Kisah Pendakian Mt. Washington

April 26, 2013 - Soundcloud Sam

Sabtu malam, 20 April, 2013, pukul 9:30 waktu Amerika bagian timur, saya mendapat telepon dari kantor dimana saya bekerja, yang mengabarkan bahwa klien saya masuk ke Rumah Sakit, dengan begitu saya tidak perlu bekerja besok hari. Sesaat saya merasa kesal karena jelas saya akan kehilangan peluang untuk mendapatkan uang. Namun saya telah banyak diajar oleh Tuhan untuk selalu bersyukur dalam setiap kesempatan, baik susah maupun senang. Sayapun berkesimpulan, Tuhan senantiasa memiliki sesuatu bagi saya, yang walaupun belum saya ketahui, namun bila saya mau percaya/melihat dengan mata iman, pasti itu akan menguntungkan bagi saya, yang dikemudian hari, mungkin saja akan saya sadari (namun kenyataannya lebih banyak menjadi misteri), namun, pasti, pada waktunya nanti, di masa 1000 tahun, semua tabir itu akan terbuka.
Keesokan harinya, ketika terbangun di pagi hari, sayapun sadar bahwa sebetulnya inilah kesempatan yang saya tunggu tunggu. Dengan tidak bekerja, saya memiliki waktu untuk hiking. Selama ini saya tidak memiliki waktu untuk itu. Enam hari bekerja benar benar telah membuat hidup ini monoton dan membosankan. Apa yang dibutuhkan oleh tubuh saya saat ini adalah rekreasi, terlepas dari beban pekerjaan sehari-hari. Musim dingin baru saja berlalu, saljupun telah mencair, kesempatan emas untuk kembali menikmati hobi yang tertunda. Yeah..saya berteriak girang, bersyukur kepada Tuhan oleh karena klien saya masuk RS, seolah olah tampak konyol, tapi ini adalah juga kesempatan bagi saya untuk bersenang, toh saya tidak merencanakan ini semua, saya hanya menikmati kenyataan hidup. Prinsip saya dalam hal ini, serahkanlah segala sesuatu kepada Tuhan, apapun itu, maka Ia akan meng-ada-kannya (baca: segala keperluanmu). Ayat yang sempurna, pikirku. “Tidak perlu bertanya, nikmati saja. Kemalangan orang lain akan dibelokan menjadi berkat bagi umat Tuhan yang setia kepada-Nya”, bisik hatiku.
Mt. Washington terletak di pegunungan White Mountains di Negara Bagian New Hampshire. Mt. Washington adalah gunung tertinggi di belahan utara timur laut AS. Tingginya 6.288 kaki atau 1.917 m. Sangat terkenal dengan cuacanya yang sangat cepat berubah/sangat berbahaya. Observatorium cuaca di puncak gunung tersebut pernah mencatat kecepatan angin sebesar 231 mph (372 km/jam atau 103 m/detik pada tanggal 12 April, 1934, yang merupakan kecepatan angin tertinggi di permukaan bumi (terdengar bunyi angina dibalik musik bila anda menyaksikan videonya).
Cepat saya bangun, tanpa makan pagi, berangkat dengan hanya membawa air, juice, telur rebus, tempe goreng, nasi dan burger vegie (sudah sejak awal tahun 2012 vegetarian minus teri, mpe2 dan roa, haha..belum bisa jadi teladan nih!) khawatir cahaya matahari tidak cukup untuk mendaki dan turun gunung (dulu pernah gagal mencapai puncak, padahal tinggal 30 menit lagi, akibat hari sudah senja). Saya tidak mau terulang kembali kegagalan yang sama. Kalau saja puncak gunung itu adalah kerajaan surga, maka saya tergolong kepada umat Tuhan yang sangat malang, bak orang Israel kuno, sudah melihat Kanaan didepan mata, namun gagal memasukinya. Baca kisahnya di Bilangan 13:3-21. Bangsa Israel sudah tiba di Kadesh Barnea namun harus kembali mengarungi padang gurun lagi.
Perjalanan 2,5 jam ke North Conway dengan kendaraan, saya persingkat menjadi 2 jam, “saya harus memberi banyak waktu bagi pendakian dan resiko resikonya” pikir saya dalam hati. Mobil yang berjalan pelan terpaksa saya tempeli dari belakang, membuat dia kikuk lalu minggir secara perlahan, memberi tempat bagi saya untuk berlalu meninggalkannya. Hari yang sangat cerah, membuat hatikupun senang, tidak terkecuali orang orang lain juga, yang merasakan hal yang sama, sehingga tampak banyak kendaraan yang menuju ke utara, searah dengan kendaraan saya.
Tiba di Pinkham Notch Visitor Center, saya harus mengeluarkan uang $ 60 untuk membeli gerigi sepatu agar bisa berjalan diatas salju. Hal ini tidak saya antisipasi sebelumnya, namun ditengah jalan ketika masih mengendarai mobil, tampak puncak gunung Mt. Washington tertutup oleh salju, “pasti jalan-jalannya pun sama”, kilahku dalam hati.
Tidak begitu lama, sayapun sudah bergegas memasuki trail. Tampak banyak sekali orang yang mendaki pada hari itu. Mereka semua membawa Snowboard ataupun Skiboard di punggung mereka. Pasti mereka hanya akan mendaki untuk bersenang-senang dan tentunya dalam perjalanan pulang tidak perlu cape cape jalan kaki, tapi bisa meluncur turun dengan papan ski mereka dari atas hingga ke pelataran parkir mobil. Tidak ada yang hanya memikul ransel kecil seperti saya. “Bukan menjadi halangan untuk mengundurkan diri” kata saya dalam hati. Walaupun saya bisa bermain Snowboard, saya tidak datang untuk snowboarding saat ini, saya datang untuk menaklukan gunung tertinggi di pantai timur AS dan ini sudah merupakan upaya yang ke 3, setelah gagal 2 kali sebelumnya. Saya bertekad untuk tidak lagi gagal. Ibarat Surga, saya harus bisa mendarat disana, walalupun melawan arus (kebanyakan orang pergi untuk berselancar atau dalam pengertian rohani, kebanyakan orang tidak mengikuti ajaran Alkitab secara keseluruhan, tampaknya saya hanya seorang diri yang datang untuk pure hiking atau hanya seorang diri yang tetap mengikuti taurat dan syariatnya namun saya tidak harus menyerah terhadap keadaan atau korbankan prinsip Alkitab oleh karena arus orang banyak. 2 Raja 5:20-27 Mengisahkan bagaimana Gehazi mendapat kusta oleh karena dia mengorbankan prinsip Allah gara gara terpikat harta duniawi.
Tanpa makan pagi, saya berhasil melampaui hampir 30 orang, kebanyakan mereka berusia muda, kebetulan umur saya sudah tidak lagi muda 🙂 namun tentunya diantara mereka, ada ibu ibu, anak anak dan bapa bapa, tapi tidak ada orang berusia tua dan memang semuanya membawa beban yang cukup berat, antara lain mereka memakai sepatu ski, alat ski dan backpack yang cukup besar dan barangkali berat. Saya sendiri cukup memakai pakaian casual, sweater, ransel kecil berisikan air minum dan makanan ringan. Ada 6 orang yang berhasil melewati saya, namun 2 orang berhasil saya lewati kembali. Memang dalam hidup ini, sehebat-hebatnya anda, pasti akan ada yang lebih hebat dari anda, jadi jangan takabur dulu. Roda kehidupan terus berputar, kadang anda kuat, kadang lemah, kita semua membutuhkan teman dan saudara seiman untuk menolong maupun ditolong agar sama sama kita bisa mencapai tanah Kanaan sorgawi. Amsal 16:5 “Semua orang sombong dibenci TUHAN; Ia tidak membiarkan mereka luput dari hukuman”.
Selang 2 jam mendaki, saya tiba di Last Camp, waktu untuk beristirahat. Makan telur rebus 2 butir, minum, ambil video dan terus berjalan. Waktu adalah kesempatan emas, terlalu banyak dipakai untuk istirahat akan merugikan diri sendiri, selain perjalanan kedepan masih panjang, jerat jerat mara bahaya pun mengintai. Memanfaatkan waktu dengan sebaiknya adalah kunci kesuksesan utama. Demikian halnya dengan kehidupan kerohanian kita. Fokus kepada hal hal rohani adalah bekal dalam mengarungi bahtera kehidupan duniawi, gunakan setiap waktu lowong untuk membekali pikiran kita dengan Sabda Allah, agar kita kita kuat melawan cobaan setan. Mazmur 119:105 “Sabda-Mu adalah pelita bagi langkahku, cahaya untuk menerangi jalanku”.
Perjalan menuju Tuckerman Ravine, sebuah lembah sebelum mencapai puncak, tidak mudah. Selain jalannya kecil, penuh salju, mendaki, disamping kiri terdapat jurang yang sangat dalam. Saya berulang kali tergelincir namun untung bisa mengendalikan diri, walaupun banyak energi turut tersita akibat kejatuhan itu. Rasa-rasanya tubuh lebih suka untuk tetap duduk, berat diangkat untuk berdiri kembali bila sudah terjatuh. Demikian halnya dengan orang orang yang lain, merekapun terjatuh dan enggan untuk berdiri, barangkali sekaligus ingin untuk beristirahat sejenak, pikirku. Tampak dikejauhan kedalaman jurang, ada sungai yang mengalir, indah namun mengerikan, oleh karena mata ini berada didalam tubuh yang sudah sangat lelah, nafas terengah-engah, kematian terselip pada setiap langkah kaki yang terayun. Dosa kadang juga berat ditinggalkan, namun harus ada usaha untuk melawannya, Tuhan pasti akan menolong kita, memberikan kuasa kepada kita untuk meninggalkan kebiasaan kebiasaan kita yang salah bila kita sendiri mau berdiri dan mengebaskannya terlebih dahulu untuk memohon kuasa-Nya. Kuasa Tuhan baru akan dicurahkan bila ada percik kemauan dalam hati untuk meminta pertolongan dari padaNya. Matius 7:7 ”Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu”.
Tidak begitu lama, sayapun tiba di Tuckerman Ravine. Tampak puluhan orang bermain ski, namun sebagian besar orang duduk untuk menonton. Lembah Tuckerman yang sangat terjal ini digunakan sebagai ajang pertunjukkan dan permainan oleh mereka yang trampil dan ahli dalam dunia per-ski-an. Banyak godaan setan tampak sangat mematikan bagi sebagian orang namun sebaliknya bagi orang lain hanyalah medan yang tak berarti bahkan digunakan sebagai wadah untuk menikmati berkat kehidupan Allah. Kita harus bisa menjadikan godaan setan sebagai sesuatu yang tak bergaung alias menjadi kebal terhadapnya. Caranya adalah dengan mengalahkannya setiap hari, sampai kita merasa tidak lagi terganggu oleh cobaan itu/kebal terhadap cobaan itu. Gunakan firman Tuhan sebagai perisai, setiap kali si Iblis mencoba menggoda kita. Dengan demikian kita siap melangkah ke depan, menikmati berkat yang Tuhan berikan, tak terhiraukan oleh cobaan Setan, sama seperti Yesus ketika Setan mencoba menjatuhkannya. Baca kisahnya di Matius 4:1-11.
Dari lembah Tuckerman, saya lihat ada 2 trail yang cukup banyak digunakan untuk mendaki ke atas. Saya sudah terlanjur berada di lembah ini, saya harus memilih diantar kedua trail ini untuk bisa mencapai puncak. Di awal trail, ada alternatif lainnya namun sudah berada jauh dibelakang. Banyak pemain ski yang menggunakan Trail yang tampak lebih jauh dari tempat dimana saya berada, namun sedikit yang menggunakan trail di dekat saya. Saya memilih untuk mendaki melewati trail kedua. Dari tempat saya berdiri, trail ini tampak lebih pendek namun sangat terjal, kira kira kemiringan mencapai 70 derajat dibagian awal namun menjadi 80 derajat dibagian puncak. Saya tidak pernah mendaki gunung bersalju sebelumnya, tidak memiliki pengetahuan pendakian medan bersalju, tidak memiliki alat mendaki sedikitpun, hanya bermodalkan sepatu bergerigi saja, sedikit memori film pendakian gunung Mt. Matterhorn (ketika film ini dulu diputar, versi layar tancap, di Unklab, itu juga sudah lama sekali, pada waktu saya masih SMP) dan yang terakhir Yesus Kristus, Tuhan Allah, Juruselamat saya (baru saat itu saya bisa menyelami arti kata Juruselamat yang sebenarnya). Saya ingat, mereka kerap menggunakan tali, sangkur, sepatu dan pakaian khusus pendakian. Saya membanding bandingkan penampilan diri saya dengan para pemain ski professional ini, sungguh sungguh menyedihkan, boleh dikata aneh dan berbeda langit dan bumi. Mereka menggunakan celana anti air, saya jeans. Mereka menggunakan sepatu boot ski yang berat dan kuat serta bergigi tajam, saya menggunakan kets dengan sedikit gerigi ekstra/murah dan dipasang secara amatiran. Mereka menggunakan jaket anti air yang tebal, saya menggunakan sweater biasa, walaupun berapis dua. Mereka menggunakan helmet keras pelindung kepala, saya menggunakan sweater yang sekaligus memiliki penutup kepala. Mereka menggunakan sarung tangan keras dan kuat, saya menggunakan sarung tangan biasa hanya untuk pengaman dari suhu yang dingin. Jelas jelas saya tidak siap, kalau sampai terjatuh, tidak ada kemungkinan untuk selamat, kalaupun selamat sampai diatas, hanyalah mujiksat Tuhan sahaja. Tidak heran, seorang diantara pemain ski ini memanggil saya Sherpa, pemandu pendakian gunung Mt. Everest di Nepal. Dalam hati sayapun berbangga, penampilan luar saya mencerminkan keahlian pendaki pendaki gunung tersohor. Tak nampak dari luar pergumulan bathin dan kesengsaraan saya ketika itu, yakni kaki yang bergetar, keram dan nyeri pada bagian paha, ketakutan yang tak tergambarkan, kelelahan ekstrim, serta doa permohonan perlindungan dan pertolongan Tuhan yang tidak henti-hentinya. Setiap empat/lima langkah, saya harus beristirahat oleh karena hal ini. Saya akhirnya memutuskan untuk kembali, tidak lagi saya perduli dengan nazar saya untuk mengalahkan gunung ini, yang bagi saya adalah kerajaan Surga, yang bilamana saya menyerah lagi, saya akan dibayangi oleh kegagalan mencapai kerajaan Sorga, seperti kegagalan kegagalan sebelumnya. Dari pada mati, mendingan saya tunda sampai kesempatan berikutnya, gagal adalah kesuksesan yang tertunda, bathin saya. Saya teringat ucapan seseorang ketika sambil lalu berbicara kepada temannya, “tidak mungkin meneruskan pendakian, mereka yang tetap akan pergi, akan menghadapi resiko jatuh oleh karena terjal dan licinnya tebing”. Namun saya sudah sampai ditengah-tengah tebing, ketika saya mencoba untuk turun, saya kesulitan umtuk meletakkan sepatu saya, karena bekas sepatu yang ada mengarah keatas, tidak ada bekas sepatu menurun, apalagi jejak sepatu yang ada tidak begitu dalam, seperti halnya pijakan untuk menaiki pohon kelapa (Bagi mereka yang tinggal di kampung, pasti mengetahui dengan pasti besarnya pijakan ini. Saya sendiri dulu waktu masih kecil, suka mendaki pohon kelapa, walaupun tidak sampe 10 atau 30 pohon seperti om William, almarhum adik Papa saya). Tidak ada tempat untuk meluruskan kaki, oleh sebab jejak pendakian di salju hanya ada didepan anda, tidak ada disamping kiri dan kanan, resiko untuk jatuh tergelincir sangat besar bila hendak bermaksud untuk merintis jejak baru. Yang dapat saya lakukan adalah menahan sakit dan nyeri pada paha dan kaki, berdoa dan terus melangkah tanpa sedikitpun memalingkan mata kebawah. Jarak pendakian tebing salju ini sekitar 250 meter. Setiap langkah adalah mujiksat. Tidak ada kesempatan untuk memikirkan atau membayangkan hal yang lain. Semua tertuju kepada hadirat Allah. Moral dari kasus ini adalah, terkadang kita jatuh kedalam dosa oleh karena kurangnya kelengkapan senjata Allah melawan Setan. Saya sangat menyadari akan hal itu. Pakailah senantiasa perlengkapan perang Allah untuk melawan cobaan Setan. Alkitab, pelajaran Sekolah Sabat dan Doa adalah sebagian perlengkapan yang ampuh. Lalai mempelajarinya akan bernasib sama dengan keadaan saya, bergelantungan diatas tebing salju yang terjal, sangat mudah untuk dijatuhkan oleh Setan, bahkan dengan sekali tiupan mulut saja. Efesus 6:11 “Pakailah olehmu selengkap senjata Allah, supaya kamu tahan melawan segala semu daya Iblis”.
Tapi bilamana kita setia, Allah tidak akan segan untuk menjaga dan melindungi kita, asalkan kita tidak dengan sengaja menguji pertolongan surga. Penampilan luar tidak penting bagi Allah, kedamaian, ketulusan, kejujuran hati adalah yang terutama bagi-Nya. 1 Samuel 16: 7 “Tetapi TUHAN berkata kepada Samuel, Janganlah kau terpikat oleh rupanya yang elok dan tinggi badannya; bukan dia yang Kukehendaki. Aku tidak menilai seperti manusia menilai. Manusia melihat rupa, tetapi Aku melihat hati.”
Tiba di puncak tebing, kembali keram menyerang paha. Dari atas memandang kebawah, saya bisa melihat betapa dalam, terjalnya dan jauhnya tebing yang saya jalani. Sayapun menyadari, tanpa pertolongan Tuhan, saya tidak akan tiba diatas tebing, sebaliknya akan menjadi tontonan orang banyak di lembah Tuckerman, namun bukan tontonan yang indah tetapi sebaliknya tontonan yang menyedihkan. Surat kabar dan Televisi akan menyiarkan berita kejatuhan seseorang pendaki, yang barangkali akan diberi label nekad dan terlalu memaksakan diri.
Lepas dari tebing Tuckerman, tampak puncak gunung Washington di depan mata. Penderitaan belum berhenti, masih berlanjut. Dalam perjalanan menuju puncak, kembali harus beristirahat beberapa kali oleh karena keram pada kaki. Gantinya mengikuti jalan yang sudah ada, saya memilih mengikuti jalan pintas, mendaki lurus keatas, mengikuti jejak langkah pemain ski yang ada didepan saya. Kali ini lereng puncak gunung tidak terlalu terjal, namun sangat melelahkan. Butiran butiran salju terus meluncur mengenai kaki akibat pijakan pendaki gunung yang berada diatas. Akhirnya dengan susah payah tibalah saya di perbatuan, yang bila tampak dari bawah seakan akan sudah merupakan puncaknya, namun masih membutuhkan kesabaran selama 20 menit lagi. Saya harus bersusah payah melangkahi batu batu yang tajam dan besar untuk bisa mencapai puncak. Kehati-hatian dalam melandaskan langkah sangat penting. Pada waktu yang lalu, ketika saya mencoba mendaki gunung ini pada kesempatan yang kedua, kaki saya terperosok kedalam lubang diantara batu batu hitam yang tajam dan kasar ini, pada bagian pertengahan gunung. Luka goresan membuat kaki nyeri. Saya harus beristirahat sekian lama untuk mengurut kaki yang terperosok. Mengingat perjalan pulang yang tidak kalah beratnya, saya harus berhati hati sekali menjaga agar kaki ini tidak sedikitpun cedera. Hamparan batu batu hitam, tajam dan besar tampak tidak habis habisnya. Namun, melihat tujuan sudah didepan mata, sayapun berjalan dengan cepat, tanpa merasakan kelelahan dan nyeri lagi. Semua penderitaan dan sakitpun sirna ketika saya berhasil mencapai puncaknya. Sayapun berdoa, memanjatkan syukur kepada Tuhan Alam Semesta, pencipta langit dan bumi. Bersyukur atas perlindungan-Nya. Bersyukur atas kekuatan yang diberikan. Bersyukur atas kesempatan untuk bisa memandang gunung gunung yang indah yang terhempas bak permadani hijau kebiru-biruan. Bersyukur atas langit yang cerah, matahari yang hangat (Bayangkan bilamana hujan dan dingin sekali). Wahyu 4:11 ”Ya Tuhan, ya Allah kami! Engkau sajalah yang layak menerima pujian, hormat dan kuasa. Sebab Engkaulah pencipta segala sesuatu, dan atas kehendak-Mu juga segala sesuatu itu telah terjadi dan hidup.”
Perjuangan belum selesai, perjalanan pulang terbayang dalam pikiran. Tadinya saya berpikir aka ada kendaraan di puncak, padahal oleh karena cuaca yang masih dingin, dengan es yang masih membeku diatas gunung, tidak diperbolehkan kendaraan mendaki gunung ini. Di puncak memang tampak sebuah gedung megah nan luas, dimana makanan dan minuman hangat tersedia. Namun itu semua hanya akan disajikan pada musim panas. Suasana puncak sungguh sepi. Tidak ada seorangpun yang terlihat. Keindahan alam yang tak tertandingi ini bila dinikmati tanpa kehadiran orang lain, sungguh sangat mengganggu. Tidak menunggu berapa lama, saya bergegas turun, makanan yang dibawa terpaksa dibuang, agar beban menjadi lebih ringan. Perjalanan turun tidak kalah mendebarkan. Saya berjumpa dengan beberapa pendaki diatas tebing Tuckerman. Dalam perjalanan turun saya juga melewati kira kira 6 orang. Kegirangan dan kesenangan akibat sudah menaklukan gunung Washington, tidak sirna dalam hati saya sepanjang perjalanan dan selalu menjadi hiburan dalam mengatasi terjalnya tebing. Sam halnya dengan itu, kesuksesan mengalahkan cobaan setanpun tidak begitu saja sirna. Bila kita menang dalam pencobaan, itu akan menjadi modal kekuatan kita dalam menghadapi cobaan berikutnya dan selang dengan berjalannya waktu, kita akan semakin kuat dan muak terhadap dosa. Asalkan kita mau terus menerus melangkah bersama Yesus, tidak ada yang tidak mungkin kita kalahkan, bila tidak, sekuat apapun kita, siapapun kita, kita akan sama seperti Petrus/murid Yesus sendiri, hampir tenggelam oleh karena mengandalkan kekuatan sendiri, padahal Yesus berada sangat dekat daripadanya/padahal Yesus hanya sejauh doa untuk kita. Mazmur 46:2 “Allah adalah perlindungan dan kekuatan kita; Ia selalu siap dan mampu menolong dalam kesesakan”.
Tebing demi tebing saya lewati, kadang hanya berpengangan pada akar, batu dan pohon, namun bisa juga terlampaui. Jurang disebelah kiri, gunung batu disamping kanan, semuanya menghantui setiap langkah dan kepercayaan diri kita. Sekali tergelincir, tidak akan ada orang yang akan menolong saya. Saya akan hilang ditelan kegelapan dan kebekuan malam. Bila musim panas, jalan ini akan dengan mudah dilalui hanya bermodalkan kekuatan, oleh karena tangga-tangga batu telah dibuat untuk memudahkan pendaki gunung. Namun pada saat seperti ini, ketika semua jalan setapak ditutupi oleh salju, kekuatan tidak terlalu penting, kejelian dan kepandaian mendaratkan kakilah yang memegang peranan penting. Terkadang badan saya jatuh terhempas ke batu dan pepohonan. Kaki terpeleset dan harus dengan cepat mencari cabang pohon atau akar untuk menahan tubuh. Banyak kali harus merangkak turun. Melangkah dengan hati yang gemetar melewati tebing, dengan satu tangan pada batu dan tangan yang satu pada pohon untuk keseimbangan. Namun lebih banyak jatuh dan berselancar tanpa kenikmatan diatas salju alias terpeleset. Lebih kurang 1 mile perjalanan mendebarkan dan mengerikan ini. Namun setelah tiba di tempat yang aman dan datar, hatipun terasa senang dan damai. Tidak ada perasaan sesenang itu bila tidak menempuh segala rintangan dan bahaya dalam perjalanan turun gunung yang mematikan itu. Demikian juga kehidupan kerohanian kita, tidak akan indah dan nyaman tanpa kita melewati penderitaan dan cobaan hidup. Justru dengan problema keuangan, keluarga, gereja, pekerjaan, perkawinan, kita akan semakin kuat. Bersyukurlah dengan semua itu, sebab Allah memiliki rencana dalam segala hal yang kita lalui dan rencana itu adalah baik di mataNya. Kadang kita belum bisa melihatnya, namun kita harus percaya, God’s way is the best way. ”Bukankah Aku sendiri tahu rencana-rencana-Ku bagi kamu? Rencana-rencana itu bukan untuk mencelakakan kamu, tetapi untuk kesejahteraanmu dan untuk memberikan kepadamu masa depan yang penuh harapan”. Yeremia 29:11.
Perjalanan selanjutnya, bagi saya tidak seseru yang sebelumnya. Hanya perjalanan turun gunung biasa, sama seperti dulu, ketika masih anak-anak, sering dibawa ke kebun oleh ayah saya, perjalanan yang cukup jauh, naik turun bukit, baru bisa tiba di tempat tujuan. Namun ketika tiba disana, kita akan merasa sangat senang sebab kita bisa bermain ayunan tinggi, mandi di sungai kecil, tidur digubuk berlantai anyaman bambu dengan angin yang bertiup sepoi sepoi basah, minum air kelapa muda, makan ikan asin campur nasi jagung yang dimasak diatas bara tempurung, makan jagung muda baik yang dibakar maupun yang direbus dan yang tak kalah menarik, makan durian segar yang tersedia setiap saat. Sekali lagi, kebahagian akan lebih terasa setelah kita melalui penderitaan. Kemenangan akan terwujud bilamana kita mengalahkan semua tantangan kehidupan. Ekspedisi Mt. Washington telah selesai. Namun perjalanan hidup masih terus berlanjut (Mt. Katahdin is next). Pergulatan kehidupan rohani kita juga belum berakhir. Setan akan terus menghadang, namun bila kita setia, kita tidak perlu khawatir. The Lord will help us. Ternyata tabir diawal kisah inipun tersingkap. Allah memanggil saya untuk mendaki gunung Washington, sama seperti Dia memanggil Musa dahulu kala, Dia mau menampakkan Diri-Nya, Dia mau menunjukkan mujiksatnya. Inilah pesannya kepada saya dan kepada saudara semua, terlepas dari semua persoalan hidup kita: “Jangan takut, sebab Aku menyertaimu, jangan cemas, sebab Aku Allahmu. Engkau akan Kuteguhkan dan Kutolong, Kutuntun dengan tangan-Ku yang jaya”. Yesaya 41:10 (Saksikan videonya: http://youtu.be/6xr9iKYfvzA)

Leave a Reply