Krisis Identitas

Apakah dunia kita dilanda krisis identitas?
Atau apakah masalah identitas tidak dilihat sebagai suatu kirisis melainkan cara hidup “way of life” manusia modern? Bagaimana dalam alam kerohanian, apakah orang Kristen mengalami masalah identitas juga?
Lebih dari 10 juta orang di Amerika sendiri menjadi korban pencurian identitas “Identity Theft” setiap tahun, dan ini adalah suatu kejahatan yang meningkat secara pesat di mana-mana bukan hanya di Amerika. Sasaran kejahatan ini yang terutama yaitu soal keuangan, keimigrasian dan terorisme. Dalam beberapa tahun terakhir aparat pemerintah AS mengeluarkan hukum-hukum untuk mengatasi masalah ini. Melihat dari segi ini pantas kita katakan bahwa dunia ini sedang dilanda krisis identitas.
Dari segi lain, kita lihat para bintang film menjadi begitu tenar dan mendapat uang banyak. Tugas mereka sebagai Aktor/Aktris hanya melakonkan suatu karakter di depan layar. Mereka mengambil identitas orang lain dan membuat itu menjadi tontonan bagi orang banyak. Ini adalah hiburan bagi banyak orang, buktinya bioskop selalu penuh, setiap rumah memiliki TV untuk nonton film dan film yang disewakan berjalan lancar. Ini semua sudah menjadi “way of life” cara hidup manusia zaman ini.
Apakah dampaknya bagi orang Kristen ?
Di setiap kota besar di mana-mana pasti ada penjualan barang-barang palsu. Contoh, jam tangan Rolex, harga jam tangan yang bermerek ini bisa mencapai ratusan dollar. Tetapi Rolex yang palsu bisa di dapat dengan harga yang sangat murah. Walaupun warnanya dan cap mereknya mengatakan Rolex tetapi kita tahu jam itu tidak akan bertahan lama.
Bagi orang Kristen tidak cukup hanya nama saja. Itu adalah dosa jika kita mengaku anak-anak Allah, pakai nama Tuhan dan tidak hidup sebagai orang Kristen. “Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu dengan sembarangan” (Kel 20:7). Hati kita dan setiap partikel-partikel dalam kita harus asli.
Seorang penulis bernama Gerog Christoh Lichtenberg mengatakan “When a certain worthy died, one man copied his way of wearing his hat, another his way of carrying a sword, a third the cut of his beard, and a fourth his walk; but not one tried to be the honest man he was.” Empat orang meniru cara hidup si pahlawan tetapi tidak ada satu yang mau meniru karakternya. Demikian juga banyak orang mengakui nama Yesus dan coba melakukan hal-hal yang baik dan mulia tetapi tidak mau memiliki hati seperti Yesus. Mencuri identitas Yesus untuk mendapat keuntungan pribadi dan supaya bisa populer.
Apakah mungkin banyak orang Kristen terpengaruh dengan Hollywood, hanya ingin menjadi Aktor/Aktris? Menjadi orang Kristen berarti lebih dari baptisan saja atau nama kita terdaftar dalam buku jemaat saja. Juga berarti lebih dari memiliki posisi yang tinggi dalam gereja dan memberi uang kita atau menulis buku-buku tentang Yesus.
Rasul Paulus menambahkan (1 Kor. 13:1-3), sekalipun dia dapat berkata-kata dengan bahasa malaikat, mempunyai karunia roh nubuat, memiliki segala pengetahuan dan memberikan segala sesuatu termasuk hidupnya, jika dia tidak memiliki kasih semuanya itu tidak berguna. Sangat disesalkan banyak orang Kristen hanya nama saja “Nominal Christians,” mereka tidak mengalami perubahan hati, mereka sudah dibenarkan tetapi tidak mau mengalami penyucian. Dengan demikian kita hanya menyebutkan nama Tuhan dengan sembarangan.
Seperti suatu iklan di surat kabar yang mengatakan: “Hilang seekor anjing. Warna coklat, sebagian bulu-bulunya di punggung botak. Kaki kanannya patah oleh karena kecelakaan. Bagian telinga kiri putus karena berkelahi dengan anjing lain. Namanya adalah ‘Lucky’.” Sayangnya hanya nama saja Lucky yang berarti beruntung.
Jadi bagaimanakah kita dapat mengatasi krisis identitas yang sudah menjadi gaya hidup kita?
Yakobus menuliskan:

“mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu, hai kamu orang-orang berdosa! Dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati” (Yak. 4:8).
Kita datang sebagaimana kita ada kepada Yesus melalui iman dan dibenarkan. Tetapi pembenaran yang murni selalu disertai pengudusan. Rasul Paulus menjelaskan ini sebagai suatu proses, “Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya…. Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan. Maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” (2 Kor. 3:16-18).
Hati kita akan mengalami transformasi, wajah kita memantulkan kemuliaan Tuhan dan setiap orang yang memandang muka kita akan melihat Yesus. Itulah tanda bahwa krisis sudah berakhir, sebab di dalam Kristus tidak ada krisis identitas, kita sudah memakai identitas Yesus dengan sebenarnya.
Akhir kata, “siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Kor. 5:17).
Kiranya Tuhan memberkati kita semua!

-RONNY MARINGKA

Leave a Reply