“KURBAN”

October 23, 2013 - Loddy Lintong

Sabat Petang, 12 Oktober
PENDAHULUAN

Antara persembahan dan kurban. Sebenarnya, “persembahan” dan “kurban” (atau “korban”) adalah dua hal yang berbeda, dan dalam Alkitab kedua kata ini sering digunakan secara bergantian. Terkadang juga digunakan bersama-sama menjadi “persembahan kurban” untuk membedakan antara persembahan biasa dengan persembahan yang disertai “kurban” berupa binatang. Dalam konsep alkitabiah kedua kata ini saling berkaitan, di mana persembahan yang dibawa kepada Tuhan acapkali berupa hasil bumi maupun uang, atau hewan kurban. Secara linguistik, “persembahan” adalah sebuah kata bentukan dari akar kata “sembah” yang berhubungan dengan ibadah, yaitu bagian dari “penyembahan” kepada Tuhan. Sedangkan “kurban” adalah kata serapan dari bahasa Arab, قربن, yang secara harfiah berarti hewan sembelihan.

Dalam PL, kata “persembahan” (Ibrani: מִנְחָה, minchah, dilafalkan: minhah; Strong, H4503) muncul pertama kali di Kejadian 4:3-4 pada waktu Kain dan Habel menyiapkan suatu persembahan lalu “mempersembahkannya kepada Tuhan” (BIMK). Dalam naskah aslinya tidak ada kata “kurban/korban” seperti pada ayat 4 dalam versi TB. Kata “kurban” (Ibrani: זֶבַח, zebach, dilafalkan: zevach; Strong, H2077) baru muncul pertama kali dalam Kejadian 31:54, yaitu ketika Yakub “menyembelih seekor binatang dan mempersembahkannya di atas bukit itu” (BIMK). Adanya catatan tentang praktik mempersembahkan hewan kurban kepada Allah dalam kitab Kejadian tersebut membuktikan bahwa konsep persembahan berupa hewan kurban sudah menjadi bagian dari peribadatan kepada Allah, jauh sebelum kewajiban mengenai hal itu diturunkan kepada bangsa Israel melalui Musa dalam bentuk hukum upacara keagamaan (Im. 1:1-2).

Dalam PB, kata “persembahan” berkaitan dengan “pemberian” atau hadiah” (Grika: δῶρον, dōron; Strong, G1435) seperti yang terdapat dalam Matius 2:11 tatkala orang-orang majus dari Timur datang ke Betlehem untuk menjenguk bayi Yesus kemudian “mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” Setelah Yesus mati di atas salib persembahan dalam bentuk hewan kurban tidak dibutuhkan lagi, yang ditandai dengan fenomena “tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah” (Mat. 27:50-51; Mrk. 15:37-38), karena kematian-Nya itu menggenapi maksud persembahan berupa hewan kurban yang diadakan sebagai “bayangan”(type) atas kematian Yesus yang adalah kurban sesungguhnya (Ibr. 7:27; Ef. 5:2).

“Inti seluruh injil adalah konsep tentang pengorbanan. Dalam bahasa alkitabiah, kata ‘kurban’ sering menggambarkan ide perihal menghampiri dan tentang membawa sesuatu kepada Allah. Pengertian dasar dari bahasa Ibrani untuk persembahan atau kurban melukiskan tindakan pendekatan, tindakan membawa sesuatu ke hadapan Allah. Padanan katanya dalam bahasa Grika berarti ‘pemberian’ dan menggambarkan penyerahan sesuatu kurban” [alinea pertama].

Minggu, 13 Oktober
HEWAN YANG DIKORBANKAN (Kurban Pertama)

“Bait Suci” Taman Eden. Seperti telah kita pelajari terdahulu, Bait Suci adalah tempat yang menandakan hadirat Allah (Kel. 25:8; 1Sam. 1:22; Yes. 1:12). Atau, dalam pengertian tertentu, di mana hadirat Allah ada maka tempat itu dapat disetarakan dengan Bait Suci. Dalam pengertian inilah maka rasul Paulus menyamakan tubuh kita sebagai Bait Suci, yaitu apabila Allah berdiam dalam diri kita (1Kor. 3:16; 6:19). Sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa dan terusir keluar dari Taman Eden, setiap hari Allah secara pribadi datang ke taman itu untuk bercengkerama dengan mereka, termasuk pada hari ketika mereka baru saja berbuat dosa setelah memakan buah larangan itu (Kej. 3:8).

“Adam dan Hawa hidup di sebuah dunia yang sempurna, dalam sebuah taman yang seperti Bait Suci, dan Allah menganugerahkan kepada mereka hubungan secara tatap muka dengan Khalik mereka. Dosa mereka yang pertama menguak suatu pelanggaran yang nyaris tak teratasi dalam hubungan mereka dengan Allah. Namun, Allah sudah berencana bagaimana menghadapi pelanggaran kepercayaan seperti itu, dan bahkan sebelum ada sesuatu hukuman atas mereka Ia telah memberi mereka pengharapan akan seorang Juruselamat (Kej. 3:15)” [alinea pertama].

Kurban pertama. Kehadiran Allah di taman itu adalah sebuah alasan mengapa Taman Eden dapat disebut sebagai “Bait Suci,” tetapi alasan yang terutama ialah karena di tempat itulah telah terjadi kurban pertama ketika seekor hewan harus mati demi kepentingan manusia. Akibat langsung dari dosa manusia ternyata bukan kematian yang menimpa mereka, melainkan kehilangan pakaian kemuliaan yang menyebabkan pasangan nenek moyang pertama umat manusia itu menjadi sangat malu (Kej. 3:10). Menyadari keadaan itu maka dalam kepanikan mereka berikhtiar untuk menutupi ketelanjangan dengan menyemat daun pohon ara sebagai cawat (ay. 7). Tetapi “Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka” (ay. 31). Kematian pertama akibat dosa manusia adalah binatang yang tidak berdosa.

“Tuhan menunjukkan kepada mereka dasar utama dari kemenangan itu ketika Ia, segera sesudah kata-kata penghakiman-Nya, membuat untuk mereka pakaian dari kulit untuk menutup ketelanjangan dan rasa malu mereka. Meskipun tidak disebutkan, adalah wajar untuk memperkirakan bahwa seekor hewan yang tidak bersalah sudah mati untuk ini, bahkan mungkin bahwa hal itu dianggap sebagai semacam kurban (Kej. 3:21)” [alinea ketiga].

Kurban simbolik. Alkitab tidak menyebutkan jenis hewan apa yang harus mati untuk diambil kulitnya, tapi bisa diperkirakan itu bukanlah jenis binatang yang seukuran domba seperti yang kita kenal sekarang. Meskipun tidak ada catatan yang pasti perihal ukuran tinggi badan Adam dan Hawa, sangat masuk akal untuk menyimpulkan bahwa mereka lebih tinggi dari manusia yang hidup sesudah mereka. Menurut tulisan Roh Nubuat, Adam “dua kali lebih tinggi dari orang-orang yang sekarang hidup di atas bumi” (Ellen G. White, Spiritual Gifts, jld. 3, hlm. 34). Dalam sejarah kedokteran manusia tertinggi yang pernah dicatat ialah Robert Wadlow (1918-1940) dari kota Alton, Illinois, AS yang memiliki tinggi badan 272 cm; menurut Guiness Book of Record adalah Sultan Kosen dari Ankara, Turki (lahir Desember 1982) yang tingginya 246.5 cm. Kalau ukuran tinggi badan Adam dan Hawa lebih dari mereka tentu saja perlu hewan dengan ukuran cukup besar, atau lebih dari satu ekor, untuk diambil kulitnya menjadi pakaian pasangan manusia pertama itu. Terkecuali, tentu saja, kalau Tuhan melakukan mujizat!

“Penyediaan pakaian oleh Allah bagi kedua pelaku kejahatan itu menjadi sebuah tindakan simbolik. Sama seperti kurban-kurban di Bait Suci di padang gurun itu menjamin hubungan istimewa antara Allah dengan umat-Nya, demikianlah pakaian di Taman itu memastikan orang yang bersalah itu akan kebaikan Allah yang tidak berubah terhadap mereka” [alinea keempat].

Apa yang kita pelajari tentang kurban pertama di “Bait Suci” Taman Eden?
1. Hadirat Allah di Taman Eden menjadikan taman itu menjadi seperti “Bait Suci” di tengah manusia. Gereja, bahkan tubuh anda dan saya, dapat menjadi semacam “Bait Suci” juga apabila Allah hadir di dalamnya. Tetapi bukan seperti paham panteisme yang mengajarkan kehadiran Allah pada benda alam apa saja, hadirat Allah di dunia ini hanyalah di antara manusia.
2. Meskipun vonis atas dosa adalah kematian bagi si pelaku (Kej. 2:17; Rm. 6:23), akibat langsung dari dosa Adam dan Hawa adalah kematian hewan yang tidak bersalah. Ini adalah kehendak Allah berdasarkan kekuasaan-Nya yang mutlak, dan karena ada suatu pembelajaran di balik kematian binatang itu.
3. Ikhtiar Adam dan Hawa untuk menutupi tubuh mereka yang telanjang dengan anyaman daun ara adalah usaha yang bersifat darurat, sebagai “agama daun ara” yang tidak layak di hadapan Allah. Dosa mengakibatkan manusia kehilangan pakaian kemuliaan dan menjadi telanjang, maka hewan menjadi tumbal untuk menggantikan pakaian yang hilang itu.

Senin, 14 Oktober
PERSEMBAHAN SEBAGAI TUNTUTAN (Jenis-jenis Persembahan Kurban)

Persembahan yang dikehendaki. Persembahan tidak sama dengan sesajen. Persembahan adalah pemberian yang dituntut oleh Allah yang benar di surga, sesajen adalah ikhtiar manusia untuk menyenangkan hati para dewa yang cuma ada di angan-angan. Dalam PL, manusia diwajibkan membawa persembahan-persembahan yang ditentukan oleh Allah sendiri supaya persembahannya berterima, bukan persembahan atas kemauan sendiri. Itulah sebabnya Allah berkenan dengan persembahan Habel (Kej. 4:4), tetapi menolak persembahan Kain sekalipun mungkin dia mempersembahkannya dengan tulus (ay. 5). Peristiwa ini kemudian berujung pada tragedi pertama dalam keluarga manusia berdosa, yaitu tindak pembunuhan oleh Kain terhadap Habel. Meski hanya satu orang yang mati, tetapi kematian itu meliputi seperempat penduduk bumi pada waktu itu.

“Di zaman Perjanjian Lama, umat percaya dapat membawa persembahan pada kesempatan-kesempatan berbeda dan dalam keadaan-keadaan pribadi yang berbeda…Kurban binatang merupakan unsur tertua dalam upacara di Bait Suci, dan bersama-sama dengan pelayanan keimamatan hal itu menjadi inti dari peribadatan bangsa Israel. Tak dapat dibayangkan kehidupan beragama tanpa pengorbanan” [alinea pertama: kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

Dalam kasus penolakan persembahan Kain dan diterimanya persembahan Habel, kita menemukan penjelasannya dalam PB: “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah kurban yang lebih baik dari pada kurban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati” (Ibr. 11:4; huruf miring ditambahkan). Kita melihat di sini hubungan antara iman dengan persembahan kurban yang dipersembahkan oleh Habel sehingga Allah berkenan padanya. Tanda perkenan Allah itu ialah dengan menurunkan api yang melahap persembahan kurban itu, seperti yang terjadi dalam upacara penahbisan Bait Suci yang dibangun Musa (Im. 9:24) dan juga Salomo (2Taw. 7:1), serta kurban yang dipersembahkan oleh nabi Elia di bukit Karmel (1Raj. 18:38). Habel sudah mati, tetapi keteladanannya dalam hal iman sebagai dasar untuk membawa persembahan kepada Tuhan itu “masih berbicara” hingga seterusnya bahkan sampai kini.

Persembahan wajib dan sukarela. Khusus kepada bangsa Israel sebagai umat pilihan, Allah mewajibkan mereka untuk menyiapkan berbagai persembahan. Dalam kitab Imamat kita menemukan 5 jenis persembahan yang dituntut Allah, yaitu: persembahan sajian (pasal 2), persembahan kurban pendamaian dan keselamatan (pasal 3), persembahan kurban penghapus dosa (pasal 4), persembahan kurban penebus salah (pasal 5), dan persembahan atas sumpah palsu (pasal 6). Dari kelima persembahan kurban itu hanya satu jenis persembahan yang berbentuk hasil bumi, yakni persembahan kurban sajian (pasal 2), sedangkan empat jenis persembahan lainnya dalam bentuk hewan. Untuk persembahan kurban bakaran berupa binatang ada tiga jenis yang ditentukan, yaitu lembu, kambing atau domba, dan unggas (pasal 1). Sebenarnya Imamat pasal 1 bukan berbicara tentang salah satu dari jenis persembahan kurban yang dituntut Allah, tapi isinya adalah “petunjuk ritual” tentang persembahan berupa binatang. Tradisi Kristenlah yang menganggap Imamat pasal 1 itu sebagai salah satu jenis persembahan tersendiri, sebagaimana pada pelajaran hari ini.

Dalam tradisi Yahudi persembahan kurban (Ibrani: Qorbanot) tersebut masih dijalankan hingga sekarang, seperti persembahan pendamaian (Zebach Sh’lamim), persembahan penebus dosa (Khatat), dan persembahan penebus kesalahan (Asham). Tetapi persembahan kurban berupa hewan (Olah) tidak dilaksanakan lagi sejak lama. Alasannya, kurban bakaran dari binatang hanya boleh diadakan pada mezbah yang ditahbiskan Allah dan tidak boleh di sembarang tempat (Ul. 12:13-14; Yos. 22:16-19, 29), sedangkan mezbah terakhir telah hancur bersama Kaabah Salomo dalam serbuan tentara Romawi ke kota Yerusalem pada tahun 70 TM dan sejak itu tidak ada lagi Kaabah dan mezbah resmi yang dibangun dan ditahbiskan oleh Allah. Menurut catatan, upacara persembahan kurban bakaran sempat dijalankan selama Perang Yahudi tahun 132-135 TM, namun kemudian ditiadakan lagi setelah berakhirnya peperangan tersebut dengan kekalahan di pihak kaum Yahudi. (Sumber: Judaism 101).

“Persembahan bakaran melambangkan penyerahan sepenuhnya dari orang yang memberi persembahan itu. Persembahan sajian melambangkan penyerahan dari harta benda kita kepada Allah, apakah itu berupa makanan, binatang ternak, atau lainnya. Persembahan keselamatan adalah satu-satunya persembahan di mana si pemberi menerima satu bagian dari persembahan itu untuk konsumsi pribadi” [alinea ketiga: tiga kalimat terakhir].

Selain persembahan wajib, tradisi Yahudi juga mengenal persembahan sukarela atau nazar (Im. 7:16; 22:18). Persembahan sukarela mulai diperkenalkan berkaitan dengan perintah Allah agar Musa membangun Bait Suci atau Kemah Pertemuan, disebut sebagai persembahan khusus (Kel. 35:4-9). Rakyat merespon dengan membawa barang-barang yang diperlukan itu sebagai persembahan khusus kepada Tuhan, begitu banyaknya sampai Musa harus memerintahkan mereka untuk berhenti membawa persembahan (Kel. 36:6-7). Dari mana bangsa Israel purba memperoleh barang-barang berharga itu, padahal selama ratusan tahun mereka bekerja sebagai budak di Mesir? Beberapa hari sebelum meninggalkan negeri perhambaan itu, atas petunjuk Allah melalui Musa, rakyat itu “meminta perhiasan emas dan perak serta pakaian dari orang Mesir. Tuhan membuat orang Mesir bermurah hati kepada orang Israel, sehingga mereka memberikan segala yang diminta orang Israel. Dengan cara itu orang Israel membawa kekayaan orang Mesir keluar dari negeri itu” (Kel. 12:35-36, BIMK).

Apa yang kita pelajari tentang jenis-jenis persembahan kurban di zaman PL?
1. Persembahan kurban adalah kehendak Allah, sudah dimulai dalam keluarga Adam dan Hawa. Persembahan kurban yang berkenan kepada Allah ialah seekor binatang yang melambangkan Yesus Kristus yang mati sebagai Kurban penebusan dosa manusia (Rm. 3:24; Ef. 1:7).
2. Persembahan adalah bagian dari peribadatan, dan itu harus dilakukan dengan benar supaya berkenan kepada Allah. Persembahan “yang lebih baik” harus didasarkan pada iman seperti Habel, bukan dengan niat untuk memamerkan persembahan itu seperti Kain yang membawa hasil usaha pertaniannya sendiri.
3. Bangsa Israel purba membawa persembahan berlimpah-limpah sampai harus ditolak. Kita ragu kalau ada sebuah gereja sekarang ini yang akan menolak persembahan jemaat meski sudah menerima berlimpah-limpah. Persembahan yang tulus adalah tanda ikatan manusia dengan Tuhan, jangan salah dimanfaatkan.

Selasa, 15 Oktober
PERSEMBAHAN BERARTI PENGORBANAN (Persembahan Kurban di Moria)

Persembahan ujian. Salah satu hikayat paling mencengangkan dalam Kitabsuci adalah tentang Allah yang meminta Abraham agar mempersembahkan Ishak sebagai persembahan kurban. Alkitab mencatat bahwa “Allah mencoba Abraham” dengan menyuruh orangtua itu mempersembahkan putra tunggalnya “sebagai kurban bakaran” (Kej. 22:1-2). Dalam bahasa asli PL kata “mencoba” di sini adalah נָסָה, nacah (dilafalkan: nasa’), sebuah kata kerja yang juga dapat berarti “menguji” atau “membuktikan” (BIMK: “Allah menguji kesetiaan Abraham”). Secara fisik ini sebuah tuntutan yang tidak ringan bagi seorang yang waktu itu sudah berusia sekitar 115 tahun (Ishak lahir pada waktu Abraham berumur 100 tahun; Kej. 21:5), di mana dia harus menempuh perjalanan sejauh kurang-lebih 80 Km menunggang keledai selama tiga hari dan terakhir mendaki salah satu bukit di tanah Moria itu.

Tetapi tentu saja yang paling berat bagi Abraham adalah ujian batin mengingat bahwa Ishak adalah “anak perjanjian” yang lahir setelah istrinya, Sara, sudah berumur 90 tahun (Kej. 17:17). Berdasarkan cara berpikir manusia yang normal, mempersembahkan anak semata wayang sebagai kurban bakaran itu sangat tidak masuk akal, sebab selain karena mengurbankan anak sendiri sangat mengerikan, hal itu juga bertentangan dengan janji Allah sendiri kepada Abraham yang akan membuat dia “menjadi bangsa yang besar” (Kej. 12:2). Sekarang Abraham harus membedakan antara percaya kepada janji itu, atau percaya kepada Dia yang telah berjanji. Abraham memilih untuk percaya kepada Allah yang telah berjanji. Abraham percaya bahwa kalau Allah yang sudah berjanji itu meminta Ishak untuk dikorbankan, tentu Dia mempunyai suatu rencana dan cara untuk menepati janji-Nya itu.

“Abraham mempersembahkan kurban, tapi itu selalu berkaitan dengan sesuatu perjanjian. Namun dalam situasi pada Kejadian pasal 22, Abraham tidak memperoleh janji ilahi apapun; sebaliknya, dia disuruh untuk mempersembahkan perjanjian yang hidup, yakni putranya. Melaksanakan perintah Allah, Abraham menunjukkan bahwa Allah itu lebih penting bagi dia ketimbang apapun yang lain” [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].

Dua prinsip penting. Dalam konsep PL, persembahan kurban bakaran selalu merujuk kepada Anak Domba Allah sebagai Kurban yang sesungguhnya; hewan kurban hanyalah gambaran yang membayangkan kurban yang asli, yaitu Kurban yang disediakan oleh Allah sendiri. Digantikannya Ishak dengan seekor anak domba untuk dipersembahkan sebagai kurban bakaran–anak domba yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah berada di belakangnya–semakin meyakinkan Abraham akan persediaan Allah. Itulah sebabnya dia kemudian menamakan tempat itu “Jehovah-jireh” yang artinya “Tuhan akan sediakan.”

“Mengenai persembahan kurban, Abraham memahami dua prinsip penting. Pertama, tak seorang pun kecuali Allah sendiri yang dapat membawa persembahan kurban sejati dan sarana keselamatan…Kedua, persembahan kurban yang sesungguhnya adalah bersifat pengganti, yaitu kurban yang menyelamatkan nyawa Ishak. Domba jantan itu dipersembahkan ‘sebagai kurban bakaran pengganti’ Ishak (Kej. 22:13). Binatang yang Allah sediakan itu memberi gambaran tentang Anak Domba Allah, Yesus Kristus, pada siapa ‘Tuhan telah menimpakan…kesalahan kita sekalian’ (Yes. 53:6, 7; Kis. 8:32)” [alinea ketiga: dua kalimat pertama dan tiga kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Setiap langkah yang Abraham ambil menuju Bukit Moria, Tuhan beserta dengan dia. Segenap kesedihan dan derita yang Abraham jalani selama tiga hari ujiannya yang kelam dan mengerikan, itu dibebankan kepadanya untuk memberi kepada kita satu pelajaran dalam iman dan penurutan yang sempurna, dan agar kita boleh mengerti dengan lebih baik alangkah nyata besarnya pengorbanan Bapa yang tidak mementingkan diri dan tak terhingga itu dalam memberikan Putra satu-satunya untuk mati secara memalukan demi umat manusia yang bersalah. Tidak ada cobaan lain, tidak ada penderitaan dan ujian lain, yang bisa dibebankan pada Abraham yang telah menyebabkan penderitaan batin seperti itu, siksaan jiwa yang sedemikian rupa, seperti menuruti Allah dengan mempersembahkan anaknya” (Ellen G. White, Signs of the Times, 3 April 1879).

Apa yang kita pelajari tentang pengalaman Abraham ketika hendak mengorbankan Ishak?
1. Tidak ada persembahan yang lebih besar daripada mempersembahkan anak sendiri. Tetapi persembahan memang sama dengan pengorbanan. Dalam memberi persembahan kepada Tuhan, seseorang belum benar-benar mempersembahkan sesuatu kalau dalam pemberian itu tidak ada perasaan berkorban.
2. Pengalaman Abraham ketika hendak mempersembahkan Ishak, anak perjanjian satu-satunya, adalah gambaran sempurna tentang pengorbanan Allah yang “mempersembahkan” Yesus, Putra tunggal-Nya, sebagai Penebus dosa manusia. Pemberian Allah bagi manusia berdosa itu adalah sebuah bentuk “persembahan” kepada sifat keadilan Allah sendiri.
3. Melalui pengalaman untuk mempersembahkan Ishak itu Abraham belajar tentang dua prinsip dari kurban bakaran: (a) persembahan kurban bakaran adalah melambangkan pengorbanan Yesus sebagai Anak Domba Allah, dan (b) pengorbanan Yesus itu adalah untuk menggantikan kita manusia.

Rabu, 16 Oktober
“NYAWA GANTI NYAWA” (Kehidupan Ganti Kehidupan)

Darah adalah nyawa. Darah merupakan unsur penting dalam kehidupan. Darah dalam tubuh manusia memiliki berbagai fungsi, antara lain sebagai pengangkut oksigen ke seluruh sel-sel tubuh, pembawa nutrisi ke seluruh jaringan tubuh, dan juga untuk mengangkut “sampah-sampah” hasil metabolisme untuk dibuang (melalui paru-paru dalam bentuk karbon dioksida, dan melalui ginjal dalam bentuk air seni). Darah terdiri dari 45% korpuskula yang merupakan sel darah merah, dan 55% plasma darah yang berwarna kekuningan. Komposisi dari korpuskula adalah 99% sel darah merah (entrosit), dan sekitar 1% terdiri atas keping-keping darah (trombosit) dan sel darah putih (leukosit).

Darah manusia berwarna merah karena adanya hemoglobin yang berfungsi sebagai pengikat oksigen, di mana warna darah yang merah terang menandakan kandungan oksigen yang tinggi dan warna darah yang merah gelap pertanda kurangnya kandungan oksigen. Darah beredar ke seluruh tubuh melalui jantung yang memompakan darah melalui batang nadi (aorta) dan diteruskan ke urat-urat nadi yang lebih kecil sampai ke pembuluh darah terkecil dan halus (kapiler). Secara teoretis volume darah manusia berbeda menurut jenis kelamin dan berat badan. Rumusnya: (pria) berat badan/kg x 70 ml; (wanita) berat badan/kg x 65 ml. Jadi, seorang pria dengan bobot 80 Kg volume darahnya adalah 80x70ml=5600 ml (5,6 liter); seorang wanita dengan bobot 60 Kg volumenya adalah 60x65ml=3900 ml (3,9 liter). Kehabisan darah dapat berakibat kematian oleh sebab terhentinya suplai zat-zat kehidupan yang dibutuhkan tubuh, khususnya oksigen, sehingga dapat dikatakan bahwa darah adalah nyawa.

Allah melarang keras manusia memakan darah apa saja, termasuk darah binatang halal sekalipun. Firman-Nya: “Setiap orang dari bangsa Israel dan dari orang asing yang tinggal di tengah-tengah mereka, yang makan darah apa pun juga Aku sendiri akan menentang dia dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya” (Im. 17:10). Mengapa? “Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa” (ay. 11; huruf miring ditambahkan). Perhatikan dua alasan, moral dan sakral, mengapa Allah melarang manusia mengonsumsi darah: “nyawa makhluk ada di dalam darahnya” sedangkan nyawa atau kehidupan adalah hak Allah (alasan moral), dan “karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa” (alasan sakral). Larangan makan darah adalah karena darah menjadi “lambang kehidupan” dan “lambang penebusan.”

“Pada bagian dalam Alkitab di mana Allah memerintahkan bangsa Israel supaya jangan memakan darah apapun, Ia memberi suatu alasan menarik untuk larangan ini: darah melambangkan kehidupan, dan Allah telah menjadikan darah kurban sebuah tebusan bagi kehidupan manusia. Satu nyawa, yang dilambangkan dengan darah, menebus nyawa yang lainnya” [alinea pertama: dua kalimat pertama].

Upacara kurban bukan segalanya. Sementara persembahan kurban bakaran di satu sisi merupakan upacara paling penting dan pokok dalam peribadatan umat Tuhan di zaman Perjanjian Lama, di sisi yang lain Allah tidak menjadikan upacara kurban bakaran itu sebagai segala-galanya. Memang, ibadah adalah suatu cara yang dikehendaki dan diperkenan Allah di mana kita manusia menunjukkan penghormatan dan pemujaan kepada-Nya, tetapi upacara ibadah secara lahiriah itu tidak dapat menggantikan esensi utama dari peribadatan yang benar, yaitu penurutan kepada Allah dan perubahan tabiat yang memantulkan tabiat-Nya sendiri.

Seperti kata nabi Samuel, “Taat kepada Tuhan lebih baik daripada mempersembahkan kurban. Patuh lebih baik daripada lemak domba” (1Sam. 15:22, BIMK). Dan nabi Mikha menambahkan, “Apakah Tuhan akan senang kalau kita membawa kepada-Nya beribu-ribu domba atau berlimpah-limpah minyak zaitun? Haruskah kita mempersembahkan kepada-Nya anak sulung kita sebagai tebusan atas dosa-dosa kita? Tidak! Tuhan telah menyatakan kepada kita apa yang baik. Yang dituntut-Nya dari kita ialah supaya kita berlaku adil, selalu mengamalkan cinta kasih, dan dengan rendah hati hidup bersatu dengan Allah kita” (Mi. 6:7-8, BIMK).

“Allah tidak pernah maksudkan upacara kurban menjadi pengganti sikap hati; sebaliknya, persembahan kurban adalah untuk membuka hati orang percaya kepada Tuhan. Jika kita kehilangan pandangan akan fakta bahwa persembahan kurban mengekspresikan suatu hubungan rohani antara Allah dengan kita, dan bahwa semua itu menunjuk kepada satu persembahan kurban yang jauh lebih besar, yaitu Yesus Kristus, kita dapat dengan mudah keliru menganggap upacara kurban itu sebagai alat yang secara otomatis mengadakan pendamaian. Selain persembahan kurban, Allah sesungguhnya ingin agar hati kita berdamai dengan Dia (Mzm. 51:16-17)” [alinea terakhir: tiga kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang persembahan kurban melambangkan ide “nyawa ganti nyawa”?
1. Allah melarang keras manusia memakan darah sebab darah itu sama dengan nyawa (Im. 17:14), dan oleh karena dengan darah maka manusia telah ditebus (1Ptr. 1:18-19). Larangan mengonsumsi darah telah berlaku jauh sebelum ada bangsa Israel, yaitu ketika Allah mengizinkan manusia untuk makan daging hewan (Kej. 9:1-4).
2. Di zaman PL, kurban bakaran adalah inti dari setiap upacara ibadah, tetapi itu bukan esensi utama dari peribadatan. Ibadah yang paling diperkenan Allah ialah “jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk” (Mzm. 51:18-19), dan ibadah yang sejati ialah “mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (Rm. 12:1).
3. Banyak orang yang tidak memakan darah binatang tetapi menghisap darah sesamanya melalui penindasan secara moril dan emosi atas orang lain yang tidak berdaya di bawah kekuasaan mereka. Demikian juga, banyak orang yang tidak mempersembahkan kurban bakaran sendiri, tetapi menjadikan orang lain sebagai korban demi kepentingan diri sendiri.

Kamis, 17 Oktober
MEMPERSEMBAHKAN DIRI (Kurban Masa Kini/Kurban yang Hidup)

Persembahan kurban masa kini. Beribadah kepada Allah selalu harus disertai dengan persembahan, sebab seseorang tidak bisa “menghadap hadirat Tuhan dengan tangan hampa” (Ul. 16:16). Dan seperti telah dibahas dalam pelajaran hari Senin pekan ini (14 Oktober), Allah telah menetapkan berbagai jenis persembahan yang berkenan kepada-Nya, dengan persembahan kurban bakaran sebagai “primadona” dari segala jenis persembahan. Kurban bakaran di zaman PL dipersembahkan untuk membayangkan kematian Yesus Kristus sebagai “kurban pengganti” demi umat manusia yang berdosa; persembahan kurban itu membayangkan kematian Yesus Kristus sebagai kurban yang sesungguhnya. Meskipun Yesus sudah menggenapi persembahan kurban bayangan itu dalam kematian-Nya di salib Golgota, tidak berarti bahwa tuntutan Allah agar umat-Nya mempersembahkan sesuatu kepada-Nya telah dihapuskan sama sekali.

Rasul Paulus menulis tentang sebuah bentuk persembahan yang bernuansa pengorbanan, dan dengan demikian memiliki ciri-ciri sebagai sebuah persembahan kurban: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rm. 12:1-2; huruf miring ditambahkan). Sang rasul juga menerima persembahan dari jemaat dalam bentuk bantuan finansial demi pekerjaan penginjilan, “Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya…suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah” (Flp. 4:17-18). Bagi banyak orang, sungguh-sungguh berubah dalam budi atau tabiat merupakan sebuah pergumulan dan pengorbanan, bukan?

“Peristilahan dari sistem kurban sangat cocok dalam menggambarkan konsep awal dari Kekristenan mengenai apa artinya mengamalkan suatu kehidupan yang sepenuhnya diabdikan kepada Allah. Bahkan, ketika Paulus berpikir tentang mati syahidnya, dia menggambarkan dirinya sebagai suatu persembahan kurban (Flp. 2:17, 2Tim. 4:6)” [alinea kedua].

Menjadi “kurban yang hidup.” Umat Allah pada zaman Perjanjian Lama diwajibkan untuk membawa persembahan kurban bakaran, yaitu kurban berupa binatang yang sebelumnya harus disembelih oleh orang yang hendak diampuni dosanya kemudian kurban itu diserahkan kepada imam untuk dibakar di atas mezbah. Umat Tuhan pada zaman Perjanjian Baru juga dituntut untuk membawa persembahan kurban, tetapi bukan dalam bentuk binatang yang harus disembelih dan mati, melainkan dirinya sendiri yang masih hidup. Ini perbedaan mendasar dari persembahan masa kini dengan zaman dulu, ialah bahwa persembahan yang dituntut Allah dari umat-Nya sekarang ini adalah “kurban yang hidup” dan bukan lagi kurban yang mati.

“Suatu ‘kurban yang hidup’ artinya bahwa keseluruhan diri diberikan kepada Allah. Itu termasuk mempersembahkan tubuh (Rm. 12:1) dan juga perubahan batin (ay. 2). Kita harus diasingkan (‘kudus’) bagi satu-satunya maksud melayani Tuhan. Orang Kristen akan mempersembahkan diri mereka sepenuhnya kepada Tuhan karena ‘kemurahan Allah’ sebagaimana diterangkan dalam Roma 12:1-11, yang mempersembahkan Kristus sebagai persembahan kurban kita, sarana dari keselamatan kita” [alinea ketiga].

Pena inspirasi menulis: “Kita sedang berada dalam satu dunia yang melawan kebenaran dan kemurnian tabiat, dan menentang pertumbuhan dalam sifat keanggunan. Ke mana pun kita memandang kita melihat korupsi dan kecemaran, kemerosotan dan dosa. Dan apakah pekerjaan yang harus kita lakukan di sini sebelum menerima kekekalan? Yaitu memelihara agar tubuh kita suci, rohani kita murni, supaya kita bisa tampil tak bercela di tengah penyelewengan-penyelewengan yang mengelilingi kita pada zaman akhir ini” (Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 2, hlm. 356).

Apa yang kita pelajari tentang “persembahan kurban” masa kini?
1. Dalam PL, persembahan kurban bakaran merupakan “primadona” dari semua jenis persembahan; dalam PB, “primadona” dari segala bentuk persembahan yang dapat kita berikan kepada Tuhan adalah mempersembahkan diri kita sendiri melalui perubahan tabiat. Berubah, benar-benar berubah, seringkali merupakan pengorbanan yang tidak ringan bagi banyak umat Tuhan.
2. Persembahan terbesar yang dapat kita berikan kepada Tuhan adalah diri kita. Seseorang bisa saja menyerahkan sebagian bahkan seluruh hartanya kepada Tuhan, atau bekerja keras dalam pekerjaan Tuhan, tetapi sebelum dia menyerahkan seluruh hidupnya untuk Tuhan semua persembahan dan pengabdian itu akan kehilangan makna.
3. Mempersembahkan diri kita sebagai “kurban yang hidup” berarti juga penyangkalan diri, mengesamping segala keinginan untuk hidup yang nyaman lalu memusatkan pikiran dan hati kepada kekudusan dan kemurnian diri. Persembahan yang sesungguhnya adalah pengorbanan diri.

Jumat, 18 Oktober
PENUTUP

Kurban pengganti diperagakan. Dari semua kitabsuci yang dikenal oleh manusia, hanya Alkitab yang mengandung teologi tentang “kurban pengganti” dalam kematian Yesus Kristus untuk “menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:28; Mrk. 10:45), bahkan “sebagai tebusan bagi semua manusia” (1Tim. 2:6). Tidak heran kalau hanya orang Kristen yang dapat memahami arti sesungguhnya dari kematian Yesus Kristus di atas salib Golgota, sebuah doktrin tentang keselamatan yang tidak diajarkan oleh agama lain manapun. Inilah rahasia Allah yang barangkali tidak diungkapkan kepada banyak orang lain.

“Adalah sukar, sekalipun bagi malaikat-malaikat, untuk memahami rahasia penebusan–untuk mengerti bahwa Panglima surga, Anak Allah, harus mati demi manusia berdosa…Ketika terhadap pertanyaan Ishak ‘Di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?’ lalu Abraham menjawab ‘Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya;’ dan bilamana tangan sang ayah ditahan saat dia hendak membunuh anaknya, dan domba jantan yang Allah sudah sediakan dipersembahkan ganti Ishak–maka cahaya menerangi rahasia penebusan itu, dan malaikat-malaikat pun mengerti lebih jelas persediaan ajaib yang Allah telah adakan bagi keselamatan manusia” [kalimat pertama dan kalimat terakhir].

Sesungguhnya, perintah Allah kepada Abraham supaya mempersembahkan Ishak sebagai persembahan kurban secara khusus adalah untuk menguji iman Abraham, dan secara umum adalah untuk memperagakan makna dari “kurban pengganti” dalam skenario Allah demi keselamatan manusia berdosa. Peragaan itu perlu untuk meyakinkan para malaikat di surga, dan juga perlu untuk mengajar kita manusia tentang makna kematian Yesus Kristus. Pertanyaannya sekarang, kalau anda dan saya memang sudah mengerti akan maksud dari kematian Yesus itu, apakah respon kita?

“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah” (Ef. 5:1-2).

Leave a Reply