan Allah sebagai pencipta waktu maka Ia berkuasa atas waktu, tidak dibatasi oleh waktu, dan Ia pemilik dari waktu.

Adalah hal yang menarik bahwa Allah sendiri yang menetapkan dua siklus waktu selama masa penciptaan, yaitu siklus hari dan siklus pekan. Tetapi ada dua perbedaan istimewa antara kedua siklus waktu tersebut, yaitu siklus hari berpatokan pada fenomena alam “siang dan malam” atau “petang dan pagi” (Kej. 1:5), sedangkan siklus pekan tidak memiliki patokan fenomena alam seperti itu. Melalui ilmu pengetahuan kita mengetahui bahwa siklus hari memiliki perhitungan astronomis tertentu di mana satu hari ialah periode waktu yang diperlukan bagi Bumi untuk berputar pada porosnya. Begitu pula dengan siklus bulan dan tahun, keduanya memiliki patokan perhitungan astronomis, tetapi siklus pekan adalah satu-satunya periode waktu yang penentuannya berasal dari masa penciptaan.

“Alkitab tidak mengatakan kepada kita secara langsung, tetapi kita dapat mencari petunjuk. Barangkali petunjuk yang paling adalah Sabat itu sendiri, yang merupakan waktu istimewa untuk persekutuan antara Allah dengan manusia. Mungkin saja Allah menetapkan pekan itu untuk menyediakan satu periode waktu yang cocok untuk pekerjaan sehari-hari, namun dengan suatu waktu yang secara teratur disisihkan sebagai pengingat akan hubungan kita dengan Allah (baca Markus 2:28). Ini akan menolong manusia untuk mengingat bahwa Allah adalah pemberi nafkah sejati dan bahwa kita bergantung sepenuhnya kepada Dia” [alinea kedua].

Banyak yang keliru dengan mengaitkan siklus pekan yang terdiri atas tujuh hari itu seolah-olah tradisi orang Yahudi, khususnya terkait dengan Sabat hari yang ketujuh. Tetapi Alkitab menunjukkan bahwa Sabat hari yang ketujuh itu sudah ada sejak masa penciptaan, jauh sebelum ada yang namanya orang Yahudi atau bangsa Israel. Siklus tujuh hari juga sudah dikenal sejak zaman Nuh, jauh sebelum Abraham selaku leluhur orang Yahudi itu lahir (Kej. 7:4, 10; 8:7, 8, 10, 12).

Minggu, 13 Januari
PENGHUNI LANGIT (Matahari, Bulan dan Bintang-bintang)

Sebagai penerang. Pada hari keempat dalam minggu penciptaan itu Allah berfirman, “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itumenjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi” (Kej. 1:14, 15). Perhatikan, ada dua maksud dari penciptaan benda-benda langit pada hari yang keempat, yaitu untuk menjadi tanda (Ibrani: (מועה, mô‛ēd), dan menjadi penerang (מאור, mā’ôr).

Seperti telah kita pelajari pekan lalu, sebelum matahari, bulan dan bintang-bintang tercipta Allah lebih dulu sudah menciptakan terang untuk memisahkan siang dan malam, dan itu adalah terang hakiki yang bersumber dari Allah sendiri. Kita tidak tahu apakah terang hakiki itu hanya berfungsi untuk sementara, tapi yang pasti setelah benda-benda langit diciptakan pada hari keempat Allah menentukannya “sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi…yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam” (Kej. 1:15, 16). Fungsi penerangan ini dipertegas lagi dalam tulisan nabi Yeremia, “Matahari disediakan TUHAN untuk menerangi siang; bulan dan bintang-bintang untuk menerangi malam” (Yer. 31:35). “Kemungkinan kedua adalah bahwa matahari, bulan dan bintang-bintang ditentukan fungsinya pada waktu itu. Mazmur 8:3 tampaknya konsisten dengan pandangan ini” [alinea kedua: kalimat keempat dan kelima].

Jangan lupa bahwa Allah sedang menyiapkan Bumi ini sebagai tempat tinggal bagi manusia, dan Ia ingin agar sebelum manusia diciptakan segala sesuatu yang menyangkut habitat yang dibutuhkan oleh manusia itu benar-benar sudah siap. Setelah menyiapkan kondisi Bumi ini, Allah membenahi lingkungan di planet ini agar dapat menunjang kehidupan manusia dengan menciptakan lahan tempat tinggal (daratan) serta tumbuh-tumbuhan yang berlimpah sebagai sumber makanan utama bagi manusia. Tetapi dengan terpenuhinya bumi ini dengan tumbuh-tumbuhan bukan berarti bahwa isi planet ini sudah lengkap, seperti ternyata kemudian bahwa Allah masih akan menciptakan binatang-binatang (pada hari kelima) sebelum manusia diciptakan. Tetapi sekarang, pada hari keempat, tiba-tiba Allah beralih ke langit untuk mengisinya. Tentu kita tidak akan berspekulasi untuk mereka-reka alasan mengapa Allah berbuat demikian. Namun hal yang perlu diperhatikan di sini bahwa penciptaan benda-benda langit itu bukan semata-mata untuk sumber cahaya bagi Bumi, tetapi juga sebagai “tanda.”

Sebagai tanda. Jauh sebelum manusia menemukan ilmu perbintangan (astronomi), dan berdasarkan itu dapat melakukan kalkulasi-kalkulasi tentang peralihan waktu dan musim, Alkitab sudah lebih dulu menyingkapkannya. Astronomi merupakan salah satu ilmu pengetahuan tertua karena sudah mulai dipelajari oleh manusia sejak zaman purbakala dengan melakukan pengamatan langit, misalnya oleh bangsa-bangsa Mesopotamia, Mesir, Yunani, Cina dan India. Pada masa itu manusia sudah dapat melakukan pemetaan langit meskipun hanya mengandalkan mata telanjang yang menghasilkan kesimpulan bahwa Bumi kita ini sebagai pusat alam semesta (model geosentris berdasarkan sistem Ptolemy). Belakangan, dengan bertambahnya pengetahuan dan ditemukannya peneropong bintang pandangan ini dikoreksi oleh Nicolaus Copernicus yang menyatakan matahari adalah pusat peredaran (model heliosentris), sebuah gagasan yang kemudian didukung dan disempurnakan oleh Galileo Galilei dan Johannes Kepler.

Ilmu pengetahuan selanjutnya menemukan bahwa bintang-bintang di langit itu bukan berdiri sendiri-sendiri melainkan terbentuk dalam gugusan-gugusan (konstelasi). Ini sesuai dengan penjelasan Alkitab yang mencatat perkataan Allah kepada nabi Ayub: “Dapatkah engkau memberkas ikatan bintang Kartika, dan membuka belenggu bintang Belantik? Dapatkah engkau menerbitkan Mintakulburuj pada waktunya, dan memimpin bintang Biduk dengan pengiring-pengiringnya?” (Ay. 38:31, 32). Bintang Kartika adalah gugusan bintang Pleiades, Belantik adalah gugusan bintang Orion, dan bintang Biduk ialah Ursa Mayor atau Beruang Besar, sedangkan yang diterjemahkan dengan Mintakulburuj dalam ayat ini adalah dari kata Ibrani מַזָּרָה, mazzarah, yaitu 12 tanda zodiak. Dalam perjalanan sejarah manusia, keberadaan dan posisi dari bintang-bintang di langit itu bukan saja telah membantu manusia untuk menghitung waktu dan meramalkan datangnya musim demi kepentingan pertanian, tapi juga sangat bermanfaat sebagai petunjuk arah dan tempat bagi para penjelajah khususnya mereka yang mengarungi lautan.

Meskipun Alkitab menyebutkan tentang zodiak, dan juga tentang “tanda,” tetapi itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan astrologi atau horoskop yang bersifat ramal-meramal nasib dan kepribadian seseorang. Astrologi adalah pseudoscience, yaitu sebuah keyakinan atau praktik yang disajikan sebagai sesuatu yang seakan-akan “ilmiah” tapi sesungguhnya tidak memiliki metode ilmiah yang sahih. Tanda yang berkaitan dengan penciptaan bintang-bintang pada hari keempat sebagaimana dimaksudkan dalam Alkitab itu adalah “tanda waktu” bukan “tanda kejadian” atau ramalan peristiwa. Mempercayai astrologi atau horoskop dapat disamakan dengan “penyembahan benda-benda langit” terhadap mana Alkitab sudah menandaskan, “Supaya jangan engkau mengarahkan matamu ke langit, sehingga apabila engkau melihat matahari, bulan dan bintang, segenap tentara langit, engkau disesatkan untuk sujud menyembah dan beribadah kepada sekaliannya itu” (Ul. 4:19).

Pena inspirasi menulis: “Allah adalah penggubah ilmu pengetahuan. Penelitian ilmiah membuka kepada pikiran bidang-bidang yang luas dari pemikiran dan informasi, menyanggupkan kita untuk melihat Allah dalam pekerjaan yang diciptakan-Nya…Jika dipahami dengan tepat, ilmu pengetahuan dan firman yang tersurat itu selaras, dan nasing-masing menerangi yang lain. Bersama-sama keduanya menuntun kita kepada Allah oleh mengajarkan kita sesuatu tentang hukum-hukum yang arif dan murah hati melalui mana Ia bekerja” (Ellen G. White, Counsels to Parents, Teachers and Students, hlm. 426).

Apa yang kita pelajari tentang penciptaan matahari, bulan dan bintang-bintang?
1. Allah menciptakan matahari, bulan dan bintang-bintang sebagai bagian dari penciptaan yang pada hakikatnya adalah untuk kepentingan manusia dalam menjalani kehidupan mereka di atas Bumi ini.
2. Benda-benda langit itu diciptakan untuk berfungsi sebagai sumber penerangan secara jasmani terhadap Bumi, dan juga sebagai sumber penerangan secara pikirani bagi manusia sebagai penduduk Bumi, yang dalam hal ini adalah untuk memberikan petunjuk-petunjuk tanda waktu. Jadi, dari semula Allah ingin menanamkan “kesadaran akan waktu” dalam pikiran manusia.
3. “Tanda-tanda zodiak” ciptaan manusia berdasarkan posisi konstelasi-konstelasi bintang yang dihubung-hubungkan dengan ciri kepribadian dan nasib manusia adalah penyimpangan yang diilhami oleh Setan untuk mengacaukan perhatian manusia dari Allah dan meragukan pimpinan-Nya.

Senin, 14 Januari
BIOTA AIR DAN UNGGAS (Penciptaan Hewan-hewan di Air dan Udara)

Keanekaragaman spesies. Pada hari kelima minggu penciptaan Allah menciptakan makhluk-makhluk yang hidup di air dan burung-burung yang beterbangan di udara. Saya mengutip dari Alkitab versi Bahasa Indonesia Masa Kini: “Maka Allah menciptakan binatang-binatang raksasa laut, dan segala jenis makhluk yang hidup di dalam air, serta segala jenis burung” (Kej. 1:21, BIMK). Perhatikan, dalam ayat ini ada tiga kelompok makhluk hidup yang diciptakan: (1) binatang-binatang raksasa laut; (2) segala jenis makhluk yang hidup di dalam air; (3) segala jenis burung.

Frase Ibrani yang diterjemahkan dengan binatang-binatang raksasa laut di sini adalah הַתַּנִּינִ֖ם הַגְּדֹלִ֑ים, hattannînim haggəḏōlîm, yaitu termasuk “naga laut” ataupun monster laut dan binatang-binatang purba yang hidup di air yang kemungkinan besar sekarang ini banyak yang sudah punah. Dalam kitab Ayub disebutkan tentang sebuah monster laut yang dinamai Lewiatan (Ay. 3:8), terhadap siapa “orang yang nekat pun tak berani membangkitkan amarahnya” (Ay. 41:1). Lewiatan (Ibr.: לִוְיָתָן, livyathan) kemungkinan termasuk dalam keluarga plesiosaurus atau mosasaurus, nenek moyang buaya atau juga ular laut, yaitu binatang melata raksasa yang hidup di air pada zaman dinosaurus.

Sedangkan kelompok kedua yang dimaksud dengan “segala jenis makhluk yang hidup di dalam air” tentunya semua jenis biota laut besar dan kecil, begitu juga dengan kelompok ketiga yang terdiri atas “segala jenis burung” adalah termasuk semua jenis unggas besar dan kecil, baik yang kita kenal sekarang ini maupun yang tidak pernah dikenal manusia. Banyak dari spesies binatang-binatang laut dan burung-burung ini yang punah karena tidak dapat bertahan hidup ketika bumi dilanda air bah yang menggenangi seluruh permukaan selama satu tahun penuh pada zaman Nuh, sehingga meluluhlantahkan seluruh daratan dan lautan bumi planet kita ini.

Berkembang biak. Tatkala menciptakan makhluk hidup pertama pada hari kelima itu sangat jelas bahwa Allah tidak bermaksud untuk memenuhi habitat dari makhluk-makhluk itu sekaligus pada saat itu juga. Itulah sebabnya setelah menciptakan mereka dalam keanekaragaman jenis sesuai dengan hikmat-Nya yang maha agung itu, Allah kemudian “memberkati semuanya itu, firman-Nya: ‘Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak'” (Kej. 1:22; huruf miring ditambahkan).

“Perhatikan bahwa baik makhluk-makhluk di air dan makhluk-makhluk di udara disebutkan dalam bentuk jamak, ini menunjukkan bahwa suatu keanekaragaman organisme sudah diciptakan pada hari kelima. Tiap-tiap makhluk diberkati dengan kesanggupan untuk berkembang biak dan menjadi banyak. Keanekaragaman sudah ada sejak permulaan. Tidak ada satu pun nenek moyang tunggal dari mana semua spesies-spesies lain diturunkan, tetapi setiap spesies tampaknya dikaruniai dengan kemungkinan untuk menghasilkan berbagai varitas individual” [alinea kedua: empat kalimat pertama].

Memang bisa terjadi bahwa karena tuntutan lingkungan hidup banyak organisme yang kemudian beradaptasi sehingga melahirkan spesies-spesies baru, tetapi organisme itu tetap membawa gen-gen pembawa sifat yang pada dasarnya sama. Bahkan manusia bisa melakukan rekayasa genetik untuk melahirkan hewan-hewan dengan ciri yang berbeda, termasuk dengan cara sederhana melalui perkawinan silang semisal jenis-jenis anjing piaraan, tetapi anjing itu akan tetap lahir sebagai anjing dan tidak pernah menjadi ayam atau kucing. Teori evolusi selalu menguguhkan contoh-contoh evolusi mikro dari sejenis organisme yang berubah karena adaptasi lingkungan, tetapi organisme itu tidak menurunkan organisme yang lain. Evolusi mikro tidak membuktikan evolusi makro.

Tahun lalu saya berkunjung ke Natural History Museum di Los Angeles beberapa hari setelah dibuka untuk pertama kalinya, sebuah museum dinosaurus pertama yang menyimpan fosil-fosil terlengkap di dunia. Anda dapat menyaksikan berbagai spesies hewan-hewan purbakala raksasa yang berhasil digali dengan struktur tulang-tulang yang masih lengkap dan disusun kembali sehingga menampakkan sosok asli binatang itu, baik yang hidup di darat, di laut dan di udara. Bahkan, sebagian dilengkapi dengan telur-telur fosil yang sudah membatu dan dapat anda pegang, dan juga fosil telur eraman yang pecah (memperlihatkan tubuh dinosaurus yang sedang terbentuk) maupun fosil anakan (bayi dinosaurus). Tetapi tidak satu pun dari fosil-fosil itu yang memperlihatkan proses transisi atau suatu perubahan bertahap dari satu organisme hendak menjadi organisme yang lain, semuanya stasis dan menunjukkan spesies dari satu organisme yang utuh. (Silakan kunjungi situsnya di sini—> http://www.nhm.org/site/).

Apa yang kita pelajari tentang penciptaan hewan-hewan air dan burung-burung?
1. Allah menciptakan binatang-binatang yang hidup di air dalam segala jenis, mulai dari hewan air raksasa yang mengerikan sampai kepada biota laut yang paling kecil dan jinak. Tentu saja waktu itu ikan-ikan belum menjadi bagian dari menu makanan manusia.
2. Segala jenis burung-burung juga diciptakan bersamaan dengan binatang-binatang air, semuanya dalam keanekaragaman jenis yang pasti sangat menarik untuk disaksikan. Tentu saja banyak di antara spesies-spesies itu yang tidak dapat kita temukan lagi sekarang, baik karena punah waktu air bah maupun punah belakangan akibat perburuan oleh manusia.
3. Selain makhluk-makhluk itu diciptakan dalam berbagai jenis, Allah juga memberi mereka kemampuan alamiah untuk berkembang biak. Laut waktu itu adalah akuarium alam raksasa yang menyimpan berbagai jenis biota laut, dan langit waktu itu adalah layar alam raksasa yang setiap saat diisi oleh keelokan tingkah dari burung-burung berwarna-warni yang menghias cakrawala.

Selasa, 15 Januari
PENGHUNI DARATAN (Penciptaan Hewan-hewan Darat)

Tiga jenis binatang? Penuturan Musa tentang penciptaan hewan-hewan yang hidup di darat pada hari keenam menimbulkan pertanyaan. Tulisnya, “Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenisternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi” (Kej. 1:25; huruf miring ditambahkan). Apakah dari semula Allah sudah membedakan antara binatang buas (liar) dengan binatang jinak (ternak)? Bukankah semua jenis binatang adalah jinak pada waktu diciptakan?

Dalam bahasa asli PL (Ibrani), kata yang diterjemahkan dengan binatang liar di sini adalah חַי, chay, kata yang sama seperti digunakan dalam ayat 21 yang diterjemahkan dengan makhluk hidup. (Alkitab versi King James juga menerjemahkan kata ini dengan living creature atau makhluk hidup.) Sedangkan kata asli yang diterjemahkan dengan ternak di sini adalah בְּהֵמָה, behemoth, yang sesungguhnya adalah binatang liar. Banyak komentator Alkitab yang menyebut Behemot sebagai “monster darat” yang menjadi teman imbangan dari Lewiatan sebagai “monster laut.” Tapi yang pasti bahwa hewan-hewan yang disebutkan dalam ayat 25 itu, termasuk binatang melata, mencakup keseluruhan jenis fauna yang diciptakan untuk hidup di darat.

“Akan halnya makhluk-makhluk yang diciptakan pada hari kelima, kata-kata dari ayat ini menandakan bahwa sejumlah besar jenis telah diciptakan pada hari keenam Penciptaan. Suatu keanekaragaman binatang liar, jenis-jenis ternak, dan hewan-hewan melata sudah diciptakan juga. Tidak ada nenek moyang tunggal dari semua hewan-hewan darat itu; sebaliknya, Allah menciptakan banyak keturunan yang berbeda-beda dan terpisah” [alinea kedua].

Menurut jenisnya. Alkitab versi bahasa Indonesia (TB & BIMK) menerjemahkan kata Ibrani מִין, miyn, dalam Kej. 1:24 dan 25 dengan segala jenis. Alkitab versi King James–yang secara tradisional dianggap sebagai terjemahan paling akurat untuk dijadikan sebagai patokan–menerjemahkan kata ini dengan after his kind atau menurut jenisnya yang lebih cocok dengan maksud dari kata aslinya. Kata Ibrani ini digunakan sebanyak 31 kali dalam seluruh PL, termasuk Kej. 6:20; 7:14; dan Im. 11:14-22(Strong’s Concordance.)

“Frase ‘menurut jenisnya,’ atau yang setara dengan itu, tidak harus ditafsirkan sebagai semacam aturan reproduksi. Sebaliknya, itu merujuk kepada fakta bahwa ada beragam jenis makhluk yang terkait dalam cerita masing-masing. Sebagian penerjemah Alkitab menggunakan anak kalimat ‘dari segala jenis’ yang kelihatannya lebih cocok dengan konteks. Gantinya merujuk kepada ketetapan jumlah spesies, anak kalimat ini merujuk kepada keanekaragaman makhluk yang diciptakan pada hari keenam. Sejak masa Penciptaan telah terdapat banyak jenis tumbuhan dan hewan” [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Kalau saja manusia dapat memahami sepenuhnya jalan-jalan dan pekerjaan Allah, mereka tidak akan percaya bahwa Dia tidak terbatas. Dia tidak harus dipahami oleh manusia dalam hikmat dan alasan dan maksud-Nya…Orang-orang yang skeptis menolak untuk percaya oleh sebab dengan pikiran mereka yang terbatas mereka tidak dapat mengerti kuasa tak terbatas oleh mana Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia…Eksistensi Allah, tabiat-Nya, hukum-Nya, adalah fakta-fakta bahwa segala pemikiran manusia yang paling tinggi sekalipun tidak dapat hadapi. Mereka menolak pernyataan-pernyataan Allah dan mengabaikan kepentingan-kepentingan jiwa mereka oleh karena mereka tidak dapat mengerti cara-cara Allah bekerja” (Ellen G. White, Healthful Living, hlm. 294, 295).

Apa yang kita pelajari tentang penciptaan hewan-hewan darat?
1. Seperti juga pada penciptaan hewan-hewan laut dan burung-burung pada hari kelima, penciptaan hewan-hewan darat pada hari keenam dilakukan dengan menghadirkan spesies fauna dari segala jenis, semua binatang dari berbagai ukuran dan sifat-sifatnya.
2. Orang dapat berspekulasi bahwa dari mulanya Allah sudah menentukan mana binatang-binatang liar yang seharusnya hidup bebas di hutan dan mana binatang-binatang yang lebih jinak dan cocok untuk ditangkarkan sebagai ternak. Meskipun pendapat seperti itu masuk akal, tapi pada mulanya Allah menciptakan semua binatang itu jinak dan takluk kepada Adam. Dosa membuat segalanya berubah.
3. Ketika menulis tentang hari-hari Penciptaan itu Musa dikuasai oleh ilham Allah, tetapi harus dimaklumi bahwa pada waktu menulis itu dia juga dibayangi oleh latar belakang pengetahuan dan pengalamannya dengan binatang liar maupun hewan ternak. Sangat mungkin Musa yang harus menulisnya dalam kata-katanya sendiri itu juga dipengaruhi oleh pandangannya tentang binatang liar yang berbeda dari hewan ternak.

Rabu, 16 Januari
ALLAH BERISTIRAHAT (Penciptaan Diselesaikan)

Hari ketujuh. Jika tiga ayat pertama dalam kitab Kejadian pasal 2 dibaca sebagai satu kesatuan, kita akan dapati ada dua informasi pokok yang disampaikan: pertama, penjelasan tentang terselesaikannya pekerjaan penciptaan selama enam hari pertama; kedua, penjelasan tentang apa yang Allah lakukan pada hari yang ketujuh. “Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya,” tulis nabi Musa menyimpulkan, merujuk kepada apa yang telah diuraikannya pada pasal satu selama enam hari (Kej. 2:1; huruf miring ditambahkan). Selanjutnya, sang nabi menguraikan “aktivitas” Allah pada satu hari berikutnya: “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya,karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu” (ay. 2-3; huruf miring ditambahkan). Kata Ibrani untuk berhenti di sini adalah שָׁבַת, shabath;untuk memberkati adalah בָּרַךְ, barak; dan untuk menguduskan adalah קָדַשׁ, qadash.

Kalau selama enam hari pertama itu aktivitas Allah berkaitan dengan ruang (langit dan bumi dan isinya), maka pada hari ketujuh aktivitas-Nya berkaitan dengan waktu. Jika selama enam hari pertama itu Allah mengadakan 8 kejadian pokok, maka pada hari ketujuh itu Ia menetapkan 3 hal pokok (berhenti, memberkati, dan menguduskan). Perhatikan bagaimana Musa selaku penulis kitab Kejadian memberi penekanan pada “pemberkatan” dan “pengudusan” hari ketujuh itu dengan mengatakan, “karena pada hari ketujuh itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu” (ay. 3 bag. akhir). Artinya, hari ketujuh itu diberkati dan dikuduskan Allah oleh sebab Ia telah berhenti pada hari itu;berhenti adalah esensi utama dari hari ketujuh. Sesungguhnya, hari yang ketujuh adalah bagian integral dan tak terpisahkan dari masa penciptaan; tanpa pengukuhan hari yang ketujuh penciptaan yang sudah diselesaikan itu belum sempurna. Dalam perkataan lain, hari ketujuh adalah “hari perayaan” atas diciptakannya langit dan bumi dan segala isinya itu, dan Allah memandang hari itu sebagai waktu yang sangat penting. Ia telah memberkati semua hewan dan burung-burung yang diciptakan-Nya pada hari kelima (Kej. 1:22), Ia juga memberkati manusia yang diciptakan-Nya pada hari keenam (1:28), dan Ia pun memberkati pula hari yang ketujuh itu.

“Kata Ibrani untuk istirahat dalam ayat ini adalah shabath, yang berhubungan erat dengan kata Sabat. Hal itu menandakan suatu perhentian dari pekerjaan setelah penyelesaian sebuah proyek. Allah bukannya lelah dan butuh istirahat; Ia sudah menyelesaikan pekerjaan penciptaan-Nya sebab itu Dia berhenti. Berkat khusus Allah terdapat pada hari ketujuh itu. Bukan saja ‘diberkati’ tapi juga ‘dikuduskan’ yang mengandung makna dipisahkan dan dikhususkan bagi Allah. Jadi, Allah memberi arti istimewa pada hari Sabat dalam konteks hubungan antara Allah dengan manusia” [alinea kedua].

Siklus pekan. Penulis kitab Kejadian lalu mengakhiri penuturan tentang kisah penciptaan itu dengan satu kalimat penutup, “Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan” (Kej. 2:4). Karena kegiatan penciptaan Allah berhenti dan berakhir pada hari yang ketujuh, maka tujuh hari pertama dalam riwayat Bumi ini menjadi satu satuan waktu yang kita sebut “siklus pekan” dan menjadi sebagai “minggu perdana” bagi umur bumi kita ini, berapa pun jumlah tahun orang menyebut usia planet ini. Dan seperti telah kita pelajari terdahulu, siklus pekan merupakan satu-satunya periode waktu yang tidak ditetapkan berdasarkan kalkulasi astronomis seperti halnya hari, bulan dan tahun. Siklus pekan semata-mata merujuk pada masa penciptaan, dan dalam pengertian tertentu kita dapat mengatakan bahwa Allah sendirilah yang telah menetapkan siklus pekan dalam rotasi waktu yang dianut manusia hingga sekarang.

Tidak semua siklus pekan yang dikenal dalam peradaban manusia itu terdiri atas tujuh hari, umumnya karena dikaitkan dengan aktivitas masyarakat sehari-hari khususnya kegiatan ekonomi (hari-hari pasar). Suku Ikbo (Nigeria) di Afrika memiliki tradisi mingguan yang terdiri atas 4 hari, dan suku Akan di Afrika Barat dengan 6 hari seminggu, bahkan masyarakat Etruria di Italia abad ke-8 SM mempunyai minggu yang berisi 8 hari. Masyarakat Jawa sendiri mempunyai tradisi siklus pekan yang terdiri atas 5 hari yang disebut Pasaran, dengan nama-nama hari adalah Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan karena ini berhubungan dengan kegiatan hari-hari pasar maka kita mengenal nama-nama seperti Pasar Legi dan Pasar Kliwon. Tradisi Cina dan Jepang bahkan mengenal siklus pekan yang mempunyai 10 hari seminggu. Dalam peradaban moderen negara yang pernah mengubah siklus pekan 7 hari menjadi 10 hari adalah Prancis pada masa Revolusi Prancis yang sempat berlaku selama 12 tahun, 1793-1805 (sumber lain menyebutkan hanya 9 tahun, sampai 1802), ketika rezim yang berkuasa melakukan desimalisasi (angka 10 sebagai bilangan sempurna) dan sekaligus untuk menghapus pengaruh agama di masyarakat. Tetapi sejalan dengan ditemukannya Kalender Gregorian yang berlaku secara internasional masyarakat dunia kemudian kembali kepada siklus pekan yang terdiri atas 7 hari.

Namun satu hal yang perlu ditekankan di sini ialah bahwa pengudusan Sabat sebagai hari perhentian bukan semata-mata karena kita mengadopsi siklus pekan yang terdiri atas tujuh hari, melainkan oleh karena Alkitab menyatakan bahwa Allah berhenti pada hari ketujuh lalu memberkati dan menguduskannya. Alkitab juga menegaskan bahwa Allah menciptakan Sabat hari ketujuh sebagai hari perhentian bukan saja untuk kepentingan Allah, tetapi itu diciptakan untuk manusia. “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat,” kata Yesus (Mrk. 2:27). Berdasarkan maksud pernyataan Yesus ini, manusia adalah lebih penting dari hari Sabat itu sendiri, bahkan hari Sabat justeru diadakan demi keperluan manusia. Sebagaimana langit dan bumi diciptakan untuk manusia, demikianlah hari Sabat itu juga dijadikan Allah demi manusia.

“Perhatikan bahwa Sabat tidak dijadikan karena Allah memiliki satu kebutuhan melainkan karena manusia yang mempunyai satu kebutuhan sehingga Allah menyediakannya. Pada akhir pekan yang pertama, Allah beristirahat dari tindakan penciptaan-Nya dan menyediakan waktu-Nya untuk menjalin hubungan dengan ciptaan-Nya…Kearifan dari ketetapan untuk beristirahat ini bahkan menjadi lebih terbukti setelah dosa. Kita memerlukan istirahat Sabat untuk menghindarkan kita dari kehilangan pandangan akan Allah dan terperangkap dalam materialisme dan kerja berlebihan” [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Allah melihat bahwa Sabat itu penting bagi manusia, sekalipun di Taman Eden. Dia [Adam, manusia] perlu mengesampingkan kepentingan-kepentingan dan kegiatan-kegiatannya sendiri untuk satu hari dari tujuh hari itu, agar dia bisa lebih sempurna memikirkan pekerjaan Allah serta merenungkan kuasa dan kebaikan-Nya. Dia membutuhkan Sabat untuk mengingatkannya dengan lebih jelas akan Allah, dan untuk membangun rasa syukur karena semua yang dia nikmati dan miliki itu berasal dari tangan Sang Pencipta yang murah hati itu” (Ellen G. White, The Faith I Live By, hlm. 31).

Apa yang kita pelajari tentang tindakan Allah setelah merampungkan pekerjaan penciptaan-Nya?
1. Allah menyelesaikan pekerjaan penciptaan selama enam hari, dan pada hari yang ketujuh Dia berhenti dan beristirahat. Tentu saja bukan karena Allah lelah bekerja, melainkan karena Dia ingin merayakan penciptaan yang sudah dirampungkannya dengan sempurna itu.
2. Sabat hari yang ketujuh adalah bagian tak terpisahkan dari penciptaan, oleh sebab dengan berhenti, memberkati dan menguduskan hari itu Allah mengukuhkan pekerjaan penciptaan-Nya. Sabat hari ketujuh menjadi semacam “hari pemeteraian penciptaan” yang harus diperingati dan dihormati oleh manusia ciptaan-Nya.
3. Hari Sabat disediakan Allah menjadi satu hari istimewa untuk menjaga hubungan Diri-Nya dengan manusia ciptaan-Nya. Hari Sabat diciptakan sebelum ada dosa, dan dosa tidak pernah menyebabkan pembatalan hari Sabat. Hari Sabat lebih berkuasa daripada dosa!

Kamis, 17 Januari
HARI SABAT HARFIAH (Hari Dalam Arti Sesungguhnya)

Petang dan pagi. Kata Ibrani untuk hari adalah יוֹם, yōm, dan kata ini muncul sebanyak 2287 kali dalam 1931 ayat di seluruh Perjanjian Lama (PL), khususnya sepanjang enam hari penciptaan dalam Kejadian pasal 1. Dalam tradisi budaya orang Yahudi, “hari” sebagai waktu kerja adalah 12 jam terhitung mulai jam 06:00 pagi hingga 18:00 petang (Mat. 20:1, 2; Yoh. 11:9), tetapi “hari” sebagai satu unit waktu adalah 24 jam yang meliputi satu malam dan satu siang (Kej. 1:5; Kel. 20:9-11). Kebiasaan orang Yahudi menyebut satu hari itu terdiri atas satu petang (עֶרֶב,`ereb) dan satu pagi (בֹּקֶר, boqer).

Hari-hari selama penciptaan dalam kitab Kejadian telah menjadi perdebatan selama bertahun-tahun, dan banyak orang Kristen pendukung teori evolusi yang berdalih bahwa “hari” yang dimaksudkan di sini harus diartikan sebagai “abad geologis” (geological ages) gantinya pengertian hari secara harfiah (hari dalam arti kata yang sesungguhnya). Tetapi tentu saja pandangan ini bertentangan dengan pengertian hari menurut arti kata Ibrani sebagai bahasa asli yang digunakan dalam penuturan tentang penciptaan kitab Kejadian, dan tidak didukung oleh logika ilmu pengetahuan alam itu sendiri. Sebab kalau “satu hari” penciptaan itu sama dengan “satu abad” atau “satu milenium” apa jadinya dengan tumbuh-tumbuhan yang sudah diciptakan pada hari ketiga padahal matahari (mutlak diperlukan untuk proses fotosintesis) baru diciptakan pada hari keempat, yang berdasarkan paham tersebut berarti “satu abad” atau “satu milenium” kemudian?

“Hari terdiri atas satu petang (periode gelap) dan satu pagi (periode terang) dan dihitung secara berurutan. Artinya, hari-hari dinyatakan dalam cara yang sangat jelas menunjukkan bahwa itu adalah hari-hari sebagai yang kita alami sekarang, terdiri dari petang dan pagi, satu periode gelap dan satu periode terang. Sulit untuk melihat bagaimana pernyataan itu bisa lebih jelas atau gamblang dalam menerangkan hari-hari dalam satu pekan. Ungkapan ‘jadilah petang dan jadilah pagi’ yang diulang-ulangi itu menekankan aspek harfiah dari tiap-tiap hari” [alinea pertama: empat kalimat terakhir].

Sabat, satu hari harfiah. Dengan pengertian bahwa enam hari penciptaan itu adalah sama dengan enam hari harfiah seperti yang kita kenal sekarang di dalam tiap pekan, maka menjadi mudah bagi kita untuk memahami dan menerima Sabat hari yang ketujuh itu sebagai satu hari istirahat yang juga bersifat harfiah. Dengan demikian, hari Sabat adalah hari perhentian yang bersifat nyata dan mengandung arti kata yang sebenarnya, bukan perhentian secara filosofis ataupun simbolik. Sabat adalah satu hari dalam setiap tujuh hari di mana kita harus berhenti secara fisik (jasmani) dan mental (pikirani) dari segala aktivitas dan urusan sehari-hari, bukan sekadar beristirahat atau rehat.

“Orang Ibrani purba tidak meragukan sifat hari Sabat. Itu adalah satu hari yang panjangnya biasa tetapi membawa berkat istimewa dari Allah. Perhatikan perbandingan yang jelas dari minggu pekerjaan Allah selama enam hari dengan minggu pekerjaan kita yang juga enam hari dan sesuaikan perbandingan hari perhentian bagi Allah dan bagi kita” [alinea terakhir: tiga kalimat pertama].

Pena inspirasi menulis: “Seperti Sabat, pekan juga bermula pada penciptaan, dan itu sudah terpelihara dan terbawa sampai kepada kita sepanjang sejarah Alkitab. Allah sendiri yang menentukan pekan pertama itu sebagai satu contoh untuk minggu-minggu selanjutnya sampai akhir masa. Seperti pekan-pekan lainnya, itu terdiri atas tujuh hari harfiah. Enam hari digunakan dalam pekerjaan penciptaan; pada hari yang ketujuh, Allah berhenti dan kemudian memberkati hari ini serta memisahkannya sebagai satu hari perhentian bagi manusia” (Ellen G. White, Christian Education, hlm. 190).

Apa yang kita pelajari tentang hari-hari dalam pekan yang bersifat harfiah?
1. Minggu penciptaan terdiri atas enam hari harfiah (=dalam arti kata sesungguhnya) ditambah dengan satu hari ketujuh ketika Allah berhenti dari pekerjaan penciptaan-Nya, lalu memberkati dan menguduskan hari itu. Jadi Allah sendiri yang menciptakan hari Sabat sebagai bagian dari minggu penciptaan.
2. Pekerjaan penciptaan Allah selama enam hari itu adalah untuk kepentingan manusia, maka penciptaan Sabat hari yang ketujuh adalah juga demi kepentingan manusia. Kalau kita percaya penciptaan adalah untuk kita manusia, kita pun harus percaya bahwa Sabat hari ketujuh adalah untuk kita juga. (Mrk. 2:27).
3. Secara fisik, hari Sabat tidak berbeda dari hari-hari lain sepanjang minggu. Bahkan, karena faktor-faktor alam, bisa saja terjadi pada hari Sabat cuacanya lebih buruk dari hari-hari lain sehingga menghalangi kita untuk keluar rumah. Namun pada hakikatnya hari Sabat lebih istimewa karena apa yang Allah lakukan pada hari itu di masa penciptaan.

Jumat, 18 Januari
PENUTUP

Fosil. Fosil (dari kata Latin fossus yang secara harfiah berarti “benda hasil galian”) adalah sebutan yang diberikan kepada sisa-sisa organisme purbakala yang ditemukan di dalam tanah atau melekat di bebatuan, dan itu bisa manusia, hewan maupun tumbuhan. Fosil berguna untuk membuktikan adanya sesuatu jenis kehidupan di masa purbakala yang sekarang tidak ditemukan lagi atau sudah punah. Tetapi paleontologi (ilmu yang mempelajari kehidupan purbakala) juga mengenal istilah”Lazarus taxa” untuk apa yang disebut “fosil hidup,” yaitu organisme yang semula dianggap sudah punah untuk jangka waktu yang lama tapi sekonyong-konyong ditemukan di suatu tempat dalam keadaan hidup. Istilah “Lazarus” berasal dari kisah dalam Alkitab tentang seorang lelaki yang sudah tiga hari mati tapi kemudian hidup kembali oleh mujizat Yesus (Yohanes 11).

Hal yang menarik perihal “fosil hidup” ialah dalam banyak kasus penemuan itu serta-merta membatalkan semua kalkulasi evolusi terhadap organisme tersebut yang semula diduga hidup pada milyaran tahun silam tetapi sebenarnya tidak. Contohnya adalah E. thermale, sebuah tumbuhan menyerupai ekor kuda yang dianggap pernah hidup 150 juta tahun lampau tapi sudah lama punah, ternyata telah ditemukan dua tahun lalu (baca artikelnya di sini—> http://www.icr.org/articles/view/6110/370/). Demikian pula dengan sejenis ikan coelacanth yang dianggap sebagai “ikan purba” yang menurut teori hidup 400 juta tahun lampau, tiba-tiba ditemukan di perairan pulau Madagaskar, Afrika tahun 1938 lalu. Bahkan ternyata spesies tersebut masih bisa ditemukan sekarang ini hidup di beberapa tempat di dunia, termasuk di Bunaken dan sekitar pulau Manado Tua yang oleh penduduk setempat disebut “ikan raja laut.”

“Juga, jika hari-hari dalam kitab Kejadian melambangkan zaman yang panjang, orang akan berharap untuk menemukan suatu urutan dalam catatan fosil yang cocok dengan urutan makhluk hidup yang diciptakan dalam urutan enam ‘hari’ Penciptaan. Jadi, fosil pertama haruslah tumbuhan yang diciptakan pada ‘hari’ ketiga. Sesudah itu yang mula-mula adalah hewan-hewan air dan udara. Terakhir, kita harus menemukan hewan-hewan darat yang pertama. Catatan fosil tidak cocok dengan urut-urutan ini. Makhluk-makhluk air muncul sebelum tumbuhan, dan makhluk-makhluk darat muncul sebelum makhluk-makhluk udara. Fosil pohon buah-buahan pertama dan tumbuhan bunga-bunga lainnya muncul sesudah semua kelompok-kelompok lain ini. Satu-satunya titik kesamaan ialah bahwa manusia muncul terakhir dalam kedua catatan itu” [alinea kedua].

Kita tidak akan pernah selesai berdebat tentang ketidakcocokkan antara teori evolusi dengan doktrin penciptaan dari kitab Kejadian, dan kebenaran doktrin penciptaan Alkitab tidak membutuhkan dukungan ataupun pengakuan dari dunia ilmu pengetahuan. Suatu hari kelak, jika Allah mengizinkan, kita tidak akan terkejut kalau justeru Alkitab akan menjadi sumber referensi dari berbagai ilmu pengetahuan moderen. Tapi untuk sekarang ini kita menerima riwayat penciptaan Allah atas langit dan bumi dan segala isinya itu atas dasar iman, dan kita tidak akan membiarkan iman kita digoyahkan oleh teori-teori manusia berdosa.

“Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang terang! Pujilah Dia, hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit! Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta. Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar” (Mzm. 148:3-6).

(Oleh Loddy Lintong/California, 17 Januari 2013)

Leave a Reply